Feeds:
Posts
Comments

Rekomendasi mendagri tentang diperbolehkannya tidak mengisi kolom KTP menuai reaksi pro dan kontra.  Meski sebenarnya ini bukan hal baru. Karena pada Desember 2013 lalu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang kala itu masih menjabat wakil gubernur DKI menilai pencantuman agama dalam KTP tidak terlalu penting dan tak memiliki manfaat bagi orang lain.

Selanjutnya pada bulan Juni 2014, direktur Megawati Institute, Siti Musdah Mulia, memunculkan wacana penghapusan kolom agama pada KTP dalam sebuah diskusi publik. Tokoh Sepilis ( Sekulerisme Pluralisme Liberalisme) dari PDIP ini memang dikenal nyleneh karena jauh sebelum itu, yaitu pada tahun 2008, pernah menulis di sebuah harian berbahasa Inggris bahwa Islam mengakui homoseksualitas !

Ini masih disusul lagi gugatan 5 mahasiswa fakultas Hukum UI mengenai keabsahan UU Perkawinan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka berpendapat bahwa pasal 2 ayat 1 UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang isinya  melarang perkawinan beda agama ini berpotensi merugikan hak konstitusional mereka.

(http://panjimas.com/news/2014/09/11/5-mahasiswa-ui-gugat-uu-perkawinan-soal-tidak-sahnya-nikah-beda-agama-ke-mk/ )

Namun demikian pernyataan resmi yang keluar dari mulut Cahyo Kumolo sebagai mendagri beberapa hari lalu tetap saja mengejutkan banyak orang, terutama ormas Islam tentu saja. Mendagri beralasan hal ini untuk mengakomodir warga yang tidak termasuk ke dalam 6 agama resmi yang selama ini diakui pemerintah, yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghuchu. Selain juga untuk memenuhi keinginan sebagian pengikut aliran kepercayaan yang ada di negri ini.

Bagi umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk negri ini, keberadaan kolom agama jelas amat sangat penting. Ini adalah identitas diri. Islam bukan sekedar pengakuan di hati, ia harus di deklarasikan. Itu sebabnya ada kalimat syahadat, dan ini harus diikuti pengamalannya. Islam sarat dengan ibadah ritual yang memiliki dasar hukum yang kuat. Dimulai dari kelahiran, menikah hingga meninggal dunia, ada syarat-syarat dan hukum-hukum yang harus dipenuhi.

Intinya, kolom agama dalam KTP seorang Muslim mustahil dihilangkan, karena hal ini akan menghilangkan hak-haknya sebagai Muslim. Sebagai contoh, bagaimana seorang Muslim akan dimakamkan bila tiba-tiba ia tewas dalam kecelakaan tanpa seorangpun mengenalnya, sementara kolom agama di KTP nya kosong. Juga ketika menikah, Islam melarang pemeluknya menikah dengan yang tidak seagama. Jadi pernyataan Ahok bahwa kolom agama tidak penting dan tidak ada manfaatnya jelas ngawur !

Sebaliknya pengosongan kolom agama yang katanya ditujukan bagi mereka yang beragama di luar yang diakui pemerintah,  terdengar janggal. Bagaimana mungkin pemerintah sudah menetapkan agama yang resmi diakui, tetapi tetap diizinkan mengosongkannya. Apakah ini namanya bukan melanggar hukum ? Atau mungkin ini pertanda bahwa pemerintah bakal mengizinkan lahirnya agama baru ??? Padahal dengan adanya 6 agama ini saja pemerintah seringkali tidak mampu mengatasi masalah yang berkaitan dengan agama.

Syiah dan Ahmadiyah yang mengaku bagian dari Islam padahal terbukti sesat, juga JIL ( jaringan Islam Liberal) yang sering melontarkan pandangan nyleneh adalah contohya.  Sayangnya pemerintahan saat ini justru terlihat memiliki kedekatan dengan Syiah.  Presiden Iran, negri seribu mullah yang merupakan simbol Syiah, Hassan Rouhani dikabarkan sebenarnya ingin hadir pada acara pelantikan presiden yang baru lalu. Perlu dicatat, hampir semua Syiah di negri ini memilih Jokowi – JK karena PDIP sebagai partai pendukung pasangan tersebut memang dipenuhi sosok Syiah.

http://www.kiblat.net/2013/11/15/mui-ajaran-syiah-penuhi-10-kriteria-aliran-sesat-yang-ditetapkan-mui/

Belum lagi fenomena pemurtadan yang makin hari makin kasar dan kasat mata, seperti yang terjadi pada Car Free Day di kawasan Semanggi Jakarta baru-baru ini. Padahal pemerintah telah membuat aturan yang jelas tentang hal ini. Ini masih ditambah lagi dengan perseteruan antara Ahok dan FPI yang makin hari makin parah, dan berbuntut pengajuan permohonan dari Ahok agar ormas Islam ini dibubarkan.

Pengosongan kolom agama juga ditengarai berpotensi ke arah pemurtadan. Bahkan bisa ke arah Atheisme. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan budaya kita, juga Pancasila, khususnya sila pertama tentang Ketuhanan.  Tampak jelas bahwa budaya Liberal Barat sudah sedemikian merasuknya ke dalam dada sebagian orang Indonesia. Adakah ini sebuah pertanda bahwa sebentar lagi pemerintah juga bakal merestui perkawinan sesama jenis disusul perkawinan dengan beda spesies ??? Naudzubillah min dzalik …

http://panjimas.com/news/2014/09/21/nikah-sejenis-nikah-beda-agama-selanjutnya-nikah-beda-spesies/

Tampaknya Muslim di Indonesia saat ini bakal menghadapi tantangan berat dalam mempertahankan keislamannya. Pemerintah terlihat bernafsu ingin meng-“internasionalisasi”kan Indonesia dengan mengabaikan sejarah dan latar belakang bangsa serta keberagamaan rakyatnya. Ironisnya hal ini didukung oleh sebagian umat Islam, yang mungkin sudah jenuh dan bosan dengan nasib bangsa yang tidak kunjung maju dan tertinggal jauh dari negara-negara tetangga. Islam memang tidak melarang mengejar kesenangan dan keberhasilan kehidupan duniawi namun kebahagiaan akhirat tetap prioritas utama. Tengoklah bagaimana Islam pada zaman keemasannya selama berabad-abad.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan“.(QS. Al-Qashshas (28):77).

Membandingkan lebih baik pemimpin kafir yang penting tidak korupsi, merokok dan bertato meski tidak berjilbab,  riba asal bermanfaat dll bukanlah pembenaran yang dapat ditrima. Mustinya hal tersebut justru menjadi pemicu, agar kita memilih pemimpin Muslim yang akhlaknya baik dan kerjanya juga baik.

Belum lagi fenomena pendukung buta hati yang tidak mampu atau tidak mau realistis melihat cara kerja pemimpin pilihannya. Tengok pidato Abu Bakar Ash-Sidieq ketika beliau dilantik sebagai khalifah pertama Islam berikut :

“ Aku, bukanlah yang terbaik diantara kamu sekalian. Oleh karena itu aku  sangat menghargai dan mengharapkan saran dan pertolongan kalian semua. Menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang terpilih sebagai penguasa adalah kesetiaan yang sebenar-benarnya; sedang menyembunyikan kebenaran adalah suatu kemunafikan. Orang yang kuat maupun orang yang lemah adalah sama kedudukannya dan aku akan memperlakukan kalian semua secara adil. Jika aku bertindak dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, taatilah aku, tetapi jika aku mengabaikan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tidaklah layak kalian menaatiku.”

Ini mencerminkan bahwa antara pemimpin dan yang dipimpin sama, yaitu sama-sama menjadikan  Allah dan Rasul-Nya sebagai pegangan. Namun apa yang kita lihat hari ini??

Pernyataan mendagri bahwa pengosongan kolom agama di KTP salah satunya untuk mengakomodir para pemeluk kepercayaan yang selama ini merasa dipaksa mengisi “Islam” sebagai agama mereka, patut dicermati.  Apalagi bila kita mengingat kisah kerbau kyai Slamet, kerbau keramat keraton Surakarta dan lain-lain ritual syirik yang hingga detik ini masih digadang-gadang sebagian orang yang mengaku Islam.

Apakah ini pertanda bahwa dakwah Islam selama ini sebenarnya tidak berjalan dengan baik? Buktinya ya itu tadi, kesyirikan yang dibiarkan berlarut-larut dengan harapan dapat dihilangkan sedikit demi sedikit ternyata tetap terus berjalan. Patut diingat, pada zaman rasulullah dan sahabat segala sesuatu yang berbau kesyirikan segera dihancurkan. Penghancuran semua patung dan berhala yang ada di dalam Ka’bah pada masa penaklukan Mekah, adalah salah satu contohnya.

Disamping itu, jargon « Islam adalah rahmatan lil alamin » dan « Islam adalah agama toleransi » tampaknya  justru memojokkan umat Islam itu sendiri. Kedua jargon ini telah ditafsirkan sedemikan rupa hingga menjadi kabur dan kebablasan. Dan siapa yang dianggap tidak sesuai  dengan kedua jargon tersebut dianggap sebagai teroris. Nasib penyanyi legendaries Yusuf Islam adalah contoh yang paling sederhana. Pemusik Inggris era 1970-an bernama asli Cat Stevens ini pernah dicekal masuk Amerika Serikat karena “kesalahannya”menjadi mualaf . Ia dianggap sebagai teroris karena kesalahan tersebut!

Kekurang-pedulian pemerintah kepada persaudaraan Islam juga tercermin dari reaksi Jokowi terhadap masalah Palestina. Masjidil Aqsho pada akhir bulan lalu sempat ditutup oleh pemerintah pendudukan Israel. Meskipun malamnya masjid dibuka kembali tak urung hal ini mengakibatkan panasnya hubungan Israel tidak saja dengan warga setempat namun juga negara-negara Islam seperti Yordania dan Turki.

