Feeds:
Posts
Comments

Archive for June 20th, 2012

 “ Allahu akbar, Allahu akbar , tiada  tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah “.

Kawasan Haram Asy-Syarif

Kawasan Haram Asy-Syarif

2008-05 Umrah_59Suara kumandang azan bergema keras di telinga Dr Yahya A Lehman. Ketika itu ia baru saja melewati dinding ratapan yang suram, sisa peninggalan kuil Herodian, tempat peribadatan umat Yahudi yang hingga kini masih mereka hormati. Kemudian Dr Yahya berusaha memanjat The Holy Temple Rock ( As-Sakrah) yang memang berada di kawasan yang sama yaitu Haram Asy-Syarif ( Temple Mount) di Yerusalem.

Sempat terpana, tak lama kemudian ia melihat orang-orang Muslim Palestina datang berbondong-bondong menuju Masjidil Aqso memenuhi panggilan tersebut. Di pagi buta sebelum fajar menyingsing itulah ia menyaksikan Muslim shalat bersama-sama ; rukuk dan sujud, mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Satu.

Dr Yahya terperangah. Hatinya benar-benar tergetar menyaksikan pemandangan di depan matanya. Ia berusaha memahami bacaan shalat dalam bahasa Arab yang didengungkan sang imam dengan begitu khusuk dan merdu. “ Alangkah indahnya”, bisik Yahya, syahdu.

Beberapa lama kemudian dari balik gunung di kejauhan sana mataharipun menampakkan sinarnya yang begitu kemilau. Hati Yahya  bergemuruh. Cahaya tersebut seolah memanggilnya, mengajaknya untuk membuka mata agar mau menerima pandangan baru tentang kebenaran hakiki yang memang sedang ia teliti.  Itulah Islam, sebuah agama yang benar-benar baru baginya. Karena selama ini agama yang diperkenalkan orang-tua dan sistim di negaranya, Jerman, hanyalah Kristen dan Yahudi saja.

Dr Yahya sebenarnya datang ke kota ini dalam rangka menghadiri upacara Paskah. Ia adalah seorang peneliti dalam kajian khusus Gulungan Laut Mati ( the dead sea scroll) yang kontroversial itu. Selama di kota ini ia juga terus beribadah di gereja dengan tekun.

Namun sejak ia mendengar panggilan shalat dan menyaksikan umat Islam shalat berjamaah hatinya mulai gundah. Cahaya Sang Khalik menuntunnya, hingga ke semenanjung Malaysia, dimana ia bekerja sebagai pendeta dan pendidik. Di sinilah, ia menyelesaikan penelitiannya yang sungguh sulit, yaitu tesis doktoralnya  tentang perkembangan awal Kristen dan tulisan-tulisan tentang Perjanjian Baru.

“ Pernyataan agama Monoteistik Islam dari menara di atas tempat suci di Yerusalem terdengar bagi saya seperti pesan agama baru yang mempunyai kekuatan besar dan menantang. Masa study pasca-sarjana saya selama beberapa tahun di bidang perbandingan agama dan penelitian khusus dari pergerakan Yahudi pada zaman Yesus dan dampaknya terhadap perkembangan awal agama Kristen, telah membimbing saya secara pasti, kepada kebenaran Islam, membawa saya lebih dekat akan pesan asli Yesus,  nabi dari Nazaret yang diutus Tuhan, yang memanggil para pengikutnya kembali ke jalan agama yang benar dan telah dirintis nabi-nabi Yahudi terdahulu. Juga Ibrahim, agar berserah diri kepada Tuhan yang Satu, Allah swt, Pencipta semua mahluk,  dan agar  berjuang menegakkan persaudaraan di antara sesama manusia”.      

“ Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Qur’an, mereka beriman (pula) dengan Al Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (Al Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan”.(QS.Al-Qashash(28):52-54).

Ayat diatas diturunkan kepada raja Najasyi, Negus, seorang ahli kitab yang hidup pada masa Al-Quran turun. Ia betul-betul tersentuh ketika surat Maryam dibacakan dihadapannya. Selanjutnya iapun lalu mengakui bahwa ajaran yang dibawa Rasulullah adalah ajaran yang benar, ajaran yang diturunkan Tuhan semesta alam..

Lain lagi dengan pengalaman Ahmed Holt. Seperti umumnya orang Barat, sejak kecil ia telah dicekoki pemikiran bahwa Islam disebarkan dengan ancaman pedang, bahwa kaum Muslimin dan orang-orang Palestina adalah kaum teroris yang tidak berperikemanusiaan dan bahwa kaum Yahudi adalah kaum minoritas yang tertindas.  Akibatnya timbullah kebencian terhadap kaum Muslimin dan simpati kepada Yahudi. Ia juga sangat setuju dengan pendapat bahwa sudah seharusnya orang-orang Yahudi di pengungsian pulang ke tanah leluhur mereka di Yerusalem.

Hingga suatu hari niat menggebu-gebu Holt untuk merealisasikan rasa simpatinya untuk membela dan berperang demi kaum ini terlaksana. Namun sesampainya di tanah suci ke 3 agama besar ini, Holt tidak merasa dimusuhi oleh orang-orang Muslim Palestina. Mereka tetap memperlihatkan sikap ramah, kasih sayang dan persahabatan padahal mereka tahu bahwa ia berada di pihak Yahudi. Namun demikian mereka juga tidak berusaha membicarakan apa itu Islam apalagi memperkenalkannya.

Lama kelamaan, tanpa disadari, hal ini telah mempengaruhi sikap Holt terhadap mereka. Hingga akhirnya, Holt justru diusir oleh pemerintah Yahudi karena dianggap terlalu akrab dengan orang-orang Palestina.

Selama di Yerusalem, Holt memang tidak bisa menutup mata bahwa ia melihat penderitaan orang-orang Muslim di tanah tersebut. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kejamnya perlakuan pemerintah Israel terhadap mereka. Para pemuda dipenjara dan disiksa. Tanah mereka disita kemudian pemiliknya diusir. Bahkan ia menyaksikan sendiri polisi-polisi Yahudi memukuli anak-anak sekolah Palestina.

Hingga suatu hari di London, ketika ia berbincang dengan orang Inggris setempat, ia berujar : “ Anda seorang Muslim tapi anda tidak menyadarinya”. Holt sempat terhenyak. Tampaknya, tanpa disadarnya, pengalaman selama di Yerusalem telah mempengaruhi pikirannya. Dari sinilah ia mulai mencari kebenaran agama yang selama ini dianutnya.

« Sebelum aku memeluk Islam ada kendala yang harus kuatasi. Ini menyangkut Isa as. Selama ini aku menerima Yesus sebagai ‘anak Tuhan’, dan ‘ manusia yang diciptakan Tuhan’. Aku mulai membuat rasionalisasi. Kepada siapa Yesus berdoa? Bagaimana ia berdoa? Ia pergi ke padang pasir dan bersujud kepada yang Maha Kuasa, Sang Maha Pencipta. Aku mulai memikirkan pembukaan doa yang diajarkan Yesus sendiri”.

“ Bapak kami yang di surga”. “ Bukan Bapakku tetapi Bapak kami. Jadi Yesus member tahu kita bahwa Allah adalah Bapak dari semua makhluk, Bapak dari semua ciptaan karena semua diciptakan Allah. Ini melegakan nurani dalam pikiranku, dan dengan penuh bahagia, aku menjadi Muslim”.  

Demikianlah Allah swt memberikan hidayah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.  Dr Yahya A Lehman dan Ahmed Holt hanya 2 diantara banyak orang yang dibukakan mata dan hatinya di tanah suci Yerusalem dimana Masjidil Aqsha berdiri tegar, meski dinding-dinding tuanya telah lapuk tertelan usia.

“ Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjisar dil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS.Al-Isra(17):1).

Disinilah umat tiga agama besar “ Monotheisme” yang dibawa para Rasul Allah bersengketa. Yaitu umat nabi Musa as ( Moses) yaitu umat Yahudi, umat nabi Isa as (Yesus) yaitu umat Nasrani dan umat nabi Muhammad as yaitu umat Islam. Padahal ketiga nabi tersebut tidak pernah bertikai dan satu sama lain saling menghormati. Karena pada dasarnya mereka membawa ajaran yang sama, yaitu meng-Esa-kan Sang Khalik, Allah azza wa jalla. Tidak ada sekutu bagi-Nya.

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah (9):30).

“ Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.(QS. Al-Ikhlas (112):1-4).

Saat ini umat Yahudi menjadikan sebagian tembok yang terletak sisi barat Haram Asy-Syarif dimana berdiri 2 bangunan utama, Masjidil Aqsha dan Masjid As-Sakrah ( Kubah Batu atau Dome of the Rock),  sebagai tempat suci mereka.  Tembok Ratapan, demikian mereka memberi nama tembok ini, dianggap umat Yahudi sebagai rumah ibadah nenek moyang mereka yang tersisa hingga kini. Menurut kepercayaan mereka, rumah ibadah ini dibangun oleh nabi Sulaiman as pada tahun 950 SM.  Dan kemudian dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 M. Mulanya panjang tembok tersebut  485 meter namun saat ini yang tersisa hanya 60 meter saja.

Ini yang menjadi ambisi besar pemerintah Israel saat ini. Yaitu membangun kembali kejayaan Yahudi, dengan mendirikan kembali rumah Yahudi di tempat yang sama, yaitu di atas Haram As-Syarif, tanpa peduli bahwa di atas tanah tersebut sejak lama telah berdiri 2 rumah suci umat Islam. Masjidil Aqsha dan Masjid As-Sakrah adalah bangunan masjid milik umat Islam yang masih berfungsi, hingga detik ini, meski otoritas Israel selalu berusaha keras melarangnya.

Ironisnya lagi, sebenarnya tidak ada bukti kuat yang mengatakan bahwa rumah ibadah buatan raja Solomon ( nabi Sulaiman as) pernah ada di tempat tersebut. Ini hanya akal-akalan poltik Zionis untuk mencari pembenaran merampas tanah Palestina dari umat Islam.

P1010015

Masjid Nabawi

Masjid Nabawi

Sementara bagi umat Nasrani, gereja Makam Kudus, yang dijaga seorang Muslim secara turun temurun itu, adalah tempat tersuci bagi mereka. Di dalam gereja yang terletak di bukit Golgota inilah mereka meyakini bahwa Yesus ( nabi Isa as) disalibkan, dikuburkan dan dibangkitkan nanti di akhir zaman. Bagi umat Islam sendiri, Masjidil Aqsho adalah masjid tersuci ketiga setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Dari sinilah Rasulullah saw miraj’ ke Sidratul Muntaha. Umat Islam menguasai Palestina termasuk Yerusalem pada tahun 638 M, pada masa kekahilfahan Umar bin Khattab.  Ketika itu bahkan penguasa Nasrani Yerusalem  sendiri yang berkenan menyerahkan langsung kunci kota kepada sang khalifah dengan suka rela. Ini disebabkan kepahamannya bahwa umat Islam dibawah khalifah terkenal bijak itu tidak akan menzalimi rakyatnya, jauh lebih baik dibanding bila kekuasaan jatuh kepada Yahudi.

Itulah yang terjadi saat ini. Umat Islam dibawah pemerintah kolonoal Israel terbukti memang terbukti sangat tertindas. Namun tipu daya Allah jauh lebih hebat dari tipu daya orang atau bangsa manapun. Penindasan Yahudi terhadap umat Islam ternyata malah membuat  mata dunia terbuka bahwa islam adalah agama yang hak.

« Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya ».(QS.Ali Imran(3) :54).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 Juni 2012

Vien AM.

Read Full Post »