Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2021

Berita mengenai keberhasilan Taliban menguasai kembali Afganistan pada pertengahan Agustus lalu hingga hari (26/6/2021) ini masih menjadi berita hangat. Sebelumnya yaitu pada periode 1996 – 2001 Taliban pernah memegang kekuasaan di Afganistan setelah akhirnya digulingkan Amerika Serikat dengan dalih Taliban tidak mau menyerahkan Osama bin Laden yang dituduh sebagai pelaku peledakan gedung WTC pada peristiwa 911.

Kantor-kantor berita resmi mainstream juga dengan gencar memberitakan potensi terjadinya perang saudara paska berkuasanya kembali Taliban. Yang dimaksud perang saudara tersebut adalah antara pendukung rezim lama yaitu presiden Ashraf Ghani, dan pendukung pejuang Taliban. Padahal jauh sebelum itupun perang saudara sudah sering sekali terjadi. Dan pemicu utamanya sebenarnya terlalu banyaknya campur tangan asing. Diantaranya adalah Amerika Serikat, Inggris dan Rusia.

Dalam diskusi ‘Masa Depan Afghanistan dan Peran Diplomasi Perdamaian Indonesia’ yang berlangsung secara daring pada Sabtu (21/8), Yusuf Kalla (JK) mantan wakil presiden RI yang juga ketua Dewan Masjid Indonesia  menyatakan bahwa perang yang terjadi di Afghanistan sebenarnya iadalah antara Taliban dengan Amerika Serikat (AS).

Jadi sebenarnya ini dari tiga kelompok : Amerika, pemerintah Presiden Ghani dan Taliban. Ada tiga pihak sebenarnya berada dalam situasi perang. Tapi perang sebenarnya adalah Taliban dengan Amerika,” kata JK saat menjadi pembicara dalam diskusi ‘Masa Depan Afghanistan dan Peran Diplomasi Perdamaian Indonesia’ yang berlangsung secara daring, Sabtu (21/8).

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210821155925-20-683438/jusuf-kalla-perang-sebenarnya-adalah-taliban-dengan-as

Sejarah Singkat Afganistan.

Afghanistan adalah negara yang terletak diantara  Asia Selatan dan Asia Tengah, terkurung tanpa memiliki akses ke laut. Wilayahnya meliputi 652.000 km², menjadikannya negara terbesar ke-41 di dunia. Dengan penduduk sekitar 32 juta, mendudukannya sebagai negara ke 42  padat penduduk di dunia. Negara ini berbatasan dengan Pakistan di selatan dan timur, Iran di barat, Turkmenistan, Uzbekistan dan Tajikistan di utara, serta Tiongkok di timur laut. Lokasinya yang strategis di sisi sepanjang jalur sutra menghubungkannya dengan budaya Timur Tengah dan Asia bagian lain.

John Ford Shroder dalam Afghanistan Archived menyebutkan, para arkeolog telah menemukan tempat tinggal manusia di Afghanistan kuno sejak sekitar 50 ribu sebelum Masehi (SM). Dari artefak yang ada diketahui bahwa masyarakat adat berprofesi sebagai petani dan para gembala. Mereka mengelompokkan diri menjadi suku dan membentuk kerajaan kecil selama berabad-abad. Sementara peradaban perkotaan yang mencakup modern Afghanistan, India Utara, dan Pakistan dimulai pada 3000-2000 SM.

Afghanistan yang merupakan bagian dari Khurasan Raya menjadi rebutan banyak kekuatan politik maupun militer. Secara bergantian wilayah ini dikuasai sejumlah dinasti dan kerajaan besar. Tercatat Aleksander Agung dari Macedonia, bangsa Maurya, Arab Muslim, Mongolia hingga dunia Barat seperti Inggris dan Rusia di era modern, pernah menguasai Afghanistan. Sebagian besar wilayah Afghanistan baru masuk wilayah Islam pada tahun 882 M, sekitar 150 tahun paska penaklukan Persia dibawah pimpinan panglima Khalid bin Walid di masa kekhalifahan Umar bin Khattab pada 633 M. Khurasan sendiri sudah pernah disebutkan Rasulullah dalam banyak hadist tentang akhir zaman.

Negara dengan wilayah pegunungan dan gurun yang sulit dilalui ini sebelum menjadi bagian dari dinasti Safawiyah yang berdiri pada tahun 1500-an adalah bagian dari kerajaan Parsi Islam. Pada puncak kejayaan dinasti Safawiah meliputi Iran, Azerbaijan, Armenia, sebagian besar Irak, Georgia, Afganistan, Kaukasus, dan sebagian Pakistan, Turkmenistan dan Turki. Dinasti Safawiyah yang menjadikan Syiah sebagai agama resmi pemerintah adalah cikal bakal Iran modern.

Kesultanan Afganistan.

Afganistan yang mayoritas Islam Sunni, memiliki banyak etnis, budaya dan bahasa ini baru lepas dari dinasti Safawiyah pada tahun 1709. Mirwais Hotak, dari etnis Pashtun, etnis terbesar di Afganistan, yang memimpin negara tersebut keluar dari wilayah kekuasaan Safawiyah hingga akhirnya berdirilah dinasti Hotak dengan Kandahar sebagai ibu kotanya. Dari kata Pashtun ini lahir nama Afghanistan sebagai negara kerajaan.

Dinasti Hotak tidak berlangsung lama. Pada tahun 1747 dinasti Durrani menggantikan dinasti Hotak dan selanjutnya dianggap sebagai pendiri dari negara Afghanistan modern. Pada masa itulah ibu kota dipindahkan ke Kabul hingga saat ini. Dinast atau kekaisaran Durrani juga sering disebut kekaisaran Afgan atau kesultanan Afghan yaitu kerajaan Islam Afghanistan.

Pada akhir abad 19 kekaisaran Rusia ( Uni Sovyet) dan kerajaan Inggris sebagai negara supremasi terlibat perseteruan ketat memperebutkan kekuasaan di wilayah Asia Tengah dan selatan. Selama tiga kali, yaitu pada 1839-1919, Inggris berusaha menginvasi Afghanistan, karena khawatir didahului Rusia.  

Invasi Inggris ke Afganistan.

Pada serangan pertama, selama tiga tahun (1839-1841) pasukan Inggris memang berhasil merebut Afganistan. Tapi setelah itu negara adi daya yang ketika itu dikenal memilki persenjataan terbesar dan terkuat di dunia tersebut harus menanggung malu. Ia dikalahkan oleh suku-suku Afghan yang hanya bermodalkan persenjataan amat sangat sederhana. Rakyat Afgan berhasil mengusir pasukan Inggris dari ibu kota Kabul.

Nyaris empat dekade kemudian, Inggris mencoba lagi menguasai Afganistan. Perang yang terjadi pada 1878-1880 tersebut berakhir dengan masuknya Afghanistan menjadi protektorat Inggris. Meski akhirnya Inggris memilih untuk mendukung emir Afghan yang baru dan menarik pasukan dari negara tersebut.

Namun pada 1919, Perang Anglo-Afghan pecah kembali, yaitu saat emir Amanullah Khan mendeklarasikan kemerdekaan dari Inggris. Pada saat yang sama ancaman Rusia terhadap Inggris memudar, ditambah lagi Perang Dunia I telah menguras dana perang Inggris. Maka setelah empat bulan berperang, Inggris akhirnya menyerah dan secara resmi mengakui kemerdekaan Afghanistan.

Masa Keemasan Kesultanan Afganistan.

Tahun berikutnya yaitu pada 1920 emir Amanullah Khan mencoba mereformasi Afghanistan, salah satu upayanya yaitu menghapuskan kewajiban burqa bagi kaum perempuan. Tetapi hal tersebut mendapatkan perlawanan dari para kepala suku dan tokoh ulama, yang kemudian memicu terjadinya perang sipil berkepanjangan. Hingga akhirnya terjadi kudeta.

Afganistan mengalami masa damai dibawah pemerintahan Zahir Syah yang berkuasa selama empat puluh tahun, yaitu pada tahun 1933 -1973. Pemerintah Afganistan memberinya gelar kerajaan “He who puts his trust in God, follower of the firm religion of Islam” (“Dia yang menaruh kepercayaannya kepada Tuhan, pengikut agama Islam yang teguh”) pada hari penobatannya sebagai raja/syah/sultan. Ketika itu ia baru berusia 19 tahun.

Zahir Shah membuktikan keseriusannya dalam menegakkan persaudaraan sesama Muslim yang memang merupakan salah satu tonggak Islam dengan memberikan bantuan persenjataan, dan pejuang Afghanistan kepada Muslim Uighur dan Kirghiz yang telah mendirikan Republik Turkestan Timur Pertama. Meski republik tersebut hanya bertahan selama 1 tahun sebelum akhirnya kembali menjadi wilayah Republik Cina yang menganut faham komunis.

Namun demikian sebenarnya Zahir baru efektif memegang pucuk pemerintah 20 tahun setelah diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya yang terbunuh. Ia menyerahkan urusan pemerintahan pada pamannya. Baru pada tahun 1964 sang raja mengumumkan konstitusi baru. Ia membuat program modernisasi politik dan ekonomi, membuat legislasi demokratis, dan pendidikan untuk kaum perempuan.

Selama pemerintahannya Afganistan mengeluarkan setidaknya 5 keping receh bertuliskan “Al-Mutawakkil ‘ala Allah Muhammad Zahir Shah” dalam tulisan Arab yang berarti “Yang Tawakal/Berserah Diri pada Allah, Muhammad Zahir Shah”.

Namun Afganistan dibawah Zahir Syah juga menjalin hubungan yang baik dengan dunia Barat. Terbukti dengan masuknya sebagai anggota PBB meski menolak memihak dalam Perang Dunia II. Menjadikannya satu dari sedikit negara di dunia yang memilih netral. Dalam sebuah wawancara Zahir Shah mengatakan bahwa ia bukan seorang kapitalis tapi juga tidak menginginkan sosialis. Ia menyatakan tidak ingin menjadi budak negara manapun dan akhirnya menjadi tergantung.

Walaupun paska berakhirnya Perang Dunia II ia menyadari perlunya modernisasi Afghanistan. Untuk itu ia terpaksa merekrut sejumlah penasihat asing, juga meminta bantuan keuangan baik dari Amerika Serikat maupun Uni Soviet. Membuatnya menjadi satu dari sedikit negara yang menerima bantuan dari kedua musuh dalam Perang Dingin. Selama periode itu pula universitas modern pertama Afghanistan didirikan.  

Ironisnya pada tahun 1973 ketika sang Syah pergi ke Italia untuk berobat Mohammed Daoud Khan, sepupunya melakukan kudeta.  Perang sipilpun tak terhindarkan hingga sebagian besar Afganistanpun luluh lantak. Zhahir Syah selanjutnya hidup di pengungsian di Roma Italia bersama istri dan sejumlah keluarga besarnya. Zahir baru kembali ke negaranya pada tahun 2002 dan mendapat gelar Bapak Bangsa. Ia wafat pada tahun 2007.

( Bersambung).

Read Full Post »

Rahmat Dan Azab Allah SWT.

Dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” (HR. Bukhari no. 5009 dan Muslim no. 808).

Imam Nawawi menyatakan bahwa maksud dari memberi kecukupan padanya –menurut sebagian ulama- adalah ia sudah dicukupkan dari shalat malam. Maksudnya, itu sudah pengganti shalat malam. Ada juga ulama yang menyampaikan makna bahwa ia dijauhkan dari gangguan setan atau dijauhkan dari segala macam penyakit.

Sementara Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berpendapat yang dimaksud diberi kecukupan pada hadist adalah dijaga dan diperintahkan oleh Allah, juga diperhatikan dalam do’a karena dalam ayat tersebut terdapat doa untuk maslahat dunia dan akhirat.

Namun dibalik itu semua terdapat hikmah besar yang mendasari turunnya ke 2 ayat istimewa di atas. Yaitu turunnya ayat 284 Al-Baqarah berikut :  

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Terjemah QS Al-Baqarah (2):284).

Mendengar itu para sahabat merasa kecil hati, khawatir tidak sanggup menjalankannya. Shalat, puasa, sedekah bahkan jihad mengorbankan diri mereka sanggup menjalaninya. Namun apa yang ada di dalam hati?? Bisikan-bisikan yang bisa jadi berasal dari syaitan yang memang merupakan musuh terberat manusia, sanggupkah manusia menghindarinya??

Para sahabat bagaimanapun adalah manusia biasa yang tidak jarang bisa lengah dan lelah. Mereka juga mempunyai keinginan duniawi bahkan keluarga yang mungkin belum begitu kuat keimanannya. Jadi sungguh wajar bila mereka sangat khawatir ketika harus mempertanggung-jawabkan apa yang terlintas dalam hati mereka.      

“Abu Hurairah ra menceritakan, “ Hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah SAW, lalu mereka mendatangi Rasulullah SAW seraya berlutut di atas lutut masing-masing dan berkata: “Wahai Rasulullah, kami dibebani amalan yang kami sanggup mengerjakannya seperti: Shalat, Puasa, Jihad dan Sedekah. Sekarang telah diturunkan kepada anda ayat ini ( surat Al-Baqarah ayat: 284), dan kami tidak sanggup.”

Namun apa jawaban Rasulullah??

Apakah kamu ingin mengucapkan apa yang sudah diucapkan kedua golongan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) sebelum kamu; “ Kami dengar dan kami durhakai?”.

Selanjutnya Rasulullah bersabda, katakanlah “ Kami dengar dan kami taati, ampunilah kami ya Rabb kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Dan apa pula jawaban para sahabat??

“Mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taati, ampunilah kami ya Rabb kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Masya Allah …

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.(Terjemah QS, An-Nuur (24):51).

Para sahabat memang bukan tandingan kita. Ketaatan mereka pada Rasulullah benar-benar mengagumkan. Karena mereka memang tahu betul, haqul yaqin, bahwa cucu pemuka Quraisy Abdul Muthalib itu adalah seorang utusan Allah, Tuhan Yang Menciptakan manusia dan seluruh alam semesta ini. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana ayat-ayat diturunkan dan bagaimana Rasulullah menyikapinya.

Dari Rasululah pula mereka mengetahui bagaimana kaum Yahudi dan kaum Nasrani bersikap terhadap ayat-ayat yang diturunkan kepada dua golongan ahli kitab tersebut. Hingga Allah SWT pun mengabadikannya dalam ayat terakhir surat Al-Fatihah, bacaan yang wajib kita baca dalam shalat.

… … bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.      

Yang dimaksud mereka yang dimurkai ( Al-Maghdhub) dalam ayat di atas adalah orang-orang Yahudi karena mereka adalah orang-orang yang berilmu tapi tidak beramal. Sedangkan mereka yang sesat ( Al-Dhoolin) adalah orang-orang Nasrani, mereka beramal tapi tanpa ilmu.

Allah swt mewajibkan kita membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalat kita diantaranya agar kita tidak melakukan hal yang sama dengan kedua kaum tersebut. Tak heran bila kemudian Sang Khalikpun menjawab tanggapan dasyat para sahabat dengan yang lebih dasyat lagi. Yaitu dengan turunnya 2 ayat terakhir Al-Baqarah tadi, ayat 285 dan 286 sebagaimana berikut :

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali“. ( Terjemah Al-Baqarah(2):285).

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. ( Terjemah Al-Baqarah(2):286).

Allahu Akbar …

Allah Azza wa Jala tidak pernah menyalahi janjinya. Sesuai janji-Nya pada ayat 51 surat An-Nuur bahwa mereka yang berkata “Kami mendengar dan kami patuh”, mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Dengan mengulang ikrar Rasul dan para sahabat yang diabadikan dalam ayat 285, Allahpun melanjutkannya dengan janji tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. Masya Allah …

Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap tiga perkara, yaitu keliru, lupa dan dipaksa”. (HR. Ibnu Majah; shahih)

Sungguh alangkah beruntungnya kita … Bayangkan bila apa yang ada dalam hati harus kita pertanggung-jawabkan … Alangkah celakanya …

Dengan begitu Allah swt telah menasikh ( menghapus) ayat 284 dan me-mansubkannya (mengganti) dengan ayat 286, bahwa Allah swt tidak akan memberatkan hamba-Nya yaitu apa yang ada dalam hati seseorang. Hanya niat yang baik yang Allah balas sedangkan niat buruk selama hanya dalam hati Allah tidak menghisabnya.     

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat mengerjakan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat hingga perlipatan yang banyak.

Dan jika dia berniat melakukan keburukan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat melakukan keburukan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu sebagai satu keburukan.” (HR. Bukhari, no. 6491 dan Muslim, no. 131 di kitab sahih keduanya dengan lafaz ini).

Memang terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama. Ada yang menyatakan bahwa ayat-ayat tersebut ayat nasikh-mansub tapi ada pula yang bukan. Masing-masing dengan dalil yang kuat. Tapi sebagai orang awam hal tersebut bukanlah masalah. Yang pasti Allah swt telah menunjukkan kasih sayang-Nya yang begitu besar, terutama bagi orang-orang yang taat pada Allah dan Rasul-Nya. Rahmat Allah lebih luas dari langit dan bumi beserta segala isinya. Sekaligus juga peringatan bahwa Ia mengerahui segala isi hati dan bisikan, yang baik maupun jahat.

Selanjutnya , dalam ayat yang sama ( Al-Baqarah ayat 286) Allah Azza wa Jala mengajarkan bagaimana cara kita memohon kepada-Nya agar dijauhkan dari segala beban dan kesalahan.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Ma’afkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Yang juga tak kalah menarik, adalah hadist berikut :

“Lalu siapa, wahai Rasul?,” tanya para sahabat. Lalu Nabi SAW bersabda, “Kaum yang hidup sesudahku. Mereka beriman kepadaku, dan mereka tidak pernah melihatku, mereka membenarkanku, dan mereka tidak pernah bertemu dengan aku. Mereka menemukan kertas yang menggantung, lalu mereka mengamalkan apa yang ada pada kertas itu. Maka, mereka-mereka itulah yang orang-orang yang paling utama di antara orang-orang yang beriman”. 

Itu adalah jawaban Rasulullah atas pertanyaan “Katakan kepadaku, siapakah makhluk Allah yang paling besar imannya?” yang diajukan kepada para sahabat. Dan itu adalah kita, selama kita terus berada dalam keimanan dan bersiteguh “Kami dengar dan kami taat.”. Allahu Akbar ..

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 23 September 2021.

Vien AM. 

Read Full Post »