“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.(Terjemah QS. An-Nisa(4):1).
Menjaga hubungan silaturrahim baik dengan saudara yang sedarah maupun tidak, sangat dianjurkan dalam Islam. Lebih jauh, silaturrahim bukan hanya menjaga hubungan yang sudah baik, melainkan menyambung hubungan yang terputus. Hubungan silaturrahim yang baik sudah pasti membawa kedamaian. Tak salah bila semua agama mengajarkan hal yang satu ini.
Tapi Islam bukan hanya agama yang membumi, karena manusia memang hidup di bumi/dunia. Dalam Islam dunia adalah tempat bercocok tanam, tempat beramal ibadah, tempat sementara. Tempat yang relative abadi adalah kehidupan akhirat yaitu surga atau neraka. Disanalah kita akan menuai hasil yang kita tanam di dunia.
Oleh karenanya silaturrahim dalam Islam harus karena Allah swt. Inilah yang akan dinilai sebagai amal ibadah yang kelak akan diperhitungkan di akhirat. Dalam Islam bahkan senyumpun adalah ibadah, bila dilakukan demi mencari ridho-Nya.
“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Pada zaman Rasulullah saw masih hidup dan berdakwah di kota Mekah, kota kelahiran dimana orang-tua, sanak saudara berkumpul, Rasulullah justru dilecehkan dan dimusuhi bahkan akan dibunuh. Dukungan kepada dakwah Rasulullah malah datang dari penduduk Madinah yang bukan sanak saudara. Itu sebabnya ketika akhirmya Rasulullah hijrah ke Madinah beliau disambut dengan penuh suka cita oleh penduduk Madinah. Merekapun berbondong-bondong memeluk Islam.
Al-Quran menyebut pendukung Rasulullah dari Madinah ini sebagai kaum Anshor ( yang menolong). Sedangkan pendukung Rasulullah dari Mekah yang akhirnya juga ikut berhijrah ke Madinah, disebut kaum Muhajirin ( orang-orang yang berhijrah). Kaum Anshar dengan ikhlas membantu segala kebutuhan kaum Muhajirin yang terpaksa meninggalkan kota kelahiran mereka karena siksaan orang-orang Quraisy yang tidak rela mereka memeluk Islam. Dari situlah kemudian muncul apa yang disebut Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam).
“Dan penduduk Madinah yang telah beriman sebelum kedatangan Rasul (kaum Anshar) sangat mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (kaum Muhajirin). Mereka tidak pernah berkeinginan untuk mengambil kembali apa yang telah diberikan kepada Muhajirin. Bahkan, kaum Anshar lebih mengutamakan kebutuhan kaum Muhajirin dibanding diri mereka sendiri, sekalipun mereka sedang dalam kesulitan. Dan orang-orang yang memelihara dirinya dari sifat kikir, itulah orang-orang yang beruntung”. (Terjemah QS. Al-Hasyr(59): 9).
Sayangnya Ukhuwah Islamiyah yang merupakan kekuatan dasyat milik kaum Muslim ini berangsur luntur. Sebagian orang menganggap ikatan ini dianggap sebagai pemecah bangsa bahkan radikal. Ironisnya lagi tidak sedikit umat Islam yang termakan anggapan miring tersebut. Mereka tidak menyadari ini adalah bagian dari perang pemikiran ( Ghozwl Fikri) yang dihembuskan musuh-musuh Islam untuk menggembosi Islam dari dalam. Musuh-musuh Islam yang selama berabad-abad lamanya pernah terpaksa takluk dan mengakui kebesaran Islam. Dan yang dengan izin Allah swt, di akhir zaman nanti masa kejayaan tersebut akan terulang kembali.
Islam memang mengajarkan bahwa ikatan persaudaraan tidak hanya ikatan persaudaraan Islam. Ada yang namanya Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan umat manusia) yang juga disebut Ukhuwah Insaniyah. Ketiga ukhuwah tersebut wajib dijaga.
“Barangsiapa beriman pada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berbuat baik terhadap tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berbicara baik atau diam.” (HR. Ibnu Majah).
“Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan”. (HR. Al Baihaqi).
Namun ketika Islam mulai dilecehkan dan dipinggirkan, ukhuwah Islamiyah wajib didahulukan. Karena persaudaraan ini didasari kecintaan kepada Allah swt sebagai Sang Khalik, Sang Pencipta dimana nanti kita akan kembali.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):10).
Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam”. (Shahih Muslim).
Tapi apa yang terjadi belakangan ini sungguh menyedihkan. Ulama dilecehkan, di persekusi umat tidak peduli. Sebaliknya orang yang jelas-jelas melecehkan Al-Quranul Karim malah dibela habis-habisan. Ironisnya lagi hal ini terus berlarut hingga hari ini. Anies Bawesdan, gubernur DKI yang nyata-nyata telah mengalahkan petahana si penista dalam pilkada resmi, terus saja dibully. Dan ini berlanjut hingga ke tingkat pemilihan presiden yang akan digelar dalam beberapa bulan ke depan. Aroma dendam kesumat sungguh terasa kental.
Yang lebih menyedihkan lagi perpecahan dalam Islam di negri ini seperti sengaja dibiarkan terjadi, bahkan semakin disulut agar bertambah parah. Dengan alasan HAM, Demokrasi dll Islam terus disudutkan sebagai radikal, tidak toleran, anti Pancasila dll.
Tak ayal mereka yang tipis imannyapun terperangkap oleh isu busuk tersebut. Mereka menjadi tidak Percaya Diri terhadap ke-Islam-an mereka. Mereka bahkan menganggap apa-apa yang berbau Islam pasti buruk. Mereka juga tidak mampu membedakan antara Arab dan ajaran Islam. Sementara semua yang berasal dari Barat dianggap benar, bagus, modern serta perlu diikuti.
Harus diakui, sebagian besar Muslim di negri tercinta ini memang Islam keturunan, Islam karena nenek moyang. Mereka malas dan tidak merasa perlu belajar tentang Islam apalagi memperbarui ke-Islam-an mereka. Itu sebabnya mereka mudah dibodohi musuh-musuh Islam. Sungguh mengenaskan. Tidakkah mereka menyadari bahwa perpecahan adalah sumber petaka ??
Na’udzubillah min dzalik.
Jakarta, 14 Januari 2019.
Vien AM.
Setelah mampir di beberapa meeting point untuk menjemput para tamu sesuai daftar, bus berkapasitas 24 orang itupun langsung melaju meninggalkan kota. Sepanjang perjalanan dari Melbourne ke Geelong yang terletak di barat daya Melbourne adalah hamparan padang rumput luas nan hijau, dengan sapi dan domba-domba berbulu lebat yang sungguh meneduhkan mata. Australia memang dikenal sebagai negara pengeksport daging dan susu kedua ternak tersebut.

Beberapa kali Tim menghentikan bus, memberi kesempatan tamu-tamunya untuk turun menikmati keindahan pantai. Kami juga berhenti sebentar di sebuah hutan kecil untuk hunting koala yang banyak menempati hutan tersebut. Dari penjelasan Tim, kami baru tahu binatang lucu yang menjadi ikon Australia disamping Kangguru tersebut ternyata termasuk jenis hewan perusak. Binatang yang tidak suka hidup berkelompok dan sangat suka bertegger di atas pohon itu, sebenarnya telah merusak batang pohon yang dikeratnya setiap hari, meski mungkin tanpa disadarinya.

Untuk mengenang kejadian tragis tersebut tempat itu kini diberi nama Jurang Loch Ard ( Loch Ard Gorge) atau juga Tom and Eva Pilar. Tempat ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Port Campbell, yang selalu ramai dikunjungi para turis.


Sesuai yang dijanjikan, selama perjalanan tersebut bus berhenti di 13 spot menarik termasuk Loch Ard Gorge dan Twelve Apostles yang fenomenal. Satu hari sudah pasti tidak cukup memang untuk menikmati Great Ocean Road. Tak salah bila setiap kali bus berhenti Tim selalu mengingatkan, jam berapa harus kembali ke bus. Tak pernah ia memberikan waktu lebih dari 20 menit untuk setiap spot. Tidak puas sebenarnya tapi apa boleh buat. Apalagi melihat yang lain selalu on time kembali ke bus. Akhirnya kamipun sepakat untuk tidak terlalu berlama-lama.

S
etelah itu kami segera berjalan kaki menuju lokasi. Waktu itu jam menunjukkan pukul 6 kurang 15. Gelombang manusia berpakaian putih dan sebagian hitam, dengan topi dan bendera Tauhid tampak menyemut. Kami berbaur bersama peserta yang berjalan perlahan sambil bershalawat, sekali-sekali diselingi takbir.
Mendekati air mancur Bank Indonesia peserta makin padat, hingga nyaris terhenti. Suara orasi dari panggung terdengar dari pengeras suara yang dipasang di sekitar lokasi. Berhubung kami berdua ingin lebih mendekati panggung maka kamipun berputar mencari jalan agar dapat tembus ke lokasi yang kami inginkan.
Kami juga menjadi saksi bagaimana semangatnya para peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh pemandu acara dengan penuh khidmad. Sekaligus menjadi bukti betapa ngawurnya tuduhan bahwa peserta 212 adalah anti NKRI.
Lagi-lagi di sekitar air mancur BI, kami bersama barisan orang yang hendak keluar, selama beberapa menit, terpaksa terhenti sama sekali. Dalam hati saya berkata, dalam keadaan biasa pasti orang akan menerobos menginjak taman yang terbentang di sisi kami. Tapi nyatanya tak satupun yang mau melakukannya. Tampaknya sudah menjadi komitmen bagi seluruh peserta 212 sejak ABI I, bahwa rumput harus dijaga ! Bayangkan kalau rumput saja harus dijaga apalagi kesatuan republik tercinta ini … Masih mau menuduh kami radikal, teroris dll ??
Reuni Akbar 212 atau ABI yang manapun harus diakui adalah bukti kesantunan umat islam yang selama ini sempat hilang ntah kemana. Selain wajah-wajah ramah yang bertebaran, kedisiplinan juga menampakkan diri. Selain sedikitnya sampah, mereka yang ingin buang air juga terlihat mengantri dengan rapi. Budaya baik yang selama ini dianggap sebagai budaya Barat yang mustahil bisa diterapkan bangsa ini.
Suatu perubahan terjadi saat Michelle menginjak usia yang ke-17. Ia pergi ke gereja dan tiba-tiba ia tidak diizinkan masuk ke tempat itu. Michelle merasa bingung karena tidak diizinkan untuk masuk dan beribadah. Sementara itu, ia tak mengenal agama lain. Kehidupan beragama yang ia tahu hanyalah pergi ke gereja.