Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “ Tidak ada seorangpun manusia yang terlahir kecuali terlahir atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi”.
Hadis ini menegaskan bahwa sesungguhnya semua manusia pada dasarnya adalah baik karena lahir dalam keadaan fitrah/suci. Ibarat kertas, semua manusia terlahir seperti kertas putih, bersih tanpa noda. Ia mengenal baik Tuhan Yang menciptakannya, Allah Yang Satu, Allah Subhana Wa Ta’ala. Kesaksian penting yang terjadi di alam ruh, tempat semua manusia yang merupakan keturunan nabi Adam as sebelum diturunkan dan dilahirkan melalui ibunya ke dunia ini terekam jelas pada ayat 172 surat Al-Araf berikut:
”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.
Sumpah tersebut bahkan dengan gamblang menegaskan bahwa mereka berlepas diri dari kesesatan orang-tua yang mempersekutukan Allah Azza wa Jala, orang tua pilihan Sang Khalik, yang akan diberi tugas dan mandat untuk mendidik dan membesarkan mereka kelak di dunia yang penuh cobaan itu. Hal tersebut tercermin dari kelanjutan surat Al-Araf ayat 172 di atas, yaitu pada ayat 173 sebagai berikut :
“atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”. ( Terjemah QS. Al-Araf (7):173).
Ayat di atas menunjukkan betapa besar peran orang tua dalam mempengaruhi warna keagamaan anaknya sesuai hadist yang disebutkan pada awal tulisan ini. Orang tua adalah orang yang menentukan, mengarahkan bahkan dapat memaksakan agama anaknya sesuai agama orang-tua, apakah ia Yahudi, Nasrani ataupun Majusi, bahkan atheis. Orang tua yang dimaksud bisa berupa orang tua biologis, yakni ibu dan ayah kandungnya ataupun orang-tua angkatnya. Intinya adalah yang mendidik dan mengasuh anak sejak kecil.
Namun seiring dengan bertambahnya usia dan kematangan anak, seseorang bisa saja berubah agama dan kepercayaannya. Dan ini sangat dipengaruhi lingkungan dan pergaulannya. Sebagai misal, ketika ada seorang bayi yang lahir dari orang-tua non Islam, di lingkungan yang juga jauh dari Islam. Misalnya di Swedia yang sekarang ini sedang terserang Islamophia akut. Dapat dipastikan bayi tersebut akan mengikuti agama orang-tuanya, yang bisa jadi ketika dewasa seperti juga orang-tua dan lingkungannya sangat membenci Islam. Tapi dapatkah kita pastikan orang tersebut akan selamanya demikian hingga akhir hayatnya??
Berikut adalah kisah 3 politikus Belanda dan Jerman yang awalnya membenci Islam namun kemudian bertaubat dan memeluk Islam.
Hal yang sama dengan yang dialami pemuda-pemuda Quraisy yang hidup dizaman kemusyirikan meraja-lela tapi mau mendengar dakwah Rasulullah, kemudian memeluk Islam dan rela berjuang mati-matian membela Islam.
Tidak bisa kita pungkiri hidayah adalah milik Allah swt, tak satupun orang menjadi Islam tanpa izin-Nya. Allah memberikan hidayah kepada siapa dan dengan cara apapun yang Ia kehendaki. Akan tetapi hidayah tetap harus dicari, bagaimana agar petunjuk tersebut tidak menjadi sia-sia. Salah satunya adalah dengan mencari ilmu mengenai-Nya, tentang Islam agama tauhid yang haram hukumnya menyekutukan Sang Pencipta, tentang syariah dan fiqihnya, tentang kehidupan Rasul-Nya Muhammad saw lengkap dengan sunnah-sunnahnya, dll.
Yang tak kalah menariknya, Allah swt memberi pahala 2 kali bagi ahli kitab ( Nasrani dan Yahudi) yang kemudian memeluk Islam. Ini sebagai balasan atas keimanan mereka pada nabi Isa as bagi kaum Nasrani dan nabi Musa as bagi kaum Yahudi karena ketidak-tahuan mereka, yang bisa jadi karena didikan orang-tua yang salah hingga mereka tidak memahami ajaran Islam, tidak mengenal Al-Quranul Karim. Bukankah manusia lahir tanpa dapat memilih orang-tua? Hal yang sangat sesuai dengan ayat 173 surat Al-Araf sebagai hadiah istimewa atas cobaan berat mendapat orang-tua kafir.
“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Qur’an, mereka beriman (pula) dengan Al Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (Al Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan”. (Terjemah QS.Al-Qashash (28):52-54).
Sebaliknya seorang yang dilahirkan dari orang tua muslim sudah seharusnya mensyukuri kelebihan tersebut. Jangan malah menjadi lalai dan gegagah menjalani kehidupan sebagai Muslim dengan merasa tidak perlu mencari dan memperdalam ilmu tentang keislaman dan keimanan yang diwariskan dari orang-tuanya. Jangan pernah lupa betapa besarnya pengaruh lingkungan dan pergaulan. Lingkungan dan pergaulan yang salah berpotensi menjadikan seorang Muslim menjadi orang Munafik bahkan murtad. Celakanya lagi tempat kembali orang Munafik kelak adalah kerak neraka dengan siksaan 2 kali. Na’udzubillah min dzalik …
“Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar”. ( Terjemah QS. At-Taubah(9):101).
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):145).
Itu sebabnya Islam mengajarkan perlunya masyarakat madani, yaitu masyarakat beradab yang saling tolong menolong dalam menegakkan kebaikan dan keadilan, mencegah terjadinya kemungkaran serta saling menghargai. Untuk itu dalam memilih seorang pemimpin tidak boleh sembarangan. Seorang pemimpin harus mampu membuat rakyatnya agar dapat hidup tenang dalam menjalankan kehidupannya termasuk dalam hal menjalankan agamanya. Bayangkan bagaimana nasib seorang anak yang lahir dari orang tua dan keluarga Muslim namun hidup di bawah pemerintahan yang tidak menghargai nilai-nilai Islam atau bahkan memusuhi Islam.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).
“Lebih utamanya manusia di sisi Allah derajatnya di hari kiamat itu seorang pemimpin yang adil yang lemah lembut (memiliki kasih sayang). Dan seburuk-buruk hamba di sisi Allah derajatnya di hari kiamat yaitu pemimpin yang zalim yang kasar.” (HR Thabarani).
“Barang siapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan surga atasnya.” (HR Muslim).
Umur manusia di zaman sekarang ini rata-rata hanya 70 tahun-an. Umat Islam menjadikan usia Rasulullah Muhamad saw yaitu 63 tahun sebagai patokan usia. Usia yang sangat pendek. Sebagai contoh, mari kita lihat apa yang terjadi dengan anak-anak yang lahir dan hidup di Azerbaijan, Tajikistan dan Uzbekistan. Ketiga negara tersebut tadinya berada di bawah pemerintahan Islam yang adil namun kemudian Uni Sovyet yang beraliran komunis menjajah negara-negara tersebut. Meski “hanya” dikuasai tidak lebih dari 80 tahun, yang berarti lebih dari usia hidup seseorang, ternyata sebagian besar anak-anak tersebut rusak akidahnya. Sungguh memprihatinkan. Perlu perjuangan yang tidak ringan bagi mereka untuk kembali ke jalan Islam yang benar.
Anomali tampaknya hanya terjadi di tanah Palestina. Rakyat Palestina yang tanahnya direbut Zionis Israel sejak tahun 1948 hingga detik ini tetap terjaga kuat aqidahnya. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Allah swt menyebut tanah Palestina dimana di dalamnya berdiri Masjidil Aqsho yang merupakan kiblat pertama umat islam, adalah tanah yang diberkahi.
Menariknya lagi, berkat Keadilan-Nya, pada akhir hayatnya semua manusia akan kembali mengakui ke-Esa-an Tuhannya sesuai kesaksian mereka di alam sebelum mereka dilahirkan dahulu. Allah swt mengabadikan kisah pengakuan Firaun di akhir hidupnya bahwa tiada tuhan selain Allah swt pada ayat 90 surat Yunus. Meski sayangnya Allah swt tidak menerima taubat yang demikian.
“Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir‘aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir‘aun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim (berserah diri)“.
“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih”. ( Terjemah An-Nisa (4):18).
“Allah selalu menerima tobat seseorang, sebelum nyawa sampai di kerongkongan“. (HR at Tirmidzi).
Akhir kata, mari kita terus memperdalam ke-Islaman dan keimanan kita agar ketika Sang Khalik memanggil kita untuk kembali, kita tetap dalam fitrah yang sama ketika dulu dilahirkan. Mari kita berlomba dengan para mualaf yang biasanya memiliki semangat tinggi untuk mengejar ketinggalan mereka dalam ber-Islam dan ber-Iman.
Wallahu’alam bi shawwab.
Jakarta, 10 Oktober 2023.
Vien AM.