Feeds:
Posts
Comments

Fathimah Az-Zahra adalah putri bungsu, putri ke 4 dari 6 bersaudara yang lahir dari rahim seorang perempuan mulia  Khadijah ra, istri tercinta Rasulullah Muhammad SAW. Putri Rasulullah ini makin istimewa kedudukannya di hati kaum Muslimin karena ia juga adalah istri dari Ali bin Abi Thalib, salah satu sahabat dekat dan sepupu Rasulullah.  

Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuawilid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim, istrinya Fir’aun.” (HR. Ahmad)

Fathimah lahir di Makkah pada sekitar tahun 605 Masehi dan wafat pada tahun 632 Masehi di Madinah. Fathimah memiliki akhlak dan kepribadian yang sangat mulia.  Ia adalah seorang yang rendah hati, murah hati dan penuh kasih sayang. Terhadap orang miskin ia sangat peduli dan selalu berusaha untuk membantu.  

Masa Kecil.

Sejak kecil Fathimah dikenal mampu mengisi rumah Rasulullah SAW dengan kegembiraan dan keceriaan. Tak salah bila sang ayah memberinya julukan az-Zahra yang artinya yang selalu harum berseri layaknya sekuntum bunga, meski sebenarya ia tumbuh dalam keadaan yang sulit.

Fathimah yang lahir tak lama setelah ayahnya diangkat menjadi Rasul, sejak kecil menyaksikan perjuangan dakwah Islam di Makkah yang penuh dengan pengorbanan dan tantangan. Ia bahkan melihat sendiri bagaimana pamannya sendiri memusuhi Islam dan ayahnya.

Fathimah yang ketika itu baru berusia 7 tahun begitu gusar, sedih dan kecewa melihat kepala ayahnya tercinta dilumuri kotoran unta ketika sedang sujud dalam shalatnya di depan Ka’bah.  Ia segera berlari mendekati ayahnya untuk membersihkan kotoran tersebut lalu dengan penuh keberanian menghampiri kerumunan dimana paman berada dan memarahi pamannya tersebut.

Fathimah kecil bersama ibu dan 3 kakak perempuannya juga menjadi saksi sekaligus korban boikot sosial dan ekonomi yang dilakukan orang-orang Quraisy terhadap bani Hasyim, bani Muthalib dan  pengikut Rasulullah yang waktu itu masih sangat sedikit jumlahnya. Boikot ini terjadi pada tahun ke-7 kenabian tak lama setelah Umar bin Khattab yang merupakan pemuka Quraisy, memeluk Islam. Itu sebabnya para pemuka Quraisy makin kesal melihat perkembangan Islam.  

Selama kurang lebih 3 tahun mereka dikucilkan dari pergaulan dan dipaksa tinggal di sebuah celah bukit sempit di Mekah. Selama itu pula demi mempertahankan hidup mereka terpaksa memakan dedaunan kering dan kulit pepohonan.

Memasuki bulan Muharram tahun ke-10 kenabian, warga Makkah mulai kasihan terhadap mereka dan merasa tindakan Abu Lahab dan kawan-kawan sudah di luar batas kemanusiaan. Pada saat yang sama naskah boikot yang digantung para pemuka Quraisy pada dinding Ka’bah koyak. Tampak bahwa Allah SWT telah mengutus pasukan rayap untuk memakan lembar perjanjian yang dazlim tersebut. Sayang tak lama boikot usia, Fathimah harus kehilangan sang ibu tercinta yang telah berusia 80 tahun. Tak lama kemudian  Allah swt memerintahkan umat Islam untuk hijah ke Madinah.

Keadaan ini membentuk Fathimah menjadi sosok perempuan yang tangguh, kuat, dan penuh kesabaran. Kepedulian dan perhatian Fatimah kepada ayahnya mencerminkan rasa cinta yang mendalam serta keteguhannya dalam mempertahankan kebenaran yang diajarkan oleh ayahnya.

Meski hidup dalam keterbatasan dan jauh dari kemewahan, Fatimah tetap bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT. Kesabarannya dalam menghadapi kesulitan hidup menjadikannya teladan yang luar biasa bagi umat Muslim, mengajarkan bahwa kekuatan iman dan rasa syukur adalah kunci dalam menjalani kehidupan.

Fathimah dan Lamaran.

Ali bin Abi Thalib telah mengenal Fathimah sejak kecil karena Ali sejak kecil memang tinggal bersama pamannya itu. Fathimah dikenal sebagai sosok anak yang sangat berbakti kepada orang tua. Ali terketuk pertama kali saat Fathimah dengan sigap membasuh dan mengobati luka ayahnya yang luka parah karena berperang. Sejak itu ia bertekad akan menikahinya. Namun demikian ia berusaha menjaga hati dan pandangannya hingga Fathimah tidak menyadarinya.

Ketika keduanya beranjak dewasa, Ali berniat menghadap Rasulullah SAW untuk melamar Fathimah. Namun terbesit sedikit keraguan karena menyadari ia hanyalah pemuda miskin yang tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk maharnya.

Di tengah kebimbangannya, terdengar kabar bahwa Abu Bakar RA mengajukan lamaran kepada Rasulullah SAW untuk Fathimah. Kemudian disusul pula oleh Umar bin Khattab RA yang juga datang untuk melamar sang putri tercinta.

Namun tanpa disangka secara halus ternyata Rasulullah menolak lamaran kedua sahabatnya tersebut. Tak dapat disangkal Ali merasakan adanya kesempatan emas baginya. Apalagi ketika  seorang temannya berkata, “Mengapa kamu tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, kamulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.”

Akhirnya Alipun memberanikan diri menemui Rasulullah. Siapa  tahu Rasulullah berkenan menerima baju besi senilai 400 dirham, sebilah pedang dan seekor unta yang dimilikinya itu sebagai mahar, begitu ia berpikir menenangkan diri.

Betapa leganya Ali begitu mengetahui Rasulullah hanya tersenyum. Rupanya Rasulullah mengetahui bahwa kemenakannya itu telah lama mencintai putrinya. Tentang mahar, setelah Rasulullah mengetahui bahwa Fathimah bersedia menerima lamaran Ali, beliau berkata, “Tentang pedangmu, kamu tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah SWT, dan untamu kamu perlukan untuk mengambil air bagi keluargamu serta untuk perjalanan jauh. Karena itu, aku akan menikahkan kamu dengan mahar baju besi. Wahai Ali, kamu wajib bergembira karena Allah SWT sebenarnya sudah lebih dulu menikahkan kamu di langit sebelum aku menikahkanmu di bumi ini.”

(Bersambung).

Dari Abdullah bin Abi Aufa, rasulullah bersabda:

Wahai sekalian manusia, janganlah kalian berharap untuk bertemu dengan musuh, dan mintalah keselamatan kepada Allah. Tetapi jika kalian bertemu dengan musuh, hendaknya kalian bersabar. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya surga itu di bawah kilatan pedang”. (Hadis sahih) – (Muttafaq ‘alaih).

Hadist ini sering digunakan untuk menyerang Islam dengan cara dipotong bagian awalnya hingga seolah Islam adalah ajaran pedang alias kekerasan. Inilah yang dijadikan pegangan bahwa Islam adalah ajaran penuh kebencian hingga menyebabkan Islamophobia akut di kalangan Barat. Islam bagi mereka adalah teroris.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya surga itu di bawah kilatan pedang”.

Padahal bila kita baca dan perhatikan secara utuh, hadist tersebut justru mengajarkan kesabaran. Menariknya lagi, dengan adanya panggilan “wahai sekalian manusia” bukan “wahai sekalian orang beriman” di awal kalimat, menunjukkan bahwa hadis ini mengajarkan agar seluruh manusia, bukan khusus umat Islam atau orang beriman, untuk selalu berbaik sangka, tidak mencari permusuhan dan keributan. Berdoa selalu kepada Allah swt agar diberi keselamatan.

Akan tetapi bila ternyata ada orang datang mengganggu, memusuhi,  apalagi memerangi, hendaknya bersabar. Namun bersabar bukan berarti diam, pasrah akan tetapi wajib melawan sekuat tenaga, bahkan hingga mati. Mati demi membela diri dan keimanan, keluarga, darah dan harta, syurga adalah balasannya. Itulah mati syahid. Kata pedang digunakan karena perang pada waktu itu biasanya menggunakan pedang. Kilatan pedang menunjukan kedasyatan perang.   

Dari sini jelas terlihat bahwa perang dengan pedang/kekerasan adalah jalan terakhir ketika jalan damai tidak dapat dilakukan. Ini menunjukkan bahwa perang dalam Islam adalah defensive/bertahan bukan ofensif/menyerang. Perang cara ini adalah demi tegaknya keadilan di atas muka bumi. Sementara perang dengan lisan dan pena yaitu dengan perkataan dan tulisan adalah demi tegaknya kalimat Laa ilaha ila Allah, tiada tuhan selain Allah.  

Islam adalah agama yang damai, agama yang tidak menyukai peperangan kecuali terpaksa. Ayat 32 surat Al-Maidah  berikut secara jelas menerangkan membunuh 1 orang tanpa sebab maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi”.

Ayat Al-Quran diatas menyebut dengan jelas, bani Israil, namun sebenarnya juga berlaku bagi umat nabi Muhammad saw yaitu umat Islam. Ironisnya, hari ini seluruh dunia bisa melihat dengan jelas bagaimana Zionis Israil melakukan kebiadaban yang benar-benar di luar nalar manusia. Lebih dari 50 ribu penduduk Gaza mereka bantai, tidak peduli laki perempuan, tua muda, anak kecil. Bahkan sekolah, rumah sakit dan penampunganpun mereka bombardir. Pun setelah adanya perjanjian genjatan senjata tanpa rasa malu mereka langgar.

Bandingkan dengan apa yang terjadi pada peristiwa penaklukkan Yerusalem di tahun 637 di zaman khalifah Umar bin Khattab ra atau pada salah satu perang Salib (pertempuran Hittin ) pada tahun 1187 di masa sultan Salahuddin Al-Ayyubi.

Pada akhir ayat di atas, dapat kita ketahui pula bahwa orang-orang Israil sejak dulu memang  suka berbuat kerusakan di muka bumi, termasuk membunuh para nabi. Rasulullahpun tak luput dari percobaan pembunuhan, bahkan hingga beberapa kali.

Pengusiran yang dilakukan Rasulullah terhadap bani Israil seperti bani Qainuqa’, bani Quraizhah dan bani Nadhir dari Madinah ( dulu Yastrib) karena berkali-kali mereka melanggar piagam Madinah, bukan hanya karena mereka Yahudi.

Piagam Madinah adalah piagam perdamaian yang dibuat Rasulullah agar penduduk Madinah hidup damai, saling menghargai dan menghormati apapun agama maupun suku mereka. Piagam ini juga menerangkan bagaimana berinteraksi antar pemeluk agama yang berbeda.

Para pakar politik dunia saat ini mengakui bahwa piagam Madinah adalah konstitusi pertama dunia yang menjadi sumber inspirasi untuk membangun masyarakat yang pluralistik, memiliki relevansi yang kuat dengan perkembangan masyarakat internasional dan menjadi pandangan hidup modern berbagai negara di dunia.

Siapa yang tidak sempurna imannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman atas kejahatannya.” (HR al-Bukhari).

Perang yang terjadi selama masa kerasulan ( perang pertama baru terjadi pada tahun ke 2 hijriyah, atau 15 tahun setelah masa kerasulan) sebenarnya juga bukan perang panjang dengan korban massif. Perang-perang tersebut berlangsung hanya dalam hitungan hari dengan adanya jeda waktu. Bandingkan dengan sejumlah perang yang pernah terjadi di dunia yang bisa mencapai tahunan bahkan ratusan tahun sebagaimana tercantum pada link berikut :

https://databoks.katadata.co.id/demografi/statistik/0a0b2090f28488f/daftar-perang-terpanjang-dalam-sejarah-hingga-lebih-dari-700-tahun

Melansir dari World Atlas, perang dengan periode terlama yang dicatat sejarah adalah Reconquista, yakni berlangsung selama 781 tahun. Perang Reconquista atau Perang Salib Iberia merupakan perang antara Portugis dan Spanyol dengan Kekhalifahan Kordoba. Perang-perang lain adalah Perang Dunia I (4 tahun), Perang Dunia II (6 tahun), perang Seratus Tahun antara Inggris dan Perancis dll.

Perang di masa hidup Rasulullah yang jumlahnya 27 kali ( mulai tahun ke 2 H hingga tahun ke 10 H), bila ditotal jumlahnya tidak lebih dari 540 hari ( kurang dari 1.5 tahun). Korbannyapun tidak pernah menyasar warga sipil apalagi anak-anak. Demikian pula perintah perang dalam Al-Quran yang sering dituding oleh musuh-musuh Islam sebagai biang kekerasan, sebenarnya hanya 7% dari total ayat yang ada dalam Al-Quran. Itupun dengan berbagai persyaratan. Diantaranya  adalah sebagai berikut:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun”. (HR. An Nasa’i).

Selebihnya bermacam-macam, antara lain yang paling utama adalah tentang tauhid ( bahwa Tuhan adalah satu), berbagai perintah ( seperti shalat, zakat, infak sedekah, haji, berbuat baik pada orang-tua/manusia/mahluk dll, berbagai larangan ( seperti minum khamr/alcohol, makan babi, zina dll), sains dan kedasyatan alam semesta, kisah orang-orang terdahulu, nabi, rasul dll.     

Dari Abdullah ibnul Mishwar, ia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Seorang yang beriman tidak akan kekenyangan sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar”.

Anehnya ada saja orang yang saat ini masih juga membela Israel yang jelas-jelas telah melakukan genosida terhadap rakyat Palestina, Gaza khususnya, bahkan menyebar Islamophobia yang jelas-jelas menjadi korban kebiadaban Israel.   

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. ( Terjemah QS. Al-Hajj (22):46).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 9 April 2025.

Vien AM.

Operasi Badai Al-Aqsa, serangan mendadak yang dilakukan kelompok Hamas pada Sabtu (7/10/2023) adalah serangan Hamas terhebat yang pernah dialami Israel sejak Perang Yom Kippur pada 1973. Secara tiba-tiba Hamas meluncurkan serangan besar-besaran ke wilayah Israel di pagi hari tersebut, mengejutkan warga Israel di bagian selatan. Sirine serangan udara pun berbunyi hingga ke wilayah Tel Aviv, ibu kota Israel. Di pagi hari 7 Oktober 2023 itu, dalam hitungan menit, tentara Hamas berhasil menerobos pagar perbatasan wilayah Israel selatan dan menyerbu masuk ke tengah acara perayaan Yahudi dan festival music yang digelar bersamaan.

Kami ingin masyarakat internasional menghentikan kekejaman di Gaza, terhadap rakyat Palestina, tempat suci kami seperti Al-Aqsa,” jelas juru bicara Hamas mengenai serangan tersebut.

Seperti kita ketahui bersama pendudukan Israel terhadap tanah Palestina telah berjalan selama puluhan tahun yaitu sejak tahun 1948, dilanjutkan dengan pencaplokan wilayah tahun 1967 yang membuat wilayah Palestina makin menyempit. Penjajahan yang terjadi di era modern ini terjadi dengan perlakuan kejam terhadap rakyat Palestina. Hampir setiap hari tentara penjajah melakukan perampasan tanah dan rumah penduduk, penyiksaan, penculikan bahkan pembunuhan terhadap rakyat Palestina.

Kemarahan rakyat mencapai puncaknya disebabkan makin seringnya para pemeluk Yahudi menerobos masuk kompleks Masjidil Aqsho. Dibawah pengawasan tentara penjajah mereka seenaknya melarang bahkan mengusir umat Islam yang sedang shalat di dalam Masjidil Aqsho.  Masjidil Aqsho adalah rumah ibadah umat Islam pertama sekaligus kibat pertama sebelum Allah swt memerintahkannya pindah ke Ka’bah di Mekkah. Masjid ini berada di Jerusalem Timur yang merupakan ibu kota Palestina.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Tidak boleh bersusah-payah bepergian, kecuali ke tiga masjid, (yaitu) Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjidil Aqsha” [HR Al-Bukhari dan Muslim].

Shalat di Masjidil Haram (Mekah) lebih utama dari seratus ribu shalat di tempat lainnya, dan shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama dari seribu shalat di tempat lainnya, dan shalat di Masjidil Aqsa lebih utama dari lima ratus shalat di tempat lainnya.” (HR. Bukhari)

Tak heran bila akhirnya Hamas sebagai organisasi Islam terbesar di Palestina yang berkedudukan di Gaza, untuk mengakhiri pendudukan Israel, menyerukan  semua penduduk yang mempunyai senjata untuk bergerak. “Waktunya telah tiba“, seru jubir Hamas.

Gayungpun bersambut. Sementara para pejuang bertempur, rakyatpun ribath yaitu bertahan di tanah air mereka, apapun yang terjadi. Mereka tidak mau tragedy Nakba 1948 yang memaksa mereka exodus/keluar dari tanah air hingga Israel berhasil merebut tanah kelahiran mereka, kembali terjadi.   

Sementara Israelpun mengamuk karena tanpa disangka serangan mendadak HAMAS pada 7 Oktober tersebut telah memakan tidak saja ratusan tentara Israel dan sipil tapi bahkan berhasil menyandera 270 orang Israel yang sedang menyaksikan pesta musik dan perayaan Yahudi. Dari Jalur Gaza, setidaknya Hamas telah menembakkan 3.000 roket ke wilayah perbatasan Israel.

Tiga belas bulan lamanya pertempuran tidak seimbang antara Israel yang didukung AS dengan senjata canggihnya melawan pejuang Hamas yang berperang habis-habisan secara gerilya bermodalkan sistim pertahanan bawah tanahnya yang rumit. Lebih 47 ribu korban syahid sebagian besar anak-anak dan orang-tua, 110 ribu lebih korban luka, ratusan bangunan mulai rumah, sekolah, masjid hingga rumah sakit ambruk. Tapi penduduk Gaza tetap bertahan meski terpaksa mengungsi daerah 1 wilayah ke wilayah lain Gaza. Tak sudi mereka meninggalkan tanah air kelahiran mereka. Sementara pejuang Hamas terus berjuang mati-matian tanpa kenal lelah dan takut.

Tak salah bila akhirnya pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap petinggi otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan bekas petinggi otoritas pertahanannya, atas dakwaan kejahatan perang dan kejahatan genosida terhadap kemanusiaan di Gaza.

Hingga akhirnya  tercapailah genjatan senjata pada 15 Januari 2025 lalu. Gencatan senjata ini dimediasi oleh Qatar, Mesir dan Amerika Serikat. Meski Gaza hancur lebur namun kebanyakan pakar militer berpendapat Israel adalah pihak yang kalah. Israel yang didukung Amerika Serikat dengan berbagai senjata canggih mutakhir, menghadapi Gaza yang hanya seluas tak lebih dari luas 1/5 Jakarta, 1 tahun lebih tidak mampu menguasai daerah kantong, rumah bagi 2,3 juta orang Palestina trsebut.

Genjatan senjata ini dibarengi dengan pertukaran sandera Israel yang dibawa Hamas pada 7 Oktober dengan ribuan tahanan Palestina yang disekap Israel selama bertahun-tahun tanpa tuduhan jelas. Pelaksanaan pertukaran tahanan setelah perundingan yang alot telah berjalan mulai 19 Januari lalu.

Hamas mengawalinya dengan membebaskan 3 sandera perempuan Israel dalam kondisi sehat. Bahkan pada penyerahan sandera berikutnya terlihat beberapa sandera mencium kening penyanderanya. Seorang bekas sandera pada sebuah siaran televisi menceritakan bahwa ia diperlakukan dengan baik oleh sebuah keluarga Palestina dimana ia ditempatkan. Ia justru merasa lebih takut terkena bom pemerintahnya yang berkali-kali menyasar rumah dimana ia tinggal, dari pada kepada pejuang Hamas. Ia juga menambahkan bahwa dua orang temannya tewas akibat bom Israel.

Salut dengan apa yang dilakukan para pejuang Hamas karena memang begitulah yang dicontohkan Rasulullah, yaitu berbuat baik kepada musuh. Ahklak inilah tampaknya yang menjadi salah satu kunci keberhasilan dakwah Islam.

Salah satu contohnya adalah usai perang Khaibar ( perang melawan Yahudi di benteng Khaibar) yang dimenangkan kaum Muslimin. Ketika itu Rasulullah melihat para tawanan perempuan digiring melewati jasad-jasad musuh yang tak lain adalah keluarga mereka. Melihat itu, Rasulullah bangkit seraya berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan perempuan-perempuan itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”

Contoh lain adalah perlakuan Rasulullah terhadap Abu Sufyan pada peristiwa Fathu Makkah. Pemuka Quraisy yang sangat memusuhi Islam ini diberi Rasulullah kesempatan untuk melihat kebesaran pasukan Islam bahkan kehormatan berupa keselamatan bagi musuh yang berlindung ke dalam rumahnya, hal yang membuat Abu Sufyan tersanjung. Dan akhirnya tokoh Quraisy itupun luluh dan masuk Islam.   

Hal tersebut bertolak belakang dengan kondisi ribuan tahanan Israel yang dilepaskan secara bertahap. Selama di penjara mereka disiksa dengan berbagai siksaan sadis oleh para penjaga penjara. Tak sedikit ex para tahanan tersebut yang keluar dalam keadaan cacat dan terganggu emosinya.

Anehnya di tengah genjatan senjata dan pertukaran tawanan yang sedang berlangsung, Donald Trump, presiden AS yang baru saja terpilih, melemparkan usulan ajaib yaitu relokasi penduduk Gaza ke Negara-negara tetangga seperti Mesir, Yordan dll juga Indonesia sebagai Negara mayoritas Muslim, dengan alasan agar pembangunan kota dapat berjalan mudah. Dan lebih anehnya lagi tanpa ada jaminan kapan mereka dapat kembali menempati tanah air mereka itu karena tanah tersebut akan diambil oleh Amerika Serikat !??!!

Logika apa yang digunakan orang nomor 1 yang katanya Negara adi daya tersebut??? Untuk apa rakyat Gaza/Palestina berjuang, berperang mati-matian mempertahankan tanah air jika akhirnya harus menyerahkannya kepada pihak asing??? Benar-benar tidak masuk akal. Saking anehnya, orang Amerikapun banyak yang malu melihat tingkah laku presidennya itu.

Dan kini di akhir genjatan senjata tahap 1 yang seharusya masuk tahap 2,  dengan pongah Israel membatalkan genjatan senjata tersebut. Mereka menutup perbatasan demi mencegah masuknya bantuan sosial untuk Gaza. Bahkan selama genjatan senjata tahap 1 pun tidak jarang mereka melanggar kesepakatan. Beberapa kali mereka mengebom kerumunan dan rumah penduduk hingga menewaskan ratusan warga Gaza. Begitulah sifat Yahudi, persis yang dikisahkan dalam banyak ayat Al-Quranul Karim, diantaranya adalah sebagai berikut:

Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Bahkan sebagian mereka tidak beriman”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2): 100).

Hamas mencurigai mereka memang tidak bersungguh-sungguh berniat menepati genjatan senjata. Mereka hanya menginginkan kembalinya sandera Israel kemudian akan melanjutkan penghancuran dan genosida, tidak saja penduduk Gaza tapi juga Tepi Barat dimana kompleks Masjidil Aqsho berada. Dan hal tersebut diakui secara resmi oleh pihak Israel!!

Beberapa waktu lalu penjajah tersebut secara provokatif mengeluarkan peta Israel yang memasukkan Palestina, Yordania, Suriah dan Lebanon sebagai bagian dari Israel Raya.

https://www.tribunnews.com/internasional/2025/01/09/terbitkan-peta-provokatif-israel-klaim-palestina-yordania-suriah-dan-lebanon-adalah-tanah-zionis

Kabar lain menyatakan bahkan sebagian wilayah Arab Saudi, Mesir  dan Irakpun mereka masukkan. Banyak pakar dan akademisi menyatakan hal tersebut bukan semata-mata kemauan Israel tapi merupakan bagian kebijakan luar negeri AS yang bertujuan memperluas hegemoni AS ke Timur Tengah dan usaha memecah belahnya. Gagasan Israel Raya tersebut tentu saja memicu kecaman di seluruh dunia, tidak hanya Negara yang terkena dampak.

Pertanyaan besar akankah kaum Musimin tetap diam berpangku tangan menyaksikan kompleks suci ini jatuh ketangan Israel terkutuk??? Bersyukur Mesir, Yordania maupun Arab Saudi tegas menolak permintaan ajaib Trump meski dibawah tekanan. Kabar terakhir para pemimpin negara Liga Arab pada Selasa (4/3/2025) sepakat membentuk komite dana perwalian guna membiayai rekonstruksi Jalur Gaza  akibat agresi brutal Israel sejak 7 Oktober 2023 lalu.

Semoga para pemimpin Negara mayoritas Islam terutama negara-negara teluk mampu teguh mempertahankan pendirian mereka hingga terbentuk Negara Palestina merdeka. Bukankah kemerdekaan adalah hal segala bangsa, mengapa Palestina harus dipersulit??? 

Dan sebagai Muslim sejati yang senantiasa mewaspadai berita akhir zaman yang telah disampaikan Rasulullah Muhammad saw 15 abad silam, tentunya harus siap memperjuangkan dan menyambut hari kemenangan tersebut, tidak hanya diam menanti. Jangan sampai kalah dengan kaum di luar sana yang justru mampu melihat kebenaran dan keagungan Islam berkat kesucian hati mereka, untuk kemudian bersyahadat dan membela Islam dengan sungguh-sungguh.

Wallahu’alam bi shawwab.
Jakarta, 6 Maret 2025/ 6 Ramadhan 1446 H.

Vien AM.

Selain masjid Koutubiya, di bekas ibu kota kekaisaran ini berdiri banyak tempat bersejarah seperti istana Bahia, masjid dan madrasah Ben Youssef, makam Sa’adian, Kasbah dan reruntuhan istana El-Badi, Majorelle Garden, Secret Garden dan juga museum yang tidak sedikit jumlahnya.  

Istana Bahia dibangun antara tahun 1894 dan 1900 sebagai persembahan bagi ratu Bahia, satu-satunya istri (dari 4 istri raja) yang melahirkan anak pertama laki-laki. Istana yang memiliki 160 kamar ini dibangun dengan gaya Andalusia dimana bagian tengah bangunan istana terhampar halaman terbuka dengan fontaine/kolam air pancur dan sejumlah pohon jeruk seperti yang banyak dijumpai di Andalusia. Lantai, langit-langit dan dindingnya dihiasi mosaik dan ukiran kayu yang rumit.

Sedangkan madrasah Ben Youssef yang berada di kota tua berhimpitan dengan souk/pasar dimana nafas kehidupan berhembus,  adalah merupakan sekolah tinggi Islam terbesar di Maroko. Namanya diambil dari nama sultan Ali ibn Yusuf yang berjasa dalam pembangunan dan perluasan kota Marrakech. Madrasah ini didirikan pada abad ke-14 oleh Sultan Abu al-Hasan dengan mengikuti gaya arsitektur Hispano-Moresque.

Bangunan bertingkat 2 ini dilengkapi dengan asrama berisi 130 kamar, dimana tiap 10 kamar memiliki halaman sendiri.  Sebuah masjid dengan nama yang sama berdiri tak jauh dari madrasah ini. Sistem air madrasah Ben Youssef merupakan contoh menarik tentang bagaimana orang-orang zaman dahulu merancang solusi cerdik untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Madrasah ini dibangun pada saat akses terhadap air masih sulit.

Selanjutnya masjid Kasbah, salah satu masjid tertua di Maroko, dibangun pada tahun 1557. Masjid ini berada dalam satu kompleks makam keluarga kerajaan Sa’adian yang berkuasa di Marrakech pada abad 16. Makam dengan arsitektur Hispanik Moresque ini baru ditemukan pada tahun 1917 dalam keadaan masih sangat baik, bahkan sebagian besar dekorasi aslinya masih utuh. Di dalam kompleks ini pula berdiri istana kuno El-Badi milik keluarga kerajaan yang sebagian besar sudah menjadi reruntuhan, dan juga istana raja Muhammad VI, raja saat ini, yang digunakan ketika raja sedang berkunjung ke Marrakech.

Sebagai kota pariwisata pantas Marrakech menjadi penyelenggara berbagai festival. Diantaranya adalah dengan adanya Marathon des Sables ( Lomba lari marathon lintas gurun ) dan Marrakech International Film Festival yang diadakan setiap tahun dan diikuti banyak Negara.  

Tak sengaja ketika kami berjalan-jalan di sekitar hotel yang terletak di Gueliz, pusat kota baru Marrakech, kami melihat keramaian di sepanjang avenue Muhammad VI dimana berdiri gedung Palais des Congres, tempat diselenggarakannya festival tahunan film tersebut. Di Gueliz inilah berdiri gedung teater Opera yang bersebrangan dengan mall dimana stasiun kereta api Marrakech berada serta Menara Mall yang merupakan mall terbaru di Marrakech. Mall ini berada persis di hadapan hotel Meridien. Dan rupanya hari tersebut adalah hari penutupannya.

Dari kota ini pula gerbang Sahara tampak di depan mata.  Banyak sekali wisata alam yang bisa dilakukan di sekitar kota ini. Melalui pemesanan online kita bisa memilih berbagai tour yang ditawarkan dengan guide orang asli Maroko. Kami sepakat memilih Ait ben Haddou , sebuah perkampungan suku Berber di Ouarzazate, pegunungan High Atlas.

Dengan menaiki mini van kapasitas 16 full penumpang, kami menempuh perjalanan sekitar 193 km dari Marrakech selama kurang lebih 4 jam melalui jalan pegunungan dengan  beberapa pemberhentian. Salah satunya adalah pemberhentian Tizi n’Tichka dimana pemandangan indah pegunungan dan jalanannya yang berkelak-kelok tampak jelas. Disinilah kabarnya singa Berber terakhir menampakkan diri, yaitu pada tahun 1992.

Di kejauhan terlihat Jabal Toubkal (4167 meter) dengan puncak saljunya. Gunung tertinggi pegunungan High Atlas sekaligus di Afrika Utara ini merupakan tujuan wisata manca Negara untuk bermain ski. Temperatur menunjukkan angka 8 drajat Celcius saat kami berada di tempat tersebut. “Dalam sepekan wilayah ini akan dipenuhi salju”, jelas guide kami.  Pegunungan ini memang unik meski sebagian besar gersang tapi ada tempat-tempat tertentu yang terlihat lumayan subur.  

Pemberhentian berikutnya adalah tempat pemrosesan minyak Argan yang merupakan produk andalan Maroko yang di import ke luar negri, termasuk Indonesia, dengan harga tinggi. Keunikan proses minyak ini adalah karena bijinya yang dimakan terlebih dahulu oleh kambing yang kemudian mengeluarkan kotoran berupa biji yang nantinya akan diolah menjadi minyak. Prinsip yang sama dengan prinsip kopi Luwak Indonesia. Uniknya lagi kambing-kambing yang tergiur dengan bau manis buah Argan tersebut ramai-ramai memanjat pohon Argan.

Setelah itu tibalah kami di tujuan utama yaitu Ait Ben Haddou. Perkampungan ini berada di dalam kasbah/benteng yang umurnya telah ratusan tahun namun tetap dipertahankan dalam keadaannya seperti di masa lampau. Saking antiknya perkampungan di atas bukit ini sejak lama sering dijadikan lokasi shuting film berbagai Negara. Diantaranya Benhur, Cleopatra, Gladiator dll.

Dari Ait ben Haddou kami mampir ke Atlas Studio, studio terbesar di Maroko yang digadang-gadang sebagai Hollywoodnya Maroko. Guide studio tersebut dengan jenaka tidak saja menerangkan dan memperagakan bagaimana sebuah fim diproses, namun juga mengajak para tamu berlagak seolah sedang terlibat dalam pembuatan film.

Tiga hari lamanya kami menikmati Marrakech sebelum akhirnya dengan menumpang kereta api kembali ke Casablanca. 

Casablanca, kota perdagangan.

Nama asli kota ini adalah Anfa yang artinya dalam bahasa Berber adalah bukit. Kota ini didirikan oleh orang-orang Berber pada abad 10 SM. Namun daya tarik kota pelabuhan yang sejak dahulu sudah ramai tersebut, membuat kerajaan Romawi Barat yang beribu-kota di Roma Italia, mencaplok dan mengubah nama kota tersebut menjadi Anfus. Anfus berada di bawah kekuasaan kerajaan tersebut hingga jatuhnya pada tahun 476 M.

Anfus mendapatkan kembali nama aslinya yaitu Anfa, dibawah Islam pada abad 7 di masa Khulafaur Rasyidin melebarkan syiarnya ke Afrika Utara. Hingga pada abad 15 ketika kota ini direbut bangsa Portugis dan mengganti namanya menjadi Casa Blanca. Casablanca sesuai dengan artinya dalam bahasa Portugis/Spanyol yaitu rumah putih, memang di dominasi warna putih. Casablanca kembali menjadi milik Islam dibawah dinasti Saadi setelah selama kurang lebih 100 tahun berada dibawah kekuasaan Portugis.

Sebuah pertanyaan menggelitik, mengapa di Jakarta ada jalan bernama Kasablanka, apakah ada hubungannya dengan Casablanca di Maroko?? Ternyata ada. Ini adalah bagian dari kerjasama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Maroko yaitu sebagai sister city/kota kembaran. Di Casablancapun kabarnya ada jalan dengan nama “Rue Jakarta”, “Rue Bandoeng” dan Avenue Soekarno”. Sayang kami tidak sempat menemukannya meski di hari terakhir kami memanfaatkannya untuk menjelajahi kota tua Casablanca dengan menjajal tram.  Tebakan kami, mungkin bukan berada di kota tuanya.

Tram di Casablanca dan juga di ibu kota Rabat, dibangun pada 2007 dan dibuka untuk umum pada sekitar tahun 2011-2012, dengan menggunakan sistem dan standar tram Prancis. Harga tiketnya tergolong murah yaitu sekitar 6 dirham atau 9000 rupiah, dan dapat dibeli di semua mesin tiket yang ada di semua stasiunnya.

Kami naik tram dari depan stasiun kereta api Casablanca Voyageur dan turun di stasiun Place des Nations Unies, sebuah pelataran luas yang berada persis di depan gerbang benteng kota tua. Selanjutnya kami berjalan menyusuri jalan-jalan kecil di dalam kota yang dikelilingi benteng tersebut, melihat anak-anak Maroko bermain bola di taman, melewati masjid legendaris yang masih terawat, melewati bagian depan pelabuhan dimana restoran bergengsi La Scala dan Ricks’café berada, hingga masjid Hassan II yang telah kami tandangi di hari pertama.   

Yang juga cukup mengagetkan adalah sering kalinya kami melihat orang-orang yang shalat di trotoar, di taman, di parkiran dan tempat umum lainnya. Ternyata adalah dampak dari masjid yang hanya buka tepat waktu shalat wajib.  Dan ini tampaknya berlaku di semua kota di Maroko.

Demikianlah kami mengakhiri perjalanan 12 hari di negri Singa Atlas yang penuh kenangan dan sarat sejarah Islam, Alhamdulillah …  

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 28 Januari 2025.

Vien AM.

Catatan.

Di tengah keprihatinan dan duka nestapa Gaza yang hancur lebur akibat bombardir Israel selama 15 bulan tanpa henti ternyata pemerintah negri Islam Maroko tetap menjalin kerja-sama yang baik dengan Israel. Terbukti dengan adanya pembelian jet tempur Amerika Serikat yang hanya bisa terjadi bila suatu Negara mengakui kedaulatan Israel. Dan yang lebih menyedihkan adalah dalih demi mengimbangi Aljazair, tetangganya sesama Negara Islam,  karena sengketa Sahara Barat. Betapa menyedihkannya …

Hanya bisa berharap semoga kebakaran besar yang melahap California tak lama setelah ucapan sesumbar Donald Trump, presiden Amerika Serikat bahwa Gaza akan ia “nerakakan”, mampu membuat para pemimpin dunia Islam yang selama ini tidak berani melawan hegemoni Amerika dan Israel, untuk segera bertobat dan memperbaiki kesalahan mereka.

Dari Nu’man bin Basyir dia berkata: Rasulullah saw. Bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).’ (HR. Bukhari dan Muslim).

Rabat, ibu kota Maroko, pusat pemerintahan.

Menjelang pukul 5 sore kami tiba di Rabat. Melalui jendela mobil kami menikmati pemandangan kota yang terletak di tepi laut Atlantik ini. Rabat tampak lebih modern, teratur dan bersih dari kota-kota lain di Maroko yang kami kunjungi.

Secara harfiah Rabat berarti tempat berbenteng, dari kata bahasa Arab ribath yang artinya menjaga. Ar-Rabat atau Ar-Ribat berarti tempat berbenteng. Faktanya memang Rabat telah menjadi benteng Muslim sejak masa Khulafaur Rasyidin, sekitar tahun 700 M. Itu sebabnya kota ini mendapat julukan Kota Seribu Benteng.  Maroko juga termasuk negara yang unik, karena memiliki 2 ibu kota. Yaitu Rabat sebagai ibu kota administrasi dan Casablanca sebagai ibu kota industri.

Maroko adalah Negara Islam berbentuk kerajaan dengan bendera berwarna merah darah dengan bagian tengah bintang berwarna hijau. Warna merah memiliki arti keberanian dan bintang hijau dengan sudutnya yang 5, menggambarkan 5 rukun Islam. Sedangkan lambang negaranya adalah bintang berwarna hijau dengan latar belakang warna merah pegunungan Atlas dan matahari terbit yang diapit oleh dua singa.

Dilambang Negara tersebut terdapat tulisan dalam bahasa Arab “Tansurul laaha yansurkum” yang artinya “Jika Anda memuliakan Tuhan, Dia akan memuliakan Anda“. Kalimat tersebut merupakan penggalan ayat 7 surat Muhammad.

Kepala negara Maroko saat ini adalah raja Mohammed VI. Raja Maroko memegang kekuasaan eksekutif dan legislatif yang luas, terutama dalam militer, kebijakan luar negeri dan urusan agama. Bahasa resmi yang diakui Negara ada tiga yaitu Arab, Amazigh ( Berber) dan Perancis. Mengapa Perancis? Karena Maroko pernah berada dibawah kekuasaan Perancis selama 44 tahun yaitu sejak tahun 1912 hingga kemerdekaannya pada tahun 1956. 

Setelah melewati istana raja dengan halamannya yang sangat luas dan dilindungi tembok besar, menara pensil Muhammad VI dan gedung teater opera yang diarsiteki seorang muslimah kelahiran Irak bernama Zaha Hadid, Muhammad menurunkan kami di Kasbah Udaya.

Kasbah Udaya adalah benteng kota yang dibangun pada abad 11 dan merupakan Warisan Dunia UNESCO sejak 2012. Dari Kasbah inilah pemandangan indah samudra Atlantik dan kota modern Rabat dengan bangunan-bangunan berarsitektur modern seperti menara Muhammad VI dan gedung teater Opera sekaligus menara kuno Hassan terlihat. Sementara di sisi gerbang utama terletak old medina Rabat. Sungguh sebuah perpaduan yang menarik.

Dari Kasbah Udaya kami menuju menara Hassan  yang terletak pada pelataran yang sama dengan mausoleum Mohammed V. Menara Hassan mulai dibangun pada tahun 1195 oleh Sultan Yakub al-Mansur dengan tujuan menjadikannya masjid terbesar di dunia pada saat itu. Namun 4 tahun kemudian, kalifah Almohad ketiga tersebut meninggal dunia dan pembangunan masjidpun dihentikan.

Padahal pembangunan masih jauh dari target. Tinggi menara ( 44m) baru setengah dari yang diinginkan bahkan masjidnya sendiri baru berupa tiang meski sudah banyak, yaitu 200 tiang. Orang awam yang menyaksikannya pasti tidak mengira bahwa hal tersebut tidak disengaja. Karena tiang-tiang tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri untuk spot foto wisatawan yang berdatangan.

Sementara itu Mausoleum Muhammad V yang merupakan makam kerajaan berada di pelataran yang sama dengan menara Hassan baru dibangun ratusan tahun kemudian, yaitu antara tahun 1961 dan 1971. Bangunan modern dengan sentuhan arsitektur khas Maroko ini menampung makam raja Muhammad V dan 2 putranya, yaitu pangeran Moulay Abdallah dan Raja Hassan II. Bersama menara Hassan, mausoleum ini menjadi bagian Situs Warisan Budaya UNESCO.

UNESCO baru-baru ini juga menetapkan Rabat sebagai World Book Capital 2026. Artinya kota ini telah diakui berhasil membudayakan penduduknya untuk cinta buku. Ini dibuktikan dengan banyaknya perpustakaan dan taman bacaan berkwalitas serta berhasil tampil di forum internasional. Sungguh sebuah prestasi bergengsi. Sebelum Rabat, gelar World Book Capital 2025 diberikan kepada Rio de Janeiro di Brasil dan Strasbourg di Prancis untuk tahun 2024.   

Esoknya kami melanjutkan perjalanan ke Casablanca yang hanya berjarak sekitar 90 km dari Rabat. Sekali lagi kami disuguhi lukisan indah ciptaan-Nya tapi kali ini pemandangan susur pantai lautan Atlantik bukan pegunungan seperti sebelumnya.

Di Casablanca kami langsung menuju Ricks’s Café karena rasa penasaran mengapa semua travel Indonesia ke Maroko merekomendasikannya. Ternyata keistimewaan café ini karena pernah menjadi tempat shooting film berjudul “Casablanca” yang menurut sebuah survey masuk peringkat teratas dalam daftar film lawas yang ‘wajib’ ditonton.

Film bertemakan cinta dengan latar belakang PD II ini dibuat pada tahun 1942 dibintangi 2 pemain film kenamaan pada masanya, yaitu Humphrey Bogart dan Ingrid Bergman. Ketika kami tiba di tempat terlihat antrian turis yang datang dengan bus-bus turis. Kami hanya berfoto dan menyempatkan “mengintip” menu masakannya yang harganya selangit itu.

Selanjutnya dengan mobil kami menyusuri “ la corniche” alias jalan susur laut Casablanca dengan jalur pejalan kakinya yang super lebar hingga keindahan laut dapat dinikmati semua orang tanpa dipungut bayaran sepeserpun. Temperatur sekitar 15 derajat di awal museum Dingin ini menambah kenyamanan menikmati kota ini. Di muslim Panas temperatur bisa mencapai 40 derajat Celcius. Boulevard ini dimulai dari ujung teluk dimana masjid Hassan II berdiri megah tinggi menjulang hingga melewati mercu suar di ujung teluk di sisi seberangnya. 

Dari la corniche kami langsung diantar ke stasiun kereta api Casa Voyajeur untuk menuju Marrakech. Jarak Casablanca – Marrakech 242 km ditempuh sekitar 3 jam dengan kereta api.

Marrakech, kota pariwisata.            

Marrakech mempunyai banyak julukan selain kota pariwisata. Yaitu  kota merah karena bangunan di kota ini semua terbuat dari tanah merah dan juga kota tujuh orang saleh” ( Sebaatou Rizjel) karena disanalah tujuh sufi terkenal berkiprah dan dikebumikan. Marrakech juga mempunyai julukan mutiara dari selatan.

Kota ini terletak di barat daya Maroko, di kaki pegunungan High Atlas. Marrakech ialah kata Berber yang artinya negeri Tuhan.  Mayoritas penduduk di kota yang didirikan pada tahun 1062 dan pernah menjadi ibu kota Maroko ini ialah suku Berber. Atinya Marrakech telah menjadi pusat kebudayaan dan perdagangan selama berabad-abad.

Seperti kota-kota di Maroko lainnya, Marrakech memiliki 2 bagian utama: old medina alias kota tua dan kota modern. Di kota ini terutama di kota tuanya berdiri banyak sekali bangunan peninggalan bersejarah, tak salah bila kota menjadi salah satu kota budaya yang dilindungi UNESCO.

Sekitar pukul 3 sore kami tiba di stasiun kereta api Marrakech yang berada di bangunan modern di kota baru Marrakech. Selanjutnya dengan taxi ( orang Maroko menyebutnya Grand Taxi/Petit Taxi) kami diantar ke kota tua yang jaraknya tidak begitu jauh dari stasiun. Lalu dengan berjalan kaki sambil menyeret koper menyusuri jalan-jalan kecil diantara keriuhan souk/pasar, akhirnya tiba kami di riad yang telah kami pesan sebelumnya.

Setelah cek-in kami langsung menuju Djemaa el-Fna yang ternyata sangat dekat dengan riad yang kami tinggali.  Djemaa el-Fna adalah alun-alun terbesar dan teramai tidak saja di Maroko tapi juga Afrika. Turis manca negara dan turis lokal terlihat hiruk pikuk berbaur dengan para pedagang yang menjual berbagai barang dagangan. Disana-sini terlihat orang bergerombol menyaksikan penduduk asli memamerkan bermacam atraksi seperti bermain musik tradisional, bernyanyi, menari, pertunjukkan api, sulap, monyet bahkan ularpun ikut beraksi. Tenda-tenda makanan yang menyajikan makanan tradisional seperti tajin, kuskus dll disesaki para tamu. Pedagang berbagai buah-buahan segar untuk diolah menjadi jus tak mau kalah berteriak-teriak menawarkan dagangannya.

Puas menikmati keramaian Djemaa el-Fna kami berjalan menuju masjid Koutubia yang merupakan ikon Marrakech. Masjid ini merupakan simbol kekayaan sejarah dan budaya kota ini. Masjid Koutubia dibangun pada tahun 1150 dengan batu pasir merah, dengan desain campuran arsitektur Islam Andalusia dan Spanyol yang dikenal dengan nama Hispano-Moresque.

Menara masjid setinggi 77 meter yang dijuluki “Roof of Marrakech” ini puncaknya dihiasi dengan 4 bola bersusun dari emas murni. Menara masjid ini menjadi model untuk pembangunan menara Masjid Giralda di Kota Sevilla, Spanyol dan menara Masjid Hassan II di Rabat, Maroko. Karena kemiripan bentuk dan desainnya, ketiga menara ini kerap disebut sebagai tiga seri menara kembar. Tampaknya julukan “Roof of Marrakech” ini yang menjadi alasan bahwa gedung di kota ini tidak boleh melebihi tinggi masjid Koutubia. 

Sesuai namanya yaitu masjid Koutubia ( Koutub dari kata Kitab dalam bahasa Arab yang artinya buku) masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat namun juga sebagai tempat belajar karena memiliki perpustakaan dengan buku bermacam topik tidak hanya tentang Islam.

Lagi-lagi sayangnya, begitu tiba di depan masjid, seperti juga masjid di kota-kota lain di Maroko, masjid tutup dan hanya bisa dimasuki menjelang waktu shalat wajib. Apa boleh buat, kami terpaksa harus puas memandangnya dari luar, dilanjutkan dengan berjalan-jalan di taman sekitarnya. Marrakech dikenal mempunyai banyak taman luas.

Esok paginya, ketika melewati alun-alun Djemaa el-Fna, kami dibuat takjub melihat alun-alun yang kemarin malam begitu ramai, pagi ini telah terlihat bersih dari segala sampah. Dan Alhamdulillah kami berdua sempat mendirikan shalat Zuhur ( dan Asar ) secara berjamaah di masjid Kuotubia begitu adzan berkumandang. Dari penjaga riad, kami baru mengetahui ternyata masjid tersebut baru dibuka kembali beberapa hari lalu akibat gempa yang terjadi pada September 2023 lalu.  Gempa dahsyat berskala 6,8 Richter di barat daya Marrakech tersebut menewaskan nyaris 3.000 orang, kebanyakan di desa-desa terpencil pegunungan High Atlas. Sejumlah bangunan bersejarah di Marrakech dan juga sekitar masjid Koutubia runtuh tapi masjid Koutubia sendiri hanya mengalami sedikit kerusakan.

( Bersambung).

Asal Usul Julukan Singa Atlas.

Fes berada di selatan Chefchouen sejauh 197km. Namun karena tidak ada jalan tol di antara keduanya diperlukan waktu sekitar 3jam 30 menit untuk menembus pegunungan Atlas yang terlihat angker dan tandus. Di pegunungan inilah konon hidup kawanan singa dengan ukuran di atas rata-rata yaitu 270 kilogram.  Singa Atlas atau dikenal dengan Singa Berber atau Singa Nubia adalah subspesies dari singa yang telah punah di alam liar sejak abad ke-20.

Akan tetapi pada tahun 1992 singa ini sempat terekam di alam bebas pegunungan Atlas. Kini singa Berber yang tersisa hanya dapat dijumpai di tempat sirkus dan kebun binatang, salah satunya di Rabat Zoo. Di kebun binatang ibu kota Maroko itu hidup sekitar 200 singa Atlas.

Spesies langka inilah yang kemudian menjadi julukan Maroko dan juga tim sepakbola Maroko yang berhasil mencapai prestasi terbaiknya pada Piala Dunia 2022 di Qatar, yaitu  babak semifinal. Tak salah bila kemudian FIFA menunjuk Maroko bersama Spanyol dan Portugal menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030.

Selain Singa Atlas Maroko juga mempunyai julukan Maghribi yaitu tempat matahari terbenam karena letak Maroko yang di ujung paling barat Afrika berbatasan dengan samudra luas hingga tidak ada kota/negara setelahnya. Arti maghrib sendiri dalam bahasa Arab adalah Barat.

Cikal bakal Maroko.

Cikal bakal Maroko adalah dinasti Idrisiyah. Dinasti ini didirikan pada abad 8 oleh Idris bin Abdullah yang merupakan cicit Rasulullah Muhammad saw dari jalur Hasan bin Thalib ra. Paska tragedy memilukan Karbala di Irak, yaitu dibunuhnya khalifah ke 4 Ali bin Abu Thalib, disusul pemenggalan kepala Husein bin Ali, keturunan Ali termasuk Idris bin Abdullah, menyelamatkan diri dari kejaran para musuh. Ketika itu kekhalifahan Ummayah telah jatuh dan digantikan oleh kekhaifahan Abbasiyah.

Tujuannya adalah Maroko utara, yaitu ke Walīla. Walila/Volubilis adalah sebuah kota tua Romawi yang kini telah menjadi reruntuhan akibat gempa pada pertengahan abad 18 dan dijadikan situs budaya yang dilindungi Unesco. Idris bertemu dengan suku-suku Berber yang menghuni wilayah ini. Kedatangan Idris  yang diketahui sebagai keturunan Rasulullah, disambut hangat oleh masyarakat setempat yang ketika itu telah mengenal Islam. Sang sayyid berhasil mempersatukan suku-suku Berber yang sebelumnya sering berselisih. Sayyid Idris bahkan mampu menaklukkan sebagian besar wilayah utara Maroko. Selanjutnya ia membangun kota baru bernama Moulay Idris di atas bukit tidak jauh dari Walila dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan.

Namun para penguasa Abbasiyah menyadari bahwa kekuatan politik yang tumbuh di Maghrib, dipimpin oleh seorang keturunan Nabi pula, dapat menggoyahkan kekuatan mereka di kawasan tersebut.   Oleh sebab itu mereka mengutus seorang mata-mata yang menyamar sebagai tabib. Suatu hari dalam suatu pertemuan, mata-mata tersebut berhasil meracuni Idris hingga akhirnya meninggal dunia.  

Selanjutnya ia digantikan oleh putranya, yaitu Idris II yang dengan dukungan rakyatnya bisa tetap mempertahankan kelangsungan kekuasaan Idrissiyah. Idris II kemudian mendirikan kota Fes yang menjadi kota suci tempat tinggal Shorfa (keturunan Nabi dari Husain bin Ali bin Abi Thalib) sekaligus sebagai kota pusat perdagangan yang selanjutnya menjadi ibu kota kerajaan Idrisiyyah. Kota ini berkembang dengan sangat pesat dalam segala bidang kehidupan, termasuk ilmu dan pengetahuan.

Saat ini Maroko yang berbentuk kerajaan menjadikan Rabat sebagai ibu kota, pusat pemerintahan. Negri ini memberi julukan kota-kotanya sesuai kekhususannya. Diantaranya yaitu Cassablanca sebagai kota bisnis, Marrakesh  kota pariwisata dan Fes disebut sebagai kota pendidikan.

Yang menarik hampir semua kota besar Maroko mempunyai old medina alias kota lama/tua yang tetap digunakan dan dirawat dengan baik hingga hari ini. Padahal kota-kota tua tersebut usianya telah ratusan tahun. Didalam kota inilah dulu seluruh kegiatan penduduk di lakukan. Oleh sebab itu didalam old medina atau biasa disebut medina saja, selalu memiliki setidaknya 4 hal yaitu masjid agung, fontain atau kolam air untuk berwudhu, hamam alias pemandian umum dan toko roti.

Empat hal ini menunjukkan betapa tinggi tingkat spiritual penduduknya, bahwa kehidupan akhirat senantiasa menjadi prioritas. Kota tua ditandai dengan adanya benteng alias tembok besar yang mengelilingi kota dengan pintu utama/gapura dan beberapa pintu gerbang lainnya. Begitulah yang disampaikan Hassan, pemandu kami di Fes, seorang asli Berber yang sangat menguasai sejarah kota Fes. 

Fes, Kota Ilmu dan Pendidikan.

Kami memulai penjelajahan Fes dari sebuah bukit di luar kota tersebut. Dari atas bukit inilah kota Fes terlihat jelas. Fes dibagi menjadi 3 bagian yaitu kota tua (Fes el-medina), kota baru dan Mellah ( distrik Yahudi). Kota baru didirikan pada masa kolonial Prancis yang pernah menguasai Maroko selama 44 tahun yaitu sejak tahun 1912 hingga tahun 1956.

Sedangkan Mellah sejak lama telah ditinggalkan penduduknya yang makin lama makin sedikit dan sisanya yang tersisa sangat sedikit itu kini lebih memilih tinggal di kota lain. Yang terbanyak di Tetuoan yang terletak sekitar 60 km tenggara Tangier.

Fes el-medina , dengan lebih dari 150 ribu penduduk, masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO dan dianggap sebagai kawasan bebas mobil, kawasan pejalan kaki terluas dan tertua di dunia. Kota dengan 9.000 lorong dan jalan-jalan sempit ini dikelilingi benteng/tembok tebal sepanjang 14 km. Di kota inilah berdiri universitas universitas Qarawiyyin. Universitas ini didirikan oleh Fathimah Al-Fihria pada tahun 859 M, menjadikannya universitas tertua di dunia. ( Al-Azhar tahun 972 M, Oxford tahun 1096 M, Sorbonne tahun 1257 M).

Fathimah Al-Fihria adalah seorang perempuan alim kelahiran Qarowiyyin yang sekarang merupakan bagian dari Tunisia. Ia berasal dari keluarga pedagang kaya raya, awalnya membangunnya sebagai masjid kecil. Namun lama kelamaan berkembang menjadi tempat pendidikan berbagai macam ilmu pengetahuan, tidak hanya ilmu agama, melainkan juga matematika, sains dan kedokteran.

Tak heran bangunan bermenara putih tersebut akhirnya ikut mengalami perluasan dan terus mempercantik diri. Hingga akhirnya menjadi pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan yang didatangi banyak mahasiswa dari manca negara. Di universitas inilah lahir ilmuwan-ilmuwan Muslim kenamaan seperti Averroes, Al-Idrisi, Ibn Khaldun dll.

Namun dengan makin berkembangnya kota, diantara rumah penduduk yang makin padat, pasar dengan segala kebutuhan hidup dan masjid yang tak terhitung jumlahnya, Qarawiyyinpun tidak lagi mampu menampung mahasiswa yang terus berdatangan. Akhirnya universitaspun dipindahkan ke luar tembok kota Fes dengan tetap mempertahankan metode pembelajaran klasik. Sementara di tempat yang lama hanya menerima murid jurusan agama selain sebagai fungsinya sebagai masjid.

Selanjutnya pada tahun 1947 universitas ini direorganisasi menjadi universitas modern layaknya lembaga pendidikan saat ini dengan dikeluarkannya gelar akademik pada mahasiswanya. Kemudian pada tahun 1975 universitas berubah nama menjadi universitas Sidi Muhamad Ben Abdullah yang saat ini masih menempati rangking pertama di Maroko.

Alhamdulillah kami berdua sempat mendirikan shalat Zuhur jamaah di masjid Qarawiyyin bersama penduduk sekitar begitu adzan berkumandang. Jamaah perempuan yang jumlahnya cukup banyak mendapat tempat shalat di selasar persis di samping kanan riadnya yang cantik itu.

Oya riad adalah bagian terbuka semacam patio yang terletak di tengah rumah khas Maroko. Riad biasanya dilengkapi dengan kolam air mancur dan pepohonan, bagian bagian atap terbuka hingga udara segar bebas mengalir. Disinilah anggota  keluarga biasanya berkumpul sambil menikmati teh mint ditemani camilan khas Maroko yang mampu membangkitkan selera, sayang terlalu manis untuk saya pribadi.

Rumah Maroko biasanya berbentuk persegi dengan aksen lengkung pada pintu, jendela dan lorongnya. Arsitektur Maroko yang eksotis, banyak dipengaruhi kebudayaan Mediterania, Afrika, Persia, dan Islam tentunya. Pola geometri dan bunga/tumbuhan dengan warna-warna cerah biasanya dimunculkan pada keramik mozaik baik di lantai maupun dindingnya. Jendela balkon rumah Maroko yang disebut  mashrabiya juga menarik. 

Mashrabiya adalah ukiran yang dibuat pada partisi kayu besar dengan pola geometris yang rumit. Fungsinya sebagai pembatas/penutup untuk menyembunyikan wajah penghuni perempuan dari pandangan pria di luar rumah. Selain itu harumnya wewangian rempah-rempah seperti kayu manis, cengkeh, jahe yang dihangatkan juga memperkaya keunikan rumah Maroko. 

Rumah-rumah yang lazim disebut dengan riad tersebut banyak dijumpai di dalam kota tua. Belakangan rumah-rumah tersebut banyak yang disewakan untuk turis dengan pelayanan akrab ala rumahan. Menurut Hassan selain riad ada lagi apa yang dinamakan dar. Bedanya dar dengan riad, dar lebih sederhana, tidak ada riad alias bagian terbuka ditengahnya, kalaupun ada tanpa kolam air mancur. Pemilik riad biasanya orang kaya. Namun dari luar perbedaan tersebut tidak terlihat. Baik riad maupun dar yang berada di lorong-lorong sempit tersebut yang tampak hanya gerbang pintu kayu berukiran khas Maroko.  

Masih menurut Hassan, zaman dulu pintu-pintu tersebut mempunyai 2 bukaan, yang 1 tinggi besar dan 1 lagi sedang, dengan alat ketukan pintu masing-masing. Yang tinggi besar khusus untuk tuan rumah dan kudanya yang tanpa harus turun dari kuda dapat mengetuk pintu. Sedangkan yang lebih kecil untuk tamu tanpa kuda. Biasanya kuda diikat di depan rumah di balik gerbang. 

Di dalam kota tua ini pula terdapat mausoleum/makam raksasa pendiri Maroko yaitu Mulay Idris 2. Makam megah dengan dekorasi mozaik dan kaligrafi menakjubkan ini menyatu dengan pasar yang menjual aneka kebutuhan hidup. Sama halnya dengan masjid Qarawiyyin maupun madrasah Bou Inania yang usianya telah ratusan tahun.

Namun pasar atau souk dalam bahasa Arab ini jangan dibayangkan seperti di Indonesia. Pasar yang menyatu dengan rumah penduduk, masjid, maousolem, hamam yang sudah berubah fungsi tempat spa massage dll ini tertata rapi dan bersih, dipisahkan antara bagian sayuran, daging dll dengan bagian sepatu, pakaian sehari-hari, pakaian pernikahan dan pernak-perniknya, bahkan bagian perhiasan emas.

Di dalam pasar kota lama ini kami juga sempat diajak melihat proses pembuatan minyak Argan yang merupakan andalan Maroko. Juga  mengunjungi tempat penyamakan kulit Nejjar tertua di Maroko yang masih menggunakan alat-alat tradisional seperti ratusan tahun lalu. Bahkan keledai sebagai pengangkut kulit binatang masih digunakan hingga saat ini, dan melewati lorong sempit kota Fes ini. Kami bagaikan dibawa ke kehidupan di masa lalu.

Esoknya kami meneruskan perjalanan ke Rabat dengan melalui Walila/Volubilis, reruntuhan kota romawi tujuan awal Idris dan keluarganya serta Meknes ibu kota Maroko pada masa Moulay Ismail (1672–1727) sebelum dipindahkan ke Marrakech. Dan tentu saja Moulay Idris yang terletak tidak jauh dari keduanya. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan indah perbukitan Rif dengan danau dan pepohonan Zaitunnya.

Volubilis didirikan pada abad ke-3 SM. Kota ini meliputi wilayah seluas 40 hektare dengan tembok sepanjang 26 km yang membentengi nya. Sisa-sisa kemegahan kota tersebut masih terlihat, tampak dari adanya bangunan-bangunan khas eropa seperti Arc de Triomph di situs arkeologi tersebut. Kota baru menjadi reruntuhan seperti saat ini setelah gempa besar yang terjadi di abad 18.

Akan halnya Meknes, menurut Muhammad, sejak 3 tahun belakangan ini sedang menjalani renovasi besar-besaran.  Jadi tidak banyak yang bisa kami saksikan. Bahkan gerbang utamanyapun masih dipenuhi stagger/tangga besi. Namun demikian sejumlah kereta kuda tampak sudah siap melayani para tamu untuk berkeliling melihat bekas ibu kota lama dan istananya.  

Bersambung. 

Jakarta, 18 Januari 2025.