Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Akhlak’ Category

Tutuplah Aib Saudaramu

( Penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah )

Sakinah Mutiara Kata 04 – Juni – 2007 10:38:02

Saudariku muslimah
Bagi kebanyakan kaum wanita ibu-ibu ataupun remaja putri bergunjing membicarakan aib cacat atau cela yang ada pada orang lain bukanlah perkara yang besar. Bahkan di mata mereka terbilang remeh ringan dan begitu gampang meluncur dari lisan. Seolah-olah obrolan tak asyik bila tidak membicarakan kekurangan orang lain. “Si Fulanah begini dan begitu”. “Si ‘Alanah orang suka ini dan itu”.

Ketika asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan diri sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata pepatah “Kuman di seberang lautan tampak gajah di pelupuk mata tiada tampak.”

Perbuatan seperti ini selain tak pantas/tak baik menurut perasaan dan akal sehat kita ternyata syariat yang mulia pun mengharamkan bahkan menekankan untuk melakukan yang sebaliknya,  yaitu menutup dan merahasiakan aib orang lain.

Ketahuilah wahai saudariku siapa yang suka menceritakan kekurangan dan kesalahan orang lain maka diri pun tak aman untuk diceritakan oleh orang lain. Seorang ulama salaf berkata “Aku mendapati orang2 yang tak memiliki cacat/cela lalu mereka membicarakan aib manusia maka manusia pun menceritakan aib-aib mereka. Aku dapati pula orang2 yang memiliki aib namun mereka menahan diri dari membicarakan aib manusia yang lain maka manusia pun melupakan aib mereka.”1

Tahukah engkau bahwa manusia itu terbagi dua:
Pertama: Seseorang yang tertutup keadaan tak pernah sedikitpun diketahui berbuat maksiat. Bila orang seperti ini tergelincir dalam kesalahan maka tak boleh menyingkap dan menceritakan karena hal itu termasuk ghibah yang diharamkan. Perbuatan demikian juga berarti menyebarkan kejelekan di kalangan orang2 yg beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ أَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِيْنَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

“Sesungguh orang2 yang menyenangi tersebar perbuatan keji2 di kalangan orang2 beriman mereka memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”

Kedua: Seorang yang terkenal suka berbuat maksiat dengan terang-terangan tanpa malu-malu tak peduli pandangan dan ucapan orang lain. maka membicarakan orang seperti ini bukanlah ghibah. Bahkan harus diterangkan keadaan kepada manusia hingga mereka berhati-hati dari kejelekannya. Karena bila orang seperti ini ditutup-tutupi kejelekan dia akan semakin bernafsu untuk berbuat kerusakan melakukan keharaman dan membuat orang lain berani untuk mengikuti perbuatannya3.

Saudariku muslimah
Engkau mungkin pernah mendengar hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فيِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ ..

“Siapa yang melepaskan dari seorang mukmin satu kesusahan yang sangat dari kesusahan dunia niscaya Allah akan melepaskan dari satu kesusahan dari kesusahan di hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memudahkan di dunia dan nanti di akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aib di dunia dan kelak di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya.”

Bila demikian engkau telah tahu keutamaan orang yang suka menutup aib saudara sesama muslim yang memang menjaga kehormatan diri, tak dikenal suka berbuat maksiat namun sebalik di tengah manusia ia dikenal sebagai orang baik-baik dan terhormat. Siapa yg menutup aib seorang muslim yang demikian keadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup aib di dunia dan kelak di akhirat.

Namun bila di sana ada kemaslahatan atau kebaikan yang hendak dituju dan bila menutup akan menambah kejelekan maka tak apa-apa bahkan wajib menyampaikan perbuatan jelek/aib/cela yang dilakukan seseorang kepada orang lain yg bisa memberi hukuman. Jika ia seorang istri mk disampaikan kepada suaminya. Jika ia seorang anak maka disampaikan kepada ayahnya. Jika ia seorang guru di sebuah sekolah maka disampaikan kepada mudir- . Demikian seterusnya.

Yang perlu diingat wahai saudariku diri kita ini penuh dengan kekurangan aib cacat dan cela. maka sibukkan diri ini untnk memeriksa dan menghitung aib sendiri niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu aib orang lain. Lagi pula orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain untnk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalas dgn membongkar aib walaupun ia berada di dlm rumahnya.

Sebagaimana disebutkan dlm hadits Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisan dan iman itu belum masuk ke dlm hatinya5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat6 mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari aurat oleh Allah niscaya Allah akan membongkar di dlm rumah .”

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan hadits yang sama ia berkata “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar lalu menyeru dgn suara yang tinggi:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ اْلإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُو الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تُعَيِّرُوْهُمْ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisan dan iman itu belum sampai ke dlm hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin janganlah menjelekkan mereka jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesema muslim Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yg dicari-cari aurat oleh Allah niscaya Allah akan membongkar walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.”

Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besar kehormatan seorang muslim. Sampai-sampai ketika suatu hari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memandang ke Ka’bah ia berkata:

مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمَ حُرْمَةً عِنْدَ اللهِ مِنْكِ

“Alangkah agung engkau dan besar kehormatanmu. Namun seorang mukmin lbh besar lagi kehormatan di sisi Allah darimu.”7
Karena itu saudariku Tutuplah cela yang ada pada dirimu dengan menutup cela yang ada pada saudaramu yang memang pantas ditutup. Dengan engkau menutup cela saudaramu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup celamu di dunia dan kelak di akhirat. Siapa yg Allah Subhanahu wa Ta’ala tutup cela di dunia di hari akhir nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan menutup cela sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَسْتُرُ اللهُ عَلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya8.”

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Jami’ul Ulum Wal Hikam .
2 Baik seseorang yg disebarkan kejelekan itu benar-benar terjatuh dlm perbuatan tersebut ataupun sekedar tuduhan yg tdk benar.
3 Jami’ul Ulum Wal Hikam Syarhul Arba’in Ibnu Daqiqil Ied Qawa’id wa Fawa`id minal Arba’in An-Nawawiyyah .
4 Syarhul Arba’in An-Nawawiyyah Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin .
5 Yakni lisan menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap di dlm hatinya.
6 Yang dimaksud dgn aurat di sini adl aib/cacat atau cela dan kejelekan. Dilarang mencari-cari kejelekan seorang muslim utk kemudian diungkapkan kepada manusia.
7 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2032
8 Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Tentang ditutup aib si hamba di hari kiamat ada dua kemungkinan. Pertama: Allah akan menutup kemaksiatan dan aib dengan tidak mengumumkan kepada orang2 yang ada di mauqif . Kedua: Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menghisab aib dan tidak menyebut aib tersebut.” Namun kata Al-Qadhi sisi yang pertama lebih nampak karen ada hadits lain.”

Hadits yang dimaksud adl hadits dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُوْلُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُوْلُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوْبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. فَيُعْطِي كِتَابَ حَسَنَاتِهِ ..

“Sesungguh Allah mendekatkan seorang mukmin lalu Allah meletakkan tabir dan menutupi si mukmin . Allah berfirman ‘Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau lakukan? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulu di dunia engkau kerjakan?’ Si mukmin menjawab: ‘Iya hamba tahu wahai Rabbku .’ Hingga ketika si mukmin ini telah mengakui dosa-dosa dan ia memandang diri akan binasa karena dosa-dosa tersebut Allah memberi kabar gembira padanya: ‘Ketika di dunia Aku menutupi dosa-dosamu ini dan pada hari ini Aku ampuni dosa-dosamu itu.’ Lalu diberikanlah pada catatan kebaikan-kebaikannya”

Sumber: http://www.asysyariah.com

Paris, 14 Maret 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Akhlak Terhadap Orang Kafir

( Dari : http://abibakarblog.com/agama/ahlak-terhadap-orang-kafir/ )

Bagaimana akhlak Rasulullah saw ketika bergaul dengan orang-orang kafir? Akhlak nabi saw adalah Al-Qur’an sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah ra ketika ditanya akhlak nabi saw, beliau menjawab:

“Akhlak beliau (nabi saw) adalah Al-Qur’an”. Kemudian ‘Aisyah ra membacakan ayat:

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al Qalam:4).

Kata “Khuluqin ‘azhim” (budi pekerti yang agung) dalam ayat ini, mencakup seluruh akhlak terhadap semua mahluk. Rahmat (rasa kasih sayang) merupakan akhlak yang paling tinggi, motivator serta motor penggerak utama suatu akhlak.

Jika contoh-contoh dan riwayat-riwayat yang telah dibawakan dalam ceramah tersebut berkaitan dengan akhlak beliau saw, terhadap orang-orang kafir saat peperangan, maka bagaimana kita akan menggambarkan akhlak beliau saw terhadap mereka dalam kondisi damai?

Berikut tiga hadits tentang hal itu.

Yang pertama, sabda Rasulullah saw:

“…Sesungguhnya para utusan (duta) itu tidak boleh dibunuh.” ( Riwayat Abu Dawud).

Maksudnya adalah, para utusan yang dikirim oleh orang-orang kafir sebagai duta dan penghubung antara kaum Muslimin dengan kaum Kafir.

Keadilan dan kasih-sayang Islam tidak memperbolehkan untuk membunuh dan menyakiti mereka. Karena, dalam Islam terdapat ajaran (agar menjaga dan menataati) perjanjian dan ikatan janji.

Ini di antara gambaran cara bergaul tingkat tinggi dari kaum Muslimin, atau dari agama Islam, atau dari nabi Islam kepada orang-orang Kafir, non Islam.

Kedua, yaitu dalam wasiat nabi saw kepada Mu’adz bin Jabal ra, beliau bersabda:

…dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik.” (Hr Ahmad, Tirmidzi, Darimi).

Dalam hadits ini, Rasulullah saw tidak mengatakan “pergaulillah kaum Muslimin, atau orang-orang shalih atau orang-orang yang mengerjakan shalat”, akan tetapi beliau mengatakan”…dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik”.

Maksudnya adalah semua agama, yang kafir, yang muslim, yang mushlih (yang melakukan perbaikan), yang faajir (jahat) dan yang shalih, sebagai bentuk keluasaan rahmat dan kelengkapannya dengan akhlak din (agama).

Ketiga, yaitu hadis tentang seorang Yahudi, tetangga nabi saw, yang sering menyakiti beliau saw.

Suatu ketika, nabi mengetahui bahwa orang yang selalu menyakitinya ini memiliki seorang anak yang sedang sekarat. Maka nabi saw datang berkunjung kerumahnya dan mengajaknya menuju jalan Rabb-nya, dengan harapan semoga Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki keadaan orang ini.

Beliau saw membalas keburukan dengan kebaikan, meskipun terhadap orang kafir, Rasulullah saw bersabda kepada si anak, sementara bapaknya juga ada bersama mereka:

Wahai bocah, katakanlah laa ilaaha illallah, itu akan menyelamatkanmu dari api neraka.”

Mendengar seruan ini, si anak memandang ke arah bapaknya dan memperhatikannya. Rasulullah saw mengulangi lagi:

“Wahai bocah, katakanlah laa ilaaha illallah!”

Si anak memandang ke arah bapaknya lagi. Kejadian yang sama juga terjadi antara Rasulullah saw dengan pamannya, Abu Thalib, yang senantiasa membantu dan menolong din Islam, kaum Muslimin dan Rasulullah saw, akantetapi, dia tidak masuk Islam. Rasulullah saw bersabda kepadanya:

“Wahai paman, katakanlah laa ilaaha illallah…”

Mendengar seruan ini, Abu Thalib memandang para pembesar Qurays. Lalu mereka mengatakan:

“Apakah kamu benci terhadap agama nenek moyangmu?” (Hadis riwayat Imam Bukhari).

Akhirnya Abu Thalib meninggal dalam kekafiran.

Sedangkan orang Yahudi (dalam cerita ini) yang mendengar nabi saw mengajak anaknya agar masuk Islam, Allah menceritakan kondisi mereka:

“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).” (QS Al An’aam :20)

Bagaimana jawaban dan responnya? Orang Yahudi itu mengatakan:

“Wahai anakku, taatlah kepada Abul Qasim (Muhammad saw)!”

Maka si anak mengucapkan syahadatain. Sebelum menghembuskan napas terakhir. Mendapat respon positif ini, Rasulullah bersabda:

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka dengan sebabku.” (Hr Bukhari, 1356, Abu Dawud).

Inilah akhlak Rasulullah saw yang muliah, adab beliau yang luhur terhadap orang-orang non Muslim, ketika kondisi perang dan dalam keadaan damai. Kita memohon kepada Allah SWT, agar menjadikan akhlak kita sama seperti akhlak beliau saw, dan semoga Allah menjadikan Rasulullah saw sebagai panutan terbaik kita. Allah Berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” ( QS. Al Ahzab :21)

(Syaikh Ali bin Abdul Hamid Hasan al Halaby dalam muhadharah di Masjid Istiqlal, 19 febuari 2006).

Tulisan ini dikutip dari rubrik Soal-Jawab majalah As-Sunnah halaman 10, Edisi 02/X/1427 H/2006 M.

Catatan tambahan :

Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa dalam keadaan perang sekalipun ketika musuh  bersyahadat walaupun mungkin hanya dengan tujuan agar terbebas dari ancaman pedang maka kaum Muslimin tidak boleh lagi membunuhnya. Karena hati adalah milik-Nya maka Dialah yang lebih mengetahui maksud dan niat orang yang bersyahadat tersebut. Kita hanya bisa menilai dari apa yang terlihat dan terdengar saja.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 31 Juli 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Keajaiban Salam

Oleh: Dr. Setiawan Budi Utomo


Assalamu'alaikum (awangpurba.blogspot.com)  dakwatuna.com – Cinta adalah sesuatu benih yang hidup dalam hati dan tumbuh muncul ke permukaan dalam bentuk ekspresi kongkret dan perilaku riil. Cinta memerlukan ekspresi tersendiri dan esensi syariat Salam dalam Islam lebih dari sekadar simbol formalitas verbal tetapi sebuah ekspresi tulus yang lahir dari perasaan cinta, kasih sayang, doa, harapan, suka cita, motivasi, kepedulian, perhatian, penghargaan dan ikatan batin yang tulus dalam berbagai bentuknya.

 Alice Gray memberikan tips mengawetkan hubungan romantis pasangan dalam bukunya List To Live By For Every Married Couple (2002) yaitu dengan memelihara komunikasi efektif melalui berbagai ekspresi perasaan, sukacita, dam keprihatinan yang terdalam. Menurutnya, pernikahan itu dibangun di atas ekspresi-ekspresi kecil penuh kasih sayang dengan menekankan pentingnya ucapan-ucapan selamat dalam berbagai pengalaman penting dan momentum berarti (munasabat) serta sebaliknya mengabadikan kartu ucapan selamat yang terkirim untuk pernikahan, ulang tahun, ulang tahun pernikahan ataupun ucapan spesial apapun merupakan hal yang bermanfaat sebagaimana saran Angela Dean Lund, konsultan kenangan-kenangan kreatif.

Salam merupakan salah satu bentuk pemberian motivasi yang sangat berarti dalam sebuah hubungan agar dapat meningkatkan semangat dalam vitalitas kehidupan fisik material maupun psikologis spiritual, maka karena cinta memerlukan motivasi yang intens dan kontinyu agar tercipta hubungan yang harmonis dan bergairah sepanjang musim, seperti diungkapkan oleh John Gray dalam Men are From Mars, Women are from Venus (1992) sehingga memerlukan manajemen salam dan seni memahami entry point serta titik-titik sensitif serta sentimentil untuk mengeratkan hati pasangan ataupun orang lain (ta’liful qulub). Namun demikian, patut disayangkan, banyak kalangan umat dan aktivis dakwah yang melewatkan dan menyiakan entry point ini membina dan mengeratkan hubungan dengan orang-orang dekatnya serta lingkungan pergaulannya sehingga tercipta hubungan yang loyal, bergairah dan indah.

Sebagai seorang muslim, adalah telah menjadi sebuah keharusan syar’i dan keniscayaan pergaulan untuk memahami manajemen salam dengan saling membudayakan salam secara positif dan efektif. Banyak sekali dalil syar’i, baik dari Al-Qur’an maupun Al-Hadits yang menganjurkan agar kita selalu memberi salam kepada siapa pun termasuk yang kita belum kenal apalagi orang-orang dekat yang telah lama kita kenal. (QS.24:27)

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, apakah Islam yang paling baik itu? beliau menjawab: Engkau memberi makan dan memberi (mengucapkan) salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang belum kamu kenal.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih )

Rasulullah SAW telah mewasiatkan kepada umat Islam untuk memelihara tujuh perkara yaitu; menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, mendoakan orang yang bersin, membantu yang lemah, menolong yang dizhalimi orang, memberi salam, mengabulkan permintaan seseorang (memohon dengan sumpah kepada Allah). (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Imam Ibnu Hibban (w.354 H.) dalam Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala menegaskan bahwa Islam sangat menganjurkan budaya Salam pada hubungan sosial secara umum, karena mengandung hikmah dapat mengikis rasa kebencian, kemarahan dan mencerahkan pergaulan sebagaimana riwayat hadits Nabi saw yang mengatakan bahwa Salam merupakan salah satu nama agung Allah yang dihamparkan di muka bumi, maka tebarkanlah Salam di antara kalian.

Manajemen salam secara baik akan melatih seseorang dapat mengoptimalkan upaya membudayakan salam yang merupakan salah satu cara untuk memperkuat persaudaraan khususnya antara sesama muslim, menambah perasaan saling cinta antar sesama orang beriman. Rasulullah SAW dalam sebuah hadits menegaskan bahwa tidak akan masuk surga sehingga orang telah beriman, dan tidak beriman sehingga saling mencintai cara efektif untuk dapat saling mencintai adalah dengan menyebarkan salam. ( HR. Muslim )

Dale Carnegie dalam How to Win Friends and Influence People (1979) mengajarkan bagaimana cara memelihara dan mengeratkan hubungan sosial khususnya ikatan mahligai perkawinan di antara dengan saling memberi salam berupa ucapan selamat dan pujian yang ikhlas serta memberikan perhatian-perhatian pada hal-hal kecil yang menarik pasangan seperti ketika hari ulang tahun peristiwa pernikahan dan kelahiran.

Menghidupkan budaya salam secara kreatif dan inisiatif bagi pribadi pendamba keshalihan akan tumbuh secara mandiri karena keyakinan bahwa salam merupakan kebiasaan tersebut termasuk sebuah ibadah yang dapat menghantarkan kepada surga sebagaimana pesan Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Hai manusia, sebarkanlah salam, berdermalah makanan, hubungkanlah tali persaudaraan (silaturahim), shalat malamlah pada saat orang-orang sedang tidur lelap niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat. ( HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Tradisi Salam lahir dan hidup sepanjang sejarah hubungan manusia berlangsung sejak zaman Nabi Adam as. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika Allah SWT telah selesai menciptakan Adam as, maka Allah SWT memerintahkan kepada Adam as. untuk menemui dan memberi Salam kepada segolongan malaikat yang sedang duduk menunggu untuk kemudian Adam as diminta mendengarkan apa yang mereka ucapkan sebagai penghormatan kepadanya. Salam yang diucapkan para malaikat kepada Adam as. adalah salam hormat kepadamu dan salam hormat kepada keturunanmu (yang beriman). Maka Adam as berkata: “Assalamu’alaikum” dan mereka menjawab: “Assalamu’alaikum Warahmatullah”. ( HR. Bukhari )

Pada dasarnya, hukum memberi salam dan menjawabnya adalah berbeda. Memberi salam adalah sebuah sunnah yang dianjurkan sedangkan menjawabnya adalah wajib sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Abdil Barr bahwa para ulama sepakat tentang hal ini. Ketentuan syariat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan pemeliharaan hubungan dengan mengajarkan pentingnya menghargai ekspresi positif orang lain berupa ucapan selamat dengan cara membalasnya dengan ucapan salam senada atau lebih baik lagi sebagaimana hadits tentang permulaan salam di atas sehingga para ulama sepakat bahwa menambahkan kalimat dalam menjawab salam adalah sesuatu yang dianjurkan memberikan balasan salam yang lebih baik sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap inisiator salam. Firman Allah SWT : “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS. 4:86)

Kristine Carlson dalam Don’t Sweat the Small Stuff for Women (2001) mengkritik kebiasaan dan sikap sementara orang yang kurang arif dalam menerima salam berupa pujian dan kata selamat dengan berbagai respon negatif bahkan pasif, padahal kita dapat menyambutnya dengan ucapan “terima kasih”. Dalam hal ini sunnah Nabi saw lebih jauh mendorong kebiasaan positif dalam menyikapi ucapan salam dengan menjawabnya tidak sekadar “terima kasih” tetapi memberikan ucapan selamat kembali kepada penyampai dan orang yang mengucapkannya minimal setara bobot ucapannya.

Esensi prosedur salam dalam syariat Islam yang berupa tatacara memberi salam yaitu orang yang berkendaraan lebih dulu memberi salam kepada yang berjalan, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, jama’ah yang sedikit memberi salam kepada yang lebih banyak, yang muda memberi salam kepada yang lebih tua sebagaimana hadits dalam riwayat Muttafaq ‘Alaih mengajarkan kepribadian rendah hati dan peduli etika pergaulan dengan memahami posisi diri dan orang lain serta tanggap terhadap ekspresi menghargai orang lain sebagai point entry untuk dihargai dan media perekat hubungan sosial sehingga lahir keshalihan yang memancarkan akhlaq yang baik (khiyarukum ahasinukum akhlaqan).

Persoalan fiqih yang kadang mengganjal dalam manajemen salam adalah salam antar jenis yang bukan mahram. Bila kita perhatikan teks-teks dalil yang menganjurkan untuk menyebarkan salam pada dasarnya bersifat umum dan tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Artinya, jika ada seorang lelaki yang secara tulus ikhlas mengucapkan salam kepada seorang wanita, maka wanita itu sesuai dengan nash Al-Qur’an wajib membalasnya dengan jawaban yang lebih baik atau minimal yang serupa dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian hijab gender tidak bisa mengoyak ajaran dan doktrin Salam serta filosofisnya.

Dalam hadits shahih diriwayatkan bahwa Ummu Hani binti Abi Thalib berkata: “Saya mengunjungi Rasulullah pada tahun al-Fath (penaklukan kota Mekah), ketika itu beliau sedang mandi sementara Fatimah, putrinya, sedang menutupi tempat mandi beliau dengan tabir, lantas saya mengucapkan salam kepada beliau, lalu beliau bertanya, ‘siapa itu?’ saya menjawab, ‘Ummu Hani binti Abi Thalib’, kemudian beliau berkata, ‘selamat datang Ummu Hani’” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketika Rasulullah saw menyampaikan kepada istrinya Aisyah bahwa malaikat Jibril mengucapkan salam kepadanya, maka ‘Aisyah ra. menjawab salamnya dengan ucapan “wa’alaikum salam warahmatullah”.

Imam Ibnu Hajar meriwayatkan dalam Fathul Bari-nya hadits Asma’ binti Yazid yang mengatakan bahwa Nabi saw pernah melewati kami kaum wanita, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami. Imam Ahmad juga meriwayatkan dalam Musnad-nya bahwa ketika sahabat Mu’adz tiba di Yaman, ia didatangi seorang perempuan dengan dua belas anaknya seraya mengucapkan salam kepada Mu’adz.

Demikian yang ditunjukkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya tentang memberi salam kepada kaum wanita atau sebaliknya meskipun terdapat sebagian ulama yang mensyaratkan kebolehan itu dengan kondisi ‘aman dari fitnah’ seperti Imam Al-Hulaimi dan Al-Mihlab. Dari sumber-sumber di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ulama zaman dahulu tidak mengharamkan mengucapkan salam kepada wanita, khususnya jika laki-laki itu berkunjung ke rumah si wanita untuk urusan tertentu yang syar’i, untuk mengobati, mengajar, dsb. Berbeda dengan wanita yang bertemu dengan laki-laki di jalan umum, maka si lelaki sebaiknya tidak mengucapkan salam kepada wanita, kecuali jika antara mereka ada hubungan yang kuat, seperti hubungan nasab, kekeluargaan, semenda, dll. Sedangkan alasan yang paling kuat yang dijadikan sandaran oleh golongan yang melarangnya adalah karena ‘takut fitnah’ yang sudah seyogyanya dijaga oleh setiap muslim semampu mungkin untuk menjaga kesucian agamanya dan kehormatannya. Hal itu, sebenarnya, pangkal tolaknya adalah hati nurani dan daya tahan iman seorang muslim itu sendiri, karena itu hendaklah ia bertanya pada dirinya sendiri.

Dalam persoalan kasus salam antar beda jenis yang bukan mahram beberapa hal yang perlu diperhatikan agar terjaga kemurniaan dan efektivitas positifnya adalah bahwa salam itu diucapkan ataupun disampaikan dalam kerangka birr wat taqwa (kebajikan dan ketakwaan), salam itu tepat waktu dan kondisi, salam itu dilandasi ketulusan ikhlas dan aman dari potensi fitnah.

Dalam konteks ini, pendapat kalangan yang mengatakan bahwa suara wanita itu aurat sehingga mutlak tidak boleh ada kontak komunikasi antar jenis adalah tidak relevan karena tidak adanya dalil khusus yang melandasi pelarangan tersebut dan tidak ada seorang pun ulama mu’tabar (eligible) yang berpendapat begitu. Bagaimana dikatakan suara wanita itu aurat, sedang Allah berfirman: “… apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir…” (Al-Ahzab:53).

Ini berarti bahwa mereka, para istri nabi, menjawab permintaan tersebut dari belakang tabir. Demikianlah yang biasa dilakukan Aisyah dan Ummul Mu’minin lainnya, menjawab pertanyaan, meminta sesuatu dan meriwayatkan hadits serta menceritakan sisi-sisi kehidupan Rasulullah, padahal semestinya aturan yang berlaku atas mereka lebih ketat dan lebih berat daripada wanita lainnya. Sebaliknya, banyak pula kaum wanita yang bertanya dan berbicara di majelis terbuka Nabi saw. Betapa banyaknya peristiwa sejarah yang tidak terhitung jumlahnya pada zaman Nabi saw dan sahabat, yang menunjukkan bahwa kaum wanita dapat dan biasa berbicara dengan kaum laki-laki, berdialog, berdiskusi, mengucapkan dan menjawab salam. Tidak seorang pun yang berkata kepada wanita, ‘diamlah, karena suaramu itu aurat’.

Seni memberi dan menjawab ucapan selamat dalam manajemen salam merupakan salah satu bentuk setoran efektif untuk bank emosi kita dalam kebiasaan proaktif untuk menarik simpati orang lain dan membina berbagai hubungan sebagaimana ditegaskan Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Efective Families (1999). Bahkan menurutnya sebagai media sinergi untuk mewujudkan sistem kekebalan keluarga perlu dihidupkan budaya kreatif ucapan selamat sebagai bagian implementasi lima cara mengekspresikan cinta yaitu; 1. berempati, 2. berbagi rasa, 3. meyakinkan dan motivasi, 4. berdoa, 5. berkorban.

Jangan pernah melewatkan satu kesempatan dari peristiwa apapun yang dialami oleh orang-orang yang kita kasihi atau kita kenali untuk memberikan salam yang dapat menyumbangkan rasa kebahagiaan dan motivasi pada mereka sebagai suatu pengikat batin yang dahsyat sekaligus amal yang sangat mulia sebagaimana sabda Nabi saw yang mengatakan bahwa sebaik-baik amal adalah memberikan rasa kebahagiaan pada hati orang lain. Sesuatu yang remeh dan kecil bukan sebagai alasan untuk kita lewatkan meskipun hanya menulis satu coretan kecil, satu baris pesan melalui SMS, satu kalimat telepon, satu, satu kartu ucapan selamat yang sederhana, kalau hal itu memang dapat memberikan kebahagiaan orang lain, bukankah Nabi saw melarang kita untuk meremehkan dan tidak menghiraukan hal-hal positif apapun sekalipun remeh dan kecil.

Dalam optimalisasi fungsi manajemen salam dan untuk mengetahui secara proaktif momentum yang tepat bagi ekspresi salam, agar menjadi salam yang efektif maka diperlukan proses pembelajaran, pengenalan dan saling memahami (tafahum) antar kekasih, sahabat dan relasi. Barbara De Angelis dalam The 100 Most Asked Questions About Love, Sex and Relationships menekankan pentingnya kerjasama dan keyakinan bersama bagaimana perasaan cinta diekspresikan secara benar sehingga dapat membahagiakan pasangan dan sahabat. Oleh karena itu kita perlu ‘ngeh’, ‘ngerti’ dan tahu (ta’aruf) hari-hari, momentum dan saat-saat yang tepat untuk memberikan ucapan dan ungkapan selamat kepada orang-orang sekitar kita. Dan kita harus arif dalam memilih kata, media dan cara penyampaian salam agar tidak mengurangi keberkahan dan efektivitas salam.

Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq Wal Hidayah

Diambil dari :  http://www.dakwatuna.com/2009/keajaiban-salam/

Read Full Post »

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” ( QS. Al-Baqarah ( 2) : 183)

Berpuasa dalam arti sekedar menahan makan dan minum di bulan Ramadhan bagi sebagian Muslim  mungkin tidak seberapa berat.  Apalagi bagi yang tinggal di negri2 dimana mayoritas penduduknya Muslim. Belum lagi ditambah dengan adanya tempat2 yang menjual aneka jajan pasar spesial Ramadhan alias tajil yang tiba2 bermunculan bak jamur yang tumbuh di musim hujan.  Nyammm..…

Namun masalahnya apakah puasa yang kita lakukan tersebut sudah sesuai dengan yang dimaksudkan-Nya?  Puasa yang bagaimanakah yang dimaksud dapat menyebabkan seseorang mencapai takwa itu?

Banyak difinisi yang dapat diberikan kepada kata Takwa. Namun dengan satu kata yang paling pendek  tapi pas mungkin adalah Pasrah.  Mudah ? Selintas mungkin  mudah. Tetapi benarkah demikian?  Mari kita merenung sebentar.

Terus terang saya selalu terkesan pada salah satu jenis permainan yang kerap diadakan pada kegiatan ‘Outbond’. Permainan ini biasanya dilakukan secara beramai-ramai.  Setiap tim terdiri  dari 3 orang yang berdiri berjajar.  Dua orang yang di pinggir berdiri menghadap yang di tengah sementara yang tengah berdiri menghadap ke arah depan. Dengan demikian bahu si tengah berada didepan kedua temannya. Setelah semua tim siap, panitia memberi tanda permainan dimulai. Segera salah satu dari dua orang yang berdiri di pinggir mulai mendorong bahu teman yang berada di depannya  ke arah teman yang satu lagi. Selanjutnya teman tersebut harus  menahan tubuh teman yang didorong tadi agar  jangan sampai terjatuh dan kembali mendorongnya ke arah teman yang tadi mendorongnya. Demikian seterusnya hingga waktu beberapa menit yang diberikan panitia habis.

Memang hanya sebuah permainan sederhana. Namun apa yang dituntut dari si tengah sebenarnya mencerminkan sebuah kepasrahan. Ia harus mau  mengikuti irama dorongan kedua temannya, tidak boleh kaku  apalagi menahan diri agar tidak jatuh. Ia harus mampu mengendurkan perasaan tegangnya. Sementara yang dituntut dari kedua orang teman yang saling dorong  adalah kekuatan untuk menahan dan mendorong si tengah. Bila tim ingin menang disinilah kuncinya. Si tengah harus pasrah kepada kedua temannya. Yakin bahwa ia tidak akan dijahili. Yakin bahwa kedua temannya itu cukup kuat untuk mendorong dan menerima dirinya yang  sewaktu-waktu bisa jatuh. Yakin bahwa temannya tidak akan mendorong dirinya terlalu keras hingga teman yang satu lagi tidak sanggup menahan bobot tubuhnya apalagi bila ia merasa gemuk dan berat!

( Saya sendiri terus terang kalau harus menjadi yang berdiri di tengah, saya  lebih memilh menutup mata alias merem dari pada menanggung perasaan takut terjatuh. Itupun tentu saja setelah saya yakin bahwa ke dua orang teman saya bakal mampu menahan beban tubuh saya.  Namun tetap saja dengan perasaan was-was … )

Nah, kepasrahan total yang seperti inilah yang dimaksud dengan pasrah kepada-Nya . Pasrah kepada kehendak dan kekuatan Sang Pencipta. Yakin pada kekuatan, kasih sayang dan kesetiaan-Nya hingga akhirnya sepenuhnya kita rela dan mau menggantungkan diri kepada-Nya tanpa sedikitpun rasa khawatir dan was-was bahwa Dia akan meninggalkan, mengabaikan apalagi melukai kita. Keyakinan inilah yang mula-mula  harus kita bangun. Namun demikian bagaimana mungkin kita dapat meyakini semua itu bila bahkan mengenal-Nyapun tidak ?!?

Ada beberapa cara dan tahapan untuk mengenal Sang Khalik. Diantaranya yaitu dengan mengenali ciptaan-Nya. Ini bisa kita lakukan  dengan banyak berpikir mengenai alam semesta . Bagi yang kebetulan menyukai tanaman mungkin berpikir  bagaimana tanaman yang sudah hampir mati ; layu dan kering tapi keesokkan harinya ternyata bisa hidup dantumbuh kembali adalah contoh yang tepat. Bagi para petani, penjual buah, bunga dan siapa saja yang menyukai keduanya, seharusnya mulai berpikir bagaimana buah-buahan atau bunga-bungaan bisa begitu banyak ragam, warna, bentuk bahkan juga rasanya. Sementara semua orang dapat saja mulai memperhatikan dan berpikir bagaimana matahari, bumi dan bulan dapat berjalan/berputar  dengan begitu teraturnya  tanpa harus  bertabrakan. Mengapa pula burung-burung bahkan yang baru lahirpun tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terbang. Mengapa air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, dari mana angin datang  dll .

Dapat pula kita memikirkan diri dan tubuh kita sendiri. Mengapa tanpa disuruh  mata dapat berkedip, gigi dapat tumbuh, kulit dapat membedakan rasa rasa  panas dan  dingin. Bagaimana pula darah, jantung dan seluruh organ tubuh kita ini tidak pernah merasa lelah menjalankan fungsi dan tugas masing-masing. Hidung tanpa diperintah secara otomatis senantiasa menghirup dan mencari oksigen. Pernahkah  terlintas dalam pikiran  bagaimana bila suatu ketika pasokan oksigen di muka bumi habis ?!?

Tahap berikutnya  adalah mencoba memahami Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya, yaitu  Asmaul-Husna. Dan selanjutnya adalah membaca, memahami serta mengkaji  Al-Quranul Karim. Cobalah bandingkan ayat-ayat dalam kitab suci ini dengan apa yang terjadi di hadapan kita tadi.

“  Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman “.( QS. An-Nahl ( 16):79)).

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”.(QS. Ibrahim ( 14:33)).

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.(QS. Al-Mukminun ( 23):12-14)

Dengan banyak merenung dan memikirkan hubungan antara keduanya, dengan izin-Nya banyak hikmah yang dapat kita ambil. Dengan cara ini kita akan mengenal-Nya dengan lebih baik lagi. Namun demikian, tidak semua ayat Al-Quran  dapat dengan mudah kita pahami. Perlu adanya bimbingan ahlinya ( Alim Ulama seperi Uztad, uztadzah). Akan lebih baik bila uztad/uztadzah lebih dari satu selain agar masukan lebih bervariasi juga agar tidak terjebak ke dalam aliran sesat yang belakangan ini makin menjamur. Disamping itu mengkaji Al-Quran secara  berkelompok juga baik. Gunanya adalah  agar ada yang mengingatkan  ketika kita sedang lalai, lupa atau malas.

Satu hal penting yang harus diingat. Akal dan pikiran manusia itu terbatas. Walaupun dengan bantuan ahlinya sekalipun tidak semua ayat dapat kita pahami maknanya dengan benar. Memahami suatu ayat ada tahapannya. Pertama adalah dengan memahami hubungan antara ayat yang satu dengan ayat yang lain. Kedua dengan memahami cara turunnya ayat ; bagaimana  suasana dan keadaan ketika ayat datang. Inilah salah satu kegunaan mempelajari  Sirah Nabawiyah, sejarah kehidupan Rasulullah saw, yaitu untuk mengetahui Asbabun Nuzul, asal mula turunnya  ayat . Berikutnya adalah dari penuturan para sahabat yang hidup pada zaman Rasulullah. Terakhir baru dari segi bahasanya.

Dengan kata lain , jangan pernah merasa bahwa ayat tidak sesuai dengan pikiran dan akal manusia.  Hingga tingkatan tertentu manusia memang memiliki kemampuan untuk mengikuti pikiran-Nya. Namun tidak setelah itu. Ini yang menjadi penyebab utama mengapa para orientalis dan orang-orang tertentu tidak mampu meraih hidayah-Nya. Kesombongan bahwa akal dan pikirannya adalah yang paling benar  serta hati yang kotor karena tujuan mempelajari ayat-ayat Al-Quran tidak dalam rangka mencari kebenaran dan mencari ridho’ Nya ; mungkin kebencian, materi ataupun  ketenaran dll, sangat berpotensi memancing kemurkaan-Nya.

Sebaliknya membaca Al-Quran ( bukan hanya terjemahan saja) secara tartil ( benar, teratur dan tidak terburu-buru) sekalipun tidak mengerti , selama dalam rangka mencari ridho’Nya, dapat membersihkan hati. Dengan jauhnya hati dari prasangka buruk, dengan izin-Nya, Allah swt akan  memberikan petunjuk dan hidayah-Nya. Di atas dasar hati yang bersih inilah, perlahan keimanan akan tumbuh dengan subur bagai menabur benih tanaman unggul di atas tanah yang gembur dan disirami dengan air yang bersih secara teratur.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”.(QS.Ibrahim (14):24-25)

Setelah kita mengenal Sang Khalik langkah selanjutnya adalah memenuhi  perintah dan larangan-Nya. Ayat-ayat Al-Quran, diperinci dan dicontohkan pelaksanaannya oleh Rasulullah saw sebagai sang penyampai adalah panutan terbaik yang tidak dapat disangkal  lagi kebenarannya. Dengan modal inilah kita seharusnya mengarungi kehidupan.  Disiplin, jujur,  kerja keras serta tak kenal putus asa, berbuat baik kepada sesama, saling membantu dalam kebaikan seperti memberi makanan kepada orang yang kelaparan, memberikan bantuan kepada yang memerlukan, memberikan nasehat bagi yang kesusahan dll akan mendatangkan kemudahan dalam hidup ini.

“ Rasulullah bersabda : “  Sesungguhnya aku ini diutus untuk menyempurnakan akhlak”.”

Dengan berbuat dan bertindak segala sesuatu atas nama takwa kepada-Nya maka Allah akan mencintai kita. Sebagai balasannya Ia pun akan membuka hati hamba-hamba-Nya yang lain agar merekapun  mencintai kita! Subhanallah…

Dari Abu Hurairah ra. Nabi saw bersabda:
Jikalau Allah Ta’ala itu mencintai seseorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan memberitahu bahwa Allah mencintai si Fulan, maka  ” Cintailah si Fulan itu “. Jibril lalu mencintainya, kemudian ia mengundang seluruh penghuni langit dan memberitahu bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah si Fulan itu. Para penghuni langit pun lalu mencintainya. Setelah itu diletakkanlah kecintaan padanya di kalangan penghuni bumi”. ( HR. Muttafaq ‘alaih)

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”. (QS. Al-Lukman (31):22)

Kembali kepada ‘game outbond’ di awal tulisan,  bila kedua orang yang bertugas mendorong dan menahan beban si tengah tentunya hanya mampu    ‘ menjalankan tugas’ selama beberapa menit saja, tidak demikian dengan-Nya.  Selama hidup kita Ia selalu siap menjaga dan menemani kita tanpa sedikitpun rasa lelah, ngantuk dan bosan.  Ia bagaikan tali super kokoh yang mengikat diri kita selama kita tidak melepasnya.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.(QS.Al-Baqarah ( 2): 255).

Wallahu’alam bishawab.

Pau-France, September 2009/ 19 Ramadhan 1430 H.

Vien AM.

Catatan : Hukum Puasa, Click : http://rohiminalasror.com/fiqih/fiqih.html

Read Full Post »

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS.Al-Hujurat(49):13).

Manusia adalah mahluk sosial; yang selalu membutuhkan perhatian, teman dan kasih sayang dari sesamanya. Setiap diri terikat dengan berbagai bentuk ikatan dan hubungan, diantaranya hubungan emosional, sosial, ekonomi dan hubungan kemanusiaan lainnya. Maka demi mencapai kebutuhan tersebut adalah fitrah untuk selalu berusaha berbuat baik terhadap sesamanya. Islam sangat memahami hal tersebut, oleh sebab itu silaturahmi harus dilaksanakan dengan baik. Silaturahmi dijalankannya antara lain dengan saling mengunjungi yang sakit, saling membantu, tidak berbuat fitnah dan juga saling menghormati.

Rasulullah bersabda: “Orang yang bangkrut ialah mereka yang datang di hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat tetapi sekaligus membawa (dosa) mencaci orang, memfitnah dan menganiaya serta menyiksa sesama semasa hidupnya” .

Dengan adanya hubungan dan silaturahmi yang baik antar manusia ini, maka ia akan mengantarkan manusia kepada kemudahan, ketenangan dan kedamaian di dunia.

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS.An-Nisa’(4):86).

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah tali silaturahmi dan dirikanlah shalat pada malam hari ketika manusia tertidur niscaya kamu masuk surga dengan selamat.”(HR Bukhari – Muslim).

Allah SWT sangat murka melihat seorang yang tidak mau melaksanakan silaturahmi, apalagi bila orang itu memiliki kekuasaan.

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan…… dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dila`nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”.(QS.Muhammad(47):22-23).

Bahkan Allah SWT mengingatkan bahwa membunuh satu orang manusia dengan tanpa alasan yang dapat dibenarkan agama adalah sama dengan membunuh seluruh manusia.

“……barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya……”.(QS.Al-Maidah(5):32).

Kebaikan sesungguhnya adalah sifat dasar (fitrah) manusia. Namun karena berbagai hal dan penyebab, fitrah tersebut dapat hilang. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak”.

Setiap manusia adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Dan seorang laki-laki yang telah memutuskan menikah maka ia adalah pemimpin bagi keluarganya. Sebagai kepala keluarga ia wajib menafkahi, memperhatikan, menyayangi serta mengayomi anak dan istrinya. Seorang istri wajib mendidik dan memberikan kasih-sayang, perhatian dan kelembutannya kepada anak-anaknya, menjaga harta dan kesuciannya serta menyayangi sekaligus menghormati suaminya. Sedangkan bagi seorang anak, wajib baginya menghormati dan menyayangi kedua orang-tuanya. Masing-masing anggota keluarga memiliki tugas dan tanggung-jawabnya masing-masing.

“…… hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS.Al-Isra’a(17):23-24).

Melalui perut seorang ibulah manusia dilahirkan. Dari Bahaz bin Hakim dari ayahnya dari neneknya ra, ia berkata, aku bertanya : “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus baik?”. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi: ”Kemudian siapa?. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi :”Kemudian siapa?”. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi : ”Kemudian siapa?”.Beliau bersabda : “Ayahmu, kemudian yang lebih dekat”. (HR Abu Dawud dan Tarmidzi).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu”. (QS.Luqman(31): 14).

Namun demikian, bentuk ketaatan kepada kedua orang-tua ini sebatas mereka tidak memerintahkan untuk mempersekutukan-Nya walaupun bila ini terjadi harus tetap dijalankan dengan cara yang baik.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan)”. (QS.Luqman(31):15).

Itu pula sebabnya mengapa Allah SWT melarang seseorang untuk mengangkat (adopsi) seorang anak dengan alasan apapun.

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; …… dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. …… Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Ahzab(33):4-5).

Islam memang sangat menganjurkan seorang Muslim memelihara anak yatim, dalam arti menyantuni dan memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Anas bin Malik ra berkata: “Sebaik-baik rumah adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang diperlakukan secara baik dan sejelek-jelek rumah adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang disia-siakan. Hamba Allah yang paling dicintai Allah adalah orang yang memperlakukan anak yatim dan janda dengan baik.

Namun tetap harus menghargai kedua orang tua kandung mereka, yaitu dengan cara tetap menggunakan nama ayah mereka. Hal ini menunjukkan betapa hubungan antara anak dan kedua orang-tua kandung sangat penting. Disamping tentu banyak pertimbangan lain yang juga cukup penting, diantaranya adalah berkenaan dengan masalah perkawinan dan ahli waris. Dan hal ini juga berlaku atas diri Rasulullah SAW. Zaid bin Haritsah adalah bekas budak yang diangkat sebagai anak angkat oleh beliau. Sebelum turun ayat diatas Rasulullah memberinya nama Zaid bin Muhammad. Namun segera begitu turun ayat yang melarang hal tersebut, maka Zaid kembali menggunakan nama ayahnya yaitu, Zaid bin Haritsah.

Demikian pula kerabat, sanak saudara dan keluarga dekat yang dalam keadaan kekurangan, orang-orang miskin, orang yang dalam perjalanan (kemudian menemui kesulitan) Allah SWT menghendaki agar mereka itu dibantu. Namun sebaliknya Allah juga tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Dialah, Al Azis, Al-Hakim, Ar-Rizik yang berkuasa mengatur dan Maha Mengetahui segala kebutuhan manusia.

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.(QS.Al-Isra’a(17):26-27).

Demi menjaga silaturahmi pulalah maka Allah SWT melarang seseorang berbuat curang, yaitu orang-orang yang gemar mengurangi takaran dan timbangan demi kepentingan dirinya.

“… Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya,……”. (QS.Al-’raf(7):85).

Disamping itu, manusia seharusnya juga memperhatikan pergaulannya. Saat ini dapat kita lihat pergaulan antara lelaki dan perempuan, antar sesama lelaki dan antar sesama perempuan yang begitu bebas. Bukankah Allah SWT telah dengan jelas memberikan batasan-batasannya? Akibatnya bermuncullah berbagai masalah, seperti AIDS, kelahiran anak diluar nikah dengan segala dampaknya dan sebagainya.

Allah SWT juga mengharamkan riba yaitu, kelebihan atau penambahan pada modal uang yang dipinjamkan dan harus diterima oleh yang berpiutang sesuai dengan jangka waktu peminjaman dan persentase yang ditetapkan sebelumnya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.(QS.Ali Imraan(3):130).

“…… Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” . (QS.Al-Baqarah(2):275).

Karena riba pada dasarnya adalah pemerasan dan penganiayaan dari golongan ekonomi kuat terhadap golongan ekonomi lemah. Dan dimanapun segala bentuk pemerasan dan penganiayaan adalah termasuk kejahatan dan dapat merusak hubungan antar sesama manusia.. Bahkan sesungguhnya Allah SWT menganjurkan agar kita menolong seseorang yang sedang dalam kesulitan, misalnya sedang terbelit hutang untuk membebaskannya dari hutang tersebut.

Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui..”. (QS.Al-Baqarah(2):280).

Perbedaan dimata Allah SWT hanyalah berdasarkan ketakwaan. Masing-masing berlomba berbuat baik, saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.(QS.Al-Ahzab(33):35).

Berbuat baik kepada sesama manusia memang tidak mudah. Bahkan Allah SWT mengumpamakannya sebagai jalan yang mendaki lagi sukar. Namun itulah jalan bagi orang-orang golongan kanan, yaitu golongan orang-orang yang disayangi-Nya.

“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan”.(QS.Al-Balaad(90):12-18).

Rasulullah ditanya; apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga. Rasulullah menjawab : Akhlak yang baik.”. Rasulullah ditanya; apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka. Rasulullah menjawab:” Mulut dan kemaluan”. (HR Tirmidzi).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Juli 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

 Ashadu an la ilaha illa Allah  wa ashadu  anna Muhammadan rasulullah”

Kalimat yang berarti aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah ini adalah  ucapan  yang wajib diikrarkan seseorang yang ingin memeluk Islam. Ini yang dinamakan kalimat Syahadat.

Rasulullah bersabda: “Bersaksilah kalian : bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah Rasulullah. Tidak akan menemui Allah dengan kalimat syahadat itu seorang hamba selain yang meragukannya sehingga surgapun tertutup baginya”.

Dengan diikrarkannya kalimat syahadat, secara otomatis iapun  terikat pada syariat Islam yaitu, shalat 5 kali sehari semalam, membayar zakat 2.5 %,  puasa di bulan Ramadhan serta menunaikan haji ke Mekkah bila mampu.

Rasulullah bersabda: “Islam itu ialah engkau akan menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya akan sesuatu, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan, berpuasa Ramadhan dan berhaji ke Baitul Haram (masjidil haram dan sekitarnya)”. (HR. Bukhari-Muslim).

“… Allah berfirman: “… Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-’Araf (7): 156-157).

Yang dimaksud nabi yang ummi yang tertulis di dalam Taurat dan Injil itu adalah nabi Muhammad saw, rasul yang membawa Al-Quranul Karim. Kitab ini mengajak manusia kepada kebaikan, menunjukkan jalan yang benar dalam rangka menuju Tuhan yang menciptakan alam semesta dan segala isinya. Allah swt berfirman, alangkah beruntungnya manusia yang tidak saja hanya mengimani beliau namun juga mau memuliakan, menolong, mengikuti serta mencontohnya dalam mentaati perintah dan larangan-Nya.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzab(33):36).

Namun sungguh ironis, belakangan ini santer diberitakan akan adanya segolongan umat ( Islam ) yang berpendapat, berkeyakinan dan menyebarkan keyakinannya itu bahwa mengucapkan syahadat tidak perlu memakai embel-embel “ Wa ashhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Dan membaca shalawat nabi ( Nuhammad saw) adalah tidak penting! Alasannya bermacam-macam. Diantaranya ada yang mengatakan bahwa shalawat sama saja dengan mengkultuskan Muhammad saw dan membaca 2 kalimat syahadat sama saja dengan ajaran ’trinitas’ nya umat Nasrani! Ada apakah ini?

Ibnu Mas’ud ra. berkata: Rasulullah Muhammad saw bersabda: “Orang yang terdekat kepadaku pada hari kiamat ialah yang terbanyak membaca shalawat kepadaku.” (HR. At Tirmidzi).

Ka’ab bin Ujroh ra. berkata: Ketika Nabi saw keluar kepada kami, kami bertanya kepadanya: “Ya Rasulullah, kita telah mengerti mengucapkan shalawat kepadamu, maka bagaimanakah membaca shalawat atasmu?” Jawab Nabi Muhammad saw: “Bacalah: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shalaita ‘ala Ibrahim  innaka hamidun majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama barokta ‘ala ali Ibrahim innaka hamidun majid.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. ”.(QS.Al-Ahzab(33):56).

Ayat diatas jelas menunjukkan bahwa Allah menyuruh kita, umatnya, untuk menghormatinya. Bahkan Allah dan para malaikatpun bershalawat untuk nabi!  Dalam arti Allah dan para malaikat ridho’; memuji dan puas atas apa yang diperbuat Rasulullah saw. Ini adalah perintah yang tertulis dalam Al-Quran. Jadi tidak alasan apapun yang dapat digunakan agar kita tidak bershalawat untuk Rasulullah, untuk tidak mengagungkannya sebagaimana layaknya manusia yang pandai berterima-kasih atas jasa-jasa yang tak terhitung banyaknya dalam  memperjuangkan dan mempertaruhkan seluruh waktu dan hidupnya agar ajaran Islam bisa sampai kepada kita hingga detik ini.

Ini adalah bagian penting dari ajaran akhlak dan adab yang tinggi. Agar umat Islam pandai menghargai jasa dan pengorbanan seseorang. Agar umat pandai bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya.

Disamping itu bunyi kalimat dalam syahadatpun jelas. Kita mengakui dan mengagungkan Muhammad saw sebatas seorang utusan Allah, tidak lebih. Begitu pula yang dicontohkan Rasulullah. Beliau hanya menyuruh kita bershalawat, mendoakan beliau dan keluarganya agar keselamatan dan keberkahan senantiasa dilimpahkan kepadanya sebagaimana Allah swt memberkahi nabi Ibrahim dan keluarganya.  Tidak berlebihan bukan?

Apalagi bila kita perhatikan sejumlah ayat-ayat Al-Quran yang menunjukkan bagaimana Sang Khalik sendiri  begitu memperhatikan, melindungi serta menyayangi Muhammad saw, sang kekasih, rasul pilihan yang amat dicintai-Nya.

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS.Al- Hujurat(49):2-3).

 ” Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mela`natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan” .(QS.Al-Ahzab(33):57).

Bila Allah swt saja begitu mengistimewakan dan melebihkannya dari yang lain dan bahkan jelas-jelas menyuruh kita menghormati dan meninggikannya mengapa pula kita harus mencari berbagai alasan dan pembenaran agar kita tidak mengagungkannya apalagi enggan menjadikannya contoh dan keteladanan?

Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, berkat ni’mat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” ( QS.Al-Qalam (68):1-4).

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.( QS. Al-Ahzab(33):21)

Ali ra. berkata: Rasulullah Muhammad saw bersabda:Orang bakhil (kikir) yaitu yang disebut namaku kepadanya lalu ia tidak membaca shalawat untukku.” (HR. At Tirmidzi)

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, 28/6/2009.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »