Feeds:
Posts
Comments

Al-Quran dan GPS.

GPS yang merupakan singkatan dari Global Positioning System  belakangan ini makin saja digemari dan dicari  orang. Paling tidak  itulah yang terjadi di Eropa dan Amerika. Di Negara-negara maju kedua benua tersebut GPS hampir wajib dimiliki semua orang dari berbagai kalangan. Dari kendaran pribadi hingga taxipun memilikinya. Di Indonesia, Jakarta khususnya, sebagai barometer ibu kota negara, memang belum begitu popular, ntah mengapa. ( Harap maklum tulisan ini dibuat pada awal 2014, jauh sebelum kendaraan online ada seperti saat ini ).

GPS adalah alat canggih pemandu jalan dengan bantuan navigasi satelite. Dengan alat bantu ini kita dapat menemukan alamat seseorang dengan mudah. Kita tinggal memasukkan alamat tujuan, kemudian sang peralatan canggih tadi dalam hitungan detik akan menunjukkan lokasi yang kita tuju. Kemudian secara otomatis, GPS  akan memperlihatkan jalan mana yang harus ditempuh agar sampai tujuan yang diinginkan. Dengan demikian kita tidak perlu lagi khawatir tersesat.

Malah bila kita mau membayar lebih, kita bisa mendapatkan aplikasi yang lebih canggih. Yaitu yang bisa menunjukkan jalan-jalan mana yang bebas hambatan, seperti macet, banjir dsbnya. Dapat dipastikan, ditanggung  laku keras bila dijual di Jakarta yang hari-hari ini sedang sering dilanda musibah banjir.

Bicara soal kemacetan di ibukota, jangankan di musim hujan yang rawan banjir, di musim kemaraupun Jakarta tidak pernah tidak macet. Orang bilang bukan Jakarta kalau tidak macet. Bahkan di hari Lebaran, yang di tahun-tahun lalu jalanan agak sepi, tidak lagi demikian belakangan ini.

Kemacetan di Jakarta nampaknya sudah mencapai titik sangat mengkhawatirkan. Seorang pemerhati sosial di Jakarta, beberapa tahun lalu pernah menyatakan bila masalah kemacetan di ibukota tidak segera dibenahi,  pada tahun 2014, yaitu tahun ini, Jakarta akan stuck, alias macet total. Menurutnya, semua kendaraan akan mengalami kemacetan begitu keluar dari garasi rumah masing-masing.

Macet memang benar-benar menyebalkan. Selain membuang waktu, tenaga dan bahan bakar juga membuat polusi udara Jakarta yang sudah sumpek menjadi semakin sumpek saja. Ironisnya, macet sering kali hanya gara-gara angkot yang ‘ngetem’seenaknya sendiri menutup jalanan.  Membuat ingin rasanya bisa terbang ke atas, dan melihat ke bawah, apa sebenarnya yang menjadi penyebab macet.

Kalau sudah begini, GPS versi yang bisa merekam kemacetan tadi pastinya bisa menjadi solusi terbaik. Walaupun kalau penyebab kemacetan baru saja terjadi, ketika kendaraan kita sudah di depan mata, GPS pun tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berputar arah, dan GPS kita setting ulang.

Nah, seperti itulah pada dasarnya kita suci kita, Al-Quranul Karim. Kitab ini adalah petunjuk kita dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Ia adalah cahaya dalam kegelapan, yang dengannya hidup tidak akan tersesat.

“(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”.(QS. Ali Imran(3):138).

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,”(QS. Al-Baqarah(2):2).

al-quranul-karim-660x330Namun dari kedua ayat diatas saja, jelas bahwa ayat-ayat Al-Quran adalah petunjuk hanya bagi orang yang takwa. Artinya bagi orang yang tidak meyakini bahwa dunia hanya kehidupan sementara, dan bahwa Allah bukanlah satu-satunya pencipta, ayat-ayat suci tersebut tidak memberi manfaat apa-apa, apalagi petunjuk.

Persis seperti orang yang tidak percaya dengan kemampuan GPS. Karena betapapun canggihnya alat pemandu jalan ini bila kita tidak mempercayainya tentu sama aja bo’ong,  alias sama sekali tidak ada manfaatnya.

Mengapa orang bisa tidak percaya pada GPS? Banyak penyebabnya. Diantaranya mungkin tidak mengenal GPS, tidak tahu cara penggunaannya, GPS sering error, atau memang tidak ingin percaya saja !.

Bagaimana dengan Al-Quran? Mengapa orang bisa tidak percaya dengannya? Bisa jadi sama dengan keempat alasan diatas. Yaitu tidak kenal Al-Quran, tidak tahu apa dan bagaimana Al-Quran itu, akibatnya Al-Quran dianggap sering error dan terakhir, memang tidak ingin percaya kepada Al-Quran.

Bagi kita, umat Islam di Indonesia, alasan pertama, yaitu tidak kenal dalam arti tidak pernah mendengar apa itu Al-Quran mungkin agak aneh, yang ada mungkin tidak tahu persis apa dan bagaimana Al-Quran itu. Dan akibatnya bisa fatal, yaitu ayat-ayat Al-Quran bisa dianggap menyalahi janji, karena tidak sesuai harapan.

Memahami Al-Quran tentu saja tidak semudah memahami GPS. Al-Quran adalah firman Sang Khalik yang diturunkan kepada Rasulullah saw melalui malaikat Jibril as. Untuk mempelajarinya tentu saja tidak mudah. Diperlukan tidak saja waktu dan tenaga untuk berpikir dan mengkajinya, namun terlebih keimanan dan keyakinan yang tinggi. Yang sayangnya, hanya dengan izin-Nya saja ini bisa terjadi.

… … Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Maidah(5):51).

“… … Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.  ”. (QS. Al-Maidah(5):67).

“ … … Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Maidah(5):108).

Uniknya lagi, memahami Al-Quran tidak boleh dan dan tidak bisa sesuka hati dan akal manusia yang memang sangat terbatas. Melainkan harus sesuai dengan apa yang dipahami dan dicontohkan Rasulullah saw. Itulah sunnah Rasul atau hadist.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):21).

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar”. ( Terjemah QS. An-Nisa (4):13).

Sebaliknya bagi orang yang memang tidak ingin mempercayainya tentu lebih jelas lagi. Kelihatannya ini berlaku dalam segala hal. Saya benar-benar merasakan hal ini. Ada suatu waktu dimana saya sangat membenci GPS. Saya benar-benar tidak ingin mempercayainya, tanpa alasan yang jelas. Mungkin juga, karena dengan adanya GPS, hobby dan kemampuan saya melihat peta jadi terabaikan. Akibatnya, apapun petunjuk GPS selalu salah, padahal menurut suami saya benar ! Aneh bukan … Mungkin inilah yang dinamakan seudzon, atau buruk sangka  …

Allah berfirman dalam hadits Qudsi, yang artinya : “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku. Kalau ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Bila ia berprasangka buruk, maka keburukan akan menimpanya”.

Jadi bila kita memang berniat ingin menggunakan Al-Quran sebagaimana GPS memandu kendaraan kita, maka yakinilah bahwa ia pasti benar.

“ Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah”.(QS.Thaahaa(20):2-6).

