Feeds:
Posts
Comments

Sering kali orang beranggapan bahwa nikmat tertinggi dalam hidup adalah sehat, apalagi ketika seseorang dalam keadaan sakit, apapun sakitnya, bahkan ketika hanya terserang flue batuk pilek ataupun sakit gigi, apalagi sakit parah yang macamnya makin hari makin beragam.

Akan tetapi dalam keadaan normal dan sehat, orang baru menyadari bahwa rasa aman ternyata lebih tinggi tingkatannya daripada sehat. Lingkungan yang tidak aman membuat orang tidak nyaman meski ia sehat. Sedangkan orang yang sedang sakit ketika datang penjahat atau kebakaran tanpa sadar pasti akan berusaha lari menghindar.

Tak jarang orang yang sehat tiba-tiba menjadi sakit akibat rasa takut yang menderanya. Sebaliknya orang yang sedang sakit tapi hatinya tenang lebih cepat sembuh dari pada yang hatinya tidak tenang dan ketakutan.

Maka tak heran demi mendapatkan rasa aman orang rela membayar mahal satpam, memasang cctv, memelihara anjing dll. Meski ternyata semua itu tidak menjamin yang bersangkutan menjadi tenang dan bebas dari rasa takut dan khawatir. Mengapa demikian?? Banyak penyebabnya, bisa jadi satpam bekerja sama alias kongkalikong dengan si penjahat, cctv rusak atau dirusak, anjing diracun dsbnya. Tak sedikit cerita bahwa makin canggih penjagaan makin tinggi pula derajat ketakutan seseorang. Ada apakah gerangan???

Mari kita tengok Gaza. Wilayah kantong di Palestina ini adalah contoh ekstrim situasi super mencekam dan sangat mengerikan di abad ini. Betapa tidak, selama hampir 2 tahun terakhir ini setiap hari siang malam mereka dihujani bom.  Tapi takutkah mereka?? Mengapa mereka bisa memilih tetap bertahan di tanah yang sarat reruntuhan puing bangunan dimana makanan dan air bersih sulit didapat?? Tanah dimana tidak ada satupun tempat aman dari incaran bom tentara penjajah Israel yang secara kejam menteror mereka.

“ Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. ( Terjemah QS. Al-Isra (17):1).

Ayat di atas itulah salah satu penyebabnya. Tanah Palestina dimana berdiri didalamnya Masjidil Aqsho, sebagaimana janji Allah swt sebagai satu-satunya pencipta manusia, langit bumi dan segala isinya, adalah tanah yang diberkahi. Disanalah ladang pahala berlimpah ruah dengan surga sebagai balasannya. Itu sebabnya rakyat Palestina rela berkorban dan berjuang mempertahankan tanah air mereka seberat apapun tekanan terhadap mereka.

Rakyat Palestina adalah hamba-hamba pilihan Allah yang mendapat hak sekaligus tugas untuk menjaga kesucian Masjidil Aqsho, kiblat pertama umat Islam. Tingkat keimanan yang begitu tinggi memberi mereka keyakinan bahwa dunia hanyalah cobaan dan kampung akhirat adalah tujuan utama. Segala kesedihan, ketakutan, kelaparan, kesakitan di dunia tidak ada apa-apanya dibanding kepedihan akhirat yaitu neraka jahanam.

Jaminan keamanan di akhirat inilah yang membuat mereka tegar menghadapi segala cobaan maha berat tersebut.  Itulah nikmat terbesar manusia yang sayangnya hanya sedikit manusia menyadarinya. Meski tidak berarti kita, umat Islam yang tinggal di luar tanah Palestina, boleh hanya diam pasrah menyaksikan penderitaan saudara/i kita tersebut. Karena sejatinya Allah swt sedang menguji kita bagaimana reaksi kita ketika saudara/i seiman mengalami ujian maha berat.

Dari An-Nu’man bin Bisyir dia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim No 4685).

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari kedua hadist diatas jelas bahwa seorang Muslim tidak cukup sekedar ikut merasakan penderitaan saudaranya tapi bahkan dianggap memiliki iman yang tidak sempurna bila hanya diam melihat saudara/i didzalimi. Apalagi para pemimpin yang sejatinya memiliki kemampuan untuk menyerukan jihad melawan kedzaliman. Jihad adalah senjata ampuh kaum Muslimin yang paling ditakuti musuh-musuh Islam. Tak heran bila musuh-musuh Islam tersebut sering mengecam jihad dan memojokkan pelakunya.  

Lagi pula janji keamanan dari Allah bagi orang beriman dan beramal salih sebenarnya bukan hanya untuk kehidupan akhirat tapi juga kehidupan di dunia sebagaimana firman-Nya dalam ayat 55 surat An-Nur berikut,

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku”. 

Itulah yang terjadi pada masa kejayaan Islam di abad 7-18 sebelum jatuhnya kesultanan  Turki Ustmani yang berkedudukan pusat di Istambul paska PD I. Pada masa keemasan tersebut umat Islam bersatu, saling mengasihi, menyayangi dan bantu membantu hingga terbentuklah masyarakat yang kokoh. Hukum-hukum Islam ditegakkan dengan sangat baik termasuk hukum riba yang saat ini justru marak terjadi di Negara-negara mayoritas Muslim. Pada zaman itu musuh-musuh Islam yang notabene orang-orang kafir takut dan tidak berani menentang dominasi Islam.

“ Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):151).

Berkat jaminan keamanan inilah seorang hamba terbebas dari rasa takut dan khawatir dari mahluk lain selain Allah Azza wa Jala, hingga dengan demikian mampu beribadah memenuhi perintah Tuhannya dengan tenang dan sempurna. Demikian pula keamanan lingkungan yang mampu membuahkan ketenangan jiwa, ketentraman batin, kebahagiaan serta kedamaian hati.

“Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun janji Allah tersebut tidak berlaku bagi orang beriman yang suka mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman/kesyirikan. Orang beriman yang meyakini keberadaan satpam, pengawasan cctv, penjagaan anjing dll adalah sumber keamanan yang mereka rasakan adalah contohnya. Allah swt akan menyelipkan rasa was-was yang terus menghantui mereka.

Sebaliknya orang beriman yang tidak mencampuradukkan iman dengan kezaliman/kesyirikan, akan mendapatkan jaminan keamanan karena ridho-Nya. Bukan berarti mereka tidak berusaha meraih keamanan tapi usahanya tersebut adalah bagian dari niat mencari ridho Allah swt. Untuk itu mereka akan mendapatkan rasa aman serta mendapatkan petunjuk di dunia maupun di akhirat. Di dunia, mereka akan mendapatkan keamanan berupa ketenangan hati, sedangkan di akhirat mereka akan bebas dari api neraka.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang berhak mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang berhak mendapatkan petunjuk.” (Terjemah QS. Al An’am(6): 82).

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, Allah Ta’ala menurunkan untuk umatku dua jaminan keamanan.”

Beliau kemudian membacakan ayat, “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan engkau (wahai Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah pula Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun (beristighfar).” (Terjemah QS.Al-Anfâl(8):33).

Maka, sambung Rasulullah saw, “Jika aku sudah tiada, aku telah meninggalkan istighfar di tengah-tengah mereka sampai hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi)

Dengan demikian, agar hidup kita terjamin aman, hadirkanlah Rasulullah saw dalam keseharian kita, yaitu dengan membanyak shalawat kepadanya, menjaga dan menghidupkan sunnahnya, serta memperbanyak istighfar (memohon ampunan) kepada-Nya. Sungguh, inilah dua kunci keselamatan sekaligus kebahagiaan seorang Muslim.

Wallahu’alam bishawwab.

Jakarta, 7 Juni 2025.

Vien AM.

Kehidupan pernikahan.

Allah swt menganugerahi pasangan muda tersebut dua orang putra yaitu Hasan dan Husein, dan dua orang putri yaitu Zainab dan Ummu Kultsum. Keluarga tersebut hidup bahagia meski dalam kemiskinan. Fatimah tidak pernah mengurangi rasa hormat dan cintanya kepada sang suami. Kesetiaan dan perhatian yang ia berikan menggambarkan betapa ia menghargai peran Ali sebagai pemimpin keluarga.

Ada sebuah kisah menarik ketika suatu hari Fathimah menemui ayahnya untuk meminta bantuan. Ia tahu bahwa ayahnya sering memberikan tawanan perang kepada para sahabat untuk dijadikan sebagai pelayan rumah tangga. Fathimah yang merasa kelelahan karena banyak pekerjaan dan tugas rumah tangga yang harus dilakukan, berharap agar ayahnya berkenan memberinya pula seseorang yang dapat membantunya menyelesaikan pekerjaan di rumah.

Namun apa jawaban sang ayah ?? Alih-alih memberinya pelayan, Rasulullah malah mengajarkan putri tercintanya itu dzikir untuk dibaca di malam hari sebagai berikut:

Maukah kalian berdua aku ajari apa yang lebih baik dari apa yang kalian berdua minta kepadaku, jika kalian berdua hendak tidur, bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, ia lebih baik bagi kalian berdua daripada pembantu.

Sebagai seorang ibu, tidak ada yang mampu menyangkal bahwa Fathimah adalah seorang ibu yang patut diteladani. Dengan kelembutannya ia membesarkan dan mendidik putra-putrinya. Ia menanamkan sikap qana’ah atau rasa cukup. Ia mengajarkan nilai-nilai keutamaan yang lebih berharga daripada harta, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang teguh dalam iman dan akhlak. Di kemudian di hari terbukti ke empat putra-putrinya tercatat sebagai pribadi-pribadi yang mengagumkan.

Anak pertama yaitu Hasan, setelah sempat 6 bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, memilih mengundurkan diri dari kedudukan tertinggi dari dunia Islam tersebut. Hal ini demi mencegah pertumpahan darah antar sesama umat Islam. Adik Hasan yaitu Husain, dikenal sebagai simbol keberanian dan keteguhan dalam membela kebenaran. Husain syahid dalam tragedi Karbala yang mengenaskan. Sementara anak ke tiga, Zainab, dikenal sebagai perempuan  pemberani yang memainkan peran penting setelah tragedi Karbala. Dengan lantang ia menyuarakan kebenaran dan membongkar kezaliman Bani Umayyah di pengadilan Yazid bin Muawiyah. Selanjutnya bungsu Ummu Kultsum yang merupakan istri khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang juga memiliki peran penting dalam menjaga warisan keluarga Rasulullah SAW.

Suatu hari Fathimah mendapat kabar bahwa suaminya telah meminang salah seorang putri Abu Jahal. Abu Jahal adalah seorang yang sangat memusuhi Islam dan Rasulullah.  Oleh sebab itu ketika Fathimah mengadukan hal tersebut Rasulullahpun terdiam kemudian bersabda: “Demi Allah tidak akan berkumpul putri Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan putri musuh Allah pada satu orang lelaki”.

Fathimah adalah bagian dari diriku, barang siapa yang menyakitinya maka ia telah menyakitiku”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mendengar itu Ali segera membatalkan lamarannya. Maka hingga akhir hayatnya Fathimah tetap menjadi satu-satunya istri Ali bin Abi Thalib. Anehnya orang-orang Syiah menjadikan hadist tersebut sebagai dalil bahwa Fathimah adalah seorang yang maksum ( tidak pernah melakukan kesalahan). Mereka mengartikan bahwa jika Fathimah sakit hati tidak saja Rasulullah yang sakit tapi juga Allah swt. Mereka menggunakan hadist tersebut untuk menyerang khalifah Abu Bakar ketika terjadi permasalah antara sang khalifah dengan Fathimah mengenai hal waris. Padahal itupun akhirnya telah selesai dengan baik.       

Fathimah dan wafatnya Rasulullah.

Fathimah adalah satu-satunya putri Rasulullah yang menjadi saksi wafatnya sang ayah tercinta. Ketika sakit Rasulullah makin hari makin bertambah Fathimah setiap hari datang menjenguk. Setiap kali datang menjenguk, diciumnya putri kesayangan tersebut. Namun ketika sakit Rasul makin berat, Fathimahlah yang mencium ayahnya tercinta.

Selamat datang, puteriku“, sambut Rasul. Dengan wajah menahan duka Fathimahpun duduk disamping ayahnya. Tak lama kemudian Rasul membisikkan sesuatu ke telinga Fathimah. Seketika Fathimah tertawa. Wajahnya langsung berubah cerah. Tetapi beberapa saat kemudian setelah  Rasulullah kembali membisikan sesuatu, Fathimahpun menangis sedih.

Aisyah kemudian bertanya, apa yang dikatakan ayahnya itu. Fatimah hanya menjawab pendek : ”Aku tidak akan membuka rahasia ayahku “.

Di kemudian hari, setelah Rasulullah wafat, Fathimah mengatakan, bahwa ayahnya membisikkan kata  bahwa dirinya adalah orang pertama dari pihak keluarga yang akan menyusul Rasulullah wafat. Itu sebabnya ia tertawa. Selanjutnya ketika Rasulullah berbisik bahwa beliau akan wafat disebabkan  sakitnya itu, iapun tak tahan untuk tidak menangis.

Enam bulan kemudian Fathimah wafat. Ia wafat pada tahun 11 Hijriyah pada bulan Ramadan kemudian dimakamkan di pemakaman Baqi’ di Madinah.

Kisah hidup  Fathimah Az-Zahra yang dipenuhi dengan tantangan dan pengorbanan, mengajarkan kita makna sejati dari keberanian, kesederhanaan, dan kasih sayang. Ia tidak hanya diingat sebagai putri Rasulullah Muhammad SAW, tetapi juga sebagai seorang pribadi yang mencerminkan cinta, keadilan, dan komitmen pada kebenaran.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 13 Mei 2025.

Vien AM.

Fathimah Az-Zahra adalah putri bungsu, putri ke 4 dari 6 bersaudara yang lahir dari rahim seorang perempuan mulia  Khadijah ra, istri tercinta Rasulullah Muhammad SAW. Putri Rasulullah ini makin istimewa kedudukannya di hati kaum Muslimin karena ia juga adalah istri dari Ali bin Abi Thalib, salah satu sahabat dekat dan sepupu Rasulullah.  

Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuawilid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim, istrinya Fir’aun.” (HR. Ahmad)

Fathimah lahir di Makkah pada sekitar tahun 605 Masehi dan wafat pada tahun 632 Masehi di Madinah. Fathimah memiliki akhlak dan kepribadian yang sangat mulia.  Ia adalah seorang yang rendah hati, murah hati dan penuh kasih sayang. Terhadap orang miskin ia sangat peduli dan selalu berusaha untuk membantu.  

Masa Kecil.

Sejak kecil Fathimah dikenal mampu mengisi rumah Rasulullah SAW dengan kegembiraan dan keceriaan. Tak salah bila sang ayah memberinya julukan az-Zahra yang artinya yang selalu harum berseri layaknya sekuntum bunga, meski sebenarya ia tumbuh dalam keadaan yang sulit.

Fathimah yang lahir tak lama setelah ayahnya diangkat menjadi Rasul, sejak kecil menyaksikan perjuangan dakwah Islam di Makkah yang penuh dengan pengorbanan dan tantangan. Ia bahkan melihat sendiri bagaimana pamannya sendiri memusuhi Islam dan ayahnya.

Fathimah yang ketika itu baru berusia 7 tahun begitu gusar, sedih dan kecewa melihat kepala ayahnya tercinta dilumuri kotoran unta ketika sedang sujud dalam shalatnya di depan Ka’bah.  Ia segera berlari mendekati ayahnya untuk membersihkan kotoran tersebut lalu dengan penuh keberanian menghampiri kerumunan dimana paman berada dan memarahi pamannya tersebut.

Fathimah kecil bersama ibu dan 3 kakak perempuannya juga menjadi saksi sekaligus korban boikot sosial dan ekonomi yang dilakukan orang-orang Quraisy terhadap bani Hasyim, bani Muthalib dan  pengikut Rasulullah yang waktu itu masih sangat sedikit jumlahnya. Boikot ini terjadi pada tahun ke-7 kenabian tak lama setelah Umar bin Khattab yang merupakan pemuka Quraisy, memeluk Islam. Itu sebabnya para pemuka Quraisy makin kesal melihat perkembangan Islam.  

Selama kurang lebih 3 tahun mereka dikucilkan dari pergaulan dan dipaksa tinggal di sebuah celah bukit sempit di Mekah. Selama itu pula demi mempertahankan hidup mereka terpaksa memakan dedaunan kering dan kulit pepohonan.

Memasuki bulan Muharram tahun ke-10 kenabian, warga Makkah mulai kasihan terhadap mereka dan merasa tindakan Abu Lahab dan kawan-kawan sudah di luar batas kemanusiaan. Pada saat yang sama naskah boikot yang digantung para pemuka Quraisy pada dinding Ka’bah koyak. Tampak bahwa Allah SWT telah mengutus pasukan rayap untuk memakan lembar perjanjian yang dazlim tersebut. Sayang tak lama boikot usia, Fathimah harus kehilangan sang ibu tercinta yang telah berusia 80 tahun. Tak lama kemudian  Allah swt memerintahkan umat Islam untuk hijah ke Madinah.

Keadaan ini membentuk Fathimah menjadi sosok perempuan yang tangguh, kuat, dan penuh kesabaran. Kepedulian dan perhatian Fatimah kepada ayahnya mencerminkan rasa cinta yang mendalam serta keteguhannya dalam mempertahankan kebenaran yang diajarkan oleh ayahnya.

Meski hidup dalam keterbatasan dan jauh dari kemewahan, Fatimah tetap bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT. Kesabarannya dalam menghadapi kesulitan hidup menjadikannya teladan yang luar biasa bagi umat Muslim, mengajarkan bahwa kekuatan iman dan rasa syukur adalah kunci dalam menjalani kehidupan.

Fathimah dan Lamaran.

Ali bin Abi Thalib telah mengenal Fathimah sejak kecil karena Ali sejak kecil memang tinggal bersama pamannya itu. Fathimah dikenal sebagai sosok anak yang sangat berbakti kepada orang tua. Ali terketuk pertama kali saat Fathimah dengan sigap membasuh dan mengobati luka ayahnya yang luka parah karena berperang. Sejak itu ia bertekad akan menikahinya. Namun demikian ia berusaha menjaga hati dan pandangannya hingga Fathimah tidak menyadarinya.

Ketika keduanya beranjak dewasa, Ali berniat menghadap Rasulullah SAW untuk melamar Fathimah. Namun terbesit sedikit keraguan karena menyadari ia hanyalah pemuda miskin yang tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk maharnya.

Di tengah kebimbangannya, terdengar kabar bahwa Abu Bakar RA mengajukan lamaran kepada Rasulullah SAW untuk Fathimah. Kemudian disusul pula oleh Umar bin Khattab RA yang juga datang untuk melamar sang putri tercinta.

Namun tanpa disangka secara halus ternyata Rasulullah menolak lamaran kedua sahabatnya tersebut. Tak dapat disangkal Ali merasakan adanya kesempatan emas baginya. Apalagi ketika  seorang temannya berkata, “Mengapa kamu tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, kamulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.”

Akhirnya Alipun memberanikan diri menemui Rasulullah. Siapa  tahu Rasulullah berkenan menerima baju besi senilai 400 dirham, sebilah pedang dan seekor unta yang dimilikinya itu sebagai mahar, begitu ia berpikir menenangkan diri.

Betapa leganya Ali begitu mengetahui Rasulullah hanya tersenyum. Rupanya Rasulullah mengetahui bahwa kemenakannya itu telah lama mencintai putrinya. Tentang mahar, setelah Rasulullah mengetahui bahwa Fathimah bersedia menerima lamaran Ali, beliau berkata, “Tentang pedangmu, kamu tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah SWT, dan untamu kamu perlukan untuk mengambil air bagi keluargamu serta untuk perjalanan jauh. Karena itu, aku akan menikahkan kamu dengan mahar baju besi. Wahai Ali, kamu wajib bergembira karena Allah SWT sebenarnya sudah lebih dulu menikahkan kamu di langit sebelum aku menikahkanmu di bumi ini.”

(Bersambung).

Dari Abdullah bin Abi Aufa, rasulullah bersabda:

Wahai sekalian manusia, janganlah kalian berharap untuk bertemu dengan musuh, dan mintalah keselamatan kepada Allah. Tetapi jika kalian bertemu dengan musuh, hendaknya kalian bersabar. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya surga itu di bawah kilatan pedang”. (Hadis sahih) – (Muttafaq ‘alaih).

Hadist ini sering digunakan untuk menyerang Islam dengan cara dipotong bagian awalnya hingga seolah Islam adalah ajaran pedang alias kekerasan. Inilah yang dijadikan pegangan bahwa Islam adalah ajaran penuh kebencian hingga menyebabkan Islamophobia akut di kalangan Barat. Islam bagi mereka adalah teroris.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya surga itu di bawah kilatan pedang”.

Padahal bila kita baca dan perhatikan secara utuh, hadist tersebut justru mengajarkan kesabaran. Menariknya lagi, dengan adanya panggilan “wahai sekalian manusia” bukan “wahai sekalian orang beriman” di awal kalimat, menunjukkan bahwa hadis ini mengajarkan agar seluruh manusia, bukan khusus umat Islam atau orang beriman, untuk selalu berbaik sangka, tidak mencari permusuhan dan keributan. Berdoa selalu kepada Allah swt agar diberi keselamatan.

Akan tetapi bila ternyata ada orang datang mengganggu, memusuhi,  apalagi memerangi, hendaknya bersabar. Namun bersabar bukan berarti diam, pasrah akan tetapi wajib melawan sekuat tenaga, bahkan hingga mati. Mati demi membela diri dan keimanan, keluarga, darah dan harta, syurga adalah balasannya. Itulah mati syahid. Kata pedang digunakan karena perang pada waktu itu biasanya menggunakan pedang. Kilatan pedang menunjukan kedasyatan perang.   

Dari sini jelas terlihat bahwa perang dengan pedang/kekerasan adalah jalan terakhir ketika jalan damai tidak dapat dilakukan. Ini menunjukkan bahwa perang dalam Islam adalah defensive/bertahan bukan ofensif/menyerang. Perang cara ini adalah demi tegaknya keadilan di atas muka bumi. Sementara perang dengan lisan dan pena yaitu dengan perkataan dan tulisan adalah demi tegaknya kalimat Laa ilaha ila Allah, tiada tuhan selain Allah.  

Islam adalah agama yang damai, agama yang tidak menyukai peperangan kecuali terpaksa. Ayat 32 surat Al-Maidah  berikut secara jelas menerangkan membunuh 1 orang tanpa sebab maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi”.

Ayat Al-Quran diatas menyebut dengan jelas, bani Israil, namun sebenarnya juga berlaku bagi umat nabi Muhammad saw yaitu umat Islam. Ironisnya, hari ini seluruh dunia bisa melihat dengan jelas bagaimana Zionis Israil melakukan kebiadaban yang benar-benar di luar nalar manusia. Lebih dari 50 ribu penduduk Gaza mereka bantai, tidak peduli laki perempuan, tua muda, anak kecil. Bahkan sekolah, rumah sakit dan penampunganpun mereka bombardir. Pun setelah adanya perjanjian genjatan senjata tanpa rasa malu mereka langgar.

Bandingkan dengan apa yang terjadi pada peristiwa penaklukkan Yerusalem di tahun 637 di zaman khalifah Umar bin Khattab ra atau pada salah satu perang Salib (pertempuran Hittin ) pada tahun 1187 di masa sultan Salahuddin Al-Ayyubi.

Pada akhir ayat di atas, dapat kita ketahui pula bahwa orang-orang Israil sejak dulu memang  suka berbuat kerusakan di muka bumi, termasuk membunuh para nabi. Rasulullahpun tak luput dari percobaan pembunuhan, bahkan hingga beberapa kali.

Pengusiran yang dilakukan Rasulullah terhadap bani Israil seperti bani Qainuqa’, bani Quraizhah dan bani Nadhir dari Madinah ( dulu Yastrib) karena berkali-kali mereka melanggar piagam Madinah, bukan hanya karena mereka Yahudi.

Piagam Madinah adalah piagam perdamaian yang dibuat Rasulullah agar penduduk Madinah hidup damai, saling menghargai dan menghormati apapun agama maupun suku mereka. Piagam ini juga menerangkan bagaimana berinteraksi antar pemeluk agama yang berbeda.

Para pakar politik dunia saat ini mengakui bahwa piagam Madinah adalah konstitusi pertama dunia yang menjadi sumber inspirasi untuk membangun masyarakat yang pluralistik, memiliki relevansi yang kuat dengan perkembangan masyarakat internasional dan menjadi pandangan hidup modern berbagai negara di dunia.

Siapa yang tidak sempurna imannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman atas kejahatannya.” (HR al-Bukhari).

Perang yang terjadi selama masa kerasulan ( perang pertama baru terjadi pada tahun ke 2 hijriyah, atau 15 tahun setelah masa kerasulan) sebenarnya juga bukan perang panjang dengan korban massif. Perang-perang tersebut berlangsung hanya dalam hitungan hari dengan adanya jeda waktu. Bandingkan dengan sejumlah perang yang pernah terjadi di dunia yang bisa mencapai tahunan bahkan ratusan tahun sebagaimana tercantum pada link berikut :

https://databoks.katadata.co.id/demografi/statistik/0a0b2090f28488f/daftar-perang-terpanjang-dalam-sejarah-hingga-lebih-dari-700-tahun

Melansir dari World Atlas, perang dengan periode terlama yang dicatat sejarah adalah Reconquista, yakni berlangsung selama 781 tahun. Perang Reconquista atau Perang Salib Iberia merupakan perang antara Portugis dan Spanyol dengan Kekhalifahan Kordoba. Perang-perang lain adalah Perang Dunia I (4 tahun), Perang Dunia II (6 tahun), perang Seratus Tahun antara Inggris dan Perancis dll.

Perang di masa hidup Rasulullah yang jumlahnya 27 kali ( mulai tahun ke 2 H hingga tahun ke 10 H), bila ditotal jumlahnya tidak lebih dari 540 hari ( kurang dari 1.5 tahun). Korbannyapun tidak pernah menyasar warga sipil apalagi anak-anak. Demikian pula perintah perang dalam Al-Quran yang sering dituding oleh musuh-musuh Islam sebagai biang kekerasan, sebenarnya hanya 7% dari total ayat yang ada dalam Al-Quran. Itupun dengan berbagai persyaratan. Diantaranya  adalah sebagai berikut:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun”. (HR. An Nasa’i).

Selebihnya bermacam-macam, antara lain yang paling utama adalah tentang tauhid ( bahwa Tuhan adalah satu), berbagai perintah ( seperti shalat, zakat, infak sedekah, haji, berbuat baik pada orang-tua/manusia/mahluk dll, berbagai larangan ( seperti minum khamr/alcohol, makan babi, zina dll), sains dan kedasyatan alam semesta, kisah orang-orang terdahulu, nabi, rasul dll.     

Dari Abdullah ibnul Mishwar, ia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Seorang yang beriman tidak akan kekenyangan sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar”.

Anehnya ada saja orang yang saat ini masih juga membela Israel yang jelas-jelas telah melakukan genosida terhadap rakyat Palestina, Gaza khususnya, bahkan menyebar Islamophobia yang jelas-jelas menjadi korban kebiadaban Israel.   

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. ( Terjemah QS. Al-Hajj (22):46).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 9 April 2025.

Vien AM.

Operasi Badai Al-Aqsa, serangan mendadak yang dilakukan kelompok Hamas pada Sabtu (7/10/2023) adalah serangan Hamas terhebat yang pernah dialami Israel sejak Perang Yom Kippur pada 1973. Secara tiba-tiba Hamas meluncurkan serangan besar-besaran ke wilayah Israel di pagi hari tersebut, mengejutkan warga Israel di bagian selatan. Sirine serangan udara pun berbunyi hingga ke wilayah Tel Aviv, ibu kota Israel. Di pagi hari 7 Oktober 2023 itu, dalam hitungan menit, tentara Hamas berhasil menerobos pagar perbatasan wilayah Israel selatan dan menyerbu masuk ke tengah acara perayaan Yahudi dan festival music yang digelar bersamaan.

Kami ingin masyarakat internasional menghentikan kekejaman di Gaza, terhadap rakyat Palestina, tempat suci kami seperti Al-Aqsa,” jelas juru bicara Hamas mengenai serangan tersebut.

Seperti kita ketahui bersama pendudukan Israel terhadap tanah Palestina telah berjalan selama puluhan tahun yaitu sejak tahun 1948, dilanjutkan dengan pencaplokan wilayah tahun 1967 yang membuat wilayah Palestina makin menyempit. Penjajahan yang terjadi di era modern ini terjadi dengan perlakuan kejam terhadap rakyat Palestina. Hampir setiap hari tentara penjajah melakukan perampasan tanah dan rumah penduduk, penyiksaan, penculikan bahkan pembunuhan terhadap rakyat Palestina.

Kemarahan rakyat mencapai puncaknya disebabkan makin seringnya para pemeluk Yahudi menerobos masuk kompleks Masjidil Aqsho. Dibawah pengawasan tentara penjajah mereka seenaknya melarang bahkan mengusir umat Islam yang sedang shalat di dalam Masjidil Aqsho.  Masjidil Aqsho adalah rumah ibadah umat Islam pertama sekaligus kibat pertama sebelum Allah swt memerintahkannya pindah ke Ka’bah di Mekkah. Masjid ini berada di Jerusalem Timur yang merupakan ibu kota Palestina.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Tidak boleh bersusah-payah bepergian, kecuali ke tiga masjid, (yaitu) Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjidil Aqsha” [HR Al-Bukhari dan Muslim].

Shalat di Masjidil Haram (Mekah) lebih utama dari seratus ribu shalat di tempat lainnya, dan shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama dari seribu shalat di tempat lainnya, dan shalat di Masjidil Aqsa lebih utama dari lima ratus shalat di tempat lainnya.” (HR. Bukhari)

Tak heran bila akhirnya Hamas sebagai organisasi Islam terbesar di Palestina yang berkedudukan di Gaza, untuk mengakhiri pendudukan Israel, menyerukan  semua penduduk yang mempunyai senjata untuk bergerak. “Waktunya telah tiba“, seru jubir Hamas.

Gayungpun bersambut. Sementara para pejuang bertempur, rakyatpun ribath yaitu bertahan di tanah air mereka, apapun yang terjadi. Mereka tidak mau tragedy Nakba 1948 yang memaksa mereka exodus/keluar dari tanah air hingga Israel berhasil merebut tanah kelahiran mereka, kembali terjadi.   

Sementara Israelpun mengamuk karena tanpa disangka serangan mendadak HAMAS pada 7 Oktober tersebut telah memakan tidak saja ratusan tentara Israel dan sipil tapi bahkan berhasil menyandera 270 orang Israel yang sedang menyaksikan pesta musik dan perayaan Yahudi. Dari Jalur Gaza, setidaknya Hamas telah menembakkan 3.000 roket ke wilayah perbatasan Israel.

Tiga belas bulan lamanya pertempuran tidak seimbang antara Israel yang didukung AS dengan senjata canggihnya melawan pejuang Hamas yang berperang habis-habisan secara gerilya bermodalkan sistim pertahanan bawah tanahnya yang rumit. Lebih 47 ribu korban syahid sebagian besar anak-anak dan orang-tua, 110 ribu lebih korban luka, ratusan bangunan mulai rumah, sekolah, masjid hingga rumah sakit ambruk. Tapi penduduk Gaza tetap bertahan meski terpaksa mengungsi daerah 1 wilayah ke wilayah lain Gaza. Tak sudi mereka meninggalkan tanah air kelahiran mereka. Sementara pejuang Hamas terus berjuang mati-matian tanpa kenal lelah dan takut.

Tak salah bila akhirnya pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap petinggi otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan bekas petinggi otoritas pertahanannya, atas dakwaan kejahatan perang dan kejahatan genosida terhadap kemanusiaan di Gaza.

Hingga akhirnya  tercapailah genjatan senjata pada 15 Januari 2025 lalu. Gencatan senjata ini dimediasi oleh Qatar, Mesir dan Amerika Serikat. Meski Gaza hancur lebur namun kebanyakan pakar militer berpendapat Israel adalah pihak yang kalah. Israel yang didukung Amerika Serikat dengan berbagai senjata canggih mutakhir, menghadapi Gaza yang hanya seluas tak lebih dari luas 1/5 Jakarta, 1 tahun lebih tidak mampu menguasai daerah kantong, rumah bagi 2,3 juta orang Palestina trsebut.

Genjatan senjata ini dibarengi dengan pertukaran sandera Israel yang dibawa Hamas pada 7 Oktober dengan ribuan tahanan Palestina yang disekap Israel selama bertahun-tahun tanpa tuduhan jelas. Pelaksanaan pertukaran tahanan setelah perundingan yang alot telah berjalan mulai 19 Januari lalu.

Hamas mengawalinya dengan membebaskan 3 sandera perempuan Israel dalam kondisi sehat. Bahkan pada penyerahan sandera berikutnya terlihat beberapa sandera mencium kening penyanderanya. Seorang bekas sandera pada sebuah siaran televisi menceritakan bahwa ia diperlakukan dengan baik oleh sebuah keluarga Palestina dimana ia ditempatkan. Ia justru merasa lebih takut terkena bom pemerintahnya yang berkali-kali menyasar rumah dimana ia tinggal, dari pada kepada pejuang Hamas. Ia juga menambahkan bahwa dua orang temannya tewas akibat bom Israel.

Salut dengan apa yang dilakukan para pejuang Hamas karena memang begitulah yang dicontohkan Rasulullah, yaitu berbuat baik kepada musuh. Ahklak inilah tampaknya yang menjadi salah satu kunci keberhasilan dakwah Islam.

Salah satu contohnya adalah usai perang Khaibar ( perang melawan Yahudi di benteng Khaibar) yang dimenangkan kaum Muslimin. Ketika itu Rasulullah melihat para tawanan perempuan digiring melewati jasad-jasad musuh yang tak lain adalah keluarga mereka. Melihat itu, Rasulullah bangkit seraya berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan perempuan-perempuan itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”

Contoh lain adalah perlakuan Rasulullah terhadap Abu Sufyan pada peristiwa Fathu Makkah. Pemuka Quraisy yang sangat memusuhi Islam ini diberi Rasulullah kesempatan untuk melihat kebesaran pasukan Islam bahkan kehormatan berupa keselamatan bagi musuh yang berlindung ke dalam rumahnya, hal yang membuat Abu Sufyan tersanjung. Dan akhirnya tokoh Quraisy itupun luluh dan masuk Islam.   

Hal tersebut bertolak belakang dengan kondisi ribuan tahanan Israel yang dilepaskan secara bertahap. Selama di penjara mereka disiksa dengan berbagai siksaan sadis oleh para penjaga penjara. Tak sedikit ex para tahanan tersebut yang keluar dalam keadaan cacat dan terganggu emosinya.

Anehnya di tengah genjatan senjata dan pertukaran tawanan yang sedang berlangsung, Donald Trump, presiden AS yang baru saja terpilih, melemparkan usulan ajaib yaitu relokasi penduduk Gaza ke Negara-negara tetangga seperti Mesir, Yordan dll juga Indonesia sebagai Negara mayoritas Muslim, dengan alasan agar pembangunan kota dapat berjalan mudah. Dan lebih anehnya lagi tanpa ada jaminan kapan mereka dapat kembali menempati tanah air mereka itu karena tanah tersebut akan diambil oleh Amerika Serikat !??!!

Logika apa yang digunakan orang nomor 1 yang katanya Negara adi daya tersebut??? Untuk apa rakyat Gaza/Palestina berjuang, berperang mati-matian mempertahankan tanah air jika akhirnya harus menyerahkannya kepada pihak asing??? Benar-benar tidak masuk akal. Saking anehnya, orang Amerikapun banyak yang malu melihat tingkah laku presidennya itu.

Dan kini di akhir genjatan senjata tahap 1 yang seharusya masuk tahap 2,  dengan pongah Israel membatalkan genjatan senjata tersebut. Mereka menutup perbatasan demi mencegah masuknya bantuan sosial untuk Gaza. Bahkan selama genjatan senjata tahap 1 pun tidak jarang mereka melanggar kesepakatan. Beberapa kali mereka mengebom kerumunan dan rumah penduduk hingga menewaskan ratusan warga Gaza. Begitulah sifat Yahudi, persis yang dikisahkan dalam banyak ayat Al-Quranul Karim, diantaranya adalah sebagai berikut:

Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Bahkan sebagian mereka tidak beriman”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2): 100).

Hamas mencurigai mereka memang tidak bersungguh-sungguh berniat menepati genjatan senjata. Mereka hanya menginginkan kembalinya sandera Israel kemudian akan melanjutkan penghancuran dan genosida, tidak saja penduduk Gaza tapi juga Tepi Barat dimana kompleks Masjidil Aqsho berada. Dan hal tersebut diakui secara resmi oleh pihak Israel!!

Beberapa waktu lalu penjajah tersebut secara provokatif mengeluarkan peta Israel yang memasukkan Palestina, Yordania, Suriah dan Lebanon sebagai bagian dari Israel Raya.

https://www.tribunnews.com/internasional/2025/01/09/terbitkan-peta-provokatif-israel-klaim-palestina-yordania-suriah-dan-lebanon-adalah-tanah-zionis

Kabar lain menyatakan bahkan sebagian wilayah Arab Saudi, Mesir  dan Irakpun mereka masukkan. Banyak pakar dan akademisi menyatakan hal tersebut bukan semata-mata kemauan Israel tapi merupakan bagian kebijakan luar negeri AS yang bertujuan memperluas hegemoni AS ke Timur Tengah dan usaha memecah belahnya. Gagasan Israel Raya tersebut tentu saja memicu kecaman di seluruh dunia, tidak hanya Negara yang terkena dampak.

Pertanyaan besar akankah kaum Musimin tetap diam berpangku tangan menyaksikan kompleks suci ini jatuh ketangan Israel terkutuk??? Bersyukur Mesir, Yordania maupun Arab Saudi tegas menolak permintaan ajaib Trump meski dibawah tekanan. Kabar terakhir para pemimpin negara Liga Arab pada Selasa (4/3/2025) sepakat membentuk komite dana perwalian guna membiayai rekonstruksi Jalur Gaza  akibat agresi brutal Israel sejak 7 Oktober 2023 lalu.

Semoga para pemimpin Negara mayoritas Islam terutama negara-negara teluk mampu teguh mempertahankan pendirian mereka hingga terbentuk Negara Palestina merdeka. Bukankah kemerdekaan adalah hal segala bangsa, mengapa Palestina harus dipersulit??? 

Dan sebagai Muslim sejati yang senantiasa mewaspadai berita akhir zaman yang telah disampaikan Rasulullah Muhammad saw 15 abad silam, tentunya harus siap memperjuangkan dan menyambut hari kemenangan tersebut, tidak hanya diam menanti. Jangan sampai kalah dengan kaum di luar sana yang justru mampu melihat kebenaran dan keagungan Islam berkat kesucian hati mereka, untuk kemudian bersyahadat dan membela Islam dengan sungguh-sungguh.

Wallahu’alam bi shawwab.
Jakarta, 6 Maret 2025/ 6 Ramadhan 1446 H.

Vien AM.

Selain masjid Koutubiya, di bekas ibu kota kekaisaran ini berdiri banyak tempat bersejarah seperti istana Bahia, masjid dan madrasah Ben Youssef, makam Sa’adian, Kasbah dan reruntuhan istana El-Badi, Majorelle Garden, Secret Garden dan juga museum yang tidak sedikit jumlahnya.  

Istana Bahia dibangun antara tahun 1894 dan 1900 sebagai persembahan bagi ratu Bahia, satu-satunya istri (dari 4 istri raja) yang melahirkan anak pertama laki-laki. Istana yang memiliki 160 kamar ini dibangun dengan gaya Andalusia dimana bagian tengah bangunan istana terhampar halaman terbuka dengan fontaine/kolam air pancur dan sejumlah pohon jeruk seperti yang banyak dijumpai di Andalusia. Lantai, langit-langit dan dindingnya dihiasi mosaik dan ukiran kayu yang rumit.

Sedangkan madrasah Ben Youssef yang berada di kota tua berhimpitan dengan souk/pasar dimana nafas kehidupan berhembus,  adalah merupakan sekolah tinggi Islam terbesar di Maroko. Namanya diambil dari nama sultan Ali ibn Yusuf yang berjasa dalam pembangunan dan perluasan kota Marrakech. Madrasah ini didirikan pada abad ke-14 oleh Sultan Abu al-Hasan dengan mengikuti gaya arsitektur Hispano-Moresque.

Bangunan bertingkat 2 ini dilengkapi dengan asrama berisi 130 kamar, dimana tiap 10 kamar memiliki halaman sendiri.  Sebuah masjid dengan nama yang sama berdiri tak jauh dari madrasah ini. Sistem air madrasah Ben Youssef merupakan contoh menarik tentang bagaimana orang-orang zaman dahulu merancang solusi cerdik untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Madrasah ini dibangun pada saat akses terhadap air masih sulit.

Selanjutnya masjid Kasbah, salah satu masjid tertua di Maroko, dibangun pada tahun 1557. Masjid ini berada dalam satu kompleks makam keluarga kerajaan Sa’adian yang berkuasa di Marrakech pada abad 16. Makam dengan arsitektur Hispanik Moresque ini baru ditemukan pada tahun 1917 dalam keadaan masih sangat baik, bahkan sebagian besar dekorasi aslinya masih utuh. Di dalam kompleks ini pula berdiri istana kuno El-Badi milik keluarga kerajaan yang sebagian besar sudah menjadi reruntuhan, dan juga istana raja Muhammad VI, raja saat ini, yang digunakan ketika raja sedang berkunjung ke Marrakech.

Sebagai kota pariwisata pantas Marrakech menjadi penyelenggara berbagai festival. Diantaranya adalah dengan adanya Marathon des Sables ( Lomba lari marathon lintas gurun ) dan Marrakech International Film Festival yang diadakan setiap tahun dan diikuti banyak Negara.  

Tak sengaja ketika kami berjalan-jalan di sekitar hotel yang terletak di Gueliz, pusat kota baru Marrakech, kami melihat keramaian di sepanjang avenue Muhammad VI dimana berdiri gedung Palais des Congres, tempat diselenggarakannya festival tahunan film tersebut. Di Gueliz inilah berdiri gedung teater Opera yang bersebrangan dengan mall dimana stasiun kereta api Marrakech berada serta Menara Mall yang merupakan mall terbaru di Marrakech. Mall ini berada persis di hadapan hotel Meridien. Dan rupanya hari tersebut adalah hari penutupannya.

Dari kota ini pula gerbang Sahara tampak di depan mata.  Banyak sekali wisata alam yang bisa dilakukan di sekitar kota ini. Melalui pemesanan online kita bisa memilih berbagai tour yang ditawarkan dengan guide orang asli Maroko. Kami sepakat memilih Ait ben Haddou , sebuah perkampungan suku Berber di Ouarzazate, pegunungan High Atlas.

Dengan menaiki mini van kapasitas 16 full penumpang, kami menempuh perjalanan sekitar 193 km dari Marrakech selama kurang lebih 4 jam melalui jalan pegunungan dengan  beberapa pemberhentian. Salah satunya adalah pemberhentian Tizi n’Tichka dimana pemandangan indah pegunungan dan jalanannya yang berkelak-kelok tampak jelas. Disinilah kabarnya singa Berber terakhir menampakkan diri, yaitu pada tahun 1992.

Di kejauhan terlihat Jabal Toubkal (4167 meter) dengan puncak saljunya. Gunung tertinggi pegunungan High Atlas sekaligus di Afrika Utara ini merupakan tujuan wisata manca Negara untuk bermain ski. Temperatur menunjukkan angka 8 drajat Celcius saat kami berada di tempat tersebut. “Dalam sepekan wilayah ini akan dipenuhi salju”, jelas guide kami.  Pegunungan ini memang unik meski sebagian besar gersang tapi ada tempat-tempat tertentu yang terlihat lumayan subur.  

Pemberhentian berikutnya adalah tempat pemrosesan minyak Argan yang merupakan produk andalan Maroko yang di import ke luar negri, termasuk Indonesia, dengan harga tinggi. Keunikan proses minyak ini adalah karena bijinya yang dimakan terlebih dahulu oleh kambing yang kemudian mengeluarkan kotoran berupa biji yang nantinya akan diolah menjadi minyak. Prinsip yang sama dengan prinsip kopi Luwak Indonesia. Uniknya lagi kambing-kambing yang tergiur dengan bau manis buah Argan tersebut ramai-ramai memanjat pohon Argan.

Setelah itu tibalah kami di tujuan utama yaitu Ait Ben Haddou. Perkampungan ini berada di dalam kasbah/benteng yang umurnya telah ratusan tahun namun tetap dipertahankan dalam keadaannya seperti di masa lampau. Saking antiknya perkampungan di atas bukit ini sejak lama sering dijadikan lokasi shuting film berbagai Negara. Diantaranya Benhur, Cleopatra, Gladiator dll.

Dari Ait ben Haddou kami mampir ke Atlas Studio, studio terbesar di Maroko yang digadang-gadang sebagai Hollywoodnya Maroko. Guide studio tersebut dengan jenaka tidak saja menerangkan dan memperagakan bagaimana sebuah fim diproses, namun juga mengajak para tamu berlagak seolah sedang terlibat dalam pembuatan film.

Tiga hari lamanya kami menikmati Marrakech sebelum akhirnya dengan menumpang kereta api kembali ke Casablanca. 

Casablanca, kota perdagangan.

Nama asli kota ini adalah Anfa yang artinya dalam bahasa Berber adalah bukit. Kota ini didirikan oleh orang-orang Berber pada abad 10 SM. Namun daya tarik kota pelabuhan yang sejak dahulu sudah ramai tersebut, membuat kerajaan Romawi Barat yang beribu-kota di Roma Italia, mencaplok dan mengubah nama kota tersebut menjadi Anfus. Anfus berada di bawah kekuasaan kerajaan tersebut hingga jatuhnya pada tahun 476 M.

Anfus mendapatkan kembali nama aslinya yaitu Anfa, dibawah Islam pada abad 7 di masa Khulafaur Rasyidin melebarkan syiarnya ke Afrika Utara. Hingga pada abad 15 ketika kota ini direbut bangsa Portugis dan mengganti namanya menjadi Casa Blanca. Casablanca sesuai dengan artinya dalam bahasa Portugis/Spanyol yaitu rumah putih, memang di dominasi warna putih. Casablanca kembali menjadi milik Islam dibawah dinasti Saadi setelah selama kurang lebih 100 tahun berada dibawah kekuasaan Portugis.

Sebuah pertanyaan menggelitik, mengapa di Jakarta ada jalan bernama Kasablanka, apakah ada hubungannya dengan Casablanca di Maroko?? Ternyata ada. Ini adalah bagian dari kerjasama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Maroko yaitu sebagai sister city/kota kembaran. Di Casablancapun kabarnya ada jalan dengan nama “Rue Jakarta”, “Rue Bandoeng” dan Avenue Soekarno”. Sayang kami tidak sempat menemukannya meski di hari terakhir kami memanfaatkannya untuk menjelajahi kota tua Casablanca dengan menjajal tram.  Tebakan kami, mungkin bukan berada di kota tuanya.

Tram di Casablanca dan juga di ibu kota Rabat, dibangun pada 2007 dan dibuka untuk umum pada sekitar tahun 2011-2012, dengan menggunakan sistem dan standar tram Prancis. Harga tiketnya tergolong murah yaitu sekitar 6 dirham atau 9000 rupiah, dan dapat dibeli di semua mesin tiket yang ada di semua stasiunnya.

Kami naik tram dari depan stasiun kereta api Casablanca Voyageur dan turun di stasiun Place des Nations Unies, sebuah pelataran luas yang berada persis di depan gerbang benteng kota tua. Selanjutnya kami berjalan menyusuri jalan-jalan kecil di dalam kota yang dikelilingi benteng tersebut, melihat anak-anak Maroko bermain bola di taman, melewati masjid legendaris yang masih terawat, melewati bagian depan pelabuhan dimana restoran bergengsi La Scala dan Ricks’café berada, hingga masjid Hassan II yang telah kami tandangi di hari pertama.   

Yang juga cukup mengagetkan adalah sering kalinya kami melihat orang-orang yang shalat di trotoar, di taman, di parkiran dan tempat umum lainnya. Ternyata adalah dampak dari masjid yang hanya buka tepat waktu shalat wajib.  Dan ini tampaknya berlaku di semua kota di Maroko.

Demikianlah kami mengakhiri perjalanan 12 hari di negri Singa Atlas yang penuh kenangan dan sarat sejarah Islam, Alhamdulillah …  

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 28 Januari 2025.

Vien AM.

Catatan.

Di tengah keprihatinan dan duka nestapa Gaza yang hancur lebur akibat bombardir Israel selama 15 bulan tanpa henti ternyata pemerintah negri Islam Maroko tetap menjalin kerja-sama yang baik dengan Israel. Terbukti dengan adanya pembelian jet tempur Amerika Serikat yang hanya bisa terjadi bila suatu Negara mengakui kedaulatan Israel. Dan yang lebih menyedihkan adalah dalih demi mengimbangi Aljazair, tetangganya sesama Negara Islam,  karena sengketa Sahara Barat. Betapa menyedihkannya …

Hanya bisa berharap semoga kebakaran besar yang melahap California tak lama setelah ucapan sesumbar Donald Trump, presiden Amerika Serikat bahwa Gaza akan ia “nerakakan”, mampu membuat para pemimpin dunia Islam yang selama ini tidak berani melawan hegemoni Amerika dan Israel, untuk segera bertobat dan memperbaiki kesalahan mereka.

Dari Nu’man bin Basyir dia berkata: Rasulullah saw. Bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).’ (HR. Bukhari dan Muslim).