Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2017

Kekuatan Doa

“ Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”.( Terjemah QS. Al-Ahzab (33):41-43).

Kata DZIKIR berasal dari adz-dzikr dalam bahasa Arab, yang berarti mengingat, mengucap atau menyebut. Ayat diatas dan juga pada banyak ayat Al-Quran perintah berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla banyak kita jumpai. Dzikir kepada Allah dan segala kebesaran-Nya adalah penyebab dikeluarkannya kita dari kegelapan/ kesulitan/ keterpurukan menuju kepada cahaya/ kemudahan/ kemenangan/ kesuksesan. Doa dan shalat termasuk dalam dzikir.

Doa yang merupakan kekuatan dasyat yang diberikan kepada kaum Muslimin, adalah sebuah cara untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.  Allah swt sangat menyukai dan mencintai hamba yang senantiasa berdoa; memohon kepada-Nya apa yang diinginkannya, merengek dan mengadukan segala kesulitan kepada-Nya agar diberi jalan keluarnya.

Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu memulai segala aktifitas dengan berdoa. Itu sebabnya sejak kecil umat Islam telah diajarkan dan dibiasakan membaca bermacam doa, seperti doa hendak tidur, doa hendak makan, doa hendak bepergian, doa masuk kamar kecil dll.

Isi doa selain seperti yang diajarkan Rasulullah di atas, bisa juga mengambil ayat-ayat Al-Quran, dan bisa juga dengan kata-kata sendiri dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah atau bahasa  apapun yang ada di dunia ini. Namun tentu saja ada adabnya. Diantaranya didahului dengan bertasbih yaitu memuji-Nya dan bershalawat untuk Rasulullah saw.

https://konsultasisyariah.com/9561-13-ada-dalam-berdoa.html

Sayangnya, kita berdoa pada umumnya hanya untuk kepentingan diri dan keluarganya sendiri. Tak banyak Muslim yang rajin berdoa agar di anugerahi pemimpin yang amanah, yang mampu dan mau benar-benar memikirkan kepentingan umatnya.

Padahal sesukses dan sekaya apapun kita dan keluarga kita, bila pemimpinnya tidak amanah, keberkahannya dapat dipastikan cepat menguap tak berbekas. Dan yang harus juga diingat jika ini terjadi yang paling menderita adalah kelas menengah atas. Mengapa demikian?? Karena rakyat kelas bawah sudah terbiasa hidup susah dan kekurangan. Lain halnya dengan kelas menengah atas yang terbiasa hidup mapan dan nyaman.

Suriah adalah contohnya. Sebelum tahun 2011 rakyat Suriah, Aleppo khususnya yang merupakan kota industry, kota terbesar ke 2 setelah Damaskus,  tidak pernah mengira bahwa kota dan negaranya bakal hancur seperti sekarang ini. Padahal Aleppon, kota yang tercatat sebagai salah satu tua tertua di dunia ini tadinya tersohor sebagai kota pariwisata yang menawan. Penduduknya banyak yang sukses dan hidup makmur. Tapi kini sebagian besar rakyatnya baik yang miskin maupun yang sukses dan kaya raya terpaksa mengungsi dan hidup di pengungsian dengan kodisi yang jauh dari nyaman. Begitu juga Beirut ibukota Lebanon yang mendapat julukan “ Parisnya Timur Tengah” sebelum pecah perang saudara. ( 1975- 1990).

Pemimpin adalah kunci kesuksesan sebuah negara. Untuk itu diperlukan pemimpin yang amanah. Pemimpin amanah adalah seorang Muslim sholeh, yang sangat takut pada Tuhannya. Yang dengan demikian menyadari betapa berat tugas dan tanggung-jawab seorang pemimpin. Itu sebabnya ia tidak akan berani korupsi, dalam hal apapun, tidak suka berbohong apalagi berbuat curang. Ia benar-benar menyadari bahwa amanah yang dititipkan umat ditujukan agar ia mau mengurusi kebutuhan spiritual dan material rakyat yang dipimpinnya. Memberikan kemudahan agar umat dapat beribadah, memuji Tuhannya dengan sebaik mungkin. Menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat yang dipimpinnya, apapun agama, suku dan rasnya. Dan semuanya ini dilakukannya demi mencari ridho Sang Khalik, Allah Azza wa Jallat, penciptanya.

Berikut cuplikan pidato Umar ibn Khattab pada pelatikan beliau sebagai khalifah :

” Kewajibanku adalah aku tidak akan memilih orang-orang diantara kalian atau apa yang telah Allah anugerahkan kepada kalian, kecuali adanya pertimbangan yang tepat. Dan aku berkewajiban menambah pendapatan kalian atau rezeki kalian. Jika Allah berkehendak, maka aku naikkan upah kalian. Kewajibanku kepada kalian adalah tidak menyesatkan kalian pada bencana. Jika kalian hilang dalam suatu perintah dan perjalanan, maka aku akan mencarinya. Mengenai harta Allah, aku memposisikan diriku disini seperti anak yatim. Jika aku diberi kekayaan, maka aku akan menjadi ornag yang pemurah. Jika aku miskin, aku akan memakan makanan yang baik dan halal. Bertaqwalah kalian semua, wahai hamba Allah.

Bantulah aku dengan urusan yang ada pada kalian semua dengan menjalankannya dengan baik. Dan semoga diteguhkan kepadaku untuk selalu memerintahkan kebaikan dan mencegah terjadi kemungkaran dan selalu menasihatkan kebaikan ketika aku memerintah nanti.

Rasulullah bersabda, ”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).

Jadi sungguh tidak benar slogan “ Lebih baik kafir tapi jujur daripada Muslim  tapi Korupsi”. Perbandingan tersebut bukan perbandingan yang seimbang. Karena kafir  sendiri berarti tidak beriman kepada Allah Yang Satu yaitu Allah swt, itulah dosa terbesar dalam kacamata Islam.

Patut diingat, setiap agama pasti mempunyai standard dan aturan masing-masing. Dan bukan hal yang aneh bila suatu negara membuat peraturan pemimpin harus seagama dengan mayoritas rakyatnya. Itulah adalah fitrah manusia, karena setiap manusia pasti lebih nyaman bila pemimpinnya memahami apa yang dibutuhkannya. Sebagai contoh, negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris atau  Perancis yang notabene mayoritas rakyatnya Nasrani, dan mengaku sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi dan toleransi, tidak pernah tercatat mempunyai presiden beragama Islam.

Begitu pula Islam. Islam  adalah ajaran yang sangat spesifik. Ia memiliki sejumlah aturan sendiri yang wajib dipatuhi pemeluknya, bukan hanya sebagai pribadi tapi juga dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Umat Islam membutuhkan komunitas, fasilitas  dan kebijaksanaan yang sangat khas. Misalnya, kebutuhan akan masjid, pelaksanaan shalat pada jam kerja, shalat berjamaah di masjid pada hari Jum’at, menjalankan puasa pada bulan Ramadhan, penentuan hari raya iedul fitri dan iedul adha, mengenakan jilbab dalam kehidupan sehari-hari, pemotongan hewan halal, menjauhi riba, minuman keras, perjudian serta pelacuran, hukum waris, hukum perkawinan  dan masih banyak lagi. Bahkan ketika meninggal duniapun seorang Muslim wajib dimakamkan dengan aturan tertentu.

Itu sebabnya umat Islam memerlukan pemimpin, pemimpin yang benar-benar mengerti, memahami dan menguasai kebutuhan orang yang dipimpinnya. Dan tentu saja kalau bukan dari kalangan umat Islam sendiri siapa lagi yang lebih patut menjadi pemimpin tersebut. Apalagi Allah swt dengan tegas telah memerintahkan hal tersebut, bukan hanya dengan 1 atau 2 ayat, tapi sampai 7 ayat ! Diantaranya yaitu surat Al-Maidah ayat 51 yang belakangan menjadi populer berkat kasus pelecehan yang dilakuan gubernur DKI, Ahok alias Basuki Purnama Cahaya,.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS.Al-Maidah(5):51).

