Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Syariah’ Category

Putriku tercinta, tanpa terasa dirimu telah menginjak usia ke 20. Begitu banyak nikmat yang telah engkau dapat dari Tuhanmu, Allah swt. Selain nikmat rezeki, keluarga dan sehat jasmani rohani, Sang Khalik juga telah memberimu kesempatan tinggal di Eropa, yang bukan rahasia lagi adalah mimpi bagi sebagian orang Indonesia.

Sungguh banyak pengalaman berharga yang mungkin tanpa kau sadari telah membekas begitu dalam, ke dalam sanubarimu, memperkuat keimanan dan keislamanmu, modal utama dalam hidup ini. Diantaranya, pergaulanmu sebagai Muslim minoritas dengan teman-teman lintas agama dan kepercayaan, tak hanya Kristen namun juga Yahudi bahkan Atheis.

Sekarang setelah kau kembali ke tanah air, Ia ‘celupkan’ lagi dirimu ke dalam lingkungan kampus dimana Muslim dan pribumi hanya minoritas. Dimana  perdebatan masalah ‘kebenaran’ dan ‘keadilan’ tidak jarang terjadi. Bahkan dalam tugas kelompokpun di’beban’kannya kepadamu untuk menjadi juru bicara pembahasan Pancasila no 1, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, yang sudah pasti memancing perdebatan sengit. Subhanallah  …

Allah, Dialah Yang Sang Mengatur segalanya, Dialah Sang Pembuat Skenario yang hebat. Berdakwahlah dengan jalan yang sesuai dengan kemampuanmu.  Semoga Allah senantiasa melindungimu nak …

Usia 20 tampaknya memang bukan lagi usia belia, bukan lagi teenagers, alias remaja belasan tahun. Banyak sekali kisah didunia ini, di masa lalu maupun masa sekarang,  menceritakan bagaimana para pemuda seusia tersebut berperan dalam kehidupan. Osama bin Zaid adalah salah satu contohnya. Pemuda yang hidup di masa Rasulullah ini ditunjuk sebagai panglima perang pada usia 19 tahunan. Sementara di masa kini, di pelbagai penjuru dunia, pemuda/pemudi di usia tersebut berbondong-bondong bersyahadat, kembali ke fitrah, tanpa rasa takut dan khawatir dimusuhi keluarga dan lingkungannya. Allahuakbar …

Di Jepang usia 20 dianggap sebagai gerbang memasuki usia dewasa. Mereka tidak main-main. Ini terbukti dengan diadakannya Hari Kedewasaan, yang diberi nama Seijin Siki. Hari ini dijatuhkan pada setiap Senin ke 2 di bulan Januari, namun perayaannya diselenggarakan pada hari Minggu sebelum hari H. Pada hari itu semua pemuda pemudi yang pada tahun itu berumur 20 tahun diharapkan hadir. Para pemudi datang dengan mengenakan jubah baru dan gaya rambut  baru, sementara para pemuda biasanya cukup dengan jas.

Uniknya, upacara yang konon sudah ada sejak tahun 714 ini, diselenggarakan di setiap daerah. Jadi pada tanggal tersebut, ketika seorang pemuda/pemudi menginjak usia 20, ia harus pulang ke daerahnya masing-masing. Disana mereka akan menerima arahan, wejangan dan bimbingan dari tokoh pemerintah daerah.

Intinya, sejak usia 20 tahun, seorang pemuda/pemudi sudah harus dapat mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Pada usia tersebut mereka dizinkan merokok, meminum minuman keras dll, tanpa harus meminta izin kedua orang-tuanya.

( baca :

http://zuhudrozaki.wordpress.com/2014/01/12/%E6%88%90%E4%BA%BA%E3%81%AE%E6%97%A5-hari-kedewasaan/ ).

Di Perancis, kebebasan tersebut diberikan lebih awal, yaitu usia 18 tahun. Di usia tersebut, mereka bahkan berhak meninggalkan rumah dan tinggal dimanapun sesuka mereka. Ironisnya, bagi sebagian besar orang tua Perancis, hal ini dianggap melegakan, karena berarti mereka tidak perlu lagi mengurus anak mereka ! Meski secara finansial tetap saja menjadi tanggung jawab orang-tua, sebelum anak tersebut bekerja dan memperoleh pendapatan sendiri.

Kesimpulannya, tampaknya usia 20 tahun memang sudah bisa dianggap sebagai usia dewasa. Di usia ini diharapkan seorang anak sudah mampu mempertanggung-jawabkan apa yang dilakukannya.

Khusus untuk kaum hawa, Islam bahkan telah mengatur cara berpakaian mereka begitu haid pertama datang, tidak perlu menunggu hingga usia 20 tahun.Yaitu mengenakan jilbab untuk menutup aurat mereka.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.(QS. AlAhzab(33):59).

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, … … “(QS. An-Nur(24):31).

Putriku tersayang, janganlah dirimu merasa tertekan dengan adanya aturan tersebut. Sebaliknya, ini adalah tanda betapa Allah swt begitu menyayangi dan mencintaimu. Ia ingin melindungimu dari kejahatan laki-laki yang gemar mengumbar nafsunya, dari tingkatan manapun, berpendidikan maupun tidak berpendidikan,

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). … … “. (QS.An-Nuur(24):26).

Apalagi di zaman sekarang ini, dimana ponografi dan segala aksesnya begitu mudah didapat. Hingga menyebabkan kejahatan seksual makin meraja-lela, baik yang suka sama suka maupun yang dengan paksaan. Sementara kesibukan dunia kampus dan segala macam ekskulnya, dimana mahasiswa lelaki maupun perempuan berkumpul menjadi satu, bisa baru usai ketika hari telah larut malam.

Putriku yang baik, ketahuilah, shalat 5 waktu dalam sehari memang kewajiban. Tetapi itu saja tidak cukup. Shalat adalah tali perlindungan terakhir yang ditawarkan-Nya untuk kita semua. Namun untuk melindungi kita dari kejahatan manusia, khususnya lelaki hidung belang, kita harus berusaha mencegahnya sendiri. Itulah berjilbab. Lengkapilah shalat dan keimananmu dengan jilbab, sebagai tanda syukur dan takwamu pada-Nya.

Akhir kata, putriku tercinta, jangan sia-siakan peluang yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada kedua orangtuamu yang sudah mulai renta ini, dengan hadirnya dirimu putriku. Selamat menjalani kehidupan dan siaplah mempertanggung-jawabkannya.

Abu Said al-Khudri ra berkata, Rasulullah saw. bersabda “ Barangsiapa diantara kalian merawat dan mendidik dua atau tiga orang anak perempuan lalu menikahkannya dan berbuat baik kepada mereka, niscaya akan masuk surga” (HR. Abu Dawud)

Dari Abu Harairah ra, Rasulullah saw. bersabda “” Barangsiapa diantara kalian mempunyai tiga orang anak gadis lalu ia sabar merawatnya dalam keadaan susah dan senang, maka Allah akan memasukkan dia surga berkat kasih sayang orang itu kepada ketiganya”, lalu seseorang bertanya:”Bagaimana dengan dua wahai Rasulullah?”, beliau menjawab “Demikian juga dengan dua”, lalu orang itu bertanya lagi: “Bagaimana dengan satu wahai Rasulullah?” beliau menjawab “Demikian juga dengan satu” (HR. Ahmad).

Wallahu’alam bish shawab.

Jakarta, 31 Maret 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

Shalat Yang Lalai

Seperti apakah shalat yang lalai itu? Mengapa dalam ayat 4 surah Al-Maa’uun Allah SWT berfirman : ” Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat ”? Bukankah shalat adalah kewajiban yang diperintahkan Allah SWT ? ”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”.(QS. Al-Maa’uun(107):4-5).

Allah SWT memang menjanjikan pahala dan kemudahan dalam segala urusan bagi orang yang mengerjakan shalat. Namun ada persyaratannya. Jadi bila syarat tersebut tidak terpenuhi maka yang diterimanya bukan pahala apalagi kemudahan melainkan malah kesengsaraan. Karena rahmat Allah akan menjauh darinya. Inilah yang dimaksud kecelakaan dalam ayat diatas. Allah SWT memerintahkan ’mendirikan/menegakkan ’ shalat (aqooma – yuqiimu ) bukan sekedar ’melaksanakan’ shalat ( sholla – yusholli). Menegakkan atau mendirikan shalat maknanya, dalam mengerjakan shalat harus ada niat, ada kesungguhan.

Kata ” Saahuun ” yang berarti lalai berarti adalah mengabaikan shalat, diantaranya adalah wudhu’ yang tidak sempurna, gerakan shalat ( rukuk, sujud dll yang tidak sempurna), meng-akhirkan shalat (tidak meng-awalkannya) tanpa alasan yang dapat diterima. Termasuk orang yang shalat namun tidak meyakini bahwa dengan shalat Allah akan memberinya kemudahan hidup, bahwa dengan shalat Allah SWT akan memberinya pahala. Orang-orang seperti ini shalatnya tidak khusuk dan cenderung terburu-buru.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya” . ( QS.Al-Mukminun (23):1-2).

Orang-orang yang khusyu`,(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS.Al-Baqarah(2):45-46).

Sebaliknya shalat yang terburu-buru / lalai sesungguhnya tidak akan mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan bathin serta tidak akan pula melahirkan ahklak yang baik. Padahal seharusnya dengan shalat akan muncul prilaku yang sempurna, akhlakul khorimah. Karena kunci ibadah adalah shalat. Orang yang akhlaknya buruk dapat dipastikan shalatnya juga buruk. Allah SWT bahkan memasukkan orang-orang yang lalai ini ke dalam golongan orang Munafik. Sama halnya dengan orang yang mengerjakan shalat dengan riya’, yaitu yang mengerjakan shalat bukan karena mencari ridho’Nya melainkan untuk dilihat orang lain. Ini adalah salah satu ciri orang Munafik. Akhlak mereka buruk padahal ahklak adalah cerminan hati. Lebih jauh lagi, Allah akan memasukkan orang seperti ini sebagai golongan orang yang mendustakan hari Pembalasan.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : ” Shalat yang paling berat bagi orang Munafik ialah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengerti pahala yang terdapat pada dua shalat itu, niscaya mereka mendatanginya meskipun dengan merangkak ”.( HR Bukhari dan Muslim).

Termasuk juga dalam kategori lalai adalah laki-laki yang menghindari shalat berjamaah di dalam masjid atau musholla, terutama shalat Isya dan Subuh.

Dari Abu Musa ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “ Barangsiapa mengerjakan shalat di dua waktu dingin (Subuh dan Isya’ secara berjamaah ) niscaya dia akan masuk surga“. ( HR Bukhari Muslim).

Hanya dengan alasan tertentu sajalah diantaranya uzur dan sakit, orang diizinkan tidak melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Bahkan sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda bahwa orang yang shalat berjamaah namun shafnya tidak rapat saja maka berdosalah ia. Perumpamaannya seperti perempuan yang tidak menutup auratnya dengan baik.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : “ Ada seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah saw dan berkata :”Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak punya penuntun yang menuntunku ke masjid”. Maka Rasulullah memperkenankan  (memberinya keringanan). Namun setelah ia hendak pulang, Rasululah memanggilnya kembali dan bertanya : ”Apakah engkau mendengar adzan untuk shalat ?”. Ia menjawab : “Ya”. Beliau bersabda :”Kalau begitu datanglah.” (HR Muslim).

Satu hal penting yang harus diingat, salah satu sifat Allah yang harus kita imani adalah sifat cemburu. Allah SWT tidak ridho’ ketika seorang hamba dalam keadaan shalat namun dalam hatinya ada sesuatu yang lain disamping-Nya. Suatu ketika Rasulullah pernah bersabda bahwa sifat cemburu Allah jauh lebih besar dari cemburunya Sa’ad, seorang sahabat. Diriwayatkan bahwa Sa’ad segera akan mengeluarkan pedangnya begitu melihat ada lelaki yang memandang dan mendekati istrinya. Sesungguhnya sifat cemburu adalah sifat yang baik. Karena hal ini menunjukkan kebesaran cinta dan kasih-sayang seseorang. Itulah sebabnya mengapa Allah SWT melaknat dan murka kepada orang yang menduakan-Nya. Tidak ada kecintaan apapun yang boleh menyamai apalagi mengalahkan kecintaan kepada-Nya, sekalipun itu cinta seorang suami / istri terhadap pasangannya maupun cinta terhadap anak atau orang tua.

Wallahu’alam bishshawab.
Jakarta, 18/2/2008.
Vien AM.

Read Full Post »

Makna bacaan dalam shalat

Pada suatu malam lebih kurang satu tahun sebelum Hijrah, Rasulullah diberangkatkan dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa di Palestina untuk kemudian dibawa naik ke langit dengan menunggangi seekor Bouraq, ditemani malaikat Jibril.

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS.Al-Isra(17):1).

Disanalah Rasulullah Muhammad SAW mendapat perintah untuk menjalankan shalat sehari 5 waktu.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah bersabda :”…Lalu Allah mewahyukan kepadaku suatu wahyu, yaitu Dia mewajibkan shalat kepadaku 50 kali sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu dengan Musa as. Dia bertanya, “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab, “Shalat 50 kali sehari semalam”. Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melakukannya. Akupun telah menguji dan mencoba Bani Israel”. Maka akupun kembali kepada Tuhanku, lalu berkata, “Ya Tuhanku, ringankanlah bagi umatku, hapuslah lima kali.” Lalu aku kembali kepada Musa seraya berkata, Tuhanku telah menghapus lima kali shalat”. Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup shalat sebanyak itu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa as hingga Dia berfirman, “Hai Muhammad, yang 50 kali itu menjadi 5 kali saja. Setiap kali setara dengan 10 kali sehingga sama dengan lima puluh kali shalat……”. Akupun turun hingga bertemu lagi dengan Musa as dan mengatakan kepadanya bahwa aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepada-Nya”. (HR Muslim).

Jadi dapat disimpulkan betapa tinggi dan istimewanya kedudukan shalat dimata Allah SWT. Namun untuk mengerjakan perintah ini sesungguhnya diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang benar agar shalat tersebut diterima dan mendapatkan ridho’ Allah SWT.

Ibnu Mas’ud berkata : “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, “Pekerjaan apakah yang paling utama?. Beliau bersabda : “Shalat tepat waktu”. Saya bertanya, “Kemudian apa?”. Beliau bersabda, “Berjihad dijalan Allah”. Saya bertanya, “Kemudian apa?”. Beliau bersabda,”Berbuat baik kepada ibu-bapak”.

Ketika shalat, kita diwajibkan untuk membaca surah Al-Fatihah. Surat ini juga dinamai Ummul-Quran yang berarti ibu atau inti Quran. Membaca Al-Fatihah dalam shalat adalah rukun shalat. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :“Barangsiapa yang mendirikan shalat tanpa membaca Ummul-Quran maka shalatnya tidak sempurna”; “Tidaklah berpahala shalat yang didalamnya tidak dibaca Ummul-Quran”.

Allah bersabda :”Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung”. (QS.Al-hijr(15):87).

Surat yang dimaksud dalam ayat diatas ini adalah surat Al-Fatihah yang terdiri dari 7 ayat, yang wajib dibaca pada setiap rakaat oleh kaum Muslimin ketika shalat.

” Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS.Al-Faatihah(1):1-7).

Surat ini memiliki makna yang amat padat dan mendalam; suatu penghambaan yang dimulai dengan menyebut sifat utamanya, yaitu Pengasih dan Penyayang, pujian yang hanya milik-Nya, yang menguasai hari Pembalasan, yang hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan agar kita tidak tersesat, memohon hidayah dan bimbingan sebagaimana yang telah Ia berikan kepada para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh dan memohon agar kita terhindar dari jalan kebathilan, sebagaimana yang ditempuh kaum Yahudi yang dimurkai-Nya karena tidak memiliki amal dan banyak membunuh para nabi maupun kaum Nasrani yang tersesat karena tidak memiliki pengetahuan yang benar. Jadi sesungguhnya jalan yang dikendaki dan diridho’i-Nya adalah jalan yang berdasarkan pengetahuan yang benar beserta pengamalannya, bukan hanya salah satunya.

Jepang adalah suatu negara yang dikenal luas akan kedisiplinannya. Rupanya masyarakat negri matahari terbit ini sejak lama telah memiliki kebiasaan mengulang-ngulang kalimat tertentu seperti kalimat “ Aku juara! ” seratus kali dalam sehari. Teori ini disebut “Repetitive Magic Power’ yang terbukti mampu merealisasikan apa yang diucapkan tersebut dan menjadikannya motivasi untuk mencapai suatu cita-cita.

Begitu pula dengan shalat. Bacaan yang diulang-ulang yang dimengerti maknanya, apalagi bila dilaksanakan secara khusu’, teratur dan berkesinambungan pasti akan melahirkan manusia-manusia yang penuh ketakwaan. Jadi shalat sebenarnya adalah suatu pembinaan diri yang nantinya akan memberi keuntungan bagi pelakunya, yang dapat memberinya ketenangan batin, kedekatan akan Tuhannya.

Bacaan Syahadat dalam shalat, bacaan yang diucapkan minimal 9 kali dalam sehari dimaksudkan agar kita selalu ingat akan janji untuk hanya menyembah kepada-Nya dan mengakui Muhammad SAW sebagai utusan-Nya.

Sedangkan makna dibalik ucapan “Allahu Akbar” yang mengawali sahnya shalat seseorang yang berarti “Allah Maha Besar” bila direnungkan dengan penuh kesadaran, sesungguhnya mengandung hikmah suatu penghambaan mutlak hanya kepada-Nya. Dialah yang Maha Besar, kita, manusia adalah kecil. Apapun yang terjadi pada diri kita ini sesungguhnya atas izin dan kehendak-Nya. Kita adalah kecil karena kita tidak memiliki kekuasaan maupun kekayaan apapun dibanding Dia. Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Ilmu yang kita miliki tidak ada artinya dengan apa yang dimiliki-Nya. Semua yang ada pada kita sesungguhnya hanya titipan-Nya yang pada saatnya nanti harus dikembalikan dan dipertanggung-jawabkan. Bahkan kitapun tidak memiliki kuasa untuk menolak ketika Ia memanggil kita untuk kembali kepada-Nya dimanapun dan dalam keadaan apapun kita berada. Maka dengan demikian sungguh hanya kepada-Nya kita patut menyembah, memohon bantuan dan berserah diri atas ketetapan-Nya.

Bacaan Allahu-Akbar ini terus kita ulang-ulang paling tidak 5 kali dalam satu rakaat atau berarti minimal 85 kali dalam sehari. Bacaan ini dibaca setiap kali kita merubah gerakan. Hal ini memberi makna bahwa dalam keadaan apapun seperti berdiri, duduk, berbaring, sujud maupun ruku’, ketika kita dalam keadaan susah maupun senang, sakit maupun sehat kita harus senantiasa mengingat kebesaran-Nya.

Demikian pula bacaan lain seperti do’a Iftitah yang dibaca setelah takbiratul Ikhram, sebagai berikut : “…Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS.Al-An’aam(6:162) yang diucapkan dalam shalat kita minimal 5 kali dalam sehari . Adakah kita benar-benar memahami makna ikrar, janji kita tersebut?

Setelah membaca do’a Iftitah, surat Al-fatihah dan salah satu surat ataupun ayat Al-Quran  kita rukuk sambil membaca bacaan yang mem-besar-kan nama-Nya. Begitu bangun dari rukuk kita membaca ” Sami’ Allahu liman hamidzah” yang artinya : Allah mendengar siapa yang memuji-Nya“.   Artinya kita diingatkan agar dalam shalat bersungguh-sungguhlah karena Ia mendengar kita! Ini harus benar-benar kita yakini.

Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang) dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud “.(QS. Asy-Syu’ara(26):217-219).

Berikutnya adalah do’a yang kita ucapkan ketika dalam posisi duduk diantara dua sujud yang diucapkan minimal 17 kali dalam sehari sebagai berikut “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kasihanilah aku dan cukupilah aku dan tinggikanlah aku dan berilah rizki padaku dan tunjukilah aku jalan dan berilah aku sehat dan maafkanlah aku”.

Sadarkah kita bahwa sebenarnya rezeki, kesehatan, jabatan, kemuliaan maupun petunjuk yang ada pada kita ini adalah wujud atau buah dari permintaan dan permohonan yang setiap hari kita mintakan secara berulang kali, yang kemudian dikabulkan-Nya?

Selanjutnya adalah bersujud. Posisi menempelkan dahi, yang merupakan bagian paling bergengsi manusia, ke permukaan terendah di muka bumi ini yaitu, tanah adalah melambangkan tanda syukur kita sebagai mahluk yang sangat  kecil dan amat bergantung kepada Sang Pencipta Yang Maha Tinggi  diatas sana. Bacaan ‘” Subhana Robbiyal ‘Ala” yang berarti  ”  Segala Puji hanya milik Rob Yang Maha Tinggi “ ini jelas mengisyaratkan hal tersebut.

