Feeds:
Posts
Comments

Sakit Dan Sakratul Maut (3).

( Sambungan dari Sakit-dan-sakratul-maut ).

Satu tahun tiga bulan sudah berlalu sejak bapak terjatuh dari tempat tidur dan mengalami kelumpuhan total. Operasi pemasangan pen di leher bagian belakang sudah dilakukan.  Masa-masa sulit dimana bapak sempat mengalami frustasi, sulit tidur dan sering mengigau,  masalah kulit yang lazim menghinggapi pasien yang banyak berbaring, seperti decubitus dan pemphigus yaitu kulit yang menggelembung berisi cairan mirip kulit yang  melepuh, sudah terlewati. Bahkan kepasrahan keluarga besar bila Allah swt menghendaki  memanggilnya, saking tidak teganya melihat beratnya cobaan bapak, suami, kakek kami tercintapun telah kami lalui.

Namun rupanya Allah berkehendak lain, hingga detik ini bapak masih bersama kami, Alhamdulillah. Malah belakangan ini terlihat adanya kemajuan, bapak sudah bisa menggerakkan ke dua tangannya meski cuma sekedar untuk menggaruk sendiri kepalanya yang gatal, memegang sendiri garpu kecil untuk memasukkan potongan buah atau kue ke mulut, membuka lembaran Alquran, dan terakhir mencari chanel gelombang radio untuk mendengarkan berita.  Subhanallah … Alhamdulillah … Itu semua tak lepas dari peran ibu yang rajin dan sabar menyemangati bapak agar mau melatih kedua tangannya, disamping izin-Nya, tentu saja …

Meski lumpuh, daya ingat bapak benar-benar luar biasa. Di perayaan hari ulang tahun ke 87 lalu, bapak dengan suara lantang, jernih dan lumayan kencang,  menceritakan berbagai hal di depan anak cucu dan cicitnya. Dengan penuh semangat bapak menerangkan beda umur bapak menurut hitungan kalender Masehi dan kalender Hijriyah. Selanjutnya bapak bercerita bagaimana bapak memimpin 60 orang anak buahnya melawan penjajahan Belanda, padahal usia bapak ketika itu baru 20 tahun.  Waktu itu bapak baru saja lulus dari Akademi Militer Magelang  yang sangat bergengsi itu.

Kisah tersebut mau tidak mau mengingatkan saya pada Usamah bin Zaid bin Haritsah, panglima perang yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah untuk menghadapi pasukan Romawi.  Terbukti bahwa usia 20 tahun bukanlah penghalang untuk memimpin suatu peperangan. Usamah ketika itu bahkan belum mencapai 20 tahun namun telah berhasil dengan cemerlang memenangkan peperangan yang dipimpinnya.

Alangkah terharunya kami melihat bapak yang demikian bersemangatnya apalagi bila mengingat hari-hari awal bapak jatuh sakit. Umur  memang benar-benar rahasia Sang Khalik. Tak ada satupun manusia di dunia  ini yang bisa memperkirakan kapan kita akan mati, berapa panjang umur kita nanti. Yang pasti setiap manusia, setiap yang bernyawa suatu ketika kelak pasti akan mati, itulah ketentuan Allah yang tak mungkin dipungkiri.

“ Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya)”. (QS. Al-Ghaffir(40):67).

Ayat diatas menerangkan dengan jelas bahwa pada umumnya, setelah seseorang dilahirkan ke dunia, ia akan melewati masa kanak-kanak, remaja, dewasa, tua  kemudian baru mati.  Namun ada juga yang meninggal sebelum melewati semua masa di atas. Tanpa kepastian apakah sebelum meninggal ia harus melewati masa sakit atau tidak.

Ibaratnya mobil, ketika mobil masih baru normalnya tidak ada masalah, semua baik-baik saja. Tetapi ketika mobil sudah mulai tua atau perawatannya kurang baik, mobil jadi sering merongrong, rusak disana-sini hingga harus masuk bengkel, diperbaiki atau mungkin juga hanya perlu diservis saja.

Begitu pula manusia. Meski masih muda bila ia tidak pandai menjaga kesehatan, sebagaimana Rasulullah mencontohkannya, tidak mustahil ia akan sering sakit, cepat lelah dan tidak fit hingga kwalitas hidupnya berkurang, persis seperti orang tua yang sakit-sakitan yang sudah mendekati ajal. Tapi ini bukan berarti bahwa yang muda dan sehat walafiat, tidak akan tiba-tiba meninggal.  Kita pasti tahu, tidak sedikit orang muda, yang dalam keadaan sehat tiba-tiba saja mengalami kecelakaan,  atau terkena serangan jantung hingga mendadak meninggal dunia.

Namun demikian tidak otomatis juga yang sudah tua, sakit keras, bakal segera diwafatkan-Nya.  Bahkan ada yang mengalami koma bertahun-tahun tapi tidak juga meninggal. Contohnya adalah yang terjadi terhadap mantan presiden Israel, Ariel Sharon. Ntah apa yang dirasakannya selama dalam kondisi mengenaskan tersebut. Mungkinkah Allah swt berkehendak membalas kekejian musuh terbesar umat Islam itu di dunia disamping di akhirat kelak? Wallahu’alam.

Yang pasti kita sering mendengar betapa banyaknya orang tua yang mengalami  kelumpuhan atau sakit keras, tapi tetap hidup, selama bertahun-tahun ke depan. Berikut beberapa kisahnya.

Suatu ketika teman saya bercerita tentang ibunya yang baru saja wafat. Selama lebih dari 10 tahun ibunya yang sudah sepuh itu mengalami kebutaan akibat penyakit darah tinggi yang dialaminya. Namun semangat hidupnya tidak pernah luntur.  Beliau tidak pernah mau menyusahkan orang lain. Beliau mampu berjalan sendiri di dalam rumah, tanpa bantuan apapun termasuk tongkat demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari.  Bahkan   berbekal daya ingatnya yang kuat beliau masih mampu membantu mengingat nomor2 telpon penting ketika anak cucu membutuhkannya.  Dan dengan bekal hafalan Alquran yang sejak kecil telah dikuasainya, beliau bisa mengatasi kebutaannya itu dengan melantunkan ayat-ayat suci tersebut . Subhanallah …

Kisah lain datang dari sepupu saya. Ibunya yang telah berusia di atas 70 tahun, sejak  3 tahun lalu menderita kelumpuhan. Namun dengan cobaan tersebut, kegemarannya membaca Alquran makin memuncak. Tiada harii tanpa bacaan Alquranul Karim. Tekad kuatnya untuk tidak mau merepotkan orang lain direalisasikan dengan membagikan seluruh simpanan beliau.  Alhasil ketika beliau wafat beberapa waktu lalu tidak ada kerepotan putrinya untuk membersihkan, membongkar apalagi membagikan segala macam tetek bengek simpanan almarhumah.

Tetapi ada juga kisah-kisah sedih dari beberapa rekan dan kenalan.  Misalnya seorang yang sudah sepuh, lumpuh lebih dari 7 tahun tetapi  tidak bisa berbagi dengan istri tercinta.  Ini dikarenakan istrinya itu telah meninggalkan Islam yang semula dianutnya.  Ini memang terjadi jauh sebelum kelumpuhan, namun ketika kemudian beliau mengalami cobaan lumpuh, beliau tetap memilih untuk menjauh dari istrinya itu meski mereka tidak resmi bercerai.

