Feeds:
Posts
Comments

Cahaya Al-Quran

Secara sederhana, dalam pengertian umum, cahaya adalah sesuatu yang membuat mata normal dapat melihat benda yang ada di depan kita. Cahaya paling akrab yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari adalah cahaya matahari dan cahaya lampu. Itu sebabnya ketika malam tiba, ketika kegelapan datang menyergap, secara otomatis kita menyalakan lampu. Sebab kalau tidak, kita tidak akan bisa melihat apapun. Dengan demikian cahaya menjadi sangat penting bagi kita semua.

Bagi pencinta fotografi, keberadaan cahaya merupakan suatu keharusan, mutlak hukumnya. Karena hanya kurang sedikit saja cahaya, kecantikan sebuah obyek foto akan berkurang . Birunya laut nan indah mempesona tetapi awan menghalanginya, maka keindahan fotopun akan sangat berkurang. Birunya laut nan indah mempesona menjadi tidak seindah biru ketika matahari bersinar cerah tanpa sedikitpun penghalang. Intinya, tanpa cahaya keindahan warna adalah tiada. Tanpa cahaya hidup menjadi kelabu. Cahaya adalah sumber keindahan, sumber kehidupan, sumber kebahagiaan.

Begitupun wajah manusia. Secantik apapun seorang perempuan tanpa cahaya yang memancar dari dalam dirinya, pasti nilai kecantikan tersebut akan sangat berkurang. Sebaliknya seorang perempuan bersahaja namun memiliki cahaya dalam dirinya pasti akan jauh lebih menarik. Iniah yang dinamakan Inner Beauty. Pertanyaannya, cahaya yang bagaimana dan bagaimanakah caranya agar kita mendapatkan cahaya Inner Beauty tersebut ? Karena kita ini buatan Allah Azza wa Jalla maka sudah sewajarnya bila yang kita buka adalah Al-Quranul Karim …

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an)”.(QS. An-Nisa(4):174).

“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu ( Muhammad) supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.(QS.Ibrahim(14):1).

Ya, Al-Quranul Karim itulah cahaya yang kita cari. Tentu saja yang dimaksudkan disini bukan Al-Quran sebagai kitab, lembaran-lembaran buku secara fisik. Namun isinya. Kumpulan ayat berisi perintah, larangan dan berbagai informasi dari Sang Khalik yang disampaikan malaikat Jibril as 14 abad silam kepada Rasulullah saw selama kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari ini sebenarnya adalah sebuah cahaya yang sungguh tak terhingga nilainya. Dengannya seseorang tidak akan tersesat, terjatuh atau tersakiti. Dengannya seseorang dapat berjalan tegap melintasi badai, angin dan topan. Dengannya ia akan merasakan kebahagiaan hakiki.

Al-Quran adalah kitab berisi ayat-ayat suci yang harus diamalkan. Meski dengan hanya membaca, mendengar dan menyimaknya, walau hanya 1 huruf, Allah swt menjanjkan pahala yang besar, namun tanpa pengamalan cahaya tersebut tidak akan berfungsi secara maksimal.

Ibn Mas’ud ra berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka mendapat Hasanat/ kebaikan dan tiap Hasanat mempunyai pahala berlipat sepuluh kali. Saya tidak berkata: Alif lam mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”.(HR. Attirmidzy).

Cahaya Al-Quran adalah hidayah dari Sang Pencipta. Namun tidak seperti sinar matahari atau cahaya bulan yang dapat terhalang oleh sesuatu; awan, gunung, bangunan, topi dll, cahaya Al-Quran tidak mungkin dihalangi dan terhalangi oleh apapun, kecuali oleh hati yang benar2 kotor. Itulah buruk sangka..

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku”. (Muttafaqun alaih).

Manusia diciptakan dari tanah hitam kering yang kemudian dibentuk oleh-Nya. Ruh atau nur alias cahaya-Nya ditiupkan pada usia sekitar 3 atau 4 bulan kehamilan ibunya. Kehamilan ini akan terus disempurnakan hingga mencapai 9 bulan 10 hari.

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.(QS.Shad(38):71-72).

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh … (HR.Bukhari Muslim)

Maka ketika bayi lahir ke dunia, akibat nur-Nya inilah, setiap bayi itu bersih tanpa dosa setitikpun. Sifat-sifat Ilahiah seperti sifat pemaaf, penyayang, penolong, pemurah dll, mewarnai hati bayi yang baru lahir ini. Berbekal hati yang sebening kaca inilah cahaya Al-Quran mudah masuk meresap ke dalam hati seorang anak manusia yang rajin membaca Al-Quran, mengkaji, menghafal dan mengamalkannya. Hingga dengan demikian terpancarlah cahaya sejuk dari dalam dirinya.

Sebaliknya hati yang kotor, yang penuh syak wasangka, cahaya Al-Quran sulit untuk masuk, kecuali atas kehendak-Nya. Syak wasangka adalah bisikan syaitan yang amat jahat. Itu sebabnya Allah swt mengajarkan untuk membaca ta’awudz sebelum membaca ayat-ayat-Nya.

Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”.(QS.An-Nahl(16):98-99).

Jadi hati itu sifatnya bagaikan cermin. Bila hati bersih maka pantulan cahayanya juga bersih. Dan bila hati kotor maka pantulan cahayanyapun kotor. Cahaya inilah yang memberi warna wajah dan tubuh kita. Dampak dari pelaksanaan rukun Islam yang 5 seperti syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji yang didirikan atas dasar ketakwaan, akan terlihat, menjema menjadi insan yang ber-ahlak yang mulia, Ahlakul Khorimah. Insan yang pandai menjaga tangan, lidah dan hatinya dari perbuatan jahat, kotor dan keji. Sehingga kehidupannya di dunia akan tentram dan damai. Ini baru dampak di dunia.

” … … Rasulullah kemudian bersabda, Umatku nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi, kedua tangan dan kaki karena bekas wudhu mereka.” (HR Muslim).

Pada ayat 11 hingga 15 surat Hadid berikut ini dikisahkan bahwa Allah swt akan menganugerahkan cahaya yang bersinar di depan dan samping kanan orang-orang Mukmin, laki-laki maupun perempuan, yang mau meminjamkan pinjaman yang baik kepada-Nya. Pinjaman ini adalah perumpamaan bagi seluruh amal kebajikan yang dikerjakan orang-orang Mukmin dengan niat mencari ridho Sang Khalik.

Siapa yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak, (yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mu’min laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka):

“Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak”.

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman:

“Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”.

Dikatakan (kepada mereka):

“Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”.

Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mu’min) seraya berkata:

“Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?”

Mereka menjawab:

“Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali”.

Di akhirat nanti, cahaya tersebut akan menerangi kubur orang Mukmin, menolong perjalanannya menyeberangi jembatan Shiratal Mustaqin serta membelanya pada pengadilan hari akhir nanti. Cahaya ini akan sangat kita butuhkan karena pada hari Kiamat, hari dimana bumi digoncangkan dengan sekencang-kencangnya goncangan, Allah Azza wa Jalla akan membenturkan matahari yang selama ini menjadi sumber cahaya bumi, dengan bumi itu sendiri. Maka pada hari itu, bumi akan menjadi rata dan gelap gulita.

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”.(QS. Al-An’am(6):122).

Sementara ayat 14 – 20 surat Al-Baqarah dibawah menerangkan bagaimana nasib orang Munafik di alam akhirat nanti.

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan:

“Kami telah beriman.”

Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan:

“Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).

Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Demikianlah Allah swt menurunkan Al-Quran sebagai cahaya bagi orang-orang yang mau menjadikannya pelindung, petunjuk, pembeda ( antara jalan yang benar dan sesat) serta penerang bagi kehidupan baik dunia maupun akhiratnya. Ironisnya, ada saja orang yang bersikeras memilih syaitan sebagai pelindung mereka. Itulah orang-orang yang kafir, orang-orang yang diperbudak oleh hawa nafsunya, yang merasa cukup senang dan puas dengan kehidupan dunianya yang kelihatannya gemerlap, padahal menipu dan hanya sesaat. Sebuah fatamorgana yang menuju pada kegelapan total, tanpa secuilpun cahaya penerang. Kegelapan mencekam ini akan berakhir di neraka jahanam dengan api abadinya yang panas membara, yang membakar dari ujung kaki hingga ubun-ubun orang yang mendustakan-Nya. Na’udzubillah min dzalik.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.(QS.Al-Baqarah(2):257).

Wallahu’alam bish shawwab.
Jakarta, 8 Juni 2012.
Vien AM.

Mengenal Al-Quranul Karim

Al-Quran adalah kitab suci milik  kaum Muslimin. Kitab ini berisi firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw melalui malaikat Jibril as. Kitab ini  merupakan panduan hidup yang memberitahukan manusia apa arti hidup, mengapa kita hidup, apa tujuannya, kemana kita akan pergi setelah mati, siapa yang menciptakan kita, bagaimana kita harus menghadapi hidup dan segala macam permasalahannya dan lain sebagainya.

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini?” (QS.Al-Waqiyah(56):75-81).

Berkenaan dengan ayat diatas, Ad-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : ”Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh  Mahfuz, melalui duta-duta malaikat  penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula oleh Jibril as kepada Rasulullah saw  secara berangsur-angsur  selama 23 tahun”. (22 tahun, 2 bulan 22 hari). Itu pula yang ditafsirkan Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah.

Ayat diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad saw sedikit demi sedikit berdasarkan situasi, seringkali turun sebagai jawaban atas suatu permasalahan dengan hikmah tertentu. Oleh sebab itu turunnya ayat tidak berurutan. Yang dimaksud ” tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” adalah Al-Quran yang berada di Lauh Mahfuz. Sedangkan Al-Quran yang ada di dunia, yang jumlahnya  tak terhitung banyaknya ini dapat disentuh oleh semua orang, baik Muslimin yang suci maupun yang tidak suci juga orang-orang Kafir.

Selanjutnya dengan petunjuk Jibril as, setiap ayat yang turun diletakkan dan diatur sesuai dengan Al-Quran yang berada di Lauh-Mahfuz. Jadi bukan atas kehendak Rasulullah saw. Adapun tentang adanya perbedaan jumlah ayat dalam Al-Quran, hal ini disebabkan adanya pengulangan. Hitungan 6236 ayat adalah hitungan tanpa memperhitungkan pengulangan ayat yang ada, sedangkan 6666 ayat adalah bila dihitung semua ayat-ayatnya.

Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab sesuai dengan utusan yang membawanya, yaitu Rasulullah Muhammad saw, sebagian di Makkah dan sebagian lainnya di Madinah. Ayat yang diturunkan di Makkah dinamakan ayat Makiyyah sedangkan yang diturunkan di Madinah disebut ayat Madaniyyah. Ayat Makiyyah biasanya pendek-pendek, menerangkan tentang aqidah dan keimanan  sedangkan ayat Madaniyyah panjang-panjang dan pada umumnya mengajarkan tentang hukum. Disamping itu ayat Al-Quran juga bisa dibagi  atas 2 macam kelompok, yaitu kelompok ayat Mutasyabihat dan ayat Muhkamat.

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”(QS.Ali Imraan(3):7).

Dari ayat diatas kita ketahui bahwa ayat Mutasyabihat adalah rahasia Allah yang tidak mungkin dapat kita artikan secara pasti. Kita hanya diperintahkan untuk mengimaninya saja, tidak perlu mencari-cari maknanya. Contoh ayat ini diantaranya adalah : Alif Laam Miim, Alif Laam Raa,Yaasiin, Shot dan sebagainya.

Al-Quran terdiri atas  114 surat dan dibagi menjadi 30 juz / bagian. 19/30 bagiannya turun di Makkah. Surat pertama adalah surat Al-Fatihah yang berarti Pembukaan. Surat ini merupakan inti Al-Quran, ia adalah satu-satunya  surat yang wajib dibaca umat Islam ketika shalat. Sedang surat terakhir adalah surat An-Naas yang berarti Manusia.  Al-Quran  ini dijamin kesuciannya, ia tidak akan mengalami perubahan hingga akhir zaman. Kandungannyapun dijamin akan selalu sesuai pada segala zaman. Allah juga berjanji akan memudahkan siapa yang mau mengimaninya,  membacanya, menghafalkannya apalagi mengamalkannya.

Ali ra mengatakan :” Barangsiapa yang membaca Al-Quran dalam keadaan berdiri saat shalat, baginya setiap huruf 100 hasanah. Barangsiapa membacanya sambil duduk dalam shalat,  baginya setiap huruf 50 hasanah. Barangsiapa membacanya di luar shalat dalam keadaan berwudhu,  baginya setiap huruf 25 hasanah. Dan barangsiapa membacanya tanpa wudhu,  baginya setiap huruf 10 hasanah”.

Jadi sungguh beruntung orang yang mengerti betapa tinggi kedudukan membaca Al-Quran walaupun ia tidak faham. Karena hikmah yang paling utama adalah dalam rangka membersihkan dan menenangkan  hati. ( Baca juga :http://vienmuhadi.com/2009/10/20/why-do-we-read-quran-even-we-cant-understand-arabic/ ).

“ Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya”.QS. Az-Zumar (39): 23).

Apalagi bila kita memahami, meyakini dan kemudian mengamalkannya. Inilah yang  lebih utama.

“ Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka  dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.  Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”.( QS. Al-Baqarah (2):2-5).

“ Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ”. (QS. Al-A’raf (7): 204).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 15/5/2008

Vien AM.

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.(QS. AL Hijr (15):9).

Firman Allah swt diatas direalisasikan melalui empat tahapan berikut :

I. Pada masa Rasulullah Muhammad saw.

Bangsa Arab pada masa-masa  turunnya Al-Qur’an walaupun sebagian besar masih buta huruf adalah bangsa yang sangat kuat daya ingatnya. Sejak dulu mereka  menyukai syair dan puisi. Oleh karenanya mereka sangat menghargai para pujangga dan penyair. Mereka juga terbiasa merekam peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka seperti peperangan, peristiwa alam dan sebagainya dalam bentuk syair-syair yang indah yang kemudian  dihafalnya. Masa haji adalah masa dimana banyak orang berdatangan untuk memamerkan kebolehan mereka bersyair. Pesertanyapun beragam, mereka datang dari segala penjuru tanah Arab.

Dengan cara ini pula Al-Qur’an mulanya dipelihara. Para sahabat akan  berlomba menghafal begitu ayat turun. Disamping itu, Rasulullah saw juga memerintahkan beberapa sahabat yang dapat menulis agar segera menuliskan ayat-ayat tersebut  ke atas ’kertas’. Kertas ( al-qirthas) yang ada saat itu tidaklah sama dengan kertas yang ada sekarang ini. Kertas yang  dimaksud pada masa itu adalah benda atau bahan yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk ditulis diatasnya, seperti kulit binatang, daun, batu yang tipis dan licin, tulang binatang dll.

Dengan petunjuk Jibril as, Rasulullah kemudian menerangkan sekaligus mengatur tertib urutan ayat-ayat yang turun tersebut. Untuk menghindari kesalahan Rasulullah melarang keras menuliskan  apa yang selain ayat Al-Qur’an. Rasulullah dengan jelas menerangkan dan memisahkan antara ayat Al-Qur’an, hadis Qudsi dan  hadis. Sekali setahun Jibril as melakukan pengecekan terhadap ayat-ayat yang telah diturunkan sekaligus mendengarkan kebenaran hafalan Rasulullah. Bahkan  pada tahun wafatnya Rasulullah pengecekan dilakukan 2 kali.  Hal yang sama dilakukan Rasulullah. Secara berkala beliau memeriksa hafalan dan apa yang telah ditulis para sahabat. Rasulullah menganjurkan agar ayat-ayat tersebut selalu dibaca, dihafal dan disunahkan membacanya ketika shalat kecuali surah Al-Fatihah yang wajib dibaca.

 Dengan cara seperti itu makin waktu makin banyak orang yang hafal ayat Al-Qur’an. Sebagai penghargaan dan untuk memotivasi mereka Rasulullah bersabda : ” Di akhirat nanti tinta para ulama akan ditimbang dengan darah syuhada ”. Allah  berfirman:” Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”. (QS. Al-Qalam (68):1).  Bahkan pada masa peperangan tawanan yang tidak mampu menebus dirinya dengan uang tetapi pandai baca – tulis, sebagai ganti mereka diwajibkan mengajar menulis dan membaca sepuluh orang Muslim. Disamping itu Rasullah juga sering mengirim  utusan dan sahabat untuk mengajarkan ayat-ayat Al-Quran ke tempat dimana ajaran Islam baru masuk.

Dengan demikian ketika Rasulullah wafat kurang lebih 12 tahun setelah hijrah, seluruh ayat-ayat Al-Qur’an telah selesai dituliskan oleh para sahabat. Bahkan telah dihafal oleh ribuan manusia.  Maka selesai pulalah tugas Rasulullah. Tidak ada lagi satupun ayat yang turun. Ajaran Islam  telah selesai dengan sempurna sesempurna kitabnya, Al-Quran.

II.Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ra.

Tak lama sesudah wafatnya Rasulullah banyak orang Islam yang murtad, terutama di Nejed dan Yaman. Mereka bahkan menolak  kewajiban membayar zakat yang sebelumnya biasa mereka setorkan ke Madinah. Disamping itu banyak pula orang yang mengaku-ngaku dirinya sebagai nabi dan utusan Allah. Terlihat jelas bahwa keimanan dan pengetahuan mereka akan ajaran Islam masih sangat dangkal.

Hal ini dihadapi Abu Bakar sebagai khalifah pertama dengan tegas. Ia khawatir bila fenomena tersebut dibiarkan akan diikuti oleh yang lain. Setelah tidak dapat diperingatkan secara halus maka Abu Bakarpun mengirimkan pasukan untuk memerangi mereka. Terjadilah  perang yang dikenal dengan nama Perang Yamamah. Dalam perang ini 70 orang penghafal Al-Quran ikut gugur.

Oleh karenanya, Umar bin Khatab menjadi sangat khawatir. Ia lalu menganjurkan Abu Bakar agar mengumpulkan Qur’an yang ada di tangan para sahabat. Mulanya Abu Bakar menolak dengan dalih mengapa harus mengerjakan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah. Namun setelah terus didesak dengan berbagai alasan kebaikan akhirnya Abu Bakar menyetujuinya. Iapun segera memanggil Zaid bin Tsabit, seorang sahabat yang pada masa Rasulullah selalu ditugasi menulis wahyu yang turun. Mulanya ia juga menolak tetapi setelah diajukan alasannya maka iapun menyetujuinya pula.

Kemudian ia segera mengumpulkan seluruh ayat-ayat yang tertulis di daun, pelepah kurma, batu, tulang unta dll. Namun sekalipun ia hafal seluruh ayat secara berurutan sesuai ajaran Rasulullah ia tetap merasa perlu adanya saksi dalam pelaksanaan tugas suci dan berat tersebut. Iapun mencocokkan hafalannya dengan sahabat-sahabat kepercayaan yang baik hafalannya. Setelah itu dengan sangat hati-hati dan teliti disaksikan 2 orang saksi ia menyalin ulang kumpulan ayat-ayat tersebut dan mengikatnya menjadi satu menjadi sebuah mushaf.

Kemudian mushaf diserahkan dan disimpan Abu bakar hingga beliau meninggal. Selanjutnya mushaf disimpan Umar bin Khatab sebagai khalifah penerus Abu Bakar. Sesudah beliau juga wafat, mushaf disimpan di rumah Hafsah, putri Umar hingga tibanya masa Usman bin Affan membukukan Al-Qur’an.

III.Pada masa khalifah Usman bin Affan

Pada masa ini umat Islam telah tersebar ke berbagai penjuru, dari Armenia dan Azerbaijan di sebelah timur hingga Tripoli di barat, dari Yaman di sebelah selatan  hingga perbatasan sungai Yarmuk di Syria. Umat Islam dimanapun berada selalu tergantung pada ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka memang terus  menghafalnya dan banyak yang menyimpan naskah yang masih tertulis di atas daun-daunan dan sebagainya. Cara membaca merekapun beragam sesuai dengan daerah dan dialek masing-masing. Hal ini tidak terlepas dari pengamatan para sahabat yang pernah hidup bersama Rasulullah dan mendapatkan pengajaran langsung dari  beliau. Mereka khawatir bila keadaan seperti itu terus dibiarkan, akan mengakibatkan perselisihan dan perdebatan yang berkepanjangan hingga dapat merusak persatuan umat.

Oleh karenanya Usman bin Affan sebagai pemimpin dan penanggung-jawab umat, ia segera meminta Hafsah untuk memberikan mushaf yang disimpannya. Kemudian Usman membentuk panitia yang terdiri dari Zaid bin Tsabit sebagai ketua, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdulrahman bin Harits bin Hisyam. Tugas mereka adalah membukukan Al-Quran berdasarkan mushaf yang disimpan sejak Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Sementara itu lembaran-lembaran, dedaunan dan segala yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an  harus dibakar.

Buku yang ditulis oleh panitia diatas ada 5 buah dan disebut Al-Mushaf. Buku-buku ini dikirim masing-masing ke Mekah, Syria, Basrah dan Kufah. Sedang satu  yang disimpan di Madinah dinamai Mushaf Al-Imam. Dengan mencontoh  ke 5 mushaf ini kemudian Al-Qur’an disalin, dicetak dan disebarkan ke seluruh pelosok negri di dunia ini.

IV.Pada masa sekarang.

Di Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, contohnya di Mesir, sekolah-sekolah Awaliyah mewajibkan murid-muridnya hafal Al-Quran bila ingin meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di Indonesia hal ini hanya berlaku di sekolah-sekolah tertentu,  pesantren dan madrasah. Pada peringatan Nuzulul-Quran dan 1 Muharam  umat Islam terbiasa mengadakan lomba membaca Al-Quran ( Tilawatil Qur’an). Ini juga adalah salah satu bentuk pemeliharaan Al-Qur’an. Sedangkan untuk menjaga kemurnian Al-Quran yang diterbitkan di Indonesia ataupun yang didatangkan dari luar negri, pemerintah cq Departemen Agama mempunyai panitia yang bertugas memeriksa Al-Qur’an yang akan dicetak dan diedarkan.

Walahu’alam bishshawab.

Jakarta, 15/5/2008

Vien AM.

Ramadhan 1435 H telah berakhir, harapan tambahan selain agar Allah swt menerima amal ibadah ini, adalah semoga serangan brutal Zionis Israel ke Gaza yang telah dimulai pada awal bulan suci tersebut juga usai sudah.  Namun nyatanya hingga hari ini, memasuki minggu akhir bulan Syawal, keganasan pasukan penjajah tersebut masih juga terjadi.

Ntah berapa kali sudah genjatan senjata yang diprakasai Mesir diberlakukan, tanpa hasil memuaskan. Tuntutan utama HAMAS agar blokade yang telah berlangsung sejak tahun 2006 dibuka diabaikan begitu saja oleh Israel. Ini yang menyebabkan HAMAS nekad untuk meneruskan perlawanannya meski mereka telah habis-habisan.

Bayangkan, lebih dari 2000 nyawa telah melayang, 400 an diantaranya anak2, lebih dari 10 ribu  terluka,  ratusan ribu warga Gaza terpaksa mengungsi, ribuan rumah, ratusan bangunan seperti sekolah, masjid, pasar hancur, bahkan rumah sakit dan pembangkit listrikpun tak luput dari amukan tentara penjajah Israel. Tidakkah pengorbanan ini sudah lebih dari cukup untuk sekedar membebaskan mereka dari blokade yang menyengsarakan rakyat selama bertahun-tahun ??   

Tak heran jika kemudian roket-roket HAMASpun melayang hingga ke pusat kota Telaviv meski tidak sampai mencederai seorangpun karena Israel telah mengantisipasinya dengan Iron Dome. Iron Dome adalah sistim penangkal roket yang dbiayai pemerintah AS sebagai sekutu terdekat Israel terlaknat. 

Israel tidak akan aman selama rakyat Palestina juga dibuat tidak aman”, demikian pernyataan salah seorang pejabat Hamas, memperingatkan.

Namun tanpa rasa bersalah sedikitpun Israel membalas kekecewaan rakyat Gaza itu dengan kembali memborbardir kota yang sudah luluh lantak itu.  Hanya dalam waktu 2 hari berturut-turut paska genjatan senjata terakhir mereka telah menewaskan 30 orang lagi termasuk seorang bayi dan 7 anak serta 120 orang terluka. Dengan pongah Netanyahu, perdana mentri negara Zionis itu menyatakan bahwa ia akan melanjutkan gempuran terhadap Gaza (HAMAS) bahkan bila harus bertahun-tahun. Dan yang juga menyedihkan Amerika Serikat, si polisi dunia itu, juga menyalahkan HAMAS.

Tetapi yang paling menyedihkan, tak ada satupun negara Islam ( Timur Tengah) yang secara nyata mau membantu HAMAS ( Palestina). Persaudaraan dan ikatan sesama Muslim yang merupakan kekuatan Islam tampak jelas telah hilang menguap ntah kemana.

“Tidaklah sempurna iman seseorang dari kalian,sehingga dia mencintai saudaranya(sesama islam) sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri “ (HR. Bukhari).

“Perumpamaan orang Islam yang saling mengasihi dan mencintai satu sama lain adalah ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dan tidak bisa tidur “(HR. Bukhari).

Nasib umat Islam saat ini memang benar-benar berada di titik terendah. Apapun yg dilakukan umat Islam selalu salah. Islam telah menjadi bulan-bulanan kaum kafir. Nyata benar bahwa Islam telah kehilangan giginya. Sejak jatuhnya kekhalifahan Turki Ottoman ditahun 1924 hingga saat ini, tak ada satupun negara Islam yang mempunyai pengaruh dan didengar dunia internasional. Parahnya lagi, malah label teroris yang kuat melekat di tubuh Islam !

Ini semua sebenarnya tidak lepas dari adanya  Ghawzl Fikri ( perang pemikiran) yang digarap Barat secara rapi.

(Baca : http://vienmuhadi.com/2009/03/06/perang-pemikiran-al-ghazwl-fikri/,

http://www.voa-islam.com/read/liberalism/2014/02/19/29151/ghazwul-fikrstrategi-musuh-islam-menghancurkan-kaum-muslimin-dari-akarnya/#sthash.L3ov3LYy.dpbs ).

Dengan berbagai cara umat Islam di pecah belah dan di adu domba. Generasi muda dibuat tidak percaya diri akan keislamannya, mereka diming-imingi hiruk pikuk dan gegap gempitanya nikmat duniawi. Demokrasi, HAM dan toleransi sengaja diangkat dan dibesar-besarkan untuk memojokkan persatuan dan persaudaraan Islam. Nilai-nilai Islam yang luhur seperti jihad dalam perang, jilbab dan juga ciri-ciri Islam lain seperti jenggot sebagai sunnah nabi dll diangkat sedemikian rupa agar umat Islam menjadi alergi dan rela meninggalkannya.

Lalu lahirlah pemikiran-pemikiran nyleneh  Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme.   lronisnya, pengikut faham ini justru sebagian kaum intelektual  Muslim ! Meski sejatinya tujuannya demi  menghlangkan cap teroris yang sengaja diciptakan musuh-musuh Islam.

Pernyataan mantan presiden AS George W Bush “Either you are with us or you with the terrorists” tak lama setelah tragedi 911 memperjelas sikap permusuhan Barat terhadap Islam. Ketakutan Barat terhadap Islampun ( Islamophobia) semakin menjadi-jadi.

Perang psikologi ( psywar) yang dilontarkan Barat ini nyata-nyata jauh lebih effektif dari pada perang fisik yang terbukti memakan biaya dan pengorbanan yang sangat mahal. Apalagi mereka tahu persis bahwa  para mujahid yang gagah berani melawan kekuasaan mereka tak pernah mengenal rasa takut, karena keyakinan syahid, masuk surga, adalah balasannya.

Inilah yang kemudian mereka manfaatkan.  Al-qaeda yang dicurigai merupakan bentukan AS, disusul ISIS ( Islamic State Irak Syria) yang baru saja lahir  ini disiapkan untuk menampung semangat jihad pemuda Islam yang sedang menggebu-gebu. Untuk diketahui,  ISIS adalah organisasi yang muncul secara tiba-tiba, dengan kekuatan besar dan persenjataan lengkap.

( Baca :  http://indocropcircles.wordpress.com/2011/12/04/al-qaeda-organisasi-ciptaan-amerika/

http://www.lensaindonesia.com/2014/08/04/isis-ternyata-bentukan-amerika-serikat-israel-dan-inggris.html ).

ISIS yang lahir di Suriah, awalnya muncul memihak dan membantu umat Islam Sunni yang dibantai Syiah pimpinan presiden Bashar Assad. Sepintas memang terlihat heroik. Betapa tidak, 3 tahun sudah Sunni Irak dibantai habis-habisan tanpa satupun pihak yang mau membantu. Tercatat 170 ribu orang tewas termasuk anak-anak dan 2 juta lebih penduduknya terpaksa meninggalkan tanah air mereka tercinta, menjalani hidup sebagai pengungsi di negara-negara tetangga mereka.

Maka tak heran jika kedatangan tentara ISIS yang menggunakan bendera bertuliskan “La illaha illa Allah, Muhammad Rasulullah” dalam huruf hijaiyah ini ( meski dengan susunan yang agak ganjil) langsung menarik banyak simpati dan pengikut. Apalagi kita tentu tahu bahwa di akhir zaman nanti fenomena seperti ini memang akan datang. Imam Mahdi, sang khalifah Islam yang gagah berani namun santun sebagaimana sifat Rasulullah Muhammad saw akan datang menyelamatkan dan mengharumkan nama Islam yang sedang hancur.

“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi),  maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah  Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud 4074)

Namun benarkah Abu Bakar Bagdady, sang pemimpin ISIS yang mengklaim negaranya sebagai kekhalifahan Islam itu mencerminkan dirinya seperti Rasulullah saw? Yang bahkan ketika berperangpun berlaku santun, menghormati kaum perempuan, anak bahkan lingkungan alam sekitar kaum yang diperanginya??

“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR abu Dawud 9435).

( Baca tentang ciri-ciri Imam Mahdi :  http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/tanda-tanda-kemunculan-imam-mahdi.htm#.U_tOO8WSxe4 )

Nyatanya, ISIS yang semula memerangi Syiah dan membantu Sunni, belakangan ternyata juga membunuhi Sunni, disamping membunuh, mengusir dan menakuti-nakuti tidak saja orang-orang yang berlainan agama namun juga kaum perempuannya dan anak-anak mereka.        

Hal lain, bila memang ISIS adalah kekhalifahan sebagaimana yang diprediksi Rasulullah ribuan tahun lalu, mengapa ia tidak tergerak untuk membantu rakyat Palestina yang tertindas? Gaza yang saat ini porak poranda karena serangan brutal Zionis Israel yang sejatinya adalah pasukan Dajjal, musuh utama Imam Mahdi??   

Maka tak heran bila akhirnya negara-negara Islam menyatakan bahwa ISIS adalah sesat, termasuk MUI. Bahkan Imam besar Arab Saudi, Sheikh Abdul Aziz al-Sheikh dengan tegas mengatakan bahwa organisasi tersebut adalah Khawarij. Yaitu orang-orang yang berlebihan dalam mengartikan ayat-ayat suci Al-Quran sebagaimana musuh Islam di zaman Rasulullah dan para sahabat.

Patut kita cermati, PM Israel Netanyahu, beberapa hari  yang lalu, dbawah kawalan ketat tentaranya, untuk yg kesekian kalinya berkunjung ke Masjidil Aqsho. Dan untuk mengantisipasi kunjungan orang no  1 negri Zionis ini kaum Muslimin yg berumur diantara 18-50 tahun dilarang memasuki kawasan ini. Hal yang sebenarnya sudah berlaku sejak beberapa tahun lamanya. Menjadi pertanyaan besar, apa sebenarnya maksud kedatangannya ini ??? 

Hal lain yang mungkin lolos dari pengamatan dunia internasional. Selama gempuran dasyat Zionis ke Gaza yang sudah berlangsung lebih dari sebulan dengan meninggalkan kerusakan dasyat , tidak terdengar sama sekali adanya reaksi dari saudara/i seiman di Tepi Barat. Sesuatu yang agak mengherankan. Betulkah mereka memang tidak peduli akan penderitaan saudara/i mereka itu? Apa yg sebenarnya terjadi ?? 

Belakangan beredar berita, ternyata pasukan Zionis menangkapi para pemuda yang bahkan cuma demo menentang   agresi tersebut. Untuk diketahui Tepi Barat ( dan juga jalur Gaza)  sejak beberapa tahun ini memang tidak berdaya menghadapi penjajah sadis tersebut. Tembok besar layaknya tembok aperteid sepanjang 760 km telah dibangun, memisahkan dan mengucilkan warga Arab dari warga asli Yahudi.  Membuat orang-orang Arab- Palestina bak tinggal di ghetto-ghetto yang dulu dibangun Nazi untuk orang Yahudi di Eropa.    

(Baca:

http://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/14/08/22/naoz8844-760-km-tembok-apartheidisrael 

http://mthalhah.blogspot.com/2010/12/tembok-apartheid-zionis-israel.html )

http://dunia.news.viva.co.id/news/read/131551-tembok_di_yerusalem_perkuat_kisah_di_alkitab).

Dari sini dapat disimpulkan,  rentetan kejadian memilukan yang terjadi di dunia Islam saat ini  sebenarnya adalah pengalihan perhatian Zionis Israel dalam membangun kuil kuno Yahudi yang mereka klaim ada dibawah kompleks Haram As-Syarif, yaitu Masjidil Aqsho dan Masjid As-Saqroh, masjid suci ke 3 kaum Muslimin. Di dalam kuil Yahudi itulah mereka akan menyambut kedatangan pemimpin besar mereka, yaitu Dajjal, si mata satu, yang gambarnya sejak lama telah menghiasi lembaran 1 US dollar.       

Jadi jelas sudah gempuran brutal Zionis Israel ke Gaza dan tekanan Barat ke Palestina serta negara-negara berpenduduk mayoritas Islam, sejatinya adalah juga pertempuran antar agama, bukan sekedar politik demi kekuasaan dan kekayaan (  minyak dll) sebagaimana yang sering diklaim merelka yang tidak ingin melihatnya sebagai perang agama/ideologi. Ini adalah fenomena akhir zaman yang tidak mungkin kita hindari. Pertarungan antara kebathilan/kezaliman melawan kebaikan/keadilan sesuai fitrah manusia.

Islam adalah rahmatan lilalamiin, rahmat bagi semesta alam. Adalah tugas manusia yang beriman kepada Tuhannya,  Allah swt  untuk menjaga kelestarian alam ciptaan-Nya, menjaga keadilan dan ketenangan hidup sesama demi ketaatan dan syukur kepada Sang Pencipta.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah(2):257).

Satu hal penting yang patut menjadi catatan, alangkah meruginya seorang Muslim yang tidak mau mempercayai hadist sementara sebagian ahli kitab mempercayai bahkan mempelajari nubuwah tersebut meski dengan tujuan untuk menghancurkan Islam itu sendiri. Ini terlihat dari cara mereka memandang fenomena akhir zaman yang ternyata tidak jauh berbeda dengan ajaran mereka.   

Dari Thauban r.a., bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”

Diterangkan bahwa penyebabnya adalah Wahn yaitu penyakit cinta dunia yang berlebihan, hingga lupa akan kehidupan akhirat. 

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 25 Agustus 2014.

Vien AM.

Note: Mesir mengumumkan berlakunya genjatan senjata permanen mulai Selasa, 26/8/2014, pukul 19.00 waktu Gaza. Dikabarkan HAMAS bersedia ,menerima tawaran tersebut karena Israel bersedia membuka blokade 8 tahun Gaza, meski pada tahun 2012 tawaran tersebut juga pernah terjadi.

Ironisnya, esok harinya, Rabu, 27/8, tentara Israel kembali menangkapi, menculik dan memenjarakan penduduk sejumlah kota di Tepi Barat yang ikut bergembira bersama warga Gaza merayakan kemenangan tersebut. 

REPUBLIKA.CO.ID, Jika tidak meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai bank dan mendalami ketertarikannya di dunia fotografi, Lisa Vogl mungkin tak akan menemukan cahaya Islam.

Begitulah alur perkenalan perempuan 31 tahun ini dengan agama samawi ini. Berniat membuat tugas videografi tentang jilbab, Lisa justru tertarik mendalami Islam. Padahal, Lisa begitu akrab disapa, besar dalam keluarga Kristiani. Secara keseluruhan, keluarga tidak terlalu religius, tapi ibu Lisa sangat memerhatikan spiritualitas. Seperti itulah Lisa dibesarkan.

Ia menuturkan kisah perjalanan hidupnya. Saat berusia 18 tahun, Lisa masuk kampus perempuan, Chatham College, Pittsburgh, Negara Bagian Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia memilih aktif di klub softball. Setahun pertama berkuliah, ia lantas memilih cuti selama satu tahun. Ia sempat magang di beberapa tempat, antara lain, Disney World, sembari bekerja di tempat lain.

Dari uang yang ia kumpulkan, sosok yang besar di East Lansing, Michigan, AS, ini melancong ke berbagai wilayah dunia untuk mengenal aneka budaya. Tak disangka, perjalanan yang dilakukan sulung dari enam bersaudara ini tak hanya meninggalkan kesan tentang budaya bangsa lain, tapi juga cahaya Islam di hatinya.

Maroko menjadi destinasi petualangannya. Selama berada tiga bulan di Maroko, ia tinggal bersama warga lokal di ruangan dengan luas sekitar 200 meter persegi. Mereka makan dan tidur di ruangan yang sama. Tak ada air panas, tak ada kamar mandi yang memadai. Untuk bertahan hidup, ia mengajar bahasa Inggris di American Language Center. Di sinilah titik balik kehidupannya bermula. Maroko merupakan pengalaman paling menakjubkan dan berkesan dalam hidupnya.

Sadar atau tidak, perjalanan Lisa ke Maroko itu pulalah yang turut menyumbang pandangannya soal perempuan di masyarakat. Kesan itu ia tuangkan ketika menulis ihwal perempuan dan eksploitasinya di dunia Barat sebagai tugas wajib akhir kuliah.

Berhenti

Lulus kuliah, ia mendapat pekerjaan di sebuah bank di Chicago. Meski ia tidak tahu bekerja dengan sistem berbunga adalah haram dalam Islam, ia merasakan kebimbangan. ”Tapi, saya merasa hati saya tidak senang bekerja di sana,” ungkap Lisa seperti dikutip laman Aquila-style.com.

Lisa memutuskan berhenti. Ia memulai karier yang ia pandang lebih sejalan dengan minatnya, yakni fotografi. Ia bahkan sengaja mengikuti kuliah fotografi di Daytona State University, Florida, untuk mengasah minatnya tersebut.

Tahun pertama kuliah, ia mendapat tugas membuat video di kelas videografi. Tugasnya sederhana, membuat video dokumenter singkat tentang satu topik atau objek yang diminati. Muncul ide di benak Lisa mengangkat tema tentang jilbab guna memenuhi tugas kuliahnya. Gagasan tersebut mencuat ketika ia aktif di kegiatan amal lokal, Project Downtown, yang memberi makanan para tunawisma setiap Ahad di masjid kota.

Selama menjalani aktivitas sosialnya tersebut, ia berkerudung. Kerudung, bagi Lisa, bukan hal asing. Ia telah terbiasa sejak di Maroko meski motifnya sekadar menghormati tradisi warga lokal di Maroko. Gayung bersambut, Lisa memulai dengan mewawancarai Nadine Abu Jubbara, rekan kerjanya di Project Downtown. Meski tanpa ia sadari, sentuhan hidayah telah begitu dekat dari hatinya. Berbagai pertanyaan ia sodorkan untuk Nadine. Jawaban demi jawaban membuka pintu hati Lisa ihwal alasan Muslimah berhijab.

“Hijab dalam Islam sebagai pelindung dan penghormatan perempuan,” kata Lisa yang kini tinggal di Las Cruce, Negara Bagian New Mexico, AS, bersama suami dan ibu mertuanya.

Hatinya tergerak. Rasa penasarannya memuncak. Lisa menelusuri ayat-ayat Alquran tentang hijab. Ia semakin tertarik mempelajari Islam. Ia menemui sejumlah ulama, melihat video ceramah mereka di Youtube, dan menelaah Alquran lebih menyeluruh.

Selama sembilan bulan, ia juga sempat membandingkan dua kitab suci, Alkitab dan Alquran. Ada beberapa kesamaan, tetapi keduanya tetap berbeda. Injil telah beberapa kali diubah, sementara Alquran tidak demikian.

Syahadat

Lisa VoglAkhirnya, pada Jumat, 29 Juli 2011, sebelum Ramadhan, Lisa Vogl mengikrarkan dirinya sebagai Muslimah. Ia merasakan berkah yang amat sangat betapa hidupnya mengalami perubahan. Keluarganya tidak keberatan dengan keputusannya itu. Tapi, saat Lisa mulai berjilbab, ibunya merasa ‘kehilangan’ putri kesayangannya. Dengan jilbab, berarti Lisa tidak hanya menunjukkan identitasnya sebagai Muslimah di depan keluarganya, tapi kepada semua orang.

Lisa mencoba menjelaskan kepada keluarganya menggunakan jilbab justru merupakan keberkahan dan menjadi jalan dakwahnya. Penjelasan ini juga yang Lisa sampaikan kepada mereka yang bertanya mengapa ia berjilbab.

Berbagai inspirasi

Lewat video yang ia buat tentang jilbab, ia berharap bisa berbagi inspirasi yang sama melalui ketertarikannyanya di bidang fotografi. Beberapa Muslimah yang lebih senior dari Lisa bahkan mengaku terinspirasi segera berjilbab usai berkaca pada Lisa. Bagaimanapun, meski bukan Muslimah sejak lahir, ia tetap berjilbab ke manapun ia pergi.

Lisa juga tidak menutup mata atas beragam penilaian orang-orang di sekitarnya soal jilbab yang ia kenakan. Ia hanya berkeyakinan perubahan hanya bisa dirasakan dengan menghadapinya. “Sebagai Muslim, kita harus berupaya mengubah perspektif buruk tentang jilbab itu,” tutur Lisa.

Setelah merasakan nikmatnya hidayah, Lisa berbagi nasihat bagi saudara Muslim. Pertama, jangan pernah takut menunjukkan jati diri. Jika seorang Muslim bangga dengan keislamannya, orang lain akan menghormati. Kedua, jilbab adalah bentuk dakwah. Perempuan lebih berpeluang dibanding laki-laki untuk menyebarkan Islam lewat busana yang dipakai. ”Kita gunakan kesempatan dan berkah itu untuk menunjukkan Islam,” ajak Lisa.

Dan, sebagai Muslim, tak ada alasan berhenti mengejar mimpi dan cita-cita. Setelah semua yang ia lewati, ia bersyukur meninggalkan banyak hal dan memilih fotografi yang justru mempertemukannya dengan Islam.

Subhanallah …

Jakarta, 11 Agustus 2014.

Di copy dari :

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/14/08/05/n9tb7k-hidayah-menyapa-lewat-film-dokumenter-1

Hingga hari ini Minggu pagi 3 Agustus 2014, tercatat 1712 nyawa telah melayang, sebagian besar adalah warga sipil, dan sekitar 300 an diantaranya anak2. Ironisnya lagi, puluhan diantaranya tewas hanya 2 jam setelah adanya kesepakatan genjatan senjata diantara kedua belah pihak.

Lebih parah lagi, agresi brutal Israel terkutuk yang telah memasuki minggu ke 4 ini didukung oleh pemerintah AS. Sekjen PBB danObama sang presiden AS yang oleh sebagian rakyat Indonesia sering dielu-elukan hanya karena pernah tinggal dan mengecap pendidikan di SD Jakarta ini, bahkan mengutuk dan menyalahkan HAMAS karena telah menewaskan 2 tentara Israel dan menculik seorang perwiranya. Dengan demikian HAMAS dianggap telah merusak genjatan senjata dan patut mendapatkan balasan. Padahal HAMAS mengatakan bahwa penculikan dilakukan sebelum adanya genjatan senjata. Yang lebih menyedihkan lagi, sebagian besar orang lebih percaya kepada sumber barat !

Tak dapat dipungkiri, berita adalah kunci kesuksesan dalam menggiring opini publik. Bila ini salah, inilah fitnah terbesar dalam kehidupan. Itu sebabnya Islam mengajarkan agar seorang Muslim selalu menjaga lisannya, termasuk ketika menyebarkan berita tertulis. Sebaliknya untuk mempercayai sebuah berita, kita harus extra hati-hati. Sebelum menerima dan mempercayainya, kita harus mempelajari dulu siapa , darimana dan bagaimanakah sumber berita tersebut.

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” . (QS. Al-Hujurat(49): 6).

Abu Hurairah ra berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Itu pula sebabnya dalam ilmu hadist, riwayat perawi ( seseorang yang menceritakan/meriwayatkan /menyampaikan hadist ) harus benar-benar dipelajari dan diteliti. Diantaranya adalah tahun berapa ia lahir, hidup, siapa orang-tua, teman, guru, bagaimana hubungannya dengan nabi saw, bagaimana ibadahnya, kekuatan hafalannya, sifatnya dll sebagainya. Setelah diyakini bahwa sang perawi memenuhi persyaratan baru apa yang disampaikan dapat diterima secara shahih.

Akan hal nara sumber berita diatas, yaitu Barat, atau Amerika Serikat tepatnya. Mari kita menengok sedikit ke belakang, ke awal sebelum lahirnya negara Israel yang penuh masalah.

PBB pada tahun 1947, berdasarkan perjanjian Balfour 1917, memutuskan untuk membagi wilayah Mandat Britania atas Palestina. Ini adalah tanah Palestina yang dulu berada di bawah kekuasaan kerajaan Turki Otoman, yang kemudian karena kalah dalam PD I akhirnya terpaksa diserahkan kepada Inggris sebagai pemenang perang.

Tetapi pembagian tanah ini ditentang keras oleh negara-negara Timur Tengah dan banyak negeri-negeri Muslim, karena dianggap sama sekali tidak adil. Bayangkan, PBB memberikan 55% dari seluruh wilayah tanah tersebut kepada Yahudi, padahal Yahudi hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah itu. Selanjutnya Yerusalem, dimana didalamnya berdiri Masjidil Aqsho, kiblat pertama umat Islam, dicanangkan sebagai kota milik internasional.

Pertanyaannya mengapa Yahudi bisa mendapatkan jatah begitu besar ? Itulah salah satu esensi perjanjian Balfour, yaitu janji Inggris sebagai balas jasa kepada Dr. Chaim Weizmann, seorang ahli kimia Yahudi Inggris sekaligus jurubicara Zionisme di Inggris, dalam membantu negara sekutu tersebut memenangkan PD I tahun 1939. Yaitu memberikan tanah Palestina sebagai rumah Yahudi yang selama ini hidup di perantauan.

Dalam suasana panas seperti itulah Israel mengumumkan hari kemerdekaannya. Esoknya, tentara gabungan dari Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, Irak dan negara Arab lainnyapun menyerbu negara baru tersebut. Maka pecahlah perang Arab – Israel 1948. Sialnya, dengan bantuan komunikasi dan peralatan perang canggih dari Inggris dan Amerika Serikat yang diberikan secara diam-diam, Israel berhasil memenangkan perang tersebut. Lebih sial lagi, setelah perang tersebut, wilayah kekuasaan Israel justru bertambah luas, yaitu sekitar 70% dari luas total wilayah. Berarti malah bertambah 15 % dari yang dijanjikan PBB.

Selanjutnya pada Perang Enam hari tahun 1967, negara zonis ini juga berhasil memenangkan perang melawan gabungan negara-negara Arab. Ini tidak lain, lagi-lagi, karena adanya bantuan dari Amerika Serikat dan Inggris. Maka sejak itu masuklah Gaza yang tadinya milik Mesir, Tepi barat milik Yordan dan dataran tinggi Golan milik Suriah sebagai bagian dari daerah jajahan Israel. Ini menjadi bukti bahwa ke dua negara adi daya tesebut sejak awal memang sudah berpihak pada Israel. Jadi bagaimana mungkin keduanya bisa netral dalam memberikan pemberitaan menyangkut perang antara Israel dan Palestina maupun negara-negara Arab lainnya ??

Pada tanggal 1 Agustus lalu, di tengah kecaman international akan biadabnya Israel, tanpa rasa bersalah Kongres Amerika Serikat bahkan sepakat untuk mendanai sistem pertahanan Iron Dome atau antirudal milik Israel sebesar 225 juta dolar Amerika. ( baca : http://suara.com/news/2014/08/02/162625/225-juta-dolar-dana-as-untuk-iron-dome-israel/ )

Sungguh lucu, Barat sering meng-klaim bahwa umat Islam tidak toleran karena tidak menginginkan tanah Palestina dibagi antara Palestina dan Israel. Padahal kenyataannya, 80 % lebih tanah tersebut saat ini telah diduduki Israel. Saat ini rakyat Palestina selain hidup di pengungsian negara-negara tetangga, sebagian harus hidup berdesak-desakan di Gaza dan Tepi Barat, dimana kontrol udara, laut dan sebagian darat tetap dipegang otorita Israel. Dengan pasokan air bersih dan listrik yang sangat terbatas pula !

Hal yang juga harus diingat, orang-orang Yahudi sejak dahulu kala suka melawan dan melanggar janji. Lihatlah bagaimana Al-Quran menceritakan hal tersebut. Bagaimana mereka mengkhianati para nabi mereka, diantaranya menolak ajakan nabi Musa as untuk menunggunya kembali dari bukit Thursina, menyembah sapi, melanggar kesucian hari Sabtu, membunuh para nabi, termasuk nabi Isa as, meski gagal karena Allah menyelamatkannya dari penyaliban.

Berikut ayat 154-157 surat An-Nisa yang menceritakan salah satu contoh perbuatan buruk kaum Yahudi di masa lalu :

Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: “Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami perintahkan (pula), kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu”, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.

Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.”

Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap `Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka:

Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah” … “.

Pada masa awal masuknya Islam, orang-orang Yahudi juga tercatat telah beberapa kali melanggar perjanjian dan bahkan berusaha membunuh Rasulullah Muhammad saw. Ini yang akhirnya menyebabkan Rasulullah memutuskan mengusir kaum Yahudi dari Madinah untuk selamanya.

( lihat : http://vienmuhadisbooks.com/2011/06/10/xix-pengkhianatan-yahudi-bani-nadhir-dan-dampaknya/ ).

Pengkhianatan orang-orang Yahudi terus terjadi hingga abad ini, menyebabkan banyak orang tidak menyukai mereka. Holocaust, peristiwa pembantaian Yahudi oleh Nazi, meski diberitakan secara berlebihan, Antisemit dll adalah contohnya.

Sementara khusus yang berhubungan dengan pertikaian tanah Palestina saja, tercatat Israel beberapa kali sengaja melanggar perjanjian yang ditanda-tanganinya. Diantaranya adalah pembangunan tembok kota Yerusalem dan sejumlah perumahan ilegal di tanah Palestina.

Begitu juga dalam syarat peperangan, Israel sering sekali melanggarnya. Pada perang Enam Hari tahun 1967, penjajah Zionis telah menembaki para tawanan perang hingga tewas. Ini terbukti dengan ditemukannya 2 kuburan raksasa berisi 30-60 tawanan perang. Padahal undang-undang internasional melarang menyiksa dan membunuh tawanan.

Ironisnya, Amerika Serikat yang sering mengklaim sebagai negara paling patuh hukumpun melanggar kesepakatan ini. Obama, sang presiden, baru-baru ini dengan santai, membela tuduhan senatnya atas tuduhan bahwa CIA telah menyiksa terdakwa peristiwa 911. Meski terbukti mereka telah menyiksa secara kejam dan tak berperi-kemanusiaan, yaitu dengan cara menelanjangi, menyekap di ruang gelap selama berhari-hari kemudian mencelupkannya ke dalam air dalam keadaan terikat !

Baru-baru ini datang berita bahwa BBC telah memecat seorang korespondennya karena dianggap memberitakan berita yang tidak sesuai kehendak Israel. Jeremy Bowen, sang koresponden BBC kenamaan, melaporkan bahwa ia tidak melihat adanya bukti Hamas menggunakan kaum perempuan dan anak-anak sebagai tameng hidup dalam menghadap gempuran Israel. Dikabarkan Israelpun naik pitam atas berita tersebut, dan memerintahkan BBC untuk memecatnya.

Sementara itu satu-satunya mentri perempuan Muslim dalam kabinet Inggris dikabarkan terpaksa mengundurkan diri dari kursinya, karena kebijaksanaan pemerintah yang tidak mau mengecam perbuatan kejam, brutal dan biadab Zionis Israel terhadap Gaza.

Kecaman juga datang dari Turki. Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan berkali-kali melontarkan kritik pedas, kebrutalan pasukan Israel di Gaza sama seperti yang dilakukan pemimpin Nazi Adolf Hitler. Untuk itu, Erdogan mengatakan siap mengembalikan semua penghargaan yang pernah ia terima dari pihak Yahudi-Amerika pada 2004 sebagai bentuk protes kepada Israel.

Di kepulauan Maladewa yang setiap tahun dikunjungi turis mancanegara, puluhan turis Israel terpaksa diusir oleh pemerintah setempat. Ini dikarenakan seorang turis Israel merusak spanduk yang isinya menyamakan Israel dengan Nazi.

Dari Belgia, diberitakan bahwa seorang dokter di Belgia menolak menolong perempuan Yahudi yang datang meminta pertolongan karena menderita tulang rusuk retak. Dia mengatakan perempuan itu perlu dikirim ke Jalur Gaza agar dia tahu rasa sakit yang sebenarnya.
( baca : http://m.merdeka.com/dunia/dokter-belgia-tolak-pasien-yahudi.html).

Sungguh tak masuk akal, Gaza, kota berpenduduk 1.7 juta jiwa, dalam waktu 28 hari ( Selasa 5/8/2014) harus kehilangan 1867 warganya, lebih dari separuhnya warga sipil, serta ribuan lainnya luka. Gaza yang hanya memiliki panjang sekitar 41 kilometer dan lebar antara 6 sampai 12 kilometers, dengan luas total 365 kilometer persegi selama bulan Ramadhan harus menerima lebih dari 4000 gempuran udara, puluhan ribu personel serdadu Israel dan 3 ribuan pesawat tempur F-16 atau F-17 hingga menghancurkan ribuan bangunan, termasuk rumah penduduk, pasar, rumah sakit, masjid, sekolah, universitas, gedung perkantoran, bank, sebuah stasiun tenaga listrik serta puluhan terowongan.

Gaza dari sebuah kota yang padat penduduk tiba-tiba saja telah menjadi camp konsentrasi terbesar abad 21. Mereka telah kehilangan tempat tinggal, kekurangan makanan dan minuman, tidak ada pasokan air bersih dan listrik. Sementara ribuan mayat menanti untuk dapat dikuburkan.

Ironisnya, bertumpuk bantuan yang datang membanjiri tidak dapat disalurkan karena otorita Mesir tidak mau membuka pintu menuju Gaza ! Padahal ini adalah kesempatan emas, Hamas dan Israel telah sepakat menerima genjatan senjata yang beberapa hari yang lalu sempat tertunda.

Satu lagi catatan, Mesir sering menutup pintu keluar masuk Gaza karena adanya ikatan perjanjian Camp David, yang diprakasai presiden AS Jimmy Carter dan ditanda-tangani presiden Mesir Anwar Sadat dan presiden Israel Menachem Begin pada September 1978.

Tragedi ini juga menyisakan cerita betapa pengecutnya para serdadu Israel dalam menjalani perang darat. Sejumlah video dan foto memperlihatkan kepengecutan tersebut, diantaranya bagaimana belasan serdadu bersembunyi di dalam toilet rumah penduduk. Jangan lupa korban yang jumlahnya mencapai ribuan, sebagian besar sipil, perempuan dan anak-anak, adalah korban serangan udara.

Sebaliknya para pejuang Hamas dengan gagah berani menyelinap ke dalam sarang tentara Israel, menyerang, menculik 2 orang perwiranya dan kemudian masuk lagi ke dalam persembunyian mereka di dalam terowongan, yang membuat petinnggi Israel kebakaran jenggot. Hamas bahkan dengan lantang menegaskan bahwa mereka baru mengeluarkan 10 % kekuatan mereka, sementara Israel telah habis-habisan.

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”. (QS. Al-Anfal(8):65).

Semoga genjatan senjata 72 jam yang berlangsung mulai Selasa, 5 Agustus hingga Kamis 7 Agustus nanti dapat berjalan baik. Semoga paling tidak Gaza dapat dibebaskan dari blokade yang telah berjalan 8 tahun itu. Dan semoga dunia mampu membuka mata dan telinganya agar mampu membedakan mana berita yang benar dan mana berita yang salah, aamiin YRA.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Agustus 2014.
Vien AM.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Hadits ini adalah salah satu di antara tanda-tanda kenabian karena mengandung pengabaran tentang sesuatu yang akan terjadi. Dimana Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa sebagaimana Islam awalnya datang dalam keadaan asing di kalangan kaum musyrikin Makkah, maka demikian pula dia akan kembali menjadi asing bahkan di kalangan penganut agama Islam itu sendiri.

Hanya saja ketika Islam dikabarkan akan menjadi asing, itu bukan berarti dia boleh ditinggalkan -wal ‘iyadzu billah-. Bahkan hadits ini menunjukkan keutamaan dan kejujuran orang yang berpegang teguh dengannya. Hadits ini juga tidak menunjukkan orang yang berpegang teguh dengannya akan mendapatkan kesempitan dan kejelekan di dunia dikarenakan mereka terasingkan, akan tetapi justru hadits ini menunjukkan bahwa dia adalah manusia yang paling berbahagia, sebagaimana yang tersebut di akhir hadits, “Maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.”

Hal itu karena keadaan dan posisi dirinya sama persis dengan pendahulu umat ini yang mengikuti ajaran Islam ketika Islam pertama kali muncul dan dianggap asing oleh manusia. Dia adalah manusia yang paling berbahagia di dunia dalam keterasingan dan gangguan yang dia terima, karena Allah Ta’ala memberikan ke dalam hatinya kelapangan dan keluasan yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, kecuali oleh mereka yang juga sejalan dan senasib dengannya. Ini bentuk keberuntungan mereka di dunia. Adapun di akhirat, maka mereka adalah manusia yang paling tinggi derajatnya setelah para nabi alaihimussalam.

Asy-Syaikh Salim al-Hilali hafizhahullah berkata, “Tidak ada riwayat yang sah mengenai penafsiran [Nabi] tentang makna al-Ghuraba’ (orang-orang asing) selain dua tafsiran yang marfu’ yaitu:

[1] Orang-orang yang [tetap] baik tatkala masyarakat telah diliputi kerusakan.
[2] Orang-orang salih yang hidup di tengah-tengah banyak orang yang buruk [agamanya], akibatnya orang yang menentang mereka lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.” (Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 55)

Adapun penafsiran yang pertama maka disebutkan dalam hadits Abdurrahman bin Sanah radhiallahu anhu dia berkata:
قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

“Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang berbuat baik jika manusia telah rusak.” (HR. Ahmad 13/400 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’ no. 7368).

Sementara penafsiran kedua disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu anhuma dan haditsnya disebutkan oleh Al-Albani rahimahullah dalam Ash-Shahihah no. 1273.

Dari kedua penafsiran di atas kita bisa menarik kesimpulan kalau maksud dari kata “al-Ghuroba” adalah orang-orang yang istiqomah, yang tetap berbuat bagi ketika manusia telah rusak, merekalah manusia yang dijanjikan surga dan kebahagiaan. Mereka istiqomah di atas agama Allah, dan memurnikan tauhid serta mengikhlaskan ibadah mereka hanya kepada Allah. Merekalah orang-orang yang senantiasa menjaga sholat, membayar zakat, berpuasa dan berhaji serta amalan lainnya yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan Allah mensifati mereka dalam Al-Quran,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُون نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta.” (QS. Fushilat 30-31)

Orang yang berpegang teguh dengan agama Islam dalam keterasingannya ini tidaklah mendapatkan kejelekan sedikitpun, sebanyak apapun orang yang mencela dan menyelisihi mereka. Dari Tsauban radhiallahu anhu -dan ini adalah hadits mutawatir- dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Senantiasa ada sekelompok ummatku yang dimenangkan atas kebenaran, tidak akan membahayakannya orang yang memusuhinya hingga hari kiamat sedangkan mereka tetap seperti itu.” (HR. Muslim no. 3544)

Dan juga telah shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiallahu anhu bahwa beliau bersabda:

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ. قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

“Sebab di belakang kalian ada hari-hari (yang kalian wajib) bersabar. Bersabar pada saat itu seperti seseorang yang memegang bara api, dan orang yang beramal pada saat itu pahalanya sebanding dengan lima puluh kali amalan orang yang beramal seperti amalnya.” Abu Tsa’labah bertanya, “Wahai Rasulullah, seperti pahala lima puluh orang dari mereka!” Beliau menjawab, “(Bahkan) seperti pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Abu Daud no. 3778, At-Tirmizi no. 2984, dan Ibnu Majah no. 4004)

Dari kedua hadits ini kita bisa melihat bagaimana besarnya keutamaan pengikut sunnah dan keistimewaan mereka dibandingkan selain mereka. Walaupun mereka berada dalam keterasingan, akan tetapi merekalah pada hakikatnya adalah orang-orang dikenal oleh Allah Ta’ala, sehingga keterasingan tersebut sama sekali tidak membuat mereka risih. Keterasingan mereka hanya di antara kebanyakan manusia, sementara kebanyakan manusia itu sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan:

وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله

“Jika kamu menaati kebanyakan manusia di bumi niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”

Maka sebenarnya mereka yang menyelisihi sunnah dan membenci orang-orang yang berpegang teguh dengannya, merekalah yang hakikatnya berada dalam keterasingan. Mereka asing di hadapan Allah dan rasul-Nya serta di mata agama-Nya. Sehingga keterasingan ini akan sangat mengganggu mereka walaupun di dunia mereka adalah orang-orang yang terkenal dan tersohor.

Wallahu’alam bishshawwab.

Jakarta, 27 Juli 2014.
Vien AM.

Di copy dari :http://al-atsariyyah.com/islam-datang-dalam-keadaan-asing.html

Ramadhan 1435H/2014M telah dikotori oleh Israel. Untuk kesekian kalinya pasukan Zionis itu menggempur kembali Gaza di bulan Ramadhan. Lebih dari 1000 tank dan mobil barakud ditempatkan di Rafah. Dengan dalih balas dendam atas klaim hilang/diculiknya 3 remaja Israel oleh Hamas. Pasukan penjajah ini membombardir Gaza secara membabi buta. Ini dilakukan setelah sebelumnya mereka membakar seorang remaja Palestina hidup-hidup!

Ironis, berita heboh tentang Palestina selalu baru bermunculan ketika Israel menyerang tanah Palestina dengan alasan rakyat Israel dizalimi. Baratpun secara tiba-tiba muncul membela sekutunya dan ikut mengutuk Palestina. Padahal hampir setiap hari pasukan Zionis Israel selalu menzalimi rakyat Palestina yang mayoritas Muslim itu. Akan tetapi dunia membisu, mendadak buta dan tuli. Begitupun Negara-negara Arab tetangga dan Negara-negara Muslim. Sungguh menyakitkan …

Bahkan sebagian Muslim Indonesia ada yang berpendapat bahwa perseteruan antara Israel dan Palestina tidak perlu terlalu diperhatikan. Alasannya, Palestina bukan Indonesia, perang ini tidak ada hubungannya dengan masalah agama dll alasan yang sama sekali tidak menunjukkan kepedulian terhadap dunia Islam. :-(

Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan orang Islam yang saling mengasihi dan mencintai satu sama lain adalah ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dan tidak bisa tidur “.(HR. Bukhari).

Bersyukurlah kita, Muslim di Indonesia, yang setiap tahun bisa menjalankan ibadah Ramadhan dengan tenang. Tidak seperti saudara-saudari kita di Palestina yang bangun untuk sahur karena bom menggelegar di sisi rumah mereka. Berbukapun mereka tidak perlu menunggu suara bedug magrib, karena lebih dari 200-500 bom dimana tiap satu bom isinya bisa 5 roket, diluncurkan Israel begitu magrib tiba.

Dan lagi di luar bulan Ramadhanpun rakyat Palestina sudah terbiasa hidup menderita. Mereka biasa menahan lapar dan dahaga karena penjajah Israel sejak bertahun-tahun membatasi pasokan air bersih dan listrik bagi rakyat Palestina. Jalur Gaza memang sejak beberapa tahun belakangan ini di blokade. Inilah yang dituntut Hamas agar segera dibuka namun dunia pura-pura tidak tahu. :-(

Hingga hari Sabtu, 12 Juli 2014, hari ke 5 serangan, juru bicara Kementerian Kesehatan Ashraf al-Qodra melaporkan bahwa Israel telah menjatuhkan gempuran ke 1200 lokasi di seluruh Gaza dan telah menewaskan setidaknya 135 orang dan sekitar 950 luka-luka. Korban kebanyakan warga sipil, perempuan dan kanak-kanak. Tidak ada peringatan sama sekali bahwa wilayah sipil akan diserang, padahal rata-rata rumah warga tidak memiliki bunker untuk tempat bersembunyi.

Sejumlah rumah, bangunan dan masjid luluh lantak. Demikian pula rumah tahfis sumbangan rakyat Indonesia yang baru rampung Juni lalu terkena rudal hingga hancur. Sementara kaca-kaca RS Indonesia yang juga baru saja selesai dibangun dilaporkan pecah akibat dasyatnya bom yang meledak tidak jauh dari lokasi.

Kami tidak meminta umat Islam di belahan lain Palestina berjihad bersama kami mengangkat senjata. Kami siap siaga mempertahankan tanah suci umat Islam. Kami hanya meminta doanya. Karena doa adalah senjata paling hebat yang tidak dimiliki kaum kuffar. Tolong sampaikan kepada umat Islam di seluruh dunia bahwa kami saat ini terkepung”, begitu bunyi pesan singkat PM Palestina Ismail Haneiya yang tersebar di BBM.

Seperti kita ketahui, Palestina saat ini telah terpecah menjadi 2 wilayah yang tidak saling berhubungan yaitu Tepi Barat dan Gaza. Tepi Barat adalah wilayah yang terletak di antara sungai Yordan dan laut Mati, dimana kota suci Yerusalem berada. Di bagian timur kota suci inilah berdiri masjidil Aqsho dan masjid As-Sakroh yang merupakan masjid ke 3 tersuci bagi umat Islam.

Sedangkan Jalur Gaza yang saat ini sedang digempur, berada di sisi timur laut Tengah, berbatasan dengan Mesir di barat daya dan Israel di timur dan utara. Jalur Gaza sejak beberapa tahun terakhir ini diblokade oleh penjajah Israel. Satu-satunya jalan untuk masuk ke wilayah ini hanya melalui perbatasan Mesir yang ironisnya sering sekali dipersulit penjagaannya.

Di dalam tubuh Palestina sendiri terjadi perpecahan antara partai Fatah dan Hamas yang dikenal lebih tidak kompromis. Itu sebabnya Barat mencap Hamas sebagai teroris. Padahal pada pemilu 2006 Hamas yang dicintai rakyatnya itu, telah memenangkan pemilu yang dilakukan secara demokratis. Akan tetapi otorita Palestina tidak mengakuinya, dan Baratpun mengekor.

Namun beberapa minggu belakangan telah terjadi perubahan yang menggembirakan, Hamas dan Fatah memutuskan untuk berkonsiliasi. Mereka sepakat untuk duduk bersama dan merundingkan realisasi impian besar mereka bersama, yaitu terbentuknya negara Palestina merdeka. Ini terjadi karena pada perundingan yang dilakukan akhir April lalu, antara Palestina yang diwakili Fatah sebagai pemegang pimpinan tertinggi dan Israel, mengalami kegagalan total. Israel sedikitpun tidak mau mundur dari persyaratan yang diajukan Palestina.

Tentu saja Israel meradang melihat perkembangan yang berpotensi mengancam kekuasaan mereka di tanah yang diperebutkan tsb. Maka tak heran, bila saat ini dengan dalih yang dicari-cari merekapun menggempur Gaza habis-habisan seperti yang pernah terjadi pada tahun 2008. Padahal ketika itu, tak lama setelah terjadinya gencatan senjata karena tekanan dunia international, PBB berjanji akan membawa Israel ke meja pengadilan international. Karena kejahatan perang yang dilakukan tentara Zionis terlaknat tersebut benar-benar keterlaluan. Tercatat 400 anak lebih tewas dalam serangan 22 hari tersebut ! Namun mana hasilnya ?? Bahkan dengan santainya diulanginya lagi perbuatan biadab tersebut …

Pertanyaan lain, mengapa harus Gaza yang digempur, bukan Tepi Barat? Dan mengapa pula harus di bulan Ramadhan ?? Jawabnya adalah, karena Gaza yang hampir semua penduduknya Muslim itu adalah daerah kekuasaan Hamas. Disinilah para petinggi Hamas yang tidak kompromis dan sangat dibenci Barat itu, berada. Inilah benteng pertahanan terakhir yang dimiliki Palestina.

Sedangkan Ramadhan dipilih karena pada hari-hari biasa pasukan Zionis Israel tidak sanggup memerangi para jihadis yang pantang menyerah itu. Mereka berasumsi puasa apalagi di musim panas dimana temperatur berada di atas 40 derajat C, pasti akan membuat kaum Muslimin lemas tak bertenaga. Tampaknya mereka lupa atau mungkin memang tidak pernah belajar dari pengalaman, bahwa sebagian besar pertempuran yang dimenangkan umat Islam terjadi pada bulan Ramadhan. Semoga demikian pula dengan pertempuran kali ini, aamiin YRA. Yakin pertolongan Allah pasti datang.

Pertanyaan penting lain, apa yang dapat kita lakukan untuk menolong saudara-saudari kita keluar dari tragedi mengerikan ini?

Rasulullah saw bersabda, “Tidak lah sempurna iman seseorang dari kalian,sehingga dia mencintai saudaranya (sesama Muslim) sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri “. (HR. Bukhori).

Hati-hati kepada antek-antek Yahudi di Indonesia. Hati-hati kepada perusahaan-perusahaan, pemodal-pemodal yang mendukung Yahudi di Indonesia,” demikian himbauan yang disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Hubungan Luar Negeri KH Muhyidin Junaidi pada acara Doa dan Pelepasan ”Action Team SOS Palestine” di ruang utama masjid Istiqlal, Jakarta pada Jumat, 13 Ramadhan 1435 H (11/7/2014) lalu.

Muhyidin mengungkap, para antek Yahudi berbisnis di Indonesia, lalu menyerahkan keuntungannya kepada berbagai lembaga Zionis internasional. Dana inilah yang membuat mereka leluasa menyerang dan menggempur Gaza dan siapapun yang dianggap berani menentang kepentingan mereka, terutama berdirinya Negara Israel di seluruh wilayah Palestina dengan Yerusalem sebagai ibukotanya.

Inilah yang selayaknya dilakukan Muslim di Indonesia bila benar-benar ingin membantu penderitaan rakyat Palestina. Hindari membelanjaakan uang kita di usaha yang dimiliki Yahudi. Selain tentunya bantuan dana dan doa.

Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (QS. Yunus(10):88).

Israel dengan Yahudinya identik dengan Firaun. Mereka diberi kekayaan melimpah namun kekayaannya itu bukannya membuat takut kepada Tuhannya, sebaliknya malah menentangNya dan digunakannya untuk menzalimi sesama mahluk Allah.

Sungguh sebuah mimpi kapan negara kita mau dan bisa mewujudkan bantuan kita dalam bentuk yang lebih nyata. Apalagi ada berita berkata, beberapa orang Palestina bermimpi bahwa telah datang orang Indonesia membebaskan mereka dari cengkeraman Yahudi, padahal orang yang bermimpi tersebut tidak saling mengenal, Subhanallah …

Adakah ini hubungannya dengan pilpres yag baru saja berlalu dan masih menunggu hasil real count KPU? Mengingatkan kita bagaimana salah satu calon presiden yang memang dekat dengan pemerintah dan rakyat Yordania, serta memiliki keahlian kemiliteran yang diakui dunia, pernah melatih tentara Yordania dan juga tentara Afganistan dalam melawan pasukan Zionis Israel. Capres ini juga pernah mendirikan masjid untuk rakyat Yordania serta memberikan bantuan pribadi yang jumlahnya tidak sedikit kepada rakyat Palestina. Pantas bila Barat sangat menbencinya, dan berusaha keras menjegalnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Juli 2014.
Vien AM.

( hingga hari ini, 25/7/2014, korban meninggal telah mencapai 810 orang, 15 anak diantaranya tewas ketika sekolah milik PBB dimana menuntut ilmu, dijatuhi bom oleh pesawat tempur Israel … Na’udzubillah miun dzalik … )

Pemilu 2014 tahap 1 yaitu pemilihan calon legislatif telah berlalu, dengan hasil yang diluar perkiraan. PDIP yang dipimpin putri mantan presiden pertama kita Soekarno, yaitu Megawati memang tetap bisa keluar sebagai pemenang. Namun partai yang di luar kebiasaan mengusung capres di luar keluarga Soekarno, yaitu Jokowi, dengan tujuan agar bisa mencapai target mendekati 30 %, ternyata tidak sampai 20%. Sementara partai Islam yang jumlahnya ada 5 itu, yang belakangan ini dianggap bakal collapse ternyata secara total dapat mengumpulkan lebih dari 30 %. Subhanallah …

Dengan adanya peraturan bahwa sebuah partai baru boleh mencalonkan presiden bila pemilu caleg mencapai 25 %, maka dalam pemilu kali ini tak satupun partai bisa melakukan hal tersebut. Artinya diperlukan koalisi. Demikian pula PDIP sebagai partai pemenang. Tampaknya ini saat yang tepat bagi ke 5 partai Islam untuk berkoalisi. Sebuah mimpi besar bagi umat Islam yang mendambakan munculnya kepemimpinan Islam tentunya. Mungkinkah ini bisa menjadi kenyataan ?? Pertanyaan besar lain yang juga menjadi hambatan, kalaupun ini terjadi maukah rakyat Indonesia memilih capres dari koalisi tersebut?

Tampaknya tidaklah terlalu mudah. Meski mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, ternyata hanya sebagian rakyatnya yang sudi memilih partai berlandaskan Islam. Ini terbukti dengan hasil pemilu yang baru saja berlalu. Partai Islam paling tinggi hanya menduduki urutan ke 5. Mungkin ini tugas dari para pimpinan partai yang selama ini tidak mampu memperlihatkan wajah indah Islam yang sesungguhnya.

Jargon « Islam Yes Partai Islam No” yang dimunculkan cak Nur, panggilan akrab Nurkholis Majid, di tahun 70 an, tampaknya masih sangat memberikan dampaknya. Jargon berbau sekuler ini jelas ingin memisahkan umat Islam dari dunia perpolitikan yang identik dengan kepemimpinan. Padahal Islam sejatinya tidak memisah-misahkan perkara dunia dan akhirat. Dunia adalah ladang menuju nikmatnya akhirat. Artinya umat Islam wajib mempunyai pemimpin yang juga tahu persis apa itu Islam. Bahkan tidak hanya tahu tapi juga mengamalkannya. Jadi bekal ilmu duniawi saja tidaklah cukup.

Sebaliknya, orang non Muslim juga seharusnya tidak perlu khawatir hak-hak mereka tidak terpenuhi bila sang presiden mengamalkan ajarannya dengan baik. Rasulullah ketika memimpin negara Madinah, Negara pertama berbasis Islam, telah membuktikan hal tersebut. Undang-undang Islam yang menjadi dasar undang-undang pertama di dunia yang memuat pasal toleransi itu, menyebutkan bahwa non Muslim sebagai minoritas, berhak dilindungi bahkan untuk menjalankan ajaran agamanya, asal benar-benar sesuai dengan kitabnya. Meski dengan catatan, selama mereka tidak mengganggu umat Islam. Itulah ketegasan ajaran Islam.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, dan lain-lain, yang bersumberdari al-Barra’ bin ‘Azib. Bahwa di depan Rasulullah saw., berlalulah orang-orang Yahudi membawa seorang terhukum yang dijemur dan dipukuli. Rasulullah saw. memanggil mereka dan bertanya:

Apakah demikian hukuman terhadap orang berzina yang kalian dapati di dalam kitab kalian?”

Mereka menjawab: “Ya.”

Kemudian Rasulullah memanggil seorang ulama mereka dan bersabda: “Aku bersumpah atas Nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah demikian kamu dapati hukuman bagi orang yang berzina di dalam kitabmu?

Ia menjawab: “Tidak. Demi Allah, jika engkau tidak bersumpah lebih dulu, tidak akan kuterangkan. Sesungguhnya hukuman bagi orang yang berzina di dalam kitab kami adalah dirajam. Akan tetapi karena banyak pembesar-pembesar kami yang melakukan zina, maka kami mengabaikannya. Namun apabila seorang hina berzina, kami tegakkan hukum sesuai dengan kitab. Kemudian kami berkumpul dan mengubah hukuman tersebut dengan menetapkan hukuman yang ringan dilaksanakan, baik bagi orang hina dan pembesar, yaitu menjemur dan memukuliya.”

Bersabdalah Rasulullah saw.: “Ya Allah, sesungguhnya saya yang pertama menghidupkan perintah-Mu setelah dihapus oleh mereka.”

Kemudian Rasulullah menetapkan hukum rajam, kemudian dirajamlah Yahudi pezina itu. Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 41).

Saat ini, 3 bulan setelah pemilu legistatif, pesta rakyat dalam rangka memilih presiden dan waklinya akan segera digelar. Syukur Alhamdulillah, dengan izin Allah, akhirnya 4 dari 5 partai islam yang ada bersedia untuk berkoalisi. Meski harus berkoalisi dengan partai sekuler karena tetap tidak dapat memenuhi target minimum.

Partai tersebut adalah partai Gerindra yang dipimpin Prabowo Subiyanto, yang sekaligus juga dicalonkan sebagai presidennya. Maka jadilah mantan danjen Kopassus itu bertarung melawan gubernur DKI non aktif Jokowi yang didukung partai PDIP sebagai partai pendukung utamanya, disamping partai Nasdem pimpinan Surya Paloh, Hanura pimpinan Wiranto dan PKB yang dipimpin Muhaimin Iskandar.

Menjadi pertanyaan menarik, mengapa koalisi partai Islam ini memilh bergabung dengan Gerindra , bukan PDIP dengan Jokowinya. Tentu mereka punya alasan kuat. Yang pasti, mereka tidak mungkin mau mendukung Jokowi , karena bila Jokowi terpilih sebagai R1, otomatis Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama yang merupakan wakil Jokowi akan naik menggantikan posisi Jokowi. Padahal semiua orang juga tahu bahwa Ahok adalah non Muslim.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS.Al-Maidah(5):51).

Hal lain, tidak mungkin menyatukan kebijaksanaan PDIP dengan kebijaksanaan partai Islam. Partai berlambang kepala banteng ini kerap menolak gagasan ruu yang diajukan ke DPR bila bernafas Islami. Mereka memilih walk out ketika usulan tentang uu bank syariah, uu pornografi pornoaksi, uu jaminan halal diajukan.

Maklum partai ini memang dipenuhi anggota yang non Muslim. Kalaupun Muslim kebanyakan dari golongan Syiah dan orang-orang JIL ( jaringan Islam Liberal). Mereka adalah orang-orang berilmu, jika ditilik dari profesi mereka, yaitu staf pengajar di universitas-universitas yang notabene Islam, seperti UIN dan Paramadina pimpinan alm Nurcholis Majid, namun sangat liberal. Mereka seenaknya saja menafsirkan ayat-ayat Al-Quran menurut akalnya, tanpa peduli bagaimana dulu Rasulullah dan para sahabat menyikapi sebuah ayat suci. Lupa apa artinya akal dan kepintaran manusia dibanding kepintaran-Nya.

Bahkan dedengkot Syiah, Jalaludin Rahmat berada di nomor urut 1. Kabarnya ia telah diusulkan sebagai mentri agama bila Jokowi menang ! Tengoklah Suriah, dimana perang saudara selama 3 tahun ini terus berperang. Ketika Syiah berkuasa maka rakyat yang Sunni pasti akan tertindas. Jangan lupa, mayoritas rakyat Indonesia adalah Sunni. Maukah kita mengalami ini ??

Belum lagi Musdah Mulia, seorang feminis dosen di UIN Syarif Hidayatullah. Perempuan bergelar professor yang pernah menerima penghargaan Yap Thiam Hien 2008 ini kerap melontarkan gagasan yang kontrovesial. Diantaranya bahwa Islam tidak pernah melarang perkawinan antar sesama jenis alias homoseksual dan lesbianisme !

Apalagi belakangan ini tim sukses Jokowi terang-terangan mengatakan tidak akan mengizinkan lagi lahirnya propinsi dengan syariat Islam seperti DI Aceh, menghapuskan syarat minimum pendirian rumah ibadah ( khususnya gereja ) dll bila ia terpilih sebagai presiden nanti. Belum lagi rumor tentang bakal dihapuskannya kolom agama di KTP. Juga ucapannya mengenai keberpihakannya kepada kaum minoritas yang ’terzalimi’, seperti Syiah dan Ahmadiyah.

(Baca : http://www.islampos.com/fuui-pdip-larang-perda-syariah-umat-haram-pilih-jokowi-jk-114107/).

Ini masih ditambah dengan slogannya tentang prularisme yang spanduknya banyak dipasang dimana-mana. Mengingatkan pada Sepilis singkatan Sekuler, Pluralis dan Liberalis. Sebuah paham yang lahir pada tahun 2005 dan telah diharamkan oleh MUI.

( Baca http://felixsiauw.com/home/bahaya-sekulerisme-pluralisme-dan-liberalisme/).

Sebaliknya, dukungan koalisi partai Islam kepada Prabowo juga bukannya tanpa alasan yang tidak jelas. Meski tidak ada laporan khusus tentang kesolehan dan kealiman Prabowo, namun kepeduliannya kepada dunia Islam sangatlah tinggi. Dalam salah satu manifestonya, tercantum bahwa partai ini menolak penistaan dan penodaan agama.

Patut menjadi catatan, Amerika Serikatpun yang meng-klaim diri sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi dan toleransi nyatanya menolak aliran Kristen Klux Klux Klan dan Children of God yang kontroversial itu. Jadi harusnya Indonesia tidak perlu ragu menyatakan kesesatan Syiah, Ahmadiyah dll bila memang MUI menyatakan hal tersebut.

Mengenai Palestina, Hidayat Nur Wahid dari PKS mengatakan bahwa Prabowo pernah menyumbangkan uangnya sebesar 500 juta rupiah untuk rakyat Palestina. Ini bukan dalam rangka pencitraan, karena terjadinya sudah tahun lalu. Dan bukan karena laporan Gerindra, tapi ucapan langsung dubes Palestina kepada Nurwahid.

Selain itu Prabowo juga pernah melatih pasukan Yordania dalam perang melawan Israel, dan juga pasukan Afganistan dalam melawan pasukan Amerika.

Pelanggaran HAM yang kerap dialamatkan kepada Prabowo, ternyata juga bernafaskan isu Islam. Banyak sumber yang memberitakan bahwa mantan danjen Kopassus ini ketika itu justru menyelamatkan NKRI dari rongrongan atasannya, jendral Benny Moerdani yang non Muslim, dan sangat membenci Islam itu. Lihat bagaimana ia merekrut sebagian besar bawahannya yang juga non Muslim. Atau sekalipun Muslim yang dianggapnya tidak fanatik.

(Baca:

 http://www.voa-islam.com/read/opini/2014/06/30/30575/innalillah-jenderaljenderal-dalang-kerusuhan-mei-1998-mendukung-jokowi/#sthash.rBlKS1h6.8simunl3.dpbs

Itu sebabnya Barat begitu bernafsu mendiskreditkan Prabowo. Tampak bahwa Barat begitu takut dan khawatir bila Prabowo memenangkan pesta demokrasi ini. Demikian juga para mantan atasannya di TNI. Mereka tentu merasa sangat terancam bila Prabowo yang pernah mereka kambing-hitamkan itu berhasil menjadi orang nomor satu di republik ini.

Fitnah terhadap Prabowo telah terjadi selama bertahun-tahun, dan dengat sangat terorganisir. Citra Prabowo sebagai danjen Kopassus yang suka menculik, yang jahat, ganas dan tidak berperikemanusiaan begitu meresap di sebagian besar hati rakyat Indonesia. Perceraian dengan sang istri, yang merupakan putri mantan presiden Suharto, di tahun 1998 dan tidak pernah ter-expose, sering dijadikan alasan betapa mengurus keluarga saja tidak mampu.

Namun dalam debat capres cawapres yang beberapa kali ditayangkan televisi itu sifat brutal tersebut sama sekali tidak muncul. Yang tampak justru kebalikannya, yaitu santun, sabar dan cenderung tidak suka memojokkan lawan. Malah mantan istri dan putranya juga hadir, tanpa terlihat ada masalah di dalamnya.

Kelembutan hati sang mantan danjen Kopassus ini juga tercermin dari dibinanya 8000 anak asuh di Papua, membebaskan seorang TKW yang terancam hukuman mati di Malaysia, menyediakan sekitar 400 ambulans gratis di seluruh Indonesia. Hebatnya, kesemuanya itu tidak pernah diliput berita koran apalagi tv. Jelas ini bukan sekedar  ‘jaim’ alias jaga image, kata anak muda zaman sekarang.

Anehnya lagi, isu HAM yang ditudingkan kepada Prabowo tersebut hanya muncul pada saat-saat pilpres seperti hari ini. Di luar itu tidak pernah ditindak-lanjuti secara serius. Bahkan pada pilpres sebelum ini ketika Prabowo berpasangan dengan Megawati, ketua umum PDIP ini terlihat melindunginya. Juga ketika putri mantan presiden pertama ini menjadi presiden, ia tidak pernah berusaha mentuntaskan kasus yang sering diklaim bahwa PDIP adalah pihak yang terzalimi. Aneh bukan??

Dan lagi, kita juga melihat kenyataan bahwa orang yang dulu pernah ’diculik’ sekarang ini berada di dalam tubuh Gerindra. Begitupun para mantan bawahan Prabowo di Kopassuspun tidak pernah menceritakan keganasan dan kesadisan atasannya. Di benak mereka yang ada hanyalah ketegasan dan kedisiplinan. Dua hal pokok yang harus ada di militer. Mereka justru mendukung Prabowo.

Tampak bahwa koalisi partai Islam memang benar-benar telah memikirkan hal ini. Mereka tampaknya tidak salah pilih. Apalagi dukungan juga datang dari para ulama yang tidak hanya senang berwacana. Aa Gym, Arifin Ilham, Yusuf Mansur, Bahtiar Nasir, Daud Rasyid, Adian Husaini dan juga uztad-uztad yang lain adalah contohnya. Sementara bila saat ini kita melihat sejumlah ulama dan tokoh Islam kenamaan berada di pihak lawan, silahkan diperhatikan dari sudut mana mereka memandang Islam.

Abdullah Ibnu Amru meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Umatku akan menyerupai Bani Israil selangkah demi selangkah. Bahkan jika seseorang dari mereka menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, seseorang dari umatku juga akan mengikutinya. Kaum Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk surga.” Kami (para shahabat) bertanya, “Yang mana yang selamat ?” Rasulullah Saw menjawab, “ Yang mengikutiku dan para sahabatku.” HR Imam Tirmizi.

Dari Tsauban ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:
Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan”.
Kemudian ada sahabat yang bertanya: “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?”.
Rasulullah Saw menjawab: “Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah [yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari]. Dan Allah SWT akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian.”
Ada sahabat yang bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?
Beliau saw menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.

Islam memerintahkan umatnya untuk bekerja, beramal dan berusaha sekuat tenaga. Namun hasil akhirnya adalah takdir, ketentuan Allah Azza wa Jalla yang tak dapat dihindarkan. Ini adalah hak prerogatif Sang Khalik. Akan tetapi usaha inilah yang mendapat nilai, yang akan diperhitungkan di hari pembalasan nanti.

Memilih pemimpin seperti presiden saat ini adalah bagian dari usaha kita dalam rangka menjalankan perintah-Nya. Ini adalah bagian dari ibadah yang tinggi nilainya. Itu sebabnya jangan golput, marilah kita berpikir, jauhkan buruk sangka, dan pilih mana yang terbaik nilainya disisi-Nya. Hasilnya, serahkan pada Allah swt. Karena Dialah sang pemilik ketetapan. Dan itulah potret rakyat kita.

Tidak perlu terlalu khawatir terhadap segala fitnah dan kecurangan yang terjadi. Biarkan mereka yang berbuat itu menerima akibat dan ganjarannya langsung dari Sang Khalik. Semoga Ia berkenan memberi keberkahan kepada negri kita tercinta ini, aamin YRA.

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya ».(QS. Ali Imran(3):54).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 7 Juli 2014.
Vien AM.

Tanpa terasa Ramadhan sudah di depan mata. Sudahkah kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan penuh berkah tersebut ? Ataukah kita hanya akan menyambutnya dengan biasa-biasa saja, bukankah Ramadhan datang setiap tahun sebagaimana yang sudah-sudah ???

Jika ‘ya’jawabnya, cobalah bayangkan. Bagaimana perasaan kita, ketika misalnya kita mengundang handai taulan kita ke acara syukuran ulang tahun kita, namun yang diundang biasa-biasa saja, alias tidak antusias menanggapi undangan kita. Padahal istri/ibu kita tercinta telah bersusah payah menyiapkan aneka hidangan yang lezat, khusus untuk para tamu.

Mungkin ada baiknya bila kita merenung sejenak latar belakang turunnya ayat perintah puasa di bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan ke 9 dalam hitungan tahun Hijriyah, bulan yang jatuh pada musim yang sedang panas-panasnya. Ramadhan sendiri mempunyai arti yang membakar, sangat terik.

Masyarakat Arab  sejak sebelum datangnya Islam telah meyakini adanya 4 bulan haram. Bulan dimana perang diharamkan. Dan secara traditional mereka mentaatinya. Bulan tersebut adalah Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya zaman ini telah berjalan (berputar) sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab Mudhar yang berada diantara Jumada (Akhir) dan Sya’ban”. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Namun suatu hari di bulan Rajab pada tahun ke 2 Hijriyah, terjadi bentrokan antara kaum Muslimin yang baru saja hijrah ke Madinah dengan pasukan dagang  pimpinan Abu Sufyan yang ketika itu masih Musrik. Bentrokan ini menyebabkan terbunuhnya seorang Musrikin.  Sontak, orang-orang Quraisy segera memanfaatkan isu ini sebagai pelanggaran kejahatan oleh kaum Muslimin.

Tentu saja kaum Muslimin terperangah, tidak tahu harus berbuat bagaimana. Beruntung tak lama kemudian turun ayat yang membela kaum Muslimin. Mereka tidak bersalah, karena sebenarnya justru merekalah yang terzalimi.  Hanya karena ingin menyembah Tuhannya, mereka malah diusir dari kota kelahiran mereka, Mekah.  Tak tanggung-tanggung, Allah swt bahkan memerintahkan kaum Muslimin untuk memerangi orang-orang kafir yang sudah sangat keterlaluan itu. Padahal selama ini Sang Khalik senantiasa menyuruh kaum Muslimin untuk bersabar dan menahan diri.

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah(2):217).

Akhirnya pada hari Jumat,  17 Ramadhan tahun tersebut pecahlah perang terbuka pertama antara kaum Muslimin melawan pasukan kafir Quraysin. Itulah perang Badar. Perang yang sungguh jauh dari seimbang.  Pasukan Muslimin yang jumlahnya hanya 315 orang, tidak berpengalaman perang dan tidak memiliki peralatan perang.  Melawan pasukan yang jumlahnya 1000 orang, sudah terbiasa berperang serta memiliki peralatan perang lengkap. Dalam keadaan demikian inilah tiba-tiba turun ayat perintah berpuasa !

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”, (QS. Al-Baqarah(2):183).

Kita tidak dapat membayangkan bagaimana sebuah pasukan yang sedang berpuasa bisa terus berperang mengangkat pedang. Bahkan memenangkan pertempuran yang sama sekali tidak seimbang. Namun itulah janji Allah, tuhan yang tidak pernah ingkar akan janji-Nya. Sabar, adalah persyaratan yang dituntut-Nya.

« Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti ». (QS.An-Anfal(8):65).

Ayat diatas menerangkan bahwa satu orang Muslim yang sabar dapat menghadapi 10 orang kafir dan mengalahkannya. Namun demikian sebagai manusia biasa, hal ini tetap saja menimbulkan kegentaran di hati sebagian kaum Muslimin yang baru saja memeluk Islam dan belum terlalu kuat keimanannya. Karena rasa kasih sayang-Nya, selanjutnya  Allahpun menurunkan ayat untuk menenangkan mereka, yaitu cukup satu lawan dua. Asalkan tetap sabar.

“ Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS.An-Anfal(8):66).

Disamping itu adalah doa. Diceritakan Rasulullah terus berdoa selama terjadi pertempuran hebat. “Ya Allah, penuhilah bagiku apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku mengingatkan-Mu akan sumpah dan janji-Mu, “.

Ketika pertempuran makin memuncak, Rasulullah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, terus memohon kepada Tuhannya agar Yang Maha Kuasa memberi bantuan kepada kaum Muslimin.  Air mata Rasulullah  turun hingga membasahi jenggot beliau. Pintanya, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi. Ya Allah,  kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk disembah untuk selamanya setelah hari ini”.

Begitu khusuknya Rasulullah berdoa dan memohon hingga tanpa disadari selendang beliau terjatuh dari pundak beliau. Abu Bakar yang menyaksikan hal ini sungguh tergetar hatinya. Dipungutnya  selendang tersebut, diletakkan  kembali ke pundak sahabat yang begitu dicintainya itu, seraya berucap, ”Cukuplah bagi engkau wahai Rasulullah untuk terus-menerus memohon kepada Rabb engkau. Beristirahatlah barang sejenak wahai kekasih Allah”.

Maka tak lama kemudian turunlah jawaban Allah Azza wa Jala sebagai berikut.

« (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.An-Anfal(8):9-10).

Subhanallah Allahuakbar La illaha illa Allah.

Tengoklah apa yang dilakukan Rasulullah, seorang hamba yang sudah pasti mendapatkan surga berdoa. Simak pula bagaimana para sahabat di masa lalu menjalankan perintah dan mentaati-Nya meski perintah tersebut demikian beratnya.

Bandingkan dengan keadaan kita saat ini, yang hanya menunggu Ramadhan datang tanpa persiapan khusus. Yang berpuasa hanya bersabar menahan lapar dan dahaga. Padahal tujuan berpuasa adalah agar menjadi manusia yang takwa. Dan surga adalah balasannya, ditambah tentu saja cinta dan kasih sayang Allah yang tak terkira besarnya. Dan yang demikian otomatis akan mengundang kasih sayang sesama manusia.

Dari Abu Hurairah ra. Nabi saw bersabda:

Jikalau Allah Ta’ala itu mencintai seseorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan memberitahu bahwa Allah mencintai si Fulan, maka ” Cintailah si Fulan itu “. Jibril lalu mencintainya, kemudian ia mengundang seluruh penghuni langit dan memberitahu bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah si Fulan itu. Para penghuni langit pun lalu mencintainya. Setelah itu diletakkanlah kecintaan padanya di kalangan penghuni bumi”. ( HR. Muttafaq ‘alaih)

Ramadhan kaIi ini kita disibukkan dengan hebohnya pertarungan pemilihan presiden.  Memilih pemimpin dalam Islam adalah suatu keharusan, sebagaimana umat Islam harus memiliki imam untuk memimpin shalat.

Disinilah tampaknya keimanan sekaligus kesabaran kita diuji. Apakah kita akan memilih pemimpin yang hanya mengedepankan kemajuan dan kemakmuran bangsa tanpa mengindahkan kehendak-Nya, atau memilih yang benar-benar peduli terhadap aturan-aturan dan rambu-rambu Islam. Yang mau melindungi hak Muslim, membela dan mempertahankan kemurnian ajaran Islam dari segala kesesatannya seperti Syiah, Ahmadiyah, paham JIL dll, sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para sahabat, yang rela berperang melawan kebathilan demi tegaknya kalimat Allah.

Hati2 dengan slogan Demokrasi, toleransi, HAM dll yang kerap dijadikan alasan sebagian orang untuk menyerang satu pihak dan membela  pihak yang lain. Ketiga isu tersebut adalah isu kebablasan yang sepintas kelihatannya bagus dan benar namun sebenarnya justru menabrak dan melanggar aturan Sang Khalik.

Bagaimana mungkin kita harus memberikan jalan dan tempat kepada berbagai bentuk kemaksiatan, kesesatan dan  kejahatan, seiring dengan kebaikan dan kebenaran. Sungguh mustahil menyatukan kedua hal yang bertolak belakang, satu adalah hisbullah ( pasukan Allah ) lainnya adalah hisbusyaitan (pasukan syaitan).

Bagaimana mungkin atas nama demokrasi, toleransi dan hak asasi manusia, sebuah kompleks pelacuran terbesar se-asia di republik ini, situs-situs porno dibela mati-matian. Kolom agama di KTP dihapuskan.

Hidup adalah pilihan. Kita harus memilih jalan yang sesuai dengan nurani kita. Sesal kemudian tidak ada gunanya. Kesabaran sekali lagi, harus digunakan sebaik mungkin, sejak awal, bukan hanya setelah nasi menjadi bubur.

Sejarah mencatat betapa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Turunnya ayat pertama Al-Quran dan penaklukan-penaklukan besar oleh pasukan Islam, seperti Fattu Makkah, penaklukan kota-kota besar di Spanyol, Rhodesia, pengusiran pasukan Salib di Yerusalem oleh sultan Salahuddin Al-Ayyubi dll, terjadi di bulan Ramadhan. Menjadi bukti bahwa puasa di bulan tersebut bukan alasan yang dapat dipakai umat Islam untuk malas berpikir dan bekerja, apapun alasannya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Juni 2014.

Vien AM.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 53 other followers