Feeds:
Posts
Comments

Tantangan Islam Masa Kini

Kementrian agama hari-hari ini dikabarkan sedang sibuk menyusun draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Umat Beragama (PUB). Menurut   Lukman Hakin Saifuddin, sang mentri agama rezim Jokowi ini, RUU PUB dibuat agar bisa memberikan jaminan perlindungan kepada seluruh warga Negara Indonesia, baik mayoritas maupun minoritas. Hal ini sesuai dengan pasal 29 ayat 2 yang isinya menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut ajaran agama masing-masing. Ini diutarakan Lukman saat mengunjungi kantor Republika di Jakarta pada Senin 22/12/2014 lalu. Lukman menyatakan hal ini diperlukan karena pasal tersebut tidak berjalan dengan baik, buktinya yaitu adanya pengaduan  dari kaum minoritas yang merasa terpinggirkan.

Dalam wawancara tersebut setidaknya disimpulkan ada 5 poin yang akan dibidik depag. Kita tentu semua tahu bahwa selama Indonesia  secara resmi “hanya” mengakui 6 agama, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Inilah poin pertama bidikan tersebut. Yang kedua, isu pendirian rumah ibadah, berikutnya isu penyiaran agama atau dakwah, isu kekerasan pada minoritas dan terakhir demi meningkatkan sikap toleransi antar pemeluk agama.

Pertanyaannya, agama apa lagi kira-kira yang ingin dilegalkan depag? Mengapa tiba-tiba depag merasa  6 agama saja yang ada tidak cukup, bahkan ingin juga melegalkan aliran kepercayaan sebagai agama ?  Bukankah dengan yang 6 saja tidak jarang terjadi gesekan, meski itupun sebenarnya hanya belakangan ini saja terasa dibesar-besarkan ?  Bukankah dunia internasionalpun mengakui bahwa Indonesia adalah Negara yang dikenal menjunjung tinggi toleransi dan bisa dikatakan tidak ada masalah agama sebagaimana Negara-negara lain di dunia ini. Minoritas diakui dan diberi kebebasan menjalankan ibadahnya dengan baik.

Bandingkan dengan Perancis, Negara Barat maju yang konon begitu mendewakan toleransi, demokrasi dan menjunjung tinggi HAM.  Di negri sekuler  ini, kaum Muslimin yang hanya minoritas, jangankan merayakan Iedul Fitri dan Iedul Adha, di kalender resmipun tidak pernah tercantum adanya 2 hari terbesar umat Islam ini.  Padahal Islam di negri ini menduduki peringkat 2 setelah Kristen, dan jumlahnyapun tak kurang dari 10 persen.  Bahkan kabarnya makin diminati warganya yang kebanyakan Atheis ini. Tidak hanya itu, jilbabpun dilarang digunakan murid di sekolah. Sama halnya dengan azan dan menara masjid.  Itu sebabnya kaum Muslimin di seantero negri ini terpaksa shalat Jumat di jalanan karena jumlah masjid amat sangat tidak memenuhi kebutuhan umat.

MUI beberapa waktu lalu mengeluh, Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia memang terasa terus digoyang  di era Jokowi saat ini. Berbagai isu yang erat kaitannya dengan ke-Islam-an terus dipermasalahkan.   Slogan-slogan memojokkan Islam seperti “ Lebih baik kafir jadi pemimpin daripada Islam tapi korupsi”, “Lebih baik bertato, merokok bahkan hanya lulusan SMP daripada berjilbab tapi korupsi” dan yang semacamnya terus di–dengung-dengungkan. Seolah-olah semua orang Islam itu koruptor, semua Muslimah berjilbab itu munafik !

Kejahatan besar seolah tidak ada lain kecuali perbuatan korupsi yang memang saat ini tengah melanda hampir semua pejabat negri, Muslim maupun Non Muslim. Tapi karena Indonesia memang mayoritas Muslim tentu saja yang terlihat mencolok ya yang Muslim saja. Sementara perzinahan dan prilaku menyimpang seperti Homoseksual yang dalam kacamata Islam jauh besar dosanya malah didiamkan saja. Tampak jelas bahwa hukum Islam telah diabaikan. Citra buruk seperti Islamophobia yang di Barat bagai momok tampak ingin dikembangkan juga di negri ini.

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Furqon(25):68-70).

Imam besar Masjid Istiqlal, Mustafa Ali Yakub, bahkan berani mengatakan bahwa fenomena ini menunjukkan  bahwa  Protocol Zionisme sedang berjalan lancar.  Ini adalah tanggapan atas isu mendagri tentang doa pembuka dan penutup di sekolah negri beberapa waktu lalu.

“Aneh bila mau direvisi, seperti ada skenario untuk berupaya melakukan penghapusan agama seperti dalam protokol Zionisme nomor 14,” ujar Mustafa kepada ROL, Rabu (10/12).

( lihat : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/12/10/ngcy00-imam-istiqlal-revisi-doa-di-sekolah-bagian-dari-protokol-zionisme ).

Lebih jauh,  dalam salah satu tausiyah yang saya hadiri, uztad Syamsul Arifin Nababan, seorang mantan pendeta, mengatakan bahwa fenomena ini menunjukkan tentang peta Kristenisasi  di Indonesia. “ Tahun 2000 atau abad milenium pernah menjadi target  bahwa 50 persen penduduk Indonesia adalah Kristen”.

( Baca : https://vienmuhadi.com/2015/01/04/kisah-ke-islam-an-pendeta-bernard-nababan/ ).

Memang target tersebut tidak terpenuhi namun perlu dicermati bahwa fenomena itu ada. Muslim di negri ini makin hari makin berkurang. Yang tadinya 98 % sekarang ini telah surut menjadi 82 %. Bila Kristenisasi yang terus terjadi ini didiamkan saja tidak mustahil Indonesia akan mengalami nasib seperti Filipina saat ini, yaitu Muslim sebagai minoritas. Yang sulit menjalankan ibadahnya. Maukah kita ???

(Baca:http://www.suaranews.com/2015/01/astaghfirllah-riset-dalam-data-ini.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook )

Maka dengan adanya rencana RUU diatas sangat mungkin sekali Islam di Indonesia akan semakin tergerus.  Meski sebenarnya banyak atau tidaknya umat Islam tidak menunjukkan kwalitas ke-Islam-an seseorang, persis seperti perkiraan Rasulullah 15 abad lalu sebagaimana diriwayatkan  Thauban ra.

“Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”

Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat? “

Sabda baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih banyak tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.”

Sahabat bertanya lagi, “Mengapa sebanyak itu tetapi seperti buih di laut?”

Jawab Rasulullah SAW, “Karena ada dua penyakit, yaitu mereka ditimpa penyakit Al-Wahn.”

Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu Al-Wahn?“

Rasulullah SAW bersabda: “Cintakan dunia dan takut akan kematian.”

Ya sebagian besar umat Islam di Indonesia  saat ini memang cenderung kepada ke-dunia-wian dibanding ke-akherat-annya.  Target maju dibidang ekonomi, kaya-raya, pintar dan yang semacamnya telah mengalahkan pentingnya ridho Allah swt. Mereka ini sudah tidak takut akan ayat-ayat Allah bahkan cenderung mempermainkannya. Demi alasan toleransi dan menyenangkan sesama manusia, saudara atau kerabat mereka bisa mengatakan bahwa semua agama adalah sama dan benar. Tampak jelas bahwa mereka ini tidak terlalu yakin bahwa Islam adalah agama yang benar dan paling benar.