Yang tak kalah menarik, setiap GPS pasti memiliki kemampuan zoom-in dan zoom-out. Zoom-in berguna untuk melihat jalan di depan kita sepanjang beberapa puluh meter ke depan, sedangkan zoom-out berfungsi untuk melihat posisi kendaraan kita terhadap lokasi tujuan. Keduanya tentu saja sangat dibutuhkan dan sangat membantu kita dalam menjalankan kendaraan supaya tidak tersesat. Bukankah tidak jarang terjadi, ketika kita hanya fokus memperhatikan zoom-in, lupa memperlihatkan zom-out, kita berputar-putar di tempat yang sama jauh dari tujuan, hingga tidak sampai-sampai tujuan.

Demikian pula Al-Quranul Karim. Di dalam kitab ini kedua fungsi tersebut sudah tercakup. Perumpamaan zoom-in adalah seperti kehidupan di siang hari, dimana pandangan kita hanya terbatas pada kehidupan duniawi. Sedangkan zoom-out ibaratnya malam hari, dimana langit nan luas dengan taburan milyaran bintangnya dapat kita awasi. Hal yang mustahil bisa kita lihat di siang hari.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS.; Ali Imran(3):190-191).

Itu sebabnya orang yang hanya sibuk dengan kehidupan duniawi di akhir hayatnya, ketika sakratul maut, terkejut mendapati di hadapannya menganga kehidupan akhirat yang selama ini dilupakannya … Na’udzubillah min dzalik …

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah !!“. ( Terjemah QS. An-Naba(78):40).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 Februari 2014.

Vien AM.

Baby Blue dan Fenomenanya.

Dari Samurah bin Jundab dia berkata:Rasulullah bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, dia berkata:Rasulullah bersabda:“ Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya.” [HR Ahmad, Thabrani, dan al-Baihaqi]

Dari Abu Buraidah r.a.: “Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya”. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Alhamdulillah hari ini, acara akikah cucu pertama kami berjalan lancar, tepat seminggu setelah kelahiran sang buah hati tercinta. Kurban seekor kambing yang telah dimasak menjadi  gule dan sate kambing telah disalurkan ke sebuah yayasan yatim piatu tidak jauh dari rumah. Demikian pula sedekah seberat minimal rambut sang jabang bayi. Tak lupa sebuah nama yang indah disertakan agar bayi perempuan tersebut dapat didoakan beramai-ramai oleh anak-anak yatim dan pengurusnya.

Sebelumnya, begitu bayi dilahirkan, ayahnya telah meng-azan-kannya di telinga sebelah kanan. Sebagian ulama berpendapat, ditambah di-iqamah-kan di telinga sebelah kiri.

Diriwayatkan dari Rafi’, ia berkata: “Aku melihat sendiri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengazankan Al-Hassan bin Ali pada telinganya ketika ia baru dilahirkan oleh Fatimah.”(HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Azan diperdengarkan kepada sang jabang bayi agar ia terus teringat janji yang telah diucapkannya sebelum ia dilahirkan ke muka bumi ini. Janji dan persaksian bahwa Allah azza wa jalla adalah Tuhannya, Tuhan yang harus disembah selama hidupnya di dunia yang fana ini.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (QS.Al-A’raf(7):172).

Setelah itu bayi di-tahnik, yaitu mengoleskan buah kurma yang sudah dilembutkan ke mulut bayi. Tujuannya adalah agar bayi mudah merasakan manisnya air susu ibu serta membuat bayi kuat menghisap air susu tersebut. Sayang info mengenai tahnik ini baru kami ketahui belakangan, jadi kami baru mempraktekkannya pada saat acara akikah.

Selamat ya Nin”, terdengar salah satu tante mengucapkan selamat kepada menantu perempuan saya. « Baby Blue g ? », tanyanya lagi.

Menantu saya menggeleng sementara saya hanya bengong, berusaha mengingat-ingat baby blue itu apa. Beruntung sebelum saya menemukan jawabannya, adik saya yang kebetulan mendengar pertanyaan tersebut langsung ikut nimbrung pembicaraan.

“ Aku denger katanya Brooke Shield juga gitu. Katanya dia sampai jadi benci dan mau melukai bayinya », ceritanya seru.

Dari pembicaraan itu akhirnya saya tahu ternyata Baby Blue adalah istilah untuk ibu yang baru melahirkan bayinya dan stress berat menghadapi sulit dan repotnya merawat bayi yang baru dilahirkannya.

Saya jadi teringat ucapan perawat di kamar sebelah menantu saya “ Istirahat saja dulu bu, nanti kalau bayinya sudah lahir bakal susah tidur ibu ». Saya langsung tertawa mendengar itu dan berkata kepada mantu dan anak saya yang saat itu sedang menanti persalinan, « Bener banget tuuh, emang enaak”, canda saya.

Kerepotan dan kesulitan merawat bayi memang bukan rahasia lagi. Saya yakin setiap pasangan suami istri, minimal si ibu yang pernah melahirkan bayi, pasti pernah mengalami hal ini. Bagi pasangan muda yang baru saja menikah dan belum begitu siap menerima kehadiran anggota baru di lingkungannya, kehadiran bayi pasti terasa sangat melelahkan.

Dapat dibayangkan, si ibu, yang selama ini merasa tenang-tenang saja, makan tidur nyenyak, didampingi suami tercinta, dalam suasana bulan madu, dimana suami 100 persen adalah miliknya dan senantiasa memperhatikannya, tiba-tiba harus ‘direcoki’ kehadiran bayi. Bayi yang memerlukan air susu ibu, kehangatan ayah-ibu, kasih sayang dan perhatian penuh ke dua orang-tuanya.

Sebaliknya, bayi yang selama kurang lebih 9 bulan berada tenang tertidur di dalam kehangatan perut ibu, tanpa harus merasa kelaparan dan kedinginan, tiba-tiba harus keluar, tanpa sehelaipun pakaian menyelimuti tubuh mungilnya. Kemana ia harus mencari perlindungan kalau bukan ibu kandungnya.

Bayi adalah mahluk kecil, lemah, tak berdaya. Ia belum bisa apa-apa. Ia tidak bisa mengatakan keinginan dan perasaannya, bahwa ia haus, kedinginan, kepanasan, kesakitan dan tidak nyaman posisinya, atau bahkan sekedar kesepian, ingin dibelai. Satu-satunya komunikasi yang ia tahu hanya menangis !

Jadi pantas saja bila seorang ibu muda yang baru pertama kali melahirkan dan merawat sendiri bayi mengalami stress. Saya memang tidak tahu persis kategori apa  yang dinamakan Baby Blue itu. Ada yang mengatakan ketika si ibu sampai harus menangis terus menerus, depresi dan bahkan sampai tingkat membenci bayi yang dilahirkannya sendiri. .

“ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO”

Artinya: “ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”

Semua muslim pasti hafal bacaan doa di atas, doa sapu jagad, orang sering bilang. Tadinya saya sempat bertanya-tanya mengapa doa tersebut menyebut ‘sewaktu aku masih kecil” bukan “ sejak aku masih kecil”. Bukankah orang-tua menyayangi kita tidak hanya ketika kita masih kecil, namun sejak kecil hingga kita dewasa?

Ternyata fenomena “Baby Blue” adalah jawaban yang paling tepat. Subhanallah Allahuakbar … Rupanya merawat bayi adalah ujian terbesar bagi pasangan pengantin.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua ( orang-tua) dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Israa(17):24).

Buktinya yaitu tadi, ayat dan doa yang diajarkan Rasulullah diatas. Allah swt akan memberilkan kasih sayangNya kepada kita sebagaimana kita menyayangi anak kita ketika masih kecil. Jadi balasan kasih sayang dan kesabaran kita terhadap anak kita yang masih kecil itu sungguh tak terhingga, Allah sendiri yang akan membalasnya.

Oleh karenanya, jika sebagian orang memberi nasehat agar jangan membiarkan seorang ibu seorang diri merawat bayinya, perlunya partisipasi sang suami dan segala macam refreshing bagi sang ibu, maka iming2 pahala dari-Nya dalam bentuk kasih sayangNya, mustinya sudah lebih dari cukup. Karena dengan menggantungkan diri hanya pada Sang Khalik kita tidak akan pernah kecewa. Sementara mengharap bantuan orang lain meski suami sendiri sering kali tidak sesuai harapan. Sebab suami juga harus bekerja dan pulang kerja juga tentu sudah lelah.

Yang juga harus dicatat, selain memberikan kasih sayang dan merawat anak dengan baik, mengingatkan anak akan Tuhannya dengan cara mengajarkan shalat, mengenal huruf-huruf Al-Quran dll adalah juga bagian yang sangat penting, paling penting malah. Guyonan ala mama Dedeh, uztazah yang sedang naik daun, tentang anak yang susah dibangunkan shalat Subuh rasanya sangat mengena.

“ Bayi dari sononye Subuh udah bangun, emak babenya yang ogah bangun, cep cep tidur lagi yee … , jadi ya sale sendiri kalo sekarang Subuh tuh anak suse bangun !”, begitu katanya. J

Nabi saw bersabda, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, lalu bapak ibunya yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi. ” (HR.Bukhari Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Januari 2014.

Vien AM.

Sakit dan Sakratul Maut (2).

Hari ini hari ke 25 bapak dirawat di RS, dengan perkembangan kesehatan yang tidak begitu berarti. Tangan dan kaki bapak tetap lemah, belum juga bisa digerakkan. Namun Alhamdulillah, daya ingat, daya pikir dan komunikasi tetap lancar. Meski timbul masalah lain, yaitu punggung yang mulai lecet-lecet karena terlalu lama berbaring di tempat tidur.

Luka seperti ini biasa disebut Decubitus. Padahal kami, putra-puti yang merawatnya, sudah berupaya merubah posisi tidur bapak, ke kanan dan ke kiri, tiap 2 jam sekali. Ini sesuai anjuran suster di RS. Luka ini disebabkan terganggunya sirkulasi darah yang tidak/kurang lancar pada bagian-bagian  tertentu, karena tertindih, tidak bergerak atau berada di suatu posisi yang sama terlalu lama.

Luka lecet biasanya terjadi di punggung sekitar tulang belakang, tulang ekor, paha, siku dan tumit. Dan bila dibiarkan lama kelamaan bisa menjadi infeksi, menjadi busuk dan bernanah ( gangrene), yang tidak hanya merusak jaringan kulit namun juga jaringan syaraf. Bahkan pada penderita Diabetes Melitus, bagian tersebut bisa jadi harus diamputasi !

Fenomena ini mengingatkan saya pada ayat Al-Quran tentang penghuni gua Kahfi, Ashabul Kafhi berikut :

“Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka”.(QS. Al-Kahfi(18):18).

Ini adalah kisah tentang beberapa pemuda beriman dan seekor anjingnya, yang ‘ditidurkan’ Tuhannya selama 300 tahun ditambah 9 tahun, di dalam sebuah gua.  Allah swt menidurkan mereka dengan tujuan selain menyelamatkan mereka dari kejaran orang-orang yang memusuhi mereka, juga sebagai tanda untuk menunjukkan kebesaran-Nya.

Tidur selama 309 tahun, bagi orang awam, tentu hal yang amat sangat mustahil.  Namun tidak bagi Sang Khalik, dengan “ Kun Fayakun”, “Jadi, maka jadilah”. Akan tetapi Allah swt, Yang Maha Kuasa ( Al-Maliik), Yang Maha Pintar ( Ar-Rosyiid),  Yang Maha Bijaksana ( Al-Hakiim) tampaknya tidak ingin manusia, sebagai hamba ciptaan-Nya yang paling pandai itu, hanya seperti  robot, yang hanya pasrah, diam, apatis, menanti keputusan-Nya.

Untuk itu diciptakan manusia itu berakal, agar ia dapat berusaha, memikirkan kebesaran Allah, mengagumi betapa hebat dan dasyatnya ilmu Allah. Maka ‘mantera’ “Kun Fayakun”yang maha dasyat itupun disimpan-Nya, digunakan hanya sekali-sekali.dan sebagai gantinya, dibuat dan diperlihatkan-Nya langkah-langkah sains agar manusia dapat ‘mengikuti’ dan “memahami” ilmu-Nya, meski itupun hanya secuil, ibarat setetes air hujan di lautan nan luas.  

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.Lukman(31):27).

Ayat 18 surat Al-Kafi diatas hanyalah salah satunya. Ayat tersebut menerangkan bagaimana Allah swt membalik-balikkan badan para pemuda Asbabul-Kahfi, dengan hikmah tertentu. Yaitu agar tubuh mereka tidak kaku, rusak dan terserang Decubitus !   Dan hikmah tersebut baru kita ketahui belakangan ini saja. Padahal Al-Quran telah turun 14 abad lebih yang lampau.

Lebih hebat lagi, ternyata ayat 18 surat Al-Kahfi diatas, tidak hanya berhenti disitu, tidak hanya sekedar  membalik-balikkan posisi tubuh, namun juga membalikkan posisi tubuh kearah datangnya sinar matahari.  Mengapa ?

Saya jadi teringat, Dr mengatakan bahwa bapak kekurangan kalsium, maklum orang yang sudah sepuh atau perempuan yang sudah menopause biasanya memang begitu. Ini yang menyebabkan keroposnya tulang, atau osteoporosis. Itu sebabnya bapak mendapat infus kalsium extra. Namun tambahan tersebut tetap tidak mencukupi. Maka Dr pun memutuskan bahwa bapak perlu ‘dijemur’ agar mendapatkan extra sinar matahari pagi. Ternyata kalsium yang merupakan unsur penting bagi pembentukan dan penguatan tulang dan gigi, tanpa bantuan sinar matahari yang mengandung vitamin D itu, tidak ada artinya.  Subhanallah …

Intinya, kita sebagai manusia tidak boleh pasrah sebelum berusaha keras. Islam mengajarkan, bahwa hasil akhir itu bukanlah tujuan utama. Karena hasil itu sudah ditetapkan oleh-Nya, sebagai takdir.  Demikian pula kematian.

“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya)”. (QS. Al-Mukmin(40):67).

Proses atau jalan untuk mendapatkan hasil itulah yang lebih utama. Itulah tawakkal. Simak kisah berikut ini.

Seseorang berkata kepada Nabi ShollAllahu ‘alaihi wa sallam, “Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?” Nabi bersabda, “Ikatlah kemudian bertawakkallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan Al Albani dalam Shohih Jami’ush Shoghir). Dalam riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan bahwa Amr bin Umayah RadhiyAllahu ‘anhu berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rosululloh!! Apakah aku ikat dahulu unta tungganganku lalu aku berTawakkal kepada Allah, ataukah aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?’, Beliau menjawab, ‘Ikatlah untamu lalu bertawakkallah kepada Allah.”

Saat ini kami keluarga besar, sedang dalam proses memikirkan apakah sebaiknya bapak jadi meneruskan rencana operasi sebagaimana yang dianjurkan tim Dokter atau tidak.  Keraguan kembali muncul belakangan ini karena kami melihat kenyataan bahwa kondisi bapak tidak begitu fit untuk segera di operasi. Padahal kami berkejaran dengan waktu, yaitu keburu keringnya syaraf sebagaimana alasan awal tim Dokter lebih 3 minggu yang lalu, mengapa bapak sebaiknya segera di operasi.

Akhirnya sebagian dari kamipun menginginkan agar bapak berobat alternative saja, sebagian berpendapat tetap operasi Dokter dengan second opinion, dan sebagian lain berobat ke Dokter yang memiliki keahlian pengobatan  ke-timur-an, seperti akunpuntur, refleksi dll.

Sementara itu yang cukup mengejutkan, bapak beberapa kali bercerita bahwa bapak merasa sering ada yang suka memijat kaki dan tangan bapak, tanpa bapak bisa melihat siapa yang melakukan hal itu ! Tak urung merinding juga bulu kuduk ini, adakah ini pertolongan Allah yang mengutus pasukan malaikat-Nya sebagaimana Dia pernah mengutus para malaikat membolak-balikkan para pemuda penghuni gua Kahfi? Agar syaraf bapak tidak mengering ??  Semoga saja, Allahuakbar …

Yang juga patut diambil sebagai pelajaran, bapak yang sejak muda selalu hidup disiplin, menjaga kebersihan dan kesehatan, dengan makan tidak berlebihan, cukup olah raga ringan, mengkonsumsi vitamin, tidur tidak terlalu larut dan bangun di waktu subuh dll, tanpa merujuk kepada cara hidup sehat Rasulullah saw mungkin adalah kekurangan beliau.

Madu memang sudah termasuk dalam daftar cara hidup sehat bapak, namun tidak yang lain. Seperti mengkonsumsi Habatussauda (jintan hitam), minyak zaitun atau berbekam secara rutin, misalnya. Mungkin ini saat yang tepat bagi kita untuk mau memulai mempelajari dan mempraktekkan bagaimana Rasulullah saw menjaga kesehatan dan mengatur waktu, termasuk waktu malam yang sarat diisi dengan bermunajat kepada-Nya.

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan”. (QS.Al-Muzzammil(73):1-4).

Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah aku melewati satu dari langit-langit yang ada melainkan para malaikat mengatakan: ‘Hai Muhammad, perintahkan ummatmu untuk berbekam, karena sebaik-baik sarana yang kalian pergunakan untuk berobat adalah bekam, al-kist, dan syuniz semacam tumbuh-tumbuhan’.”

Dari Aisyah R.A bahwasanya ia mendengar Nabi SAW bersabda; ” Sesungguhnya Habbatus Sauda’ ini merupakan obat bagi setiap penyakit, kecuali saam. Aku bertanya, “Apakah saam itu?”. Beliau menjawab, “Kematian.” (HR. Bukhori).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 31 Desember 2013.

Vien AM.

Sakit dan Sakratul Maut (1).

“Dan datanglah skaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya ».(QS.Qaaf(50) :19).

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau“. (QS. Al-Qiyamah(75): 26-30).

Setiap mukmin pasti tahu dan yakin bahwa kematian adalah hal yang pasti dan tidak mungkin dihindari.  Meski seringkali kesadaran ini hanya datang ketika seseorang sedang sakit, sakit yang  parah, biasanya. Padahal kematian tidak harus selalu didahului dengan sakit, kematian karena kecelakaan, contohnya. Dan berdasarkan catatan, kematian karena kecelakaan jumlahnya tidaklah sedikit.

Sakit, seringan apapun, pada umumnya, memang tidak enak. Yaaah, namanya juga sakit. Tapi justru dengan sakit inilah orang bisa merasakan nikmatnya sehat. Apalagi bila sakit tersebut sampai harus dirawat di rumah sakit, yang ongkos sewa kamarnya saja bisa mencapai ratusan ribu rupiah per hari !

Padahal sedianya uang tersebut bakal dipakai untuk liburan keluarga yang sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya. Itu bagi keluarga tingkat menengah. Belum bagi mereka yang untuk hidup sehari-hari saja susah, yang terpaksa harus berhutang untuk berobat. Oh, makin terasa, alangkah mewahnya sehat itu …

Namun sakit juga memiliki sejumlah hikmah. Dengan sakit, orang yang biasa kerja keras tak mengenal waktu dan istirahat, terpaksa harus beristirahat. Karena bagaimanapun tubuh itu perlu dan mempunyai hak untuk istirahat. Dengan istirahat, tubuh akan memperoleh kembali kesehatan dan kekuatan yang selama itu terkuras habis.

Dengan sakit, kita juga bisa memperkirakan berapa banyak orang yang benar-benar menyayangi dan memperhatikan kita. Bukankah Rasulullah mengajarkan kita agar suka menjenguk saudara dan handai taulan yang sakit ? Inilah saat yang tepat untuk  introspeksi bagaimana kita menjaga silaturahim. Mungkin hadis yang menceritakan bahwa silaturahim bisa memperpanjang umur seseorang bisa memotivasi agar kita dapat menjaga hablu minna naas ini.

Dengan sakit pula, bisa mengingatkan kita akan mati. Meski sebaiknya, mengingat mati tidak harus menunggu sakit dahulu, apalagi sakit parah. Karena bisa jadi sakit yang demikian ini sudah terlalu dekat dengan ajal. Padahal Allah swt tidak mengampuni dosa orang yang mengingat dosa-dosa, yang mengingat Sang Khalik dan bertobat pada saat ajal telah di pelupuk mata.

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”… … ”. (QS.An-Nisa(4):18).

Jadi sakit, apalagi sakit yang berujung pada kematian, bisa juga diartikan sebagai tanda bahwa Allah swt masih menyayangi kita, masih mau memperhatikan kita. Betapa tidak, sebelum Ia mengutus malaikat Izrail, malaikat pencabut nyawa, untuk melaksanakan tugasnya, Sang Khalik memberi kita kesempatan untuk segera bertobat, mengingat segala kesalahan dan khilaf.

Yang juga menggembirakan, sakit ternyata dapat menggugurkan dosa dan khilaf. Simak sabda Rasulullah saw berikut :

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya“. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini mengingatkan saya pada bapak, suami, eyang, uyut kami tercinta yang telah dikarunia-Nya usia 85 tahun, bahkan 86 tahun pada Februari tahun mendatang. “ Sudah dapat bonus 22 tahun lebih”, kata orang. Ini kalau kita bandingkan dengan umur Rasulullah yang wafat di usia 63 tahun lebih.

Saat ini beliau sedang berbaring di sebuah RS.  Diawali pada  Jumat menjelang Subuh, 6 desember 2013 yang lalu. Bapak terjatuh dari tempat tidurnya. Sejak itu beliaupun kehilangan tenaga, tangan dan kakinya sangat sulit untuk digerakkan. Dan dari hasil MRI, diketahui bahwa telah terjadi kerusakan di beberapa syaraf leher beliau.

Dapat dibayangkan betapa terpukulnya beliau. Harap maklum bapak adalah seorang mantan perwira tinggi sekaligus pejabat, yang hingga hari inipun sebetulnya masih dinantikan keputusan-keputusan dan pemikiran-pemikiran briliyannya. Bapak memang secara rutin masih sering menghadiri pertemuan penting para mantan perwira tinggi, untuk membahas kondisi negri kita tercinta yang makin hari makin amburadul ini.