Ada juga kisah seorang yang telah lanjut usia, yang di waktu sakratul maut tetap menolak kematiannya. “ Mengapa aku harus mati lebih dulu, padahal si A si B jauh si C lebih tua dari aku. Aku tidak mau mati, tidak mauuu  … «  …  Astaghfirullahaladzim …

Atau kisah seorang sahabat yang tidak seiman dengan ibundanya tercinta. Sahabat saya  itu lahir dari pasangan ayah ibu yang beda agama. Ayahnya Islam sedangkan ibunya Nasrani. Ayahnya telah lama meninggal dunia. Ibunya meninggal beberapa minggu lalu dalam usia 76 tahun. Ketika saya dan beberapa teman datang bertakziah, kami menyaksikan betapa sedih dan pilu hati sahabat kami tersebut. Betapa tidak, ia harus berdiri di sisi peti ibunya tercinta sembari mendengarkan  pastor dan puluhan kenalan ibunya menyanyikan lagu-lagu kebaktian Kristen. Apalagi harus menghadapi keyakinan apa yang bakal dihadapi ibu di alam kubur dan akhirat sebentar lagi.

Ada juga cerita tentang salah seorang bude saya yang ketika sakratul maut dikelilingi sepupu-sepupunya yang non Muslim. Dengan nekad mereka bahkan membawa seorang pastor untuk « membimbing » bude kami tercinta tersebut melewati detik-detik terakhir beliau. Padahal mereka tahu bahwa bude kami tersebut seorang Muslim, bahkan sudah berhaji.  Bersyukur saudara-saudara Muslim beliau segera datang dan menyuruh mereka meninggalkan ruangan. Akhirnya berkat pertolongan Allah swt bude sayapun wafat dengan tenang, dengan mengucap kalimat “Laa ilaaha illAllah””.لا إله إلا الله محمد رسول الله

Sementara itu kemarin teman saya bercerita bahwa ibunya, usia 75 tahun, tiba-tiba tidak bisa membedakan mana waktu Subuh mana waktu Ashar. Lebih menyedihkan lagi, beliau juga tiba-tiba lupa jumlah rakaat shalat padahal selama ini beliau tidak pernah meninggalkan shalat. Selain itu beliau juga merasa tidak mampu berdiri untuk shalat dan mandi sendiri padahal menurut teman saya beliau tidak mengalami gangguan apapun.  Apakah ini hanya bentuk protes beliau untuk mencari perhatian putrinya mengingat putrinya itu dalah putri satu-satunya dan selama ini sangat sibuk dengan kegiatan sosialnya yang membludak ???

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”. (QS. An-Nahl(16):70).

Maha Allah dengan segala firman-Nya.

Semoga kita dapat mengambil hikmah atas segala yang terjadi di sekeliling kita. Sungguh beruntung orang yang mau mempersiapkan hari tuanya, yang terbiasa mendengarkan dan menghafal ayat-ayat suci Al-quran tanpa menunggu hari tua atau hari-hari sakitnya. Yang banyak berinfak, menjaga silaturahmi dan yang terpenting, mendidik putra-putrinya agar menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Yang kelak ketika kita sakit atau membutuhkan kasih sayang atau perhatian mau mengorbankan waktunya untuk kita, dan ketika kita wafat kelak senantiasa mau mendoakan kita.

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang laki-laki dalam rangka menasihatinya : “Manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangnya) lima (keadaan yang lain) : masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, dan hidupmu sebelum matimu” ( HR. Bukhari Muslim).

Rasulullah Saw bersabda, “Tengoklah kuburan dan renungkanlah tentang kebangkitan setelah kematian! “. Nahjul Fashahah, hadis no. 331)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Februari 2015.

Vien AM.

Berbicara mengenai masuknya Islam di Papua, uztad Fadzlan bercerita,

“Nuu Waar adalah nama pertama untuk Papua, sebelum berubah menjadi Irian Jaya, kemudian Papua saat ini. Nuu Waar, dalam bahasa orang Papua, berarti cahaya yang menyimpan rahasia alam. Sedangkan Papua dalam bahasa setempat berarti keriting. Karena itu, komunitas Muslim lebih senang menyebutnya dengan Nuu Waar dibandingkan Irian atau Papua,” ujarnya kepada Republika, Februari lalu.

Menurut uztad ini,  Islam sebenarnya masuk lebih dulu ke Nuu Waar dibanding  Kristen, terutama di Fak-Fak.  Namun, karena misionaris lebih gencar menyebarkan ajarannya, ditambah lagi peran media yang condong membela ke Kristen, maka akhirnya Kristenlah kini yang terlihat dominan.  Wikipedia menuliskan bahwa Muslim di Papua adalah minoritas yaitu hanya 22.5 %. Itupun 15.5 % diantaranya bukan warga asli, alias pendatang (2010) (??).

 “Padahal, saat ini jumlah umat Islam di Nuu Waar kemungkinan lebih banyak daripada pemeluk Kristen. Itu sebabnya  pemerintah daerah tidak berani membuat angket untuk mengetahui jumlah yang sebenarnya”, tegas uztad Fadzlan.

Aktivitas dakwah Islam di Papua merupakan bagian dari rangkaian panjang syiar Islam di Nusantara. Berdasarkan buki-bukti yang ada, ditarik kesimpulan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia  sejak abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Daerah pertama yang didatangi oleh Islam adalah pesisir utara Sumatera, berlanjut dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu Kerajaaan Perlak, tahun 840, di Aceh.  Dari sinilah selanjutnya Islam menyebar ke pelosok Nusantara. Ada beberapa pendapat/teori mengenai penyebaran Islam ke Papua. Diantaranya adalah teori Bacan.

Teori Bacan menyimpulkan bahwa Islam telah masuk ke Papua pada era kerajaan Bacan berkuasa melalui  wali Ja’far As-Shadiq (1250 M), melalui keturunannya syiar Islam menyebar ke Sulawesi, Filipina, Kalimantan, Nusa Tenggara, Jawa dan Papua.  Pendapat ini didukung oleh sumber-sumber Barat, meski waktunya tidak sama.  Menurut mereka pada abad ke XVI sejumlah daerah di Papua bagian barat, terutama yang di wilayah pesisir, yakni wilayah-wilayah Waigeo, Missool, Waigama, dan Salawati, telah tunduk kepada kekuasaan Sultan Islam Bacan di Maluku.  Sementara yang dipedalaman masih tetap menganut faham animisme.

Sementara bukti lain mencatat bahwa pada tahun 1214 M, rombongan ekspedisi kerajaan Samudra Pasai  dibawah Syekh Iskandarsyah telah datang ke Papua. Mereka masuk melalui Mes, ibukota Teluk Patipi saat itu.

Dalam “The Preaching of Islam” karya Thomas W. Arnold, dinyatakan bahwa Islam memasuki Papua,  secara langsung maupun tidak langsung, karena pengaruh kerajaan Islam Demak. Kerajaan ini berkuasa setelah mengalahkan kerajaan Majapahit  Hindu Budha  pada tahun 1527.

Kajian oleh L.C. Damais dan de Casparis dari sudut paleografi membuktikan telah terjadi saling pengaruh antara dua kebudayaan yang berbeda (yakni antara Hindu-Budha dan  Islam) pada awal perkembangan Islam di Jawa Timur. Data-data tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya dakwah Islam sudah terjadi terjadi jauh sebelum keruntuhan total kerajaan Majapahit di tahun 1527M. Dengan kata lain, ketika kerajaan Majapahit berada di puncak kejayaannya, syiar Islam juga terus menggeliat melalui jalur-jalur perdagangan di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Majapahit di delapan mandala (meliputi seluruh nusantara) hingga Malaysia, Brunei Darussalam, dan seluruh kepulauan Papua.

Berikut beberapa bukti peninggalan sejarah Islam yang ada di pulau Papua  :

  1. Tradisi lisan masih tetap terjaga sampai hari ini yang berupa cerita dari mulut ke mulut tentang kehadiran Islam di Bumi Cendrawasih.
  2. Naskah-naskah dari masa Raja Ampat dan teks kuno lainnya yang berada di beberapa masjid kuno.
  3. Di Fakfak, Papua Barat dapat ditemukan 8 atau 9 manuskrip kuno berhuruf Arab. Lima manuskrip berbentuk kitab dengan ukuran yang berbeda-beda, yang terbesar berukuran kurang lebih 50 x 40 cm, yang berupa mushaf Al Quran yang ditulis dengan tulisan tangan di atas kulit kayu dan dirangkai menjadi kitab. Sedangkan keempat kitab lainnya, yang salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadits, ilmu tauhid, dan kumpulan doa. Kelima kitab tersebut diyakini masuk pada tahun 1214 dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari kerajaan Samudra Pasai yang datang menyertai ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk melalui Mes, ibukota Teluk Patipi saat itu. Sedangkan ketiga kitab lainnya ditulis di atas daun koba-koba, Pohon khas Papua yang mulai langka saat ini. Tulisan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung yang terbuat dari bambu. Sekilas bentuknya mirip dengan manuskrip yang ditulis di atas daun lontar yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia Timur.
  4. Masjid Patimburak yang didirikan di tepi teluk Kokas, distrik Kokas, Fakfak yang dibangun oleh Raja Wertuer I yang memiliki nama kecil Semempe.

Sementara kedatangan misionaris Kristen tercatat pada pernyataan berikut,  “Dalam Nama Allah kami menginjak kaki di Tanah ini“. Inilah Kalimat awal yang diucapkan dua misionaris Papua yakni Johan Gottlob Geissler dan C.W. Ottow, Pada tanggal 5 Februari 1855 dengan kapal Ternate membuang sauhnya di depan pulau Manansbari (Mansinam) Manokwari -Papua barat).

Kedua misionaris itu bisa masuk ke pulau Manansbari  berkat kebaikan raja Islam Tidore yang memberikan kedua orang tersebut surat rekomendasi.  Akhirnya Manokwaripun, sebagai salah satu kota besar di Papua berhasil di-Kristenkan, hingga hari ini. Namun harus diingat awal semua ini tak lepas dari pertarungan politik serta  peran negara-negara Barat penjajah seperti Belanda dan Spanyol yang ingin menguasai rempah-rempah dan hasil bumi Nusantara  yang begitu berlimpah.

Yang juga patut menjadi catatan, ketika para misionaris datang menyerbu Papua,  sejumlah kerajaan kecil Islam di Papua masih bertebaran, kerajaan Patipi adalah salah satunya. Sebaliknya ada juga sebagian  Papua yang rakyatnya masih animism, meski jumlahnya tidaklah banyak. Mereka ini adalah yang tinggal di pedalaman-pedalaman yang sulit dijangkau, sehingga ajaran Islam belum masuk. Ironisnya, inilah yang di kemudian hari dibesar-besarkan dan sering dijadikan model dan contoh keterbelakangan Papua, bahkan sengaja dipertahankan atas alasan warisan budaya.  Selain juga dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk mengaburkan peradaban Islam yang sejak berabad-abad lamanya telah menerangi Nuu Waar, nama yang lebih disukai rakyat daripada Papua yang terkesan membodohi .

Padahal selama abad 14 dan 15 kesultanan Ternate yang juga pernah menguasai sebagian Papua, sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur, bersama  Aceh dan Demak yang menguasai wilayah barat dan tengah Nusantara kala itu, tengah mengalami masa keemasannya. Bahkan di masa pemerintahan Sultan Bayanullah (1500-1521), syariat Islam pernah diterapkan di kerajaan tersebut. Teknik pembuatan perahu dan senjata yang diperoleh dari orang Arab dan Turki digunakan untuk memperkuat pasukan Ternate dari serangan musuh. Tapi entah sengaja atau tidak, peran ke 3 kerajaan tersebut telah dikesampingkan dalam sejarah bangsa ini padahal mereka adalah pilar pertama yang membendung kolonialisme Barat.

Anehnya lagi, hari ini ketika uztadz Fadzlan dengan AKFN nya berkiprah dan berjuang mati-matian mengangkat harkat dan martabat masyarakat Papua yang terpinggirkan, para pendeta dan pemeluk Kristen Papua justru merasa kebakaran jenggot.

“ Orang Kristen tidak boleh cemburu. Yang seharusnya cemburu adalah umat Islam, karena selama ini umat Islam di Papua kurang sekali mendapat fasilitas. Justru yang sering mendapat fasilitas adalah mereka (Kristen), baik dari negara maupun hasil kekayaan alam negeri yang mereka ambil. Otsus itu mereka yang makan semua, sementara umat Islam tidak mendapat. Bukankah selama ini seluruh orang Kristen, misionaris dan gereja, menggunakan pesawat modern, tapi umat Islam tidak pernah mengganggu. Kok dengan kapal kecil saja mereka cemburu. Tidak ada yang melarang. Yang jelas, saat ini belum ada gangguan terhadap dakwah AFKN.  Irian itu negeri Muslim kok,” demikian tanggapannya, santai.

Mari kita dukung kegiatan positif uztad Fadzlan dan timnya demi mengembalikan rakyat Nuu Waar ke arah masyarakat yang maju dibawah lindungan Sang Khalik, Allah swt,  Sang Penguasa alam semesta yang sebenarnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 Februari 2015.

Vien AM.

Bagi yang berminat berpartisipasi membantu kemajuan Nuu Waar, kirim zakat infak sodaqoh anda ke

BCA cabang Fak-Fak norek 0911 3180 31 an Mz Fadzlan Garamatan. Saat ini uztad Fadzlan sedang bersiap-siap membangun sebuah masjid besar di Patipi, Fak-Fak.

Seorang laki-laki berkulit gelap berjenggot lebat, berjalan memimpin 7 orang rekannya memasuki sebuah  hutan belantara di Papua. Sebelumnya sang pemimpin sudah mengingatkan rekan-rekannya tersebut  bahwa perjalanan ini beresiko dijegat kawanan orang-orang berpanah beracun.

“Segeralah menyelamatkan diri bila saya sampai terkena panah”, begitu ia berpesan berulang kali.

Ternyata hal itu benar-benar terjadi. Maka segera ke 7 rekan tersebutpun menyelamatkan diri. Tinggalah sang pemimpin yang terkulai lemas akibat gempuran panah beracun. Namun ia tetap tegar dan berusaha berdiri untuk menyelamatkan diri meski harus jatuh bangun berkali-kali. Hingga akhirnya timbul rasa kasihan sang pemimpin adat, dan memerintahkan anak buahnya agar menghentikan tembakan panah mereka.

Kemudian ia mendekati musuh yang telah tak berdaya tersebut, dan menawarkan bantuan. Laki-laki tersebut hanya berkata pendek, minta dibebaskan dan diantarkan ke perbatasan desa. Namun ternyata sang pemimpin adat tidak hanya mengantarnya ke tempat yang diinginkan, melainkan hingga ke RS besar di Makasar. Bahkan selama perjalanpun tak henti-hentinya ia memberikan pengobatan dengan tumbuh-tumbuhan yang dijumpai di sepanjang perjalanan.  Dan hebatnya lagi, begitu sang pemimpin adat kembali ke desanya, ia memutuskan untuk masuk Islam, tak tanggung-tanggung, dengan mengajak rakyatnya pulak!

Itulah sekelumit kisah pengalaman yang diceritakan laki-laki yang tak lain adalah uztadz Fadzlan Garamatan. Putra asli Papua ini berdakwah dengan cara membina komunikasi yang baik dengan orang yang didakwahinya. Dan hasilnya memang sungguh mengagumkan, selama 19 tahun ia berdakwah,  tercatat 45% warga asli memeluk Islam. Ia menyebutkan sekitar 221 suku “kembali”ke pangkuan Islam. Jumlah warga tiap suku bervariasi, mulai dari ratusan sampai ribuan. Jadi bila diambil rata-rata tiap suku seribu orang, maka kerja keras Ustad Fadlan sudah mengislamkan 220 ribu orang Papua pedalaman. Ditambah ratusan masjid yang sekarang ini bisa ditemui di pulau ujung timur Indonesia ini.

Selain dengan dialog uztad Fadzlan juga berdakwah dengan mengajarkan kebersihan.  Ia mengajarkan bahwa manusia perlu setiap hari mandi, dengan menggunakan air dan sabun, bukan dengan lemak babi 3 bulan sekali seperti yang selama ini mereka lakukan. Itu sebabnya uztadz yang gemar berjubah ini juga dikenal dengan sebutan uztadz sabun.  Memang kemanapun sang uztadz berjalan ia selalu membawa sabun untuk dibagi-bagikan secara gratis.

Fadzlan Rabbani Al-Garamatan  lahir pada 17 Mei 1969 di Patipi, Fak Fak, Papua Barat. Ayahnya yang masih merupakan keturunan raja Patipi, bernama Machmud Ibnu Abu Bakar Ibnu Husein Ibnu Suar Al-Garamatan dan ibunya adalah Siti Rukiah binti Ismail Ibnu Muhammad Iribaram.  Tak percuma rupanya jerih payah keduanya mendidik putranya sejak kecil belajar Al-Quran, khususnya ayahnya yang memang seorang guru SD sekaligus guru mengaji di Patipi.

‘Kami di Papua, khususnya di kampung kami, ketika masuk SD kelas 1 sudah harus belajar Alquran” tuturnya.

Mungkin ini di luar dugaan, karena umumnya orang Indonesia beranggapan bahwa Islam belum begitu menyentuh tanah Papua, bahwa Papua adalah pulau milik misionaris. Nyatanya yaitu tadi, ustad Fadzlan yang lahir pada tahun 1969, sejak usia sebelum SD sudah mengenal Al-Quran, dan itu bukan hanya dirinya sendiri namun juga anak-anak SD di seluruh kampungnya.  Itu pula sebabnya, sarjana ekonomi lulusan fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar tahun 80’an ini lebih memilih jalan dakwah dari pada mengejar kesuksesan ilmu yang susah payah ditekuninya itu.

“Saya punya kewajiban. Bukan saya pribadi, tapi bangsa Indonesia ini akan bertanggung jawab kepada Allah ketika hari kiamat, Tuhan bertanya, kenapa Anda sudah menjadi Muslim Anda biarkan mereka begitu? Apalagi dengan membiarkan mereka tetap telanjang. Kedua, di Indonesia ini orang Irian yang pertama melakukan shalat Subuh, pertama shalat Idul Fitri, pertama shalat Jumat, pertama buka puasa. Ini berarti ada satu rahasia Allah yang perlu orang Islam di negeri ini menyampaikan ke semua orang”.

Untuk itu pula ia rela menempuh perjalanan 12 hari hingga 3 bulan dengan berjalan kaki, ke pelosok hutan, lembah dan pegunungan, demi memperkenalkan ajaran Islam. Banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi. Mulai dari luasnya wilayah, kondisi alam yang sulit karena terjal dan berbatu, hingga sesekali bertemu dengan binatang buas.  Namun ini semua tidak mengurangi tekadnya untuk menegakkan kalimat Allah di bumi yang ia cintai itu.

Rintangan bukan hanya kondisi alam saja, tetapi juga respons dari penduduk setempat. “Terkadang ada juga yang melemparkan tombak bahkan panah. Ya, itu sudah biasa kami alami. Namun itu belum seberapa dibandingkan perjuangan Rasulullah. Beliau bahkan diusir dari negerinya (Makkah), karena ketidaksukaan penduduknya menerima dakwah Rasul. Namun beliau tetap sabar. Karena itu pula, kami pun harus sabar,” terangnya.

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah(2):153).

Tempat yang pertama kali dikunjungi adalah lembah Waliem, Wamena. Dengan konsep kebersihan sebagian dari iman, ustad Fadzlan mengajarkan mandi besar kepada salah satu kepala suku. Ternyata ajaran itu disambut positif oleh sang kepala suku. ”Baginya mandi dengan air, lalu pakai sabun, dan dibilas lagi dengan air sangat nyaman dan wangi,” jelasnya.

Sungguh ironis, Papua yang dikenal sebagai salah satu penghasil emas terbesar di Indonesia, sumber daya alam lainnya pun melimpah namun ternyata kekayaan itu tidak mampu mengangkat derajat hidup masyarakatnya. Sebagian besar masyarakat masih hidup dalam kemiskinan, bahkan sebagian penduduk asli masih tinggal di pedalaman dengan fasilitas yang masih amat sangat minim, dengan penutup tubuh ala kadarnya pula! Ini yang memicu Fadzlan ingin memajukan rakyatnya.

Bekerja sama dengan Baitul Maal Mu’amalat (BMM), ia mendirikan lembaga sosial dakwah dan pembinaan SDM kawasan Timur Indonesia yang diberi nama Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN). Yayasan ini kini telah memiliki kapal sendiri hingga tidak perlu lagi bergantung bantuan pihak lain untuk mengatasi masalah transportasi. Kapal laut dakwah untuk Muslim Papua itu dibeli dengan harga Rp 600 juta, hasil wakaf infak sodaqoh umat Islam. Kapal yang memiliki panjang 13,5 m dan lebar 3,3 meter ini mampu menampung 20 penumpang dan beban seberat 10 ton, juga dilengkapi standar keselamatan seperti rakit penyelamat, ringboy, karet pelampung serta alat komunikasi.

Melalui yayasan ini, ia dan rekan-rekannya mengajak masyarakat Papua mandiri. Yaitu dengan mencarikan kesempatan anak-anak muda setempat agar dapat mengenyam pendidikan di luar Papua, supaya sekembalinya nanti dapat ikut membangun masyarakat Papua yang maju dibawah sinar dan bimbingan Allah swt.

sabun mandi

sabun mandi

manisan buah pala

manisan buah pala

AFKN juga telah berhasil membina masyarakat untuk dapat memproduksi  berbagai produk lokal diantaranya sabun mandi, buah merah, ikan asin, dan manisan pala.  Dan hasilnya, dibawah merk BMM AFKN, telah dikirim ke berbagai kota di luar pulau, bahkan sagu Papua sudah sampai ke daratan India!

Bekerja sama dengan Badan Wakaf Qur’an, AKFN  juga pernah mendatangkan ribuan Al-Qur’an sumbangan Muslim seluruh Indonesia untuk di tadaburi masyarakat di Papua yang merasa membutuhkannya.  Pernah juga menyelenggarakan khitanan massal agar rakyat terhindar dari penyakit, penyakit kelamin khususnya. AKFN juga telah berhasil membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di pedalaman Papua, yang rencananya akan ditempatkan di Kaimana.

(Bersambung ke :  https://vienmuhadi.com/2015/02/17/mengenal-uztad-fadzlan-dan-masuknya-islam-di-papua-2/ )

Black Hole atau lubang hitam, kata-kata ini tentu saja tidak akan asing bagi Anda yang mengerti ilmu sains khususnya di bidang astronomi. Black hole atau lubang hitam adalah bagian dari Ruang Waktu yang merupakan gravitasi paling kuat, bahkan cahaya tidak bisa kabur. Teori Relativitas Umum memprediksi bahwa butuh massa besar untuk menciptakan sebuah Lubang Hitam yang berada di Ruang Waktu. Di sekitar Lubang Hitam ada permukaan yang di sebut Event Horizon.

black-holeLubang ini disebut “hitam” karena menyerap apapun yang berada disekitarnya dan tidak dapat kembali lagi, bahkan cahaya. Seperti yang kita ketahui, Black Hole dibagi menjadi dua macam yaitu Stellar dan Supermassive Black Hole. Stellar Black Hole terjadi setelah bintang mati berada di galaxy tetapi tidak dipusatnya. Sedangkan Supermassive black Hole terbentuk jika berada dipusat galaxy.

Bagaimana bintang bisa mati? Pada bintang terjadi reaksi fusi, yaitu bersatunya dua atom ringan menjadi atom yang lebih berat, 2 atom hidrogen saling bertabrakan sehingga terbentuk hellium yang membuat bintang menyala. Selama bahan bakar masih ada reaksi fusi itu akan terus terjadi, namun jika bahan bakar habis maka suatu bintang akan mati. Bintang yang mati akan menjadi White Dwarf untuk bintang yang berukuran kecil, menjadi Nebula untuk bintang berukuran sedang (contohnya Matahari), menjadi Supernova jika ukurannya 8 kali Matahari, menjadi Balck Hole untuk bintang berukuran 25 kali Matahari.

Al Quran sedikit memberi gambaran mengenai Red Giant dalam QS. 55 ayat 37. Black Hole sendiri bisa dianalogikan suatu bola yang berdiameter beberapa cm saja, namun massanya sama dengan bumi, hal ini menyebabkan gravitasi Black Hole menjadi sangat tinggi.

Dengan demikiran semua benda yang ada disekitarnya akan tertarik bahkan cahaya pun akan tertarik sehingga warnanya menjadi hitam. Black Hole menarik, menekan, dan membersihkan setiap sesuatu yang ditemuinya dalam perjalanannya. Peristiwa ini sedikit digambarkan dalam Surat At-Takwir ayat 15-16.

Selain itu dalam Surat At-Thaariq juga digambarkan mengenai bintang yang cahayanya menembus.

  1. Wassamaai Wa At-Thaariq ( Demi langit dan At-Thaariq)
  2. Wamaa Adraakama tthaariq? (Tahukah kamu apa itu At-Thaariq itu?)
  3. “Annajmu Atssaaqib” ( (yaitu) bintang yang cahayanya menembus, )

Dari ketiga ayat tersebut ada dua kata yang perlu ditekankan yaitu kata At-Thaariq dan Attsaqib. At-Thaariq berasal dari Tha–ra–qa, berarti memukul dengan palu. Bagaimana suatu benda yang dipukul dengan palu? tentu akan menimbulkan getaran yang cukup keras.

Bagaimana kalau ukuran benda itu begitu besar? tentu getarannya juga dasyat. Dari akar kata tersebut bercabang menjadi beberapa kata yang artinya bisa jalan atau cara atau metode (At-Tariiqah), kekuatan (At-Thirqu), dan yang datang pada malam hari atau bintang dini hari (At-Thaariq).

At-Tsaqib dalam kamus Al-Munawir berasal dari kata Tsa–qa–ba. Tsaqaba berarti menembus, melubangi. Jadi At-Tsaqib bisa diartikan yang tembus atau berlubang. Maka tidak salah jika dalam terjemahnya DEPAG mengartikannya “Bintang yang cahayanya menembus”.

Inilah kebenaran bahwa sebaik-baik bacaan adalah Al-Quran. Begitu pentingnya membaca Al-Quran, bahkan tanpa tahu maknanya dan masih terbata-bata membacanya masih mendapatkan pahala.

Apalagi yang dapat memaknai kandungan Al-Quran, tentu akan mendapatkan manfaat yang banyak dalam kehidupannya. Akhirnya hanya orang-orang yang mau menggunakan hati dan akalnya yang akan dapat menerima kebenaran.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 11 Februari 2015.

Vien AM.

Dicopy dari : http://www.makintau.com/2014/12/black-hole-dalam-al-quran-surat-at.html

Pada 15 Oktober 2003 seorang astronot melaporkan bahwa ia mendengar pintu pesawat luar angkasa yang ditumpanginya seperti di gedor orang dari luar. Suara kencang tersebut tidak hilang hingga beberapa lama. Sang astronot sempat panik dan ketakutan setelah ia memeriksa dan yakin bahwa tidak ada masalah dengan pesawatnya.

Pihak NASA tidak dapat menjelaskan kejadian aneh tersebut. Mereka hanya bisa menyimpulkan kemungkinan berasal dari suatu benda langit yang dilewati pesawat tersebut. Namun sejumlah cendekiawan Muslim berkeyakinan bahwa benda langit tersebut adalah At-Thaariq yang disebutkan dalam Al-Quranul Karim sebagaimana dijelaskan di atas. At-Thaariq yang akar katanya adalah tho-ro-qo yang artinya memukul dengan kencang … Waallahu’alam …

Paris 7 januari 2015, terjadi penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo  di Paris 15. Dikabarkan 12 orang tewas dalam aksi rentetan serangan brutal di tengah hari bolong itu. Yang membuat orang lebih tersentak lagi, penyerangnya adalah 2 orang kakak beradik beragama Islam. Kabarnya keduanya mengklaim sebagai wakil dari Alqaeda Yaman.

Tragedi berdarah ini langsung mengingatkan saya pada peristiwa 14 tahun silam ketika kami berada di Paris, yaitu serangan 9/11. Ada kesamaan dalam peristiwa tersebut, yaitu Islamlah yang dituduh biang keroknya. Paling tidak itulah yang dipublikasikan begitu tragedi terjadi, padahal pelakunya saja belum tertangkap.

Maka tak ayal, masjidpun sontak dijadikan sasaran balas dendam. Juga kaum Muslimah yang mudah dikenali karena jilbabnya. Sebaliknya, sinagog dan sekolah-sekolah Yahudi yang ada di seluruh penjuru Perancis langsung mendapat perlindungan ketat ! Apa hubungannya???  Yang lebih mengerikan lagi adalah pernyataan George W Bush, presiden AS ketika itu, yaitu : “Either you are with us or you are with the terrorists!”. Ini adalah sebuah pernyataan yang sangat berbahaya, seolah di dunia ini hanya 2 kubu, pendukung Bush sebagai orang baik, di lain pihak, yang tidak pro Bush, adalah teroris. Dan itu adalah Islam, sang teroris. Sejak itu, Islamphobia, ketakutan terhadap Islampun berkembang cepat di Barat.

Namun anehnya, justru sejak itu pula peminat Islam di Barat malah meningkat pesat. Ini benar-benar di luar dugaan siapapun.  Ternyata rasa  penasaran terhadap ajaran Islam, sebuah agama di luar sana, yang sebelumnya tidak pernah mereka dengar, membuat mata mereka terbuka lebar. Harap maklum, rata-rata sekolah di Barat tidak mengajarkan dan memperkenalkan Islam sebagai salah satu agama besar di dunia. Tak heran bila tak lama kemudian merekapun bersyahadat.  Allahuakbar …

Saat ini, saat terjadinya tragedi berdarah minggu lalu, Muslim di Perancis tercatat telah mencapai 5 juta orang atau sekitar 8 % total penduduk negri ini. Sebagian besar adalah warga Perancis keturunan Maroko, Aljazair dan Tunisia yang merupakan Negara bekas jajahan Perancis. Ini tentu saja tidak terlepas dari kerja keras dan susah payah pada dai dan ulama setempat untuk memperkenalkan Islam, untuk membuang kesan dan bayangan Barat terhadap Islamophia, sekaligus memberi pencerahan bagi yang bersungguh-sungguh dan penasaran mengenal Islam.

Maka tak heran bila merekalah pihak yang paling kecewa terhadap tindakan brutal kakak beradik Kouachi. Itu pula sebabnya Tariq Ramadhan, tokoh Muslim Perancis/Swiss, cucu tokoh kenamaan Mesir Hasan Al-Banna, menyatakan bahwa tindakan keduanya adalah bentuk pengkhianatan mereka terhadap Islam.

Pertanyaannya, ada apa dengan  Charlie Hebdo ( Hebdo adalah singkatan dari hebdomadaire yang artinya mingguan), mengapa tabloid mingguan ini yang menjadi sasaran kebiadaban Kouachi bersaudara.

Bagi sebagian Muslim sepak terjang  tabloid ini mungkin tidak asing. Tabloid yang mengkhususkan diri sebagai tabloid satir ini sering menerbitkan kartun Rasulullah dengan berbagai gaya. Tapi yang paling sering adalah  yang merendahkan dan melecehkan. Tentu saja ini amat sangat menyakitkan hati kaum Muslimin. Jangankan kartun  yang buruk bahkan yang baik saja pasti beresiko mendatangkan penentangan. Karena Islam memang melarang penggambaran nabi.

Alasan utama pelarangan tersebut  adalah kekhawatiran timbulnya penyembahan/penuhanan seperti yang terjadi pada nabi Isa as. Patut diingat, patung-patung nabi Isa as dan ibunda Maryam binti Imran yang banyak ditemui di gereja di seluruh pelosok dunia diawali  dengan adanya penggambaran beliau.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, sebagian isteri beliau menyebut-nyebut sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah yang disebut dengan Maria. Ummu Salamah dan Ummu Habibah radhiyallahu‘anhuma pernah mendatangi negeri Habasyah, mereka menyebutkan tentang kebagusannya dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka beliau pun mengangkat kepalanya, lalu bersabda: “Itulah orang-orang yang bila ada orang sholih di antara mereka yang mati, mereka membangun masjid ( rumah ibadah) di atas kuburannya kemudian membuat gambar-gambarnya. Itulah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” [HR. Ahmad dan Al-Bukhari]

Berikut alasan mengapa Islam melarang penggambaran sosok Rasulullah.

( https://m.facebook.com/notes/cah-bagus-menjawab-fitnah-misionaris/kenapa-islam-melarang-menggambar-sosok-nabi-muhammad-saw/361202847315747/ ).

Sementara ganjaran bagi orang yang menghina Rasulllah juga jelas yaitu hukuman mati. Ini tercermin dari kisah seorang buta yang hidup di zaman Rasulullah. Orang buta ini mempunyai budak perempuan yang setiap hari selalu mengolok-olok nabi. Si orang buta berkali-kali memperingatkan agar ia menjaga mulutnya tapi ia tidak mau mendengarkannya. Hingga akhirnya habislah kesabaran si orang buta, lalu menyuruh putranya agar membunuhnya. Dan ketika akhirnya kasus ini dilaporkan kepada Rasulullah, beliau hanya berujar ““Saksikanlah bahwa darah wanita itu hadar / sia-sia” .

( Baca :http://www.arrahmah.com/kajian-islam/hukum-bunuh-atas-orang-yang-menghina-islam-allah-dan-rasul-nya.html#sthash.XuI4WBPw.dpuf ).

Hukuman berat ini bukannya tanpa dasar yang kuat. Karena sejatinya fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Seperti kita ketahui,  akibat fitnah bisa merusak anak keturunan. Apalagi fitnah terhadap Rasulullah yang merupakan pemimpin bahkan panutan umat Islam. Ini bisa merusak rasa hormat dan kecintaan tidak hanya kepada Rasulullah namun juga kepada ajaran yang dibawa beliau, yaitu Islam. Itu sebabnya Al-Quran secara jelas memerintahkan kita agar menghormati, mentaati dan mencintai beliau, lebih dari kepada kedua orang-tua bahkan diri kita sendiri.

“ Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(QS. At-Taubah(9):24).

Dari Anas bin Malik Rasulullah bersabda  “Seseorang tidak dapat dianggap beriman sampai rasa cintanya kepadaku melebihi rasa citanya kepada anaknya, kepada orang tuanya, dan kepada semua manusia”.(HR. Bukhari Muslim).

Namun hukum ini hanya berlaku dimana hukum Islam dijalankan, itupun aparat negara yang menjalankannya, bukan perorangan. Jadi apa yang terjadi di Paris beberapa waktu lalu sama sekali tidak dapat dibenarkan.  Apalagi bila hal tersebut malah membahayakan komunitas Islam di tempat tersebut, dengan kata lain lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.

Ironisnya inilah yang dimanfaatkan musuh-musuh Islam. Dengan dalih kebebasan berekspresi mereka mencemooh Rasulullah. Ini bukan kali pertama tabloid Barat memunculkan karikatur bernada melecehkan dan menghina nabi saw. Memang bukan hanya nabi Muhammad saw saja yang menjadi target pelecehan, nabi Isapun tak luput dari perbuatan konyol tersebut.

Bahkan tak sampai seminggu setelah tragedi berdarah di Paris, tabloid ini kembali nekad menerbitkan karikatur nabi sedang menangisi tragedi yang baru berlalu itu sebagai sampulnya.  Tak tanggung-tanggung mereka mencetak berkali lipat banyaknya, yaitu 5 juta eksemplar padahal biasanya hanya 60 ribu. itupun kabarnya masih juga kekurangan, karena rakyat Perancis menyerbu dan rela mengantri panjang untuk mendapatkannya.

Presiden Perancis,  Francois Hollande, dalam pidatonya menyatakan bahwa  tak ada satupun pihak yang dapat menekan kebijakan negaranya dalam kebebasan berekspresi. Sungguh ironis, Perancis yang katanya negara maju dan beradab, ternyata tidak mau menghormati dan menghargai perasaan kelompok lain. Pidato tersebut diucapkan pada acara long march yang diadakan pemerintah di Place de la Republique di Paris dan dihadiri oleh sekitar 40 wakil pemimpin Negara dunia. Long march ini diadakan beberapa hari setelah tragedi, untuk menunjukkan perang terhadap terorisme.

