Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2016

Perindusurga.com – Ada seorang doktor wanita berasal dari Jerman, berkebangsaan Amerika, umurnya 46 tahun. Dia masuk Islam karena mahasiswinya yang bernama Fathimah. Dia menuturkan kisah keislamannya:

Dulu saya membenci kalimat Islam. Saya tidak pernah berangan-angan akan menemui seorang muslim atau muslimah hingga saya sampai di Amerika. Sejak bertahun-tahun lamanya saya menambah kebencian terhadap Islam sesuai dengan pemberitaan di pagi hari dan sore hari yang memberikan menu kebencian terhadap Islam. Setelah itu takdir Allah menundukkan saya untuk bertemu dengan Fathimah.

Pada suatu hari Kepala jurusan berkata kepada saya: “Kami memiliki seorang mahasiswi muslim yang cerdas dan baik. Dia memiliki syarat yang aneh, yaitu dia harus berada di bawah bimbingan seorang doktor wanita tidak di bawah bimbingan doktor laki-laki!”

Saya katakan: “Saya tidak tahu, saya akan mencobanya. Saya akan menemuinya terlebih dahulu sebelum persetujuan untuk membimbingnya.” Maka sayapun menemuinya.

Berubahlah segalanya. Hanya sekedar bertemu dengannya. Berubahlah pandanganku terhadap Islam. Dia adalah seorang wanita yang elok, berbudi luhur, berbaju sopan yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Sebuah wajah bercahaya putih yang semakin menambah cahaya dan kilatannya setiap kali tersenyum. Konsisten memegang agama dan ajaran. Konsisten terhadap pakaiannya hingga sampai pada tingkatan yang semakin menambah penghormatanku kepadanya.

Wahai Tuhanku, dia kuat berbangga dengan agamanya! Dia mensyaratkan apa yang menjaga kemuliaan diri dan agamanya!! Dia memuliakan orang lain, dia muliakan dirinya, agamanya, dan umatnya. Dia tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan.

Saya putuskan untuk setuju dan membimbingnya. Setiap hari bertambahlah kekagumanku terhadapnya. Dia tunaikan shalat pada sudut terbuka dari ruangan laboratorium. Maka saya izinkan dia untuk masuk ke kantorku saat dia memerlukan shalat. Saya mengawasi shalatnya, dia menoleh setelah shalat, dan sungguh wajahnya bersinar dan bercahaya. Saya merasa seakan-akan dia telah menjadi makhluk malaikat dari cahaya setelah selesai dari beribadah.

Saya sangat berkeinginan untuk mengetahui rahasia hal ini, saya berusaha untuk mengetahuinya. Sayapun berbincang dengannya, berdebat dan berdialog tentang segala sesuatu; kehidupannya, dan ilmunya. Sayapun menyetujuinya dalam keimanan, akan tetapi saya tidak merasakan kenikmatan terhadap keimanan sebagaimana dia bisa merasakan keimanan tersebut.

Pada suatu kali dia shalat pada salah satu tiang di dalam kantorku, sayapun mengawasinya, dan memperhatikan gerakan-gerakannya. Maka saat dia menoleh kepadaku, dia tersenyum dengan senyuman lembut. Sayapun merasakan perasaan yang mengalirkan keinginan untuk menangis. Saya sangat ingin memeluknya, dan memintanya dengan terus terang untuk mengetahui rahasia kebahagiaan yang terus menerus dan cahaya pada wajahnya?!

Pada suatu kali saya gagal dalam menjalankan perkerjaan rutinku. Maka dia tersenyum dan berkata: “Sesungguhnya ini adalah termasuk pengaturan Allah Ta’ala.” Maka saya bertanya kepadanya, maka diapun menjelaskan kepada saya tentang iman terhadap qadha dan qadar!! Oh..Seandainya saya memiliki iman ini,

agar tidak bosan dengan jiwa saya, tidak menggerutu atas kegagalan saya yang menjadikan saya merasa gundah.

Sayapun meminta dia memberikan informasi tentang agamanya. Maka dia menghadiahkan kepada saya sebuah mushhaf, yang di dalamnya telah diterjemahkan makna-makna kalimat. Saya terhenti pada dua ayat yang ada di halaman pertama (yakni pada surat al-Fatihah):

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Siapakah mereka yang telah diberi nikmat oleh Allah? Apakah jalan yang lurus itu? Saya terus mengulang-ulang kedua ayat tersebut tanpa sadar, sayapun hampir berteriak. Kemudian pecahlah tangisan saya, dan saya berteriak tanpa sadar: “Wahai Tuhanku, tunjukilah saya jalan yang lurus, tunjukilah saya jalan yang lurus!!

Sungguh saya telah hidup dalam jalan yang bengkok, gelap, dan derita!” Kemudian saya menguasai diri dan bertanya-tanya: Apakah jalan yang lurus itu?! Saya kembali lagi melihat kepada al-Qur`an, maka datanglah jawabannya yaitu jalannya orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah Ta’ala atas mereka. Siapakah mereka menurut pendapat anda?!

Jiwa saya menjawabnya, dari lubuk hati yang paling dalam. Mereka itu adalah orang-orang seperti Fathimah!! Ya, orang-orang seperti Fathimah, yang hidup dalam nikmatnya senyuman, nikmatnya kebahagiaan, nikmatnya ketenangan jiwa, mulia dengan apa yang dimilikinya dan apa yang tumbuh baginya.!!

Sayapun menangis, dan saya mengulang-ulang do’a, “Tunjukkanlah kepada saya jalan yang lurus wahai Tuhanku!” Pada malam itu saya tidak bisa tidur dengan baik. Pagi harinya saya menemui Fathimah. Saya memuliakan dan menghormatinya dengan penghormatan yang lebih dari biasanya, seakan-akan saya adalah mahasiswi dan dia adalah dosen.

Sayapun mengabarkan kepadanya akan keputusan saya!! Saya ingin di pagi ini menjadi orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah atas mereka!! Diapun tersenyum kemudian memelukku!! Kamipun diam sambil berpelukan satu sama lain untuk beberapa menit. Sayapun menangis dengan penuh kerinduan dan kekhusyukan. Saya sama sekali tidak ingin melepaskan lehernya.

Dia mengurus urusan pernyataan keislaman saya melalui Islamic Center.

Saya merasakan nikmatnya kebahagiaan. Saya rasakan nikmat dan manisnya iman. Saya rasakan manisnya kehidupan dalam lindungan dan naungan Allah. Saya semakin bertambah bahagia setelah saya bertemu dengan bagian kewanitaan pada Islamic Center tersebut, dimana kami membaca al-Qur`an, kami saling membantu dalam membaca al-Qur`an, dan peningkatan keimanan melalui program menyenangkan yang memenuhi hidup saya dengan kesenangan dan kebahagiaan.

Saya mencintai Allah, saya mencintai saudari-saudariku muslimah, saya terikat dengan mereka di rumah Allah, sayapun menjadi ibu bagi yang kecil diantara mereka, menjadi teman bagi yang besar, dan ini adalah sesuatu yang paling mahal yang saya temui dalam kehidupan saya. Alhamdulillah Rabbil Alamin.

(Sumber Facebook Majalah Qiblati)

Dicopas dari :

http://www.perindusurga.com/2016/01/masya-allah-dosen-ini-masuk-islam-gara.html

Jakarta, 29 Januari 2016.

Vien AM.

Catatan.

Seringkali kita yang terlahir Muslim, shalat 5x sehari, tapi tidak menyadari betapa dasyatnya makna yang terkandung dalam setiap bacaan shalat kita, alangkah ironisnya … Semoga kisah diatas dapat memotivasi kita agar dapat menjadi lebih baik, aamiin …

Read Full Post »

Akar Manusia

Suatu hari di sebuah pelatihan hidroponik ada seorang ibu bertanya kepada instruktur yang merupakan seorang pakar tanaman.

“Pak Iwan saya punya pohon apel Brazil ( atau yang semacamnya saya tidak begitu ingat). Mulanya pohon tersebut sangat subur. Batang dan dahannya terlihat kokoh, daunnya lebat begitupun buahnya. Pohoh tersebut sempat berbuah selama beberapa kali. Lezat buahnya. Namun belakangan ini tanpa saya sadari pohon tersebut keropos tanpa saya tahu apa penyebabnya. Apa yang sebenarnya terjadi pak ya?”, tanyanya dengan air muka duka.

“Oh akarnya bu itu”, jawab sang instruktur tegas.

“Tanaman sebagus apapun kelihatannya bila akarnya tidak ditanam secara baik pasti tidak akan kuat bertahan lama. Jangan sembarangan menanam pohon. Perhatikan akarnya. Akar harus benar-benar tertanam dalam di dalam tanah.  Itu sebabnya pohon ibu baru beberapa kali berbuah sudah keropos”, jelasnya.

Saya yang kebetulan berada di dekat lokasi percakapan dan mendengar percakapan tersebut langsung terkesiap.  Tiba-tiba saja saya teringat ayat berikut :

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun”. ( Terjemah QS. Ibrahim(14):24-26).

Allahuakbar … Maha benar Allah dengan segala firman-Nya !

my bougenvilleSaya teringat pohon Bougenville di rumah yang pernah dipindahkan ke lokasi baru karena di tempat yang lama akan dibuat teras tambahan. Pohon yang sebetulnya mudah perawatannya ini  ditanam secara sembarangan. Pohon itu terihat agak miring dan bunganya tidak pernah tumbuh lagi. Padahal sebelumnya sangat rimbun, daun dan bunganya yang warna-warni tumbuh dengan indahnya.  Sayangnya saya baru menyadari hal tersebut setelah batangnya mulai kurus dan kropos hingga akhirnya mati. Selidik punya selidik akhirnya ketahuan ternyata penyebabnya hanya akar yang kurang dalam tertanam …

Ya, akar memang mempuyai kedudukan yang amat penting, yaitu sebagai jangkar agar pohon dapat berdiri kokoh, tahan terhadap tiupan angin kencang. Selain juga sebagai penyerap nutrisi makanan. Begitupun manusia. Manusia membutuhkan akar agar dapat kokoh berdiri, tahan terhadap segala godaan dan nafsu duniawi yang menyesatkan. Itulah iman. Iman yang tertanam kuat di hati ibarat akar kokoh suatu tanaman. Hanya hati atau qalbu yang bersih yang mampu mengenal dan ingat akan Tuhannya. Hati adalah penimbang yang dapat membedakan mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk. Itulah fitrah manusia yang dibawanya ketika lahir.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (Terjemah QS. Ar-Ruum (30):30).

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Terjemah QS. Az-Zariyat (51):56).

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan), atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka…” QS.Al-A’raaf(7):172-174).

Demikianlah Allah swt membuat perumpamaan. Iman ibarat akar atau fondasi sebuah bangunan, amal ibadah dengan mencontoh rasulullah sebagai nutrisi yang dilakukan secara teratur ibarat batang pohon, serta akhlak yang baik ibarat bunga dan buahnya. Inilah contoh hamba Allah yang kelak dijanjikan masuk surga. Yang ketika di dunia mampu memberikan manfaat yang banyak bagi orang lain. Dengan akar yang kuat yang tahan menghadapi angin kencang hingga dapat dijadikan tempat bersandar, batang dan dahan serta dedaunan yang rimbun dapat dijadikan tempat berteduh. Sementara bunga-bungaannya yang indah mampu menyejukkan hati. Dan buahnya yang lezatpun dapat dinikmati. Alangkah indahnya …

Dari Nu’man bin Basyir Nabi Muhammad s.a.w bersabda,”Sesungguhnya dalam diri manusia itu ada sepotong daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh anggota badannya tetapi seandainya daging itu rusak dan kotor, maka kotor dan rusaklah seluruh anggota badannya. Daging yang dimaksudkan ini adalah hati.“( HR. Bukhari dan Muslim)

Sayangnya dengan berjalannya waktu, ketika seseorang telah melewati masa balighnya, potensi melupakan fitrah tersebut menjadi semakin besar. Kenikmatan dan hingar bingar dunia bisa menyesatkannya. Dan memang begitulah pekerjaan pasukan syaitan dibawah pimpinan Iblis yang tidak pernah mengenal lelah mencari mangsa yang akan dijadikannya teman di neraka kelak.

Akibatnya hati yang mulanya bersih dan sehat itu sedikit demi sedikit menjadi kotor dan sakit, bahkan bila terus didiamkan bisa mati suri. Akibatnya segala gerak langkah dan perbuatannya, meski perbuatan baik sekalipun tidak mampu mendatangkan ridho-Nya. Karena perbuatannya tidak berdasarkan kriteria dan perintah Allah sebagai Sang Pemilik.

Ini yang banyak terjadi di Barat. Mereka berbuat baik tapi atas dasar “ baik” menurut pemikiran dan akal mereka. Perzinahan dan Homoseksual contohnya. Kedua hal tersebut mereka bela habis-habis atas dasar HAM tanpa mempedulikan hak Sang Pencipta sebagai yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi mahluk ciptaan-Nya.  Juga toleransi kebablasan yang seringkali justru melanggar batas toleransi yang disyariatkan-Nya.

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat”. ( Terjemah QS. Al-Kahfi(18):103-105).

Itulah perumpamaan akar pohon yang ditanam tidak dengan benar. Yang bunga maupun buahnya bagai fatamorgana, yang tidak dapat memberi kenikmatan dan manfaat yang sesungguhnya, yaitu surga-Nya.

Na’udzubillah min dzalik.

Jakarta, 23 Januari 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

Umrah di Bulan Desember.

Mekah dan Madinah dingiiin .. bbbrrr … Buat sebagian orang mungkin aneh, tapi begitulah nyatanya. Musim Dingin ternyata bukan hanya monopoli negara Barat, tetapi juga di Arab Saudi. Negara gurun pasir  ini mengenal 2 musim yaitu musim dingin dan musim panas.

Musim Dingin di negara ini terjadi antara bulan November – Februari. Puncaknya di bulan Desember dengan suhu bisa mencapai 2 % C dengan kelembaban udara sekitar 32% – 35 %.  Bahkan beberapa tahun belakangan salju beberapa kali turun di jazirah ini. Sedangkan musim Panas berkisar antara Mei – Agustus. Puncaknya di bulan Juni- Juli dengan suhu sekitar 50 % C.

bandara Madinah

Bandara Madinah

Dengan menumpang Arab Saudi Airways yang melakukan penerbangan 9 jam nonstop Jakarta – Madinah, kami mendarat di bandara Madinah pada tanggal 27 Desember malam  disambut udara sejuk sekitar 18% C disertai angin yang cukup kencang. Artinya lebih dingin dibanding ruang ber-AC yang biasanya dipasang pada 21 – 22% C.

Masjid Bir Ali (2)

Masjid Bir Ali

Setelah mengurus bagasi dan melalui urusan imigrasi yang relative singkat dibanding kalau mendarat di bandara Jedah kami langsung naik bus menuju hotel. Alhamdulillah kami mendapat hotel yang relative cukup dekat dengan area Masjid Nabawi.  Recananya kami akan berada 3 hari 3 malam di Madinah, sebelum menuju Mekah untuk ber-umrah dengan mengambil miqat di Bir Ali.

Nabawi1 (2)Satu diantara banyak keistimewaan masjid Nabawi selain ganjaran 1000 x shalat di masjid lain adalah adanya Raudhah. Raudhah berada di bawah kubah berwarna hijau dimana bernaung makam rasulullah Muhammad saw, bersisihan dengan makam sahabat sekaligus khalifah yaitu Abu Bakar Shiddiq ra dan Umar Ibnul Khattab ra.

Tidak ada perubahan berarti baik masjid secara keseluruhan maupun Raudhah yang berarti kebun sebagaimana hadist berikut : “Dari Abi Sa’id al-Khurdri ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Tempat di antara rumahku dan mimbarku adalah raudhoh (yaitu) taman dari surga, dan mimbarku di atas kolam”. ( HR. Bukhari).

Di dalam Raudhah selain terdapat makam yang dulunya adalah kamar Aisyah dimana rasulullah wafat, terdapat juga mihrab Nabi dimana Rasulullah dulu selalu berkhutbah. Di dalam ruangan ini terdapat enam tiang bersejarah, yaitu “Tiang Utusan” yang digunakan Nabi dahulu sebagai tempat menerima utusan yang datang, “Tiang Pengawal” tempat berdirinya para pengawal Nabi,  “Tiang Tempat Tidur” yang merupakan tempat Nabi tidur selama i’tikaf, “Tiang Abu Lubabah” yaitu tiang tempat Abu Lubabah mengikatkan diri karena menyesal telah  membocorkan rahasia kepada orang Yahudi, “Tiang Aisyah” yang diyakini ditunjuk Aisyah sebagai tempat Rosulullah mengimami shalat berjamaah dan “Tiang Mukholaqah” yaitu tempat bersandar Nabi ke batang pohon kurma saat khutbah Jum’at.

Secara khusus sebenarnya tidak ditemukan dalil tentang keutamaan shalat atau berdo’a di Raudhoh selain pernyataan Rasulullah saw dalam hadits di atas. Namun ntah mengapa Raudhah setiap waktu selalu disesaki jamaah yang seringkali ntah sengaja atau tidak saling sikut dan dorong demi dapat melaksanakan shalat atau berdoa di tempat ini. Meski pihak masjid tampak telah berusaha keras mengatur jadwal kunjungan jamaah yang jumlahnya jauh melebihi kapasitas yang sangat terbatas ini. Apakah usaha tersebut kurang maksimal, atau mungkin memang jamaah yang sulit diatur ? Ntahlah …

Tidak dapat dipungkiri umrah kali ini memang amat crowded layaknya musim haji. Hal ini diakui ustad  yang membimbing kami. “ Selama saya membimbing umrah baru kali ini saya lihat umrah seperti haji saja. Biasanya hanya umrah Ramadhan yang dapat mengalahkan kepadatan musim haji”.

Jabal Rahmah (2)

Jabal Rahmah

Dan ini terjadi dimana saja baik di Madinah, Mekah maupun obyek religius lain seperti Jabal Rahmah dll. Hebatnya lagi, sebagian besar jamaah tersebut adalah jamaah Indonesia kecuali jamaah yang di Mekah. Tampaknya ini karena musim libur sekolah yang bersamaan dengan libur akhir tahun. Memang ada trend baru di kalangan masyarakat Indonesia kelas menengah atas yang telah memiliki kesadaran beragama untuk memanfaatkan libur natal dan tahun baru dengan ber-umrah. Langkah yang patut diacungi jempol dari pada berhura-hura merayakan sesuatu yang tidak Islami.

Masjidil Haram Desember 2015Tanpa sadar kami melewati peralihan tahun baru Masehi di Masjidil Haram dengan suasana yang benar-benar berbeda. Tanpa sedikitpun bunyi terompet maupun petasan tidak juga pijar kembang api. Namun itu semua tidak mengurangi “ kemeriahan” suasana masjid yang setiap hari terang benderang baik oleh lampu-lampu masjid, pelataran masjid yang sangat luas dengan lantai marmer putihnya, hotel-hotel yang bertebaran mengelilingi masjid maupun lampu jalanan. Tidak ada musik selain alunan suara indah ayat-ayat suci Al-Quran.

Di dalam masjid sendiri, karena kebetulan tahun baru jatuh pada malam Jumat maka masjidpun makin ramai saja, yaitu oleh penduduk setempat yang datang dengan membawa anak cucu mereka. Maklum Jumat adalah hari libur bagi warga Timur Tengah seperti hari Minggu bagi kita yang di Indonesia. Dan hari Kamis biasanya banyak warga yang berpuasa. Itu sebabnya mengapa banyak warga lokal yang datang menjelang Magrib dengan berbagai panganan dan minuman. Rupanya mereka bersilaturahim sekaligus berbuka puasa …

Nuansa Mekah dan Madinah sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi memang lain dari pada yang lain. Seluruh denyut kegiatan berpusat pada shalat dan shalat. Setiap menjelang waktu shalat semua kegiatan terhenti. Toko-toko dan restoran tutup, semua pegawainya berhamburan untuk shalat, meski tidak harus ke masjid melainkan bisa hanya di sekitar toko dan restoran mereka. Maka mau tidak mau tamunyapun harus demikian, menunda makan dan belanja untuk shalat, dimanapun, untuk kemudian diteruskan lagi, Allahu Akbar …

Selama di Mekah 4 hari 4 malam saya dan putri kami sempat sekali melakukan hal tersebut, sementara suami tetap berada di dalam masjid. Waktu itu kami berdua ingin memanfaatkan waktu luang diantara waktu shalat untuk mencari oleh-oleh di mall yang banyak didapati sekitar masjid. Kami keluar mall agak terlambat, akibatnya jalan keluar mallpun sudah dipadati jamaah yang hendak menunaikan shalat, padahal kami belum wudhu dan ingin buang air kecil dulu. Dengan susah payah akhirnya kami bisa mendapat “ kapling” shalat di pelataran  masjid, tidak jauh dari wc, dan terpaksa ketika shalatpun pasrah membiarkan beberapa orang, laki maupun perempuan yang terlambat shalat, berlarian melintasi kami demi mencari “ kapling” untuk shalat.

“Apabila salah seorang di antara kalian melakukan shalat, maka shalatlah dengan sutrah/pembatas, dan mendekatlah kepada sutrah itu. Dan jangan biarkan seorang pun lewat di depannya”. (HR Ibnu Majah).

Kalau seandainya orang yang lewat di depan orang shalat mengetahui (keburukan) apa yang dia dapatkan maka berdiri menanti empat puluh lebih baik baginya daripada lewat di depannya”. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Walaupun mungkin, tampaknya hukum sutrah diatas tidak bisa dipratekkan dalam keadaan darurat seperti kasus diatas. Sama dengan bercampur atau adanya bagian shaft tertentu perempuan yang ada di depan bagian shaft laki-laki di Masjidil Haram, mengingat luar biasa padatnya masjid di waktu-waktu tertentu. Contohnya ketika shalat Jumat.

Harap maklum shalat Jumat di masjid ini memang agak berbeda  dengan di tanah air. Disini kaum perempuanpun berlomba datang untuk shalat Jumat. Dalam khutbahnya imam Masjidil Haram tak lupa mendoakan saudara/i kita yang tertindas baik di Palestina, Suriah dan belahan bumi manapun agar diberi kesabaran dan dapat segera keluar  dari kesulitan.

Kami bertiga juga pernah shalat Isya di pelataran antara masjid dan mall setelah makan malam yang agak terburu-buru. Kami disambut udara lumayan dingin dan angin yang kencang begitu keluar pintu mall .. bbrr .. Namun Subhanallah, semua itu tidak mengurangi kekhusukan kami shalat. Karena begitu imam memulai takbir suasana seketika menjadi hening. Tak dapat dipungkiri sound system yang terpasang di masjid memang benar-benar patut mendapat acungan jempol, gemanya benar-benar bersih membahana hingga  ke relung hati yang terdalam.

Masjid Nabawi terutama Masjidil Haram memang sedang menjalani renovasi besar-besaran. Khadimul Haramain (Pelayan Dua Tanah Suci), yaitu raja Arab Saudi, pada 26 Agustus 2011, meletakkan batu pertama dimulainya proyek akbar perluasan Masjidil Haram. Rencananya masjid ini akan mengalami penambahan seluas 400 ribu m2 hingga daya tampungnya akan menjadi 1.2 juta jamaah.

Umrah Desember2015Saat ini puluhan crane masih terlihat di seputar masjid, sejumlah akses banyak yang masih terlihat ditutup, kegiatan proyek pembangunan masih berjalan, tak jarang para pekerja proyek dengan helm dan sepatu botnya berseliweran diantara jamaah. Area tawaf baru yang dibangun di lantai 1 melingkari Ka’bah sudah terlihat bisa digunakan. Sayang kami tidak berhasil mencobanya karena pintu masuk jembatan ditutup.

“ Penuh bu jadi pintu dibuka-tutup “, ujar seorang pekerja Indonesia yang kebetulan sedang disana, dengan logat Jawa yang kental. Memang PT Waskita Karya, sebuah perusahaan kontraktor Indonesia sejak tahun 2013 ikut terlibat dalam proyek dibawa pengawasan Saudi Bin Ladin Grup ini, Alhamdulillah, ikut bangga juga hati ini.

(Baca : http://www.suara-islam.com/read/tab/168/Proyek-Akbar-Perluasan-Masjidil-Haram ).

Hal lain yang juga cukup menarik perhatian adalah keberadaan pepohonan di sekitar Mekah dan Madinah, yang menunjukkan kesuburan tanah di gurun yang dulunya dikenal tandus dan gersang itu. Air yang begitu berlimpah baik di Masid Nabawi maupun Masjidil Haram adalah salah satu buktinya. Meski sayangnya karunia Allah tersebut kurang dimanfaatkan untuk menjaga kebersihan toilet kota, toilet bandara Jeddah misalnya. Padang rumput dan juga turunnya salju di jazirah ini, sekali lagi menjadi bukti kebenaran apa yang dikatakan Rasulullah 15 abad silam.

“Hari Akhir tidak akan datang kepada kita sampai dataran Arab sekali lagi menjadi dataran berpadang rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai (HR Muslim)“.

(Baca : http://www.rumahallah.com/2014/01/salju-dan-menghijaunya-tanah-arab.html#sthash.elu8B9H0.dpuf )

Namun dari semua yang paling indah dan berkesan di hati adalah dikabulkannya doa kami berdua agar Allah swt membuka mata hati anak gadis kami semata wayang supaya ia mau menutup auratnya dengan baik.

Saya merasakan tanda awal tersebut ketika berada di salah satu ruang menuju Raudhah. Saat itu kami sedang berada di antara jamaah Indonesia dan Malaysa yang sedang mengantri giliran masuk Raudhah. Tiba-tiba terdengar sekelompok jamaah menyenandungkan shalawat nabi yang makin lama makin kencang bergaung indah menyentuh kalbu. Tampaknya alunan shalawat inilah yang mengawali terbukanya hati putri kami tersebut. Masya Allah  …

Malu bu .. rasanya Dilla cuma berdoa mulu tapi g mau nurut perintah Allah”, begitu jawabnya suatu ketika saya menanyakan apa yang membuat hatinya terbuka. Alhamdulillah betapa leganya hati kami berdua, terima-kasih ya Allah, semoga Engkau selalu menjaga dan melindungi putri kami tercinta, agar ia istiqomah hingga akhir hayat, semoga perubahan ini juga berimbas kepada kedua kakak lelakinya dan kakak ipar perempuannya, aamiin aamiin aamiin YRA  …

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, …… “. ( Terjemah QS. An-Nuur(24):31).

Hal lain yang juga cukup berkesan adalah tausiyah pembimbing kami mengenai bekal 2 gelas. Beliau menasehati jamaah agar kemanapun pergi senantiasa membawa bekal 2 gelas, 1 gelas kosong dan gelas satunya lagi berisi penuh. Gelas-gelas ini diumpamakan sebagai hati yang siap berbagi untuk memberi dan menerima. Orang sombong cenderung suka membawa 2 gelas berisi penuh hingga tidak bisa menerima nasehat dan pendapat orang lain. Sementara orang yang tidak memiliki pendirian suka membawa 2 gelas kosong hingga hanya bisa menerima tanpa mampu memberi.

Sebaliknya jujur saya kurang setuju dengan doa pembimbing kami agar diberi kesempatan kembali mengunjungi Baitullah, kecuali bila baru beberapa kali umrah. Ini hanya pendapat pribadi, apakah tidak lebih baik bila kelebihan rezeki tersebut diberikan kepada seseorang yang sangat ingin berumrah namun kesulitan biaya daripada digunakan sendiri setiap tahun misalnya.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani ).

Kecuali bila sudah bertahun-tahun tidak melakukan umrah mungkin tidak mengapa. Karena bagaimanapun wajar saja bila seseorang dikarunia kesempatan dan rezeki berlebih ingin membersihkan dirinya kembali dari dosa-dosa.

Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta 13 Januari 2016.

Vien AM.

Read Full Post »