Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2019

Pulang (2).

Suatu hari putri kami satu-satunya bercerita bahwa ia mendapat rekomendasi novel bagus dari temannya di kantor. “ Pulang”, judulnya. Tanpa begitu memperhatikan novel tersebut saya langsung berkomentar “ Kalo di Islam pulang itu yaa ke syurga, atau neraka”. Putri kami hanya manggut-manggut seperti biasa kalau ibunya sudah mulai “berceramah”.

https://vienmuhadi.com/2009/02/04/pulang/

Beberapa hari kemudian saya melihat novel tersebut tergeletak di atas meja ruang keluarga, dan secara tak sengaja saya melihat nama Leila S Chudori sebagai penulisnya. Tiba-tiba sayapun teringat  nama yang di masa mudanya pernah sangat terkenal itu. Segera saya mengambil dan membaca resensi yang ada di sampul belakang novel tersebut.

20190228_231127-1Jantung saya langsung berdegup kencang begitu disebut sebuah restoran Indonesia di suatu sudut di kota Paris. Saya tahu persis bahwa restoran tersebut adalah milik keluarga ex tapol PKI, dedengkotnya bahkan. Dengan menahan nafas saya melanjutkan  membaca resensi novel tersebut. Dugaan saya benar. Novel tersebut mengisahkan duka cita keluarga tersebut. Sang penulis yang tak lain adalah wartawati senior majalah Tempo tersebut dengan gaya bahasa yang menarik tak diragukan pasti bakal berhasil menarik simpatik siapapun yang membacanya. Apalagi yang tidak mempunyai pengetahuan dan latar belakang tragedy mengerikan G30S/PKI.

Saya hanya dapat menghela nafas panjang dan ber-istighfar. Pantas isu komunis hari ini tidak ditanggapi serius seperti dulu-dulu. Padahal keberadaan mereka dari hari ke hari makin terlhat nyata. Mereka terus melakukan pertemuan-pertemuan konsolidasi, bahkan berani menuntut pemerintah agar meminta maaf kepada mereka. Terbitnya buku “ Aku bangga menjadi anak PKI” adalah salah satu bukti rasa percaya diri yang besar bahwa pemerintah akan menerima mereka.

Lebih parah lagi, langkah TNI yang menyita ratusan buku yang menyinggung komunisme dan PKI ditanggapi sinis oleh sejumlah anggota PDI-P, juga PSI, partai baru yang mensyaratkan 45 tahun sebagai usia maksimal anggotanya. Ditambah lagi presenter andalan Metro-TV Najwa Shihab  yang tak lain adalah putri ulama kenamaan Quraish Shihab yang dikenal sangat toleoran terhadap JIL ( Jaringan Islam Liberal).

“Pelarangan buku adalah kemubaziran akut. Di tengah rendahnya minat baca, pelarangan buku adalah kemunduran luar biasa. Indonesia bisa semakin tertinggal dari bangsa-bangsa lain yang selalu terbuka kepada ide-ide baru dan pengetahuan-pengetahuan baru,” ujarnya.

Tak dapat dipungkiri arus globalisasi yang melanda dunia sejak beberapa tahun belakangan ini telah membuat segalanya menjadi terbuka lebar. Segala macam info dari berbagai belahan dunia, yang benar maupun yang salah, yang pantas maupun tidak pantas, yang baik maupun buruk, yang semula tabu maupun tidak semua dapat diakses oleh siapapun, dari anak kecil hingga orang-tua. Yang dengan demikian menjadikan dunia seakan hanya seluas daun kelor,  yang dapat dijelajahi hanya dengan duduk manis di depan robot yang namanya komputer atau bahkan hp super canggih yang harganya selangit itu.

Namun apa daya gemerlap, hiruk pikuk dan kenikmatan dunia yang begitu terbuka lebar justru telah memperdaya cara dan gaya hidup anak-nak muda zaman sekarang, zaman “Now”, istilah kerennya. Diantaranya adalah Hedonisme yang mengutamakan kesenangan hidup di dunia dan cenderung melupakan kehidupan akhirat. Agama dan tata krama dianggap hanya mempersulit hidup. Mereka hidup dalam dunianya sendiri, tak acuh terhadap kehidupan sekitarnya.

Sudah bukan rahasia lagi, di negri tercinta kita Indonesia yang dulu dikenal memiliki budaya timur yang santun, hari ini guru dibully, orang-tua dilawan, ulama dilecekan, pemimpin tidak dihormati. Jelas sudah kita saat ini sudah kehilangan tokoh panutan, tokoh yang pantas untuk dijadikan keteladanan. Arus informasi dengan segala macam bentuknya telah mengubah cara berpikir sebagian anak-anak muda kita yang merupakan generasi penerus bangsa. Tak sedikit diantara mereka ini yang menjadikan tokoh berhaluan kiri seperti Nietzche yang dikenal dengan seruan “Tuhan Telah Mati” atau Karl Marx dengan ujaran “Agama adalah candu”, sebagai idola mereka.

https://news.detik.com/berita/d-3034636/eks-wapres-try-sutrisno-ingatkan-bahaya-gerakan-komunis-gaya-baru

Dalam keadaan seperti ini tak heran bila dengan mudah komunis yang notabene anti agama diam-diam menyelinap ke republik tercinta ini. Demikian pula pandangan dan cara hidup homoseksual yang jelas-jelas dilaknat agama. Prinsip “Tubuhku adalah milikku”, membuat mereka bersiteguh bahwa tidak ada yang berhak mengatur hidup mereka. Yang penting tidak mengganggu orang lain, kilah mereka.

Ini masih ditambah dengan berita-berita hoax alias palsu yang makin hari makin merajalela. Berita yang saling bertentangan, nyaris dalam hal apapun bisa kita temukan via internet. Anehnya masing-masing kelompok merasa benar. Lalu kebenaran mana yang harus kita pilih??  Kalau sudah begini siapa yang patut disalahkan dan dimintai pertangggung-jawaban? Relakah kelak kita melihat anak-cucu kita harus menanggung dosa yang mungkin tidak mereka sadari melakukannya??

“Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur’an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya)”. (Terjemah QS. Ar-Raad(13):1).

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. ( Terjemah QS. Ibrahim(14):1).

Yaa, tidak ada jalan lain selain kembali ke Al-Quranul Karim. Inilah kebenaran yang hakiki, kebenaran dari Sang Pencipta Allah Azza wa Jala. Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Yahudi dan Nasrani sebelum kitab tersebut diselewengkan juga benar. Para nabi adalah para utusan Allah yang membawa misi yang sama yaitu menyembah hanya kepada Tuhan Yang Satu, Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakan.

Ntah Tuhan dan agama apa yang dimaksud Nietzche sudah mati atau Karl Marx bagai candu. Yang pasti ajaran komunis bertentangan dengan agama apapun. Tak heran Uni Sovyet di masa lalu pernah melarang semua agama, menghancuran rumah-rumah ibadah dan memenjarakan pemeluknya. Begitu pula RRC ( Republik Rakyat Cina) yang hingga detik ini bersikap diskriminatif terhadap umat Islam di Uighur. Komunis dimanapun dan sampai kapanpun akan selalu memusuhi umat beragama.

Kembali kepada novel karya Leila S Chudori yang justru diapresiasi kalangan sastrawan.  Siapapun memang berhak menulis sesuai pengetahuan dan pengalamannya, baik yang diceritakan orang lain atau pengalaman sendiri, baik benar ataupun salah. Namun bila ia mau mendengar pengalaman keluarga korban keganasan PKI tentu akan berbeda 180 derajat. Belum lagi menyoal tragedy Mei 1998 yang juga menjadi latar belakang novel, yang hingga saat ini masih simpang siur ceritanya.

Mayjen TNI Purnawirawan Kivlan Zen, menceritakan bahwa PKI dan sekelompok jendral yang tidak menyukai Suharto menunggangi gerakan Mei 1998 yang dipimpin tokoh reformasi Amien Rais.  Mantan purnawirawan itu berbicara dalam acara “ Para Tokoh 98 Bicara” yang diprakasai uztad Haikal Hassan, pada Senin 25 Februari 2019 di gedung AD Premier Jakarta Selatan. PKI memang jelas sangat berkepentingan untuk menjatuhkan presiden ketika itu yaitu Suharto. Karena Suhartolah yang memerangi mereka secara serius.

Untuk diingat PKI dibawah pemerintahan Soekarno merupakan partai komunis terbesar ke 3 di dunia setelah Uni Sovyet dan RRC. Yaitu pada tahun 1959-1965 ketika ideologi negara adalah Nasakom ( Nasionalis Agamis Komunis). Dibawah Orde Baru pimpinan Suharto, PKI dan segala antek-anteknya diberantas dan gerak gerik mereka diawasi.

Tidak seperti dibawah rezim sekarang ini dimana semua yang berani berbicara mengenai komunis harus siap menghadapi resiko didzalimi dengan berbagai alasan.  Jendral Kivlan pernah dituduh makar. Habib Rizak Syihab dengan FPInya yang selalu berbicara keras terhadap bahaya komunis bersama keluarga terpaksa hengkang dari tanah air tercinta atas tuduhan keji dan mengada-ada. Ustad Alfian Tanjung yang dikenal sebagai ustad spesialis komunis harus mendekam di penjara hingga detik ini padahal ia selalu berbicara dengan bukti.

Tak salah mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo yang menyadari ancaman bangkitnya komunis suatu hari memerintahkan generasi muda agar menonton film “Pengkhianatan G30S PKI” yang sejak beberapa tahun belakangan nyaris dilupakan. Dengan tujuan agar bangsa ini tidak lengah dan mengulangi kejadian pahit di masa lalu.

Namun demikian sebagai agama yang rahmatan lilamiin, Islam yang merupakan agama mayoritas bangsa Indonesia, tidak mengenal apa yang namanya balas dendam. Tengok apa yang dilakukan Rasulullah Muhammad saw pada peristiwa Penaklukan Mekah.  Nyaris tidak ada hukuman bagi penduduk Quraisy Mekah yang sebelumnya telah memerangi Islam dengan sangat kecuali segelintir yang benar-benar berbuat keterlaluan, tetap melawan dan tidak mau betobat. Dengan cara itu mereka justru masuk Islam secara sukarela bahkan tidak sedikit yang di kemudian hari berjuang habis-habisan demi tegaknya Islam.

Semoga kita bisa mengambil hikmah atas segala kejadian yang telah berlalu, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 28 Februari 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Ibrah Dari Bani Israil.

Shalat adalah kewajiban kaum Muslimin yang pertama kali di hisab di hari Akhir nanti. Uniknya baik dalam shalat wajib maupun shalat Sunnah, Al-Fatihah yang merupakan surat pertama dalam Al-Quran, wajib dibaca. Ada apa dengan surat yang juga disebut sebagai Ummul Kitab atau Ummul Quran ini??

Surat Al-Fatihah termasuk dalam kategori ayat Madaniyyah, yaitu turun setelah hijrah ke Madinah. Ayat ini terdiri atas 7 ayat. Sehubungan dengan judul di atas yaitu Ibrah dari bani Israil, maka  fokus hanya dengan ayat 6 dan 7 surat tersebut.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

Mereka” yang dimaksud telah dianugerahi nikmat pada ayat di atas adalah  para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh, sebagaimana ayat berikut :

Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):69).

Sementara yang dimaksud “mereka yang dimurkai” (Al-Maghdub) adalah kaum Yahudi. Allah swt memurkai mereka karena kebanyakan orang Yahudi tidak berbuat amal kebaikan padahal Allah swt telah memberi mereka bekal lmu yang banyak.  Sedangkan “mereka yang sesat” (Adh-Dholal) adalah kaum Nasrani.  Mereka beramal ibadah tapi tanpa ilmu, yaitu dengan mengatakan “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga“. Padahal baik kaum Yahudi maupun Nasrani sejatinya adalah masuk dalam golongan orang beriman.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):73).

Allah swt mengingatkan kaum Muslimin agar tidak meniru keduanya. Umat Islam tidak cukup hanya beriman tapi juga wajib beramal ibadah sesuai ilmu yang dimiliki, yaitu ilmu yang berasal dari Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan kata lain orang beriman tapi tidak beramal sholeh/kebaikan seperti mendirikan shalat, zakat dll, Allah swt tidak menjamin yang bersangkutan kelak bisa masuk surga. Ayat-ayat Al-Quran yang menggandengkan iman dan ber-amal sholeh jumlahnya cukup banyak. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah “salaam” ( Terjemah QS. Ibrahim (14):23).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya”.( Terjemah QS. Al-Kahfi(18):107).

Uniknya ayat-ayat tersebut tidak hanya ditujukan khusus bagi umat Islam saja tapi juga umat agama lain.

 “Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):62).

Ajaran Yahudi, Nasrani dan Islam yang sering disebut sebagai agama langit, sejatinya memang  tidak jauh berbeda. Ketiga agama tersebut sama-sama dibawa oleh malaikat yang sama yaitu malaikat Jibril as, dan disampaikan kepada manusia oleh para nabi yang merupakan utusan Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Tak heran bila perintahnyapun sama, yaitu agar tidak menyembah selain Allah, berbuat baik kepada kedua orang-tua, bahkan juga shalat dan sedekah. Sayangnya, hanya sebagian kecil yang menunaikan perintah tersebut.

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):83).

Dan sebagai tanda besarnya kasih sayang Sang Khalik kepada umat Islam, diwajibkanlah kita membaca Al-Fatihah minimal 17 x sehari, dalam 5 x shalat wajib. Salah satu tujuannya agar kita selalu ingat apa yang dilakukan kaum Yahudi dan kaum Nasrani, jangan sampai kita mengikuti perlakuan buruk kedua kaum tersebut.

Melalui sejumlah ayat, berkali-kali Allah swt menceritakan keburukan mereka, terutama kaum Yahudi. Sayangnya sering kali kita lupa bahwa hal tersebut bukan untuk sekedar mengejek dan mengolok-olok mereka. Lebih penting lagi agar kita tidak mengulangi kesalahan mereka. Ayat berikut misalnya,

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” … … “.  ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):80).

Ayat di atas menceritakan tentang ulama-ulama Yahudi yang dengan congkaknya berkata dan yakin tidak akan terkena api neraka kecuali hanya sedikit/sebentar. Padahal dengan seenaknya mereka telah menambah-nambahi dan merubah ayat-ayat suci mereka.

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. “.  ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):79).

Ironisnya, hari ini kita bisa melihat adanya sebagian ulama Islam yang melakukan hal yang mirip dengan mereka.  Ulama Syiah contohnya, yang telah menulis kitabnya sendiri dan menisbahkannya sebagai dari Allah swt. Ataupun orang-orang Islam yang mengaku-ngaku sebagai nabi, ulama-ulama JIL ( Jaringan Liberal) yang mengatakan semua agama adalah benar, dll.

Pada Al-Baqarah ayat 67-71, Allah swt juga menceritakan kaum Yahudi yang keras kepala, suka membantah dan banyak bertanya apa yang diperintahkan rasul-Nya. Begitu juga kaum Muslimin hari ini yang suka memilah-milah ayat mana yang disukai dan mana yang tidak disukai untuk ditaati. Ayat tentang memilih pemimpin, pembagian harta waris dan kebolehan ber-poligami adalah contoh ayat yang sering enggan ditaati sebagian kaum Muslimin. Bukankah kita diperintahkan untuk kaffah ( secara menyeluruh/tidak tebang pilih) dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya??

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya/kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):208).

Hal lain adalah persaudaraan sesama Muslim yang makin hari makin diabaikan. Lupa bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat, sepanjang tidak menyalahi Al-Quran dan As-Sunnah yang bisa saja multi tafsir. Mengapa harus mempertajam perbedaan yang tidak seberapa dan tidak mendasar dengan mengabaikan persamaan yang jauh lebih banyak??

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga 73 golongan.” ( HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

Wallahu‘alam bi shawwab.

Jakarta, 14 Februari 2019.

Vien AM.

Read Full Post »