Lucunya  Benyamin  Netanyahu juga hadir di antara mereka. Tentu saja ini mengundang kecaman banyak orang termasuk presiden Turki , Recep Tayyip Erdogan. Sungguh tak tahu malu, Israel yang telah membantai ribuan rakyat Palestina, Gaza khususnya, berani-beraninya datang  menghadiri acara ini, begitu antara lain bunyi kecaman Erdogon lantang.

Parahnya lagi, paska tragedi tersebut lahir slogan baru “Je suis Charlie” ( “Saya Charlie”) sebagai penghormatan dan simpati mereka kepada para korban. Apakah mereka tidak sadar bahwa sebagian besar korban tersebut adalah para kartunis yang telah memprovokasi kemarahan umat Islam dan dengan begitu mereka telah menempatkan diri sebagai provokator juga ?? Meski pembantaian tersebut sama sekali menyalahi ajaran Islam dan patut dikutuk.

Bersyukur tidak semua orang Perancis bersikap seperti itu.  Charles Phillippe, seorang bangsawan Perancis dari Orleans  menyatakan, dari dulu ia tidak pernah merasa simpatik kepada Charlie Hebdo. Tabloid ini kasar, dengan berlindung dibawah slogan kebebasan berekspresi  mereka  mengadu domba pemeluk antar agama serta menjadikannya lelucon yang sama sekali tidak lucu. Menurutnya tabloid ini adalah gambaran masyarakat atheis Eropa haluan kiri yang tidak menghormati persaudaraan Perancis. Oleh karenanya saya nyatakan “ Je ne suis pas Charlie” ( Saya bukan Charlie). Saya ikut berduka kepada para korban tapi tidak untuk Charlie Hebdo, lanjutnya.

Kabar gembira juga datang dari seorang sineas Perancis bernama Isabelle Matic. Perempuan ini bersyahadat tak lama setelah tragedi berdarah tersebut terjadi. Yang menarik, di akun FB nya ia berpesan agar umat Islam tidak usah menanggapi ulah para kartunis tersebut. Karena sebenarnya yang mereka olok-olok itu bukan nabi kita tercinta Muhammad saw, tapi seseorang yang mereka ciptakan dan bayangkan sendiri. “Keheningan akan membungkam kekurang-ajaran mereka”, tulisnya.

Namun demikian ada hal penting lain yang sebaiknya kita renungkan, yaitu, pantaskah kita umat Islam yang harus menanggung kesalahan kedua Kouachi bersaudara, hanya karena mereka beragama Islam? Hingga masjid-masjid dan kaum Muslimah di seluruh Perancis harus was-was menerima pembalasan ??  Adakah terbukti bahwa mereka bersikap demikian karena tuntutan agama? Yang pasti kita akan pernah tahu jawabannya karena keduanya  telah tewas ditembak, dan dari kesaksian orang yang mengenal mereka, mereka bukan termasuk orang-orang  yang taat pada agama dan ajarannya, mereka bahkan dikenal sebagai peminum, pecandu narkotika  dan main perempuan ! Jadi jelas mereka tidak mewakili Islam.

Hal lain, ada beberapa kejanggalan pada tragedi ini, diantaranya ditemukannya kartu identitas pelaku di dalam mobil sewaan yang mereka gunakan untuk pembantaian. Ini ternyata tak luput dari perhatian Jean-Marie Le Pen, politikus Perancis yang dikenal amat sangat anti Islam. Dalam wawancaranya dengan majalah Rusia,  Komsomolskaïa Pravda, ia berkata bahwa peristiwa penembakan tersebut merupakan sebuah konspirasi tingkat tinggi. Bukan oleh pemerintah Perancis namun pemerintah merestuinya. Meski ketika dimintai konfirmasi oleh BFMTV, Marine Le Pen, putri Le Pen sekaligus presiden partai mereka, meminta agar tidak terlalui mempercayai koran Rusia tersebut.

Yang pasti, Helric Fredou, seorang deputi direktur jendral polisi yang diserahi tanggung jawab menanyai salah satu keluarga korban, telah bunuh diri dan batal menyerahkan laporan mengenai penyelidikannya tersebut.  Memang belum ada laporan resmi apakah perbuatan nekadnya itu berkaitan dengan kasus yang sedang ditanganinya.

Yang juga menarik, pada tahun 2009, Maurice Sinet, 86, seorang kartunis yang bekerja di Charlie Hebdo dipecat dari kantor tempatnya bekerja. Ia dipecat karena mengolok-olok putra Sarkozy presiden Perancis waktu itu, yang menikahi seorang putri konglomerat Yahudi. Ia membuat karikatur seolah-olah putra mantan presiden itu berpindah agama mengikuti istrinya karena uang. Selanjutnya Sinet diminta untuk minta maaf dengan tuduhan telah melakukan perbuatan Anti-Semit, yaitu perbuatan mengolok-olok Yahudi, namun ia menolak. Akhirnya iapun dipecat.  Pertanyaannya, dimana kebebasan berekspresi diletakkan ???

 ( Baca : http://www.suaranews.com/2015/01/tahukah-anda-kemunafikan-charlie-hebdo.html ).

Ini pula yang terjadi pada pelawak Perancis Dieudonne. Ia ditangkap tak lama setelah pembantaian di Charlie Hebdo karena dianggap  membela terorisme. Ia rupanya memasang pernyataan di media sosial yang mendukung para penyerang tersebut. Dieudonne dikenal karena sikapnya yang blak-blakan di masa lalu, terutama karena mempopulerkan sebuah gerakan lengan yang oleh sebagian orang dianggap anti-Semit karena menyerupai tanda salut Nazi. Sementara dari Denmark dikabarkan, seorang pemuda Muslim berusia 23 tahun ditangkap dan dipenjarakan gara-gara ucapan “Alhamdulillah” di media sosial berkenaan dengan peristiwa berdarah tersebut.

Sementara itu ketika umat Islam sedang was-was karena terpaksa menerima serangan balas dendam orang-orang tak dikenal,  polisi dan tentara Perancis dikerahkan secara besar-besaran untuk melindungi sekolah-sekolahYahudi di seluruh pelosok Perancis.  Ada apakah  ini sebenarnya ???

Apapun alasannya, umat Islam harus menyadari peperangan akhir zaman yang telah diprekdisi Rasulullah 14 abad silam pasti akan terjadi. Dan peperangan itu antara kaum Muslimin vs Yahudi dengan Zionisnya dibawah Dajjal si mata satu. Sungguh ironis bila ternyata ada sebagian kaum Muslimin yang tidak mempercayai ramalan ini. Sementara orang-orang Yahudi telah mempersiapkan diri secara matang. Bukti paling mudah adalah pepohonan yang mereka tanam secara besar-besaran di tanah Palestina yang mereka duduki secara ilgal. Mereka bahkan menjualnya dengan imbalan sertifikat. Pohon apakah gerangan??

“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi. ” (HR Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu’lu’ wa al-Marjan III/308).

( Baca :   http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/zionis-yahudi-berlomba-tanami-pohon-ghorqod-di-tanah-palestina.htm#.VL0UtdKUde4 ).

Pendudukan tanah Palestina oleh Zionis Israel juga bukannya tanpa alasan. Mereka meyakini disinilah nantinya perang akhir zaman ( Armagedon) itu bakal berlangsung.  Berdirinya kembali Kuil Yahudi ke 3 diatas pelataran Haram As-Syarif ( Masjidil Aqsho dan Masjid As-Saqroh) adalah bagian dari menyambut peperangan tersebut. Lihatlah saat ini bagaimana mereka begitu bersemangat membuat fondasi di bawah rumah milik umat Islam tersebut, mengusir dan membantai rakyat Palestina yang bersikeras tidak mau meninggalkan tanah air mereka. Dimana mereka meletakkan HAM, juga negara-negara Barat yang selalu mengklaim HAM adalah milik segala bangsa .

Mereka terus menjelek-jelekkan Islam dengan berbagai cara, dengan tujuan  agar keimanan kita runtuh, agar persatuan Islam goyah, agar jihad yang merupakan senjata terkuat umat Islam hilang. Isu kebebasan berekspresi yang kelihatannya hebat ternyata hanya milik Barat, tidak untuk umat Islam. Pelecehan nabi kita melalui karikatur memang sengaja untuk memancing emosi. Dan hasilnya, terpancing maupun tidak terpancing kita yang akan dirugikan. Ketika terpancing  maka kita disebut sebagai teroris. Namun bila tidak, lama kelamaan kecintaan kita kepada Rasulullah bisa-bisa tergerus. Ini yang mereka harapkan.

Dengan demikian mereka tidak perlu lagi bersusah payah berperang secara fisik. Ini yang dinamakan Perang Pemikiran atau Gazwl Fikiri). Sayangnya, serangan tidak hanya datang dari luar tetapi juga dari dalam. JIL ( Jaringan Islam Liberal) adalah contohnya. Sungguh ironis, di Barat orang-orang berbondong-bondong memeluk Islam setelah tahu apa itu Islam. Sebaliknya, di Indonesia, melalui JIL banyak orang-orang Islam yang merasa maju dan pintar malah murtad. Ini adalah akibat dari rasa kurang percaya diri sebagian Muslim yang sering diolok-olok Barat sebagai tidak toleran, tidak menghormati HAM, teroris dll. Inilah toleransi kebablasan yang dipaksakan.

Sungguh perang pemikiran melalui pena yang dilancarkan musuh-musuh Islam ternyata sangat efektif, kecuali bila kita tetap yakin dan senantiasa yakin Islam adalah agama terbaik, agama yang paling benar. Subhanallah  …

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Anbiya(21):107).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 Januari 2015.

Vien Muhadi.

Jatuh Cinta dengan Alquran, Profesor Matematika AS Jadi MualafDua Surat Al Fatihah Dan Al Baqara Sudah Cukup Membuatnya Menjadi Muslim (YouTube)

Lang sering membaca Alquran sendirian di ruang sebuah ruang salat yang dikelola mahasiswa muslim di kampus. Tanpa perlu lama-lama, ia akhirnya ditaklukkan Alquran.

Dream – Jeffrey Lang adalah profesor matematika Universitas Kansas, salah satu universitas terbesar di Amerika Serikat. Sejak duduk di bangku sekolah dia memang dikenal kritis termasuk soal agama yang diyakininya.

“Seperti kebanyakan anak-anak muda di tahun 60an dan awal70-an, saya mulai mempertanyakan semua nilai-nilai yang kita miliki pada saat itu. Politik, sosial dan keagamaan,’ kata Lang saat menceritakan awal perjalanannya sebagai seorang muslim.

Saat itu dibenaknya muncul berbagai pertanyaan seperti; jika ada Tuhan dan dia adalah penyayang dan penuh kasih, maka mengapa ada penderitaan di muka bumi ini? mengapa dia tidak membawa kita ke surga-Nya saja? mengapa dia menciptakan manusia hanya untuk menderita?

Semua jawaban yang didapat dari aspek agama yang diyakininya saat itu rupanya belum membuat Lang puas. Dia lantas memutuskan untuk menjadi ateis.

Saat menjadi dosen muda jurusan matematika di Universitas San Francisco, Lang akhirnya menemukan keyakinan di mana Tuhan ternyata benar-benar ada. Hidayah muncul di benak Lang saat bertemu beberapa muslim di kampusnya.

“Kami berbicara tentang agama. Aku menanyakan beberapa hal kepada mereka dan saya benar-benar terkejut bagaimana hati-hatinya mereka dalam menjawab pertanyaan saya,” kata Lang mengenang.

Saat itu, Lang bertemu Mahmoud Qandeel, seorang mahasiswa kaya raya asal Arab Saudi. Ketika Lang mengajukan pertanyaan tentang penelitian medis, Qandeel menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris dengan sempurna dan penuh keyakinan.  Semua orang di kelas tersebut tahu Qandeel adalah walikota, kepala polisi dan warga umum di negara asalnya.

Dosen dan mahasiswa itu akhirnya sering pergi berdiskusi masalah agama. Suatu hari, Qandeel memberi Lang salinan Alquran dan beberapa buku tentang Islam.

Lang sering membaca Alquran sendirian di ruang sebuah ruang salat yang dikelola mahasiswa muslim di kampus. Tanpa perlu lama-lama, Lang akhirnya ditaklukkan Alquran. Dua surat pertama Al Fatihah dan Al Baqara sudah cukup membuatnya menjadi muslim.

“Seorang pelukis bisa membuat mata lukisan terlihat mengikuti Anda dari satu tempat ke tempat lain, tetapi adakah penulis yang dapat menulis kitab yang bisa mengantisipasi perubahan-perubahan sehari-hari?,” puji Lang terhadap Allah dan Alquran.

Bagi Lang, Alquran bisa menjawab semua pertanyaan dan keberatan yang diajukannya, tapi di hari berikutnya saat dia membaca Alquran, dia selalu bisa mendapatkan jawabannya. Menurut Lang, Alquran sudah mengantisipasi segala pertanyaan dan pikiran yang akan diungkapkannya.

Setelah menjadi muslim, Lang menjalankan solat lima waktu secara teratur dan menemukan banyak kepuasan spiritual. Bagi Lang, salat subuh merupakan salah satu ritual paling indah dan menyentuh dalam Islam.

Kata dia, lantunan ayat Alquran sangat menyejukkan. Padahal bahasa Arab sangat asing baginya. Saat ditanya mengapa dia menyukainya, Lang menjawab itu sama saja dengan mengapa bayi terhibur oleh suara ibunya.

Dia mengatakan membaca Alquran memberinya banyak kenyamanan dan kekuatan dalam masa-masa sulit.

Di sisi lain, Lang adalah profesor di bidang matematika. Dia menerima gelar master dan doktor dari Purdue University. Lang mengatakan bahwa ia selalu terpesona oleh matematika.

“Matematika adalah ilmu logis. Matematika menggunakan fakta dan angka untuk menemukan jawaban konkret,” ujarnya. “Seperti itulah cara berpikir saya dan saya akan frustasi jika berurusan dengan hal-hal yang tidak memiliki jawaban konkret.”

Memiliki pikiran yang hanya menerima ide-ide berdasarkan fakta membuat orang sulit percaya agama karena sebagian besar agama butuh penerimaan melalui iman. Sedangkan Islam, bagi Lang, menarik secara iman dan penalaran.

Lang menikahi seorang wanita Muslim asal Saudi, Raika. Dia telah menulis beberapa buku Islam dan menjadi best seller di kalangan Muslim AS. Salah satu bukunya yang terkenal adalah “Even Angels ask; A Journey to Islam in America”. Dalam buku ini, Lang banyak berbagi tentang wawasan yang membuka dirinya terhadap Islam.

(Ism, Sumber: Onislam.net)

( Dikutip dari : http://www.dream.co.id/your-story/jatuh-cinta-dengan-alquran-profesor-matematika-as-jadi-mualaf-140610z.html