Disamping itu bapak juga mantan atlit. Beliau pernah ikut terlibat dalam PON I di Solo. Ini kelihatannya yang membuat bapak tampak relatif sehat diusianya, dibanding rekan-rekan bapak lainnya. Olahraga ringan teratur, hidup disiplin, makan tidak berlebihan dan rutin memeriksakan kesehatan tampaknya adalah kunci kesehatannya. Bapak memang bisa dibilang jarang sakit.

Namun saat ini, bapak hanya bisa terbaring lemah, yang bahkan hanya untuk menggerakkan jari-jari telapak tanganyapun tak mampu!

Masya-Allah”, bisik bapak dengan suara lirih, sambil menatap syahdu jari-jemarinya. Ketika itu saya baru saja menata jari-jari beliau agar tetap lurus terbuka, tidak menutup dengan sendirinya.  Betapa sedih dan terharunya hati ini mendengar bisikan kagum, yang keluar tulus dari hati dan bibir beliau itu. Pasti bapak sedang membayangkan kebesaran dan kehebatan-Nya, yang dengan sekali menyentil ujung syaraf leher beliau telah membuatnya tidak berkutik, alias KO. Allahuakbar …

Selanjutnya air mata beliaupun menitik, keluar dari matanya yang berkaca-kaca. Dan keluarlah dari bibir beliau penyesalan, rasa  sombong yang diam-diam diakui telah menguasainya.

Bapak ini sombong, merasa lebih sehat dan kuat dari teman-teman lain. Merasa pintar, merasa hebat, karena keputusan bapak selalu dinantikan teman-teman”, begitu keluhnya diikuti kata “Astaghfirullahalladzim” berkali-kali. Kemudian kalimat-kalimat zikirpun terus mengalir dari bibirnya hingga beiau tertidur, terbangun dan tertidur lagi. Dan ketika terdengar azan berkumandang beliau segera mengerjakan shalat sambil tetap berbaring diatas ranjang, dengan tayamum sebisanya.

Sungguh, betapa sayangnya Allah pada beliau, karena tidak jarang orang tertimpa sakit malah banyak mengeluh. Meski bapakpun bukannya tidak mengeluh sama sekali. Apalagi setelah belakangan ini beliau terserang diare hebat, membuat bapak harus menggunakan pampers, layaknya seorang bayi. …  😦

“Bapak jadi kayak anak kecil lagi”, keluhnya ketika putra-putri beliau secara bergantian menyuapinya.

 “ Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. Al-Hajj (22:5).    

Syukurlah Allah swt tidak membuat bapak kami tercinta sampai menjadi pikun, nau’dzubillah min dzalik.  Benar janji Allah, tidaklah Ia menguji hamba-Nya lebih dari kapasitas hambanya. Dalam keadaan tak berdaya tersebut, bapak masih sanggup menanyakan nama obat yang diberikan para dokter, apa kegunaannya dan juga menyapa menanyakan nama para dokter yang merawatnya dan sekaligus menghafalnya. Bapak juga masih bisa berpesan agar ibu kami dijaga baik-baik, diperhatikan kesehatannya, bahkan urusan pembayaran listrik rumah dll pun masih sempat ditanyakannya.

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir“.(QS. Al-Baqarah(2);286).

Pertanyaannya, benarkah bapak menjadi sakit seperti sekarang ini karena bapak ‘sombong’ meski hanya bersembunyi di dalam dada, sebagaimana perkiraan beliau? Wallahua’alam … Yang pasti, setiap orang pasti memiliki kesalahan dan pernah khilaf, sekecil apapun. Dan tidak jarang, bila saja mau merenung dan berpikir, ia bisa menyadari apa kesalahan utamanya. Adalah PR bagi kita semua untuk selalu mau introspeksi, muhasabah, merenung, apa yang telah kita perbuat selama hidup ini. Karena hidup adalah kesenangan sekaligus kesedihan yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Sang Pemberi Hidup, Al–Hayat, Allah Azza wa Jalla.

Akhir kata, kami hanya dapat memohon kepada-Nya, agar bapak yang besok ini akan mendengar keputusan tim dokter, untuk dioperasi atau tidak, diberi kesembuhan yang baik, diringankan penderitaannya, dimudahkan segala urusannya, dimaafkan segala salah dan khilaf dan diterima tobatnya. Dan bila memang sudah waktunya, mohon dikembalikan dalam keadaan khusnul khotimah, serta dapat melewati sakratul maut dengan tidak terlalu tersiksa.

Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma, ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

“bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas”.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”.(QS.Al-Fajr(89):27-30).

Yang juga patut  menjadi catatan, kita tidak boleh menilai apakah seseorang itu khusnul khotimah atau tidak, hanya dari keadaan lahirnya. Karena yang namanya sakratul maut, sesungguhnya pasti sakit.  Tidak terkecuali Rasulullah saw.

Dari Anas Radhiyallahu anhu, berkata: “Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 15 Desember 2013.

Vien AM.

Merengkuh Hidayah Allah

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra.  Telah menceriterakan kepada kami Rasulullah saw :” Sesungguhnya salah seorang dari kamu sekalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa air mani. Kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari. Lalu diutus seorang malaikat kepada janin tersebut dan ditiupkan ruh kepadanya dan malaikat tersebut diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yaitu: menulis RIZKInya, batas UMURnya, AMAL dan kecelakaan atau KEBAHAGIAAN hidupnya”.

Pertanyaan sebagian orang, “Kalau begitu buat apa harus bekerja keras siang malam, berobat menghabiskan uang puluhan juta rupiah, menuntut ilmu tinggi-tinggi dan berusaha mati-matian bila semua itu telah ditetapkan sebelumnya?”.

Dan memang kenyataannya, sering kita melihat tidak semua orang yang bekerja keras, hidup steril sepanjang hidup demi menjaga kesehatan dan selalu berhati-hati dalam hidup, dapat mencapai apa yang diinginkan dan diusahakannya itu. Tidak mudah memang memahaminya. Namun saya yakin ketetapan yang dimaksudkan-Nya itu tidak sesederhana dan sekaku itu. Saya membayangkannya, ibaratnya ‘chip’ komputer super canggih yang dipasang di dalam tubuh manusia. Kalau manusia saja bisa membuat game-game canggih dengan segala aturannya, apalagi Yang Maha Kuasa !

( lihat https://vienmuhadi.com/2009/01/27/mencoba-memahami-konsep-takdir/ ).

Manusia dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci, bersih dari segala kotoran dan dosa. Ia tahu persis siapa Tuhannya, sebagaimana ia mengenal kedua orang-tuanya.

Saya pernah melihat rekaman video, sebuah ilustrasi yang memperlihatkan percakapan antara bayi yang akan dilahirkan  ke dunia ini, dengan Tuhannya. Intinya, bayi lahir ke dunia itu sebenarnya dengan rasa berat hati, karena berbagai alasan. Diantaranya adanya kekhawatiran di dunia nanti si bayi  akan hidup susah karena ia mendapat kabar bahwa dunia penuh kejahatan. Ia juga takut akan kehilangan kesenangan karena di dunia banyak tugas dan tanggung-jawab yang harus diembannya. Selain itu si bayi juga khawatir akan kehilangan kasih sayang dan perhatian Tuhannya yang selama ini selalu memperhatikan dan mengasihinya.

Bagaimana nanti kalau aku rindu pada-Mu?? », tanya bayi penuh kekhawatiran, meski Tuhannya meyakinkan bahwa meskipun kelihatannya jauh, sebenarnya Ia tetap sangat dekat dengannya.

Dalam percakapan itu dijawab bahwa ibunyalah ( mustinya juga ayahnya) yang nantinya akan mengajarkannya bagaimana dan apa yang ia harus lakukan ketika ia rindu pada-Nya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(QS.Adz-Dzariyat)51):56)

Kesimpulannya, video ini ingin menggambarkan bahwa pada awalnya setiap manusia itu mengenal Tuhannya, Tuhan yang men-Cipta-kannya, yang me-Nyayangi-nya, yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan ibunya, sebagai perempuan yang dipercaya untuk mengandung dan melahirkannya, bersama dengan ayahnya, selaku pasangan suami istri, yang diberi tanggung-jawab untuk merawat, menjaga dan mendidiknya adalah orang no 1 yang paling bertanggung jawab bila sampai si anak setelah dewasa lupa akan hal-hal tadi. Setelah kedua-orang tua, lingkungan dan teman pergaulan adalah dua hal yang dapat mempengaruhi kesucian anak.

Sebagian ulama meyakini bahwa Allah swt membekali setiap bayi yang akan dilahirkan ke dunia dengan 4 hal, yaitu hati, akal, potensi baik dan potensi buruk. Potensi baik adalah hasrat untuk menjalankan kebaikan. Sedangkan potensi buruk adalah hasrat untuk melakukan perbuatan buruk. Potensi baik ini dibimbing oleh malaikat, sementara potensi buruk mengikuti bisikan syaitan. Dengan akal manusia bisa berpikir, untuk dapat membedakan mana benar dan mana salah. Dan dengan hati, manusia bisa merasakan mana baik dan mana buruk.

Disamping itu, Allah swt sebagai Yang Maha Pencipta Yang Maha Pengasih, juga membekali manusia petunjuk. Bahkan Allah mewajibkan dirinya sendiri sebagai suatu kewajiban.

Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk”, (QS. Al-Lail (92):12.

Petunjuk Allah ini terdiri atas 2 bagian, yaitu petunjuk (ayat/tanda) Kauniyah dan petunjuk ( ayat/tanda) Qauliyah. Ayat Kauniyah adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di alam semesta. Sedangkan ayat Qauliyah adalah kalam Allah yang diturunkan kepada para nabi melalui malaikat Jibril as. Al-Quranul Karim adalah ayat Qauliyah yang diturunkan terakhir kali, yaitu kepada rasulullah Muhammad saw.

Kedua petunjuk ini diberikan Sang Khalik kepada seluruh manusia, terserah manusia, apakah ia mau menerimanya atau tidak. Selanjutnya untuk memahami petunjuk ini manusia harus mengfungsikan seluruh perbekalan yang diberikan Allah swt, yaitu tadi, akal dan hatinya.

Perumpamaannya bagaikan radio atau pesawat televisi di rumah kita. Untuk mendapatkan gambar dan suara yang jelas dan bening, harus dicari frekwensi yang tepat. Setelah ‘klop’, maka telingapun difungsikan, apakah mau sekedar “ hearing” atau lebih serius “listening”. “Hearing” adalah ketika seseorang hanya mendengarkan sepintas, sambil lalu dan tidak serius. Sedangkan “listening” mendengarkan dengan sungguh-sungguh, cermat.

Setelah itu giliran potensi baik yang harus diaktifkan. Bila potensi baik ini berhasil mengalahkan dan menyingkirkan potensi buruk, berarti hidayah telah masuk ke dalam dirinya. Potensi baik inilah yang akan melahirkan amalan-amalan dan  perbuatan yang diridhoi Allah swt. Inilah yang disebut Taufik, dan ini adalah kemenangan terbesar dalam hidup.

Yang menjadi masalah, dengan berlalunya waktu, hati manusia yang tadinya suci dan bersih, menjadi kotor. Ini adalah hasil kerja keras pasukan syaitan yang terus-menerus  membisiki dan mendorong potensi buruk manusia agar muncul menampakkan diri. Kotoran-kotoran yang semula tampak kecil, namun bila tidak segera dibersihkan ( dengan bertaubat) dan dibiarkan menumpuk, maka lama kelamaanpun menjadi besar dan sulit dihilangkan. Akibatnya hati akan membatu dan makin sulit membedakan mana baik mana buruk. Yang pada akhirnya menjadi penghalang masuknya hidayah.

“Ketahuilah bahwa dalam setiap tubuh manusia ada sepotong organ yang  jika ia sehat maka seluruh tubuhnya juga sehat, dan jika ia rusak, maka seluruh tubuhnya rusak. Ketahuilah bahwa organ itu adalah hati”. (HR. Bukhari Muslim).

“Jika manusia mengetahui hatinya, maka ia akan mengetahui dirinya yang sebenarnya; jika ia mengetahui dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Sayang mayoritas manusia di dunia ini tidak memahami hatinya,”(Imam Al-Ghazali).

Jadi tampaknya hati adalah faktor terpenting dalam merengkuh hidayah Allah. Maka dengan demikian kebersihan hati mutlak diperhatikan. Beruntung kita memiliki Al-Quran. Di kitab suci umat Islam ini dijelaskan bahwa zakai, infak dan sedekah adalah salah satu cara untuk membersihkan hati. Agar kita lebih peduli terhadap  orang-orang yang tidak punya, anak-anak yatim dan lingkungan kita.

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi”.(QS. Al-Lail(92):17-20).

Namun kita juga harus menyadari bahwa Allah menciptakan manusia dengan kwalitas hati, akal, usaha dan potensi yang terbatas dan berbeda-beda. Tugas kita hanyalah memaksimalkan pemberian Allah tersebut, dan kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukurannya masing-masing”. (QS. Al-Qamar (54): 49).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 November 2013.

Vien AM.

(Arrahmah.com) – Di bawah ini adalah ringkasan sejarah kelompok Rafidhah (sebutan yang diberikan para ulama terhadap aliran Syi’ah), kanker yang menggerogoti umat islam dan penyakit yang menular, kami akan menyebutkan – dengan izin Allah – peristiwa-peristiwa nyata dan penting yang pernah dilalui dalam sejarah mereka. Semoga ringkasan singkat ini mampu membuka pandangan mayoritas Ahlus Sunnah yang telah termakan isu dan slogan-slogan pendekatan antara Islam dan Rafidhah.

14 H. Pada tahun inilah pokok dan asas dari kebencian kaum Rafidhah terhadap Islam dan kaum muslimin, karena pada tahun ini meletus perang Qadisiyyah yang berakibat takluknya kerajaan Persia Majusi, nenek moyang kaum Rafidhah. Pada saat itu kaum muslimin dibawah kepemimpinan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu.

16 H. Kaum muslimin berhasil menaklukkan ibu kota kekaisaran Persia, Mada’in. Dengan ini hancurlah kerajaan Persia. Kejadiaan ini masih disesali oleh kaum Rafidhah hingga saat ini.

23 H. Abu Lu’lu’ah Al-Majusi yang dijuluki Baba ‘Alauddin oleh kaum Rafidhah membunuh khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Dan ini merupakan salah satu simbol mereka dalam memusuhi Islam.

34 H. Munculnya Abdullah bin saba’, si yahudi dari yaman yang dijuluki Ibnu Sauda’ berpura-pura masuk Islam, tapi menyembunyikan kekafiran dalam hatinya. Dia menggalang kekuatan dan melancarkan provokasi melawan khalifah ketiga Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu hingga khalifah tersebut dibunuh oleh para pemberontak karena fitnah yang dilancarkan oleh Ibnu Sauda’ (Abdullah bin Saba’) pada tahun 35 H. Keyakinan yang diserukan oleh Abdullah bin Saba’ ini berasal dari pokok-pokok ajaran Yahudi, Nasrani dan Majusi yaitu menuhankan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, wasiat, raj’ah, wilayah, keimamahan, bada’ dan lain-lain.

36 H. Malam sebelum terjadinya perang Jamal, kedua belah pihak telah sepakat untuk berdamai. Mereka bermalam dengan sebaik-baik malam sementara Abdullah bin Saba’ beserta pengikutnya bermalam dengan penuh kedongkolan. Lalu dia membuat provokasi kepada kedua belah pihak hingga terjadilah fitnah seperti yang diinginkan oleh Ibnu Saba’. Pada masa kekhilafahan Ali bin Abi Thalib, kelompok Abdullah bin Saba’ datang kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu seraya berkata, “Kamulah, kamulah!!” Ali bin Abi Thalib menjawab: “Siapakah saya?”, mereka berkata: “Kamulah sang pencipta!”, lalu Ali bin Abi Thalib menyuruh mereka untuk bertaubat tapi mereka menolak. Kemudian Ali bin Abi Thalib menyalakan api dan membakar mereka.

41 H. Tahun ini adalah tahun yang paling dibenci oleh kaum Rafidhah karena tahun ini dinamakan tahun jama’ah (tahun persatuan) kaum muslimin dibawah pimpinan khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu, dimana Hasan bin Ali bin Abi Thalib menyerahkan kekhilafahan kepada Mu’awiyah. Maka dengan ini surutlah tipu daya kaum Rafidhah.

61 H. Pada tahun ini Husein bin Ali Radhiyallahu ‘anhu terbunuh di karbala yaitu pada hari ke-10 bulan muharram setelah ditinggalkan oleh para penolongnya dan diserahkan kepada pembunuhnya.

260 H. Hasan Al-Askari meninggal dunia, namun kaum Rafidhah menyangka bahwa imam ke-12 yang ditunggu-tunggu (Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari) telah bersembunyi di sebuah sirdab (ruang bawah tanah) di samurra’ dan akan kembali lagi ke dunia.

277 H. Munculnya gerakan Al-Qaramithah beraliran Rafidhah di daerah kufah dibawah kendali Hamdan bin Asy’ats yang dikenal dengan julukan Qirmith.

278 H. Munculnya gerakan Al-Qaramithah beraliran Rafidhah di daerah Bahrain dan Ahsa’ yang dipelopori oleh Abu Sa’id Al-Janabi.

280 H. Munculnya kerajaan Zaidiyah beraliran Rafidhah di Sha’dah dan Shan’a daerah Yaman, dibawah kepemimpinan Al-Husein bin Al-Qasim Ar-Rasiy.

297 H. Munculnya kerajaan Ubaidiyin di Mesir dan Maghrib (Maroko) yang didirikan oleh Ubaidillah bin Muhammad Al-Mahdi.

317 H. Abu Thahir Ar-Rafidhi Al-Qurmuthi sampai dan memasuki kota Mekah pada hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) lalu membunuh para jamaah haji di masjidil Haram serta mencongkel hajar Aswad dan membawanya ke tempat ibadah mereka di Ahsa’. Dan hajar Aswad itu berada disana sampai tahun 355 H. Kerajaan mereka tetap eksis di Ahsa’ hingga tahun 466 H. Pada tahun ini berdirilah kerajaan Hamdaniyah di Mousul dan Halab kemudian tumbang pada tahun 394 H.

329 H. Pada tahun ini Allah telah menghinakan kaum Rafidhah karena pada tahun ini dimulailah Ghaibah Al-Kubra atau menghilang selamanya. Menurut mereka, imam Rafidhah yang ke-12 telah menulis surat dan sampai kepada mereka yang bunyinya: “Telah dimulailah masa menghilangku dan aku tidak akan kembali sampai masa yang diizinkan oleh Allah, maka barangsiapa yang mengatakan bahwa dia telah berjumpa denganku maka dia adalah pendusta dan telah tertipu.” Semua ini mereka lakukan dengan tujuan menghindari akan banyaknya pertanyaan orang-orang awam kepada ulama mereka tentang keterlambatan Imam Mahdi keluar dari persembunyiannya.

320-334 H. Munculnya kerajaan Buwaihiyah beraliran Rafidhah di daerah Dailam yang didirikan oleh Buwaih bin Syuja’. Mereka membuat kerusakan-kerusakan di kota Baghdad, Iraq, sehingga orang-orang bodoh pada masa itu mulai berani memaki-maki para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

339 H. Hajar Aswad dikembalikan ke Mekkah atas rekomendasi dari pemerintahan Ubaidiyah di mesir.

352 H. Pemerintahan Buwaihiyun mengeluarkan peraturan untuk menutup pasar-pasar pada tanggal 10 muharram dan meliburkan semua kegiatan jual beli. Lalu para wanita keluar rumah tanpa mengenakan jilbab dengan memukul-mukul diri mereka di pasar-pasar. Pada saat itulah pertama kali dalam sejarah diadakan perayaan kesedihan atas meninggalnya Husein bin Ali bin Abi Thalib.

358 H. Kaum Ubaidiyun beraliran Rafidhah menguasai Mesir. Salah satu pemimpinya yang terkenal adalah Al-Hakim Biamrillah yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan menyeru kepada ajaran reinkarnasi. Dengan runtuhnya kerajaan ini pada tahun 568 H muncullah gerakan Druz yang berfaham kebatinan.

402 H. Keluarnya pernyataan kebatilan nasab Fatimah yang digembar-gemborkan oleh penguasa kerajaan Ubaidiyah di Mesir dan menjelaskan ajaran mereka yang sesat dan mereka adalah zindiq dan telah dihukumi kafir oleh seluru ulama’ kaum muslimin.

408 H. Penguasa kerajaan Ubaidiyah di Mesir yang bernama Al-Hakim Biamrillah mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan. Salah satu dari kehinaannya adalah dia berniat untuk memindahkan kubur Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dari kota madinah ke mesir sebanyak 2 kali. Yang pertama adalah ketika dia disuruh oleh beberapa orang zindik untuk memindahkan jasad Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ke Mesir. Lalu dia membangun bangunan yang megah dan menyuruh Abul Fatuh untuk membongkar kubur Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu masyarakat tidak rela dan memberontak sehingga membuat dia mengurungkan niatnya. Yang kedua ketika mengutus beberapa orang untuk membongkar kuburan Nabi. Utusan ini tinggal didekat mesjid dan membuat lobang menuju kubur Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu makar itupun ketahuan dan utusan tersebut dibunuh.

483 H. Munculnya gerakan Al-Hasyasyin yang menyeru kepada kerajaan Ubaidiyah berfaham Rafidhah di Mesir didirikan oleh Al-Hasan As-Shabah yang berketurunan darah persia. Dia memulai dakwahnya di wilayah persia tahun 473 H.

500 H. Penguasa Ubaidiyun membangun sebuah bangunan yang megah di Mesir dan diberi nama mahkota Al-Husein. Mereka menyangka bahwa kepala Husein bin Ali bin Abi Thalib dikuburkan di sana. Hingga saat ini banyak kaum Rafidhah yan pergi berhaji ke tempat tersebut. Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat akal yang diberikan kepada kita.

656 H. Penghianatan besar yang dilakukan oleh Rafidhah pimpinan Nasiruddin At-Thusi dan Ibnul Alqomi yang bersekongkol dengan kaum Tartar Mongolia sehingga kaum Tartar masuk ke Baghdad dan membunuh lebih dari 2 juta muslim dan membunuh sejumlah besar dari Bani Hasyim yang seolah-olah dicintai oleh kaum Rafidhah. Pada tahun yang sama muncullah kelompok Nushairiyah yang didirikan oleh Muhammad bin Nusair berfaham Rafidhah Imamiyah.

907 H. Berdirinya kerajaan Shafawiyah di Iran yang didirikan oleh Syah Ismail bin Haidar Al-Shafawi yang juga seorang Rafidhah. Dia telah membunuh hampir 2 juta muslim yang menolak memeluk madzhab Rafidhah. Pada saat masuk ke Baghdad dia memaki-maki Khulafa’ Rasyidin di depan umum dan membunuh siapa saja yang tidak mau memeluk madzhab Rafidhah. Tak ketinggalan pula dia membongkar banyak kuburan orang-orang Sunni (Ahlus Sunnah) seperti kuburan Imam Abu Hanifah.

Termasuk peristiwa penting yang terjadi pada masa kerajaan Shafawiyah adalah ketika Shah Abbas berhaji ke Masyhad untuk menandingi dan memalingkan orang-orang yang melakukan haji ke Mekah. Pada tahun yang sama Shadruddin Al-Syirazi memulai dakwahnya kepada madzhab Baha’iyah. Mirza Ali Muhammad Al-Syirazi mengatakan bahwa Allah telah masuk ke dalam dirinya, setelah mati dia digantikan oleh muridnya Baha’ullah. Sementara itu di India muncul kelompok Qadiyaniyah pimpinan Mirza Ghulam Ahmad yang mengatakan bahwa dirinya ialah Nabi dan keyakinan-keyakinan lainnya yang batil. Kerajaan Safawiyah berakhir pada tahun 1149 H.

1218 H. Seorang Rafidhah dari Irak datang ke daerah Dar’iyah di Najd dan menampakkan kesalehan serta kezuhudannya. Pada suatu hari, dia shalat di belakang Imam Muhammad bin Su’ud lalu diapun membunuhnya ketika sedang sujud dalam shalat Ashar dengan menggunakan belati yang disembunyikan dan telah dipersiapkannya. Semoga Allah memerangi kaum Rafidhah para pengkhianat.

1289 H. Pada tahun ini buku Fashlul Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab (kalimat penjelas bahwa kitab Allah telah diselewengkan dan diubah) karangan Mirza Husain bin Muhammad An-Nuri At-Thibrisi. Kitab ini memuat pendapat dan klaim-klaim Rafidhah bahwasanya Al-Qur’an yang ada saat ini telah diselewengkan, dikurangi dan ditambah.

1366 H. Sebuah majalah Rafidhah dengan nama Birajmil Islam terbit dengan memuat syair-syair yang mengutamakan tanah karbala atas Mekkah Al-Mukarramah.

Ia karbala tanah membentang, thawaflah tujuh kali pada tempat kediamannya,

Tanah mekkah tak memiliki keistimewaan dibanding keistimewaannya,

Sebongkah tanah, meski hamparan gersang adanya,

Mendekat dan mengangguk-angguk bagian atasnya kepada bagian yang dibawahnya.

1389 H. Khomeini menulis buku Wilayatul faqih dan Al-Hukumah Al-Islamiyah. Sebagian kekafiran yang ada pada buku tersebut (Al-Hukumah Al-Islamiyah, hal. 35) : Khomeini berkata bahwa termasuk keyakinan pokok dalam madzhab kami adalah bahwa para imam kami memiliki posisi yang tidak dapat dicapai oleh para malaikat dan para Nabi sekalipun.

1399 H. Berdirinya pemerintahan Rafidhah di Iran yang didirikan oleh penghianat besar Khomeini setelah berhasil menumbangkan pemerintahan Syah di Iran. Ciri khas negara Syi’ah Iran ini adalah mengadakan demonstrasi dan tindakan anarkis atas nama revolusi Islam di tanah suci Mekah pada hari mulia yaitu musim haji pada setiap tahun.

1400 H. Khomeini menyampaikan pidatonya pada peringatan lahirnya Imam Mahdi fiktif mereka pada tanggal 15 sya’ban. Sebagian pidatonya berbunyi demikian : “Para Nabi diutus Allah untuk menanamkan prinsip keadilan di muka bumi tapi mereka tidak berhasil, bahkan Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diutus untuk memperbaiki kemanusiaan dan menanamkan prinsip keadilan tidak berhasil.. yang akan berhasil dalam misi itu dan menegakkan keadilan di muka bumi serta dapat meluruskan segala penyimpangan adalah Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu….” Begitulah menurut Khomeini para Nabi telah gagal, termasuk Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sementara revolusi kafirnya dianggapnya sebagai suatu keberhasilan dan keadilan.

1407 H. Jamaah haji iran mengadakan demonstari besar-besaran di kota Mekah pada hari jum’at di musim haji tahun 1407 H. Mereka melakukan tindakan perusakan di kota Mekah seperti yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka kaum Al-Qaramithah, mereka membunuh beberapa orang aparat keamanan dan jamaah haji, merusak dan membakar toko, menghancurkan dan membakar mobil-mobil beserta mereka yang ada di dalamnya. Jumah korban saat itu mencapai 402 orang tewas, 85 dari mereka adalah aparat keamanan dan penduduk Saudi.

1408 H. Mu’tamar Islam yang diadakan oleh Liga Dunia Islam di Mekah mengumumkan fatwa bahwa Khomeini telah kafir.

1409 H. Pada musim haji tahun ini kaum Rafidhah meledakkan beberapa tempat di sekitar Masjidil Haram di kota Mekah. Mereka meledakkan bom itu tepat pada tanggal 7 Dzulhijjah dan mengakibatkan tewasnya seorang jamaah haji dari Pakistan dan melukai 16 orang lainnya serta mengakibatkan kerusakan materi yang begitu besar. 16 pelaku insiden itu berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1410 H.

1410 H. Khomeini meninggal dunia, semoga Allah memberinya balasan yang setimpal. Kaum Rafidhah membangun sebuah bangunan diatas kuburannya yang menyerupai ka’bah di Mekah, semoga Allah memerangi mereka.

Dan akan senantiasa terus berulang sejarah tentang peristiwa dan pengkhianatan mereka dengan tujuan menghancurkan islam dan melemahkan kita kaum muslimin, ketahuilah wahai kaum muslimin, setiap kali ada pengkhianatan hampir pasti dibelakangnya ada campur tangan kaum Rafidhah.

(saifalbattar/syiahindonesia/arrahmah.com)

Dari:http://www.arrahmah.com/kajian-islam/sekilas-sejarah-hitam-syiah-sepanjang-zaman.html