Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2019

Madinah sebelum hijrahnya Rasulullah dan kaum Muhajirin, selain dihuni bangsa Arab juga orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi ini menguasai perdagangan serta perekonomian Yatsrib ( nama lama Madinah).  Mereka juga menguasai lahan-lahan pertanian terbaik dan oase-oase kota. Jumlah mereka makin lama makin besar hingga hampir separuh penduduk Yatsrib.

https://konsultasisyariah.com/29347-sejarah-yahudi-ada-di-madinah.html

Hal ini menyebabkan kabilah-kabilah Arab yang tinggal di kota tersebut membenci mereka. Ditambah lagi sikap orang-orang Yahudi yang arogan dan suka menekan orang-orang Arab. Riba dalam segala hal yang dipraktekkan Yahudi secara semena-mena membuat hubungan kedua etnis tersebut semakin buruk.

Dalam keadaan seperti itu orang-orang Yahudi masih juga suka meng-adu domba kabilah Aus dan kabilah Khajraz, dua kabilah Arab terbesar di Madinah yang sejak lama memang sudah sering bertikai. Akibat adu domba tersebut 5 tahun sebelum hijrahnya nabi dan para sahabat, pecahlah perang Buats. Perang besar ini nyaris menghancurkan seluruh harta benda yang dimiliki ke dua kabilah tersebut.

Beruntung akhirnya mereka menyadari hal tersebut. Mereka segera mengakhiri peperangan dan berjanji tidak akan mau lagi di adu domba Yahudi. Mereka mulai mendambakan seseorang yang dapat menyatukan dan memimpin mereka melawan dominasi Yahudi, dalam segala hal.

Itu sebabnya ketika mereka mendapat kabar telah datang seorang nabi di Mekah mereka sangat antusias. Merekapun mengirim utusan untuk mengetahui  kebenaran berita tersebut. Karena sejak lama orang-orang Yahudi sering menakuti-nakuti mereka dengan berkata:

“Bersama Nabi yang akan segera datang, kami akan menumpas kalian sebagaimana yang dahulu pernah dialami oleh kaum ‘Aad dan lram,”.

Orang-orang Yahudi memang meyakini bahwa di akhir zaman nanti akan datang seorang nabi. Hal tersebut tersirat di kitab suci mereka, Taurat. Bahkan kedatangan orang-orang Yahudi ke Madinah, menurut beberapa sumber, memang didasarkan ciri-ciri kota dimana nabi tersebut akan datang.

Maka ketika nabi Muhammad saw datang dan hijrah ke Madinah, dengan penuh suka cita penduduk Madinah non Yahudi menyambut beliau. Mereka berbondong-bondong memeluk Islam, dan langsung menobatkan rasulullah Muhamad saw sebagai pemimpin mereka.

Sebaliknya orang-orang Yahudi yang merasa kecewa karena ternyata nabi yang di harapkan kedatangannya itu bukan dari kaumnya, mengingkari dan memusuhi rasulullah.

Kemudian setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah, yang membenarkan apa yang ada pada mereka (yakni: yang ada pada Kitab Suci mereka, Taurat, mengenai kedatangan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam), yang sebelum itu selalu mereka harapkan kedatangannya agar mereka dapat mengalahkan orang-orang kafir, namun setelah apa yang mereka ketahui itu datang, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar itu”. ( Terjemah QS.Al-Baqarah (2):89).

Namun demikian rasulullah tidak pernah memaksa orang-orang Yahudi untuk menerima ajaran Islam. Rasulullah yang kemudian mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah, tetap memperlakukan mereka dengan baik. Sebagai warga Madinah, selain mendapatkan perlindungan dan berbagai hak, bersama penduduk Madinah lainnya mereka juga diberi tanggung-jawab membela dan mempertahankan kota dari musuh.

Namun apa lacur kepercayaan tersebut tidak mereka manfaatkan dengan baik. Sering kali mereka memancing keributan. Bahkan ketika Madinah diserang orang-orang Quraisy Mekah yang ingin membunuh Rasulullah dan kaum Muslimin Mekah yang hijrah ke Madinah ( kaum Muhajirin), orang-orang Yahudi  berkhianat.

Ironisnya lagi, pengkhianatan tersebut dibantu oleh sejumlah penduduk Madinah yang mengaku Muslim. Itulah kaum Munafikun. Tak tanggung-tanggung pentolan Munafikun Abdullah bin Ubai bin Salul, seorang tokoh Madinah yang sebelum kedatangan Islam nyaris diangkat sebagai pemimpin Madinah. Meskipun akhirnya ia ikut bersyahadat dan memeluk Islam namun tidak rela menjadikan Rasulullah sebagai panutan dan pimpinan. Rupanya ia tidak berhasil menghilangkan sakit hatinya gagal menjadi pemimpin Madinah.

https://vienmuhadi.com/2017/02/22/abdullah-bin-ubay-bin-salul-dan-kemunafikan/

Tokoh Madinah yang berkawan erat dengan orang-orang Yahudi tersebut sering sekali melawan perintah nabi. Diantaranya dalam membela teman-teman Yahudinya. Suatu hari ketika Rasulullah memerintahkan hukuman bagi bani Yahudi Qainuqa yang telah mengkhianati perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, ia membantah perintah tersebut.

“Hai Muhammad, perlakukanlah para sahabatku itu dengan baik “, serunya.

Tanpa memperhatikan air muka Rasulullah yang kesal, hal itu terus diulanginya sampai 3 kali. Akhirnya Rasulullahpun menjawab ketus : “Mereka itu kuserahkan padamu dengan syarat mereka harus keluar meninggalkan Madinah dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota ini !”. 

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. …”.  (Terjemah QS.An-Nisa (4):138-139).

Pengusiran terhadap Yahudi terpaksa dilakukan karena pengkhianatan mereka sangat membahayakan tidak saja Rasulullah namun juga perkembangan Islam secara keseluruhan. Rasulullah dengan izin Allah swt mengusir mereka dalam 3 tahap. Dan berkat kekompakan dan persatuan kaum Muhajirin dan Anshar yang kokoh Islam akhirnya dapat berkembang hingga ke seluruh semenanjung Arab.

Abdullah bin Ubai bin Salul dedengkot Munafikun memang sudah lama tiada. Namun sifat dan ciri-ciri orang seperti Abdullah bin Ubay hingga detik ini masih sangat banyak. Bahkan makin hari makin banyak !

https://www.eramuslim.com/berita/analisa/tanda-karakter-munafik-abdullah-bin-ubai-bin-salul-saat-ini.htm#.XEvyC1wzaUk      

Sikap mereka yang suka melindungi orang kafir meskipun nyata-nyata telah melecehkan syariat Islam sangat membahayakan agama yang dengan susah payah disebarkan Rasulullah dan para sahabat.

Dengan ringannya ayat-ayat Allah dikesampingkan. Ayat kepemimpinan, misalnya. Padahal ayat ini diturunkan untuk melindungi kaum Muslimin agar hak-hak mereka seperti mengerjakan shalat di masjid, berpuasa di bulan Ramadhan, pemakaian jilbab, larangan riba dll dapat dilaksanakan dengan tenang.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):51).

Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh tali Islam akan lepas, ikatan demi ikatan. Setiap satu ikatan lepas, maka manusia berpegang pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali lepas adalah hukum (pemerintahan) dan yang paling akhir adalah shalat.”

Kurang banyakkah bukti bahwa Muslim yang tinggal di negara dimana pemimpinnya non Muslim sulit menjalankan syariat agamanya??? Jangankan Palestina, bahkan Perancis yang sering meng-klaim sebagai negara yang mengagungkan toleransi, demokrasi dll, tidak mudah bagi kaum Muslimin untuk menjalankan syariah agama. Yang terakhir adalah Muslim Uighur dibawah pemerintah Cina. Relakah kita anak cucu kita kelak mengalami nasib seperti mereka?? Na’udzubillah min dzalik …

https://www.merdeka.com/dunia/bungkamnya-pemimpin-dunia-saat-warga-muslim-uighur-ditindas-di-china.html

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Januari 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

0415145theresa-corbin-islamich780x390Usianya masih 21 tahun saat dia memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. Usia yang relatif muda bagi seorang perempuan yang berani mengambil keputusan untuk pindah agama. Dia adalah Theresa Corbin. Seorang feminis yang berasal dari Baton Rouge, Louisiana.

Kepada CNN dalam sebuah artikel, Corbin menceritakan kisahnya saat memutuskan menjadi seorang mualaf dan perjalanan hidupnya sebagai seorang muslimah. Corbin menjadi Mualaf pada November 2001, atau dua bulan setelah tragedi runtuhnya Gedung World Trade Center pada 9 September 2001.

Menurut dia, saat itu adalah waktu yang buruk untuk menjadi seorang Muslim. Namun, setelah empat tahun mempelajari Islam, dia memutuskan untuk mengambil risiko. Corbin merupakan perempuan yang dilahirkan dari keluarga Katolik dan ateis. Perjalanannya menuju Islam dimulai saat dia berusia sekitar 15 tahun. Saat itu, dia memiliki pertanyaan mengenai iman yang diyakininya. Dia mulai menanyakan mengenai hal tersebut kepada guru dan pendeta-pendeta, tetapi jawaban dari mereka tidak memuaskan Corbin.

Setelah bertanya tentang segala sesuatu yang telah dia pelajari untuk menjadi sebuah kebenaran, serta menggali melalui retorika, sejarah, dan dogma, Corbin menemukan sesuatu hal yang berbeda tentang Islam. Dia belajar bahwa Islam bukanlah budaya atau sekte yang sesat. Islam juga tidak dapat disebut mewakili satu bagian dari dunia, tetapi seluruh dunia.

“Saya menyadari Islam adalah agama dunia yang mengajarkan toleransi, keadilan, dan kehormatan serta memperkenalkan kesabaran, kerendahan hati, dan keseimbangan,” ucap Corbin. Ketika dia mempelajari tentang keimanan di Islam, dia sangat senang karena menemukan fakta bahwa Islam mengajarkan pemeluknya untuk menghormati semua nabi, termasuk dari Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad. Islam mengajarkan manusia untuk menyembah satu Tuhan dan bertingkah laku dengan tujuan menjadi manusia yang lebih baik.

Corbin sangat tertarik dengan Islam setelah mendengar seruan tentang kecerdasan dan sikap berbesar hati yang disabdakan oleh Nabi Muhammad. Seruan itu berbunyi, “Pengetahuan adalah wajib bagi setiap Muslim, baik laki-laki atau perempuan.” Dia terkejut tentang ilmu pengetahuan dan rasionalitas yang dimiliki oleh pemikir-pemikir Muslim, seperti Al-Khawarizmi yang menemukan aljabar, Ibnu Firnas yang mengembangkan mekanisme penerbangan sebelum Leonardo da Vinci, dan Abu al-Qasim al-Zahrawi, yang merupakan ayah dari operasi modern. “Di sini (Islam), agamalah yang memberitahu saya untuk mencari jawaban dan menggunakan kecerdasan saya untuk mempertanyakan dunia di sekitar saya,” ucap Corbin.

Dikutip dari:

https://internasional.kompas.com/read/2014/10/25/04174701/Kisah.Theresa.Corbin.Seorang.Feminis.yang.Masuk.Islam.karena.Penasaran

Read Full Post »

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.(Terjemah QS. An-Nisa(4):1).

Menjaga hubungan silaturrahim baik dengan saudara yang sedarah maupun tidak, sangat dianjurkan dalam Islam. Lebih jauh, silaturrahim bukan hanya menjaga hubungan yang sudah baik, melainkan menyambung hubungan yang terputus. Hubungan silaturrahim yang baik sudah pasti membawa kedamaian. Tak salah bila semua agama mengajarkan hal yang satu ini.

Tapi Islam bukan hanya agama yang membumi, karena manusia memang hidup di bumi/dunia. Dalam Islam dunia adalah tempat bercocok tanam, tempat beramal ibadah, tempat sementara. Tempat yang relative abadi adalah kehidupan akhirat yaitu surga atau neraka. Disanalah kita akan menuai hasil yang kita tanam di dunia.

Oleh karenanya silaturrahim dalam Islam harus karena Allah swt. Inilah yang akan dinilai sebagai amal ibadah yang kelak akan diperhitungkan di akhirat. Dalam Islam bahkan senyumpun adalah ibadah, bila dilakukan demi mencari ridho-Nya.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Pada zaman Rasulullah saw masih hidup dan berdakwah di kota Mekah, kota kelahiran dimana orang-tua, sanak saudara berkumpul, Rasulullah justru dilecehkan dan dimusuhi bahkan akan dibunuh. Dukungan kepada dakwah Rasulullah malah datang dari penduduk Madinah yang bukan sanak saudara. Itu sebabnya ketika akhirmya Rasulullah hijrah ke Madinah beliau disambut dengan penuh suka cita oleh penduduk Madinah. Merekapun berbondong-bondong memeluk Islam.

Al-Quran menyebut pendukung Rasulullah dari Madinah ini sebagai kaum Anshor ( yang menolong). Sedangkan pendukung Rasulullah dari Mekah yang akhirnya juga ikut berhijrah ke Madinah, disebut kaum Muhajirin ( orang-orang yang berhijrah). Kaum Anshar dengan ikhlas membantu segala kebutuhan kaum Muhajirin yang terpaksa meninggalkan kota kelahiran mereka karena siksaan orang-orang Quraisy yang tidak rela mereka memeluk Islam. Dari situlah kemudian muncul apa yang disebut Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam).

Dan penduduk Madinah yang telah beriman sebelum kedatangan Rasul (kaum Anshar) sangat mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (kaum Muhajirin). Mereka tidak pernah berkeinginan untuk mengambil kembali apa yang telah diberikan kepada Muhajirin. Bahkan, kaum Anshar lebih mengutamakan kebutuhan kaum Muhajirin dibanding diri mereka sendiri, sekalipun mereka sedang dalam kesulitan. Dan orang-orang yang memelihara dirinya dari sifat kikir, itulah orang-orang yang beruntung”. (Terjemah QS. Al-Hasyr(59): 9).

Sayangnya Ukhuwah Islamiyah yang merupakan kekuatan dasyat milik kaum Muslim ini berangsur luntur. Sebagian orang menganggap ikatan ini dianggap sebagai pemecah bangsa bahkan radikal. Ironisnya lagi tidak sedikit umat Islam yang termakan anggapan miring tersebut. Mereka tidak menyadari ini adalah bagian dari perang pemikiran ( Ghozwl Fikri) yang dihembuskan musuh-musuh Islam untuk menggembosi Islam dari dalam. Musuh-musuh Islam yang selama berabad-abad lamanya pernah terpaksa takluk dan mengakui kebesaran Islam. Dan yang dengan izin Allah swt, di akhir zaman nanti masa kejayaan tersebut akan terulang kembali.

Islam memang mengajarkan bahwa ikatan persaudaraan tidak hanya ikatan persaudaraan Islam. Ada yang namanya Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan umat manusia) yang juga disebut Ukhuwah Insaniyah. Ketiga ukhuwah tersebut wajib dijaga.

“Barangsiapa beriman pada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berbuat baik terhadap tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berbicara baik atau diam.” (HR. Ibnu Majah).

“Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan”. (HR. Al Baihaqi).

Namun ketika Islam mulai dilecehkan dan dipinggirkan, ukhuwah Islamiyah wajib didahulukan. Karena persaudaraan ini didasari kecintaan kepada Allah swt sebagai Sang Khalik, Sang Pencipta dimana nanti kita akan kembali.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):10).

Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam”. (Shahih Muslim).

Tapi apa yang terjadi belakangan ini sungguh menyedihkan. Ulama dilecehkan, di persekusi umat tidak peduli. Sebaliknya orang yang jelas-jelas melecehkan Al-Quranul Karim malah dibela habis-habisan. Ironisnya lagi hal ini terus berlarut hingga hari ini. Anies Bawesdan, gubernur DKI yang nyata-nyata telah mengalahkan petahana si penista dalam pilkada resmi, terus saja dibully. Dan ini berlanjut hingga ke tingkat pemilihan presiden yang akan digelar dalam beberapa bulan ke depan. Aroma dendam kesumat sungguh terasa kental.

Yang lebih menyedihkan lagi perpecahan dalam Islam di negri ini seperti sengaja dibiarkan terjadi, bahkan semakin disulut agar bertambah parah. Dengan alasan HAM, Demokrasi dll Islam terus disudutkan sebagai radikal, tidak toleran, anti Pancasila dll.

Tak ayal mereka yang tipis imannyapun terperangkap oleh isu busuk tersebut. Mereka menjadi tidak Percaya Diri terhadap ke-Islam-an mereka. Mereka bahkan menganggap apa-apa yang berbau Islam pasti buruk. Mereka juga tidak mampu membedakan antara Arab dan ajaran Islam. Sementara semua yang berasal dari Barat dianggap benar, bagus, modern serta perlu diikuti.

Harus diakui, sebagian besar Muslim di negri tercinta ini memang Islam keturunan, Islam karena nenek moyang. Mereka malas dan tidak merasa perlu belajar tentang Islam apalagi memperbarui ke-Islam-an mereka. Itu sebabnya mereka mudah dibodohi musuh-musuh Islam. Sungguh mengenaskan. Tidakkah mereka menyadari bahwa perpecahan adalah sumber petaka ??

Na’udzubillah min dzalik.

Jakarta, 14 Januari 2019.

Vien AM.

Read Full Post »