Feeds:
Posts
Comments

Berbicara mengenai masuknya Islam di Papua, uztad Fadzlan bercerita,

“Nuu Waar adalah nama pertama untuk Papua, sebelum berubah menjadi Irian Jaya, kemudian Papua saat ini. Nuu Waar, dalam bahasa orang Papua, berarti cahaya yang menyimpan rahasia alam. Sedangkan Papua dalam bahasa setempat berarti keriting. Karena itu, komunitas Muslim lebih senang menyebutnya dengan Nuu Waar dibandingkan Irian atau Papua,” ujarnya kepada Republika, Februari lalu.

Menurut uztad ini,  Islam sebenarnya masuk lebih dulu ke Nuu Waar dibanding  Kristen, terutama di Fak-Fak.  Namun, karena misionaris lebih gencar menyebarkan ajarannya, ditambah lagi peran media yang condong membela ke Kristen, maka akhirnya Kristenlah kini yang terlihat dominan.  Wikipedia menuliskan bahwa Muslim di Papua adalah minoritas yaitu hanya 22.5 %. Itupun 15.5 % diantaranya bukan warga asli, alias pendatang (2010) (??).

 “Padahal, saat ini jumlah umat Islam di Nuu Waar kemungkinan lebih banyak daripada pemeluk Kristen. Itu sebabnya  pemerintah daerah tidak berani membuat angket untuk mengetahui jumlah yang sebenarnya”, tegas uztad Fadzlan.

Aktivitas dakwah Islam di Papua merupakan bagian dari rangkaian panjang syiar Islam di Nusantara. Berdasarkan buki-bukti yang ada, ditarik kesimpulan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia  sejak abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Daerah pertama yang didatangi oleh Islam adalah pesisir utara Sumatera, berlanjut dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu Kerajaaan Perlak, tahun 840, di Aceh.  Dari sinilah selanjutnya Islam menyebar ke pelosok Nusantara. Ada beberapa pendapat/teori mengenai penyebaran Islam ke Papua. Diantaranya adalah teori Bacan.

Teori Bacan menyimpulkan bahwa Islam telah masuk ke Papua pada era kerajaan Bacan berkuasa melalui  wali Ja’far As-Shadiq (1250 M), melalui keturunannya syiar Islam menyebar ke Sulawesi, Filipina, Kalimantan, Nusa Tenggara, Jawa dan Papua.  Pendapat ini didukung oleh sumber-sumber Barat, meski waktunya tidak sama.  Menurut mereka pada abad ke XVI sejumlah daerah di Papua bagian barat, terutama yang di wilayah pesisir, yakni wilayah-wilayah Waigeo, Missool, Waigama, dan Salawati, telah tunduk kepada kekuasaan Sultan Islam Bacan di Maluku.  Sementara yang dipedalaman masih tetap menganut faham animisme.

Sementara bukti lain mencatat bahwa pada tahun 1214 M, rombongan ekspedisi kerajaan Samudra Pasai  dibawah Syekh Iskandarsyah telah datang ke Papua. Mereka masuk melalui Mes, ibukota Teluk Patipi saat itu.

Dalam “The Preaching of Islam” karya Thomas W. Arnold, dinyatakan bahwa Islam memasuki Papua,  secara langsung maupun tidak langsung, karena pengaruh kerajaan Islam Demak. Kerajaan ini berkuasa setelah mengalahkan kerajaan Majapahit  Hindu Budha  pada tahun 1527.

Kajian oleh L.C. Damais dan de Casparis dari sudut paleografi membuktikan telah terjadi saling pengaruh antara dua kebudayaan yang berbeda (yakni antara Hindu-Budha dan  Islam) pada awal perkembangan Islam di Jawa Timur. Data-data tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya dakwah Islam sudah terjadi terjadi jauh sebelum keruntuhan total kerajaan Majapahit di tahun 1527M. Dengan kata lain, ketika kerajaan Majapahit berada di puncak kejayaannya, syiar Islam juga terus menggeliat melalui jalur-jalur perdagangan di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Majapahit di delapan mandala (meliputi seluruh nusantara) hingga Malaysia, Brunei Darussalam, dan seluruh kepulauan Papua.

Berikut beberapa bukti peninggalan sejarah Islam yang ada di pulau Papua  :

  1. Tradisi lisan masih tetap terjaga sampai hari ini yang berupa cerita dari mulut ke mulut tentang kehadiran Islam di Bumi Cendrawasih.
  2. Naskah-naskah dari masa Raja Ampat dan teks kuno lainnya yang berada di beberapa masjid kuno.
  3. Di Fakfak, Papua Barat dapat ditemukan 8 atau 9 manuskrip kuno berhuruf Arab. Lima manuskrip berbentuk kitab dengan ukuran yang berbeda-beda, yang terbesar berukuran kurang lebih 50 x 40 cm, yang berupa mushaf Al Quran yang ditulis dengan tulisan tangan di atas kulit kayu dan dirangkai menjadi kitab. Sedangkan keempat kitab lainnya, yang salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadits, ilmu tauhid, dan kumpulan doa. Kelima kitab tersebut diyakini masuk pada tahun 1214 dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari kerajaan Samudra Pasai yang datang menyertai ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk melalui Mes, ibukota Teluk Patipi saat itu. Sedangkan ketiga kitab lainnya ditulis di atas daun koba-koba, Pohon khas Papua yang mulai langka saat ini. Tulisan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung yang terbuat dari bambu. Sekilas bentuknya mirip dengan manuskrip yang ditulis di atas daun lontar yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia Timur.
  4. Masjid Patimburak yang didirikan di tepi teluk Kokas, distrik Kokas, Fakfak yang dibangun oleh Raja Wertuer I yang memiliki nama kecil Semempe.

Sementara kedatangan misionaris Kristen tercatat pada pernyataan berikut,  Dalam Nama Allah kami menginjak kaki di Tanah ini“. Inilah Kalimat awal yang diucapkan dua misionaris Papua yakni Johan Gottlob Geissler dan C.W. Ottow, Pada tanggal 5 Februari 1855 dengan kapal Ternate membuang sauhnya di depan pulau Manansbari (Mansinam) Manokwari -Papua barat).

Kedua misionaris itu bisa masuk ke pulau Manansbari  berkat kebaikan raja Islam Tidore yang memberikan kedua orang tersebut surat rekomendasi.  Akhirnya Manokwaripun, sebagai salah satu kota besar di Papua berhasil di-Kristenkan, hingga hari ini. Namun harus diingat awal semua ini tak lepas dari pertarungan politik serta  peran negara-negara Barat penjajah seperti Belanda dan Spanyol yang ingin menguasai rempah-rempah dan hasil bumi Nusantara  yang begitu berlimpah.

Yang juga patut menjadi catatan, ketika para misionaris datang menyerbu Papua,  sejumlah kerajaan kecil Islam di Papua masih bertebaran, kerajaan Patipi adalah salah satunya. Sebaliknya ada juga sebagian  Papua yang rakyatnya masih animism, meski jumlahnya tidaklah banyak. Mereka ini adalah yang tinggal di pedalaman-pedalaman yang sulit dijangkau, sehingga ajaran Islam belum masuk. Ironisnya, inilah yang di kemudian hari dibesar-besarkan dan sering dijadikan model dan contoh keterbelakangan Papua, bahkan sengaja dipertahankan atas alasan warisan budaya.  Selain juga dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk mengaburkan peradaban Islam yang sejak berabad-abad lamanya telah menerangi Nuu Waar, nama yang lebih disukai rakyat daripada Papua yang terkesan membodohi .

Padahal selama abad 14 dan 15 kesultanan Ternate yang juga pernah menguasai sebagian Papua, sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur, bersama  Aceh dan Demak yang menguasai wilayah barat dan tengah Nusantara kala itu, tengah mengalami masa keemasannya. Bahkan di masa pemerintahan Sultan Bayanullah (1500-1521), syariat Islam pernah diterapkan di kerajaan tersebut. Teknik pembuatan perahu dan senjata yang diperoleh dari orang Arab dan Turki digunakan untuk memperkuat pasukan Ternate dari serangan musuh. Tapi entah sengaja atau tidak, peran ke 3 kerajaan tersebut telah dikesampingkan dalam sejarah bangsa ini padahal mereka adalah pilar pertama yang membendung kolonialisme Barat.

Anehnya lagi, hari ini ketika uztadz Fadzlan dengan AKFN nya berkiprah dan berjuang mati-matian mengangkat harkat dan martabat masyarakat Papua yang terpinggirkan, para pendeta dan pemeluk Kristen Papua justru merasa kebakaran jenggot.

Orang Kristen tidak boleh cemburu. Yang seharusnya cemburu adalah umat Islam, karena selama ini umat Islam di Papua kurang sekali mendapat fasilitas. Justru yang sering mendapat fasilitas adalah mereka (Kristen), baik dari negara maupun hasil kekayaan alam negeri yang mereka ambil. Otsus itu mereka yang makan semua, sementara umat Islam tidak mendapat. Bukankah selama ini seluruh orang Kristen, misionaris dan gereja, menggunakan pesawat modern, tapi umat Islam tidak pernah mengganggu. Kok dengan kapal kecil saja mereka cemburu. Tidak ada yang melarang. Yang jelas, saat ini belum ada gangguan terhadap dakwah AFKN.  Irian itu negeri Muslim kok,” demikian tanggapannya, santai.

Mari kita dukung kegiatan positif uztad Fadzlan dan timnya demi mengembalikan rakyat Nuu Waar ke arah masyarakat yang maju dibawah lindungan Sang Khalik, Allah swt,  Sang Penguasa alam semesta yang sebenarnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 Februari 2015.

Vien AM.

Bagi yang berminat berpartisipasi membantu kemajuan Nuu Waar, kirim zakat infak sodaqoh anda ke

BCA cabang Fak-Fak norek 0911 3180 31 an Mz Fadzlan Garamatan. Saat ini uztad Fadzlan sedang bersiap-siap membangun sebuah masjid besar di Patipi, Fak-Fak.

Seorang laki-laki berkulit gelap berjenggot lebat, berjalan memimpin 7 orang rekannya memasuki sebuah  hutan belantara di Papua. Sebelumnya sang pemimpin sudah mengingatkan rekan-rekannya tersebut  bahwa perjalanan ini beresiko dijegat kawanan orang-orang berpanah beracun.

“Segeralah menyelamatkan diri bila saya sampai terkena panah”, begitu ia berpesan berulang kali.

Ternyata hal itu benar-benar terjadi. Maka segera ke 7 rekan tersebutpun menyelamatkan diri. Tinggalah sang pemimpin yang terkulai lemas akibat gempuran panah beracun. Namun ia tetap tegar dan berusaha berdiri untuk menyelamatkan diri meski harus jatuh bangun berkali-kali. Hingga akhirnya timbul rasa kasihan sang pemimpin adat, dan memerintahkan anak buahnya agar menghentikan tembakan panah mereka.

Kemudian ia mendekati musuh yang telah tak berdaya tersebut, dan menawarkan bantuan. Laki-laki tersebut hanya berkata pendek, minta dibebaskan dan diantarkan ke perbatasan desa. Namun ternyata sang pemimpin adat tidak hanya mengantarnya ke tempat yang diinginkan, melainkan hingga ke RS besar di Makasar. Bahkan selama perjalanpun tak henti-hentinya ia memberikan pengobatan dengan tumbuh-tumbuhan yang dijumpai di sepanjang perjalanan.  Dan hebatnya lagi, begitu sang pemimpin adat kembali ke desanya, ia memutuskan untuk masuk Islam, tak tanggung-tanggung, dengan mengajak rakyatnya pulak!

Itulah sekelumit kisah pengalaman yang diceritakan laki-laki yang tak lain adalah uztadz Fadzlan Garamatan. Putra asli Papua ini berdakwah dengan cara membina komunikasi yang baik dengan orang yang didakwahinya. Dan hasilnya memang sungguh mengagumkan, selama 19 tahun ia berdakwah,  tercatat 45% warga asli memeluk Islam. Ia menyebutkan sekitar 221 suku “kembali”ke pangkuan Islam. Jumlah warga tiap suku bervariasi, mulai dari ratusan sampai ribuan. Jadi bila diambil rata-rata tiap suku seribu orang, maka kerja keras Ustad Fadlan sudah mengislamkan 220 ribu orang Papua pedalaman. Ditambah ratusan masjid yang sekarang ini bisa ditemui di pulau ujung timur Indonesia ini.

Selain dengan dialog uztad Fadzlan juga berdakwah dengan mengajarkan kebersihan.  Ia mengajarkan bahwa manusia perlu setiap hari mandi, dengan menggunakan air dan sabun, bukan dengan lemak babi 3 bulan sekali seperti yang selama ini mereka lakukan. Itu sebabnya uztadz yang gemar berjubah ini juga dikenal dengan sebutan uztadz sabun.  Memang kemanapun sang uztadz berjalan ia selalu membawa sabun untuk dibagi-bagikan secara gratis.

Fadzlan Rabbani Al-Garamatan  lahir pada 17 Mei 1969 di Patipi, Fak Fak, Papua Barat. Ayahnya yang masih merupakan keturunan raja Patipi, bernama Machmud Ibnu Abu Bakar Ibnu Husein Ibnu Suar Al-Garamatan dan ibunya adalah Siti Rukiah binti Ismail Ibnu Muhammad Iribaram.  Tak percuma rupanya jerih payah keduanya mendidik putranya sejak kecil belajar Al-Quran, khususnya ayahnya yang memang seorang guru SD sekaligus guru mengaji di Patipi.

Kami di Papua, khususnya di kampung kami, ketika masuk SD kelas 1 sudah harus belajar Alquran” tuturnya.

Mungkin ini di luar dugaan, karena umumnya orang Indonesia beranggapan bahwa Islam belum begitu menyentuh tanah Papua, bahwa Papua adalah pulau milik misionaris. Nyatanya yaitu tadi, ustad Fadzlan yang lahir pada tahun 1969, sejak usia sebelum SD sudah mengenal Al-Quran, dan itu bukan hanya dirinya sendiri namun juga anak-anak SD di seluruh kampungnya.  Itu pula sebabnya, sarjana ekonomi lulusan fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar tahun 80’an ini lebih memilih jalan dakwah dari pada mengejar kesuksesan ilmu yang susah payah ditekuninya itu.

Saya punya kewajiban. Bukan saya pribadi, tapi bangsa Indonesia ini akan bertanggung jawab kepada Allah ketika hari kiamat, Tuhan bertanya, kenapa Anda sudah menjadi Muslim Anda biarkan mereka begitu? Apalagi dengan membiarkan mereka tetap telanjang. Kedua, di Indonesia ini orang Irian yang pertama melakukan shalat Subuh, pertama shalat Idul Fitri, pertama shalat Jumat, pertama buka puasa. Ini berarti ada satu rahasia Allah yang perlu orang Islam di negeri ini menyampaikan ke semua orang”.

Untuk itu pula ia rela menempuh perjalanan 12 hari hingga 3 bulan dengan berjalan kaki, ke pelosok hutan, lembah dan pegunungan, demi memperkenalkan ajaran Islam. Banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi. Mulai dari luasnya wilayah, kondisi alam yang sulit karena terjal dan berbatu, hingga sesekali bertemu dengan binatang buas.  Namun ini semua tidak mengurangi tekadnya untuk menegakkan kalimat Allah di bumi yang ia cintai itu.

Rintangan bukan hanya kondisi alam saja, tetapi juga respons dari penduduk setempat. “Terkadang ada juga yang melemparkan tombak bahkan panah. Ya, itu sudah biasa kami alami. Namun itu belum seberapa dibandingkan perjuangan Rasulullah. Beliau bahkan diusir dari negerinya (Makkah), karena ketidaksukaan penduduknya menerima dakwah Rasul. Namun beliau tetap sabar. Karena itu pula, kami pun harus sabar,” terangnya.

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah(2):153).

Tempat yang pertama kali dikunjungi adalah lembah Waliem, Wamena. Dengan konsep kebersihan sebagian dari iman, ustad Fadzlan mengajarkan mandi besar kepada salah satu kepala suku. Ternyata ajaran itu disambut positif oleh sang kepala suku. ”Baginya mandi dengan air, lalu pakai sabun, dan dibilas lagi dengan air sangat nyaman dan wangi,” jelasnya.

Sungguh ironis, Papua yang dikenal sebagai salah satu penghasil emas terbesar di Indonesia, sumber daya alam lainnya pun melimpah namun ternyata kekayaan itu tidak mampu mengangkat derajat hidup masyarakatnya. Sebagian besar masyarakat masih hidup dalam kemiskinan, bahkan sebagian penduduk asli masih tinggal di pedalaman dengan fasilitas yang masih amat sangat minim, dengan penutup tubuh ala kadarnya pula! Ini yang memicu Fadzlan ingin memajukan rakyatnya.

Bekerja sama dengan Baitul Maal Mu’amalat (BMM), ia mendirikan lembaga sosial dakwah dan pembinaan SDM kawasan Timur Indonesia yang diberi nama Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN). Yayasan ini kini telah memiliki kapal sendiri hingga tidak perlu lagi bergantung bantuan pihak lain untuk mengatasi masalah transportasi. Kapal laut dakwah untuk Muslim Papua itu dibeli dengan harga Rp 600 juta, hasil wakaf infak sodaqoh umat Islam. Kapal yang memiliki panjang 13,5 m dan lebar 3,3 meter ini mampu menampung 20 penumpang dan beban seberat 10 ton, juga dilengkapi standar keselamatan seperti rakit penyelamat, ringboy, karet pelampung serta alat komunikasi.

Melalui yayasan ini, ia dan rekan-rekannya mengajak masyarakat Papua mandiri. Yaitu dengan mencarikan kesempatan anak-anak muda setempat agar dapat mengenyam pendidikan di luar Papua, supaya sekembalinya nanti dapat ikut membangun masyarakat Papua yang maju dibawah sinar dan bimbingan Allah swt.

AFKN juga telah berhasil membina masyarakat untuk dapat memproduksi  berbagai produk lokal diantaranya buah merah, ikan asin, dan manisan pala.  Dan hasilnya, dibawah merk BMM AFKN, telah dikirim ke berbagai kota di luar pulau, bahkan sagu Papua sudah sampai ke daratan India!

Bekerja sama dengan Badan Wakaf Qur’an, AKFN  juga pernah mendatangkan ribuan Al-Qur’an sumbangan Muslim seluruh Indonesia untuk di tadaburi masyarakat di Papua yang merasa membutuhkannya.  Pernah juga menyelenggarakan khitanan massal agar rakyat terhindar dari penyakit, penyakit kelamin khususnya. AKFN juga telah berhasil membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di pedalaman Papua, yang rencananya akan ditempatkan di Kaimana.

(Bersambung ke :  http://vienmuhadi.com/2015/02/17/mengenal-uztad-fadzlan-dan-masuknya-islam-di-papua-2/ )

Black Hole dalam Al Quran.

Black Hole atau lubang hitam, kata-kata ini tentu saja tidak akan asing bagi Anda yang mengerti ilmu sains khususnya di bidang astronomi. Black hole atau lubang hitam adalah bagian dari Ruang Waktu yang merupakan gravitasi paling kuat, bahkan cahaya tidak bisa kabur. Teori Relativitas Umum memprediksi bahwa butuh massa besar untuk menciptakan sebuah Lubang Hitam yang berada di Ruang Waktu. Di sekitar Lubang Hitam ada permukaan yang di sebut Event Horizon.

Lubang ini disebut “hitam” karena menyerap apapun yang berada disekitarnya dan tidak dapat kembali lagi, bahkan cahaya. Seperti yang kita ketahui, Black Hole dibagi menjadi dua macam yaitu Stellar dan Supermassive Black Hole. Stellar Black Hole terjadi setelah bintang mati berada di galaxy tetapi tidak dipusatnya. Sedangkan Supermassive black Hole terbentuk jika berada dipusat galaxy.

Black Hole dalam Al Quran Surat At-Thariq

Bagaimana bintang bisa mati? Pada bintang terjadi reaksi fusi, yaitu bersatunya dua atom ringan menjadi atom yang lebih berat, 2 atom hidrogen saling bertabrakan sehingga terbentuk hellium yang membuat bintang menyala.

Selama bahan bakar masih ada reaksi fusi itu akan terus terjadi, namun jika bahan bakar habis maka suatu bintang akan mati. Bintang yang mati akan menjadi White Dwarf untuk bintang yang berukuran kecil, menjadi Nebula untuk bintang berukuran sedang (contohnya Matahari), menjadi Supernova jika ukurannya 8 kali Matahari, menjadi Balck Hole untuk bintang berukuran 25 kali Matahari.

Al Quran sedikit memberi gambaran mengenai Red Giant dalam QS. 55 ayat 37. Black Hole sendiri bisa dianalogikan suatu bola yang berdiameter beberapa cm saja, namun massanya sama dengan bumi, hal ini menyebabkan gravitasi Black Hole menjadi sangat tinggi.

Dengan demikiran semua benda yang ada disekitarnya akan tertarik bahkan cahaya pun akan tertarik sehingga warnanya menjadi hitam. Black Hole menarik, menekan, dan membersihkan setiap sesuatu yang ditemuinya dalam perjalanannya. Peristiwa ini sedikit digambarkan dalam Surat At-Takwir ayat 15-16.

Selain itu dalam Surat At-Thariq juga digambarkan mengenai bintang yang cahayanya menembus.

  1. Wassamaai Wa At-Thaariq
  2. Wamaa Adraakama tthaariq? (Tahukah Kamu Apa itu At-Tharriq itu?)
  3. “Annajmu Atssaaqib”

Dari ketiga ayat tersebut ada dua kata yang perlu ditekankan yaitu Kata At-Tharriq dan Attsaqib. At-Thaariq berasal dari Tha-ra-qa, berarti memukul dengan palu. Bagaimana suatu benda yang dipukul dengan palu? tentu akan menimbulkan getaran yang cukup keras.

Bagaimana kalau ukuran benda itu begitu besar? tentu getarannya juga dasyat. Dari akar kata tersebut bercabang menjadi beberapa kata yang artinya bisa jalan atau cara atau metode (At-Tariiqah), kekuatan (At-Thirqu), dan yang datang pada malam hari atau bintang dini hari (At-Thaariq).

At-Tsaqib dalam kamus Al-Munawir berasal dari kata Tsa-qa-ba. Tsaqaba berarti menembus, melubangi. Jadi At-Tsaqib bisa diartikan yang tembus atau berlubang. Maka tidak salah jika dalam terjemahnya DEPAG menartikannya “Bintang yang cahayanya menembus”.

Inilah kebenaran bahwa sebaik-baik bacaan adalah Al-Quran. Begitu pentingnya membaca Al-Quran, bahkan tanpa tahu maknanya dan masih terbata-bata membacanya masih mendapatkan pahala.

Apalagi yang dapat memaknai kandungan Al Quran, tentu akan mendapatkan manfaat yang banyak dalam kehidupannya. Akhirnya hanya orang-orang yang mau menggunakan hati dan akalnya yang akan dapat menerima kebenaran.

Wallahu’alam bishshawwab.

Jakarta, 11 Februari 2015.

Vien AM.

Dikutip dari : http://www.makintau.com/2014/12/black-hole-dalam-al-quran-surat-at.html

Paris 7 januari 2015, terjadi penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo  di Paris 15. Dikabarkan 12 orang tewas dalam aksi rentetan serangan brutal di tengah hari bolong itu. Yang membuat orang lebih tersentak lagi, penyerangnya adalah 2 orang kakak beradik beragama Islam. Kabarnya keduanya mengklaim sebagai wakil dari Alqaeda Yaman.

Tragedi berdarah ini langsung mengingatkan saya pada peristiwa 14 tahun silam ketika kami berada di Paris, yaitu serangan 9/11. Ada kesamaan dalam peristiwa tersebut, yaitu Islamlah yang dituduh biang keroknya. Paling tidak itulah yang dipublikasikan begitu tragedi terjadi, padahal pelakunya saja belum tertangkap.

Maka tak ayal, masjidpun sontak dijadikan sasaran balas dendam. Juga kaum Muslimah yang mudah dikenali karena jilbabnya. Sebaliknya, sinagog dan sekolah-sekolah Yahudi yang ada di seluruh penjuru Perancis langsung mendapat perlindungan ketat ! Apa hubungannya???  Yang lebih mengerikan lagi adalah pernyataan George W Bush, presiden AS ketika itu, yaitu : “Either you are with us or you are with the terrorists!”. Ini adalah sebuah pernyataan yang sangat berbahaya, seolah di dunia ini hanya 2 kubu, pendukung Bush sebagai orang baik, di lain pihak, yang tidak pro Bush, adalah teroris. Dan itu adalah Islam, sang teroris. Sejak itu, Islamphobia, ketakutan terhadap Islampun berkembang cepat di Barat.

Namun anehnya, justru sejak itu pula peminat Islam di Barat malah meningkat pesat. Ini benar-benar di luar dugaan siapapun.  Ternyata rasa  penasaran terhadap ajaran Islam, sebuah agama di luar sana, yang sebelumnya tidak pernah mereka dengar, membuat mata mereka terbuka lebar. Harap maklum, rata-rata sekolah di Barat tidak mengajarkan dan memperkenalkan Islam sebagai salah satu agama besar di dunia. Tak heran bila tak lama kemudian merekapun bersyahadat.  Allahuakbar …

Saat ini, saat terjadinya tragedi berdarah minggu lalu, Muslim di Perancis tercatat telah mencapai 5 juta orang atau sekitar 8 % total penduduk negri ini. Sebagian besar adalah warga Perancis keturunan Maroko, Aljazair dan Tunisia yang merupakan Negara bekas jajahan Perancis. Ini tentu saja tidak terlepas dari kerja keras dan susah payah pada dai dan ulama setempat untuk memperkenalkan Islam, untuk membuang kesan dan bayangan Barat terhadap Islamophia, sekaligus memberi pencerahan bagi yang bersungguh-sungguh dan penasaran mengenal Islam.

Maka tak heran bila merekalah pihak yang paling kecewa terhadap tindakan brutal kakak beradik Kouachi. Itu pula sebabnya Tariq Ramadhan, tokoh Muslim Perancis/Swiss, cucu tokoh kenamaan Mesir Hasan Al-Banna, menyatakan bahwa tindakan keduanya adalah bentuk pengkhianatan mereka terhadap Islam.

Pertanyaannya, ada apa dengan  Charlie Hebdo ( Hebdo adalah singkatan dari hebdomadaire yang artinya mingguan), mengapa tabloid mingguan ini yang menjadi sasaran kebiadaban Kouachi bersaudara.

Bagi sebagian Muslim sepak terjang  tabloid ini mungkin tidak asing. Tabloid yang mengkhususkan diri sebagai tabloid satir ini sering menerbitkan kartun Rasulullah dengan berbagai gaya. Tapi yang paling sering adalah  yang merendahkan dan melecehkan. Tentu saja ini amat sangat menyakitkan hati kaum Muslimin. Jangankan kartun  yang buruk bahkan yang baik saja pasti beresiko mendatangkan penentangan. Karena Islam memang melarang penggambaran nabi.

Alasan utama pelarangan tersebut  adalah kekhawatiran timbulnya penyembahan/penuhanan seperti yang terjadi pada nabi Isa as. Patut diingat, patung-patung nabi Isa as dan ibunda Maryam binti Imran yang banyak ditemui di gereja di seluruh pelosok dunia diawali  dengan adanya penggambaran beliau.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, sebagian isteri beliau menyebut-nyebut sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah yang disebut dengan Maria. Ummu Salamah dan Ummu Habibah radhiyallahu‘anhuma pernah mendatangi negeri Habasyah, mereka menyebutkan tentang kebagusannya dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka beliau pun mengangkat kepalanya, lalu bersabda: “Itulah orang-orang yang bila ada orang sholih di antara mereka yang mati, mereka membangun masjid ( rumah ibadah) di atas kuburannya kemudian membuat gambar-gambarnya. Itulah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” [HR. Ahmad dan Al-Bukhari]

Berikut alasan mengapa Islam melarang penggambaran sosok Rasulullah.

( https://m.facebook.com/notes/cah-bagus-menjawab-fitnah-misionaris/kenapa-islam-melarang-menggambar-sosok-nabi-muhammad-saw/361202847315747/ ).

Sementara ganjaran bagi orang yang menghina Rasulllah juga jelas yaitu hukuman mati. Ini tercermin dari kisah seorang buta yang hidup di zaman Rasulullah. Orang buta ini mempunyai budak perempuan yang setiap hari selalu mengolok-olok nabi. Si orang buta berkali-kali memperingatkan agar ia menjaga mulutnya tapi ia tidak mau mendengarkannya. Hingga akhirnya habislah kesabaran si orang buta, lalu menyuruh putranya agar membunuhnya. Dan ketika akhirnya kasus ini dilaporkan kepada Rasulullah, beliau hanya berujar ““Saksikanlah bahwa darah wanita itu hadar / sia-sia” .

( Baca :http://www.arrahmah.com/kajian-islam/hukum-bunuh-atas-orang-yang-menghina-islam-allah-dan-rasul-nya.html#sthash.XuI4WBPw.dpuf ).

Hukuman berat ini bukannya tanpa dasar yang kuat. Karena sejatinya fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Seperti kita ketahui,  akibat fitnah bisa merusak anak keturunan. Apalagi fitnah terhadap Rasulullah yang merupakan pemimpin bahkan panutan umat Islam. Ini bisa merusak rasa hormat dan kecintaan tidak hanya kepada Rasulullah namun juga kepada ajaran yang dibawa beliau, yaitu Islam. Itu sebabnya Al-Quran secara jelas memerintahkan kita agar menghormati, mentaati dan mencintai beliau, lebih dari kepada kedua orang-tua bahkan diri kita sendiri.

“ Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(QS. At-Taubah(9):24).

Dari Anas bin Malik Rasulullah bersabda  “Seseorang tidak dapat dianggap beriman sampai rasa cintanya kepadaku melebihi rasa citanya kepada anaknya, kepada orang tuanya, dan kepada semua manusia”.(HR. Bukhari Muslim).

Namun hukum ini hanya berlaku dimana hukum Islam dijalankan, itupun aparat negara yang menjalankannya, bukan perorangan. Jadi apa yang terjadi di Paris beberapa waktu lalu sama sekali tidak dapat dibenarkan.  Apalagi bila hal tersebut malah membahayakan komunitas Islam di tempat tersebut, dengan kata lain lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.

Ironisnya inilah yang dimanfaatkan musuh-musuh Islam. Dengan dalih kebebasan berekspresi mereka mencemooh Rasulullah. Ini bukan kali pertama tabloid Barat memunculkan karikatur bernada melecehkan dan menghina nabi saw. Memang bukan hanya nabi Muhammad saw saja yang menjadi target pelecehan, nabi Isapun tak luput dari perbuatan konyol tersebut.

Bahkan tak sampai seminggu setelah tragedi berdarah di Paris, tabloid ini kembali nekad menerbitkan karikatur nabi sedang menangisi tragedi yang baru berlalu itu sebagai sampulnya.  Tak tanggung-tanggung mereka mencetak berkali lipat banyaknya, yaitu 5 juta eksemplar padahal biasanya hanya 60 ribu. itupun kabarnya masih juga kekurangan, karena rakyat Perancis menyerbu dan rela mengantri panjang untuk mendapatkannya.

Presiden Perancis,  Francois Hollande, dalam pidatonya menyatakan bahwa  tak ada satupun pihak yang dapat menekan kebijakan negaranya dalam kebebasan berekspresi. Sungguh ironis, Perancis yang katanya negara maju dan beradab, ternyata tidak mau menghormati dan menghargai perasaan kelompok lain. Pidato tersebut diucapkan pada acara long march yang diadakan pemerintah di Place de la Republique di Paris dan dihadiri oleh sekitar 40 wakil pemimpin Negara dunia. Long march ini diadakan beberapa hari setelah tragedi, untuk menunjukkan perang terhadap terorisme.

Lucunya  Benyamin  Netanyahu juga hadir di antara mereka. Tentu saja ini mengundang kecaman banyak orang termasuk presiden Turki , Recep Tayyip Erdogan. Sungguh tak tahu malu, Israel yang telah membantai ribuan rakyat Palestina, Gaza khususnya, berani-beraninya datang  menghadiri acara ini, begitu antara lain bunyi kecaman Erdogon lantang.

Parahnya lagi, paska tragedi tersebut lahir slogan baru “Je suis Charlie” ( “Saya Charlie”) sebagai penghormatan dan simpati mereka kepada para korban. Apakah mereka tidak sadar bahwa sebagian besar korban tersebut adalah para kartunis yang telah memprovokasi kemarahan umat Islam dan dengan begitu mereka telah menempatkan diri sebagai provokator juga ?? Meski pembantaian tersebut sama sekali menyalahi ajaran Islam dan patut dikutuk.

Bersyukur tidak semua orang Perancis bersikap seperti itu.  Charles Phillippe, seorang bangsawan Perancis dari Orleans  menyatakan, dari dulu ia tidak pernah merasa simpatik kepada Charlie Hebdo. Tabloid ini kasar, dengan berlindung dibawah slogan kebebasan berekspresi  mereka  mengadu domba pemeluk antar agama serta menjadikannya lelucon yang sama sekali tidak lucu. Menurutnya tabloid ini adalah gambaran masyarakat atheis Eropa haluan kiri yang tidak menghormati persaudaraan Perancis. Oleh karenanya saya nyatakan “ Je ne suis pas Charlie” ( Saya bukan Charlie). Saya ikut berduka kepada para korban tapi tidak untuk Charlie Hebdo, lanjutnya.

Kabar gembira juga datang dari seorang sineas Perancis bernama Isabelle Matic. Perempuan ini bersyahadat tak lama setelah tragedi berdarah tersebut terjadi. Yang menarik, di akun FB nya ia berpesan agar umat Islam tidak usah menanggapi ulah para kartunis tersebut. Karena sebenarnya yang mereka olok-olok itu bukan nabi kita tercinta Muhammad saw, tapi seseorang yang mereka ciptakan dan bayangkan sendiri. “Keheningan akan membungkam kekurang-ajaran mereka”, tulisnya.

Namun demikian ada hal penting lain yang sebaiknya kita renungkan, yaitu, pantaskah kita umat Islam yang harus menanggung kesalahan kedua Kouachi bersaudara, hanya karena mereka beragama Islam? Hingga masjid-masjid dan kaum Muslimah di seluruh Perancis harus was-was menerima pembalasan ??  Adakah terbukti bahwa mereka bersikap demikian karena tuntutan agama? Yang pasti kita akan pernah tahu jawabannya karena keduanya  telah tewas ditembak, dan dari kesaksian orang yang mengenal mereka, mereka bukan termasuk orang-orang  yang taat pada agama dan ajarannya, mereka bahkan dikenal sebagai peminum, pecandu narkotika  dan main perempuan ! Jadi jelas mereka tidak mewakili Islam.

Hal lain, ada beberapa kejanggalan pada tragedi ini, diantaranya ditemukannya kartu identitas pelaku di dalam mobil sewaan yang mereka gunakan untuk pembantaian. Ini ternyata tak luput dari perhatian Jean-Marie Le Pen, politikus Perancis yang dikenal amat sangat anti Islam. Dalam wawancaranya dengan majalah Rusia,  Komsomolskaïa Pravda, ia berkata bahwa peristiwa penembakan tersebut merupakan sebuah konspirasi tingkat tinggi. Bukan oleh pemerintah Perancis namun pemerintah merestuinya. Meski ketika dimintai konfirmasi oleh BFMTV, Marine Le Pen, putri Le Pen sekaligus presiden partai mereka, meminta agar tidak terlalui mempercayai koran Rusia tersebut.

Yang pasti, Helric Fredou, seorang deputi direktur jendral polisi yang diserahi tanggung jawab menanyai salah satu keluarga korban, telah bunuh diri dan batal menyerahkan laporan mengenai penyelidikannya tersebut.  Memang belum ada laporan resmi apakah perbuatan nekadnya itu berkaitan dengan kasus yang sedang ditanganinya.

Yang juga menarik, pada tahun 2009, Maurice Sinet, 86, seorang kartunis yang bekerja di Charlie Hebdo dipecat dari kantor tempatnya bekerja. Ia dipecat karena mengolok-olok putra Sarkozy presiden Perancis waktu itu, yang menikahi seorang putri konglomerat Yahudi. Ia membuat karikatur seolah-olah putra mantan presiden itu berpindah agama mengikuti istrinya karena uang. Selanjutnya Sinet diminta untuk minta maaf dengan tuduhan telah melakukan perbuatan Anti-Semit, yaitu perbuatan mengolok-olok Yahudi, namun ia menolak. Akhirnya iapun dipecat.  Pertanyaannya, dimana kebebasan berekspresi diletakkan ???

 ( Baca : http://www.suaranews.com/2015/01/tahukah-anda-kemunafikan-charlie-hebdo.html ).

Ini pula yang terjadi pada pelawak Perancis Dieudonne. Ia ditangkap tak lama setelah pembantaian di Charlie Hebdo karena dianggap  membela terorisme. Ia rupanya memasang pernyataan di media sosial yang mendukung para penyerang tersebut. Dieudonne dikenal karena sikapnya yang blak-blakan di masa lalu, terutama karena mempopulerkan sebuah gerakan lengan yang oleh sebagian orang dianggap anti-Semit karena menyerupai tanda salut Nazi. Sementara dari Denmark dikabarkan, seorang pemuda Muslim berusia 23 tahun ditangkap dan dipenjarakan gara-gara ucapan “Alhamdulillah” di media sosial berkenaan dengan peristiwa berdarah tersebut.

Sementara itu ketika umat Islam sedang was-was karena terpaksa menerima serangan balas dendam orang-orang tak dikenal,  polisi dan tentara Perancis dikerahkan secara besar-besaran untuk melindungi sekolah-sekolahYahudi di seluruh pelosok Perancis.  Ada apakah  ini sebenarnya ???

Apapun alasannya, umat Islam harus menyadari peperangan akhir zaman yang telah diprekdisi Rasulullah 14 abad silam pasti akan terjadi. Dan peperangan itu antara kaum Muslimin vs Yahudi dengan Zionisnya dibawah Dajjal si mata satu. Sungguh ironis bila ternyata ada sebagian kaum Muslimin yang tidak mempercayai ramalan ini. Sementara orang-orang Yahudi telah mempersiapkan diri secara matang. Bukti paling mudah adalah pepohonan yang mereka tanam secara besar-besaran di tanah Palestina yang mereka duduki secara ilgal. Mereka bahkan menjualnya dengan imbalan sertifikat. Pohon apakah gerangan??

Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi. ” (HR Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu’lu’ wa al-Marjan III/308).

( Baca :   http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/zionis-yahudi-berlomba-tanami-pohon-ghorqod-di-tanah-palestina.htm#.VL0UtdKUde4 ).

Pendudukan tanah Palestina oleh Zionis Israel juga bukannya tanpa alasan. Mereka meyakini disinilah nantinya perang akhir zaman ( Armagedon) itu bakal berlangsung.  Berdirinya kembali Kuil Yahudi ke 3 diatas pelataran Haram As-Syarif ( Masjidil Aqsho dan Masjid As-Saqroh) adalah bagian dari menyambut peperangan tersebut. Lihatlah saat ini bagaimana mereka begitu bersemangat membuat fondasi di bawah rumah milik umat Islam tersebut, mengusir dan membantai rakyat Palestina yang bersikeras tidak mau meninggalkan tanah air mereka. Dimana mereka meletakkan HAM, juga negara-negara Barat yang selalu mengklaim HAM adalah milik segala bangsa .

Mereka terus menjelek-jelekkan Islam dengan berbagai cara, dengan tujuan  agar keimanan kita runtuh, agar persatuan Islam goyah, agar jihad yang merupakan senjata terkuat umat Islam hilang. Isu kebebasan berekspresi yang kelihatannya hebat ternyata hanya milik Barat, tidak untuk umat Islam. Pelecehan nabi kita melalui karikatur memang sengaja untuk memancing emosi. Dan hasilnya, terpancing maupun tidak terpancing kita yang akan dirugikan. Ketika terpancing  maka kita disebut sebagai teroris. Namun bila tidak, lama kelamaan kecintaan kita kepada Rasulullah bisa-bisa tergerus. Ini yang mereka harapkan.

Dengan demikian mereka tidak perlu lagi bersusah payah berperang secara fisik. Ini yang dinamakan Perang Pemikiran atau Gazwl Fikiri). Sayangnya, serangan tidak hanya datang dari luar tetapi juga dari dalam. JIL ( Jaringan Islam Liberal) adalah contohnya. Sungguh ironis, di Barat orang-orang berbondong-bondong memeluk Islam setelah tahu apa itu Islam. Sebaliknya, di Indonesia, melalui JIL banyak orang-orang Islam yang merasa maju dan pintar malah murtad. Ini adalah akibat dari rasa kurang percaya diri sebagian Muslim yang sering diolok-olok Barat sebagai tidak toleran, tidak menghormati HAM, teroris dll. Inilah toleransi kebablasan yang dipaksakan.

Sungguh perang pemikiran melalui pena yang dilancarkan musuh-musuh Islam ternyata sangat efektif, kecuali bila kita tetap yakin dan senantiasa yakin Islam adalah agama terbaik, agama yang paling benar. Subhanallah  …

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Anbiya(21):107).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 Januari 2015.

Vien Muhadi.

Jatuh Cinta dengan Alquran, Profesor Matematika AS Jadi MualafDua Surat Al Fatihah Dan Al Baqara Sudah Cukup Membuatnya Menjadi Muslim (YouTube)

Lang sering membaca Alquran sendirian di ruang sebuah ruang salat yang dikelola mahasiswa muslim di kampus. Tanpa perlu lama-lama, ia akhirnya ditaklukkan Alquran.

Dream – Jeffrey Lang adalah profesor matematika Universitas Kansas, salah satu universitas terbesar di Amerika Serikat. Sejak duduk di bangku sekolah dia memang dikenal kritis termasuk soal agama yang diyakininya.

“Seperti kebanyakan anak-anak muda di tahun 60an dan awal70-an, saya mulai mempertanyakan semua nilai-nilai yang kita miliki pada saat itu. Politik, sosial dan keagamaan,’ kata Lang saat menceritakan awal perjalanannya sebagai seorang muslim.

Saat itu dibenaknya muncul berbagai pertanyaan seperti; jika ada Tuhan dan dia adalah penyayang dan penuh kasih, maka mengapa ada penderitaan di muka bumi ini? mengapa dia tidak membawa kita ke surga-Nya saja? mengapa dia menciptakan manusia hanya untuk menderita?

Semua jawaban yang didapat dari aspek agama yang diyakininya saat itu rupanya belum membuat Lang puas. Dia lantas memutuskan untuk menjadi ateis.

Saat menjadi dosen muda jurusan matematika di Universitas San Francisco, Lang akhirnya menemukan keyakinan di mana Tuhan ternyata benar-benar ada. Hidayah muncul di benak Lang saat bertemu beberapa muslim di kampusnya.

“Kami berbicara tentang agama. Aku menanyakan beberapa hal kepada mereka dan saya benar-benar terkejut bagaimana hati-hatinya mereka dalam menjawab pertanyaan saya,” kata Lang mengenang.

Saat itu, Lang bertemu Mahmoud Qandeel, seorang mahasiswa kaya raya asal Arab Saudi. Ketika Lang mengajukan pertanyaan tentang penelitian medis, Qandeel menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris dengan sempurna dan penuh keyakinan.  Semua orang di kelas tersebut tahu Qandeel adalah walikota, kepala polisi dan warga umum di negara asalnya.

Dosen dan mahasiswa itu akhirnya sering pergi berdiskusi masalah agama. Suatu hari, Qandeel memberi Lang salinan Alquran dan beberapa buku tentang Islam.

Lang sering membaca Alquran sendirian di ruang sebuah ruang salat yang dikelola mahasiswa muslim di kampus. Tanpa perlu lama-lama, Lang akhirnya ditaklukkan Alquran. Dua surat pertama Al Fatihah dan Al Baqara sudah cukup membuatnya menjadi muslim.

“Seorang pelukis bisa membuat mata lukisan terlihat mengikuti Anda dari satu tempat ke tempat lain, tetapi adakah penulis yang dapat menulis kitab yang bisa mengantisipasi perubahan-perubahan sehari-hari?,” puji Lang terhadap Allah dan Alquran.

Bagi Lang, Alquran bisa menjawab semua pertanyaan dan keberatan yang diajukannya, tapi di hari berikutnya saat dia membaca Alquran, dia selalu bisa mendapatkan jawabannya. Menurut Lang, Alquran sudah mengantisipasi segala pertanyaan dan pikiran yang akan diungkapkannya.

Setelah menjadi muslim, Lang menjalankan solat lima waktu secara teratur dan menemukan banyak kepuasan spiritual. Bagi Lang, salat subuh merupakan salah satu ritual paling indah dan menyentuh dalam Islam.

Kata dia, lantunan ayat Alquran sangat menyejukkan. Padahal bahasa Arab sangat asing baginya. Saat ditanya mengapa dia menyukainya, Lang menjawab itu sama saja dengan mengapa bayi terhibur oleh suara ibunya.

Dia mengatakan membaca Alquran memberinya banyak kenyamanan dan kekuatan dalam masa-masa sulit.

Di sisi lain, Lang adalah profesor di bidang matematika. Dia menerima gelar master dan doktor dari Purdue University. Lang mengatakan bahwa ia selalu terpesona oleh matematika.

“Matematika adalah ilmu logis. Matematika menggunakan fakta dan angka untuk menemukan jawaban konkret,” ujarnya. “Seperti itulah cara berpikir saya dan saya akan frustasi jika berurusan dengan hal-hal yang tidak memiliki jawaban konkret.”

Memiliki pikiran yang hanya menerima ide-ide berdasarkan fakta membuat orang sulit percaya agama karena sebagian besar agama butuh penerimaan melalui iman. Sedangkan Islam, bagi Lang, menarik secara iman dan penalaran.

Lang menikahi seorang wanita Muslim asal Saudi, Raika. Dia telah menulis beberapa buku Islam dan menjadi best seller di kalangan Muslim AS. Salah satu bukunya yang terkenal adalah “Even Angels ask; A Journey to Islam in America”. Dalam buku ini, Lang banyak berbagi tentang wawasan yang membuka dirinya terhadap Islam.

(Ism, Sumber: Onislam.net)

( Dikutip dari : http://www.dream.co.id/your-story/jatuh-cinta-dengan-alquran-profesor-matematika-as-jadi-mualaf-140610z.html

Tantangan Islam Masa Kini

Kementrian agama hari-hari ini dikabarkan sedang sibuk menyusun draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Umat Beragama (PUB). Menurut   Lukman Hakin Saifuddin, sang mentri agama rezim Jokowi ini, RUU PUB dibuat agar bisa memberikan jaminan perlindungan kepada seluruh warga Negara Indonesia, baik mayoritas maupun minoritas. Hal ini sesuai dengan pasal 29 ayat 2 yang isinya menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut ajaran agama masing-masing. Ini diutarakan Lukman saat mengunjungi kantor Republika di Jakarta pada Senin 22/12/2014 lalu. Lukman menyatakan hal ini diperlukan karena pasal tersebut tidak berjalan dengan baik, buktinya yaitu adanya pengaduan  dari kaum minoritas yang merasa terpinggirkan.

Dalam wawancara tersebut setidaknya disimpulkan ada 5 poin yang akan dibidik depag. Kita tentu semua tahu bahwa selama Indonesia  secara resmi “hanya” mengakui 6 agama, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Inilah poin pertama bidikan tersebut. Yang kedua, isu pendirian rumah ibadah, berikutnya isu penyiaran agama atau dakwah, isu kekerasan pada minoritas dan terakhir demi meningkatkan sikap toleransi antar pemeluk agama.

Pertanyaannya, agama apa lagi kira-kira yang ingin dilegalkan depag? Mengapa tiba-tiba depag merasa  6 agama saja yang ada tidak cukup, bahkan ingin juga melegalkan aliran kepercayaan sebagai agama ?  Bukankah dengan yang 6 saja tidak jarang terjadi gesekan, meski itupun sebenarnya hanya belakangan ini saja terasa dibesar-besarkan ?  Bukankah dunia internasionalpun mengakui bahwa Indonesia adalah Negara yang dikenal menjunjung tinggi toleransi dan bisa dikatakan tidak ada masalah agama sebagaimana Negara-negara lain di dunia ini. Minoritas diakui dan diberi kebebasan menjalankan ibadahnya dengan baik.

Bandingkan dengan Perancis, Negara Barat maju yang konon begitu mendewakan toleransi, demokrasi dan menjunjung tinggi HAM.  Di negri sekuler  ini, kaum Muslimin yang hanya minoritas, jangankan merayakan Iedul Fitri dan Iedul Adha, di kalender resmipun tidak pernah tercantum adanya 2 hari terbesar umat Islam ini.  Padahal Islam di negri ini menduduki peringkat 2 setelah Kristen, dan jumlahnyapun tak kurang dari 10 persen.  Bahkan kabarnya makin diminati warganya yang kebanyakan Atheis ini. Tidak hanya itu, jilbabpun dilarang digunakan murid di sekolah. Sama halnya dengan azan dan menara masjid.  Itu sebabnya kaum Muslimin di seantero negri ini terpaksa shalat Jumat di jalanan karena jumlah masjid amat sangat tidak memenuhi kebutuhan umat.

MUI beberapa waktu lalu mengeluh, Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia memang terasa terus digoyang  di era Jokowi saat ini. Berbagai isu yang erat kaitannya dengan ke-Islam-an terus dipermasalahkan.   Slogan-slogan memojokkan Islam seperti “ Lebih baik kafir jadi pemimpin daripada Islam tapi korupsi”, “Lebih baik bertato, merokok bahkan hanya lulusan SMP daripada berjilbab tapi korupsi” dan yang semacamnya terus di–dengung-dengungkan.   Seolah-olah semua orang Islam itu koruptor, semua Muslimah berjilbab itu munafik !

Kejahatan besar seolah tidak ada lain kecuali perbuatan korupsi yang memang saat ini tengah melanda hampir semua pejabat negri, Muslim maupun Non Muslim. Tapi karena Indonesia memang mayoritas Muslim tentu saja yang terlihat mencolok ya yang Muslim saja. Sementara perzinahan dan prilaku menyimpang seperti Homoseksual yang dalam kacamata Islam jauh besar dosanya malah didiamkan saja. Tampak jelas bahwa hukum Islam telah diabaikan. Citra buruk seperti Islamophobia yang di Barat bagai momok tampak ingin dikembangkan juga di negri ini.

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Furqon(25):68-70).

Imam besar Masjid Istiqlal, Mustafa Ali Yakub, bahkan berani mengatakan bahwa fenomena ini menunjukkan  bahwa  Protocol Zionisme sedang berjalan lancar.  Ini adalah tanggapan atas isu mendagri tentang doa pembuka dan penutup di sekolah negri beberapa waktu lalu.

Aneh bila mau direvisi, seperti ada skenario untuk berupaya melakukan penghapusan agama seperti dalam protokol Zionisme nomor 14,” ujar Mustafa kepada ROL, Rabu (10/12).

( lihat : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/12/10/ngcy00-imam-istiqlal-revisi-doa-di-sekolah-bagian-dari-protokol-zionisme ).

Lebih jauh,  dalam salah satu tausiyah yang saya hadiri, uztad Syamsul Arifin Nababan, seorang mantan pendeta, mengatakan bahwa fenomena ini menunjukkan tentang peta Kristenisasi  di Indonesia. “ Tahun 2000 atau abad milenium pernah menjadi target  bahwa 50 persen penduduk Indonesia adalah Kristen”.

( Baca : http://vienmuhadi.com/2015/01/04/kisah-ke-islam-an-pendeta-bernard-nababan/ ).

Memang target tersebut tidak terpenuhi namun perlu dicermati bahwa fenomena itu ada. Muslim di negri ini makin hari makin berkurang. Yang tadinya 98 % sekarang ini telah surut menjadi 82 %. Bila Kristenisasi yang terus terjadi ini didiamkan saja tidak mustahil Indonesia akan mengalami nasib seperti Filipina saat ini, yaitu Muslim sebagai minoritas. Yang sulit menjalankan ibadahnya. Maukah kita ???

(Baca:http://www.suaranews.com/2015/01/astaghfirllah-riset-dalam-data-ini.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook )

Maka dengan adanya rencana RUU diatas sangat mungkin sekali Islam di Indonesia akan semakin tergerus.  Meski sebenarnya banyak atau tidaknya umat Islam tidak menunjukkan kwalitas ke-Islam-an seseorang, persis seperti perkiraan Rasulullah 15 abad lalu sebagaimana diriwayatkan  Thauban ra.

Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”

Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat? “

Sabda baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih banyak tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.”

Sahabat bertanya lagi, “Mengapa sebanyak itu tetapi seperti buih di laut?”

Jawab Rasulullah SAW, “Karena ada dua penyakit, yaitu mereka ditimpa penyakit Al-Wahn.”

Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu Al-Wahn?

Rasulullah SAW bersabda: “Cintakan dunia dan takut akan kematian.”

Ya sebagian besar umat Islam di Indonesia  saat ini memang cenderung kepada ke-dunia-wian dibanding ke-akherat-annya.  Target maju dibidang ekonomi, kaya-raya, pintar dan yang semacamnya telah mengalahkan pentingnya ridho Allah swt. Mereka ini sudah tidak takut akan ayat-ayat Allah bahkan cenderung mempermainkannya. Demi alasan toleransi dan menyenangkan sesama manusia, saudara atau kerabat mereka bisa mengatakan bahwa semua agama adalah sama dan benar. Tampak jelas bahwa mereka ini tidak terlalu yakin bahwa Islam adalah agama yang benar dan paling benar.

Maka dengan adanya RUU PUB diatas umat Islam yang kurang PD akan ke-Islam-an, yang jarang menimba dan memperdalam wawasan ilmu ke-Islam-annya, apalagi yang cuwek alias tidak peduli akan agamanya, tampaknya bakal menjadi korban yang paling awal. Mereka inilah yang akan paling mudah terombang-ambing.

Untuk mencegah semua itu mari kita bergandengan-tangan,  ajak keluarga kita untuk memperbaiki kwalitas ke-Islam-an kita. Sudah bukan lagi waktunya ber-Islam hanya karena keturunan, dari lahir, dan memang sudah dari “sono”nya. Tanpa ilmu dan bekal kuat seorang yang mengaku Islam akan mudah kehilangan kendali dan akhirnya tersesat.

… … Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. … ,” (QS. Al-Maidah(5):48).

Berlomba dalam “kebaikan”, dakwah diantaranya, sebenarnya merupakan kordrat manusia. Allah swt menyuruh hamba-hambaNya  untuk itu.  Umat Kristen memiliki landasan Matius 28:19 dan Markus 16:15 untuk mendakwahkan ajaran mereka. Maka tak perlu heran bila melihat ada umat Kristen berdakwah, karena itu berarti mereka adalah hamba yang patuh pada perintah Tuhannya. Meski cara yang digunakan seringkali kasar dan tidak etis, antara lain yaitu  dengan membagikan kebutuhan bahan pokok kepada kelompok miskin, sebagai iming-iming, contohnya.

Mereka juga tak ragu mendirikan sekolah-sekolah teologi yang khusus mempelajari Al-Quran dan hadist namun dengan tujuan menyelewengkannya. Juga adanya berbagai jenis yayasan Kristenisasi dengan target spesialisasi masing-masing seperti kaum gelandangan, pengamen, orang sakit dll. Contohnya adalah  yayasan Doulus di Cilangkap yang pernah digrebeg beberapa tahun lalu.     Ini benar-benar terbalik dengan ajaran Islam yang melarang umat Islam memaksa seseorang untuk masuk Islam. Bahkan dakwahpun ada tata kramanya, tidak boleh memaki sesembahan mereka.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ».(QS. Al-Baqarah(2):256).

« Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan …. « .(QS. Al-Anám(6) :108).

Sebaliknya, kitalah yang harus kritis, betulkan ajakan dan ajaran mereka itu benar ??? Mana yang benar Al-Quran, Injil atau Taurat?

Sungguh beruntung kita, umat Islam memiliki kitab suci yang terjaga kesucian dan kemurniannya hingga sepanjang masa. Tidak ada sedikitpun campur tangan manusia dalam hal ini. Tidak seperti kitab suci umat Kristiani,  yaitu Injil yang secara berkala mengalami perbaikan meski pun itu dilakukan oleh orang-orang yang mereka anggap suci.

Sebagian umat Kristiani beranggapan bahwa Al-Quran adalah kitab buatan manusia ( Muhammad saw) yang isinya mencomot sebagian isi kitab Yahudi dan kitab mereka. Alasannya karena banyak kisah-kisah di Al-Quran yang sama dengan kisah yang tertulis di kitab Taurat dan Injil.

Padahal bila mereka tidak membacanya separoh-separoh,  justru inilah yang bisa menjadi sebagian bukti  bahwa Al-Quran datang dari zat yang sama, yaitu Tuhan seluruh manusia dan alam semesta.  Bahwa Zabur,Taurat, Injil dan Al-Quran datang dari Tuhan yang sama.  Bahwa sesungguhnya seluruh nabi dan utusan, mulai nabi Adam, nabi Idris, nabi Musa, nabi Isa ( Yesus) hingga nabi Muhammad saw, mendapat perintah yang sama, yaitu, menyembah Allah swt, Tuhan Yang Esa, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. ( QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”.  ( di banyak surat Asyu’ara dll).

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara”. (QS. An-Nisa(4):171).

Namun demikian dakwah umat Kristiani jauh lebih gigih daripada umat Islam. Betapa banyak bukti ketika mereka mendapat kesempatan menjadi pemimpin, gereja-gereja tumbuh pesat. Sebaliknya umat Islam ….???

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqarah(2):120).

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”.(QS. AlimImran(3):119).

Umat Islam juga banyak yang tidak mempedulikan hadist dan sunnah Rasul padahal ini adalah kekayaan Islam yang amat sangat penting. Bagaimana mungkin kita dapat menguasai ayat-ayat suci Al-Quran tanpa mempelajari kedua hal diatas, tanpa mengenal sejarah kehidupan nabi ( Sirah Nabi) dan Asbabun Nuzul ayat-ayatnya. Tidak sedikit pula umat Islam yang terlalu mendewakan akal mereka hingga lupa diri dan menjadi sesat. Lupa apa hebatnya akal manusia dibanding kehebatan, kedasyatan dan kebesaran Sang Pencipta akal itu sendiri.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Januari 2015.

Vien AM.

Menjadi seorang pendeta adalah harapan kedua orang tuanya. Bermula dari rencana melakukan misi diperkampungan Muslim, berlanjut pada memenuhi tawaran dialog dengan para tokoh masyarakat muslim, namun akhirnya kehendak Allah SWT mengantarkan Bernard Nababan pada Hidayah Islam. Bahkan, ia akhirnya menjadi juru dakwah dalam agama Islam.

Saya lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 10 November 1966. Saya anak ke-3 dari tujuh bersaudara. Kedua orang tua memberi saya nama Bernard Nababan. Ayah saya adalah seorang pendeta Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Sumatra Utara. Sedangkan, ibu seorang pemandu lagu-lagu rohani di gereja. Sejak kecil kami mendapat bimbingan dan ajaran-ajaran kristiani. Orang tua saya sangat berharap salah seorang dari kami harus menjadi seorang pendeta. Sayalah salah satu dari harapan mereka.

Kemudian, saya disekolahkan di lingkungan yang khusus mendidik para calon pendeta, seperti Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Kristen. Lalu berlanjut pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Nomensen, yaitu sekolah untuk calon pendeta di Medan. Di kampus STT ini saya mendapat pendidikan penuh. Saya wajib mengikuti kegiatan seminari. Kemudian, saya diangkat menjadi Evangelist atau penginjil selama tiga tahun enam bulan pada Gereja HKBP Sebagai calon pendeta dan penginjil pada Sekolah Tinggi Teologi, saya bersama beberapa teman wajib mengadakan kegiatan di luar sekolah, seperti KKN (Kulah Kerja Nyata).

Tahun 1989 saya diutus bersama beberapa teman untuk berkunjung ke suatu wilayah. Tujuan kegiatan ini, selain untuk memberi bantuan sosial kepada masyarakat, khususnya masyarakat muslim, juga untuk menyebarkan ajaran Injil. Dua prioritas inilah yang menjadi tujuan kami berkunjung ke perkampungan muslim. Memang, sebagai penginjil kami diwajiban untuk itu. Sebab, agama kami (Kristen) sangat menaruh perhatian dan mengajarkan rasa kasih terhadap sesamanya.

Berdialog

Dalam kegiatan ini saya sangat optimis. Namun, sebelum misi berjalan, saya bersama teman-teman harus berhadapan dulu dengan para pemuka kampung. Mereka menanyakan maksud kedatangan kami. Kami menjawab dengan terus terang. Keterusterangan kami ini oleh mereka (tokoh masyarakat) dijawab dengan ajakan berdialog. Kami diajak ke rumah tokoh masyarakat itu. Di sana kami mulai berdialog seputar kegiatan tersebut. Tokoh masyarakat itu mengakui, tujuan kegiatan kami tersebut sangat baik. Namun, ia mengingatkan agar jangan dimanfaatkan untuk menyebarkan agama. Mereka pada prinsipnya siap dibantu, tapi tidak untuk pindah agama.

Agama Kristen, masih menurut tokoh masyarakat itu, hanya diutus untuk Bani Israel (orang Israel) bukan untuk warga di sini, Kami hanya diam. Akhirnya, tokoh masyarakat itu mulai membuka beberapa kitab suci agama yang kami miliki, dari berbagai versi. Satu per satu kelemahan Alkitab ia uraikan. la juga membahas buku Dialog Islam-Kristen antara K.H. Baharudin Mudhari di Madura dengan seorang pendeta.

Dialog antara kami dan tokoh masyarakat tersebut kemudian terhenti setelah terdengar azan magrib. Kemudian, kami kembali ke asrama sebelum kegiatan itu berlangsung sukses. Dialog dengan tokoh masyarakat tersebut terus membekas dalam pikiran saya. Lalu, saya pun membaca buku Dialog Islam Kristen tersebut sampai 12 kali ulang. Lama-kelamaan buku itu menpengaruhi pikiran saya. Saya mulai jarang praktek mengajar selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya, saya ditegur oleh pendeta. Pendeta itu rupanya tahu saya berdialog dengan seseorang yang mengerti Alkitab. “Masa’ kamu kalah sama orang yang hanya tahu kelemahan Alkitab. Padahal kamu telah belajar selama 3,5 tahun. Dan kamu juga pernah mengikuti kuliah seminari,” katanya dengan nada menantang dan sinis.

Kabur dari Asrama

Sejak peristiwa itu, saya jadi lebih banyak merenungkan kelemahan-kelemahan Alkitab. Benar juga apa yang dikatakan tokoh masyarakat itu tentang kelemahan kitab suci umat Kristen ini. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti menjadi calon pendeta. Saya harus meninggalkan asrama. Dan pada tengah malam, dengan tekad yang bulat saya lari meninggalkan asrama. Saya tak tahu harus ke mana. Jika pulang ke rumah, pasti saya disuruh balik ke asrama, dan tentu akan diinterogasi panjang lebar.

Kemudian saya pergi naik kendaraan, entah ke mana. Dalam pelarian itu saya berkenalan dengan seorang muslim yang berasal dari Pulau Jawa. Saya terangkan kepergian saya dan posisi saya yang dalam bahaya. Oleh orang itu, saya dibawa ke kota Jember, Jawa Timur. Di sana saya tinggal selama satu tahun. Saya dianggap seperti saudaranya sendiri. Saya bekerja membantu mereka. Kerja apa saja. Dalam pelarian itu, saya sudah tidak lagi menjalankan ajaran agama yang saya anut. Rasanya, saya kehilangan pegangan hidup.

Selama tinggal di rumah orang muslim tersebut, saya merasa tenteram. Saya sangat kagum padanya. Ia tidak pemah mengajak, apalagi membujuk saya untuk memeluk agamanya. la sangat menghargai kebebasan beragama. Dari sinilah saya mulai tertarik pada ajaran Islam. Saya mulai bertanya tentang Islam kepadanya. Olehnya saya diajak untuk bertanya lebih jauh kepada para ulama. Saya diajak ke rumah seorang pimpinan Pondok Pesantren Rhoudhotul ‘Ulum, yaitu K.H. Khotib Umar.

Kepada beliau saya utarakan keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang ajaran Islam. Dan, saya jelaskan perihal agama dan kegiatan saya. Tak lupa pula saya jelaskan tentang keraguan saya pada isi Alkitab yang selama ini saya imam sebagai kitab suci, karena terdapat kontradiksi pada ayat-ayatnya. Setelah saya jelaskan kelemahan Alkitab secara panjang lebar, K.H. Khotib Umar tampak sangat terharu. Secara spontan beliau merangkul saya sambil berkata, “Anda adalah orang yang beruntung, karena Allah telah memberi pengetahuan pada Anda, sehingga Anda tahu bahwa Alkitab itu banyak kelemahannya.”

Setelah itu beliau mengatakan, jika ingin mempelajari agama Islam secara utuh, itu memakan waktu lama. Sebab, ajaran Islam itu sangat luas cakupannya. Tapi yang terpenting, menurut beliau adalah dasar-dasar keimanan agama Islam, yang terangkum dalam rukun iman.

Masuk Islam

Dari uraian K.H. Khotib Umar tersebut saya melihat ada perbedaan yang sangat jauh antara agama Islam dan Kristen yang saya anut. Dalam agama Kristen, saya mengenal ada tiga Tuhan (dogma trinitas), yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Agama Kristen tidak mempercayai kerasulan Muhammad SAW, Bahkan, mereka menuduhnya tukang kawin. Mereka juga hanya percaya kepada tiga kitab suci, Taurat, Zabur, dan Injil.

Ajaran Kristen tidak mempercayai adanya siksa kubur, karena mereka berkeyakinan setiap orang Kristen pasti masuk surga. Yang terpenting bagi mereka adalah tentang penyaliban Yesus, yang pada hakekatnya Yesus disalib untuk menebus dosa manusia di dunia.

Penjelasan K.H. Khotib Umar ini sangat menyentuh hati saya. Penjelasan itu terus saya renungkan. Batin saya berkata, penjelasaan itu sangat cocok dengan hati nurani saya. Lalu, kembali saya bandingkan dengan agama Kristen. Ternyata agama Islam jauh lebih rasional (masuk di akal) daripada agama Kristen yang selama ini saya anut. Oleh karena itu saya berminat untuk memeluk agama Islam.

Keesokan harinya, saya pergi lagi ke rumah KH. Khotib Umar untuk menyatakan niat masuk Islam. Beliau terkejut dengan pernyataan saya yang sangat cepat. Beliau bertanya, “Apakah sudah dipikirkan masak-masak?” “Sudah,” suara saya meyakinkan dan menyatakan diribahwa hati saya sudab mantap.

Lalu beliau membimbing saya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelum ikrar saya ucapkan, beliau memberikan penjelasan dan nasehat. Di antaranya, “Sebenarnya saat ini Anda bukan masuk agama Islam, melainkan kembali kepada Islam. Karena dahulu pun Anda dilahirkan dalam keadaan Islam. Lingkunganmulah yang menyesatkan kamu. Jadi, pada hakikatnya Islam adalah fitrah bagi setiap individu manusia. Artinya, keislaman manusia itu adalah sunnatullah, ketentuan Allah. Dan, menjauhi Islam itu merupakan tindakan irrasional. Kembali kepada Islam berarti kembali kepada fitrahnya,” ujar beliau panjang lebar. Saya amat terharu. Tanpa terasa air mata meleleh dari kedua mata saya.

Sehari setelah berikrar, saya pun dikhitan. Nama saya diganti menjadi Syamsul Arifin Nababan. Saya kemudian mendalami ajaran Islam kepada K.H. Khotib Umar dan menjadi santrinya. Setelah belajar beberapa tahun di pondok pesantren, saya amat rindu pada keluarga. Saya diizinkan pulang. Bahkan, beliau membekali uang Rp 10.000 untuk pulang ke Sumatra Utara.

Dengan bekal itu saya akhirnya berhasil sampai ke rumah orang tua. Dalam perjalanan, banyak kisah yang menarik yang menunjukkan kekuasaan Allah. Sampai di rumah, ibu, kakak, dan semua adik saya tidak lagi mengenali saya, karena saya mengenakan baju gamis dan bersorban. Lalu, saya terangkan bahwa saya adalah Bernard Nababan yang dulu kabur dari rumah. Saya jelaskan pula agama yang kini saya anut. Ibu saya amat kaget dan shock. Kakak-kakak saya amat marah. Akhirnya saya diusir dari rumah.

Usiran merekalah yang membuat saya tegar. Saya kemudian pergi ke beberapa kota untuk berdakwah. Alhamdulillah, dakwah-dakwah saya mendapat sambutan dari saudaraudara kaum muslimin. Akhirnya saya terdampar di kota Jakarta. Aktivitas dakwah saya makin berkembang. Untuk mendalami ajaran-ajaran agama, saya pun aktif belajar di Ma’had al-Ulum al-Islamiyah wal abiyah atau UPIA Jakarta.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 4 Januari 2015.

Vien AM.

Diambil dari :

https://id-id.facebook.com/notes/berita-mengenai-islam/kisah-muallaf-bernard-nababan-mantan-pendeta-ragu-pada-isi-alkitab-/172217966129934

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 60 other followers