Feeds:
Posts
Comments

Archive for August 7th, 2021

Surat Al-Kahfi adalah surat ke 18 dari 114 surat yang terdapat dalam Al-Quranul Karim. Surat yang terletak pada akhir juz 15 dan awal juz 16 ini termasuk dalam golongan surat Makkiyah. Golongan surat Makkiyah adalah surat yang turun sebelum Rasulullah saw hijrah ke Madinah.

Semua surat dalam Al-Quran sudah pasti memiliki banyak kebaikan bahkan ada yang mempunyai keistimewaan. Demikian pula surat Al-Kahfi sebagaimana hadist-hadist berikut :

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra., dari Ibnu Umar ra., mengatakan bahwa “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua Jum’at.’”.

Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi).

Siapa yang membaca surat Al-Kahfi, maka jadilah baginya cahaya dari kepala hingga kakinya, dan siapa yang membaca keseluruhannya maka jadilah baginya cahaya antara langit dan bumi.” (HR Ahmad).

Seperti juga surat lain dalam Al-Quran, Al-Kahfi juga menceritakan banyak kisah hikmah. Surat Al-Kahfi dibuka dengan penegasan bahwa Al-Quran adalah kitab yang lurus, tidak ada kebengkokan di dalamnya. Ia adalah petunjuk, bimbingan sekaligus peringatan bahwa orang beriman dan beramal sholeh, tempatnya kelak adalah surga. Sedangkan orang kafir yaitu orang-orang yang berkeyakinan bahwa Allah Subhana wa ta’ala mempunyai anak, tempatnya adalah neraka.

Setidaknya ada 4 kisah menarik dalam surat ini, yaitu kisah tentang pemuda penghuni gua Kahfi, kisah 2 pemilik kebun, kisah nabi Musa dengan nabi Khidir, dan terakhir kisah raja Dzulkarnaen, dan sedikit kaitannya dengan Yajuj Majuj yang akan muncul di akhir zaman nanti.

Ke 4 kisah tersebut menunjukkan bahwa manusia dalam mengarungi hidupnya akan menghadapi berbagai fitnah dan cobaan. Siapa yang berhasil lolos mereka akan masuk surga sedangkan yang kalah akan masuk neraka. Fitnah dan cobaan yang harus dihadapi manusia paling tidak ada 4, yaitu fitnah agama sebagaimana yang dihadapi para pemuda Kahfi, fitnah kekayaan sebagaimana kisah 2 pemilik kebun, fitnah ilmu seperti kisah nabi Musa yang berguru kepada nabi Khidir, serta fitnah kekuasaan yang dikisahkan melalui raja alim Dzukarnaen.

1. Fitnah agama.

Ini adalah fitnah terbesar dan terberat dalam hidup. Tak salah bila Allah swt menempatkan kisah Pemuda Penghuni Gua Kahfi( Ashabul Kahfi) pada bagian awal surat Al-Kahfi. Kisah ini terdapat pada ayat 9 hingga ayat 26, dibuka dengan ayat tentang keheranan sebagian orang tentang bagaimana mungkin orang bisa tertidur selama ratusan tahun di dalam sebuah gua. 

Selanjutnya pada ayat 13 Allah swt menegaskan bahwa para pemuda yang ditidurkan-Nya tersebut adalah orang-orang beriman.  Mereka hidup pada saat raja dan masyarakat dimana mereka tinggal adalah kafir. Maka demi menyelamatkan aqidah mereka memilih untuk menjauh, pergi meninggalkan kota. Lalu Allah pun berkenan menyembunyikan para pemuda tersebut ke dalam sebuah gua, bahkan menidurkannya selama 300 tahun ditambah 9 tahun.

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):25).

Namun para pemuda tersebut tidak menyadari bahwa mereka tidur selama itu. Dan ketika akhirnya Allah swt membangunkan mereka, keadaan telah berubah. Raja dan masyarakat telah menjadi orang-orang yang beriman.

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). … …”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):19).

Banyak hikmah dari kisah di atas, namun yang terpenting adalah bahwa aqidah di atas segalanya. Kenikmatan duniawi betapa berlimpahnya tidak ada artinya tanpa aqidah yang kuat.

dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.  ( Terjemah Al-Kahfi(18):14).   

2. Fitnah Kekayaan.

Pada ayat 32 Allah swt memberikan perumpamaan dua orang lelaki, yang satu kaya raya yang lain tidak. Si kaya Allah anugerahi 2 buah kebun anggur  yang dikelilingi pohon-pohon kurma, dan diantara ke 2 kebun tersebut terdapat ladang. Ini masih ditambah lagi dengan mengalirnya sungai di celah-celah kebun hingga tak syak lagi selalu menghasilkan buah yang berlimpah.

Namun sayangnya si pemilik kebun adalah orang yang congkak dan sombong. Ia merasa jumawa dengan harta dan banyaknya pengikut lebih hebat dari temannya. Ia bahkan juga mendustakan hari Kiamat.

Hingga suatu hari dengan pongahnya ia memasuki kebunnya dengan maksud  untuk memanen hasilnya. Namun apa yang terjadi???

Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.    ( Terjemah Al-Kahfi(18):42).   

Salah satu hikmah yang dapat kita petik dari kisah yang tertera dari ayat 32 hingga 46 surat Al-Kahfi di atas adalah bahwa kekayaan termasuk anak dan keluarga, tidaklah kekal. Ia hanyalah titipan yang suatu hari harus dikembalikan pada Empunya, Allah Azza wa Jala. Maka tak sepantasnya orang merasa sombong apalagi menyekutukan-Nya. 

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):46).   

3. Fitnah Ilmu.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. ( Terjemah QS. Al-Alaq(96):1-5).

Ayat di atas adalah ayat yang pertama kali diturunkan Allah Azza wa Jala kepada Rasulullah saw. Maknanya, Islam mengajarkan bahwa mencari ilmu ( melalui perintah “Bacalah!”) adalah hal yang sangat penting dan utama. 

Nabi Musa alahi salam adalah salah satu dari ulul azmi yang lima, yang sudah pasti ilmunya tidak perlu lagi diragukan. Nabi Musa di anugerahi mukjizat yang sangat banyak, yang paling fenomenal adalah tongkat yang atas izin Allah swt mampu membelah laut hingga dapat menyelamatkan nabi Musa dan pengikutnya dari kejaran Fir’aun yang kejam.

Namun dalam surat Al-Kahfi kisah yang diangkat mengenai nabi Musa tidak sama dengan ayat-ayat dalam surat lain. Yaitu kisah pertemuan dengan nabi Khidir, nabi yang tidak populer dan bahkan kemungkinan tidak mempunyai pengikut. Pada ayat 66 surat tersebut diberitakan bahwa nabi Musa ingin berguru kepada nabi Khidir demi mendapatkan ilmu yang dimiliki nabi tersebut. 

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” ( Terjemah Al-Kahfi(18):66).

Rupanya itu adalah cara Allah swt menegur nabi Musa as, karena suatu ketika nabi Musa pernah merasa dirinya adalah orang yang paling pandai.

Dari Ubay bin Ka’ab, Rasulullah bersabda, “Pada suatu ketika Musa berbicara di hadapan Bani Israil, kemudian ada seseorang yang bertanya, ‘Siapakah orang yang paling pandai itu?’ Musa menjawab, ‘Aku.’

Nabi Musapun segera menyadari kesalahannya. Maka dengan ikhlas ia mematuhi perintah Tuhannya untuk mencari nabi Khidir dan mempelajari ilmu darinya. Meski pada perjalanannya nabi Musa sering kehilangan kesabaran karena tidak mampu memahami ilmu tersebut hingga sering memprotes. Diantaranya sebagaimana ayat 71 berikut :

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar”.  

Padahal sejak awal nabi Khidir sudah memperingatkannya bahwa ia tidak akan sabar berguru padanya.

Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):67).

“Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun“. ( Terjemah Al-Kahfi(18):69).

Tiga kali nabi Musa mempertanyakan apa yang dilakukan nabi Khidir. Hingga akhirnya nabi Khidirpun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka dan kemudian menjelaskan apa yang dilakukannya sebagaimana yang terekam dalam ayat 78-82 surat Al-Kahfi.

Banyak hikmah yang bisa diambil dari kisah di atas. Namun yang terpenting adalah bahwa ilmu adalah cobaan yang harus dipertanggung-jawabkan. Ilmu sangat banyak dan beragam tetapi yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang mampu menambah keimanan bukan malah menjadi sombong apalagi takabur.

( Bersambung).

Read Full Post »