Feeds:
Posts
Comments

Archive for March 8th, 2016

Menyikapi HOAX

Kata HOAX tentu tidak asing di telinga kita, tapi apa dan dari mana asal kata tersebut sebenarnya ? Hoax adalah suatu pemberitaan palsu / pemberitahuan yang tidak jelas sumbernya dan biasanya isinya tidak benar. Hoax merupakan suatu usaha untuk menipu pembaca agar  mempercayai suatu berita, bisa dengan tujuan tertentu atau bisa hanya sekedar lelucon.

Celakanya Hoax biasanya cepat menyebar, karena si penerima berita mengirim kembali berita tersebut tanpa mengecek dahulu apakah berita tersebut benar atau tidak. Hoax biasanya digunakan dalam internet seperti di blog, e-mail, tweeter, facebook dan lain-lain. Namun belakangan HP pun melalui sms, WA dll tak luput dari keganasan Hoax.

Contoh Hoax yang paling umum yaitu mengklaim sesuatu kejadian atau barang dengan suatu sebutan yang berbeda dengan kejadian/ barang yang sebenarnya. Ciri-ciri  HOAX adalah tak memiliki referensi asli dan tak menyebut sumber yang bisa di tanyai tentang kebenarannya.

Kata Hoax sendiri kabarnya berasal dari “Hocus Pocus” yang aslinya adalah bahasa Latin “hoc est corpus”, artinya “ini adalah tubuh”. Konon kata ini biasa digunakan penyihir utuk mengklaim bahwa sesuatu adalah benar, padahal sebenarnya tidak begitu.

Sementara itu pada tahun 2006 pernah beredar sebuah film drama Amerika berjudul The Hoax. Film yang disutradarai Lasse Hallström  berdasarkan karya Clifford Irving dengan judul yang sama ini bercerita tentang biografi Clifford sendiri. Akan tetapi kenyataannya banyak cerita dalam film tersebut yang tidak sesuai dengan cerita aslinya hingga akhirnya sang penulispun meminta agar namanya dicoret dari film tersebut. Sejak itu, film Hoax dianggap sebagai film yang banyak mengandung kebohongan dan akhirnya kata  Hoax pun digambarkan sebagai suatu kebohongan.

Yang menjadi pertanyaan apakah Hoax merugikan orang lain ??

Namanya juga menipu ya pasti merugikan meski tergantung seberapa dalam dan besar merugikannya.  Yang pasti Hoax sangat berpotensi merusak kepercayaan publik dan ini bukan hal sepele. Akibatnya bisa fatal, yaitu orang menjadi cuek alias tidak peduli terhadap berita, karena khawatir dibohongi. Padahal berita adalah sumber informasi yang harusnya amat sangat bermanfaat.

Tentu sebagian dari kita masih ingat bagaimana dulu Belanda mempraktekkan politik pecah belah ( devide et impera) demi mempertahankan Indonesia sebagai negara jajahan. Salah satu caranya yaitu melalui berita. Radio satu-satunya kantor berita ketika itu mereka kuasai hingga kita tidak tahu dan tidak bisa mengikuti perkembangan berita. Ada memang beberapa radio swasta milik pribumi tapi tetap dibawah pengawasan mereka dan itupun hanya diizinkan menyiarkan acara seni dan budaya.

Sebaliknya ketika akhirnya Jepang datang,  berkat berita propaganda Jepang, Belanda sudah kalah dulu sebelum perang yang sesungguhnya menghadapi tentara penjajah baru tersebut terjadi. Demikian juga dengan kemerdekaan Indonesia, yang bisa terealisasi lagi-lagi berkat adanya berita yaitu berita menyerahnya Jepang pada PD Dunia II.

Di era pemerintahan saat ini, sebegitu pentingnya kantor berita hingga kita bisa saksikan hampir setiap partai politik mempunyai kantor berita masing-masing. Bisa hanya sekedar web site, koran, majalah, radio hingga chanel tv tergantung besar kecil dan kayanya partai. Dan yang menyedihkan masing-masing sarana komunikasi massa tersebut tampil dengan kepentingan dan kebutuhan masing-masing. Bahkan pernah pada suatu era, kantor berita dikuasai dan dikendalikan pemerintah. Maka itulah satu-satunya informasi yang bisa kita dapat.

Yang teranyar, baru-baru ini muncul berita yang cukup mengejutkan, yaitu tentang artikel yang ditulis oleh Adriano Rusfi, seorang psikolog. Isi artikel tersebut bagus sekali yaitu mengenai LGBT. Saya pertama kali menerima artikel tersebut melalui WA kemudian menyusul melalui FB. Tapi anehnya tak sampai 2 minggu kemudian saya menerima artikel melalui WA dengan isi persis tapi dicantumkan Sarlito Wirawan Sarwono, senior Adriano Rusfi, sebagai penulisnya ! Kemudian memyusul di FB, juga katanya ditulis oleh mantan dekan fakultas Psikologi Universitas Indonesia tersebut. Mana yang benar ???

https://officialwaru.wordpress.com/2016/02/12/lgbt-sebuah-gerakan-penularan/

Saya yakin bahwa ini bukan plagiat oleh satupun dari kedua akademisi tersebut. Melainkan oleh seseorang yang mungkin ingin artikel itu dibaca banyak orang tapi merasa nama Adriano kurang menjual. Maka digantinya nama tersebut dengan Sarlito Wirawan Sarwono yang lebih populer. Ini kalau saya berbaik sangka. Tapi kalau saya berburuk sangka, bisa jadi hal ini memang disengaja agar publik akhirnya malah tidak mempercayai isi artikel yang intinya amat sangat menentang prilaku menyimpang tersebut !

Ada apa gerangan ??

“Saya lebih takut pada media massa dibanding senjata”, demikian ungkap Napoleon Bonaparte, sang kaisar Perancis ratusan tahun yang lalu.

Protokol ke 12 gerakan Zionis menyatakan bahwa “Media massa dunia harus berada di bawah pengaruh kita”. Sementara Theodore Hertzl (wartawan & novelis Yahudi berskala internasional), peletak dasar Gerakan Zionisme Internasional, dalam konferensi di Swiss tahun 1897 pun mengatakan, “Kita akan berhasil mendirikan pemerintah Israel dengan memanfaatkan dan menguasai fasilitas propaganda dunia dan media massa dunia”.

Sedangkan Iqbal Shadiqi, pemimpin redaksi majalah terbitan Inggris, Cressent International, menyatakan media-media AS sangat bergantung kepada para investor dan orang-orang Zionis. Kedua kelompok inilah yang mengontrol pemerintah dan media AS.

Penguasaan Yahudi terhadap media massa bisa terlihat dari fakta banyaknya kantor-kantor berita yang dikuasai atau menjadi corong mereka. Misalnya: Reuters (Inggris) yang dibentuk Julius Powell (Yahudi), AFP (Perancis) dan AP (AS), ABC yang  Dirut Pelaksananya Leonard Goldenson dan Direktur Entertainmennya Stuart Bloomberg (Yahudi), CBS yang oleh didirikan William S. Paley (Yahudi Rusia), Fox News yang didirikan Rupert Murdoch (Yahudi Australia) pada 1996.

Rupert Murdoch  bahkan menguasai 300 saluran televisi, 3 penerbit buku (HarperCollins, ReagenBooks dan Zondervan Christian Publisher). Kabarnya seluruh perusahaan Murdoch melayani 3/4 penduduk bumi. Ia mempunya kuku di ratusan suratkabar di Australia, Fiji, Papua New Guinea, Inggris dan AS. Murdoch juga menguasai jaringan BSkyB di Inggris, Sky Italia, Sky Amerika Latin, Foxtel Australia, DirectTV Group Amerika Utara dan Latin, serta Star TV untuk wilayah Asia.

Industri film pun tidak luput dari kekuasaan Yahudi, utamanya Hollywood. Disanalah perusahaan film kelas kakap dunia seperti 20th Century Fox, Walt Disney, Paramount Picture dll bercokol.

 https://tabloidminijejak.wordpress.com/2008/04/11/perang-ideologi-di-media-massa/

Nah dengan kenyataan seperti ini masih bisa dan maukah kita, umat Muslim, menjadikan Barat sebagai sumber berita kepercayaan??  Bagaimana kita bisa yakin kalau berita yang mereka sebarkan itu benar ? Bagaimana kita tahu sebuah berita itu Hoax alias berita palsu atau bukan ???

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Terjemah QS. Al-Hujurat (49):6).

Itulah sikap Islam, teliti dahulu kebenaran sebuah berita sebelum mempercayai apalagi menyebarkannya, kalau tidak ingin dibodohi dan terjebak dalam fitnah. Itu sebabnya umat Islam harus mempunyai sendiri sumber berita, yang mampu mencari, menyaring dan memverifikasi bila terjadi hoax. Inilah salah satu pentingnya fungsi pemimpin dalam Isam.

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):138-139).

Mungkin banyak orang yang tidak menyadari bagaimana sejak awal Islam telah mengajarkan cara mengantisipasi Hoax.  Adalah ilmu Hadist. Secara bahasa Hadist artinya adalah berita. Sedangkan secara istilah Hadist adalah segala sesuatu ( ucapan, prilaku, diam atau tidak diam) yang disandarkan kepada Rasulullah saw.

Berdasarkan ilmu Hadist inilah maka sekarang kita mengenal adanya bermacam-macam hadist dengan beberapa tingkatannya. Ada hadist mutawatir ada hadist ahad, dengan beberapa tingkatannya, yaitu  shoheh, hasan,  dhaif ( lemah) dan maudhu (palsu).Tak ada satupun di dunia ini ilmu yang dapat menyamai ketinggian ilmu Hadist, terutama bila dilihat dari cara menyensor nara sumbernya.

Nara sumber atau perawi benar-benar dipelajari dan diteliti bagaimana ia dapat tersambung dengan sumber berita utama yaitu Rasulullah saw. Bukhari dan Muslim,  dua perawi besar dalam Islam contohnya, menghabiskan puluhan tahun demi mencari tahu riwayat hidup seorang perawi. Seperti tahun berapa dan di kota/negara apa sang perawi hidup, dari mana dan bagaimana ia menerima hadist yang ia riwayatkan, bagaimana hubungannya dengan orang yang menyampaikan hadist tersebut dll. Tujuannya untuk memastikan bahwa hadist benar-benar berasal dari Rasulullah, tidak ada manipulasi dan kolusi atau maksud-maksud tertentu.

Itu sebabnya syarat shoheh tidaknya sebuah hadist sangat tergantung sang perawi. Seorang perawi yang dikenal ahli ibadah, tapi bila hafalan/daya ingatnya tidak begitu bagus atau diketahui pernah berbohong maka berita yang disampaikannya tertolak.  Padahal sebuah hadist biasanya mempunyai perawi yang banyak, yang bersambung hingga ke nara sumber. Inilah yang disebut sanad. Dan bila satu saja perawi karena suatu sebab tertolak, maka tertolak pula hadist tersebut. Hebatnya lagi sanad ini jauh lebih penting kedudukannya dari pada isi berita (matan) itu sendiri.

Ini membuktikan betapa tinggi dan pentingnya kejujuran dalam kacamata Islam. Rasulullah adalah contoh keteladanan yang paling patut ditiru. Sejak masa kanak-kanak beliau telah memperlihatkan kejujurannya. Tak heran, ketika suatu hari terjadi pertikaian antar kabilah dimana masing-masing ingin agar kabilahnya yang diberi kepercayaan mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula, akhirnya sepakat menunjuk Rasulullah. Ketika itu mereka memutuskan siapapun yang muncul pertama di lokasi pertikaian, dialah yang berhak meletakkan batu hitam tersebut ke tempat asalnya. Ternyata yang muncul adalah Rasulullah yang waktu itu belum menjadi rasul. Maka merekapun langsung menyetujuinya.

Juga ketika suatu hari Rasulullah mengumpulkan orang-orang Quraisy dari banyak kabilah dan berkata “ Bila aku katakan di belakang bukit sana ada seekor serigala, percayakah kalian padaku?”. “ Tentu kami percaya, karena kau orang yang tak pernh berbohong!”, jawab mereka serentak. Padahal ketika itu mereka belum memeluk Islam. Patut dicatat, sifat amanah dan jujur ini pula yang pertama kali menarik hati Khadijah sebelum Muhammad muda melamarnya.

(http://vienmuhadisbooks.com/category/sirah-nabawiyah-sejarah-hidup-rasulullah-saw/ ).

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Terjemah QS. Al-Ahzab(33):21).

As-Sa’di membagi sumber (media) berita kepada tiga klasifikasi:
Pertama, berita dari seorang yang jujur yang secara hukum harus diterima.
Kedua, berita dari seorang pendusta yang harus ditolak.
Ketiga, berita dari seorang yang fasik yang membutuhkan klarifikasi, cek dan ricek akan kebenarannya.

Dalam sebuah riwayat dari Qatadah disebutkan, “At-tabayyun minaLlah wal ‘ajalatu minasy syaithan”, sikap tabayun merupakan perintah Allah, sementara sikap terburu-buru merupakan arahan syaitan.

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Maret 2016.

Vien AM.

Read Full Post »