Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2020

Shofa dan Marwah adalah nama 2 buah bukit di dekat kota Makkah. Jarak antara keduanya sekitar 400 meter. Ke dua bukit tersebut merupakan bagian dari bukit Abi Qubaish. Di bukit inilah dulu jauh sebelum datangnya islam berdiri ratusan berhala yang disembah orang2 Quraisy jahiliyah sebagai bagian dari tradisi.

Sesungguhnya Shofa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa`i antara keduanya. … … “.(Terjemah QS. Al-Baqarah 158).

Ayat di atas adalah ayat yang berisi perintah Sai ( jalan dan lari-lari kecil) antara Shofa dan Marwah sebagai bagian dari ibadah haji dan umrah. Yang menarik kalimat yang digunakan ayat tersebut bukan kata perintah lazimnya sebuah perintah, melainkan “ tidak ada dosa”.

tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa`i antara keduanya”.

Apakah itu berarti bahwa Sai itu tidak wajib??

Terdapat perbedaan pendapat antar mahzab. Imam Syafii yang mahzabnya merupakan pegangan umat Islam di Indonesia, berpendapat Sai adalah rukun dan hukumnya fardhu, yaitu tidak sah bila tidak dilakukan. Sedangkan menurut Imam Malik wajib namun bila terpaksa bisa dibayar dengan dam/denda. Sementara Imam Hanafi berpendapat tidak wajib. Tapi diantara semua pendapat yang terkuat adalah rukun, berdasarkan beberapa pernyataan Rasulullah, diantaranya :

“Sesungguhnya Allah mewajibkan Sai atas kamu”. (HR. Baihaqi).

Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir diceritakan bahwa Sai telah dikerjakan orang-orang Qurasy jauh sebelum Islam datang. Mereka terbiasa Sai dari bukit Shofa dan bukit Marwah, dan setiap kali tiba di kedua bukit tersebut mengusap patung berhala yang terdapat di atasnya. Bukan hanya Sai bahkan Tawafpun telah mereka kerjakan sejak lama. Sai dan Tawaf yang merupakan bagian dari ibadah Haji memang sudah ada sejak dahulu kala, yaitu sejak zaman nabi Ibrahim as. Karena Haji memang adalah  syariah nabi Ibrahim as yang di kemudian hari makin lama makin diselewengkan hingga datangnya nabi Muhammad saw.

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. ( Terjemah QS. Ali Imran(3):97).

Itu sebabnya ketika turun ayat tentang Sai dalam ayat 158 surat Baqarah di atas para sahabat bertanya-tanya mengapa Allah swt memerintahkan melakukan sesuatu yang merupakan kebiasaan jahilyah Quraisy. Mereka ragu dan agak enggan melakukan perintah tersebut. Itu pula sebabnya di akhir ayat Allah berfirman,

“Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui”.

Maka para sahabatpun melakukan Sai dengan hati tenang, karena mereka menyadari yang mereka lakukan adalah dalam rangka ketaatan kepada perintah Tuhannya, bukan karena mengikuti tradisi nenek moyang.

Berikut beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari ayat di atas,

1. Sai yang merupakan bagian dari Haji dan Umrah adalah ritual yang umurnya sudah ribuan tahun. Ritual ini adalah syariat nabi Ibrahim as yang diluruskan kembali ke arah yang benar setelah sekian tahun lamanya bercampur dengan kesyirikan. Yaitu melalui Al-Quran yang dibawa rasulullah Muhammad saw.

2. Adat, tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat selama tidak bertentangan dengan syariat boleh tetap dijalankan. Sedangkan yang tidak sesuai syariat apalagi yang mengandung kesyirikan tidak boleh dilanjutkan, bahkan haram.

3.Ketika kita ragu terhadap sesuatu yang belum jelas hukumnya, sebaiknya berhenti dahulu, cari ilmunya hingga jelas haram/halalnya.

4.Seorang hamba tidak punya pilihan kecuali taat dan patuh kepada Allah swt, sami’na wa atho’na ( kami dengar dan kami taat). Nabi Ibrahim as dan istrinya Siti Hajar adalah contoh yang terbaik. Meski keduanya tidak mengetahui hikmah apa dibalik perintah Allah swt meninggalkan Siti Hajar dan Ismail as yang masih bayi di tanah gersang tak berpenghuni nun jauh di sana, mereka tetap patuh menjalankan perintah tersebut.

5.Pertolongan Allah pasti datang bila kita bersungguh-sungguh berusaha mencari jalan keluarnya. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Yaitu dengan keluarnya air zam-zam dari padang pasir  yang mustahil bisa terjadi bila dipikir secara logika. Ini terjadi setelah Siti Hajar berlari bolak-balik antara Shofa dan Marwa di tengah kesedihan dan keputus-asaan mencari air minum yang sangat dibutuhkan diri dan bayinya.

Namun hari ini kita melihat bagaimana pemerintah Arab Saudi mengeluarkan kebijakan menghentikan  kedatangan jamaah Umrah dari luar negrinya meski hanya untuk sementara. Yaitu selama merebaknya pandemi Corona/Covid-19 yang telah menelan puluhan ribu korban di seluruh penjuru dunia. 

Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Islam memang mengajarkan “lockdown” yaitu melarang orang keluar masuk suatu wilayah ketika sedang terjadi pandemi. Namun tetap saja pelarangan tersebut benar-benar sesuatu yang amat menyesakkan hati. Apalagi bila ibadah Haji yang tinggal beberapa bulan inipun sampai terpaksa dibatalkan. Na’udzubillah billah min dzalik …

Pertanyaan besar, mengapa Allah swt “terkesan ridho” virus ganas tersebut meluluh-lantakan syiar yang telah berumur ribuan tahun tersebut? Bukankah apapun yang terjadi di alam semesta ini semua atas izin-Nya?? Murkakah Allah terhadap penduduk bumi milik-Nya ini??

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. ( Terjemah QS. An-An’am(6):59).

Bila kita perhatikan sekali lagi ke lima hikmah ayat tentang Sai di atas, sudahkan umat mentaatinya??? Kesyirikan yang merupakan dosa terbesar yang harus kita hindari, masihkah ada terselip dalam ritual ibadah kita?? Bagaimana dengan berbagai upara adat sarat kesyirikan yang masih saja dilakukan umat Islam hingga detik ini, dengan berbagai alasannya??

Berapa banyaknya jamaah umrah dan haji yang pulang dari menjalankan rukun Islam ke 5 tersebut tapi masih juga santai melakukan berbagai kemaksiatan seperti korupsi, memamerkan aurat, mengkonsumsi alkohol, dll???  Bahkan prilaku homoseksual yang jelas-jelas diharamkan masih saja terjadi di negri yang katanya mayoritas Islam ini. Termasuk juga pelecehan terhadap ulama dan ajaran Islam yang makin menjadi-jadi. Menunjukkan ikatan persaudaraan yang makin lama makin rapuh.

Yaa Allah ampuni kami, maafkan kami, jangan Kau azab kami sebagaimana telah Kau azab kaum Aad, kaum Tsamud, Firaun dan pasukannya serta kaum-kaum lain yang membangkang dan mendurhakai-Mu.

Yaa Allah, semoga dengan ditutupnya rumah-rumahMu, dihentikannya kajian-kajian, kegiatan ngajar mengajar serta dibatasinya kegiatan perkantoran dan kegiatan sehari-hari lainnya, mampu membuat kami untuk segera introspeksi, memurnikan penyembahan, memperbaiki kesalahan, dan segera bertobat memohon ampunan-Mu.

Yaa Allah lindungi dan bebaskan kami dari ganasnya pandemi Corona serta penyakit-penyakit mematikan lainnya, dan berilah kami kesempatan untuk memasuki Ramadhan yang sudah di depan mata ini dengan hati yang bersih, bebas dari segala kesyirikan dan kemaksiatan.

Yaa Allah bukalah kembali pintu rumah-Mu di Masjidil Haram sehingga kami dapat kembali menjalankan ibadah umrah dan haji dalam keadaan sehat wal afiat dan hati yang tenang.

Yaa Allah Zat Yang Maha Mengabulkan Doa, kabulkankanlah doa dan permohonan kami sebagaimana Kau kabulkan doa nabi Yunus as yang selama beberapa waktu terkurung dalam kegelapan perut ikan, aamiin yaa robbal’aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 28 Maret 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Kata Pandemi berasal dari bahasa Yunani “Pan” yang artinya “Semua” dan “Demi” dari kata “Demos” yang artinya “Orang“. Singkat kata Pandemi adalah epidemi (wabah penyakit yang terjadi secara lebih cepat daripada yang diduga) yang menyebar di wilayah yang sangat luas, meliputi beberapa benua, atau bahkan ke seluruh dunia, menjangkiti semua orang,  karena penularan yang sangat cepat.

Sepanjang sejarah, sejumlah pandemi penyakit telah terjadi, seperti cacar (variola) dan tuberkulosis. Salah satu pandemi yang paling menghancurkan adalah Maut Hitam ( Black Death)  yang menewaskan sekitar 75–200 juta orang atau 1/3 hingga 2/3 penduduk dunia, sebagian besar penduduk Eropa. Pandemi ini terjadi antara tahun 1400-an hingga 1700-an. Pandemi lain yang tak kalah dasyatnya adalah Pandemi Influenza 1918 ( Spanish Flue) yang menelan korban antara 50 – 100 juta penduduk dunia.

Saat ini dunia kembali gempar karena adanya virus Corona  yang muncul pada Desember 2019.  Virus yang ditularkan dari kelelawar ini bermula dari kota Wuhan, sebuah wilayah China bagian tengah. Warga China, Wuhan khususnya memang dikenal sangat suka melahap daging kelelawar.

Ironisnya tragedy ini terjadi tak lama setelah presiden China Xi Jinping dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa tidak ada kekuatan yang bisa menggoyahkan China. Pernyataan tersebut dikeluarkan dalam perayaan 70 tahun kekuasaan Partai Komunis China pada 1/10/2019.

Tidak ada satu kekuatanpun yang bisa menggoyahkan landasan negara hebat ini,”.”Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan orang China dan negara China untuk melangkah maju”, serunya, sesumbar.

Maklum China adalah negara komunis yang menafi’kan keberadaan Tuhan. Tak heran bila kemudian Allah swt menjungkir-balikkan pernyataan pongah Jinping. Dari Wuhan virus terus menyebar tak terbendung ke berbagai penjuru kota China menyebabkan jatuhnya puluhan ribu korban. Pemerintah China segera mengeluarkan perintah untuk mengisolasi kota, penduduk dilarang keluar masuk kota yang terinfeksi.

Akhirnya WHO pun menyatakan virus Corona atau Covid-19 sebagai pandemik menyusul ditemukannya ratusan ribu kasus Corona di berbagai negara dan berisiko semakin menyebar luas. Tujuannya agar seluruh negara di dunia siap menghadapi kemungkinan penularan secara lebih luas dengan melakukan berbagai upaya pencegahan dan lain sebagainya.  Tercatat, kasus terparah di luar China hingga pertengahan Maret adalah Korea Selatan, Italia dan Iran.

Tak ayal sejumlah negarapun menyatakan Lockdown, artinya negara menutup semua perbatasannya, dengan tujuan tidak ada satupun orang bisa keluar masuk kota/negara bersangkutan. Jakarta diikuti beberapa kota besar lainnya akhirnya mengikuti jejak tersebut, meski bukan Lockdown dalam arti sebagaimana yang dilakukan negara lain.

https://wow.tribunnews.com/2020/03/14/jakarta-siaga-corona-covid-19-anies-baswedan-liburkan-sekolah-anak-anak-adalah-penular?_ga=2.191341866.1028413833.1584329569-650280403.1553788439.

Anies Bawesdan selaku gubernur DKI pada Sabtu 14 Maret dengan tegas memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sebelumnya yaitu pada hari Jumat 13 Maret, Anies juga menghimbau agar umat Islam dalam melaksanakan shalat Jumat tetap waspada dalam menghadapi bahaya virus Corona, diantaranya yaitu dengan membawa alat shalat masing-masing, yang kurang sehat memakai masker, membersihkan tangan dengan sanitizer sebelum memasuki pintu utama masjid dll.

Menariknya, gubernur DKI tersebut tidak lupa mengutip hadist yang berkaitan dengan Lockdown sebagaimana berikut,

Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Dulu di zaman Rasululullah SAW, sebelum diketahui obatnya, memang pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

“Jangan kamu terus menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta.” (HR Bukhari).

Pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab ra sekitar tahun 18H (640 M) pernah pula terjadi wabah penyakit menular. Ketika itu Umar bin Khattab bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri Syam. Di perbatasan sebelum memasuki Syam mereka mendengar ada wabah Tha’un Amwas sedang melanda negeri tersebut. Tha’un Amwas adalah sebuah penyakit menular berupa benjolan diseluruh tubuh yang ketika pecah akan mengakibatkan pendarahan. Umar dan rombonganpun berhenti.

Abu Ubaidah bin Al Jarrah, seorang sahabat sekaligus gubernur Syam ketika itu segera datang menemui rombongan. Terjadilah percakapan hangat, membicarakan bagaimana sebaiknya rombongan bersikap, melanjutkan masuk Syam atau pulang kembali ke Madinah.

Umar yang bijaksana, seperti biasa meminta saran para sahabat. Mereka semua berbeda pendapat. Abu Ubaidah menginginkan rombongan tetap masuk, dan berkata :”Mengapa engkau harus lari dari takdir Allah SWT?”

Namun Umar ra menyanggahnya, dan bertanya, “Jika engkau mempunyai kambing dan ada 2 lahan, yang satu subur dan yang lain kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah”.

“Sesungguhnya dengan kami pulang, kami hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain”, lanjut Umar.

Beruntung tiba-tiba Abdurrahman bin Auf ra teringat ucapan Rasulullah SAW,

Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya”.

Akhirnya rombonganpun kembali ke Madinah. Namun demikian Umar tidak kuasa meninggalkan Abu Ubaidah, sahabat yang dikaguminya itu tetap tinggal di Syam. Umar lalu menulis surat untuk mengajaknya ke Madinah.

Tapi apa jawaban Abu Ubaidah?? Ternyata sahabat Rasul tersebut memilih hidup dan mati bersama rakyatnya. Umar ra pun menangis membaca surat balasan Abu Ubaidah. Tangisnya bahkan bertambah mendengar Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat mulia lainnya seperti Muadz bin Jabal dan Suhail bin Amr wafat akibat wabah Tha’un yang merenggut sekitar 20 ribu orang, hampir separuh penduduk Syam ketika itu.

Wabah baru berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Ia berkata:

Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung”.

Pendudukpun mematuhinya. Mereka berpencar dan menempati gunung2. Wabah berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan bakar.

Dari peristiwa di atas dapat disimpulkan keputusan Lockdown dan Social distancing (menjaga jarak, mengurangi perjumpaan/kontak fisik) adalah sesuai dengan ajaran Islam. Makin membuktikan Islam akan senantiasa sesuai untuk manusia hingga akhir zaman.

Sayang penduduk Jakarta yang mayoritas Muslim itu ternyata banyak yang kurang memahami ajaran agamanya sendiri. Terbukti satu hari setelah Anies me”liburkan“ sekolah, jalan menuju Puncak Bogor macet sepanjang 8 km. Alasannya karena tempat rekreasi di Jakarta ditutup ! Dan ini berlanjut hingga esok harinya, dimana antrian panjang orang yang hendak pergi bekerja mengular di jalur antrian stasiun MRT dan busway Transjakarta.  Padahal imbauan agar orang bekerja dari rumah ( Work From Home) kecuali darurat telah dikeluarkan.

https://www.liputan6.com/global/read/4204213/bedanya-lockdown-dan-social-distancing-yang-perlu-dipahami-untuk-cegah-virus-corona

Tidakkah mereka menyadari bahwa tindakan tersebut dapat membahayakan orang lain?? Jika yang berdesakan di stasiun MRT dan busway dengan alasan harus bekerja demi kemaslahatan seperti para dokter, petugas medis, petugas pemadam kebakaran atau para pejabat tinggi yang memang mempunyai tanggung-jawab besar terhadap masyarakat, tentu bisa dimaklumi. Bahkan bila niatnya demi mencari ridho Allah swt pahala besar sudah pasti akan mereka raih. Tapi mereka yang hanya sekedar berjalan-jalan rekreasi ???

Sejumlah hadist mengatakan penyakit bisa jadi rahmat bahkan syahid bagi kaum Mukmimin, tapi tentunya setelah ikhtiar maksimal. Dan bersabar adalah salah satu syaratnya.

“Tha’un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin”.

“Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid”. (HR. Bukhari dan Ahmad)

Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)”. (HR Bukhari).

Akhir kata semoga kita semua bisa lulus dari ujian berat ini, dan semoga Alah swt berkenan segera mengakhirinya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

“Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya”.(HR. Bukhari)

96ecc4d5-bd64-4256-9d33-38db0863e78eWallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 18 Maret 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Kaum Muslimin sebagai kaum minoritas kembali menjadi korban kekerasan dan kebiadaban. Kali ini terjadi di India yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu. Pemicunya adalah Citizenship Amendment Act (CAA) sebuah RUU yang memungkinkan pemerintah India memberikan kewarganegaraan pada warga ber-agama minoritas, kecuali Islam. Kecuali Islam???

Perdana Menteri Narendra Modi berdalih undang-undang baru itu diperlukan untuk membantu dan memberi perlindungan (amnesti) kaum minoritas yang melarikan diri ke India dari penganiayaan agama di negara mayoritas Muslim di Afghanistan, Bangladesh dan Pakistan yang merupakan tetangga terdekat India. Namun ia tidak menjelaskan penganiayaan yang dimaksudkannya tersebut.

Tidak semua rakyat India termasuk yang beragama Hindu menyetujui  undang-undang sepihak dan diskriminatif tersebut. Mereka berpendapat bahwa hukum tersebut sangat bertentangan dengan semangat konstitusi sekuler negara.

https://www.merdeka.com/dunia/deretan-aktor-bollywood-dukung-demo-penolakan-uu-kewarganegaraan-baru-india.html

Para kritikus bahkan meyakini bahwa RUU itu adalah bagian dari upaya partai BJP (Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata) yang merupakan pemegang kekuasaan, untuk meminggirkan Umat Islam. Ini demi mengejar agenda pro-Hindu sebagai yang dijanjikan ketika terpilih kembali sebagai PM tahun lalu. Namun demikian Modi menyangkal adanya bias terhadap populasi Muslim India yang jumlahnya lebih dari 180 juta orang itu.

Pimpinan lembaga Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet juga mengatakan undang-undang baru yang diadopsi Desember lalu itu memang “sangat memprihatinkan”. Namun, ia mengimbau agar semua pihak menghindari kekerasan.

Saya menghimbau semua pemimpin politik untuk mencegah kekerasan,” kata Bachelet dalam pidatonya di dewan HAM PBB di Jenewa, sebagaimana dilaporkan The Guardian.

Demo antara demonstran pendukung (Hindu) dan penolak CAA yang mayoritas beragama Islam pertama kali terjadi pada Minggu (23/02/2020). Kerusuhan demi kerusuhan terus terjadi selama kunjungan resmi pertama presiden AS Donald Trump ke India.

Dalam kerusuhan tersebut terjadi aksi pembakaran, penjarahan, penganiayaan, pelemparan batu dll. Korban terakhir tercatat 38 orang meninggal, lebih dari 150 orang mengalami luka serius, mayoritas Muslim. Dilaporkan banyak pula warga yang menderita luka tembak.

Yang juga menyedihkan adalah adanya perusakan masjid. Secara brutal mereka menaiki menara masjid dan mencabut simbol bulan sabit yang ada di atasnya lalu menggantinya dengan lambang Hanuman yang merupakan lambang sakral umat Hindu.

https://www.viva.co.id/berita/dunia/1202063-pecah-kerusuhan-bendera-hanoman-dikibarkan-di-menara-masjid?medium=terpopuler-widget

india riotriot india1Dengan beringas, ber-ramai-ramai mereka pukuli orang yang sedang menuju masjid, mereka masuki rumah-rumah kaum Muslimin  yang telah puluhan tahun ditinggali, memaksa meninggalkannya bahkan selanjutnya membakarnya. Belum lagi penyerbuan polisi ke Universitas Jamia Millia Islamia. … Astaghfirullahaladzim …

Menjadi pertanyaan besar mengapa umat Islam ketika posisinya minoritas sering kali di dzalimi??? Mengapa mereka yang tidak menyukai bahkan membenci Islam bisa dan berani berbuat semena-mena terhadap saudara-saudari kita ?? Sungguh menyedihkan … Belum juga usai penderitaan kaum Muslimin di Palestina, Suriah, Rohingnya, Uighur … kini India …

Dimana ikatan persaudaraan Islam yang harusnya mampu mencegah dan melindungi saudara-saudari kita yang terdzalimi di negri dimana mereka hanya minoritas???

Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim yang lainnya. Tidak boleh mendzaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang Muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Bukankah jumlah kaum Muslimin di dunia ini cukup banyak, bukan hanya sedikit hingga tidak mampu berbuat sesuatu. Sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah saw berabad-abad silam.

Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati”. [HR. Abu Daud dan Ahmad].

Tampaknya hanya Tayyip Erdogan, presiden Turki, satu-satunya kepala negara mayoritas Muslim yang secara lantang berani membela dan memprotes apa yang dialami kaum Muslimin. Jokowi presiden negara mayoritas Muslim terbesar tidak sedikitpun mengeluarkan pernyataan keprihatinan.

Aktivis pembela kemanusiaan, Natalius Pigai, mempertanyakan peran dari Jokowi, “Hari ini umat Islam di India dibantai, di mana Ir. Joko Widodo?” kata Pigai dalam siaran persnya kepada VIVAnews, Jumat, 28 Februari 2020.

Dalam kesempatan tersebut ia membandingkan dengan apa yang dilakukan Soekarno, presiden pertama Indonesia dalam menghadapi apa yang dilakukan India terhadap kaum Muslimin di Kashmir beberapa puluh tahun yang lalu.

“Saya bantu karena solidaritas bangsa Muslim”, begitu jawaban Soekarno terhadap pertanyaan Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India ketika itu) yang kaget dengan sikap Soekarno, sahabatnya,

https://www.vivanews.com/berita/nasional/38454-natalius-pigai-umat-islam-dibantai-di-india-di-mana-jokowi?medium=autonext

Bandingkan pula dengan pernyataan Modi di awal tulisan, yang berdalih CAA dibuat demi membantu kaumnya yang ia anggap tertindas meski anggapan tersebut tidak terbukti dan belum tentu benar. Karena Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dan pemaksaan apalagi dalam hal keimanan.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. … “.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):256).

Namun harus diakui tindakan partai Hindu yang mengusung Modi demi  memprioritaskan kaum Hindu yang merupakan mayoritas adalah tindakan yang patut dihargai. Caranya yang terlalu mencolok hingga menyakiti dan menimbulkan bentrokan berdarah antar kaum beragama tanpa usaha maksimal penguasa, yang harus kita cela.

Hal yang rasanya tidak mungkin terjadi di negri kita tercinta yang katanya mayoritas Islam ini. Yang mendengar kata “khilafah” saja sudah alergi. Maka tak heran ketika ormas seperti FPI, GNPF Ulama serta PA 212 melakukan demo besar-besaran di depan kedutaan India pada Jumat 6 Maret 2020 lalu tidak satupun media mainstream meliputnya. Yang ada malah sejumlah orang yang mengaku Muslim nyinyir menanggapinya … Na’udzubillah min dzalik …

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200306110017-20-481028/demo-kedubes-india-pa-212-tuntut-putus-hubungan-diplomatik

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawab.

Jakarta, 9 Maret 2020.

Vien AM.

Note:

Kabar terakhir, sebuah video menunjukkan hampir 3000 warga Hindu India berbondong-bondong memeluk Islam paska kerusuhan CAA. Allahu Akbar …

Read Full Post »

2104168manusia-pertama-bisa-terbang780x390Jauh sebelum Orville dan Wilbur Wright bersaudara berhasil menerbangkan pesawat pada tahun 1903, ilmuwan Muslim telah mengembangkan prinsip-prinsip penerbangan. Abbas Ibn Firnas, seorang matematikawan, astronom, fisikawan, dan ahli penerbangan Muslim dari abad ke-9, tercatat sebagai manusia pertama yang mengembangkan alat penerbangan dan sukses terbang.

Pengertian manusia pertama di sini berlaku umum, mencakup siapa pun yang berhasil terbang menggunakan alat apa pun, tidak harus berupa pesawat terbang seperti yang ada saat ini. Ibn Firnas berhasil terbang menggunakan glider, alat terbang sederhana yang dilengkapi sayap. Sementara itu, tak diragukan, Wright merupakan penemu dan penerbang pesawat terbang pertama.

Alat terbang Ibn Firnas memang masih sederhana. Namun, keberhasilan Ibn Firnas menguji dan menerbangkan alat buatannya pada tahun 852 memberi inspirasi kepada ilmuwan-ilmuwan Barat untuk mengembangkan pesawat. Ibn Firmas lahir di Izn-Rand Onda (sekarang Ronda, Spanyol) tahun 810 Masehi. Pria Maroko ini hidup pada masa pemerintahan Khalifah Umayyah di Andalusia (Spanyol). Semasa hidupnya, seorang genius yang hidup di Cordoba ini dikenal sebagai ilmuwan serba bisa dan menguasai beragam disiplin ilmu pengetahuan.

Menurut sejumlah sumber, ketertarikan Abbas pada aeronautika bermula saat ia menyaksikan atraksi pria pemberani bernama Armen Firman. Pria tersebut membuat alat dari sutra yang diperkuat dengan batang kayu. Ia lantas terjun dari ketinggian, tetapi ia tak berhasil. Untungnya, alat cukup menghambat gerak jatuh bebas Firman sehingga ia tak terluka. Ibn Firnas yang berada dalam kerumuman penonton terkesan dengan aksi Armen Firman. Pengalamannya ini yang menyeretnya mempelajari aeronautika lebih dalam.

Sumber lain menyebut, Armen Firman sejatinya merupakan nama Ibn Firnas yang “dilatinkan”. “Penerbangan” pada tahun 852 adalah percobaan pertamanya. Tahun 875, saat usianya menginjak 65 tahun, Ibn Firnas merancang dan membuat sebuah alat terbang yang mampu membawa penumpang. Ia lantas mengundang orang-orang Cordoba untuk turut menyaksikan penerbangan bersejarahnya di Jabal Al-‘Arus (Mount of the Bride) di kawasan Rusafa, dekat Cordoba.

Sebelum melakukan uji coba terbang, Ibn Firnas sempat mengucapkan salam perpisahan, mengantisipasi jika penerbangannya gagal.

Saat ini, saya akan mengucapkan selamat tinggal. Saya akan bergerak dengan mengepakkan sayap, yang seharusnya membuat saya terbang seperti burung. Jika semua berjalan dengan baik, saya bisa kembali dengan selamat,” katanya.

Penerbangan itu sukses. Ibn Firnas mampu terbang selama 10 menit. Sayang, cara meluncurnya tidak tepat sehingga melakukan pendaratan yang fatal. Ibn Firnas terempas ke tanah bersama “pesawatnya” dan mengalami patah tulang pada bagian punggung. Kecelakaan itu terjadi karena dia lupa untuk menambahkan ekor pada alat buatannya. Ibn Firnas tidak memperhitungkan pentingnya ekor sebagai bagian yang digunakan untuk memperlambat kecepatan saat melakukan pendaratan sebagaimana layaknya burung ketika menggunakan ekornya.

Abbas Ibn Firnas wafat pada tahun 888. Ia tidak bisa bertahan dari deraan sakit akibat cedera punggung yang diderita saat melakukan uji coba pesawat buatannya. Pengalaman terbang Ibn Firnas menjadi pelajaran bagi ilmuwan lain. Gagasannya terus dipelajari oleh ilmuwan-ilmuwan lain setelahnya. Abbas bukan hanya penemu pesawat terbang pertama.

Ia juga dikenal sebagai ilmuwan serba bisa yang menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Ia mempelajari halilintar dan kilat, membuat tabel astronomi, dan menciptakan gelas berwarna. Bahkan, Ibn Firnas menemukan jam air yang disebut Al-Maqata.

Di bidang astronomi, Ia juga mengembangkan peraga rantai cincin yang digunakan untuk menjelaskan pola pergerakan planet-planet dan bintang-bintang. Atas kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan, beberapa negara bahkan memberikan penghormatan khusus.

Pemerintah Libya mengeluarkan prangko bergambar Abbas Ibn Firnas untuk mengenangnya. Irak juga membangun patung sang penerbang pertama itu di sekitar lapangan terbang internasionalnya serta mengabadikan namanya sebagai nama bandara di utara Baghdad. Baru-baru ini namanya dipakai sebagai nama jembatan di kota asalnya, Cordoba. Nama Armen Firman sendiri menjadi nama salah satu kawah di bulan. A(Researcgate, Muslim Memo, Forgotten Islamic History)

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 6 Maret 2020.

Vien AM.

Diambil dari :

https://sains.kompas.com/read/2016/06/15/21063001/manusia.pertama.yang.berhasil.terbang.ternyata.seorang.muslim?page=all#page3

Read Full Post »