Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2021

Nabi Yahya as adalah putra nabi Zakariya yang lahir berkat doa yang dikabulkan Allah swt. Nabi Zakariya as yang sudah amat renta sangat merindukan keturunan. Kisah ini diabadikan dalam ayat 2-11 surat Maryam sebagai berikut :

(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,  yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya`qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia”. 

Nabi Yahya as tinggal di Palestina( dulu Yudea).  Di tempat itu, ia melanjutkan tugas sang ayah berdakwah kepada bani lsrail yang tinggal wilayah tersebut agar teguh menjalankan ajaran Taurat. Kala itu, negeri Palestina berada di bawah kekuasaan Yahudi Romawi yang beribu kota Roma. Raja Herodus Antipatros adalah yang berkuasa di Palestina pada 20 SM–39 M.

Keshalehan Nabi Yahya ini sudah terlihat sejak masa anak-anak, Abdullah bin al Mubarok mengatakan : Ma’mar mengatakan bahwa suatu ketika ada seorang anak yang mengatakan kepada Yahya bin Zakaria,”Mari kita bermain bersama.” Lalu Yahya menjawab,”Sesungguhnya kita diciptakan bukan untuk bermain”. Para ulama sepakat hal tersebut yang dimaksudkan ayat 12 surat Maryam sebagai berikut : “Dan kami berikan kepadanya ( Yahya)  hikmah selagi ia masih kanak-kanak”. 

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah seorang anak Adam kecuali dia akan melakukan sebuah kesalahan atau berkeinginan untuk melakukan kesalahan namun tidak pada diri Yahya bin Zakaria”.

Ibnu Katsir juga menyebutkan riwayat dari Qotadah bahwa al Hasan berkata bahwa ketika Isa dan Yahya bertemu lalu Isa berkata kepada Yahya,”Mohonkanlah ampunan (kepada Allah) untukku sesungguhnya engkau lebih baik dariku.” Yahya berkata,” ,”Mohonkanlah ampunan (kepada Allah) untukku sesungguhnya engkau lebih baik dariku.” Lalu Isa pun mengatakan kepadanya lagi,”Engkau lebih baik dariku, aku memberikan salam kepada diriku sendiri sementara Allah memberikan salam kepadamu.” Dan Allah pun memberikan keutamaan kepada mereka berdua.

Nabi Yahya as adalah sepupu nabi Isa as. Nabi Yahya hanya selisih beberapa bulan lebih tua dari nabi Isa as. Keduanya lahir di tahun yang sama yaitu tahun 0 Masehi. Tahun Masehi dalam bahasa latinnya adalah AD ( Anno Domini) yang berarti tahun dari Tuhan kita. Sebagaimana kita ketahui nabi Isa as adalah Yesus yang dianggap Tuhan oleh umat Nasrani. Tak salah bila kemudian khalifah Umar bin Khattab ra menetapkan tahun sendiri bagi kaum Muslimin, yaitu kalender Hijriyah. Permulaan tahun ini diambil dari tahun hijrahnya nabi Muhammad saw dari Mekah ke Madinah, yaitu 622 Masehi.     

Suatu hari negeri Palestina gempar. Pasalnya, Raja Herodus ingin mempersunting Herodia, keponakannya sendiri. Padahal hukum Taurat jelas melarang hal tersebut. Maka nabi Yahya sebagai seorang pemuka agama menentang hal tersebut.  Herodus yang dikenal menghormati agama ingin membatalkan rencananya. Namun tidak dengan  Herodia. Perempuan muda yang sudah lama mendambakan menjadi ratu itu dengan menggunakan bujukan mautnya merayu agar raja mau menghukum nabi Yahya as. Tak tanggung-tanggung ia bahkan menginginkan kepala sang nabi sebagai persembahan. Na’udzubllah min dzalik.    

