Feeds:
Posts
Comments

( Sambungan dari Menilik Jejak Islam di Eropa (8) )

Sejarah mencatat bahwa walaupun pada tahun 759 M secara umum Perancis berhasil memukul mundur pasukan Islam dari wilayah mereka namun nyatanya sisa-sisa kekuatan Islam masih ada hingga ratusan tahun kemudian. Hal ini disebabkan adanya sejumlah benteng peninggalan  Romawi yang terdapat di pegunungan sepanjang perbatasan Perancis- Spanyol di selatan maupun di perbatasan Perancis–Italia di tenggara.

Islam baru benar-benar lenyap dari bumi Perancis setelah pertempuran Tourtour ( Le Bataille de Tourtour ) pada tahun 973 M. Pada pertempuran yang menyakitkan ini kaum Muslimin yang masih hidup dipaksa memeluk Kristen atau dijadikan budak.

Adalah Ramatuelle. Kota turistik diatas bukit yang sekarang ini merupakan tempat tinggal idaman para seniman Perancis adalah satu diantara kota tua peninggalan Islam yang terletak di perbatasan Perancis–Italia. Kota ini tidak jauh letaknya dari St Tropez, kota pantai laut Mediterania kesayangan para selebritis. Nama asli kota yang memiliki jalan-jalan sempit menanjak ini adalah Rahmatullah, kata Arab yang berarti kasih sayang Allah.

Di dalam wilayah yang dinamakan Le Fraxinet (dalam bahasa Arab Jabal al-Qilâl ) ini pula berdiri sebuah kota benteng yang saat ini dinamakan La Garde Freinet. Disini dulu masyarakat Islam dan peradabannya bertahan.. Dari wilayah inilah Islam terus menyebar ke Italia dan Swis. ( Beberapa sumber lain menyatakan bahwa Le Fraxinet di tahun 800-an memang daerah koloni kesultanan Andalusia).

Sementara di pegunungan di perbatasan Perancis dan Spanyol berdiri sebuah  kota benteng raksasa nan cantik sesuai dengan namanya yaitu Carcassonne. Kota ini terletak sekitar 80 km tenggara kota Toulouse. Ada sebuah legenda terkenal mengenai asal usul nama kota ini. Terus terang ini surprised buat saya. Kisah ini saya temukan dari buku panduan turis yang saya beli di kota tersebut.

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 725 M, pasukan Islam berhasil menguasai Carcassone. Pasukan dibawah komando panglima Musa bin Nushair ini terus merangsek ke jantung Perancis hingga akhirnya dikalahkan Charles Martel  di pertempuran Poitiers. Pasukan Islam dipaksa mundur meninggalkan daratan Perancis dan kembali ke Spanyol.

Namun tidak demikian dengan Carcassone. Kota benteng ini berhasil dipertahankan selama 25 tahun lamanya. Kisah penyerahan kota ini diabadikan oleh para pemeluk Nasrani Perancis melalui kisah yang dipopulerkan dengan nama “ La lagende Dame De Carcas” atau legenda Putri Carcas.

Kisahnya adalah sebagai berikut :

Pada tahun 745 M pasukan gabungan Perancis dibawah Charlemagne, cucu Charles Martel kembali menyerang benteng Carcas. Terjadilah pertempuran sengit antara kedua pasukan tersebut. Dalam keadaan terjepit, sultan Carcas mengirim orang kepercayaannya untuk meminta bantuan saudaranya yang menjadi sultan Narbone, Namun pertolongan tersebut tak pernah kunjung tiba hingga sang sultanpun tewas di pertempuran.

Tinggallah permaisuri Carcas yang dengan gigih berusaha mempertahankan benteng. Seluruh warga dikerahkan, laki-laki, perempuan, tua muda. semua bersatu. Bahkan sang permaisuri sendiri terlihat  berlarian dari satu ke menara yang jumlahnya 29 itu ke menara yang lain. Dengan cerdiknya ia juga berusaha mengelabui lawan dengan membuat orang-orangan dari ijuk agar musuh mengira pasukannya masih banyak.

Namun demikian akhirnya pasukan Perancis berhasil mengepung benteng tersebut  dari luar. Walaupun pasukan ini tetap tidak berhasil mendobrak gerbang kota namun mereka berhasil membuat warga menderita kelaparan hebat.  Sementara itu pasukan Perancis hanya  duduk-duduk santai menanti benteng Carcas menyerah.

Hal ini terjadi hingga 5 tahun lamanya. Akibatnya sebagian besar wargapun akhirnya mati  kelaparan. Hingga suatu ketika permaisuri Carcas menemukan sebuah ide. Ia melemparkan seekor anak babi yang ditemukannya ke luar benteng. Ia berharap agar pasukan yang menanti diluar bagai serigala kelaparan itu mengira bahwa warganya tetap bisa bertahan karena masih memiliki persediaan makanan cukup banyak. Oleh karenanya mereka masih mampu membuang seekor babi seenaknya. Padahal umat Islam memang tidak makan daging babi. Dan sebenarnya  merekapun hanya tinggal memiliki sekarung kecil gandum !

Siasatnya berhasil. Charlemagne akhirnya memutuskan untuk pulang. “ Percuma kita menanti berlama-lama disini. Mereka masih mempunyai persediaan makanan cukup. Mari kita tinggalkan saja kota ini”, begitu perintahnya.

