Feeds:
Posts
Comments

Archive for August 20th, 2020

Semangat Hijrah(1).

Belakangan ini, kata hijrah makin populer di kalangan anak muda yang sedang bersemangat mengikuti berbagai kajian ke-Islam-an. Hijrah biasanya ditandai dengan berubahnya penampilan. Yang perempuan dengan jilbab syar’i-nya, yang lelaki dengan jenggot dan celana cingkrangnya. Sudah sepantasnya kita sambut gembira perubahan tersebut, dengan catatan bila hijrah dilakukan karena dan hanya untuk Allah Azza wa Jala.

Hijrah berasal dari bahasa Arab yang artinya meninggalkan, menjauhkan dari, dan berpindah tempat. Dalam sejarah Islam, hijrah adalah perpindahan yang dilakukan Rasulullah Muhammad saw bersama para sahabat, dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan untuk mempertahankan dan menegakkan risalah Islam. Karena selama 13 tahun berdakwah di Mekkah, Rasulullah dan kaum Muslimin yang ketika itu baru berjumlah sedikit sering mengalami cobaan yang berat dan perlakuan keji dari kaum Quraisy. Puncaknya adalah konspirasi pembunuhan Rasulullah saw.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab ra perpindahan tersebut diabadikan dengan ditetapkannya sebagai permulaan kalender Islam yang disebut dengan tahun Hijriyah. Tahun tersebut bertepatan dengan tahun 622 Masehi.

Hijrah terbagi atas dua macam, yaitu hijrah Makaniyah dan hijrah Maknawiyah. Hijrah Makaniyah atau hijrah fisik yaitu pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Atau bisa dimaknai dengan berubah dari suatu keadaan menuju keadaan yang lebih baik. Diantaranya dengan penampilan yang lebih baik, lebih Islami, lebih mengikuti syariah.

Sedang hijrah Maknawiyah atau hijrah batin adalah berpindah dari kekufuran menuju keimanan, dari kebathilan menuju ketaatan, dari berharap kepada makhluk menuju hanya berharap kepada Allah SWT. Hal ini dapat ditandai dengan perubahan sikap yang nyata, seperti lebih dekat dengan Al-Quranul Karim, mengkuti kajian-kajian, shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki dll.

Hijrah terbaik adalah yang melibatkan keduanya, hati dan jasad. Sebagian ulama bahkan berkata hijrah bukan sekedar mengerjakan yang sunnah tapi lebih penting lagi meninggalkan segala yang haram. Karena tidak sedikit anak-anak muda yang mengaku hijrah melakukan hal-hal yang sunnah seperti memelihara jenggot, memakai celana cingkrang, melakukan shalat Dhuha tapi tetap berduaan berpacaran, makan makanan yang tidak halal, masih tetap menyimpan uangnya di bank konvensional, bahkan shalat Subuhpun masih sering lalai.

Namun demikian, tak dapat dipungkiri banyaknya pemuda/i yang berhijrah di saat tanda-tanda Hari Kiamat makin bermunculan membuat hati ini lega. Bagi yang suka mengikuti tausiyah para ulama spesialis akhir zaman pasti tahu bahwa kerusakan moral seperti makin merajalelanya perzinahan dan prilaku menyimpang seksual adalah salah satu tanda-tandanya. Jadi sungguh patut diacungi jempol mereka yang berani mengambil keputusan berhijrah di tengah suasana yang demikian.

Mengambil ibrah hijrah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat, hijrah itu harus dipersiapkan. Hijrah ke Madinah diawali dengan baiat Aqabah yaitu ikrarnya 12 penduduk Yatsrib (Madinah) yang ketika itu sedang berziarah ke Mekah, kemudian disusul tahun depannya dengan 75 penduduk Yatsrib yang juga ber-ikrar membela perjuangan rasulullah saw. Itu sebabnya rasulullah dan para sahabat setibanya di Madinah disambut dengan sangat antusias dan baik sekali oleh penduduk Yatsrib.

Yang juga perlu dicatat, Rasulullah hijrah bukan sekedar menghindar dari kedzaliman penduduk Mekah. Namun juga untuk melancarkan, memantabkan sekaligus menyiapkan kaum Muslimin agar suatu hari nanti bisa kembali ke Mekah dan menaklukannya sebagai kota suci bagi seluruh umat Islam.

Telah dikalahkan bangsa Rum, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang”. (Terjemah QS. Ar-Rum(30):2-5).

Ayat di atas turun di Mekah, sebelum hijrahnya Rasulullah. Ayat tersebut mengabarkan bahwa Rum akan dikalahkan namun beberapa tahun kemudian akan membalas kekalahannya. Rum yang dimaksud ayat tersebut adalah imperium Rumawi Timur atau Byzantium yang ketika itu merupakan negara adi daya. Sedang yang dihadapi adalah imperium Persia yang sejak bertahun-tahun sering berperang berebut kekuasaan menguasai dunia dengan kemenangan yang silih berganti. Yaman dan Irak ketika itu di bawah kekuasaan Persia, sedang Mesir hingga ke Syam ( Lebanon, Suriah, Palestina dan Yordania) berada di bawah kekuasaan Rumawi Timur.

Tak lama setelah turunnya ayat di atas tersiar kabar bahwa Persia telah mengalahkan Rumawi Timur. Sontak orang-orang Quraisypun bersorak girang dan makin merasa congkak. Pasalnya mereka menyetarakan Persia dengan mereka karena Persia adalah negara majusi penyembah api. Sementara Rumawi Timur yang merupakan ahli kitab mewakili kaum Muslimin sebagai orang beriman.

Sebaliknya ketika beberapa tahun kemudian Rumawi Timur berhasil mengalahkan balik Persia merekapun terdiam. Bahkan banyak diantara orang-orang Quraisy yang akhirnya memeluk Islam. Mereka mulai merasakan kebenaran Al-Quran. Hal tersebut terjadi ketika kaum Muslimin telah hijrah ke Madinah.

Pada saat kerajaan tersebut sedang merayakan kemenangan itulah Rasulullah mengutus seorang kepercayaan untuk menyampaikan surat kepada Heraclius kaisar Rumawi Timur yang isinya sebagai berikut:

Bismillahir rahmanir rahiim …

Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya. Kepada Heraklius, raja Romawi. Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, selanjutnya:

Saya mengajak Anda dengan seruan Islam. Masuklah Islam, niscaya Anda akan selamat. Allah akan memberikan pahala kepada-Mu dua kali. Jika Anda berpaling (tidak menerima) maka Anda menanggung semua dosa kaum Arisiyin. Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran: 64).

Sebuah pertanyaan menggelitik bagaimana Rasulullah yang ketika itu baru menguasai Madinah sebagai kota yang tidak mempunyai pengaruh dunia tapi berani mengirimkan surat kepada seorang kaisar negara adi daya yang baru saja memenangkan pertempuran bergengsi, dengan isinya yang bisa dibilang “lancang’‘ dalam pandangan mereka.

Sejarah juga mencatat beberapa tahun kemudian wilayah kekuasaan Rumawi Timur maupun Persia keduanya jatuh ke dalam kekuasaan Islam. Allahu Akbar …

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.  (Terjemah QS. Ali Imran(3):26).

Itulah kekuatan dasyat hijrah, yang menjadikan Al-Quranul Karim sebagai pegangan dan pelindung dari segala kejahatan manusia dan jin. Allah swt adalah Yang Maha Besar, tidak ada yang perlu ditakuti selain-Nya. Kepatuhan dan ketaatan hanya kepada-Nya.

Selain persiapan yang matang hijrah juga memerlukan lingkungan yang kondusif. Pengalaman mengatakan bagaimana seorang yang hijrah tapi tetap berada di lingkungan lama yang tidak baik mudah terperosok kembali ke dalam kegelapan.

Sebaliknya tidak sedikit selebritis muda yang hijrah, berani meninggalkan dunia gemerlap maka Allahpun memberi jalan keluar.  Betapa banyak kaum muda yang tadinya berkiprah di dunia per-bank-an dan keuangan yang sarat riba kemudian berhijrah lalu Allah menolong mereka dengan rezeki yang halal.

Pemuda bagaimanapun adalah ujung tombak berbagai perjuangan termasuk perjuangan melawan kebathilan. Sejarah mencatat bagaimana di hari-hari akhir rasulullah menunjuk Usamah bin Zaid bin Harits yang ketika itu baru berusia 18 tahun untuk menjadi panglima perang melawan Rumawi Timur.

“Sungguh Kostantinopel akan dibebaskan, sebaik–baik amir adalah amirnya dan sebaik–baik pasukan adalah pasukan tersebut.”[HR. Bukhari Muslim].

Begitupun penakluk Konstatinopel ibu kota Byzantium/Rumawi Timur pada tahun 1453. Ia adalah seorang pemuda yang baru berusia 22 tahun. Itulah Muhammad Al Fatih yang juga dikenal dengan nama Sultan Mehmed II, yang memiliki nama besar sejajar dengan Sultan Salahuddin Ayyubi yang berhasil merebut kembali Yerusalem dengan Baitul Aqshonya dari cengkeraman tentara Salib. Salahuddin berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah yang memiliki kekuasaan yang sangat luas pada usia relative muda, yaitu 36 tahun.

Berikut adalah daftar 11 pemuda Islam terbaik sepanjang sejarah.

https://www.islampos.com/inilah-11-pemuda-islam-terbaik-sepanjang-sejarah-91801/

Akhir kata kalaupun seorang pemuda tidak memiliki kemampuan untuk melawan kedzaliman dan kekafiran paling tidak ia harus berusaha menghindarinya sebagaimana kisah para pemuda penghuni gua Kahfi yang diabadikan panjang lebar dalam surat Al-Kahfi. Allah swt tidurkan mereka selama 309 tahun dan terbangun ketika kekuasaan telah Allah pindahkan kepada orang beriman.

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu”. (Terjemah QS.Al-Kahfi(18):16).

Mari kita sambut tahun baru Hijriyah 1442 ini dengan semangat meneladani Rasulullah, para sahabat dan para pemuda di masa lalu.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 1 Muharam 1442H.

Vien AM.

Read Full Post »