Feeds:
Posts
Comments

Alhamdulillah atas izin Allah swt pada November 2023 lalu akhirnya kami diberiNya kesempatan untuk mengunjungi Uzbekistan yang sejak beberapa tahun merupakan impian kami berdua.  

Di tengah tragedy mengerikan genosida yang dilakukan teroris Zionis Israel terkutuk terhadap rakyat Palestina khususnya Gaza, sungguh perjalanan ini bagai oase di padang pasir. Betapa tidak, di saat hati ini begitu sedih,marah, kecewa menyaksikan saudara-saudari seiman dibantai hanis-habisan tanpa dapat berbuat sesuatu, kami disuguhi pemandangan kejayaan Islam meski hanya tinggal kenangan.

Yaitu zaman keemasan Islam pada abad 14 di Uzbekistan. Islam dengan budaya dan peradaban yang tinggi, yang menjadi pusat ilmu pengetahuan hingga orang-orang Barat yang ketika itu belum maju berdatangan untuk menimba ilmu. Islam yang begitu terpandang hingga tak seorangpun berani melecehkannya tidak seperti yang terjadi sekarang ini.

Ironisnya lagi, tak satupun negara Islam dan Arab yang tergerak secara nyata membantu Palestina melawan penjajah Israel dengan mengirimkan pasukan dan senjatanya. Padahal tidak sedikit hadist Rasulullah yang menjelaskan pentingnya ukhuwah Islamiyah, diantaranya adalah sebagai berikut:  

Dari An-Nu’man bin Bisyir dia berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim No 4685)

Ukhuwah Islamiyah yang merupakan kekuatan dan kemenangan Islam di masa lalu yang kini telah menghilang menguap ditelan oleh kecintaan akan kemewahan harta benda dunia yang berlebihan. Itulah Wahn.

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Di Uzbekistan inilah lahir sejumlah ulama dan tokoh-tokoh Islam kenamaaan seperti Imam Al-Bukhari dan Imam at-Tirmidzi yang merupakan ahli hadist, Ibnu Sina (bapak kedokteran modern), Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi (bapak Aljabar/ahli Matematika), Abd al-Manshur al-Maturidi ( ilmu Kalam), Imam Bahauddin An-Naqsyabandi (pendiri tariqah Naqsyabandiyah) dan masih banyak lainnya.

Ulug Bek yang berarti penguasa yang agung, adalah nama yang diberikan rakyat sebagai penghargaan untuk Mirzo Muhammad Taraghay bin Shahrukh. Ulug Bek adalah seorang sultan/raja Timurid, penguasa Transoxiana ( sekarang Uzbekistan) yang berkuasa pada abad 14. Ia adalah cucu Amir Timur ( Timur Leng) pendiri Uzbekistan. Ulug Bek juga dikenal sebagai seorang astronom dan ahli matematika.

Kepeduliaannya pada dunia ilmu pengetahuan terlihat jelas dari adanya madrasah terkenal yang diberi nama madrasah Ulug Bek. Madrasah artinya adalah tempat belajar atau sekolah. Kata ini berasal dari kata darosa yang artinya belajar. Di Indonesia madrasah dikhususkan sebagai sekolah yang kurikulumnya adalah pelajaran tentang keislaman. Madrasah Ibtidaiyah (MI) setara dengan Sekolah Dasar (SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs) setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Aliyah (MA) setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). 

Namun pada tulisan kali ini saya ingin memulainya dengan tokoh kenamaan Uzbekistan, Ulug Bek, yang bagi telinga kita mungkin masih awam. Sebagaimana kita ketahui dulu belum ada spesialisasi ilmu pengetahuan seperti sekarang. Ketika itu seorang filosof (ahli filsafat) bisa memiliki keahlian di banyak bidang. Seorang filosof bisa menjadi ahli kedokteran, astronomi, sekaligus matematika. Meskipun biasanya para filosof itu memiliki kecenderungan di salah satu bidang pengetahuan. Kecenderungan ini bisa dilihat dari karya buku yang ditulisnya. Demikian pula Ulug Bek.

Madrasah Ulug Bek agak berbeda. Ia adalah sekolah untuk anak umur 10 hingga 20 tahun dengan Al-Quran sebagai mata pelajaran utama/wajib. Satu guru Al-Quran mengajar 5 murid. Sedangkan ilmu pengetahuan dan sains adalah pelajaran pilihan kedua. Satu guru mengajar 10 murid. Di gedung sekolah/ universitas megah bernuansa biru cantik inilah sang sultan secara rutin mengajar Matematika dan astronomi, hingga akhir hayatnya.

Madrasah tersebut kini memang hanya tinggal kenangan. Namun gedungnya hingga kini diabadikan menjadi bangunan bersejarah warisan budaya yang menjadi ikon Uzbekistan.

Madrasah yang berdiri di area yang dinamakan Registan Square ini dibangun pada abad 14 di pusat kota Samarkand, ibu kota Uzbekistan ketika itu. Area luas lengkap dengan taman yang mengelilinginya itu terdiri atas 3 bangunan utama. Madrasah Ulug Bek disisi kiri, madrasah Sher-Dor persis dihadapan madrasah Ulug Bek serta di tengah adalah masjid dan madrasah Till-Kari. Sher-Dor dan Till-Kari dibangun sekitar 200 tahun setelah madrasah Ulug Bek. Sang sultan tidak hanya membangun madrasah di kota Samarkand tapi juga di Bukhara dan beberapa kota lain di Uzbekistan. Ia juga ikut mengawasi pembangunan kota seperti pengairan dll.

Sebagai seorang astronom  Ulug Bek juga membangun sebuah observatorium untuk meneliti benda-benda langit seperti bulan, bintang dan planet. Ketika itu teleskop belum ditemukan. Observatorium tersebut diakui oleh para ahli sebagai salah satu observatorium terbaik pada masa itu. Berkat observatoriumnya inilah Ulug Bek berhasil menciptakan katalog yang mencatat letak 1018 bintang. Katalog tersebut dikenal dengan nama Katalog Ulug Bek.  

Sayang tak lama setelah wafatnya observatorium tersebut lenyap dan baru ditemukan lagi pada tahun 1908 oleh seorang arkeolog. Untuk mengenang jasa Ulug Bek kini di depan observatorium yang sudah direnovasi tersebut dibangun sebuah museum yang diberi nama Museum Ulug Bek. Di museum tersebut kita dapat melihat observatorium versi mininya, cara kerja juga berbagai peninggalan-peninggalan Ulug Bek termasuk biografinya.

Ulug Bek juga dikenal sebagai pecinta seni. Ia menguasai 5 bahasa asing yaitu  Arab, Persia, Turki, Mongol dan Cina.  Di bawah kepemimpinannya kerajaan Timurid mencapai puncak kejayaan ilmu dan budaya. Menjadikan Samarkand dan Bukhara pusat kota budaya dan ilmu pengetahuan terbaik di Asia Tengah bahkan mungkin dunia. Ulug Bek tahu persis bahwa Sang Khalik akan memberi tambahan keuntungan dunia ketika seseorang mengejar keuntungan akhirat sebagaimana ayat 20 surat Asy-Syuraa berikut:

Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat“.

Sayangnya tidak sedikit orang yang tidak senang dengan keberhasilan Ulug Bek. Lawan politiknya termasuk juga anak sulungnya menggulingkan pemerintahannya. Ulug Bek akhirnya terbunuh dalam kudeta berdarah tersebut.

Sejarah berulang, ntah untuk ke berapa kalinya, demi kekuasaan sesama Muslim tega untuk saling menjatuhkan bahkan membunuh.  Sungguh menyedihkan ….      

(Bersambung).

Hidayatullah.com – Megan B Rice hobi membaca. Ia memulai sebuah klub novel roman di platform Discord dan mengunggah ulasan buku di TikTok. Bulan lalu, Rice, yang berusia 34 tahun dan tinggal di Chicago, menggunakan akun media sosialnya untuk menyuarakan krisis kemanusiaan di Gaza.

Saya ingin berbicara tentang keimanan orang-orang Palestina, bagaimana iman mereka begitu kuat, dan mereka masih menemukan ruang untuk menjadikannya sebagai prioritas untuk berterima kasih kepada Tuhan, bahkan ketika segalanya telah diambil dari mereka,” katanya dalam sebuah wawancara.

Beberapa follower Muslim menyarankannya untuk membaca Al-Qur’an, kitab suci agama Islam, untuk mendapatkan lebih banyak pemahaman tentang Islam. Maka Rice, yang tidak dibesarkan dalam lingkungan religius, mengorganisir “Klub Buku Agama Dunia” di Discord, di mana orang-orang dari berbagai latar belakang dapat mempelajari Al Qur’an bersamanya.

Semakin banyak Rice membaca, semakin banyak isi teks yang selaras dengan sistem keyakinannya. Ia menemukan bahwa Al-Qur’an adalah anti-konsumerisme, anti-penindasan, dan feminis. Dalam waktu satu bulan, Rice mengucapkan syahadat, membeli jilbab, dan menjadi seorang Muslim.

Rice tidak sendirian dalam keinginannya untuk merasakan Al-Qur’an. Di TikTok, anak-anak muda AS membaca teks tersebut untuk lebih memahami agama yang telah lama dijelek-jelekkan oleh media Barat, dan untuk menunjukkan solidaritas dengan banyak Muslim di Gaza. Video-video di bawah tagar “quranbookclub” – yang telah ditonton sebanyak 1,9 juta kali di aplikasi ini – menunjukkan para pengguna sedang memegang kitab suci yang baru mereka beli dan membaca ayat-ayatnya untuk pertama kali.

Ada juga yang mencari versi gratisnya secara online, atau mendengarkan seseorang melantunkan ayat-ayat tersebut saat mereka berkendara ke tempat kerja. Tidak semua orang yang membaca Al-Qur’an di TikTok adalah perempuan, tetapi sebagian besar mereka mengikut #BookTok, sebuah sub-komunitas di mana sebagian besar pengguna perempuan berkumpul untuk mendiskusikan buku.

Zareena Grewal adalah seorang profesor di Yale yang sedang mengerjakan sebuah buku tentang kitab suci Islam dan toleransi beragama dalam budaya Amerika. Ia mengatakan bahwa ketertarikan terhadap TikTok ini bukan tidak pernah terjadi sebelumnya.

Setelah peristiwa 9/11, Al-Qur’an menjadi buku terlaris secara instan, meskipun pada saat itu banyak orang Amerika yang membelinya untuk mengkonfirmasi bias yang mereka pegang tentang Islam sebagai agama yang pada dasarnya penuh dengan kekerasan.

Perbedaannya adalah bahwa pada saat ini, orang-orang tidak beralih ke Al-Qur’an untuk memahami serangan 7 Oktober oleh Hamas,” kata Grewal. “Mereka berpaling kepada Al-Qur’an untuk memahami ketangguhan, keimanan, kekuatan moral, dan karakter yang luar biasa yang mereka lihat dalam diri Muslim Palestina.”

Hal itulah yang membuat Nefertari Moonn, seorang wanita berusia 35 tahun dari Tampa Florida, membaca Al Qur’an milik suaminya. Moonn menganggap dirinya spiritual, bukan religius, dan menggambarkan suaminya sebagai seorang Muslim yang tidak taat. “Saya ingin melihat apa yang membuat orang memanggil Allah ketika mereka menghadapi kematian,” katanya. “Melihat bagian demi bagian beresonansi dengan saya. Saya mulai memiliki keterikatan emosional dengannya.

Karena itu, Moonn pun memutuskan untuk bersyahadat, kembali kepada fitrahnya menjadi seorang Muslim.

Saya tidak bisa menjelaskannya, tapi ada kedamaian yang muncul saat membaca Al-Qur’an,” katanya. “Saya merasa ringan, seperti kembali kepada sesuatu yang selalu ada dan menunggu saya untuk kembali.”

Misha Euceph, seorang penulis dan host podcast keturunan Pakistan-Amerika yang mempelajari penafsiran progresif Al-Qur’an, telah menyelenggarakan serial Instagram Qur’an Book Club sejak tahun 2020. Ia mengatakan bahwa tema-tema tertentu dalam teks tersebut sesuai dengan nilai-nilai kaum muda Amerika yang berhaluan kiri.

Al-Qur’an penuh dengan metafora alam dan mendorong Anda untuk menjadi pencinta lingkungan,” kata Euceph. “Al-Qur’an juga memiliki sikap anti-konsumerisme, dalam arti bahwa kita semua adalah penjaga bumi yang tidak boleh menjalin hubungan yang eksploitatif dengan dunia atau sesama manusia.”

Dalam Al-Qur’an, laki-laki dan perempuan adalah setara di mata Tuhan, dan Rice serta para pengguna TikTok lainnya mengatakan bahwa penafsiran mereka terhadap teks tersebut mendukung prinsip-prinsip feminis mereka. Ia juga terlibat dengan penjelasan ilmiah tentang penciptaan, dengan ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang membahas dentuman besar dan teori-teori lainnya.

Biasanya, kita sudah terbiasa dengan komunitas agama yang memerangi ilmu pengetahuan,” kata Rice. “Sekarang saya melihat sebuah agama merangkul sains dan menggunakan teks-teks sucinya untuk mendukungnya.”

Sylvia Chan-Malik sedang berkualiah di sekolah pascasarjana setelah peristiwa 9/11 di tengah-tengah lonjakan kejahatan kebencian terhadap Muslim dan bahasa xenofobia yang digunakan di media. “Saya sangat tertarik dengan apa yang sedang terjadi, membandingkannya dengan sejarah orang Jepang-Amerika setelah Pearl Harbor,” katanya. “Saya mulai mencari tahu sendiri, bertemu dengan orang-orang Islam, dan saya sangat terkejut ketika saya mengerjakan pekerjaan rumah tentang Islam.”

Dalam perjalanannya, Chan-Malik memeluk agama Islam. Dia sekarang menjadi profesor di Rutgers University yang penelitiannya berfokus pada sejarah Islam dan Islamofobia di AS. “Saya memiliki pengalaman yang sangat mirip dengan apa yang terjadi di TikTok sekarang,” katanya. “Pada saat itu, saya bertanya-tanya mengapa orang-orang yang saya temui yang beragama Islam sangat berbeda dengan apa yang saya dengar di berita. Saya tidak pernah mengalami perbedaan yang begitu besar antara persepsi populer dan kebenaran.”

Grewal, profesor dari Yale, percaya bahwa orang sering kali mulai membaca teks dengan harapan dapat mendukung pandangan dunia yang sudah mereka miliki. “Sama seperti orang-orang rasis yang mencari ayat-ayat untuk mengkonfirmasi bias rasial mereka, orang-orang yang berhaluan kiri mencari buku ini untuk mengkonfirmasi pesan-pesan progresif,” katanya. “Setiap kitab suci itu rumit dan mengundang banyak pembacaan,” dan para TikTokers “datang ke teks untuk mencari apa yang mereka harapkan”.

Tumbuh di bawah bayang-bayang peristiwa 9/11, kata Rice, ia menolak Islamofobia dan diskriminasi yang menjadikan warga Muslim Amerika sebagai target. “Sebagai seorang wanita kulit hitam, saya terbiasa dengan pemerintah Amerika yang menyebarkan stereotip berbahaya yang mengarah pada kesalahpahaman yang dimiliki orang-orang di luar komunitas saya,” katanya. “Saya tidak pernah percaya dengan stereotip yang disebarkan tentang komunitas Muslim pasca 9/11, tetapi baru setelah saya mulai membaca Al-Qur’an, saya menyadari bahwa saya telah menginternalisasi kesalahpahaman tersebut, karena saya percaya bahwa Islam adalah agama yang sangat keras dan ketat.”

Membaca Al-Qur’an dimulai sebagai cara Rice menunjukkan empati kepada warga Palestina yang terjebak di Gaza. Kini, hal tersebut telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Tidak semua orang bisa melakukan hal yang sama. “Menurut saya, tidak masalah apa latar belakang agama Anda,” katanya. “Anda bisa menumbuhkan empati kepada seseorang dengan mempelajari bagian paling intim dari mereka, termasuk keyakinan mereka.”

The Guardian

Keberkahan Tanah Palestina.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. ( Terjemah QS. Al-Isra(17):1-).

Ayat di atas turun sehubungan dengan peristiwa isra dan mirajnya Rasulullah saw dari  Al Masjidil Haram ke  Al Masjidil Aqsha pada tahun ke 10 kenabian. Ayat di atas dengan jelas menerangkan tanah antara ke 2 masjid mulia tersebut adalah tanah yang diberkahi-Nya.  

Menurut Abul Qasim As Suhaily, maksud dari bumi yang diberkahi dari ayat di atas adalah negeri Syam yang meliputi negara Yordania, Suriah, Lebanon dan Palestina. Dan bila kita lihat peta dunia saat ini memang itulah negara-negara yang ada di antara  Al Masjidil Haram di Arab Saudi dan  Al Masjidil Aqsha di Palestina.

Palestina adalah salah satu negara di Timur Tengah yang berbatasan dengan laut Tengah dan sungai Yordan. Palestina berada di lokasi yang strategis di antara negara Mesir, Suriah, Yordania, dan negara-negara jazirah Arab lainnya.

Tidak sedikit ayat Al-Quran maupun hadist yang menyatakan keberkahan tanah Palestina. Di negri inilah berdiri kompleks Masjidil Aqsho yang merupakan kiblat pertama umat Islam. Dan dari Masjidil Aqsho inilah Rasulullah kemudian melakukan perjalanan spektakuler menuju singgasana-Nya di Sidratul Muntaha dimana kemudian shalat 5 waktu diperintahkan. 

Di bumi Syam ini pula diutus para nabi seperti nabi Ibrahim as, nabi Ismail as, nabi Ishaq as, nabi Musa as, nabi Musa as, Nabi Yaqub as, Nabi Luth as, nabi Daud as dan nabi Sulaiman as.

Palestina di bawah kekuasaan kesultanan Turki Utmaniyah selama 400 tahun mengalami masa  kemakmuran. Pembangunan kota dengan kanal-kanal, kolam dan air mancurnya. Pada masa itulah tembok kota Yerusalem dibangun kembali. Ilmu juga berkembang dengan baik. Penduduknya yang merupakan mayoritas Muslim hidup berdampingan secara  baik dengan orang-orang Nasrani dan Yahudi yang terusir dari Spanyol pada peristiwa Reconquista di tahun 1492.

Bahkan beberapa saat sebelum pecahnya perang Hamas-Israel pada 7 Oktober 2023, keberkahan tanah Palestina terlihat jelas dari laporan pandangan mata Abdillah Onim yang dikenal dengan nama bang Onim, seorang relawan Indonesia yang sejak tahun 2009 tinggal di Gaza Palestina. Tanah Palestina sangat subur hingga berbagai macam tanaman seperti kurma, anggur, semangka, strawberry dll dapat berbuah lebat dan besar-besar.

Sementara Muhammad Husein yang juga relawan Indonesia yang tinggal dan menetap di Gaza sejak tahun 2012 menceritakan perasaan hatinya yang damai begitu menginjakkan kaki di bumi tersebut meski sedang berperang sekalipun!

Pada ayat 4 surat At-Tiin, didahului dengan sumpah buah Tin dan buah Zaitun yang merupakan buah yang banyak dijumpai di Palestina, juga bukit Sinai yang ada di tanah tersebut, ditambah dengan Mekah kota yang aman, Allah swt berfirman bahwa Ia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai,dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Rasulullah Muhammad saw yang lahir dan dibesarkan di kota Mekkah, tak syak lagi adalah manusia terhebat sepanjang zaman. Juga para sahabat yang bertempur mati-matian melawan orang-orang musyrik Qurasy Mekah demi mengembalikan tegaknya Tauhid hingga Ka’bah dengan Masjidil Haramnyapun dapat bersih dari kesyirikan. Demikian pula pasukan dibawah khalifah Umar bin Khattab yang berhasil membebaskan Yerusalem dimana berdiri kompleks Masjidil Aqsho dari kekafiran.

Ditambah lagi para tabiin dan tabiut tabiin yang berjuang gigih melawan kekafiran hingga akhirnya Islam dapat menyebar ke separuh belahan dunia. Termasuk penguasa Mesir Sultan Salahuddin Ayyubi yang berhasil membebaskan Yerusalem dari cengkeraman pasukan Salib. Tak dapat dipungkiri betapa hebatnya mereka itu.

Bagaimana dengan penduduk Palestina???

Hari ini kita dapat melihat betapa hebatnya pejuang-pejuang Palestina bertempur menghadapi kejahatan penjajah Zionis Israel yang telah menduduki dan merebut tanah Palestina tempat mereka dan buyut mereka dilahirkan.  Tanpa sedikitpun rasa takut mereka melawan kebiadaban tentara Israel yang didukung sejumlah negara Barat yang notabene adalah kafir.  

Anehnya Barat yang selama ini gembar-gembor dengan misi kemanusiaannya, persamaan hak dalam segala bidang dll, nyatanya memperlihatkan hal yang sebaliknya. Mereka terus mendukung perbuatan biadab Zionis selama 75 tahun, tidak saja dalam hal penjajahan dan perampokan tanah Palestina tapi juga ketika dilakukan genosida!!!

Memasuki pekan ke 5 perang, Gaza yang luasnya hanya 365m2, hanya separuh Jakarta, luluh lantak. Ribuan ton bom yang dijatuhkan tentara Israel setiap hari sepanjang siang dan malam di atas pemukiman penduduk, tempat pengungsian, masjid, gereja bahkan sekolah dan rumah sakit telah membuat syahid nyaris 11 ribu warga Gaza kebanyakan anak-anak, perempuan dan orang-tua. 

Tentu saja para pejuang Palestina tidak tinggal diam. Dengan gagah berani mereka membalas serangan senjata-senjata super modern dan canggih kiriman Amerika Serikat dengan senjata yang mereka miliki. Dan dengan pertolongan Allah swt mereka berhasil menaklukkan senjata-senjata tersebut. Sebaliknya terhadap sandera Israel yang mereka miliki, para pejuang memperlakukan mereka dengan baik.  

Sementara penduduk sipil Gaza, meski mereka banyak kehilangan anggota keluarga dengan penuh kesabaran terus mendukung perjuangan para pejuang. Tawakal itulah modal utama rakyat Palestina termasuk anak-anaknya yang masih kecil sekalipun.  Rakyat Palestina adalah manusia pilihan yang mendapat amanah menjaga kompleks Masjidil Aqsho yang sejatinya merupakan target utama Yahudi dan para kafirun. Untuk itu mereka rela mati demi mempertahankannya meski harus berjuang sendiri.

Hanya kami bangsa Palestina yang tangannya tidak terbelenggu”, demikian mereka berkata menanggapi banyaknya orang dan negara yang membela mereka tapi tidak berani berbuat nyata melawan kejahatan Zionis Israel karena terpasung berbagai kepentingan duniawi.  

Tak salah bila kemudian banyak orang Barat terkagum-kagum dengan semangat juang dan ketahanan mereka. Diantaranya seorang perawat Amerika Serikat yang sempat tertahan di Gaza sebelum perang meletus.

“Andaikan saya memiliki 100 gram kebaikan mereka saya akan mati sebagai orang yang bahagia”, ujar seorang perawat Amerika Serikat yang sempat terjebak di rumah sakit Indonesia Gaza.     

Demikianlah sekelumit tentang keberkahan tanah Palestina.

Jakarta, 13 November 2023.

Vien AM.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? “. (Terjemah QS.Abasa (80):1-4).

Ayat diatas turun di Mekkah sebelum hijrahnya Rasulullah saw. Ketika itu Rasulullah sedang menghadapi sekelompok pemuka Quraisy untuk menyampaikan ajaran Islam. Tiba-tiba datang seorang buta mendekati Rasulullah dan terus menanyakan sesuatu.

Tentu saja Rasulullah merasa terganggu karena Rasulullah sangat berharap para pemuka Quraisy itu mau mendengar paparan beliau mengenai Islam kemudian memeluk Islam dan memerintahkan kaumnya untuk mengikutinya. Tak heran ketika kemudian Rasulullah menanggapi orang tersebut dengan muka yang masam.

Maka dapat dibayangkan betapa terkejutnya Rasulullah ternyata Allah swt menegur beliau melalui ayat 1-4 di atas. Pada ayat 3 di atas Allah swt menerangkan bahwa pemuda buta tersebut datang menemui Rasulullah untuk mempelajari Islam demi untuk membersihkan diri dari segala dosa.   Ini menunjukkan betapa pentingnya membersihkan diri.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat”. ( Terjemah QS.Al-‘Ala(87):14-15).

Pertanyaan lain, siapa sebenarnya pemuda buta yang dimaksud Allah swt pada surat Abasa diatas?? Namanya adalah Abdullah bin Ummi Maktum. Ia anak dari saudari Khadijah binti Walid, istri Rasulullah saw. Tidak banyak kisah tentang keponakan Rasul yang buta sejak lahir tersebut.

Namun sejak memeluk Islam ia dikenal sebagai pribadi yang taat. Buta tidak menjadi penghalang baginya untuk berperang menghadapi musuh-musuh Islam. Pada perang  Qadariyah yang dipimpin panglima Saad bin Abi Waqqash, ia menjadi salah satu pemegang panji Islam.

Dengan membawa bendera hitam dan memakai baju perang Abdullah berperang dengan gagah berani. Namun setelah kepulangannya dari peperangan tersebut, di Madinah ia wafat.

Abdullah bin Ummi Maktum ternyata tidak hanya ditakuti musuh nyata tapi juga iblis. Diriwayatkan ketika  Abdullah bin Ummi Maktum dalam perjalanan menuju masjid, ia tersandung batu hingga terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Akan tetapi Abdullah tetap melangkahkan kaki ke masjid.

Menariknya, setelah kejadian tersebut setiap hari ada orang yang selalu membantunya berjalan menuju masjid. Beberapa kali Abdullah menanyakan nama orang tersebut dengan maksud agar dapat ia mendoakannya. Namun tidak pernah dijawab.

Hingga suatu hari orang tersebut menjawab, “Wahai Abdullah Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis.”

Abdullah tersentak, “Kalau memang iblis, mengapa engkau menolong dan mengantarku ke masjid? Bukankah seharusnya engkau mencegahku ke sana?”

Iblispun menerangkan bahwa ialah yang suatu hari menjegalnya hingga jatuh dan terluka, dengan harapan Abdullah membatalkan niatnya shalat di masjid. Namun nyatanya tidak. Oleh sebab itu Allah mengampuni separuh dosa Abdullah. Maka sejak itu ia bersumpah akan menjaganya agar tidak terjatuh karena khawatir Allah swt akan mengampuni dosanya yang separuh lagi. “ Maka, sia-sialah kami setan menggodamu selama ini,” lanjut iblis tersebut.

Selain diberi tugas Rasulullah sebagai muadzin Abdullah bin Ummi Maktum juga pernah mendapat kehormatan menjadi imam shalat, yaitu ketika Rasulullah berperang bersama sahabat yang lainnya. 

