Feeds:
Posts
Comments

Pada 7 Oktober 2025, 2 tahun genap sudah pasukan Zionis Israel melakukan genosida terhadap penduduk Gaza yang luasnya hanya setengah Jakarta (363 km2) hingga menelan sekitar 63.700 korban meninggal kebanyakan anak-anak, ratusan ribu terluka dan puluhan bangunan luluh lantak.

Bahkan rumah sakit dan antrian panjang orang yang mengantri bahan pokok makananpun tak luput jadi sasaran kekejaman Zionis. Demikian pula orang yang bermaksud membantu evakuasi ledakan bom dan drone Zionis. Dengan sengaja mereka membiarkan anjing berdatangan mengendus mayat-mayat yang berserakan tersebut … Na’udzu billah min dzalik … Sungguh biadab …   

https://international.sindonews.com/read/1627047/43/mayat-mayat-bergeletakan-di-jalanan-gaza-tentara-israel-halangi-tim-evakuasi-1759241379

Kesadisan dan kebrutalan tentara Zionis yang sudah jauh diatas batas kewajaran tersebut membuat dunia muak hingga membuahkan protes dan demo di seluruh penjuru dunia. Belanda dan Italia tercatat memecahkan rekor terbesar demo pro Palestina. Di Italia semua kota besar melakukan demo besar-besaran.  Spanyol belakangan bahkan melakukan tindakan nyata menghentikan kerja sama dengan Israel.

Tidak sedikit kejuaraan seni dan olahraga ajang dunia yang menolak keterlibatan tim Israel.  Termasuk pemerintah Indonesia yang sebentar lagi akan menjadi tuan rumah olah raga senam. Tapi anehnya tidak sedikit pula orang Indonesia yang mencemoohnya. Menurut Prof Sudarnoto, seorang cendekiawan Muslim dari Muhammadiyah,  ada dua persen pembela atau pendukung Zionisme di Indonesia.  Bukan jumlah sedikit … Alangkah menyedihkannya …

Sementara Global Sumud Flotilla ( GSF), sebuah aksi kemanusiaan kolaborasi manca Negara demi mendobrak blokade Israel terhadap Jalur Gaza yang terancam bahaya kelaparan akut, kembali berani menunjukkan diri. Setidaknya 15.000 peserta yang terdiri dari aktivis, dokter, artis bahkan juga pejabat lebih dari 44 negara tercatat dalam misi kemanusiaan terbesar yang pernah ada di muka bumi ini. Dengan membawa obat-obatan, susu bayi, pampers dan kebutuhan pokok lainnya, pada Agustus hingga September 2025, sekitar 450 peserta dengan menumpang lebih dari 50 kapal berlayar menuju Gaza.

Ironisnya, pada 3 Oktober begitu mendekati tujuan, meski masih berada di wilayah lautan internasional, mereka disergap tentara Israel. Persis seperti yang dialami kapal Turki Mavi Marmara dan 5 kapal lainnya yang datang  dengan membawa misi serupa. Tragedi memilukan yang terjadi pada tahun 2010 tersebut memakan korban 10 penumpang tewas dan 50 lainnya terluka.

Kali ini tentara Israel memang tidak menembaki para aktivis, tapi mereka menangkap dan menjebloskannya ke penjara Israel. Namun karena tekanan internasional 2 hari kemudian sebagian aktivis tersebut dideportasi ke Negara masing-masing. Akan tetapi meski hanya dalam waktu sangat singkat para aktivis yang sedang menjalankan tugas mulia tersebut diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi. Bahkan dengan ringannya pihak Israel mengatakan bahwa misi tersebut merupakan perpanjangan Hamas yang mereka cap sebagai teroris.

https://news.detik.com/internasional/d-8145974/dideportasi-aktivis-global-sumud-flotilla-kami-diperlakukan-bak-binatang

Tampak jelas Israel tidak peduli dengan tanggapan internasional atas perbuatannya yang semena-mena tersebut. Ini terjadi karena dukungan Amerika Serikat yang selalu merestui apapun yang dilakukan mitranya itu. Bukti nyata setiap PBB melakukan sidang pembahasan kebebasan Palestina, negri paman Sam tersebut selalu memvetonya.   

Pada pra sidang KTT PBB September 2025 lalu, tak lama setelah mengumumkan persetujuannya atas solusi 2 negara Palestina dan Israel, Perancis dibawah presiden Macron dengan menggandeng Arab Saudi berinisiatif mengumpulkan puluhan pemimpin dunia demi menggalang dukungan internasional terkait solusi dua Negara tersebut. Andorra, Belgia, Luksemburg, Malta dan Monako langsung bergabung  dalam deklarasi bersama ini. Sidang tersebut berlangsung di sela-sela Sidang Umum PBB di pusat PBB, yaitu New York.

Alhasil pada Sidang Umum PBB pada Senin, 22 September 2025, 153 dari 193 anggota PBB secara resmi memberikan pengakuan berdirinya Palestina sebagai Negara. Termasuk negara-negara mitra Israel seperti Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal. Sementara Irlandia, Spanyol dan Norwegia sejak Mei 2024 sudah lebih dahulu menyatakan akan menyetujui Palestina sebagai Negara, hal yang membuat PM Israel uring-uringan.

Namun lagi-lagi Amerika Serikat memveto hasil sidang tersebut. Tak ayal presiden Kolombia yang di sidang paling bergengsi di dunia itu berpidato secara berapi-api dan terang-terangan menyerang negeri adi daya tersebut langsung mengecam tindakan konyol tersebut. Begitu juga presiden Cina.

Tapi anehnya, Amerika Serikat ini pula yang dipercaya memberikan draft rencana penghentian perang Israel-Palestina (Hamas). Diantara butir-butir terdapat butir pelucutan senjata Hamas yang diberi label teroris. Sayangnya hanya Erdogan, presiden Turki yang secara nyata berani memberikan label pejuang kemerdekaan bagi Hamas, bukan teroris.  

Lain lagi dengan presiden Indonesia Prabowo, yang sepintas terlihat garang dengan gaya bicaranya yang penuh retorika menggebrak meja. Namun ternyata setelah diperhatikan meski mendukung berdirinya Negara Palestina ( yang hidup berdampingan dengan Israel) tapi juga menekankan untuk melindungi Israel !! Sebuah pertanyaan besar, melindungi dari apa?? Tidak cukupkah sebegitu banyak tindakan melanggar hukum internasional yang didiamkan saja?? Belum lagi kata sambutan Prabowo “Shalom” dalam bahasa Ibrani yang berarti “damai”. Dan ini tak lepas dari pengamatan media Israel sebagai pesan rekonsiliasi dengan Israel.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20250924124006-4-669768/media-israel-sorot-pidato-prabowo-di-pbb-soroti-shalom-palestina

Sementara presiden Palestina, dalam sidang PBB tersebut secara online mengatakan tindakan Hamas pada 7 Oktober yang dianggap sebagai pemicu perang, tidak mewakili Palestina. Mahmud Abbas yang telah menduduki jabatan tertinggi sejak 2005 adalah dari partai Fatah yang selalu berseteru dengan Hamas yang menguasai Jalur Gaza.

Tindakan Hamas menyerang dan menculik sejumlah warga Israel pada 7 Oktober 2023 yang selalu dijadikan alasan Israel melakukan genosida, sejatinya adalah salah satu usaha untuk melawan penjajah Israel yang menguasai Palestina selama 77 tahun tanpa reaksi berarti dunia. Meski tak sedikit pihak yang meragukan kabar terbunuhnya 1000 lebih warga Israel adalah benar-benar akibat serangan Hamas. Banyak video beredar bagaimana senjata-senjata canggih tentara Israel justru yang menjadi penyebab terbunuhnya korban sebanyak itu.     

Kekejaman tentara pendudukan Zionis Israel sudah terjadi jauh sebelum peristiwa 7 Oktober. Bukan rahasia lagi bahwa hampir setiap hari rakyat Palestina selama 77 tahun tersebut selalu diperlakukan dengan tidak adil bahkan kejam. Berbagai kebebasan termasuk kebebasan berpendapat yang seharusnya merupakan hak rakyat dibatasi. Rumah dan tanah rakyat digusur, diambil paksa. Ribuan rakyat ditangkap, dipenjara, disiksa secara sadis hingga cacat seumur hidup, bahkan dibunuh tanpa alasan jelas. Adakah reaksi dunia???

Sebaliknya tawanan Israel yang ditangkap Hamas diperlakukan dengan amat sangat baik. Mereka dilindungi, diberi perawatan dokter dan makanan cukup padahal penduduk Gaza menderita kelaparan hebat akibat tentara Israel yang membombardir seluruh fasilitas umum yang ada di Gaza. Pengakuan para ex sandera Israel dapat dicari dengan mudah di medsos, bila tidak diblokir tentunya.

Tindakan Hamas memperlakukan tawanan perang dengan sangat baik tak lain adalah meniru apa yang diperintahkan Al-Quran dan dicontohkan Rasulullah SAW. “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” [Terjemah QS.Al-Insan(76):8).

Aku wasiatkan agar kalian berbuat baik terhadap mereka -yaitu tawanan-.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, 977).

Hamas adalah pejuang Palestina yang tidak hanya menuntut kemerdekaan Palestina tapi juga adalah para mujahidin yang berjihad demi mempertahankan Masjidil Aqsho yang merupakan rumah suci ke 3 umat Islam yang sejatinya adalah incaran utama Zionis Israel.

https://spiritofaqsa.or.id/pemukim-yahudi-serbu-masjid-al-aqsha-tentara-israel-ubah-rumah-di-tepi-barat-jadi-barak-militer.html

Kabar terbaru, kesepakatan gencatan senjata memang telah tercapai namun siapa yang berani menjamin Israel yang dikenal sering ingkar janji dan selalu melanggar hukum namun tidak pernah diadili, bakal mematuhinya? Bahkan baru beberapa jam setelah presiden AS Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan awal tahap pertama gencatan senjata, tentara Israel mengebom rumah sebuah keluarga Palestina di wilayah barat Gaza menyebabkan lebih dari 70 warga sipil syahid dan terluka, sementara banyak korban lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan. Astaghfirullah …

https://spiritofaqsa.or.id/israel-lakukan-pembantaian-di-distrik-sabar-hamas-penjajah-ingin-gagalkan-implementasi-gencatan-senjata.html

Lalu sebagai umat Islam, apa yang telah dan akan kita lakukan untuk saudara/saudari kita yang terdzalimi tersebut?? Akankah kita terus diam membisu padahal sebagian besar Barat yang notabene mitra Israel telah memberikan pembelaan mereka???

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya). ‘ (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 10 Oktober 2024/ 18 Rabi’ul Akhir 1447H.     

Vien AM.

Hafshah adalah putri ‘Umar Abu Hafsh, Amirul Mukminin. Nama lengkap dengan nasabnya adalah Hafshah Hafshah binti ‘Umar bin Al-Khatthab bin Nufail bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Rabah bin ‘Abdillah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Lui bin Ghalib Al-Qurasyi Al-‘Adawi.

Ibunya adalah Zainab binti Mazh’un bin Hubaib bin Wahb bin Hudzafah bin Juma’.

Hafshah lahir lima tahun sebelum nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi nabi dan dibangun Ka’bah. Sebelumnya ia telah menikah dengan Khunais bin Hudzafah bin Qais. Keduanya sempat berhijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan agamanya dari serangan orang-orang Quraisy. Lalu mereka kembali untuk selanjutnya hijrah menuju Madinah.

Pada usia Hafshah yang ke 18 tahun, Khunais bin Hudzafah mengikuti perang Badar dan meninggal dunia setelah perang Badar dikarenakan luka parah yang ia alami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolatkannya dan memakamkannya di pekuburan Baqi’ di samping sahabat yang agung, Utsman bin Mazh’un, saudara ibu Hafshah.

Umar radhiyallahu ‘anhu sungguh terpukul menerima nasib putrinya  yang harus menjadi janda dalam usia sangat muda. Untuk itu ia menawarkan putri tercintanya tersebut kepada Abu Bakar maupun Utsman bin ‘Affan untuk dinikahi. Namun keduanya enggan karena tahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan melamarnya.

Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Hafshah pada tahun 3 H (sebelum perang Uhud) dengan mahar sebesar 400 dirham. Saat itu pula, Utsman bin Affan menikahi Ummu Kultsum setelah meninggalnya Ruqayyah, putri rasulullah, yang menjadi istri Utsman sebelumnya.

Setelah Umar menikahkan Hafshah, Abu Bakar menemuinya dan menyampaikan alasannya mengapa ia menolak Hafshah, َ“Jangan kesal kepadaku, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebut nama Hafshah. Aku tidak mau mengungkapkan rahasia beliau. Dan seandainya beliau meninggalkannya, niscaya aku menikahinya.” (HR. Bukhari, no. 5122).

Keutamaan Hafshah binti ‘Umar.

Pertama: Ia sangat mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Buktinya adalah Hafshah selalu mencari ridha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjalankan apa yang ia inginkan, juga menjauhi apa yang beliau benci. Hafshah tidak pernah surut dalam upaya membahagiakan dan menggembirakan beliau. Setiap saat yang ia lalui disamping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu ia manfaatkan untuk semakin mendekat dan mendekat lagi kepada Allah. Ia mempelajari semua bentuk ketaatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendekatkannya kepada Allah.

Seperti itulah kehidupan suami istri yang mewujudkan kebahagiaan yang selalu menyeruak di rumah mereka. Apa yang dijalankan Hafshah ingin merealisasikan hadits berikut ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasa’i, no. 3231dan Ahmad, 2:251. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Kedua: Hafshah dikenal sangat cerdas karena ia diajarkan khusus oleh Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam, sampai ia mahir dalam kitabah (penulisan) karena diajarkan oleh Asy-Syifa’ binti ‘Abdillah.

Di antara bukti kecerdasan Hafshah pula dapat dilihat dari peristiwa berikut. Hafshah pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Aku berharap tidak ada seorang pun yang masuk neraka dengan kehendak Allah bagi yang menghadiri perang Badar dan menghadiri Hudaibiyah.” Kalimat tersebut terasa aneh oleh Hafshah karena seolah-olah bertentangan dengan ayat, “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Terjemah QS.Maryam(19):71). [Di antara tafsiran ayat ini adalah orang beriman akan melewati shirath pada hari kiamat]. Hafshah membacakan ayat ini pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat kepada Hafshah, “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.”(Terjemah QS. Maryam(19):72).

Akhirnya Hafshah memahami apa yang dimaksud dengan ayat tersebut. (HR. Ibnu Majah, no.3473. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ketiga: Hafshah jadi sebab turunnya ayat, “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1).

Dalam Shahihain dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum madu di tempat Zainab binti Jahsy dan tinggal bersamanya. Aku membuat kesepakatan dengan Hafshah bahwa siapa pun dari kami yang ditemui beliau hendaknya ia menanyakan kepada beliau, apakah engkau makan maghafir? Aku mencium bau maghafir darimu. Beliau pun mengatakan, “Tidak, akan tetapi aku minum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Aku tidak akan mengulangi lagi. Aku pun sudah bersumpah. Jangan diberitahukan itu kepada siapa pun.” (HR. Bukhari, no. 4912 dan Muslim, no. 1474).

Kemudian Allah pun menurunkan ayat (yang artinya), “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.At-Tahrim: 1).

Keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mentalak Hafshah lalu rujuk lagi dan Hafshah diberikan kabar gembira menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.

Kelima: Hafshah dikenal rajin beribadah, rajin shalat malam dan rajin berpuasa di siang harinya. Dalam hadits dari Anas bin Malik dan Qais bin Zaid, Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Jibril berkata kepadaku, ‘Kembalilah (rujuklah) kepada Hafshah karena ia adalah wanita yang rajin berpuasa, rajin shalat malam, dan ia akan jadi istrimu di surga.’” (Diriwayatkan oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir, no. 6061.Hadits ini shahih)

Keenam: Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihiwa sallam, Hafshah tetap dikenal rajin dalam ibadah termasuk juga rajin bersedekah pada fakir miskin yang membutuhkan. Ia juga sering jadi tempat bertanya para sahabat lainnya.

Al-Qur’an yang telah dikumpulkan berawal dari masa Abu Bakr, lalu berpindah pada Umar. Lalu setelah bapaknya wafat, Al-Qur’an tersebut berpindah pada Hafshah.

Wafatnya.

Hafshah meninggal dunia tahun 45 Hijriyah pada khilafah Mu’awiyah. Yang menyolatkannya ketika meninggal dunia adalah Marwan bin Al-Hakam yang menjabat di Madinah ketika itu.

Yang menurunkan jenazahnya dalam kubur ketika itu adalah dua saudaranya ‘Abdullah bin ‘Umar dan ‘Ashim bin ‘Umar, juga putra-putra dari Ibnu ‘Umar yaitu Salim, ‘Abdullah, dan Hamzah.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Vien AM.

Jakarta, 26 September 2025.

Referensi:

Barat sering menuduh Islam disebarkan dengan pedang, atau dengan kata lain dengan perang (kekerasan dan kekuatan). Benarkah demikian??

“ Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. ( Terjemah QS An-Nuur(24:55).

Ayat di atas adalah janji Allah swt bahwa jika orang-orang beriman mengerjakan amal perbuatan baik maka :

1. Allah akan menjadikan mereka penguasa di muka bumi. 2. Allah tegakkan Islam, 3. Aman dan sentausa, 4. Tidak menyekutukan Allah swt dengan apapun.

Itulah yang terjadi pada era terakhir kehidupan Rasulullah, sahabat khualarrasyidin, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, selama kurang lebih 8 abad hingga jatuhnya Turki Ustmani pada 1924. Zaman kejayaan Islam yang daerah kekuasaannya membentang dari Andalusia di Spanyol, sepanjang Afrika Utara ( Maroko, Aljazair, Tunisia, Libia dan Mesir), seluruh semenanjung Arab ( Arab Saudi, Kuwait, UEA, Bahrain, Qatar, Yaman, Oman), Asia Tengah (Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan),  Asia Kecil (Turki, Suriah, Palestina, Yordania dan Lebanon), Asia Barat ( Irak dan Iran), Eropa Timur ( Bulgaria, Yunani, Albania, Makedonia dan Yunani) hingga perbatasan barat negri China.

Dalam buku berjudul “Bonaparte et L’Islam” yang ditulis oleh Christian Cherfils, Napoleon Bonaparte (Napoleon I), pendiri Empirium Perancis (1769-1821 M) berkata,

“Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia…Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. … Muhammad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separoh bola bumi. … Muhammad memang seorang manusia besar”.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):21).

Pada saat itu orang-orang beriman benar-benar menjalankan seluruh isi Al-Quran sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah saw, tidak memilih dan hanya mengamalkan ayat-ayat yang mereka sukai saja.        

Yang dimaksud penguasa di muka bumi pada ayat di atas adalah pemerintah dibawah pimpinan tertinggi baik itu presiden atau raja/sultan, yang taat pada Tuhannya. Itulah tahta. Sedangkan harta yang dimaksud pada judul di atas adalah harta yang didapat para pengusaha dengan cara yang halal dan menggunakannya sesuai syariat.

Jadi makna tahta dan harta adalah perisai pada judul tulisan ini yaitu bahwa penguasa dan pengusaha yang takwa adalah jaminan tegak dan teguhnya agama tanpa sedikitpun adanya kesyirikan. Yang dengan demikian rakyat akan dapat menjalankan kehidupan yang baik sesuai syariat. Hingga Allah swt pun ridho memberikan perlindungan dan menjadikan tanahnya aman sentausa, rakyatnya sejahtera.

Karena tak dapat dipungkiri untuk menjalankan syariat Islam dibutuhkan perlindungan yang kuat, yaitu penguasa. Sementara pengusaha sangat dibutuhkan tidak saja agar rakyat tidak kelaparan namun juga agar dapat menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan dan sains.

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. ( Terjemah QS. At-Taubah(9):122).  

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):190-191).

Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, hendaklah ia menguasai ilmu” ( HR. Ahmad).

Artinya pendapat Barat bahwa  Islam disebarkan dengan pedang atau perisai tidaklah benar. Yang benar dan tepat, penguasa ( tahta) dan pengusaha (harta) adalah perisai berdirinya ajaran Islam.  Perang-perang  yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat adalah pertahanan/defensive demi tersebarnya kalimat Allah agar bumi ini damai dibawah lindungan Allah swt.   

Itu sebabnya mengapa Rasulullah saw bersusah-payah mendatangi Thaif, kota sejuk 95 km sebelah timur Mekah, tempat para petinggi Quraysi menghabiskan waktu senggangnya. Rasulullah berusaha mendapatkan dukungan penguasa agar risalah Islam yang diembannya dapat ditrima dan berkembang dengan baik. Meski ternyata penduduk Thaif menolak bahkan mengusir beliau.

Begitu juga paska penaklukan Mekah, Rasulullah memperlakukan petinggi Mekah, Abu Sufyan yang ketika itu belum memeluk Islam, dengan sangat istimewa, “Siapa saja yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, siapa saja yang menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan siapa saja yang memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman”.

Demikian pula pernikahan Rasulullah dengan Shafiyyah binti Huyay, putri penguasa Yahudi Khaibar yang dikalahkan pasukan Islam. Sebagai bentuk penghargaan Rasulullah memberikan Shafiyyah 2 pilihan yaitu menikah dengan Rasulullah dan masuk Islam atau dikembalikan kepada keluarganya. Ternyata putri penguasa Yahudi tersebut memilih menikah dengan Rasulullah dan memeluk Islam. Namun selain itu Rasulullah sangat berharap agar pernikahan tersebut dapat melunakkan hati orang-orang Yahudi untuk mau menerima Islam.   

Para sahabat utama seperti Abu Bakar ra, Ustman bin Affan ra dan Abdurrahman bin Auf ra yang keislamannya tidak diragukan lagi, sejatinya adalah pengusaha sukses di zamannya. Ketiganya dikenal sebagai orang-orang yang sangat dermawan. Namun ketiganya memiliki cara masing-masing dalam menginfakkan harta mereka.

Abu Bakar tercatat wafat dalam keadaan tidak memiliki harta sedikitpun. Khalifah pertama ini menginfakkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Islam. Sesuatu yang diizinkan Rasulullah khusus untuk Abu Bakar. Semasa hidupnya, ketika masih di Mekah, jauh sebelum menjadi khalifah, Abu Bakar sering sekali membebaskan para budak Muslim dengan menebusnya dari tuannya. Tak kurang dari 70 budak ia bebaskan. Bilal adalah salah satu diantaranya.

Sementara Ustman bin Affan, khalifah khulafaur rasyidin ke tiga, tercatat sebagai orang kaya raya hingga akhir hayatnya. Ketika wafat, ia mewariskan harta peninggalan yang jika diakumulasikan totalnya mencapai lebih dari Rp 2,5 triliun.  Semasa hidupnya, Ustman banyak sekali membantu perjuangan Islam. Diantaranya yaitu pada perang Tabuk melawan Romawi. Ia menyumbangkan 300 ekor unta dan 1000 dinar dari kantong pribadinya untuk bekal perang.

Dengan hartanya yang berlimpah, Ustman bin Affan pernah membeli sumur air milik Yahudi dengan harga sangat tinggi. Itupun dengan syarat Ustman hanya boleh mengambil airnya 2 hari sekali, bergantian dengan si Yahudi yang menjual air tersebut kepada kaum Muslimin dengan harga tinggi.

Ustman tidak kehabisan akal, jatahnya ia berikan kepada kaum Muslimin secara cuma-cuma. Akibatnya Yahudi tersebut tidak mendapatkan apapun karena kaum Muslimin hanya mengambil air di hari-hari milik Ustman. Akhirnya iapun menjual seluruh sumur tersebut. Sumur yang dikenal dengan nama sumur Raumah tersebut hingga hari ini masih mengalir. Menjadikannya satu-satunya sumur pada zaman Rasulullah yang masih berfungsi, selain sumur zamzam tentunya.

Akan halnya Abdurrahman bin Auf, sahabat yang mempunyai julukan “ Sahabat bertangan Emas” dan merupakan sahabat terkaya diantara para sahabat tetap kaya hingga akhir hayatnya. Abdurrahman bin Auf sering memborong dagangan dari kota Syam untuk dibawa ke Madinah. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, Abdurrahman bin Auf seringkali membawa pulang 700 kontainer dagangan seperti barisan pawai yang tak ada putusnya.

Hingga suatu hari Abdurahman mendengar Rasulullah menerangkan tentang perbedaan waktu hisab antara orang kaya dan orang miskin. “Kelak dihari kiamat, orang kaya akan lebih lama menjalani perhitungan amal dibandingkan orang miskin. Dan aku ada berada di barisan orang-orang miskin”.

Sejak itu ia menjadi resah dan selalu merenung. Ia sering menangis setiap teringat apa yang dikatakan Rasulullah. “Aku tidak mau berlama-lama di Yaumul Hisab hanya karena kekayaan yang aku punya. Ya Allah, aku mohon miskinkanlah diriku dan masukkanlah aku ke dalam barisan orang-orang miskin bersama Rasulullah di hari akhir nanti”,rintihnya.

Berbagai cara ia lakukan agar hartanya habis, cara yang baik tentunya. Namun Allah swt telah takdirkan Abdurrahman menjadi orang kaya selama hidupnya. Itu adalah ketetapan Allah yang harus ia terima dan jalani.

Abu Bakar ra, Ustman bin Affan ra dan Abdurrahman bin Auf ra adalah sedikit contoh dari banyak sahabat yang notebene adalah orang-orang beriman dengan akidah kokoh yang mengerjakan amal-amal saleh sebagaimana ayat 55 surat An-Nuur di awal tulisan. Mereka adalah pejuang tangguh sekaligus pengusaha sukses yang Allah beri amanah memegang kekuasaan di muka bumi ini.

Sayangnya hari ini tidak sedikit kaum Muslimin yang tidak mau menteladani jejak Rasulullah saw dan para sahabat. Dan lebih sayangnya lagi banyak musuh-musuh Islam yang mengetahui hal tersebut. Contohnya adalah ucapan Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis yang terekam dalam buku tulisan Cherfils yang sama dengan di atas :

“Selama Al-Quran ini berkuasa di tengah-tengah kaum Muslimin, dan mereka hidup di bawah naungan ajaran-ajarannya yang sangat istimewa, maka kaum Muslimin tidak akan tunduk kepada kita, kecuali bila kita pisahkan antara mereka dengan Al-Quran.” 

https://www.goriau.com/ragam/kaisar-prancis-napoleon-bonaparte-mualaf.html

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 September / 20 Rabi’ul Awal 1447H.

Vien AM.

Disebutkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri, pada suatu hari, Rasulullah saw masuk ke masjid. Ternyata di sana sudah ada seorang laki-laki Anshar yang bernama Abu Umamah. Beliau kemudian menyapanya: “Hai Abu Umamah, ada apa aku melihatmu duduk di masjid di luar waktu shalat?”. Abu Umamah menjawab : “Kebingungan dan hutang-hutangku yang membuatku (begini), ya Rasul”.

Rasulullah kembali bertanya: “Maukah kamu jika aku ajarkan suatu bacaan yang jika kamu membacanya, Allah akan menghapuskan kebingunganmu dan memberi kemampuan melunasi hutang?” 

Umamah menjawab : “Tentu, ya Rasul”. Nabi pun menyatakan: “Jika memasuki waktu pagi dan sore hari, maka bacalah:

Allâhumma innî a‘ûdzu bika minal hammi wal hazan. Wa a‘ûdzu bika minal ‘ajzi wal kasal. Wa a‘ûdzu bika minal jubni wal bukhl. Wa a‘ûdzu bika min ghalabatid daini wa qahrir rijâl “ 

Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang-orang.  

Abu Umamah lalu menuturkan: “Setelah aku mengamalkan doa itu, Allah benar-benar menghilangkan kebingunganku dan memberi kemampuan melunasi hutangku”.

Bingung, sedih, lemah, malas, takut, kikir, lilitan hutang dan tekanan manusia lain adalah 8 perkara tidak menyenangkan tapi sering dialami manusia. Namun demikian bagi seorang Muslim yang baik, tidak sepatutnya perasaan dan sikap yang seperti itu dipelihara. Muslim yang baik harus kuat, tabah dan sabar menghadapi segala cobaan. 

Karenanya tak heran bila kemudian Rasulullah mengajarkan doa yang tidak khusus hanya untuk Abu Umamah namun juga berlaku untuk semua umatnya. Doa sejatinya adalah senjata kaum Muslimin yang paling ampuh dalam menghadapi segala masalah. Allah swt memasukkan orang yang tidak mau memohon doa padaNya sebagai orang yang sombong dan tempatnya adalah neraka Jahanam.

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina”. (Terjemah QS. Ghafir (40):60).

Hidup adalah cobaan, ujian dari Sang Pencipta sebagaimana ayat 155 surat Al-Baqarah “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan”.

Allah swt menguji manusia untuk mengetahui mana hamba-Nya yang sabar dan takwa mana yang tidak. Ialah yang menganugerahkan hidayah, rezeki, jodoh, keturunan dll kepada siapa yang Ia kehendaki. Namun manusia wajib berusaha untuk menggapainya. Al-Quran secara tegas memerintahkan manusia untuk aktif dan produktif dalam melakukan sesuatu. Hal tersebut guna menghindari waktu luang yang umumnya kerap diisi dengan kegiatan yang kurang bermanfaat. Menghidari waktu luang bukan berarti menghilangkan porsi istirahat setelah mengisi hari dengan ibadah, bekerja, belajar, dan kegiatan lainnya.

Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. (Terjemah QS. Al-Insyirah (94):7).

Buya Hamka melalui Tafsir Al-Azhar, beliau menjelaskan bahwa Allah mengingatkan pada Rasulullah saw dan umatnya untuk tidak cepat berpuas hati dengan hasil usahanya. Oleh karenanya, apabila seseorang telah selesai suatu urusan (urusan dunia serta kesibukannya) maka segera mengerjakan urusan yang lain. Inilah yang akan menjadikan orang menjadi kuat, tidak lemah dan tidak mudah mengeluh.

Allah swt sangat membenci orang malas hingga bisa jadi rezekinyapun Ia batasi. Akibatnya orang bersangkutan susah hidupnya sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Maka dalam keadaan galau, sedih, takut dan kikir karena memang tidak memiliki apapun, ia terjebak dalam hutang.

Dan ketika akhirnya hutang melilitnya apapun terpaksa dilakukan. Tergadai sudah nyawanya. Hilanglah kemerdekaan dirinya padahal kemerdekaan adalah hal terpenting dalam hidup. Inilah yang dimaksud “min qahrir rijâl” ( dari tekanan orang) pada akhir doa yang diajarkan Rasulullah di atas, yaitu orang yang memberinya hutang dengan tujuan memeras.

Ini pula salah satu penyebab penderitaan berkepanjangan rakyat Palestina, Gaza khususnya, hingga detik ini. Negara-negara Timur Tengah tetangga Palestina seperti Yordania, Mesir, Arab Saudi dll, tak mampu berbuat banyak untuk menolong saudaranya yang terdzalimi, adalah akibat tersandera hutang dan kepentingan politik Israel dan Amerika Serikat.

Dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Tangan diatas maksudnya adalah memberi, sedangkan tangan dibawah adalah meminta.

Selanjutnya pada ayat 8 surat Al-Insyirah “dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” menunjukkan bahwa manusia hanya bisa berusaha sedangkan hasilnya adalah milik Allah swt.

Artinya, bila setelah berusaha maksimal hasilnya tidak sesuai keinginan tidak sepatutnya seorang Muslim menjadi kecewa, galau, sedih berkepanjangan apalagi sampai putus asa dan bunuh diri.

Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi harta karena Allah, menahan harta karena Allah, maka telah sempurna imannya”. (HR. Abu Daud no.4681, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai seseorang, maka Dia akan memanggil malaikat Jibril alaihi salam seraya berseru: “Hai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai si fulan. Oleh karena itu, cintailah ia!”’

Rasulullah bersabda: “Akhirnya orang tersebut pun dicintai Jibril. Setelah itu, Jibril berseru di atas langit; “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai si fulan. Oleh karena itu, cintailah ia!  Kemudian para penghuni langit pun mulai mencintainya pula. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setelah itu para penghuni bumi juga mencintainya”.

Sebaliknya, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci seseorang, maka Dia akan memanggil malaikat Jibril dan berseru kepadanya: “Sesungguhnya Aku membenci si fulan. Oleh karena itu, bencilah ia”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Lalu malaikat Jibril berseru di langit; “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci si fulan. OIeh karena bencilah ia!“. Kemudian para penghuni langit membencinya. Setelah itu para penghuni dan penduduk bumi juga membencinya.

Dua hadist diatas menunjukkan betapa cinta dan benci Allah swt kepada seorang hamba akan sangat mempengaruhi cinta dan benci manusia kepada kita. Oleh sebab itu jangan pernah berharap pada manusia, berharap pada imbalannya. Lakukan semua perintahNya, jauhi segala laranganNya sesuai apa yang dicontohkan Rasulullah saw, maka kebahagiaan dunia dan akhiratpun kita raih.

Dan ta`atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat“. ( Terjemah QS. Ali Imran(3):132).

Sekecil apapun amal kebaikan kita Allah swt pasti akan melihat dan membalasnya sebagaimana ayat 7 dan 8 surat Al-Zalzalah, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.(Terjemah QS.Al.Qashash (28):77).

Wallahu’alam bi shawwab. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Jakarta, 24 Agustus 2025, 29 Rabi’ul Awal 1446 H.

Vien AM.

Pada bulan Juli 2025 yang baru lalu kami mendapat kesempatan mengunjungi penjara Nusa Kambangan. Ini bukanlah hal yang mudah mengingat penjara tersebut adalah penjara paling mencekam di Indonesia. Perlu izin khusus untuk memasukinya. Kebetulan ada teman penduduk asli Cilacap yang mengurusnya, Alhamdulillah …

Penjara ini sering disejajarkan dengan penjara Alcatraz di Amerika Serikat. Ini disebabkan selain karena sama-sama berada di sebuah pulau juga merupakan penjara bagi penjahat kelas kakap dengan hukuman maha berat seperti  hukuman seumur hidup atau bahkan tembak mati. Oleh sebab itu penjara yang didirikan pada tahun 1908 tersebut mendapat julukan Pulau Kematian.

Penjara dengan tingkat keamanan extra maksimum di Indonesia ini terletak di pulau Nusa Kambangan, sekitar 15 menit menyeberang dengan ferry dari Cilacap di perbatasan selatan antara Jawa Barat dan  Jawa Tengah. Wilayah selatan pulau ini menghadap langsung ke Samudra Hindia dengan pantai karang dan ombaknya yang besar. Itu sebabnya tidak mudah bagi narapidana untuk melarikan diri dari pulau penjara ini. Apalagi dengan adanya berbagai binatang buas seperti  buaya, macan tutul, ular kobra, biawak dll. Meski kabarnya ada sejumlah napi berhasil kabur. Contohnya adalah Johny Indo, napi Iran dll.

Namun menurut petugas yang mendampingi kami tak satupun napi berhasil kabur. Petugas yang ramah jauh dari kesan garang tersebut, menceritakan beberapa kejadian aneh yang pernah terjadi di penjara tersebut. Diantaranya adalah kisah pelaku bom  Bali yang di eksekusi tembak mati tapi tidak mati ketika ditembak, napi koruptor kelas kakap yang mengalami stress berat karena tidak mampu menjalani kehidupan di penjara hingga akhirya dipindahkan ke penjara lain yang lebih “ramah” alias bisa trima suap.

Sudah bukan rahasia lagi bahwasanya banyak penjara seperti itu. Napi membayar dalam jumlah uang sangat besar agar dapat menjalani kehidupan nyaman di dalam penjara, bisa keluar masuk penjara sesukanya dll. Napi dan penjaganya sama-sama melanggar hukum tapi anehnya tidak terkena hukum. Itulah penjara dunia yang terdapat jual beli didalamnya. Tidak seperti penjara akhirat.

Para malaikat penjaga neraka tidak mengenal kompromi Meraka menjalankan tugas yang diberikan Allah swt dengan amat sangat sempurna. Hukuman di neraka berkali-kali lebih mengerikan daripada hukuman di penjara dunia.

Sesungguhnya azab yang paling rendah dari penduduk neraka adalah seseorang memakai kedua sandalnya dari neraka. Otaknya pun melepuh karena panasnya kedua sandalnya.” (HR. Muslim).

Itu sebabnya penghuni neraka sangat amat ingin keluar dari tempat mengerikan tersebut. Untuk itu mereka rela tidak saja membayar harga tinggi namun juga menggadaikan orang-orang yang mereka sangat cintai sebagaimana surat Al-Ma’rij ayat 11 berikut,  

“ … … Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya”.

Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam, ‘Mohonkanlah kepada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami sehari saja.’ Penjaga Jahanam berkata, ‘Apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?’ Mereka menjawab, ‘Benar, sudah datang.’ Penjaga-penjaga Jahanam berkata, ‘Berdoalah kamu.’ Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.” (Terjemah QS. Ghafir(40):49-50).

Para penghuni neraka memohon agar diringankan adzabnya barang 1 hari, padahal 1 hari akhirat setara dengan seribu tahun dunia, sebagaimana ayat 47 surat Al-Hajj, “… … Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu“.

Namun demikian berkat kasih sayangNya, Ia akan mengampuni orang-orang yang ketika di dunia mau bertobat dan memperbaiki kesalahan. Allah swt mengampuni segala kesalahan dan dosa kecuali dosa syirik ( menyekutukanNya).  

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Terjemah QS.An Nisa’(4): 48).

Jadi sungguh beruntung orang beriman karena meski kesalahan dan dosa bertumpuk pada akhirnya akan keluar dari neraka dan masuk surga, meski sebelumnya ia harus menjalani hukuman di neraka sesuai kesalahannya ketika di dunia.

Demikian pula orang yang masuk penjara dunia karena kesalahannya kemudian ia rela menjalaninya dan bertaubat, mereka juga termasuk orang yang beruntung bila ia bertaubat dengan sungguh2.

Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”. ( Terjemah QS A-Furqon(25):71).

Johny Indo, seorang napi di tahun 1970an yang mendapat julukan Raja Perampok Emas dan hasil jarahannya dibagikan kepada masyarat miskin layaknya Robin Hood. Ia merampok sejumlah toko emas dan beberapa rumah para pejabat sebagai bentuk protes atas ketimpangan yang terjadi di negeri ini. Polisi berhasil menangkap dan kemudian memenjarakannya di Nusa Kambangan. Namun 3 tahun setelah menjalani hukuman, bersama puluhan napi ia berusaha melarikan diri.

Akan tetapi setelah 12 hari berusaha keluar dari penjara tersebut, akhirnya ia menyerah dan kembali masuk penjara. Setelah dibebaskan dari penjara, ia tobat lalu memeluk Islam dan menjadi dai. Kisah legendaris tersebut pernah difilmkan dengan dirinya sendiri sebagai tokohnya. Tidak sedikit napi yang keluar dari penjara lalu bertobat dan menjadi dai, selebritis Angelina Sondakh adalah diantaranya.

Jadi sungguh tepat mengapa sejak tahun 1970an pemerintah mengganti istilah penjara dengan kata lapas ( lembaga pemasyarakatan) atau LP. Karena tujuan lapas bukan hanya untuk menghukum dan membuat jera napi, tapi juga membina dan memberdayakan agar ex napi dapat dibina menjadi warga binaan yang dapat kembali bergabung ke dalam masyarakat luas dengan kesempatan baru yang lebih baik.

Sejujurnya kesan mengerikan memasuki penjara Nusa Kambangan seperti yang sering diberitakan tidak begitu kami rasakan. Setelah menyebrangi ferry dengan mobil ala satpol PP kami dibawa ke suatu tempat terbuka dimana sebuah pendopo menanti. Pendopo tersebut terletak di tepi sawah hijau nan subur.

Dari sana tampak ladang berbagai tanaman dimana napi yang sudah mendapat remisi dan akan segera dibebaskan mendapat pelatihan. Di tempat ini pulalah kami ditrima petugas yang dengan ramah menceritakan kehidupan di tempat tersebut. Kami juga diberikan kesempatan menyerahkan bingkisan berisi makanan langsung kepada napi yang akan dibebaskan tersebut. Wajah mereka tampak sumringah tidak mencerminkan penderitaan di penjara.      

Setelah itu dengan mengendarai kendaraan milik lapas kami diantar berkeliling pulau melewati beberapa penjara yang ada di pula tersebut. Menurut petugas lapas Nusa Kambangan memiliki 13 lapas dengan 3 tingkatan hukuman, yaitu  super berat, berat dan medium.    

Selama perjalanan kami tidak melihat hal-hal mengerikan. Pulau terlihat tenang bahkan cenderung sepi, teduh dan subur. Kami sempat melewati kompleks perumahan petugas yang masih baru, belum ditempati. Belakangan baru kami tahu ternyata pulau penjara tersebut akan diubah menjadi proyek percontohan pusat latihan bagi warga binaan alias ex napi yang telah bertobat.      

https://kemenimipas.go.id/berita-utama/transformasi-pulau-penjara-nusakambangan-menjadi-percontohan-pusat-latihan-bagi-warga-binaan

https://www.antaranews.com/berita/4717277/mengenal-penjara-lp-nusakambangan-dan-seluk-beluknya

Dengan kata lain, penjara dunia dan penjara akhirat sama sekali tidak dapat dibandingkan. Penjara akhirat bukan tempat untuk bertobat melainkan akhir perjalanan. Bila seorang manusia begitu takutnya masuk penjara dunia, apalagi penjara akhirat alias neraka. Karena jalan keluar dari penjara akhirat hanya berlaku bagi orang beriman, sementara pembuktian keimanan hanya ada ketika seseorang masih berada di dunia bukan setelah meninggal dunia. Sedangkan bagi orang tidak beriman alias kafir, kekal mereka di dalamnya, na’uzubillah min dzalik …

Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. ( Terjemah QS At-Taghabun(64):10).

“Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan? Mereka adalah orang-orang yang mendustakan Kitab (Al-Qur’an) dan wahyu yang dengannya para rasul Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai (dipasang) di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas. Mereka kemudian dibakar ke dalam api.” (Terjemah QS.Al-Mu’min: 69-72).

Sebagai penutup perjalanan sarat hikmah tersebut, kami diantarkan petugas menuju pantai Komando yang sangat indah dan bersih. Menurut petugas tersebut, pantai yang langsung berhadapan dengan pulau milik Australia yaitu pulau Natal di samudra Hindia, sering digunakan untuk pelatihan sekaligus pelantikan Kopasus. Pantai tersebut bersih karena memang tidak dibuka untuk umum. Alangkah beruntungnya kami, terima-kasih yaa Allah, Alhamdulillah ..  

Akhir kata, semoga kita bisa mengambil hikmahnya, aamiin ya robbal ‘aalamiin …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 11 Agustus 2025/18 Safar 1447 H.

Vien AM.

– Kalender Hijriyah dan Asal Usulnya.

Kalender Hijriyah adalah kalender/penanggalan yang dimiliki umat Islam. Kalender ini menggunakan sistem lunar atau qamariyah, yaitu penanggalan yang berdasarkan pada peredaran bulan, bukan matahari seperti kalender Masehi.

Oleh sebab itu jumlah hari dalam satu tahun kalender Hijriyah tidak sama dengan jumlah hari dalam satu tahun kalender Masehi yang 365 hari. Jumlah hari dalam kalender Hijriyah antara 354-355 hari, 1 bulan 29 atau 30 hari. Penetapan bulan-bulan Hijriah dimulai ketika hilal (bulan sabit pertama) terlihat, sedangkan perubahan hari/ tanggal dimulai pada waktu Magrib ( terbenamnya matahari) bukan pada jam 12 malam seperti kalender Masehi.

Sebagaimana kalender Masehi, kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan. Bulan-bulan tersebut adalah Muharam, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.

Tahun Hijriyah ditetapkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra,  yaitu pada tahun ke-16 setelah hijrah dengan dasar hijrahnya Rasulullah ( 622 M) sebagai awal penetapannya. Ketika itu khalifah Umar merasa kesulitan menetapkan suatu perkara tanda adanya angka tahun.

Sang khalifah lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior, di antaranya Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam  dan Thalhah bin Ubaidillah, untuk mengadakan rapat syura. Sejumlah usulanpun masuk, ada yang mengusulkan berdasarkan kelahiran Rasulullah, ada yang berdasarkan pengangkatan menjadi Rasul dan ada pula yang  berdasarkan waktu hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Yatsrib (Madinah).

– Kalender Hijriyah dan Al-Quran.

Kalender Hijriyah dengan jumlah bulannya yang 12, sangat sesuai dengan Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 36 berikut, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.

Empat bulan haram yang dimaksud ayat diatas adalah  Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Keempat bulan ini memiliki keistimewaan dan kemuliaan tersendiri.

Sistim kalender Hijriyah sangat dibutuhkan umat Islam dalam menjalani kehidupannya. Banyak sekali perintah dalam Al-Quran yang berdasarkan sistim kalender ini. Puasa Ramadhan selama 1 bulan ditutup dengan shalat Iedul Fitri adalah salah satu contohnya. Tanpa mengenal kalender Hijriyah mustahil umat Islam bisa menjalankan kewajiban tersebut.

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, … …”.( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):185).

Demikian pula perintah berhaji yang wajib dilakukan seorang Muslim sekali dalam hidupnya bila mampu. Kewajiban pergi haji dan shalat Iedul Adha tersebut hanya bisa dilakukan pada bulan Dzulhijjah. Kemudian puasa sunnah 10 dan 11 Muharam, belum lagi puasa sunnah Ayyamul Bidh yang dilaksanakan selama 3 hari di setiap pertengahan bulan Hijriah.

Sebuah pertanyaan besar mengapa Indonesia sebagai Negara mayoritas Muslim tidak menggunakan kalender Hijriyah melainkan kalender Masehi??? Jawabannya adalah akibat penjajahan Belanda selama 350 tahun. Jauh sebelum Islam datang, Belanda dan Negara-negara Barat telah menggunakan kalender Masehi, yaitu kalender yang menggunakan tahun kelahiran Yesus ( nabi Isa as) yang mereka tuhankan, sebagai patokan tahun 0. Dalam bahasa Inggris kalender Masehi adalah AD (Anno Domini) bahasa Latin yang artinya tahun Tuhan kita. Tahun sebelum lahirnya Yesus disebut BC ( Before Centuri). Sedangkan nama hari “Minggu”, berasal dari bahasa Portugis, yaitu Domingo yang berakar pada kata Latin “Dies Dominicus” yang berarti hari Tuhan.

Sementara masyarakat Arab pada masa pra Islam menggunakan metode tahun Hijrah dengan jumlah dan nama-nama bulan yang sama. Akan tetapi tanpa nomor tahunnya. Penamaan tahun diberikan sesuai dengan kejadian besar yang terjadi pada tahun bersangkutan. Contohnya adalah tahun Gajah ( 570 M) yaitu tahun lahirnya Rasulullah saw.

Namun sejak khalifah Umar bin Khattab menetapkan kalender Hijriyah, seluruh wilayah Islampun menggunakan kalender tersebut.  Di Indonesia para ulama yang membawa Islam inilah yang memperkenalkan kalender Hijriyah, meski sebelumnya telah dikenal kalender Jawa. Sultan Agung (1613-1645), Sultan Mataram Islam, kabarnya yang kemudian mengadopsi kalender Hijriyah ke kalender Jawa. Itu sebabnya terdapat kemiripan antara kedua kalender tersebut.

– Semangat Hijrah dan Muhasabbah.

Penetapan tahun Hijriyah atas dasar awal hijrahnya Rasulullah bukannya tanpa alasan.  Hijrah dari Mekah ke Madinah memiliki nilai dan hikmah yang sangat dalam. Hijrah yang artinya pindah, adalah sebuah perjuangan berat untuk berpindah dari tanah kelahiran ke tanah orang lain, dari tempat yang menolak kebenaran ke tempat yang menerima kebenaran, dari lingkungan jahiliyah menuju lingkungan Islami.

Semangat inilah yang diharapkan khalifah Umar dan para sahabat senior agar dapat memotivasi kaum Muslimin kapan dan  dimanapun berada untuk mengambil hikmahnya dan bermuhasabah. Agar dalam menjalankan perintah dan larangan Allah swt tidak semata karena kewajiban namun juga karena kecintaan dan penghormatan atas jasa besar dan pengorbanan maha berat Rasulullah saw.

Untuk itulah perlunya memahami siroh nabawyah ( sejarah kehidupan Rasulullah ) yang sangat erat kaitannya dengan Al-Quran serta asbun-nuzulnya ( sebab-sebab turunnya ayat). Bagaimana Rasulullah menyikapi ayat-ayat yang turun, bagaimana Rasulullah menghadapi perbedaan pandang umatnya dll. Intinya ibadah harus mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah saw yaitu As-Sunnah. Muhasabah atau introspeksi diri sangat dianjurkan dalam Islam sebagaimana ayat 18-19 Al-Hasyr berikut,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Muhasabah diperlukan agar kita bisa memperbaiki prilaku dan ibadah kita. Dimulai dari merenung atas apa yang telah kita perbuat selama ini, memohon ampunan/taubat kepada Allah swt sebagai Sang Pencipta dan  meminta maaf kepada orang yang telah kita sakiti.

Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” ( Terjemah QS.An-Nur (24):31).

Karena sebagai manusia biasa tidak mungkin kita bebas dari kesalahan dan dosa. Selanjutnya adalah menyusun program apa yang akan kita lakukan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Umar bin Khattab meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab“.

Hisablah dirimu sebelum amalmu dihisab dan persiapkanlah dirimu untuk menghadapi hari dimana semua mahluk dihadapkan kepada Allah, sungguh hisab terasa ringan dihari kiamat bagi orang-orang yang gemar mengoreksi dirinya di dunia”, nasehat sang khalifah.

Muhasabah seringkali dilaksanakan pada setiap tahun baru Hijriyah meski sebenarnya bisa dilakukan kapanpun. Momen tahun baru bisa menjadi pengingat penting untuk melakukan introspeksi diri atas segala perbuatan yang telah dilakukan selama setahun terakhir. Selain juga bisa menjadi momentum untuk menetapkan tujuan dan tekad baru dalam menjalani kehidupan yang lebih baik di tahun yang akan datang.

Akhir kata, semoga tahun baru 1 Muharam 1447 Hijriah yang jatuh pada Jumat 27 Juni 2025 lalu mampu menjadikan kita lebih baik dari hari-hari yang lalu, tidak asal ikut-ikutan dan meniru yang bukan milik kita. Dengan kata lain menjadi umat Islam yang kaffah ( menyeluruh, sempurna, tidak tebang pilih) dalam menjalankan ajarannya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya (kaffah), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu“. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):208).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 18 Juli 2025/ 24 Muharam 1147H.

Vien AM.