Feeds:
Posts
Comments

Archive for May 24th, 2010

Pasukan Islam di bawah pimpinan Tarik bin Ziyad memulai penaklukkan semenanjung Iberia ( Spanyol, Portugal dan Perancis Selatan) pada tahun 711 M.  Ia masuk melalui selat Jibraltar. Jibraltar berasal dari kata Jabal Tarik atau Gunung Tarik. Tarik diambil dari nama sang panglima. Kata gunung digunakan karena di selat dimana pasukan Tarik memasuki semenanjung ini berdiri sebuah gunung.

Sementara kota Toledo yang merupakan ibu kota Wisigoth ketika itu ditaklukkan hanya setahun setelah itu, yaitu tahun 712 M. Padahal kota ini terletak jauh di tengah daratan Spanyol. Dapat dibayangkan bagaimana cepatnya pasukan Tarik ini bergerak. Toledo berada di bawah wilayah kekuasaan kerajaan Kordoba selama 373 tahun, yaitu hingga tahun 1085 M.

Para ilmuwan Barat saat ini mengakui bahwa peninggalan Islam di Toledo termasuk yang paling banyak, disamping Saragossa, Sevilla dan Kordoba sendiri yang merupakan ibu kota kerajaan.. Wilayah kerajaan ini mencakup lebih dari  2/3 bagian  Spanyol dan Portugal sekarang ini, termasuk didalamnya adalah Madrid, ibu kota Spanyol.

Toledo terletak sekitar 70 km selatan Madrid. Sedangkan jarak Madrid – Saragossa hampir 400 km. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 3 jam. Sekitar pukul 4 sore kami tiba di Madrid. Awalnya kota ini tidak masuk dalam daftar kota yang bakal kami kunjungi. Karena kami telah mengunjunginya beberapa tahun yang lalu. Namun karena anak gadis kami bersikukuh ingin mengunjunginya dengan alasan dulu masih kecil jadi lupa, akhirnya kami mengalah. Dan lagi kami pikir kan memang tidak menyimpang. Jadilah kami singgah sebentar.

Sebagai ibu kota salah satu negara Eropa, harus diakui Madrid memang kota yang cantik. Saya pikir tak kalah dengan Paris. Bahkan boulevard alias jalan rayanya mungkin lebih banyak dan lebih lebar dari kota Paris. Di hampir semua bundaran, air mancur dengan bunga-bungaan di sekelilingnya tampak menambah indahnya  gedung-gedung yang mengepungnya.

Stadion Matador

Stadion Matador

Setelah berkeliling kota sebentar, kami menuju stadion Matador. Arsitektur stadion adu banteng ini sangat mirip dengan bangunan ala Mudejar. Dinding bata merah dengan ukiran daun-daunan lengkap dengan menaranya. Namun ini bukan peninggalan Islam. Ini adalah bangunan baru. Tampak jelas bahwa gaya Mudejar hingga saat ini masih tetap disukai rakyat Spanyol.

Setelah puas ber-foto ria, saya mengusulkan untuk mampir ke Islamic Centre Cultural Madrid dimana di dalamnya terdapat masjid dan sekolah dasar. Kalau saya tidak salah letak Pusat kajian Islam ini tidak terlalu jauh dari stadion ini. Sayangnya kami  tidak ingat persis lokasinya.

Beruntung, di sebuah bangku taman di sekitar stadion saya melihat seorang muslimah ( tercermin dari jilbabnya) sedang membaca buku. Segera saya menghampirinya. Dari raut wajahnya saya perkirakan ia seorang asli Spanyol.

Assalaamu’alaykum. Do you speak English”, begitu saya menyapanya.

“ Wa alaykum salam .. No ..”, jawabnya tersenyum sambil menggeleng.

“ French ?”, tanya saya lagi. “ Oui, un peu “, jawabnya. Alhamdulillah …

Maka begitu tahu bahwa saya ingin mengetahui alamat masjid, ia segera bangkit dari duduknya, memegang bahu saya dengan akrab dan menunjukkan lokasi masjid yang saya maksud. Ternyata saya tidak salah. Pusat kajian Islam tersebut tidak begitu jauh bahkan atapnyapun terlihat dari tempat kami berdiri. Setelah berbincang sebentar kamipun berpisah. Menurutnya jumlah Muslim di Madrid lumayan banyak. Alhamdulillah ..

“ Cantik bu ya .. ramah lagi .. ”, komentar anak saya tak lama setelah kami berpisah. “ Yaah, coba tadi foto dulu bu .. balik lagi aja bu “, sambungnya lagi.

“ Emm ..”, jawab saya ragu. “ Males ah de’  ..  lagian g enak ah .. abis udah jauh”, jawab saya setengah menyesal.

Tak lama kemudian kami telah berada di dalam mobil lagi. Ternyata tidak terlalu mudah menuju masjid dengan bekal melihat atapnya saja. Karena walaupun kelihatannya dekat tetapi harus berputar-putar. Masjid terletak di tepi jalan raya yang sangat lebar dan ramai. Setelah berkali-kali salah jalan akhirnya kami sampai juga. Tepat waktu magrib pula … Subhanallah ..

Namun sungguh patut amat disesalkan. Jamaah benar-benar hanya sedikit sekali bahkan di bagian perempuan hanya kami berdua plus dua orang lain lagi !! Demikian pula di bagian laki-laki, menurut suami saya hanya 1 shaf saja … Sungguh tidak seimbang dengan masjidnya. Masjid yang menjadi bagian dari Pusat Budaya Islam ini lumayan besar dan bagus. Menurut seorang jamaah yang ditemui suami, kemungkinan ini dikarenakan lokasi masjid yang tidak berada di lingkungan pemukiman Muslim … Yaah, sayang sekali ..

Usai makan malam setelah puas melihat keramaian Madrid di malam hari, kami melanjutkan perjalanan utama yang sempat tertunda, yaitu Toledo. Menjelang tengah malam kami memasuki kota benteng yang terletak diatas bukit ini.

Kota ini bak istana boneka abad pertengahan dengan kisah 1001 malamnya. Jalanan sempit dari batu yang berkelak-kelok, naik turun, acap kali beratap di atasnya dan buntu dibeberapa tempat seperti layaknya labirin. Bangunannya yang terbuat dari dinding bata merah dengan lengkungan khasnya. Ini adalah ciri khas  kota-kota Islam masa lalu. Ditambah lagi dengan adanya lampu dinding temaram yang menerangi gapura, kubah dan menara-menaranya, kita benar-benar serasa diajak memasuki negri dongeng yang menakjubkan.

Esoknya kita berjalan-jalan mengelilingi kota. Letak kota ini sangat strategis. Selain berada di atas bukit kota ini dikelilingi sungai. Sebuah benteng kuno dengan beberapa pintu gerbangnya tampak dengan gagah melindungi penghuninya dari serangan musuh.

Sejarah mencatat bahwa sepanjang 373 tahun Toledo berada di bawah Islam, kehidupan beragama antara pemeluk Nasrani,Yahudi dan Islam berjalan secara harmonis. Toleransi antara ketiga agama samawi ini terbukti jelas dengan diizinkan berdirinya rumah ibadah masing-masing. Ilmu, sains, seni dan budaya berkembang pesat. Orang-orang Eropa yang ketika itu masih berada di masa kegelapan berdatangan untuk menuntut ilmu di berbagai universitas Islam di kota-kota kerajaan yang beribu kota di Kordoba ini.

Karena bahasa Arab kemudian menjadi bahasa utama kerajaan maka para pendatang kulit putih inipun harus mempelajari bahasa Arab. Ironisnya setelah berhasil mengecap dan menguasai berbagai ilmu mereka pulang ke negrinya masing-masing, menerjemahkan buku-buku besar karya ilmuwan-ilmuwan Muslim dan mengakuinya sebagai karya sendiri !!

( Bersambung )

Read Full Post »