Kebersihan hati itulah kekuatan Abdullah bin Ummi Maktum. Buta matanya tidak menghalangi kemampuannya untuk melihat kebenaran. Yaitu melalui kebersihan hati yang telah dimilikinya sebelum Islam datang dan mengantarkannya melihat keindahan ajaran ini. Bagi Abdullah tidak ada yang lebih penting dan lebih indah daripada menemui Sang Khalik di surgaNya. Itu sebabnya tidak ada sedikitpun rasa takut mati dalam hatinya.

Inilah yang terjadi dengan para mujahidin dari zaman awal keislaman hingga detik ini, yaitu dengan apa yang diperlihatkan para mujahidin Palestina saat ini.    

Sebagaimana kita ketahui Zionis Israel sejak 7 Oktober 2023 secara membabi buta memborbardir Gaza dengan alasan membalas serangan Hamas yang tiba-tiba di hari tersebut. Maka Gaza yang hanya seluas separuh Jakarta itupun hancur lebur rata dengan tanah. Bangunan rumah penduduk, kantor, sekolah, masjid, gereja bahkan rumah sakitpun tidak luput dari amukan Zionis. Memasuki pekan ke 4, tercatat lebih dari 9 ribu korban wafat sebagian besar anak-anak, perempuan dan orang-tua.

Namun Hamas yang merupakan faksi perjuangan terbesar Palestina bersama beberapa organisasi Palestina lain dengan gagah berani terus berjuang melawan kebiadaban Zionis Israel. Tanpa sedikitpun rasa takut mereka bergerilya demi memperjuangkan kemerdekaan negara yang telah dijajah selama 75 tahun.

Tidak hanya sekali ini Hamas yang berkedudukan di Gaza yang menyerupai penjara terbuka terbesar di dunia berjuang keras melawan penjajah yang berbuat sewenang-wenang terhadap penduduk asli Palestina. Untuk melawan Zionis Israel yang untuk kesekian kalinya berusaha mengenyahkan/genosida orang-orang Palestina yang dimuliakan Sang Pencipta untuk menjaga kompleks Masjidil Aqsho dan tanah Palestina hingga perang akhir zaman nanti.   

Ironisnya ada sejumlah orang yang mengaku Islam malah membela penjajah Zionis Israel dan menyalahkan Hamas. Orang-orang ini punya mata dan telinga yang normal namun tidak mampu melihat kejahatan Zionis Israel yang sudah sangat keterlaluan selama puluhan tahun.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai“. ( Terjemah QS. Al-Araf(7):179).

Kebersihan hati, inilah tampaknya yang tidak mereka miliki. Kebersihan hati tidak akan mampu menembus orang yang berlebihan dalam memandang dan mencintai dunia dengan segala harta dan kemewahannya. Hati orang yang demikian akan menjadi kotor dan menghalanginya merasakan kepedihan dan penderitaan orang lain. Hati dan pikirannya hanya terpusat bagaimana harta benda dapat menyenangkan dan memuaskan diri dan keluarganya.  Ia tidak peduli apalagi mempunyai rasa empati terhadap orang yang dalam kesusahan.

Hati yang kotor atau hati yang penuh prasangka buruk yang disebabkan cinta dunia yang berlebihan ini bila terus dipelihara pada akhirnya akan melahirkan sikap takut mati. Orang yang demikian tidak akan mau melaksanakan perintah jihad demi melawan kebathilan. Celakanya lagi label munafikpun akan mengikutinya. Padahal Allah swt telah menyediakan orang munafik  neraka yang paling dalam, yaitu dasar neraka, di akhirat nanti.    

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. (Terjemah QS.An-Nisa(4:145).

Sebaliknya di sejumlah negara Barat atas nama kemanusiaan, orang berbondong-bondong menyatakan keberpihakannya kepada Palestina, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Begitulah sikap orang yang masih memiliki hati yang bersih. Hati yang bersih seperti Abdullah bin Ummi Maktub yang bisa jadi dapat membuka mata mereka akan kebenaran dan keindahan Islam. Berikut pengakuan beberapa warga Amerika yang tertarik mempelajari Al-Quran karena penasaran dengan ketegaran penduduk Gaza.

Apalagi ketika mereka mendengar sendiri pengakuan beberapa orang yang sempat disandera Hamas. Yocheved Lifshitz, seorang perempuan Israel usia 85 tahun dalam sebuah wawancara media Israel mengatakan bahwa ia diperlakukan dengan baik selama dalam penyanderaan.

“Mereka memperlakukan kami dengan baik. Makanan kami sama dengan makanan mereka, mereka menyiapkan dokter bagi yang membutuhkan”, jawabnya atas pertanyaan mengapa ia bersalaman dengan yang menyanderanya di hari ia dibebaskan. Jawaban yang membuat kesal yang mewawancarainya. Dengan rasa kecewa Litchtz juga mengungkapkan bahwa para sandewa dikambing-hitamkan pemerintahannya.

Demikian pula cerita seorang sandera perempuan Israel usia 21 tahun. Ia mengatakan bahwa Hamas memperlakukannya dengan baik. Bahkan tangannya yang terluka kena tembakan telah di operasi oleh dokter di Gaza.

Yang juga membuat jengkel sebagian warga Israel adalah kenyataan Zionis Israel yang tanpa ampun terus membombardir Gaza tidak peduli nasib dan dampak buruk lebih 200 warganya yang disandera Hamas. Bahkan dikabarkan ada yang tewas disebabkan serangan mereka sendiri.

Akhir kata, semoga para yahudi pesek dapat mengambil hikmahnya untuk segera membersihkan hati dari segala kotoran, menyadari kesalahan, bertaubat dan kembali ke jalan lurus aamiin.

Wallahu ‘alam bi shawwab.

Jakarta, 4 November 2023.

Vien AM.

Sa’ad bin Abi Waqqash lahir dari keluarga bangsawan Quraisy yang kaya raya. Sa’ad bin Abi Waqqash bin Wuhaib bin Abdi Manaf adalah paman Rasulullah SAW meski usianya jauh lebih muda. Ia lahir di Mekkah pada tahun 595 M. Wuhaib adalah kakek Sa’ad sekaligus paman dari Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah. 

Aku adalah orang ketiga yang paling dulu masuk Islam, dan aku adalah orang yang pertama kali memanah musuh di jalan Allah”, demikianlah Sa’ad yang sejak muda belia hobby memanah memperkenalkan dirinya dengan bangga. Hobby yang mampu mengajarkan bahwa hidup harus mempunyai target dan tujuan yang jelas. Dengan tepat Sa’ad mampu melepas 8 anak panah sekaligus ke 8 sasaran yang berbeda. Tak salah bila ia dikenal sebagai pemuda yang serius, cerdas dan tenang.

Sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah saw, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah”. (HR Bukhari dan Muslim). Sementara, dalam kesempatan lain, Rasullullah bersabda, “Lemparkanlah (panah) dan tunggangilah (kuda).”(HR Muslim).

Karakternya inilah yang berhasil membukakan pintu Islam baginya. Disamping tentunya karena ia telah mengenal pamannya yang dikenal jujur dan amanah. Sa’ad sudah sering bertemu Rasulullah sebelum beliau diutus menjadi nabi.

Ia tergolong ke dalam orang-orang yang pertama masuk Islam atau Assabiqunal Awwalun. Abu Bakar yang memperkenalkan Islam padanya. Ia langsung menerima ajakan sahabat nabi tersebut. Padahal ketika itu ia baru berusia 17 tahun, usia dimana jiwa sering memberontak demi menunjukkan jati dirinya. Sa’ad menyatakan keislamannya bersama beberapa orang sahabat lainnya yaitu Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam yang ketika itu berusia 16 tahun serta Thalhah bin Ubaidillah di usia 14 tahun.

Sa’ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibu yang sangat ia cintai dan hormati. Dan ibunya, seorang pemeluk setia agama nenek moyangnya yang menjadikan berhala sebagai sesembahan, tahu benar hal tersebut. Itu sebabnya ketika mengetahui Sa’ad memeluk Islam ia mogok makan  dengan harapan putranya luluh dan mau membatalkan keislamannya demi sang ibu tercinta.

Namun apa yg dikatakan Saad yang selalu bicara lembut kepada ibunya itu??? “Wahai Ibu, demi Allah, andai engkau memiliki tujuh  puluh nyawa yang keluar satu demi satu, maka aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku untuk selama-lamanya.”

Mendengar keteguhannya, akhirnya ibunyapun pasrah. Tak salah bila kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Sa’ad sebagai orang yang menyebabkan turunnya  ayat 15 surat Lukman sbb:

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”

Setelah memeluk Islam, dengan kekuatan fisiknya Saad berjuang gigih membela ajarannya. Ia selalu ikut berperang melawan musuh-musuh Islam. Keberaniannya ditambah dengan akal yang selalu diasah, berpikir dengan bijak dan senantiasa bermusyawarah dengan tokoh-tokoh masyarakat, mengantarkannya ke puncak karirnya, dengan izin Allah swt tentunya. 

Rasulullah SAW sangat bangga atas keberanian, kekuatan serta ketulusan iman keponakannya tersebut. Tak jarang nabi bersabda, “Ini adalah pamanku, perlihatkan kepadaku paman kalian!” “Lepaskanlah panahmu, wahai Sa’ad! Tebusanmu adalah ayah dan ibuku!” kata Rasulullah saat Perang Uhud.

Sa’ad tercatat sebagai salah satu sahabat yang beberapa kali menjadi turunnya suatu ayat atau hadist. Ayat 1 surat Al-Anfal yang berbicara tentang  pembagian harta rampasan perang turun atas pertanyaan Sa’ad mengapa Ju’lail bin Suraqah yang dalam pandangannya pantas mendapat bagian rampasan perang tapi tidak diberi oleh Rasulullah swt.

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”.

Demikian pula hadist tentang sedekah terbanyak yang boleh diberikan seorang Muslim kepada yang bukan ahli waris. Peristiwa tersebut terjadi ketika haji Wa’da. Sa’ad sakit keras dan Rasululah saw menjenguknya. Sa’ad memohon agar boleh mewariskan hartanya kepada orang lain. Alasannya karena hartanya banyak sedangkan ia hanya memiliki seorang putri.

Apakah aku boleh menyedekahkan 2/3 dari hartaku?”. Rasulullah menjawab, “Tidak”, aku berkata, “setengah boleh?”, “Tidak”, aku berkata lagi, “kalau begitu 1/3?”, Rasulullah menjawab, “ 1/3 pun sudah banyak, sesungguhnya meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin hingga membutuhkan pertolongan orang lain”.    

Sa’ad bin Abi Waqqash juga dikenal sebagai seorang sahabat yang doanya senantiasa dikabulkan Allah SWT. Qais meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdoa.” “Ya Allah, tepatkanlah lemparan panahnya dan kabulkanlah doanya,”.

Abdurrahman bin Auf menjuluki Sa’ad bin Abi Waqqash dengan singa yang menyembunyikan kukunya. Ia mengusulkan Sa’ad dengan mengatakan julukan tersebut kepada khalifah Umar bin Khattab ra yang ketika itu sedang bermusyawarah dengan para sahabat untuk menentukan siapa yang paling pantas memimpin pasukan melawan Persia di Irak. Atas usul tersebut Sang khalifahpun menunjuk Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai panglima perang melawan pasukan Persia yang ketika itu merupakan negara/kerajaan terbesar di dunia.

Meski demikian, Sa’ad adalah orang yang sering menangis karena takut kepada Allah. Setiap kali mendengar Rasulullah memberi nasihat dan berkhutbah di hadapan para sahabat, maka air matanya selalu berlinang. Ia memiliki hati yang lembut, sikap wara’ dan pandai menjaga lidah.

Saad juga dikenal sebagai seorang ahli ibadah. Shalat Dhuha 8 rakaat, shalat Witir 1 rakaat sebelum tidur karena khawatir tertidur serta shalat Tahajud tak pernah ditinggalkannya. Saad tidak pernah lalai mengeluarkan zakat hartanya dengan menyerahkannya kepada gubernur Madinah agar disalurkan kepada tempat-tempat yang telah disyariatkan.

Suatu hari di hadapan para sahabat, Rasulullah  berujar, ” Sesaat lagi akan datang kepada kalian seorang laki-laki penduduk surga,” tutur Rasulullah.

Tak lama, muncul Sa’ad bin Abi Waqqash bergabung dengan para sahabat. Abdullah bin Amr bin ‘Ash suatu hari meminta Sa’ad agar mau menunjukkan ibadah dan amalan istimewa apa yang kira-kira dapat menyebabkan Rasulullah menyebutnya sebagai penghuni surga.

Tidak lebih dari amal ibadah yang biasa kita lakukan. Namun, aku tidak pernah menyimpan dendam maupun niat jahat kepada siapa pun,” kata Sa’ad.

Dalam menyampaikan kebenaran Sa’ad  juga tidak pernah takut dan ragu-ragu. Diantaranya adalah ketika menghadapi Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang ketika itu menjabat sebagai khalifah. Sang khalifah kesal karena Sa’ad tidak mau mengikuti perintahnya untuk mencaci Ali bin Abi Thalib paska terbunuhnya khalifah Ustman bin Affan ra.     

Maka dengan segala ketenangan dan keberaniannya Sa’ad membalasnya dengan menceritakan semua kehebatan Ali yang tak mungkin dipungkiri semua orang. Muawiyahpun terdiam  dan sejak itu tak pernah lagi menanyakan pertanyaan yang sama kepada Sa’ad.

Empat tahun paska wafatnya Rasulullah saw, dibawah pemerintahan khalifah Umar, Sa’ad yang diangkat sebagai panglima perang, dibantu panglima Khalid bin Walid yang baru pulang memenangkan perang Yarmuk ( perang melawan Romawi) berhasil memenangkan perang Qadasyiyah yang sangat alot dalam menghadapi Persia. Mada’in (Ctesiphon), ibu kota Persia dimana berdiam kisra/raja Persia di istananya yang megah, takluk.  

Selanjutnya atas persetujuan Umar, Sa’ad bersama pasukannya membangun kota Kufah di Persia. Lalu Umar menunjuknya menjadi amir (gubernur) di kota yang kemudian berkembang pesat menjadi kota besar, dan bertempat tinggal di rumah dinas yang berdiri persis di sebelah masjid lengkap dengan baitul malnya.    

Pada tahun 651M, khalifah Ustman bin Affan ra yang menggantikan khalifah Umar, mempercayakan Sa’ad sebagai duta negara untuk tanah Tiongkok. Ia menjalankan tugas tersebut dengan sangat baik hingga ajaran Islampun mampu menyebar di negri tirai bambu tersebut. Sa’ad diterima kaisar Gaozong, penguasa Dinasti Tang saat itu dengan tangan terbuka.

Lui Tschih seorang penulis Muslim China yang hidup pada abad 18 , dalam karyanya Chee Chea Sheehuzoo (Perihal Kehidupan Nabi) menuliskan bahwa Islam dibawa ke China oleh rombongan yang dipimpin Saad bin Abi Waqqas.

Catatan lain menyebutkan, Islam pertama kali datang ke China dibawa oleh Sa’ad bin Abi Waqqas yang datang dari Abyssinia (sekarang Etiopia), bersama 3 sahabat lainnya pada 616 M. 21 tahun kemudian, pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, Sa’ad kembali lagi ke China. Ia datang dengan membawa salinan Alquran.

Utsman pada masa kekhalifahannya memang menyalin Alquran dan menyebarkannya ke berbagai tempat, demi menjaga kemurnian kitab suci tersebut. Pada kedatangannya yang kedua tersebut, Sa’ad berlayar melalui Samudera Hindia ke Laut China menuju pelabuhan laut di Guangzhou. Dari sana kemudian ia berlayar ke Xi’an melalui rute yang kemudian dikenal sebagai Jalur Sutera.

Sa’ad datang dengan membawa hadiah dan diterima dengan hangat oleh kaisar Dinasti Tang, Gaozong (650-683). Namun Islam sebagai agama tidak langsung diterima oleh sang kaisar. Setelah melalui proses penyelidikan, sang kaisar kemudian memberikan izin bagi pengembangan Islam yang dirasanya cocok dengan ajaran Konfusius.  

Namun sang kaisar merasa bahwa kewajiban shalat lima kali sehari dan puasa sebulan penuh terlalu keras baginya hingga akhirnya ia tidak jadi memeluk Islam. Meski demikian, ia mengizinkan Sa’ad bin Abi Waqqas dan para sahabat untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat di Guangzhou.

Sa’ad kemudian menetap di Guangzhou dan ia mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di China. Masjid ini menjadi masjid tertua yang ada di daratan China dan usianya sudah melebihi 1300 tahun. Masjid ini terus bertahan melewati berbagai momen sejarah China dan saat ini masih berdiri tegak dan masih seindah dahulu setelah diperbaiki dan direstorasi.

Masjid Huaisheng ini kemudian dijadikan Masjid Raya Guangzhou Remember the Sage, atau masjid untuk mengenang Nabi Muhammad SAW. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Guangta, karena masjid dengan menara elok ini letaknya di jalan Guangta.

Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Sa’ad bin Abi Waqqash adalah ketika ia memasuki usia 80 tahun. Dalam keadaan sakit, Sa’ad berpesan kepada para sahabatnya agar ia dikafani dengan jubah yang digunakannya dalam Perang Badar, perang kemenangan pertama untuk kaum Muslimin. Sa’ad menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 55 H di Madinah, dengan meninggalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para syuhada.

Namun pendapat lain mengatakan bahwa Saad meninggal di Guangzhou, China dimana ia menghabiskan sisa hidupnya, Sebuah pusara di kota tersebut diyakini sebagai makamnya. Meski tidak diketahui secara pasti dimana Saad bin Abi Waqqas meninggal dan dimakamkan dimana, namun dipastikan ia memiliki peranan penting terhadap perkembangan Islam di China.

Satu lagi hikmah yang dapat kita ambil, yaitu pentingnya menguasai bahasa dan adat kebiasaan penduduk negara yang dituju. Tak pelak lagi, Sa’ad bin Abi Waqqash ra selain seorang panglima besar juga seorang diplomat ulung sejati. 

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 Oktober 2023.

Vien AM.

Disarikan dari :

“10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga”, oleh Abdus Asy-Syaikh.

https://www.republika.co.id/berita/lxy715/kisah-sahabat-nabi-saad-bin-abi-waqqash-lelaki-penghuni-surga

https://republika.co.id/berita/qezroi320/selain-saad-diduga-banyak-sahabat-yang-wafat-di-china

Mengenal Diri.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “ Tidak ada seorangpun manusia yang terlahir kecuali terlahir atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi”.

Hadis ini menegaskan bahwa sesungguhnya semua manusia pada dasarnya adalah baik karena lahir dalam keadaan fitrah/suci. Ibarat kertas, semua manusia terlahir seperti kertas putih, bersih tanpa noda. Ia mengenal baik Tuhan Yang menciptakannya, Allah Yang Satu, Allah  Subhana Wa Ta’ala. Kesaksian penting yang terjadi di alam ruh, tempat semua manusia yang merupakan keturunan nabi Adam as sebelum diturunkan dan dilahirkan melalui ibunya ke dunia ini terekam jelas pada ayat 172 surat Al-Araf berikut:

”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Sumpah tersebut bahkan dengan gamblang menegaskan bahwa mereka berlepas diri dari kesesatan orang-tua yang mempersekutukan Allah Azza wa Jala, orang tua pilihan Sang Khalik, yang akan diberi tugas dan mandat untuk mendidik dan membesarkan mereka kelak di dunia yang penuh cobaan itu. Hal tersebut tercermin dari kelanjutan surat Al-Araf ayat 172 di atas, yaitu pada ayat 173 sebagai berikut :

“atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”. ( Terjemah QS. Al-Araf (7):173).

Ayat di atas menunjukkan betapa besar peran orang tua dalam mempengaruhi warna keagamaan anaknya sesuai hadist yang disebutkan pada awal tulisan ini. Orang tua adalah orang yang menentukan, mengarahkan bahkan dapat memaksakan agama anaknya sesuai agama orang-tua, apakah ia Yahudi, Nasrani ataupun Majusi, bahkan atheis. Orang tua yang dimaksud bisa berupa orang tua biologis, yakni ibu dan ayah kandungnya ataupun orang-tua angkatnya. Intinya adalah yang mendidik dan mengasuh anak sejak kecil.

Namun seiring dengan bertambahnya usia dan kematangan anak, seseorang bisa saja berubah agama dan kepercayaannya. Dan ini sangat dipengaruhi lingkungan dan pergaulannya. Sebagai misal, ketika ada seorang bayi yang lahir dari orang-tua non Islam, di lingkungan yang juga jauh dari Islam. Misalnya di Swedia yang sekarang ini sedang terserang Islamophia akut. Dapat dipastikan bayi tersebut akan mengikuti agama orang-tuanya, yang bisa jadi ketika dewasa seperti juga orang-tua dan lingkungannya sangat membenci Islam. Tapi dapatkah kita pastikan orang tersebut akan selamanya demikian hingga akhir hayatnya??

Berikut adalah kisah 3 politikus Belanda dan Jerman yang awalnya membenci Islam namun kemudian bertaubat dan memeluk Islam.

https://www.haibunda.com/trending/20200422155356-93-136524/3-politikus-ini-awalnya-benci-jadi-cinta-islam-ada-yang-sudah-naik-haji

Hal yang sama dengan yang dialami pemuda-pemuda Quraisy yang hidup dizaman kemusyirikan meraja-lela tapi mau mendengar dakwah Rasulullah, kemudian memeluk Islam dan rela berjuang mati-matian membela Islam.

Tidak bisa kita pungkiri hidayah adalah milik Allah swt, tak satupun orang menjadi Islam tanpa izin-Nya. Allah memberikan hidayah kepada siapa dan dengan cara apapun  yang Ia kehendaki. Akan tetapi hidayah tetap harus dicari, bagaimana agar petunjuk tersebut tidak menjadi sia-sia. Salah satunya adalah dengan mencari ilmu mengenai-Nya, tentang Islam agama tauhid yang haram hukumnya menyekutukan Sang Pencipta, tentang syariah dan fiqihnya, tentang kehidupan Rasul-Nya Muhammad saw lengkap dengan sunnah-sunnahnya, dll.

Yang tak kalah menariknya, Allah swt memberi pahala 2 kali bagi ahli kitab ( Nasrani dan Yahudi) yang kemudian memeluk Islam. Ini sebagai balasan atas keimanan mereka pada nabi Isa as bagi kaum Nasrani dan nabi Musa as bagi kaum Yahudi karena ketidak-tahuan mereka, yang bisa jadi karena didikan orang-tua yang salah hingga mereka tidak memahami ajaran Islam, tidak mengenal Al-Quranul Karim. Bukankah manusia lahir tanpa dapat memilih orang-tua? Hal yang sangat sesuai dengan ayat 173 surat Al-Araf sebagai hadiah istimewa atas cobaan berat mendapat orang-tua kafir.   

“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Qur’an, mereka beriman (pula) dengan Al Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (Al Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan”. (Terjemah QS.Al-Qashash (28):52-54).

Sebaliknya seorang yang dilahirkan dari orang tua muslim sudah seharusnya mensyukuri  kelebihan tersebut. Jangan malah menjadi lalai dan gegagah menjalani kehidupan sebagai Muslim dengan merasa tidak perlu mencari dan memperdalam ilmu tentang keislaman dan keimanan yang diwariskan dari orang-tuanya. Jangan pernah lupa betapa besarnya pengaruh lingkungan dan pergaulan. Lingkungan dan pergaulan yang salah berpotensi menjadikan seorang Muslim menjadi orang Munafik bahkan murtad. Celakanya lagi tempat kembali orang Munafik kelak adalah kerak neraka dengan siksaan 2 kali. Na’udzubillah min dzalik …    

“Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar”. ( Terjemah QS. At-Taubah(9):101).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):145).

Itu sebabnya Islam mengajarkan perlunya masyarakat madani, yaitu masyarakat beradab yang saling tolong menolong dalam menegakkan kebaikan dan keadilan, mencegah terjadinya kemungkaran serta saling menghargai. Untuk itu dalam memilih seorang pemimpin tidak boleh sembarangan. Seorang pemimpin harus mampu membuat rakyatnya agar dapat hidup tenang dalam menjalankan kehidupannya termasuk dalam hal menjalankan agamanya. Bayangkan bagaimana nasib seorang anak yang lahir dari orang tua dan keluarga Muslim namun hidup di bawah pemerintahan yang tidak menghargai nilai-nilai Islam atau bahkan memusuhi Islam.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

“Lebih utamanya manusia di sisi Allah derajatnya di hari kiamat itu seorang pemimpin yang adil yang lemah lembut (memiliki kasih sayang). Dan seburuk-buruk hamba di sisi Allah derajatnya di hari kiamat yaitu pemimpin yang zalim yang kasar.” (HR Thabarani).

“Barang siapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan surga atasnya.” (HR Muslim).

Umur manusia di zaman sekarang ini rata-rata hanya 70 tahun-an. Umat Islam menjadikan usia Rasulullah Muhamad saw yaitu 63 tahun sebagai patokan usia. Usia yang sangat pendek. Sebagai contoh, mari kita lihat apa yang terjadi dengan anak-anak yang lahir dan hidup di Azerbaijan, Tajikistan dan Uzbekistan. Ketiga negara tersebut tadinya berada di bawah pemerintahan Islam yang adil namun kemudian Uni Sovyet yang beraliran komunis menjajah negara-negara tersebut. Meski “hanya” dikuasai tidak lebih dari 80 tahun, yang berarti lebih dari usia hidup seseorang, ternyata sebagian besar anak-anak tersebut rusak akidahnya. Sungguh memprihatinkan. Perlu perjuangan yang tidak ringan  bagi mereka untuk kembali ke jalan Islam yang benar.   

Anomali tampaknya hanya terjadi di tanah Palestina. Rakyat Palestina yang tanahnya direbut Zionis Israel sejak tahun 1948 hingga detik ini tetap terjaga kuat aqidahnya. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Allah swt menyebut tanah Palestina dimana di dalamnya berdiri Masjidil Aqsho yang merupakan kiblat pertama umat islam, adalah tanah yang diberkahi.

Menariknya lagi, berkat Keadilan-Nya, pada akhir hayatnya semua manusia akan kembali mengakui ke-Esa-an Tuhannya sesuai kesaksian mereka di alam sebelum mereka dilahirkan dahulu. Allah swt mengabadikan kisah pengakuan Firaun di akhir hidupnya bahwa tiada tuhan selain Allah swt pada ayat 90 surat Yunus. Meski sayangnya Allah swt tidak menerima taubat yang demikian.

“Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir‘aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir‘aun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim (berserah diri)“.

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih”. ( Terjemah An-Nisa (4):18).

“Allah selalu menerima tobat seseorang, sebelum nyawa sampai di kerongkongan“. (HR at Tirmidzi).

Akhir kata, mari kita terus memperdalam ke-Islaman dan keimanan kita agar ketika Sang Khalik memanggil kita untuk kembali, kita tetap dalam fitrah yang sama ketika dulu dilahirkan. Mari kita berlomba dengan para mualaf yang biasanya memiliki semangat tinggi untuk mengejar ketinggalan mereka dalam ber-Islam dan ber-Iman.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 10 Oktober 2023.

Vien AM.