Artinya, bila kita tetap nekad memilih pemimpin yang bukan dari kalangan kita sendiri ( baca Islam), Allah swt tidak lagi mau melindungi kita. Dan dampak perbuatan ini tidak saja ‘hanya’ kita terima di akhirat nanti, tapi juga di dunia. Allah swt memerintahkan dengan jelas agar tidak menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, untuk kepentingan dan kebaikan kita sendiri, yaitu agar umat Islam dapat menjalani kehidupan sosial sesuai ajarannya. Karena pemimpin adalah orang yang diberi mandat untuk menentukan segala kebijakan dalam suatu pemerintahan.

Jadi sungguh aneh bila ada sebagian orang yang mengaku Islam tapi berpendapat bahwa orang Islam tidak perlu berpolitik. Dengan dalih Islam adalah rahmatan alamiin, maka cukup berbuat baik saja. Itulah jargon sesat tokoh JIL almarhum Nurcholis Majjid “ Islam Yes Partai Islam No”, yang hingga saat ini masih dipegang sebagian umat Islam.  Ini pula yang terjadi di Lebanon dan Pantai Gading hingga akhirnya harus pasrah memiliki presiden non Muslim ( Nasrani) padahal mayoritas penduduknya Muslim.

Sebaliknya seorang pemimpin Muslim yang tidak amanah juga beresiko menyengsarakan rakyatnya. Kekacauan mengerikan di Suriah terjadi diawali karena pemimpinnya yaitu Bashar Assad yang otoriter, tidak mau menerima kritik rakyatnya yang mayoritas Islam Sunni. Bashar sendiri adalah seorang Syiah. Kini Suriah menjadi ajang pertempuran banyak pihak dengan berbagai kepentingan. Demkian pula negara-negara teluk yang hingga saat ini terus bergejolak. Pemimpin mereka memang Muslim namun tidak/kurang amanah. Mereka menjadikan kaum kafir sebagai sekutu bahkan penolong dengan meninggalkan sesama Muslim. Itu sebabnya mereka menjadi tergantung, lemah dan mudah di adu domba oleh mereka yang tidak menyukai Islam.

Untuk itu kita umat Indonesia yang sebentar lagi akan menghadapi pilkada, marilah kita mengambil hikmahnya. Apa lagi saat ini, di zaman dimana para ulama garis lurus di kriminalisasi hanya karena tidak sejalan dengan kemauan penguasa, umat Islam yang terus diprovokasi dan di adu domba dengan berbagai cara.

Kita mulai dengan ber-doa. Patut dicamkan, doa itu bukan”hanya”. Doa adalah niat, harapan yang mengawali sebuah perbuatan. Jadi adalah wajib bagi seluruh umat Islam untuk berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon kepada Sang Khalik, pemimpin seperti apa yang ingin kita miliki.  Dan agar doa terkabul wajib bagi kita untuk mematuhi segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Kenali Tuhan kita.

Ada sebuah perumpamaan menarik. Ketika seseorang terus digonggongi seekor anjing padahal ia orang yang benar-benar takut pada anjing. Otomatis tentu ia akan lari terbirit-birit sambil berusaha  melempari anjing tersebut dengan batu atau apa saja yang ia temui. Akankah ia berhasil keluar dari ketakutannya itu? Mana yang lebih efektif, dengan bila ia melapor kepada si empunya agar segera mengendalikan anjingnya? Masalahnya kenalkah ia dengan si pemilik anjing?

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Terjemah QS. Al-Baqarah: 186).

Begitu pula dengan doa, kenali Sang Pemilik, dekati dan pelajari apa yang Ia kehendaki dari kita. Setelah doa, kita harus berusaha keras mewujudkan doa tersebut. Diantaranya dengan ikut memilih, tidak golput, lebih baik lagi bila bisa ikut mengawasi jalannya pemilihan. Mari kita rapatkan barisan, pilih pemimpin yang amanah, yang benar-benar mau menegakkan nilai-nilai Islam dan membela rakyatnya. Penting untuk diingat, tidak ada manusia yang sempurna. Tapi yakinilah Allah swt pasti akan menolong dan mengisi kekurangan tersebut, selama yang bersangkutan dekat dengan ulama dan mau mendengar nasehat mereka.

Terakhir kita tutup usaha kita dengan kembali berdoa, pasrah dan yakin bahwa ketetapan-Nya adalah yang terbaik untuk kita semua, pasti ada hikmah yang dapat kita ambil. Bukankah Islam mengajarkan manusia hanyalah dapat berusaha sedangkan keputusan akhir adalah hak-Nya? Dan usaha inilah yang akan dinilai-Nya bukan hasilnya. Allahu Akbar …

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Terjemah QS.-Taubah (9):105).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Januari 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

Energi Al-Maidah (4).

Meski telah didemo secara besar-besaran oleh jutaan umat Islam dari seluruh penjuru negri, bahkan hingga 3x, kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok di pulau Seribu pada  27 September 2016 lalu belum juga tuntas.

Sidang yang diselenggarakan pada 3 Januari 2017 berlangsung cukup alot. Pembela kedua kubu yang hadir di persidangan dikabarkan nyaris bentrok. Ketika azan berkumandang dan para pembela kebenaran segera menegakkan shalat berjamaah di jalanan, para pembela Ahok yang selalu berkoar demi toleransi dan persatuan NKRI, justru mempertontonkan sikap buruk yang sungguh bertentangan dengan ucapan mereka. Tanpa tahu sopan santun mereka menyetel musik keras-keras dan berjoged di depan jamaah sambil mengejek mereka yang sedang menghadap Tuhannya. Na’udzubillah min dzalik …

http://metro.sindonews.com/read/1167780/170/kawal-sidang-ahok-massa-gnpf-mui-salat-berjamaah-di-jalan-1483425334

Novel Bamukmin, sekretaris FPI, yang hadir sebagai saksi pada sidang hari itu, memaparkan bahwa sidang terkesan mengada-ada dan melebar ke arah yang tidak substansif. Contohnya adalah BAP tentang dirinya, yang sempat menjadi viral selama beberapa waktu. Ahok yang berstatus tersangka itu malah mempermasalahkan dan menuduh bahwa Fitsa Hats yang dalam BAP tercatat sebagai tempat Bamukmin pernah bekerja, sebenarnya adalah Pizza HUT yang sengaja dipelintir karena saksi malu pernah bekerja di perusahaan Amerika yang notabene negara kafir. Padahal BAP itu ditulis oleh pihak kepolisian bukan saksi.

Tuduhan Ahok tentu bukannya tanpa perhitungan matang. Gubernur petahana ini bermaksud menyasar umat Islam yang masih ragu menentukan sikap dalam cara memilih pemimpin, dengan membentuk opini negatif bahwa bahkan seorang anggota FPIpun tidak konsisten dalam bersikap. Berikut sebuah artikel yang dapat dijadikan panduan bagaimana hukum seorang Muslim bekerja di perusahaan non Muslim, dan apa bedanya dengan memilih pemimpin non Muslim.

http://www.dakwatuna.com/2017/01/09/84793/novel-bamukmin-fitsa-hats-dan-hukum-muslim-bekerja-perusahaan-non-muslim/#axzz4VFLxSM3G  

Selain itu juga adalah sikap salah satu kuasa hukum Ahok yaitu Vivi Evitha yang tak lain adalah adik bungsu tersangka. Perempuan ini menyandingkan kasus Habib Rizieq Shihab dengan kasus Ahok dengan mengemukakan bukti yang sama yaitu video rekaman yang menurutnya telah melecehkan agama lain. Tentu saja Novel langsung mengajukan keberatan, yang beruntung diterima oleh majelis hakim lantaran memang tidak ada korelasinya.

“Dia mengangkat Habieb Rizieq memakai ayat, menilai ulama bukan kapasitasnya. Itu yang disampaikan adik Ahok. Dan saya tahu adik Ahok bukan Islam, ngapain bawa-bawa ayat, bukan kapasitasnya,” ujar Novel di luar sidang.

https://nasional.tempo.co/read/news/2017/01/03/063832327/saksi-ini-keberatan-pertanyaan-adik-ahok-yang-sebut-rizieq

Demikian pula dengan sidang ke 5 yang di gelar pada 10 Januari. Pembela mempertanyakan sikap saksi Irena Handono, yang dianggap tidak tabayun dalam menyikapi pernyataan Ahok di kepulauan Seribu. Namun dengan sigap Irena, mantan biarawati yang sejak beberapa tahun lalu menjadi dai, justru mempecundangi si pembela dengan pernyataan bahwa tabayun adalah istilah yang merujuk dalam hukum Islam, yang artinya adalah mengkonfirmasi ulang sebuah pernyataan.

“Ketahuilah, istilah tabayun itu merujuk pada istilah dalam hukum Islam. Di Al-Quran Bapak temukan di mana? NKRI ini kita ini berdiri berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang 1945. Kalau Indonesia ini pakai hukum Islam, terdakwa sudah kami usir”, tegas Irena.

Dari beberapa contoh di atas dapat disimpulkan bahwa sidang penistaan agama kali ini terkesan jelas ingin dipersulit. Bandingkan dengan budayawan Arswendo Atmowiloto yang pernah divonis 4 tahun akibat dinilai menodai agama pada tahun 1990. Juga Lia Aminudin yang pernah dua kali dijatuhi hukuman penjara 2 tahun 6 bulan pada tahun 2006 dan 2 tahun 5 bulan pada 2009. Demikian pula seorang pendeta bernama Antonius Richmond Bawengan yang divonis 5 tahun penjara karena dinilai melecehkan agama Islam dan sekaligus Katholik. Belum lagi politikus Permadi yang pernah dipenjara karena penistaan agama.

“Dan puluhan orang yang dituduh melakukan penistaan agama langsung ditangkap, langsung ditahan, langsung diadili, langsung dipenjara. Termasuk saya,” aku Permadi yang kesal melihat perbedaan mencolok sikap pengadilan antara dirinya dengan Ahok.

Atau yang terakhir adalah kasus Habib Riziek yang tak sampai 3 minggu dari adanya pelaporan telah dipanggil kepolisian. Padahal kalau mau kita simak bersama kasus Habib tidaklah sama dengan Ahok. Habib sebagai seorang ulama berceramah di depan umatnya sendiri. Mengenai materi yang dianggap melecehkan umat agama lain tentu tidak dapat dipersalahkan, karena beliau memang sedang menerangkan tafsir surat Al-Ikhlas yang merupakan ruh ajaran yang diimaninya, yaitu tauhid.

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. ( Terjemah QS. Al-Ikhlas (112):1-4).

Anehnya lagi, pengacara Ahok, Trimoelja D. Soerjadi, seperti juga para pembenci Islam, menuduh bahwa kasus Ahok bermuatan politis, agar kliennya itu batal sebagai cagub. Padahal jelas yang jadi pemicu kasus Ahok memang ayat tentang cara memilih pemimpin dalam Islam, yang diyakini cagub tersebut bakal membuatnya kalah, bila umat Islam yang merupakan mayoritas rakyat taat terhadap kitab sucinya. Artinya Ahoklah yang memulai mempolitisasi ayat tersebut demi ambisi besarnya menjadi DKI-1, bukan umat Islam .

Tak heran bila untuk itu maka Trimoelja yang nyata-nyata sudah gagal paham memaknai perjuangan umat Islam dalam membela agamanya itu, bersumpah akan menghancurkan kredibilitas para saksi. Dan sumpah itu terbukti dengan bukti-bukti di atas, dengan tidak relevannya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam persidangan.

https://nasional.tempo.co/read/news/2017/01/09/063834114/pengacara-ahok-kami-akan-hancurkan-kredibilitas-saksi

http://www.panjimas.com/citizens/2017/01/16/temuan-tim-advokasi-gnpf-mui-kriminalisasi-para-saksi-perkara-penistaan-agama/

Tak hanya pengacara Ahok, para penguasa negri yang tampak ingin melindungi Ahok itu, terus berusaha keras mencari-cari kesalahan para ketua maupun pembina  GNPF dan MUI. Habib Riziek, Pembina sekaligus ketua FPI itu dituduh dengan berbagai pengaduan yang mengada-ada, diantaranya tuduhan pelecehan Pancasila.

http://suaranasional.com/2016/10/29/dituding-lecehkan-pancasila-ini-jawaban-skakmat-habib-rizieq-ke-sukmawati/

Sementara ustad Bahtiar Nasir ketua GNPF dituduh sebagai kaki tangan ISIS hanya karena rekening yayasan yang rutin menyalurkan  bantuan zakat infak sodaqoh umat Islam untuk rakyat Suriah yang menjadi korban kekejaman pemerintahan Syiah Bashar Assad. Dan pemicunya tak lain adalah infak yang terkumpul ketika demo Aki Bela Islam 212 yang mencapai 3.5 milyar.

“Silahkan saja di cek. Saya sudah meminta pihak bank untuk mem-print dana yang masuk, yang jumlahnya 700 ribu lembar itu. Ada yang transfer 20 ribu, 50 ribu, 100 ribu hingga yang jutaan. Jadi g usah khawatir infak antum yang hanya 20 ribu semua tercatat rapi”, ujar ustad Bahtiar Nasir mengomentari asal dana ABI sambil tersenyum simpul dan disambut takbir jamaah yang berkumpul di masjid Al-Azhar untuk shalat Subuh berjamaah Minggu 15 januari kemarin.

tengku-zulkarnaen-dicegatJuga MUI yang terus dikriminalisasi dengan bermacam tuduhan tak berdasar, tak hanya dengan menyebar fitnah tapi juga tindakan anarkis. Contohnya Tengku Zulkarnaen, sekjen MUI, yang disambut sekelompok orang bersenjata tradisional di bawah tangga pesawat begitu pesawat yang membawa ulama ini mendarat di bandara Sintang, Kalimantan Barat. Sungguh ajaib, bagaimana mungkin sekelompok orang bersenjata bisa masuk ke sebuah bandara bahkan hingga tangga pesawat?? Dimana polisi dan petugas bandara yang biasanya dengan ketat memeriksa orang yang akan masuk bandara???

http://www.panjimas.com/news/2017/01/12/astaghfirullah-wasekjen-mui-diancam-massa-dayak-ini-tanah-kafir-jangan-diinjak/

Demikian pula para anggota FPI yang sedang mengawal sidang Habib Riziek di pengadilan Mapolda Jawa Barat. Sejak awal persidangan mereka memang sudah di provokasi oleh GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) sebuah ormas binaan Irjen Anton Charliyan, kapolda Jabar. ( Padahal ada peraturan polisi/aparat negara tidak diperbolehkan berada/memayungi suatu ormas). Namun mereka tetap bertahan tidak mau melayani provokasi ormas yang menginginkan agar Habib ditahan itu.

Namun di akhir persidangan, ketika para pendukung Habib sudah membubarkan diri, beberapa anggota FPI diserang oleh anggota GMBI hingga ada yang terluka di kepala bahkan ada yang tak sadarkan diri hingga semalaman. Mereka juga memukuli kendaraan FPI yang sedang terjebak macet hingga kaca-kacanya pecah. Ironisnya hal itu terjadi di depan kantor polisi hingga terkesan polisi memang sengaja mendiamkannya.

http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/01/13/109571/sejumlah-anggota-fpi-diserang-anggota-ormas-seusai-kawal-pemeriksaan-habib-rizieq.html

demo-1601-di-depan-alazhardemo-1601-di-dpn-mabesPada peringatan Maulud Nabi di masjid Al-Azhar Jumat 13 Januari, Habib menuturkan tampaknya dirinyalah yang sebenarnya ingin dijadikan sasaran. Namun sebagai orang yang taat hukum yang dilakukan pimpinan FPI itu hanyalah mengajak kaum Muslimin agar siang ini, Senin 16 Januari, untuk long march dari masjid Al-Azhar menuju mabes Polri dengan tujuan agar kapolda Jabar dicopot dari jabatannya karena telah menyalah-gunakan wewenang..

Sementara FUIB ( Forum Umat Islam Bersatu ) Sulawesi Selatan menyampaikan pernyataan sikap atas peristiwa pelecehan dan penyerangan terhadap kaum muslimin, khususnya anggota FPI di Bandung  dan penghadangan ulama di Bandara Sintang , Kalimantan Barat, diantaranya agar kepolisian mencopot jabatan kapolda Jawa Barat dan kapolda Kalimantan Barat.

http://www.panjimas.com/news/2017/01/15/fuib-sulsel-insiden-kalbar-dan-jabar-bukti-konspirasi-bungkam-kebangkitan-islam/

Anehnya, kantor berita mainstream diantaranya CNN malah memberitakan hal yang sebaliknya !

http://www.dakwahmedia.net/2017/01/cnn-plintir-fpi-serang-gmbi-fakta-gmbi.html

Berikut rekamannya, silahkan dinilai siapa sebenarnya yang anarkis?

https://www.youtube.com/watch?v=FJCE9dJYnVU

Menjadi pertanyaan besar mengapa demi seorang Ahok pemerintah tega mendzalimi para ulama dan umat Islam yang merupakan mayoritas negri tercinta ini. Ada apa gerangan dengan Ahok? Siapa sebenarnya kekuatan di belakang orang no 1 DKI yang begitu ngotot mempertahankan proyek raksasa reklamasi teluk Jakarta yang hanya menguntungkan segelintir orang dan jelas-jelas bertentangan dengan rekomendasi kajian KKP ( Kementrian Kelautan dan Perikanan) dibawah pimpinan mentri Susi Pudjiastuti??

http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/17/01/16/ojv8ij382-ahok-dikecam-karena-terbitkan-pergub-reklamasi-tabrak-aturan

Sungguh umat Islam nampaknya sedang mengalam ujian berat. Ironisnya, tidak hanya dari luar namun juga dari dalam, itulah kaum munafikun, yaitu mereka yang mengaku Islam tapi prilakunya suka memojokkan kaumnya sendiri, benar-benar menyakitkan …

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):138-139).

Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan, “Orang-orang munafik itu akan terus ada sepanjang masa. Apalagi tatkala kekuatan Islam nampak dan mereka benar-benar tidak bisa mengalahkannya. Saat itulah mereka memeluk Islam dengan tujuan memasang makar buat Islam dan orang-orang Islam dalam hati mereka.”

Semakin jelas bahwa peristiwa pelecehan Ahok terhadap ayat 51 surat Al-Maidah di kepulauan Seribu September lalu adalah skenario Allah untuk memperlihatkan sekaligus memisahkan mana Muslim sejati dan mana Munafikun. Na’udzubillah min dzalik.

Wallahu’alam bish shawab.

Jakarta, 16 Januari 2017.

Vien AM.

Read Full Post »