Shalat ditutup dengan membaca Tahiyatul-akhir, sementara Tahiyatul- awal diselipkan pada rakaat ke  2 untuk shalat-shalat  yang ber-rakaat lebih atau sama dengan  2. Bacaan ini berfungsi untuk mempertegas dan mengulang ikrar kita sebagai umat Islam, yaitu bacaan Syahadat.  Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat dilanjutkan dengan shalawat nabi, memohon kepada Allah agar  junjungan kita Muhammad saw mendapat tempat yang tinggi di sisi Allah sebagaimana nabi Ibrahim as.  Ini adalah bentuk kecintaan kita kepada sang Rasul yang telah berjasa mengajak manusia kepada jalan  yang benar, menjauhkan kita dari kesesatan dan kegelapan.

Begitulah shalat yang diajarkan Rasulullah sebagaimana dicontohkan malaikat Jibril as atas izin-Nya.

Dengan menyadari hal-hal diatas maka seharusnya shalat mampu mengubah prilaku dan cara berpikir seseorang.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Ankabuut(29):45).

Disamping itu penting untuk diingat, bahwa Rasulullah, seorang nabi kesayangan yang walau telah dijanjikan baginya surga, beliau tidak hanya menjalankan shalat wajib yang 5 waktu saja. Beliau banyak mengerjakan shalat sunnah seperti shalat rawatib, yaitu shalat sunah yang menyertai shalat wajib baik yang dilaksanakan sebelum maupun sesudah shalat wajib, shalat duha, shalat qiyamul lail, tahajud maupun shalat sunnah lainnya.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):45-46).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 19/4/2007

Vien AM.

Referensi: – Tafsir Ibnu Katsir

– Kumpulan Materi hafalan dan terjemahnya oleh KH As’ad Humam.

– Kecerdasan Emosi dan Spiritual oleh Ary Ginanjar Agustian.

Read Full Post »

Mencoba Memahami Konsep Takdir

Berbicara mengenai takdir memang menarik dan selalu mengundang banyak pertanyaan. Telah banyak buku ditulis mengenai hal ini tetapi tetap tidak dapat memuaskan semua pihak. Saya ingin mencoba memberikan sedikit pandangan dan pendapat mengenai takdir dengan tujuan untuk sedikit lebih dapat mengenal ilmu Allah yang satu ini. Semoga Allah tidak menganggap ini sebagai sebuah kelancangan seorang hamba, Naudzu billah min dzalik…

Takdir adalah segala sesuatu yang telah terjadi dengan ridho Allah. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa takdir telah ditetapkan jauh sebelum manusia diciptakan.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi ini dan (tidak pula)pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah”.( QS. Al Hadid(57):22).

       Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits shahih yang berbunyi: Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra. Katanya: Telah menceriterakan kepada kami Rasulullah saw ( orang yang selalu benar dan dibenar kan) :”sesungguhnya salah seorang dari kamu sekalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa air mani. Kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari. Lalu diutus seorang malaikat kepada janin tersebut dan ditiupkan ruh kepadanya dan malaikat tersebut diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yaitu: menulis RIZKInya, batas UMURnya, AMAL dan kecelakaan atau KEBAHAGIAAN hidupnya”.

Akan tetapi ada pula sebagian pendapat yang mengatakan bahwa takdir dijatuhkan setelah manusia berusaha. Mereka menyatakan ini berdasarkan salah satunya akan adanya ayat berikut:

“…. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…. ”. (QS. Ar Ra’d(13):11)

Saya pribadi lebih condong dan berpegang pada ayat (57:22) tetapi tentu saja tanpa mengabaikan adanya ayat2 lain termasuk ayat 13:11 diatas. Namun takdir tersebut tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Misalnya bahwa si A ditakdirkan lahir sebagai orang miskin atau si B telah ditakdirkan meninggal karena bunuh diri atau karena bencana alam dsb. Alangkah naifnya Allah bila ia menciptakan takdir sesederhana itu. Bahkan pada permainan atau game-game seperti playstation atau komputer saja,si pembuat game mampu menciptakan permainan yang rumit yang memerlukan ketrampilan dan kecekatan si pemain bila ia menginginkan hasil yang memuaskan. Atau ambil contoh lain,sebagai ilustrasi,bayangkan kita sedang berada di dalam sebuah labirin. Untuk dapat keluar dari labirin tersebut,tidak ada jalan lain kecuali harus mencoba melalui segala jalan. Hal tersulit adalah pada saat kita menjumpai suatu persimpangan,dimana kita harus memutuskan untuk terus,belok kiri atau kanan tanpa mengetahui apa yang ada dihadapan kita. Dan bila ternyata jalan tersebut buntu kita harus kembali ke persimpangan terdekat dan kembali harus mencoba menempuh jalan lain.

Demikian pula halnya dengan takdir kehidupan. Takdir telah Allah persiapkan jauh sebelum kita diciptakan. Takdir diciptakan dalam sebuah program yang disimpandalam bentuk sebuah “chip” bagaikan sebuah “chip” dalam komputer,yang kemudian diselipkan pada otak manusia yang akan dibawanya serta ketika manusia dilahirkan. Setiap manusia memiliki “chip” masing2 yang berbeda satu sama lain. Ada yang rumit dan ada pula yang sederhana. Semua atas kehendakNya.

“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya(sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya ”. (QS. Al Israa’(17):13)

Nah,dengan bekal “chip” inilah manusia harus menjalani kehidupannya. Perbedaannya dalam kehidupan kita tidak mungkin melangkah mundur. Roda kehidupan terus berlanjut. Labirin belum mencapai “finish” selama hayat masih dikandung badan. Pada saat inilah manusia dituntut untuk berpikir dan menggunakan akalnya. Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang paling tinggi derajatnya. Ia diberi akal,pikiran dan perasaan untuk dapat menentukan mana baik,mana buruk,mana yang disukai,mana yang tidak disukainya.

Bila dalam setiap permainan atau game komputer ataupun dalam pembuatan kendaraan misalnya,si pembuat menyertakan buku panduan maka apalagi Allah,sang Maha Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang berada diantara keduanya. Pada setiap zaman Ia menurunkan petunjuk melalui kitab-kitabNya. Mungkin dapat kita bandingkan dengan adanya edisi 1,edisi2 pada setiap peluncuran buku-buku terbitan baru,dimana kandungan edisi terbarunya selalu lebih baik & lebih sempurna,demikianlah dengan kitab-kitab Allah,kitab terakhir menerangkan &memberi penjelasan akan kitab sebelumnya. Semuanya itu untuk kepentingan umatNya,umat yang amat dicintaiNya. Dengan bekal buku petunjuk inilah manusia akan dapat menentukan langkahnya. Selalu ada kemungkinan untuk berhasil ataupun gagal,tergantung pada usaha masing-masing. Allah berfirman:

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah(Allah),maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk(keselamatan) dirinya sendiri;dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi(kerugian) dirinya sendiri”. (QS. Al Israa’(17):15).

Akan tetapi yang perlu selalu diingat,kemungkinan-kemungkinan tersebut tetap berada dalam kerangka program pada masing-masing “chip” yang telah disiapkan olehNya jauh sebelum ia dilahirkan. Oleh sebab itu tidaklah patut apabila seseorang mengatakan bahwa keberhasilannya adalah semata karena usahanya. Sebaliknya bahwa kegagalannya adalah karena ketidak-mampuannya semata.

“(Kami jelaskan yang demikian itu)supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu,dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS Al Hadid(57):23).

Yang terpenting adalah niat dan usaha kita,karena niat,usaha dan juga sikap akhir kita dalam menerima ketetapan Allah inilah yang akan diperhitungkan kelak di akhirat. Karena sesungguhnya dunia hanyalah permainan sebagaimana firman Allah:

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya;sedang apa yang disisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?”. (QS Al Qashash(28):60)

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan(kepadanya).(An Najm(53):39-40)

Tetapi kita juga tidak perlu terlalu khawatir akan ketetapan-ketetapan tersebut karena Allah juga berfirman,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. (QS Al Baqarah(2):286).

Oleh sebab itu agar kita dapat melalui takdir terbaik kita,disamping harus memiliki berbagai ilmu pengetahuan yang bermanfaat(termasuk mengenal fenomena alam, sebab &akibatnya),kerja keras dalam pengamalan pengetahuan tersebut,kita juga harus selalu memohon petunjukNya.

“Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS Al Jumuah(62):10).

Keberadaan ‘chip’ ini mungkin dapat pula kita bandingkan dengan ‘black-box’ pada pesawat terbang. Namun bila Black-box hanya mampu merekam apa yang terjadi pada saat-saat terakhir perjalanan didalam sebuah pesawat terbang, maka chip pada diri manusia selain memiliki program ‘perjalanan hidup’ juga sekaligus memiliki kemampuan merekam segala kejadian yang dilaluinya sejak ia dilahirkan hingga kematiannya. Ia terus mendampinginya, merekam dan mencatat kejadian demi kejadian, yang besar maupun yang kecil dan baru berhenti merekam begitu manusia masuk kubur. Chip inilah yang akan memberikan kesaksian di hari Akhir nanti. Maka tak seorangpun kelak mampu menyembunyikan ataupun menghindar dari satu perkara betapapun kecil dan sepelenya suatu perkara.

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis) “.(QS.Al-Kahfi(18):49).

Chip ini bahkan mampu merekam apa yang dibisikkan dalam hati.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”.(QS.Qaaf(50):16-18).

Oleh sebab itu dikatakan pada hari pembalasan nanti Yang Maha Kuasa akan memperlihatkan kepada manusia segala amal perbuatannya.

“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka pekerjaan mereka. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya pula”. (QS.Al-Zalzalah(99):7-8).

Bahkan Ia berfirman setiap anggota tubuh dirinya mampu melihat catatan perbuatannya sendiri. Cukup dirinya sendiri sebagai saksi, tidak ada kebohongan, kecurangan maupun kelalaian didalamnya.

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.”(QS.Al-Israa’(17):14).

Dan agar supaya Ia berkenan mengabulkan doa dan memberikan petunjukNya,maka sudahlah sepatutnya bila kita wajib mengenalNya dengan baik,yaitu dengan cara menjalankan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya sesuai dengan apa yang telah diajarkan dalam kitab dan sunah rasulNya. Kemudian apakah bencana, penyakit,kekurang-beruntungan kita dalam memperoleh rezeki bahkan jodoh yang kurang bertanggung-jawab misalnya apakah itu semua adalah suatu takdir?Semua yang telah terjadi sudah pasti adalah takdir. Akan tetapi yang perlu dipertanyakan adalah apakah sebelum terjadinya hal-hal tersebut kita telah berusaha menghindari dan mencegahnya dengan sungguh-sungguh?Bila tidak,ada kemungkinan sebetulnya ada jalan lain,takdir yang lebih baik yang memungkinkan kita terhindar dari takdir yang kurang menyenangkan tersebut. Akan tetapi sekali lagi kita tidak perlu terlalu khawatir, karena Allah menciptakan bumi & langit dan segala isinya ini dengan penuh keseimbangan. Semua saling mengisi dan saling membutuhkan sebagaimana halnya cara kerja tubuh manusia,antara jantung,paru-paru,ginjal dsb yang masing-masing bekerja tetapi saling tergantung satu sama lain.

“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu”. (QS Al Hijr(15):21).

Coba bayangkan,bila didunia ini tidak ada seorangpun pekerja sampah,supir,pelayan dsb,apa yang bakal terjadi?

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia,dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat,agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS Az Zukhruf(43):32).

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga,padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan,serta diguncangkan(dengan berbagai cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:”Bilakah datangnya pertolongan Allah?”Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. Al Baqarah(2):214).

Wallahu‘alam bish shawab.

Jakarta, 9 Februari 2006

Vien AM.( pernah diterbitkan oleh Noor edisi 6 pada Juni 2006)

Read Full Post »

Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (Terjemah QS.Al-Waqiyah(56):68-70).

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”. Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”.( Terjemah QS.Al-Qashash(28):71-73).

Pernahkah kita mencoba merenungkan makna kedua ayat diatas? Jika saja manusia mau berpikir, sungguh tak terhitung nikmat Allah yang telah dilimpahkan atas mahluk-Nya; baik itu nikmat kehidupan, nikmat kesehatan, nikmat ketenangan dan ketentraman, nikmat keturunan, nikmat kekayaan dan terutama tentu saja nikmat keislaman. Karena jauh sebelum Allah SWT menciptakan manusia di bumi ini, Ia memang telah mempersiapkan seluruh sarananya terlebih dahulu, diantaranya adalah perputaran antara siang dan malam serta turunnya air hujan yang tidak asin ( juga air laut yang asin) yang merupakan kebutuhan mutlak seluruh mahluk hidup sebagaimana kedua ayat diatas. Belum lagi aneka ragam tumbuhan serta binatang yang siap dimanfaatkan bagi kelangsungan hidup manusia. Jadi sudah sepantasnyalah manusia itu harus banyak bersyukur. Dan sebagai penyempurnaan akan rasa syukurnya, manusia diperintahkan untuk menunaikan ibadah hajiminimal 1x dalam hidupnya, bila ia mampu.

…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah;Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”(Terjemah QS.Ali Imran(3(:97).

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa kesanggupan yang dimaksud adalah kesanggupan dalam menyiapkan perbekalan diri dan harta untuk melakukan perjalanan pulang-pergi ke Baitullah, termasuk didalamnya adalah kekuatan atau kesehatan untuk melaksanakan seluruh kegiatan fardhu haji serta perbekalan keluarga yang ditinggalkan. Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasulllah bersabda :

Bersegeralah melakukan haji (yaitu haji yang fardhu ) karena kalian tidak tahu apa yang akan menimpa kalian”. ( HR Ahmad).

Rasulullah juga menambahkan bahwa barangsiapa yang dengan sengaja memperlambat pergi haji padahal ia mampu, maka bila ia meninggal dunia dalam keadaan demikian maka matinya sama dengan matinya orang Yahudi atau Nasrani!

ka'bah1Ibadah haji adalah suatu kegiatan ritual, suatu rentetan kegiatan simbolis yang mencerminkan perjalanan kehidupan manusia. Ibadah haji bertujuan agar manusia mau berpikir apa hakekat dan tujuan hidup ini, dari mana dan hendak kemana kita ini, apa yang telah kita lakukan selama ini. Dan sebagai hasilnya manusia yang telah menyelesaikan ibadah haji semestinya akan memperbaiki diri, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Ia banyak berzikir untuk mengingatNya, mengerjakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Manusia yang telah berhasil menyempurnakan rukun Islam terakhir ini seharusnya akan terlihat dari prilakunya. Ia jauh dari sifat-sifat buruk dan jahat seperti pendendam, pembohong serta pendengki. Sebaliknya ia akan menjelma menjadi seorang yang pemaaf dan penyantun yang peduli terhadap lingkungan serta mampu menjalin dan mengikat kembali silaturahmi yang terputus. Itulah yang disebut haji mabrur, surga adalah imbalan baginya.

Ibadah haji adalah ibadah yang telah berumur sangat tua. Ibadah ini dilaksanakan di kota Mekah, Saudi Arabia. Di dalam Al-Quran , kota ini disebut Ummul Qura yang berarti ibu negeri. Menurut beberapa mufassir terkenal yang kemudian diperkuat dengan adanya hasil penyelidikan terhadap lapisan bumi, ternyata lapisan sekitar jazirah Arab lebih tua daripada lapisan bagian bumi lainnya. Oleh karena itulah Al-Quran menyebutnya ‘Umm’ atau ‘ibu’ yang dapat diartikan sebagai asal-usul sebuah negeri, tempat yang tertua di dunia. Ditempat inilah Ibrahim as dan Ismail as melaksanakan ibadah haji untuk pertama kalinya. Islam hanya meluruskannya kembali setelah ibadah ini sempat diselewengkan selama ratusan bahkan mungkin ribuan tahun lamanya.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”( Terjemah QS.Al-Baqarah(2):127-128).

Kegiatan-kegiatan dalam haji seperti Tawaf, Sa’i, Wukuf, melempar Jumrah dan sebagainya bukanlah sekedar kegiatan ritual belaka. Semua mempunyai makna yang amat mendalam. Tawaf yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak 7x, merupakan gerakan simbolis yang mencerminkan bahwa manusia, mau ataupun tidak mau, harus mengikuti arus perputaran waktu, 7 hari dalam seminggu terus menerus selama hidupnya. Ia harus pasrah, tunduk patuh terhadap hukum-Nya, sunatullah, hukum alam yang diciptakan-Nya. Bila tidak, ia akan terlempar dari perputaran, terinjak-injak dan menderita.

Sedangkan Sa’i, yaitu lari-lari kecil antara bukit Safa dan bukit Marwah sebanyak 7x, merupakan cerminan usaha manusia untuk bekerja keras 7 hari dalam seminggu selama hidupnya demi mendapatkan apa yang dicita-citakannya dengan mengharap ridho-Nya. Dan bila Allah SWT ridho, cita-cita tersebut akan terlaksana. Kegiatan ini juga untuk mengenang bagaimana seorang SitiHajjar, seorang perempuan yang ditinggalkan di tengah padang pasir karena ketakwaan sang suami (Ibrahim as) akan Tuhannya, berjuang keras untuk mendapatkan setetes air untuk bayi yang baru dilahirkannya (Ismail as). Dan atas ridho-Nya pulalah akhirnya muncul sumber air zam-zam di dekat kaki sang bayi. Sumber air yang telah ribuan tahun umurnya ini hingga kini masih terus memancarkan airnya walaupun setiap tahun dikonsumsi oleh jutaan jamaah haji.

Berikutnya adalah Wukuf di padang Arafah. Inilah puncak kegiatan haji. Tamu-tamu Allah yang datang dengan susah payah dari segala penjuru dunia ini diberi kesempatan mulai waktu zuhur hingga waktu magrib untuk ‘menemui’Nya. Di tempat inilah Allah SWT secara langsung mendengar keluh-kesah maupun permintaan hamba-hambaNya dan menatapnya dengan penuh kasih-sayang. Rasulullah bersabda : “… Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, “Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu ?”.

Kehadiran Sang Khalik di padang Arafah untuk menyaksikan hamba-Nya yang datang dan hadir di padang yang gersang tersebut sesungguhnya adalah sebuah kehormatan besar dan kemuliaan bagi umat Rasulullah saw. Karena bahkan gunung dan Musa as pun sebagai salah satu rasul pilihan, tidak sanggup menyaksikan kehadiran-Nya.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Terjemah QS.Al-‘Araaf(7):143).

Wukuf di Arafah adalah sebuah gambaran puncak perjalanan hidup bahwa semua manusia kelak sebelum masuk surga atau neraka akan dikumpulkan disuatu tempat yang dinamakan padang Masyar. Ditempat ini semua atribut keduniawian ditanggalkan. Kain Ihram yang dikenakan para jemaah haji adalah cerminan kain kafan yang merupakan satu-satunya harta yang dibawa seseorang ketika wafat. Hadir di Arafah juga mengingatkan agar manusia hendaknya kembali ke fitrah semula sebagaimana bayi yang dilahirkan ke dunia tanpa membawa apapun. Jadi wukuf adalah sebuah kegiatan untuk merenungkan diri dalam rangka menghadapi hari akhir yang sungguh dasyat dan mengerikan, yaitu sebuah hari yang pasti terjadi dan tak terelakkan.

Kemudian Jumrah, yaitu melemparkan batu kerikil ke 3 buah tugu; Aqabah, Ula’ dan Wustha’. Kegiatan ini melambangkan perlawanan manusia terhadap nafsu jahat yang ditebarkan oleh syaitan. Ditempat inilah Ibrahim as dicegah oleh syaitan agar membatalkan niat melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail as.

Namun sebelum Jumrah, kita harus ‘mabit’ atau ‘bermalam’ dahulu di Muzdalifah guna mencari batu-batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar Jumrah. Hikmah yang dapat diambil dalam kegiatan ini adalah diperlukannya persiapan dalam menghadapi lawan diantaranya yaitu pentingnya bekal ilmu.

Terakhir, sebagai bukti bahwa seorang hamba telah berhasil mengusir dan melawan nafsu jahatnya maka ia wajib berkorban dengan menyembelih kambing, unta ataupun sapi. Pengorbanan atau penyembelihan ini sesungguhnya hanyalah lambang ketaatan dan ketakwaan terhadap Tuhannya, Allah Azza wa Jalla sebagaimana dicontohkan Ibrahim as yang dengan patuh melaksanakan perintah-Nya walau perintah tersebut adalah perintah untuk menyembelih putra satu-satunya.

Beruntung, kita tidak dicoba dengan perintah untuk menyembelih anak kita! Allah swt amat memahami tingkat keimanan kita. Oleh karenanya Ia hanya menyuruh kita untuk mengorbankan sebagian harta dan waktu yang sungguh tidak seberapa dibanding segala nikmat yang telah kita terima… Masya Allah …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26/12/06.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts