Feeds:
Posts
Comments

Keutamaan dan Keteladanan Umar.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila salah seorang umatku mendapakannya, maka Umarlah orangnya.”

Zakaria bin Abi Zaidah menambahkan dari Sa’ad dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Bani Israil ada yang diberikan ilham walaupun mereka bukan nabi. Jika salah seorang dari umatku mendapatkannya, maka Umarlah orangnya.”

Selain keutamaan mendapatkan ilham sesuai hadist di atas, amirul mukminin Umar bin Khattab adalah seorang yang sangat rendah hati dan sederhana, namun keseriusan dan ketegasannya terutama dalam permasalahan agama adalah ciri khas yang kental melekat padanya. Umar jarang tertawa dan bercanda, di cincinnya terdapat tulisan “Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu hai Umar”.

Ia suka menambal bajunya dengan kulit, dan terkadang membawa ember di pundaknya, keledai yang digunakan sebagai kendaraanyapun bahkan tak berkelana. Namun itu semua sama sekali tak menghilangkan ketinggian wibawanya. Bahkan Sophronius, uskup gereja penguasa Yerusalem dan juga John bar Penkaye seorang pendeta Kristen Suriah, tak sanggup memungkirinya. Keduanya benar-benar terkagum-kagum melihat kedatangan Sang Khalifah yang sangat dihormati bawahan dan ditakuti musuh itu datang ke Yerusalem dengan jubah lusuh penuh jahitan.

Umar datang ke kota suci tersebut atas permintaan Sophronius untuk serah terima kunci gerbang Yerusalem yang baru saja ditaklukkan pasukan Islam. Umar datang  dengan menunggang unta ditemani seorang pembantunya.  

Di bawah kepemimpinannya, agama dan kekhalifahan Islam meluas, dari semenanjung Arabia hingga ke Suriah, Palestina bahkan Mesir. Tak pernah habis kisah mengenai keteladanan Umar sebagai khalifah yang sangat memerhatikan keadilan untuk rakyat kecil namun keras dan tegas kepada pejabat yang bertindak sewenang-wenang.

Diantaranya adalah kisah seorang Yahudi tua yang merasa keberatan dan terdzalimi karena rumahnya digusur gubernur Mesir demi berdirinya sebuah masjid. Yahudi tersebut kemudian pergi ke Madinah untuk mengadukan halnya kepada khalifah Umar.

Namun sesampai di Madinah ia hanya diberi sepotong tulang yang telah digores garis lurus oleh pedang sang khalifah. “Kembalilah ke Mesir, dan berikan tulang ini kepada gubernurmu”. Dengan penuh keheranan Yahudi tersebut hanya bisa mengangguk patuh.   

Tiba di Mesir iapun langsung memberikan tulang tersebut kepada Amr bin Ash, gubernur Mesir. Tapi alangkah terkejutnya ia melihat sang gubernur langsung gemetar memandang tajam tulang tersebut. Ia segera memanggil kepala proyek untuk membatalkan penggusuran gubuk Yahudi tersebut.

Ternyata tulang itu berisi ancaman. Seolah-olah berkata, ‘Hai Amr ibn al-Ash! Ingatlah, siapapun kamu sekarang dan betapa tinggi pangkat dan kekuasaanmu, suatu saat nanti kamu pasti berubah menjadi tulang yang busuk, karena itu bertindaklah adil seperti huruf alif yang lurus, adil ke atas dan adil ke bawah. Sebab jika kamu tidak bertindak demikian pedangku yang akan bertindak dan memenggal lehermu!”

Si Yahudi tertunduk, terharu mendengar penjelasan gubernurnya. Ia kagum atas sikap Khalifah yang tegas dan adil, juga sikap gubernur yang patuh dan taat kepada atasannya meski hanya dengan menerima sepotong tulang kering. Akhirnya Yahudi tersebut menyatakan memeluk Islam, lalu menyerahkan tanah dan gubuknya sebagai wakaf.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar.” (HR. Tirmidzi dalam al-Manaqib, hadits no. 3791)

Di antara tanda kesempurnaan agamanya, adalah sifat wara’ yang dimilikinya, yaitu meninggalkan sesuatu yang jelas keharamannya maupun yang masih samar atau belum jelas halal dan haramnya (syubhat).

Dikisahkan beliau dahulu memiliki unta yang biasa diperas susunya untuk diminum. Suatu hari, seorang pembantu yang kurang dikenalnya datang kepada beliau. Maka berkatalah Umar radhiyallahu ‘anhu,“Celaka engkau! Darimana kau dapatkan susu ini?”.

“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya anak onta Anda lepas dari induknya, kemudian (setelah kembali) anak onta itu pun menyusu kepada induknya. Aku pun memeras susu untukmu dari unta lain yang merupakan harta Allah”, jawab pembantunya.

“Celaka engkau! Engkau memberiku minum dari api neraka”, tukas Umar.

Salah satu kebiasaan Umar yang juga patut dicontoh adalah sidak langsung turun ke bawah. Ini untuk memastikan bahwa keadaan rakyatnya baik-baik saja. Pada suatu hari di tengah paceklik yang melanda, Umar berpatroli dari satu rumah penduduk ke rumah lainnya. Hingga suatu malam di luar Madinah, tampak dari kejauhan sebuah cahaya redup dari sebuah gubug. Umar yang ditemani seorang pembantu diam-diam segera mendekatinya.

Mereka melihat seorang perempuan tua sedang memasak sesuatu di dalam panci. Ia dikelilingi oleh tiga anak kecil yang semuanya menangis. Sambil mengaduk-aduk isi panci perempuan tersebut bergumam, “Wahai Tuhanku, berilah balasan terhadap Umar. Ia telah berbuat dzalim. Enak saja, kami rakyatnya kelaparan sementara dia hidup serba berkecukupan”.

Mendengar itu Umar segera mengetuk pintu, memberi salam dan memohon izin untuk masuk. Setelah diizinkan masuk Umar bertanya mengapa ketiga anaknya menangis.

“Kami datang dari jauh. Aku dan anak-anakku kelaparan. Aku tidak punya apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa”, jawab perempuan yang tidak tahu bahwa tamunya adalah Umar sang khalifah.

“Lalu, apa yang kau masak di panci ini?”

“Itu hanya air mendidih. Agar anak-anak mengira aku sedang memasak makanan. Dengan begitu mereka akan terhibur.”

Alangkah terkejut dan sedihnya Umar. Tak lama Umar pamit pulang, dan segera pergi menuju ke sebuah toko untuk membeli banyak sembako (riwayat lain menyebut ia menuju baitul mal). Lalu ia memanggulnya sendiri untuk menuju kembali ke gubug perempuan tadi.

“Wahai Amirul Mu’minin, turunkan bawaanmu, biar aku saja yang memikulnya,” pinta pembantunya.

“Jangan, biar aku saja yang membawanya. Anggap saja aku sedang memikul dosa-dosaku, juga semoga menjadi penghalang dikabulkannya doa perempuan tadi,” tegas Umar.

Sesampainya di gubug tersebut Umar memberikan bawaannya sambil berkata, “Ibu sekarang tidak perlu lagi mendoakan keburukan untuk Umar. Mungkin ia belum mendengar kabar ada kalian kelaparan di sini”.

Di lain hari Umar melarang rakyatnya mencampur laban (susu) dengan air. Suatu malam dia mengelilingi kota Madinah. Kemudian dia bersandar di sebuah dinding untuk beristirahat. Ternyata seorang wanita sedang berpesan kepada puterinya untuk mencampur laban dengan air.

Maka sang puteri tersebut berkata, ‘Bagaimana aku mencampurnya sedangkan Amirul Mukminin melarang hal tersebut.” Lalu wanita tersebut berkata, “Amirul Mukminin tidak mengetahuinya.” Maka sang anak menjawab, “Jika Umar tidak mengetahuinya, maka Tuhannya Umar mengetahuinya. Aku tidak akan melaksanakannya selama hal tersebut telah dilarang.”

Ucapan sang anak perempuan tersebut sangat berkesan di hati Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu. Maka di pagi harinya dia memanggil puteranya bernama Ashim, lalu dia ceritakan kejadiannya dan dia beritahu tempatnya, kemudian dia berkata, “Pergilah wahai anakku, nikahilah anak tersebut.” Maka akhirnya Ashim menikahi puteri tersebut, dan dari perkawinan tersebut, lahirlah Abdu Aziz bin Marwan bin Hakam, salah seorang gubernur terbaik pada masa Bani Umayah, kemudian darinya lahir khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Kisah lain, yaitu ketika putranya yang masih kecil meminta dibelikan baju baru karena bajunya sudah sobek dan diolok-olok teman-temannya. Semula Umar tidak menanggapinya tapi karena putranya terus merengek akhirnya Umar memutuskan untuk meminta baitulmal memberikan gajinya lebih awal.

Namun apa jawaban pegawai baitulmal? Ia mempertanyakan apakah ada jaminan Umar masih hidup sampai tiba waktunya menerima jatah gajinya?? Umar terkesiap dan langsung menangis menyadari kekhilafannya. 

( Bersambung)

Sakitnya Abu Bakar dan Pembaiatan Umar.

Abu Bakar ra menjadi khalifah selama kurang lebih 2 tahun yakni dari tahun 632-634 M atau tahun ke 11 hingga 13 Hijriah. Menjelang wafatnya, Abu Bakar memanggil beberapa sahabat untuk menentukan siapa pengganti dirinya, meski sebenarnya Abu Bakar telah mempunyai pilihan yaitu Umar bin Khattab.

Namun ia ingin meminta pertimbangan beberapa sahabat terkemuka seperti Abdul Rahman bin Auf, Ustman bin Affan dan Thalhah bin Ubaidillah. Dan semua setuju Umar sebagai pengganti Abu Bakar. Umarpun dibaiat. Selesai pembaiatan, Abu Bakar berpesan agar Umar senantiasa menegakkan agama Allah, dan untuk itu terus melanjutkan penaklukkan Irak dan Syam serta selalu berpegang pada kebenaran.

Selanjutnya Abu Bakar mendiktekan surat wasiat kekhalifahan kepada Ustman bin Affan untuk dibacakan dihadapan kaum Muslimin. Berikut isi wasiat tersebut :

“Atas nama Tuhan Yang Maha Penyayang. Ini adalah wasiat dan wasiat terakhir Abu Bakar bin Abu Quhafah, pada detik-detik terakhirnya di dunia, dan awal perjalanannya menuju akhirat; yaitu suatu waktu di mana orang-orang yang ingkar akan percaya, dan orang-orang fasik akan meyakini serta melihat hasil dari kejahatan mereka, saya mencalonkan Umar bin al-Khattab sebagai pengganti saya”.

“Karena itu, dengarkan dan patuhilah ia. Jika ia bertindak sesuai kebenaran, maka dukunglah dan itulah yang saya ketahui dari dirinya. Hanya kebaikan yang saya inginkan, tetapi saya tidak bisa melihat hasil di masa depan. Namun, orang-orang yang zalim dan jahat kelak akan mengetahui tempat kembali seperti apa yang akan mereka dapati. Semoga nikmat dan barakah dari Allah senantiasa tercurah kepada kalian”.

Setelah lima belas hari dalam sakitnya, khalifah pertama tersebut akhirnya wafat. Ia meninggal dunia pada 21 Jumadil Akhir 13H (22 Agustus 634 M) di Madinah.

Umar Sebagai Khalifah.

Umar adalah khalifah pertama yang digelari dengan Amir al-Mu’minin (pemimpin orang beriman). Instruksi umum Umar kepada para perwiranya adalah sebagai berikut:

“Ingat, saya tidak menunjuk Anda sebagai komandan dan tiran atas rakyat. Saya telah mengirim Anda sebagai pemimpin, sehingga orang-orang dapat mengikuti teladan Anda. Berilah kaum muslimin hak-hak mereka dan jangan pukul mereka agar mereka tidak dilecehkan. Jangan terlalu memuji mereka, jangan sampai mereka jatuh ke dalam kesalahan kesombongan. Jangan tutup pintumu di hadapan mereka, jangan sampai yang lebih kuat memakan yang lebih lemah. Dan jangan bersikap seolah-olah Anda lebih tinggi dari mereka, karena itu adalah tirani atas mereka”.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana, dengan sifat keberanian dan kerendahan hati yang luar biasa. Ia tidak hanya memerintah dengan kekuasaan, tetapi juga dengan hati yang tulus dan visi yang jelas untuk kemaslahatan umat. Tidak ada yang memungkiri bahwa Umar adalah seorang yang jujur, disiplin dan tegas.

– Penaklukkan.

Dakwah dan jihad fi sabilillah adalah bagian dari ajaran Islam yang penting. Prinsip Tauhid yaitu menyembah hanya kepada Tuhan yang satu, Allah swt, adalah prinsip utama ajaran Islam. Inilah yang diajarkan agama-agama yang dibawa para nabi dari nabi Adam as hingga Rasulullah Muhammad saw sebagai nabi terakhir. Termasuk didalamnya Kristen dan Yahudi. Sayang pada perjalanannya kedua agama tersebut diselewengkan oleh pemeluknya.

Itu sebabnya Allah swt memerintahkan agar umat Islam mengajak orang untuk kembali ke ajaran yang sesungguhnya, dengan cara damai, diantaranya dengan mengirim para utusan. Namun bila cara damai tidak berhasil Allah swt memerintahkan dengan cara penaklukkan. Karena Islam bukan hanya untuk dinikmati orang atau kaum tertentu melainkan untuk seluruh manusia di muka bumi. Meski demikian Allah swt melarang adanya pemaksaan. Itulah perlunya contoh dan keteladanan agar orang tertarik masuk Islam dengan suka rela karena keindahannya.

Pada masa khalifah pertama Abu Bakar, penaklukkan telah dimulai di Persia ( Iran) dan Romawi. Rakyat Persia ketika itu adalah penyembah api dan berhala. Sedangkan Romawi adalah pemeluk Kristen dan Yahudi.

Khalifah Umar bin Khattab sebagai seorang pejuang sejati sangat ingin melanjutkan dan memimpin langsung penaklukkan tersebut. Akan tetapi para sahabat dan sebagian besar kaum Muslimin mengusulkan agar beliau tetap berada di Madinah, tidak ikut perang. Karena sebagai khalifah, apabila gugur di medan pertempuran pasti akan terjadi kekacauan. Umar akhirnya setuju. Ia memantau berbagai penaklukan dari ibu kota kekhalifahan yaitu Madinah. Tak jarang Umar pergi ke perbatasan kota Madinah agar segera dapat mendapat kabar kemenangan pasukannya.

Persia dan Romawi yang sebelumnya adalah Negara adidaya dunia akhirnyapun jatuh. Maka yang tersisa saat itu hanya 2 kekuasaan besar dunia, yaitu Byzantium ( Romawi Timur) dengan ibu kota Konstantinopel, dan kekhalifahan Islam yang berpusat di Madinah. Byzantium pada masa khalifah Abu Bakar  sebenarnya sudah sebagian berhasil ditaklukkan pasukan Islam. Namun baru sepenuhnya takluk pada tahun 1453 dibawah pimpinan Sultan Ustmaniyah Mehmed II. Dan sejak itu nama Konstantinopel ( berasal dari Konstantinus, kaisar Romawi) diganti menjadi Istanbul.

– Sistim Pemerintahan.

Di bawah kepemimpin khalifah Umar selama 10 tahun, wilayah Islam meliputi seluruh semenanjung Arabia, Palestina, Suriah, Irak, Mesir, dan seluruh wilayah Persia. Dengan mencontoh administrasi yang pada saat itu telah berkembang di Persia, Umar melakukan perubahan secara besar-besaran sistem administrasi negara.

Diantaranya adalah mendirikan Baitul Mal yang bertugas mengatur keuangan Negara termasuk penerimaan zakat dan gaji pegawai, mendirikan pengadilan Negara, membentuk jawatan kepolisian dan militer, mencetak mata uang Negara serta menciptakan kalender Islam (Hijriyah). Umar juga tidak lupa menerapkan jiziyah, sistim pajak bagi ahli kitab ( Non Muslim/ Kristen dan Yahudi), sebagaimana perintah pada ayat 29 surat At-Taubah berikut:

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”.

Umar juga kemudian mendirikan banyak masjid, juga madrasah-madrasah tempat belajar Al-Quran, hadist, fikih dll di seluruh wilayahnya. Pada masa inilah pengajar Al-Quran diberi gaji yang sangat tinggi. Umar pulalah yang pertama kali memperbaiki keadaan  Ka’bah di Makkah dan masjid Nabawi di Madinah. Kedua masjid tersebut juga diperluas, diberi penerangan, wewangian dan tikar bersih. Para juru adzan dan pengurus masjid juga diberi perhatian dan santunan yang  tinggi.  

“ Hendaklah kalian mempelajari sunnah, ilmu waris, bahasa sebagaimana kalian mempelajari Al-Quran”, ucap Umar, menandakan bahwa ia juga peduli pada pendidikan di luar agama.

Sedangkan untuk membantu kepala Negara agar pemerintahan dapat berjalan lancar, Umar membentuk pejabat yang disebut al-Kitab (sekretaris negara). Di masa Umar jabatan tersebut dipegang oleh Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Arqam, dua sahabat yang dikenal reputasi baiknya sejak masa Rasulullah masih ada.

Sementara itu karena wilayah kekuasaan menjadi sangat luas, Umar berinisiatif membaginya menjadi 8 wilayah provinsi. Yaitu Makkah, Madinah, Syiria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina dan Mesir. Tiap provinsi dipimpin oleh gubernur yang diangkat oleh Umar dan tentu saja Umar memilihnya dari kalangan sabahat pilihan terpercaya. Diantaranya yaitu Saad bin Waqqash untuk Kufah, Amr bin Ash untuk Mesir, Muawiyah untuk Syam, Umair bin Saad untuk Syiria dan Abu Musa Al-Asy’ary untuk Basrah.

Kesuksesan Umar bin Khattab dalam pemerintahan ternyata pernah ditakwilkan Rasulllah melalui hadist berikut:

“Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek. Datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan dia terlihat begitu lemah menarik timba tersebut, -semoga Allah Ta’ala mengampuninya-. Setelah itu datanglah Umar bin al-Khattab mengambil air sebanyak-banyaknya. Aku tidak pernah melihat seorang pemimpin abqari (pemimpin yang begitu kuat) yang begitu gesit, sehingga setiap orang bisa minum sepuasnya dan juga memberikan minuman tersebut untuk onta-onta mereka”.

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Kami menjadi kuat setelah Umar memeluk Islam”.

Di masa pemerintahan Umar pula shalat taraweh seperti yang terlihat di seluruh dunia hingga detik ini, dimulai. Sejak wafatnya Rasulullah hingga awal kekahlifahan Umar, para sahabat selalu menjalankan shalat tarawih dengan berpencar-pencar dan bermakmum kepada imam yang berbeda-beda. Abdurrahman bin Abdul Qariy berkata :

“Suatu malam di bulan Ramadhan, aku keluar bersama Umar bin Al-Khattab menunju masjid. Ternyata kami dapati manusia berpencar-pencar disana sini. Ada yang shalat sendirian, ada juga yang shalat mengimami beberapa gelintir orang. Umarpun berkomentar : “(Demi Allah), seandainya aku kumpulkan orang-orang itu untuk shalat bermakmum kepada satu imam, tentu lebih baik lagi”. Kemudian beliau melaksanakan tekadnya, beliau mengumpulkan mereka untuk shalat bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu.

Abdurrahman melanjutkan : “Pada malam yang lain, aku kembali keluar bersama beliau, ternyata orang-orang sudah sedang shalat bermakmum kepada salah seorang qari mereka. Beliaupun berkomentar : “Sebaik-baik bid’ah, adalah seperti ini”. Namun mereka yang tidur dahulu (sebelum shalat) lebih utama dari mereka yang shalat sekarang (sebelum tidur)”.

( Bersambung).

Hijrah ke Madinah.

Pada tahun 622 M atau tahun 13 kenabian, kebencian orang-orang Quraisy terhadap kaum Muslimin yang jumlahnya baru sedikit itu makin menjadi-jadi. Penindasan dan penyiksaan makin sering terjadi. Puncaknya adalah upaya pembunuhan terhadap Rasulullah s.a.w yang dianggap sebagai pemecah kesatuan dan agama kaum penyembah berhala tersebut.  

Maka ketika Allah swt menurunkan perintah untuk hijrah ke Madinah ( dahulu Yathrib) maka para sahabatpun bergegas menunaikannya, termasuk juga Umar. Namun tidak seperti sahabat lain yang pergi meninggalkan Mekah di malam hari dan secara diam-diam sebagaimana arahan Rasulullah, Umar melakukannya kebalikannya. Yaitu di siang hari dan bahkan menantang siapa yang menghalanginya akan ia sambut dengan pedang.

Barang siapa yang ingin diratapi ibunya, ingin anaknya menjadi yatim, atau istrinya menjadi janda, hendaklah ia menemuiku di balik lembah ini”, demikian tantang Umar berapi-api. Tapi tak ada seorangpun dari kaum Quraisy yang berani menjawab tantangan Umar tersebut hingga Umar bersama rombongannyapun melenggang ke Madinah tanpa sedikitpun hambatan.

Di Madinah Rasulullah dan para sahabat disambut baik oleh kaum Anshor. Kaum Anshor adalah penduduk Madinah yang telah memeluk Islam sejak peristiwa baiat Aqabah. Maka untuk memperkokoh persatuan dan persaudaraan Islam maka Rasulullahpun mempersaudarakan kaum Muhajirin ( kaum Muslimin yang datang dari Mekah) dengan kaum Anshor. Diantaranya yaitu Abu Bakar dengan Kharijah bin Zaid, Umar bin Khattab dengan Utbah bin Malik, Ja’far bin Abu Thalib dengan Mu’az bin Jabal dll.

Peperangan dan keselarasan Al-Quran.

Sesuai dengan julukannya sebelum memeluk Islam bahkan sejak muda yaitu Singa Padang Pasir, maka tak heran ketika memeluk Islampun, Umar dikenal sebagai seorang pejuang tangguh yang tak kenal takut. Dalam setiap peperangan dan pertempuran Umar tidak pernah ketinggalan. Ia dikenal sebagai salah satu orang terdepan yang selalu membela Rasulullah dan ajarannya. Bahkan terhadap kawan-kawan lamanya yang dulu bersama-sama menyiksa para pemeluk Islam, Umar tidak ragu menentangnya. Ia mempertaruhkan seluruh sisa hidupnya demi tegaknya ajaran Islam.

Dan berkat kecakapannya dalam hal tulis menulis dan berdiplomasi sebelum memeluk Islam, Rasulullah menjadikannya juru tulis andalan sekaligus duta Islam.  Umar menjadi sahabat terdekat sekaligus penasehat Rasulullah termasuk dalam strategi perang. Yang juga patut menjadi catatan, keputusan Umar ternyata sering sesuai dengan perintah Al-Quran yang ketika itu belum turun. Contohnya adalah sebagai berikut:

Usai kemenangan perang Badar melawan kaum musrikin Quraisy yang merupakan perang pertama Islam, Rasulullah meminta usul para sahabat apa yang harus dilakukan terhadap para tawanan perang. Umar mengusulkan agar mereka dibunuh sebagai balasan kekejaman mereka selama 13 tahun di Mekah.

Sebaliknya Abu Bakar mengusulkan agar para tawanan menebus diri masing-masing dengan apa yang mereka miliki, yaitu dengan harta atau kepandaian tulis menulis. Rasulullah memilih usul Abu Bakar. Namun kemudian Allah swt menegur keputusan tersebut dengan turunnya ayat 67 surat An-Anfal yang ternyata sesuai dengan usulan Umar.

Contoh berikutnya, suatu saat ketika Abdullah bin Ubay wafat, putranya memohon agar  Rasulullah menshalati tokoh munafik Madinah tersebut, Rasulullahpun memenuhinya. Namun Umar keberatan. Dan ternyata tak lama kemudian turun ayat mengenai larangan menshalati orang munafik sebagai ayat 84 surat At-Taubah berikut :

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo`akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik”.

Ibadah dan pribadi Umar.   

Umar dikenal sebagai orang yang menggunakan banyak malamnya untuk senantiasa shalat malam dan berdzikir. Kebiasaan ini terus berlanjut bahkan ketika ia telah menjadi khalifah. Umar terbiasa terjaga di malam untuk shalat malam, dan siang hari untuk beribadah termasuk berpuasa demi hajat rakyatnya, sebagaimana  yang diceritakan istri maupun Mu’awiyah bin Khudayj, salah seorang jenderal Umar.

Mu’awiyah melihat sang khalifah terlihat sangat kelelahan dan mengantuk dalam duduknya. Kemudian bertanya, “Tidakkah kau tidur, wahai Amirul Mukminin?”

Sungguh celaka ucapanku, atau sungguh celaka prasangkaku. Jika aku tidur siang hari, aku telah menyia-nyiakan amanah rakyatku. Jika aku tidur malam hari, aku telah menyia-nyiakan kesempatanku dengan Tuhanku. Bagaimana aku bisa tidur di kedua waktu ini, wahai Mu’awiyah?”, jawab Umar.

Umar bin Khattab adalah tetangga terdekatku. Aku tidak pernah mempunyai tetangga dan orang-orang di sekitarku sebaik Umar. Malam-malam Umar adalah sholat dan siang harinya adalah puasa demi hajat rakyatnya”, tetangga Umar bercerita.

Ayahku terus-menerus berpuasa kecuali saat hari raya kurban, hari raya fitri, dan dalam perjalanan,” ujar Abdullah putra Umar.

Umar juga sangat suka bersedekah. Dalam peristiwa perang Tabuk Rasulullah meminta umat Islam untuk bersedekah sedekah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Umar ra. menuturkan, “Rasulullah s.a.w menyuruh kami agar bersedekah. Kebetulan sekali saat itu aku punya harta cukup banyak. Aku berkata dalam hati, ‘Hari ini akan kuungguli Abu Bakar, karena selama ini aku tidak pernah unggul darinya.’ Aku menghadap Rasulullah s.a.w dengan membawa setengah hartaku. Rasulullah Saw. bertanya, ‘Berapa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab, ‘Sama dengan yang kubawa.’ Lalu datanglah Abu Bakar dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah s.a.w bertanya, ‘Berapa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?’ Abu Bakar menjawab, ‘Hanya Allah dan Rasul-Nya yang kutinggalkan untuk mereka.’ Aku berkata, ‘Aku tidak akan pernah dapat bersaing denganmu lagi dalam apa saja”. (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Pada peristiwa lain, Umar pergi ke kebun kurma miliknya. Ketika pulang ia mendapati sejumlah orang keluar dari masjid usai menunaikan shalat Ashar. Sontak Umar berucap, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, aku ketinggalan shalat jamaah!“. Bukan main kecewanya Umar tak sempat menunaikan shalat jamaah bersama mereka. Sebagai pelunasan atas rasa bersalahnya ini, iapun mengeluarkan  pengumuman, “Saksikanlah, mulai sekarang aku sedekahkan kebunku untuk orang-orang miskin,” ujarnya.  Umar merelakan kebun lepas dari kepemilikannya, sebagai kafarat atas keterlambatannya melaksanakan shalat jamaah.

Umar juga dikenal sebagai seorang yang zuhud.  Saad bin Abi Waqqash bercerita, “Umar tidak mendahului kami dalam berhijrah, tetapi aku tahu satu hal yang membuatnya melebihi kami, dia orang yang paling zuhud terhadap dunia di antara kami semua”.

Ia selalu menolak jatah rampasan perang yang seharusnya memang haknya. Hingga Rasulullah berkata: “Terima dan simpanlah wahai Umar, kemudian sedekahkan!”. Bahkan jatah sebidang tanah di Khaibar yang sangat tinggi nilainyapun pokoknya ia wakafkan, sementara hasilnya disedekahkan kepada orang yang memerlukan, termasuk untuk membebaskan hamba sahaya. Ini ia lakukan sesuai jawaban Rasulullah atas nasihat yang ia mintakan.

Demikian pula dalam penampilan, Umar amat sangat sederhana. Dan ia menanamkan hal ini tidak hanya untuk dirinya tapi juga seluruh anggota keluarganya. Rasulullahlah yang membuatnya demikian. Ia senantiasa berusaha keras untuk mengikuti dan mencontoh apa yang Rasulullah lakukan. 

Suatu hari Umar melihat Rasulullah sedang tidur di atas tikar dari pelepah kurma. Tikar tersebut membekas dipunggung beliau, melihat itu air mata Umar menetes tak tertahankan, tangisannya mengenai tubuh Rasulullah. Rasulullah lantas tergerak dari tidurnya lalu terbangun, kemudian beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Umar?”

Dengan suara tersendat Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, tikar ini membekas dipunggung engkau. Aku juga tidak melihat apapun di rumah engkau. Para raja tidur di atas kasur sutra dan tinggal di istana yang megah, sementara engkau disini. Padahal engkau adalah kekasih-Nya.”

Rasulullah kemudian menjawab sambil tersenyum, “Wahai Umar, mereka adalah kaum yang kesenangannya telah disegerakan, dan tak lama lagi akan sirna, tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia sedangkan kita memiliki akhirat?”

“Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang bepergian di bawah terik panas. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya”, lanjut Rasulullah.

Peristiwa tersebut benar-benar membekas di hati Umar. Tak salah bila Umar juga begitu mencintai Rasulullah karena sang kekasih Allah ini berkenan menikahi putri Umar yaitu Hafsah yang ditinggal mati suaminya. Padahal ketika itu Umar telah menawarkan kepada Abu Bakar dan Ustman bin Affan agar mau menikah putrinya, tapi keduanya menolak dengan alasan masing-masing.

Hafsah akan menikahi seseorang yang lebih baik dari Utsman, dan Utsman akan menikahi seseorang yang lebih baik dari Hafsah”, hibur Rasulullah melihat kekecewaan Umar. Dan ternyata Rasulullahlah yang menikahi Hafsah. Betapa bahagianya Umar.

Sakit, wafatnya Rasulullah dan pembaiatan Abu Bakar.

Ketika Rasulullah sakit keras dan akhirnya wafat, Umar tidak mempercayainya. Ia  mengganggap bahwa Rasullah tidak wafat melainkan hanya pergi sebentar menuju Tuhannya seperti halnya nabi Musa dulu. Namun ketika akhirnya Abu Bakar membacakan ayat 144 surat Ali Imran yang menyatakan bahwa Rasulullah hanya seorang manusia yang sewaktu-waktu bisa meninggal Umar sadar akan kesalahannya dan langsung jatuh pingsan. Kecintaan yang amat sangat terhadap Rasulullah yang membuatnya demikian. 

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. 

Setelah sadar dan yakin bahwa Rasulullah telah wafat, Umar segera memikirkan nasib dan masa depan umat yang baru seusia jagung itu, tanpa adanya Rasulullah. Perpecahan dan pemberontakan juga munculnya orang-orang yang mengaku nabi pada hari-hari akhir Rasulullah menghantui pikiran Umar. Harus segera ada seorang pemimpin yang mampu memimpin dan menyatukan umat Islam, begitu pikirnya.

Rasulullah memang tidak menyampaikan pesan apapun untuk suksesi pemimpin setelahnya. Tapi tanda-tanda bahwa Rasulullah condong kepada Abu Bakar terlihat jelas. Oleh sebab itu tanpa ragu Umarpun membaiat Abu Bakar sebagai pemimpin,  yang kemudian diikuti yang lain.

Wahai Abu Bakar, bentangkan tanganmu! Bukankah nabi menunjukmu menggantikannya untuk menjadi imam shalat kami? Siapakah yang boleh membelakangimu, dan siapakah yang lebih layak daripada engkau? Engkaulah yang paling dicintai nabi, satu-satunya orang yang menemani Rasulullah di gua saat hijrah. Abu Bakar, kami membaiatmu sebagai pengganti Raulullah“, demikian Umar berkata.

Padahal sebelumnya Abu Bakar sempat berpidato agar memilih Umar sebagai pemimpin. Ini menunjukkan betapa tingginya akhlak Umar yang dengan rendah hati menolak dan tetap memilih Abu Bakar sebagai pemimpin umat. Ia tahu persis bahwa menjadi pemimpin adalah amanat yang maha berat apalagi Rasulullah s.a.w telah memperlihatkan kecondongan kepada Abu Bakar. Dan umatpun mencintai dan menaruh kepercayaan kepada Abu Bakar hingga ia mendapat gelar As-Siddiq atau orang yang sangat dipercaya.

Selama kepemimpinan khalifah Abu Bakar, Umar menunjukkan loyalitasnya yang sangat tinggi kepada Abu Bakar. Tak salah bila kemudian Abu Bakarnya mengangkatnya sebagai penasehat. Umar ini pulalah yang akhirnya berhasil meyakinkan pentingnya mengumpulkan lembaran-lembaran ayat-ayat Al-Quran untuk disatukan dan disimpan dengan baik. Abu Bakar kemudian membentuk tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Tsabit. Maka dikumpulkanlah seluruh lembaran ayat-ayat Al-Qur’an dari para penghafal al-Qur’an, tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis yang ada waktu itu seperti tulang, kulit dan lain sebagainya. Dan setelah lengkap kemudian diserahkan dan disimpan Abu Bakar.

Paska wafatnya Abu Bakar, kumpulan ayat tersebut disimpan oleh Umar yang kemudian diserahkan dan disimpan oleh Hafshah, putri Umar sekaligus istri Rasulullah saw. Kemudian baru pada masa pemerintahan khalifah ke 3 yaitu Utsman bin Affan kumpulan ayat tersebut dibukukan dan menjadi dasar penulisan teks Al-Qur’an yang dikenal saat ini.

( Bersambung).

Siapa tak kenal Umar ibnul Khattab, satu dari khulafaur rasyidin, penerus kepemimpinan Rasulullah s.a.w, yang berhasil memperluas kejayaan Islam hingga keluar dari tanah Arabia. Seorang khalifah sekaligus sahabat dekat dan mertua Rasulullah saw. Padahal sebelumnya Umar adalah seorang yang sangat membenci Islam. Hingga suatu hari Rasulullah memohon kepada Tuhannya,   

Yaa Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”.

Silsilah dan kelahiran Umar.

Umar bin Khattab dilahirkan di kota Mekkah pada tahun ke 13 setelah tahun Gajah, tahun dimana Rasulullah dilahirkan. Nama lengkapnya adalah Abu Hafsh Umar bin Al-Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Rabah bin Qarth bin Razah bin Adi bin Kaab bin Luaiy Al-Adawi. Silsilah Umar bertemu Rasulullah pada Ka’ab bin Lu’ay yang merupakan kakek buyut Umar di tingkatan ke 8.

Ayah Umar yaitu Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi, berasal dari suku bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy dan merupakan suku terbesar di kota Mekkah saat itu. Sedangkan ibunya adalah Hantamah binti Hasyim dari suku bani Makhzum. Ayah Umar merupakan sosok yang cerdas, sangat berani, dan disegani oleh masyarakat. Ia menikahi Hantamah dengan tujuan untuk mendapatkan banyak anak. Pada zaman itu banyak anak merupakan suatu kebanggaan.

Umar  Khattab tumbuh lebih cepat dari anak-anak seusianya.  Ia dikarunia Allah swt tubuh yang tinggi besar dan wajah yang tampan hingga terlihat sangat mencolok. Dan tidak seperti lazimnya anak Quraisy, sejak kecil Umar sudah diajari baca dan tulis.  Ketika Nabi Muhammad s.a.w diutus, hanya 17 orang dari seluruh kaum Quraisy yang dapat membaca dan menulis. Menginjak usia remaja, Umar bin Khattab bekerja sebagai penggembala unta milik ayahnya.

Umar juga dikenal sebagai penunggang kuda yang baik dan pegulat tangguh. Selain itu iapun mewarisi bakat orator dari ayahnya dan mendapat tugas meneruskan tugas ayahnya sebagai penengah di antara suku-suku Arab.

Masa kenabian.

Ketika Rasulullah diutus untuk menyampaikan Islam, yaitu sekitar tahun 1610 M, Umar yang ketika itu berusia 27 tahun, adalah seorang pemuda yang disegani dan ditakuti masyarakat Quraisy. Watak dan perangainya yang keras membuat ia dijuluki “Singa Padang Pasir”. Ia juga dikenal sebagai pemuda yang amat keras dalam membela agama tradisional Arab yang saat itu masih menyembah berhala serta menjaga adat istiadat mereka. Umar termasuk orang yang paling banyak dan sering menggunakan kekuatannya untuk menyiksa mereka yang meninggalkan ajaran nenek moyang dan mengikuti ajaran yang dibawa Rasulullah s.aw.

Masuk Islamnya Umar.

Pada sekitar tahun ke 5-6 kenabian, kemarahan Umar makin tak terbendung. Pasalnya sebanyak 101 orang Quraisy ( 83 laki-laki dan 18 perempuan) diam-diam meninggalkan Mekah menuju Habasyah demi menghindari kemarahan orang-orang Qurasy yang makin memuncak. Umar geram karena Islam dianggap telah memecah belah kaumnya yang tadinya bersatu dalam ikatan agama dan kepercayaan nenek moyang yang telah berusia ribuan tahun secara turun temurun. Peristiwa hijrahnya ke 101 orang tersebut dikenal dengan  nama Hijrah ke Habasyah ke 2.

Maka dengan pedang terhunus, mata merah dan hati membara, Umar bergegas meninggalkan rumahnya.  Ia bermaksud membunuh Rasulullah s.a.w. Dalam Sirah karya Ibnu Ishaq, diceritakan bahwa dalam perjalanan ia bertemu dengan sahabatnya Nu’aim bin Abdullah yang diam-diam telah masuk Islam tetapi tidak memberi tahu Umar. Ketika Umar memberitahunya bahwa dia telah bersiap untuk membunuh Muhammad, Nu’aim berkata,

Demi Tuhan, kamu telah menipu dirimu sendiri, wahai Umar! Apakah menurutmu Banu Abdu Manaf akan membiarkanmu berlarian hidup-hidup setelah engkau membunuh putra mereka, Muhammad? Mengapa engkau tidak kembali ke rumahmu sendiri dan setidaknya meluruskannya?“.

Nu’aim menyuruhnya untuk menanyakan tentang rumahnya sendiri dan mengabarkan bahwa saudara perempuannya, Fatimah dan suaminya telah masuk Islam. Setibanya di rumah, Umar mendapati adik dan iparnya, Sa’id bin Zaid sedang membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang diajarkan oleh Khabbab bin al-Arat, seorang sahabat. Melihat Umar, Khabbab segera bersembunyi.

Umar segera menghampiri adiknya dan berusaha merebut lembaran yang sedang mereka baca. Umar bahkan sempat memukul Fatimah hingga terjatuh dan berdarah. Umar terdiam, selanjutnya secara halus ia membujuk saudara perempuannya itu agar memberikan apa yang baru saja mereka baca.

Engkau najis, dan tidak ada orang najis yang dapat menyentuh Kitab Suci“. Namun Umar bersikeras hingga akhirnya Fatimah mengizinkannya dengan syarat ia membasuh tubuhnya terlebih dahulu. Karena rasa keingin-tahuan yang sangat tinggi, Umar mengalah. Segera ia membasuh tubuhnya lalu membaca lembaran berisi ayat 1-18 surat At-Thoha sebagai berikut:  

Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah”, dst …

Umar terguncang, ia merasakan suatu getaran ajaib meresap jauh ke ke relung hatinya yang terdalam. Segera ia memutuskan untuk menemui Rasulullah di Al-Arqam, sebuah rumah milik salah satu sahabat bernama Arqam bin Abil Arqam yang dijadikan tempat Rasulullah berdakwah.

Melihat kedatangan Umar yang mendadak, apalagi dengan pedang terhunus, para sahabat yang berada di rumah tersebut segera bersiaga. Mereka berusaha mencegahnya masuk. Namun Rasulullah dengan tenang menyuruh para sahabat untuk membukakan pintu dan mempersilahkan Umar masuk. Dan ternyata Umar datang memang bukan untuk membunuh Rasulullah melainkan menyatakan keislamannya. Rupanya Allah swt telah mengabulkan doa Rasulullah dengan memilihkan Umar bin Khattab yang merupakan petinggi Mekah untuk masuk Islam demi memuliakan Islam. Umar tercatat sebagai orang ke 40 yang masuk Islam. 

Dan tidak seperti kebanyakan sahabat di awal kedatangan Islam yang sembunyi-sembunyi dalam ber-Islam, tanpa ragu dan takut Umar memperlihatkan keislamannya di depan orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul di sekitar Ka’bah. Umar pulalah yang kemudian mengusulkan agar Islam disebarkan secara terang-terangan tidak lagi sembunyi-sembunyi seperti sebelumnya.    

Usul tersebut disambut baik Rasulullah. Tak lama setelah itu, umat Islampun ramai-ramai memasuki area Ka’bah. Mereka terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama di bawah pimpinan Umar sedangkan kelompok kedua dibawah pimpinan Hamzah, paman Rasulullah yang baru memeluk Islam 3 hari sebelumnya.

Abdullah bin Mas’ud berkata,

Masuk Islamnya Umar adalah kemenangan kita, hijrahnya ke Madinah adalah kesuksesan kita, dan pemerintahannya berkah dari Allah. Kami tidak shalat di Masjid al-Haram sampai Umar masuk Islam. Ketika dia masuk Islam, kaum Quraisy terpaksa membiarkan kami shalat di Masjid”.

Kaum musyrik Makkah termasuk petinggi Mekkah seperti Abu Jahal dan Abu Sufyan terpaksa menahan amarah, tidak mampu mencegah perbuatan kaum Muslimin tersebut. Mereka tidak berani mendekati apalagi mengganggu umat Islam karena Umar dan Hamzah adalah dua simbol keperkasaan Quraisy pada saat itu.

Tak lama setelah itu turun wahyu dari Allah kepada Rasulullah untuk menyebarkan Islam secara terang-terangan. “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. ( Terjemah QS. Al-Hijr(15):94).

Selanjutnya Umar yang di masa lalu pernah tega mengubur hidup-hidup putrinya yang pada masa itu mempunyai anak perempuan merupakan aib langsung berubah 180 derajat. Umar yang sebelum memeluk Islam dikenal sebagai peminum berat, begitu memeluk Islam ia sama sekali tak mau meminumnya lagi bahkan menyentuhpun tidak, meski saat itu belum diturunkan larangan meminum khamar secara tegas. Ia juga merubah gaya hidupnya, dari gaya hidup mewah layaknya pembesar Quraisy lainnya, menjadi hidup dalam kesederhanaan, kezuhudan jauh dari kemewahan duniawi seperti yang dicontohkan Rasulullah s.a.w.

Umar juga tidak peduli ketika akhirnya harus kehilangan pengaruh dan kekuasaan bahkan dikucilkan dari masyarakat Mekkah dan dibenci para petinggi Quraisy. Tak salah bila kemudian Rasulullah memberinya julukan Al-Faruq yang artinya orang yang mampu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Umar disegani kawan dan ditakuti tidak hanya oleh musuh-musuh Islam tapi juga syetan yang sejatinya memang merupakan musuh Islam terbesar.

“Wahai Ibnul Khattab, Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya setan berpapasan denganmu, maka ia akan mencari jalan lain selain jalan yang kau lalui.” (HR. Bukhari no. 6085).

( Bersambung).

Hingga akhirnya, pada tahun 1095 Paus Urbanus II di Clermont, Perancis Selatan mengobarkan ajakan perang untuk merebut Palestina. Ajakan ini langsung disambut ribuan pengikutnya. Maka rombongan dengan berbagai tujuan dan niat yang  kemudian bergabung dengan tentara Salib dibawah para bangsawan, segera bergerak menuju Palestina. Namun sejarah mencatat bahwa dalam perjalanan jauhnya, rombongan yang makin lama makin membesar tersebut, melakukan berbagai tindakan anarkis, termasuk pembantaian terhadap orang-orang Yahudi yang tinggal di sepanjang perjalanan.  

Pada tahun 1099 dalam perang yang berlangsung selama 3 hari,  tentara Salib  berhasil menguasai kota dengan membantai lebih dari 30.000 penduduknya, termasuk perempuan dan anak-anak Muslim yang berlindung di dalam masjid Al-Aqsa. Mereka juga membunuhi kaum Yahudi dan Nasrani yang bermukim disekitar kota tua tersebut.

Dalam bukunya, Karen Amstrong mengutip kata-kata Raymond dari Aguilles, seorang saksi dari Perancis yang mengatakan : ”Tumpukan kepala, tangan dan kaki dapat terlihat”, ”… para pria berjalan dengan darah yang naik hingga ke lutut dan tali kekang kuda mereka …”. Dengan cara seperti itulah Yerusalem jatuh ke tangan pihak Nasrani Eropa. 88 tahun kemudian yaitu pada tahun 1187, dibawah kekuasaan Sultan Salahuddin Ayubi, pasukan Muslim kembali berhasil menguasai Yerusalem. Dan sebagaimana pendudukan Yerusalem oleh pasukan Muslim pada kali pertama, kali inipun tidak terjadi pembantaian. Bahkan para penguasa yang ditaklukkan tersebut selain diampuni juga diberi keleluasaan untuk meninggalkan kota dengan membawa seluruh harta bendanya. Peristiwa ini pada tahun 2005 pernah diabadikan dengan sangat baik dalam film “The Kingdom of a Heaven” yang disutradarai oleh Sir Ridley Scott dan dibintangi aktor kenamaan Orlando Bloom.

Peperangan yang kemudian dikenal dengan nama “Perang Salib” ini terus terjadi hingga beberapa kali selama hampir 200 tahun namun pihak Salib tidak pernah berhasil menguasai kembali Yerusalem. Selanjutnya yaitu pada tahun 1517-1917 sebagian besar wilayah Palestina  berada di bawah kesultanan Islam Ottoman. Hingga pada tahun 1918 ketika kesultanan tersebut runtuh paska Perang Dunia I, Palestina dikuasai oleh Inggris. Liga Bangsa-Bangsa (LBB) kemudian  mengeluarkan mandat kepada Inggris untuk mengontrol secara administratif kawasan Palestina, termasuk ketentuan mendirikan tanah air nasional Yahudi di Palestina dan mulai berlaku pada 1923 M.

Hingga akhirnya di tahun 1948, ketika Yahudi Israel dengan dukungan Barat memaksakan terbentuknya Negara Israel, Palestinapun kembali memasuki masa kelamnya. Ini dimulai dengan apa yang dinamakan peristiwa tragis Nakba ( Malapetaka Palestina). Genosida yang dilakukan Yahudi terhadap rakyat Palestina disertai perampasan tanah Palestina ini mengakibatkan eksodusnya 700.000 orang Palestina dan berpindahnya 78% wilayah Palestina ke Negara Israel yang baru terbentuk.  

Maka sejak itulah perlawanan rakyat Palestina baik yang masih bertahan di tanah Palestina maupun yang berada di pengungsian terus terjadi hingga hari ini. Apalagi ditambah dengan perlakuan kejam dan diskriminatif tentara Zionis Israel yang makin hari makin brutal.

Dengan demikian jelas bahwa apa yang kita saksikan setahun belakangan ini bukanlah semata-mata akibat serangan 7 Oktober 2023 yang dilakukan  faksi perjuangan Hamas sebagaimana yang dituduhkan Netanyahu. PM Israel tersebut sejatinya sedang berusaha menghindar dari kasus korupsi yang dilakukannya. Hukum Israel rupanya memberi kelonggaran kepada pemimpinnya bila ia sedang berperang.

Ironisnya, Netanyahu bahkan tidak peduli terhadap nasib ratusan warganya yang disandera Hamas. Bila terhadap rakyatnya saja tidak peduli apatah arti kematian 41 ribu lebih rakyat Gaza, sebagian besar anak-anak dan kaum perempuan. Juga puluhan bangunan termasuk sekolah, masjid dan rumah penduduk yang hancur lebur di bom tentara Zionis Israel.    

Sementara orang-orang Yahudi extrim berkeras ingin merebut Al-Quds dari tangan Islam. Dengan dikawal tentara Zionis, beberapa kali mereka menerobos masuk ke dalam masjid ke 3 tersuci umat Islam tersebut secara paksa. Mereka masuk tanpa menanggalkan sepatu, merusak barang-barang yang di dalamnya bahkan menyerang dan mengusir jamaah yang sedang shalat. Mereka beralasan disitulah rumah ibadah mereka pernah berada. “Demi mematuhi perintah Tuhan”, kilah mereka.

Lalu bagaimana dengan ayat 24 surat Al-Maidah yang secara terang benderang menceritakan penolakan orang-orang Yahudi atas perintah nabinya, yang notabene berarti perintah Tuhannya, untuk memasuki Baitul Maqdis berabad-abad lalu??

Mereka ( orang-orang Yahudi) berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya ( Baitul Maqdis) selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” ( Terjemah QS.Al-Maidah(5):24).

Dan banyak lagi ayat Al-Quran yang menceritakan betapa seringnya kaum Yahudi melawan perintah Tuhannya. Bahkan nabi dan rasulpun mereka aniaya dan bunuh. Dan lagi apakah ada Tuhan yang memerintahkan suatu kaum membantai orang tidak bersalah??? Bandingkan dengan adab Islam dalam berperang yang ditunjukkan khalifah Umar bin Khattab ra ataupun Sultan Salahuddin Ayubi berabad-abad silam.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.(Terjemah QS.Ali Imran(3):19).

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, 19 September 2024.

Vien AM.    

”Demi Allah! Jaminan keamanan bagi diri mereka, kekayaan, gereja, dan salib mereka, bagi yang sakit, bagi yang sehat, dan seluruh masyarakat beragama di Kota Suci itu, bahwa gereja-gereja mereka tidak akan diduduki atau dihancurkan, takkan ada satu barangpun diambil dari mereka atau kediaman mereka, atau dari salib-salib maupun milik penghuni kota, bahwa para warga tidak akan dipaksa meninggalkan agama mereka, bahwa tak seorang pun akan dicederai. Dan bahwa, tak seorang Yahudipun akan menghuni Aelia”.

Itulah yang dikatakan khalifah Umar bin Khattab pada serah terima kunci kota suci Al-Quds ( Yerusalem) dari penguasa lama uskup Nasrani, Saphronius, kepada penguasa baru, yaitu Islam dibawah  khalifah Umar bin Khattab.

Bahkan perjanjian yang dibuat antara Umar dan mantan pemimpin Nasrani Yerusalem tersebut memberikan kebebasan penganut  Nasrani maupun Yahudi untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing dengan syarat mereka membayar jiziyah sebagaimana seorang Muslim wajib mengeluarkan zakat.

Menurut ”Al-Quds Document” yang diterbitkan Organisasi Konferensi Islam, janji Umar bahwa ”tak seorang Yahudi pun menjadi penghuni Aelia (Jerusalem)” adalah atas permintaan Saphronius. Hal tersebut disebabkan pengkhianatan Yahudi yang membantu penguasa Persia membawa lari Salib meski kemudian berhasil direbut kembali oleh Heraklius, raja Rumawi pada awal abad ke 7 M. Namun demikian pada akhirnya Umar tetap memperbolehkan orang-orang Yahudi hak memasuki dan tinggal di kota suci ke 3 agama tersebut.

Setelah menyerahkan kunci gerbang Yerusalem, Sophronius kemudian mengajak sang khalifah berkeliling kota dan memasuki kompleks Gereja Makam Kudus. Ketika waktu sholat tiba, Sophronius mempersilahkan Umar untuk sholat di dalam gereja tersebut namun Umar menolak. Dengan alasan khawatir bila ia shalat di dalamnya akan menjadi pembenaran fungsi gereja berubah menjadi masjid hingga membuat umat Kristen kehilangan salah satu situs tersucinya.

Sebaliknya Umar bertanya kepada Ka’ab al-Akhbar, seorang sahabat yang dulunya beragama Yahudi, tempat ia dapat shalat. Kaa’b lalu menunjuk suatu tempat di utara gereja Makam Kudus, dengan maksud agar dapat menghadap rumah ibadah Nasrani tersebut sekaligus menghadap Ka’bah.

Tentu saja Umar menolak bahkan menegur usulan yang terkesan toleran namun berlebihan tersebut. Umar akhirnya memutuskan shalat di dalam sebuah bangunan tidak terawat di selatan gereja Makam Kudus. Selanjutnya Umar memerintahkan menjadikannya masjid.

Begitulah Umar membangun fondasi toleransi sesuai ayat 256 surat Al-Baqarah, ‘”Tak ada paksaan dalam agama. Telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat”. Sejarah mencatat betapa rakyat Palestina, warga Al-Quds khususnya, yang sebagian besar beragama Kristen dan sebagian kecil Yahudi, menyambut baik datangnya Islam. Bahkan pengelolaan gereja Makam Kuduspun mereka percayakan kepada keluarga Muslim dan keturunannya, hingga hari ini.    

Seorang rabbi Yahudi menulis tentang masa awal Islam ini, ”Jangan risau, wahai Putera Yahve, Sang Pencipta yang Maha Mulia menciptakan Kerajaan Ismail hanya untuk membebaskan kalian dari kejahatan ini (Bizantium)”.

Kaum Kristenpun menyambut baik kekuasaan Islam dan siap bekerjasama dengan pemerintahan Islam tersebut. Seorang ahli sejarah anggota Gereja Suriah Timur sampai mengungkap perasaannya dengan menulis, ”Tuhan telah mengirim orang-orang Arab untuk membebaskan kita dari genggaman kaum Bizantium. Kebaikan yang kita peroleh dari kekejian dan kebencian orang Bizantium sungguh bukan hal yang layak diremehkan”.

Penaklukan yang dilakukan Umar bin Khattab tentu saja bukan sekedar mengikuti memenuhi nafsu kekuasaan melainkan demi tujuan dakwah mengajak kepada menyembah hanya kepada Allah swt, Sang Pemilik Sang Penguasa sejati. Itulah sejatinya yang diajarkan para rasul dan nabi sejak nabi Adam as hingga nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir. 

Palestina dengan Al-Qudsnya, dimana didalamnya berdiri kompleks Masjidil Aqsho, memiliki keterikatan mendalam dengan Islam.  Masjidil Aqsho  merupakan kiblat pertama kaum Muslimin. Selama 17 bulan kaum Muslimin shalat menghadap masjid ini sebelum akhirnya Allah swt memerintahkannya berpindah menghadap Ka’bah di Masjidil Haram Mekkah, sesuatu yang sangat diinginkan Rasulullah saw.

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu ( Muhammad) menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. …”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):144).

Masjidil Aqsho juga merupakan tempat dimana Rasulullah ber-Isra dari Mekkah ke Al-Quds/Yerusalem dilanjutkan dengan Mi’raj dari Al-Aqsho ke Sidratul Muntaha. Di Arsy Allah di langit tertinggi itulah Rasulullah kemudian menerima perintah shalat dari Allah Azza wa Jala. 

“ Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami”. ( Terjemah QS.Al-Isra’(17):1).

Pada tahun 636 M khalifah Umar melanjutkan misi khalifah sebelumnya yaitu Abu Bakar, mengutus panglima Abu Ubaidillah bin Jarrah dibantu panglima kenamaan Khalid bin Walid, untuk menalukkan wilayah Palestina yang selama ribuan tahun berada bawah kekuasaan Bizantium/ Romawi Timur yang dikenal dzalim. Abu Bakar sendiri melakukan penaklukkan tersebut karena melanjutkan perintah Rasulullah yang sempat tertunda karena Rasulullah wafat.  

Yerusalem takluk setelah 4 bulan dikepung pasukan Islam tanpa peperangan sedikitpun. Raja Rumawi Heraklius dan dan Patriarch (Uskup Agung) Sophronius hanya mensyaratkan khalifah Umar bin Khatab yang datang sendiri untuk menerima kunci kota suci tersebut.

Awalnya, permintaan tersebut ditolak oleh Abu Ubaidillah dan Khalid bin Walid beserta pasukan Muslim. Tetapi Umar bin Khattab menyetujui permintaan tersebut. Para pembesar baik Islam maupun Romawi serta pemimpin Kristenpun bersiap menyambut kedatangan Sang Khalifah dari Madinah.

Namun mereka sungguh terkejut melihat khalifah yang namanya menggetarkan setiap lawan, yang perintahnya ditaati dengan kepatuhan penuh oleh panglima-panglimanya hingga tanah Palestina dan Suriah yang tadinya dikuasai Rumawipun takluk, datang memasuki kota dengan hanya menaiki unta, tanpa pengawalan besar-besaran pula. Khalifah Umar dengan penampilan yang sangat sederhana, datang  hanya ditemani seorang ajudannya.

Maka sejak itulah Palestina yang sebelumnya dikuasai oleh banyak pihak diantaranya Asyur, Babilonia, Persia, Yunani dan terakhir Rumawi resmi menjadi bagian dari kekhalifahan Islam hingga jatuhnya kesultanan  Ottoman paska Perang Dunia I pada 1918. Kesultanan Ottoman sendiri benar-benar runtuh pada 1924.

Palestina dengan Yerusalemnya, dibawah kekuasaan khilafah Islamiyah selama 8 abad terbuka bagi umat agama lain. Mereka bebas mengunjungi kota suci bagi 3 agama besar didunia ini. Uniknya, ia tidak hanya menarik karena sejarah ritualnya namun juga karena kota ini pada waktu itu telah berkembang menjadi kota intelektual. Ilmu berkembang sangat pesat.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani datang tidak hanya sekedar untuk melakukan ibadah dan kunjungan keagamaan melainkan juga untuk mempelajari ilmu lain seperti ilmu hukum termasuk juga belajar tentang Islam dan Al-Quran. Meski tidak sedikit diantara mereka yang bertujuan mencari celah dan kelemahan Islam agar dapat menyerang Islam secara diam-diam.

(Bersambung).