Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2011

Senin, 24/10/2010, 17.30 waktu Sisilia. Pesawat EasyJet yang kami tumpangi mendarat di bandara  Boccadifalco, Palermo – Sisilia. Setelah mengambil bagasi dan mengambil kunci mobil sewaan kami segera menuju pelataran parkir bandara. Kami sempat agak lama  celingukan mencari tempat ini karena selain tanda pengumuman tidak jelas bertanyapun sulit. Maklum, kami berdua tidak paham bahasa Italia sementara penduduk setempat tidak berbahasa Inggris .. 😦

Namun baru beberapa detik merasa lega setelah menemukan lokasi mobil sewaan kami kembali tersentak kaget. GPS ( Global Positioning System), sang pemandu jalan elektronik yang selama ini setia menemani kemanapun kami pergi ternyata tidak berhasil menangkap signal. Dengan segera kamipun memutuskan untuk menyewa alat canggih tersebut. Tetapi ternyata juga habis ! Terpaksalah dengan bantuan peta kecil seadanya plus GPS HP yang kurang begitu saya kenal, kamipun memulai perjalanan di pulaunya para Mafioso ini.

Jarak dari bandara yang diapit pegunungan kecil berbatu dan pantai laut Tirenia ke pusat kota sekitar 25 km. Melalui jalan tol yang lumayan gelap akhirnya kami sampai juga di hotel dengan selamat ..  Alhamdulillah.

Setelah check in kami keluar lagi untuk mencari makan malam sambil melihat suasana sekitar hotel. Ketika masih di dalam pesawat, suami pernah berkata sepintas bahwa beberapa teman Perancisnya yang keturunan Italia mengatakan bahwa Sisilia walaupun merupakan bagian dari Italia tapi tidak menunjukkan ke-Italian-nya. Namun yang pasti kesan pertama yang  saya tangkap Palermo itu gelap, agak kotor dan lumayan kumuh.

Padahal Ibn Hawqal, seorang ahli geografi kenamaan yang telah berhasil membuat peta bumi menyatakan kekagumannya yang begitu tinggi terhadap kota ini. Ia bahkan berani membandingkannya dengan Baghdad yang ketika itu menjadi pusat daya tarik dunia. Ilmuwan Muslim kelahiran Turki ini mengunjungi Palermo pada tahun 950M dalam rangka lawatannya ke seluruh negri guna memperbaiki peta yang digunakan umum ketika itu.

Dalam buku “ The History of Arabs”  karya Philip Khuri Hitti, Ibn Hawqal yang juga seorang saudagar ini menceritakan bahwa Palermo memiliki istana yang sangat indah di pusat kota. Istana yang berdampingan dengan masjid besar yang juga tak kalah indahnya ini berdiri di atas bekas Katedral Romawi. Di kota ini berdiri tak kurang dari 300 masjid, madrasah ( sekolah), pemandian, taman dll. Ia juga melaporkan adanya universitas bernama Balerm.

Namun tentu saja kami belum dapat membuktikan itu semua karena hari telah larut malam. Rencananya kami baru akan keliling Palermo esok lusa. Besok kami akan mengunjungi beberapa kota yang berada di sebelah barat kota ini.

Palermo, 25/10/2010.

Wuih, kalah Jakarta  .. Muacetnya bukan main. Ternyata kota tua ini padat penduduk. Untuk menuju jalan ke luar kota saja butuh waktu hampir 2 jam ! Itupun setelah menempuh jalan berputar menghindari kemacetan. Akibatnya kunjungan ke Monreal, kota kecil barat daya Palermo yang jaraknya tak lebih dari 10 km dari Palermo itu terpaksa harus di jadwal ulang.

Teater Segesta

Teater Segesta

Kami langsung menuju ke Segesta dan Selinunte yang berada di tengah dan selatan Sisilia. Di kedua kota di atas bukit ini, seperti juga di banyak tempat di Sisilia ini, kami menyaksikan reruntuhan peninggalan Romawi yang dibangun sekitar abad 5 hingga 3 sebelum Masehi, berupa temple (kuil kuno) dan teater Romawi. Kompleks reruntuhan ini amat mirip dengan kompleks reruntuhan yang banyak dijumpai di Roma maupun di Yunani. Sejarah Sisilia memang unik.

Pulau berbentuk menyerupai segi tiga seluas 25.708 km persegi ini terletak di selatan Italia daratan yang bentuknya seperti sepatu boot. Pulau terbesar di laut Mediterania ini terletak  di sebelah timur laut Tunisia di Afrika Utara. Meskipun Sisilia saat ini berada di bawah wilayah kekuasaanItalia, pulau ini memiliki kultur khas yang berbeda dengan wilayah-wilayah Italia lain pada umumnya.

Tampak bahwa pengaruh beberapa peradaban besar seperti Romawi, Byzantium, Islam dan Spanyol yang pernah menguasai Sisilia tidak bisa dihapuskan begitu saja. Pada masa Romawi dan Byzantium inilah kuil-kuil dan teater-teater Romawi dibangun. Kuil yang berdiri di Segesta dan Selinunte dibangun pada abad yang sama yaitu, pada abad 5 SM. Kuil-kuil di  Selinunte adalah kuil Yunani yang dipersembahkan kepada dewa Hera. Sedangkan teater di Segesta dibangun 2 abad setelah itu.

Kuil Selinunte

Kuil Selinunte

Pada masa lalu, kuil Yunani dan Romawi yang hampir selalu dibangun di atas bukit ini adalah tempat ibadah para kaum pagan ( penyembah berhala). Di tempat inilah biasanya diadakan ritual persembahan korban bagi para dewa. Korban pada umumnya adalah remaja perempuan.  Ironisnya,  sejarah ritual ini ternyata sebenarnya berkaca dari kisah penyembelihan nabi Ibrahim as terhadap putranya, Ismail as !

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka)”.(QS.An-Nisa(4):49-50).

Ibnu ‘Abbas menjelaskan bahwa kedua ayat diatas diturunkan berkenaan dengan kebiasaan kaum Yahudi yang menyuruh anak-anak mereka untuk memimpin ibadah mereka dan mempersembahkan kurban-kurban mereka . Mereka mengira bahwa dengan demikian mereka tidak mempunyai dosa-dosa. (HR. Ibnu Abi Hatim)

Fenomena yang kurang lebih sama dengan para Musrykin Mekah sebelum datangnya Islam. Dengan dalih demi mendekatkan diri kepada Sang Khalik, mereka melakukan semua ini. Karena sebenarnya mereka ini pada dasarnya mengakui Tuhan Semesta Alam Yang Satu yaitu, Allah swt.

… … Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.  … … “. (QS.Az-Zmar(39):3).

Kemudian karena bujukan syaitan dan nafsu ingin menguasai manusia lain, orang-orang ini menciptakan Tuhan-tuhan sendiri sesuai dengan kehendaknya.   Maka jadilah Zeus, Yupiter, Shiwa, Latta, Uzza, Manna dsbnya sebagai tuhan yang mereka sembah. Dewa-dewa ini masing-masing mereka gambarkan memiliki kekuasaannya sendiri-sendiri.

Ironisnya lagi, ternyata penyembahan dan ritual pengurbanan cara barbar ini masih ‘eksis’ hingga detik ini. Bagi penggemar novel-novel karya Dan Brown seperti The Da Vinci Code, The Lost Symbol pasti kata Freemason, Illluminaty dll bukanlah sesuatu yang asing.  Dengan berani penulis kelahiran Amerika Serikat ini membeberkan bahwa organisasi-organisasi elit dunia yang masih mempraktekkan ritual mengerikan ini benar-benar ada di dunia nyata!   Na’udzubillah min dzalik ..

Hal lain yang juga menarik, di Segesta, tak berapa jauh dari teaternya, terpampang sebuah papan keterangan yang menerangkan bahwa di lokasi tersebut dulunya berdiri sebuah  masjid. Masjid tersebut memang kecil namun tetap saja cukup membuat hati senang. Apalagi ketika mengetahui bahwa mihrab masjidnya juga diberi tanda.

Setelah puas melihat kedua kota tersebut, kami kembali ke Palermo. Namun sebelumnya kami sempatkan mampir dulu ke Monreal yang tadi pagi tertunda. Kota ini berdiri di atas bukit. Pemandangan menuju ke tempat tersebut sungguh cantik. Lampu-lampu kota berkedip-kedip dibawah sana. Sementara matahari yang mulai menyembunyikan dirinya ke balik laut menambah indahnya pemandangan.

Setelah melalui jalanan yang berkelak-kelok akhirnya kami tiba di tujuan, Duomo ( Cathedral ) de Monreale. Inilah salah satu tujuan utama wisatawan ke Sisilia. Kami menyadari bahwa kami tak mungkin mengunjungi bekas masjid yang dikabarkan masih banyak menyimpan sisa-sisa ke-Islaman-nya ini. Malam itu kami hanya berkeliling dan melihat-lihat dari luar saja.

Palermo, Monreal, Cefalu- 26/10/2010.

Di tengan kepadatan lalu lintas Palermo, akhirnya sampai juga kami ke tujuan utama kota ini. Selama perjalanan dari hotel ke tempat tersebut kami sempat menangkap sisa nafas Islam berserakan dimana-mana. Bangunan-bangunan tuanya meski kotor dan terkesan kurang dirawat  masih menyisakan ‘bau’ arsitektur Arab-Muslim. Ternyata sejarah memang mencatat bahwa raja-raja Katolik Normandi yang menguasai Sisilia tak lama setelah mengalahkan kerajaan Islam pada tahun 1071 berhasil mempertahankan budaya toleransi yang diwariskan kerajaan Muslim tersebut. Selama jangka waktu tertentu, umat Islam dan Yahudi tetap diizinkan melaksanakan kegiatan di tempat ibadah masing-masing meski dengan catatan tunduk kepada peraturan penguasa. Begitu pula dengan bangunan-bangunannya. Masing-masing saling terpengaruh dan dipengaruhi kultur agama dan budaya lain.

Sebelum Islam berkuasa di Sisilia, pulau ini menjadi bagian dari Byzantium di bawah raja Justinian I. Bahasa Yunani adalah bahasa resmi mereka. Pada tahun 652, di masa kejayaan kalifah Ustman bin Affan, pulau ini sempat dikuasai  walaupun hanya dalam waktu singkat karena pasukan Arab tersebut kemudian meninggalkannya. Selanjutnya, sejak sekitar tahun 700-an, setelah pasukan Islam dibawah kekhalifahan Umayah berhasil menaklukkan Afrika Utara, pasukan ini beberapa kali mencoba menguasai Sisilia. Namun selalu gagal.

Pada tahun 826 M, Euphemius, seorang laksamana Byzantium berontak dan kemudian menjadi penguasa di Siracus, salah satu kota penting di Sisilia. Karena khawatir akan diserang Byzantium, ia memohon bantuan Ziyadat Allah, emir Aghlabid dari Tunisia agar menaklukkan Sisilia. Maka Ziyadatpun mengutus Asad ibn-Furat, seorang kadi ( hakim ) yang pernah menjadi murid Imam Malik untuk memenuhi permohonan tersebut.

Setahun kemudian, sang panglima senior yang ketika itu usianya telah mencapai 60 tahun itupun  berhasil melaksanakan misinya dengan sukses besar. Ia berangkat dengan membawa 10.000 pasukan infanteri, 700 kavaleri dan 100 kapal. Sejak itulah dimulai dominasi Islam, yaitu Emirat Sisilia, selama 200 tahun. Sayangnya, Asad sendiri tidak lama menikmati kejayaan tersebut. Ia gugur di pertempuran.

Sementara Euphemius dibunuh satu tahun kemudian oleh seorang penjaga kerajaannya sendiri  di Enna, sebuah kota di kaki gunung Etna, salah satu gunung berapi berbahaya di dunia. Menurut mitos Yunani kuno, di gunung inilah, monster Typhon, dipenjarakan oleh Zeus, dewa langit dan petir yang disembah oleh bangsaYunani kuno. Zeus bagi mereka adalah King of Gods alias Tuhan langit dan bumi !

Sebenarnya inilah yang menjadi latar belakang penaklukkan pasukan Islam. Islam mengajarkan bahwa penyembahan hanya kepada Allah swt, Tuhan seluruh alam semesta. Penduduk Sisilia, sebagaimana umumnya orang-orang Byzantium adalah penyembah berhala ( kaum Pagan). Inilah agama warisan Yunani kuno yang mempercayai dewa-dewa seperti Zeus, Hera, Athena, Apollo dll.

“… … Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dila`nati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Aku benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untukku) dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka … … “.(QS.An-Nisa(4):116-119).

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan”. QS.Al-Anfal(8):39).

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. “.(QS.An-Nisa(4):76).

Penaklukkan Sisilia dalam rangka menegakkan kalimat Tauhid tidaklah semudah membalikkan tangan. Selama bertahun-tahun para hamba pilihan Allah itu harus bertempur sengit, berjihad mendirikan semangat baru “ Allahuakbar La illaha illa Allah wa ashadu an Muhammad Rasulullah “ , Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.

Palermo baru berhasil ditaklukkan 4 tahun kemudian yaitu pada tahun 831. Penaklukkan alot ini terjadi setelah didatangkannya bantuan mujahidin sebanyak 30.000 pasukan dari Afrika dan Andalusia. Setelah itu Palermopun dijadikan ibu kota Emirat Sisilia dengan nama “ Al-Madinah” yang berarti “ The City”  atau kota. Sementara Taormina baru jatuh pada tahun 902 dan seluruh pulau akhirnya takluk pada tahun 965. Allahuakbar ..

Dibawah kekuasaan Islam inilah Sisilia mengalami kejayaan dan kemegahan. Islam tidak saja mengajarkan pentingnya tunduk kepada Sang Khalik namun juga mengajarkan bagaimana caranya memanfaatkan alam yang merupakan berkah dari-Nya. Dengan izin-Nya, maka jeruk, pistachio ( sejenis kacang) dan tebu yang diperkenalkan ke daerah tersebut menjadi sumber kekayaan Sisilia. Ini semua berkat sistim pengairan yang diajarkan kepada mereka.

( Bersambung)

Paris, 4 Januari 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts