Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2018

Untuk menguatkan suatu hubungan biasanya orang membuat suatu kesepakatan yang disetujui ke dua belah pihak. Kesepakatan atau ikatan persetujuan tersebut biasanya dibuat secara tertulis lengkap dengan syarat, tanggung-jawab serta sebab akibat yang akan ditanggung jika salah satu dari pihak yang terkait melanggar persetujuan yang dibuat. Bahkan ada yang harus memakai materai. Tak jarang untuk menjadi sah tidaknya suatu kesepakatan, surat persetujuan harus dibuat didepan Notaris.

Demikian pula antara hamba yaitu manusia dengan Sang Pemilik yaitu Allah Azza wa Jala. Kesepakatan tingkat tertinggi yang pernah ada di muka bumi ini terdiri dari 4 kesepakatan. Yaitu Kesepakatan Ruh, Kesepakatan Fitrah, Kesepakatan Akal dan Kesepakatan Amanah. Kesepakatan ini berlaku bagi semua manusia dari nabi Adam as sebagai manusia pertama hingga manusia terakhir yang dilahirkan ke dunia nanti. Baik para nabi, orang jahat, laki-laki, perempuan, apapun agama, bangsa dan rasnya.

1. Kesepakatan Ruh.

Kesepakatan ini tertulis dalam surat Al-Araf ayat 172 berikut :

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”.

Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Kesepakatan Ruh dibuat ketika manusia masih berada di alam ruh sebelum lahir ke dunia. Itu sebabnya kita lupa bahwa kita pernah membuat perjanjian Tauhid tersebut. Perjanjian bahwa kelak ketika kita hidup di dunia akan tetap menyembah Tuhan Yang Satu, itulah Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, Tuhan Sang Pencipta Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. ( Terjemah QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

2. Kesepakatan Fitrah.

Kesepakatan ini tertulis dalam surat Ar-Rum ayat 30 berikut :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Manusia ketika lahir ke dunia dalam keadaan bersih, jauh dari segala dosa termasuk dosa terbesar yaitu kesyirikan. Itulah fitrah/kodrat manusia. Namun dalam perjalanannya ia akan menjadi kotor tergantung sejauh mana ilmu dan amalnya. Itu sebabnya manusia harus selalu belajar dan menuntut ilmu agar tidak tersesat.

Sayangnya, kebanyakan manusia hanya belajar ilmu yang sifatnya keduniaan/materialistis, lalai terhadap kebutuhan jiwa dan ruhnya. Akibatnya ia lupa akan adanya kesepakatan Ruh yang pernah dibuatnya ketika masih di alam Ruh. Ini adalah tanggung-jawab utama kedua orang-tua yang melahirkan, merawat dan mendidiknya.

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” ( HR. Bukahri dan Muslim).

Itu sebabnya, setelah dewasa setiap manusia harus mau belajar, berpikir tentang fitrahnya yang mungkin telah luntur bahkan hilang akibat orang-tua yang tidak memahami tugas dan tanggung-jawabnya. Yaitu dengan bertobat dan shalat sebagaimana lanjutan atas 30 surat Ar-Rum di atas.

 “dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. (Terjemah QS. Ar-Rum(30): 31).

Shalat memang bukan monopoli ajaran Islam karena para nabi dan rasul sebelum Rasulullah Muhammad saw pun mengajarkannya, meski mungkin tidak sama dengan shalat yang biasa dikerjakan umat Islam.

“Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku`”.( Terjemah QS. Ali Imran(3):43).

3. Kesepakatan Akal.

Kesepakatan ini adalah kesepakatan untuk menjadikan para rasul sebagai panutan dalam menjalani kehidupan di dunia. Ayat Al-Quran yang menuliskan kesepakatan ini sangat banyak jumlahnya, diantaranya adalah surat An-Nisa ayat 165 dan surat Al-Baqarah 285 berikut :

(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Terjemah QS. An-Nisa (4):165).

“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta`at”. (Mereka berdo`a): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali“.(Terjemah QS. Al-Baqarah (2):285).

Pada setiap masa Allah swt senantiasa menurunkan utusan-Nya, dari nabi Adam as hingga nabi Muhammad saw, dengan membawa ajaran pokok Tauhid yaitu bahwa Tuhan adalah Satu, tidak beranak maupun diperanakkan. Melalui malaikat yang sama pula yaitu, Jibril as, para nabi dan rasul menerima ajaran-Nya.

Pada dasarnya ajaran tersebut hampir sama. Perbedaan hanya terletak pada tata cara yang diajarkan rasul masing-masing. Itu sebabnya kesepakatan ke 3 ini dibuat. Namun meski namanya Kesepakatan Akal tidak berarti akal adalah segala-segalanya. Karena yang dituntut kesepekatan tersebut justru memuliakan para nabi dan rasul di atas akal. Karena akal sering kali mudah kalah oleh syaitan yang merupakan musuh abadi manusia.

Untuk itu Allah swt mewajibkan umat Islam untuk selalu membaca surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalatnya, yang didalamnya terdapat ayat 6 dan 7 sebagai berikut :

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang DIMURKAI dan bukan (pula jalan) mereka yang SESAT”.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan yang dimaksud “DIMURKAI” dalam ayat di atas adalah umat Yahudi sedangkan yang “SESAT” adalah umat Nasrani. Mengapa demikian??

Umat Yahudi disebut umat yang dimurkai karena mereka berakal tapi tidak beramal kebajikan. Rata-rata orang Yahudi bukan saja memahami kitab Taurat mereka, tapi juga Al-Quranul Karim. Bahkan hadistpun mereka percayai. Sayangnya mereka hanya merasa cukup mempercayainya tapi tidak mengamalkannya. Mereka bahkan sangat suka berbuat jahat diantaranya membunuhi para nabi.

“ … … Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):46).

Sementara umat Nasrani mereka banyak berbuat kebaikan tapi tanpa ilmu. Diantaranya keyakinan  bahwa Tuhan adalah tiga sebagaimana diabadikan ayat 73 surat Ali Imran berikut:

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Itu sebabnya kita, umat Islam senantiasa diingatkan agar jangan  meniru keduanya. Umat Islam harus berprinsip “Sami’na wa atho’na” ( kamu dengar dan kami patuh)”, yaitu berilmu dan mengamalkan ilmu tersebut dengan meniru apa yang dicontohkan rasulullah. Itulah Sunnah Rasul atau yang biasa juga dinamakan Hadist.

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.( Terjemah QS. An-Nuur(24):52).

4. Kesepakatan Amanah atau Kesepakatan Mengemban Amanah.

Kesepakatan ini tertulis di dalam ayat 72 surat Al-Ahzab berikut:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

Manusia dikatakan zalim dan bodoh karena amanat yang enggan ditrima oleh langit, bumi dan gunung-gunung itu amanat yang teramat sangat berat. Amanat tersebut yaitu menjadi khalifah di muka bumi, khalifah yang adil yang mampu ber-a’mar ma’ruf nahi mungkar, berbuat kebaikan dan menolak kemungkaran. Dan bila tidak mampu dan tidak mau bertobat azab adalah balasannya!

“sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):73).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 30 September 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Iman Yang Lemah

Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (Terjemah QS. Al-Hujuraat(49):10).

Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (HR.Bukhari).

Ayat dan hadist mengenai persaudaraan sesama Muslim sangatlah banyak. Ironisnya, hari ini banyak orang yang mengaku Muslim namun tidak mengamalkannya. Mereka bukan saja tidak menyayangi sesama saudara/i nya tapi bahkan tega mendzaliminya. Ada apa dengan Muslim di negri yang katanya mayoritas Muslim ini  Tidakkah lagi Al-Quran dan As-Sunnah dijadikan pegangan dan pedoman hidup? Padahal menurut catatan Indonesia termasuk pencetak hafidz dan hafidzah terbaik dunia. Apakah Al-Quran hanya dijadikan hafalan atau malah sekedar pajangan di lemari saja ?  Sungguh menyedihkan …

Paska pelecehan ayat 51 Al-Maidah yang dilakukan Ahok tahun 2016 lalu kedzaliman terhadap para ulama makin hari makin meningkat saja. Mulai dari pencegatan ulama di bandara, sertifikasi ulama yang kental keberpihakan, peraturan adzan yang berlebihan hingga ancaman dan penyerangan terhadap ulama baik secara psikis maupun fisik. Anehnya lagi perbuatan busuk tersebut seolah dibiarkan saja oleh aparat, tidak ada tindakan hukum berarti yang mampu membuat si pelaku jera. Yang lebih menyakitkan hati lagi perbuatan tersebut dilakukan oleh sebagian umat Islam sendiri! Astaghfirullahaldzim …

Ustad Abdul Somad atau UAS, adalah salah satu ulama yang beberapa kali menjadi korban kedzaliman tersebut. Ulama kondang kelahiran Asahan Sumatra Utara lulusan universitas Al-Azhar dan universitas di Moroko ini terpaksa membatalkan sejumlah kajiannya di Jawa Tengah baru-baru ini karena adanya tekanan dari pihak-pihak tertentu. Beredar alasan ditolaknya UAS karena isi ceramah UAS selama ini dianggap terlalu kritis terhadap pemerintah, tidak Pancasilais bahkan anti NKRI. Benarkah demikian??

http://jambiindependent.com/read/2018/09/04/28310/dpd-anggap-kasus-ancaman-pada-ustad-abdul-somad-sudah-kelewatan/

Dalam sebuah wawancara televisi, Ketua PP GP Ansor Korwil Jawa Tengah. Mujibrurrohman, mengatakan bahwa pihaknya mencurigai ceramah UAS ditunggangi oleh HisbuTahir Indonesia (HTI) yang dibekukan kegiatannya beberapa waktu lalu oleh pemerintah, dengan alasan yang tidak masuk akal. Hal tersebut kembali ditegaskan malam ini oleh petinggi NU yang diwawancarai oleh seorang reporter televisi swasta.

“Dari sisi atribut yang dipakai oleh krunya.sebelum datang itu kan ada krunya yang menyiapkan itu dari sisi atributnya sudah menggunakan atribut HTI. Ada beberapa orang.ada bendera “La Ilaha IllAllah Muhammad Rasullullah” di topinya, di bajunya”, terang Mujiburrohman.

https://www.portal-islam.id/2018/09/miris-kata-ansor-indikasi-uas.html

Benarkah topi, baju dengan tulisan kalimat tauhid bisa diartikan begitu saja sebagai pendukung/simpatisan HTI?? Syukur Ahamdulillah pertanyaan tersebut dijawab langsung “Tidak Bisa” secara tegas oleh humas irjen kepolisian dalam acara yang sama.

Menentukan bahwa suatu acara/dakwah berbahaya atau tidak apalagi kemudian membatalkannya adalah wewenang mutlak polisi bukan ormas apapun”, imbuhnya.

“Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Ada pertanyaan mengapa UAS tidak melaporkan saja langsung ke yang berwenang? Jangan lupa ulama kondang tersebut bukan sekali ini dipersekusi. Pada persekusi sebelumnya UAS pernah melapor tadi tidak ditindak lanjuti. Persis seperti laporan para ulama lain yang pernah mengalami hal yang sama.

Perseteruan antar ormas Islam, termasuk jamaah fanatik butanya, bukan rahasia lagi memang kerap terjadi. Uztad Adi Hidayat (UAH) mengalaminya beberapa hari setelah tragedi UAS. Ia diteriaki seorang jamaah Majils Ta’lim (MT) hanya karena dianggap merebut jadwal MT kelompoknya. Na’udzubillah min dzalik … Ada apa dengan umat Islam negri ini???

Bukankah seharusnya kita saling mengingatkan bila ada saudara/i kita yang melakukan kesalahan, bukan malah menghujatnya. Tidak patut suatu kelompok merasa paling benar dan lebih baik dari kelompok yang lain hingga seenaknya mengolok-olok kelompok lain. Sebaliknya yang bersalah juga mau mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Alangkah baiknya bila tiap orang, tiap kelompok mau terus belajar, mengkaji ulang dan meningkatkan pengetahuannya, tidak keras kepala mempertahankan pengetahuan, hanya karena ikut-ikutan atau karena menuruti ajaran nenek moyang yang belum tentu kebenarannya …

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”.”(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):170).

Contoh lain adalah kasus seorang perempuan di Medan yang memprotes suara adzan yang dianggapnya terlalu nyaring. Adzan yang diprotesnya tersebut berkumandang di lingkungan tempat tinggalnya. Protes yang dilakukan secara kasar dan sinis tersebut akhirnya mengakibatkan kerusuhan yang tidak dapat dihindarkan. Setelah 2 tahun berlalu akhirnya pengadilan memutuskan hukuman penjara 1 tahun 6 bulan bagi perempuan tersebut.

Hukuman dijatuhkan sebagai bagian dari pasal penghinaan dan pelecehan terhadap umat agama lain. Tujuannya agar rakyat dapat lebih saling menghargai. Protes bukannya dilarang, tapi bila dilakukan secara baik-baik, dengan alasan yang masuk akal serta tidak menyinggung perasaan umat agama lain tentu akan berbeda halnya.

http://soksinews.com/berita/detail/24485/-din-syamsuddin-protes-adzan-bisa-dilakukan-dengan-baik-

Tapi tak lama setelah itu sejumlah orangpun beramai-ramai membully keputusan pengadilan tersebut. Ironisnya, para pembully adalah orang-orang yang mengaku Muslim. Coba bandingkan bila kejadiannya di Bali. Datang seorang Muslim ke rumah ibadah umat Hindu sambil marah-marah memprotes sesajen yang banyak tersebar di sepanjang tempat dan jalan. Ketika ia dijatuhi hukuman, akankah mereka melakukan hal yang sama???

Perseteruan, perselisihan dan pertengkaran di dalam tubuh umat Islam sudah pasti terbaca umat lain yang tidak menyukai Islam berkembang dengan baik. Dan inilah yang terjadi. Mereka segera memanfaatkan hal tersebut.

Adalah pulau Lombok yang selama bulan Agustus yang baru lalu, secara bertubi-tubi mendapat cobaan berat dari Allah swt. Gempa berkekuatan 7 skala Richter disusul ratusan gempa yang yang tak kalah dasyatnya terus menghantam pulau berjulukan Seribu Masjid tersebut. Korbanpun berjatuhan hingga 400 orang korban meninggal, ribuan luka berat dan ringan serta meninggalkan trauma mendalam, terutama anak-anak.

Bantuan segera datang dari berbagai pihak, perorangan maupun ormas. Namun sayangnya pada saat sebagian besar relawan Muslim sedang mengalami kelelahan, datang ormas non Islam yang memanfaatkan bantuan sebagai jalan untuk menyebarkan keyakinannya. Padahal jelas hukumnya, tidak diperbolehkan mendakwahkan agama dan kepercayaan di daerah yang sudah berbasis agama lain. Bukan rahasia lagi Lombok adalah rumah kaum Muslimin.

Namun yang lebih menyedihkan lagi, ketika para relawan Muslim berusaha mencegah Kristenisasi yang dilakukan mereka, justru penduduk setempat yang marah dan kesal. Lucunya lagi seorang mahasiswa yang merekam kejadian tersebut untuk dijadikan bukti Kristenisasi justru diamankan aparat.

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak dapat dipungkiri bantuan ormas Nasrani yang kabarnya didukung Vatikan memang jauh melebihi bantuan ormas-ormas Muslim. Tapi lupakah bahwa sebagai Muslim, pertolongan hanyalah milik Allah Azza wa Jala?? Dan lagi jangan lupakan kerja keras relawan Muslim kita yang ada hingga meninggal karena berbagai penyebab, seperti tertimpa reruntuhan bangunan, kelelahan dan sakit.

Dan lagi apa arti segala bantuan tersebut dibanding harga sebuah keimanan? Seperti juga pembangunan infrastuktur besar-besar bagai rumah yang mewah namun penghuninya tidak merasa aman, nyaman dan tentram, yang setiap hari gontok-gontokan.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Terjemah QS. Al-Baqarah (2):214).

Ini saatnya kita harus bersatu, saling bahu membahu menguatkan barisan. Selama masih memegang teguh kalimat tauhid dan dalam ikatan Ahlusunnah Wal Jamaah, mau NU, Muhammadiyah, Persis, DDI, FPI, Salafi dll kita adalah bersaudara dan harus berkasih sayang sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath[48] : 29).

Jangan seperti sekarang ini, antar Muslim berseteru sementara terhadap orang kafir justru berkasih sayang. Terhadap sesama Muslim tidak peduli dan tidak mau saling menolong. Sementara terhadap non Muslim walaupun melakukan kesalahan tetap dibela dan dilindungi tanpa peduli telah menyakiti saudaranya sesama Muslim.

Toleransi dan ide bahwa semua agama adalah sama yang di gembar-gemborkan JIL dan antek-anteknya tampaknya memang sengaja dikembangkan pihak-pihak yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hasilnya, jumlah Muslim yang tadinya di atas 90 % sekarang hanya tinggal 76 % !!!

https://www.kaskus.co.id/thread/5ae90af292523386538b4568/populasi-umat-muslim-di-indonesia-tinggal-76-persen/

Tidakkah kita menyadari bahwa slogan-slogan seperti “ Lebih baik pemimpin Kafir daripada Muslim tapi korupsi”, “ Politik itu Kotor” dll adalah cara-cara busuk yang dikembangkan musuh-musuh Islam agar umat Islam malu, alergi dan tidak peduli dengan agamanya ?? Dimana ghirah ( rasa cemburu) umat Islam dalam membela agama yang dilecehkan??

 Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 September 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

wahyu_soeparno_putroAwalnya, suara adzan Subuh adalah “musuh” bebuyutan Wahyu Soeparno Putro. Ia merasa, suara itu sangat terganggu tidurnya. Namun siapa nyana, suara adzan Subuh itu pula yang justru membawanya menemukan jalan menjadi seorang mualaf — seorang pemeluk Islam.

Sepenggal kesaksian spiritual itu seperti tak pernah bisa dilupakan pada ingatan lelaki kelahiran Skotlandia, 28 Juli 1963. Termasuk ketika berbincang santai kepada Republika yang menemuinya di sela-sela kesibukannya melakoni syuting sebuah program televisi di Jakarta, Senin (4/6) lalu.

Kenangan itu ibaratnya telah menjelma menjadi semacam sebuah napak tilas spiritual tertinggi bagi pemilik nama lahir Dale Andrew Collins-Smith. Ia antusias — walau kadang dengan berkaca-kaca — menceritakan kisah yang dilaluinya sekitar 12 tahun silam. Tepatnya, sekitar pada 1999 atau lima tahun setelah pengelanaannya ke Yogyakarta. Dale saat itu datang ke Yogyakarta dari Australia untuk mencari nafkah dari perusahaan kerajinan yang memekerjakan sedikitnya 700 karyawan.

Di Kota Gudeg itu, dia tinggal mengontrak bersama teman. Namun seiring waktu berjalan, dia kemudian bertemu dengan Soeparno. Soeparno ini adalah ayah beranak lima yang bekerja sebagai seorang satpam. Singkat cerita Dale ini kemudian diajak menetap bersama di rumah Soeparno sekaligus juga diangkat sebagai anak dari keluarga besar Soeparno.

Rumah Soeparno ini letaknya hanya sepelemparan batu saja ke arah masjid. Karena tak jauh dari masjid, tak mengherankan kalau setiap pagi suara adzan Subuh itu seperti meraung-raung di dekat daun telinganya. Rutinitas itu akhirnya membuat Dale selalu terbangun di pagi hari.

Bahkan setelah menetap cukup lama di rumah Soeparno itu, dia selalu terbangun 5-10 menit lebih awal dari adzan Subuh. ”Ini yang membuat saya heran,” katanya. ”Padahal sejak kecil saya tak pernah bisa bangun pagi, tapi di sana (Yogyakarta) saya mampu merubah pola hidup saya untuk bangun pagi.”

Di tengah proses menemukan ‘hidayah’, Dale yang telah menjadi yatim-piatu sejak usia 20 tahun itu kemudian mulai banyak bertanya-tanya tentang Islam. Hal-hal sederhana tentang Islam seperti sholat sampai puasa menjadi pertanyaan yang mengusik batinnya. Terkadang ia pun tak sungkan untuk bertanya kepada rekan-rekannya yang menganut Islam.

Pergaulan yang kian terjalin akrab dengan lingkungan Yogya itu ternyata melahirkan pula sebuah sikap toleransi beragama pada diri Dale. Ketika Ramadhan tiba dan rekan-rekannya berpuasa, dia seakan terpanggil untuk ‘ikut-ikutan’ berpuasa. ”Awalnya saya cuma ingin mengetahui saja seperti apa sih rasanya puasa,” kata dia. ”Tetapi setelah tahun ke dua atau ketiga di sana, puasa saya ternyata sudah full hingga puasa tahun kemarin,” sambungnya dengan penuh bangga.

Eksperimentasi dalam menjalani ibadah puasa maupun rutinitas bangun pagi menjelang adzan Subuh itu kemudian memberikan pula semacam perasaan tenang yang menjalar di dalam diri Dale. ”Saat itu saya merasa seperti sudah sangat dekat saja dengan orang-orang di sekitar saya,” katanya sambil mengaku pada fase tersebut dia sudah semakin fasih berbicara Indonesia.

Tak merasa cukup terjawab tentang Islam pada rekan sepergaulan, Dale kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada ketua pengurus masjid dekat tempatnya tinggal. Tapi sekali lagi, hasratnya untuk mengetahui Islam masih belum terpuaskan. Maka pada suatu ketika, bertemulah dia dengan seorang ustad bernama Sigit. Ustad ini masih berada satu kampung dengan tempat tinggalnya di kediaman Soeparno.

”Waktu saya ceritakan tentang pengalaman saya, dia malah berkata kepada saya,”Sepertinya malaikat mulai dekat dengan kamu’,” kata Dale menirukan ucapan Pak Sigit.

Mendengar ucapan itu, Dale merasakan seperti ada yang meledak-ledak di dalam dirinya. ”Semuanya seperti jatuh ke tempatnya,” kata dia menggambarkan situasi emosional dirinya ketika itu. ”Saat itu saya juga sudah bisa menangkap secara akal sehat tentang Islam,” ujarnya lagi. Ledakan yang ada di dalam diri itu kemudian membawa Dale terus menjalin hubungan dengan Pak Sigit. Dari sosok ustad itu, dia mengaku mendapatkan sebuah buku tentang Islam dan muallaf. Dan pada saat itu pula, niatnya untuk mempelajari sholat kian menggelora.

Di saat hasrat di dalam diri semakin ‘merasa’ Islam, Dale kemudian bertanya pada Soeparno. ”Saya merasa lucu karena sudah seperti merasa Muslim,” kata dia kepada Soeparno. ”Tetapi bagaimana caranya,” sambung dia kembali. Mendengar ucapan pria bule, Soeparno sangat terkejut. Lantas lelaki ini menyarankan agar Dale masuk Islam saja melalui bantuan Pak Sigit.

Lantas tidak membutuhkan waktu lama lagi, sekitar medio 1999, Dale Andrew Collins-Smith kemudian berpindah agama sekaligus berganti nama menjadi Wahyu Soeparno Putro. Dan, prosesi ‘hijrah’ itu dilakukannya di masjid yang mengumandangkan adzan Subuh dekat rumahnya. Yang dulu dianggap “mengganggu” tidurnya…. (akb/riol )

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):256).

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia mendapat manisnya iman yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam neraka.”

Biodata

Dale Andrew Collins-Smith
Nama sekarang: Wahyu Soeparno Putro
Lahir : Skotlandia, 28 Juli 1963
Pendidikan:
Centre for the Performing Arts (Adelaide Australia)
Victorian College of the Arts (Melbourne Australia).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 September 2018.

Vien AM.

Dicopy dari:

https://kisahmuallaf.wordpress.com/2012/05/05/wahyu-soeparno-putro-adzan-subuh-pengganggu-tidurnya/

Read Full Post »