Tapi tidak demikian dengan Negara kita. Kecuali setelah Jokowi yang kebetulan bertemu dengan Ban Ki Moon sekjen PBB, menanyakan bagaimana posisi Indonesia terhadap Palestina.  Jawabannya memang mendukung Palestina tapi terkesan hanya setengah hati, sekedar memenuhi janjinya pada pilpres kemarin, mungkin.  Memang kenyataannya pada acara jumpa pers pertama menlu Retno LP Marsudi, sedikitpun tak disinggung masalah Timur Tengah.

Juga ketika Jokowi bertemu dengan presiden Myanmar. Beliau sama sekali tidak mengusik tentang nasib Rohingya, Muslim Myanmar, yang sejak bertahun-tahun diperlakukan pemerintah secara  semena-mena. Padahal dunia internasional sering mengecam hal ini karena dianggap telah melanggar HAM.

Sementara itu Susi Pudjiastuti, mentri kelautan dan perikanan yang kontroversial itu kembali membuat berita besar. Dengan alasan menyelamatkan ikan-ikan kita dari  ‘illegal fishing’ beliau mengundang angkatan laut AS untuk membantu menjaga perairan Indonesia. Pertanyaannya, mengapa harus Amerika Serikat, sobat Israel  si penyerobot tanah Palestina, yang jauhnya ribuan mil dari Indonesia, dan jelas-jelas memusuhi Islam ??

( http://www.antaranews.com/berita/462816/menteri-kelautan-dan-perikanan-temui-dua-dubes-benua-amerika )

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. …“.(QS.Ali Imran(3):19).

Jakarta, 18 November 2014.

Wallahu’alam bish shawwab.

Vien AM.

Mariam Sohb, Pejuang Hijab Chicago

Di balik penampilan sederhana, perempuan asal Illinois ini punya segudang prestasi. Yang membuat Sohb istimewa adalah keteguhan hatinya untuk mengampanyekan hijab.

Dream - Mariam Sobh. Muslimah Chicago, Amerika Serikat, ini selalu tampil berhijab. Tak neko-neko, hijab yang dia kenakan selalu sederhana. Namun begitu, wajahnya tetap terlihat ayu.

Di balik penampilan sederhana, perempuan asal Illinois ini punya segudang prestasi. Di bidang akademis, dia sudah lulus master bidang Jurnalisme Radio dan Televisi.

Tak hanya akademis. Kariernya pun juga cemerlang. Sudah hampir lima belas tahun dia berkecimpung di dunia jurnalistik. Liputan politik di Negeri Paman Sam tak pernah dia lewatkan. Termasuk terpilihnya Barack Obama saat terpilih sebagai Presiden AS dua tahun silam.

Blasteran Lebanon-Amerika ini mengawali karier dari radio kampus. Sekarang, perempuan yang pernah bekerja di Jaringan Radio Illinois ini bekerja sebagai wartawan sekaligus pembaca berita di  WBEZ 91.5 FM, Chicago. Sohb juga menjadi penulis Gaya Perempuan Muslim untuk majalah terkemuka Washington, Examiner.

Yang membuat Sohb istimewa adalah keteguhan hatinya untuk mengampanyekan hijab. Dia mempromosikan hijab kepada muslimah di berbagai belahan dunia melalui blog miliknya: Hijab Trendz.

“Saya memulai Hijab Trendz pada April 2007 ketika saya cuti hamil dari pekerjaan saya sebagai reporter politik dan pembaca berita di Chicago,” tutur Sohb dikutip Dream dari Majalah Emel, Selasa 20 Mei 2014.

Ide mendirikan blog itu cukup sederhana. Mulanya muslimah yang genap berusia tiga puluh tahun pada September nanti itu merasa bingung. Sebab, setelah melahirkan anak, hampir seluruh pakaiannya tak muat lagi di badan. Sementara, baju yang dijual pada toko-toko di Chicago tak ada yang cocok. Memang tak banyak toko yang menjual hijab kala itu.

Mariam Sohb, Pejuang Hijab Chicago

Sumber foto: Hijab Trendz

Dia kemudian berdiskusi dengan teman-temannya. Apa yang dihadapi Sohb itu ternyata juga dialami oleh teman-temananya. Sehingga Sohb didorong untuk membuat jaringan yang bisa menjadi jalan keluar permasalahan mereka.

“Saya memutuskan untuk membuat website dan berdiskusi tentang hijab yang cocok dan tidak seperti yang banyak dijual di toko-toko,” tutur dia.

Dibuatlah blog fesyen itu. Sejak itulah Sobh selalu memulai hari-harinya dengan menatap kalender. Dia ingin memastikan blog hijabnya terus update. Di sela kesibukannya, ibu satu anak ini meluangkan waktu untuk menulis informasi aktual soal hijab di blog itu.

Di blog itu, Sohb menempatkan tautan laman-laman penjual hijab online dari berbagai negara. Mulai Eropa, Timur Tengah, Asia, hingga Amerika. Siapa pun yang berkunjung ke blog itu akan mudah menemukan penjual hijab online.

Lambat laun, blog milik Sohb dikenal komunitas hijab seluruh dunia. Kini pengikut fans page blog Hijab Trendz di Facebook sudah mencapai 821 ribu. Mereka berasal dari berbagai negara.

Meski giat berkampanye, Sohb mengakui semula sulit berhijab. Dia berkisah sempat tak percaya diri berhijab, terutama saat melamar kerja. Namun akhirnya dia memberanikan diri.

“Saya membuang pikiran negatif itu dari kepala. Saya tahu saya bisa melakukan pekerjaan dengan baik, tapi apabila saya tidak percaya diri pekerjaan itu akan hilang,” kata Sohb seperti dilansir Hijab Trendz.

Melalui Hijab Trendz pula perempuan yang menikah sembilan tahun silam ini mendirikan televisi online yang khusus mengulas gaya hidup muslimah. Kini, Sohb telah melihat rasa percaya diri dalam diri muslimah Amerika Serikat yang berhijab.

“Saya pikir muslimah di AS mulai percaya diri berhijab dan menemukan cara unik untuk berbusana dengan gaya terbaru dengan tetap mengenakan hijab. Saya melihat ini terjadi di seluruh dunia,” kata dia.

“Ketika saya masih remaja, hampir tidak ada orang yang mengenakan hijab sehingga sangat susah berbusana dengan model baru. Tapi sekarang sangat banyak perempuan menggunakan hijab yang dapat Anda jadikan inspirasi di manapun Anda lihat,” tutur Sohb.

Diambil dari : http://www.dream.co.id/your-story/mariam-sohb-pejuang-hijab-chicago-1405197.html

“FPI Menyerang Ahok Melawan” adalah judul acara ILC ( Indonesia Lawyer Club) yang dipandu wartawan senior Karni Ilyas edisi Selasa (14/10/2014) lalu. Sebuah tema yang cukup menarik meskipun sebenarnya judulnya tendensius. Tema ini diangkat tampaknya gara-gara demo FPI tentang keberatan mereka, dan sebenarnya juga sebagian warga DKI, dengan otomatis naiknya Ahok sebagai gubernur DKI menggantikan Jokowi yang hari ini resmi dilantik menjadi R1.

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS.Al-Maidah(5):51).

Sayangnya demo tersebut berujung anarkis, membuat wacana pembubaran ormas ini kembali mencuat. Beragam reaksipun bermunculan merespons polemik tersebut. Ahok sebagai orang yang merasa diserang dengan berang berkata “Saya tidak mau mahasiswa nanti memasang lilin, berdukacita karena seorang gubernur terguling di Balai Kota. Yang akan saya lakukan, bila diserbu oleh demonstran yang anarki, akan saya bakar hidup-hidup mereka”.

Saya sampaikan Jakarta ini surga bagi masyarakat dan neraka bagi para penjahat. Kejahatan bentuk apa pun harus kita tindak tegas,”  ucap Sudjarno, wakapolda Metro Jaya, di Eco Park Ancol, Pademangan, Jakarta Utara.

Tapi yang paling menyakitkan adalah pernyataan Nusron Wahid, ketua Umum GP Anshor yang dipecat dari Partai Golkar pasca mendukung Jokowi.

“Kita ini orang Indonesia yang beragama Islam bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia. Kita lahir, sujud dan sholat di bumi Indonesia karena itu kita tidak boleh mengotori Indonesia.” … “Diatas hukum agama dan hukum adat, ada hukum konstitusi”, tambahnya lagi.

Hmmm, tampaknya Nusron lupa bahwa bumi Indonesia hanyalah secuil bagian dari bumi milik Allah, bahwa diatas langit ada langit. Itulah kerajaan Allah swt, sang penguasa tunggal.

Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong“. (QS. Al-Baqarah(2):107).

Tentu saja pernyataan yang dilontarkan tokoh yang notabene tokoh NU ini mengundang banyak komentar, baik yang pro maupun yang kontra. Kontan, ketua Majelis Syura DPP FPI KH. Syeikh Misbahul Anam yang hadir dalam acara tersebut menyatakan : “Kepada semua anggota GP Anshor di seluruh Indonesia sesuai “fatwa” ketumnya,  mulai besok jangan baca ayat Al-Qur’an tapi baca saja ayat Konstitusi, dan kalau sekarat atau mati jangan dibacakan Yasin, tapi bacakan saja ayat Konstitusi”.

Namun ternyata Nusron memang dicap su’ul adab oleh para kyai dan sesepuh Nahdlatul Ulama (NU). KH Miftachul Akhyar, pimpinan NU Jawa Timur, pernah menegurnya melalui media massa karena pernyataan Nusron yang provokatif dan berpotensi memecah belah kalangan Nahdliyin. Saat itu ia menyebut para kyai sepuh NU lupa sejarah masa lalu karena mendukung pasangan Prabowo Hatta.

Berkaitan dengan wacana pembubaran FPI, kiai Miftachul mengatakan, di tengah masyarakat yang semakin permisif dan apatis terhadap lingkungan sekarang ini, manfaat keberadaan FPI sangat jelas dalam memberantas kemunkaran. Sementara ketua umum pemuda Muhammadiyah, Saleh Partaonan Daulay menilai aksi anarkis FPI memang pantas mendapatkan tindakan tegas dari aparat penegak hukum. Akan tetapi perlu diteliti secara seksama apakah ini disengaja atau tidak. Karena menurut pengamatannya, kericuhan baru diatasi setelah benar-benar pecah tidak terkendali. Mustinya tugas penegak hukum adalah mengantisipasinya, karena demo dengan jumlah massa yang banyak bagaimanapun sulit mengendalikannya, termasuk bila terjadi provokasi dari pihak-pihak tertentu.

Ketua umum Persis ( Pemuda Persatuan Islam) Tiar Anwar Bachtiar malah berani berkata, dibalik aksi anarkis FPI, ada upaya penggambaran bahwa Islam merupakan bagian dari anarkisme. Skenario ini disajikan secara terus menerus oleh media kepada masyarakat, termasuk kepada umat Islam. Ini terbukti dengan minimnya pemberitaan hal-hal positif yang dilakukan ormas pimpinan Habib Riziek ini.   Kegiatan FPI mengangkat 100.000 mayat di Aceh saat terjadi tsunami, membantu gempa Jogja, melawan RMS, membantu pembangunan rumah bagi warga miskin, membantu berbagai bencana alam di pelosok tanah air seperti bencana banjir di Jakarta, di Sinabung dll adalah contohnya.

Sebaliknya hanya aksi pelarangan dan peredaran miras, serta perjudian dan pelacuran yang berbuntut ricuh selalu diberitakan besar-besaran. Padahal ketiga hal tersebut adalah perbuatan maksiat yang sangat dibenci Allah swt, karena jelas-jelas merusak ahlak dan diri sendiri serta lingkungan. FPI memperluas makna kemungkaran, tidak hanya hal-hal yang berbau kemaksiatan seperti ketiga hal diatas, tetapi juga aliran-aliran sesat yang mengatas namakan Islam seperti Ahmadiyah, Syiah dan JIL.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman”. (HR. Muslim)

Dapat dibayangkan bagaimana bangganya Ahok, gara-gara dirinya umat Islam jadi saling menyerang. Hal yang benar-benar amat disayangkan. Ironisnya, umat Islam kurang menyadari hal ini. Demi citra Islam sebagai rahmatan lil’aamiin, umat sebenarnya sedang dipojokkan, dibuat lupa dengan hadist di atas dan pentingnya jihad di jalan Allah. Padahal makna sesungguhnya rahmatan lil ‘aalamiin salah satunya adalah menegakkan keadilan, di jalan Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Maidah(5):54).

Tak perlu teriak-teriak bubarkan FPI karena kami akan bubar sendiri, caranya gampang, yaitu pemerintah dan seluruh aparat negara memberhentikan tindak tanduk kemunkaran di Indonesia. Kalau pemerintah sudah melakukan itu, untuk apa lagi ada FPI,” ujar Rizieq sang ketua FPI.

Menurut ketua ormas tersebut  kaum  Muslim harus berbagi tugas. Ada yang berdakwah dengan lembut, ada yang menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan tegas, dan ada yang berjihad dengan keras. “Silakan memilih sesuai dengan kemampuan kita. Tapi jangan saling menyalahkan karena tahapan yang kami lakukan berbeda,” imbuhnya.

Berikut beberapa alasan mengapa FPI tidak setuju Ahok menjadi gubernur ibu kota kita tercinta, yang dikutip dari  http://www.idjoel.com/alasan-fpi-demo-ahok-jadi-gubernur-dki-jakarta/ .

  1. Ahok menghancurkan Masjid Baitul Arif di Jatinegara, Jakarta Timur, sehingga warga setempat tidak bisa shalat Jum’at dan melakukan kajian Islam sampai saat ini.
  2. Ahok juga menghancurkan masjid bersejarah Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki(TIM). Dengan dalih renovasi namun hingga hari ini tidak ada tanda-tanda akan dibangun kembali.
  3. Ahok mengganti para pejabat Muslim dengan pejabat-pejabat non Muslim seperti lurah Susan, lurah Grace, dan sebagainya.
  4. Ahok juga mengganti sejumlah kepala sekolah Muslim di DKI, dengan alasan lelang jabatan. Hasilnya, banyak kepala sekolah di DKI saat ini dari kalangan Nasrani.
  5. Ahok mengeluarkan aturan mengganti busana Muslim di sekolah-sekolah DKI setiap Jum’at dengan baju Betawi. Sebagai perbandingan, di sekolah-sekolah Bandung, baju daerah ( Sunda) dikenakan setiap hari Rabu, hari Jum’at tetap dengan busana Muslim.
  6. Ahok juga melarang malam takbiran dengan alasan macet. Padahal perayaan tahun baru dan HUT DKI yang dicanangkan dirayakan tiap tahun jauh lebih membuat macet jalanan. Bahkan menurut ketua Panitia Nasional Syukuran Rakyat Abdee Negara, Ahok sudah memberi izin pesta rakyat menyambut kemenangan Jokowi selama 4 hari berturut-turut.
  7. Ahok juga mendukung legalisasi pelacuran yaitu lokalisasi prostitusi, dan menyebut yang menolaknya sebagai orang munafik, termasuk Muhammadiyah. Akhirnya Muhammadiyah resmi melaporkan Ahok ke polisi dengan pasal penghinaan.
  8. Ketika umat Islam mati-matian memprotes Miss World, Ahok justru mendukung total bahkan bangga jika Jakarta menjadi tuan rumah final kontes yang sama sekali tidak Islami itu.
  9. Ahok juga mendukung konser Lady Gaga di Jakarta, yang di Singapura, Cina dan beberapa negara bukan mayoritas Muslimpun dilarang karena penampilannya yang dianggap asusila.
  10. Ahok bahkan berani gegabah mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan, yaitu BOLEH MINUM BIR, asal jangan sampai mabuk.
  11. Ahok mendukung wacana penghapusan Kolom Agama di KTP.
  12. Ahok dengan berani melecehkan ayat suci, yaitu dengan mengatakan bahwa ayat suci wajib tunduk pada ayat konstitusi.
  13. Ahok sempat berwacana untuk menghapuskan cuti bersama Lebaran.
  14. Ahok juga menentang habis manifesto Partai Gerinda tentang pemurnian agama dari aliran sesat.
  15. Adanya dugaan kuat bahwa Ahok terlibat korupsi pengadaan bus Transjakarta bernilai 1,6 triliun rupiah.
  16. Terakhir, pelarangan penyembelihan kurban di lingkungan SD.( http://vienmuhadi.com/2014/10/07/ahok-larangan-kurban-di-lingkungan-sd-dan-ham/ )

Jadi keberatan FPI terhadap kepemimpinan DKI ternyata tidak hanya karena Ahok non Muslim. Dalam acara ILC kemarin juga mencuat tentang adab Ahok yang dinilai kasar dan sering kali memaki-maki  anak buahnya di depan umum, sambil membanting-banting barang. Bahkan Ratna Sarumpaet, tokoh perempuan yang dikenal anti FPI pun juga mempertanyakan prilaku kasar tersebut.

Jangan lupa pemimpin adalah contoh ketauladan orang yang dipimpinnya. Sekarang saja kita bisa melihat sendiri betapa buruknya adab dan akhlak anak zaman sekarang. Tawuran, bulli-membulli, nyontek dll sudah menjadi budaya.

Rakyat Indonesia memang terlihat jelas sudah muak menyaksikan prilaku busuk para pejabat yang menjadikan budaya korupsi sebagai hal yang wajar. Tak heran bila sepak terjang Ahok yang terkesan disiplin dan tegas terhadap korupsi itu menjadi daya tarik tersendiri.

Termasuk juga terpilihnya Jokowi sebagai presiden RI ke 7, yang dikenal berkat gaya blusukannya itu, menjadi lambang kedekatan dengan rakyatnya. Hal yang wajar dan sah-sah saja sebenarnya. Sayangnya rakyat lupa ( atau mungkin memang tidak peduli?? ) bahwa dengan naiknya Jokowi maka otomatis Ahok sebagai wakil gubernur bakal naik jabatan menjadi  gubernur. Belum lagi melihat kenyataan bahwa PDI lah yang mendukung pencalonan Jokowi. Perlu diingat anggota partai berlambang banteng ini banyak dari kalangan JIL dan Syiah. Ini yang dikhawatirkan dan diwanti-wanti para ulama sejak awal, mengapa mereka lebih mendukung pasangan Prabowo – Hatta.

Namun nasi sudah menjadi bubur, kita harus menghadapi kenyataan, itulah pilihan rakyat. Semoga dengan terpilihnya ketua MPR dan DPR dari kubu KMP pimpinan Prabowo, pemerintahan presiden terpilih Jokowi dapat berjalan lebih baik dari perkiraan. Semoga susunan kabinet Jokowi  tidak membuat resah rakyat.

Meski ternyata, Nusron Wahid, sang ketua GP Ansor yang telah membuat para ulama kebakaran jenggot, telah didapuk menjadi koordinator pelaksanaan doa lintas agama di masjid Sunda Kelapa dalam rangkaian pesta pelantikan presiden dan wakil presiden yang baru saja berlalu. Bahkan dicalonkan menjadi salah satu mentri kabinet baru ini. Na’udzubillah min dzalik …

(  http://news.fimadani.com/read/2014/10/20/nusron-wahid-jadi-koordinator-doa-lintas-agama-pesta-jokowi/ ).

Tak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi dengan negri ini bila FPI benar-benar dibubarkan. Dapat dipastikan berbagai bisnis maksiat seperti pelacuran dll pasti akan berjalan mulus, miras kembali beredar bebas, pemurtadan terhadap kaum muslimin akan makin menjadi-jadi. Lalu siapa yang bisa dan mau menghalangi hal ini bila semua ini terjadi ???

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 21 Oktober 2014.

Vien AM.

( Kabar terbaru, Minggu 26 Oktober 2014, Nusron Wahid tidak termasuk dalam daftar kabinet 2014, Alhamdulillah).

Belum juga Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama, wakil gubernur DKI Jokowi itu resmi dilantik naik jabatan menggantikan kursi gubernur yang ditinggalkan sang calon presiden terpilih. Tetapi pria asal Bangka ini telah nekad mengeluarkan instruksi  larangan pemotongan hewan kurban di lokasi SD.  Instruksi ini ditanda-tanganinya pada 17 Juli 2014 selaku petugas pelaksana gubernur DKI. Ketika itu Jokowi sedang sibuk pilpres.

(http://www.arrahmah.com/news/2014/09/26/instrusksi-ahok-larangan-qurban-di-sd-teror-terhadap-sekolah.html ).

Kontan hal ini memicu polemik berkepanjangan.  Sejumlah nara sumber menyebutkan instruksi tersebut jelas menyalahi  pasal 29 UUD 1945 dimana seharusnya Negara, dalam hal ini pemerintah, menjamin kebebasan beribadah bukan malah melakukan pelarangan.  Apalagi instruksi tersebut dikeluarkan tanpa alasan yang jelas. Meski beredar juga kabar bahwa alasannya adalah agar murid-murid SD yang notabene  masih berusia belia itu tidak menjadi trauma. Ahok juga sempat mengatakan bahwa hal tersebut bukan idenya, namun permintaan sejumlah kepala SD.  http://beritapopuler.com/ahok-dan-kebohongan-berlapis-soal-larangan-potong-hewan-qurban/

Apapun alasan yang dikemukakan Ahok sudah pasti membuat umat Islam bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dibalik semua ini. Ironisnya, meski MUI menyatakan bahwa calon gubernur DKI ini terlalu berlebihan dalam bersikap, ia tetap tegas mengatakan bahwa pemotongan hewan kurban di lokasi SD dilarang. Kali ini beralasan : “”Sekarang kan banyak penyakit ebola, rabies, flu burung sama macem-macem lah,” dalihnya di Gedung Balai Kota, seperti dikutip dari MetroTV, Kamis (2/10/2014).

Jadi atas dasar alasan yang mana sebenarnya Ahok berbicara ??

Kolom Opini Republika Sabtu 4 Oktober 2014 memuat artikel  menarik. Artikel itu ditulis oleh Dr Badrul Munir, seorang dokter spesialis syaraf RS Saiful Anwar Malang,. Dokter sekaligus dosen fakultas kedokteran Universitas Brawijaya ini mempertanyakan alasan Ahok bahwa penyembelihan hewan kurban dapat menyebabkan kelainan psikologi atau trauma terhadap anak.

Ilmu Psikoneurobehavior , ungkap Badrul, menyatakan bahwa usia sekolah dasar ( 7-12 tahun) saat perkembangan otak di lobus frontalis dan parietalis ( dahi dan pelipis) hal yang paling menonjol adalah mulai berkembangnya fungsi kognisi ( berpikir, logika, analisis), kreatifitas dan kemampuan berbahasa.  Jadi pada usia-usia inilah seorang anak memiliki kemampuan tinggi untuk merekam segala apa yang didengar dan dilihatnya. Artinya anak di usia tersebut harus dibekali paparan yang positif agar kelak bisa menjadi dasar prilaku positif.

Dengan kata lain, pendidikan dasar, seperti pendidikan moral dan agama, melalui contoh nyata dan penyampaian bahasa yang baik dan tepat,  di usia SD adalah waktu yang sangat tepat,  jauh lebih baik dari ketika anak sudah di tingkat SMP atau SMA.

Demikian pula  dengan ‘psikologi’ kurban. Setelah selama beberapa waktu murid-murid SD, khususnya yang  beragama Islam, mendengar kisah nabi Ibrahim dan putanya, nabi Ismail, tentang ketaatan kepada Tuhannya. Maka pada hari raya Iedul Adha, giliran murid-murid yang di ajak menyaksikan  bagaimana caranya mempraktekkan ketaatan tersebut. Jadi bila sebelumnya murid-murid belajar tentang teorinya maka kini saatnya mereka diajari tentang prakteknya. Menjadi tugas guru dan pengajar untuk memberikan pemahaman yang utuh tentang syariat berkurban kepada anak, secara runtut dan utuh, tidak separuh-separuh.

Nilai-nilai HAM yang belakangan ini sedang   ‘in’ bahkan bisa ditambahkan kepada murid-murid. Bahwa pemotongan hewan bukan dimaksudkan sebagai tanda kebiadaban, keberingasan apalagi tanda pelampisan kekuasaan manusia  atau ketidak-pedulian manusia terhadap hewan hingga bisa dikategorikan sebagai pelanggaran HAM kepada hewan. Justru kebalikannya. Pemotongan hewan kurban, selain tanda ketaatan kepada perintah Allah, juga realisasi dari keberpihakan kepada HAM.

Semua manusia berhak untuk hidup, dalam keadaan sehat jasmani rohani. Itu sebabnya setiap orang harus makan dan mengkonsumsi makanan bergizi, daging hewan contohnya. Sayangnya, tidak semua orang mampu membeli makanan hewani yang relative mahal itu. Itu sebabnya yang mampu harus berbagi, yaitu berkurban di hari raya Iedul Adha. Tentu saja ini hanya simbolis, karena berbagi kepada orang miskin tidak hanya pada hari tersebut namun bisa setiap waktu.

Itupun harus memenuhi beberapa persyaratan. Diantaranya hewan ( kambing, sapi atau unta) tidak boleh yang masih berada dibawah umur. Tidak boleh menakuti-nakuti dan mempermainkan hewan yang akan dipotong.  Itu pula sebabnya pisau harus tajam, agar hewan tidak terlampau merasa kesakitan. Ini masih ditambahkan, tidak mengasahnya di depam hewan yang akan disembelih, karena hal ini akan membuat hewan ketakutan. Ini wajib ditanamkan kepada murid-murid.

Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah ).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya di leher kambing, kemudian dia menajamkan pisaunya, sementar binatang itu melihatnya. Lalu beliau bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini ?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad sahih).

http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-menyembelih-sesuai-sunah/ ).

Perlu juga disampaikan kepada murid, bahwa HAM sejati adalah milik Allah swt sebagai Pemilik Alam semesta ini. Bahwa HAM adalah bukan milik perorangan, kelompok atau golongan tertentu.  Artinya selama suatu perintah dikeluarkan oleh Sang Khalik, tidak mungkin ada pelanggaran di dalamnya.  Karena sebagai pemilik Ia pasti tahu yang terbaik untuk mahluk-Nya. Pemakaian jilbab, perintah berpuasa, kepatuhan anak kepada orang-tua, hormat istri kepada suami dll dapat diberikan sebagai contohnya.

Adapun bila dalam prakteknya ada murid yang merasa mual, takut dll ketika melihat darah keluar dari hewan yang disembelih,  ini manusiawi. Kecuali bila sampai takut secara berlebihan hingga menimbulkan phobia ataupun trauma. Namun Dr Badrul berani mengatakan bila ini sampai terjadi pada umumnya dikarenakan pola asuh yang salah sejak anak masih kecil. Jadi bukan karena menyaksikan penyembelihan kurban di sekolah.

Yang perlu dikhawatirkan, tambahnya, justru ketika anak merasa cuwek bahkan menikmati berbagai game sadis atau senang menonton film brutal yang acap kali menjadi hobby anak, dan didiamkan saja oleh orang-tuanya. Malangnya, pemerintah tidak pernah merasa ada yang salah dengan hal ini. Padahal permainan games yang mengandalkan kecepatan otak dan gerak untuk menghancurkan lawan tanding akan terekam kuat di bawah sadar, dan menjadi dasar prilaku kekerasan anak di kemudian hari.

Jadi  apabila alasan pelarangan Ahok karena trauma atau alasan negative lain yang berhubungan dengan syaraf jelas tidas dapat ditrima. Tapi jika karena alasan kebersihan, ini  adalah tanggung jawab masing-masing sekolah bagaimana agar hal tersebut bisa ditanggulangi.

Terakhir, semoga saja tidak ada alasan “lain” alias mengada-ada yang memang disengaja untuk memojokkan umat Islam. Karena bagaimanapun secara sadar atau tidak kita sebenarnya sudah memancing kemarahan Sang Khalik, karena telah menjadikannya pemimpin.  Bukankah Allah swt telah jelas-jelas melarangnya ??

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Maidah (5):51).

Ironisnya, ternyata hanya FPI yang  berani secara terang-terangan memprotes pengangkatan Ahok sebagai gubernur. Itupun diacuhkan oleh Ahok, bahkan ia menganggap FPI seharusnya dibubarkan. Lebih jauh, dengan pongah ia berkata bahwa masyarakat sekarang sudah pintar jadi tidak perlu lagi  membawa-bawa isu  SARA. Malah bikin malu, ujarnya.

Apa maksud Ahok  tidak peduli bahkan malu ?? Apakah ini berarti bahwa masyarakat khususnya umat Islam sudah tidak peduli lagi dengan agama dan ajaran mereka? Bisa jadi ia benar sekali, buktinya yaitu tadi, tidak menjadikan ayat-ayat suci sebagai pegangan.  Na’udzubillah min dzalik …

Nasi sudah menjadi bubur.  Penduduk DKI sudah memilih Ahok sebagai wakil gubernurnya Jokowi. Sementara rakyat Indonesia juga sudah memilih Jokowi untuk diangkat sebagai R1. Konsekwensinya jelas, Ahok akan menjadi gubernur begitu Jokowi resmi dilantik menjadi presiden RI. Begitulah yang tertera pada  Undang-Undang No 34 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Lalu siapa yang bisa dan berani menghalanginya bila tahun depan pak gubernur kita ini melanjutkan gebrakan maut lanjutan pelarangan pemotongan hewan kurban di lingkungan SDnya yaitu dengan melarang murid SD berpuasa karena alasan kesehatan, jilbab bagi murid sekolah dst dst . Apakah ini namanya bukan pelanggaran HAM??

“ Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. … … ”. (QS.Al-Baqarah(2):109).

Mungkinkah hanya doa saja yang dapat membuatnya berpikir benar dan tidak emosional ? Tidak ada yang tidak mustahil selama Allah menghendaki. Buktinya koalisi Prabowo yang kalah dalam pilpres beberapa waktu lalu berhasil memenangkan kursi MPR dan DPR. Allahuakbar … Semoga selanjutnya Allah swt ridho memberi mantan bupati Belitung ini hidayah-Nya, agar dapat kembali ke jalan yang benar.

Ya Allah beri kami pemimpin yang mampu melindungi kami, khususnya warga DKI, agar dapat menjalankan ibadah sebaik mungkin, aamiin aamiin aamiin YRA.

… … … Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS.Al-Baqarah(2):109).

Wallahu’alam bish shawwab

Jakarta , 7 Oktober 2014.

Vien AM.

”Islam adalah agama rasional dan satu-satunya agama yang menolak adanya dosa warisan.”
Islam adalah agama yang rasional dan universal. Ia bisa diterima dan sesuai dengan akal sehat. Agama Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Sebab, kendati diturunkan di Jazirah Arabia, agama Islam bukan hanya untuk orang Arab, tetapi juga bisa diterima oleh orang yang bukan Arab (Ajam).

Bahkan, ilmu-ilmu dan ajaran yang terkandung dalam Alquran, sesuai dengan pandangan hidup umat manusia. Karena itu, tak heran, bila agama yang dibawa oleh Muhammad SAW ini, dengan mudah diterima oleh orang-orang yang senantiasa menggunakan akal pikirannya. Itulah yang dialami Dr Murad Wilfried Hofmann, mantan Diplomat Jerman. Ia menerima agama Islam, disaat kariernya berada di puncak.

Dr Hofmann, menerima Islam pada 25 September 1980. Ia mengucapkan syahadat di Islamic Center Colonia yang dipimpin oleh Imam Muhammad Ahmad Rasoul. Ia dilahirkan dalam keluarga Katholik Jerman pada 3 Juli 1931. Dia adalah lulusan dari Union College di New York dan kemudian melengkapi namanya dengan gelar Doktor di bidang ilmu hukum dari Universitas Munich, Jerman tahun 1957.

Selain itu, Hofmann dulunya adalah seorang asisten peneliti pada Reform of Federal Civil Procedure. Dan pada tahun 1960, ia menerima gelar LLM dari Harvard Law School. Kemudian, pada tahun 1983-1987, ia ditunjuk menjadi direktur informasi NATO di Brussels. Selanjutnya, ia ditugaskan sebagai diplomat (duta besar) Jerman untuk Aljazair tahun 1987 dan dubes di Maroko tahun 1990-1994. Tahun 1982 ia berumrah, dan 10 tahun (1992) kemudian melaksanakan haji.

Namun, justru sebelum di Aljazair dan Maroko inilah, Hofmann memeluk Islam. Dan ia baru mempublikasikan keislamannya setelah dirinya menulis sebuah buku yang berjudul Der Islam als Alternative (Islam sebagai Alternatif) tahun 1992. Setelah terbit bukunya ini, maka gemparlah Jerman.

Dalam buku tersebut, ia tidak saja menjelaskan bahwa Islam adalah alternatif yang paling baik bagi peradaban Barat yang sudah kropos dan kehilangan justifikasinya, namun secara eksplisit Hofmann mengatakan, bahwa agama Islam adalah agama alternatif bagi masyarakat Barat. Islam tidak menawarkan dirinya sebagai alternatif yang lain bagi masyarakat Barat pasca industri. Karena memang hanya Islam-lah satu-satunya alternatif itu, tulisnya.

Karena itu, tidak mengherankan saat buku itu belum terbit saja telah menggegerkan masyarakat Jerman. Mulanya adalah wawancara televisi saluran I dengan Murad Hofmann. Dan dalam wawancara tersebut, Hofmann bercerita tentang bukunya yang ketika itu sebentar lagi akan terbit itu.Saat wawancara tersebut disiarkan, seketika gemparlah seluruh media massa dan masyarakat Jerman. Dan serentak mereka mencerca dan menggugat Hofmann, hingga mereka membaca buku tersebut. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh media massa murahan yang kecil, namun juga oleh media massa yang besar semacam Der Spigel.

Malah pada kesempatan yang lain, televisi Jerman men-shooting Murad Hofmann saat ia sedang melaksanakan shalat di atas Sajadahnya, di kantor Duta Besar Jerman di Maroko, sambil dikomentari oleh sang reporter: Apakah logis jika Jerman berubah menjadi Negara Islam yang tunduk terhadap hukum Tuhan?

Hofmann tersenyum mendengar komentar sang reporter.Jika aku telah berhasil mengemukakan sesuatu, maka sesuatu itu adalah suatu realitas yang pedih. Artinya, Hofmann paham bahwa keislamannya akan membuat warga Jerman marah. Namun ia sadar, segala sesuatu harus ia hadapi apapun resikonya. Dan baginya Islam adalah agama yang rasional dan maju.

Sebagai seorang diplomat, pemikiran Hofmann terkenal sangat brilian. Karena itu pula, ia menambah nama depannya dengan Murad, yang berarti yang dicari. Leopold Weist, seorang Muslim Austria yang kemudian berganti nama menjadi Muhamad Asad, mengatakan, dalam pengertian luas, Murad adalah tujuan, yakni tujuan tertinggi Wilfried Hofmann.

Keislaman Hofmann dilandasi oleh rasa keprihatinannya pada dunia barat yang mulai kehilangan moral. Agama yang dulu dianutnya dirasakannya tak mampu mengobati rasa kekecewaan dan keprihatinannya akan kondisi tersebut.
Apalagi, ketika ia bertugas menjadi Atase di Kedutaan besar Jerman di Aljazair, ia menyaksikan sikap umat Islam Aljazair yang begitu sabar, kuat dan tabah menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan dari umat lain. Atas dasar itu dan sikap orang Eropa yang mulai kehilangan jati diri dan moralnya, Hofmann memutuskan untuk memeluk Islam.

Ia merasa terbebani dengan pemikiran manusia yang harus menerima dosa asal (turunan/warisan) dan adanya Tuhan selain Allah. Mengapa Tuhan harus memiliki anak dan kemudian disiksa dan dibunuh di kayu salib untuk menyelamatkan diri sendiri. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak punya kuasa, tegasnya.

Bahkan, sewaktu masa dalam masa pencarian Tuhan, Hofmann pernah memikirkan tentang keberadaan Allah. ia lalu melakukan analisa terhadap karya-karya filsuf seperti Wittgenstein, Pascal, Swinburn, dan Kant, hingga akhirnya ia dengan yakin menemukan bahwa Tuhan itu ada.

Ia kemudian bertanya; Bagaimana Allah berkomunikasi dengan manusia dan membimbingnya? Disini ia menemukan adanya wahyu yang difirmankan Tuhan. Dan ketika membandingkan agama Yahudi, Kristen, dan Islam, yang umatnya diberi wahyu, Hofmann menemukannya dalam Islam, yang secara tegas menolak adanya dosa warisan.

Ketika manusia berdoa, mereka harusnya tidak berdoa atau meminta kepada tuhan lain selain Allah, sang Pencipta. Seorang Muslim hidup di dunia tanpa pendeta dan tanpa hierarki keagamaan; ketika berdoa, ia tidak berdoa melalui Yesus, Maria, atau orang-orang suci, tetapi langsung kepada Allah, tegasnya.

Hofmann melihat bahwa agama Islam adalah agama yang murni dan bersih dari kesyirikan atau adanya persekutuan Allah dengan makhluknya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan,ujarnya. Dalam bukunya Der Islam Als Alternative, Annie Marie Schimmel memberikan kata pengantar dengan mengutip kata-kata Goethe.Jika Islam berarti ketundukan dengan penuh ketulusan, maka atas dasar Islam-lah selayaknya kita hidup dan mati.

Dalam bukunya Trend Islam 2000, Hofmann menyebutkan, potensi masa depan peradaban Islam. Ia menjelaskan, ada tiga sikap muslim terhadap masa depan mereka. Yakni, kelompok pesimis (yang melihat perjalanan sejarah selalu menurun), kelompok stagnan (yang melihat sejarah Islam seperti gelombang yang naik turun), dan ketiga kelompok optimis (umat yang melihat masa depannya terus maju). Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk senantiasa bersikap optimis dan menatap hari esok yang lebih baik.

Hofmann juga banyak terlibat aktif dalam organisasi keislaman, seperti OKI. Ia senantiasa menyampaikan pemikiranpemikiran briliannya untuk kemajuan Islam. Pada pertengahan September 2009 lalu, ia dinobatkan sebagai Muslim Personality of The Year (Muslim Berkepribadian Tahun Ini), yang diselenggarakan oleh Dubai International Holy Quran Award (DIHQA). Penghargaan serupa pernah diberikan pada Syekh Dr Yusuf al-Qaradhawi.

Islam Agama Rasional

Ada beberapa alasan yang membuat Murad Wilfried Hofmann akhirnya keluar dari Katholik dan memilih Islam. Dan alasan-lasan itu sangat membekas dalam pikirannya.

Tahun 1961, ketika ia bertugas sebagai Atase Kedutaan Besar Jerman di Aljazair, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah perang gerilya berdarah antara tentara Prancis dan Front Nasional Aljazair yang telah berjuang untuk kemerdekaan Aljazair, selama delapan tahun. Disana ia menyaksikan kekejaman dan pembantaian yang dialami penduduk Aljazair. Setiap hari, banyak penduduk Aljazair tewas.

Saya menyaksikan kesabaran dan ketahanan orang-orang Aljazair dalam menghadapi penderitaan ekstrem, mereka sangat disiplin dan menjalankan puasa selama bulan Ramadhan, rasa percaya diri mereka sangat tinggi dengan kemenangan yang akan diraih. Saya sangat salut dan bangga dengan sikap mereka, ujarnya. Alasan lain yang membuatnya memilih Islam, Hofmann adalah seorang penyuka seni dan keindahan.

Islam punya beragam kesenian yang sangat menarik dan indah, termasuk seni arsitekturnya. Hampir semua ruangan dimanifestasikan dalam seni keindahan Islam yang universal. Mulai dari kaligrafi, pola karpet, ruang bangunan dan arsitektur masjid, menunjukkan kuatnya seni Islam, jelasnya. Dari beberapa alasan diatas, persoalan yang benar-benar membuatnya harus memeluk Islam, karena hanya agama ini yang tidak mengajarkan doktrin tentang dosa warisan.

Pernyataan yang terdapat dalam Alquran sangat jelas, rasional dan tegas.Tak ada keraguan bagi saya akan kebenaran Islam dan misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad SA, paparnya. sya/berbagai sumber Biodata
Nama : Wilfried Hofmann
Nama Muslim : Murad Wilfried Hofmann
Lahir : Jerman, 6 September 1931
Masuk Islam : 25 September 1980

Pekerjaan :
*Direktur Informasi NATO di Brussels Belgia
(1983-1987)
*Duta Besar Jerman untuk Aljazair (1987-
1990)
*Duta Besar Jerman untuk Maroko (1990-
1994).
*Penulis

Dicopy dari : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/09/09/29/78582-hidayah-bagi-sang-diplomat-jerman

Urgensi Ahklakul Khorimah.

Ramadhan telah berlalu.  Selesai sudah ganjaran malam Lailatul Qadar  yang berlipat-lipat lebih dari 1000 bulan yang hampir setara dengan ibadah selama 84 tahun itu.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS.Al-Qadr(97):1-5).

Bukan hal yang dilarang mengejar pahala berlipat ganda seperti itu, justru dianjurkan. Namun ada esensi lain yang lebih utama tapi sering dilupakan kaum muslimin, yaitu akhlakul khorimah atau akhlak yang baik sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. Inilah ciri orang takwa yang  merupakan tujuan utama perintah berpuasa di bulan Ramadhan.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-baqarah(2):183).

Ciri orang yang takwa yang paling mudah kita temukan ada dalam diri Rasulullah. Aisyah ra mengatakan bahwa Rasulullah adalah Quran berjalan. Maksudnya, bila kita ingin melihat secara nyata, apa itu Al-Quran, bagaimana Islam, maka tengok dan pelajarlah sifat dan sikap nabi penutup ini.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS. Al-Ahzab(33):21).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Rasulullah adalah seorang yang dikenal jujur, adil, santun, disiplin, hangat, ramah dan apik dalam berpenampilan, namun tetap sederhana dan bersahaja, dan sekaligus tegas. Beliau juga dikenal sangat menghormati kaum perempuan dan begitu  menyayangi anak-anak. Dan kesemuanya itu beliau lakukan demi mencari ridho Tuhannya.

“ Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu “.

Demi Allah. Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku menghentikan dakwah ini, niscaya aku tidak akan menghentikan dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa.”

Itulah jawaban Rasulullah atas permintaan Abu Thalib, paman nabi yang meminta ponakan yang sangat dicintai itu agar menghentikan dakwahnya. Ini dilakukan karena sang paman mengkawatirkan keselamatan nabi yang sejak kecil telah dalam perawatan dan pengawasannya.

Inilah ciri ketakwaan yang sesungguhnya, yang seharusnya menjadi buah dari Ramadhan yang tiap tahun dilalui umat Islam seluruh dunia.

Namun anehnya, sebagian bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim ini, kurang mampu dan ( atau tidak mau ?? )  mencontoh serta   meneladani rasulnya. Bukti paling kentara yaitu dengan banyaknya koruptor di negri tercinta ini. Menjadi  bukti betapa orang-orang yang notabene adalah para pejabat negri, yang mustinya menjadi contoh keteladanan rakyatnya,  tidak memiliki rasa takut kepada Tuhannya, bahwa segala prilakunya senantiasa dalam pengawasan-Nya. Ironisnya lagi, mereka ini tidak punya sedikitpun rasa sesal dan malu ketika pengadilan memvonis kesalahan mereka.

Hal yang tak kalah menyedihkan, adalah betapa banyaknya anak usia SD yang  telah diajari untuk berbuat curang oleh gurunya. Ini  terlihat pada setiap ujian Negara  yang dilakukan tiap tahun di seluruh penjuru negri.  Demi menjaga nama baik sekolah, pihak sekolah rela mengorbankan murid-muridnya agar mau menyontek supaya mendapat nilai yang tinggi. Tak heran bila akhirnya murid berpikir bahwa menyontek itu tidak apa yang penting nilanya bagus ! Naúdzubillah min dzalik …

Nyesel juga lho waktu ujian SD dulu g ikutan nyontek, padahal guru yang jaga sengaja kasih kesempatan. Ijazah temen-temen yang nyontek jadinya pada bagus-bagus, bangga banget mereka”, begitu keluh putra kami yang sekarang telah menyelesaikan S2nya dan sudah bekerja.

Ironis bukan? Orang berbuat curang koq bangga, bahkan mampu membuat orang yang jujur berkecil hati. Kapan kita bisa maju jika kebiasaan buruk seperti ini kita biarkan saja. Karena sejatinya sifat jujur adalah kunci segala keberhasilan. Sebaliknya kebohongan adalah awal bencana besar.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wajib atas kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan kepada Surga. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian sifat dusta, karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan, dan keburukan itu menunjukkan kepada Neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta.” (SHOHIH. Diriwayatkan oleh imam Muslim no. 6586).

 Tak ada jalan lain, segala perbuatan buruk mulai dari menyontek, berbohong, memfitnah dll  harus diberi sangsi dan hukuman, agar si pelaku kapok. Itu bila kita berniat membangun bangsa yang terhormat,  cerminan negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Harus diingat, ajaran Islam bukan hanya teori belaka, yang sarat dengan rutinitas rentetan ibadah ritual. Tidak akan ditrima shalat, puasa, zakat dan haji kita bila tanpa disertai perbuatan mulia yang bermanfaat bagi orang lain. Karena sejatinya orang yang paling dicintai Allah swt adalah  Mukmin yang berakhlak baik.  Yaitu mereka yang peduli terhadap sesama, yang suka membantu orang yang dalam kesulitan, yang santun, jujur dan  tidak pamrih, disamping melaksanakan segala kewajiban Tuhannya. Mukmin yang dicintai Sang Khalik adalah ibarat sebuah pohon yang dari akar, batang, dahan, ranting hingga bunga dan buahnya bermanfaat bagi orang lain. Perumpamaannya seperti apa yang disiratkan ayat 24 – 26 surat Ibrahim berikut :

“ Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun”.

Tak heran bila saat ini banyak non muslim yang merasa “ilfil” kata anak muda zaman sekarang, terhadap kaum Muslimin. Betapa banyaknya pengakuan para mualaf yang “curhat”,  jika tidak karena ayat-ayat Al-quranul Karim  yang begitu dasyat, mereka ini tidak bakal tertarik masuk Islam karena banyaknya contoh Muslim yang tidak baik akhlaknya bahkan bejat. Korupsi, pelacuran, mabuk2an dll adalah contohnya.

Sungguh aneh, Indonesia yang setiap tahun mengirimkan 200-an ribu jamaah haji ke tanah suci, tetapi prilakunya tidak mencerminkan hal itu. Juga shalat wajib 5x sehari yang merupakan tali pertolongan terakhir umat Islam ternyata tidak mampu melahirkan insan yang berakhlak mulia.  Apa gerangan yang salah dengan umat ini ???

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya”.(QS.Al-Mauun(107) :4-6).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Yang pertama kali dihilangkan dari umat manusia adalah amanat, dan yang tersisa paling akhir adalah shalat. Berapa banyak orang yang mengerjakan shalat tanpa ada kebaikan di dalamnya sama sekali di dalam dirinya.” (HR Ath Thabrani, hasan)

Marilah kita bersama introspeksi, silahkan menambah ibadah sunnah namun jangan kesampingkan kebiasaan dan sifat baik yang mustinya menjadi buah utama ibadah kita. Mari kita buktikan bahwa semboyan Islam adalah rahmatan lillalamiin, adalah nyata bukan hanya sekedar omong kosong belaka.

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. (QS. Fushilaat(41):34).

Dari Jabir r.a meriwayatkan bahawa Baginda Rasulullah saw bersabda : Diantara kamu orang yang paling aku cintai dan orang yang paling hampir kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang baik akhlaknya. (HR Tirmizi).

Dari Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda : Musa bin Imran a.s berkata: Wahai Tuhanku, siapakah orang yang paling mulia pada pandanganMu? Allah SWT menjawab: Barangsiapa yang memberi maaf meskipun dia memiliki kemampuan untuk membalas dendam. (HR Baihaqi).

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna dan orang-orang yang menunaikan zakat dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (ya`ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Mukminun(23):1-11).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 September 2014.

Vien AM.

khilafah33

Perbincangan tentang ISIS dan Khilafah menghangat di media massa dan di masyarakat akhir-akhir ini. Diantara pemicunya adalah peredaran salah satu video yang diunggah di Youtube. Video tersebut berisi seruan anggota ISIS dari Indonesia kepada umat Islam di Indonesia agar bergabung dengan organisasi itu.

 Isu ISIS dan Khilafah pun bergulir. Banyak pihak berkomentar. Pemerintah meminta masyarakat mewaspadai dan mencegah organisasi itu berkembang. Kelompok sekular memanfaatkan isu itu untuk memukul apa yang mereka katakan sebagai paham radikal.

 Sikap Proporsional

 Bagi pihak yang tidak suka terhadap Islam, isu ISIS dijadikan sebagai kesempatan untuk menjauhkan masyarakat dari ide khilafah. Mereka kemudian menyimpangkan konsep khilafah dan melakukan ‘monsterisasi’ khilafah. Mereka berupava menanamkan ketakutan atau paling tidak keengganan terhadap ide khilafah. Caranya dengan mengaitkan isu tersebut dengan terorisme, aksi kekerasan dan kejahatan. Mereka pun melekatkan keburukan pada ide khilafah. Isu ISIS di Indonesia dan ide khilafah yang terus diulang-ulang tanpa disertai penjelasan memadai tentu bisa menjadi bagian dari upaya ‘monsterisasi’ itu.

 Semua pihak, khususnya Pemerintah, seharusnya menyikapi isu ISIS secara proporsional. Penolakan terhadap organisasi yang mengklaim telah mendeklarasikan Khilafah itu berikut berbagai tindakan kekerasan yang mereka lakukan jangan sampai diperalat oleh pihak-pihak tertentu, khususnya yang tidak suka terhadap Islam, untuk melakukan ‘monsterisasi’ syariah dan khilafah sehingga menjadi penolakan terhadap syariah dan khilafah. Upaya ‘monsterisasi’itu malah dapat menimbulkan masalah baru karena bisa mengkriminalisasi ide khilafah yang bersumberdari ajaran Islam.

 Khilafah: Ajaran Islam

 Khilafah adalah ide Islam. Karena itu Khilafah harus didukung oleh umat. Khilafah bersumber dari al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas. Dalam Islam, Khilafah atau al-Imamah al-’Uzhma merupakan perkara ma’lumun min ad-din bi adh-dharurah (telah dimaklumi sebagai bagian penting dari ajaran Islam).

 Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia guna menerapkan syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Pengertian ini sekaligus menjelaskan muatan dari Khilafah yakni: ukhuwah, syariah dan dakwah. Ukhuwah artinya persatuan umat Islam seluruh dunia. Syariah artinya penerapan syariah Islam secara kaffah (menyeluruh). Dakwah artinya penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Tiga muatan inilah yang terangkum dalam kata Khilafah. Karena itu Khilafah sebagai ajaran Islam harus didukung oleh umat Islam.

 Secara historis pun, Khilafah telah membawa rahmat dan pengaruh besar bagi umat Islam di dunia, termasuk bagi negeri ini dan penduduknya. Perlu diingat, Khilafah berperan besar bagi penyebaran Islam di negeri ini sehingga penduduk negeri ini mendapat rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mendapatkan petunjuk kepada Islam. Diantara para wali dan ulama yang menyebarkan Islam di negeri ini sebagiannya diutus dan difasilitasi oleh Khilafah pada masa itu, termasuk sebagian dari Wali Songo. Kesultanan-kesultanan Islam yang dulu memerintah dan memakmurkan negeri ini pun berhubungan erat dengan Khilafah pada masa masing-masing. Bahkan Khilafah pernah turut membantu perjuangan rakyat negeri ini melawan penjajah. Kesultanan Aceh, misalnya, pernah dibantu oleh Khilafah Utsmaniyah dengan senjata modern kala itu dan pasukan yang dipimpin oleh panglima Hizir Reis dalam menghadapi penjajah.

 Kewajiban Menegakkan Khilafah

 Kita telah diperintah untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melaksanakan syariah-Nya secara keseluruhan tanpa pilih-pilih. Kewajiban melaksanakan seluruh syariah itu memastikan kewajiban kaum Muslim untuk mengangkat imam (Khalifah) dan menegakkan Khilafah. Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya, berfirman:

“Terhadap pencuri laki-Iaki dan pencuri perempuan, potonglah tangan keduanya … ” (QS al-Maidah 5:38).

Imam Fakhrudin ar-Razi asy-Syafi’i menafsirkan ayat ini dalam tafsirnya, Mafatih al-Ghayb: “Para mutakallimin berhujjah dengan ayat ini bahwa umat wajib mengangkat untuk diri mereka seorang imam (Khalifah). Dalilnya, melalui ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan penegakkan had (hukuman) atas pencuri dan pelaku kriminal. Tentu harus ada pihak yang diseru dengan seruan ini. Umat sepakat bahwa tidak ada seorang pun dari kalangan rakyat yang berhak menegakkan hudud terhadap para pelaku kriminal. Bahkan umat sepakat bahwa tidak boleh (haram) penegakkan hudud atas orang merdeka pelaku kriminal kecuali oleh imam (Khalifah). Taklif ini merupakan taklif jazim (tegas). Tak mungkin keluar dari ikatan taklif ini kecuali ketika ada imam (Khalifah). Saat kewajiban itu tidak tertunaikan kecuali dengan keberadaan seorang imam (Khalifah)-padahal itu masih dalam batas kemampuan mukallaf-maka keberadaan imam (Khalifah) adalah wajib. Karena itu perkara ini memastikan kewajiban untuk mengangkat seorang imam (Khalifah).”

 Imam ‘Alauddin al-Kasani al-Hanafi dalam Bada’iu ash-Shana’i (xiv/406) juga menyatakan: “Mengangkat Al-Imam al-A’zham (Khalifah) adalah fardhu tanpa ada perbedaan diantara ahlul-haq. Dalam hal ini, perbedaan sebagian kalangan Qadariyah tidak ada nilainya. Pasalnya, Sahabat radhiyallah ‘anhum telah berijmak atas (kewajiban penegakkan, red.) Khilafah … “

 Imam an-Nawawi di dalam Syarhu Shahih Muslim (vi/291) pun menegaskan: “Para ulama sepakat bahwa wajib atas kaum Muslim untuk mengangkat khalifah. Kewajiban mengangkat khalifah itu berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal. Adapun yang diceritakan dari al-’Asham bahwa dia mengatakan Khilafah tidak wajib, juga dari selain dia bahwa Khilafah itu wajib menurut akal dan bukan syariah, maka kedua perkataan ini adalah batil.”

 Syaikh Manshur al-Buhuti al-Hanbali dalam Kasysyaf al-Qina’ ‘an Matn al-lqna’ (xxi/61) juga menegaskan: “Mengangkat Al-Imam al-A’zham (Khalifah) bagi kaum Muslim adalah fardhu kifayah. Pasalnya, manusia memerlukan itu untuk menjaga kesucian dan mempertahankan wilayah, menegakkan hudud, menunaikan hak-hak, memerintahkan kemakrufan dan melarang kemungkaran.”

 Bahkan Imam Ibn Hajar al-Haytsami di dalam Ash-Shawa’iq al-Muhriqah (i/25) menegaskan: “Ketahuilah juga bahwa sesungguhnya para Sahabat radhiyallah ‘anhum telah berijmak bahwa mengangkat imam (Khalifah) setelah lewatnya zaman kenabian adalah wajib. Mereka bahkan menjadikan kewajiban ini sebagai salah satu kewajiban yang paling penting (min ahammi al-wajibat). Buktinya, mereka lebih menyibukkan diri untuk memilih dan mengangkat Khalifah daripada menguburkan jenazah Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam. Perbedaan mereka dalam menentukan (siapa yang menjadi Khalifah) tidak menodai ijmak yang telah disebutkan itu.”

 Harus Mengikuti Manhaj Kenabian

 Khilafah yang dikehendaki oleh syariah itu adalah Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Islam telah menjelaskan metode pelaksanaan berbagai kewajiban, termasuk kewajiban menegakkan Khilafah ini. Karena itu menegakkan Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah juga harus terikat dengan metode yang telah dijelaskan oleh Rasul Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sirah beliau. Metode ini

merupakan hukum syariah yang wajib diikuti.Diantara ketentuan metode itu adalah bahwa negeri tempat Khilafah ditegakkan haruslah memenuhi empat kriteria:

 1.  Kekuasaan di wilayah itu haruslah otonom bersandar kepada kaum Muslim.

2. Keamanannya harus terjamin dengan keamanan kaum Muslim. Perlindungan di dalam dan luar negeri harus pula dengan perlindungan Islam, berasal dari kekuatan kaum Muslim sebagai kekuatan Islam saja.

3.  Orang yang dibaiat menjadi Khalifah harus memenuhi syarat in’iqad (legal).

4.  Segera secara langsung menerapkan syariah Islam secara keseluruhan dan mengemban dakwah Islam. Artinya, Khalifah yang dibaiat itu harus berada di tengah-tengah rakyat (tidak terus bersembunyi); memelihara urusan mereka, menyelesaikan problem mereka serta melaksanakan tugas pemerintahan dan ri’ayah seluruhnya sebagaimana yang disyariatkan.

 Keempat kriteria itu belum terpenuhi pada khilafah yang telah diklaim deklarasinya oleh ISIS. Karena itu khilafah ala ISIS tidak bisa dianggap sebagai khilafah yang syar’i. Konsekuensinya, semua hak dan kewajiban syar’i terkait khilafah itu juga belum bisa direalisasi. Dengan kata lain, Khilafah yang syar’i belum terwujud.

 Khilafah adalah kewajiban terpenting. Karena itu kaum Muslim wajib turut serta aktif dalam menegakkan Khilafah. Mereka tidak boleh menjauhi, menolak apalagi sampai menghalangi upaya penegakkan Khilafah. Tindakan demikian merupakan dosa besar.

Hanya saja, upaya penegakkan Khilafah tetap harus mengikuti metode yang telah digariskan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk kita, yakni melalui dakwah fikriyah wa siyasiyah (pemikiran dan politik) tanpa kekerasan. Caranya adalah melalui aktivitas pembinaan dan pengkaderan, berinteraksi bersama umat dan thalab an-nushrah (menggalang dukungan para pemilik kekuasaan). Perjuangan itu pasti berhasil pada saatnya karena itu merupakan janji Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman dan beramal salih di antara kalian bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi … “ (QS an-Nur 24:55).

Ketika kekuasaan Islam terwujud, ia akan menebarkan rahmat. Sayyid Quthub di dalam FI Zhilal al-Qur’an menjelaskan:

“Sesungguhnya dijadikan berkuasa di muka bumi itu adalah kemampuan untuk membangun dan memperbaiki, bukan menghancurkan dan merusak; kemampuan mewujudkan keadilan dan ketenteraman, bukan kezaliman dan penindasan; kemampuan meninggikan jiwa manusiawi dan sistem manusiawi, bukan untuk membenamkan individu dan komunitas pada derajat hewan … ” (al-Islam 717, Syawal 1435H)

Khilafah ar-Rasyidah dan Filosofi Bernegara dalam Islam

Dalam sebulan terakhir ini media massa banyak memberitakan tentang Daulah Islam dan Khilafah ala ISIS yang diklaim telah diproklamasikan di Irak. Berita tersebut dikaitkan dengan berita tentang berbagai tindakan kekerasan, penindasan bahkan kekejaman; juga tentang perlakuan otoriter terhadap warga termasuk warga sipil dan non-Muslim. Semua itu boleh jadi bisa menimbulkan pemahaman keliru tentang syariah dan Khilafah di tengah-tengah umat.

Waspadai Pengaburan Potret Khilafah

Di tengah isu tentang Khilafah ala ISIS, seminggu terakhir ini juga tersebar berita bahwa Amerika Serikat membantu Irak dan kelompok Kurdi untuk menyerang ISIS. Alasannya adalah demi

kemanusiaan, yaitu untuk mencegah genosida (pemusnahan massal) dan pembantaian. Padahal motif kemanusiaan itu hanyalah kebohongan. Pasalnya, jauh sebelum ini, genosida dan pembantaian juga terjadi di Suriah, Afrika Tengah, Myanmar dan belahan dunia lainnya. Namun, Amerika Serikat tidak melakukan campur tangan dengan alasan kemanusiaan. Amerika Serikat dan Barat tidak melakukan apa-apa.

Sebaliknya, Amerika Serikat dan Barat sebelumnya telah melakukan tindakan brutal di lrak, Afganistan, Somalia dan belahan dunia lainnya. Tindakan Amerika Serikat dan Barat telah memakan korban ratusan ribu bahkan jutaan orang tewas maupun terluka.

Karena itu berbagai berita itu haruslah disikapi dengan benar. Jika pun berita-berita tentang apa yang terjadi itu benar, tindakan seperti yang diberitakan itu jelas tidak dibenarkan oleh syariah. Bahkan metode memproklamasikan dan menegakkan negara yang diklaim itu sejak awal sudah keliru. Sekali lagi, jika memang berita-berita itu benar maka: Pertama, kita tidak boleh terperdaya dan tersesatkan sehingga menilai Amerika Serikat dan Barat sebagai penyelamat. Tindakan Amerika Serikat dan Barat serta rezim-rezim diktator dukungan mereka seperti di Suriah, bahkan kebiadaban Israel, jauh lebih brutal dan kejam. Kedua, kita tak boleh terpalingkan dari kewajiban syar’i untuk terus berjuang menegakkan Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian.

Khilafah yang Sebenarnya

Khilafah adalah negara kaum Muslim di seluruh dunia untuk menerapkan Islam, baik di dalam maupun luar negeri. Negara adalah organisasi politik yang berfungsi untuk menerapkan kumpulan pemahaman (mafahim), standarisasi (maqavis) dan keyakinan (qana’at) yang diterima dan diemban oleh umat.

Karena itu mendirikan negara Khilafah tak bisa serta-merta dengan mengambil-alih kekuasaan, kemudian semuanya dianggap selesai begitu kekuasaan di tangan. Pasalnya, yang paling mendasar dalam bernegara adalah penerimaan umat terhadap kumpulan pemahaman, standarisasi dan keyakinan yang akan diterapkan kepada mereka. Jika tidak, maka negara itu adanya seperti tidak ada, keberadaannya tidak bisa mewujudkan tujuan bernegara.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan metode baku dalam mendirikan Negara Islam di Madinah. Beliau memulai langkahnya dengan proses pembinaan serta penanaman (tatsqif) kumpulan pemahaman, standarisasi dan keyakinan yang hendak diterapkan itu kepada umat; juga kepada ahlul quwwah (para pemilik kekuasaan) sekaligus meminta nushrah (dukungan) mereka. Ketika umat dan ahlul quwwah menerima dan mengembannya, mereka lalu memberikan mandat kekuasaan mereka (taslim al-hukm) kepada Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menerapkan kumpulan pemahaman, standarisasi dan keyakinan tersebut kepada mereka.

Sebagai organisasi yang berfungsi untuk menerapkan kumpulan pemahaman, standarisasi dan keyakinan kepada rakyat, negara memang membutuhkan kekuatan (quwwah). Kekuatan juga dibutuhkan untuk menjaga dan melindungi negara. Namun, negara bukanlah kekuatan (quwwah) yang identik dengan militer. Negara juga tidak boleh menggunakan pendekatan militeristik, apalagi menjelma menjadi military state (negara militer). Selain akan menjadi ‘monster’, penjelmaan negara seperti ini juga menjadi madarat bagi umat. Padahal Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Siapa saja yang meneror seorang Muslim, Allah akan meneror dia pada Hari Kiamat. Siapa saja yang menyebarkan rahasia saudaranya, Allah akan menyebarkan rahasianya pada Hari Kiamat kepada para makhluk” (Dikeluarkan oleh ar-Rabi’ bin Habib dalam Musnad).

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

“Tidak boleh ada kemadaratan (dharar) dan sesuatu yang bisa memadaratkan (dhirar) dalam Islam” (HR Ibn Majah, ad-Daruquthni dan Malik).

Karena itu negara militer (military state), negara totaliter atau negara otoriter jelas diharamkan dalam Islam (Al-Allamah Syaikh ‘Abdul Qadim Zallum, Nizham al-Hukm fi ai-Islam, hlm. 242 & 246, cet.VI, edisi Muktamadah, 1422 H).

Negara Khilafah, sebagaimana yang digariskan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, disyariatkan untuk mengurus urusan umat dengan menerapkan hukum syariah. Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Pemimpin umat manusia adalah pengurus rakyat. Dia bertanggung jawab terhadap urusan rakyatnya” (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Ibn Hibban, an-Nasa’i dan al-Baihaqi).

 Karena itu negara (ad-dawlah) dan kekuasaan (as-sulthan) dalam Islam ada untuk mengurus urusan umat. Tanpa itu tidak mungkin urusan umat bisa diwujudkan. Maka dari itu, filosofi dasar bernegara dalam Islam adalah mewujudkan kemaslahatan umum (al-mashlahah al-’ammah) baik yang bersifat vital (al-mashlahah ad-dharuriyyah) seperti menjaga agama (hifdz ad-din), jiwa (an-nafs), akal (al-’aql), keturunan (an-nasi), kehormatan (al-karamah), harta (al-mal), keamanan (al-amn) dan menjaga negara (hifdz ad-daulah); maupun kemaslahatan pelengkap (al-mashlahah al-takmiliyyah), dibutuhkan (al-mashlahah al-hajiyyah) dan kebaikan (al-mashlahah at-tahsiniyyah).

Kemaslahatan vital, seperti menjaga agama, akan terwujud jika negara menerapkan Islam dengan benar dan konsekuen, serta menjaga Islam dari berbagai penyimpangan. Caranya adalah dengan penerapan sanksi atas orang murtad serta orang yang pahamnya salah. Jiwa akan terjaga jika qishash diterapkan atas orang yang menghilangkan nyawa orang lain. Akal akan terjaga ketika khamer, narkoba dan sejenisnya diharamkan dan siapa saja yang terlibat dengan itu dikenai sanksi. Keturunan akan terjaga ketika hukum pernikahan diterapkan, zina diharamkan dan sanksi bagi pelakunya ditegakkan. Kehormatan juga akan terwujud ketika orang yang menuduh zina dijatuhi sanksi sekaligus ditolak kesaksiannya. Harta akan terjaga ketika pencurian, korupsi dan perampokan dikenai sanksi. Keamanan pun akan terjaga ketika bughat, begal dan pengacau keamanan dilarang serta pelakunya dijatuhi sanksi yang berat.

Namun, kemaslahatan vital ini tidak bisa diwujudkan sendiri karena membutuhkan seperangkat hukum syariah yang lain. Karena itu ada kemaslahatan pelengkap (al-mashlahah al-takmiliyyah), seperti larangan melihat lawan jenis, berdua-duaan dan membuka aurat, yang melengkapi larangan berzina. Sebab, zina tidak hanya diharamkan, tetapi semua pintu perzinaan juga wajib ditutup rapat-rapat.

Hukum syariah juga mewujudkan kemaslahatan yang dibutuhkan (al-mashlahah al-hajiyyah), seperti rukhshah tidak berpuasa bagi musafir dan orang yang sakit; menjamak dan memendekkan shalat bagi musafir; bertayamum bagi orang yang sakit dan tidak menemukan air. Selain itu, hukum syariah juga mewujudkan kemaslahatan kebaikan (al-mashlahah at-tahsiniyyah), seperti bersuci dari najis, hadas besar dan kecil; larangan kencing di lubang, atau air yang berhenti; memakai wangi-wangian, memotong kuku, menyisir rambut, dan sebagainya. Semuanya ini merupakan kemaslahatan yang bersifat tahsiniyyah.

Seluruh kemaslahatan ini hanya bisa diwujudkan dengan menerapkan syariah Islam dengan sempurna, baik dan benar, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), kecuali menjadi rahmat bagi se/uruh alam semesta” (QS al-Anbiya’ 21:107).

Makna “rahmat[an]” adalah jalb al-mashalih (terpenuhinya kemaslahatan) dan daf’u al-mafasid (terhindarkannya kerusakan dan kemadaratan). Ini berlaku bukan hanya untuk orang Islam, tetapi juga non-Muslim; bukan hanya untuk manusia, tetapi juga alam dan kehidupan. Itulah makna frasa rahmat[an] lil-’alamin.

Hanya saja, seluruh kemaslahatan tersebut tidak akan terwujud jika syariah Islam tidak diterapkan dengan sempurna, baik dan benar, di bawah naungan Khilafah. Khilafah itu haruslah yang mampu menerapkan syariah Islam dengan sempurna, baik dan benar. Itulah Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.

Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah ini dibangun dengan pondasi umat Islam yang menerima dan meyakini kumpulan pemahaman, standarisasi dan keyakinan Islam yang diterapkan kepada mereka;

sebagaimana Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah yang pertama. Metode yang digunakan untuk membangun Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah juga mengikuti sepenuhnya metode Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam dan para Sahabat dalam mendirikan negara. Para pendiri dan pemangkunya juga mempunyai karakter sebagaimana pendiri dan pemangku Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah yang pertama.

Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah menerapkan Islam secara sempurna, dengan baik dan benar, di dalamnya darah, harta, kehormatan, akal, keturunan manusia baik Muslim maupun non Mulsim akan terjaga dan terlindungi.

Begitulah Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Itulah Khilafah yang wajib ditegakkan dan diperjuangkan oleh umat Islam di seluruh dunia. Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah ini akan menjadi pangkal kebangkitan dan kemuliaan umat Islam. Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah ini juga menjadi solusi dari berbagai masalah yang menyelimuti umat Islam.” (al-Islam 718/Syawal 1435H)

Wallah a’lam bi ash-shawab.

Sumber: al-Islam edisi 717-718, Syawal 1435 H/Agustus 2014

Dicopy dari :

http://www.akhirzaman.info/islam/80-hizbut-thahrir/2375-khilafah-ajaran-islam-bukan-kejahatan.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers