Feeds:
Posts
Comments

kisahmuallaf.com – Baris demi baris kalimat dalam kitab setebal 500-an halaman yang dibacanya hanya menyisakan satu kesan di benaknya; kagum. Dan kekaguman yang bercampur rasa ingin tahu menjadi satu alasan bagi pemuda bernama Brent Lee Graham untuk mencuri buku itu dari perpustakaan kampusnya.

Dengan desain sampul yang menurutnya eksotis, buku berbahasa Inggris itu lebih dari sekadar menarik bagi Brent. Selain menyajikan berbagai cerita indah para nabi, buku itu berisi banyak kisah mengagumkan yang tak banyak ia ketahui.

“Saat itu aku baru berusia 17 tahun,” Brent mengawali kisahnya pada Republika, di sebuah pusat perbelanjaan Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

***

Semua berawal dari perenungannya tentang kematian. Brent yang telah mengubah namanya menjadi Isa Graham itu masih mengingat jelas dua peristiwa yang membuka matanya tentang kematian, hal yang tak pernah menyibukkannya.

Masa mudanya yang akrab dengan musik membuat Brent dekat dengan pesta. Dan pesta pada malam itu berbeda. “Aku terus mengingatnya hingga sekarang,” ujar pria yang pernah belajar di sekolah musik itu.

Malam itu, sebelum memasuki rumah tempat pesta digelar, Brent melihat beberapa orang membawa keluar sesosok tubuh lunglai seorang pemuda mabuk. Pemuda itu lalu diletakkan di salah satu sisi halaman rumah, dan ditinggalkan bersama mereka yang lebih dulu tak sadarkan diri karena alkohol. Tak ada pertolongan, tak ada obat-obatan. “Aku berpikir, bagaimana jika mereka mati?” ujarnya.

Brent tak dapat membenarkan apa yang baru dilihatnya. Terlebih, ketika ia berharap ada sedikit kepedulian di sana, Brent justru mendapati sebaliknya. “Beberapa orang yang baru datang ke pesta berlalu begitu saja saat melewati mereka yang tergeletak di halaman. Itu menyedihkan,” katanya.

Terhenyak, Brent mendengar teriakan dari dalam rumah, memanggilnya. Teman-temannya meminta Brent masuk dan memainkan musik untuk mereka.” Brent masuk dengan sebuah pertanyaan menghantuinya. “Jika aku mengalami hal menyedihkan seperti orang-orang yang ada di halaman itu dan kemudian mati, apakah mereka akan memikirkan keadaanku?”

Keesokannya, sebuah peristiwa lain kembali menghentak hati Brent, memaksanya merenungi segala hal dalam hidupnya. “Seorang dosen mendatangi kelasku dan membawa berita kematian salah seorang teman sekelas kami,” kenangnya. Brent terguncang.

Ia semakin teguncang mengetahui teman sekelasnya itu meninggal karena heroin. Brent menjelaskan, semua orang di kampus tahu teman mereka yang baru meninggal itu tak pernah menggunakan heroin. “Dan ia meninggal pada percobaan pertamanya menggunakan obat terlarang itu,” Isa menghela nafas. “Hidup begitu singkat.”

Perasaan takut menyergap Brent. Dan remaja 17 tahun itu mulai memikirkan kehidupannya, juga kematian yang ia tahu akan menghampirinya.

Brent memiliki seorang Ibu yang menjadi pengajar Injil, dan menyekolahkan Brent di sebuah sekolah Injil. “Aku mengetahui isi kitab suciku. Dan karenanya, aku banyak bertanya tentang agamaku,” kata Brent.

Brent tahu, nabi-nabi yang diutus jauh sebelum Yesus lahir menyampaikan ajaran yang sama, yakni tauhid. “Pun Yesus. Dalam Injil dijelaskan bahwa ia menyerukan tauhid. Dan itu bertentangan dengan konsep Trinitas yang diajarkan gereja,” ujarnya.

Siang itu, saat membaca terjemahan Alquran di perpustakaan kampus, Brent dikejutkan oleh sebuah ayat yang mengatakan bahwa Yesus bukanlah anak Tuhan. “Ayat itu seolah menjawab keraguanku tentang Trinitas,” katanya.

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (An-Nisa’: 171)

Brent mencuri Alquran itu dari perpustakaan, dan mulai berinteraksi dengan Alquran. Keterkejutan terbesar muncul saat ia membaca ayat-ayat tentang Yesus. “Alquran memuat cerita tentang kelahirannya yang menakjubkan, tentang ibunya yang mulia, juga keajaiban yang tidak diceritakan dalam Injil, ketika dari buaian ia membela kehormatan ibunya.”

Penemuan hari itu membawa Brent pada sebuah misi pembuktian. “Aku bertekad menemukan pernyataan Injil yang akan mampu menjawab pernyataan Alquran. Dan Brent menemukannya. Sayang, jawaban itu sama sekali tak mendukung doktrin agamanya, dan justru membenarkan Alquran.

Dalam Injil Yohanes 3:16 misalnya, tulis Brent dalam artikel “My Passion for Jesus Christ” (muslimmatters.org), disebutkan tentang anak Tuhan dan kehidupan abadi bagi siapapun yang mempercayainya. “Jika kita terus membaca, kita akan bertemu Matius 5:9 atau Lukas 6:35 yang menjelaskan bahwa sebutan ‘anak Tuhan’ tidak hanya untuk Yesus,” katanya.

Brent menambahkan, baik dalam teks Perjanjian Baru dan juga Perjanjian Lama, Injil menggunakan istilah “anak Tuhan” untuk menyebut orang yang saleh. “Dalam Islam, kita menyebutnya muttaqun (orang-orang yang bertakwa),” jelas Isa.

Dalam pencarian yang semakin dalam, Brent menemukan bahwa ayat terbaik yang dapat membuktikan doktrin trinitas telah dihapuskan dari Injil. “Ayat itu dulu dikenal sebagai Yohanes 5:7, dan kini secara universal diyakini sebagai sebuah ayat sisipan yang penah secara sengaja ditambahkan oleh gereja,” terang Isa yang kemudian menguraikan hasil penelitian seorang profesor peneliti Injil asal Dallas, Daniel B. Wallace, tentang ayat tersebut.

Dari The New Encyclopedia Britannica yang dibacanya, Brent menemukan pula bahwa tidak satupun doktrin dalam Perjanjian Baru, termasuk kata Trinitas ataupun perkataan Yesus sekalipun, bertentangan dengan pengakuan Yahudi tentang ketauhidan yang disebutkan dalam Perjanjian Lama (Injil Ulangan 6:4).

Brent berkesimpulan, bukan Yesus ataupun para pengikutnya yang mengajarkan Trinitas. “Dan mereka yang mengajarkan Trinitas menambahkan keyakinan yang dibuat-buat ke dalam Injil?” ia bertanya, sekaligus menjawab pertanyaan yang muncul di otaknya.

Setelah mencapai kesimpulan yang sulit diterimanya itu, ia menemukan sebuah peringatan dalam Injil Perjanjian Lama. “… jika seseorang menambahkan (atau mengurangi) sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18-19)

“Ayat itu senada dengan pernyataan Alquran,” tandas Brent. “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)

Pertanyaan dalam otak Brent belum tuntas. Ia kembali bertanya-tanya, “Jika Injil dan Alquran sama-sama memastikan Yesus bukanlah seorang anak Tuhan, lalu siapa dia?”

Lagi-lagi, Brent menemukan banyak kesepakatan antara Injil dan Alquran. Melalui ayat masing-masing, kedua kitab yang diselaminya itu menegaskan kenabian Yesus. “Yesus diutus untuk menyeru umatnya pada keesaan Tuhan, sebagaimana dilakukan para nabi dan rasul sebelumnya.”

Persoalan agama itu menjadikan Brent semakin kritis, yang menggiringnya pada berbagai pertanyaan besar tentang agamanya. Ia mempelajari berbagai agama lain. “Aku mencari tahu tentang beberapa agama, aku mempelajari paganisme, dan aku tertarik pada Islam.”

Di mata Brent kala itu, Islam adalah agama yang sempurna. “Aspek ekonomi, pemerintahan, semua diatur dengan baik dalam Islam. Aku kagum pada cara Muslim memperlakukanku, dan aku sangat kagum pada bagaimana Islam meninggikan derajat perempuan.”

Brent pun menyatakan keinginannya untuk masuk Islam pada seorang teman Muslimnya. “Sayang, ia memberitahuku bahwa aku tak bisa menjadi Muslim, hanya karena aku dilahirkan sebagai Kristen. Karena tak mengerti, aku menerima informasi itu sebagai kebenaran,” sesalnya.

Bagi pemuda kebanyakan di Australia, bisa jadi kehidupan Brent nyaris sempurna. Ia mahir memainkan alat musik, menjadi personel kelompok band, dan popular. Ia bisa berpesta sesering apapun bersama teman-teman yang mengelukannya. “Namun aku tidak bahagia dengan semua itu. Aku tak tahu mengapa.”

Namun terlepas dari kondisi tidak membahagiakan itu, Brent sangat mencintai musik. Ia mempelajari musik, memainkannya, mengajarkannya, dan menjadi bahagia dengannya. Hingga ia berfikiran bahwa musik adalah agamanya, karena mampu membuatnya bahagia.

Tanpa agama yang menenangkan hatinya, Brent seolah terhenti di sebuah sudut dengan banyak persimpangan. Perhentian itu membangunkannya di sebuah malam. “Aku berkeringat dan menangis. Aku sangat ketakutan sambil terus bergumam ‘Aku bisa mati kapanpun’,” tuturnya.

Dengan keringat dan air mata itu, Brent memanjatkan doa. “Aku meminta pada semua Tuhan; Tuhan umat Kristen, Tuhan umat Islam, Tuhan siapapun, karena aku tak yakin harus meminta pada salah satu diantaranya.”

“Tuhan, aku teramat sedih dan gundah dan tak tahu bagaimana menyelesaikannya. Tolong, beri aku isyarat, beri aku petunjuk, beri aku jalan keluar,” Brent mengutip doa yang diucapkannya 15 tahun lalu.

Isyarat Allah menghampiri Brent keesokan harinya. Seorang Muslimah asal Burma yang menjadi teman kampusnya mengiriminya sebuah email. Ia tahu Brent telah tertarik pada Islam sejak belajar di sekolah menengah, dan dalam emailnya itu ia bertanya apakah Brent masih tertarik pada Islam. Brent mengiyakan.

Beberapa hari kemudian, teman asal Burma itu datang ke rumah Brent dan membawakannya sejumlah buku tentang Islam. Membacanya, Brent tahu bahwa Islam tak melarang non Muslim sepertinya untuk memeluk agama itu. “Dari buku itu aku tahu bahwa banyak dari sahabat Nabi saw, termasuk Abu Bakar, adalah mualaf. Aku sangat senang dan berteriak dalam hati, ‘Ini yang kumau’.”

