Feeds:
Posts
Comments

Pada hari Minggu 16 Agustus 2015 lalu ratusan ribu umat Islam ibu kota dari berbagai ormas bersatu padu merayakan 70 tahun kemerdekaan Indonesia. Sebagai tanda syukur atas keberhasilan bangsa Indonesia keluar dari penjajahan selama 3.5 abad tersebut umat Islam menggelar apa yang disebut  Parade Tauhid Indonesia. Parade ini digelar dengan long march bolak balik menyusuri rute  pintu 7 Senayan  hingga bundaran air mancur HI yang setiap Minggu pagi memang dicanangkan sebagai  Car Free Day.  Artinya jalur tersebut setiap hari tersebut memang bebas dari segala jenis kendaraan kecuali bus way yang mempunyai jalur tersendiri. Ini biasanya dimanfaatkan masyarakat ibu kota untuk berjalan kaki, lari pagi atau bersepeda santai.

Pada panggung utama pintu 7 tampak sejumlah ulama diantaranya, KH. Abdullah Syafi”i, KH. Cholil Ridwan, KH. Abu Jibriel, KH. Arifin Ilham, KH. Bachtiar Nasir, Habib Rizieq Syiahb, KH. Muhammad al-Khathththath, Ustadz Edi Mulyadi dan Ustadz Haikal Hasan. Dari tempat tersebut, setelah mendengarkan tausiyah dari beberapa ulama yang hadir, paradepun dilepas oleh ustadz Fadzlan Garamatan. Selanjutnya dibawah pimpinan laskar FPI,  dengan mengusung  bentangan bendera sepanjang 3 km dengan tulisan kalimat tauhid di atasnya ( Laa ilah ill Allah yang artinya Tidak ada Tuhan selain Allah), peserta berjalan menuju bunderan HI.

-ribuan-warga-dari-sejumlah-ormas-islam-menggelar-parade-_150816144743-896parade tauhidTak ayal lagi pemandangan bak lautan putih yang merupakan “Dress Code “ peserta memenuhi jalan protokol ibu kota. Acara ini berlangsung tertib aman dan terkendali dari pukul 7 pagi hingga menjelang Zuhur. Berbagai spanduk berisikan pesan Islami terlihat bertebaran, seperti “ Jagalah diri dan keluargamu dari api neraka”, “ Tauhid itu beriman kepada qada dan qadar”, “ Tauhid itu memilih pemimpin ber-Tauhid”, “ Tolak Komunis dan Syiah di wilayah NKRI”, “ Nikah itu tidak sama dengan Mut’ah” dsb.

Acara ditutup dengan shalat Zuhur berjamaah di tempat acara dibuka, yaitu pintu 7 Senayan.   Selanjutnya ratusan relawan kebersihan yang memang sudah disiapkan sebelumnya dengan sigap membersihkan jalanan yang baru saja digunakan parade.

Pertanyaannya apa sebenarnya tujuan acara perayaan kemerdekaan yang tak seperti biasanya ini. Meski parade tauhid seperti ini sebenarnya bukan yang pertama kali diadakan, karena pada tanggal 15 Mei lalu Solo menyelenggarakan acara yang sama.

“Dengan semangat menyambut Ramadhan 1436 ini semoga acara Parade Tauhid ini menjadi ajang kembalinya Ummat Islam kepada fitrah mereka dan tauhid yang murni dan tegaknya kalimah Allah subhanahu wata’ala. Aammiin,” demikian ustadz Lim panggilan ustadz Abdul Rochim Baasyir, dari Dewan Syariah Kota Surakarta berpesan sebelum acara dimulai.

Berikut rekaman video penjelasan ustadz Haikal Hasan sebagai ketua Parade Tauhid Indonesia di Jakarta.

https://www.youtube.com/watch?v=_FXyDfpbYLc

Intinya tujuan parade Tauhid baik yang diselenggarakan di Solo maupun di Jakarta adalah sama, yaitu mengingatkan kembali perlunya persatuan dibawah panji Laa ilaha illaAllah. Karena memang yang menjadi awal kekuatan untuk keluar dari berabad-abad penjajahan kolonial Belanda dan Jepang adalah agar dapat bebas menjalankan kemurnian ibadah kepada Allah Yang Satu. Itu sebabnya mengapa gaung  “Allahuakbar “ yang artinya Allah Maha Besar, menjadi kalimat penyemangat ketika pertempuran sengit merebut kemerdekaan terjadi.

Ironisnya kalimat takbir yang terdengar begitu menakutkan telinga penjajah yang notabene kafir itu, belakangan mulai dicoba untuk dikecilkan dan dikucilkan. Ajaibnya lagi, hal ini dilakukan oleh sekelompok pihak yang mengaku Muslim,  dengan alasan mengganggu ketenangan lingkungan. Oleh karenanya hanya boleh dikumandangkan di lingkungan masjid, itupun tidak boleh sampai terdengar dari luar masjid. Na’ udzubillah min dzalik … Ini Indonesia lho yang mayoritas penduduknya Muslim, bukan Perancis atau Negara Barat lainnya dimana Muslim adalah minoritas. Apa yang terjadi dengan negri ini???

IMG-20150823-WA0005Bahkan belum lama ini pemerintah, kemendagri dalam hal ini, telah melontarkan ide Islam Nusantara dengan fiqih nusantaranya yang salah satunya menyatakan bahwa pemimpin tidak harus beragama Islam. Tampak bahwa pemerintah kurang peka terhadap rakyatnya. Karena ketika untuk pertama kali istana menyelenggarakan suatu acara dengan pembukaan pembacaan ayat suci dengan langgam Jawa, sebagian besar ulama telah memprotesnya. Namun ternyata inilah yang terjadi, pemikiran Islam Nusantara tetap direalisasikan. Tak tanggung-tanggung bahkan kemendagri telah resmi mengeluarkan ajakan siapapun yang berminat dipersilahkan mengirimkan tulisan/hasil karya yang mendukung ide tersebut dengan imbalan 50 juta rupiah !!IMG-20150823-WA0006 (2)

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya(isi Kitab itu) kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya”.  Lalu mereka melemparkan (janji itu) ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga sedikit. Maka itu seburuk-buruk jual beli yang mereka lakukan” .(Terjemah QS. Ali Imran(3):187).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS.Al-Maidah(5):51).

Tampak jelas bahwa para pemimpin hari ini telah menyia-nyiakan amanah yang mereka pegang. Mereka telah memilah-milah ayat Al-Quran dan hadist demi kepentingan kelompok tertentu. Seperti juga yang dilakukan orang-orang Syiah dan JIL ( Jaringan Islam Liberal ) yang demi mencari muka dan simpati orang-orang kafir, berani menyatakan bahwa semua agama adalah benar, agama adalah urusan pribadi yang sifatnya ukhrawi maka harus dipisahkan dari urusan duniawi. Serta menakwilkan ayat-ayat sesuai kebutuhan mereka.

Disamping pentingnya rasa persatuan, parade Tauhid juga bertujuan menyadarkan kembali bahwa hidup ini senantiasa diawasi Sang Khalik, Allah swt, penguasa bumi dan langit, raja dari segala raja. Jangan lupa, sila pertama kita adalah Ketuhanan, yang berarti setiap warga negara baik Muslim maupun tidak, harus percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang dengan demikian maka seharusnya semua orang  Indonesia wajib takut berbuat kejahatan, salah satunya yaitu korupsi. Sebuah penyakit mental kronis yang tampaknya telah melanda hampir semua pejabat dan mantan pejabat di negri tercinta ini.  Padahal penyakit ini sejatinya lebih parah dari “ sekedar” makan babi, karena bagaimanapun perbuatan ini masih bisa dimaafkan dalam keadaan amat sangat terpaksa. Tapi tidak demikian dengan korupsi. Karena perbuatan memakan hak orang lain itu haram hukumnya tanpa ada kekecualian.

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” . ( Terjemah QS. An-Nahl(16):115).

Yang juga tak kalah pentingnya, parade Tauhid sebenarnya juga adalah ajang unjuk kekuatan demi menjaga jalannya pemerintahan yang baik. Ini penting, agar para pemimpin tidak seenaknya saja mengelola Negara. Mereka harus ingat dan menyadari bahwa mereka dipilih dan diangkat oleh rakyat, dengan tujuan untuk melindungi rakyat, menjaga kepentingan rakyat agar seluruh rakyat dan bangsa ini dapat hidup tenang, aman, makmur dan  sejahtera. Hingga dengan demikian dapat beribadah kepada Tuhannya dengan tenang.

“ Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. (Terjemah QS. Az-Zariyat(56):51).

Parade unjuk kekuatan seperti ini pernah dilakukan Rasulullah dan pasukannya ketika memasuki Mekah yaitu pada Fathu Makkah atau penaklukan Mekah . Waktu itu Mekah masih dikuasai Musryikin Quraisy. Sementara Islam di Madinah telah berhasil menaklukan hati banyak orang. Mekah harus dikuasai karena disinilah Kabah berada  dan di kota ini pula ayat suci Al-Quranul Karim turun untuk pertama kalinya. Disamping Mekah memang adalah kota kelahiran kaum  Muhajirin dimana mereka harus berhijrah ke Madinah meninggalkan sanak saudara dan perniagaan mereka demi dapat menjalankan agama barunya itu, yaitu Islam.

Namun demikian Rasulullah ingin agar korban jatuh sesedikit mungkin. Beliau tidak ingin perang saudara terjadi  di kota suci ini, kecuali terpaksa. Sementara itu sehari sebelum hari penaklukan, Abu Sufyan, pemimpin Quraisy Mekah,  telah masuk Islam walaupun secara paksa. Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah sekaligus sahabat Abu Sufyan yang memaksanya masuk Islam. Ini ia lakukan  karena ia tahu sebenarnya Abu Sufyan mengakui bahwa Allah adalah Tuhan yang sesungguhnya dan Muhammad adalah Rasul-Nya.  Namun karena gengsi dan kebiasaannya yang gila hormat dan kebesaran ia masih ragu untuk bersyahadat. Ia khawatir ditinggalkan masyarakat dan pendukungnya.

Untuk itulah maka Rasulullah memutuskan untuk memasuki Mekah dengan segenap atribut kebesaran dan kemegahannya. Rasulullah datang dengan membawa 100 ribu pasukannya.  Tujuan tak lain agar Abu Sufyan, benar-benar takluk dan hatinya mantab  memeluk Islam.  Hingga dengan demikian ia dapat mempengaruhi penduduk Mekah agar mau menerima Islam tanpa banyak perlawanan.  Hingga dengan demikian tidak perlu terjadi pertumpahan darah.

“ Selamatkanlah kaummu !”, ujar Abu Sufyan yang memasuki Mekah sebelum Rasulullah dan pasukan Islam memasukinya. Dengan suara nyaring, ia berteriak : “Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad datang kepada kalian membawa pasukan yang tidak mungkin dapat kalian atasi. Karena itu barang siapa memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, barang siapa menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan barang siapa memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman.”

Begitulah, ternyata strategi yang digunakan Rasulullah ini benar-benar berhasil. Mekkah segera takluk tanpa perlawanan kecuali sedikit. Seluruh penduduknyapun lalu bersyahadat.  Di kemudian hari,  Abu Sufyan sendiri berhasil membuktikan keseriusannya dalam ber-Islam. Ia tercatat telah ikut berperang beberapa kali bersama pasukan Islam. Pada peristiwa pengepungan Tha’if ia bahkan kehilangan salah satu matanya.

( Baca:  http://vienmuhadisbooks.com/2011/05/27/xxv-penaklukkan-mekah-fathu-makkah-1/ ).

Dengan mengambil hikmah peristiwa diatas itulah panitia penyelenggara ingin menyentil kaum Muslimin terutama yang kurang PD atas ke-Islam-annya seperti Abu Sufyan di awal ke-Islam-annya. Untuk menunjukkan betapa Islam adalah ajaran yang sempurna. Bahwa Islam bukanlah agama teror seperti yang dituduhkan Barat selama ini. Bahkan banyak sekali aturan dan hukum Islam bila diterapkan dengan baik pasti dapat mengeluarkan bangsa ini dari segala kesulitan.

Islam menawarkan berbagai solusi, diantaranya bagaimana mengatasi kemiskinan di negri yang dianugerahi kekayaan alam tak terhingga ini. Pemberdayaan zakat umat Muslim yang merupakan 87 % penduduk Indonesia adalah salah satu contohnya.  Bila zakat sebesar 2.5 % per  wajib zakat ini bisa dikelola pemerintah dengan baik, dapat dipastikan Indonesia tidak perlu harus berhutang ke lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF, ADB dll yang pasti memiliki kepentingan tertentu dan membuat bangsa ini sulit menentukan masa depan sendiri.  Tidak perlu bangsa ini merengek minta dibelas-kasihani bangsa lain dan merendahkan harga diri bangsa. Apalagi hingga menjual keimanan.

Baitul Maal, yang bisa disamakan dengan Lembaga Keuangan Negara saat ini, telah diterapkan sejak awal Rasulullah menjadi pemimpin di Madinah.  Rasulullah mengangkat secara langsung petugas yang harus memungut zakat sekaligus mendistribusikannya kepada yang berhak. Para petugas ini dibekali dengan petunjuk tehnis operasional, bimbingan sekaligus ancaman sanksi agar zakat dapat dikelola dengan sebaik-baiknya.  Muadz bin Jabal adalah salah satu petugas yang ditunjuk Rasulullah untuk mengurusi zakat di Yaman.

Begitu pula di zaman Khalifatul Rasyidin. Baik Abu Bakar, Umar, Ustman maupun Ali menerapkan sistim yang sama. Baitul maal bukan hanya sekedar mengurusi zakat, tapi juga sebagai lembaga keuangan Negara yang dapat digunakan sewaktu-waktu untuk kepentingan umum. Seperti rumah sakit umum, sekolah, perumahan rakyat dan lain-lain. Dan ini semua hanya dapat terlaksana ketika setiap orang sadar harus menjalankan Islam dengan iman dan ihsan, secara kaffah/menyeluruh, tidak setengah-setengah.

Termasuk didalamnya menerapkan toleransi terhadap umat beragama lain. Ketika itu umat Yahudi dan Nasrani diberi kebebasan menjalankan agama masing-masing, selama mereka mau tunduk kepada negara. Dan  sebagaimana umat Islam yang wajib membayar zakat, mereka juga dikenai pajak yang disebut jiziyah. Bersama mereka membangun Negara.  Inilah kunci keberhasilan dan kejayaan Islam di masa lalu.

Ini baru zakat belum lagi infak sodaqoh serta wakaf yang jumahnya juga pasti sangat besar. Malaysia dan Brunei Darusalam adalah contoh 2 negara tetangga yang sukses menjadikan negaranya kaya berkat sistim ini.

“Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 25 Agustus 2015.

Vien AM.

Dasyatnya Kekuatan Syukur

Tentu kita sering sekali mendengar orang berkata “Alhamdulillah”, bahkan oleh non Muslim sekalipun.  Biasanya kata-kata ini diucapkan oleh seseorang yang hatinya sedang berbunga-bunga, senang dan bahagia, dengan alasan yang bermacam-macam. Ada yang karena hari itu lulus ujian, ada yang baru keluar dari rumah sakit, ada yang baru mendapatkan keturunan, ada yang karena proyeknya berhasil dan lain sebagainya.  Intinya bersyukur atas kesehatan, keberhasilan dan kebahagiaan yang diterimanya hari itu.

Pertanyaannya sudah benar dan cukupkah perkataan “Alhamdulillah” itu mewakili rasa syukur kita ? Karena syukur sebenarnya tidak hanya ketika kita sedang bahagia saja. Lebih dari itu syukur yang benar seharusnya tidak hanya sekedar ucapan di mulut saja, namun juga terungkap di hati dan prilaku.

Alangkah tepatnya tausiyah yang disampaikan seorang uztad beberapa waktu lalu, yaitu beruntunglah orang yang selalu melihat ke bawah untuk mengukur ke-dunia-annya, sebaliknya melihat ke atas untuk mengukur ke-akhirat-annya.

Artinya, ketika ia melihat urusan dunianya, seperti rezekinya, kesehatannya, kecantikannya dll, ia selalu membandingkan dengan orang yang berada di bawahnya. Yang dengan demikian ia akan selalu mensyukuri apa yang ada padanya. Karena ternyata ia lebih baik dan beruntung dibanding mereka yang sedang kesulitan.

Tetapi ketika ia melihat urusan akhiratnya, misalnya akhlaknya, kesholehan dan ibadahnya, seperti shalatnya, puasanya, zakatnya dll, ia selalu berkaca ke atas, kepada orang-orang yang lebih baik, yang lebih takwa dari dirinya. Hingga dengan demikan ia akan selalu terpacu untuk berusaha memperbaiki dirinya.

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Terjemah QS. Al-Ashr (103):2-3).

Jadi jelas, syukur bagi seorang Muslim bukan hanya ketika ia sedang diuji dengan kesenangan dan kenikmatan. Melainkan juga mereka yang sedang mengalami kesulitan, tapi tetap bersyukur, tenang dan bersabar.

Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang bila terkena ujian dan cobaan, dia bersabar”. (HR.Ahmad)

Sayangnya, seringkali orang berpikir bahwa nikmat itu adalah harta benda. Padahal bila kita mau merenung sejenak, sungguh betapa banyaknya nikmat Allah itu.  Bayangkan bila Sang Khalik 10 menit saja menyetop udara yang biasa kita hirup. Darimana kita akan memperoleh penggantinya?? Bagaimana pula bila Allah mencabut penglihatan atau pendengaran kita. Belum lagi jantung, hati, ginjal  dan segala organ tubuh kita lainnya yang terdiri atas milyaran sel, yang bekerja, tanpa kita menyadarinya, sepanjang hari, malam, bulan, tahun selama kita ini masih diberi-Nya hidup.

“Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (Terjemah QS. Al-Waqiyah(56):68-70).

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya“. (Terjemah QS.Al-Qashash):28:71-73).

Maka bila orang yang hidup dalam kekurangan, miskin, tubuh yang tidak normal, sakit parah, tidak punya keturunan, hidup dalam peperangan/terdzalimi saja masih bisa bersyukur, apalagi orang yang hidup bahagia sehat tenang sejahtera di tengah keluarga yang berkecukupan. Ya Allah jangankan Kau biarkan kami menghabiskan umur ini dengan perbuatan yang sia-sia.

Namun diatas semua itu, sesungguhnya nikmat  paling besar yang diberikan kepada seorang hamba adalah nikmat iman dan islam. Karena dengan keduanya inilah kita jadi mengenal Tuhannya, Allah Azza wa Jalla, Sang Pencipta, Pemilik Alam Semesta. Tuhan Yang Satu Yang Tidak Beranak dan Tidak pula Diperanakkan, Yang Maha Pemberi Rezeki, Yang Maha Pemberi Kehidupan, Yang Adil Yang Maha Bijaksana Pemberi Ampunan dan Taubat.

Dari situ maka lahirlah kekuatan syukur yang maha dasyat. Kekuatan yang mampu melahirkan ketundukan, kepasrahan, rela, ridho untuk menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan betapapun beratnya perintah dan larangan tersebut.

Jadi tidaklah mengherankan bila di belahan bumi ujung sana ada saja kaum Muslimin yang tetap istiqomah menjalankan puasa yang ketika jatuh pada musim panas bisa lebih dari 20 jam, atau Muslimah yang tetap istiqomah mengenakan hijab meski setiap hari dicemooh lingkungan yang tidak mau menerimanya, atau seorang Muslimin  yang istiqamah berjalan menuju masjid di pagi buta yang dingin demi mengerjakan Subuh berjamaah, atau Muslimin yang pergi berjihad mengangkat senjata demi membantu saudara-saudaranya yang terzalimi di Palestina atau Suriah dll, atau juga kaum Muslimin yang tetap berusaha menjalankan berbagai amal ibadah meski negara tempat ia tinggal melarangnya dan bahkan mereka dimata-matai. Allahuakbar .. itulah buah kekuatan syukur yang sungguh dasyat …

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. ( Terjemah QS. Ibrahim(14):7).

“Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah berdoa”. (HR.Ath-Thabrani)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 10 Agustus 2015.

Vien AM.

Tragedi Tolikara

Tolikara, sebuah kabupaten di propinsi ujung timur sana tiba-tiba namanya mencuat. Distrik subur yang terletak di Papua bagian tengah dan terdiri atas 4 kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.234 km2 dan penduduk sebanyak 54.821 jiwa (2003). Ibukota Tolikara terletak di Karubaga. Tolikara mempunyai 2 bandara yaitu di Karubaga dan Kanggime. Selain ke dua kota tersebut wilayah ini sangat sulit dijangkau baik melalui darat maupun udara. Dari udara,  Karubaga dan Kanggime dapat ditempuh dalam waktu 20  menit melalui Wamena.

Berita dari Tolikara datang karena adanya penyerangan terhadap jamaah yang sedang melakukan shalat Ied di halaman Koramil 1702 / JWY tepat pada hari Raya Iedul Fitri 1436 H yang jatuh pada hari Jumat 17 Juli lalu. Saat itu imam sedang mengucapkan takbir pertama ketika tiba-tiba sekelompok orang mendekati jamaah sambil berteriak-teriak dan melempari jamaah dengan batu.

Jamaahpun segera bubar ketakutan dan berlarian menyelamatkan diri ke markas Koramil. Namun tak lama kemudian terlihat asap api membumbung tinggi. Rupanya sejumlah rumah milik kaum Muslimin,  pasar dan masjid yang terletak tak jauh dari lokasi telah habis dilalap api.

masjid Tolikara dibakar saat solat iedul fitriApa yang sebenarnya terjadi??? Berita yang kemudian muncul terlihat simpang siur dan berubah-rubah. Metro tv yang tercatat melaporkan berita paling awal, yaitu tak sampai 1 jam setelah tragedi, juga segera meralat berita yang disebarkannya sendiri. Tampak jelas bahwa kantor-kantor berita sekuler ( baca : pro non Muslim ) seperti Metro tv, Kompas dan Tempo tidak ingin memberikan kesan bahwa umat Islam adalah pihak yang dirugikan. Meski jelas terbukti kegiatan shalat Ied telah terganggu bahkan masjid, sejumlah kios dan puluhan rumah penduduk Muslim telah hangus terbakar!

Dengan teganya mereka meralat bahwa yang terbakar bukan masjid melainkan “hanya”musola, itupun karena terkena imbas api yang membakar deretan kios dan rumah penduduk. Ini masih ditambah pernyataan bahwa itu semua terjadi gara-gara pasukan keamanan yang tidak dapat mengatasi massa yang berusaha berkomunikasi mencegah dilaksanakannya shalat Ied, hingga menyebabkan adanya yang tertembak dan akhirnya membuat mereka mengamuk. ???

Belum lagi pernyataan wakil presiden Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa pengeras suara masjid adalah biang keladinya, karena telah mengganggu mayoritas penduduk yang memang non Muslim itu. Padahal kenyataan di lapangan mengatakan bahwa umat Islam di Tolikara sejak dulu tidak pernah menggunakan pengeras suara. Kapolres Tolikara AKBP Suroso yang ikut shalat Ied ketika kejadian adalah salah satu saksi yang mengatakan tidak ada speaker saat pelaksanaan shalat tersebut.

Tolikara1Bahkan ketika terdapat laporan bahwa di Tolikara bendera dan lambang Israel banyak ditemui di wilayah tersebut dengan ringannya Tedjo Edy, menko polhukam meminta semua pihak tidak mempersoalkan hal tersebut. Mungkin pak mentri lupa bahwa Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik  dengan negara Zionis tersebut, karena tidak sesuai dengan UUD kita. Lebih-lebih lagi yang dijajah adalah Palestina yang tidak dapat dipungkiri mempunyai hubungan emosional yang sangat erat dengan rakyat Indonesia yang mayoritas adalah Muslim.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” (Pembukaan UUD 1945)

“Memang mereka mengundang, ya kayak kita mengundang dari Arab, dari mana, ya sama saja, dibagi undangan. Tapi yg saya dengar ya itu penggeraknya orang-orang kita juga, dibagi undangan,” pungkas dia. Ntah apa alasannya harus membandingkannya dengan orang Arab.

( http://www.merdeka.com/peristiwa/menko-polhukam-minta-bendera-israel-ada-di-tolikara-tak-dipersoalkan.html ).

(http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/07/24/nrz2yy257-gidi-denda-warga-yang-tak-mengecat-rumah-dengan-warna-israel ).

( http://www.dakta.com/news/2039/ada-apa-hubungan-gidi-dengan-israel ).

Maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sejumlah ulama yang peduli akan hal tersebut segera membentuk tim pencari fakta dengan nama  Komite Umat untuk Tolikara (KOMAT). Komite yang diketuai uztad Bachtiar Nasir ini pada hari Selasa (21/7/2015) memberangkatkan tim penyidik langsung ke lokasi. Tim kecil dibawah pimpinan uztad  Fazdlan Garamatan, yang merupakan putra asli Papua ini datang ke lokasi bersama 7 anggota tim dari berbagai latar belakang ilmu. KOMAT mendesak TNI dan Polri untuk menindak unsur-unsur dan atribut yang mengarah pada keterlibatan pihak asing yang tidak bertanggungjawab. Berikut 7 poin pernyataan sikap KOMAT:

http://www.jurnalislam.com/nasional/read/695/pernyataan-sikap-komite-umat-untuk-tolikara.html

Berdasarkan spanduk yang dipampang di halaman kantor Pusat GIDI ( Gereka Injil Di Indonesia) di Jayapura, disebutkan jelas bahwa pada 15 Juli-19 Juli GIDI akan menyelenggarakan seminar dan KKR ( Kebaktian Kebangunan Rohani) Internasional DIGI di Kaburaga kabupaten Tolikara. Acara ini akan dihadiri pendeta asal Israel bernama Benjamin Berger. Maka demi suksesnya perhelatan akbar tersebut dikeluarkanlah surat edaran Badan Pekerja Wilayah Toli Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), dengan nomor 90/SP/GIDI-WT/VII/2015. Surat edaran tersebut antara lain melarang umat Islam melakukan shalat Ied yang jatuh di antara hari-hari acara, yaitu Jumat tanggal 17 Juli di wilayah mereka. Ini masih ditambah lagi dengan pelarangan pemakaian jilbab pada tanggal-tanggal tersebut!

Untuk diketahui bupati Tolikara, Usman Wanimbo menyatakan Tolikara adalah rumah GIDI berkat adanya perda yang telah disahkan DPRD pada tahun 2013. Jadi menurutnya sah-sah saja bila wilayahnya itu melarang rumah  ibadah lain termasuk gereja selain milik GIDI. Musola ada karena sebelum itu memang sudah ada, ujarnya. Usman sendiri menjabat sebagai bupati Tolikara sejak 10 Juli 2012

(http://www.dakwatuna.com/2015/07/22/71924/benarkah-ada-perda-atur-hanya-gereja-gidi-yang-boleh-berdiri-di-tolikara/#axzz3hA1S0MEI ).

Sementara itu kapolri jenderal polisi Badrodin Haiti menyatakan bahwa pertemuan internasional yang diselenggarakan GIDI di Tolikara bermasalah. Karena acara internasional yang mengundang orang asing itu tidak mengajukan izin ke Mabes Polri.

Pada Rabu, 22 Juli 2015 di Jakarta, Badrodin juga memastikan bahwa surat edaran yang diterbitkan GIDI tersebut asli, dan tengah dikoordinasikan agar segera dicabut.

( http://www.atjehcyber.net/2015/07/kapolri-surat-edaran-gidi-di-tolikara.html?m=1 ).

Ia menjelaskan, ketika surat edaran itu diterima oleh kapolres Tolikara, kapolres langsung berkoordinasi dengan presiden GIDI dan bupati Tolikara yang tengah berada di Jakarta. Bupati kemudian berkoordinasi langsung dengan panitia di Tolikara dan meminta agar surat tersebut dicabut.

“Kemarin saya cek, memang penjelasan dari pendeta yang menandatangani, surat itu sudah dicabut. Tapi, sampai kejadian itu, kapolres belum menerima (surat) tertulisnya,” ujarnya menambahkan.

Sementara itu ada sumber yang mengatakan bahwa OPM ( Organisasi Papua Merdeka) terlibat  pada kerusuhan Tolikara. Referendum yang kabarnya pernah dilontarkan Jokowi adalah salah satu pemicunya.

http://berita-nasional-aktual.blogspot.com/2015/07/isu-jokowi-janjikan-referendum-papua.html

“Pak Jokowi memang banyak memberikan janji yang tidak dipenuhinya. Tapi isu janji untuk referendum bagi Papua, ini saya kira sudah kelewatan. Karena itu Jokowi harus segera menyikapinya karena ini masalah yang sangat penting dan bukan sekedar janji kampanye biasa,” ujar pakar Hukum Tata Negara Margarito, Kamis (23/7).

Menurut Margarito, isu ini kembali muncul dikaitkan dengan terus bergejolaknya Papua. Padahal ujarnya, isu ini sudah lama beredar sejak kampanye Pilpres 2014 lalu dan kembali hangat dibicarakan karena insiden Tolikara.

Selanjutnya setelah melakukan penelusuran, Tim Pencari Fakta (TPF) KOMAT berkesimpulan bahwa insiden yang terjadi di Tolikara bukanlah kriminal biasa. Bahkan ada indikasi bahwa  korban yang meninggal tertembak kabarnya terjadi sebelum aparat memberikan tembakan peringatan kepada massa yang jumlahnya makin menggurita hingga 3000 orang.

 “Insiden Tolikara sama sekali bukan kasus kriminal biasa. Dan bukan kasus spontanitas. Namun ditengarai ada upaya untuk menciptakan dan mengusik kehidupan beragama secara sistematis. Faktanya massa yang mengepung jamaah shalat Ied berasal dari tiga titik, dan ada suara-suara yang mengomando penyerangan,” jelas Ustadz Fadlan Rabbani Garamatan saat jumpa pers di Jakarta, pada Jumat (31/07/2015).

http://nasional.kompas.com/read/2015/07/22/19264031/Komite.Umat.untuk.Tolikara.Tak.Ada.Sejarahnya.Orang.Papua.Perang.karena.Agama

Di samping itu, Komat juga berkesimpulan bahwa presiden GIDI patut menjadi tersangka. Sebab ia tidak mengindahkan serta abai terhadap peringatan yang telah diberikan Kapolres hingga mengakibatkan insidenpun terjadi.

http://www.arrahmah.com/news/2015/07/31/tpf-tragedi-tolikara-termasuk-pelanggaran-ham-berat.html

Akhirnya, TPF menyimpulkan dengan yakin tanpa keraguan bahwasanya GIDI adalah teroris Zionis yang bukan hanya menistakan Islam, namun ia juga telah menistakan Kristen, bahkan menistakan seluruh bangsa dan rakyat Indonesia. Tidak diragukan dan tidak bisa dipungkiri bahwa GIDI adalah teroris Zionis internasional yang sangat berbahaya.

Namun dibalik itu semua ada hikmah yang lebih penting dari segalanya, diantaranya yaitu dibangunnya sebuah masjid yang sejatinya ingin dilarang di Tolikara. Terlebih lagi masjid itu bukan masjid seadanya seperti yang telah dibakar sebelumnya melainkan masjid besar dengan fondasi yang kokoh. Dan ini semua berkat partisipasi sebagian besar umat Muslim di Indonesia. Yang kedua bahwa sejak lama Islam telah tersebar di bumi Cendrawasih, Papua. Bahkan uztad Fadzlan memperkirakan tidak kurang dari 40 % penduduk Papua saat ini adalah Muslim.

“ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(Terjemah QS. Ali Imran(3):54).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman dan tidaklah kalian beriman sehingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu, jika kalian lakukan akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Akhir kata, semoga pemerintah mau mendengar dan menindak-lanjuti temuan berharga di atas. Karena ada kabar tokoh agama Islam di kabupaten Tolikara yaitu uztad Ali Muchtar sepakat agar penyelesaian masalah di Tolikara diselesaikan secara adat. Ia meminta agar proses hukum yang sedang ditangani pemerintah dihentikan.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/07/30/nsax45354-proses-hukum-insiden-tolikara-minta-dihentikan-ini-jawaban-polda-papua

Berikut sebuah pesan dari Buya Gusrizal Gazahar yang sangat baik untuk kita renungkan.

“Bukan Pemimpin Umat dan Bukan Pula Pemimpin Bangsa”

(Pesan dari Ranah Minang Untuk Penguasa Negeri)

Toleransi yang tuan-tuan minta, telah diberikan oleh umat Islam dalam kurun waktu yang begitu lama.

Tak pernah terhambat lonceng gereja berbunyi di tengah mayoritas negeri ini.

Tak pernah terhalang hio terbakar walaupun dilakukan oleh mereka yang minoritas.

Kalau ada insiden yang terjadi di tengah mayoritas negeri ini, cobalah telusuri akar permasalahannya !

Ketika berbagai aturan diterabas dan mereka masuk ke jantung umat Islam dengan kepalsuan dan kebohongan untuk melakukan pemurtadan, reaksi umat yang tersinggung tak pernah melampaui batas melainkan setelah didiamkan tanpa mendapatkan keadilan.

Para penganut ajaran sesat SEPILIS dan lainnnya bisa saja melemparkan tuduhan berbungkus kalimat “berkaca diri” kepada umat Islam.

Tanpa peduli fakta di lapangan, mereka menyalahkan mayoritas sesuai “tradisi nusantara mereka” selama ini.

Namun kami tak akan bergeming dari prinsip karena mereka adalah agen-agen yang melacurkan diri demi kenikmatan duniawi.

( Baca lengkap :

https://www.facebook.com/permalink.php?id=347742858765176&story_fbid=395357670670361 ).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 4 Agustus 2015.

Vien AM.

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah adanya malam Lailatul Qadar yang berarti malam kemuliaan, sebagaimana digambarkan surat ke 97 yaitu surat Al-Qadar.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Jumhur ulama sepakat bahwa yang dimaksud Al Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan ( Lailatul Qadar) adalah Al-Quran yang diturunkan ke langit dunia ( Daarul Izzah). Seperti kita ketahui Al-Quran itu turun ke langit dunia sekaligus. Setelah itu baru diturunkan ke dunia dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi saw setelah beliau diangkat menjadi Nabi di Mekah dan Madinah sampai wafatnya  beliau.

Imam An-Nasa’I (no. 7991) meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata : “……dan Al-qur’an diletakkan di Baitil Izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Muhammad saw.”

Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” ( Terjemah QS. Al Isra (17):106).

http://zarkasih20.blogspot.com/2011/08/nuzulul-quran-lailatul-qodar-atau-17.html

Asbabun Ayat surat Al-Qadar:

Ibnu Abi Hatim dan al Wahidi dari Mujahid meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah saw. pernah menyebut tentang seorang laki-laki dari bani Israel yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan secara berterusan. Kaum Muslimin berasa kagum dengan perjuangan orang tersebut, sekaligus merasa iri atas ketangguhan dan keberuntungan lelaki bernama Syam`un Al-Ghazy tersebut. Mereka merasa tak akan pernah bisa memiliki kesempatan untuk beribadah dalam kurun waktu selama itu mengingat usia kaum Muslimin yang tidak sepanjang umur umat nabi-nabi lain.

Untuk itu maka Allah menurunkan surah Al- Qadr, yang menerangkan bahwa satu malam Lailatul Qadar itu lebih lebih baik daripada perjuangan lelaki dari bani Israel selama 1000 bulan tersebut.

http://asbabunnuzulharjin.blogspot.com/2013/07/surah-al-qadr.html

Dari Aisyah ra bahwasanya ” Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadan dan beliau bersabda: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” ” (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)

I’tikaf adalah diam/menetap di masjid dalam rangka mengingat kebesaran Allah swt, bertafakur, berzikir, bersyukur atas segala yang telah diberikan kepada kita. Caranya dengan memperbanyak shalat sunnah, membaca Al-Quran serta mengkajinya.

Sebenarnya di zaman sebelum kenabian, Rasulullahpun sudah terbiasa melakukan kegiatan semacam itu. Yaitu ber-khalwah / tahanuts di gua Hira. Ketika itu Rasulullah merasa sangat prihatin atas keadaan masyarakat Mekkah yang bejat dimana perzinahan, mabuk-mabukan dan yang semacamnya sudah menjadi kelaziman. Rasulullah berkhalwah selama 3 tahun di bulan Ramadhan hingga datangnya masa kenabian. Dan sejak turunnya surat Al-Qadar diatas Rasulullah mengganti kegiatan tersebut dengan I’tikaf di masjid selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Perumpamaan I’tikaf sebagaimana dicontohkan Rasulullah adalah seperti grasi yang diberikan kepala Negara kepada seorang tahanan. Nah bila seorang kepala Negara saja bisa dan mempunyai hak untuk mengampuni seseorang apalagi Allah swt Yang Maha Pengampun.

“ Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu dan siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Malam pengampunan itu terjadi pada malam Lailatul Qadar yaitu pada salah satu malam ganjil 10 hari terakhir Ramadhan. Allah swt sengaja merahasiakan malam tersebut agar umat Islam yang menginginkan pengampunan tersebut benar-benar berusaha mencarinya secara serius. Tentu bukan hal yang memberatkan bila dibandingkan ganjarannya yaitu seolah berjihad sepanjang 1000 bulan atau kurang lebih 83 tahun!

“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah), diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. (H.R Al Bukhari no.1768, An Nasa’i no. 2164, Ahmad no. 8222)

Rasulullah mengajarkan untuk membaca doa berikut:

”Allahumma innaka afuwwun karim tuhibbul afwa fa’fu anni”, yang artinya: “Ya Allah Engkau Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah, Engkau senang mengampuni hamba-hambaMu karena itu ampunilah dosa-dosaku”.

Ada riwayat mengatakan “afuwwun” lebih tinggi dari pada “ ghofur” karena afuwwun bermakna tidak hanya mengampuni dosa tapi juga menghapus catatan dosa tersebut. Sedangkan ghofur mengampuni tapi catatan dosa tersebut masih tetap ada.

Malam itu  para malaikat memenuhi bumi untuk melihat dan mencatat siapa saja hamba Allah yang malam itu hadir menghidupkan malamnya demi meraih “grasi”keberkahan istimewa dari Tuhannya, Allah Azza wa Jalla. Tentunya hanya hamba yang takwa, yang selama awal Ramadhan telah sungguh-sungguh mempersiapkan peristiwa istimewa ini, atau bahkan mungkin selama setahun terakhir, yang beruntung didatangi para  malaikat di malam penuh berkah tersebut. Dan untuk mengetahui bahwa seseorang telah sukses meraih malam tersebut pasti akan terlihat dari sikapnya yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 15 Juli 2015.

Vien AM.

«Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat ». ( Terjemah QS. Al-Fatihah (1) :6-7).

Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud pada ayat akhir surat Al-Fatihah yaitu ayat 7 tentang « mereka yang dimurkai » adalah umat Yahudi, sedangkan » mereka yang sesat »adalah umat Nasrani.

Umat Yahudi dikatakan dimurkai karena mereka telah mencampur-adukan ayat-ayat suci Taurat ( Perjanjian Lama) dan Injil ( Perjanjian Baru), membunuhi para nabi dan utusan serta selalu melawan perintah Allah.

Sedangkan umat Nasrani dikatakan tersesat karena mengikuti jalan orang-orang Yahudi tanpa menyadari bahwa mereka telah disesatkan. Yang bahkan dengan begitu bersemangat berdakwah mengajak umat Islam agar mau ikut memeluk agama yang mereka anut, tidak peduli sabda Yesus bahwa ajarannya khusus untuk bangsa Israel.

Matius 15 :24. Yesus menjawab, “Aku diutus hanya kepada bangsa Israel, khususnya kepada mereka yang sesat.”

Yang ironisnya juga menggunakan cara-cara yang tidak elok bahkan cenderung licik dalam berdakwah, « cerdik seperti ular tulus seperti merpati ». Maka tak heran bila belakangan ini dapat kita jumpai misionaris yang berpenampilan layaknya seorang Muslim, yaitu berjilbab, berbaju koko, berkopiah dan bahkan berdakwah menggunakan istilah dan nama-nama berbahasa Arab. Seperti nama penerbit yayasan Jalan Al-Rahmat, yayasan Nurkalimatullah, sekolah teologi Kalimatullah dll.

Tak jarang pula mereka mengadakan berbagai dakwah dengan kedok acara sosial, seperti pertunjukkan musik, berbagai macam lomba, bazar, pengobatan dll. Padahal di acara tersebut mereka membagi-bagikan Al-Kitab, mengajak anak-anak Muslim menyanyikan lagu-lagu Kristen bahkan ada yang nekad membaptis kaum Muslimin yang awam ajaran Kristen !

Matius 10 :16. Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

1 Corintus 9 :20. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.

Saking semangatnya mereka juga telah mempersiapkan dakwah mereka dengan sangat  cermat dan rapi. Diantaranya adalah Gerakan Penuaian Jiwa dan Transformasi  tahun 2005-2020, W10/40 ( Window/Jendela 10/40) dan W4/14 ( Window/Jendela 4/14)  yang merupakan contoh dakwah jangka panjang mereka. Di masa lalu, ingatlah bagaimana pada zaman penjajahan Belanda dan Inggris yang telah berhasil mengkristenkan Ambon, Teratai dan Morotai yang tadinya Muslim.

W10/40 adalah sebuah kawasan yang terbentang dari 10 sampai 40 derajat Lintang Utara garis Khatulistiwa dan merentang dari Afrika Barat sampai ke Asia Timur. Daerah inilah yang saat ini sedang diincar misionaris untuk dikafirkan padahal mayoritas penduduknya adalah Muslim.

( Lihat   http://misi.sabda.org/tantangan-dari-jendela-1040 ).

Sedangkan W4/14 adalah rentang anak usia 4 hingga 14 tahun yang disasar misionaris untuk   digarap menjadi ujung tombak Kristenisasi. Kita pasti sadar bahwa anak seusia itu sangatlah rentan, dan mudah diiming-imingi “kesenangan sesaat”, melalui hiburan seperti game online, mainan boneka, permen dan aneka permainan lain. Apalagi dengan kondisi saat ini dimana kedua orang-tua sibuk bekerja mencari nafkah dan mengejar karir.

( Lihat http://www.renunganharian.net/23-sisipan/juli-2012/349-jendela-4-14.html ).

Sungguh sebuah tantangan yang amat besar bagi umat Islam untuk mempertahankan keimanan dan keislaman kita dan anak keturunan kita. Padahal kitalah, umat Islam yang telah dibekali ajaran yang pasti benar, yang seharusnya mengajak mereka agar kembali ke jalan yang benar.

Hendaklah ada di antara kalian suatu golongan yang membeda, bekerja untuk dakwah, amar ma’ruf dan nahi munkar.” (Ali Imron 3 : 104)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. … … ”. (Terjemah An Nahl (16) : 125).

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (Terjemah QS. Al-Ankabuut(29):46).

Namun demikian tetap saja sebenarnya sumber permasalahan berada pada orang-orang Yahudi. Karena merekalah yang seharusnya paling bertanggung-jawab atas prilaku para misionaris yang bertindak atas nama kitab suci mereka. Protokol Zionisme yang dibuat di Basel, Swiss pada 1895 adalah bukti terbaru yang dapat dijadikan pegangan. Tujuannya adalah untuk menguasai dunia. Ironisnya, agen-agen Zionisme tersebut sudah memenuhi bumi kita tercinta yang katanya mayoritas Muslim ini. Na’udzubillah min dzalik …

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/05/07/nny9y6-ali-mustafa-yaqub-banyak-agen-zionis-di-indonesia )

Sayangnya lagi umat Nasrani hanya mengekor saja, tidak mau membaca dan memperhatikan isi kitab sucinya yang telah dicampur-aduk sedemikian rupa. Padahal kalau mau diperhatikan masih bisa dicari mana ayat yang benar mana ayat yang tidak benar, karena adanya kontradiksi di sana sini. Meski akhirnya, setelah berabad-abad lamanya tertutup rapat, kebusukan tersebut baru terbongkar. Ini antara lain berkat ilmu Hermeneutika, sebuah ilmu untuk menafsirkan text, yang sangat mengedepankan akal dan pikiran.

Namun begitu bukan Yahudi namanya kalau mereka hanya berdiam diri saja. Belakangan ini ilmu Hermeneutika mulai dicoba untuk mengutak-ngutik kitab suci umat Islam. Dengan ilmu tersebut mereka ingin mengkritisi Al-Quranul Karim. Padahal jelas sejarah Al-Quran tidak sama dengan Al-Kitab.

Penulisan Al-Quran yang merupakan kumpulan firman Allah telah dilakukan tak lama setelah wafatnya Rasulullah Muhammad saw. Hal itu dilakukan dengan dasar tulisan dan catatan para sahabat yang tersebar di batu, dedaunan dan aneka bahan dasar tulisan lainnya. Dan yang terutama atas dasar hafalan para sahabat dan umat Islam yang telah menjadikan ayat-ayat Al-Quran sebagai bacaan shalat, minimal 5 x sehari, sejak Rasulullah masih hidup di antara mereka. Inilah satu penyebab mengapa umat Islam disunahkan menghafal surat-surat  Al-Quran dalam bahasa aslinya yaitu Arab.

Disamping itu agar kemurnian Al-Quran tetap terjaga perkataan Rasulullah saw juga dipisahkan, dan dilarang penulisannya hingga waktu tertentu, yaitu setelah ayat-ayat Al-Quran tidak lagi turun, yang otomatis terhenti seiring dengan wafatnya sang rasul. Jadi sungguh mustahil ayat-ayat Al-Quran dapat dipalsukan.

Tetapi upaya musuh-musuh Islam itu ternyata tidaklah sia-sia. Ini terbukti dengan lahirnya JIL ( Jaringan Islam Liberal) dengan SIPILISnya. SIPILIS adalah singkatan Sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan sosial, Pluralis yang menganggap semua agama sama benarnya serta Liberalis yang membolehkan menafsirkan text-text kitab suci agama sebebas-bebasnya.

Gerakan ini dipelopori antara lain oleh almarhum Gus Dur, Cak Nur dan Dawam Raharjo, yang dibiayai pendidikannya di Barat oleh Barat. Sekarang ini JIL diketuai Ulil Absor Abdalla yang sering membuat pernyatan nyleneh. Ada juga prof Dr Siti Musdah Mulia, seorang guru besar UIN yang menyatakan bahwa Al-Quran tidak pernah melarang Homoseksual. Padahal tak satupun agama di dunia ini yang membolehkan prilaku yang binatang sajapun enggan melakukannya, kecuali babi. Bukankah prilaku ini jelas-jelas menentang hak manusia untuk dilahirkan dan melahirkan ??

Ini masih ditambah lagi dengan gencarnya isu HAM, demokrasi dan toleransi yang sudah kebablasan, hingga aliran-aliran sesat seperti Ahmadiyah, Syiah dll makin saja bebas berkembang. Bahkan belakangan ini wacana lahirnya Islam Nusantara mulai dikembangkan, terbukti dengan mulai dipopulerkannya pembacaan Al-Quran dengan langgam daerah. Ini jelas akan membuat wajah Islam terpecah, sesuai keinginan Yahudi. Belum lagi dengan isu terorisme yang sering disandingkan dengan nama Islam. Dan ini semua memang disengaja agar supaya umat Islam yang kurang kuat keimanannya menjadi tidak PD terhadap agamanya sendiri. Hingga ketika dilecehkan dan diperangi tidak membelanya.

Padahal kita seyogyanya menyadari bahwa ada 3 kekuatan besar dunia yang mengancam eksistensi Islam, yaitu Zionisme, Kristenisasi dan Imperialisme Barat. Yang ujung-ujungnya semua adalah sama yaitu Yahudi dengan Dajjalnya. Dengan tujuan utama yaitu menjauhkan umat manusia dari Tuhannya, Allah Azza wa Jalla.

Kita tentu tahu betapa banyaknya hadist Rasulullah yang memperingatkan bahayanya Dajjal si mata satu yang merupakan musuh terbesar Islam di akhir zaman nanti. Dan tanah Palestina yang sejak puluhan tahun terakhir ini dijajah Israel adalah yang kelak akan menjadi ajang pertempuran antara pasukan pembela kebenaran melawan pasukan syaitan dibawah Dajjal.

Tampaknya inilah saat yang tepat untuk benar-benar bersatu agar kita dapat menghadapi musuh terberat kita. Tidak perlu lagi kita berdebat dan mempertentangkan hal-hal yang bukan hal pokok. Musuh sudah di depan mata haruskah kita masih juga berselisih hal-hal cabang seperti doa qunut, ziarah kubur, tahlilan, yasinan, bidah hasanah bidah dhalalah dan lain sebagainya. Apalagi merasa diri atau golongan paling benar. Karena sudah jelas yang paling benar adalah umat Islam yang menjadikan Al-Quran dan Hadist sebagai dalil dan pegangan hidup mereka.

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang semuanya berada di Neraka, kecuali satu golongan, yakni “al-Jama’ah.” “Siapakah golongan yang selamat itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ialah golongan yang mengikuti jejakku dan jejak para shahabatku.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Juli 2015.

Vien AM.

Disimpulkan dari kajian Drs Abu Deedat Syihab, MH,  ketua BDI – FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan).

«Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? » (Terjemah QS.Ali Imran (3) :71).

Pada bahasan Urgensi Kristologi (1) telah diterangkan adanya  Red Letter Bible ( huruf bertinta merah pada Al-Kitab). Al-Kitab model ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1901 oleh  Louis Klopsch, editor asal Jerman sebuah majalah Amerika Christian Herald. Kebanyakan pemeluk Kristen Protestan menggunakan Al-Kitab model ini.

 ( https://www.crossway.org/blog/2006/03/red-letter-origin/ )

Huruf bertinta merah yang jumlahnya tidak lebih dari 10 % isi Al-Kitab ini menunjukkan bahwa itulah tulisan Yesus. Sementara sisanya yang 90 % bukan ditulis oleh Yesus, melainkan yang terbanyak oleh Paulus. Ini membuktikan kebenaran ayat diatas bahwa telah terjadi kerancuan di dalam Al-Kitab. Telah bercampur antara yang benar/haq dan salah/bathil.

Kebenaran, yang haq, terlihat dengan ditemukannya ayat-ayat tentang ke-Esa-an Tuhan padahal umat Nasrani berpegang teguh pada dogma Trinitas ( Tiga dalam satu). Yaitu di   Ulangan 4 :35 ( tauhid nabi Musa as), 2 Samuel 7 :22 ( tauhid nabi Daud as), 1 Raja-raja 8 :23 ( tauhid nabi Sulaiman as). Juga ayat bahwa Yesus bukan Tuhan melainkan utusan-Nya. (Markus 9:37,  Yohanes 5:24,30 dan Yohanes 7:28, 33). Ayat-ayat tersebut sesuai dengan apa yang diterangkan Al-Quranul Karim sebagai kitab suci terakhir yang diturunkan Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla.

Juga ayat tentang akan datangnya seorang nabi, yang akan menyampaikan apa yang dikatakan Tuhannya. Ini telah terjadi 14 abad silam, atau 7 abad setelah turunnya Yesus. Dan hal ini dapat dibuktikan dengan datangnya sang nabi yang selalu memulai setiap ucapannya dengan kata “Bismillahirahmanirahim” yang artinya “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang”. Itulah nabi Muhammad saw, saudara mereka dari keturunan saudara nabi Ishak as yaitu nabi Ismail as, putra nabi Ibrahim as!

Ulangan 18:18 Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

Sementara yang bathil, antara lain terlihat dalam ayat-ayat pelecehan para nabi yang notabene adalah utusan Tuhan. Ini dapat ditemukan di Kejadian 9:18-27 (tentang nabi Nuh mabuk dan tampil bugil tanpa disadari), Kejadian 19:30-38 ( tentang dua putri nabi Luth yang menzinahi ayahnya ketika ayahnya sedang tidur), 2 Samuel 11:2-27 ( tentang nabi Daud yang menghamili istri anak buahnya). Sedangkan ayat-ayat vulgar dan tidak senonoh antara lain dapat ditemukan di Yehezkiel 23:1-21, Ulangan 23:1-2, Kidung Agung 4:1-7, 7:6-13.

Pertanyaannya adalah, siapakah Paulus? Murid Yesuskah ia? Mengapa ia dapat menuliskan ayat dalam Al-Kitab sebegitu banyaknya, hingga jauh melebihi tulisan Yesus sendiri? Yang pasti Paulus bukanlah murid Yesus. Matius 10:2-4 menyebutkan nama-nama ke murid Yesus yang 12 itu, tapi tak satupun menyebut nama Paulus!

Beberapa sumber termasuk Wikipedia, menyebutkan nama asli Paulus adalah Saul. Ia lahir di Tarsus (Turki) namun dibesarkan di Yerusalem. Ia berumur 8 tahun lebih muda daripada Yesus. Ayah Paulus berasal dari suku Benyamin, satu dari 12 suku Bani Israel.

Budaya yang berkembang di Yerusalem  ketika itu adalah budaya Yunani. Budaya ini amat digandrungi pendudukmya, tak terkecuali Paulus. Ia sangat menyukai filsafat Yunani lengkap dengan mitos dewa-dewinya, seperti Zeus sebagai Tuhan tertinggi/bapak dewa, Hera sebagai saudara sekaligus istri Zeus karena diperkosa Zeus. Lalu Ares sebagai Tuhan perang, Aprodite sebagai Tuhan kecantikan dll.

Yang paling menarik, Zeus yang digambarkan suka selingkuh itu mempunyai anak hasil selingkuhan dengan perempuan bumi. Itulah Herkules ( Heracles) sang pahlawan penyelamat masyarakat Yunani. Paulus sangat terobsesi pada kehebatan tokoh super ini.

Namun sebagai seorang Yahudi tulen, Paulus juga berguru pada Gamalil, seorang ulama Yahudi yang amat terkenal di Yerusalem. Tak heran bila kemudian pada dirinya terkumpul dua pengaruh, yaitu hukum Taurat dan filsafat Yunani. Persinggungan pengaruh filsafat Yunani terhadap agama Yahudi di masa itu adalah hal yang umum.

Sementara itu penguasa Yerusalem di zaman itu adalah orang-orang Yahudi zalim yang tidak mengindahkan agamanya. Mereka sangat membenci ajaran Yesus. Dan berkat jasa Yudas, salah satu murid Yesus yang berkhianat, penguasa berhasil menjebak Yesus. Hukum Salib pada waktu itu adalah hal biasa.

Matius 27:21-22. Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: “Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?” Kata mereka: “Barabas.” Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!”

Pada awalnya Paulus ketika masih bernama Saul sangat memusuhi pengikut-pengikut Yesus dan sering bertindak sangat kejam terhadap mereka.  Tetapi paska penyaliban Yesus, Saul yang cerdik, licik dan ambisius, berhasil mendekati murid-murid Yesus. Dari merekalah ia mempelajari ajaran Yesus, namun dengan mencampur-adukkannya dengan ajaran Yahudi dan filasafat Yunani.

Ialah orang pertama yang berpendapat bahwa ajaran Yesus tidak dikhususkan bagi bani Israel. Akibatnya ia harus berhadapan dengan murid-murid Yesus yang meyakini bahwa ajaran Yesus hanya untuk bani Israel.

Matius 10:5-6. Kedua belas rasul itu kemudian diutus oleh Yesus dengan mendapat petunjuk-petunjuk ini, “Janganlah pergi ke daerah orang-orang yang bukan Yahudi. Jangan juga ke kota-kota orang Samaria.         Tetapi pergilah kepada orang-orang Israel, khususnya kepada mereka yang sesat”.

Untuk menghindari perselisihan maka diadakanlah persidangan di Yerusalem yang dipimpin oleh Petrus dan Yakobus, adik Yesus, yang disebut sebagai Sidang Sinode atau Konsili Gereja yang pertama (Konsili Yerusalem). Dari konsili inilah akhirnya keinginan Paulus tercapai.

Selain itu Paulus juga mendapat gelar kehormatan sebagai santo ( orang suci) dan mendapat mandat untuk memberitakan Injil ke daerah-daerah berbahasa Yunani. Dari situ pulalah akhirnya  lahir dogma Tuhan anak dan Tuhan penyelamat sebagaimana Herkules menyelamatkan hidup banyak orang Yunani. Sempurnalah sudah obsesi dan mimpi Paulus. Meski dengan versi yang agak berbeda, karena Yesus menjadi penyelamat seluruh manusia melalui penyalibannya. Sedangkan Herkules melalui kekuatan ototnya.

Tetapi ternyata dogma Paulus tersebut tidak memuaskan semua pihak. Pada masa kekuasaan kaisar Bizantium, Konstantin I, terjadi perselisihan pemikiran tentang  kedudukan dan substansi antara Tuhan dan anak Tuhan. Apakah keduanya sama ataukah tidak.

Untuk mengatasi hal tersebut maka diselenggarakanlah KonsiIi Nicea ( Nicea adalah nama kota di Turki, sekarang bernama Iznik). Konsili ini terjadi pada tahun 325 M. Hasilnya, sang kaisar memutuskan bahwa Tuhan dan anak Tuhan adalah satu, alias sama! Maka siapa yang tidak setuju dan menentang harus dijatuhi hukuman berat.

( https://id.wikipedia.org/wiki/Konsili_Nicea_I )

Dan ia adalah uskup Arius yang di kemudian hari pengikutnya popular dengan nama Arianus. Arius bersiteguh bahwa anak Tuhan yaitu Yesus dengan Allah, Tuhan bapak tidaklah sama. Menurut pendapatnya Yesus meski ia sempurna tapi tetap mahluk ciptaan, yang mempunyai awal dan akhir. Itu sebabnya ia bisa mati.

Yohanes 17:3. Inilah hidup sejati dan kekal; supaya orang mengenal Bapa, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang diutus oleh Bapa.

Selanjutnya yaitu pada tahun 381 M, Trinitas resmi digunakan sebagai doktrin tunggal semua gereja seluruh dunia. Pada tahun itu Roh Kudus dinyatakan satu dari tiga. Maka lengkaplah sudah doktrin Allah, Yesus dan Roh Kudus sebagai Tuhannya umat Kristiani.

Jadi sungguh pantas begitu besarnya kemurkaan Allah swt mengetahui orang-orang yang sudah dimuliakan dengan kitab Injil tetapi tidak mengikuti apa yang ada di dalamnya. Karena itu tadi, pengikutnya tidak menyadari bahwa kitab mereka sudah tidak lagi seperti ketika ditinggalkan Rasulnya, yaitu Isa as / Yesus. Alangkah ironisnya.

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”. (Terjemah QS.Al-Maidah(5):47)..

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”. (Terjemah QS. Al-Bayyinah (98):6).

Berikut beberapa pokok ajaran Yesus yang telah diselewengkan Paulus :

1. Yesus adalah anak Tuhan bahkan Tuhan itu sendiri. Padahal Yesus tidak pernah meminta disembah/dituhankan.

2. Yesus tidak membatalkan hukum Taurat, justru meneruskan hukum Taurat.

3. Yesus mengajarkan laki-laki harus dikhitan, tidak ada dosa waris, khamar dan babi haram, orang meninggal dunia dibungkus kain kafan.

4. Yesus mengajarkan berpuasa, berwudlu, mengajarkan sujud serta berdoa ketika sedang sujud.

5. Yesus tidak membatalkan hukum rajam.

6. Yesus menerapkah hukum Qisash.

Sepintas ajaran Yesus diatas mirip dengan ajaran Islam, karena memang pada dasarnya semua agama yang diturunkan Allah swt kepada para nabi melalui malaikat Jibril as adalah sama. Yaitu penyembahan yang murni, ikhlas kepada Tuhan Yang Satu, Allah Azza wa Jalla. Yang berbeda adalah syariatnya.

Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):69).

Meski demikian para ulama sepakat bahwa ayat diatas berlaku pada zamannya.

Untuk mengetahui perbedaan ajaran Yesus dan Paulus silahkan klik situs berikut :

http://lampuislam.blogspot.com/2013/08/paulus-sang-perusak-ajaran-asli-yesus.html

Wallahu’alam bish shawwab.

( Bersambung).

Belum sampai satu minggu artikel Urgensi Mempelajari Kristologi (1) diposting heboh terdengar kabar tentang seorang selebritis yang telah meninggalkan keyakinannya yaitu Islam, dan menggantinya dengan keyakinan Kristen. Hal ini menambah deretan bukti perlunya pembinaan Islam lebih mendalam lagi.

Namun yang amat patut disesalkan selebritis tersebut yaitu Lukman Sardi, putra maestro biola kawakan Idris Sardi, pernah memerankan tokoh besar Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.  Tokoh itu ia perankan dalam film drama “Sang Pencerah” yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo  pada tahun 2010.

Yang juga patut disesali, ketika itu ke-Islam-an aktor tersebut sebenarnya sudah diragukan. Istri Lukman adalah seorang pemeluk Kristen, dan kini telah memiliki 3 orang anak. Tapi tampaknya pemilihan Lukman sebagai pemeran utama tokoh KH Ahmad Dahlan bukannya tidak disengaja. Karena bagi sebagian umat Islam Hanung Bramantyo, diketahui telah beberapa kali memproduksi film yang sengaja menyudutkan dunia Islam.  Berikut wawancara mengenai sutradara muda tersebut dengan Taufik Ismail.

https://ajaran.wordpress.com/2010/09/22/wawancara-taufiq-ismail-seputar-hanung-bramantyo/

Murtadnya Lukman Sardi memang sedikitpun tidak akan mencoreng Islam. Tapi paling tidak ini membuktikan bahwa perkawinan beda agama, baik itu Muslim dengan perempuan non Muslim apalagi Muslimah dengan laki-laki non Muslim sangatlah rentan pemurtadan. Karena bagaimanapun ikatan perkawinan apalagi bila sudah dikaruniai anak, pasti membutuhkan kesamaan pandangan, termasuk keyakinan. Dan cepat atau lambat pasti salah satu akan ada yang “mengalah”. Kalaupun tidak juga, anak pasti yang akan jadi korban. Mereka akan dibiarkan mencari jalan sendiri dalam menentukan agamanya.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Keduanya orang tuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hal lain yang patut dicermati adalah pengakuan Lukman tentang alasannya murtad, salah satunya adalah penyelamatan Yesus. Dalam pandangan Islam jelas ini tidak benar. Karena Islam mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung-jawab penuh atas perbuatannya masing-masing.

Para pendeta Kristen sering meng-klaim bahwa ayat Quran dan prediksi Rasulullah tentang kedatangan kembali Yesus ( nabi Isa as) diakhir zaman adalah bukti kebenaran Yesus adalah juru selamat, bahkan Tuhan itu sendiri.

“Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam alaihissallam sebagai hakim yang adil”. (Muttafaqun ‘alaih).

Bagi orang awam mungkin hadist diatas cukup membingungkan, dan memang itulah yang diharapkan para misionaris. Mereka sengaja mencatut sebagian hadist di atas dan menghilangkan kelanjutannya. Berikut adalah hadist lengkapnya.

“Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam Alaihissallam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti/pajak), dan akan melimpah ruah harta benda, hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Yesus di akhir zaman akan datang untuk menyampaikan kebenaran, bahwa ia adalah seorang utusan Allah, Tuhannya, bukan anak Tuhan atau Tuhan itu sendiri sebagaimana perkiraan umat Kristen. Yaitu dengan dihancurkannya salib sebagai lambang Trinitas, keyakinan Tuhan 3 adalah 1. Membunuh babi, sebagai lambang kesalahan karena umatnya telah menghalalkan babi yang sebenarnya diharamkan.

Anehnya, ayat bahwa Allah adalah Tuhan yang harus disembah dan Yesus adalah utusan-Nya, hingga detik ini masih bisa ditemui di Al-Kitab. Menjadi bukti tampaknya umat Kristen tidak suka membaca dan mempelajari kitab sucinya sendiri.

Markus 12:29. Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

Yohanes 17:3. Inilah hidup sejati dan kekal; supaya orang mengenal Bapa, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang diutus oleh Bapa.

Ulangan 14:8. Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya. (Dalam Al-Kitab cetakan lama 1991 disebut babi bukan babi hutan).

Doktrin penyelamatan manusia oleh Yesus yang dijadikan jargon para misionaris sebenarnya hanya suatu usaha untuk menarik seseorang agar mau memeluk Kristen. Doktrin ini dimulai dengan peristiwa penyaliban Yesus sebagai tebusan dosa manusia.

Mereka beranggapan bahwa semua manusia, kecuali Yesus dan ibunya, dilahirkan ke dunia dalam kedaan menanggung dosa. Ini sebagai akibat dosa yang pernah dilakukan nenek moyang manusia. Yaitu Adam dan Hawa ( Eva) yang memakan buah terlarang sebelum turun ke dunia, dan menyebabkan kemurkaan-Nya. ( Sementara menurut Islam Allah swt telah memaafkan kesalahan keduanya sebelum Ia memerintahkan mereka turun agar menjadi khalifah di muka bumi.)

Itu sebabnya umat Kristiani membaptis setiap anak yang baru dilahirkan, agar bersih dari segala dosa warisan tadi. Anehnya, ternyata Yesus sendiri juga dibaptis ! Bahkan Matius 16:27 secara jelas menerangkan bahwa setiap anak manusia harus mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya kelak di akhirat.

Matius 16:27.Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.

Matius 3:13.Kemudian datanglah Isa dari Galilea ke Sungai Yordan menemui Nabi Yahya, untuk dipermandikan olehnya.

Disamping itu Al-Kitab juga menceritakan bagaimana berdukanya Yesus yang harus disalib. Hukum salib ketika itu memang hal biasa yang dilakukan penguasa terhadap orang yang melawan penguasa.  Yesus sangat sedih dan kecewa terhadap murid-muridnya yang tidak membela malah masih bisa nyenyak tidur ketika ia ditangkap pasukan penguasa. Akhirnya Yesus hanya bisa bersujud, berdoa dan memohon kepada Tuhannya agar selamat dari penyaliban. Meski sebagai seorang yang shaleh ia tetap pasrah akan kehendak-Nya.

Matius 26:38. Lalu sabda Isa kepada mereka, “Hati-Ku sangat sedih, seperti akan mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah bersama-sama dengan Aku.”

Matius 26:39. Setelah maju sedikit ke depan, Ia sujud dan berdoa, “Ya Bapa-Ku, jika boleh, biarlah cawan minuman ini lalu dari-Ku. Meskipun demikian, janganlah terjadi menurut kehendak-Ku, melainkan menurut kehendak-Mu.”

Matius 26:40. Ketika Ia kembali kepada ketiga pengikut-Nya, didapati-Nya mereka sedang tidur. Lalu sabda-Nya kepada Petrus, “Bagaimana, tidak sanggupkah engkau berjaga-jaga dengan Aku selama satu jam saja?

Artinya Yesus di salib tidak secara suka rela demi menebus dosa manusia sebagaimana diyakini selama ini. Sebaliknya Yesus di salib, di zalimi dan difitnah oleh penguasa Yahudi karena merasa terancam dengan ajaran Tauhid Yesus untuk menyembah Tuhan Yang Esa, Allah swt, yang Yesus menyebutnya Bapak. Yesus disalib karena kedengkian orang-orang yang membenci ajarannya.

Yohanes 12:27. Sekarang hati-Ku galau. Apa yang akan Kukatakan? Ya Bapa, selamatkanlah Aku dari saat yang sukar ini? Tetapi justru untuk maksud itulah Aku sampai pada saat ini.

Matius 27:17.Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?”

Matius 27:18.Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.

Berikut ulasan menarik bahwa Yesus sebenarnya tidak mati ditiang salib,  dogma penting Kristen tentang penebusan dosa. Dan ini sangat sesuai dengan apa yang diberitakan Al-Quran.

Yesaya 53:10. Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.

« dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah“, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. … … «  ( Terjemah QS.An-Nisa(4) :157).

https://id-id.facebook.com/notes/mimi-syifa/menggugat-keyakinan-yesus-mati-di-salib-yang-merupakan-harga-mati/567779853254490

( Bersambung).

Jakarta, 25 Juni 2015.

Vien AM.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 70 other followers