Maka dengan adanya RUU PUB diatas umat Islam yang kurang PD akan ke-Islam-an, yang jarang menimba dan memperdalam wawasan ilmu ke-Islam-annya, apalagi yang cuwek alias tidak peduli akan agamanya, tampaknya bakal menjadi korban yang paling awal. Mereka inilah yang akan paling mudah terombang-ambing.

Untuk mencegah semua itu mari kita bergandengan-tangan,  ajak keluarga kita untuk memperbaiki kwalitas ke-Islam-an kita. Sudah bukan lagi waktunya ber-Islam hanya karena keturunan, dari lahir, dan memang sudah dari “sono”nya. Tanpa ilmu dan bekal kuat seorang yang mengaku Islam akan mudah kehilangan kendali dan akhirnya tersesat.

“ … … Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. … ,” (QS. Al-Maidah(5):48).

Berlomba dalam “kebaikan”, dakwah diantaranya, sebenarnya merupakan kordrat manusia. Allah swt menyuruh hamba-hambaNya  untuk itu.  Umat Kristen memiliki landasan Matius 28:19 dan Markus 16:15 untuk mendakwahkan ajaran mereka. Maka tak perlu heran bila melihat ada umat Kristen berdakwah, karena itu berarti mereka adalah hamba yang patuh pada perintah Tuhannya. Meski cara yang digunakan seringkali kasar dan tidak etis, antara lain yaitu  dengan membagikan kebutuhan bahan pokok kepada kelompok miskin, sebagai iming-iming, contohnya.

Mereka juga tak ragu mendirikan sekolah-sekolah teologi yang khusus mempelajari Al-Quran dan hadist namun dengan tujuan menyelewengkannya. Juga adanya berbagai jenis yayasan Kristenisasi dengan target spesialisasi masing-masing seperti kaum gelandangan, pengamen, orang sakit dll. Contohnya adalah  yayasan Doulus di Cilangkap yang pernah digrebeg beberapa tahun lalu. Ini benar-benar terbalik dengan ajaran Islam yang melarang umat Islam memaksa seseorang untuk masuk Islam. Bahkan dakwahpun ada tata kramanya, tidak boleh memaki sesembahan mereka.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ».(QS. Al-Baqarah(2):256).

« Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan …. « .(QS. Al-Anám(6) :108).

Sebaliknya, kitalah yang harus kritis, betulkan ajakan dan ajaran mereka itu benar ??? Mana yang benar Al-Quran, Injil atau Taurat?

Sungguh beruntung kita, umat Islam memiliki kitab suci yang terjaga kesucian dan kemurniannya hingga sepanjang masa. Tidak ada sedikitpun campur tangan manusia dalam hal ini. Tidak seperti kitab suci umat Kristiani,  yaitu Injil yang secara berkala mengalami perbaikan meski pun itu dilakukan oleh orang-orang yang mereka anggap suci.

Sebagian umat Kristiani beranggapan bahwa Al-Quran adalah kitab buatan manusia ( Muhammad saw) yang isinya mencomot sebagian isi kitab Yahudi dan kitab mereka. Alasannya karena banyak kisah-kisah di Al-Quran yang sama dengan kisah yang tertulis di kitab Taurat dan Injil.

Padahal bila mereka tidak membacanya separoh-separoh,  justru inilah yang bisa menjadi sebagian bukti  bahwa Al-Quran datang dari zat yang sama, yaitu Tuhan seluruh manusia dan alam semesta.  Bahwa Zabur, Taurat, Injil dan Al-Quran datang dari Tuhan yang sama.  Bahwa sesungguhnya seluruh nabi dan utusan, mulai nabi Adam, nabi Idris, nabi Musa, nabi Isa ( Yesus) hingga nabi Muhammad saw, mendapat perintah yang sama, yaitu, menyembah Allah swt, Tuhan Yang Esa, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. ( QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”.  ( di banyak surat Asyu’ara dll).

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara”. (QS. An-Nisa(4):171).

Namun demikian dakwah umat Kristiani jauh lebih gigih daripada umat Islam. Betapa banyak bukti ketika mereka mendapat kesempatan menjadi pemimpin, gereja-gereja tumbuh pesat. Sementara pembangunan masjid dihambat. Tidak seperti ketika umat Islam yang memimpin dan membiarkan gereja terus dibangun tanpa mempedulikan lingkungan sekitarnya … ???

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqarah(2):120).

“ Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”.(QS. AlimImran(3):119).

Umat Islam juga banyak yang tidak mempedulikan hadist dan sunnah Rasul padahal ini adalah kekayaan Islam yang amat sangat penting. Bagaimana mungkin kita dapat menguasai ayat-ayat suci Al-Quran tanpa mempelajari kedua hal diatas, tanpa mengenal sejarah kehidupan nabi ( Sirah Nabi) dan Asbabun Nuzul ayat-ayatnya. Tidak sedikit pula umat Islam yang terlalu mendewakan akal mereka hingga lupa diri dan menjadi sesat. Lupa apa hebatnya akal manusia dibanding kehebatan, kedasyatan dan kebesaran Sang Pencipta akal itu sendiri.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Januari 2015.

Vien AM.

Menjadi seorang pendeta adalah harapan kedua orang tuanya. Bermula dari rencana melakukan misi diperkampungan Muslim, berlanjut pada memenuhi tawaran dialog dengan para tokoh masyarakat muslim, namun akhirnya kehendak Allah SWT mengantarkan Bernard Nababan pada Hidayah Islam. Bahkan, ia akhirnya menjadi juru dakwah dalam agama Islam.

Saya lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 10 November 1966. Saya anak ke-3 dari tujuh bersaudara. Kedua orang tua memberi saya nama Bernard Nababan. Ayah saya adalah seorang pendeta Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Sumatra Utara. Sedangkan, ibu seorang pemandu lagu-lagu rohani di gereja. Sejak kecil kami mendapat bimbingan dan ajaran-ajaran kristiani. Orang tua saya sangat berharap salah seorang dari kami harus menjadi seorang pendeta. Sayalah salah satu dari harapan mereka.

Kemudian, saya disekolahkan di lingkungan yang khusus mendidik para calon pendeta, seperti Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Kristen. Lalu berlanjut pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Nomensen, yaitu sekolah untuk calon pendeta di Medan. Di kampus STT ini saya mendapat pendidikan penuh. Saya wajib mengikuti kegiatan seminari. Kemudian, saya diangkat menjadi Evangelist atau penginjil selama tiga tahun enam bulan pada Gereja HKBP Sebagai calon pendeta dan penginjil pada Sekolah Tinggi Teologi, saya bersama beberapa teman wajib mengadakan kegiatan di luar sekolah, seperti KKN (Kulah Kerja Nyata).

Tahun 1989 saya diutus bersama beberapa teman untuk berkunjung ke suatu wilayah. Tujuan kegiatan ini, selain untuk memberi bantuan sosial kepada masyarakat, khususnya masyarakat muslim, juga untuk menyebarkan ajaran Injil. Dua prioritas inilah yang menjadi tujuan kami berkunjung ke perkampungan muslim. Memang, sebagai penginjil kami diwajiban untuk itu. Sebab, agama kami (Kristen) sangat menaruh perhatian dan mengajarkan rasa kasih terhadap sesamanya.

Berdialog

Dalam kegiatan ini saya sangat optimis. Namun, sebelum misi berjalan, saya bersama teman-teman harus berhadapan dulu dengan para pemuka kampung. Mereka menanyakan maksud kedatangan kami. Kami menjawab dengan terus terang. Keterusterangan kami ini oleh mereka (tokoh masyarakat) dijawab dengan ajakan berdialog. Kami diajak ke rumah tokoh masyarakat itu. Di sana kami mulai berdialog seputar kegiatan tersebut. Tokoh masyarakat itu mengakui, tujuan kegiatan kami tersebut sangat baik. Namun, ia mengingatkan agar jangan dimanfaatkan untuk menyebarkan agama. Mereka pada prinsipnya siap dibantu, tapi tidak untuk pindah agama.

Agama Kristen, masih menurut tokoh masyarakat itu, hanya diutus untuk Bani Israel (orang Israel) bukan untuk warga di sini, Kami hanya diam. Akhirnya, tokoh masyarakat itu mulai membuka beberapa kitab suci agama yang kami miliki, dari berbagai versi. Satu per satu kelemahan Alkitab ia uraikan. la juga membahas buku Dialog Islam-Kristen antara K.H. Baharudin Mudhari di Madura dengan seorang pendeta.

Dialog antara kami dan tokoh masyarakat tersebut kemudian terhenti setelah terdengar azan magrib. Kemudian, kami kembali ke asrama sebelum kegiatan itu berlangsung sukses. Dialog dengan tokoh masyarakat tersebut terus membekas dalam pikiran saya. Lalu, saya pun membaca buku Dialog Islam Kristen tersebut sampai 12 kali ulang. Lama-kelamaan buku itu menpengaruhi pikiran saya. Saya mulai jarang praktek mengajar selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya, saya ditegur oleh pendeta. Pendeta itu rupanya tahu saya berdialog dengan seseorang yang mengerti Alkitab. “Masa’ kamu kalah sama orang yang hanya tahu kelemahan Alkitab. Padahal kamu telah belajar selama 3,5 tahun. Dan kamu juga pernah mengikuti kuliah seminari,” katanya dengan nada menantang dan sinis.

Kabur dari Asrama

Sejak peristiwa itu, saya jadi lebih banyak merenungkan kelemahan-kelemahan Alkitab. Benar juga apa yang dikatakan tokoh masyarakat itu tentang kelemahan kitab suci umat Kristen ini. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti menjadi calon pendeta. Saya harus meninggalkan asrama. Dan pada tengah malam, dengan tekad yang bulat saya lari meninggalkan asrama. Saya tak tahu harus ke mana. Jika pulang ke rumah, pasti saya disuruh balik ke asrama, dan tentu akan diinterogasi panjang lebar.

Kemudian saya pergi naik kendaraan, entah ke mana. Dalam pelarian itu saya berkenalan dengan seorang muslim yang berasal dari Pulau Jawa. Saya terangkan kepergian saya dan posisi saya yang dalam bahaya. Oleh orang itu, saya dibawa ke kota Jember, Jawa Timur. Di sana saya tinggal selama satu tahun. Saya dianggap seperti saudaranya sendiri. Saya bekerja membantu mereka. Kerja apa saja. Dalam pelarian itu, saya sudah tidak lagi menjalankan ajaran agama yang saya anut. Rasanya, saya kehilangan pegangan hidup.

Selama tinggal di rumah orang muslim tersebut, saya merasa tenteram. Saya sangat kagum padanya. Ia tidak pemah mengajak, apalagi membujuk saya untuk memeluk agamanya. la sangat menghargai kebebasan beragama. Dari sinilah saya mulai tertarik pada ajaran Islam. Saya mulai bertanya tentang Islam kepadanya. Olehnya saya diajak untuk bertanya lebih jauh kepada para ulama. Saya diajak ke rumah seorang pimpinan Pondok Pesantren Rhoudhotul ‘Ulum, yaitu K.H. Khotib Umar.

Kepada beliau saya utarakan keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang ajaran Islam. Dan, saya jelaskan perihal agama dan kegiatan saya. Tak lupa pula saya jelaskan tentang keraguan saya pada isi Alkitab yang selama ini saya imam sebagai kitab suci, karena terdapat kontradiksi pada ayat-ayatnya. Setelah saya jelaskan kelemahan Alkitab secara panjang lebar, K.H. Khotib Umar tampak sangat terharu. Secara spontan beliau merangkul saya sambil berkata, “Anda adalah orang yang beruntung, karena Allah telah memberi pengetahuan pada Anda, sehingga Anda tahu bahwa Alkitab itu banyak kelemahannya.”

Setelah itu beliau mengatakan, jika ingin mempelajari agama Islam secara utuh, itu memakan waktu lama. Sebab, ajaran Islam itu sangat luas cakupannya. Tapi yang terpenting, menurut beliau adalah dasar-dasar keimanan agama Islam, yang terangkum dalam rukun iman.

Masuk Islam

Dari uraian K.H. Khotib Umar tersebut saya melihat ada perbedaan yang sangat jauh antara agama Islam dan Kristen yang saya anut. Dalam agama Kristen, saya mengenal ada tiga Tuhan (dogma trinitas), yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Agama Kristen tidak mempercayai kerasulan Muhammad SAW, Bahkan, mereka menuduhnya tukang kawin. Mereka juga hanya percaya kepada tiga kitab suci, Taurat, Zabur, dan Injil.

Ajaran Kristen tidak mempercayai adanya siksa kubur, karena mereka berkeyakinan setiap orang Kristen pasti masuk surga. Yang terpenting bagi mereka adalah tentang penyaliban Yesus, yang pada hakekatnya Yesus disalib untuk menebus dosa manusia di dunia.

Penjelasan K.H. Khotib Umar ini sangat menyentuh hati saya. Penjelasan itu terus saya renungkan. Batin saya berkata, penjelasaan itu sangat cocok dengan hati nurani saya. Lalu, kembali saya bandingkan dengan agama Kristen. Ternyata agama Islam jauh lebih rasional (masuk di akal) daripada agama Kristen yang selama ini saya anut. Oleh karena itu saya berminat untuk memeluk agama Islam.

Keesokan harinya, saya pergi lagi ke rumah KH. Khotib Umar untuk menyatakan niat masuk Islam. Beliau terkejut dengan pernyataan saya yang sangat cepat. Beliau bertanya, “Apakah sudah dipikirkan masak-masak?” “Sudah,” suara saya meyakinkan dan menyatakan diribahwa hati saya sudab mantap.

Lalu beliau membimbing saya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelum ikrar saya ucapkan, beliau memberikan penjelasan dan nasehat. Di antaranya, “Sebenarnya saat ini Anda bukan masuk agama Islam, melainkan kembali kepada Islam. Karena dahulu pun Anda dilahirkan dalam keadaan Islam. Lingkunganmulah yang menyesatkan kamu. Jadi, pada hakikatnya Islam adalah fitrah bagi setiap individu manusia. Artinya, keislaman manusia itu adalah sunnatullah, ketentuan Allah. Dan, menjauhi Islam itu merupakan tindakan irrasional. Kembali kepada Islam berarti kembali kepada fitrahnya,” ujar beliau panjang lebar. Saya amat terharu. Tanpa terasa air mata meleleh dari kedua mata saya.

Sehari setelah berikrar, saya pun dikhitan. Nama saya diganti menjadi Syamsul Arifin Nababan. Saya kemudian mendalami ajaran Islam kepada K.H. Khotib Umar dan menjadi santrinya. Setelah belajar beberapa tahun di pondok pesantren, saya amat rindu pada keluarga. Saya diizinkan pulang. Bahkan, beliau membekali uang Rp 10.000 untuk pulang ke Sumatra Utara.

Dengan bekal itu saya akhirnya berhasil sampai ke rumah orang tua. Dalam perjalanan, banyak kisah yang menarik yang menunjukkan kekuasaan Allah. Sampai di rumah, ibu, kakak, dan semua adik saya tidak lagi mengenali saya, karena saya mengenakan baju gamis dan bersorban. Lalu, saya terangkan bahwa saya adalah Bernard Nababan yang dulu kabur dari rumah. Saya jelaskan pula agama yang kini saya anut. Ibu saya amat kaget dan shock. Kakak-kakak saya amat marah. Akhirnya saya diusir dari rumah.

Usiran merekalah yang membuat saya tegar. Saya kemudian pergi ke beberapa kota untuk berdakwah. Alhamdulillah, dakwah-dakwah saya mendapat sambutan dari saudaraudara kaum muslimin. Akhirnya saya terdampar di kota Jakarta. Aktivitas dakwah saya makin berkembang. Untuk mendalami ajaran-ajaran agama, saya pun aktif belajar di Ma’had al-Ulum al-Islamiyah wal abiyah atau UPIA Jakarta.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 4 Januari 2015.

Vien AM.

Diambil dari :

https://id-id.facebook.com/notes/berita-mengenai-islam/kisah-muallaf-bernard-nababan-mantan-pendeta-ragu-pada-isi-alkitab-/172217966129934

2014 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 150,000 times in 2014. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 6 days for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Friedrich Leopold Goltz seorang filosofi Jerman, suatu hari pernah melakukan percobaan dengan menggunakan seekor katak. Katak tersebut dimasukkan ke dalam panci berisi air bersuhu sedang, tidak panas tidak dingin. Selanjutnya pancipun dipanaskan.

Suhu bergerak naik perlahan, katak tetap nyaman dalam posisinya terendam air yang terus menghangat. Hingga pada suhu tertentu ketika air mulai mendidih sang katak mulai merasa kegerahan tapi ia tetap bertahan. Akhirnya ketika ia sudah tak tahan lagi iapun berusaha meloncat ke luar. Namun ada daya energinya ternyata telah habis terpakai demi menyesuaikan diri dengan panas air yang melingkupinya. Maka sang katak malangpun akhirnya mati. Inilah yang dinamakan teori katak rebus.

Teori ini di kemudian hari digunakan untuk menggambarkan orang yang merasa aman dan nyaman dalam keterancaman masa depan, yang merasa tenang-tenang saja meskipun lingkungan telah rusak dan terus bertambah rusak saja, tidak sadar bahwa dirinya telah larut dan hanyut di dalam kerusakan tersebut. Akibatnya hilanglah kesensitivitasan diri yang seharusnya  dapat menjadi tolak ukuran kebenaran. Berbagai isu negative yang datang menerjang tidak dapat lagi dirasakan kejanggalannya.

Baca juga : https://vienmuhadi.com/2014/11/19/pengosongan-kolom-agama-pada-ktp/

Ini tampaknya yang sedang terjadi di republik tercinta ini.  Dimulai dari balita yang sejak dini sudah terbiasa bermain game tanpa batas waktu dan aturan, murid SD yang suka menyontek namun didiamkan, murid SMP SMA yang tawuran bahkan  tentara dan bapak-bapak terhormat anggota MPR DPR yang hobby berkelahi. Belum lagi masalah keluarga dimana kedua orang-tuanya sibuk bekerja mencari uang hingga anak-anak terbengkalai khususnya ahlak dan agamanya, juga perzinahan dan korupsi yang makin meraja-lela.

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745)

Ucapan rasulullah saw 15 abad  silam makin terasa kebenarannya. Ya, umat Islam saat  ini makin cinta dunia, secara berlebihan. Demi menjadi kaya, sukses, maju dan terkenal orang tak lagi peduli bagaimana cara mendapatkannya. Ayat-ayat Al-Quran tidak lagi dijadikan pegangan bahkan ketika memilih pemimpin, padahal pemimpin dalam Islam adalah kunci keberhasilan bangsa.

Maka beginilah hasilnya, pemimpin bangsa yang terpilih adalah hasil pilihan rakyat yang juga kurang mempedulikan kitab sucinya. “Kita bukan Negara Islam”, begitu alasannya. Sangat kentara bahwa sekulerisme telah merasuki jiwa sebagian umat. Para ulama dan uztad/uztadazah yang sebelum pemilu telah berjuang keras mengingatkan rakyat hanya bisa mengelus dada. Padahal imbauan diberikan bukannya tanpa dasar, diantaranya sebagai berikut:

Pertama, bila Jokowi yang pada saat sebelum pemilu adalah gubernur DKI, terpilih menjadi R1, maka konsekwensinya wakil gubernur dipastikan bakal menggantikan posisi Jokowi. Dan wakil tersebut tak lain adalah Ahok seorang yang bukan saja non Muslim namun juga sering tidak pro terhadap Islam dan tabiatnya buruk meskipun mungkin lurus, ini yang hilang dari sebagian politikus Muslim. Tetapi ini tetap perlu pembuktian.

( Baca juga : https://vienmuhadi.com/2014/10/21/fpi-menyerang-ahok-melawan/ )

Dari mulutnya keluar pernyataan “ Ini gara-gara miras tidak dilegalkan. Coba kalau dilegalkan tidak perlu mereka membuat oplosan yang akhirnya merenggut nyawa mereka !”, “ Banyak orang butuh miras, turis juga butuh itu”. Tanggapan ini berkaitan dengan ditemukannya korban akibat miras oplosan.

Kedua, PDIP yang merupakan partai utama pendukung Jokowi dipenuhi orang non Muslim. Artinya, bagi non Muslim, pantas bila mereka memilih Jokowi. Namun bagi Muslim ? Apalagi di partai tersebut ada dedengkot Syiah Jalaludin Rahmat yang sering terang-terangan mengolok-olok Aisyah istri Rasulullah yang paling dicintai sekaligus ibu bagi kaum Muslimin, umirul mukminin, disamping para sahabat Muhajirin dan Anshar.

“ Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.  … “(QS. Al-Ahzab(33):6).

“ Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mela`natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”.(QS. Al-Ahzab(33):57).

Maka tak heran bila belakangan ini datang berita tentang masuknya ratusan imigran gelap yang mengaku datang dari Afganistan untuk mencari suaka. Mereka menyerbu Balikpapan dan kota-kota besar di bagian timur lainnya. Namun anehnya mereka datang tanpa istri dan anak-anak mereka. Badan mereka tegap-tegap layaknya militer. Apa tujuan pendatang gelap yang ternyata Syiah itu ??? Akankah orang-orang ini ingin menjadikan negri tercinta ini Suriah jilid 2?? Bila menyiksa diri di hari Asyura saja sudah terbiasa apalagi hanya membantai orang yang tidak sefaham?? Nau’dzubillah min dzalik …

http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2014/12/05/34461/pengakuan-aparat-imigran-bisa-naik-pesawat-teriak-ya-husein-ya-husein.html#.VIWIG9KUde4 

Juga wacana bahwa PTI ( Perguruan Tinggi Islam) yang tadinya berada di bawah pengawasan Departemen Agama akan dipindahkan kebawah  Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti). Pemindahan ini ditengarai berpotensi bakal meng-sekuler-kan ilmu-ilmu Islam. Ini berpotensi PTI akan disamakan dengan studi Islam, sebuah fakultas yang  sifatnya hanya sekedar mempelajari ilmu ke-Islam-an bukan atas dasar keyakinan dan keimanan yang harusnya merupakan ciri khas PTI.

http://www.republika.co.id/berita/koran/khazanah-koran/14/11/26/nfmxhb-pemindahan-perguruan-tinggi-islam-tak-bermanfaat 

Berita miring juga datang dari metri Pendidikan Anies Bawesdan. Pria ganteng pintar nan simpatik yang digandrungi banyak ibu-ibu ini mempermasalahkan doa pembuka dan penutup di sekolah yang dinilai sebagai promosi agama tertentu, Islam tentunya.

http://news.detik.com/read/2014/12/01/161654/2764309/10/mendikbud-anies-sekolah-negeri-promosikan-sikap-berketuhanan-yang-maha-esa

Hmm, aneh bin ajaib sejak kapan doa dianggap sebagai promosi agama yaa. Rasanya semua orang pasti tahu bahwa doa adalah komunikasi kepada Tuhannya. Kecuali mungkin bagi orang-orang JIL Sepilis dan Paramadina pimpinan pak Anies yang beberapa waktu lalu mendatangkan rabbi Yahudi untuk memperkenalkan Yahudi. Rabbi ini mengatakan bahwa Tuhannya telah menjanjikan tanah Palestina khusus bagi umat Yahudi. Nah apakah bukan ini yang namanya promosi?? Sementara negara-negara Barat saja sejak beberapa bulan terakhir berbondong-bondong mengakui Palestina sebagai negara di tanah tersebut.

Tak urung uztad Yusuf Mansur melalui tweetnya uring-uringan menanggapi hal tersebut. Namun segera pak mentripun bereaksi, mengatakan bahwa beliau tidak bermaksud demikian. Atas reaksi tersebut muncul kemudian teori Water Test yang diperkirakan digunakan rezim yang baru beberapa bulan ini memerintah. Yaitu melontarkan pemikiran kontroversial, bila tidak ada reaksi maka pemikiran akan  ditindak-lanjuti. Sebaliknya bila terjadi reaksi negative maka mereka mengatakan telah terjadi kesalahan komunikasi … Hmm …

Umat Islam negri ini tampaknya benar-benar sedang dicoba. Kerusakan agama sejatinya adalah kerusakan terbesar dalam hidup ini. Mari kita segera bertobat karena sesungguhmya kerusakan terjadi karena kesalahan kita sendiri. Mengapa Indonesia yang mayoritas Muslim bisa memilih pemimpin yang tidak menjunjung tinggi ayat-ayat Al-Quran.

“ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.(QS.Ar-Ruum(30:41).

Ini yang akan menyebabkan ridho Allah swt tak akan datang. Mungkinkah ini cara Sang Khalik untuk memisahkan dan menunjukkan mana orang munafik dan mana Muslim sejati?? Untuk mengetahui mana Muslim yang kaffah, yang benar-benar mau menjadikan ayat-ayat Al-Quranul Karim sebagai pegangan, memperjuangkannya kemudian bersabar dan yakin bahwa pertolongan Allah swt pasti akan datang.

Inilah saatnya umat Muslim harus keluar dari panci panas yang makin lama makin mendidih tanpa kita menyadari sebagaimana teori katak di awal tulisan di atas. Kita harus bersatu, bergandengan tangan sebelum energi kita habis tuntas terpakai untuk menyesuaikan dengan panas yang makin menggila. Mari kita berjuang sesuai kemampuan kita, setiap diri pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, tapi kita bisa saling mengisi kelebihan dan kekurangan tersebut.

“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Ingatlah berbagai pertolongan yang datang pada saat-saat kritis. Kisah Rasulullah bersama Abu Bakar di gua Tsur, kisah Rasulullah dilempari dan diusir dari Thaif, kisah nabi Musa yang dikejar Firaun dan pasukannya, kisah nabi Ibrahim yang dibakar dll.

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ( Abu Bakar) ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya … “. (QS. At-Taubah(9):40).

“ Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Al-Insyiraah(94) :5).

Ya Allah tolonglah kami keluar dari kesulitan ini, aamiin YRA

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 Desember 2014.

Vien AM.

Lembaran kertas benar-benar telah mengubah dunia. Kertas telah membuat ilmu pengetahuan dan peradaban manusia berkembang begitu cepat, secepat kilat. Cendekiawan Muslim, Ziauddin Sardar, menyatakan, pembuatan kertas pada masa kejayaan kekhalifan Islam merupakan peristiwa paling revolusioner dalam sejarah manusia. ”Pembuatan kertas juga merupakan tonggak penting dalam sejarah peradaban manusia,” ungkap Sardar dalam bukunya berjudul Kembali ke Masa Depan. Umat Islam berperan besar dalam proses pembuatan kertas. Bayangkan, jika kertas tak diproduksi umat Islam. Pastilah, ilmu pengetahuan dan teknologi tak berkembang pesat, seperti saat ini.

Meski penggunaan kertas mulai menyusut di era digital ini, namun kertas telah berjasa mengantarkan manusia memasuki zaman cyber. Jauh sebelum kertas ditemukan, manusia kuno mengungkapkan perasaannya di atas batu dan tulang belulang. Menulis di atas batu telah dilakukan bangsa Sumeria sejak 3.000 tahun SM. Orang-orang Chaldea dari Babylonia Kuno menulis di tanah liat.

Bangsa Romawi menggunakan perunggu untuk mencatat. Pada Abad ke-9 SM, buku-buku besar tersusun dari lembaran-lembaran kayu telah dipakai sebelum masa Homer. Masyarakat Mesir kuno, menggunakan papirus untuk menulis dan menggambar. Papyrus sudah menyerupai kertas, dari kata itu pula orang Barat mengenal paper (kertas).

Papirus merupakan tanaman yang tinggi tangkainya mencapai 10 hingga 15 kaki. Tangkainya berbentuk segi tiga secara bersilangan dan di sekeliling dasarnya tumbuh beberapa daun yang berserabut pendek. Kertas orang Mesir (papyrus) itu telah berkembang dengan pesat pada abad ke-3 SM hingga 5 SM. Penggunaan papyrus mulai terkikis ketika bangsa Mesir mulai beralih ke kulit binatang.

Kali pertama, kertas ditemukan di Cina pada era kekuasaan Kaisar Ho-Ti dari Dinasti Han. Konon, menurut sejarah lama Cina, cikal-bakal pembuatan kertas mulai dikembangkan seorang pejabat pemerintah bernama Ts’ai Lun pada tahun 105 M. Meski begitu, banyak pula yang meragukan Ts’ai Lun sebagai penemu kertas.

”Meski dokumen-dokumen sejarah lama Cina secara hati-hati dan eksplisit menyebut Ts’ai Lun sebagai penemu kertas. Namun, pastinya ide dan produk kertas tak muncul secara serta merta,” papar Sukey Hughes dalam buku Washi The World of Japanese Paper. Terlebih, peradaban Cina sudah mulai mengenal kertas sejak tahun 100 SM. Kertas yang dibuat Tsiau Lun berasal dari kulit pohon murbei.

Selain peradaban Cina, konon bangsa India pun pada tahun 400 M sudah mulai mengenal kertas. Lalu sejak kapan peradaban Islam mulai akrab dengan kertas? Menurut Sardar, pertama kali kertas diperkenalkan ke dunia Islam pada abad ke-8 M di Samarkand, Irak. Teknologi industri kertas mulai berkembang pesat di dunia Islam, setelah terjadinya Pertempuran Talas pada 751 M.

Kaum Muslim berhasil menawan orang Cina yang ulung membuat kertas. ”Para tahanan itu segera diberi fasilitas untuk memperlihatkan keterampilan mereka,” papar Sardar. Sayangnya, proses pembuatan kertas yang diperkenalkan orang-orang Cina itu tak bisa dilajutkan, lantaran tak ada kulit pohon murbei di negeri Islam.

Para sarjana Muslim pun memutar otak. Sebuah terobosan spektakuler akhirnya tercipta. Mereka memperkenalkan penemuan baru dan inovasi yang mengubah keterampilan membuat kertas menjadi sebuah industri. Kulit pohon murbei diganti dengan pohon linen, kapas, dan serat.

Selain itu, para sarjana Islam pun memperkenalkan bambu yang digunakan untuk mengeringkan lembaran kertas basah dan memindahkan kertas ketika masih lembab. Inovasi lainnnya proses permentasi untuk mempercepat pemotongan linen dan serat dengan menambahkan pemutih atau bahan kimiawi lainnya.

Proses pembuatan kertas juga menggunakan palu penempa besar untuk menggiling bahan-bahan yang akan dihaluskan. Awalnya, proses ini melibatkan para pekerja ahli. Namun, seiring ditemukannya kincir air di Jativa, Spanyol pada 1151 M, palu penempa tak lagi digerakkan tenaga manusia. Sejak itu penggilingan bahan-bahan menggunakan tenaga air.

Tak lama kemudian, orang-orang Muslim memperkenalkan proses pemotongan kertas dengan kanji gandum. Proses ini mampu menghasilkan permukaan kertas yang cocok untuk ditulis dengan tinta. Sejak saat itu, industri kertas menyebar dengan cepat ke negeri-negeri Muslim.

Percetakan kertas pertama di Baghdad didirikan pada tahun 793 M, era Khalifah Harun Al-Rasyid dari Daulah Abbasiyah. Setelah itu, pabrik-pabrik kertas segera bermunculan di Damskus, Tiberia, Tripoli, Kairo, Fez, Sicilia Islam, Jativa, Valencia, dan berbagai belahan dunia Islam lainnya.

Wazir Dinasti Abbasiyah, Ja’far Ibnu Yahya, mulai mengganti parkemen dengan kertas di kantor-kantor pemerintahan. Pada abad ke-10, berdiri pabrik kertas yang mengapung di Sungai Tigris. Kertas pun begitu populer di dunia Islam dari India sampai Spanyol.

Saking populernya kertas, seorang petualang Persia pada 1040 mencatat: Di Kairo para pedagang sayuran dan rempah-rempah sudah menggunakan kertas untuk membungkus semua dagangannya. Padahal, pada saat itu Eropa sama sekali belum mengenal kertas. Eropa yang tengah dicengkram kegelapan masih memakai parkemen.

Orang Barat baru mengenal kertas beberapa ratus tahun setelah orang Muslim menggunakannya. Pabrik kertas pertama di Eropa dibangun pada 1276 M di Fabrino, Italia. Seabad kemudian, berdiri pabrik kertas di Nuremberg Jerman. Barat mempelajari tata cara membuat kertas, setelah Kristen menginvasi Spanyol Islam. Setelah kejayaan Islam redup, Barat akhirnya mendominasi industri kertas.

Kertas dan Revolusi Budaya

”Produksi kertas tak hanya memberi rangsangan luar biasa untuk menuntut ilmu, tetapi membuat harga buku semakin murah dan mudah diperoleh. Hasil akhirnya adalah revolusi budaya,” cetus Cendekiawan Muslim, Ziauddin Sardar.

Menurut dia, produksi buku dalam skala yang tak pernah terjadi sebelumnya membuat konsep ilmu bertransformasi menjadi sebuah praktik yang benar-benar distributif.

Bermunculannya industri kertas pada era kejayaan Islam juga telah melahirkan sejumlah profesi baru. Salah satunya adalah warraq. Mereka menjual kertas dan berperan sebagai agen. Selain itu, warraqin juga bekerja sebagai penulis yang menyalin berbagai manuskrip yang dipesan para pelanggannya. Mereka juga menjual buku dan membuka toko buku.

Menurut Sardar, sebagai agen, warraqin juga sering membuat sendiri kertas untuk mencetak buku. Sebagai penjual buku, warraqin mengatur segalanya, mulai dari mendirikan kios di pinggir jalan hingga toko-toko besar yang nyaman jauh dari debu-debu pasar. Kios-kios buku itu umumnya berdiri di jantung kota-kota besar, seperti Baghdad, Damskus, kairo, Granada, dan Fez.

Seorang sarjana Muslim, Al-Yaqubi dalam catatannya mengungkapkan pada abad ke-9, di pinggiran kota Baghdad terdapat tak kurang dari 100 kios buku. Di toko-toko buku besar, kerap berlangsung diskusi informal membedah buku. Acara itu dihadiri para penulis dan pemikir terkemuka.

Sardar menuturkan, salah satu toko buku terkemuka dalam sejarah Islam adalah milik Al-Nadim (wafat 990 M). Dia adalah seorang kolektor buku pada abad ke-10. Toko buku Al-Nadim di Baghdad dipenuhi ribuan manuskrip dan dikenal sebagai tempat pertemuan para pemikir, penyair terkemuka pada masanya. Katalog buku-buku yang terdapat di tokonya Al-Fihrist Al-Nadim dilengkapi dengan catatan kritis. Katalog itu dikenal sebagai ensiklopedia kebudayaan Islam abad pertengahan.

Industri penerbitan yang dipelopori warraqin dilakukan dengan sistem kerja sama antara penulis dengan penerbit. Seorang penulis yang ingin menerbitkan bukunya bisa menyampaikan keinginannya secara publik atau menghubungi satu atau dua warraqin. Buku tersebut nantinya akan ‘diterbitkan’ di sebuah masjid atau di toko buku terkenal.

Selama masa yang ditentukan, setiap harinya penulis buku itu akan mendiktekan isi bukunya. Setiap orang boleh menghadiri acara itu. Biasanya, para pelajar dan sarjana berkerumun menyimak acara penting itu. Para penulis biasanya menegaskan bahwa hanya warraqin saja yang boleh menulis bukunya.

Ketika buku selesai ditulis, manuskrip tangan akan diperiksa dan diperbaiki penulisnya. Setelah sepakat, buku akan diterbitkan dan dijual kepada pembaca. Sesuai kesepakatan, penulis akan mendapat royalti dari warraqin. Tumbuh suburnya industri penerbitan membuat gairah membaca masyarakat Muslim begitu tinggi.

Untuk menampung buku-buku yang terus terbit, dibangunlah perpustakaan-perpustakaan. Salah satu perpustakaan terkemuka adalah Baitul Hikmah yang dibangun Khalifah Harun Al-Rasyid di kota Baghdad.

Perjalanan Industri Kertas

3000 SM: Orang mesir, Romawi dan Yunani kuno menggunakan papirus sebagai media untuk menulis.
105 M: Seorang pejabat Cina bernama Ts’ai Lun dari Dinasti Han pafa masa kepemimpinan Kaisar Ho Ti memproduksi kertas dari kulit pohon murbei. Teknologinya masih sederhana.
400 M: Peradaban India juga sudah mengenal kertas.
610 M: Pembuatan kertas sudah menyebar ke Jepang melalui Korea dari Cina.
751 M: Dunia Islam mulai mengembangkan industri kertas, setelah memenangkan Perang Talas. Pada era itulah industri pertama kertas di dunia dibangun.
900 M: Kertas menyebar ke Mesir menggantikan papirus.
1000 M: Penggunaan kertas menyebar ke Marroko.
1200 M: Industri kertas menyebar ke Spanyol dan Sicilia.
1221 M: Pasukan Kristen menguasai Spanyol Islam dan mulai belajar membuat kertas.
1300 M: Orang-orang Italia memperbaiki teknik membuat kertas yang dikembangkan Arab.
1400 M: Arab mengekspor kertas ke Eropa.
1450-55: Johann Gutenberg mencetak bible.
1491 M: Orang Polandia mulai membuat kertas.
1567 M: Rusia memproduksi kertas.
1690 M: William Rittenhouse memproduksi kertas di Philadelphia, AS.
1854 M: Formula bubur kertas (pulp) dipatenkan.
1860 M: Bubur kertas kain diganti dengan bubur kertas kayu.

(heri ruslan; republika Senin, 10 Maret 2008 )

Dicopy dari :

http://hizbut-tahrir.or.id/2008/04/24/kejayaan-khilafah-jejak-industri-kertas-di-dunia-islam/

Rekomendasi mendagri tentang diperbolehkannya tidak mengisi kolom KTP menuai reaksi pro dan kontra.  Meski sebenarnya ini bukan hal baru. Karena pada Desember 2013 lalu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang kala itu masih menjabat wakil gubernur DKI menilai pencantuman agama dalam KTP tidak terlalu penting dan tak memiliki manfaat bagi orang lain.

Selanjutnya pada bulan Juni 2014, direktur Megawati Institute, Siti Musdah Mulia, memunculkan wacana penghapusan kolom agama pada KTP dalam sebuah diskusi publik. Tokoh Sepilis ( Sekulerisme Pluralisme Liberalisme) dari PDIP ini memang dikenal nyleneh karena jauh sebelum itu, yaitu pada tahun 2008, pernah menulis di sebuah harian berbahasa Inggris bahwa Islam mengakui homoseksualitas !

Ini masih disusul lagi gugatan 5 mahasiswa fakultas Hukum UI mengenai keabsahan UU Perkawinan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka berpendapat bahwa pasal 2 ayat 1 UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang isinya  melarang perkawinan beda agama ini berpotensi merugikan hak konstitusional mereka.

(http://panjimas.com/news/2014/09/11/5-mahasiswa-ui-gugat-uu-perkawinan-soal-tidak-sahnya-nikah-beda-agama-ke-mk/ )

Namun demikian pernyataan resmi yang keluar dari mulut Cahyo Kumolo sebagai mendagri beberapa hari lalu tetap saja mengejutkan banyak orang, terutama ormas Islam tentu saja. Mendagri beralasan hal ini untuk mengakomodir warga yang tidak termasuk ke dalam 6 agama resmi yang selama ini diakui pemerintah, yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghuchu. Selain juga untuk memenuhi keinginan sebagian pengikut aliran kepercayaan yang ada di negri ini.

Bagi umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk negri ini, keberadaan kolom agama jelas amat sangat penting. Ini adalah identitas diri. Islam bukan sekedar pengakuan di hati, ia harus di deklarasikan. Itu sebabnya ada kalimat syahadat, dan ini harus diikuti pengamalannya. Islam sarat dengan ibadah ritual yang memiliki dasar hukum yang kuat. Dimulai dari kelahiran, menikah hingga meninggal dunia, ada syarat-syarat dan hukum-hukum yang harus dipenuhi.

Intinya, kolom agama dalam KTP seorang Muslim mustahil dihilangkan, karena hal ini akan menghilangkan hak-haknya sebagai Muslim. Sebagai contoh, bagaimana seorang Muslim akan dimakamkan bila tiba-tiba ia tewas dalam kecelakaan tanpa seorangpun mengenalnya, sementara kolom agama di KTP nya kosong. Juga ketika menikah, Islam melarang pemeluknya menikah dengan yang tidak seagama. Jadi pernyataan Ahok bahwa kolom agama tidak penting dan tidak ada manfaatnya jelas ngawur !

Sebaliknya pengosongan kolom agama yang katanya ditujukan bagi mereka yang beragama di luar yang diakui pemerintah,  terdengar janggal. Bagaimana mungkin pemerintah sudah menetapkan agama yang resmi diakui, tetapi tetap diizinkan mengosongkannya. Apakah ini namanya bukan melanggar hukum ? Atau mungkin ini pertanda bahwa pemerintah bakal mengizinkan lahirnya agama baru ??? Padahal dengan adanya 6 agama ini saja pemerintah seringkali tidak mampu mengatasi masalah yang berkaitan dengan agama.

Syiah dan Ahmadiyah yang mengaku bagian dari Islam padahal terbukti sesat, juga JIL ( jaringan Islam Liberal) yang sering melontarkan pandangan nyleneh adalah contohya.  Sayangnya pemerintahan saat ini justru terlihat memiliki kedekatan dengan Syiah.  Presiden Iran, negri seribu mullah yang merupakan simbol Syiah, Hassan Rouhani dikabarkan sebenarnya ingin hadir pada acara pelantikan presiden yang baru lalu. Perlu dicatat, hampir semua Syiah di negri ini memilih Jokowi – JK karena PDIP sebagai partai pendukung pasangan tersebut memang dipenuhi sosok Syiah.

http://www.kiblat.net/2013/11/15/mui-ajaran-syiah-penuhi-10-kriteria-aliran-sesat-yang-ditetapkan-mui/

Belum lagi fenomena pemurtadan yang makin hari makin kasar dan kasat mata, seperti yang terjadi pada Car Free Day di kawasan Semanggi Jakarta baru-baru ini. Padahal pemerintah telah membuat aturan yang jelas tentang hal ini. Ini masih ditambah lagi dengan perseteruan antara Ahok dan FPI yang makin hari makin parah, dan berbuntut pengajuan permohonan dari Ahok agar ormas Islam ini dibubarkan.

Pengosongan kolom agama juga ditengarai berpotensi ke arah pemurtadan. Bahkan bisa ke arah Atheisme. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan budaya kita, juga Pancasila, khususnya sila pertama tentang Ketuhanan.  Tampak jelas bahwa budaya Liberal Barat sudah sedemikian merasuknya ke dalam dada sebagian orang Indonesia. Adakah ini sebuah pertanda bahwa sebentar lagi pemerintah juga bakal merestui perkawinan sesama jenis disusul perkawinan dengan beda spesies ??? Naudzubillah min dzalik …

http://panjimas.com/news/2014/09/21/nikah-sejenis-nikah-beda-agama-selanjutnya-nikah-beda-spesies/

Tampaknya Muslim di Indonesia saat ini bakal menghadapi tantangan berat dalam mempertahankan keislamannya. Pemerintah terlihat bernafsu ingin meng-“internasionalisasi”kan Indonesia dengan mengabaikan sejarah dan latar belakang bangsa serta keberagamaan rakyatnya. Ironisnya hal ini didukung oleh sebagian umat Islam, yang mungkin sudah jenuh dan bosan dengan nasib bangsa yang tidak kunjung maju dan tertinggal jauh dari negara-negara tetangga. Islam memang tidak melarang mengejar kesenangan dan keberhasilan kehidupan duniawi namun kebahagiaan akhirat tetap prioritas utama. Tengoklah bagaimana Islam pada zaman keemasannya selama berabad-abad.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan“.(QS. Al-Qashshas (28):77).

Membandingkan lebih baik pemimpin kafir yang penting tidak korupsi, merokok dan bertato meski tidak berjilbab,  riba asal bermanfaat dll bukanlah pembenaran yang dapat ditrima. Mustinya hal tersebut justru menjadi pemicu, agar kita memilih pemimpin Muslim yang akhlaknya baik dan kerjanya juga baik.

Belum lagi fenomena pendukung buta hati yang tidak mampu atau tidak mau realistis melihat cara kerja pemimpin pilihannya. Tengok pidato Abu Bakar Ash-Sidieq ketika beliau dilantik sebagai khalifah pertama Islam berikut :

“ Aku, bukanlah yang terbaik diantara kamu sekalian. Oleh karena itu aku  sangat menghargai dan mengharapkan saran dan pertolongan kalian semua. Menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang terpilih sebagai penguasa adalah kesetiaan yang sebenar-benarnya; sedang menyembunyikan kebenaran adalah suatu kemunafikan. Orang yang kuat maupun orang yang lemah adalah sama kedudukannya dan aku akan memperlakukan kalian semua secara adil. Jika aku bertindak dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, taatilah aku, tetapi jika aku mengabaikan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tidaklah layak kalian menaatiku.”

Ini mencerminkan bahwa antara pemimpin dan yang dipimpin sama, yaitu sama-sama menjadikan  Allah dan Rasul-Nya sebagai pegangan. Namun apa yang kita lihat hari ini??

Pernyataan mendagri bahwa pengosongan kolom agama di KTP salah satunya untuk mengakomodir para pemeluk kepercayaan yang selama ini merasa dipaksa mengisi “Islam” sebagai agama mereka, patut dicermati.  Apalagi bila kita mengingat kisah kerbau kyai Slamet, kerbau keramat keraton Surakarta dan lain-lain ritual syirik yang hingga detik ini masih digadang-gadang sebagian orang yang mengaku Islam.

Apakah ini pertanda bahwa dakwah Islam selama ini sebenarnya tidak berjalan dengan baik? Buktinya ya itu tadi, kesyirikan yang dibiarkan berlarut-larut dengan harapan dapat dihilangkan sedikit demi sedikit ternyata tetap terus berjalan. Patut diingat, pada zaman rasulullah dan sahabat segala sesuatu yang berbau kesyirikan segera dihancurkan. Penghancuran semua patung dan berhala yang ada di dalam Ka’bah pada masa penaklukan Mekah, adalah salah satu contohnya.

Disamping itu, jargon « Islam adalah rahmatan lil alamin » dan « Islam adalah agama toleransi » tampaknya  justru memojokkan umat Islam itu sendiri. Kedua jargon ini telah ditafsirkan sedemikan rupa hingga menjadi kabur dan kebablasan. Dan siapa yang dianggap tidak sesuai  dengan kedua jargon tersebut dianggap sebagai teroris. Nasib penyanyi legendaries Yusuf Islam adalah contoh yang paling sederhana. Pemusik Inggris era 1970-an bernama asli Cat Stevens ini pernah dicekal masuk Amerika Serikat karena “kesalahannya”menjadi mualaf . Ia dianggap sebagai teroris karena kesalahan tersebut!

Kekurang-pedulian pemerintah kepada persaudaraan Islam juga tercermin dari reaksi Jokowi terhadap masalah Palestina. Masjidil Aqsho pada akhir bulan lalu sempat ditutup oleh pemerintah pendudukan Israel. Meskipun malamnya masjid dibuka kembali tak urung hal ini mengakibatkan panasnya hubungan Israel tidak saja dengan warga setempat namun juga negara-negara Islam seperti Yordania dan Turki.

Tapi tidak demikian dengan Negara kita. Kecuali setelah Jokowi yang kebetulan bertemu dengan Ban Ki Moon sekjen PBB, menanyakan bagaimana posisi Indonesia terhadap Palestina.  Jawabannya memang mendukung Palestina tapi terkesan hanya setengah hati, sekedar memenuhi janjinya pada pilpres kemarin, mungkin.  Memang kenyataannya pada acara jumpa pers pertama menlu Retno LP Marsudi, sedikitpun tak disinggung masalah Timur Tengah.

Yang pasti, pada awal November lalu telah datang seorang rabbi ( ulama Yahudi) dari AS yang memberi semacam pengenalan tentang agamanya, bahwa Tuhannya sama dengan Tuhan umat Islam, dan Tuhan telah menjanjikan tanah Palestina khusus untuk umatnya !  Acara ini bukan digelar di AS atau negara barat lainnya, tapi di universitas Paramadina, Jakarta, yang direkturnya tak lain tak bukan adalah mentri pendidikan baru kita, Anies Bawesdan. ( Republika 24 November 2014, kolom sudut pandang oleh A Syalabi Ichsan).

Juga ketika Jokowi bertemu dengan presiden Myanmar. Beliau sama sekali tidak mengusik tentang nasib Rohingya, Muslim Myanmar, yang sejak bertahun-tahun diperlakukan pemerintah secara  semena-mena. Padahal dunia internasional sering mengecam hal ini karena dianggap telah melanggar HAM.

Sementara itu Susi Pudjiastuti, mentri kelautan dan perikanan yang kontroversial itu kembali membuat berita besar. Dengan alasan menyelamatkan ikan-ikan kita dari  ‘illegal fishing’ beliau mengundang angkatan laut AS untuk membantu menjaga perairan Indonesia. Pertanyaannya, mengapa harus Amerika Serikat, sobat Israel  si penyerobot tanah Palestina, yang jauhnya ribuan mil dari Indonesia, dan jelas-jelas memusuhi Islam ??

( http://www.antaranews.com/berita/462816/menteri-kelautan-dan-perikanan-temui-dua-dubes-benua-amerika )

Ya Allah mau dibawa kemana negri ini ….   😦 …

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. …“.(QS.Ali Imran(3):19).

Jakarta, 18 November 2014.

Wallahu’alam bish shawwab.

Vien AM.