Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2018

Makna Barakah

BarakAllah-CalligraphyKita tentu sering mendengar kata “Barakallah”. Kata ini diucapkan biasanya ketika ada teman, saudara atau handai taulan yang mendapat kebahagiaan dan kesenangan. Ketika menerima hadiah misalnya.

Barakallaah adalah kalimat yang berasal dari Bahasa Arab, kalimat tersebut terdiri dari dua kata yaitu “Baraka” dan “Allah”.  Kata “baaraka” memiliki arti berkah/barokah. Jadi  “Barakallah” artinya adalah “Semoga Allah memberkahi”. Pengucapan kata yang sebenarnya merupakan doa ini lazimnya diiringi dengan kata “fiika” (untuk perempuan), “fiiki” (untuk laki-laki), atau “fiikum“(untuk lebih dari 1 orang laki-laki dan perempuan).

Para sahabat di zaman nabi biasa mengucapkan kata “Barakallah” sebagaimana yang dikisahkan umirul mukminin Aisyah ra yang diriwayat Imam An-Nasa’i sebagai berikut:

“Aku menghadiahkan seekor domba kepada Rasulullah SAW. Maka Beliau memerintahkan, “Bagi dua-lah domba tersebut (untuk disedekahkan)”. (Maka pembantu beliau pun mengirimkan daging domba tersebut,) Dan telah menjadi suatu kebiasaan bagi Aisyah ra jika pembantunya telah pulang dari melakukan hal yang semisal itu, maka ia akan menanyakan, “Apa yang mereka katakan (setelah kita beri)?” Pelayanannya menjawab, “Baarakallaah Fiikum”. Maka ‘Aisyah pun mengatakan, “Wa Fiihim Baarakallaah”, kita telah membalas do’a mereka dengan do’a yang semisal dan tetap bagi kita pahala atas perbuatan baik yang telah kita lakukan (memberi hadiah daging domba).

Itu sebabnya ketika seseorang yang mengucapkan “ Barakallah” maka jawaban yang paling tepat adalah “ Wa fiikum barakallah”, yang artinya “dan kepadamu juga berkah Allah”. Begitulah yang diajarkan Rasulullah, saling mendoakan. Bukankah sesama Muslim adalah bersaudara?  .

Namun  apa sebenarnya arti “Berkah” itu sendiri? Apakah ia harus selalu yang sifatnya menguntungkan dan menyenangkan seperti rezeki yang banyak, kesehatan yang baik, panjang umur atau anak-anak yang pintar misalnya?

Kalau memang ya, lalu bagaimana dengan nabi Sulaiman yang diuji dengan sakit tergeletak lemah di kursinya, nabi Ayyub yang diuji dengan sakit keras hingga istri dan anak-anaknya meninggalkannya, atau nabi Yunus yang ditelan ikan hiu??

Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat”.(Terjemah QS. Shad (38):34).

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Terjemah Shad (38):41-43).

“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit”.(Terjemah QS. As-Shaffat (37):139-144).

Sakit, mala petaka, kekurangan rezeki dan yang semacamnya sejatinya adalah cobaan dari Allah swt untuk mengetahui seberapa besar sabar dan syukur yang dimiliki seorang hamba.

Dari contoh kisah di atas dapat kita lihat pertolongan Allah swt datang bukan hanya karena mereka adalah para nabi, melainkan juga karena kesabaran dan taubat yang mereka lakukan. Demikian pula kita sebagai manusia biasa. Sakit dll bukanlah siksaan melainkan juga berkah sebagaimana kesehatan yang baik dan rezeki berlimpah yang digunakan untuk mentaati-Nya.

Kisah Tsa’labah seorang yang awalnya hidup dalam kemiskinan adalah sebuah contoh nyata yang harus selalu kita ingat. Suatu hari Tsa’labah yang sudah bosan hidup dalam keadaan miskin memohon agar Rasulullah mau mendoakannya menjadi orang kaya. Rasulullah mulanya menolak. Namun karena Tsa’labah terus merengek akhirnya Rasulullahpun mengabulkannya seraya memberinya modal 2 ekor kambing untuk modal awal.

Dalam waktu singkat kambing Tsa’labahpun terus berkembang-biak hingga ia harus pindah ke luar Madinah untuk mencari lahan yang luas. Akibatnya Tsa’labah yang tadinya rajin shalat 5 waktu di masjid Nabawi bersama Rasulullah dan para sahabat mulai jarang melakukannya. Puncaknya ia menolak membayar zakat yang kini menjadi wajib baginya. Ia bahkan marah-marah dan menuduh petugas zakat yang tak lain adalah para sahabat dengan tuduhan ingin memerasnya.

Tentu saja Rasulullah sangat kecewa melihat prilaku buruk Tsa’labah. Beliau adukan hal tersebut kepada Sang Pemilik. Tak lama Tsa’labah menyadari kesalahannya dan memohon agar Rasulullah mau menerima zakatnya. Namun Rasulullah menolaknya juga khalifah Abu Bakar dan Umar sepeninggal Rasulullah. Akhirnya Tsa’labah wafat dalam keadaan menyesal seumur hidup dan kambingnyapun semua mati bersamanya. Tidak ada keberkahan dalam seluruh harta dan kekayaan yang dimiliki dan diimpikannya  Na’udzubillah min dzalik.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Qona’ah dan selalu merasa cukup dengan harta yang dicari akan senantiasa mendatangkan keberkahan. Sedangkan mencari harta dengan ketamakan, maka seperti itu tidak mendatangkan keberkahan dan keberkahan pun akan sirna.”

Dengan kata lain berkah adalah segala hal yang mampu membuat kita dekat kepada Sang Khalik. Rezeki yang berkah adalah rezeki yang digunakan di jalan Allah, untuk membantu anak-anak yatim piatu, orang miskin dll. Kalaupun rezeki hendak digunakan untuk berjalan-jalan ke luar negri misalnya, selama hal tersebut dapat membuat kita lebih bersyukur, mengagumi ciptaan-Nya, lebih mengenal sifat-sifat-Nya serta membuat kita lebih takwa yaitu dengan menjauhi larangan dan mengerjakan perintah-Nya, itulah berkah.

Begitu pula sakit dan sehat. Berkah itu tidak selalu sehat dan panjang umur. Ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya, layaknya sahabat Mus’ab bin Umair dkk yang gugur syahid di medan jihad.

Tanah yang berkah itu bukan yang panoramanya indah. Makkah dimana Ka’bah berada di dalamnya, adalah contohnya. Tanah tersebut memang tandus tapi keutamaannya dihadapan Allah tidak tertandingi tanah manapun.

Makanan yang berkah bukan yang komposisi gizinya lengkap melainkan makanan yang mampu mendorong pemakannya menjadi lebih taat setelah mengkonsumsinya. Demikian pula ilmu. Ilmu yg berkah itu bukan yg banyak riwayat dan catatan kakinya, melainkan yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya beramal dan berjuang untuk agama Allah

Istri yang cantik, suami yang gagah dan sukses, anak-anak yang lucu, pintar bahkan bergelar S2 atau S3 ketika dewasa bukanlah berkah bila tidak mau mentaati Rabb yang telah menciptakan mereka.  Sama halnya dengan jabatan. Jabatan yang tidak membuat seseorang menjadi dekat pada-Nya adalah bukan berkah melainkan petaka.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Terjemah QS. Al A’rof(7):96).

Semoga Allah senantiasa melimpahkan kita berbagai keberkahan. Amin Yaa Mujibbas Saailin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Juni 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Abu Dzar al Ghifari RA, yang nama aslinya Jundub bin Janadah berasal dari Bani Ghifar yang tinggal jauh dari kota Makkah, tetapi ia merupakan kelompok sahabat yang pertama memeluk Islam (as sabiqunal awwalun). Ia termasuk orang yang menentang pemujaan berhala pada jaman jahiliah, karena itu ia langsung tertarik ketika mendengar kabar tentang seorang nabi yang mencela berhala dan para pemujanya.

Ia merupakan orang dewasa ke lima atau ke enam yang memeluk Islam. Ketika ia menceritakan kepada Nabi SAW bahwa ia berasal dari Ghifar, beliau tersenyum penuh kekaguman. Bani Ghifar terkenal sebagai perampok yang suka mencegat kafilah dagang di belantara padang pasir. Mereka sangat ahli melakukan perjalanan di malam hari, gelap gulita bukan halangan bagi mereka, karena itu kabilah ini sangat ditakuti oleh kafilah dagang. Nabi SAW makin takjub ketika mengetahui bahwa Abu Dzar datang sendirian hanya untuk mendengar dan mengikuti risalah Islam yang beliau bawa, yang sebenarnya baru didakwahkan secara sembunyi-sembunyi. Beliau hanya bisa berkata, “Sungguh Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya…”

Setelah keislamannya, beliau menyarankan agar ia menyembunyikan keimanannya dan kembali kepada kaumnya sampai waktunya Allah memberikan kemenangan. Karena sebagai perantau yang sendirian, akan sangat berbahaya jika diketahui ia telah memeluk agama baru yang menentang penyembahan berhala. Ia bisa memahami saran beliau tersebut, tetapi jiwa seorang Ghifar yang pantang takut dan menyerah seolah memberontak, ia berkata, “Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, aku takkan pulang sebelum meneriakkan keislamanku di Masjid.”

Ia berjalan ke Masjidil Haram, dan di sana ia meneriakkan syahadat sekeras-kerasnya. Itulah teriakan dan lantunan keras syahadat yang pertama di masjidil haram, dan mungkin juga yang pertama di bumi ini. Tak ayal lagi orang-orang musyrik merubung dan memukulinya hingga ia jatuh pingsan.

Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi SAW yang mendengar kabar tersebut segera datang ke masjid, tetapi melihat kondisinya, tidak mudah melepaskan Abu Dzar dari kemarahan massa, karena itu ia berkata diplomatis, “Wahai orang Quraisy, dia adalah orang dari Kabilah Bani Ghifar. Dan kalian semua adalah kaum pedagang yang selalu melewati daerah mereka. Apa jadinya jika mereka tahu kalian telah menyiksa anggota keluarganya??”

Merekapun melepaskannya. Tetapi pada hari berikutnya, ketika Abu Dzar melihat dua wanita mengelilingi berhala Usaf dan Na-ilah sambil bermohon, lagi-lagi jiwa tauhidnya terusik. Ia mencegat dua wanita tersebut dan menghina dua berhala itu sejadi-jadinya, sehingga dua wanita itu menjerit ketakutan. Tak pelak orang-orang musyrik berkumpul dan sekali lagi menghajarnya beramai-ramai hingga pingsan. Melihat kejadian tersebut, sekali lagi Rasulullah SAW memerintahkannya untuk segera pulang ke kabilahnya.

Kembali ke daerahnya, Abu Dzar mendakwahkan risalah Islam kepada kaumnya, sehingga sedikit demi sedikit mereka memeluk Islam. Ia juga mendakwahkan kepada kabilah tetangganya, Bani Aslam, sehingga cahaya hidayah menerangi kabilah ini. Beberapa tahun kemudian ketika Nabi SAW sudah tinggal di Madinah, serombongan besar manusia datang dengan suara gemuruh, kalau tidaklah gema takbir yang terdengar, pastilah mereka mengira sedang diserang musuh. Ternyata mereka adalah Kabilah Bani Ghifar dan Bani Aslam, dua kabilah yang terkenal jadi momok perampokan kafilah dagang di belantara padang pasir, berkamuflase menjadi raksasa pembela kebenaran dan penebar kebaikan. Dan hidayah Allah tersebut datang melalui tangan Abu Dzar.

Ketika dua rombongan besar ini menghadap Nabi SAW, beliau berkaca-kaca diliputi keharuan, suka cita dan rasa kasih berlimpah. Beliau bersabda kepada Kabilah Bani Ghifar, “Ghifaarun ghafarallahu laha….” (Suku Ghifar telah diampuni oleh Allah).

Kemudian beliau berpaling kepada Kabilah Bani Aslam sambil bersabda, “Wa Aslamu Saalamahallahu….” (Suku Aslam telah diterima dengan selamat (damai) oleh Allah).

Pada perang Tabuk yang terkenal dengan nama Jaisyul Usrah (Pasukan di masa sulit), beberapa orang tertinggal dari rombongan besar Rasulullah SAW. Dan ketika ini dilaporkan, beliau bersabda, “Biarkanlah! Andaikan ia berguna, tentu akan disusulkan oleh Allah kepada kalian. Dan jika tidak, Allah telah membebaskan kalian dari dirinya.”

Salah seorang yang tertinggal tersebut adalah Abu Dzar. Keledai yang ditungganginya sangat lelah sehingga tidak bisa bergerak lagi. Berbagai cara dicoba Abu Dzar agar keledainya berjalan lagi tetapi tidak berhasil, bahkan akhirnya mati.

Sementara itu rombongan Nabi SAW sedang beristirahat ketika pagi tiba. Seorang sahabat melaporkan ada satu sosok terlihat berjalan sendiri di jauh di ufuk. Nabi SAW bersabda, “Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar…!!”

Setelah dekat dan sampai di hadapan Nabi SAW, ternyata memang Abu Dzar-lah orangnya. Ia memanggul barang dan perbekalan di punggungnya dan meneruskan perjalanan menyusul rombongan Nabi SAW dengan berjalan kaki. Walau jelas terlihat kelelahannya, tetapi wajahnya bersinar gembira bisa bertemu dengan Nabi SAW dan anggota pasukan lainnya. Beliau menatapnya penuh takjub, kemudian dengan senyum yang santun dan penuh kasih, beliau bersabda, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada Abu Dzar, ia berjalan sendirian, ia meninggal sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian…”

Sebuah bentuk pujian, atau sebuah ramalan, atau sebuah bentuk rasa kasihan, atau apapun itu, hanyalah sebuah gambaran tentang apa yang telah dan akan dijalani oleh Abu Dzar, bahkan pada hari kebangkitan nanti.

Dari sejak pertama memeluk Islam, keberaniannya mengeksplorasi keimanannya di saat dan tempat yang bisa membahayakan dirinya, Nabi SAW langsung mengetahui watak dan karakter Abu Dzar, apalagi dengan kondisi lingkungan Bani Ghifar yang mendidiknya. Suatu ketika Nabi SAW bersabda kepadanya, “Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu jika menjumpai para pembesar yang mengambil upeti untuk keperluan pribadinya.”

Dengan tegas Abu Dzar menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, aku akan luruskan mereka dengan pedangku!”

Beliau tersenyum, kemudian bersabda, “Maukah aku beri jalan yang lebih baik dari itu…”

Abu Dzar mengangguk, Nabi SAW bersabda, “Bersabarlah engkau, sampai engkau menemui aku…!!”

Inilah gambaran situasi yang akan dihadapi oleh Abu Dzar sepeninggal Nabi SAW. Tetapi di masa khalifah Abu Bakar dan Umar, tidak ada sesuatu yang mengusik kehidupan Abu Dzar, situasi tidak jauh berbeda seperti masa hidupnya Nabi SAW.

Setelah wafatnya Umar bin Khaththab, yang memang digelari Nabi SAW dengan istilah “Pintunya Fitnah” atau “Gemboknya Fitnah”, sedikit demi sedikit fitnah duniawiah menjalari umat Islam. Apalagi wilayah Islam makin luas dan harta kekayaan melimpah ruah. Gaya hidup Romawi dan Persi sedikit demi sedikit diadopsi oleh para penguasa muslim. Jurang pemisah antara kaum fakir miskin dan penguasa atau hartawan mulai terbentuk. Pada keadaan seperti inilah jiwa Abu Dzar terusik. Abu Dzar menerawang jauh ke belakang, teringat akan waktu bersama Nabi SAW dan apa yang beliau sabdakan tentang dirinya. Beliau sudah mewasiatkan dirinya untuk bersabar dan tidak menggunakan pedangnya. Tetapi jiwa perjuangan untuk menegakkan kebenaran seakan tidak bisa terbendung. “Nabi SAW melarang aku untuk meluruskan mereka dengan pedang, tetapi beliau tidak pernah melarang untuk meluruskan dengan lidah dan nasihat,” begitu pikirnya.

Maka dimulailah babak baru perjuangannya. Abu Dzar mendatangi pusat-pusat kekuasaan dan kekayaan, para penguasa dan hartawan, khususnya yang tidak lagi meneladani Nabi SAW dalam mengemban amanat harta dan jabatan. Dalam menyampaikan kebenaran, lidahnya tak kalah tajamnya dengan pedangnya. Ia mengutip Surah at Taubah ayat 34-35, dan merangkaikannya menjadi syair singkat yang segera saja menjadi simbol perjuangannya, “Berilah kabar gembira para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak, mereka akan diseterika dengan seterika api neraka, menyeterika kening dan pinggang mereka di hari kiamat….”

Segera saja Abu Dzar mendapat sambutan hangat di seluruh penjuru negeri yang dikunjunginya. Banyak sekali orang yang bergabung dan berdiri di belakangnya untuk mendukung perjuangannya. Kalau orang Islam biasa yang mengucapkan kalimat tersebut di hadapan penguasa dan para hartawan, tentulah tidak begitu besar pengaruhnya. Tetapi seorang sahabat sekaliber Abu Dzar, yang berdiri kokoh menghadapi penguasa dan hartawan, dengan tegas dan tanpa gentar sedikitpun menasehati mereka, seolah memunculkan kutub baru, kutub kaum tertindas dan teraniaya dalam negeri Islam yang begitu kaya dan melimpah.

Inilah rahasianya, kenapa Nabi SAW dalam menasehatinya langsung pada titik tertinggi, “Bersabarlah engkau, sampai engkau menemui aku…!!”

Dan beliau tidak menasehatinya untuk berjuang dengan lisannya. Kutub baru yang terjadi karena perjuangannya bisa menimbulkan fitnah baru yang lebih besar daripada fitnah yang telah ada, yakni perpecahan umat. Dan Abu Dzar menyadari satu hal, tidak semua orang tulus dan murni berjuang untuk menegakkan kalimat dan agama Allah. Ada sebagian orang yang memanfaatkan perjuangannya menegakkan kebenaran, untuk memenuhi ambisi dan keinginan nafsunya. Maka ketika Khalifah Utsman memanggilnya untuk kembali ke Madinah, ia segera memenuhinya.

Tiba di Madinah, Khalifah Utsman memintanya dengan halus untuk tinggal bersamanya, segala kebutuhannya akan dipenuhi. Tentu saja tawaran seperti itu ditolaknya, ia hanya meminta izin untuk mengasingkan diri di pedalaman padang pasir di Rabadzah. Ia ingin melaksanakan wasiat Nabi SAW kepadanya untuk bersabar di tempat terpencil, sehingga tidak terganggu dengan fitnah-fitnah yang mulai menyebar. Khalifah Utsman mengijinkannya.

Sebagian riwayat menyebutkan, Khalifah Utsman-lah yang memberikan pilihan kepadanya, tinggal di Madinah dengan segela kebutuhannya dicukupi, atau ia akan diasingkan ke pedalaman Rabadzah. Tujuan jelas, agar ia tidak lagi berkeliling wilayah Islam mendakwahi para penguasa dan hartawan. Dan Abu Dzar sebagai seorang muslim sejati tetap taat kepada Utsman sebagai Amirul Mukminin, dan mengambil pilihan ke dua.

Abu Dzar tinggal di Rabadzah bersama istri, anak dan pembantunya yang sudah tua, dan beberapa ekor unta sebagai sumber kehidupannya. Suatu ketika datang seseorang dari Bani Sulaim menemuinya dan berkata “Saya ingin tinggal bersama engkau, agar aku dapat mendalami pengetahuan tentang perintah Allah, dan juga mengenal sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah SAW. Saya bersedia membantu hambamu yang sudah tua itu dalam memelihara onta-ontamu!”

“Aku tidak mau tinggal dengan orang yang tidak menuruti kehendakku,” Kata Abu Dzar, “Jika kamu berjanji akan melakukan apa yang suruh, aku akan mengijinkanmu tinggal bersamaku.”

“Bagaimana cara menuruti kehendak-kehendakmu?” Tanya orang Bani Sulaim itu.

“Apabila aku menyuruh membelanjakan hartaku, hendaknya engkau membelanjakan yang terbaik dari hartaku itu.” Kata Abu Dzar. Orang itu menyetujuinya, dan ia tinggal bersama Abu Dzar sambil menggembalakan unta-untanya.

Suatu ketika ada kabar bahwa ada sekelompok orang-orang miskin yang kehabisan bekal makanan, berkemah di dekat mata air. Abu Dzar memerintahkan pembantunya dari bani Sulaim untuk menyembelih satu ekor unta buat mereka. Ia memilih yang terbaik dari unta yang dimiliki Abu Dzar, dan ternyata ada dua, salah satunya tampak lebih bagus untuk ditunggangi. Karena dimaksudkan untuk bekal makanan dan akan disembelih, ia memilih unta yang satunya kemudian dibawa menghadap Abu Dzar. Ketika melihat unta tersebut, Abu Dzar berkata, “Engkau mengkhianati janjimu dulu?”

Orang tersebut sadar apa yang dimaksudkan Abu Dzar, ia membawa kembali unta tersebut dan menukarnya dengan unta yang lebih bagus untuk ditunggangi. Abu Dzar menyuruh dua pembantunya menyembelih unta tersebut dan membagikan dagingnya. Untuk keluarganya, sama banyaknya dengan keluarga dalam kelompok orang miskin tersebut.

Saat akhir kehidupannya, ketika Abu Dzar mengalami sakaratul maut, istri yang menungguinya menangis. Ia berkata, “Apa yang engkau tangisi, padahal maut itu pasti datang??”

“Bukan itu,” Kata istrinya, “Engkau meninggal, padahal tidak ada kain untuk mengkafani jenazahmu!!”

Abu Dzar tersenyum sambil matanya menerawang jauh, seolah mengingat sesuatu. Ia berkata, “Aku ingat, junjunganku, Rasulullah SAW berkata pada sekelompok sahabat termasuk aku, ‘Ada salah satu dari kalian yang meninggal di padang pasir yang liar dan terpencil, yang akan disaksikan oleh serombongan orang beriman.’ Semua sahabat yang hadir di majelis tersebut telah meninggal syahid atau di hadapan kaum muslimin, kecuali aku. Nah, kalau aku telah meninggal, perhatikanlah jalan (riwayat lain, letakkan aku di sisi jalan), agar rombongan orang beriman itu melihatku. Demi Allah aku tidak bohong, dan tidak pula dibohongi (oleh Nabi SAW)…”

Ternyata benar, tidak lama setelah kewafatannya, sebuah kafilah lewat tak jauh dari tempatnya, dan kemudian membelokkan arah menuju sosok mayat yang sedang ditangisi oleh dua orang, istri dan anak Abu Dzar, berada. Sahabat Abdullah bin Mas’ud yang memimpin rombongan tersebut langsung mengenalinya sebagai Abu Dzar. Ia berurai air mata melihat keadaan sahabatnya tersebut, sambil berkata, “Benarlah Rasulullah SAW, anda berjalan seorang diri, anda meninggal seorang diri, dan anda akan dibangkitkan pula seorang diri…”

Sebagian riwayat menyebutkan, ketika kafilah yang dipimpin Abdullah bin Mas’ud itu sampai di tempatnya, ia masih hidup dalam keadaan sakaratul maut. Ia berkata kepada mereka, “..seandainya aku dan istriku mempunyai kain, tentu aku ingin dikafani dengan kainku atau milik istriku. Tetapi aku minta dengan nama Allah, janganlah seseorang yang pernah menjabat gubernur, walikota, atau penguasa apapun yang mengafani aku!!”

Ternyata hampir semua anggota kafilah tersebut pernah memangku jabatan yang disebutkannya, kecuali satu orang sahabat Anshar. Dia berkata, “Wahai pamanku, akulah yang tidak pernah menjabat seperti yang engkau sebutkan, aku yang akan mengafani jenazahmu dengan sorbanku dan dua bajuku yang ditenun sendiri oleh ibuku!!”

“Hanya engkau yang boleh mengafani jenazahku,” Kata Abu Dzar.

Setelah Abu Dzar wafat, mereka merawat jenazahnya dan sahabat Anshar tadi yang mengafaninya. Setelah itu mereka pulang ke Madinah dengan gembira, terutama sahabat Anshar tersebut, karena mereka telah masuk dalam bagian dari realisasi sabda Nabi SAW seperti yang disampaikan Abu Dzar. Dan kegembiraan apalagi yang lebih besar, bahwa Nabi SAW menyebut dan menjamin mereka sebagai “rombongan orang beriman.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Juni 2018.

Vien AM.

Diambil dari https://kisahsahabat-nabi.blogspot.com/2017/02/abu-dzar-al-ghifari-ra.html

 

Read Full Post »