Feeds:
Posts
Comments

Perang Siffin terjadi pada tahun 657 M di suatu daerah bernama Siffin di tepi sungai Efrat, tak lama setelah perang Jamal usai. Sebelumnya Ali sempat memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Kuffah. Tujuannya selain karena posisinya yang lebih strategis juga agar memudahkan penyerangan ke Damaskus, ibu kota Syam, yang memberontak karena menuntut sang khalifah segera menyelesaikan masalah pembunuhan Ustman bin Affan, khalifah sebelum Ali. Itu sebabnya Muawiyah, gubernur Syam menolak kekhalifahan Ali. Muawiyyah berpendapat bahwa Ali ikut terlibat dalam pembunuhan itu dan harus mempertanggung-jawabkannya kepada umat Islam.

Sebelum penyerangan dimulai, Ali mengutus Jarir bin Abdullah menemui Muawiyah, mengingatkan sekali lagi agar mau menyerah dan mengakui Ali sebagai khalifah, namun tetap ditolak. Akhirnya pecahlah perang yang sangat melelahkan dan memakan korban yang banyak itu.

Pada awalnya perang hanya berlangsung satu kali sehari, pagi setelah dhuha hingga waktu zuhur, atau ba’da zuhur hingga menjelang magrib. Namun berikutnya perang bisa terjadi 2x dalam sehari. Shalat dilakukan ke 2 belah pihak, yang memang sama-sama Muslim itu, di sela-sela perang, secara bergantian.

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka`at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. … … ”. (QS.An-Nisa(4):102).

Bulan telah berganti namun tidak ada tanda-tanda bahwa perang akan usai. Muawiyah mulai khawatir pihaknya akan kalah,dan para pendukungnya mundur dan berbalik memihak Ali. Maka segera ia mencari strategi untuk melemahkan lawan, yaitu dengan menyebarkan rumor bahwa pasukannya akan menggali pinggiran sungai agar dengan demikian pasukan Ali tenggelam kedalamnya.

Mendengar  desas-desus ini pasukan Alipun panik, dan meminta Ali agar segera memindahkan posisi mereka. Namun Ali yang memang menguasai taktik perang segera berujar : “ Celakalah kalian, sesungguhnya mereka sedang menipu agar kalian pergi dari tempat ini. Posisi kita jauh lebih baik dari posisi mereka”.

Tetapi pasukan Ali yang memang suka membantah dan cenderung tidak mau mendengar suara sang pemimpin tetap berkeras meninggalkan tempat, dan meninggalkan Ali. Hingga terpaksa Alipun mengikuti kemauan mereka. Dan akhirnya pasukan Muawiyah menempati tempat itu.

“Seandainya mereka taat, tentu mereka selamat hingga Yamamah dan Syria dapat ditaklukkan, tetapi mereka menentang ucapan dan perintahku. Orang-orang bodoh itu selalu saja menentangku”, keluh Ali dikemudian hari.

Perang terus berkelanjutan hingga memasuki bulan berikutnya. Ali benar-benar prihatin menyaksikan hal ini. Maka di suatu sore, ketika matahari telah terbenam, Ali menulis surat dan mengutus seorang utusan agar menyampaikannya kepada Muawwiyah.

“Wahai Muawwiyah, mengapa kita harus membiarkan rakyat mati atas nama kita. Mari kita selesaikan masalah ini satu lawan satu. Siapa yang tetap berdiri dialah yang akan mengendalikan kekuasaan”.

Muawiyyah terdiam sejenak. Ia juga sudah mulai lelah menghadapi peperangan ini. Namun ia juga menyadari tak ada seorangpun dapat menandingi keahlian pedang Ali.  Amr bin Ash, bekas gubernur Mesir yang merupakan orang kepercayaan Muawiyyah segera berdiri.

“Ali adalah seorang yang lembut meskipun ia jago pedang, terimalah tantangannya. Aku yang akan menghadapinya”, tegasnya.

Maka terjadilah duel diantara keduanya. Dan seperti telah diperkirakan, dalam waktu singkat Amr pun tumbang. Ia terjatuh dari kudanya. Dengan sekali tebas saja mustinya selesailah pertarungan. Namun itu bukan karakter Ali. Betapa banyak sejarah mencatat Ali meninggalkan lawan yang telah dikalahkannya begitu saja, tanpa memenggal kepalanya, seperti lazimnya perang. Tampak bahwa sabda Rasulullah selalu terngiang di telinganya:

“Seorang mujahid sejati bukanlah seorang yang meneriakkan kemenangannya melainkan dia yang mampu mengatasi kemarahan pribadinya dalam kancah peperangan”.

“Apakah kau mampu membelah hatinya untuk mengetahui ia jujur atau bohong?”. Pertanyaan ini dilontarkan nabi saw kepada Usama, adik kesayangan Ali, yang suatu ketika tetap memenggal kepala orang yang dikalahkannya dalam pertempuran meski ia telah bersyahadat, dengan alasan itu hanya pura-pura.

Sebaliknya kelemah-lembutan ini pula yang menjadi pangkal kekalahan Ali. Setelah berperang selama lebih dari 1 bulan, pasukan Ali sebenarnya sudah nyaris dapat mengalahkan pasukan Muawiyyah. Namun lagi-lagi Amr bin Ash, yang memang dikenal sebagai seorang yang jago diplomasi, menawarkan Muawiyyah agar segera dilakukan tahkim, atau genjatan senjata. Caranya yaitu dengan menancapkan Al-Quranul Karim di ujung pedang setiap prajuritnya.

Cara ini ternyata terbukti ampuh. Pasukan Ali langsung terbelah saat itu juga. Sebagian ingin berhenti berperang, karena mereka berkeyakinan bahwa Al-Quran adalah hukum tertinggi, sedangkan sebagian lain tetap ingin berperang hingga usai. Ali sendiri sebenarnya merasa bahwa ini hanyalah jebakan. Namun ia tidak kuasa memaksa pasukannya untuk terus berperang, sebagaimana ia juga tidak kuasa menahan pasukannya untuk tetap bertahan di posisi mereka, padahal ketika itu mereka sudah nyaris menang.

Akhirnya terjadilah genjatan senjata. Diputuskan bahwa dalam beberapa waktu kedepan akan diadakan pertemuan antara kedua utusan untuk mencari pemecahan masalah. Maka Alipun segera menarik mundur pasukannya yang telah mulai terpecah itu ke Kuffah dan Muawiyah ke Damaskus.

Sementara itu pada hari yang ditentukan bertemulah Abu Musa bin Asya’ari sebagai wakil Ali dan Amr bin Ash sebagai wakil Muawiyah. Perundingan ini berlangsung setahun setelah terjadinya tahkim. Sebenarnya Ali tidak setuju dengan penunjukkan Abu Musa sebagai walinya, karena ia tahu bahwa Abu Musa bukanlah seorang yang pandai berdiplomasi. Namun sekali lagi, atas desakan sebagian besar pengikutnya Ali terpaksa mengalah.

Dan nyatanya memang itulah yang terjadi. Dalam perundingan antara kedua orang yang tidak seimbang itu Ali berada di pihak yang dirugikan. Amr berhasil mendeklarasikan bahwa Muawiyah secara resmi adalah penguasa Syam dan Mesir. Sementara Ali tetap sebagai khalifah Islam di luar daerah kekuasaan Muawiyah. Inipun masih ditambah dengan perpecahan di dalam tubuh pasukan Ali yang makin lama makin parah.

Dikabarkan seusai tahkim 12 ribu personil pasukan Ali menyatakan keluar. Orang-orang ini desersi karena tidak puas terhadap hasil tahkim, dan menyalahkan Ali sebagai penyebabnya. Sejak itupun mereka selalu membuat keributan, kerusuhan dan pemberontakan. Orang-orang ini dikemudian hari dinamakan kelompok Khawarij. Sedangkan pendukung Ali yang masih setia disebut sebagai  kelompok Syiah.

Mengenai orang-orang Khawarij yang dikenal rajin shalat, berpuasa dan membaca Al-Quran ini, Rasulullah saw pernah bersabda :

“ Akan keluar pada kalian, suatu kaum yang shalat mereka mengalahkan shalat kalian, shiyam mereka mengalahkan shiyam kalian dan amal-amal mereka mengalahkan amal-amal kalian. Mereka membaca Al-Qur`an tapi tidak sampai melewati tenggorokannya, mereka keluar dari Ad-dien seperti keluarnya anak panah dari busurnya”. [HR . Bukhari dan Muslim].

Begitulah akhir perang Siffin, kepemimpinan Islam terbagi 2 dengan karakter perbedaan yang mencolok. Muawiyah yang selanjutnya berhasil membangun dinasti keluarga besar, hidup bergelimang kemegahan di istananya yang megah. Yang meski demikian berhasil mencatat kemenangan demi kemenangan serta mencatat zaman keemasan Islam yang sebelumnya belum pernah ada. Kekuasaan dinasti ini terus meluas dan ilmu pengetahuanpun berkembang pesat.

Sementara Ali, sang khalifah, tetap bertahan zuhud sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar. Ali yang sejak kecil dibesarkan di dalam suasana kenabian yang sederhana tampak tidak mau berkompromi dengan situasi dunia Islam yang sedang menuju kejayaan. Ia tetap bertahan hidup dalam kesederhanaan dan kekurangan. Dari sini pula muncul aliran tasawuf yang mengedepankan ke-zuhud-an itu.

Disamping itu Ali juga benar-benar kecewa terhadap pendukungnya di Kuffah, baik yang sudah keluar maupun yang tinggal segelintir. Ia menyatakan kekecewaan yang sangat karena mereka tidak mau mentaati dirinya sebagai seorang pemimpin.

“ …. Kalaulah aku menguji mereka, maka tidak akan aku dapatkan selain orang-orang yang murtad dan kalaulah aku menyeleksi mereka maka tidak ada yang lolos seorangpun dari sebanyak seribu orang”.

Selama masa kekuasaannya itu pemberontakan demi pemberontakan terus terjadi. Pengikutnya terpecah menjadi 2 bagian extrim, sebagian memusuhinya dengan amat sengit, dan sebagian lain memujanya secara sangat berlebihan.

Ya Ali, nasibmu kelak akan seperti Isa bin Maryam, dimana sebagian umat Yahudi membangkang dan melontarkan fitnah kejam terhadap ibunya, sementara sebagian umat Nasrani secara berlebihan memujanya hingga di luar batas”. ( al-Baihaqi, as-Sunnanu’l-Kubra, 5/137(8488).)

Ali dikelilingi oleh orang-orang Khawarij yang senantiasa berkoar-koar bahwa mereka membunuh orang atas nama jihad. Mereka menyatakan bahwa orang-orang yang berbuat dosa besar, yang berpartisipasi dalam perang Jamal dan menyetujui tahkim adalah kafir dan halal darahnya. « Tidak ada pengadilan lain kecuali pengadilan Tuhan! ».

Sementara para pengikut yang memujanya secara berlebihan adalah mereka yang menjadikan Abdullah bin Saba’ sebagai pemimpin. Abdullah bin Saba’ adalah orang Yahudi yang menyusup ke dalam golongan Syiah, dan mengkalim bahwa dirinya adalah nabi dan Ali adalah Sang Pencipta !

Namun para ulama Syiah tidak mengakui hal ini, dengan alasan Abdullah bin Saba hanya tokoh bayangan yang sengaja diciptakan tokoh-tokoh Sunni untuk memojokkan Syiah sebagai kelompok yang  mengklaim sebagai kelompok pecinta ahli bait ( keluarga rasul). Meski kitab Syiah sendiri jelas-jelas menyatakan hal ini.

Dari Abu Abdullah, dia berkata, “Allah melaknat Abdullah bin Saba’ karena dia mendakwakan ketuhanan kepada Amirul mukminin alaihisalam. … … “.

Dari Abu Ja’far alaihisalam : Sesunggujnya Abdullah bin Saba’ mengaku-ngaku sebagai nabi dan mendakwakan bahwa amurul mukminin adalah Tuhan. … … “.

Dari kitab-kitab itu pula dikabarkan bahwa suatu hari Ali memanggil Abdullah bin Saba’, menyuruhnya untuk bertaubat namun menolak. Maka akhirnya Alipun terpaksa membakarnya sebagai hukuman. Ini menjadi bukti kuat bahwa Abdullah bin Saba’ adalah nyata bukan tokoh fiktif.

( Bersambung).

Pasca terbunuhnya Ustman bin Affan, penduduk Madinah sepakat mengangkat Ali bin Tahlib sebagai khalifah ke 4. Mulanya Ali menolak penunjukkan tersebut. Tetapi atas desakan para sahabat, diantaranya Tolhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam, 2 dari 10 sahabat yang dijamin Rasulullah saw masuk surga, akhirnya Alipun menyerah. Tholhah dan Zubair berpendapat bahwa kekosongan khalifah sangat rentan terhadap pemberontakan di saat-saat yang memang kritis tersebut.

Maka jadilah Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin tertinggi umat Islam di saat yang amat rawan. Pemberontakan dan boikot yang berakhir dengan dibunuhnya Ustman telah membuat umat Islam terpecah dan menimbulkan fitnah terbesar dalam sejarah Islam. Para pembunuh Ustman menyembunyikan identitas mereka dan menyelinap kedalam kelompok elit yang makin lama makin menggurita dan menciptakan persekongkolan yang membuat Ali sulit melacak siapa sebenarnya otak pembunuhan Ustman. Padahal gelombang protes menuntut agar Ali segera menemukan biang kerok kerusuhan makin hari makin meningkat.

Sementara itu, Ali juga harus bertindak cepat membuat sejumlah kebijakan baru, diantaranya yaitu menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada penduduk dan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, mengaktifkan kembali sistem distribusi pajak tahunan seperti yang pernah diterapkan Umar dan mengganti para gubernur yang dianggap bermasalah. Memang salah satu penyebab buruk sangkanya masyarakat terhadap Ustman adalah sikapnya yang kurang tegas terhadap prilaku kurang baik sebagian gubernur yang diangkat karena kedekatan hubungan kekeluargaan itu.

Itu sebabnya Ali mencopot gubernur Basrah, Yaman, Kuffah dan Mesir, dan menggantinya dengan yang baru. Demikian pula dengan Syam, namun Muawiyah, sang gubernur menolak. Hingga Ali terpaksa mengiriminya surat. namun Muawiyah, yang merupakan keponakan Ustman itu malah membalasnya dengan surat yang hanya berbunyi : « Dari Muawiyyah bin Abu Sufyan kepada Ali bin Abu Thalib ».

Dengan air mata berlinang dan senyum pedih tersungging di bibir, Ali, sang khalifah baru, langsung dapat menangkap pesan kuat tersebut. Muawiyyah tidak mengakui kekhalifahannya. Rupanya Muawiyyah tidak setuju dengan kebijakan-kebijakan yang diambilnya, terutama yaitu cara Ali menangani pembunuh Usman. Seperti juga kebanyakan sahabat dan rakyat, ia menginginkan Ali segera menangkap pembunuh tersebut. Sayangnya tidak hanya cukup disitu, Muawiyyah yang berkedudukan di Damaskus itu bahkan telah mempersiapkan pasukan besar untuk menentang Ali.

Di lain pihak, Tolhah dan Zubair, tak lama setelah membaiat Ali meminta izin pergi ke Mekah  untuk melaksanakan umrah, sekaligus menemui Aisyah  umirul Mukminin, yang saat itu sedang memimpin rombongan umrah. Rupanya kedua sahabat kental ini ingin mengetahui pendapat Aisyah mengenai terbunuhnya sang khalifah. Aisyah memang sangat terpukul mendengar kabar memilukan ini. Bagaimana mungkin pemimpin tertinggi umat Islam bisa dibunuh dengan sedemikian kejinya, didalam kamar istananya sendiri dan dijaga ketat oleh kedua putra Ali pula, yaitu Hasan dan Husein.

Aisyah memang tidak bisa menyembunyikan kekecewaan dan kemarahannya tersebut. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk pergi bersama Thalhah dan Zubair menemui Ali.  Mereka sepakat agar Ali segera menuntut balas pembunuh Ustman. Namun sebelumnya mereka akan ke Basrah dulu, untuk mencari dukungan. Sayangnya, sekali lagi, tidak hanya ketiga sahabat ini yang bermaksud pergi ke Basrah menuntut Ali segera menyelesaikan kemelut tersebut. Namun juga rombongan umrah pimpinan Aisyah dan sejumlah kelompok lain yang makin lama makin banyak hingga mencapai kelompok besar dengan jumlah ribuan orang.

Menjelang memasuki Basrah, rombongan besar ini dicegah masuk oleh gubernur Basrah yang baru saja diangkat Ali. Mulanya memang tidak terjadi sesuatu. Namun ntah bagaimana tiba-tiba terjadi kerusuhan yang menyebabkan jatuhnya kurban.  Kejadian berdarah ini segera sampai ke telinga Ali.

Ali yang saat itu sedang memimpin pasukannya menuju Syam untuk menghadapi pasukan besar Muawiyyah benar-benar tercengang. Ia tidak menyangka Tholhah dan Zubair yang sebelumnya telah membaitnya telah berubah pikiran. Ali bukannya tidak mau menyelesaikan masalah pembunuhan Ustman.  Sebaliknya, ia tahu persis bahwa pembunuhan Ustman adalah sebuah konspirasi besar yang sangat serius. Untuk itu diperlukan dukungan penuh  dari semua wilayah negri.  Stabilitas negara harus dibenahi dahulu sebelum mencari pembunuh Ustman. Ia tidak ingin umat Islam terpecah-belah.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.(QS. Ali Imran(3):103).

Ali menyadari tampaknya ada yang mengajaknya bermain di air keruh, ada yang ingin memanfaatkan kesempatan untuk mencari keuntungan. Tampak jelas bahwa kelompok pembunuh Ustman yang belum diketahui identitasnya itu belum cukup merasa puas dengan terbunuhnya Ustman. Terpaksa Alipun merubah haluan pasukannya, dari menuju Damaskus berganti ke Basrah. Iapun segera mengutus Alqa’qa bin Amr untuk menanyakan secara langsung, sebenarnya apa maksud kedatangan rombongan Tholhah, Zubair dan Aisyah ke Basrah.

Setelah jelas permasalahannya, merekapun segera berembug. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak perlu ada kekerasan, apalagi pertumpahan darah diantara sesama Muslim. Pembunuh Ustman harus di-qishos, namun nanti setelah kestabilan Negara tercapai. Alipun kemudian keluar untuk menemui Zubair, lalu berkata,

Wahai Zubair, tidaklah kamu mendengar sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditujukkan kepada dirimu:  Sesungguhnya kamu akan memerangi Ali dan (saat itu) kamu berbuat zhalim kepadanya”.

Mendengar itu Zubair tertunduk, sadar akan kekhilafannya. Zubair segera menarik mundur pasukannya hingga ke suatu tempat dimana terdapat suatu mata air. Di tempat ini Aisyah mendengar gonggongan anjing.

“Dimanakah kita ini?”, tanya umirul Mukiminin masygul.

Ketika Aisyah tahu bahwa tempat itu adalah Hau’ab, bukan kepalang kagetnya Aisyah. Dengan dahi yang berkerut ia berkata, “Kembalikan aku, kembalikan aku !”. “ Aku mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ketika itu istri-istrinya berada di Hau’ab, siapa diantara kalian yang disalak oleh anjing Hau’ab maka kembalilah

Namun belum sempat mereka memenuhi keinginan Aisyah, menjelang Subuh dilaporkan bahwa mereka telah diserang secara diam-diam, hingga ada yang terbunuh. Dikabarkan bahwa Ali dan pasukannya telah berkhianat. Rupanya telah terjadi fitnah besar, hasutan datang dari pihak yang tidak senang dan kecewa atas batalnya perang antar bersaudara tersebut. Usaha ini tercapai, terbukti dengan segera bersiapnya kelompok Aisyah dkk untuk membalas serangan tersebut. Di lain pihak, pasukan Ali yang mendapat kabar bahwa pasukan Zubair dan kawan-kawan telah bersiap-siap menyerang, merekapun juga segera menyiapkan diri.

Tanpa dapat dielakkan lagi pecahlah pertempuran yang melibatkan ribuan personil itu. Perang dasyat yang di kemudian hari diberi nama perang Jamal ini terjadi setelah Zuhur. Baik pihak Ali maupun Zubair sebenarnya telah berusaha mengingatkan pasukan masing-masing untuk menahan diri.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”.(QS.Al-Hujurat(49):10).

Namun bisikan syaitan tidak mampu dicegah hingga akhirnya terjadilah perang mengerikan antara 10 ribu pendukung Ali melawan sekitar 6 ribu pendukung Aisyah, Zubair dan Tholhah. Sore harinya perang memang segera usai, namun dengan jumlah korban yang sungguh memilukan. Pertempuran selesai setelah pasukan Ali berhasil menaklukkan unta yang dikendarai Aisyah. Itu sebabnya perang ini dinamakan perang Jamal (Unta). Ketika itu salah satu pengikut Aisyah sengaja membawa keluar unta yang dikendarai Aisyah, dengan tujuan mengobarkan semangat kelompok Aisyah yang sudah hampir kalah dan patah semangat. Apalagi mengetahui bahwa Tholhah dan Zubair, pemimpin mereka telah terbunuh. Namun usaha terakhir mereka ini gagal. Pasukan Ali berhasil membuat unta Aisyah terjatuh.

Diriwayatkan dari Ali; dia berkata bahwasanya Rasulullah bersabda kepadanya: “Akan terjadi suatu masalah antara kau dan Aisyah.” Ali berkata: “Wahai Rasulullah, kalau begitu, tentu aku akan menjadi orang yang paling celaka.” Rasulullah berkata: “Tidak demikian adanya, tapi jika itu terjadi, maka kembalikanlah dia (Aisyah) ke tempatnya yang aman.”

Itu sebabnya maka Ali pun melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah kepadanya. Ia memperlakukan Aisyah dengan hormat, lalu memerintahkan seorang kepercayaannya agar mengantar Aisyah kembali ke Madinah.

Usai perang, hati Ali benar-benar hancur menyaksikan kesudahan perang saudara yang tidak seharusnya terjadi ini. Dengan hati duka Ali berkeliling dan ketika ia melihat jenazah Tholhah diantara korban bergeletakan yang jumlahnya tak terkira itu, ia  segera turun dari kudanya dan mengangkat jenazah tersebut. Sambil menangis pilu, ia berkata:

“Wahai Abu Muhammad, alangkah berat perasaan ini melihatmu meninggal tergeletak di atas tanah di bawah bintang-bintang langit. Aduhai, seandainya aku mati dua puluh tahun silam sebelum peristiwa ini”.

Ironisnya, Tholhah sebenarnya ketika itu tidak ikut berperang. Ia terbunuh ketika  sedang berusaha melerai para prajurit yang berperang. Demikian pula Zubair, ia dikuntit dan dibunuh secara diam-diam ketika berusaha meninggalkan medan perang. Ia tidak lagi berminat memerangi Ali sejak Ali mengingatkan apa yang pernah dikatakan Rasulllah saw beberapa tahun lalu.

Itu sebabnya Ali sangat kecewa dan marah mengetahui anak buahnya telah membunuh Zubair. Ketika itu datang Ibnu Jurmuz menemui Ali sambil membawa pedang milik Zubair, lalu berkata: “Aku telah membunuh Zubair, aku telah membunuh Zubair.” Mendengar  itu, Ali berkata: “Pedang ini telah begitu lama menghilangkan duka dan kesusahan Rasulullah. Berikanlah berita gembira kepada orang yang telah membunuh Ibnu Shafiyyah (yaitu Azzubeir) bahwa ia akan masuk neraka”. Dan sejak itu Ali tidak pernah lagi mengizinkan Ibnu Jurmuz menemuinya.

Beberapa hadist dengan bunyi hampir sama, mengatakan “Setiap nabi mempunyai penolong, Zubair ini adalah penolongku“, ”Setiap nabi memiliki pengikut pendamping yang setia (hawari), dan hawariku adalah Azzubair ibnul Awwam”, “ Thalhah dan Zubair adalah dua tetanggaku di surga (nanti)”.

Begitulah akhir dari perang Jamal yang sungguh memilukan itu. Dalam keadaan duka yang mendalam Ali memimpin langsung shalat jenazah bagi semua korban, tanpa kecuali. Namun demikian tidak ada waktu bagi sang khalifah yang baru saja naik jabatan itu untuk terus meratapi dan menyesali apa yang telah terjadi, kecuali menjadikannya sebagai suatu pelajaran berharga, tidak hanya bagi Ali dan yang menjadi saksi langsung kejadian tragis itu, namun juga bagi kita semua.

Ali masih harus menghadapi tantangan dasyat lain, yaitu pemberontakan gubernur Syam Muawiyyah yang tidak puas terhadap kebijakan-kebijakan khalifah yang tidak diakuinya karena dianggap tidak mau mencari dan mengadili pembunuh Ustman bin Affan, khalifah sebelum Ali. Ironisnya, pemberontakan tersebut berbuntut menjadi sekali lagi perang antar sesama Muslim, yaitu perang Siffin.

( Bersambung).

Fitnah besar terhadap Ali bin Abi Thalib ra sebagaimana telah diperkirakan Rasulullah saw baru menjadi kenyataan paska wafatnya Rasulullah. Diawali dengan berita duka itu sendiri, yang mudah diperkirakan pasti membawa kesedihan yang begitu mendalam tidak saja bagi kaum Muslimin yang ketika itu sudah mencapai ratusan ribu.  Namun lebih-lebih lagi bagi para sahabat yang selama bertahun-tahun telah menemani dan menjadi saksi turunnya ayat-ayat suci Al-Quranul Karim.

Tak urung bahkan Umar bin Khattab ra yang selama itu dikenal sebagai sosok yang  tegas dan bertemperamen keraspun tak mempercayai berita duka tersebut.

“Muhammad tak mungkin wafat. Ia hanya meninggalkan kita untuk sementara seperti juga Musa yang meninggalkan umatnya menuju bukit Sinai untuk menerima perintah Tuhannya”, seru Umar dengan suara parau, menahan emosi.

Umar terus berteriak-teriak seperti itu kalau saja Abu Bakar ra, tidak segera datang begitu mendapat laporan bahwa Umar telah kehilangan setengah kesadarannya.

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.(QS.Ali Imran(3):144).

Mendengar Abu Bakar membacakan ayat 144 surat Ali Imran diatas, Umarpun langsung tersadar, ia terhuyung dan nyaris terjatuh. Begitulah reaksi para sahabat yang tidak mengira bahwa Rasulullah yang begitu mereka cintai telah pulang menemui Tuhannya, secepat itu. Mereka benar-benar sangat terpukul. Para sahabat yang selama itu selalu berlindung dan menjadikan Rasulullah sebagai tempat bertanya ketika mereka menghadapi masalah merasa begitu kehilangan. Demikian pula dengan Ali. Sebagai sahabat sekaligus anggota keluarga terdekat, ia tidak sanggup memutuskan dan tidak tahu harus berbuat bagaimana dengan jasad Rasulullah yang telah terbujur kaku itu.

Harus menunggu 2 hari ketika akhirnya diputuskan bahwa sebagai manusia biasa jasad Rasulullah  saw wajib dimakamkan. Itupun setelah terjadi sedikit perselisihan bagaimana dan dimana tempat yang paling tepat untk dimakamkan.

“ Setiap Nabi yang diwafatkan oleh Allah pasti dikebumikan di lokasi yang beliau sukai dikubur padanya” .Maka kemudian para sahabat mengubur Rasulullah di tempat pembaringannya”. (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:5649, dan Tirmidzi II : 242 no:1023).

( Baca  http://vienmuhadisbooks.com/2011/05/27/xxix-hari-hari-akhir-rasulullah-3/ ).

Maka akhirnya Alipun memandikan jenazah Rasulullah saw. Ia dibantu oleh Abbas bin Abdul-Muttalib, paman nabi, dan kedua puteranya, Fadzl dan Qutham serta Usama bin Zaid dan Syuqran, pembantu Nabi.

Ketika itulah terjadi perselisihan di luar sana. Umat Islam  yang baru saja mengenal dan memeluk ajaran yang dibawa Rasulullah mulai terpecah belah. Masing-masing ingin agar golongan dan keluarga mereka memimpin dan menggantikan kedudukan Rasulullah.

Dalam keadaan genting itulah orang-orang kemudian memanggil Abu Bakar agar menyelesaikan masalah kritis tersebut. Datang bersama Abu Bakar ketika itu Umar bin Khattab, Saad bin Ubadah dan beberapa sahabat lain. Setelah melalui perdebatan yang lumayan alot, akhirnya lahir kesepakatan bahwa kaum Muhajirin lebih pantas memegang kepemimpinan dibanding kaum Anshor, karena mereka lebih dulu beriman dan lebih lama mendampingi Rasulullah di awal dakwah yang sangat sulit. Maka ditunjuklah Abu Bakar yang juga merupakan besan Rasusullah ( ayah dari Aisyah ra, salah satu umirul mukminin) sebagai khalifah pertama, yang di kemudian hari dikenal dengan satu dari Khulaul Rasyidin yang 4.

Dipilihnya Abu Bakar bukannya tanpa alasan yang tidak jelas. Semua sahabat mahfum bahwa pada hari-hari akhir Rasulullah, Rasulullah menunjuk Abu Bakar agar memimpin shalat, menggantikan posisi Rasul yang waktu itu dalam keadaan sakit keras. Abu Bakar pula yang dipilih Rasulullah untuk menemani beliau saw saat hijrah ke Madinah. Meskipun ini tidak dapat dijadikan tanda yang jelas bahwa Rasulullah telah menetapkan pengganti beliau saw.

Semua sahabat terkemuka seperti Ali bin Thalib, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan,  Abdul Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Khalid bin Walid, Zaid bin Haritsah, Amr bin Ash dan lain lain tentu saja  mempunyai kelebihan masing-masing. Mereka adalah bagian dari kaum Muhajirin dan kaum Anshor yang telah teruji keimanan dan ketakwaannya. Namun mereka harus memilih seorang pemimpin yang diharapkan dapat menyatukan kaum Muslimin yang ketika itu telah mencapai lebih dari 100 ribu orang.

Sebagai catatan, kaum Muhajirin adalah kaum Muslimin Mekah yang hijrah ke Madinah bersama Rasulullah. Sedangkan kaum Anshor adalah kaum Muslimin Madinah yang menerima saudaranya dari Mekah yang ketika itu hijrah bersama Rasulullah. Allah swt memuliakan kedua kaum ini karena ketakwaan mereka. Mereka rela berjihad demi membela agama dan melindungi Rasul-Nya.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”.(QS.At-Taubah(9):100).

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah ( Muhajirin), dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan ( Anshor kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia”.(QS.Al-Anfal(8):74).

Setelah memerintah kurang lebih 2 tahun ( 632-634 M) Abu Bakar wafat pada usia 63 tahun. Dalam sakitnya ia sempat mengumpulkan pemuka-pemuka Muhajirin dan Anshor, termasuk Ali bin Thalib, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Thulhah bin Ubaydillah. Pertemuan ini untuk membicarakan siapa yang paling pantas menggantikan dirinya. Abu Bakar mengajukan pertanyaan bagaimana Umar bin Khattab menurut pendapat mereka. Sementara kepada Ali, Abu Bakar mengajukan pertanyaan yang agak berbeda,

“Bagaimana pendapatmu jika aku memilih salah seorang sahabat Rasulullah sebagai penggantiku?”.

Maka jawaban Ali adalah, “Aku tidak setuju, kecuali orang itu adalah Umar bin Khatab.”

Setelah semua sepakat dengan jawaban tersebut, Thalhah menganjurkan agar Abu Bakar menanyakan langsung kepada umat islam mengenai rencana pengangkatan Umar bin Khattab bila ia meninggal nanti.. Maka dengan itu, Umar yang juga merupakan besan Rasulullah ( ayah dari Hafsah, salah satu umirul mukminin)  menggantikan kedudukan Abu Bakar sebagai khalifah kedua. Ia memerintah hingga 10 tahun 6 bulan lamanya.

Perlu menjadi catatan, selama pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Ali tetap menjadi orang yang memiliki kedudukan istimewa di mata ke 2 khalifah tersebut.  Ia seringkali dimintai pendapat dan pikirannya dalam memutuskan berbagai perkara kekhalifahan. Memang sebelumnya, Ali sempat menjauhkan diri dari segala perkara duniawi karena kesedihannya yang mendalam ditinggalkan Rasulullah yang sudah dianggapnya seperti ayah sendiri. Namun setelah wafatnya Fatimah sang istri tercinta, 6 bulan setelah kepergian Rasulullah saw, Alipun kembali bergabung dengan para sahabat.

Hingga akhirnya suatu hari Umar ditikam oleh seorang lelaki Persia ketika ia akan memimpin shalat subuh. Pembunuh bernama Abu Lukluk ini kabarnya adalah seorang budak Persia yang merasa dendam karena negaranya ditaklukan Islam.

Selanjutnya melalui musyawarah,  Utsman bin Affan terplih sebagai khalifah ke 3. Ketika itu ada enam orang calon yang diajukan, yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdul Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdul Rahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah. Maka diangkatlah Utsman yang ketika itu telah berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga, Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah mapan dan memiliki kekuasaan sangat luas.

Ia memerintah selama 12 tahun. Ketika akhirnya ia terbunuh, kekuasaannya telah mencapai Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Armenia, Palestina dan Siprus. Di masa kekhalifahannya itu pula Al-Quran dikumpulkan dalam satu mushaf. Dan ini disaksikan oleh para sahabat senior.

Namun pada separuh akhir masa kekuasaan Ustman, pemberontakan, kerusuhan dan fitnah meraja lela. Dan ternyata hal ini telah diprediksi Rasulullah saw. Abu Hurairah telah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan menjumpai setelahku fitnah dan perselisihan atau perselisihan dan fitnah.” Maka berkata salah seorang, “Lalu kepada siapa kami akan memihak?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpegangteguhlah kalian kepada al-Amiin ini dan sahabat-sahabatnya.” Lalu beliau mengisyaratkan kepada Utsman.”

Sayangnya, khalifah yang memiliki julukan Dzunnurain yang berarti “yang memiliki dua cahaya” karena Rasulullah saw telah menikahkannya dengan kedua putri Rasulullah yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum, dikabarkan kurang tegas. Ustman memang dikenal sebagai sosok yang santun dan pemalu.

Di riwayatkan dalam sebuah hadist, Rasulullah saw pernah berbaring di rumah Aisyah dan kedua betisnya terungkap. Ketika Abu Bakar dan Umar bin Khattab masuk, beliau tetap dalam keadaan semula. Namun ketika Utsman masuk, beliau duduk dan membetulkan pakaian beliau. Ketika Aisyah bertanya tentang hal itu beliau menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?” (HR. Imam Ahmad)

Gubernur yang ditunjuk Ustman dari kalangan keluarga banyak yang kurang disukai penduduk hingga menimbulkan fitnah. Akibatnya Ustmanpun menerima banyak kritikan bahkan ancaman pembunuhan. Di hari-hari akhirnya ia bahkan sempat diboikot oleh pemberontak selama 40 hari di dalam kamarnya sendiri. Hingga suatu hari seorang pengkhianat berhasil menyelinap ke dalam kamar yang terkunci tersebut dan membunuhnya. Ketika itu Ustman sedang membaca Al-Quran.

Padahal ketika itu, Ali bin Thalib yang merasa prihatin dan merasa ikut bertanggung-jawab atas keselamatan sang khalifah, telah memerintahkan dua putranya yaitu Husein dan Hassan untuk menjaga kamar khalifah dari segala kejahatan. Maka begitu mendapat kabar bahwa khalifah telah terbunuh, dengan kecewa dan gusar Alipun  berseru kepada kedua putranya itu : “  Jika kalian berdua tidak mampu menjaga khalifah, seharusnya kalian berduapun mati bersama khalifah !”.

( Bersambung).

Semua Muslim pasti mengenal nama ini, ya, ia adalah sepupu sekaligus sahabat dan menantu Rasulullah saw, suami dari Fatimah Az-Zahra, putri tercinta Rasulullah.

Ali adalah putra Abi Thalib, paman nabi saw yang pernah mengasuh beliau sejak wafatnya Abdul Muthalib, sang kakek yang sangat mencintai nabi. Atas jasa sang paman inilah Rasulullah dapat berdakwah tanpa khawatir disakiti secara berlebihan. Dan nyatanya memang begitu Abi Thalib tiada, maka orang-orang musyrik Quraisypun berani berkomplot untuk membunuh beliau.

Jadi bukan hal yang mengherankan ketika suatu saat sebagai balas kasih, Rasulullah mengangkat Ali sebagai anak angkat. Ini beliau lakukan setelah 10 tahun menikah dengan istri tercinta Khadijah dan mendapati bahwa keadaan sang paman yang memiliki banyak anak itu makin hari makin sulit. Untuk itu rasulpun mengajak Abbas, paman beliau yang lain, untuk  membantu meringankan beban Abi Thalib, yaitu dengan mengangkat masing-masing satu anak. Maka jadilah Abbas mengambil Jaffar dan Rasulullah mengambil Ali yang ketika itu masih berumur 4 tahun. Kebetulan ketika itu Allah swt memang tidak menganugerahi Rasulullah seorangpun anak lelaki.

Di dalam rumah bersuasana kenabian inilah akhirnya Ali tumbuh, menjadi salah satu saksi turunnya ayat-ayat suci Al-Quran dari malaikat Jibril as kepada ayah angkatnya. Pada usia yang masih belia, Ali tercatat sebagai orang pertama yang bersyahadat, setelah Khadijah.

Memasuki usia remaja, Ali telah ikut terlibat dalam peperangan meski mengawalinya hanya dengan sebagai pembawa anak panah. Itupun setelah ia merengek kepada Rasulullah agar diizinkan ikut berperang demi tegaknya Islam.

Ali mempunyai andil besar ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, hingga lolos dari usaha pembunuhan yang dilakukan orang-orang musrik Quraisy. Ia mendapat tugas menggantikan posisi Rasulullah tidur di atas pembaringan sementara Rasulullah sendiri ditemani Abu Bakar diam-diam meninggalkan Mekah menuju Madinah.

Menginjak usia dewasa, Ali mendambakan Fatimah Az-Zahra, putri kesayangan Rasulullah, sebagai pendamping hidupnya. Namun ia tidak pernah berani mengungkapkan keinginan tersebut kalau saja seorang sahabat yang mengetahui hal ini tidak mendorongnya. Ketika akhirnya ia datang menemui Rasulullah dengan tujuan meminangnya, tak satu patahpun kata keluar dari mulutnya. Beruntung Rasulullah yang ternyata memang ingin menikahkan Ali dengan sang putri tercinta dapat mengetahui isi hati sang calon menantu yang juga amat beliau cintai itu.

Apakah engkau memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar ?”, tanya Rasulullah lembut.

Tidak”, jawab Ali tertunduk malu.

Apa yang terjadi dengan pedang yang pernah aku berikan padamu”, tanya Rasulullah lagi.

Maka jadilah dengan pedang bernama Zulfikar tersebut, Alipun resmi menjadi suami Fatimah Az-Zahra yang terus setia mendampinginya hingga akhir hayat sang istri tercinta. Sementara itu, Ali memilih Abu Turab sebagai julukan kesukaannya. Hal ini berawal ketika suatu ketika Rasulullah mencari Ali dan mendapatinya sedang tertidur dengan debu mengotori punggungnya yang tersingkap. Rasulpun lalu duduk dan membersihkan punggung Ali sambil berkata, “Duduklah wahai Abu Turab, duduklah.”  Turab dalam bahasa Arab adalah  tanah.

Tak lama setelah Ali menikah, pecah perang pertama dalam sejarah Islam yaitu perang Badar. Di usianya yang relative masih muda Ali, disamping Hamzah paman Rasul  saw, telah membuktikan ketangguhannya dalam berperang. Namun kehebatan pedang Ali baru benar-benar terlihat mencolok ketika pecah perang Khandak. Perang Khandak atau yang juga sering disebut perang parit karena parit yang dibangun kaum Muslimin atau perang Ahzab yang artinya sekutu atau gabungan karena musuh yang dihadapi kaum Muslimin ketika itu adalah pasukan gabungan Quraisy Mekah dan Yahudi bani Nadir.

Adalah Amar bin Abdi Wud, jago pedang Quraisy yang dijuluki sebagai orang yang mempunyai 1000 kekuatan. Ia berhasil melompati parit pemisah yang sengaja dibangun di bagian utara Madinah untuk melindungi kota dari serangan pasukan gabungan tersebut.

Dengan pongah Amar berkoar : “ Adakah satu diantara kalian yang berani menghadapi kehebatan pedangku? “.

Hingga 3 kali ia berteriak-teriak seperti itu, dan 3 kali itu pula Ali memohon kepada Rasulullah agar diizinkan menjawab tantangan tersebut.

Dia Amar. Tetaplah di tempatmu”, begitu jawaban Rasulullah, menyadari bahwa Amar bukanlah orang yang mudah dikalahkan.

“Mana surga yang menurut kalian akan kalian masuki bila kalian tewas sebagai syuhada?”, teriak Amar lagi, membuat Ali dan siapapun yang mendengarnya semakin panas.

Pada permohonan Ali ke 3 inilah akhirnya Rasulullah mengizinkan menantunya itu menghadapi tantangan Amar. Mulanya Amar melecehkan kemampuan Ali yang dianggapnya terlalu muda dan mudah untuk dikalahkan. Namun nyatanya dalam sekali gebrakan saja, berkat Zulfikar, pedang pemberian Rasulullah yang amat disayanginya itu,  Ali dapat melumpuhkan musuhnya.

Sementara dalam perang Khaibar, perang melawan Yahudi dimana mereka bertahan di dalam benteng bernama Khaibar, Nabi saw bersabda:

“Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya”.

Esoknya, “Panggilkan Ali untukku”, lalu Ali datang dengan matanya yang sakit, kemudian Rasulullah meludahi kedua matanya dan memberikan panji kepadanya.

Maka, seluruh sahabat yang tadinya berangan-angan mendapatkan kemuliaan tersebut terdiam. Ali yang bernama asli Haydar, singa dalam bahasa Arab, akhirnya memimpin pertempuran sengit tersebut hingga pasukan Muslimpun mencapai kemenangan gemilang.

Dalam perjanjian Hudaibiyah, perjanjian antara kaum Muslimin dan kaum Musrikin Mekah, Rasulullah memerintahkan Ali sebagai juru tulis, mewakili kaum Muslimin. Ketika Rasulullah mendiktekan Ali kalimat “Bismillahir rahmanir rahim”, Suhail bin Amr, wakil dari Musyirikn Mekah, langsung menyela “ Ar-Rahman, demi Allah aku tidak tahu siapa dia. Karena itu, tulislah ‘Bismika Allahumma”. Berikut petikan kisah yang tercatat dalam hadist riwayat Muslim,

« Tulislah syarat antara kami dengan mereka dengan Bismillahirrahmanirrahim, ini adalah hasil keputusan yang ditetapkan oleh Muhammad Rasulullah. Maka orang-orang Musyrik berkata kepada beliau,  “ Sekiranya kami mengetahui kalau kamu adalah Rasulullah, niscaya kami akan mengikutimu, akan tetapi tulislah Muhammad bin Abdullah”. Lalu beliau menyuruh Ali supaya menghapusnya, namun Ali berkata, “Demi Allah, aku tak akan menghapusnya”. Kemudian Rasulullah bersabda: « Beritahukanlah kepadaku tempat yang kamu tulis tadi ».

Ali bin Abi Thalib tak diragukan lagi adalah sosok yang patut menjadi panutan. Tidak hanya keberanian dan kepiawaiannya dalam berperang namun terlebih lagi karena ketakwaan dan ke-zuhud-annya, seperti juga akhlak sebagian sabahat, karena memang begitulah yang dicontohkan Rasulullah saw. Apalagi Ali yang sejak kecil telah tinggal bersama nabi, menjadi bukti betapa suasana dan didikan rumah kenabian telah begitu dalam tertancap di lubuk sanubarinya.

Dikisahkan suatu hari, Ali mendengar kabar bahwa telah datang ke Madinah sejumlah tawanan perang. Maka Alipun datang memohon kepada Rasulullah agar diberi satu diantara mereka agar dapat membantu meringankan pekerjaan Fatimah, sang istri tercinta, yang terlihat sangat lelah mengerjakan pekerjaan sehari-harinya. Sementara Ali sendiri sibuk bekerja di perkebunan sebagai pemetik kurma untuk menafkahi keluarganya.

Namun ternyata Rasulullah tidak berkenan mengabulkan permohonan tersebut. Beliau malah menasehati pasangan muda tersebut agar bersabar menghadapi kesulitan kehidupan dunia. Karena yang demikian justru bisa mendekatkan diri pada Allah Azza wa Jalla. Dan sebagai gantinya Rasulullah bersabda : “Sebelum tidur, bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan Allahuakbar 33 kali. Yang demikian akan lebih baik daripada seorang pelayan”.(HR.Bukhari).

Dari Ali pula muncul aneka ajaran tarekat dan sufisme yang memang menomer-satukan kesederhanaan, hidup jauh dari kemewahan duniawi dan materialisme. Ali memilih tidur di atas pasir tanpa alas dan mengenakan pakaian yang terbuat dari goni sebagai cara hidupnya. Suatu hari Ali berkata : “Oh dunia, enyahlah kau dari penglihatanku. Oh dunia, kau tidak akan mampu membuatku tertipu, pergilah mencari orang lain ! ».

Kaum sufi menyebut “Karamallahu wajhah” di belakang nama Ali, yang artinya semoga Allah memuliakan wajahnya, karena Ali pernah bersumpah tidak akan menggunakan wajahnya untuk melihat hal-hal yang buruk. Sementara orang-orang Syiah memilih sebutan “Alaihi salam” di belakang nama Ali sebagaimana penyebutan para nabi, karena mereka beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah nabi. Sedangkan kaum Sunni menambah sebutan “ Radiaallahu anhu ( ra)” di belakang nama Ali sebagaimana penghormatan terhadap ke 3 Khulafaul Rashidin lainnya, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan.

Patut diketahui, Ali bin Abi Thalib di mata Rasulullah memang memiliki kedudukan istimewa. Ini terbukti dari  hadist shahih riwayat Bukhari, juga Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad, seperti berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Al Hakam dari Mush’ab bin Sa’ad dari bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menugasi Ali bin Abi Thalib untuk menjaga kaum muslimin ketika terjadi perang Tabuk.” Ali berkata; “Ya Rasulullah, mengapa engkau hanya menugasi saya untuk menjaga kaum wanita dan anak-anak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak inginkah kamu hai Ali memperoleh posisi di sisiku seperti posisi Harun di sisi Musa, padahal sesudahku tidak akan ada nabi lagi?”. (HR. Shahih Bukhari 4064, Shahih Muslim 4/1870).

 “ Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.(QS. Al-Ahzab(33):40).

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah ter-putus, maka tidak ada rasul dan nabi sesudahku.”. (HR. Turmudziy).

Ironisnya, keistimewaan ini di kemudian hari justru membawa petaka. Dan Rasulullah pernah memperingatkan hal ini. ( dari “Ali bin Thalib, Le heroes de la chevalerie” karya Recit Haylamaz).

“ Ya Ali, nasibmu kelak akan seperti Isa bin Maryam, dimana sebagian umat Yahudi membangkang dan melontarkan fitnah kejam terhadap ibunya, sementara sebagian umat Nasrani secara berlebihan memujanya hingga di luar batas”. ( al-Baihaqi, as-Sunnanu’l-Kubra, 5/137(8488).)

( Bersambung).

Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dengan Zainab binti Jahsy didasarkan pada perintah Allah sebagai jawaban terhadap tradisi jahiliah. Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang berasal dan kalangan kerabat sendiri. Zainab adalah anak perempuan dan bibi Rasulullah, Umaimah binti Abdul Muththalib. Beliau sangat mencintai Zainab.

Nasab dan Masa Pertumbuhannya

Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mar bin Sharah bin Murrah bin Kabir bin Gham bin Dauran bin Asad bin Khuzaimah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, namanya adalah Barrah, kemudian diganti oleh Rasulullah menjadi Zainab setelah menikah dengan beliau. Ibu dari Zainab bernama Umaimah binti Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai. Zainab dilahirkan di Mekah dua puluh tahun sebelurn kenabian. Ayahnya adalah Jahsy bin Ri’ab. Dia tergolong pernimpin Quraisy yang dermawan dan berakhlak baik. Zainab yang cantik dibesarkan di tengah keluarga yang terhormat, sehingga tidak heran jika orang-orang Quraisy rnenyebutnya dengan perempuan Quraisy yang cantik.

Zainab termasuk wanita pertarna yang memeluk Islam. Allah pun telah menerangi hati ayah dan keluarganya sehingga memeluk Islam. Dia hijrah ke Madinah bersama keluarganya. Ketika itu dia masih gadis walaupun usianya sudah layak menikah.

Pernikahannya dengan Zaid bin Haritsah

Terdapat beberapa ayat A1-Qur’an yang mernerintahkan Zainab dan Zaid melangsungkan pernikahan. Zainab berasal dan golongan terhormat, sedangkan Zaid bin Haritsah adalah budak Rasulullah yang sangat beliau sayangi, sehingga kaum muslimin menyebutnya sebagai orang kesayangan Rasulullah. Zaid berasal dari keluarga Arab yang kedua orang tuanya beragama Nasrani. Ketika masih kecil, dia berpisah dengan kedua orang tuanya karena diculik, kemudian dia dibeli oleh Hakam bin Hizam untuk bibinya, Khadijah binti Khuwailid r.a., lalu dihadiahkannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.

Ayah Zaid, Haritsah bin Syarahil, senantiasa mencarinya hingga dia mendengar bahwa Zaid berada di rumah Rasulullah. Ketika Rasulullah menyuruh Zaid memilih antara tetap bersama beliau atau kembali pada orang tua dan pamannya, Zaid berkata, “Aku tidak menginginkan mereka berdua, juga tidak menginginkan orang lain yang engkau pilihkan untukku. Engkau bagiku adalah ayah sekaligus paman.” Setelah itu, Rasulullah mengumumkan pembebasan Zaid dan pengangkatannya sebagai anak. Ketika Islam datang, Zaid adalah orang yang pertama kali memeluk Islam dari kalangan budak. Dia senantiasa berada di dekat Nabi, terutama setelah dia rneninggalkan Mekah, sehingga beliau sangat mencintainya, bahkan beliau pernah bersabda tentang Zaid,

“Orang yang aku cintai adalah orang yang telah Allah dan aku beri nikmat. (HR. Ahmad)

Allah telah memberikan nikmat kepada Zaid dengan keislamannya dan Nabi telah memberinya nikmat dengan kebebasannya. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau mempersaudarakan Zaid dengan Hamzah bin Abdul Muththalib. Dalam banyak peperangan, Zaid selalu bersama Rasulullah, dan tidak jarang pula dia ditunjuk untuk menjadi komandan pasukan. Tentang Zaid, Aisyah pernah berkata, “Rasulullah tidak mengirimkan Zaid ke medan perang kecuali selalu menjadikannya sebagai komandan pasukan, Seandainya dia tetap hidup, beliau pasti menjadikannya sebagai pengganti beliau.”

Masih banyak riwayat yang menerangkan kedudukan Zaid di sisi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.. Sesampainya di Madinah beliau meminang Zainab binti Jahsy untuk Zaid bin Haritsah. Semula Zainab membenci Zaid dan menentang menikah dengannya, begitu juga dengan saudara laki-lakinya. Menurut mereka, bagaimana mungkin seorang gadis cantik dan terhormat menikah dengan seorang budak? Rasulullah menasihati mereka berdua dan menerangkan kedudukan Zaid di hati beliau, sehingga turunlah ayat kepada mereka:

“Dan tidaklah patut bagi laki -laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.“ (Q.S. Al-Ahzab: 36)

Akhirnya Zainab menikah dengan Zaid sebagai pelaksanaan atas perintah Allah, meskipun sebenarnya Zainab tidak menyukai Zaid. Melalui pernikahan itu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. ingin menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan di antara manusia kecuali dalam ketakwaan dan amal perbuatan mereka yang baik. Pernikahan itu pun bertujuan untuk menghilangkan tradisi jahiliah yang senang membanggakan diri dan keturunan. Akan tetapi, Zainab tetap tidak dapat menerima pernikahan tersebut karena ada perbedaan yang jauh di antara mereka berdua. Di depan Zaid, Zainab selalu membangga-banggakan dirinya sehingga menyakiti hati Zaid. Zaid menghadap Rasulullah untuk mengadukan perlakukan Zainab terhadap dirinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruhnya untuk bersabar, dan Zaid pun mengikuti nasihat beliau. Akan tetapi, dia kembali menghadap Rasulullah dan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu lagi hidup bersama Zainab.

Mendengar itu, beliau bersabda, “Pertahankan terus istrimu itu dan bertakwalah kepada Allah.” Kemudian beliau mengingatkan bahwa pernikahan itu merupakan perintah Allah. Beberapa saat kemudian turunlah ayat, “Pertahankan terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” Zaid berusaha menenangkan din dan bersabar, namun tingkah laku Zainab sudah tidak dapat dikendalikan, akhirnya terjadilah talak. Selanjutnya, Zainab dinikahi Rasulullah.

Prinsip dasar yang melatarbelakangi pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy adalah untuk menghapuskan tradisi pengangkatan anak yang berlaku pada zaman jahiliah. Artinya, Rasulullah ingin menjelaskan bahwa anak angkat tidak sama dengan anak kandung, seperti halnya Zaid bin Haritsah yang sebelum turun ayat Al-Qur’an telah diangkat sebagai anak oleh beliau. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka,’ itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudara seagama dan maula-maulamu.” (QS. Al-Ahzab:5)

Karena itu, seseorang tidak berhak mengakui hubungan darah dan meminta hak waris dan orang tua angkat (bukan kandung). Karena itulah Rasulullah menikahi Zainab setelah bercerai dengan Zaid yang sudah dianggap oleh orang banyak sebagai anak Muhammad. Allah telah menurunkan wahyu agar Zaid menceraikan istrinya kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Pada mulanya Rasulullab tidak memperhatikan perintah tersebut, bahkan meminta Zaid mempertahankan istrinya. Allah memberikan peringatan sekali lagi dalam ayat:

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah, ‘sedang kamu menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah- lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak- anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluan daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.“ (QS. Al-Ahzab:37)

Ayat di atas merupakan perintah Allah agar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. menikahi Zainab dengan tujuan meluruskan pemahaman keliru tentang kedudukan anak angkat.

Menjadi Ummul-Mukminin

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengutus seseorang untuk mengabari Zainab tentang perintah Allah tersebut. Betapa gembiranya hati Zainab mendengar berita tersebut, dan pesta pernikahan pun segera dilaksanakan serta dihadiri warga Madinah.

Zainab mulai memasuki rurnah tangga Rasulullah dengan dasar wahyu Allah. Dialah satu-satunya istri Nabi yang berasal dan kerabat dekatnya. Rasulullah tidak perlu meminta izin jika memasuki rumah Zainab sedangkan kepada istri-istri lainnya beliau selalu meminta izin. Kebiasaan seperti itu ternyata menimbulkan kecemburuan di hati istri Rasul lainnya.

Orang-orang munafik yang tidak senang dengan perkembangan Islam membesar-besarkan fitnah bahwa Rasulullah telah menikahi istri anaknya sendiri. Karena itu, turunlah ayat yang berbunyi,

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…. “ (Qs. Al-Ahzab: 40)

Zainab berkata kepada Nabi, “Aku adalah istrimu yang terbesar haknya atasmu, aku utusan yang terbaik di antara mereka, dan aku pula kerabat paling dekat di antara mereka. Allah menikahkanku denganmu atas perintah dan langit, dan Jibril yang membawa perintah tersebut. Aku adalah anak bibimu. Engkau tidak memiliki hubungan kerabat dengan mereka seperti halnya denganku.” Zainab sangat mencintai Rasulullah dan merasakan hidupnya sangat bahagia. Akan tetapi, dia sangat pencemburu terhadap istri Rasul lainnya, sehingga Rasulullah pernah tidak tidur bersamanya selama dua atau tiga bulan sebagai hukuman atas perkataannya yang menyakitkan hati Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab wanita Yahudiyah itu.

Zainab bertangan terampil, menyamak kulit dan menjualnya, juga mengerjakan kerajinan sulaman, dan hasilnya diinfakkan di jalan Allah.

Wafatnya

Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang pertama kali wafat menyusul beliau, yaitu pada tahun kedua puluh hijrah, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dalarn usianya yang ke-53, dan dimakamkan di Baqi. Dalarn sebuah riwayat dikatakan bahwa Zainab berkata menjelang ajalnya, “Aku telah rnenyiapkan kain kafanku, tetapi Umar akan mengirim untukku kain kafan, maka bersedekahlah dengan salah satunya. Jika kalian dapat bersedekah dengan sernua hak-hakku, kerjakanlah dari sisi yang lain.” Sernasa hidupnya, Zainab banyak mengeluarkan sedekah di jalan Allah.

Tentang Zainab, Aisyah berkata, “Semoga Allah mengasihi Zainab. Dia banyak menyamaiku dalarn kedudukannya di hati Rasulullah. Aku belum pernah melihat wanita yang lebih baik agamanya daripada Zainab. Dia sangat bertakwa kepada Allah, perkataannya paling jujur, paling suka menyambung tali silaturahmi, paling banyak bersedekah, banyak mengorbankan diri dalam bekerja untuk dapat bersedekah, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Selain Saudah, dia yang memiliki tabiat yang keras.”

Semoga Allah memberikan kemuliaan kepadanya (Sayyidah Zainab Binti Jahsy) di akhirat dan ditempatkan bersama hamba-hamba yang saleh. Amin.

Sumber: Buku Dzaujatur-Rasulullah , karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh

Wallahu’alam bish shawwab.

Dicopy dari :

https://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/28/zainab-binti-jahsy-radhiallaahu-anha/

Jakarta, 12 September 2013.

Vien AM.

This content is password-protected. To view it, please enter the password below.