Feeds:
Posts
Comments

”Islam adalah agama rasional dan satu-satunya agama yang menolak adanya dosa warisan.”
Islam adalah agama yang rasional dan universal. Ia bisa diterima dan sesuai dengan akal sehat. Agama Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Sebab, kendati diturunkan di Jazirah Arabia, agama Islam bukan hanya untuk orang Arab, tetapi juga bisa diterima oleh orang yang bukan Arab (Ajam).

Bahkan, ilmu-ilmu dan ajaran yang terkandung dalam Alquran, sesuai dengan pandangan hidup umat manusia. Karena itu, tak heran, bila agama yang dibawa oleh Muhammad SAW ini, dengan mudah diterima oleh orang-orang yang senantiasa menggunakan akal pikirannya. Itulah yang dialami Dr Murad Wilfried Hofmann, mantan Diplomat Jerman. Ia menerima agama Islam, disaat kariernya berada di puncak.

Dr Hofmann, menerima Islam pada 25 September 1980. Ia mengucapkan syahadat di Islamic Center Colonia yang dipimpin oleh Imam Muhammad Ahmad Rasoul. Ia dilahirkan dalam keluarga Katholik Jerman pada 3 Juli 1931. Dia adalah lulusan dari Union College di New York dan kemudian melengkapi namanya dengan gelar Doktor di bidang ilmu hukum dari Universitas Munich, Jerman tahun 1957.

Selain itu, Hofmann dulunya adalah seorang asisten peneliti pada Reform of Federal Civil Procedure. Dan pada tahun 1960, ia menerima gelar LLM dari Harvard Law School. Kemudian, pada tahun 1983-1987, ia ditunjuk menjadi direktur informasi NATO di Brussels. Selanjutnya, ia ditugaskan sebagai diplomat (duta besar) Jerman untuk Aljazair tahun 1987 dan dubes di Maroko tahun 1990-1994. Tahun 1982 ia berumrah, dan 10 tahun (1992) kemudian melaksanakan haji.

Namun, justru sebelum di Aljazair dan Maroko inilah, Hofmann memeluk Islam. Dan ia baru mempublikasikan keislamannya setelah dirinya menulis sebuah buku yang berjudul Der Islam als Alternative (Islam sebagai Alternatif) tahun 1992. Setelah terbit bukunya ini, maka gemparlah Jerman.

Dalam buku tersebut, ia tidak saja menjelaskan bahwa Islam adalah alternatif yang paling baik bagi peradaban Barat yang sudah kropos dan kehilangan justifikasinya, namun secara eksplisit Hofmann mengatakan, bahwa agama Islam adalah agama alternatif bagi masyarakat Barat. Islam tidak menawarkan dirinya sebagai alternatif yang lain bagi masyarakat Barat pasca industri. Karena memang hanya Islam-lah satu-satunya alternatif itu, tulisnya.

Karena itu, tidak mengherankan saat buku itu belum terbit saja telah menggegerkan masyarakat Jerman. Mulanya adalah wawancara televisi saluran I dengan Murad Hofmann. Dan dalam wawancara tersebut, Hofmann bercerita tentang bukunya yang ketika itu sebentar lagi akan terbit itu.Saat wawancara tersebut disiarkan, seketika gemparlah seluruh media massa dan masyarakat Jerman. Dan serentak mereka mencerca dan menggugat Hofmann, hingga mereka membaca buku tersebut. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh media massa murahan yang kecil, namun juga oleh media massa yang besar semacam Der Spigel.

Malah pada kesempatan yang lain, televisi Jerman men-shooting Murad Hofmann saat ia sedang melaksanakan shalat di atas Sajadahnya, di kantor Duta Besar Jerman di Maroko, sambil dikomentari oleh sang reporter: Apakah logis jika Jerman berubah menjadi Negara Islam yang tunduk terhadap hukum Tuhan?

Hofmann tersenyum mendengar komentar sang reporter.Jika aku telah berhasil mengemukakan sesuatu, maka sesuatu itu adalah suatu realitas yang pedih. Artinya, Hofmann paham bahwa keislamannya akan membuat warga Jerman marah. Namun ia sadar, segala sesuatu harus ia hadapi apapun resikonya. Dan baginya Islam adalah agama yang rasional dan maju.

Sebagai seorang diplomat, pemikiran Hofmann terkenal sangat brilian. Karena itu pula, ia menambah nama depannya dengan Murad, yang berarti yang dicari. Leopold Weist, seorang Muslim Austria yang kemudian berganti nama menjadi Muhamad Asad, mengatakan, dalam pengertian luas, Murad adalah tujuan, yakni tujuan tertinggi Wilfried Hofmann.

Keislaman Hofmann dilandasi oleh rasa keprihatinannya pada dunia barat yang mulai kehilangan moral. Agama yang dulu dianutnya dirasakannya tak mampu mengobati rasa kekecewaan dan keprihatinannya akan kondisi tersebut.
Apalagi, ketika ia bertugas menjadi Atase di Kedutaan besar Jerman di Aljazair, ia menyaksikan sikap umat Islam Aljazair yang begitu sabar, kuat dan tabah menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan dari umat lain. Atas dasar itu dan sikap orang Eropa yang mulai kehilangan jati diri dan moralnya, Hofmann memutuskan untuk memeluk Islam.

Ia merasa terbebani dengan pemikiran manusia yang harus menerima dosa asal (turunan/warisan) dan adanya Tuhan selain Allah. Mengapa Tuhan harus memiliki anak dan kemudian disiksa dan dibunuh di kayu salib untuk menyelamatkan diri sendiri. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak punya kuasa, tegasnya.

Bahkan, sewaktu masa dalam masa pencarian Tuhan, Hofmann pernah memikirkan tentang keberadaan Allah. ia lalu melakukan analisa terhadap karya-karya filsuf seperti Wittgenstein, Pascal, Swinburn, dan Kant, hingga akhirnya ia dengan yakin menemukan bahwa Tuhan itu ada.

Ia kemudian bertanya; Bagaimana Allah berkomunikasi dengan manusia dan membimbingnya? Disini ia menemukan adanya wahyu yang difirmankan Tuhan. Dan ketika membandingkan agama Yahudi, Kristen, dan Islam, yang umatnya diberi wahyu, Hofmann menemukannya dalam Islam, yang secara tegas menolak adanya dosa warisan.

Ketika manusia berdoa, mereka harusnya tidak berdoa atau meminta kepada tuhan lain selain Allah, sang Pencipta. Seorang Muslim hidup di dunia tanpa pendeta dan tanpa hierarki keagamaan; ketika berdoa, ia tidak berdoa melalui Yesus, Maria, atau orang-orang suci, tetapi langsung kepada Allah, tegasnya.

Hofmann melihat bahwa agama Islam adalah agama yang murni dan bersih dari kesyirikan atau adanya persekutuan Allah dengan makhluknya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan,ujarnya. Dalam bukunya Der Islam Als Alternative, Annie Marie Schimmel memberikan kata pengantar dengan mengutip kata-kata Goethe.Jika Islam berarti ketundukan dengan penuh ketulusan, maka atas dasar Islam-lah selayaknya kita hidup dan mati.

Dalam bukunya Trend Islam 2000, Hofmann menyebutkan, potensi masa depan peradaban Islam. Ia menjelaskan, ada tiga sikap muslim terhadap masa depan mereka. Yakni, kelompok pesimis (yang melihat perjalanan sejarah selalu menurun), kelompok stagnan (yang melihat sejarah Islam seperti gelombang yang naik turun), dan ketiga kelompok optimis (umat yang melihat masa depannya terus maju). Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk senantiasa bersikap optimis dan menatap hari esok yang lebih baik.

Hofmann juga banyak terlibat aktif dalam organisasi keislaman, seperti OKI. Ia senantiasa menyampaikan pemikiranpemikiran briliannya untuk kemajuan Islam. Pada pertengahan September 2009 lalu, ia dinobatkan sebagai Muslim Personality of The Year (Muslim Berkepribadian Tahun Ini), yang diselenggarakan oleh Dubai International Holy Quran Award (DIHQA). Penghargaan serupa pernah diberikan pada Syekh Dr Yusuf al-Qaradhawi.

Islam Agama Rasional

Ada beberapa alasan yang membuat Murad Wilfried Hofmann akhirnya keluar dari Katholik dan memilih Islam. Dan alasan-lasan itu sangat membekas dalam pikirannya.

Tahun 1961, ketika ia bertugas sebagai Atase Kedutaan Besar Jerman di Aljazair, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah perang gerilya berdarah antara tentara Prancis dan Front Nasional Aljazair yang telah berjuang untuk kemerdekaan Aljazair, selama delapan tahun. Disana ia menyaksikan kekejaman dan pembantaian yang dialami penduduk Aljazair. Setiap hari, banyak penduduk Aljazair tewas.

Saya menyaksikan kesabaran dan ketahanan orang-orang Aljazair dalam menghadapi penderitaan ekstrem, mereka sangat disiplin dan menjalankan puasa selama bulan Ramadhan, rasa percaya diri mereka sangat tinggi dengan kemenangan yang akan diraih. Saya sangat salut dan bangga dengan sikap mereka, ujarnya. Alasan lain yang membuatnya memilih Islam, Hofmann adalah seorang penyuka seni dan keindahan.

Islam punya beragam kesenian yang sangat menarik dan indah, termasuk seni arsitekturnya. Hampir semua ruangan dimanifestasikan dalam seni keindahan Islam yang universal. Mulai dari kaligrafi, pola karpet, ruang bangunan dan arsitektur masjid, menunjukkan kuatnya seni Islam, jelasnya. Dari beberapa alasan diatas, persoalan yang benar-benar membuatnya harus memeluk Islam, karena hanya agama ini yang tidak mengajarkan doktrin tentang dosa warisan.

Pernyataan yang terdapat dalam Alquran sangat jelas, rasional dan tegas.Tak ada keraguan bagi saya akan kebenaran Islam dan misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad SA, paparnya. sya/berbagai sumber Biodata
Nama : Wilfried Hofmann
Nama Muslim : Murad Wilfried Hofmann
Lahir : Jerman, 6 September 1931
Masuk Islam : 25 September 1980

Pekerjaan :
*Direktur Informasi NATO di Brussels Belgia
(1983-1987)
*Duta Besar Jerman untuk Aljazair (1987-
1990)
*Duta Besar Jerman untuk Maroko (1990-
1994).
*Penulis

Dicopy dari : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/09/09/29/78582-hidayah-bagi-sang-diplomat-jerman

Urgensi Ahklakul Khorimah.

Ramadhan telah berlalu.  Selesai sudah ganjaran malam Lailatul Qadar  yang berlipat-lipat lebih dari 1000 bulan yang hampir setara dengan ibadah selama 84 tahun itu.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS.Al-Qadr(97):1-5).

Bukan hal yang dilarang mengejar pahala berlipat ganda seperti itu, justru dianjurkan. Namun ada esensi lain yang lebih utama tapi sering dilupakan kaum muslimin, yaitu akhlakul khorimah atau akhlak yang baik sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. Inilah ciri orang takwa yang  merupakan tujuan utama perintah berpuasa di bulan Ramadhan.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-baqarah(2):183).

Ciri orang yang takwa yang paling mudah kita temukan ada dalam diri Rasulullah. Aisyah ra mengatakan bahwa Rasulullah adalah Quran berjalan. Maksudnya, bila kita ingin melihat secara nyata, apa itu Al-Quran, bagaimana Islam, maka tengok dan pelajarlah sifat dan sikap nabi penutup ini.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS. Al-Ahzab(33):21).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Rasulullah adalah seorang yang dikenal jujur, adil, santun, disiplin, hangat, ramah dan apik dalam berpenampilan, namun tetap sederhana dan bersahaja, dan sekaligus tegas. Beliau juga dikenal sangat menghormati kaum perempuan dan begitu  menyayangi anak-anak. Dan kesemuanya itu beliau lakukan demi mencari ridho Tuhannya.

“ Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu “.

Demi Allah. Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku menghentikan dakwah ini, niscaya aku tidak akan menghentikan dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa.”

Itulah jawaban Rasulullah atas permintaan Abu Thalib, paman nabi yang meminta ponakan yang sangat dicintai itu agar menghentikan dakwahnya. Ini dilakukan karena sang paman mengkawatirkan keselamatan nabi yang sejak kecil telah dalam perawatan dan pengawasannya.

Inilah ciri ketakwaan yang sesungguhnya, yang seharusnya menjadi buah dari Ramadhan yang tiap tahun dilalui umat Islam seluruh dunia.

Namun anehnya, sebagian bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim ini, kurang mampu dan ( atau tidak mau ?? )  mencontoh serta   meneladani rasulnya. Bukti paling kentara yaitu dengan banyaknya koruptor di negri tercinta ini. Menjadi  bukti betapa orang-orang yang notabene adalah para pejabat negri, yang mustinya menjadi contoh keteladanan rakyatnya,  tidak memiliki rasa takut kepada Tuhannya, bahwa segala prilakunya senantiasa dalam pengawasan-Nya. Ironisnya lagi, mereka ini tidak punya sedikitpun rasa sesal dan malu ketika pengadilan memvonis kesalahan mereka.

Hal yang tak kalah menyedihkan, adalah betapa banyaknya anak usia SD yang  telah diajari untuk berbuat curang oleh gurunya. Ini  terlihat pada setiap ujian Negara  yang dilakukan tiap tahun di seluruh penjuru negri.  Demi menjaga nama baik sekolah, pihak sekolah rela mengorbankan murid-muridnya agar mau menyontek supaya mendapat nilai yang tinggi. Tak heran bila akhirnya murid berpikir bahwa menyontek itu tidak apa yang penting nilanya bagus ! Naúdzubillah min dzalik …

Nyesel juga lho waktu ujian SD dulu g ikutan nyontek, padahal guru yang jaga sengaja kasih kesempatan. Ijazah temen-temen yang nyontek jadinya pada bagus-bagus, bangga banget mereka”, begitu keluh putra kami yang sekarang telah menyelesaikan S2nya dan sudah bekerja.

Ironis bukan? Orang berbuat curang koq bangga, bahkan mampu membuat orang yang jujur berkecil hati. Kapan kita bisa maju jika kebiasaan buruk seperti ini kita biarkan saja. Karena sejatinya sifat jujur adalah kunci segala keberhasilan. Sebaliknya kebohongan adalah awal bencana besar.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wajib atas kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan kepada Surga. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian sifat dusta, karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan, dan keburukan itu menunjukkan kepada Neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta.” (SHOHIH. Diriwayatkan oleh imam Muslim no. 6586).

 Tak ada jalan lain, segala perbuatan buruk mulai dari menyontek, berbohong, memfitnah dll  harus diberi sangsi dan hukuman, agar si pelaku kapok. Itu bila kita berniat membangun bangsa yang terhormat,  cerminan negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Harus diingat, ajaran Islam bukan hanya teori belaka, yang sarat dengan rutinitas rentetan ibadah ritual. Tidak akan ditrima shalat, puasa, zakat dan haji kita bila tanpa disertai perbuatan mulia yang bermanfaat bagi orang lain. Karena sejatinya orang yang paling dicintai Allah swt adalah  Mukmin yang berakhlak baik.  Yaitu mereka yang peduli terhadap sesama, yang suka membantu orang yang dalam kesulitan, yang santun, jujur dan  tidak pamrih, disamping melaksanakan segala kewajiban Tuhannya. Mukmin yang dicintai Sang Khalik adalah ibarat sebuah pohon yang dari akar, batang, dahan, ranting hingga bunga dan buahnya bermanfaat bagi orang lain. Perumpamaannya seperti apa yang disiratkan ayat 24 – 26 surat Ibrahim berikut :

“ Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun”.

Tak heran bila saat ini banyak non muslim yang merasa “ilfil” kata anak muda zaman sekarang, terhadap kaum Muslimin. Betapa banyaknya pengakuan para mualaf yang “curhat”,  jika tidak karena ayat-ayat Al-quranul Karim  yang begitu dasyat, mereka ini tidak bakal tertarik masuk Islam karena banyaknya contoh Muslim yang tidak baik akhlaknya bahkan bejat. Korupsi, pelacuran, mabuk2an dll adalah contohnya.

Sungguh aneh, Indonesia yang setiap tahun mengirimkan 200-an ribu jamaah haji ke tanah suci, tetapi prilakunya tidak mencerminkan hal itu. Juga shalat wajib 5x sehari yang merupakan tali pertolongan terakhir umat Islam ternyata tidak mampu melahirkan insan yang berakhlak mulia.  Apa gerangan yang salah dengan umat ini ???

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya”.(QS.Al-Mauun(107) :4-6).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Yang pertama kali dihilangkan dari umat manusia adalah amanat, dan yang tersisa paling akhir adalah shalat. Berapa banyak orang yang mengerjakan shalat tanpa ada kebaikan di dalamnya sama sekali di dalam dirinya.” (HR Ath Thabrani, hasan)

Marilah kita bersama introspeksi, silahkan menambah ibadah sunnah namun jangan kesampingkan kebiasaan dan sifat baik yang mustinya menjadi buah utama ibadah kita. Mari kita buktikan bahwa semboyan Islam adalah rahmatan lillalamiin, adalah nyata bukan hanya sekedar omong kosong belaka.

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. (QS. Fushilaat(41):34).

Dari Jabir r.a meriwayatkan bahawa Baginda Rasulullah saw bersabda : Diantara kamu orang yang paling aku cintai dan orang yang paling hampir kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang baik akhlaknya. (HR Tirmizi).

Dari Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda : Musa bin Imran a.s berkata: Wahai Tuhanku, siapakah orang yang paling mulia pada pandanganMu? Allah SWT menjawab: Barangsiapa yang memberi maaf meskipun dia memiliki kemampuan untuk membalas dendam. (HR Baihaqi).

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna dan orang-orang yang menunaikan zakat dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (ya`ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Mukminun(23):1-11).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 September 2014.

Vien AM.

khilafah33

Perbincangan tentang ISIS dan Khilafah menghangat di media massa dan di masyarakat akhir-akhir ini. Diantara pemicunya adalah peredaran salah satu video yang diunggah di Youtube. Video tersebut berisi seruan anggota ISIS dari Indonesia kepada umat Islam di Indonesia agar bergabung dengan organisasi itu.

 Isu ISIS dan Khilafah pun bergulir. Banyak pihak berkomentar. Pemerintah meminta masyarakat mewaspadai dan mencegah organisasi itu berkembang. Kelompok sekular memanfaatkan isu itu untuk memukul apa yang mereka katakan sebagai paham radikal.

 Sikap Proporsional

 Bagi pihak yang tidak suka terhadap Islam, isu ISIS dijadikan sebagai kesempatan untuk menjauhkan masyarakat dari ide khilafah. Mereka kemudian menyimpangkan konsep khilafah dan melakukan ‘monsterisasi’ khilafah. Mereka berupava menanamkan ketakutan atau paling tidak keengganan terhadap ide khilafah. Caranya dengan mengaitkan isu tersebut dengan terorisme, aksi kekerasan dan kejahatan. Mereka pun melekatkan keburukan pada ide khilafah. Isu ISIS di Indonesia dan ide khilafah yang terus diulang-ulang tanpa disertai penjelasan memadai tentu bisa menjadi bagian dari upaya ‘monsterisasi’ itu.

 Semua pihak, khususnya Pemerintah, seharusnya menyikapi isu ISIS secara proporsional. Penolakan terhadap organisasi yang mengklaim telah mendeklarasikan Khilafah itu berikut berbagai tindakan kekerasan yang mereka lakukan jangan sampai diperalat oleh pihak-pihak tertentu, khususnya yang tidak suka terhadap Islam, untuk melakukan ‘monsterisasi’ syariah dan khilafah sehingga menjadi penolakan terhadap syariah dan khilafah. Upaya ‘monsterisasi’itu malah dapat menimbulkan masalah baru karena bisa mengkriminalisasi ide khilafah yang bersumberdari ajaran Islam.

 Khilafah: Ajaran Islam

 Khilafah adalah ide Islam. Karena itu Khilafah harus didukung oleh umat. Khilafah bersumber dari al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas. Dalam Islam, Khilafah atau al-Imamah al-‘Uzhma merupakan perkara ma’lumun min ad-din bi adh-dharurah (telah dimaklumi sebagai bagian penting dari ajaran Islam).

 Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia guna menerapkan syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Pengertian ini sekaligus menjelaskan muatan dari Khilafah yakni: ukhuwah, syariah dan dakwah. Ukhuwah artinya persatuan umat Islam seluruh dunia. Syariah artinya penerapan syariah Islam secara kaffah (menyeluruh). Dakwah artinya penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Tiga muatan inilah yang terangkum dalam kata Khilafah. Karena itu Khilafah sebagai ajaran Islam harus didukung oleh umat Islam.

 Secara historis pun, Khilafah telah membawa rahmat dan pengaruh besar bagi umat Islam di dunia, termasuk bagi negeri ini dan penduduknya. Perlu diingat, Khilafah berperan besar bagi penyebaran Islam di negeri ini sehingga penduduk negeri ini mendapat rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mendapatkan petunjuk kepada Islam. Diantara para wali dan ulama yang menyebarkan Islam di negeri ini sebagiannya diutus dan difasilitasi oleh Khilafah pada masa itu, termasuk sebagian dari Wali Songo. Kesultanan-kesultanan Islam yang dulu memerintah dan memakmurkan negeri ini pun berhubungan erat dengan Khilafah pada masa masing-masing. Bahkan Khilafah pernah turut membantu perjuangan rakyat negeri ini melawan penjajah. Kesultanan Aceh, misalnya, pernah dibantu oleh Khilafah Utsmaniyah dengan senjata modern kala itu dan pasukan yang dipimpin oleh panglima Hizir Reis dalam menghadapi penjajah.

 Kewajiban Menegakkan Khilafah

 Kita telah diperintah untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melaksanakan syariah-Nya secara keseluruhan tanpa pilih-pilih. Kewajiban melaksanakan seluruh syariah itu memastikan kewajiban kaum Muslim untuk mengangkat imam (Khalifah) dan menegakkan Khilafah. Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya, berfirman:

“Terhadap pencuri laki-Iaki dan pencuri perempuan, potonglah tangan keduanya … ” (QS al-Maidah 5:38).

Imam Fakhrudin ar-Razi asy-Syafi’i menafsirkan ayat ini dalam tafsirnya, Mafatih al-Ghayb: “Para mutakallimin berhujjah dengan ayat ini bahwa umat wajib mengangkat untuk diri mereka seorang imam (Khalifah). Dalilnya, melalui ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan penegakkan had (hukuman) atas pencuri dan pelaku kriminal. Tentu harus ada pihak yang diseru dengan seruan ini. Umat sepakat bahwa tidak ada seorang pun dari kalangan rakyat yang berhak menegakkan hudud terhadap para pelaku kriminal. Bahkan umat sepakat bahwa tidak boleh (haram) penegakkan hudud atas orang merdeka pelaku kriminal kecuali oleh imam (Khalifah). Taklif ini merupakan taklif jazim (tegas). Tak mungkin keluar dari ikatan taklif ini kecuali ketika ada imam (Khalifah). Saat kewajiban itu tidak tertunaikan kecuali dengan keberadaan seorang imam (Khalifah)-padahal itu masih dalam batas kemampuan mukallaf-maka keberadaan imam (Khalifah) adalah wajib. Karena itu perkara ini memastikan kewajiban untuk mengangkat seorang imam (Khalifah).”

 Imam ‘Alauddin al-Kasani al-Hanafi dalam Bada’iu ash-Shana’i (xiv/406) juga menyatakan: “Mengangkat Al-Imam al-A’zham (Khalifah) adalah fardhu tanpa ada perbedaan diantara ahlul-haq. Dalam hal ini, perbedaan sebagian kalangan Qadariyah tidak ada nilainya. Pasalnya, Sahabat radhiyallah ‘anhum telah berijmak atas (kewajiban penegakkan, red.) Khilafah … “

 Imam an-Nawawi di dalam Syarhu Shahih Muslim (vi/291) pun menegaskan: “Para ulama sepakat bahwa wajib atas kaum Muslim untuk mengangkat khalifah. Kewajiban mengangkat khalifah itu berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal. Adapun yang diceritakan dari al-‘Asham bahwa dia mengatakan Khilafah tidak wajib, juga dari selain dia bahwa Khilafah itu wajib menurut akal dan bukan syariah, maka kedua perkataan ini adalah batil.”

 Syaikh Manshur al-Buhuti al-Hanbali dalam Kasysyaf al-Qina’ ‘an Matn al-lqna’ (xxi/61) juga menegaskan: “Mengangkat Al-Imam al-A’zham (Khalifah) bagi kaum Muslim adalah fardhu kifayah. Pasalnya, manusia memerlukan itu untuk menjaga kesucian dan mempertahankan wilayah, menegakkan hudud, menunaikan hak-hak, memerintahkan kemakrufan dan melarang kemungkaran.”

 Bahkan Imam Ibn Hajar al-Haytsami di dalam Ash-Shawa’iq al-Muhriqah (i/25) menegaskan: “Ketahuilah juga bahwa sesungguhnya para Sahabat radhiyallah ‘anhum telah berijmak bahwa mengangkat imam (Khalifah) setelah lewatnya zaman kenabian adalah wajib. Mereka bahkan menjadikan kewajiban ini sebagai salah satu kewajiban yang paling penting (min ahammi al-wajibat). Buktinya, mereka lebih menyibukkan diri untuk memilih dan mengangkat Khalifah daripada menguburkan jenazah Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam. Perbedaan mereka dalam menentukan (siapa yang menjadi Khalifah) tidak menodai ijmak yang telah disebutkan itu.”

 Harus Mengikuti Manhaj Kenabian

 Khilafah yang dikehendaki oleh syariah itu adalah Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Islam telah menjelaskan metode pelaksanaan berbagai kewajiban, termasuk kewajiban menegakkan Khilafah ini. Karena itu menegakkan Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah juga harus terikat dengan metode yang telah dijelaskan oleh Rasul Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sirah beliau. Metode ini

merupakan hukum syariah yang wajib diikuti.Diantara ketentuan metode itu adalah bahwa negeri tempat Khilafah ditegakkan haruslah memenuhi empat kriteria:

 1.  Kekuasaan di wilayah itu haruslah otonom bersandar kepada kaum Muslim.

2. Keamanannya harus terjamin dengan keamanan kaum Muslim. Perlindungan di dalam dan luar negeri harus pula dengan perlindungan Islam, berasal dari kekuatan kaum Muslim sebagai kekuatan Islam saja.

3.  Orang yang dibaiat menjadi Khalifah harus memenuhi syarat in’iqad (legal).

4.  Segera secara langsung menerapkan syariah Islam secara keseluruhan dan mengemban dakwah Islam. Artinya, Khalifah yang dibaiat itu harus berada di tengah-tengah rakyat (tidak terus bersembunyi); memelihara urusan mereka, menyelesaikan problem mereka serta melaksanakan tugas pemerintahan dan ri’ayah seluruhnya sebagaimana yang disyariatkan.

 Keempat kriteria itu belum terpenuhi pada khilafah yang telah diklaim deklarasinya oleh ISIS. Karena itu khilafah ala ISIS tidak bisa dianggap sebagai khilafah yang syar’i. Konsekuensinya, semua hak dan kewajiban syar’i terkait khilafah itu juga belum bisa direalisasi. Dengan kata lain, Khilafah yang syar’i belum terwujud.

 Khilafah adalah kewajiban terpenting. Karena itu kaum Muslim wajib turut serta aktif dalam menegakkan Khilafah. Mereka tidak boleh menjauhi, menolak apalagi sampai menghalangi upaya penegakkan Khilafah. Tindakan demikian merupakan dosa besar.

Hanya saja, upaya penegakkan Khilafah tetap harus mengikuti metode yang telah digariskan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk kita, yakni melalui dakwah fikriyah wa siyasiyah (pemikiran dan politik) tanpa kekerasan. Caranya adalah melalui aktivitas pembinaan dan pengkaderan, berinteraksi bersama umat dan thalab an-nushrah (menggalang dukungan para pemilik kekuasaan). Perjuangan itu pasti berhasil pada saatnya karena itu merupakan janji Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman dan beramal salih di antara kalian bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi … “ (QS an-Nur 24:55).

Ketika kekuasaan Islam terwujud, ia akan menebarkan rahmat. Sayyid Quthub di dalam FI Zhilal al-Qur’an menjelaskan:

“Sesungguhnya dijadikan berkuasa di muka bumi itu adalah kemampuan untuk membangun dan memperbaiki, bukan menghancurkan dan merusak; kemampuan mewujudkan keadilan dan ketenteraman, bukan kezaliman dan penindasan; kemampuan meninggikan jiwa manusiawi dan sistem manusiawi, bukan untuk membenamkan individu dan komunitas pada derajat hewan … ” (al-Islam 717, Syawal 1435H)

Khilafah ar-Rasyidah dan Filosofi Bernegara dalam Islam

Dalam sebulan terakhir ini media massa banyak memberitakan tentang Daulah Islam dan Khilafah ala ISIS yang diklaim telah diproklamasikan di Irak. Berita tersebut dikaitkan dengan berita tentang berbagai tindakan kekerasan, penindasan bahkan kekejaman; juga tentang perlakuan otoriter terhadap warga termasuk warga sipil dan non-Muslim. Semua itu boleh jadi bisa menimbulkan pemahaman keliru tentang syariah dan Khilafah di tengah-tengah umat.

Waspadai Pengaburan Potret Khilafah

Di tengah isu tentang Khilafah ala ISIS, seminggu terakhir ini juga tersebar berita bahwa Amerika Serikat membantu Irak dan kelompok Kurdi untuk menyerang ISIS. Alasannya adalah demi

kemanusiaan, yaitu untuk mencegah genosida (pemusnahan massal) dan pembantaian. Padahal motif kemanusiaan itu hanyalah kebohongan. Pasalnya, jauh sebelum ini, genosida dan pembantaian juga terjadi di Suriah, Afrika Tengah, Myanmar dan belahan dunia lainnya. Namun, Amerika Serikat tidak melakukan campur tangan dengan alasan kemanusiaan. Amerika Serikat dan Barat tidak melakukan apa-apa.

Sebaliknya, Amerika Serikat dan Barat sebelumnya telah melakukan tindakan brutal di lrak, Afganistan, Somalia dan belahan dunia lainnya. Tindakan Amerika Serikat dan Barat telah memakan korban ratusan ribu bahkan jutaan orang tewas maupun terluka.

Karena itu berbagai berita itu haruslah disikapi dengan benar. Jika pun berita-berita tentang apa yang terjadi itu benar, tindakan seperti yang diberitakan itu jelas tidak dibenarkan oleh syariah. Bahkan metode memproklamasikan dan menegakkan negara yang diklaim itu sejak awal sudah keliru. Sekali lagi, jika memang berita-berita itu benar maka: Pertama, kita tidak boleh terperdaya dan tersesatkan sehingga menilai Amerika Serikat dan Barat sebagai penyelamat. Tindakan Amerika Serikat dan Barat serta rezim-rezim diktator dukungan mereka seperti di Suriah, bahkan kebiadaban Israel, jauh lebih brutal dan kejam. Kedua, kita tak boleh terpalingkan dari kewajiban syar’i untuk terus berjuang menegakkan Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian.

Khilafah yang Sebenarnya

Khilafah adalah negara kaum Muslim di seluruh dunia untuk menerapkan Islam, baik di dalam maupun luar negeri. Negara adalah organisasi politik yang berfungsi untuk menerapkan kumpulan pemahaman (mafahim), standarisasi (maqavis) dan keyakinan (qana’at) yang diterima dan diemban oleh umat.

Karena itu mendirikan negara Khilafah tak bisa serta-merta dengan mengambil-alih kekuasaan, kemudian semuanya dianggap selesai begitu kekuasaan di tangan. Pasalnya, yang paling mendasar dalam bernegara adalah penerimaan umat terhadap kumpulan pemahaman, standarisasi dan keyakinan yang akan diterapkan kepada mereka. Jika tidak, maka negara itu adanya seperti tidak ada, keberadaannya tidak bisa mewujudkan tujuan bernegara.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan metode baku dalam mendirikan Negara Islam di Madinah. Beliau memulai langkahnya dengan proses pembinaan serta penanaman (tatsqif) kumpulan pemahaman, standarisasi dan keyakinan yang hendak diterapkan itu kepada umat; juga kepada ahlul quwwah (para pemilik kekuasaan) sekaligus meminta nushrah (dukungan) mereka. Ketika umat dan ahlul quwwah menerima dan mengembannya, mereka lalu memberikan mandat kekuasaan mereka (taslim al-hukm) kepada Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menerapkan kumpulan pemahaman, standarisasi dan keyakinan tersebut kepada mereka.

Sebagai organisasi yang berfungsi untuk menerapkan kumpulan pemahaman, standarisasi dan keyakinan kepada rakyat, negara memang membutuhkan kekuatan (quwwah). Kekuatan juga dibutuhkan untuk menjaga dan melindungi negara. Namun, negara bukanlah kekuatan (quwwah) yang identik dengan militer. Negara juga tidak boleh menggunakan pendekatan militeristik, apalagi menjelma menjadi military state (negara militer). Selain akan menjadi ‘monster’, penjelmaan negara seperti ini juga menjadi madarat bagi umat. Padahal Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Siapa saja yang meneror seorang Muslim, Allah akan meneror dia pada Hari Kiamat. Siapa saja yang menyebarkan rahasia saudaranya, Allah akan menyebarkan rahasianya pada Hari Kiamat kepada para makhluk” (Dikeluarkan oleh ar-Rabi’ bin Habib dalam Musnad).

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

“Tidak boleh ada kemadaratan (dharar) dan sesuatu yang bisa memadaratkan (dhirar) dalam Islam” (HR Ibn Majah, ad-Daruquthni dan Malik).

Karena itu negara militer (military state), negara totaliter atau negara otoriter jelas diharamkan dalam Islam (Al-Allamah Syaikh ‘Abdul Qadim Zallum, Nizham al-Hukm fi ai-Islam, hlm. 242 & 246, cet.VI, edisi Muktamadah, 1422 H).

Negara Khilafah, sebagaimana yang digariskan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, disyariatkan untuk mengurus urusan umat dengan menerapkan hukum syariah. Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Pemimpin umat manusia adalah pengurus rakyat. Dia bertanggung jawab terhadap urusan rakyatnya” (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Ibn Hibban, an-Nasa’i dan al-Baihaqi).

 Karena itu negara (ad-dawlah) dan kekuasaan (as-sulthan) dalam Islam ada untuk mengurus urusan umat. Tanpa itu tidak mungkin urusan umat bisa diwujudkan. Maka dari itu, filosofi dasar bernegara dalam Islam adalah mewujudkan kemaslahatan umum (al-mashlahah al-‘ammah) baik yang bersifat vital (al-mashlahah ad-dharuriyyah) seperti menjaga agama (hifdz ad-din), jiwa (an-nafs), akal (al-‘aql), keturunan (an-nasi), kehormatan (al-karamah), harta (al-mal), keamanan (al-amn) dan menjaga negara (hifdz ad-daulah); maupun kemaslahatan pelengkap (al-mashlahah al-takmiliyyah), dibutuhkan (al-mashlahah al-hajiyyah) dan kebaikan (al-mashlahah at-tahsiniyyah).

Kemaslahatan vital, seperti menjaga agama, akan terwujud jika negara menerapkan Islam dengan benar dan konsekuen, serta menjaga Islam dari berbagai penyimpangan. Caranya adalah dengan penerapan sanksi atas orang murtad serta orang yang pahamnya salah. Jiwa akan terjaga jika qishash diterapkan atas orang yang menghilangkan nyawa orang lain. Akal akan terjaga ketika khamer, narkoba dan sejenisnya diharamkan dan siapa saja yang terlibat dengan itu dikenai sanksi. Keturunan akan terjaga ketika hukum pernikahan diterapkan, zina diharamkan dan sanksi bagi pelakunya ditegakkan. Kehormatan juga akan terwujud ketika orang yang menuduh zina dijatuhi sanksi sekaligus ditolak kesaksiannya. Harta akan terjaga ketika pencurian, korupsi dan perampokan dikenai sanksi. Keamanan pun akan terjaga ketika bughat, begal dan pengacau keamanan dilarang serta pelakunya dijatuhi sanksi yang berat.

Namun, kemaslahatan vital ini tidak bisa diwujudkan sendiri karena membutuhkan seperangkat hukum syariah yang lain. Karena itu ada kemaslahatan pelengkap (al-mashlahah al-takmiliyyah), seperti larangan melihat lawan jenis, berdua-duaan dan membuka aurat, yang melengkapi larangan berzina. Sebab, zina tidak hanya diharamkan, tetapi semua pintu perzinaan juga wajib ditutup rapat-rapat.

Hukum syariah juga mewujudkan kemaslahatan yang dibutuhkan (al-mashlahah al-hajiyyah), seperti rukhshah tidak berpuasa bagi musafir dan orang yang sakit; menjamak dan memendekkan shalat bagi musafir; bertayamum bagi orang yang sakit dan tidak menemukan air. Selain itu, hukum syariah juga mewujudkan kemaslahatan kebaikan (al-mashlahah at-tahsiniyyah), seperti bersuci dari najis, hadas besar dan kecil; larangan kencing di lubang, atau air yang berhenti; memakai wangi-wangian, memotong kuku, menyisir rambut, dan sebagainya. Semuanya ini merupakan kemaslahatan yang bersifat tahsiniyyah.

Seluruh kemaslahatan ini hanya bisa diwujudkan dengan menerapkan syariah Islam dengan sempurna, baik dan benar, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), kecuali menjadi rahmat bagi se/uruh alam semesta” (QS al-Anbiya’ 21:107).

Makna “rahmat[an]” adalah jalb al-mashalih (terpenuhinya kemaslahatan) dan daf’u al-mafasid (terhindarkannya kerusakan dan kemadaratan). Ini berlaku bukan hanya untuk orang Islam, tetapi juga non-Muslim; bukan hanya untuk manusia, tetapi juga alam dan kehidupan. Itulah makna frasa rahmat[an] lil-‘alamin.

Hanya saja, seluruh kemaslahatan tersebut tidak akan terwujud jika syariah Islam tidak diterapkan dengan sempurna, baik dan benar, di bawah naungan Khilafah. Khilafah itu haruslah yang mampu menerapkan syariah Islam dengan sempurna, baik dan benar. Itulah Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.

Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah ini dibangun dengan pondasi umat Islam yang menerima dan meyakini kumpulan pemahaman, standarisasi dan keyakinan Islam yang diterapkan kepada mereka;

sebagaimana Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah yang pertama. Metode yang digunakan untuk membangun Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah juga mengikuti sepenuhnya metode Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam dan para Sahabat dalam mendirikan negara. Para pendiri dan pemangkunya juga mempunyai karakter sebagaimana pendiri dan pemangku Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah yang pertama.

Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah menerapkan Islam secara sempurna, dengan baik dan benar, di dalamnya darah, harta, kehormatan, akal, keturunan manusia baik Muslim maupun non Mulsim akan terjaga dan terlindungi.

Begitulah Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Itulah Khilafah yang wajib ditegakkan dan diperjuangkan oleh umat Islam di seluruh dunia. Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah ini akan menjadi pangkal kebangkitan dan kemuliaan umat Islam. Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah ini juga menjadi solusi dari berbagai masalah yang menyelimuti umat Islam.” (al-Islam 718/Syawal 1435H)

Wallah a’lam bi ash-shawab.

Sumber: al-Islam edisi 717-718, Syawal 1435 H/Agustus 2014

Dicopy dari :

http://www.akhirzaman.info/islam/80-hizbut-thahrir/2375-khilafah-ajaran-islam-bukan-kejahatan.html

Ramadhan 1435 H telah berakhir, harapan tambahan selain agar Allah swt menerima amal ibadah ini, adalah semoga serangan brutal Zionis Israel ke Gaza yang telah dimulai pada awal bulan suci tersebut juga usai sudah.  Namun nyatanya hingga hari ini, memasuki minggu akhir bulan Syawal, keganasan pasukan penjajah tersebut masih juga terjadi.

Ntah berapa kali sudah genjatan senjata yang diprakasai Mesir diberlakukan, tanpa hasil memuaskan. Tuntutan utama HAMAS agar blokade yang telah berlangsung sejak tahun 2006 dibuka diabaikan begitu saja oleh Israel. Ini yang menyebabkan HAMAS nekad untuk meneruskan perlawanannya meski mereka telah habis-habisan.

Bayangkan, lebih dari 2000 nyawa telah melayang, 400 an diantaranya anak2, lebih dari 10 ribu  terluka,  ratusan ribu warga Gaza terpaksa mengungsi, ribuan rumah, ratusan bangunan seperti sekolah, masjid, pasar hancur, bahkan rumah sakit dan pembangkit listrikpun tak luput dari amukan tentara penjajah Israel. Tidakkah pengorbanan ini sudah lebih dari cukup untuk sekedar membebaskan mereka dari blokade yang menyengsarakan rakyat selama bertahun-tahun ??   

Tak heran jika kemudian roket-roket HAMASpun melayang hingga ke pusat kota Telaviv meski tidak sampai mencederai seorangpun karena Israel telah mengantisipasinya dengan Iron Dome. Iron Dome adalah sistim penangkal roket yang dbiayai pemerintah AS sebagai sekutu terdekat Israel terlaknat. 

Israel tidak akan aman selama rakyat Palestina juga dibuat tidak aman”, demikian pernyataan salah seorang pejabat Hamas, memperingatkan.

Namun tanpa rasa bersalah sedikitpun Israel membalas kekecewaan rakyat Gaza itu dengan kembali memborbardir kota yang sudah luluh lantak itu.  Hanya dalam waktu 2 hari berturut-turut paska genjatan senjata terakhir mereka telah menewaskan 30 orang lagi termasuk seorang bayi dan 7 anak serta 120 orang terluka. Dengan pongah Netanyahu, perdana mentri negara Zionis itu menyatakan bahwa ia akan melanjutkan gempuran terhadap Gaza (HAMAS) bahkan bila harus bertahun-tahun. Dan yang juga menyedihkan Amerika Serikat, si polisi dunia itu, juga menyalahkan HAMAS.

Tetapi yang paling menyedihkan, tak ada satupun negara Islam ( Timur Tengah) yang secara nyata mau membantu HAMAS ( Palestina). Persaudaraan dan ikatan sesama Muslim yang merupakan kekuatan Islam tampak jelas telah hilang menguap ntah kemana.

“Tidaklah sempurna iman seseorang dari kalian,sehingga dia mencintai saudaranya(sesama islam) sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri “ (HR. Bukhari).

“Perumpamaan orang Islam yang saling mengasihi dan mencintai satu sama lain adalah ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dan tidak bisa tidur “(HR. Bukhari).

Nasib umat Islam saat ini memang benar-benar berada di titik terendah. Apapun yg dilakukan umat Islam selalu salah. Islam telah menjadi bulan-bulanan kaum kafir. Nyata benar bahwa Islam telah kehilangan giginya. Sejak jatuhnya kekhalifahan Turki Ottoman ditahun 1924 hingga saat ini, tak ada satupun negara Islam yang mempunyai pengaruh dan didengar dunia internasional. Parahnya lagi, malah label teroris yang kuat melekat di tubuh Islam !

Ini semua sebenarnya tidak lepas dari adanya  Ghawzl Fikri ( perang pemikiran) yang digarap Barat secara rapi.

(Baca : http://vienmuhadi.com/2009/03/06/perang-pemikiran-al-ghazwl-fikri/,

http://www.voa-islam.com/read/liberalism/2014/02/19/29151/ghazwul-fikrstrategi-musuh-islam-menghancurkan-kaum-muslimin-dari-akarnya/#sthash.L3ov3LYy.dpbs ).

Dengan berbagai cara umat Islam di pecah belah dan di adu domba. Generasi muda dibuat tidak percaya diri akan keislamannya, mereka diming-imingi hiruk pikuk dan gegap gempitanya nikmat duniawi. Demokrasi, HAM dan toleransi sengaja diangkat dan dibesar-besarkan untuk memojokkan persatuan dan persaudaraan Islam. Nilai-nilai Islam yang luhur seperti jihad dalam perang, jilbab dan juga ciri-ciri Islam lain seperti jenggot sebagai sunnah nabi dll diangkat sedemikian rupa agar umat Islam menjadi alergi dan rela meninggalkannya.

Lalu lahirlah pemikiran-pemikiran nyleneh  Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme.   lronisnya, pengikut faham ini justru sebagian kaum intelektual  Muslim ! Meski sejatinya tujuannya demi  menghlangkan cap teroris yang sengaja diciptakan musuh-musuh Islam.

Pernyataan mantan presiden AS George W Bush “Either you are with us or you with the terrorists” tak lama setelah tragedi 911 memperjelas sikap permusuhan Barat terhadap Islam. Ketakutan Barat terhadap Islampun ( Islamophobia) semakin menjadi-jadi.

Perang psikologi ( psywar) yang dilontarkan Barat ini nyata-nyata jauh lebih effektif dari pada perang fisik yang terbukti memakan biaya dan pengorbanan yang sangat mahal. Apalagi mereka tahu persis bahwa  para mujahid yang gagah berani melawan kekuasaan mereka tak pernah mengenal rasa takut, karena keyakinan syahid, masuk surga, adalah balasannya.

Inilah yang kemudian mereka manfaatkan.  Al-qaeda yang dicurigai merupakan bentukan AS, disusul ISIS ( Islamic State Irak Syria) yang baru saja lahir  ini disiapkan untuk menampung semangat jihad pemuda Islam yang sedang menggebu-gebu. Untuk diketahui,  ISIS adalah organisasi yang muncul secara tiba-tiba, dengan kekuatan besar dan persenjataan lengkap.

( Baca :  http://indocropcircles.wordpress.com/2011/12/04/al-qaeda-organisasi-ciptaan-amerika/

http://www.lensaindonesia.com/2014/08/04/isis-ternyata-bentukan-amerika-serikat-israel-dan-inggris.html ).

ISIS yang lahir di Suriah, awalnya muncul memihak dan membantu umat Islam Sunni yang dibantai Syiah pimpinan presiden Bashar Assad. Sepintas memang terlihat heroik. Betapa tidak, 3 tahun sudah Sunni Irak dibantai habis-habisan tanpa satupun pihak yang mau membantu. Tercatat 170 ribu orang tewas termasuk anak-anak dan 2 juta lebih penduduknya terpaksa meninggalkan tanah air mereka tercinta, menjalani hidup sebagai pengungsi di negara-negara tetangga mereka.

Maka tak heran jika kedatangan tentara ISIS yang menggunakan bendera bertuliskan “La illaha illa Allah, Muhammad Rasulullah” dalam huruf hijaiyah ini ( meski dengan susunan yang agak ganjil) langsung menarik banyak simpati dan pengikut. Apalagi kita tentu tahu bahwa di akhir zaman nanti fenomena seperti ini memang akan datang. Imam Mahdi, sang khalifah Islam yang gagah berani namun santun sebagaimana sifat Rasulullah Muhammad saw akan datang menyelamatkan dan mengharumkan nama Islam yang sedang hancur.

“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi),  maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah  Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud 4074)

Namun benarkah Abu Bakar Bagdady, sang pemimpin ISIS yang mengklaim negaranya sebagai kekhalifahan Islam itu mencerminkan dirinya seperti Rasulullah saw? Yang bahkan ketika berperangpun berlaku santun, menghormati kaum perempuan, anak bahkan lingkungan alam sekitar kaum yang diperanginya??

“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR abu Dawud 9435).

( Baca tentang ciri-ciri Imam Mahdi :  http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/tanda-tanda-kemunculan-imam-mahdi.htm#.U_tOO8WSxe4 )

Nyatanya, ISIS yang semula memerangi Syiah dan membantu Sunni, belakangan ternyata juga membunuhi Sunni, disamping membunuh, mengusir dan menakuti-nakuti tidak saja orang-orang yang berlainan agama namun juga kaum perempuannya dan anak-anak mereka.        

Hal lain, bila memang ISIS adalah kekhalifahan sebagaimana yang diprediksi Rasulullah ribuan tahun lalu, mengapa ia tidak tergerak untuk membantu rakyat Palestina yang tertindas? Gaza yang saat ini porak poranda karena serangan brutal Zionis Israel yang sejatinya adalah pasukan Dajjal, musuh utama Imam Mahdi??   

Maka tak heran bila akhirnya negara-negara Islam menyatakan bahwa ISIS adalah sesat, termasuk MUI. Bahkan Imam besar Arab Saudi, Sheikh Abdul Aziz al-Sheikh dengan tegas mengatakan bahwa organisasi tersebut adalah Khawarij. Yaitu orang-orang yang berlebihan dalam mengartikan ayat-ayat suci Al-Quran sebagaimana musuh Islam di zaman Rasulullah dan para sahabat.

Patut kita cermati, PM Israel Netanyahu, beberapa hari  yang lalu, dbawah kawalan ketat tentaranya, untuk yg kesekian kalinya berkunjung ke Masjidil Aqsho. Dan untuk mengantisipasi kunjungan orang no  1 negri Zionis ini kaum Muslimin yg berumur diantara 18-50 tahun dilarang memasuki kawasan ini. Hal yang sebenarnya sudah berlaku sejak beberapa tahun lamanya. Menjadi pertanyaan besar, apa sebenarnya maksud kedatangannya ini ??? 

Hal lain yang mungkin lolos dari pengamatan dunia internasional. Selama gempuran dasyat Zionis ke Gaza yang sudah berlangsung lebih dari sebulan dengan meninggalkan kerusakan dasyat , tidak terdengar sama sekali adanya reaksi dari saudara/i seiman di Tepi Barat. Sesuatu yang agak mengherankan. Betulkah mereka memang tidak peduli akan penderitaan saudara/i mereka itu? Apa yg sebenarnya terjadi ?? 

Belakangan beredar berita, ternyata pasukan Zionis menangkapi para pemuda yang bahkan cuma demo menentang   agresi tersebut. Untuk diketahui Tepi Barat ( dan juga jalur Gaza)  sejak beberapa tahun ini memang tidak berdaya menghadapi penjajah sadis tersebut. Tembok besar layaknya tembok aperteid sepanjang 760 km telah dibangun, memisahkan dan mengucilkan warga Arab dari warga asli Yahudi.  Membuat orang-orang Arab- Palestina bak tinggal di ghetto-ghetto yang dulu dibangun Nazi untuk orang Yahudi di Eropa.    

(Baca:

http://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/14/08/22/naoz8844-760-km-tembok-apartheidisrael 

http://mthalhah.blogspot.com/2010/12/tembok-apartheid-zionis-israel.html )

http://dunia.news.viva.co.id/news/read/131551-tembok_di_yerusalem_perkuat_kisah_di_alkitab).

Dari sini dapat disimpulkan,  rentetan kejadian memilukan yang terjadi di dunia Islam saat ini  sebenarnya adalah pengalihan perhatian Zionis Israel dalam membangun kuil kuno Yahudi yang mereka klaim ada dibawah kompleks Haram As-Syarif, yaitu Masjidil Aqsho dan Masjid As-Saqroh, masjid suci ke 3 kaum Muslimin. Di dalam kuil Yahudi itulah mereka akan menyambut kedatangan pemimpin besar mereka, yaitu Dajjal, si mata satu, yang gambarnya sejak lama telah menghiasi lembaran 1 US dollar.       

Jadi jelas sudah gempuran brutal Zionis Israel ke Gaza dan tekanan Barat ke Palestina serta negara-negara berpenduduk mayoritas Islam, sejatinya adalah juga pertempuran antar agama, bukan sekedar politik demi kekuasaan dan kekayaan (  minyak dll) sebagaimana yang sering diklaim merelka yang tidak ingin melihatnya sebagai perang agama/ideologi. Ini adalah fenomena akhir zaman yang tidak mungkin kita hindari. Pertarungan antara kebathilan/kezaliman melawan kebaikan/keadilan sesuai fitrah manusia.

Islam adalah rahmatan lilalamiin, rahmat bagi semesta alam. Adalah tugas manusia yang beriman kepada Tuhannya,  Allah swt  untuk menjaga kelestarian alam ciptaan-Nya, menjaga keadilan dan ketenangan hidup sesama demi ketaatan dan syukur kepada Sang Pencipta.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah(2):257).

Satu hal penting yang patut menjadi catatan, alangkah meruginya seorang Muslim yang tidak mau mempercayai hadist sementara sebagian ahli kitab mempercayai bahkan mempelajari nubuwah tersebut meski dengan tujuan untuk menghancurkan Islam itu sendiri. Ini terlihat dari cara mereka memandang fenomena akhir zaman yang ternyata tidak jauh berbeda dengan ajaran mereka.   

Dari Thauban r.a., bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”

Diterangkan bahwa penyebabnya adalah Wahn yaitu penyakit cinta dunia yang berlebihan, hingga lupa akan kehidupan akhirat. 

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 25 Agustus 2014.

Vien AM.

Note: Mesir mengumumkan berlakunya genjatan senjata permanen mulai Selasa, 26/8/2014, pukul 19.00 waktu Gaza. Dikabarkan HAMAS bersedia ,menerima tawaran tersebut karena Israel bersedia membuka blokade 8 tahun Gaza, meski pada tahun 2012 tawaran tersebut juga pernah terjadi.

Ironisnya, esok harinya, Rabu, 27/8, tentara Israel kembali menangkapi, menculik dan memenjarakan penduduk sejumlah kota di Tepi Barat yang ikut bergembira bersama warga Gaza merayakan kemenangan tersebut. 

REPUBLIKA.CO.ID, Jika tidak meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai bank dan mendalami ketertarikannya di dunia fotografi, Lisa Vogl mungkin tak akan menemukan cahaya Islam.

Begitulah alur perkenalan perempuan 31 tahun ini dengan agama samawi ini. Berniat membuat tugas videografi tentang jilbab, Lisa justru tertarik mendalami Islam. Padahal, Lisa begitu akrab disapa, besar dalam keluarga Kristiani. Secara keseluruhan, keluarga tidak terlalu religius, tapi ibu Lisa sangat memerhatikan spiritualitas. Seperti itulah Lisa dibesarkan.

Ia menuturkan kisah perjalanan hidupnya. Saat berusia 18 tahun, Lisa masuk kampus perempuan, Chatham College, Pittsburgh, Negara Bagian Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia memilih aktif di klub softball. Setahun pertama berkuliah, ia lantas memilih cuti selama satu tahun. Ia sempat magang di beberapa tempat, antara lain, Disney World, sembari bekerja di tempat lain.

Dari uang yang ia kumpulkan, sosok yang besar di East Lansing, Michigan, AS, ini melancong ke berbagai wilayah dunia untuk mengenal aneka budaya. Tak disangka, perjalanan yang dilakukan sulung dari enam bersaudara ini tak hanya meninggalkan kesan tentang budaya bangsa lain, tapi juga cahaya Islam di hatinya.

Maroko menjadi destinasi petualangannya. Selama berada tiga bulan di Maroko, ia tinggal bersama warga lokal di ruangan dengan luas sekitar 200 meter persegi. Mereka makan dan tidur di ruangan yang sama. Tak ada air panas, tak ada kamar mandi yang memadai. Untuk bertahan hidup, ia mengajar bahasa Inggris di American Language Center. Di sinilah titik balik kehidupannya bermula. Maroko merupakan pengalaman paling menakjubkan dan berkesan dalam hidupnya.

Sadar atau tidak, perjalanan Lisa ke Maroko itu pulalah yang turut menyumbang pandangannya soal perempuan di masyarakat. Kesan itu ia tuangkan ketika menulis ihwal perempuan dan eksploitasinya di dunia Barat sebagai tugas wajib akhir kuliah.

Berhenti

Lulus kuliah, ia mendapat pekerjaan di sebuah bank di Chicago. Meski ia tidak tahu bekerja dengan sistem berbunga adalah haram dalam Islam, ia merasakan kebimbangan. ”Tapi, saya merasa hati saya tidak senang bekerja di sana,” ungkap Lisa seperti dikutip laman Aquila-style.com.

Lisa memutuskan berhenti. Ia memulai karier yang ia pandang lebih sejalan dengan minatnya, yakni fotografi. Ia bahkan sengaja mengikuti kuliah fotografi di Daytona State University, Florida, untuk mengasah minatnya tersebut.

Tahun pertama kuliah, ia mendapat tugas membuat video di kelas videografi. Tugasnya sederhana, membuat video dokumenter singkat tentang satu topik atau objek yang diminati. Muncul ide di benak Lisa mengangkat tema tentang jilbab guna memenuhi tugas kuliahnya. Gagasan tersebut mencuat ketika ia aktif di kegiatan amal lokal, Project Downtown, yang memberi makanan para tunawisma setiap Ahad di masjid kota.

Selama menjalani aktivitas sosialnya tersebut, ia berkerudung. Kerudung, bagi Lisa, bukan hal asing. Ia telah terbiasa sejak di Maroko meski motifnya sekadar menghormati tradisi warga lokal di Maroko. Gayung bersambut, Lisa memulai dengan mewawancarai Nadine Abu Jubbara, rekan kerjanya di Project Downtown. Meski tanpa ia sadari, sentuhan hidayah telah begitu dekat dari hatinya. Berbagai pertanyaan ia sodorkan untuk Nadine. Jawaban demi jawaban membuka pintu hati Lisa ihwal alasan Muslimah berhijab.

“Hijab dalam Islam sebagai pelindung dan penghormatan perempuan,” kata Lisa yang kini tinggal di Las Cruce, Negara Bagian New Mexico, AS, bersama suami dan ibu mertuanya.

Hatinya tergerak. Rasa penasarannya memuncak. Lisa menelusuri ayat-ayat Alquran tentang hijab. Ia semakin tertarik mempelajari Islam. Ia menemui sejumlah ulama, melihat video ceramah mereka di Youtube, dan menelaah Alquran lebih menyeluruh.

Selama sembilan bulan, ia juga sempat membandingkan dua kitab suci, Alkitab dan Alquran. Ada beberapa kesamaan, tetapi keduanya tetap berbeda. Injil telah beberapa kali diubah, sementara Alquran tidak demikian.

Syahadat

Lisa VoglAkhirnya, pada Jumat, 29 Juli 2011, sebelum Ramadhan, Lisa Vogl mengikrarkan dirinya sebagai Muslimah. Ia merasakan berkah yang amat sangat betapa hidupnya mengalami perubahan. Keluarganya tidak keberatan dengan keputusannya itu. Tapi, saat Lisa mulai berjilbab, ibunya merasa ‘kehilangan’ putri kesayangannya. Dengan jilbab, berarti Lisa tidak hanya menunjukkan identitasnya sebagai Muslimah di depan keluarganya, tapi kepada semua orang.

Lisa mencoba menjelaskan kepada keluarganya menggunakan jilbab justru merupakan keberkahan dan menjadi jalan dakwahnya. Penjelasan ini juga yang Lisa sampaikan kepada mereka yang bertanya mengapa ia berjilbab.

Berbagai inspirasi

Lewat video yang ia buat tentang jilbab, ia berharap bisa berbagi inspirasi yang sama melalui ketertarikannyanya di bidang fotografi. Beberapa Muslimah yang lebih senior dari Lisa bahkan mengaku terinspirasi segera berjilbab usai berkaca pada Lisa. Bagaimanapun, meski bukan Muslimah sejak lahir, ia tetap berjilbab ke manapun ia pergi.

Lisa juga tidak menutup mata atas beragam penilaian orang-orang di sekitarnya soal jilbab yang ia kenakan. Ia hanya berkeyakinan perubahan hanya bisa dirasakan dengan menghadapinya. “Sebagai Muslim, kita harus berupaya mengubah perspektif buruk tentang jilbab itu,” tutur Lisa.

Setelah merasakan nikmatnya hidayah, Lisa berbagi nasihat bagi saudara Muslim. Pertama, jangan pernah takut menunjukkan jati diri. Jika seorang Muslim bangga dengan keislamannya, orang lain akan menghormati. Kedua, jilbab adalah bentuk dakwah. Perempuan lebih berpeluang dibanding laki-laki untuk menyebarkan Islam lewat busana yang dipakai. ”Kita gunakan kesempatan dan berkah itu untuk menunjukkan Islam,” ajak Lisa.

Dan, sebagai Muslim, tak ada alasan berhenti mengejar mimpi dan cita-cita. Setelah semua yang ia lewati, ia bersyukur meninggalkan banyak hal dan memilih fotografi yang justru mempertemukannya dengan Islam.

Subhanallah …

Jakarta, 11 Agustus 2014.

Di copy dari :

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/14/08/05/n9tb7k-hidayah-menyapa-lewat-film-dokumenter-1

Hingga hari ini Minggu pagi 3 Agustus 2014, tercatat 1712 nyawa telah melayang, sebagian besar adalah warga sipil, dan sekitar 300 an diantaranya anak2. Ironisnya lagi, puluhan diantaranya tewas hanya 2 jam setelah adanya kesepakatan genjatan senjata diantara kedua belah pihak.

Lebih parah lagi, agresi brutal Israel terkutuk yang telah memasuki minggu ke 4 ini didukung oleh pemerintah AS. Sekjen PBB danObama sang presiden AS yang oleh sebagian rakyat Indonesia sering dielu-elukan hanya karena pernah tinggal dan mengecap pendidikan di SD Jakarta ini, bahkan mengutuk dan menyalahkan HAMAS karena telah menewaskan 2 tentara Israel dan menculik seorang perwiranya. Dengan demikian HAMAS dianggap telah merusak genjatan senjata dan patut mendapatkan balasan. Padahal HAMAS mengatakan bahwa penculikan dilakukan sebelum adanya genjatan senjata. Yang lebih menyedihkan lagi, sebagian besar orang lebih percaya kepada sumber barat !

Tak dapat dipungkiri, berita adalah kunci kesuksesan dalam menggiring opini publik. Bila ini salah, inilah fitnah terbesar dalam kehidupan. Itu sebabnya Islam mengajarkan agar seorang Muslim selalu menjaga lisannya, termasuk ketika menyebarkan berita tertulis. Sebaliknya untuk mempercayai sebuah berita, kita harus extra hati-hati. Sebelum menerima dan mempercayainya, kita harus mempelajari dulu siapa , darimana dan bagaimanakah sumber berita tersebut.

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” . (QS. Al-Hujurat(49): 6).

Abu Hurairah ra berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Itu pula sebabnya dalam ilmu hadist, riwayat perawi ( seseorang yang menceritakan/meriwayatkan /menyampaikan hadist ) harus benar-benar dipelajari dan diteliti. Diantaranya adalah tahun berapa ia lahir, hidup, siapa orang-tua, teman, guru, bagaimana hubungannya dengan nabi saw, bagaimana ibadahnya, kekuatan hafalannya, sifatnya dll sebagainya. Setelah diyakini bahwa sang perawi memenuhi persyaratan baru apa yang disampaikan dapat diterima secara shahih.

Akan hal nara sumber berita diatas, yaitu Barat, atau Amerika Serikat tepatnya. Mari kita menengok sedikit ke belakang, ke awal sebelum lahirnya negara Israel yang penuh masalah.

PBB pada tahun 1947, berdasarkan perjanjian Balfour 1917, memutuskan untuk membagi wilayah Mandat Britania atas Palestina. Ini adalah tanah Palestina yang dulu berada di bawah kekuasaan kerajaan Turki Otoman, yang kemudian karena kalah dalam PD I akhirnya terpaksa diserahkan kepada Inggris sebagai pemenang perang.

Tetapi pembagian tanah ini ditentang keras oleh negara-negara Timur Tengah dan banyak negeri-negeri Muslim, karena dianggap sama sekali tidak adil. Bayangkan, PBB memberikan 55% dari seluruh wilayah tanah tersebut kepada Yahudi, padahal Yahudi hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah itu. Selanjutnya Yerusalem, dimana didalamnya berdiri Masjidil Aqsho, kiblat pertama umat Islam, dicanangkan sebagai kota milik internasional.

Pertanyaannya mengapa Yahudi bisa mendapatkan jatah begitu besar ? Itulah salah satu esensi perjanjian Balfour, yaitu janji Inggris sebagai balas jasa kepada Dr. Chaim Weizmann, seorang ahli kimia Yahudi Inggris sekaligus jurubicara Zionisme di Inggris, dalam membantu negara sekutu tersebut memenangkan PD I tahun 1939. Yaitu memberikan tanah Palestina sebagai rumah Yahudi yang selama ini hidup di perantauan.

Dalam suasana panas seperti itulah Israel mengumumkan hari kemerdekaannya. Esoknya, tentara gabungan dari Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, Irak dan negara Arab lainnyapun menyerbu negara baru tersebut. Maka pecahlah perang Arab – Israel 1948. Sialnya, dengan bantuan komunikasi dan peralatan perang canggih dari Inggris dan Amerika Serikat yang diberikan secara diam-diam, Israel berhasil memenangkan perang tersebut. Lebih sial lagi, setelah perang tersebut, wilayah kekuasaan Israel justru bertambah luas, yaitu sekitar 70% dari luas total wilayah. Berarti malah bertambah 15 % dari yang dijanjikan PBB.

Selanjutnya pada Perang Enam hari tahun 1967, negara zonis ini juga berhasil memenangkan perang melawan gabungan negara-negara Arab. Ini tidak lain, lagi-lagi, karena adanya bantuan dari Amerika Serikat dan Inggris. Maka sejak itu masuklah Gaza yang tadinya milik Mesir, Tepi barat milik Yordan dan dataran tinggi Golan milik Suriah sebagai bagian dari daerah jajahan Israel. Ini menjadi bukti bahwa ke dua negara adi daya tesebut sejak awal memang sudah berpihak pada Israel. Jadi bagaimana mungkin keduanya bisa netral dalam memberikan pemberitaan menyangkut perang antara Israel dan Palestina maupun negara-negara Arab lainnya ??

Pada tanggal 1 Agustus lalu, di tengah kecaman international akan biadabnya Israel, tanpa rasa bersalah Kongres Amerika Serikat bahkan sepakat untuk mendanai sistem pertahanan Iron Dome atau antirudal milik Israel sebesar 225 juta dolar Amerika. ( baca : http://suara.com/news/2014/08/02/162625/225-juta-dolar-dana-as-untuk-iron-dome-israel/ )

Sungguh lucu, Barat sering meng-klaim bahwa umat Islam tidak toleran karena tidak menginginkan tanah Palestina dibagi antara Palestina dan Israel. Padahal kenyataannya, 80 % lebih tanah tersebut saat ini telah diduduki Israel. Saat ini rakyat Palestina selain hidup di pengungsian negara-negara tetangga, sebagian harus hidup berdesak-desakan di Gaza dan Tepi Barat, dimana kontrol udara, laut dan sebagian darat tetap dipegang otorita Israel. Dengan pasokan air bersih dan listrik yang sangat terbatas pula !

Hal yang juga harus diingat, orang-orang Yahudi sejak dahulu kala suka melawan dan melanggar janji. Lihatlah bagaimana Al-Quran menceritakan hal tersebut. Bagaimana mereka mengkhianati para nabi mereka, diantaranya menolak ajakan nabi Musa as untuk menunggunya kembali dari bukit Thursina, menyembah sapi, melanggar kesucian hari Sabtu, membunuh para nabi, termasuk nabi Isa as, meski gagal karena Allah menyelamatkannya dari penyaliban.

Berikut ayat 154-157 surat An-Nisa yang menceritakan salah satu contoh perbuatan buruk kaum Yahudi di masa lalu :

Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: “Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami perintahkan (pula), kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu”, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.

Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.”

Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap `Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka:

Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah” … “.

Pada masa awal masuknya Islam, orang-orang Yahudi juga tercatat telah beberapa kali melanggar perjanjian dan bahkan berusaha membunuh Rasulullah Muhammad saw. Ini yang akhirnya menyebabkan Rasulullah memutuskan mengusir kaum Yahudi dari Madinah untuk selamanya.

( lihat : http://vienmuhadisbooks.com/2011/06/10/xix-pengkhianatan-yahudi-bani-nadhir-dan-dampaknya/ ).

Pengkhianatan orang-orang Yahudi terus terjadi hingga abad ini, menyebabkan banyak orang tidak menyukai mereka. Holocaust, peristiwa pembantaian Yahudi oleh Nazi, meski diberitakan secara berlebihan, Antisemit dll adalah contohnya.

Sementara khusus yang berhubungan dengan pertikaian tanah Palestina saja, tercatat Israel beberapa kali sengaja melanggar perjanjian yang ditanda-tanganinya. Diantaranya adalah pembangunan tembok kota Yerusalem dan sejumlah perumahan ilegal di tanah Palestina.

Begitu juga dalam syarat peperangan, Israel sering sekali melanggarnya. Pada perang Enam Hari tahun 1967, penjajah Zionis telah menembaki para tawanan perang hingga tewas. Ini terbukti dengan ditemukannya 2 kuburan raksasa berisi 30-60 tawanan perang. Padahal undang-undang internasional melarang menyiksa dan membunuh tawanan.

Ironisnya, Amerika Serikat yang sering mengklaim sebagai negara paling patuh hukumpun melanggar kesepakatan ini. Obama, sang presiden, baru-baru ini dengan santai, membela tuduhan senatnya atas tuduhan bahwa CIA telah menyiksa terdakwa peristiwa 911. Meski terbukti mereka telah menyiksa secara kejam dan tak berperi-kemanusiaan, yaitu dengan cara menelanjangi, menyekap di ruang gelap selama berhari-hari kemudian mencelupkannya ke dalam air dalam keadaan terikat !

Baru-baru ini datang berita bahwa BBC telah memecat seorang korespondennya karena dianggap memberitakan berita yang tidak sesuai kehendak Israel. Jeremy Bowen, sang koresponden BBC kenamaan, melaporkan bahwa ia tidak melihat adanya bukti Hamas menggunakan kaum perempuan dan anak-anak sebagai tameng hidup dalam menghadap gempuran Israel. Dikabarkan Israelpun naik pitam atas berita tersebut, dan memerintahkan BBC untuk memecatnya.

Sementara itu satu-satunya mentri perempuan Muslim dalam kabinet Inggris dikabarkan terpaksa mengundurkan diri dari kursinya, karena kebijaksanaan pemerintah yang tidak mau mengecam perbuatan kejam, brutal dan biadab Zionis Israel terhadap Gaza.

Kecaman juga datang dari Turki. Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan berkali-kali melontarkan kritik pedas, kebrutalan pasukan Israel di Gaza sama seperti yang dilakukan pemimpin Nazi Adolf Hitler. Untuk itu, Erdogan mengatakan siap mengembalikan semua penghargaan yang pernah ia terima dari pihak Yahudi-Amerika pada 2004 sebagai bentuk protes kepada Israel.

Di kepulauan Maladewa yang setiap tahun dikunjungi turis mancanegara, puluhan turis Israel terpaksa diusir oleh pemerintah setempat. Ini dikarenakan seorang turis Israel merusak spanduk yang isinya menyamakan Israel dengan Nazi.

Dari Belgia, diberitakan bahwa seorang dokter di Belgia menolak menolong perempuan Yahudi yang datang meminta pertolongan karena menderita tulang rusuk retak. Dia mengatakan perempuan itu perlu dikirim ke Jalur Gaza agar dia tahu rasa sakit yang sebenarnya.
( baca : http://m.merdeka.com/dunia/dokter-belgia-tolak-pasien-yahudi.html).

Sungguh tak masuk akal, Gaza, kota berpenduduk 1.7 juta jiwa, dalam waktu 28 hari ( Selasa 5/8/2014) harus kehilangan 1867 warganya, lebih dari separuhnya warga sipil, serta ribuan lainnya luka. Gaza yang hanya memiliki panjang sekitar 41 kilometer dan lebar antara 6 sampai 12 kilometers, dengan luas total 365 kilometer persegi selama bulan Ramadhan harus menerima lebih dari 4000 gempuran udara, puluhan ribu personel serdadu Israel dan 3 ribuan pesawat tempur F-16 atau F-17 hingga menghancurkan ribuan bangunan, termasuk rumah penduduk, pasar, rumah sakit, masjid, sekolah, universitas, gedung perkantoran, bank, sebuah stasiun tenaga listrik serta puluhan terowongan.

Gaza dari sebuah kota yang padat penduduk tiba-tiba saja telah menjadi camp konsentrasi terbesar abad 21. Mereka telah kehilangan tempat tinggal, kekurangan makanan dan minuman, tidak ada pasokan air bersih dan listrik. Sementara ribuan mayat menanti untuk dapat dikuburkan.

Ironisnya, bertumpuk bantuan yang datang membanjiri tidak dapat disalurkan karena otorita Mesir tidak mau membuka pintu menuju Gaza ! Padahal ini adalah kesempatan emas, Hamas dan Israel telah sepakat menerima genjatan senjata yang beberapa hari yang lalu sempat tertunda.

Satu lagi catatan, Mesir sering menutup pintu keluar masuk Gaza karena adanya ikatan perjanjian Camp David, yang diprakasai presiden AS Jimmy Carter dan ditanda-tangani presiden Mesir Anwar Sadat dan presiden Israel Menachem Begin pada September 1978.

Tragedi ini juga menyisakan cerita betapa pengecutnya para serdadu Israel dalam menjalani perang darat. Sejumlah video dan foto memperlihatkan kepengecutan tersebut, diantaranya bagaimana belasan serdadu bersembunyi di dalam toilet rumah penduduk. Jangan lupa korban yang jumlahnya mencapai ribuan, sebagian besar sipil, perempuan dan anak-anak, adalah korban serangan udara.

Sebaliknya para pejuang Hamas dengan gagah berani menyelinap ke dalam sarang tentara Israel, menyerang, menculik 2 orang perwiranya dan kemudian masuk lagi ke dalam persembunyian mereka di dalam terowongan, yang membuat petinnggi Israel kebakaran jenggot. Hamas bahkan dengan lantang menegaskan bahwa mereka baru mengeluarkan 10 % kekuatan mereka, sementara Israel telah habis-habisan.

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”. (QS. Al-Anfal(8):65).

Semoga genjatan senjata 72 jam yang berlangsung mulai Selasa, 5 Agustus hingga Kamis 7 Agustus nanti dapat berjalan baik. Semoga paling tidak Gaza dapat dibebaskan dari blokade yang telah berjalan 8 tahun itu. Dan semoga dunia mampu membuka mata dan telinganya agar mampu membedakan mana berita yang benar dan mana berita yang salah, aamiin YRA.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Agustus 2014.
Vien AM.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Hadits ini adalah salah satu di antara tanda-tanda kenabian karena mengandung pengabaran tentang sesuatu yang akan terjadi. Dimana Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa sebagaimana Islam awalnya datang dalam keadaan asing di kalangan kaum musyrikin Makkah, maka demikian pula dia akan kembali menjadi asing bahkan di kalangan penganut agama Islam itu sendiri.

Hanya saja ketika Islam dikabarkan akan menjadi asing, itu bukan berarti dia boleh ditinggalkan -wal ‘iyadzu billah-. Bahkan hadits ini menunjukkan keutamaan dan kejujuran orang yang berpegang teguh dengannya. Hadits ini juga tidak menunjukkan orang yang berpegang teguh dengannya akan mendapatkan kesempitan dan kejelekan di dunia dikarenakan mereka terasingkan, akan tetapi justru hadits ini menunjukkan bahwa dia adalah manusia yang paling berbahagia, sebagaimana yang tersebut di akhir hadits, “Maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.”

Hal itu karena keadaan dan posisi dirinya sama persis dengan pendahulu umat ini yang mengikuti ajaran Islam ketika Islam pertama kali muncul dan dianggap asing oleh manusia. Dia adalah manusia yang paling berbahagia di dunia dalam keterasingan dan gangguan yang dia terima, karena Allah Ta’ala memberikan ke dalam hatinya kelapangan dan keluasan yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, kecuali oleh mereka yang juga sejalan dan senasib dengannya. Ini bentuk keberuntungan mereka di dunia. Adapun di akhirat, maka mereka adalah manusia yang paling tinggi derajatnya setelah para nabi alaihimussalam.

Asy-Syaikh Salim al-Hilali hafizhahullah berkata, “Tidak ada riwayat yang sah mengenai penafsiran [Nabi] tentang makna al-Ghuraba’ (orang-orang asing) selain dua tafsiran yang marfu’ yaitu:

[1] Orang-orang yang [tetap] baik tatkala masyarakat telah diliputi kerusakan.
[2] Orang-orang salih yang hidup di tengah-tengah banyak orang yang buruk [agamanya], akibatnya orang yang menentang mereka lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.” (Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 55)

Adapun penafsiran yang pertama maka disebutkan dalam hadits Abdurrahman bin Sanah radhiallahu anhu dia berkata:
قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

“Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang berbuat baik jika manusia telah rusak.” (HR. Ahmad 13/400 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’ no. 7368).

Sementara penafsiran kedua disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu anhuma dan haditsnya disebutkan oleh Al-Albani rahimahullah dalam Ash-Shahihah no. 1273.

Dari kedua penafsiran di atas kita bisa menarik kesimpulan kalau maksud dari kata “al-Ghuroba” adalah orang-orang yang istiqomah, yang tetap berbuat bagi ketika manusia telah rusak, merekalah manusia yang dijanjikan surga dan kebahagiaan. Mereka istiqomah di atas agama Allah, dan memurnikan tauhid serta mengikhlaskan ibadah mereka hanya kepada Allah. Merekalah orang-orang yang senantiasa menjaga sholat, membayar zakat, berpuasa dan berhaji serta amalan lainnya yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan Allah mensifati mereka dalam Al-Quran,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُون نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta.” (QS. Fushilat 30-31)

Orang yang berpegang teguh dengan agama Islam dalam keterasingannya ini tidaklah mendapatkan kejelekan sedikitpun, sebanyak apapun orang yang mencela dan menyelisihi mereka. Dari Tsauban radhiallahu anhu -dan ini adalah hadits mutawatir- dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Senantiasa ada sekelompok ummatku yang dimenangkan atas kebenaran, tidak akan membahayakannya orang yang memusuhinya hingga hari kiamat sedangkan mereka tetap seperti itu.” (HR. Muslim no. 3544)

Dan juga telah shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiallahu anhu bahwa beliau bersabda:

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ. قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

“Sebab di belakang kalian ada hari-hari (yang kalian wajib) bersabar. Bersabar pada saat itu seperti seseorang yang memegang bara api, dan orang yang beramal pada saat itu pahalanya sebanding dengan lima puluh kali amalan orang yang beramal seperti amalnya.” Abu Tsa’labah bertanya, “Wahai Rasulullah, seperti pahala lima puluh orang dari mereka!” Beliau menjawab, “(Bahkan) seperti pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Abu Daud no. 3778, At-Tirmizi no. 2984, dan Ibnu Majah no. 4004)

Dari kedua hadits ini kita bisa melihat bagaimana besarnya keutamaan pengikut sunnah dan keistimewaan mereka dibandingkan selain mereka. Walaupun mereka berada dalam keterasingan, akan tetapi merekalah pada hakikatnya adalah orang-orang dikenal oleh Allah Ta’ala, sehingga keterasingan tersebut sama sekali tidak membuat mereka risih. Keterasingan mereka hanya di antara kebanyakan manusia, sementara kebanyakan manusia itu sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan:

وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله

“Jika kamu menaati kebanyakan manusia di bumi niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”

Maka sebenarnya mereka yang menyelisihi sunnah dan membenci orang-orang yang berpegang teguh dengannya, merekalah yang hakikatnya berada dalam keterasingan. Mereka asing di hadapan Allah dan rasul-Nya serta di mata agama-Nya. Sehingga keterasingan ini akan sangat mengganggu mereka walaupun di dunia mereka adalah orang-orang yang terkenal dan tersohor.

Wallahu’alam bishshawwab.

Jakarta, 27 Juli 2014.
Vien AM.

Di copy dari :http://al-atsariyyah.com/islam-datang-dalam-keadaan-asing.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers