Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Mualaf’ Category

Knud Valdemar Gylding Holmboe lahir pada 22 April 1902, sebagai anak tertua dari keluarga pedagang yang terpandang di kota Horsens, Denmark. Sejak remaja, Knud sudah tertarik dengan ilmu filsafat dan agama dan dalam usia muda, Knud sudah bekerja sebagai wartawan magang dan menulis untuk sejumlah koran lokal di Denmark.

Pada usia 20 tahun, Knud menyatakan memeluk agama Katolik dan tinggal di sebuah seminari di Clairvaux, Prancis. Dengan cepat ia membaur dalam kehidupan biara dan ingin memperdalam ilmu agamanya ke tempat lain. Tahun 1924, ia pun pergi ke Maroko dan di negara inilah ia malah mengenal Islam.

Knud sering menemui seorang syaikh di sebuah masjid kecil di kawasan pegunungan di negara itu. Dari pertemuan-pertemuan itu, Knud menyadari bahwa hatinya terpaut pada Islam. Setahun kemudian, ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat.

Pulang ke Denmark, Knud menerbitkan buku pertamanya “Poems” berisi tulisan-tulisannya tentang kematian, kehidupan, keyakinan dan gurun pasir. Tak lama setelah buku pertama, Knud menerbitkan buku tentang pengalamannya selama tinggal di Maroko berjudul “Between the Devil and The Deep Sea – a dash by plane to seething Morocco”.

Tahun 1925, Knud melakukan perjalanan ke Timur Tengah, mulai dari Suriah, Palestina, Yordania, Irak dan Persia. Ia menyaksikan sendiri pertikaian politik di Baghdad dan Palestina, yang menjadi cikal bakal ketidakstabilan situasi Timur Tengah hingga sekarang.

Setelah Timur Tengah, pada tahun 1927, ia mengunjungi kawasan Balkan bersama isterinya yang baru dinikahinya. Di Albania, ia menyaksikan bagaimana orang-orang Italia menindas komunitas Muslim. Knud menulis dan mengirimkan banyak artikel serta foto apa yang ia saksikan di Albania ke media massa di Denmark. Salah satunya yang memicu kontroversial adalah artikel Knud tentang tindakan penguasa Italia menggantung seorang pendeta Katolik terkemuka Albania. Cerita itu menyebar ke seluruh Eropa dan membuat otoritas Italia marah besar.

Saat kembali ke Denmark, Knud mencoba keberuntungannya dengan menjadi editor di sebuah koran lokal. Tapi kesulitan ekonomi membuatnya memilih meninggalkan Denmark. Bersama istrinya, Nora dan puterinya, Aisha, Knud pindah ke Maroko. Knud juga mengganti namanya menjadi Ali Ahmed El Gheseiri, yang merupakan terjemahan bebas nama asli Knud ke dalam bahasa Arab.

Ikut Jihad Melawan Italia.

Tahun 1930, Knud melakukan perjalanan yang membuatnya menjadi terkenal. Dengan menggunakan mobil Chevrolet Model 1929 dari Maroko melintasi gurun Sahara menuju Mesir. Saat melewati Libya, Knud lagi-lagi menyaksikan perlakun buruk penguasa Italia yang saat itu menjajah Libya, terhadap masyarakat Muslim di negeri itu. Orang-orang Italia itu menggantung, mengeksekusi, menyerang, menyiksa penduduk Muslim serta merusak sumber nafkah mereka sehingga penduduk Muslim di Libya hidup dalam kemiskinan. Knud menulis dan mengambil foto-foto apa yang disaksikannya di Libya.

Pengusa Italia di Libya tidak tinggal diam. Mereka menangkap Knud di kota Derna dan mengusir Knud dari Libya. Sejak itu, Knud memutuskan untuk bergabung dengan gerakan perlawanan rakyat Libya yang dipimpin oleh Syaikh Omar Al-Mokhtar.

Knud tetap melanjutkan perjalanannya ke Mesir. Di negeri Piramida itu, ia berjuang keras meyakinkan masyarakat Muslim di Mesir untuk membantu jihad muslim Libya melawan penjajahan Italia. Knud sedang bersiap-siap membawa bantuan dengan karavan ke kota Al-Kufra, Libya, ketika duta besar Italia untuk Mesir meminta otoritas Inggris dan Mesir menangkap dan menjebloskan Knud ke penjara. Sebulan lamanya ia mendekam di penjara, lalu dipulangkan dengan kapal laut ke negara asalnya, Denmark.

Di Denmark, Knud menuliskan kekejaman penjajahan Italia di Libya dalam bukunya “Desert Encounter”, yang dengan cepat menjadi buku terlaris di Denmark dan beberapa negara Eropa lainnya, serta di AS. Di Italia, buku itu dinyatakan terlarang hingga tahun 2004. Pemerintah Italia menghabiskan dana ribuan dollar untuk melakukan kampanye hitam terhadap buku Knud tersebut dan memanfaatkan media massa di Italia untuk membantah semua tulisan-tulisan Knud tentang kejahatan perang Italia di Libya.

Tahun 1931, Knud kembali melakukan perjalanan. Kali ini ia berencana ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanannya, ia menyempatkan diri bertemu dengan para pemimpin dan tokoh perlawanan Libya yang diasingkan ke Turki, Yordania dan Suriah. Saat berada di Suriah, masyarakat Arab sedang melakukan demonstrasi besar-besaran di depan kantor konsulat Italia di Damaskus. Lagi-lagi Knud diusir dari Suriah. Knud boleh masuk ke Yordania dan melanjutkan perjalanannya ke Mekkah, setelah kantor konsulat Denmark di Istanbul menyampaikan proters keras atas perlakuan terhadap Knud.

Dibunuh Saat Menuju Mekkah.

Pemerintah Italia masih menyimpan rasa khawatir terhadap Knud. Mereka takut Knud akan menyerukan jihad melawan Italia sesampainya di Mekkah. Untuk itu, Italia melakukan berbagai cara untuk mencegah Knud agar tak sampai ke Mekkah. Knud mengalami berbagai macam percobaan pembunuhan ketika masih berada di Amman, Yordania. Namun Knud tetap pada rencananya semula untuk pergi ke Mekkah. Ia membeli seekor unta dan melanjutkan perjalanannya ke Aqaba. Di sini, ia harus menunggu izin masuk ke wilayah Kerajaan Saudi.

Tanggal 11 Oktober 1931, Knud meninggalkan untanya di dekat perbatasan Saudi. Ia konon sedang bermalam di dekat oasis Haql ketika sekelompok suku Arab Badui mendatanginya. Suku di Saudi itu dikenal sebagai sekutu orang-orang Italia yang menguasai wilayah itu. Mereka menyuruh Knud untuk melanjutkan perjalanan sendirian dan di tengah jalan antara Al-Haql dan Humayda, Knud diserang dan disergap. Tapi malam itu juga, Knud berhasil meloloskan diri, ia berenang menjauhi bibir pantai. Saat kelelahan dan terdapar di sebuah pesisir pantai, suku Arab Badui menemukan Knud dan langsung menembaknya hingga tewas. Usia Knud saat itu baru 29 tahun. Jenazahnya dikubur di dekat pantai.

Petugas perbatasan Yordania Arif Saleem berusaha mengejar seorang syaikh, pemimpin kelompok yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan terhadap Knud. Saleem berhasil menangkapnya di wilayah Aqaba dan menginterogasinya selama beberapa jam. Tapi atas perintah komandan pasukan Inggris John Glubb, syaikh itu akhirnya dibebaskan. Beberapa bulan kemudian, tersiar kabar bahwa sejumlah anggota suku yang membunuh Knud, melakukan bunuh diri massal ketika tentara-tentara yang setia dengan Raja Ibnu Saud menghancurkan kamp-kamp mereka.

Tulisan, buku-buku dan foto-foto karya Knud menjadi warisan bersejarah yang sangat penting. Setelah Perang Dunia II usai, Italia diseret ke pengadilan internasional, tapi masyarakat Muslim di Libya tidak pernah menerima kompensasi atas kekejaman yang dilakukan pemerintah Italia selama menjajah Libya. Jenazah Knud juga tidak pernah dipulangkan ke Denmark.

sumber : eramuslim.

Diambil dari :

http://muallaf-online.blogspot.com/2011/03/knud-valdemar-mualaf-asal-denmark-yang.html

Jakarta, 22 Agustus 2011.

Vien AM.

Semoga Allah swt membalas perjuangan hebat sang mualaf dengan balasan sebaik-baiknya. Dan semoga dapat menjadi pemicu kita, yang terlahir Muslim, agar peduli terhadap penderitaan saudara-saudara kita seiman, dimanapun berada.

Dari Abu Hamzah, Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Read Full Post »

REPUBLIKA.CO.ID,  Kolonel Donald S Rockwell lahir di Illinois, Amerika Serikat. Ia menyelesaikan studi d Universitas Washington dan Columbia di mana ia memperoleh banyak gelar kehormatan. Ia adalah seorang penyair, kritik sastra sekaligus pimpinan redaksi di Radio Personalities.

Ia mendapat pangkat kolonel saat ikut wajib militer pada masa Perang Dunia II, ketika AS melawan Jerman dan Jepang. Sebagai sastrawan ia pun menulis buku, salah satunya yang terkenal berjudul  “Beyond the Brim and Bazar of Dreams.

Dalam bukunya itu ia menuliskan pandangannya tentang Islam dan mengapa akhirnya ia memilih memeluk Islam. Berikut nukilannya yang pernah dipublikasikan oleh Islamic Review pada tahun 1935.

Kesetaraan dalam Islam selalu menarik perhatian Donald. Orang kaya dan orang miskin memiliki hak yang sama di lantai masjid, bersujud dalam ibadah yang rendah hati. “Tidak ada bangku yang disewakan atau tidak ada kursi khusus yang bisa dipesan sebelumnya,”

Kesederhanaan dalam Islam, daya tarik kuat dan atmosfer yang memikat dari masjid-masjid, kesungguhan para penganut setianya, serta perwujudan meyakinkan yang menginspirasi dari jutaan pemeluknya di dunia yang menjawab panggilan lima kali sehari untuk melaksanakan shalat–semua faktor tadi menarik hati Donald pertama kali.

Namun setelah ia memutuskan untuk menjadi pemeluk Islam, ia menemukan banyak lagi alasan mendalam yang kian memperkuat keputusan tersebut. Konsep kehidupan penuh kelembutan–nasihat bijaksana, amal untuk meningkatkan rasa kasih sayang, kemanusiaan yang luas serta perintis deklarasi hak milik perempuan–adalah faktor-faktor lain dari ajaran ini–begitu impresi Donald terhadap ajaran Islam, ia pandang luar biasa.

Begitu pula ketika mendengar hadis yang menuturkan kisah seorang pria Mekah dengan Rasul Muhammad yang berbunyi”Beriman dan percayalah pada Tuhan dan ikatlah untamu”. Bagi Donald itu adalah bukti singkat paling jelas dari sebuah praktek keagamaan yang ditunjukkan tepat dalam kata-kata tak langsung Rasul Muhammad.

Dari kisah itu Donald menilai ada sistem bersikap normal dalam beriman, bukan keyakinan buta di bawah perlindungan kekuatan tak terlihat. Namun di sisi lain ia meyakini bahwa jika manusia melakukan semua dengan benar dan terbaik menurut kemampuannya, maka seseorang layak meyakini takdir baik sebagai kehendak Tuhan.

Selain faktor tadi ia juga terkesan dengan toleransi berwawasan luas Islam terhadap agama lain. Rasul Muhammad, tulis Donald, akan menegur pengikutnya yang tidak memperlakukan Ahli Kitab dengan baik, karena Ibrahim, Musa dan Isa juga diakui sebagai nabi dari Satu Tuhan. Tentu, tulis Donald, itu sikap yang sangat murah hati terhadap agama lain.

Satu juga yang digarisbawahi oleh Donald adalah praktek keagamaan dan ibadah yang bebas dari berhala dan kemusrikan. Donald memandang itu adalah inti utama dari kekuatan dan kemurnian menyehatkan dari keyakinan seorang Muslim.

Tak hanya itu, Donald juga kagum dengan kemurnian ajaran Rasul yang tidak terkooptasi dalam perubahan atau tambahan doktrin meski waktu telah terpaut jauh sejak Islam pertama kali diajarkan Rasul. Al Qur’an tetap seperti sejak pertama ia diturunkan. Kitab tersebut, ungkap Donald, justru hadir untuk membenahi umat politheis yang korup di era Rasul Muhammad. Sebagai jantung Islam itu sendiri, Al Qur’an tidak berubah.

Kesahajaan dan sikap tidak berlebihan dalam segala hal sebagai kunci utama dalam Islam diakui Donald telah memenangkan persetujuan dalam dirinya secara wajar tanpa pengecualian. Yang juga membuat ia semakin kagum, Islam juga menyentuh keseharian. Ia menyaksikan bagaimana Muslim yang sehat karena meneladani sikap Rasul, yakni hidup dalam kebersihan dan melakukan puasa untuk menekan nafsu duniawi.

Ketika Donald berdiri di depan masjid-masjid di Istanbul, Damaskus, Yerusalem, Kairo, Aljazair, Tangier, Fez dan kota-kota lain, ia menemukan hal lain yang menyentuh kesadarannya. Potensi ampuh kesederhanaan Islam lahir pada hal-hal lebih tinggi. Donald menyadari tak ada ornamen berlebih, ukiran-ukiran rumit, sosok makhluk hidup, gambar dan ritual seremoni dalam rumah ibadah tersebut.

Masjid, tulis Donald, adalah sebuah tempat kontemplasi yang sunyi dan tempat melakukan penghapusan diri ke dalam realitas yang lebih besar yakni Satu Tuhan yang Esa.

Ia juga menyukai konsep di mana Muslim tak memiliki perantara antara dirinya dan Tuhannya. Ia langsung menuju sumber tak kasat mata, pencipta kehidupan itu sendiri, Tuhan, tanpa ada ketergantungan terhadap rumus pengakuan dosa dan kepercayaan bahwa ada kekuatan seorang guru atau manusia suci sebagai penyelamat.

Terakhir namun tak kalah mengagumkan adalah persaudaraan dalam Islam. Terlepas dari warna kulit, aliran politik, ras dan negara, Donald merasa selalu menemukan rumah setiap saat dalam kehidupannya saat bersinggungan dengan Muslim dan Islam. Itulah salah satu faktor pula yang mendorong Donald untuk memeluk keyakinan tersebut.

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Dikutip dari : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/02/09/163243-bagi-donald-rockwell-beriman-dan-ikatlah-untamu-bukan-keyakinan-buta

Read Full Post »

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE–Tahun 2004 lalu, mungkin menjadi tahun yang paling berkesan bagi seorang Susan Carland. Betapa tidak, wanita kelahiran Melbourne, Australia, ini terpilih sebagai Tokoh Muslim Australia (Australian Muslim of the Year) 2004. Sejak saat itu, sosoknya dikenal luas di seluruh penjuru Negeri Kangguru, bahkan hingga ke negeri tetangga.

Susan Carland, Aktivis Gereja yang Menemukan Kelembutan Islam
Kendati pernah dinobatkan sebagai Tokoh Muslim Australia berpengaruh, sejatinya Susan bukan berasal dari keluarga Muslim. Kedua orang tuanya merupakan pemeluk Kristen yang taat. Ia sendiri baru mengenal Islam pada usia yang baru menginjak 19 tahun.

Orang tuanya bercerai ketika Susan berusia tujuh tahun. Ia kemudian memilih untuk tinggal bersama ibunya, yang dianggapnya sebagai sosok wanita yang gigih, penyayang, dan orang yang paling banyak memengaruhi perjalanan kehidupannya.

Sebagai pemeluk Kristen yang taat, sang ibu pun mengharuskan anak gadisnya itu untuk aktif dalam kegiatan gereja dan mengikuti sekolah Minggu. Namun, ketika menginjak usia 12 tahun, ia memutuskan tidak lagi menghadiri kegiatan gereja dan mengikuti sekolah Minggu. “Saat itu, saya beralasan bahwa saya tetap percaya kepada Tuhan meskipun tidak ke gereja.”

Namun, keinginan yang kuat untuk mengenal Tuhan lebih jauh pada akhirnya mendorong Susan untuk ikut aktif lagi di kegiatan gereja. Ia kemudian memutuskan bergabung dengan sebuah komunitas gereja yang menurutnya terbilang lebih toleran dibandingkan yang sebelumnya pernah ia masuki.

Walaupun aktif dalam kegiatan gereja, diakui Susan, dirinya tetap bisa melalui masa remajanya seperti kebanyakan gadis seusianya. Pada waktu senggang, ia mengikuti kelas balet dan kegiatan ekstrakulikuler lainnya yang diselenggarakan oleh sekolahnya.

Saat aktif di komunitas gereja baru ini, ia kerap mendengar pembicaraan orang-orang di sekitarnya yang mengaku berbicara dengan Tuhan dalam bahasa roh. Hal tersebut menimbulkan kebingungan dalam dirinya yang saat itu tengah mempelajari konsep mengenai ketuhanan.

Ketika merayakan ulang tahunnya yang ke-17, Susan membuat beberapa resolusi di tahun baru. Salah satu resolusinya adalah menyelidiki agama-agama lain. “Agama Islam saat itu tidak masuk dalam daftar teratas karena agama ini bagi saya terlihat asing dan penuh dengan kekerasan,” ungkapnya.

Pengetahuan tentang Islam yang dimiliki Susan kala itu hanya sebatas pada penjelasan-penjelasan yang ia baca di buku ensiklopedia anak-anak dan dalam film berjudul Not Without My Daughter. Di samping itu, ada juga pesan yang pernah disampaikan ibunya bahwa beliau tidak peduli jika dirinya menikah dengan seorang pengedar narkoba sekalipun, asalkan jangan dengan seorang Muslim.

Layar TV

Lalu, kenapa ia kemudian memilih Islam? Ada nilai lebih yang ia dapatkan dalam agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yakni kedamaian dan kelembutan. Kebalikan dari yang pernah ia dengar sebelumnya.

Saat disuruh menjelaskan bagaimana ia bisa memutuskan menjadi seorang Muslimah, ibu dua anak ini menuturkan kepada harian The Star bahwa ia tidak bisa mengingat secara pasti, apakah dia menemukan Islam atau Islam menemukannya. Yang pasti, semua peristiwa tersebut tidak pernah ia rancang sebelumnya. “Hari itu, saya menyetel televisi dan mendapati diri saya sedang asyik menyaksikan sebuah program mengenai Islam,” ujarnya.

Sejak saat itu, berbagai artikel mengenai Islam di koran dan majalah selalu menarik perhatian Susan. Tanpa disadarinya, ia mulai mempelajari agama Islam. Ketika dalam proses pembelajaran tersebut, Susan justru menemukan sebuah ‘kelembutan’ yang tidak pernah ia temukan. Lagi pula, ajaran Islam menarik baginya secara intelektual.

“Agama ini jauh berbeda dibandingkan agama-agama yang pernah saya pelajari dan selidiki. Dalam Islam, ternyata tidak mengenal yang namanya pemisahan antara pikiran, tubuh, dan jiwa seperti halnya yang pernah saya pelajari dalam agama Kristen,” papar dosen sosiologi Universitas Monash, Australia, ini.

Berawal dari situ, Susan bertekad bulat untuk memeluk Islam. Satu kebohongan besar yang terpaksa ia lakukan adalah merahasiakan perihal keislamannya dari keluarga dan teman-temannya, terutama sang ibu.

Namun, takdir berkata lain. Rahasia yang telah ditutupinya rapat-rapat terbongkar juga ketika ibunya mengadakan perjamuan makan malam dengan menu hidangan utama daging babi. “Saat itu, saya mengalami dilema, antara mesti mengumumkan soal keislaman saya atau memakan makanan haram itu,” ujarnya mengenang peristiwa itu.

Dalam kebimbangan tersebut, ia pun berterus terang. Namun, tanpa ia sangka, reaksi yang ditunjukkan oleh ibunya sungguh membuatnya terkejut. Bukan kemarahan dan cacian, melainkan tangisan dan pelukan erat dari sang ibunda yang diterimanya.

Selang beberapa hari setelah insiden makan malam tersebut, istri dari Waleed Ali ini kemudian memutuskan mengenakan jilbab. Menurutnya, menutup kepala merupakan kewajiban bagi seorang Muslimah. Karena, hakikatnya, Islam mengatur segala aspek dalam kehidupan manusia. Bagi dia, banyak manfaat yang dirasakan dengan menutup aurat itu. “Selain sebagai sebuah peringatan agar kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya, juga menjadikan wanita Muslim sebagai duta Islam,” ujarnya.

Selepas memeluk Islam, perjalanan hidup yang dilalui Susan tidaklah semudah yang dialami segelintir mualaf yang bernasib baik. Susan sering berhadapan dengan kemarahan khalayak ramai dan dijauhi oleh teman-temannya. Bahkan, ia juga kerap mendapatkan penghinaan di depan umum terkait dengan jilbab yang menutupi kepala dan rambutnya.

Namun, kini semuanya berubah. Setelah lima tahun berislam, barulah Susan mempunyai teman-teman yang bukan saja berasal dari kalangan Muslim, tetapi juga dari non-Muslim. Dengan busana Muslim yang membalut tubuhnya, ia kini bebas mengajak anaknya untuk berjalan-jalan di taman kota ataupun bermain di dekat danau, di mana dulu semasa kecil ia sering diajak oleh ibunya untuk memberi makan bebek. Begitupun ketika ia pergi mengajar ke kampus dengan mengendarai VW Bettle warna merah muda yang biasa disapanya dengan panggilan ‘Gus’, tidak ada lagi tatapan sinis dari orang-orang di sekelilingnya.

Jakarta, Juni 2010.

Vien AM.

Dikutip dari:http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/06/17/120473-susan-carland-aktivis-gereja-yang-menemukan-kelembutan-islam

Read Full Post »

Nama lahirnya adalah William Cleland, seorang Anglo-Celtik, yaitu keturunan Inggris-Scotlandia yang dikenal sebagai pendatang Eropa yang awal kali datang dan menetap di Australia. Saat ini ia adalah seorang manager sebuah lembaga pendidikan umum di Melbourne, Australia.  

William lahir dari keluarga Kristen Unitarian, yaitu aliran Kristen yang menganut kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa. Ini adalah aliran Kristen yang amat sangat jarang dijumpai karena semenjak lahirnya hampir 2000 tahun lalu pengikut aliran ini telah dimusuhi dan dibasmi habis-habisan. Ketika itu nenek moyang mereka dibakar hidup-hidup. Keluarga William adalah salah satu keluarga yang beruntung karena lolos dari pembantaian.  

Ketika William duduk di perguruan tinggi, ia mulai menyadari bahwa ada ajaran-ajaran gereja yang membingungkan, diantaranya ajaran trinitas. Setelah dipelajari lebih jauh ia yakin bahwa Keesaan Tuhan, ajaran penting dalam Perjanjian Lama, telah menjadi kabur ketika Kristen meresap ke dalam mainstream kepercayaan Eropa. 

“ Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara”.(QS.An-Nisa’(4):171). 

William pertama kali mengenal ajaran Islam ketika ia berada di Mesir. Ia sering berdiskusi mengenai Al-Quran dengan tetangganya yang Muslim. Berbagai literatur yang berhubungan dengan Islam ia pelajari. Setelah yakin bahwa Al-Quran adalah benar-benar wahyu Tuhan Yang Tunggal, akhirnya pada tahun 1977 iapun bersyahadat. Allahuakbar … 

Berdasarkan pengakuannya, sebagaimana umumnya mualaf, faktor utama yang membuat ia  tertarik pada Islam adalah ajaran dasarnya, yaitu Laa ilaha illallah, tidak ada Tuhan selain Allah. Masih menurutnya, dari sinilah mengalir prinsip-pronsip ekonomi dan politik. «  Karena saya dibesarkan dalam masyarakat Barat yang mementingkan hak-hak dan kebebasan individu, saya selalu menganggap hal-hal itu sebagai unsur penting dari suatu masyarakat beradab. Dalam prinsip dasar Islam itu saya menemukan filsafat politik paling liberal di dunia ». 

«  Bila anda sungguh-sungguh menerima prinsip dasar  Laa ilaha illallah sebagai basis hidup anda, itu berarti anda bebas dari perbudakan oleh tuhan-tuhan lain. Anda terbebaskan dari posisi untuk menekan dan ditekan orang lain. Negara-negara Barat didasarkan pada ide kebebasan tetapi sifatnya materialistik dan egoistik », begitu tambahnya. 

Selama satu tahun pertama keislamannya, William yang kemudian memilih Bilal sebagai nama Islamnya, mencoba bertahan untuk tidak bergaul dan bergabung dengan komunitas Islam. Ini dilakukannya karena ia merasa kecewa bahwa dalam kenyataannya terdapat perbedaan yang jauh antara Islam sebagai ajaran dan Islam yang dipraktekkan orang-orang Islam yang dikenalnya. Ia baru bergabung dengan komunitas Muslim setelah salah seorang mahasiswanya mengajaknya shalat Jumat di masjid. 

Sejak itu ia justru dapat merasakan dan melihat kelebihan Islam dari sudut yang lain. Islam tidak mengenal kata Diskriminasi. Sebagai Muslim bule, ia merasa telah memperkaya keragaman bangsa, budaya, etnik dan bahasa dalam Islam. Ia mengakui bahwa Islam telah membagun bangsa Australia yang multi etnik. 

Toleransi rasial merupakan suatu sumbangan besar yang diberikan Islam kepada Australia. Sejak awal lahirnya di Mekkah, Islam tidak pernah rasis. Bahkan dalam khutbah terakhirnya di kota itu, nabi Muhammad saw menekankan kepada kaum beriman perlunya memelihara kesadaran bahwa tidak ada suatu kelompok etnikpun yang lebih baik daripada kelompok lainnya. Ini jelas tercermin pada saat haji, jutaan orang berkulit hitam, putih dan coklat berbaur menjadi satu mengelilingi Ka’bah”, jelasnya. Subhanallah … 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal “. (QS. Al-Hujurat (49):13). 

Dalam menjalani kehidupan barunya sebagai muslim, Bilal terlihat tidak mau setengah-setengah. Setiap kali ia berbelanja ke supermarket, ia selalu memperhatikan daftar kandungan belanjaannya, memastikan apakah apa yang bakal dikonsumsinya itu benar-benar bebas dari hal-hal yang diharamkan. Ia bahkan berusaha sebisa mungkin menghindari makan di restoran bersama teman-teman non muslimnya karena khawatir tidak bisa makan.  

Dalam menghadapi kesulitannya untuk melakukan wudhu, melaksanakan shalat sehari-hari di tempat kerjanya ( Zuhur dan Ashar ), shalat Jum’at dan berpuasa, Bilal berpendapat bahwa seorang Muslim tidak seharusnya hanya diam, pasrah tanpa berusaha mencari jalan keluar. Menurutnya pada umumnya orang barat dapat mengerti, menerima dan memberi jalan keluar bila kita berterus-terang mengatakan bahwa kita adalah muslim dan butuh waktu serta tempat untuk menjalankan kewajiban agama kita. 

Saya percaya bahwa Islam menawarkan jalan hidup yang menyeluruh. Islam menawarkan solusi untuk mengatasi masalah besar yang dihadap masyarakat Australia dan seluruh dunia saat ini. Sistim sosial seperti demokrasi  parlementer, sosialisme dengan segala bentuknya berada dalam krisis besar”. 

“ Dalam krisis ideologi ini, sudah tiba waktunya bagi kita untuk mengetengahkan solusi Islam. Kita hanya bisa melakukannya bila kaum Muslim bersatu dan terdidik. Jika kita bersatu, kita bisa mengembangkan Islam lewat dakwah. Saya kira masa depan Islam sangat cemerlang. Kekosongan ideologi di barat yang saat ini diisi dengan hedonisme, selfisness dan individualisme yang extrim pasti tak akan bertahan lama. Mereka sedang mencari penjelasan tentang  hidup ini. Ini saat kritis bagi Islam dan dunia. Jika gagal dalam ujian ini, dunia akan sangat menderita”, tandasnya yakin.      

(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa “. (QS. Ali Imran(3):138). 

Wallahu’alam bishawwab.

Pau – France, 7 Maret 2010.

Vien AM. 

Disarikan dari : «  Santri – santri Bule «  oleh Prof DR Deddy Mulyana MA.  

Read Full Post »

Aku adalah anak perempuan ke tiga dari empat bersaudara. Aku dilahirkan di Melbourne pada tahun1971. Ayahku seorang Kristen Ortodoks yang lahir di Polandia. Keluarganya campuran Rusia & Jerman. Sementara ibuku lahir di Australia. Nenekku dari ibu berdarah Rusia dan Yahudi. Ibu dibesarkan dalam lingkungan Anglikan tetapi tidak begitu rajin menjalankan agamanya.

Ketika aku kecil, seperti juga teman-teman kecilku, setiap minggu aku pergi ke gereja dan ikut sekolah minggu. Sejak kecil hingga dewasa aku selalu sekolah di sekolah  Kristen. Namun ketika aku menjelang dewasa dan suka membaca Bibel, aku mulai suka bertanya-tanya dan ragu tentang banyak hal. Diantaranya adalah konsep trinitas, pengampunan dosa oleh pendeta dll. Meski aku sering bertanya namun jawabannya tak pernah memuaskanku. Aku amat percaya pada Tuhan karena banyak kenalanku mengatakan bila aku percaya pada Tuhan aku akan menjadi orang yang baik. Namun aku tidak pernah paham bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Karenanya bila berdoa aku selalu meminta kepada Tuhan bapak bukan Tuhan anak.

Namun demikian aku tetap tidak puas. Akhirnya akupun melirik agama lain. Sayang ketika itu beberapa kenalan Islamku  tidak menjalankan ajarannya dengan baik. Akibatnya aku baru mengenal ajaran ini setelah  lama terombang-ambing mempelajari agama-agama lain.

Mulanya adalah ibuku yang telah bercerai dari ayah. Ketertarikannya dalam study perbandingan agama telah membuatnya lebih dulu memeluk Islam daripada aku. Namun demikian ia tidak pernah membicarakan ajaran barunya itu kepadaku. Tapi aku pikir kalaupun ia mengajarkannya mungkin aku justru tidak tertarik.

Suatu hari aku menemukan Al-Quran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Muhammad Marmaduke Pickthall. Aku segera membelinya dengan maksud akan kuberikan kepada ibu. Aku sempat membuka-buka sedikit. Akan tetapi baru  beberapa bulan kemudian aku mulai serius mempelajarinya. Namun demikian aku jadi suka membela ajaran Islam ketika ada orang  yang mengkritik ajaran ini. Aku begitu bergairah mempertahankan Islam seolah aku adalah seorang Muslim.

Akhirnya di pagi hari raya Idul Fitri di tahun 1992, setelah shalat Ied, aku mengikrarkan syahadat di Islamic Council of Victoria, Melbourne. Sulit aku mengatakan bagaimana perasaanku waktu itu. Yang jelas aku merasa terlahir kembali dan dalam keadaan bersih tanpa dosa sedikitpun pula. Ibuku tentu saja sangat bahagia mengetahui kabar tersebut.

Karena aku mempelajari Islam terlebih dahulu sebelum bersyahadat maka akupun langsung memahami apa yang menjadi kewajibanku. Aku segera meninggalkan pekerjaanku sebagai pelayan yang menghidangkan minuman keras dan mencari pekerjaan yang halal Aku juga segera menutup auratku dengan berjilbab.

Sayang ayah menentang keislamanku. Padahal ketika ibu dulu masuk Islam ia tidak memprotes. Ia  hanya menganggapnya gila dan hilang akal saja! Mungkin karena mereka sudah bercerai jadi ayah tidak peduli. Belakangan aku menyadari bahwa ayah menentangku bukan semata-mata karena ia membenci Islam. Karena ternyata selama ini ia berpikir  bahwa  perempuan Islam diperlakukan buruk dan tidak mempunyai hak apa-apa.

Di luar itu, aku bersyukur bahwa aku tidak mengalami hambatan yang berarti. Walaupun dengan berjilbab ternyata aku tetap dapat bekerja bahkan sebagai baby sitter di keluarga non muslim. ” Kamu orang yang sama dengan yang telah kami kenal selama ini . Anak-anak masih menyukaimu. Demikian juga kami”, begitu komentarnya. Alhamdulillah….Sebelumnya aku memang telah mengenal keluarga ini.

Aku juga aktif di berbagai kegiatan keislaman. Aku pernah bekerja sebagai tenaga sukarela di sebuah sekolah Islam, membantu ibu-ibu mengajar disana. Aku ikut pengajian di beberapa kelompok pengajian yang berbeda dan shalat di masjid-masjid yang berbeda. Aku memang tidak ingin terikat pada satu kelompok pengajian saja.

Sebaliknya aku juga tidak mau hanya membangun kontak dengan sesama Muslim. Aku justru berpikir sebagai Muslimah aku harus berdakwah kepada teman-teman non muslimku. Teman-teman dekatku aku rasa tidak kaget dengan penampilan baruku. Karena mereka memang mengetahui prosesku berislam. Terkadang aku bahkan berdiskusi dengan mereka. Namun teman-temanku yang tidak begitu akrab tampaknya agak terkejut juga  mengetahui kepindahanku. Tapi apa peduliku ?

Sementara itu ayah dan keluarga besarnya tetap memandangku dengan perasaan aneh dan  asing. Kadang-kadang mereka bahkan mengambil gambarku seolah aku ini mahluk ajaib. Tapi aku tidak tersinggung. Aku malah sengaja berpose secantik mungkin. ” Biarkan mereka tahu penampilan perempuan Islam” , pikirku senang.

Kini aku begitu optimis akan masa depanku. Aku berharap semoga aku dapat menjadi muslimah  sekaligus ibu yang baik. Saat ini aku ingin menuntaskan studiku di Monash University untuk belajar ilmu lingkungan yang menurut pengamatanku belum banyak ditangani Muslim. Padahal bukankah kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian dari Islam yang sangat  penting ?

Pendek kata, aku ingin berdakwah dengan caraku sendiri. Aku juga terobsesi suatu hari kelak akan memiliki ladang, tinggal disana dan dapat mengendarai kuda kesayanganku sepanjang hari seperti juga Rasulullah saw dulu. Aku memang sangat menyukai kuda. Di tempat inilah secara berkala  aku akan menyelenggarakan acara perkemahan khusus untuk anak-anak Muslim.

Pau-France, 24 Agustus 2009.

Vien AM.

Disarikan dari buku ” Santri-santri Bule”  karangan Prof DR Deddy Mulyana MA.

Read Full Post »

Steve A Johnson kecil memiliki hobbi duduk-duduk dibawah pohon besar di belakang ladang orang tuanya di Amerika Serikat sambil menatap mega. Tanpa disadarinya pemandangan indah yang selalu membuat dirinya takjub ini meninggalkan bekas yang mendalam di dalam hatinya. Ia tahu bahwa Tuhanlah  yang menciptakannya karena orang tuanya memang mengajarkannya demikian. Ketakjuban ini membuat dirinya berjanji kepada diri sendiri bahwa ia akan selalu memuja-Nya. Tampaknya janji inilah yang selanjutnya membuat dirinya senantiasa dalam pengembaraan rohani selama 20 tahun terakhir.

Steve memang tidak seperti teman-teman kecilnya yang lebih suka bermain dan bersenda gurau dari pada berpikir dan belajar. Bahkan ketika suatu ketika ia mengalami kecelakaan dan harus diopname di sebuah rumah sakit, patung  Yesus Kristus disalib yang terpampang di dinding membuatnya merasa betapa besar pengorbanan-Nya demi membela penderitaan manusia. Padahal ketika itu ia sendiri  sedang luka parah.

Hari-hari selanjutnya, Steve makin terobsesi ingin menjadi pendakwah agar seluruh manusia mau memuja-Nya. Iapun memutuskan menjadi pendeta walaupun ia merasa bahwa untuk tidak menikah adalah hal yang berat. Namun apa arti semua ini dibanding penderitaan-Nya, begitu pikirnya. Rasa kemanusiaan Steve makin lama makin tinggi hingga akhirnya ia memohon kepada pihak geraja agar mengizinkannya mengambil kuliah kedokteran.

Sejak itu Stevepun bergelut dengan berbagai ilmu kedokteran seperti anatomi, biologi, kimia, mikrobiologi dan sebagainya. Akibatnya ia kehilangan waktu untuk mempelajari filsafat maupun teologi. Meskipun begitu setiap hari ia memaksakan dirinya untuk bisa berdoa walaupun hanya sekedarnya. Namun makin hari ia makin merasa tertekan dan mulai merasa bahwa keimanannya berkurang. Sementara ia juga mulai menyadari bahwa ia tidak menyukai ilmu kedokteran. Maka Stevepun mulai terbiasa minum minuman beralkohol dan menenggak obat-obatan. Ia merasa agamanya tidak sanggup membantunya menenangkan hatinya.

Akhirnya Steve menyerah. Ia berkata jujur kepada gereja bahwa ilmu kedokteran tidak cocok baginya. Yang ia inginkan ialah belajar filsafat dan teologi. Dua tahun berikutnya kemudian dihabiskannya untuk berdakwah mengajarkan doktrin Kristen bahwa semua manusia adalah Tuhan dan bahwa semua manusia menanggung dosa begitu mereka dilahirkan. Ia terus berjuang agar dirinya menjadi seorang yang pasrah sementara minuman dan obat-obatan tetap menemaninya dengan setia.

Tahun berikutnya gereja mengirimnya ke Roma untuk belajar teologi sesuai keinginannya. Ia beberapa kali berpindah universitas karena merasa tidak cocok.  Roma. Lovain hingga Toronto dijajalnya. Namun ia tidak kunjung terpuaskan padahal berbagai penghargaan dan beasiswa diterimanya. Ironisnya, hatinya justru semakin terasa hampa. Konflik batin menyerangnya.  Ia  sungguh merasa sulit mengimani  apa yang seharusnya diyakininya. Padahal ia adalah seorang pendeta yang telah sangat mendalami ilmunya. Namun demikian ia berusaha keras untuk terus tekun berdoa agar keimanannya tidak goyah.

Suatu hari secara tidak sengaja Steve berkenalan dengan seorang anak muda asal Abu Dhabi bernama Ismail Hassan Said. Ia seorang Muslim. Karena sering berjumpa, akhirnya mereka bersahabat bahkan tinggal  sepemondokan. Steve memperhatikan bahwa setiap datang waktu shalat Ismail selalu segera shalat. Ismail tidak pernah membicarakan agamanya kecuali bila Steve menanyakannya. Hal ini rupanya malah membuat  Steve penasaran.

Iapun segera mencari tahu tentang ajaran Islam dengan mengikuti kajian-kajian yang diadakan masjid di kota dimana ia tinggal. Namun puncaknya adalah ketika Ismail memberinya buku terjemahan hadis Qudsi. Dalam pengakuannya ia bercerita bahwa ia seolah-olah dibenturkan oleh bongkahan besar es hingga membuat sekujur tubuhnya menggigil sampai ke kedalaman sukmanya akibat keindahan dan kekuatan sesuatu yang dicari dan dirindukannya selama hayatnya.

Sejak detik itu aku tidak kuasa makan dan tidur. Kata-kata dalam hadis itu terus berdengung dan berdentam dalam  rongga kepalaku”, akunya.

Tanpa dapat dibendung lebih lama lagi, Steve akhirnya segera menuju masjid  dan mengikrarkan keislamannya. ” Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”. Perlahan kepalanya berhenti berdengung, kebekuan jiwanya meleleh dan sukmanya terasa damai. Steve merasakan kebahagiaan yang sulit diuraikan dengan kata-kata, kebahagiaan yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun yang dunia dapat berikan. Selanjutnya Steve benar-benar merasakan keindahan shalat dan persaudaraan Islam hingga suatu ketika ia kembali merasakan benturan hebat.

Steve difitnah bahwa ia adalah seorang mata-mata gereja yang menyusup kedalam masjid. Akibatnya iapun dijauhi dan dimusuhi saudara-saudara seimannya yang baru. Sebaliknya beberapa teman dan saudara barunya tersebut malah memanfaatkan namanya untuk mencari sensasi murahan demi sejumlah uang. Kesedihannya makin diperparah lagi dengan adanya vonis dokter bahwa ia menderita kanker ganas yang belum ada obatnya. Dokter menganjurkannya untuk banyak beristirahat dan tidak berpikir yang terlalu berat. Steve benar-benar terpukul atas kejadian beruntun  yang menimpanya  tersebut. ” Sanggupkah aku menjalani sisa hidup ini dengan menjadi seorang Muslim ?”, tanyanya sedih.

Dalam keadaan seperti itulah tiba-tiba ingatan Steve kembali kepada kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika itu ia sedang berada di sebuah biara yang terletak di pegunungan Pensylvania. Teman-temannya sesama pendeta telah lelap tertidur. Dengan mengenakkan jubah hitamnya, Steve memasuki gereja dan dengan khusuk ia berkata lirih : ” Tuhan, aku tak tahu kemana harus berpaling. Aku mengasihi-Mu. Aku ingin mengabdikan hidupku untuk-Mu tetapi bagaimana? Bagaimana? Anugerahilah aku kedamaian-Mu, tunjukkanlah aku ke jalan-Mu”.

Steve tersentak. Rupanya inilah jawaban permintaannya 7 tahun lalu. ” Terima-kasih, Ya Allah ya Tuhanku. Telah Kau tunjukkan jalan itu. Terima kasih atas kesabaran dan kasih-sayang-Mu dalam membimbingku menuju kebenaran yang hakiki ini”, bisiknya terisak. Dipeluknya Qurannya  erat-erat. Islam adalah anugerah dari-Nya yang takkan pernah dilepasnya untuk selamanya. Ingatannya melayang kepada masa kanak-kanaknya dimana ia dulu sering menatap mega dengan penuh kekaguman. Rupanya fitrah itu telah ada  jauh dalam hati sanubarinya sejak puluhan tahun yang lalu namun fitrah tersebut harus dicarinya dengan penuh perjuangan.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Tiada anak manusia yang dilahirkan kecuali dengan kecenderungan alamiahnya (fitrah). Maka orang-tuanyalah yang membuat anak manusia itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Jakarta, 27/5/2009.

Vien AM.

Sumber : ” Santri-santri Bule ” oleh Prof. DR.Deddy Mulyana, MA.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »