Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Majusi’

Steve A Johnson kecil memiliki hobbi duduk-duduk dibawah pohon besar di belakang ladang orang tuanya di Amerika Serikat sambil menatap mega. Tanpa disadarinya pemandangan indah yang selalu membuat dirinya takjub ini meninggalkan bekas yang mendalam di dalam hatinya. Ia tahu bahwa Tuhanlah  yang menciptakannya karena orang tuanya memang mengajarkannya demikian. Ketakjuban ini membuat dirinya berjanji kepada diri sendiri bahwa ia akan selalu memuja-Nya. Tampaknya janji inilah yang selanjutnya membuat dirinya senantiasa dalam pengembaraan rohani selama 20 tahun terakhir.

Steve memang tidak seperti teman-teman kecilnya yang lebih suka bermain dan bersenda gurau dari pada berpikir dan belajar. Bahkan ketika suatu ketika ia mengalami kecelakaan dan harus diopname di sebuah rumah sakit, patung  Yesus Kristus disalib yang terpampang di dinding membuatnya merasa betapa besar pengorbanan-Nya demi membela penderitaan manusia. Padahal ketika itu ia sendiri  sedang luka parah.

Hari-hari selanjutnya, Steve makin terobsesi ingin menjadi pendakwah agar seluruh manusia mau memuja-Nya. Iapun memutuskan menjadi pendeta walaupun ia merasa bahwa untuk tidak menikah adalah hal yang berat. Namun apa arti semua ini dibanding penderitaan-Nya, begitu pikirnya. Rasa kemanusiaan Steve makin lama makin tinggi hingga akhirnya ia memohon kepada pihak geraja agar mengizinkannya mengambil kuliah kedokteran.

Sejak itu Stevepun bergelut dengan berbagai ilmu kedokteran seperti anatomi, biologi, kimia, mikrobiologi dan sebagainya. Akibatnya ia kehilangan waktu untuk mempelajari filsafat maupun teologi. Meskipun begitu setiap hari ia memaksakan dirinya untuk bisa berdoa walaupun hanya sekedarnya. Namun makin hari ia makin merasa tertekan dan mulai merasa bahwa keimanannya berkurang. Sementara ia juga mulai menyadari bahwa ia tidak menyukai ilmu kedokteran. Maka Stevepun mulai terbiasa minum minuman beralkohol dan menenggak obat-obatan. Ia merasa agamanya tidak sanggup membantunya menenangkan hatinya.

Akhirnya Steve menyerah. Ia berkata jujur kepada gereja bahwa ilmu kedokteran tidak cocok baginya. Yang ia inginkan ialah belajar filsafat dan teologi. Dua tahun berikutnya kemudian dihabiskannya untuk berdakwah mengajarkan doktrin Kristen bahwa semua manusia adalah Tuhan dan bahwa semua manusia menanggung dosa begitu mereka dilahirkan. Ia terus berjuang agar dirinya menjadi seorang yang pasrah sementara minuman dan obat-obatan tetap menemaninya dengan setia.

Tahun berikutnya gereja mengirimnya ke Roma untuk belajar teologi sesuai keinginannya. Ia beberapa kali berpindah universitas karena merasa tidak cocok.  Roma. Lovain hingga Toronto dijajalnya. Namun ia tidak kunjung terpuaskan padahal berbagai penghargaan dan beasiswa diterimanya. Ironisnya, hatinya justru semakin terasa hampa. Konflik batin menyerangnya.  Ia  sungguh merasa sulit mengimani  apa yang seharusnya diyakininya. Padahal ia adalah seorang pendeta yang telah sangat mendalami ilmunya. Namun demikian ia berusaha keras untuk terus tekun berdoa agar keimanannya tidak goyah.

Suatu hari secara tidak sengaja Steve berkenalan dengan seorang anak muda asal Abu Dhabi bernama Ismail Hassan Said. Ia seorang Muslim. Karena sering berjumpa, akhirnya mereka bersahabat bahkan tinggal  sepemondokan. Steve memperhatikan bahwa setiap datang waktu shalat Ismail selalu segera shalat. Ismail tidak pernah membicarakan agamanya kecuali bila Steve menanyakannya. Hal ini rupanya malah membuat  Steve penasaran.

Iapun segera mencari tahu tentang ajaran Islam dengan mengikuti kajian-kajian yang diadakan masjid di kota dimana ia tinggal. Namun puncaknya adalah ketika Ismail memberinya buku terjemahan hadis Qudsi. Dalam pengakuannya ia bercerita bahwa ia seolah-olah dibenturkan oleh bongkahan besar es hingga membuat sekujur tubuhnya menggigil sampai ke kedalaman sukmanya akibat keindahan dan kekuatan sesuatu yang dicari dan dirindukannya selama hayatnya.

Sejak detik itu aku tidak kuasa makan dan tidur. Kata-kata dalam hadis itu terus berdengung dan berdentam dalam  rongga kepalaku”, akunya.

Tanpa dapat dibendung lebih lama lagi, Steve akhirnya segera menuju masjid  dan mengikrarkan keislamannya. ” Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”. Perlahan kepalanya berhenti berdengung, kebekuan jiwanya meleleh dan sukmanya terasa damai. Steve merasakan kebahagiaan yang sulit diuraikan dengan kata-kata, kebahagiaan yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun yang dunia dapat berikan. Selanjutnya Steve benar-benar merasakan keindahan shalat dan persaudaraan Islam hingga suatu ketika ia kembali merasakan benturan hebat.

Steve difitnah bahwa ia adalah seorang mata-mata gereja yang menyusup kedalam masjid. Akibatnya iapun dijauhi dan dimusuhi saudara-saudara seimannya yang baru. Sebaliknya beberapa teman dan saudara barunya tersebut malah memanfaatkan namanya untuk mencari sensasi murahan demi sejumlah uang. Kesedihannya makin diperparah lagi dengan adanya vonis dokter bahwa ia menderita kanker ganas yang belum ada obatnya. Dokter menganjurkannya untuk banyak beristirahat dan tidak berpikir yang terlalu berat. Steve benar-benar terpukul atas kejadian beruntun  yang menimpanya  tersebut. ” Sanggupkah aku menjalani sisa hidup ini dengan menjadi seorang Muslim ?”, tanyanya sedih.

Dalam keadaan seperti itulah tiba-tiba ingatan Steve kembali kepada kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika itu ia sedang berada di sebuah biara yang terletak di pegunungan Pensylvania. Teman-temannya sesama pendeta telah lelap tertidur. Dengan mengenakkan jubah hitamnya, Steve memasuki gereja dan dengan khusuk ia berkata lirih : ” Tuhan, aku tak tahu kemana harus berpaling. Aku mengasihi-Mu. Aku ingin mengabdikan hidupku untuk-Mu tetapi bagaimana? Bagaimana? Anugerahilah aku kedamaian-Mu, tunjukkanlah aku ke jalan-Mu”.

Steve tersentak. Rupanya inilah jawaban permintaannya 7 tahun lalu. ” Terima-kasih, Ya Allah ya Tuhanku. Telah Kau tunjukkan jalan itu. Terima kasih atas kesabaran dan kasih-sayang-Mu dalam membimbingku menuju kebenaran yang hakiki ini”, bisiknya terisak. Dipeluknya Qurannya  erat-erat. Islam adalah anugerah dari-Nya yang takkan pernah dilepasnya untuk selamanya. Ingatannya melayang kepada masa kanak-kanaknya dimana ia dulu sering menatap mega dengan penuh kekaguman. Rupanya fitrah itu telah ada  jauh dalam hati sanubarinya sejak puluhan tahun yang lalu namun fitrah tersebut harus dicarinya dengan penuh perjuangan.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Tiada anak manusia yang dilahirkan kecuali dengan kecenderungan alamiahnya (fitrah). Maka orang-tuanyalah yang membuat anak manusia itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Jakarta, 27/5/2009.

Vien AM.

Sumber : ” Santri-santri Bule ” oleh Prof. DR.Deddy Mulyana, MA.

Read Full Post »

Manusia pada umumnya amat mencintai kehidupan dunianya. Untuk mencapai itu semua ia rela bersusah-payah bekerja siang dan malam tanpa mengenal lelah. Ia merasa hidupnya menderita bila kebutuhan hidupnya tidak semua terpenuhi. Ia merasa kurang sempurna bila tidak memiliki keturunan. Ia merasa terhina bila dirinya tidak mendapat penghargaan dari orang lain. Namun demikian pada kenyataannya, tidak semua orang yang kebutuhan materi dan dunianya terpenuhi merasa bahagia dan tenang hidupnya. Jika demikian dimanakah sebenarnya letak permasalahannya?

Sebagai orang beriman, kita tentunya tahu dan yakin bahwa kita ini hidup karena Allah SWT. Dialah yang menciptakan kita. Dengan demikian tentu Dia pulalah yang mengetahui segala kebutuhan kita. Dialah yang berkuasa atas segala yang ada pada diri kita termasuk diantaranya kemudahan rezeki, kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Oleh sebab itu disamping bekerja keras seharusnya kita selalu bermohon kepada-Nya agar usaha kita tersebut memberikan hasil yang terbaik. Kita mohon ridho-Nya. Allah dengan jelas telah memberikan petunjuk bagaimana cara kita mendekatkan diri kepada-Nya.

“ Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Ankabut(29):45).

Allah mewajibkan setiap umatnya agar menikah dan berkeluarga. Demikian pula hadist rasulullah. Karena dengan berkeluarga hidup akan lebih tenang dan tentram.Masing-masing anggota keluarga mempunyai kewajiban dan hak. Seorang laki-laki yang telah menikah adalah pemimpin bagi keluarganya. Ia wajib bekerja dan menafkahi istri dan anak-anaknya. Ia juga harus bertanggung-jawab atas prilaku dan moral istri dan anak-anaknya itu.

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”. (QS.Taahaa(20):132)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS.At-Tahriim(66):6).

Sedangkan seorang perempuan sebagai istri, ia wajib menjaga diri dan mematuhi suaminya.

“ Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS.An-Nuur(24):31)

Ayah dan ibu adalah dua orang yang harus paling bertanggung-jawab terhadap anak-anaknya. Allah telah memilih mereka berdua agar menyayangi, menjaga serta mendidik putra-putrinya. Adalah tugas keduanya untuk mengingatkan bahwa kehidupan di dunia adalah cobaan. Bahwa tempat kembali kelak adalah akhirat.  Alkisah terjadi percakapan di alam ruh sebagai berikut :

Bayi : “ Ya Allah kenapa aku harus meninggalkan surga yang begitu indah ini ?”

Allah swt :  “ Karena aku ingin mengujimu

Bayi : “ Tapi siapa yang kelak akan menjaga dan menyayangiku seperti Kau menjaga dan menyayangiku ? ”

Allah swt: “ Aku akan mengirimkanmu malaikat yang akan menjaga dan menyayangimu”.

Bayi : “ Namun bagaimana bila aku rindu pada-Mu?” , rengek si bayi dengan nada penuh keberatan.

Allah swt : “ Malaikatmu itulah yang akan mengajarimu bagaimana kau dapat menghubungiku”.

Bebe: “ Kalo begitu katakanlah padaku, siapa malaikat  yang akan menjagaku,menyayangiku dan mengajariku ketika aku rindu pada-Mu , Ya Allah ?”

Allah swt : “ Malaikat itu adalah AYAH dan IBU-mu”.

Jadi sungguh berat tugas kedua orang tua itu. Di tangan merekalah nasib dan masa depan mereka berada.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam keadaan suci dan islam, yang menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi adalah orang tuanya“. (HR.Al-Bukhori).

Namun dalam kenyataannya, berapa banyak orang-tua yang lebih marah dan kecewa ketika mendapati anaknya tinggal kelas, malas belajar atau bahkan ‘hanya’ lupa menggosok gigi dibanding anaknya yang lupa mengerjakan  shalat, menghafal ayat-ayat Al-Quran atau bahkan menutup auratnya dengan baik.

Karenanya wajib bagi seorang anak agar menyayangi keduanya, terutama ibu yang telah dengan susah-payah mengandung, melahirkan dan menyusui anak-anaknya. Itu sebabnya Allah SWT memerintah seorang anak agar menghargai dan menghormati ibu tiga kali lebih besar dari ayahnya.

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kupergauli dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, jawab beliau. ” Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?” tanyanya lagi.“Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim ).

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.(QS.Luqman(31):14).

Al-Quran menyebutkan manusia yang tidak mau menjalankan perintah Allah bagaikan seekor binatang bahkan lebih buruk lagi. Bagi mereka tidak ada jalan lain kecuali neraka jahanam.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.(QS.Al-Araf(7):179).

Kemudian kelak ketika ajal menjelang, ketika diperlihatkan neraka sebagai tempat mereka kembali ,mereka amat menyesal dan ingin diberi kesempatan sekali lagi agar dapat memperbaiki cara hidup mereka. Namun semuanya telah terlambat.

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”.(QS.Al-Mu’minuun(23):99-100).

Seperti kita ketahui, umur manusia rata-rata pada zaman sekarang tidak lebih dari 100 tahun bahkan 80 tahunpun jarang. Setelah itu kita akan dikembalikan kepada Sang Pemilik yang telah menciptakan kita dan kita harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah kita perbuat di dunia. Kemudian setelah itu kita akan memasuki babak baru yaitu babak kehidupan setelah mati, kehidupan akhirat yang kekal, yaitu surga atau neraka. Maka alangkah meruginya manusia yang hanya sibuk memikirkan kehidupan dunianya tanpa mempersiapkan kehidupan selanjutnya.

“Abu Hurairah ra mengatakan, Rasulullah saw bersabda, “Seorang hamba berkata, hartaku, hartaku, hartaku. Padahal hartanya yang sesungguhnya hanya tiga macam: apa yang dimakan lalu habis, apa yang yang dipakai lalu lusuh (rusak), dan apa yang disedekahkannya lalu tersimpan (untuk akhirat). Selain yang ketiga macam itu lenyap atau ditinggalkannya (warisan) bagi orang lain.” (HR. Muslim)

 

Wallahu’alam.

Jakarta, 6/12/2006.

Vien AM.

Read Full Post »