Selesai dengan bacaannya, Brent mendatangi seorang teman Muslim dan memintanya menjelaskan tentang jannah (surga). Dari penjelasan tentang surga itu, bertambahlah kekaguman Brent, juga kemantapannya pada Islam. Masjid Al-Fatih Coburg, Melbourne, menjadi saksi keislaman Bent Lee Graham.

Ia lalu mengganti namanya menjadi Isa Graham. “Aku ingin orang (non Muslim) tahu bahwa dalam Islam, kami juga mempercayai Yesus,” ujarnya. Bagi Isa, mencintai seseorang tidak seharusnya diwujudkan dengan menuhankannya, melainkan mengatakan segala sesuatu tentangnya apa adanya. “Kini aku ingin menunjukkannya pada Yesus, bukan sebagai seorang Kristen, namun sebagai Muslim,” tegas Brent menutup perbincangan.

Subhanallah …

Jakarta, 26 May 2015.

Vien AM.

Dicopy dari :

http://www.kisahmuallaf.com/isa-graham-nekat-mencuri-al-quran-demi-membuktikan-kebenaran-injil/

Ahli Kitab adalah sebutan bagi orang yang telah menerima kitab suci sebelum turunnya kitab suci umat Islam Al-Quranul Karim. Mereka itu adalah orang-orang Yahudi dengan kitab Tauratnya dan Nasrani dengan Injilnya. Sama seperti Al-Quran, Taurat yang diturunkan kepada nabi Musa as dan Injil yang diturunkan kepada nabi Isa as atau Yesus,  kedua kitab itu diturunkan Allah swt, melalui malaikat Jibril as.

« Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil ». (QS. Ali Imran(3) :3).

Sayang pada perjalanan waktunya, kedua kitab suci tersebut telah terkontaminasi. Disana-sini telah terjadi perubahan bahkan penambahan hingga akhirnya banyak sekali ditemukan ayat-ayat yang kontradiksi. Tak jarang pula ditemukan kata-kata kasar dan umpatan yang dilontarkan tidak hanya antar sesama manusia tetapi juga Tuhan kepada nabi-Nya. Tuhan mengeluarkan kata-kata kasar, alangkah ironisnya kehidupan ini.

 « Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? “(QS. Ali Imran (3) :71).

Para nabi dan rasul yang merupakan utusan Allah tak luput dari penistaan. Sungguh tak masuk akal manusia pilihan Tuhan, yang diutus bagi manusia agar mengajarkan kebaikan, bisa berbuat kesalahan yang benar-benar keterlaluan. Tak dapat dibayangkan bagaimana jadinya manusia bila para nabinya saja berbuat kezaliman dan hal-hal yang sungguh tidak pantas. Padahal para nabi dan rasul adalah panutan, contoh keteladanan yang harusnya ditiru umat-Nya.

Berikut beberapa contoh ayat-ayat yang berada di dalam Al-Kitab, gabungan Perjanjian Lama ( Taurat)  dan Perjanjian Baru ( Injil) yang kini dijadikan panduan umat Kristiani.

1. Nabi Luth as, prilaku tak pantas kedua putrinya. (Kejadian 19 : 32-36).

 “(32).Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita (33). Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu masuklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. (34).Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: “tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita. (35).Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun.(36) Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka.”

2. Nabi Daud as, memperkosa istri panglimanya. (Samuel 11 : 2-5).

(2).Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya. (3).Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: “Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu”.(4).Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya.(5).Lalu mengandunglah perempuan itu dan disuruhnya orang memberitahukan kepada Daud, demikian: “Aku mengandung”.

3. Amnon, putra Nabi Daud yang memperkosa saudara perempuannya, dengan izin ayahnya. ( Samuel 13: 12-14).

(12).Tetapi gadis itu berkata kepadanya: “Tidak kakakku, jangan perkosa aku, sebab orang tidak berlaku seperti itu di Israel. Janganlah berbuat noda seperti itu.(13).Dan aku, ke manakah kubawa kecemaranku? Dan engkau ini, engkau akan dianggap sebagai orang yang bebal di Israel. Oleh sebab itu, berbicaralah dengan raja, sebab ia tidak akan menolak memberikan aku kepadamu.”(14).Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan perkataannya, dan sebab ia lebih kuat dari padanya, diperkosanyalah dia, lalu tidur dengan dia.

4. Putra nabi Daud lain yang memperkosa ibunya sendiri. (Samuel 16: 21-22).

 (21).Lalu jawab Ahitofel kepada Absalom: “Hampirilah gundik-gundik ayahmu yang ditinggalkannya untuk menunggui istana. Apabila seluruh Israel mendengar, bahwa engkau telah membuat dirimu dibenci oleh ayahmu, maka segala orang yang menyertai engkau, akan dikuatkan hatinya”. (22).Absalom membentangkan sebuah kemah di atas Sotoh dan membaringkan 10 istri (gundik) ayahnya dan memperkosa mereka semuanya satu per satu, ‘di depan mata seluruh Bani Israel.’

Tak jarang pula ayat-ayat bernada tidak senonoh yang sama sekali tidak pantas berada di dalam sebuah kitab suci bisa kita temukan di dalamnya. Contohnya apa yang ada di Kitab Kidung Agung, terutama pasal 7 ayat 7-8, yang malu rasanya untuk ditulis disini.  Tidak heran ada pendapat mengatakan bahwa kitab ini harus dijauhkan/disembunyikan dari anak-anak di bawah umur.

http://www.sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=22&c=7&version=tb&lang=indonesia&theme=clearsky

Disamping itu Ahli Kitab juga telah menuhankan orang-orang suci mereka seperti Uzair dan Yesus. Mereka menganggap keduanya sebagai anak Tuhan bahkan Tuhan itu sendiri ( konsep Trinitas).

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah(9):30).

«  Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi ». (QS. Maryam(19) :30).

Padahal betapa banyaknya ayat-ayat Injil menerangkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan melainkan seorang utusan Tuhan, Allah Azza wa Jalla Yang Esa .

17:3.”Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus ». (Yohanes 17 :3).

17:8.”Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. ». (Yohanes 17 :8).

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara”. (QS. An-Nisa(4) :171).

Konsep Trinitas sebenarnya baru lahir lebih dari 300 tahun setelah hidupnya Yesus, yaitu pada tahun 325 M. Yaitu dengan adanya perjanjian Nicea di zaman kaisar Romawi Konstantinus berkuasa. Maka sejak itulah para pengikut Arianisme dibawah pimpinan pendeta Arius dari Alexandria, harus melepaskan keyakinan mereka selama itu bahwa Yesus adalah hanya mahluk ciptaan-Nya, bukan Tuhan itu sendiri. Selanjutnya Ariuspun dikucilkan, jabatannya sebagai pendeta dicopot.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Konsili_Nicea_I).

Namun jauh sebelum itu, yaitu pada masa Yesus hidup ada seorang bernama Paulus, yang nama aslinya adalah Saul. Pemuda kelahiran Tarsus (Turki) ini dikenal sebagai pecinta berat filsafat Yunani. Aliran filsafat Yunani yang amat berpengaruh ketika itu adalah aliran Stoa yang pantheistik, yang menganggap Tuhan dan makhluk merupakan suatu kesatuan yang sama zatnya dan hanya berbeda dalam penglihatan bentuk. Karena itu ia sangat membenci Yesus dan ajaran-ajarannya. Ia sengaja mendekati murid-murid Yesus agar dapat menyusup dan merusak ajaran Yesus dari dalam.

https://www.facebook.com/notes/%DB%9E-kristologi-%DB%9E/bible-study-kontroversi-paulus-rasul-kristen/309039149117693

Yang juga mengejutkan ternyata Injil tidak pernah menghalalkan babi maupun khamar/alkohol.

14 :8. « Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya ». ( Ulangan 14 :8).

10:9.  “Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun ». (Imamat 10:9).

«Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik ». (QS. Al-Maidah(5) :47).

Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, dan lain-lain, yang bersumberdari al-Barra’ bin ‘Azib. Bahwa di depan Rasulullah saw, berlalulah orang-orang Yahudi membawa seorang terhukum yang dijemur dan dipukuli. Rasulullah saw memanggil mereka dan bertanya:

“Apakah demikian hukuman terhadap orang berzina yang kalian dapati di dalam kitab kalian?”

Mereka menjawab: “Ya.”

Kemudian Rasulullah memanggil seorang ulama mereka dan bersabda: “Aku bersumpah atas nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah demikian kamu dapati hukuman bagi orang yang berzina di dalam kitabmu?”

Ia menjawab: “Tidak. Demi Allah, jika engkau tidak bersumpah lebih dulu, tidak akan kuterangkan. Sesungguhnya hukuman bagi orang yang berzina di dalam kitab kami adalah dirajam. Akan tetapi karena banyak pembesar-pembesar kami yang melakukan zina, maka kami mengabaikannya. Namun apabila seorang hina berzina, kami tegakkan hukum sesuai dengan kitab. Kemudian kami berkumpul dan mengubah hukuman tersebut dengan menetapkan hukuman yang ringan dilaksanakan, baik bagi orang hina dan pembesar, yaitu menjemur dan memukuliya.”

Bersabdalah Rasulullah saw.: “Ya Allah, sesungguhnya saya yang pertama menghidupkan perintah-Mu setelah dihapus oleh mereka.”

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Mei 2015.

Vien AM.

Oleh Nurfitri Hadi
Artikel KisahMuslim.com

Dalam perjalanan sejarah Islam terdapat beberapa negeri yang memiliki pemikiran yang menyimpang dan melakukan kekerasan terhadap umat Islam untuk memaksakan pemikiran mereka. Seperti yang dilakukan negeri-negeri berpaham Syiah semisal; Daulah Fatimiyah, Qaramithah, Buwaihiyah, dan Shafawiyah. Cara negeri-negeri ini bergaul dengan masyarakat Islam yaitu dengan cara permusuhan, menolak pemikiran-pemikiran pihak lain dengan kekerasan dan terorisme, siapa saja yang menolak pemikiran mereka, maka kematian adalah jawaban yang tak terbantahkan. Selain itu, negara-negara ini tidak malu-malu menjalin aliansi dengan negara-negara Salib saat Perang Salib antara muslim dan Kristen sedang berkecamuk.

Oleh karena itu, apa yang hendak kami sampaikan ini sangat penting untuk kita petik hikmahnya agar kita bisa memahami realitas kekinian dengan membandingkan apa yang terjadi pada sejarah kita. Tidak diragukan lagi, dan kita melihat dengan mata kepala kita bahwa apa yang terjadi di masa lampau terulang kembali di era modern ini. Sulit bagi kita memahami apa yang terjadi saat ini, kecuali dengan membandikannya dengan peristiwa-peristiwa di masa lalu yang mirip keadaannya dengan masa kini.

Jika kita mendalami sejarah, maka kita bisa menentukan sikap dimana kita akan meletakkan kaki kita. Dengan memahami sejarah Daulah Shafawi, maka kita bisa melihat negara mana di era modern ini yang rekam jejaknya mirip dengan Daulah Shafawi.

Siapakah Yang Disebut Shafawi?

Nasab orang-orang Shafawi merujuk kepada Shafiyuddin Ishaq al-Arbadili (650-735 H/1251-1334 M), ia adalah kakek kelima dari Syah Ismail as-Shafawi, pendiri Daulah Shawafiyah di Iran. Ardabil adalah sebuah wilayah yang terletak di Azerbaijan. Wilayah itu banyak dihuni oleh orang-orang Turki dan Armenia atau secara umum bangsa Turk menghuni daerah tersebut.

Sebagian orang menyatakan bahwa nasab Shafiyuddin Ishaq al-Arbadili sampai kepada salah seorang putra ahlul bait, Musa bin Ja’far rahimahullah, orang Syiah menyebut beliau dengan Imam Musa al-Kazhim. Namun pendapat ini disanggah oleh para sejarawan dengan beberapa alasan:

– Istri dari Shafiyuddin Ishaq al-Ardabili, yang merupakan kerabatnya yang paling dekat tidak mengetahui nasab suaminya sampai kepada Musa al-Kazhim ‘alaihissalam (Tarikh ash-Shafawiyin wa Hadharatihim, Hal: 29).

– Para sejarawan Syiah di masa hidup Shafiyuddin Ishaq al-ardabili, tidak pernah menuliskan bahwa ia termasuk ahlul bait dari keturunan Musa bin Ja’far (Shilatun baina Tasawwuf wa Tasyyau’, Hal: 140.).

– Penulis-penulis pada masa Daulah Shafawi menisbatkan nasab Shafiyuddin Ishaq kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib, namun anaknya, Musa bin Shafiyuddin Ishaq, tidak tahu nasab ayahnya ini terhubung ke Husein atau Hasan.

– Pengakuan nasab tersebut hanya bertujuan politis untuk menjadi penguasa dan mendapat simpatik rakyat.

Berdirinya Kerajaan Shafawi, Rakyat Dipaksa Menjadi Syiah

Sebelum Daulah Syiah Shafawi berkuasa di Iran, wilayah tersebut dikuasai oleh orang-orang Mongol Dinasti Ilkhan. Madzhab resmi negeri ini adalah Ahlussunnah namun sudah terkontaminasi dengan paham tasawwuf.

Pada masa Shafiyuddin Ishaq, situasi politik di Iran dan sekitarnya dalam kondisi tidak stabil, rakyat merasa tidak puas terhadap pemerintahnya, perbuatan keji tersebar di kalangan penguasa, dll. Syiah membaca hal ini sebagai peluang mereka. Pada awalnya Syiah hanya sebagai gerakan keagamaan, namun pada masa al-Junaid –cucu Shafiyuddin Ishaq- gerakan madzhab ini berubah menjadi gerakan politik dan Sultan Haidar menetapkan bahwa nasab keluarga Shafawi bersambung dengan Musa bin Ja’far al-Kazhim (Tarikh ad-Daulah ash-Shafawiyah fi Iran, Hal: 38).

Deklarasi Syiah sebagai gerakan politik atau pengakuan masuknya kader Syiah dalam ranah politik bertujuan untuk memperluas pengaruh mereka dan sebagai sinyal perlawanan terhadap Dinasti Ilkhan yang mulai sakit. Gerakan perlawanan mereka dimulai pada masa Fairuz Syah yang memimpin revolusi perlawanan terhadap Ilkhan dan puncaknya dicapai pada masa Syah Ismail ash-Shafawi dengan berdirinya Daulah Syiah ash-Shafawi tahun 1501. Saat itulah madzhab resmi Iran berganti menjadi Syiah, dan rakyat dipaksa untuk memeluk pemahaman ini. Syah Ismail tidak peduli bahwa mayoritas rakyatnya adalah orang-orang berpaham Ahlussunnah. Ia mengerahkan seluruh kemampuan dan pengaruhnya untuk memaksa warga beralih madzhab menjadi Syiah.

Tidak berhenti memberlakukan kebijakan tersebut di dalam negerinya, Syah Ismail juga berupaya menyebarkan paham Syiah di Daulah Ahlussunnah seperti Daulah Utsmaniyah. Masyarakat Utsmani menolak keras ajaran Syiah yang pokok pemikirannya adalah mengkafirkan para sahabat Nabi, melaknat generasi awal Islam, meyakini adanya perubahan di dalam Alquran, dll. Ketika Syah Ismail memasuki wilayah Irak, ia membunuhi umat Islam Ahlussunnah, menghancurkan masjid-masjid, dan merusak pekuburan.

Pemimpin Utsmaniyah, Sultan Salim, menanggapi serius upaya yang dilakukan oleh Syah Ismail terhadap rakyatnya. Pada tahun 920 H/1514 M, Sultan Salim membuat keputusan resmi tentang bahaya pemerintah Iran ash-Shafawi. Ia memperingatkan para ulama, para pejabat, dan rakyatnya bahwa Iran dengan pemerintah mereka ash-Shafawi adalah bahaya nyata, tidak hanya bagi Turki Utsmani bahkan bagi masyarakat Islam secara keseluruhan. Atas masukan dari para ulama, Sultan Salim mengumumkan jihad melawan Daulah Shafawiyah. Sultan Salim memerintahkan agar para simpatisan dan pengikut Kerajaan Shafawi yang berada di wilayahnya ditangkap dan bagi mereka yang melakukan pelanggaran berat dijatuhi sangsi hukuman mati (Juhud al-Utsmaniyin li Inqadz al-Andalus).

Persekutuan Daulah Shafawiyah dengan Pasukan Salib Melawan Umat Islam

Peperangan antara Daulah Syiah Shafawi dengan umat Islam yang diwakili Turki Utsmani pun benar-benar terjadi. Sadar bahwa Turki Utsmani begitu besar untuk ditaklukkan, ash-Shafawi menjalin sekutu dengan orang-orang kafir Eropa yakni orang Kristen Portugal kemudian Kerajaan Inggris. Di antara poin kesepatakan kedua kelompok ini adalah Portugal membantu Shafawi dalam perang terhadap Bahrain, Qathif, dan Turki Utsmani.

Panglima Portugal, Alfonso de Albuquerque, mengatakan, “Saya sangat menghormati kalian atas apa yang kalian lakukan terhadap orang-orang Nasrani di negeri kalian. Sebagai balas jasa, saya persiapkan armada dan tentara saya untuk kalian dalam menghadapi Turki Utsmani di India. Jika kalian juga ingin menyerang negeri-negeri Arab atau Mekah, saya pastikan pasukan Portugal ada di sisi kalian, baik itu di Laut Merah, Teluk Aden, Bahrain, Qathif, atau di Bashrah, Syah Ismail akan melihat saya di Pantai Persia dan saya akan melakukan apa yang dia inginkan.” (Qira-ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin).

Tawaran kerja sama Portugal ini bukanlah sesuatu yang tanpa pamrih, mereka menginginkan membangun sebuah pangkalan di Teluk Arab. Bantuan kerja sama militer ini juga menjanjikan pembagian wilayah taklukkan; Shafawi mendapatkan Mesir dan Portugal diiming-imingi dengan tanah Palestina (Qira-ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin). Pasukan Salib Portugal mengtahui, bekerja sama dengan negeri-negeri muslim Teluk atau mengadakan kontak senjata dengan mereka akan berbuah kegagalan terhadap misi mereka. Shafawi adalah pilihan tepat bagi mereka untuk masuk memuluskan misi mereka di dunia Arab.

Selain bekerjasama dengan Portugal, Shafawi juga menjalin hubungan dengan Kerajaan Inggris untuk memerangi umat Islam di Irak. Di Irak mereka membunuh 7000 warga Ahlussunnah dari Suku Kurdi, melarang mereka menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan memaksa umat Islam di sana untuk berhaji ke Kota Masyhad, Iran, kota yang mereka yakini tempat kelahiran imam mereka, Imam Ali bin Musa ar-Ridha.

Inilah fakta yang terjadi, dibalik slogan-slogan persatuan ternyata ada tikaman dari belakang. Di balik kesan pahlawan, Syiah bagaikan serigala yang mengindati domba-domba yang akan dimangsa.

Pelajaran:

Sejarah mengajarkan kepada kita sebuah pengalaman berharga, betapa orang-orang Syiah melalui Daulah Shafawiyah (dan Daulah Fatimiyah, Qaramithah, dll) menaruh kebencian terhadap umat Islam. Mereka tidak pernah mengumandangkan jihad terhadap tentara salib berbeda halnya dengan umat Islam, mereka benar-benar menunjukkan permusuhan, melakukan pembunuhan dan pengrusakan, serta mengumandangkan peperangan. Sebaliknya mereka menjalin hubungan yang harmonis dengan pasukan salib dan Yahudi, bahkan terhadap orang-orang majusi penyembah api.

Hal serupa kita dapatkan di era modern ini, dimana kerajaan Shafawi modern, Republik Syiah Iran, melakukan hal yang sama dengan pendahulunya. Mereka berteriak-teriak lantang memerangi Amerika dan Israel, tapi tidak pernah kita dapati mereka berperang melawan Amerika dan Yahudi di Palestina. Sementara ribuan bahkan jutaan Ahlussunnah mereka bunuh. Dengan kekuatan media, mereka putar balikkan fakta bahwa negara-negara Ahlussunnah lah yang menjadi kaki tangan Barat Amerika dan pelindung Israel.

Pelajaran lainnya adalah Syiah selalu memanfaatkan instabilitas politik di suatu negeri untuk mencuri kekuasaan. Mereka memanfaatkan status ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintahnya dengan iming-iming perubahan dan janji manis, namun kenyataannya jauh lebih parah dari yang kita bayangkan. Semoga Allah senantiasa melindungi negeri kita dari maker-makar yang dibuat oleh orang-orang Syiah..

( Bersambung).

Sumber:
– Tarikh ad-Daulah ash-Shafawiyah di Iran
– Majalah al-Furqon al-Kuwaitiyah, dll.

Dicopy dari :

http://kisahmuslim.com/trilogi-kisah-iran-dan-daulah-shafawi-munculnya-daulah-shafawi-13/

Lebih dari 500 warga Indonesia dilaporkan telah bergabung dengan ISIS (Islamic State in Iraq and al-Syam). Mereka masuk ke  Suriah atau Irak yang merupakan basis  ISIS melalui Turki. Sebagian menyamar sebagai turis tetapi sesampai tujuan memisahkan diri.

Menurut beberapa sumber, Indonesia memang menjadi tujuan empuk perekrutan anggota ISIS. Dengan terang-terangan ISIS berani mempromosikan sepak terjang mereka. Iming-iming surga karena jihad disamping gaji tinggi adalah imbalannya. Jadi tidak perlu heran mengapa organisasi ini begitu diminati warga Indonesia.

Yang patut menjadi pertanyaan betulkah ISIS yang meng-klaim berjuang memerangi segala kekafiran dan kedzaliman itu murni karena Sang Khalik, Allah swt, dengan menjadikan Al-Quranul Karim dan As-Sunah sebagai pegangan??

Sementara kita tahu bagaimana ulah ISIS menyebarkan terror, membakar musuh, membunuhi kaum perempuan dan anak-anak, bahkan merekrut gadis-gadis untuk dijadikan pemuas seksual para anggotanya ?? Dengan teganya, para orang-tua anggota kelompok yang mencuat pada tahun 2013 itu  menyuruh anak-anak gadis mereka yang baru berusia 14-15 tahun agar mau, berkali-kali, melayani nafsu seksual anggota ISIS.  Setiap perbuatan dibuatkan akadnya, digauli lalu diakhiri dengan kalimat cerai dan imbalan sejumlah uang. Begitu hingga 5-6 kali, dalam sehari. Ironisnya. putri-putri malang tersebut diyakinkan bahwa itulah jihadnya perempuan ! Persis ajaran mut’ah dalam Syiah.

https://www.youtube.com/watch?v=JGqijQy_22I

Berikut pengakuan mantan ISIS yang hengkang dari kelompok tersebut.

http://internasional.kompas.com/read/2015/03/18/11252901/Mantan.Anggota.ISIS.Beberkan.Alasan.Ia.Tinggalkan.Kelompok.Itu?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

Islam saat ini memang dalam keadaan terpuruk. Keterpurukan tersebut menyebabkan umat begitu mudah dibohongi. Sebaliknya harapan segera berakhirnya keterpurukan dengan kembalinya zaman kejayaan Islam sebagaimana yang telah diprediksi juga dengan mudah mengecoh umat. Itulah ISIS, yang mengumumkan diri sebagai kekhalifahan Islam, lambang keemasan Islam yang dulu hilang, dan di nanti-nantikan kembalinya oleh sebagian umat.

Umur umat Islam dan kembalinya kejayaan Islam.

Sebagian ulama sepakat bahwa umat Islam akan melewati 5 fase/ tahapan.

“Periode An-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang periode Khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’aala mengangkatnya, kemudian datang periode Mulkan Aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode Mulkan Jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala, setelah itu akan terulang kembali periode Khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. … ,” (HR Ahmad 17680).

Para ulama juga sepakat bahwa saat ini umat Islam berada di akhir fase ke 4 yaitu periode Mulkan Jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak). Atau berada di tahap awal datangnya fase akhir, yaitu fase 5, periode Khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah, alias kekhalifahan Islamiyah sebagaimana di zaman Rasulullah dan para sahabat dulu. Itulah zaman kejayaan Islam, zaman yang amat dimimpikan seluruh umat Islam di dunia. Zaman dimana kekuasaan Islam membentang dari Spanyol hingga ke perbatasan Cina, yang kini paling tidak terdiri atas 20 negara.

Tentu saja bukan hal yang mengherankan mengingat saat ini kita hidup di zaman Islam amat sangat terpuruk. Islam yang menjadi bulan-bulanan Barat hingga umat Islam tidak mempunyai rasa Percaya Diri yang tinggi. Hingga apapun yang dikatakan Barat ditelan mentah-mentah meski bertentangan dengan ajaran Islam. Kebodohan, kemunduran, kemiskinan bahkan label terorisme seolah melekat erat dengan Islam. Islamophobia atau ketakutan terhadap Islam terjadi dimana-mana.

Ironisnya korbannya bukan hanya non Muslim tapi juga Muslim itu sendiri. Apalagi kalau sudah berbicara jihad. Slogan Barat bahwa “Islam adalah agama pedang”, tampaknya berhasil membuat umat Islam begitu trauma akan kata ini. Padahal berapa banyaknya ayat jihad diturunkan demi membela Islam, jiwa dan kebesaran Islam itu sendiri. Jihad memang tidak selalu berperang dengan mengangkat senjata, tapi manakala keadaan memaksa, jihad seperti ini wajib dilakukan. Tapi hari ini, dengan dalih Islam adalah rahmatan lillalamiin, sebagian besar umat Islam memilih berdiam diri meski melihat saudara-saudari kita di berbagai belahan bumi ini terinjak-injak, terdzalimi dan tertindas demikian parahnya.

Munculnya JIL ( Jaringan Islam Liberal) juga adalah akibat rasa tidak PD terhadap ke-Islam-an mereka. Lagi-lagi dengan dalih toleransi dan “Islam adalah Rahmatan lilalamin” mereka mengklaim bahwa semua agama adalah sama.

Sebaliknya bagi sebagian kecil umat Islam yang dapat ikut merasakan penderitaan saudara/saudarinya, dan tertantang untuk membantu, kehadiran ISIS bagaikan mata air di tengah padang pasir. Apalagi yang juga meyakini hadist diatas bahwa kita telah berada di penghujung fase ke 4. Maka berbondong-bondonglah mereka bergabung ke dalam organisasi yang dalam waktu singkat berhasil merekrut anggota dan meluaskan jajahan kekuasaannya itu.

Masalahnya, betulkah ISIS sesuai dengan hadist yang dimaksuf diatas? Apalagi mengingat cara “jihad” yang ditempuh? Membakar, memperkosa, memanfaat anak-anak sebagai tentara dan berbagai cara yang jauh dari ajaran Islam? Berikut perintah Rasulullah ketika fitnah terhadap Islam makin menjadi-jadi.

“Jika kalian menangkap si A, bunuhlah dan jangan kalian bakar. Karena tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Tuhannya api (yaitu Allah).” (HR. Abu Daud).

Hadist mengenai tanda-tanda akhir zaman sangatlah banyak dan sangat rinci. Diantaranya yang sangat penting untuk diketahui saat ini adalah ciri-ciri Imam Mahdi, yang merupakan pemimpin umat Islam yang akan datang nanti.

Bersabda Rasulullah saw, “Sungguh, bumi ini akan dipenuhi oleh kezaliman dan kesemena-menaan. Dan apabila kezaliman serta kesemena-menaan itu telah penuh, maka Allah swt akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku, namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku (Muhammad bin Abdullah). Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi) telah dipenuhi sebelum itu oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Di waktu itu langit tidak akan menahan setetes pun dari tetesan airnya, dan bumipun tidak akan menahan sedikit pun dari tanaman-tanamannya. Maka ia akan hidup bersama kamu selama 7 tahun, atau 8 tahun, atau 9 tahun.” (HR. Thabrani).

Telah bersabda Rasulullah saw, “Akan terjadi suatu perselisihan ketika meninggalnya seorang khalifah. Maka keluarlah seorang laki-laki dari penduduk Madinah dan ia lari ke Makkah. Lalu datanglah kepadanya orang-orang yang berasal dari penduduk Makkah, dan mereka membawa laki-laki tersebut dengan paksa. Kemudian mereka membaiatnya antara sudut Ka’bah dengan maqam Ibrahim. Lalu diberangkatkanlah sekelompok tentara dari Syam untuk mengejarnya. Maka mereka ditelan bumi di daerah Baidaa’, antara Makah dan Madinah. Maka ketika orang-orang melihat hal itu, wali-wali Abdal dari Syam dan orang-orang mulia dari Irak mendatanginya. Mereka membaiatnya antara sudut Ka’bah dengan maqam Ibrahim”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Thabrani).

https://netlog.wordpress.com/category/tanda-tanda-kemunculan-al-mahdi/

Dari hadist diatas dapat kita simpulkan bahwa Imam Mahdi bukanlah seorang yang  ambisius, yang sangat ingin menjadi pemimpin umat Islam. Imam Mahdi, pemimpin masa depan Islam yang dimaksud Rasulullah adalah seorang yang diangkat menjadi pemimpin secara paksa. Ia adalah seorang penduduk Madinah bernama Muhammad bin Abdullah yang ntah atas karena alasan apa melarikan diri menuju Makkah. Hal ini terjadi paska suatu perselisihan setelah meninggalnya seorang raja Arab Saudi. Ia akan dibaiat di Makkah, diantara sudut Ka’bah dengan maqam Ibrahim.

Kini, orang bisa saja memang merekayasa seorang bernama Muhammad bin Abdullah dan mengangkatnya seolah-olah ia adalah orang yang dimaksud hadist diatas. Tetapi peristiwa detail yang mengawalinya, rasanya sulit untuk dapat direkayasa. Sejarah mencatat betapa banyaknya orang yang mengaku-ngaku sebagai Imam Mahdi.

Berdasarkan hadist yang jumlahnya sangat banyak akan kita ketahui bahwa hal pertama yang akan dilakukan Imam Mahdi adalah membersihkan Makkah dan Madinah dari segala kekufuran. Kemudian bersama pasukan Rum ( Barat) memerangi Syiah di Syam ( Iran), berperang melawan Yahudi dan kaum Salibis, baru membebaskan Palestina dengan Al-Qudsnya ( Masjidil Aqsha). Disamping itu, sejak awal kekhalifahan, khalifah terakhir ini sudah akan menjadikan Madinah, bukan kota di Suriah maupun Irak, sebagai pusat pemerintahan, persis seperti kekhalifahan di zaman nabi 15 abad silam.

Artinya, dapat disimpulkan bahwa ISIS dengan Abu Bakr al-Baghdadinya jelas bukanlah khalifah yang kita nanti-nantikan itu. Apalagi dengan adanya tindakan ceroboh yang baru-baru ini mereka lakukan, yaitu penyerangan terhadap kamp pengungsi Palestina Yarmouk di Suriah yang menelan korban ratusan jiwa itu. ISIS tampaknya benar adalah ciptaan musuh Islam untuk mendiskreditkan Islam, yang sudah terpuruk makin terpuruk saja.

http://sapujagat.co/pengakuan-hillary-clinton-isis-ciptaan-amerika-israel/

Semoga umat Islam tidak mudah terpedaya tipuan jahat musuh-musuh Islam yang kelihatannya juga rajin mempelajari hadist. Dengan tujuan agar ketika Imam Mahdi datang nanti, umat Islam tidak mau mendukungnya.

“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi),  maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah  Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud 4074).

Na’udzubillah min dzalik.

Jakarta, 13 April 2015.

Vien AM.

Yaman membara. Serangan yang dillakukan koalisi Arab sejak 26 Maret 2015 lalu dilaporkan telah menelan banyak korban tewas. Serangan gabungan Negara-negara teluk dibawah pimpinan Arab Saudi ini dilakukan atas permintaan presiden resmi Yaman yang dikudeta kelompok Syiah Houthi Februari lalu. Disinyalir, Iran berada di belakang kelompok pemberontak tersebut. Ini menambah jumlah perang dan kerusuhan yang melanda Timur Tengah yang telah terlihat tanda-tandanya sejak 2010 lalu, yaitu Arab Spring.

Ketika itu para pimpinan tertinggi Negara-negara Arab seperti Tunisia, Libia, Mesir,  Suriah, Aljazair, Maroko, Irak, Sudan dll didemo rakyatnya karena dianggap telah menjalankan pemerintahan secara tidak demokratis alias otoriter. Akibatnya, secara serempak, pemberontakan dan kerusuhanpun melanda Negara-negara tersebut. Tampaknya ini adalah buah dari gembar-gembor Demokrasi ala Barat yang berhasil menarik simpati dunia Islam, karena Islam saat ini memang sedang mengalami masa keterpurukannya. Sayangnya, hingga detik ini, meski presiden telah diganti melalui cara demokrasi, perang saudara masih terus saja terjadi. Ada apakah gerangan ??

Mesir, contohnya. Presiden Husni Mubarak telah djatuhkan, pemilu  secara demokratis telah dijalankan, dengan Mohammad Mursi sebagai pemenangnya. Namun tak sampai setahun jendral Abdul Fattah al-Sisi dan kelompoknya meng-kudeta Mursi.  Bahkan resmi menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin yang merupakan pendukung kuat Mursi adalah organisasi teroris. Tak tanggung-tanggung ratusan anggota organisasi yang dibentuk Hassan al Banna pada tahun 1928 dengan tujuan agar umat Islam bersatu dibawah payung Al-Quran dan As-Sunnah, di-eksekusi mati, dan ribuan lainnya dijebloskan ke bui.

Demikian pula Libia. Padahal dulu, sebelum pemberontakan, dibawah presiden Muammar Ghadaffi, meski dikenal otoriter, Libia cukup maju dan makmur. Ini berkat dibangunnya sebuah sungai buatan sepanjang 2800 km, yang berhasil membuat padang tandus Libia menjadi lahan hijau yang menghasilkan buah dan sayur -sayuran.

Uztad Arifin Ilham melalui status FB-nya berkata, “Alhamdulillah, sudah tiga kali ke Libya, dan dua kali shalat berjamaah di lapangan Moratania dan Lapangan Tripoli. Shalat berjamaah yang dihadiri 873 ulama seluruh dunia dan rakyat Libia, dengan Imam langsung Muammar Ghadaffi, bacaan panjang hampir 100 ayat Al Baqarah, sebagian besar jamaah menangis, sebelumnya diawali dengan syahadat 456 muallaf dari suku2 Afrika, dakwah beliau selalu mengingatkan tentang ancaman zionis dan blok Barat, pemimpin Arab boneka AS, dan selamatkan Palestina…”.

Suriah dan Irak lebih parah lagi. Perang saudara antara sesama bangsa dan sesama Muslim, yaitu Sunni dan Syiah berkecamuk dengan dasyatnya. Presiden Suriah, Bashar al-Assad yang menganut Syiah Rafidhah, secara brutal membantai rakyatnya sendiri yang beraliran Sunni.

Seperti diketahui, Sunni dan Syiah sejak dulu memang tidak pernah dapat disatukan. Awalnya perbedaan hanya pada pendapat siapa yang berhak meneruskan kepemimpinan Islam paska wafatnya Rasulullah Muhammad saw. Namun demikian istilah Syiah baru muncul setelah terjadinya perseteruan antara keponakan Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, khalifah ketika itu. Kelompok yang mendukung Ali menamakan diri sebagai “Shi’at Ali”, atau pengikut Ali, yang di kemudian hari berkembang menjadi Syiah. Saat ini dilaporkan, anggota Syiah berjumlah sekitar 10-15% dari Muslim di dunia.

Dengan berkembangnya waktu, Syiah makin terpecah menjadi banyak sekali kelompok kecil-kecil. Namun sebagian ulama sepakat bahwa Syiah terpecah menjadi 3 kelompok besar. Diantara 3 kelompok tersebut, yang sesat dan perlu diperangi adalah kelompok Syiah Istna Asyariah ( Syiah 12 imam). Nama lain kelompok ini adalah Syiah Rafidhah/Syi’ah Ja’fariyyah/Syiah Imamiyyah. Mayoritas dari mereka saat ini berada di Iran, Irak, Kuwait, Bahrain, India, Saudi Arabia, di beberapa daerah di Suriah dan beberapa daerah bekas Uni Sovyet.

Sedangkan Syiah yang lain bukan diperangi tapi cukup dibina dan disadarkan. Sayangnya, justru Syiah Rafidhah inilah yang terbesar, yang merupakan mayoritas dan terus berkembang pesat termasuk yang masuk ke Indonesia. Padahal kesesatannya dari hari ke hari makin menjadi-jadi, terakhir pada masa kekuasaan Ayatullah Khomeini di Iran pada tahun 1979.

Syiah sejak lama berkeyakinan bahwa Alquran yang ada sekarang ini telah dipalsukan. Karena ayat yang menyatakan bahwa Ali telah ditunjuk langsung oleh Allah swt untuk menggantikan Muhammad saw telah dihapuskan. Tentu saja ini adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Bukanlah Allah sendiri yang mengatakan bahwa melalui para malaikat Al-Quran akan terus dijaga dan dipelihara dengan sungguh-sungguh??  Bukankah sejak dahulu penghafal Al-Quran sudah ada, dan jumlahnyapun banyak sekali.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al-Hijr(15):9).

Syiah juga berpendapat bahwa para imam maksum alias tidak mungkin berbuat kesalahan. Kedudukan mereka bahkan lebih tinggi dari para nabi dan malaikat. Mereka juga menuhankan Ali. Syiah mengenal kawin mut’ah, menyiksa diri pada hari Asyura, mengkafirkan para sahabat sejati dan istri nabi serta menjadikan cercaan terhadap mereka sebagai ibadah !.

Patut menjadi pertanyaan besar, siapa sebenarnya yang paling senang ketika Sunni dan Syiah berperang? Siapa musuh terbesar Islam kalau bukan Israel dan sekutunya yaitu Amerika Serikat.

Ya, jurang perbedaan antara Sunni dan Syiah memang sengaja dibuat makin lama makin jauh, dengan tujuan agar umat Islam lupa kepada musuh aslinya, yaitu Yahudi. Agar Zionis Israel bebas mengusir rakyat Palestina dari tanah airnya sendiri, dan membangun bait mereka di Yerusalem.

Tapi tindakan koalisi Arab menyerang Yaman juga bukan berarti salah. Karena Syiah di Yaman yang merupakan perpanjangan Syiah Iran adalah musuh dalam selimut kaum Muslimin, yang sewaktu-waktu bisa menusuk dari belakang. Keberhasilan Syiah merebut kekuasaan di Yaman sebagai tetangga terdekat Arab Saudi, sangat berpotensi membahayakan Mekah dan Madinah, 2 kota tersuci umat Islam.

Simak pengakuan sultan Salahuddin, khalifah yang berhasil merebut kembali  Masjid al-Aqsha di Jerusalem dari tangan pasukan Salib pada tahun 1187. Dari kisah tersebut kita juga akan tahu bahwa Syiah Rafidhah sudah ada sejak zaman tersebut.

“Ketika Shalahuddin al-Ayyubi memutuskan untuk menghancurkan kaum Syiah Rafidhah dan Daulah al-‘Ubaidiyyah di Mesir, ada yang bertanya:

Mengapa anda memerangi kaum Syiah Rafidhah dan Daulah al-‘Ubaidiyyah di Mesir, tapi membiarkan kaum Romawi Salibis (Kristen) menguasai Baitul Maqdis dan wilayah Palestina?

Beliau menjawab: “Aku tidak akan memerangi kaum Salibis lalu membiarkan ‘punggung’ku tersingkap di hadapan kaum Syiah!”

Maka beliau pun membasmi Daulah Syiah al-‘Ubaidiyah di Mesir, Maghrib dan Syam, lalu mengembalikan kebesaran Ahlussunnah wal Jamaah atau Sunni di negri-negri yang tadinya memang ber-mahzab Sunni tersebut.  Setelah itu, beliau pun memimpin penaklukan kembali Baitul Maqdis, membersihkan Masjid al-Aqsha dari kenistaan kaum Salibis dan mengembalikan Palestina ke pangkuan umat Islam”.

http://www.pkspiyungan.org/2015/03/kenapa-raja-salman-tidak-serang-israel.html

http://kisahmuslim.com/dendam-syiah-kepada-shalahuddin-al-ayyubi/.

Simak pula prilaku busuk kerajaan Syiah Shafawi ( di daerah Iran sekarang ) pada abad 13 yang bersekongkol dengan pasukan Salib demi menjatuhkan kerajaan Islam Turki Ottoman yang dulu pernah berjaya selama berabad-abad.  Kemudian memaksa dengan kekerasan rakyatnya yang ketika itu mayoritas Sunni untuk berpindah ke Syiah.

http://kisahmuslim.com/trilogi-kisah-iran-dan-daulah-shafawi-bersama-kristen-eropa-memerangi-turki-utsmani-23/

Kini, menjadi pertanyaan akankah raja Salman bin Abdul Aziz dari Arab Saudi, yang merupakan pimpinan operasi militer gabungan Dewan Kerja Sama Negara-Negara Arab Teluk (GCC) bertajuk “Aashifatul Hazm” (Badai Penghancur) mengikuti jejak pendahulunya ? Yaitu menaklukkan kembali Jerusalem dengan Masjidil Aqshanya setelah serangannya ke Yaman ? Sebuah mimpi besar bagi umat Islam yang sejak berdirinya Negara Israel di tanah Palestina terpaksa terus menyaksikan kebiadaban Zionis terhadap saudara-saudari kita di sana.

Berikut penegasan raja Salman dalam sambutannya pada pembukaan KTT Liga Arab ke-26 di Mesir, Sabtu (28/03/2015) yang baru lalu.

Sesungguhnya urusan Palestina tetap menjadi hal terpenting bagi kami, sebagaimana sikap Arab Saudi terhadap masalah ini ( penyerangan Syiah Yaman, red) dari dahulu untuk terus memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina dan berdirinya negara Palestina yang berdaulat serta menjadikan kota Al-Quds yang mulia sebagai ibu kotanya. Hal ini sejalan dengan keputusan Resolusi Legitimasi Internasional dan Inisiatif Perdamaian Arab tahun 2002, keputusan ini disambut hangat oleh dunia internasional tetapi Israel merasa tidak mengetahuinya”.

http://www.pkspiyungan.org/2015/03/raja-salman-palestina-dan-suriah-babak.html

Ya Allah kabulkanlah keinginan raja Salman dan satukan umat Islam dalam menghadapi Zionis Israel, agar dapat segera keluar dari keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan serta permainan licik musuh-musuh Islam, aamiin YRA.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya“.(QS.Ali Imran(3):54).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 April 2015.

Vien AM.

Rubrik Republika « Khazanah Mozaik” edisi 24 Maret 2015 memuat artikel dengan judul “Revolusi Budak Muslim di Brazil”. Miris hati ini membacanya. Betapa tidak, lebih dari 12 juta Muslimin dibawa dari Afrika menuju Amerika Utara dan Selatan, hanya untuk dipekerjakan sebagai budak ! Na’udzubillah min dzalik …

Tragedi pahit ini memang telah lama terjadi yaitu selama periode tahun 1500 hingga 1800-an. Padahal Islam yang datang pada abad 7 mengajarkan bahwa perbudakan adalah hal yang sangat bertentangan dengan HAM, oleh karena itu harus dihilangan, meski secara bertahap, karena perbudakan di jazirah Arab pada masa itu telah mendarah-daging dan menjadi kebutuhan yang sulit untuk dihindarkan.

Islam menghapuskan perbudakan dengan berbagai cara.  Diantaranya membebaskan budak bagi orang yang melanggar janji ( Al-Maidah ayat 89), orang yang men-zihar istrinya ( Al-Mujadil ayat 3), zakat untuk memerdekakan budak ( At-Taubah ayat 60) dan sebagainya.

Sebaliknya Allah swt memang menciptakan manusia tidak semua dalam ‘derajat’ yang sama, dengan tujuan agar bisa saling memanfaatkan, saling bekerja sama. Tapi itu bukan berarti perbudakan dibolehkan ! Coba bayangkan bila di dunia ini tidak ada satupun pekerja kasar seperti kuli bangunan, tukang sampah, sopir dll.  Semua orang kaya, tak satupun ada orang miskin. Bagaimana zakat akan berjalan ? Akan tetapi perbedaan itu hanya berlaku didunia, yang hanya sementara, karena di akhirat nanti perbedaan hanya ada karena takwa.

“ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Az-Zukhruf(45):32).

Perbudakan di Brazil baru lenyap pada tahun 1888. Ini berkat usaha dan kerja keras kaum Muslimin, baik dari para budak itu sendiri maupun  tokoh –tokoh Muslim yang ada di negri Samba tersebut. Perdagangan budak bermula di Brazil ketika Portugis berkuasa di sana. Para budak yang rata-rata beragama Islam itu dipekerjakan dengan semena-mena. Namun demikian mereka tidak mau mengorbankan agama dan keimanan mereka. Mereka menolak berpindah keyakinan mengikuti agama tuan mereka, yaitu Katolik.

Di kemudian hari, bersama orang-orang Muslim non budak, mereka bahkan berhasil membangun komunitas Islam yang kuat. Mereka berhasil membina rasa persatuan umat, sesuatu yang  teramat sangat langka di zaman sekarang ini. Rasa persaudaraan sesama Muslim lebih kuat ketimbang persaudaraan sesama bangsa dan negara. Hingga pada sekitar tahun 1800 an, mereka telah memiliki komunitas dengan ulama-ulama yang mumpuni, masjid, sekolah dan sejumlah kegiatan keagamaan. Komunitas ini berpusat di Negara bagian Bahia, Brazil bagian timur.

Pada saat itulah akhirnya mereka sadar dan memutuskan harus keluar dari perbudakan yang selama ratusan tahun telah menjerat mereka. Mereka bertekad akan memberontak dari pemerintahan , membebaskan para budak dan merebut kapal-kapal milik pemerintah agar dapat kembali ke tanah kelahiran mereka di Afrika.

Sayang, gara-gara pengkhianatan seorang budak, rencana pemberontakan yang telah disiapkan matang-matang tersebut berhasil diendus dan digagalkan pemerintah.  Akibatnya para pemimpin rencana pemberontakan tersebutpun ditangkapi dan dibunuh oleh pemerintah. Sejak itu kaum Muslimin di Bahia terpaksa hidup sembunyi-sembunyi. Seluruh kegiatan mereka diawasi dan ditekan pemerintah.  Namun demikian, hingga 20 tahun setelah peristiwa tersebut, kaum Muslimin tetap berkali-kali mencoba memberontak meski selalu gagal. Tapi hebatnya,  meski mereka gagal mencapai tujuan utama mereka, dakwah mereka cukup berhasil. Dari balik persembunyiannya, para ulama dan cendekiawan Muslim  berhasil meng-Islam-kan orang-orang Afrika yang berada di Bahia.

Hingga suatu hari, salah satu tokoh terkenal mereka,  Malam Bubakar, mendeklarasikan jihad melawan pemerintah. Melalui dokumen berbahasa Arab, ia menyeru agar seluruh umat Islam di negri tersebut bersatu dan melawan tuan-tuan mereka. Ia juga menetapkan 27 Ramadhan tahun tersebut sebagai hari puncak pemberontakan.

Namun sekali lagi usaha ini terpaksa gagal. Pemerintah mencium gelagat tersebut. Tak ayal lagi dalam pertempuran tidak seimbang,  300 budak dan mantan budak Muslim berkulit hitam harus menghadapi lebih dari 1000 tentara bersenjata lengkap yang dikerahkan gubernur Bahia. Malam Bubakar bahkan telah tertangkap dan kemudian diasingkan beberapa bulan sebelum jatuhnya hari  H.

Tetapi ternyata peristiwa yang menelan korban 100 budak Muslim itu tidaklah sia-sia belaka. Beberapa waktu setelah tragedi tersebut pemerintah memutuskan untuk mendeportasi mereka kembali ke tanah air. Bukan hasil terbaik  memang,  tetapi minimal harapan mereka untuk kembali menghirup udara kebebasan  mereka dapatkan, di tanah air mereka sendiri.

Kini, 200 tahun paska tragedi nahas tersebut, fenomena seperti itu masih saja terjadi.  Bukan perbudakan dalam arti seperti dulu memang. Namun saudara-saudari kita sesama Muslim di berbagai belahan bumi ini banyak yang masih tertindas. Muslim di Palestina, Suriah, Rohingnya, Cina bahkan di Negara-negara Barat yang mengaku menjunjung tinggi toleransi dan demokrasi seperti Perancis, masih saja tidak dapat bebas menjalankan ajaran agama mereka. Diantaranya adalah izin pendirian masjid yang sangat sulit, pelarangan jilbab, shalat yang sangat sulit dilaksanakan di tempat kerja dll. Bahkan tak jarang mereka dimusuhi dan dijadikan kambing hitam pada berbagai kerusuhan yang terjadi.

Ironisnya, di Indonesia yang mayoritas Muslimpun, ada beberapa daerah yang tidak mau memberikan hak-hak beribadah kaum Muslimin. Bahkan polwanpun baru hari ini ( 25/3/2015) mendapatkan haknya menggunakan jilbab ketika bertugas. Itupun baru sebatas pengesahan peraturannya belum penerapannya. Namun masih tetap lebih baik dibanding TNI yang belum ada pemikiran ke arah itu. Kabar terbaru, bandara Soekarno Hattapun telah dipasangi autogate yang tidak dapat dilewati orang-orang bernama Muhammmad atau Ali. Meski akhirnya  kemenag mengklarifikasi bahwa itu hanyalah kesalahan alat canggih yang baru dipasang saja.

Lucunya lagi, ketika ada kelompok-kelompok yang membantu saudara-saudari mereka yang tertindas, yang diperangi, yang dizalimi, dengan mengangkat senjata alias berjihad, seperti yang terjadi di Palestina atau Suriah, maka dengan lantang orang-orang yang tidak satu pemikiran, meski sama-sama Muslim berteriak lantang :“ Islam adalah rahmatan lilalamin”. Jadi tidak boleh umat Islam melawan, marah, apalagi sampai mengangkat senjata. Lebih parah lagi label « Teroris»pun disandangkan kepada mereka yang melawan “kebenaran” versi Barat.

Tampak nyata bahwa persatuan Islam  yang merupakan salah satu kekuatan Islam telah hilang lenyap ntah kemana. Umat Islam telah terpecah dan terkotak-kotak ke dalam kelompok-kelompok bangsa dan Negara hingga akhirnya tidak lagi mempedulikan penderitaan sesama Muslim,  terutama bila bukan sesama bangsa dan negaranya. Padahal Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal dan berkasih-sayang, dalam ikatan takwa.( Al-Hujurat ayat 13). Tanpa sadar umat Islam sebenarnya telah termakan hasil karya perang pemikiran ( ghazwl fikiri) yang dilontarkan Barat. Persaudaraan Muslim, apalagi jihad membela sesama Muslim yang tertindas adalah kejahatan, terorisme.

Rasulullah saw. bersabda:  “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam”. (Shahih Muslim).

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran(3):103).

Lalu bagaimana kita masih berani mengatakan “Islam adalah rahmatan lilalamin” bila kaum Muslimin saja tidak bisa merasakan kedamaian?  Pembunuhan dan pembantaian terus saja terjadi. Lihatlah betapa menderitanya saudara-saudari kita di Palestina yang selama puluhan tahun hidup di bawah kezaliman penjajah Israel, rakyat Suriah yang terus dibantai oleh Syiah Rasyidah dibawah Basar Asad. Bukankah Allah swt berjanji bahwa Ia akan memberikan nikmat-Nya;  kemudahan dalam segala hal dan urusan, dengan catatan bila umat Islam mau bersatu dibawah hukum dan panji Islam?

Tak heran bila belakangan ini, ISIS dengan segala isu kontroversialnya, berhasil menjaring banyak simpati dan daya tarik tersendiri, dari sebagian umat Islam. Kita saksikan sendiri betapa umat Islam dari segala penjuru datang bergabung ke dalam ISIS yang jelas-jelas berperang dengan tidak mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah.

Rasulullah saw bersabda :“Apabila kalian mendapatkan Fulan maka bunuhlah dia, tapi jangan kalian bakar! Sesungguhnya tak ada yang boleh menyiksa dengan api kecuali Tuhan Penguasa api” (HR. Abudaud).

http://internasional.kompas.com/read/2015/03/18/11252901/Mantan.Anggota.ISIS.Beberkan.Alasan.Ia.Tinggalkan.Kelompok.Itu?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

ISIS sama sekali tidak mencerminkan Islam, dan bukan juga Islam. Tapi toh tetap saja banyak Muslim yang membela organisasi ini hingga Islam tampak garang, jahat dan keji. Sepak terjang ISIS jelas makin mencoreng citra Islam yang sudah tercoreng. Alih-alih membela saudara-saudari kita yang tertindas, justru Islamophobilah yang makin menjadi-jadi. Tidak ada pembelaan ISIS untuk saudara/saudari kita di Palestina. Bahkan kabar terakhir ( 7/4/2015) kamp pengungsi Palestina Yarmuk di Suriah selatan diserang ISIS hingga mengakibatkan tewasnya 100 warga yang berada di kamp tersebut, membuat HAMAS berang dan berjanji akan membalas perbuatan biadab tersebut.

Lalu siapa sebenarnya yang diuntungkan dengan adanya ISIS ini ??? Siapakah dibalik gerakan berbau terorisme ini ?

http://sapujagat.co/pengakuan-hillary-clinton-isis-ciptaan-amerika-israel/

Sekali lagi, tampaknya, kita telah berhasil diperdaya, dengan amat mudahnya, oleh musuh-musuh Islam. Na’udzubillah min dzalik …

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran“.(QS. Al-Ashr(103):2-3).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Maret 2015.

Vien AM.

Menciptakan organisasi teroris dunia yang menebarkan ketakutan, tak bisa dipisahkan dengan Amerika Serikat. Hampir setiap kurun waktu akan lahir sebuah kelompok teroris kaliber dunia, yang dilahirkan oleh Central Intelligence Agency (CIA/lembaga kontra intelijen internasioal milik AS). Tujuannya untuk menciptakan Islam sebagai musuh baru pasca berakhirnya era komunisme yang ditandai keruntuhan Uni Soviet. Tak heran bila  kelompok teroris yang dibidani, hampir selalu berbendera Islam. Setelah Al-Qaeda ditumpas, kini Islamic State of Iraq and al-Syam (ISIS), yang dijadikan simbol Islam radikal sebagai musuh bersama.

SEJAK awal tahun 2014 lalu, dunia dikejutkan oleh sepak terjang kelompok yang menamakan diri sebagai pasukan Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS). Pasukan yang tampil dalam kostum hitam-hitam dengan wajah tertutup itu menebarkan wabah ketakutan di daratan Irak dan Suria. Tidak hanya menerapkan hukuman mati massal terhadap tawanan perang saat menyerbu beberapa wilayah di Irak dan Suria. Namun, mereka juga menebarkan maut di jalanan umum dengan menembaki warga sipil secara membabi buta. Kekejaman itu dengan bangganya diunggah di situs youtube, untuk menunjukkan arogansi dan kekuatan mereka.

Pada awalnya, perilaku pasukan ISIS itu dinilai masyarakat dunia sebagai ambisi politik pimpinannya, Abu Bakr al-Baghdadi yang ingin mendirikan Daulah Islamiah di wilayah Irak dan Syam, yang merupakan istilah bahasa Arab klasik untuk Damaskus dan wilayah daratan sekitarnya. Dari waktu ke waktu, nama itu merujuk ke daerah antara Laut Tengah dan Sungai Eufrat, di selatan Pegunungan Taurus dan di utara gurun Arab. Dengan kata al-Sham, maka wilayah yang diincar ISIS tidak hanya mencakup Suriah saja. Namun, melebar pada wilayah  Israel, Yordania, Lebanon, dan Palestina, dan bahkan bagian tenggara Turki. Daerah ini disebut sebagai Levant oleh pakar geografi Barat.

Saat kekejaman dan sikap radikal pasukan ISIS membawa korban jiwa ribuan, yang mayoritas juga muslim. Pengusiran massal suku Yazid, suku asli bangsa Suria, dari tanah kelahirannya. Demikian pula melakukan perampasan dan perampokan harta warga sipil, maka mulailah berdatangan kecaman dari para ulama muslim di seluruh dunia. ISIS dituding sebagai kelompok radikal berbendera Islam, tapi perilakunya jauh dari firman Allah dalam Al-Quran dan perilaku islami yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW dalam ribuan hadits.

Kejengkelan dan kebencian para muslim dunia kian menggunung, setelah mantan pegawai badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA) yang juga mantan agen CIA, Edward Snowden, pembocor rahasia intelijen AS yang kini bermukim di Rusia mengungkapkan di beberapa media internasional, bahwa bahwa ISIS bukan murni organisasi militan Islam. Organisasi ini merupakan bentukan kerjasama dari badan intelijen Inggris (MI6), Amerika (CIA) dan Israel (Mossad).

Badan intelijen ketiga negara itu, menurut Snowden, secara khusus menciptakan sebuah organisasi teroris yang mampu menarik semua ekstremis dunia untuk bergabung di suatu tempat. Strategi itu populer dalam dunia intelijen dengan sebutan the hornet’s nest (sarang lebah). Penciptaan ISIS itu terdapat dalam dokumen NSA yang dimiliki. Implementasi strategi sarang lebah untuk melindungi entitas Zionis di dunia, dengan menciptakan slogan-slogan keagamaan dan Islam. Dengan strategi ini, kelompok-kelompok yang merupakan musuh Israel dan sekutunya lebih mudah terdeteksi. Tujuan lainnya, untuk merawat instabilitas di negara-negara Arab.

Menurut dokumen yang dirilis oleh Snowden, disebutkan, bahwa satu-satunya solusi melindungi negara Yahudi adalah menciptakan musuh di dekat perbatasannya. Dokumen yang dibocorkan itu mengungkapkan, bahwa pimpinan tertinggi ISIS yang juga seorang ulama, Abu Bakr al-Baghdadi sepeti dikutip Moroccantimes, telah dilatih secara militer dan intensif selama satu tahun oleh Mossad. Selain latihan militer dan pengorganisasiannya, dia juga dilatih dalam masalah teologi dan seni berbicara.

Sedangkan Global Research, sebuah lembaga peneliti independen dari Canada menyebutkan, bahwa seorang pakar dalam studi oriental berkebangsaan Rusia, Vyacheslav Matuzov, mengatakan pemimpin dari Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) Abu Bakr al-Baghdadi memiliki hubungan sangat dekat dan terus bekerja sama dengan CIA. Matuzov menyatakan, “All facts show that Al-Baghdadi is in contact with the CIA and during all the years that he was in prison (2004-2009) he has been collaborating with the CIA,” katanya di Suara Radio Rusia, Selasa, 8 Juli 2014.

Dia mengatakan bahwa AS tidak perlu menggunakan drone untuk mengamati ISIL atau ISIS, karena sudah memiliki akses ke para pemimpin kelompok tersebut. Matuzov meyakini sejak komandan teroris merupakan sekutu AS, maka Washington tidak akan memerangi mereka. Mereka adalah bagian dari rencana besar dari AS.

Dalam catatan Global Reserarch, pemimpin ISIL adalah Abu Bakr Al-Baghdadi yang pernah menjadi tahanan di pusat penahanan AS, Camp Bucca di Umm Qasr, kota pelabuhan di Irak selatan, Februari 2004 hingga awal Desember 2004. Pada tahun 2006 Baghdadi kembali aktif di kawasan Irak. Baghdadi selanjutnya mengumumkan diri sebagai khalifah dari negara Islam. Beberapa informasi menyebutkan, pejuang suku Kurdi menemukan bahan makanan kemasan buatan Israel di tempat persembunyian ISIL di Mosul dan kota Kirkuk.

Beberapa laporan pengamat militer juga menyebutkan, rumah sakit milik Israel banyak merawat militan ISIL yang terluka dalam pertempuran. Bahkan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu juga melakukan kunjungan ke rumah sakit lapangan yang didirikan oleh otoritas Israel di wilayah Suriah yang diduduki ISIL, untuk mengobati pemberontak yang luka akibat bertempur dengan pasukan Suriah.

Informasi lain yang memperkuat adanya kaitan antara kelompok ISIL (ISIS) dengan CIA, disampaikan oleh pejabat Yordania. Menurut dia, anggota ISIL telah dilatih disebuah markas rahasia di Yordania oleh instruktur dari Amerika Serikat. Pada minggu pertama bulan Juni 2014 mingguan Jerman Der Spiegel menulis, bahwa militer AS telah melatih pemberontak Suriah di Yordania.

Latihan di Yordania dilaporkan terutama pada penggunaan senjata anti-tank. Majalah Jerman itu melaporkan, sebelumnya sekitar 200 orang pemberontak telah menerima pelatihan selama tiga bulan. Harian Inggris Guardian juga melaporkan, AS pada bulan Maret 2014 membantu pelatihan militer kepada pemberontak Suriah di Yordania bersama dengan instruktur Inggris dan Perancis. Kantor berita Reuters melaporkan, juru bicara Departemen Pertahanan AS menolak berkomentar langsung pada laporan majalah Jerman itu. Kementerian luar negeri Prancis dan kementerian luar negeri dan pertahanan Inggris juga tidak mau berkomentar kepada Reuters.

PENGAKUAN HILLARY

Fakta lain yang mengungkap eksistensi ISIS sebagai organisasi teroris bentukan CIA yang dilatih Mossad dan MI6 terungkap dari pengakuan mantan Menlu AS Hillary Clinton. Mantan first lady AS itu mengakui, bahwa ISIS merupakan organisasi buatan AS guna memecah belah dan membuat Timur Tengah senantiasa bergolak.

Pernyataan Hillary tersebut selain disiarkan berbagai media massa barat juga dilansir harian Mesir, Elmihwar edisi Rabu 6 Agustus 2014. Pengakuan mengejutkan itu tercatat dalam buku yang ditulis Hillary dengan judul “Hard Choice”. Mantan Menlu di kabinet Obama masa jabatan pertama itu mengaku, pemerintah AS dan negara-negara barat sengaja membentuk organisasi ISIS demi memecah belah Timur Tengah (Timteng). Hillary mengatakan gerakan ISIS sepakat dibentuk dan diumumkan pada 5 Juni 2013.

“Kami telah mengunjungi 112 negara sedunia. Lalu kami bersama rekan-rekan bersepakat mengakui sebuah Negara Islam (Islamic State/IS) saat pengumuman tersebut,” tulis Hillary.

Negara Islam tersebut, awalnya direncanakan didirikan di Sinai, Mesir, sesuai revolusi di beberapa negeri di Timteng seperti Libya dan Suriah. Namun, lanjutnya, semua berantakan saat meletus kudeta politik oleh militer di Mesir. “Kami memasuki perang Irak, Libya dan Suriah dan semua berjalan sangat baik. Namun tiba-tiba meletus revolusi 30 Juni-7 Agustus di Mesir, yang membuat segalanya berubah dalam tempo 72 jam,” ungkap istri mantan presiden AS ke-42, Bill Clinton, itu.

Akibat revolusi tersebut, tambahnya, semua rencana pembentukan Negara Islam berantakan tanpa bisa dihindari. “Kami berpikir untuk menggunakan kekuatan. Namun Mesir bukanlah Suriah atau Libya. Militer Mesir kuat. Bangsa Mesir tidak akan pernah meninggalkan militer. Jika kami gunakan kekuatan melawan Mesir, kami akan rugi. Tapi jika kami tinggalkan kamipun rugi,” lanjutnya.

Mesir, menurutnya, merupakan jantung Arab. Jika AS dan Barat dapat menguasai Mesir, maka negara-negara di Timteng lainnya dapat mudah dikuasai dengan sempurna, meski terjadi perselisihan di antara mereka. Dengan demikian sumber-sumber minyak dan laut di kawasan tersebut dapat dikuasai penuh oleh AS. Tidak hanya melempar pengakuan mengejutkan mengenai ISIS sebagai bentukan Amerika dan negara-negara barat, Hillary juga mengaku sempat mengajukan rencana pelatihan relawan anti-Bashar Assad.

Dalam memoarnya Hillary mengakui, seputar pengajuan proposal pelatihan relawan bersenjata anti-Assad dibukanya dalam wawancara video dengan harian terkemuka Inggris, The Guardian. Dalam wawancara yang disiarkan secara streaming pada 4 Juli 2014 lalu, Hillary mengaku kecewa manakala sebuah proposal pelatihan 100 ribu relawan bersenjata anti-Assad yang diajukan Jendral Sir David Richards (perwira paling senior Angkatan Bersenjata Inggris) pada tahun 2012, ditolak PM David Cameron.

“Perdana Menteri melihat (pelatihan itu) terlalu berisiko,” kata Hillary kepada The Guardian. Dia mengaku, senyampang koleganya di Inggris itu mengajukan rencana proyek tersebut, di Washington dirinya melakukan hal serupa. Hasilnya sama saja. Presiden Barack Obama juga menolak proposal Hillary yang saat itu Menlu.

“Saya kurang tahu pasti, apa yang menjadi alasan khusus penolakan proposal di Inggris. Tetapi di AS ada perdebatan, karena saya berupaya menguji coba, melatih dan mempersenjatai warga Suriah (untuk menggulingkan Assad),” kata Hillary.

Wawancara tersebut tidak menjelaskan, apakah ditolaknya kedua proposal tersebut, ada proposal lain untuk pembentukan ISIS yang kemudian disetujui pemerintah AS.

Sebagaimana diketahui, dalam memoar terbarunya,’Hard Choices’, Hillary Clinton mengaku bahwa kelompok radikal bersenjata ISIS dibentuk dan dibuat negara-negara barat, terutama AS dan Inggris.

KONTROVERSI

Dari beberapa fakta diatas, menegaskan Baghdadi ditahan di Camp Bucca AS hanya 10 bulan, Februari-Desember 2004. Selanjutnya Baghdadi diketahui kembali aktif di kawasan Irak pada tahun 2006. Sepanjang 2005 tak ada yang mengetahui keberadaan Baghdadi. Hasil analisa para pengamat politik sebagaimana dilansir Reuters, menengarai sepanjang tahun 2005 itulah Baghdadi sedang menjalani pelatihan oleh Mossad di Yordania. Saat muncul dan aktif kembali pada 2006, Baghdadi terlihat bergabung dalam organisasi Mujahidin Shura Council (MSC). Baghdadi kemudian mengubah nama MSC menjadi Negara Islam Irak (ISI). Selanjutnya pada 16 Mei 2010 menjadi pimpinan tertinggi. Selama aktif di ISI diketahui Baghdadi ikut beroperasi sebagai organisasi militant Al-Qaeda di Irak (AQI-Irak).

Kiprah Baghdadi kemudian mulai bersinar setelah ISIS melebarkan sayap ke Suriah dan melakukan serangan bom bunuh diri di Mosul pada 15 Agustus 2011. ISIS dibawah kepemimpinan Baghdadi terus melakukan serangan bom bunuh diri di Irak. Selain itu, Baghdadi mengeluarkan pernyataan akan membalas kematian Osama bin Laden yang ditembak mati Pasukan Khusus AS Navy SEALs pada 2 Mei 2011 di Abbottabad, Pakistan.

Namun, pada 4 Oktober 2011 Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan masuknya nama Baghdadi sebagai teroris global. Dia diburuh dan kepalanya dihargai 10 juta dollar AS. Pengumuman ini yang sangat menarik perhatian, karena seperti dikatakan oleh pakar Rusia Matuzov, Baghdadi adalah agen binaan CIA yang dilatih Mossad. Apakah ini merupakan upaya pengamanan agen seperti yang biasanya dilakukan badan intelijen? Biasa disebut sebagai upaya desepsi pengamanan agen agar tidak terbaca oleh counter intelligence(Kontra Intelijen) lawan.

Kiprah al-Baghdadi kemudian semakin menjadi-jadi. Pembentukan ISIS (ISIL) pada 8 April 2013 kian membangun rasa percaya diri dan anak buahnya. Dikabarkan di daerah operasi Suriah, sebagian besar milisi asing bergabung ke ISIS. Baghdadi tidak perduli, siapapun yang dianggap bertentangan akan diserangnya. ISIS ini telah mendapatkan reputasi menerapkan aturan brutal di daerah yang dikendalikan. Semua diatur dengan hukum syariat Islam yang sangat keras. Mereka yang beragama selain Islam dipaksa masuk Islam atau membayar pajak. Sebaliknya bila menolak, maka kepalanya akan dipenggal dan ditancapkan di pagar makam umum atau tempat-tempat yang dapat dilihat oleh umum.

Konflik ISIS dengan pemerintahan negara-negara di Timur Tengah kian menjadi-jadi, setelah dia mengumumkan Negara Islam versi Baghdadi, dengan jabatannya sebagai Khalifah pada tanggal 29 Juni 2014. Baghdadi mendesak umat Islam di seluruh dunia untuk pindah dan bergabung dengannya.

Kini, Islamic State bentukan Baghdadi semakin kuat. Mempunyai ribuan pasukan bersenjata, memiliki peralatan perang hasil rampasan dari pasukan Irak di Mosul. Dengan idenya membentuk negara Islam yang menerapkan syariat Islam dengan keras, disatu pihak dia tidak disukai, sementara dilain pihak dia dipuja. Sebagai contoh, di Indonesia ada kelompok yang melakukan bai’at kepada Baghdadi tidak peduli apa yang dilakukannya dan dimanapun dia berada, yang penting kata mereka, ada tokoh yang menyuarakan negara Islam dan telah membuktikan keberhasilan langkah militernya untuk menguasai sebuah negara.

Jadi memang benar, ISIS bukanlah aliran agama yang berisi ajaran teologi dan ritual keagamaan. ISIS atau faham Islamic State Baghdadi adalah gerakan politik yang bisa mengancam kedaulatan dan konstitusi negara lain. ISIS termasuk dalam kategori gerakan transnasional politik agama. Itulah sebabnya organisasi ini dinilai sangat berbahaya apabila terbentuk dan kemudian membesar. Tujuannya apabila berkembang di Indonesia hanya satu, yaitu akan merebut dan mengubah dasar negara Pancasila dan UUD 1945.

Nah, kini yang menjadi pertanyaan, apakah memang ISIS dan Abu Bakr al-Baghdadi adalah bentukan tiga badan intelijen dari tiga negara? Memang bisa diakui, keberadaan ISIS yang kemudian berkembang menjadi IS (Islamic State) telah menimbulkan konflik kepelbagai pejuru. Baghdadi telah menabrak semua pihak yang bertikai, dan ada satu dimana dia tidak terlibat, yaitu dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Disinilah point penting, pada masa mendatang kita akan melihat apakah mereka justru merupakan bemper dari Israel?=TIM

REKAM JEJAK ISIS VERSI AL-JAZEERA

2003    Tahun cikal bakal terbentuknya ISIS. Diawali dengan jatuhnya Presiden Irak Saddam Hussein.

Gerakan ISIS berawal dari gerakan Tauhid dan Jihad, sebuah kelompok teroris bentukan

pemerintah Irak, setelah jatuhnya Saddam Hussein. Kelompok ini gencar menentang invasi

pimpinan Amerika Serikat.

2006    Pemimpin Tauhid versi Takfiri, Abu Musab al-Zarqawi dari Yordania menyatakan setia kepada Al

            Qaeda–yang diduga mendukung Saddam Hussein meski kemudian mengganti nama kelompok

            menjadi ISIS. Sejak itu ISIS mulai melancarkan serangan bom kepada pemerintah Irak dan AS.

            Metode serangan ini banyak ditentang oleh orang Irak, yang sebelumnya mendukung mereka.

            Pasalnya metode mereka dianggap telah melenceng dari perjuangan nasional dan malah memicu

            perang sektarian.

2006    Pemimpin ISIS, Zarqawi, yang dikenal piawai menembakkan senapan mesin dari pinggul, tewas

            dalam serangan tentara AS. Peristiwa itu membuat Irak dan AS kegirangan. Namun, sosok baru

            muncul menggantikannya. Abu Omar al-Baghdadi terpilih memimpin ISIS. Kendati demikian,

            banyak yang mengatakan Baghdadi tetaplah orang asing yang tak pantas memimpin ISIS.

2010    Di bawah pimpinan Baghdadi sampai terbunuh oleh pasukan AS dan Irak pada tahun 2010, ISIS

            terus menyerang sektarian dan AS. Kepemimpinannya digantikan Abu Bakr al-Baghdadi, yang

            bernama asli Ibrahim Awwad Ibrahim al-Badri. Dari sinilah, serangan ISIS naik ke level internasional.

2012    Abu Bakr al-Baghdadi dikenal sebagai komandan medan perang yang memiliki strategi sangat

            cerdas. ISIS semakin hebat di bawah pimpinannya. Hingga tahun 2012, Baghdadi mengalihkan

            perhatian untuk memperluas operasi ke Suriah. Di tahun ini pula, Baghdadi menyatakan

            penggabungan ISIS dengan Front Al Nusra, kelompok yang menyatakan diri sebagai satu

            satunya afiliasi Al-Qaeda di Suriah. Namun, permintaan ISIS itu ditolak. Al Nusra menganggap ISIS

            telah melenceng dari Al-Qaeda. Pemimpin Al Qaeda, Ayman al-Zawahiri mendesak ISIS untuk

            fokus pada Irak dan meninggalkan Suriah. Sejak saat itu, tanggal 17 April 2012, ISIS menyatakan

            tidak lagi menjadi bagian Al-Qaeda. Hubungan keduanya pun memburuk hingga seringkali terlibat

            konflik bersenjata.

2014    Pada Januari 2014, ISIS kembali mengalihkan perhatian ke Irak. Serangan ISIS semakin matang

            dan terorganisir. Sejak saat itu pula, sejumlah kota seperti Falujjah, Anbar, Ramadi, dan Mosul jatuh

            di bawah kendali kelompok ini. Dari keberhasilan ini, ISIS akhirnya mendeklarasikan berdirinya

            Negara Islam pada 29 Juni 2014. Dalam sebuah rekaman suara, kelompok ini juga menyatakan

            bahwa pemimpin mereka, Baghdadi akan menjadi pemimpin bagi umat muslim di seluruh dunia.=

Wallahu’alam bish shawwab.

Dicopy dari http://sapujagat.co/pengakuan-hillary-clinton-isis-ciptaan-amerika-israel/

Jakarta, 21 Maret 2015.

Vien AM.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 65 other followers