Herodus takluk tak berdaya. Ia memerintahkan pasukannya agar segera mengeksekusi keinginan perempuan cantik yang telah membuatnya mabuk kepayang itu. Nabi Yahyapun ditangkap, kepalanya dipenggal dan penggalannya diletakkan di atas  sebuah nampan untuk dipersembahkan kepada Herodia.

Herodia akhirnya menjadi permaisuri raja Herodus. Tapi tidak lama karena Herodus terguling hingga menyebabkan keduanya harus hidup di pengasingan.   

Al-Qurnul Karim memang tidak menceritakan tragedy tragis tersebut. Tak heran bila tidak semua ulama meyakini peristiwa tersebut. Namun Ibnu Katsir berpendapat tidak mustahil hal tersebut benar-benar terjadi. Karena pada masa itu banyak raja Yahudi yang menikahi perempuan yang merupakan mahram mereka meski Taurat melarangnya. Apalagi tidak sedikit ayat Al-Quran yang menceritakan kejahatan orang-orang Yahudi, seperti tidak mentaati kitab suci mereka, membunuh para nabi dll.

… …  Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”.( Terjemah QS. Al-Baqarah():61).

“ … …  Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?“( Terjemah QS. Al-Baqarah():91).

“… … Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang rasul sebelumku, membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu orang-orang yang benar”.(Terjemah QS. Ali Imran(3):183).

Kisah tragis dipenggalnya utusan Allah yang oleh kaum Nasrani disebut Yohannes Sang Pembatis ini diceritakan secara gamblang dalam Perjanjian Baru yang merupakan bagian dari Al-Kitab dimana terdapat di dalamnya Perjanjian Lama ( Taurat) dan Injil, kitab suci umat Nasrani. Seperti juga digergajinya nabi Zakariya yang terperangkap dalam sebuah pohon, dan tentu saja peristiwa penyaliban Yesus dengan segala rangkaiannya. Ini menunjukkan kebiasaan orang-orang Israil merendahkan dan mengecilkan para nabiyullah.

Berita-berita yang dinukil dari bani Israil, baik yang beragama Yahudi atau Nasrani inilah yang disebut sebagai berita Israiliyat. Rasulullah Muhammad saw tidak melarang kita, umat Islam, untuk tidak mempercayai berita-berita Israiliyat, selama tidak bertentangan dengan Al-Quran, dan tidak untuk diimani secara semerta-merta.

“Janganlah kalian membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakannya, namun ucapkan: Kami beriman dengan kitab yang diturunkan kepada kami (alquran) dan kitab yang diturunkan kepada kalian.” (HR. Bukhari, 4485).

https://konsultasisyariah.com/11701-pengertian-israiliyat.html

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Terjemah QS. Yusuf(12): 111).

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Betapa beratnya tugas yang diemban para nabi dan rasul. Kesabaran mereka di luar kemampuan bayangan kita. Itu sebabnya Allah swt senantiasa membekali mereka mukjizat.   

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (Terjemah QS. Ghofir(40):51-52).

Bagaimana Allah menolong para Rasul dan Nabi-Nya serta orang-orang yang bersamanya? Allah swt lebih mengetahui mana yang terbaik, Ia-lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Manusia hanya dituntut untuk mengambil berbagai pelajaran yang ada di dalamnya, diantaranya keteguhan dan kesabaran para nabi dan rasul, memuliakan serta mentaati mereka. Jangan seperti orang-orang Yahudi yang suka melecehkan ayat-ayat Allah, mengotak-atik dan menggabung-gabungkan kitab suci, bahkan membunuh para utusan. Atau seperti orang-orang Nasrani yang menuhankan nabinya dan meng-ekor orang-orang Yahudi secara membabi buta.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 27 Desember 2021.

Vien AM.

Read Full Post »

Devide et Impera adalah kosa kata bahasa Spanyol (atau Prancis ??)yang dalam bahasa Indonesia biasa diartikan dengan pecah belah atau adu domba. Devide berarti memecah belah, et berarti dan, impera berarti menguasai.

Devide et Impera digunakan untuk menunjuk sebuah strategi perang yang diterapkan oleh bangsa-bangsa kolonialis seperti Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris dan Prancis sejak abad 15. Bangsa-bangsa Eropa tersebut melakukan ekspansi dan penaklukan untuk mencari sumber-sumber kekayaan alam, terutama di wilayah khatulistiwa, seperti Indonesia.

Caranya yaitu dengan menimbulkan perpecahan di wilayah yang dituju hingga mudah untuk dikuasai dan ditaklukkan. Atau dengan mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat hingga berpotensi mengadakan perlawanan. Dengan cara inilah Belanda berhasil menguasai negara kita tercinta. Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang luas, komunikasi dan transportasi antar pulau yang sulit, terpaksa takluk tak berkutik.

Hanya atas izin Allah swt, dengan memanfaatkan momen kalahnya Jepang pada PD II, perjuangan panjang para pejuang akhirnyapun membuahkan hasil. Pada 17 Agustus 1945, di rumah Faradj Martak, seorang pengusaha Arab Indonesia kelahiran Yaman, Soekarno – Hatta memproklamirkan kemerdekaan. Di pekarangan rumah jalan Pegangsaan Timur ( sekarang jalan Proklamasi) no 56 Jakarta Pusat yang  kemudian dihibahkan kepada pemerintah Indonesia tersebut itulah berkibarlah bendera Merah Putih untuk pertama kalinya. Rumah tersebut sekarang telah berubah menjadi Gedung Perintis Kemerdekaan.

Kini kita telah merdeka, lepas dari penjajahan. 75 tahun berlalu sudah, namun benarkah kita bisa benar-benar lepas dari strategi pecah belah tersebut?? Strategi yang seiring dengan berjalannya waktu telah mengalami perkembangan. Pecah belah tidak lagi sekadar sebagai strategi perang namun telah menjadi strategi politik, yang menggabungkannya dengan strategi militer , ekonomi dan budaya.

Tak dapat dipungkiri penduduk Indonesia beberapa tahun belakangan ini dalam keadaan terpecah, yaitu sejak adanya kasus Al-Maidah.  Kasus Al-Maidah adalah kasus yang disebabkan pernyataan Basuki Cahaya Purnama (Ahok) yang ketika itu menjabat sebagai gubernur DKI, bahwa orang Indonesia tidak boleh dibohongi oleh orang-orang yang menggunakan surah Al-Ma’idah ayat 51 supaya tidak memilih non-Muslim sebagai pemimpin mereka. Pernyataan kontrovesial ini terjadi pada tahun 2016 di kepulauan pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, di hadapan pada para nelayan dan penduduk lokal lainnya.  

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

Kasus tersebut tentu saja memicu kemarahan kaum Muslimin yang merupakan mayoritas penduduk. Maka terjadilah demo yang melibatkan jutaan orang, menjadikannya demo terbesar yang pernah terjadi di seantero dunia. Demo yang kemudian dikenal dengan nama Aksi Damai 4 November (411) dan Aksi Damai 2 Desember (212) ini diikuti tidak saja umat Islam namun juga mereka yang merasa bahwa pernyataan tersebut sangat tidak pantas, dan berpotensi memecah persatuan. Aksi Damai yang selanjutnya diperingati tiap 2 Desember sebagai Reuni 2012 ini menuntut penahanan Ahok atas tuduhan menista dan menghujat Al-Qur’an.

Ahok memang akhirnya menjalani vonis penjara namun dampak dari pernyataannya ternyata masih terus bergaung bahkan lebih hebat lagi. Penduduk Indonesia hingga saat ini bisa dibilang terpecah menjadi 2 kelompok. Perseteruan antara pemilih Jokowi dan Prabowo pada pilpres 2019 seolah mencerminkan antara pembela dan penentang Ahok. Lebih parah lagi pembela Ahok diposisikan sebagai Pancasilais, cinta NKRI dll. Sebaliknya penentang Ahok adalah kaum Muslimin pro kekhalifahan pemecah NKRI yang ingin men-Suriah-kan Indonesia.  Ada apakah gerangan???

Isu ini terus digodog dengan berbagai cara hingga makin lama makin terkuak bahwa sejatinya Islamlah sasaran tembak. Namun yang lebih menyedihkan lagi banyak kaum Muslimin yang tidak menyadarinya.

Tengoklah berbagai prilaku dan pernyataan yang memojokkan Islam. Contohnya ditangkapinya sejumlah ulama oleh petugas khusus yang menangani masalah terorisme hanya karena alasan pernah di Afganistan, pernah memberi bantuan ke Suriah dll.  Pernyataan jangan merasa bahwa agama hanya Islam yang benar, berdoa tidak perlu harus bahasa Arab, berbusana tidak perlu meniru bangsa Arab dll. Bahkan dimunculkan pula Islam Nusantara sebagai Islam yang sesuai dengan orang Indonesia. Inilah Devide et Impera gaya baru yang harus kita waspadai. Siapa sebenarnya yang paling diuntungkan bila kita berpecah belah???  

Saat ini umat Islam di seluruh penjuru dunia memang sedang dalam keadaan terpuruk. Cahaya Islam nyaris tidak menampakkan semburatnya. Budaya Barat mulai dari cara pergaulan, cara berpakaian hingga sistim ekonomi yang jauh dari syariah telah merasuki kehidupan sebagian besar kaum Muslimin dimanapun berada. Belum lagi isu teroris yang terus dihembuskan musuh-musuh Islam. Membuat kaum Muslimin makin tidak percaya diri. Lupa, bahwa delapan abad lamanya Islam pernah menguasai dunia, menjadi negara super power layaknya AS saat ini.

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu“. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):109).

Thomas W. Arnold (1864-1930), seorang orientalis berkebangsaan Inggris dalam bukunya “The Preaching of Islam” mengungkapkan bahwa satu di antara faktor suksesnya Islam adalah ketinggian moral umat Islam dibandingkan dengan umat Kristen. Disamping juga kemakmuran rakyatnya. Hingga rakyat Italiapun ingin menjadi bagian dari Turki Ustmani melihat tetangga mereka, Yunani, menjadi makmur dibawah kekhalifahan Islam tersebut. Bahkan perseteruan antara sesama umat Kristen yang sebelum sering terjadi, menjadi sangat berkurang. Ini membuktikan betapa toleransinya umat Islam.

Bukan rahasia lagi bahwa salah satu kunci utama kejayaan Islam adalah kuatnya persatuan dan persaudaraan sesama Muslim. Hal ini diketahui musuh-musuh Islam. Tak heran bila akhirnya musuh-musuh Islam menggunakan politik Devide et Impera untuk menjatuhkan Islam. Diantaranya yaitu dengan cara menggunakan isu kebangsaan, persamaan hak, demokrasi, HAM dll.  

Ditambah lagi dengan adanya peristiwa 911 yang menyudutkan umat Islam hingga melahirkan Islamophobia akut, tidak hanya bagi orang lain tapi terlebih lagi sebagian umat Islam sendiri. Padahal tidak sedikit orang Barat yang justru memeluk Islam setelah tragedy mengerikan tersebut karena rasa penasaran.    

Pertanyaannya sampai kapan kaum Muslimin mau terus diperlakukan seperti ini?? Tidak dapatkah kita bersatu menjunjung tinggi persatuan dan persaudaraan Islam seperti di masa kejayaan Islam? Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah, Islam yang kaffah yaitu yang tidak memilih-milah ayat sesuai hawa nafsu dan keinginan, Islam yang benar-benar rahmatan lillalamin, Islam yang penuh kedamaian, yang tidak hanya milik kaum Muslimin namun juga pemeluk agama lain yang menginginkan hal yang sama, dan juga seluruh isi dunia ini, termasuk binatang, tumbuhan dan alam ini.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):13).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Desember 2021.

Vien AM. 

Read Full Post »