Namun pada saat mereka hendak bergerak mundur tiba-tiba seluruh lonceng yang berada di kota benteng tersebut berbunyi. Rupanya sang permaisuri menghendaki adanya negosiasi.

Carcas  .. sonne “, begitu teriak pasukan Perancis. Sonne artinya berbunyi. Maksudnya warga Carcas telah menyerah. Itu sebabnya kemudian kota tersebut dinamakan  Carcassonne …

Di akhir kisah tersebut diceritakan bahwa Charlemagne, calon raja Perancis itu akhirnya meng-‘hadiahkan’ kota yang dengan susah payah ingin direbut tersebut kepada sang permaisuri. Kemudian ia  menikah  dengan salah satu pengikut setia dan terbaik Chalemagne yang bernama Roger.  Perkawinan  politik ini di kemudian hari menurunkan dinasti Trencavel yang terkenal itu. Akhirnya kisah ditutup dengan di baptisnya Carcas sang permaisuri menjadi Kristen !!

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran “. (QS.Al-Baqarah(2):221).

Yang juga cukup menarik, dinasti Trencavel yang secara turun menurun kemudian menguasai Carcassonne dan sekitarnya dianggap pihak gereja terlalu toleran, terutama terhadap pemeluk Yahudi. Maka pada sekitar tahun 1200-an Carcassonne harus menerima akibat dengan diperanginya oleh gereja. Peristiwa ini dikenal dengan nama Perang Salib Cathar ( Cathar Crusade) yang berlangsung selama 20 tahun.

Carcassonne dikepung hingga akhirnya kalah karena kekurangan air. Penduduknya banyak yang meninggal, rajanya, Raymond Roger meninggal di kamarnya sendiri karena dehidrasi alias kekurangan air.  Sementara penduduknya yang masih hidup diusir dari kota dalam keadaan  terhina. Dengan hanya secarik kain penutup mereka harus meninggalkan kota.  Selang beberapa tahun kemudian berakhirlah dinasti Trencavel.

Wallahu’alam bish shawab.

Pau – France, 7 Juni 2010.

Vien AM.

Waktu berlalu terasa begitu cepat. Nyaris 1 tahun sudah kami tinggal di Pau, Perancis Selatan. Banyak hikmah yang kami dapat, Alhamdulillah .. Terima-kasih banyak Ya Allah .. Semoga hamba-Mu yang hina ini tidak mengecewakan-Mu …

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (QS.Al-Mulk(67):15).

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (QS.Ali Imran(3):137).

Semenanjung Iberia ( Spanyol dan Portugal ) bagi sejarah perkembangan Islam di Eropa memiliki arti yang sangat besar. Ini adalah pintu gerbang bagi masuknya ajaran yang disampaikan melalui nabi terakhir, Muhammad saw pada tahun 600-an ini ke belahan bumi bagian barat.

Sejarah mencatat bahwa hanya berselang tak lebih dari 100 tahun sejak wafatnya Rasulullah saw, Islam telah masuk ke seluruh semenanjung Iberia.  ( Bandingkan dengan ajaran Nasrani yang dibawa Isa as. Ajaran ini baru diakui 300 tahun setelah wafatnya sang rasul. Itupun setelah diselewengakan pula !! ).

Tidak hanya semenanjung Iberia, bahkan pasukan Islam dibawah pimpinan Musa bin Nushair dan Tariq bin Ziyad yang menaklukkan semenanjung tersebut pada tahun 711 M ini nyaris memasuki jantung Perancis pada tahun 732 M. Ini terjadi di masa pemerintahan Umar bin Abdul Azis. Ia memulai penyerangan dari pegunungan Pirenea yang menjadi batas antara Spanyol dan Perancis. Setelah Bordeaux ditaklukkan, Tours adalah kota sasaran berikutnya. Namun tampaknya Allah swt saat itu belum mengizinkan ajaran Islam masuk ke negri yang saat ini menjadi salah satu lambang pusat mode dunia ini. Pasukan Islam dikalahkan pasukan Perancis dibawah Charles Martel V di Poitiers.

Padahal sebelumnya pasukan ini terlihat tak dapat dibendung.  Septimania, yaitu 7 propinsi Gaul, diantaranya adalah propinsi Aquitaine, Roussillon dan  Narbonne yang terletak di sepanjang laut Mediterania serta propinsi Alpen Maritim di perbatasan Italia dengan Perancis tenggara, jatuh secara berturut-turut sejak tahun 714 M. Narbonne  pada tahun  719 M, Carcassone dan Nimes pada tahun 725 M. Toulouse yang sekarang menjadi satu dari lima kota terbesar Perancispun tak luput dari ancaman. Begitupun Arles dan Provence bahkan hingga Atun dekat kota Lyon, yang terletak jauh di jantung Perancis. Belum lagi sejumlah kepulauan di laut Tengah ( Mediterania ) seperti Sisilia dan Sardinia (Italia), Korsika ( Perancis) dan Majorika ( Spanyol) yang jatuh pada tahun 800-an.

Kekuasaan Islam di Perancis Selatan secara umum memang tak lebih dari 50 tahun. Yang terakhir adalah Narbonne yaitu pada tahun 759M. Kota ini bahkan selama 40 tahun sempat menjadi satu dari lima ibu kota kerajaan Kordoba, disamping Toledo, Zaragoza, Kordoba dan Merida.

Tapi tak urung peristiwa bersejarah ini ternyata terukir dalam di hati Napoleon Bonaparte ( 1769 – 1821), raja Italia sekaligus kaisar Perancis penakluk benua Eropa.

Berikut pengakuan Bonaparte mengenai Islam :

“Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia…Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat…Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separoh bola bumi… Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”…..

(hal 105 dari “Bonaparte et L’Islam” oleh Cherfils).

Sebagian sejarahwan bahkan berani menyatakan bahwa pada bulan Juli 1798 ketika Bonaparte berada di Kairo, ia menyatakan ke-Islam-annya di hadapan Sultan Kairo ketika itu… Wallahu’alam ..

Sejarah juga tidak lupa mencatat bahwa selama periode tersebut orang-orang Yahudi dan Kristen tidak pernah dipaksa meninggalkan agama mereka. Sebagai bentuk ketundukkan mereka terhadap pemerintahan Islam mereka hanya diwajibkan membayar jiziyah. Ini adalah semacam biaya perlindungan sebagai ganti zakat, infak dan sedekah yang dikeluarkan umat Islam. Dakwah yang sepertilah yang ternyata justru mampu menaklukkan hati mereka.

Tampaknya ini yang menjadi penyebab utama mengapa Narbone begitu sulit direbut kembali oleh Perancis. Diperlukan waktu 7 tahun lamanya agar kota ini kembali ke pangkuan. Karena justru rakyatlah yang membela pasukan Islam dan tidak menginginkan kembali masuk ke dalam wilayah pemerintahan Perancis. Padahal sebetulnya hanya sebagian kecil saja warga asli Narbone yang masuk Islam. Ini adalah bukti betapa adilnya hukum pemerintahan Islam terhadap warga walaupun berbeda agama.  Subhanallah ..

Secara pribadi, sungguh merupakan kehormatan bagi saya berkesempatan melihat dan merasakan sendiri denyut kehidupan kota-kota di Perancis, khususnya di  bagian selatan ini.

Memang nyaris tak ada catatan resmi tertulis tentang peninggalan Islam di kota-kota tersebut. Namun demikian ada saja sejumlah bangunan di beberapa kota yang tampaknya tidak mampu di hapuskan begitu saja dari sejarah. Paling tidak pengaruh budaya Islam Andausia yang ketika itu sedang berada dalam masa keemasannya masih terlihat.

Didasari rasa penasaran, setelah beberapa hari surving dan searching di dunia maya, saya menemukan sejumlah berita dan asal usul beberapa  kota di wilayah tersebut.

Di ujung selatan antara Perancis dan Spanyol sebelah timur laut terdapat sebuah wilayah bernama Catalan dalam bahasa Perancis  atau Llivia dalam bahasa Spanyol.  Ternyata kota ini dulunya pernah memiliki nama khas Arab yaitu  Medinet-el-bab yang artinya adalah kota gerbang.  Ketika itu kota ini memang berada di bawah kekuasaan Munuza Utaman Abu Nâsar, seorang panglima Umayah yang mendapat perintah menaklukan kepulauan Sardinia di Italia ditahun730 M.

Menurut kabar, panglima ini menikahi gadis cantik putri bangsawan Perancis Aquitaine yang bernama Lampegie. Sayang cintanya yang begitu besar membuat diri sang panglima menjadi buta dan lalai. Ia dilaporkan berkhianat terhadap tugas negara  hingga akhirnya harus dibunuh.

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (QS. Al-Baqarah(2):221).

Berikutnya adalah Ramatuelle. Ini adalah sebuah kota kecil yang terletak di Provence, Alpes Cote d’Azur, salah satu propinsi Perancis Tenggara. Kota yang terletak tidak jauh dari St Tropez, kota di pantai Mediterania yang menjadi tempat tujuan para selebritis ini ternyata menyimpan sebuah rahasia.

Kota ini terletak di pegunungan massif bernama Les Massif De Maures. Banyak sejarahwan mengatakan bahwa nama ‘Maures’ digunakan karena keberadaan orang Maures yang pada abad 8 hingga 9 banyak menempati daerah tersebut. Maures adalah orang-orang Arab Islam Spanyol yang dulu menempati Andalusia.  Sedangkan nama kota Ramatuelle aslinya dulu adalah Rahmatullah,  sebuah nama Arab yang berarti kasih sayang Allah!

( Bersambung )

( Sambungan dari  : “ Menilik Jejak Islam Di Eropa (6) “) .

Kita tinggalkan Toledo dengan sejumlah hikmahnya …

Tujuan kami berikutnya adalah Salamanca dan Burgos yang terletak di bagian barat laut dan utara Spanyol. Saya tidak yakin apakah masih ada jejak Islam yang tertinggal didua kota ini. Jujur saja sebenarnya dua kota ini kami jadikan tujuan karena jarak Toledo – Pau terlalu jauh bila harus ditempuh tanpa bermalam. Sebenarnya Burgos saja cukup. Namun berhubung beberapa teman mengatakan bahwa Salamanca adalah kota yang cukup cantik, maka kamipun memutuskan untuk singgah semalam disana.

Salamanca terletak sekitar 190 km barat laut Toledo. Kota ini hanya 80 km dari perbatasan Portugal. Sedangkan Burgos terletak sekitar 200 km sebelah utara Salamanca.

Seperti halnya kota-kota lain di Spanyol Salamanca selama beberapa ratus tahun berada di bawah kekuasaan Islam setelah sebelumnya dikuasai Romawi dan kemudian Wisigoth. Musa bin Nusair, gubernur propinsi bagian Afrika Utara inilah yang bersama Tarik bin Ziyad menaklukkan kota ini pada tahun 712 M. Musa sendiri dikabarkan bahwa ayahnya dulu adalah seorang pemeluk Yahudi mantan budak yang kemudian masuk Islam pada masa Muawiyah, gubernur pertama Syria, pendiri dinasti Umayah.

Selanjutnya Salamanca dan kota-kota yang ditaklukan Musa dan Tarik berada di bawah pemerintahan kekhalifahan Umayah yang berpusat di Damaskus. Ini terjadi pada masa khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Yang menjadi salah satu kunci mengapa semenanjung ini begitu mudah ditaklukkan pasukan Islam adalah karena pemerintahan Wisigoth ketika itu tidak berlaku adil terhadap rakyatnya terutama dalam hal toleransi beragama.

Contohnya adalah pemeluk Yahudi yang merupakan mayoritas penduduk negri tersebut. Mereka dipaksa berpindah ke agama Kristen, agama para penguasa. Mereka yang menolak dibunuh atau disiksa secara brutal. Itu sebabnya ketika pasukan Musa dan Tarik datang rakyat Spanyol menyambut mereka dengan senang hati. Apalagi ketika mengetahui bahwa   Islam tidak pernah memaksa warganya untuk berpindah agama. Bahkan orang-orang Yahudi yang tadinya hidup paling menderitapun diberi kebebasan, perlakuan dan kesempatan yang sama dengan warga lain.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.(QS. Al-Baqarah(2):256).

Pada tahun 750 M kekhalifahan Umayah yang berdiri pada tahun 661 M digulingkan oleh bani Abbasiyah. Salamancapun berpindah menjadi bagian dari kerajaan Kordoba yang didirikan pada tahun 756 M oleh Abdul Rahman I. ia adalah raja terakhir Umayah yang berhasil melarikan diri dari kejaran bani Abbasiyah.

Namun kekuasaan Islam di kota ini sedikit demi sedikit berkurang sejak tahun 939 M hingga akhirnya hilang sama sekali begitu raja Kristen Alphonso VI berhasil menaklukan Toledo pada tahun 1085 M.

University of Salamanca

University of Salamanca

Salamanca saat ini adalah kota pelajar. Di kota ini terdapat universitas tertua di Eropa, yaitu  Universitas of Salamanca yang berdiri pada tahun 1218 M. Universitas ini juga merupakan universitas ke 5 tertua di barat.  Namun dibanding dengan kota-kota Islam lainnya pendirian pusat ilmu ini tergolong ketinggalan jauh. Karena universitas di kota-kota Islam telah berkembang pesat sejak tahun 700-an.

Kami memasuki Salamanca pada hari Jum’at tengah malam. Dari kejauhan puncak menara katedral yang terletak di ketinggian dengan lampu-lampunya yang terang benderang terlihat mendominasi kota. Tujuan kami adalah hotel yang telah kami booking beberapa hari sebelumnya. GPS di mobil mengarahkan kami untuk mendekati lokasi tersebut. Kota terlihat sangat sepi. Tampaknya kota tua ini telah terlelap dalam tidurnya. “ Tentu saja sudah tengah malam”, pikir saya ketika itu.

Namun ternyata saya salah duga. Karena makin mendekati hotel yang tampaknya terletak di pusat kota kehidupan makin terlihat semarak. Sekumpulan pemuda pemudi terlihat lalu-lalang. Ada yang duduk-duduk bergerombol di jalanan. Ada yang berdua-duan duduk di restoran. Sebagian terlihat mabuk. Aneh juga. Ini kan tengah malam.

Ada pertandingan sepak bola kali ya.. ”, terka suami saya tak kalah heran.

Begitu sampai di hotel kami menanyakan hal tersebut kepada resepsionis. Ternyata itu hal biasa. Mereka adalah para pelajar dan mahasiswa yang merupakan mayoritas penduduk Salamanca. Itulah yang mereka lakukan setiap malam Sabtu. Kongkow-kongkow, makan, minum dan ngobrol di kafe yang banyak tersebar di kota ini. Dan tentu saja mabuk-mabukan .. Olala ..

Wah , serem juga ya kalau punya anak kuliah di kota ini “, begitu suami saya berkomentar. Tampak sekali kehidupan mereka begitu bebas. Ya .. memang mengerikan sekali ..

Esok paginya kami berjalan-jalan keliling kota. Sungguh aneh .. kali ini kota seperti kota mati !  “ Palingan masih pada tidur  .. kan kemarin pada begadang sampai pagi “, kali ini putri kami yang berkomentar.

Tetapi ketika kami mendekati lokasi sekitar katedral, keadaan sedikit lebih ramai. Sejumlah restoran terlihat mulai bersiap-siap menata kursi-kursi di jalanan. Para turis lokal bercampur dengan warga setempat berdatangan meramaikan suasana. Sementara di depan katedral  terlihat sebuah kereta mini turis. Kamipun memutuskan menggunakan kereta tersebut untuk berkeliling kota.

Plaza Mayor, tempat berkumpulnya warga

Plaza Mayor, tempat berkumpulnya warga

Namun karena kereta baru akan berangkat 2 jam lagi maka kami memanfaatkan waktu untuk melihat-lihat pemandangan sekitar katedral. Diantara sejumlah bangunan tua yang kami lihat seperti Old Katedral, New Katedral, gereja-gereja tua, universitas, plaza mayor dll tak sedikitpun tercatat adanya tanda-tanda peninggalan Islam di kota tua ini.

Mungkinkah selama 250 tahun lebih Islam tidak memberikan sumbangsihnya ke kota ini? Entahlah .. yang jelas kejadian tersebut memang telah berlalu hampir 1000 tahun yang lalu .. jadi kalaupun ada pasti pemerintahan baru telah merubah fungsinya … masuk akal..

Oya, ada sedikit kejutan. Ketika itu kami sedang berjalan-jalan melihat toko-toko suvenir  yang banyak berjejer di sepanjang jalan.  Tiba-tiba kami melihat sebuah toko yang memajang patung Garuda raksasa secara mencolok. Karena penasaran kamipun mendekatinya. Ternyata benar, patung tersebut berasal dari Indonesia. Lumayan .. ada sedikit rasa bangga nama negri kita ternyata cukup dikenal … :-)

Singkat cerita, setelah makan siang dan berkeliling kota dengan kereta mini kamipun kembali meneruskan perjalanan, yaitu ke Burgos. Kami menginap di kota ini satu malam. Seperti biasa Katedral yang terletak di pusat keramaian kota menjadi pusat tempat berkumpulnya warga dan turis,baik turis lokal maupun turis asing.

Menurut saya Burgos lebih cantik dan lebih asri dari Salamanca. Apalagi dengan adanya Rio Arlanzon, sungai yang membelah kota. Rio dalam bahasa Spanyol artinya adalah sungai. Sejumlah jembatan tampak menghubungkan bagian kota lama dan bagian baru kota ini.

Menurut sejarah Burgos awalnya adalah kota militer yang didirikan pihak Kristen Spanyol dalam rangka mencegah perluasan kekuasaan Islam yang makin hari makin luas saja. Kota ini didirikan pada tahun 884 M. Bekas benteng tersebut masih dipertahankan dan menjadi salah satu obyek wisata. Benteng ini terletak strategis di atas bukit.

Saat ini Burgos menjadi kota tempat persinggahan para pezirah Kristen yang akan melaksanakan  ziarah ke Saint Jacques de Compostelle. Kota yang terletak di ujung barat Spanyol ini  dinobatkan sebagai satu dari tiga kota tersuci umat Kristen ( disamping Yerusalem dan Vatikan). Lucunya ketetapan ini baru dikeluarkan dewan gereja ribuan tahun setelah di-’salib’nya Isa as yang mereka tuhankan, yaitu sejak kejatuhan Al-Andalusia secara keseluruhan ditahun 1492M.

Spanyol secara umum saat ini memang terlihat ‘paling Kristen’ dibanding kota-kota Eropa lainnya. Namun anehnya, beberapa hari yang lalu saya menerima kabar yang cukup mengejutkan.

Seorang perempuan Inggris berusia 28 tahun dengan suka rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk memodali program ‘Atheismesisasi’. Ia dikabarkan memesan slogan raksasa bertuliskan kurang lebih begini “ Tampaknya Tuhan itu tidak ada. Mari kita nikmati kehidupan duniawi dengan sebebas-bebasnya  !! “.

Slogan ini rencananya akan ditempelkan di sepuluh bus turis merah London yang terkenal itu. Namun ternyata rencana ini diprotes warga termasuk para pengemudi bus yang bersangkutan. Surutkah keinginan gadis yang meragukan keberadaan Tuhan ini?

Sama sekali tidak … Karena tak lama kemudian tersiar kabar bahwa sejumlah bus di Barcelona, Spanyol menempelkan slogan pesanan gadis tersebut .. Na’udzubillah min dzalik ..

Tampaknya Spanyol dengan gereja-gereja cantik nan megahnya bakal mengalami nasib sama dengan  gereja-gereja lain di seluruh penjuru Eropa, yaitu ditinggalkan umatnya dan hanya menjadi lambang kebanggaan kota …

Wallahu’alam bi shawab.

Pau – France, 31 Mei 2010.

Vien AM.

Oleh Ihsan Tandjung

Masih ada sebagian muslim di Indonesia yang mempermasalahkan persoalan Palestina. Mereka bertanya: “Mengapa kita harus memperhatikan apa yang terjadi nun jauh di Gaza sana? Bukankah di negeri kita sendiri masih banyak masalah? Lebih baik kita urus negeri kita saja. Soal Palestina, yah biarkan saja diurus sama yang lain. Kita urus urusan kita sajalah..!!”

Benarkah sikap seperti ini?

Saudaraku, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam telah memperingatkan kita bahwa salah satu tanda menjelang datangnya hari Kiamat ialah kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi. Suatu bentuk peperangan yang menjadi sangat unik karena Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan bahwa pada saat itu alam-pun turut berfihak kepada pasukan Islam. Pepohonan dan bebatuan pada hari itu diizinkan Allah berbicara kepada pasukan Islam. Alam akan memberitahu pasukan Islam posisi tentara Yahudi.

“Tidak akan terjadi Kiamat sehingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi sampai Yahudi berlindung di balik batu dan pohon lalu batu dan pohon berbicara “Hai Muslim, hai hamba Allah, ini Yahudi di belakangku, kemari, bunuhlah dia,” kecuali Ghorqod sebab ia sungguh pohon kaum Yahudi.” (HR Muslim 5203)

Artinya, berdasarkan hadits di atas bilamana kaum Muslimin sudah menjadi sadar bahwa kaum Yahudi merupakan musuh bebuyutan yang pada akhirnya harus diperangi, maka hal itu menandakan sudah dekatnya kedatangan hari Kiamat. Sedangkan peristiwa perang di Gaza kemarin jelas-jelas merupakan suatu konflik yang melibatkan kaum Yahudi di satu fihak dan kaum Muslimin di lain fihak.

Namun demikian, ada hal penting yang perlu kita catat. Dalam hadits di atas Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyebutkan bahwa perang melawan Yahudi sebagi pertanda dekatnya hari Kiamat adalah perang yang dilancarkan oleh kaum Muslimin terhadap kaum Yahudi. Tidak ada samasekali di dalam hadits di atas isyarat bahwa yang memerangi Yahudi adalah kaum Muslimin bangsa tertentu, misalnya bangsa Palestina sendirian. Perang tersebut akan diikuti oleh segenap kaum Muslimin berlatar-belakang aneka bangsa. Sehingga pohon dan batupun tatkala memanggil tidak berkata: ”Hai orang Palestina… hai orang Mesir… hai orang Yordania… hai orang Suriah…. hai orang Arab… hai orang Malaysia… hai orang Indonesia… hai orang Melayu…” TIDAK, saudarku…! Pada saat perang ideologi itu berlangsung pohon dan batu hanya memanggil dengan satu identitas: “Hai Muslim, hai hamba Allah…”

Bila kita lihat peristiwa Gaza kemarin, maka kita menyaksikan bahwa praktis bangsa Palestina berperang melawan Yahudi sendirian. Tidak ada yang membantu mereka. Sehingga hal ini menjelaskan kepada kita mengapa pertolongan Allah dan kemenangan belum sepenuhnya berfihak kepada ummat Islam. Dan Israel bisa melenggang dengan pongahnya melakukan genosida yang begitu keji.

Maka saudaraku, di sinilah munculnya kewajiban bagi kita untuk terlibat menunjukkan solidaritas terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita di sana. Sebab bila kita tidak memiliki kepedulian akan apa yang menimpa mereka, maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengancam bahwa kita tidak akan dianggap sebagai bagian dari komunitas ummat Islam..!!

“Barangsiapa tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka ia tidak termasuk ke dalam golongan mereka.” (HR Thabrani 7686)

Kita dewasa ini memang sangat tidak berdaya. Kita hanya sanggup menonton di layar kaca pembantaian yang terjadi atas saudara-saudara kita di Gaza. Paling jauh kita hanya bisa berdoa, menangis, mengirim dana, obat-obatan, makanan, pakaian, menulis artikel, mengirim tim medis, jurnalis dan aktifis kemanusiaan. Tapi satu hal yang pasti, kita samasekali tidak memiliki izin, peluang dan kesanggupan untuk turut serta berjihad bahu membahu bersama para pejuang Hamas dan pejuang Palestina faksi lainnya.

Hal ini menandakan bahwa sesungguhnya perang di Gaza kemarin belum merupakan perang sebagaimana Nabi shollallahu ’alaih wa sallam isyaratkan di dalam hadits di atas. Perang di Gaza baru melibatkan sebagian ummat Islam dari satu bangsa tertetnu. Ia belum menjadi perang yang melibatkan segenap kaum Muslimin dari berbagai bangsa dan penjuru dunia. Padahal fihak Israel sudah sampai ke tahap melibatkan Yahudi dari berbagai latar belakang bangsa dan penjuru dunia. Ini jelas belum menunjukkan keseimbangan perlawanan. Padahal Israel sudah mempersiapkan seluruh warganya dengan digencarkannya megaproyek penghijauan berupa penanaman pohon Ghorqod sebanyak-banyaknya…!!! Kadangkala, mereka lebih memahami hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kita daripada sebagian kita sendiri.

Jangankan perang kemarin melibatkan kaum Muslimin dari berbagai bangsa dan penjuru dunia, bahkan kalangan pemerintah Arab negara tetangga Gaza saja ada yang malah berkolaborasi dengan Israel..!! Kita saksikan bahwa kesatuan faksi-faksi Palestina sulit disatukan, terutama antara Hamas dan Fatah, bukan karena sembarang sebab. Tetapi harus diakui bahwa sebagian pemimpin Fatah, terutama yang dewasa ini memegang posisi formal dalam lembaga Otoritas Palestina, memang memiliki hubungan yang sedemikian akrab dengan pemerintah zalim Israel sehingga mau tidak mau kesan yang muncul adalah mereka berkolaborasi dengan musuh. Repotnya lagi, fihak Hamas memiliki bukti-bukti kuat yang membenarkan munculnya kesan tadi.

Maka saudaraku, kasus Gaza setidaknya semakin menyadarkan dunia umumnya, ummat Islam khususnya, bahwa memerangi bangsa Yahudi menuntut kita semua untuk berada dalam kesatuan barisan Mujahidin fi sabilillah. Dan kita cukup optimis bahwa walaupun kali ini warga Gaza sendirian menghadapi kekuatan militer Yahudi Zionis Israel, setidaknya telah terjadi penyadaran dan pengkondisian kepada sebagian besar Ummat Islam bahwa bukanlah ikatan kebangsaan Palestina yang bisa menyelesaikan problema kezaliman penjajah Israel. Bukan pula ikatan ke-Arab-an. Tetapi memang haruslah wujud suatu semangat dan network ke-Islaman untuk menuntaskan masalah ini. Sebab masalah ini pada hakikatnya merupakan konflik abadi antara pembela Kebenaran versus pembela Kebatilan. Pasukan Islam merupakan representasi dari ahlul-haq alias Hizbullah sedangkan pasukan Yahudi merupakan representasi dari ahlul-batil alias Hizbusy-Syaithan. Wallahua’lam bish-showwab.

Dikutip dari : http://danielmas.wordpress.com/2009/02/13/palestina-dan-skenario-akhir-zaman/

( Sambungan dari  : “ Menilik Jejak Islam Di Eropa (5) “) .

Islam tidak pernah mengajarkan pemisahan antara ilmu duniawi dan ilmu akhirat.  atau apa yang sekarang popular disebut Sekularisme. Inilah yang menjadi dasar pesatnya perkembangan ilmu dan sains di dunia Islam pada abad pertengahan. Ridho Allah swt sebagai Sang Pemilik adalah kata kunci.

“Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat “. (QS.An-Nisa’(4):134).

Al-Khawarizmi (783M – 850M), Al-Kindi (801M – 873M), Al-Battani ( 855M – 923M), Ar-Razi/Rhazes (865M – 932M), Ibnu Haitam / Alhacen (965M – 1039M), Al-Biruni (973M – 1050M), Ibnu Sina/Avicenna (980 M – 1037M) dan Al-Jazari (1136 M -1206M) dari Persia, Ibnu Khaldun (732M – 808M) dari Tunisia, Al-Zarqali/Arzachel (1029M – 1087M) dan Ibnu Rusdy/Averroes (1126M – 1198M) dari Andalusia  adalah contoh dari sekian banyak ilmuwan Muslim yang hidup di masa kejayaan Islam.

Mereka ini bukan hanya menguasai ilmu yang sifatnya duniawi seperti  kedokteran, fisika, kimia, matematika, ekonomi, astronomi, seni dll namun juga ilmu ukhrowi. Bahkan mereka ini juga tidak hanya menguasai satu atau dua bidang ilmu saja. Ibnu Sina misalnya, ia adalah dokter sekaligus ahli filsafat dan matematikus. Mereka adalah para ilmuwan, penemu sekaligus alim ulama handal yang membawa dunia Islam menuju puncak kejayaannya. Andalusia adalah salah satu bukti zaman kejayaan tersebut.

Dari Andalusia inilah ilmu pengetahuan masuk ke Eropa. Namun berbeda dengan ilmuwan Muslim yang selalu mencantumkan nama penemu dan buku yang dijadikan pegangan mereka ( bila itu terjemahan, biasanya berasal dari ilmuwan Yunani kenamaan seperti  Socrates yang hidup pada 428BC – 348 BC atau  Plato pada 470 BC -399 BC) tidak demikian dengan ilmuwan barat. Dengan penuh kecurangan mereka mengakui buku-buku terjemahan mereka atas namanya sendiri ….

Dan tampaknya kecurangan ini terus berlanjut hingga saat ini, diantaranya  yaitu dengan dihilangkannya/ manipulasi sejarah kota-kota lama yang dulu pernah berada dibawah kekuasaan Islam. Contohnya ya di Toledo ini.

Semula saya begitu bersemangat ketika mendapat informasi bahwa peninggalan Islam di Toledo termasuk cukup banyak. Mr Google mengatakan bahwa dengan masih dijaganya keberadaan masjid sebagai peninggalan sejarah Islam di Eropa maka Toledo dapat disebut sebagai satu-satunya kota Eropa yang masih menyisakan toleransi keberagamaan.

Tapi brosur yang sengaja saya beli di hotel tempat kami menginap  tidak begitu banyak menyebut peranan Islam dalam membentuk kota dan masyarakat  kota benteng ini. Hal ini membuat saya makin bernafsu untuk membuktikan kebenaran pernyataan Mr Google, sumber data internet yang mustinya  dapat dipercaya.

Maka setelah sarapan, kamipun berjalan menyusuri jalan-jalan batu sempit yang berkelak kelok menanjak. Bangunan-bangunan tua model abad pertengahan mendominasi kota. Sebagian besar bangunan tersebut saat ini adalah gereja atau museum. Kami menjumpai ada lebih dari dua atau tiga bekas sinagog yang terlihat terawat dengan baik. Pengunjungnya membludak hingga harus mengantri bila ingin melihat keadaan di dalamnya.  Tampaknya mereka adalah para peziarah Yahudi dan Kristen.

Alcazar

Alcazar

Katedral

Katedral

Zocodover

Zocodover

Obyek wisata yang menjadi primadona seperti biasa adalah Katedral. Katedral dan Alcazar ( aslinya dari bahasa Arab berarti benteng atau istana, saat ini adalah Musium Militer ) adalah dua bangunan yang menjadi simbol kota Toledo.  Begitu juga Zocodover ( dari bahasa Arab Suk Al-Dawab) yaitu Pasar Al Dawab.

Disamping itu yang juga menarik perhatian para turis adalah gerbang-gerbang kota dan jembatan-jembatan lama. Sebagai kota benteng Toledo mempunya beberapa pintu gerbang. Gerbang utama diberi nama The Alfonso VI Gate. Dulunya nama gerbang ini adalah Bab Shagra yang dalam bahasa Arab adalah Gerbang Sagra. Ada lagi gerbang yang disebut The Sol Gate. Gerbang ini dibangun kembali pada abad 14 dengan gaya Mudejar. Sementara itu  Puerte de Bisagra atau Gerbang Bisagra aslinya juga peninggalan Islam.

Kami terus berjalan mengikuti arah panduan peta untuk menemukan masjid sebagaimana tertulis di brosur. Kami bolak balik di sekitar suatu lokasi bernama “ Mezquita de Tornerias”. Mezquita dalam bahasa Spanyol artinya adalah masjid. Namun tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa itu adalah bangunan masjid. Yang tampak hanya sebuah bangunan kecil di sudut jalan dengan pintu tertutup rapat. Setelah secara seksama  mengamati tulisan kecil di salah satu dindingnya barulah kami sadar  bahwa ini hanyalah lokasi bekas masjid kecil yang sekarang dijadikan tempat pameran … L .. Olala ..

Suami dan anak saya terlihat mulai bosan namun saya tetap penasaran.  “ Ada satu lagi masjid menurut peta ini. Tanggung nih .. kita kesana sebentar ya ..”, rengek saya. “ Palingan g ada apa-apanya bu “, jawab anak saya ogah-ogahan namun tetap mau menuruti keinginan ibunya yang keras kepala ini. Terima-kasih anakku sayang ya … Alhamdulillah …

Mezquita Del Cristo De La Luz

Mezquita Del Cristo De La Luz

Mezquita Del Cristo De La Luz

Beberapa menit kemudian kamipun tiba di tujuan. Benar dugaan anak saya. Masjid tersebut ternyata benar-benar hanya peninggalan sejarah. Masjid yang diberi nama begitu cantik “ Mezquita Del Cristo De La Luz” itu hanyalah bangunan kosong yang ditinggalkan begitu saja.

Bangunan tidak seberapa besar ini seperti bangunan yang belum selesai dibangun. Walaupun sebetulnya keindahannya masih tampak jelas. Dari luar terlihat sejumlah pilar dan tangga yang tak terawat.. “ Ini namanya basa basi .. sekedar syarat pokoknya ada peninggalan yang dipertahankan. Lebih parah lagi kayaknya malah sengaja mau ngecilin peran Islam “, begitu komentar suami saya, pahit.  Yaaah … menyedihkan  sekali …

373 tahun bukanlah waktu yang pendek. Ini hampir sama dengan masa penjajahan Belanda terhadap Indonesia. Selama ratusan tahun itu rakyat Indonesia hidup menderita dan sangat tertekan. Kebodohan, kemiskinan dan kehinaan terjadi di seluruh pelosok negri.

Lain halnya dengan keberadaan Islam di suatu negri. Ekspansi Islam ke Eropa atau kemanapun bukanlah bentuk penjajahan. Ketika Islam mendatangi suatu negri, kejayaan dan kemegahan selalu terjadi. Masyarakat yang tadinya hidup tidak teratur, selalu berpindah-pindah,  liar  dan tidak mengenal Tuhan segera berubah menjadi masyarakat madani, masyarakat yang berperadaban tinggi ( civilized society). Ini terbukti dengan lahirnya para ilmuwan, buku-buku pengetahuan, perguruan-perguruan tinggi, sistim pengairan, kota yang teratur, aman dan tentram.

Masyarakat Islam dimanapun berada selalu memprioritaskan keberadaan sebuah masjid. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pusat ibadah shalat  namun juga sebagai sarana berkumpul, bertukar pikiran dan pendapat. Apalagi dikota sebesar Toledo yang merupakan salah satu dari 5 ibu kota propinsi Al-Andalusia. ( 4 kota di luar Toledo itu adalah Kordoba, Merida, Zaragoza dan Narbonnne yang sekarang berada di wilayah Perancis Selatan). Keberadaan Grand Mosque atau Masjid Agung adalah sebuah keharusan. Dimanakah gerangan itu sekarang ? Mengapa bahkan lokasi bekasnyapun tidak terindentifikasi ?

Padahal bila mau jujur sebenarnya peninggalan-peninggalan tersebut begitu kasat mata. Menara,  gapura dengan lengkung khasnya juga tembok-temboknya yang melindungi kota dari serangan musuh bukankah itu peninggalan Islam ? Yang memang mungkin saja bercampur dengan peninggalan Romawi dan Wisigoth yang berkuasa sebelumnya.

( Bersambung)

« Newer Posts - Older Posts »