Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2018

Khusyuk Dan Makrifatullah.

Pada suatu kajian seorang jamaah bertanya “ Mengapa saya sulit khusyuk dalam shalat uztad ya?”. Sang uztad lalu menanyakan kepada jamaah yang bertanya tersebut, apakah ia mempunyai sahabat. Ketika dijawab “punya”, sang uztad kembali mengajukan beberapa pertanyaan. Diantaranya, apakah ia mau membantu sahabatnya ketika sang sahabat dalam kesulitan. Katakan, meminjamkan uang dalam jumlah cukup besar, dengan penuh kerelaan.

Asma-ul-HusnaSebaliknya bila yang meminta pertolongan yang sama bukan sahabat yang ia kenal baik, apakah ia mau menolongnya dengan ikhlas? Intinya, jawaban sang uztad, shalat hanya bisa khusyuk bila kita benar-benar mengenal Allah swt, Sang Pencipta;  sifat serta nama-nama-Nya (Asma’ul Husna). Itulah Makrifatullah.

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib (Al-Ghoib) dan yang nyata ( Asy-Syahadah), Dia-lah Yang Maha Pemurah (Ar-Rahman) lagi Maha Penyayang (Ar-Rahim). Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja (Al-Malik), Yang Maha Suci (Al-Quddus), Yang Maha Sejahtera (As-Salaam), Yang Mengaruniakan keamanan (Al-Mukmin), Yang Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa (Al-Aziz), Yang Maha Kuasa (Al- Jabbar), Yang Memiliki segala keagungan (Al-Mutakabbir), Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan (Al-Kholiq), Yang Mengadakan (Al-Bari), Yang Membentuk Rupa (Al-Mushowwir), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik (Asma’ul Husna). Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al-Hakim)”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr (59):22-24).

Sebagai contoh, ketika kita memakai barang pemberian seorang teman, otomatis tentu kita akan teringat teman yang memberi barang  tersebut bukan? Itulah salah sebab mengapa Allah swt sangat menyukai orang yang pandai ber-terimakasih.  Orang yang pandai berterima-kasih adalah mereka yang tidak mudah melupakan jasa dan kebaikan orang lain, serta mudah melupakan keburukan orang lain, dan senantiasa berusaha membalas kebaikan yang ditrimanya dengan yang lebih baik. Orang yang seperti itu Allah akan mudahkan urusannya.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak.

Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat.

Dan barangsiapa yang menutup aib orang muslim , niscaya Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya”. (HR. Muslim)

“Iya kalo pemberian orang/teman gampang, kelihatan soalnya … nah kalo Allah ??”, celetuk seorang jamaah.

Allah swt Sang Pencipta memang tidak bisa kita lihat secara kasat mata. Tetapi seperti juga teman yang jauh di mata, yang dengan melihat pemberiannya saja mampu membuat kita teringat padanya, demikian pula Allah.

Ini tampaknya yang harus kita latih, menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Allah Azza wa Jala, yang pada saatnya nanti harus dipertanggung-jawabkan dan dikembalikan, yaitu ketika kita dipanggil untuk menemui-Nya. Seringkali kita lupa bahwa penglihatan, pendengaran dan seluruh yang ada di tubuh kita adalah pinjaman dari Allah swt. Demikian pula air dan sinar matahari yang merupakan kebutuhan pokok manusia. Yang tanpa itu semua mustahil tanaman bisa berbuah, ternak yang biasa kita konsumsi dll bisa hidup.

Simak apa yang dikatakan ayat 71 dan 72 surat Al-Qashah berikut :

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” 

Hati pada awalnya adalah bersih. Namun bila tidak dijaga dengan baik ia akan menjadi kotor dan lama kelamaan akan menjadi penyakit yang sulit untuk dsembuhkan. Iri dan dengki adalah contoh penyakit hati yang sering menyerang manusia. Dan adab pandai berterima-kasih terhadap kebaikan sesama manusia, sekecil apapun, adalah salah satu penangkal mujarab penyakit hati. Dengan bekal hati yang bersih dan sehat kita akan lebih mudah mengenal Sang Khaik. Dan dengan mengenal Allah ( makrifatullah) shalatpun akan lebih khusyuk.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.( Terjemah QS. Al-Baqarah (2): 45-46).

Suatu hari Nabi s.a.w masuk masjid kemudian masuk pula seseorang ke dalam masjid lalu ia shalat dan mengucapkan salam kepada beliau. Nabi saw menjawab salamnya dan bersabda, “Kembalilah dan shalatlah lagi,  sebab kamu belum shalat.” Serta merta orang itu pun shalat lalu mengucapkan salam kepada Nabi saw dan beliau bersabda, “Kembalilah dan shalatlah lagi, sebab kamu belum shalat,” tiga kali. Orang itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa lebih baik dari itu, maka ajarilah aku.” Beliau bersabda, “Apabila kamu hendak shalat beratkbirlah lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an (Al-Fatihah). Lalu ruku’lah sampai kamu benar-benar tenang dalam ruku’, kemudian angkatlah sampai tegak berdiri, lalu sujudlah sampai tenang dalam sujud, kemudian bangunlah sampai kamu tenang dalam duduk, kemudian sujudlah sampai kamu tenang dalam sujud. Lakukan hal itu dalam semua shalatmu.

Maka tak salah bila Al-Qurthubi mengatakan bahwa khusyuk adalah keadaan di dalam jiwa yang nampak pada anggota badan dalam bentuk ketenangan dan kerendahan. Sementara Qatadah mengatakan bahwa khusyuk adalah rasa takut dan menahan pandangan dalam shalat.

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”. ( Terjemah QS. Al-Muzzammil (73):6).

Jumhur ulama memang sepakat bahwa khusyuk dalam shalat tidak termasuk syarat, rukun atau pun wajib. Khusyuk dalam shalat adalah sunnah, tidak terkait dengan sah dan tidaknya sholat. Namun demikian harus disadari shalat yang dilakukan sekedar untuk menggugurkan kewajiban tidak akan melahirkan Islam yang Rahmatan Lillamiin, Islam yang dapat mendatangkan kebaikan sekaligus mencegah kemungkaran, seperti korupsi dll. Untuk itulah shalat sepantasnya dilakukan secara khusyuk. Meski tidak mudah pastinya melakukan shalat khusyuk seperti shalatnya rasulullah maupun para sahabat.

Diriwayatkan, dalam suatu peperangan, Ali bin Abi Thalib ra, terkena panah pada salah satu anggota tubuhnya. Ketika para sahabat akan mencabut panah tersebut, Ali berkata: ”Keluarkanlah panah ketika aku sedang berada ditengah sholatku”. Alhasil, panahpun berhasil dicabut tanpa sang Amirul Mukminin merasa kesakitan … Allahu Akbar …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 30 Agustus 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Islamophobia ternyata bukan hanya ada sejak tragedi 911 yaitu tragedi diledakkannya menara kembar WTC di New York pada 11 September 2001, dengan tuduhan pelakunya adalah orang Islam. Islamophobia ternyata sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Serangan dan fitnah buruk terhadap citra Islam dilakukan musuh-musuh Islam melalui berbagai cara, diantaranya lewat dunia perfilman. Itulah antara lain contoh dari Perang Pemikiran ( Ghazwl Fikri), perang yang dirancang Barat sebagai ajang balas dendam kekalahan mereka di berbagai perang fisik. Sayangnya sebagian besar kaum Muslimin tidak menyadarinya.

Hampir semua orang pasti tahu dan pernah mendengar cerita legenda Dracula si mahluk jahat  vampire penghisap darah manusia. Cerita Dracula bermula dari novel karya penulis Irlandia bernama Bram Stoker. Novel tersebut ditulis  pada tahun 1881 , dan membutuhkan 7 tahun untuk penyelesaiannya. Selepas itu ntah sudah berapa banyak Hollywood memproduksi film tentang tokoh antagonis itu.  Namun berapa banyakkah orang yang menyadari bahwa tokoh Dracula ternyata nyata, bukan hanya fiktif dan sekedar khayalan alias mengada-ada.

Sebuah buku berjudul  “Dracula, the Impaler Muslims in the Crusades” karya Hyphatia Cneajna, diterjemahkan “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib”,  terbit pada tahun 2009, membongkar hal tersebut. Karya tersebut melengkapi Wikipedia yang mencatat hal tersebut, bahwa nama asli Dracula adalah Vlad Țepeș, seorang raja Wallachia dengan gelar Vlad III.

https://id.wikipedia.org/wiki/Vlad_%C5%A2epe%C5%9F

http://djaloezakie.blogspot.com/2011/01/sultan-mehmed-ii-conqueror-of.html

https://redfox69.wordpress.com/2009/04/26/dracula-pembantai-umat-islam-dalam-perang-salib/

Intinya Dracula alias Vlad III adalah seorang raja Wallachia ( sekarang Rumania) yang memerintah pada tahun 1456-1562 M. Namun kekuasaannya yang hanya 6 tahun itu penuh dengan kekejaman, sesuai dengan gelar “Tepes” yang disandangnya. Tepes artinya adalah penyula, yaitu cara penyiksaan dengan menusukkan kayu sebesar tangan manusia dengan ujung runcing, lewat dubur hingga tembus ke kepala. Astaghfirullahaldzim …

Pada masa kekuasaan ayah Dracula, Vad II, kerajaannya takluk dibawah Sultan Murad II dari kerajaan Turki Ottoman. Sang ayah kemudian mengirim Dracula dan adiknya Randu yang ketika itu masih remaja untuk mengenyam pendidikan di Istanbul. Namun rupanya Dracula yang sejak kecil sudah mempunyai watak tidak baik, diam-diam menaruh dendam pada kerajaan Turki. Randu, sebaliknya, berkawan baik dengan putra mahkota Turki, Sultan Mehmed II, dan akhirnya memeluk Islam.

Sayang kerajaan Turki tidak menyadari kebencian yang ada dalam diri Dracula. Ketika kerajaan Wallachia dikudeta, sang ayah terbunuh, Turki membantu pemulihan kerajaan tersebut, bahkan mengangkat Dracula sebagai rajanya. Itulah awal mala petaka.

Setelah menjadi raja, Dracula tidak hanya menangkapi dan menyula para bangsawan yang telah memberontak dan membunuh ayahnya, namun juga menabuh genderang perang terhadap Turki. 300 ribu tentara Muslim Turki Ottoman menjadi korban kebiadaban “ si penghisap darah” Dracula. Tentu saja bukan dengan cara dihisap darahnya seperti dalam film-film Dracula, namun lewat penyulaan. Ironisnya, hari ini Dracula dielu-elukan sebagai pahlawan oleh rakyat Rumania.

Dracula akhirnya dapat dikalahkan pasukan Sultan Mehmed II. Kepalanya dipancung dan dibawa ke ibu kota kesultanan Turki. Sedangkan tubuhnya yang akhirnya ditemukan pasukannya dikuburkan di sebuah gereja di negaranya.

Anehnya, pada tahun 2014 lalu, beredar film “Dracula, The Untold Story” dengan cerita yang berbeda sama sekali dengan film-film Dracula yang beredar selama ini. Dracula si vampire penghisap darah itu dikisahkan sebagai seorang raja yang harus bertempur melawan seorang sultan jahat. Dan siapa lagi sultan yang dimaksud kalau bukan Sultan Yang Agung, Sultan Mehmed II.

Dari sini terlihat jelas bahwa para musuh Islam tidak pernah merasa malu untuk berbohong, memutar balikkan sejarah, menelan sendiri ludah yang sudah keluar. Bagaimana mungkin tokoh yang selama ini dicitrakan sebagai tokoh yang kejam tiba-tiba berubah 180 derajat. Tampaknya mereka tidak menyangka bahwa tipu daya mereka selama ini, yaitu mencitrakan Dracula sebagai tokoh khayalan, ternyata terbongkar, dengan hadirnya buku karya Hyphatia Cneajna.

Untuk itulah uztad Felix Siauw, uztad muda yang hobby menulis dan sangat menguasai sejarah Turki bereaksi keras. Bersama rekannya iapun mengeluarkan buku tentang Sultan Mehmed II, lengkap dengan kisah Dracula yang memusuhi Sang Sultan.  Hal ini ia lakukan untuk mengantisipasi distrosi sejarah yang semakin liar. Agar umat Islam tidak semakin mudah dibohongi musuh-musuh Islam yang sejak kekalahan mereka dalam Perang Salib senantiasa mencari celah untuk mengalahkan umat Islam. Yaitu lewat Islamophobia ( takut kepada ajaran Islam), Hoax ( Berita bohong yang diulang terus menerus hingga menyerupai kebenaran) dan lewat Perang Pemikiran ( Ghawzl Fikri).

http://hiburan.metrotvnews.com/read/2014/10/21/308162/ustaz-felix-siauw-kritisi-film-dracula-untold

Contoh lain adalah Zombie, film yang identik dengan ketegangan dan terror yang sekarang ini sedang “in”. Intinya film ini menceritakan seramnya hidup di tengah dunia mayat hidup berbentuk seram pemangsa manusia. Yang dengan satu gigitan zombie, orang yang dgigit bakal berubah menjadi zombie juga. Film ini tidak selalu dibuat sebagai film horror, namun kadang juga sebagai film komedi.

Film Zombie pertama tercatat diproduksi pada tahun 1932 oleh sutradara Halperin bersaudara. Sutradara asal Amerika Serikat ini terinspirasi oleh pementasan teater Broadway berjudul “Zombie”.  Namun tahukan kita bahwa di Brazil pada tahun 1643 M pernah berdiri tegak Negara Islam Brazil selama lebih dari 50 tahun ? Dan pendirinya adalah seorang panglima Muslim bernama … Zombie !

Islam masuk Brazilia dalam  beberapa tahapan. Tahapan pertama pada abad 15 melalui budak-budak yang dibawa orang-orang Portugis yang menjajah tanah yang berada di Amerika Selatan ini. Budak-budak tersebut adalah orang-orang Islam dari Afrika utara dan Spanyol korban Reconquista (penaklukan Iberia oleh kerajaan Kristen dari Muslim Moor) tahun 1492M.

http://wartasejarah.blogspot.com/2015/06/sejarah-masuknya-islam-di-brasilbrazil.html

Dari situlah Islam makin lama makin berkembang hingga akhirnya meresahkan penguasa. Maka dengan segala macam cara perkembangan Islampun dihentikan. Tapi beberapa puluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 1643M, ketika penguasa merasa Islam telah punah, tiba-tiba muncul seorang gagah berani yang berhasil membangkitkan kembali ajaran yang nyaris musnah tersebut. Itulah Zombie, yang akhirnya berhasil menegakkan Negara Islam Brazilia.

Sayang setelah 50 tahun berlalu negara yang susah payah didirikan itu mengalami kehancuran. Umat Islam dipaksa mengganti keyakinan mereka atau dibunuh. Bahkan nama Zombiepun dihapuskan dari catatan sejarah. Dan baru terungkap dengan terbitnya tulisan “Jihad Al-Turbani” berjudul “Miatu min Udzoma” ummah al-Islam Ghoiru Majro at-Tarikh. Tulisan tersebut dikeluarkan sebagai reaksi atas munculnya buku tentang 100 orang berpengaruh di dunia karya orientalis.

http://www.tarbiyah.net/2015/06/ternyata-zombie-adalah-pahlawan-islam.html

Anehnya, muncul pula berita yang mengatakan bahwa Zombie pahlawan Islam adalah hoax. Dan mengatakan kalaupun benar hanyalah sebuah kebetulan. Persis seperti beredarnya film “Dracula, The Untold Story” yang berusaha memutar balikan fakta.

Pertempuran antara yang hak dan yang bathil seperti perang Salib yang meletus pertama kali pada tahun 1095M, memang akan terus berlanjut hingga akhir zaman nanti. Hal tersebut sudah menjadi ketetapan Allah Azza wa Jalla sebagai kelanjutan perseteruan antara Iblis sebagai kakek moyang bangsa jin dan nabi Adam as sebagai kakek moyang bangsa manusia yang waktu itu masih hidup di alam surga.

“Allah berfirman: “Keluarlah kamu ( Iblis) dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka ( manusia) mengikuti kamu (Iblis), benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”. ( Terjemah QS. Al-A’raf(7):18).

Media komunikasi seperti koran, majalah, radio, televise, dan film terbukti ampuh menyebarkan aneka berita kepada orang banyak, baik berita yang benar maupun yang tidak benar, alias hoax atau kebohongan. Itu sebabnya penguasaan terhadap media komunikasi selalu menjadi rebutan. Siapa yang berhasil menguasainya ialah yang menang. Ironisnya, saat ini Yahudilah yang memegang kunci tersebut. Hampir semua media komunikasi mereka kuasai hingga kaum Muslimin tidak tahu persis mana berita yang benar dan mana yang hoax.

Contohnya antara lain yaitu tadi, tragedi 911. Meskipun tidak terbukti bahwa Muslim adalah dalang tragedi, sebaliknya bahkan sejumlah penelitian canggih membuktikan bahwa gedung WTC runtuh bukan akibat ditabrak pesawat seperti yang dituduhkan, melainkan oleh sejumlah bom yang sengaja dipasang di kaki gedung, tuduhan tetap saja melekat kuat bahwa Islamlah pelakunya.

Rasanya cukup sudah kita di bully dengan berita-berita hoax yang makin lama makin menyakitkan. Sudah tiba waktunya kita harus keluar dan memenangkan pertempuran. Sesama Muslim adalah bersaudara, mari kita satukan dan rapatkan barisan. Tidak perlu memperbesar dan memperlebar perbedaan pendapat diantara kita. Jangan biarkan musuh-musuh Islam menari-nari dan mentertawakan kita sementara kita hanya sibuk dengan perbedaan yang tidak mendasar, hingga terus terpuruk hingga detik ini. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berjama’ah (bersatu) adalah rahmat sedangkan berpecah-belah adalah adzab”. ( HR. Ahmad ).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Agustus 2018.

Vien AM.

Read Full Post »