Feeds:
Posts
Comments

Archive for June 7th, 2010

( Sambungan dari Menilik Jejak Islam di Eropa (8) )

Sejarah mencatat bahwa walaupun pada tahun 759 M secara umum Perancis berhasil memukul mundur pasukan Islam dari wilayah mereka namun nyatanya sisa-sisa kekuatan Islam masih ada hingga ratusan tahun kemudian. Ini terbukti dengan adanya sejumlah benteng peninggalan Romawi yang terdapat di pegunungan sepanjang perbatasan Perancis- Spanyol di selatan maupun di perbatasan Perancis–Italia di tenggara.

Islam baru benar-benar lenyap dari bumi Perancis setelah pertempuran Tourtour ( Le Bataille de Tourtour ) pada tahun 973 M. Pada pertempuran yang menyakitkan ini kaum Muslimin yang masih hidup dipaksa memeluk Kristen atau dijadikan budak.

Adalah Ramatuelle. Kota turistik diatas bukit yang sekarang ini merupakan tempat tinggal idaman para seniman Perancis adalah satu diantara kota tua peninggalan Islam yang terletak di perbatasan Perancis–Italia. Kota ini tidak jauh letaknya dari St Tropez, kota pantai laut Mediterania kesayangan para selebritis. Nama asli kota yang memiliki jalan-jalan sempit menanjak ini adalah Rahmatullah, kata Arab yang berarti kasih sayang Allah.

Di dalam wilayah yang dinamakan Le Fraxinet (dalam bahasa Arab Jabal al-Qilâl ) ini pula berdiri sebuah kota benteng yang saat ini dinamakan La Garde Freinet. Disini dulu masyarakat Islam dan peradabannya bertahan.. Dari wilayah inilah Islam terus menyebar ke Italia dan Swis. ( Beberapa sumber lain menyatakan bahwa Le Fraxinet di tahun 800-an memang daerah koloni kesultanan Andalusia).

Sementara di pegunungan di perbatasan Perancis dan Spanyol berdiri sebuah  kota benteng raksasa nan cantik sesuai dengan namanya yaitu Carcassonne. Kota ini terletak sekitar 80 km tenggara kota Toulouse. Ada sebuah legenda terkenal mengenai asal usul nama kota ini. Terus terang ini surprised buat saya. Kisah ini saya temukan dari buku panduan turis yang saya beli di kota tersebut.

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 725 M, pasukan Islam berhasil menguasai Carcassone. Pasukan dibawah komando panglima Musa bin Nushair ini terus merangsek ke jantung Perancis hingga akhirnya dikalahkan Charles Martel  di pertempuran Poitiers. Pasukan Islam dipaksa mundur meninggalkan daratan Perancis dan kembali ke Spanyol. Namun dalam keadaan terjepit tersebut, pasukan Musa ini sempat menduduki 2 kota penting Perancis, yaitu Avignon dan Arles, meski hanya 2 tahun.

( Saya baru saja membaca berita menarik dari sebuah blog pribadi yang ditulis oleh seorang Perancis tentang kunci kemenangan Charles Martel. Ternyata calon raja Perancis ini tidak mau mengambil resiko berat dalam menghadapi pasukan Islam yang dikenal tangguh ini. Untuk menghindari pertempuran frontal, ia mengerahkan orang-orangnya untuk melakukan penjarahan terhadap kota-kota milik  pasukan Islam ! Taktik ini sengaja digunakan untuk melemahkan pertahanan musuh .. dan berhasil. Dalam keadaan kacau inilah kemudian ia menyerang dan menjatuhkan pasukan Islam … 😦 … ).

Namun tidak demikian dengan Carcassone. Kota benteng ini berhasil dipertahankan selama 25 tahun lamanya. Kisah penyerahan kota ini diabadikan oleh para pemeluk Nasrani Perancis melalui kisah yang dipopulerkan dengan nama “ La lagende Dame De Carcas” atau legenda Putri Carcas.

Kisahnya adalah sebagai berikut :

Pada tahun 745 M pasukan gabungan Perancis dibawah Charles Martel, kakek Charlemagne kembali menyerang benteng Carcas. Terjadilah pertempuran sengit antara kedua pasukan tersebut. Dalam keadaan terjepit, sultan Carcas mengirim orang kepercayaannya untuk meminta bantuan saudaranya yang menjadi sultan Narbone, Namun pertolongan tersebut tak pernah kunjung tiba hingga sang sultanpun tewas di pertempuran.

Tinggallah permaisuri Carcas yang dengan gigih berusaha mempertahankan benteng. Seluruh warga dikerahkan, laki-laki, perempuan, tua muda. semua bersatu. Bahkan sang permaisuri sendiri terlihat  berlarian dari satu ke menara yang jumlahnya 29 itu ke menara yang lain. Dengan cerdiknya ia juga berusaha mengelabui lawan dengan membuat orang-orangan dari ijuk agar musuh mengira pasukannya masih banyak.

Namun demikian akhirnya pasukan Perancis berhasil mengepung benteng tersebut  dari luar. Walaupun pasukan ini tetap tidak berhasil mendobrak gerbang kota namun mereka berhasil membuat warga menderita kelaparan hebat.  Sementara itu pasukan Perancis hanya  duduk-duduk santai menanti benteng Carcas menyerah.

Hal ini terjadi hingga 5 tahun lamanya. Akibatnya sebagian besar wargapun akhirnya mati  kelaparan. Hingga suatu ketika permaisuri Carcas menemukan sebuah ide. Ia melemparkan seekor anak babi yang ditemukannya ke luar benteng. Ia berharap agar pasukan yang menanti diluar bagai serigala kelaparan itu mengira bahwa warganya tetap bisa bertahan karena masih memiliki persediaan makanan cukup banyak. Oleh karenanya mereka masih mampu membuang seekor babi seenaknya. Padahal umat Islam memang tidak makan daging babi. Dan sebenarnya  merekapun hanya tinggal memiliki sekarung kecil gandum !

Siasatnya berhasil. Charles Martel akhirnya memutuskan untuk pulang. “ Percuma kita menanti berlama-lama disini. Mereka masih mempunyai persediaan makanan cukup. Mari kita tinggalkan saja kota ini”, begitu perintahnya.

Namun pada saat mereka hendak bergerak mundur tiba-tiba seluruh lonceng yang berada di kota benteng tersebut berbunyi. Rupanya sang permaisuri menghendaki adanya negosiasi.

Carcas  .. sonne “, begitu teriak pasukan Perancis. Sonne artinya berbunyi. Maksudnya warga Carcas telah menyerah. Itu sebabnya kemudian kota tersebut dinamakan  Carcassonne …

Di akhir kisah tersebut diceritakan bahwa Charles Martel, calon raja Perancis itu akhirnya meng-‘hadiahkan’ kota yang dengan susah payah ingin direbut tersebut kepada Carcas sang permaisuri. Kemudian permaisuri tersebut menikah  dengan salah satu pengikut setia dan terbaik Charles Martel yang bernama Roger. Perkawinan  politik ini di kemudian hari menurunkan dinasti Trencavel yang terkenal itu. Sayang akhirnya kisah ditutup dengan di baptisnya Carcas sang permaisuri menjadi Nasrani. 😦

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran “. (QS.Al-Baqarah(2):221).

Yang juga cukup menarik, dinasti Trencavel yang secara turun menurun kemudian menguasai Carcassonne dan sekitarnya dianggap pihak gereja terlalu toleran, terutama terhadap pemeluk Yahudi. Maka pada sekitar tahun 1200-an Carcassonne harus menerima akibat dengan diperanginya oleh gereja. Peristiwa ini dikenal dengan nama Perang Salib Cathar ( Cathar Crusade) yang berlangsung selama 20 tahun.

Carcassonne dikepung hingga akhirnya kalah karena kekurangan air. Penduduknya banyak yang meninggal, rajanya, Raymond Roger meninggal di kamarnya sendiri karena dehidrasi alias kekurangan air.  Sementara penduduknya yang masih hidup diusir dari kota dalam keadaan  terhina. Dengan hanya secarik kain penutup mereka harus meninggalkan kota.  Selang beberapa tahun kemudian berakhirlah dinasti Trencavel.

Wallahu’alam bish shawab.

Pau – France, 7 Juni 2010.

Vien AM.

Read Full Post »