Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Akhlak’ Category

Tanpa banyak tanya, Uwais menunjukkan lengannya ketika Umar, sang khalifah memintanya.  Tanpa diduga, Umarpun langsung memeluknya begitu menyaksikan lengan bertanda tersebut, seraya berkata, “Engkaulah orang yang diceritakan Nabi dan kucari-cari selama ini. Berdoalah dan mintakanlah aku ampunan dari Allah.”

“Wahai Amirul Mukminiin, apakah aku harus memohon supaya engkau diampuni?”, tanya Quwais keheranan. “Benar”, tukas Umar.

Pertanyaannya, siapa Uwais Al-Qarni ini hingga namanya disebut oleh Nabi dan seorang khalifah sekaliber Umar bin Khattabpun mencari-carinya demi memohon doa darinya?

Dikisahkan dari hadis Riwayat Muslim dari Ishak bin Ibrahim, pada zaman hidup Rasulullah SAW, hidup seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Pemuda fakir dan yatim ini tinggal di negeri Yaman, bersama ibunya yang lumpuh dan buta.

Uwais Al-Qarni bekerja sebagai seorang penggembala domba. Hasil usahanya hanya cukup untuk makan ibunya sehari-hari. Bila ada kelebihan ia gunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin. Uwais Al-Qarni dikenal seorang yang taat beribadah dan sangat patuh pada ibunya. Ia juga dikenal sering sekali berpuasa.

Pemuda tersebut menyimpan keinginan membuncah agar suatu hari nanti dapat bertemu dengan Rasulullah. Itu sebabnya ia sangat sedih setiap kali melihat tetangganya berjumpa dengan sang kekasih, nabi Muhammad SAW. Kecintaannya yang begitu mendalam mampu membuatnya ikut mematahkan giginya dengan batu. Ini dilakukannya ketika mendengar kabar bahwa gigi sang Rasul patah karena dilempari batu oleh penduduk Thaif yang enggan mengikuti ajakan Rasulullah untuk ber-Islam.  

Uwais sangat merindukan Rasulullah, kerinduan karena iman kepada Allah dan Muhammad sebagai rasulnya. Hingga suatu hari, karena tak dapat membendung lagi kerinduannya, ia mendekati ibunya dan mengeluarkan isi hatinya, memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah.

Begitu ibunya mengizinkannya dengan syarat agar tidak berlama-lama meninggalkannya, Uwaispun segera pergi menempuh perjalanan jauh ke Madinah.  Sayangnya ketika ia tiba di tujuan, rupanya Rasulullah sedang memimpin jihad di luar Madinah. Ia hanya bertemu Aisyah ra, istri Rasulullah, yang tentu saja tidak dapat memastikan kapan dan berapa lama Rasulullah akan kembali.

Sementara itu terngiang pesan ibunya tercinta yang telah renta agar tidak berlama-lama meninggalkannya. Akhirnya karena ketaatannya kepada sang ibu, ia  mengalahkan keinginan menggebunya untuk menunggu dan berjumpa dengan sang kekasih, Muhammad SAW. Uwaispun kembali ke Yaman.

Beberapa lama kemudian Rasulullah pulang dari medan pertempuran. Sesampainya di rumah Rasulullah menanyakan kepada Aisyah tentang orang yang mencarinya. Aisyah menjelaskan bahwa memang benar ada yang mencarinya, tetapi tidak menunggu dan segera kembali ke Yaman karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Mendengar itu Rasulullah berkata bahwa orang itu penghuni langit. Nabi menceritakan kepada para sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengannya, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di lengannya. Apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan bumi.”

Uwais pergi berhaji.

Anakku, mungkin ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu suatu hari.

Mendengar ucapan sang ibu tercinta, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan? Uwais terus berpikir mencari jalan keluar.

Tak lama iapun membeli seekor anak lembu. Kemudian ia membuatkan kandang di puncak bukit untuk anak lembu tersebut. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit.

Uwais gila … Uwais gila …” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais yang aneh tersebut. Tak pernah satu haripun terlewat ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi. Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat.  

Alhamdulillah, trimakasih yaa Allah”, puji Uwais kepada Tuhannya.

Rupanya selama 8 bulan tersebut, ia sedang melatih dirinya agar mampu menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Masya Allah, sungguh besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya. Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata melihat Baitullah.

Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan. Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga”, jawab Uwais tulus dan penuh cinta.

Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopak yang selama itu diderita seluruh tubuhnya. Yang tertinggal hanya bulatan putih di lengannya. Itulah tanda yang dimaksudkan Rasulullah agar para sahabat dapat mengenali Uwais, yang di kemudian hari akhirnya ditemukan khalifah Umar bin Khattab yang setiap waktu haji dan datangnya kafilah dagang dari Yaman, rela mencarinya. Allahu Akbar …

Akan halnya pertemuannya dengan khalifah Umar bin Khattab bertahun-tahun kemudian adalah sebagai berikut: 

Uwais pergi berdagang ke Madinah.

Suatu hari setelah ibu Uwais wafat, bersama  rombongan kafilah dagang, Uwais tiba di kota Madinah. Seperti biasa, melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman segera Khalifah Umar dan juga Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu Umar dan Ali segera pergi menjumpainya dan memberinya salam.

Umar kemudian menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar jawaban Uwais, Umar dan Ali tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Selanjutnya Umar meminta agar Uwais bersedia memperlihatkan lengannya. Maka begitu keduanya melihat tanda putih di lengan tersebut, sontak keduanya memeluk dan meminta Uwais untuk mendoakan keduanya.

Wafatnya Uwais.

Ketika Uwais wafat di rumahnya yang sederhana di Yaman, orang-orang tak dikenal  dari segala penjuru berbondong-bondong datang untuk memandikan, mengkafani, menyalati hingga mengantarnya ke pemakaman. Masyarakatpun gempar.

Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.

Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais sendiri kepada khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dirinya. Di hari wafatnya itulah mereka baru mengetahui bahwa Uwais Al Qarni adalah seorang penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 30 Desember 2024.

Vien AM.

Read Full Post »

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? “. (Terjemah QS.Abasa (80):1-4).

Ayat diatas turun di Mekkah sebelum hijrahnya Rasulullah saw. Ketika itu Rasulullah sedang menghadapi sekelompok pemuka Quraisy untuk menyampaikan ajaran Islam. Tiba-tiba datang seorang buta mendekati Rasulullah dan terus menanyakan sesuatu.

Tentu saja Rasulullah merasa terganggu karena Rasulullah sangat berharap para pemuka Quraisy itu mau mendengar paparan beliau mengenai Islam kemudian memeluk Islam dan memerintahkan kaumnya untuk mengikutinya. Tak heran ketika kemudian Rasulullah menanggapi orang tersebut dengan muka yang masam.

Maka dapat dibayangkan betapa terkejutnya Rasulullah ternyata Allah swt menegur beliau melalui ayat 1-4 di atas. Pada ayat 3 di atas Allah swt menerangkan bahwa pemuda buta tersebut datang menemui Rasulullah untuk mempelajari Islam demi untuk membersihkan diri dari segala dosa.   Ini menunjukkan betapa pentingnya membersihkan diri.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat”. ( Terjemah QS.Al-‘Ala(87):14-15).

Pertanyaan lain, siapa sebenarnya pemuda buta yang dimaksud Allah swt pada surat Abasa diatas?? Namanya adalah Abdullah bin Ummi Maktum. Ia anak dari saudari Khadijah binti Walid, istri Rasulullah saw. Tidak banyak kisah tentang keponakan Rasul yang buta sejak lahir tersebut.

Namun sejak memeluk Islam ia dikenal sebagai pribadi yang taat. Buta tidak menjadi penghalang baginya untuk berperang menghadapi musuh-musuh Islam. Pada perang  Qadariyah yang dipimpin panglima Saad bin Abi Waqqash, ia menjadi salah satu pemegang panji Islam.

Dengan membawa bendera hitam dan memakai baju perang Abdullah berperang dengan gagah berani. Namun setelah kepulangannya dari peperangan tersebut, di Madinah ia wafat.

Abdullah bin Ummi Maktum ternyata tidak hanya ditakuti musuh nyata tapi juga iblis. Diriwayatkan ketika  Abdullah bin Ummi Maktum dalam perjalanan menuju masjid, ia tersandung batu hingga terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Akan tetapi Abdullah tetap melangkahkan kaki ke masjid.

Menariknya, setelah kejadian tersebut setiap hari ada orang yang selalu membantunya berjalan menuju masjid. Beberapa kali Abdullah menanyakan nama orang tersebut dengan maksud agar dapat ia mendoakannya. Namun tidak pernah dijawab.

Hingga suatu hari orang tersebut menjawab, “Wahai Abdullah Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis.”

Abdullah tersentak, “Kalau memang iblis, mengapa engkau menolong dan mengantarku ke masjid? Bukankah seharusnya engkau mencegahku ke sana?”

Iblispun menerangkan bahwa ialah yang suatu hari menjegalnya hingga jatuh dan terluka, dengan harapan Abdullah membatalkan niatnya shalat di masjid. Namun nyatanya tidak. Oleh sebab itu Allah mengampuni separuh dosa Abdullah. Maka sejak itu ia bersumpah akan menjaganya agar tidak terjatuh karena khawatir Allah swt akan mengampuni dosanya yang separuh lagi. “ Maka, sia-sialah kami setan menggodamu selama ini,” lanjut iblis tersebut.

Selain diberi tugas Rasulullah sebagai muadzin Abdullah bin Ummi Maktum juga pernah mendapat kehormatan menjadi imam shalat, yaitu ketika Rasulullah berperang bersama sahabat yang lainnya. 

Kebersihan hati itulah kekuatan Abdullah bin Ummi Maktum. Buta matanya tidak menghalangi kemampuannya untuk melihat kebenaran. Yaitu melalui kebersihan hati yang telah dimilikinya sebelum Islam datang dan mengantarkannya melihat keindahan ajaran ini. Bagi Abdullah tidak ada yang lebih penting dan lebih indah daripada menemui Sang Khalik di surgaNya. Itu sebabnya tidak ada sedikitpun rasa takut mati dalam hatinya.

Inilah yang terjadi dengan para mujahidin dari zaman awal keislaman hingga detik ini, yaitu dengan apa yang diperlihatkan para mujahidin Palestina saat ini.    

Sebagaimana kita ketahui Zionis Israel sejak 7 Oktober 2023 secara membabi buta memborbardir Gaza dengan alasan membalas serangan Hamas yang tiba-tiba di hari tersebut. Maka Gaza yang hanya seluas separuh Jakarta itupun hancur lebur rata dengan tanah. Bangunan rumah penduduk, kantor, sekolah, masjid, gereja bahkan rumah sakitpun tidak luput dari amukan Zionis. Memasuki pekan ke 4, tercatat lebih dari 9 ribu korban wafat sebagian besar anak-anak, perempuan dan orang-tua.

Namun Hamas yang merupakan faksi perjuangan terbesar Palestina bersama beberapa organisasi Palestina lain dengan gagah berani terus berjuang melawan kebiadaban Zionis Israel. Tanpa sedikitpun rasa takut mereka bergerilya demi memperjuangkan kemerdekaan negara yang telah dijajah selama 75 tahun.

Tidak hanya sekali ini Hamas yang berkedudukan di Gaza yang menyerupai penjara terbuka terbesar di dunia berjuang keras melawan penjajah yang berbuat sewenang-wenang terhadap penduduk asli Palestina. Untuk melawan Zionis Israel yang untuk kesekian kalinya berusaha mengenyahkan/genosida orang-orang Palestina yang dimuliakan Sang Pencipta untuk menjaga kompleks Masjidil Aqsho dan tanah Palestina hingga perang akhir zaman nanti.   

Ironisnya ada sejumlah orang yang mengaku Islam malah membela penjajah Zionis Israel dan menyalahkan Hamas. Orang-orang ini punya mata dan telinga yang normal namun tidak mampu melihat kejahatan Zionis Israel yang sudah sangat keterlaluan selama puluhan tahun.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai“. ( Terjemah QS. Al-Araf(7):179).

Kebersihan hati, inilah tampaknya yang tidak mereka miliki. Kebersihan hati tidak akan mampu menembus orang yang berlebihan dalam memandang dan mencintai dunia dengan segala harta dan kemewahannya. Hati orang yang demikian akan menjadi kotor dan menghalanginya merasakan kepedihan dan penderitaan orang lain. Hati dan pikirannya hanya terpusat bagaimana harta benda dapat menyenangkan dan memuaskan diri dan keluarganya.  Ia tidak peduli apalagi mempunyai rasa empati terhadap orang yang dalam kesusahan.

Hati yang kotor atau hati yang penuh prasangka buruk yang disebabkan cinta dunia yang berlebihan ini bila terus dipelihara pada akhirnya akan melahirkan sikap takut mati. Orang yang demikian tidak akan mau melaksanakan perintah jihad demi melawan kebathilan. Celakanya lagi label munafikpun akan mengikutinya. Padahal Allah swt telah menyediakan orang munafik  neraka yang paling dalam, yaitu dasar neraka, di akhirat nanti.    

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. (Terjemah QS.An-Nisa(4:145).

Sebaliknya di sejumlah negara Barat atas nama kemanusiaan, orang berbondong-bondong menyatakan keberpihakannya kepada Palestina, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Begitulah sikap orang yang masih memiliki hati yang bersih. Hati yang bersih seperti Abdullah bin Ummi Maktub yang bisa jadi dapat membuka mata mereka akan kebenaran dan keindahan Islam. Berikut pengakuan beberapa warga Amerika yang tertarik mempelajari Al-Quran karena penasaran dengan ketegaran penduduk Gaza.

Apalagi ketika mereka mendengar sendiri pengakuan beberapa orang yang sempat disandera Hamas. Yocheved Lifshitz, seorang perempuan Israel usia 85 tahun dalam sebuah wawancara media Israel mengatakan bahwa ia diperlakukan dengan baik selama dalam penyanderaan.

“Mereka memperlakukan kami dengan baik. Makanan kami sama dengan makanan mereka, mereka menyiapkan dokter bagi yang membutuhkan”, jawabnya atas pertanyaan mengapa ia bersalaman dengan yang menyanderanya di hari ia dibebaskan. Jawaban yang membuat kesal yang mewawancarainya. Dengan rasa kecewa Litchtz juga mengungkapkan bahwa para sandewa dikambing-hitamkan pemerintahannya.

Demikian pula cerita seorang sandera perempuan Israel usia 21 tahun. Ia mengatakan bahwa Hamas memperlakukannya dengan baik. Bahkan tangannya yang terluka kena tembakan telah di operasi oleh dokter di Gaza.

Yang juga membuat jengkel sebagian warga Israel adalah kenyataan Zionis Israel yang tanpa ampun terus membombardir Gaza tidak peduli nasib dan dampak buruk lebih 200 warganya yang disandera Hamas. Bahkan dikabarkan ada yang tewas disebabkan serangan mereka sendiri.

Akhir kata, semoga para yahudi pesek dapat mengambil hikmahnya untuk segera membersihkan hati dari segala kotoran, menyadari kesalahan, bertaubat dan kembali ke jalan lurus aamiin.

Wallahu ‘alam bi shawwab.

Jakarta, 4 November 2023.

Vien AM.

Read Full Post »

Ikhtiar dan Tawakal

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,”.

Ayat 7 surat Al-Insyirah di atas adalah perintah Allah swt untuk beraktifas, bekerja, berkegiatan dari satu aktifitas/kegiatan ke aktifitas/kegiatan lainnya, secara bersungguh-sungguh dan berkesinambungan.

Umar bin al-Khatthab berkata: “Sungguh aku membenci melihat salah seorang dari kalian semua sebagai orang yang menganggur; tidak beraktivitas dalam kegiatan duniawi maupun kegiatan ukhrawi”.

Ali bin Abi Thalhah berkata: “Jika kamu dalam keadaan sehat, jadikan waktu luangmu untuk berlelah-lelahan dalam beribadah”.

Yang kemudian di lanjutkan pada ayat 8, adapun hasilnya adalah milik Allah azza wa Jala, maka mintalah kepada-Nya agar hasilnya baik.

dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”.

Syekh Nawawi menafsirkan ayat 8 di atas dengan makna: “Kepada Tuhanmu ajukan kebutuhan-kebutuhanmu; jadikan harapanmu hanya kepada Allah; dan jangan meminta kecuali kemurahan-Nya dengan bertawakal atau berpasrah diri kepada-Nya”.

Bekerja dan beraktifitas, apapun jenis dan perkerjaan/aktifitas sebenarnya adalah kodrat manusia. Manusia yang hanya berdiam diri di dalam rumah tanpa sedikitpun aktifitas selama beberapa waktu selain dapat menyebabkan efek negatif bagi kesehatan juga berpotensi menimbulkan stress bathin. Diantaranya yaitu tulang kropos karena kekurangan sinar matahari dan otot yang lemah karena tidak terlatih.

Ahli fisiologi Keith Baar mengatakan, butuh waktu berbulan-bulan untuk membangun kekuatan otot, tetapi hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk menghilangkan kekuatan otot. Belum lagi jantung dan paru-paru yang melemah. Ahli paru-paru Panagis Galiatsatos mengatakan, fungsi pernapasan akan memburuk jika tidak melakukan aktivitas fisik.

Namun demikian Islam mengajarkan agar bekerja dan beraktifitas dilandaskan atas niat untuk mencari ridho Allah swt. Jadi tidak sekedar bekerja dan bekerja. Menjadi catatan penting, bekerja dan beraktifitas yang dimaksud tersebut termasuk juga dalam hal ibadah.  

Bekerja diawali dengan niat yang benar dan doa agar Allah swt mudahkan, dilanjutkan dengan bekerja secara sungguh-sungguh lalu ditutup lagi dengan doa. Inilah yang dinamakan ikhtiar. Dan yang terakhir adalah bertawakal, yaitu pasrah kepada Allah swt atas hasilnya.

Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Terjemah QS. Al-Mukmin/Ghofir (40):60).

Ikhtiar secara bahasa berasal dari bahasa Arab yang artinya memilih. Sedangkan secara istilah ikhtiar adalah usaha sungguh-sungguh untuk memperoleh apa yang dikehendakinya. Derngan kata lain orang yang berikhtiar adalah orang yang memilih suatu pekerjaan kemudian dia melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu yang berlaku dalam bidang yang diusahakan, dengan disertai doa kepada Allah agar usahanya itu berhasil.

Dalam ikhtiar terkandung pesan taqwa, yakni bagaimana kita menuntaskan masalah dengan mempertimbangkan apa yang baik menurut Islam, dan kemudian menjadikannya sebagai pilihan, apapun konsekuensinya.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Taqwa adalah seseorang beramal ketaatan pada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan  diri pada Allah selain dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah”.

Itu sebabnya ikhtiar memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah swt. Malaikat mencatat dan Sang Khalik yang akan membalasnya dengan timbangan amal baik yang berat, yaitu mengampuni bahkan menghapus segala dosa dan melipat gandakan pahala.

Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu; dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”. (Terjemah QS. Ath-Thalaq(65):5).

Uniknya ikhtiar tidak selalu berbanding lurus dengan hasil yang dicapai seseorang. Hasil adalah mutlak milik Allah swt. Itu sebabnya kita diperintahkan untuk tawakal. Tidak perlu kita terlalu risau dengan hasil usaha kita. Bisa jadi Allah swt tidak mengabulkan doa dan usaha kita sesuai keinginan kita. Tapi yakinlah bahwa Ia pasti akan menggantinya dengan yang sesuai kita butuhkan, bukan yang kita inginkan, dengan cara atau jalan yang kita tidak pernah pikirkan maupun bayangkan..  

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu“. (Terjemah QS. Ath-Thalaq(65):3).

Sebaliknya sebagai seorang Muslim yang baik, jangan pernah kita terkecoh ketika melihat ada orang yang sukses dalam hidupnya, baik melalui usaha yang gigih maupun tidak. Kesuksesan maupun kegagalan keduanya adalah ujian dan cobaan dari Allah swt yang harus dipertanggung-jawabkan.

Bisa jadi hasilnya sesuai keinginan, yang berarti adalah bonus di dunia yang tetap saja akan dimintai pertanggung-jawaban, apakah ia bersyukur atau tidak. Bersyukur tidak hanya di bibir tapi juga dengan prilaku. Syukur atas harta yang berlimpah adalah dengan memperbesar zakat infak sedekah, syukur atas sehat adalah dengan menambah amal ibadah, syukur atas jabatan adalah menjaga amanah, dll.

Wallahu ‘alam bi shawwab.

Jakarta, 6 Juli 2023.

Vien AM.

Read Full Post »

Dasyatnya Istighfar.

Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun ” ( Terjemah QS.Nuh (71):10).

Perintah agar memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau Istighfar, banyak dijumpai dalam Al-Quranul Karim. Ini menunjukkan betapa tingginya nilai Istighfar dalam Islam.Istighfar tidak hanya merupakan permohonan ampun atas segala dosa dan salah tapi juga sekaligus menutup dan menjaga dari akibat buruk dosa tersebut. Ibnu Rojab al-Hanbali berkata, Istighfar adalah memohon maghfiroh/ampunan, dan maghfiroh adalah menjaga dari akibat buruknya dosa disertai dengan tertutupnya dosa.

Istighfar adalah penutup setiap amalan shalih. Shalat lima waktu, haji, shalat malam, pertemuan dalam majelis dll biasa ditutup dengan amalan dzikir istighfar ini. Jika istighfar berfungsi sebagai dzikir/pengingat kepada-Nya, maka jadi penambah pahala. Sedangkan jika diniatkan karena ada sesuatu yang sia-sia dalam ibadah, maka fungsi istighfar sebagai kafaroh (penambal).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap kaum yang bangkit dari majelis yang tidak ada dzikir pada Allah, maka selesainya majelis itu seperti bangkai keledai dan hanya menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 4855; Ahmad, 2: 389. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Istighfar juga sering kali digandengkan dengan taubat karena keduanya memang saling berkaitan erat. Istighfar harus diakukan oleh semua yang mengaku Islam sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan taubat sejatinya wajib dilakukan orang Islam yang melakukan perbuatan dosa, baik dosa kecil apalagi dosa besar. Pertanyaannya, adakah seorang manusia yang tidak pernah berbuat salah dan dosa???

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mencontohkan pada umatnya untuk memperbanyak istighfar. Karena manusia tidaklah luput dari kesalahan dan dosa, sehingga istighfar dan taubat mesti dijaga setiap saat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk terbaik di sisi Allah dan dosanya yang telah lalu dan akan datang telah diampuni, namun beliau masih beristighfar sebanyak 70 kali dalam rangka pengajaran kepada umatnya dan supaya meninggikan derajat beliau di sisi Allah.

Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga.

Pertama, menjauhi maksiat tersebut. Kedua, menyesali perbuatan  maksiat tersebut. Ketiga, berniat tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.Sedangkan jika taubatnya itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat. Syarat ketiga di atas ditambah keempat yaitu melepaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus diberikan kesempatan untuk membalasnya atau meminta ma’af kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.

Bacaan Istighfar ada beberapa macam, diantaranya adalah :

1.Astaghfirullah.

Artinya : “Aku memohon ampun kepada Allah.”

Ini adalah lafal yang paling singkat dalam beristighfar.

2. Astaghfirullah wa atuubu ilaihi.

Artinya : Aku memohon ampunan kepada Allah dan aku bertaubat kepadaNya.

3. Astaghfirullah alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyuul qoyyuum wa atuubu ilaiih.

Artinya: Aku memohon ampun kepada Allah, dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia. Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dan aku bertaubat kepada-Nya.

4. Istighfar yang paling sempurna yaitu Penghulu Istighfar ( Sayyidul Istighfar) sebagaimana yang terdapat dalam shohih Al Bukhari dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Penghulu istigfar adalah apabila engkau mengucapkan,

 “Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbi, faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta”.

Artinya: Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari no. 6306).

5. Khusus di bulan Ramadhan. Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni”.

Artinya: Yaa Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi no. 3513).

Selain sebagai permohonan ampun, Istighfar mempunyai manfaat yang sungguh luar biasa, diantaranya adalah melancarkan rezeki, memudahkan adanya keturunan, menjauhkan dari sulitnya musim kering dan memohon hujan, dll.

Khalifah Umar bin Abdul Azis ra, suatu ketika berkata, “Wahai kaumku, mintalah ampun kepada Rabb kalian. Kemudian bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan pada kalian hujan lebat dari langit.”

Berikut adalah kisah Imam Ahmad bin Hambali ra mengenai dasyatnya Istighfar.

Sebelum meninggal dunia, Imam Ahmad menceritakan bahwa suatu  ketika tiba-tiba muncul keinginan menggebu untuk mengunjungi kota Basrah di Irak tanpa suatu keperluan apapun.  

Sampai di kota tersebut, hari sudah gelap, waktu shalat Isya’ telah tiba. Imam Ahmad segera melangkahkan kaki ke masjid untuk shalat berjamaah. Usai shalat ia ingin istirahat sejenak.

Namun baru sebentar berbaring marbot masjid menegurnya, “Maaf Syaikh, apa yang Anda lakukan di sini?”. Rupanya ia tidak mengenal bahwa sosok di hadapannya adalah ulama kenamaan Imam Ahmad bin Hanbal yang dikenal sebagai pendiri madzab Hambali.

Saya musafir. Saya ingin istirahat sebentar di masjid ini”, jawab sang ulama tanpa memperkenalkan diri.

Tidak boleh, Syaikh. Dilarang tidur di masjid.”

Imam Ahmadpun pindah ke serambi masjid. Akan tetapi marbot itu kembali menegurnya.

Di sini juga tidak boleh, Syaikh. Saya sudah memperingatkan, ayo pergi,” kata Marbot itu sambil mendorong-dorong tubuh Imam Ahmad sampai ke jalan.

Terpaksa sang Imam pergi meninggalkan masjid tersebut. Namun baru beberapa langkah, seorang penjual roti di samping masjid memanggilnya.

Menginap di rumahku saja syaikh. Tunggulah sebentar, rumahku tak jauh dari sini”, ajak si penjual roti.

Sambil mengucapkan terima kasih, Imam Ahmad melihat mulut laki-laki tersebut terus berkomat-kamit sambil melayani pembeli. Tak lama setelah itu, ia menutup dagangannya dan mengajak Imam Ahmad pulang bersama. Selama perjalanan sambil mengobrol si tulang roti tetap terus berdzikir, hingga tiba di rumahpun demikian.

Dipicu oleh rasa ingin tahu, Imam Ahmadpun bertanya,

Dzikir apa yang engkau ucapkan, yaa saudaraku?

“Saya membiasakan mengucap istighfar, Syaikh”, jawab si tukang roti.

“Masya Allah, sudah berapa lama?”, tanyanya lagi.

Cukup lama. Sejak saya berjualan roti, 30 tahun yang lalu”, jawabnya lagi.

Lalu apa yang engkau dapatkan dengan istighfar itu?”, tanya Imam Ahmad tambah ingin tahu.

Alhamdulillah semua doaku dikabulkan Allah. Kecuali satu yang belum.”

Apa itu?”

Saya minta kepada Allah dipertemukan dengan Imam Ahmad. Sampai sekarang belum terkabul”, jawab si tukang roti dengan tenang.

Allahu Akbar. Doamu terkabul sekarang, saudaraku. Akulah Ahmad bin Hanbal. Mungkin karena istighfarmu itulah tiba-tiba aku ingin pergi ke Bashrah. Lalu aku diusir dari masjid hingga didorong-dorong agar dipertemukan-Nya denganmu”, ucap Imam Ahmad terperangah.

Si penjual roti itu terhentak takjub. Ternyata tamunya adalah Imam Ahmad yang selama ini ingin ia temui. Segera ia pun memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah mengabulkan doa dan harapan terakhirnya.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 6 April 2023.

Vien AM.

Read Full Post »

5. Mau mendengarkan nasihat orang lain.

– Suatu ketika pada tahun ke 6 setelah hijrah, Rasulullah mengajak para sahabat untuk melaksanakan umrah ke Mekkah. Ketika itu sebagian besar kaum Quraisy penduduk Mekkah belum mau menerima ajaran Islam bahkan sangat memusuhi ajaran tersebut.  Oleh sebab itu mereka tidak mengizinkan Rasulullah beserta para sahabat masuk ke kota tersebut meski hanya untuk sekedar melaksanakan umrah.

Rasulullahpun membatalkan niat tersebut. Bahkan malah menanda-tangani sebuah kesepakatan yang intinya mereka tidak mungkin melaksanakan umrah saat itu dan mereka harus mundur dan kembali.Mengetahui hal tersebut para sahabat sangat kecewa. Mereka merasa tidak seharusnya Rasulullah mengalah kepada orang-orang seperti mereka. Umrah adalah perbuatan yang di-ridhoi Allah SWT mengapa harus dibatalkan? Begitu pikir mereka.

Maka ketika kemudian Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban bawaan mereka serta bercukur layaknya orang yang telah menunaikan ibadah umrah, tak seorangpun sahaat yang mau melakukannya. Hingga 3 kali Rasulullah mengulang perintah tersebut namun tak seorangpun bergeming.Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Rasulullah akhirnya mengeluhkan hal tersebut kepada Ummu Salamah yang ketika  itu mendapat giliran untuk menemani Rasulullah menjalankan tugas. Ummu Salamah kemudian menghibur  Rasulullah agar tidak usah terlalu kecewa atas sikap para sahabat. Menurutnya lebih baik Rasulullah langsung menyembelih kurban dan bercukur tanpa harus menunggu reaksi para sahabat. Tanpa merasa gengsi Rasulullahpun menuruti nasehat tersebut. Dan memang benar ternyata para sahabat segera meniru perbuatan Rasulullah.

6. Suka memberi nasihat.

Rasulullah selalu memberi nasihat kepada para sahabat agar jangan hasad, iri dan dengki. Juga jangan mudah berselisih. Bila ada sesama Muslim berselisih Rasulullah mendamaikannya.

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” ( QS. Al-Hujurat (49):10).

Itu sebabnya yang dilakukan begitu tiba di Madinah adalah mempersaudarakan sahabat Muhajirin dan Anshor.  

7. Suka Membantu Pekerjaan Rumah.

Dari Al-Aswad, ia bertanya pada ‘Aisyah, “Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat.” (HR. Bukhari, no. 6039).

“Tidaklah beliau itu seperti manusia pada umumnya, beliau menjahit bajunya, memerah kambing dan melayani dirinya sendiri. (HR. Tirmidzi).

HR At-Tirmidzi, “Sesungguhnya di antara orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling baik kepada keluarganya”.

8. Sayang pada anak2.

Disebutkan bahwa Ya’la bin Murrah pergi bersama Nabi untuk menghadiri undangan makan. Di tengah perjalanan, beliau melihat Husain sedang bermain di jalanan. Beliau langsung maju dan membentangkan kedua tangannya (untuk mendekapnya), sementara Husain berusaha menghindar kesana-kemari, beliau sengaja mencandainya. Akhirnya beliau menangkapnya. Beliau pun memegang dagu dan kepala Husain, lalu menciumnya. (HR Ibnu Majah).

Abu Hurairah menuturkan, suatu ketika kami sholat Isya bersama Rasulullah ﷺ. Saat sujud, Hasan dan Husain naik ke punggung beliau. Saat bangkit, beliau meraih keduanya yang ada di belakang dengan lembut, lalu meletakkan keduanya secara perlahan. Saat kembali sujud, keduanya kembali naik ke punggung beliau. Seusai sholat, beliau meletakkan keduanya di pangkuan paha beliau. (HR Al Hakim).

9. Sekali2 bergurau.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, seorang sahabat bertanya kepada Muhammad SWA, “Wahai, Rasullullah! Apakah Engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Rasulullah SAW menjawab, “Benar. Hanya saja saya selalu berkata benar.” (HR Ahmad).

Rasulullah tidak melarang umat Islam untuk bersenda gurau. Namun beliau mengingatkan untuk tidak melontarkan lelucon bohong, dusta, atau merendahkan orang lain. Juga tidak berlebihan. Cukup hanya sebatas pelepas kesuntukan sesaat. Materinyapun  sarat dengan pelajaran dan ilmu pengetahuan.

“Celakalah bagi mereka yang berbicara, lalu berdusta supaya dengannya orang banyak yang tertawa. Celakalah baginya dan celakalah.” (HR Ahmad).

Rasulullah tidak pernah tertawa sampai terbahak-bahak. Tertawanya hanya sampai terlihat gigi taringnya saja. Beliau bahkan menganjurkan umatnya untuk lebih banyak menangis ketimbang tertawa. Seorang Muslim hendaknya lebih menyibukkan diri dengan muhasabah dan mengevaluasi dirinya.

Berikut gurauan Rasulullah:

-Dalam suatu riwayat, seorang wanita tua mendatangi Rasulullah SAW. Ia menanyakan perihal surga.

“Wanita tua tidak ada di surga,” sabda Rasulullah SAW.

Mendengar ucapan itu, si nenek pun menangis tersedu-sedu. Rasulullah SAW segera menghiburnya dan menjelaskan makna sabdanya tersebut itu. “Sesungguhnya ketika masa itu tiba, Anda bukanlah seorang wanita tua seperti sekarang.”

Rasulullah pun kemudian membacakan ayat, “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.“ (QS al-Waaqi’ah [56]: 35-36).

Si nenek tuapun tersenyum bahagia.

Dari Muadz bin Jabal, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Penghuni surga kelak masuk ke dalamnya dalam keadaan tak berbulu, muda, dan bercelak mata, sekira usia 33 tahun.” (HR At-Tirmidzi).

– Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, bahwa suatu hari Rasulullah sedang makan kurma bersama sahabat Ali bin Abu Thalib dalam satu ruangan. Kebiasaan zaman dulu ketika makan kurma maka akan menaruh bijinya tidak jauh dari samping tempat duduknya.

Pada saat itu Rasulullah Saw memakan satu biji kurma dan meletakkan biji kurma tersebut di pinggir tidak jauh dari wadah kurma dekat dengan tempat duduknya. Sementara Ali memakan kurma dengan banyak sakali sehingga bijinya tak terhitung.

Lantas saja seketika itu muncul keisengan dan humor Ali. Ia menaruh biji-biji kurma bekas kurma yang dimakannya dipinggir samping dekat dengan Rasulullah. Sehingga di samping Ali tidak terlihat satu biji kurmapun.

Ali berkata kepada Rasulullah, “Ya Nabi, engkau memakan kurma banyak sekali. Lihatlah biji-biji kurma itu banyak ada di samping engkau. Sedang aku belum memakannya sama sekali.”

Sambi tersenyum nabi menjawab, “Wahai Ali,  kamulah yang telah memakan kurma lebih banyak dariku. Kamu makan kurma bersama biji-bijinya, sedangkan aku hanya memakan kurmanya saja.”

-Diriwayatkan Zayd bin Aslam sebagaimana dimuat Hadist Riwayat Abdari. Diceritakan suatu ketika seorang perempuan datang menghadap Nabi Muhammad SAW. Perempuan ini menyampaikan keinginan suaminya untuk mengundang Rasulullah. Perempuan ini mengaku suaminya sedang sakit.

Mendengar permintaan itu, Rasulullah tak langsung mengiyakan. “Siapa suamimu? Bukankah suamimu adalah orang yang di matanya terdapat warna putih?” tanya Nabi dengan nada gurauan.

Mendengar pernyataan Nabi, perempuan itu setengah terkaget. “Demi Allah, mata suamiku tidak ada warna putihnya!” tegas perempuan tersebut.

Nabi lantas menegaskan, “Sungguh di mata suamimu ada warna putihnya.”

Tanpa menyadari Rasulullah sedang bercanda, perempuan itu bersikeras menanggapi gurauan Nabi. Perempuan itu terus membela suaminya dengan mengatakan tidak ada warna putih di mata suaminya.

Sambil tersenyum Nabipun bersabda, “Tidak ada seorang pun yang di matanya tidak terdapat warna putih.” Dalam riwayat Ibnu Abi Rasulullah berkata “Bukankah di setiap mata terdapat warna putih?.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 28 Agustus 2022.

Vien M.

Read Full Post »

3. Lembut dan santun.

Dikisahkan, di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata, “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad. Dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Hari demi hari pengemis Yahudi itu mencela Rasulullah. Kejadian itu terus berlangsung di pojok Pasar Madinah. Sebagai Nabi yang diberi wahyu, Rasulullah tentu tahu apa yang dilakukan pengemis Yahudi buta itu.

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu. Saat Rasulullah menyuapinya, si pengemis Yahudi itu tetap berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW menyuapi pengemis Yahudi itu hingga menjelang beliau wafat.

Setelah kewafatan Rasulullah, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat Nabi, Abu Bakar RA berkunjung ke rumah putrinya Aisyah RA yang juga istri Rasulullah.

Beliau bertanya kepada putrinya, “Anakku, adakah sunnah kekasihku (Nabi Muhammad) yang belum aku kerjakan?”.

Aisyah menjawab ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abu Bakar.

“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana,” kata Aisyah.

Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu?“. Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa“.

“Bukan!, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku, tangan ini tidak susah memegang dan mulut ini tidak susah untuk mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan itu dengan mulutnya. Setelah itu ia berikan padaku,” kata pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”.

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar, ia pun menangis sedih dan kemudian berkata, “ Benarkah demikian? “Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia”.

Pengemis Yahudi buta itu akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar.

4. Biasa Bermusyawarah dalam mengambil keputusan.

– Pada awal hijrahnya Rasulullah dan para sahabat dari Makkah ke Madinah di tahun 622 M, umat Islam belum mengenal apa yang kini dinamakan “adzan”. Ketika itu para sahabat berkumpul di masjid Nabawi di awal waktu tanpa adanya seruan khusus.

Hingga suatu hari di tahun ke 2 Hijriyah, Rasulullah saw meminta para sahabat agar memberikan masukan cara terbaik panggilan untuk shalat. Para sahabatpun berlomba memberikan usul dan pendapat. Ada yang mengusulkan meniup terompet, tetapi beliau membencinya karena itu tradisi Yahudi. Ada yang mengusulkan lonceng, tetapi beliau juga tidak menyukainya karena itu tradisi Nasrani.

Sementara itu seorang sahabat bernama Abdullah bin Zaid bin Tsa`labah bin Abdi Rabbih, saudara Balharits bin Al-Khazraj, bermimpi tentang suatu seruan. Iapun segera mendatangi Rasulullah saw untuk menceritakan mimpinya itu. Maka iapun menceritakannya.

Selesai sahabat tersebut menceritakan hal tersebut, Rasulullah saw bersabda:

Sungguh ini adalah mimpi yang benar insya Allah, berdirilah engkau, ajarkan Bilal  bacaan tersebut agar dia mengumandangkannya karena suaranya lebih merdu darimu“.

Ketika Bilal ra mengumandangkan adzan tersebut, Umar bin Khattab ra segera keluar dan menuju Rasulullah saw. Sambil menarik sarungnya, ia berkata:

“Wahai Rasulullah, Demi yang mengutusmu dengan kebenaran! Sungguh aku telah bermimpi seperti yang ia ucapkan.

Rasulullah saw bersabda:

“Segala puji hanya bagi Allah, ini semakin kuat” (HR. Tirmidzi no.189).

– Pada tahun 5 Hijriyah terjadi perang yang dikenal dengan nama perang Khandaq ( Ahzab) atau perang Parit. Perang ini terjadi oleh karena adanya hasutan beberapa pemimpin Yahudi bani Nadhir kepada Quraisy Mekah agar mereka bersama-sama menyerang Madinah dan menghancurkan Islam.

Orang-orang Yahudi ini berusaha meyakinkan bahwa ajaran Quraisy lebih baik dari pada ajaran Islam yang sialnya dipercaya oleh tokoh-tokoh Quraisy yang memang merasa dirugikan dengan ajaran Islam. Orang-orang Yahudi tersebut juga membujuk suku Gathafan, bani Fuzarah dan bani Murrah untuk bersengkokol memusuhi Islam. Maka berangkatlah sepuluh ribu pasukan Ahzab yang berarti pasukan gabungan tersebut menuju Madinah.

Di Madinah begitu mendengar kabar bahwa Madinah akan diserang, Rasulullah segera mengumpulkan para sahabat untuk membicarakan strategi apa yang akan digunakan menghadapi pasukan tersebut.

Salman Al-Farisi, seorang sahabat asal Persia, mengusulkan strategi yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab. Strategi tersebut adalah dengan menggali parit sekeliling Madinah untuk melindungi kota dari serangan musuh.

Rasulullah menerima usulan tersebut meski ada sejumlah sahabat, dengan berbagai dalih, meragukannya. Diantaranya Salman bukan asli orang Arab, ia baru memeluk Islam pada periode Madinah dll. Namun Rasulullah menerima usulan tersebut tentu bukan tanpa dasar dan perhitungan. Pasukan musuh ketika itu tidak hanya lebih banyak, yaitu 3x lebih jumlah pasukan Muslimin. Peralatan perang mereka juga lebih lengkap dan pasukannya lebih terlatih. Dengan demikian strategi defensive (bertahan) pasti lebih baik dari strategi offensif (menyerang). 

Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah”. (HR at-Tirmidzi).

Dan ternyata benar. Pasukan sekutu pimpinan Abu Sufyan tiba di Madinah dan langsung terkejut ketika melihat parit yang mengelilingi kota tersebut. Pasukan yang mengandalkan kavaleri (prajurit berkuda) tersebut tidak bisa berbuat banyak menghadapi parit di hadapan mereka.

Meski Madinah di kepung selama 27 hari pasukan musuh tidak bisa menembus parit Madinah. Kekalahan tokoh Quraisy, Amr bin Wadd yang konon setara dengan 100 orang, melawan Ali bin Abi Thalib ra, membuat patah semangat pasukan Quraisy. Akhirnya pasukan sekutu tersebut kembali ke Mekkah dengan tangan hampa.

( Bersambung)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »