Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Banyak peninggalan bersejarah yang pantas dikunjungi di Yordania. Negara yang berbatasan dengan Suriah di sebelah utara, Arab Saudi di timur dan selatan, Irak di timur laut, serta Israel dan Tepi Barat di barat ini menyimpan sejarah para nabi. Karena letaknya yang menempel dengan Israel, Yordania yang beribu kota di Amman ini sejak lama telah menjadi negara tujuan terbesar bagi pengungsi Palestina. Rakyat Yordania adalah saksi dari dampak kekejaman Yahudi terhadap rakyat Palestina. Mereka telah lama hidup berdampingan dan mendengar serta menyaksikan sendiri penderitaan saudara-saudara mereka di pengungsian.

Melalui negara inilah sebagian besar orang yang ingin megunjungi Masjid Al-Aqsho’ dan Masjid As-Sakroh atau Dome Of The Rock di Yerusalem harus masuk. Setelah kunjungan ke Yerusalem yang hanya diperbolehkan (oleh pemerintah israel!)tidak lebih dari 1 malam usai, rombonganpun segera meninggalkan Palestina dan menuju Yordania untuk melanjutkan perjalanan mengunjungi makam para nabi dan situs-situs penting yang tertulis di Al-Quran.

Tujuan pertama adalah makam nabi Musa as. Seperti yang telah dikisahkan dalam Al-Quranul Karim, Musa as beserta kaumnya terpaksa hidup terkatung-katung di padang Tiih dalam penantian selama 40 tahun karena kaumnya tidak berani memasuki tanah Palestina. Padahal nabi Allah ini telah membebaskan mereka dari kekejaman Fir-aun sekaligus memimpin mereka keluar dari negri Mesir.

” Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.”. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”. Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu.“(QS.Al-Maidah (5):24-26).

Masjid dimana makam Musa as berada

Makam nabi Musa as. Dalam keadaan berbaring saja setinggi orang dewasa, gimana kalau berdiri ya?

Dalam keadaan seperti inilah Musa as wafat dan kemudian kaumnya memakamkan beliau di sekitar tempat tersebut. Makam ini terletak 11 km selatan Jericho dan 20 km timur Yerusalem. Bus kecil yang kami tumpangi menyusuri jalan utama antara ke dua kota tersebut. Bus melaju di jalanan aspal yang mulus melalui perbukitan. Walaupun sepanjang jalan terlihat gersang namun sebenarnya sekali-sekali terlihat adanya pepohonan hijau diatas bebatuan diantara bukit pasir campur tanah tersebut. Udaranyapun sejuk tidak terlalu panas. Sebuah pemandangan yang sungguh unik dan mengesankan. Sekitar 2 km setelah melewati tanda yang menunjukkan ketinggian laut, buspun berbelok menuju makam nabi Musa. Makam ini ternyata terletak di salah satu ruang masjid yang berdiri di atas bukit.

Menurut Karim, guide berkebangsaan Palestina yang mendampingi kami, masjid yang memiliki 5 menara ini dibangun pada tahun 1269 M dibawah pemerintahan Abdul Al-Dhaher, seorang sultan Mameluk. Makam ini tidak tampak diperlakukan secara istimewa. Yang terlihat hanya peti yang dibungkus kain beludru hijau tua. Perbedaan mencolok yang terlihat hanyalah ukurannya saja yang lebih tinggi dan besar dari rata-rata peti mati pada umumnya. Masjid terlihat sepi. Hanya kami satu-satunya rombongan yang berkunjung pada hari itu. Setelah melaksanakan shalat tahiyatul masjid 2 rakaat, kami berkeliling melihat situasi masjid. Tiba-tiba muncul sepasang bule. ” Where is the tomb of Moses ?” tanya mereka. Dalam hati saya bertanya, bagaimana kira-kira perasaan mereka ya .. mengetahui bahwa makam nabi mereka itu ternyata berada di dalam sebuah masjid ! 

Setelah puas melihat-lihat keadaan sekitar kami kembali ke bus dan meneruskan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah makam nabi Syu’aib yang terletak tidak terlalu jauh dari makam nabi Musa. Namun karena untuk menuju makam nabi tersebut harus melewati Laut Mati ( Dead Sea) maka kami singgah dahulu di pantai yang terkenal karena kadar garamnya yang tinggi tersebut. Kawasan ini merupakan titik terendah di dunia, yaitu 422 meter di bawah permukaan laut. Untuk menghindari telinga agar tidak sakit, kami harus beberapa kali menelan ludah seperti ketika kita berada di pesawat terbang pada ketinggian tertentu. Air garam dan bau khas laut makin lama makin terasa. Dari kejauhan lautpun mulai menampakkan diri.

Laut yang memiliki luas sekitar 1050 km2 ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai danau karena memang seluruhnya dikelilingi tanah, tidak ada jalan keluar menuju laut lepas. Laut ini sebagian dikuasai Yordania , sebagian Tepi Barat dan sebagian lainnya dikuasai Israel. Yang kami kunjungi saat ini adalah yang milik Yordania. Mengapa dinamakan Laut Mati? Karena tak satupun mahluk hidup mampu hidup didalamnya. Ini disebabkan kandungan garamnya yang 22-25% padahal rata-rata air laut hanya mempunyai kandungan garam 4-6%. Kami tiba di tempat wisata ini sekitar pukul 2 siang. Udara sangat cerah dan matahari panas mencorong.

Tempat ini ditata secara apik dan bersih. Hotel-hotel mewah berdiri berjajar di sepanjang pantai. Juga tampak beberapa bangunan mewah tempat perawatan kesehatan dan kecantikan. Garam dan lumpur hitam yang diambil dari laut ini memang dikenal banyak manfaatnya. Keduanya dijadikan bahan kosmetika dan obat-obatan yang dikenal ke manca negara dan merupakan salah satu komoditi penting eksport negri yang dipimpin oleh raja Abdullah II ini. Sambil menikmati keindahan pantai, kami menyantap makanan yang dihidangkan restoran yang sudah menjadi paket perjalanan yang kami sewa ini.

Setelah itu kami segera mencoba mencemplungkan kaki ke laut dan sedikit mencicipi airnya. Wuuihh …bukan asin lagi ..tapi pahit! Makin sore makin banyak wisatawan datang. Dari jauh terlihat sebagian besar tamu lelaki melumuri badan mereka dengan lumpur hitam yang diambil dari pinggir dasar laut. Sebagian lain ‘merebahkan’ diri di atas air dan membiarkan dirinya mengapung dengan santai.

Masjid dimana makam Syuaib as berada

Masjid dimana makam Syuaib as berada

makam nabi Syuaib as

makam nabi Syuaib as

Sekitar pukul setengah 5 kami kembali meneruskan perjalanan. Tak sampai 20 menit kami telah tiba di makam nabi Syu’aib as, mertua nabi Musa as. Sama seperti makam nabi Musa, makam Nabi Syu’aib juga berada didalam sebuah masjid. Masjid ini terletak di ketinggian diantara bukit-bukit pasir yang mengitarinya. Tak tampak keistimewaan baik di makam maupun masjid. Tak tampak pula adanya kehidupan di sekitarnya. Lokasi ini jauh dari keramaian. Meski begitu keduanya terlihat terawat. Kaum Syu’aib adalah kaum yang diazab Allah karena tidak mau menyembah Allah swt serta suka mengurangi takaran dan timbangan dalam rangka mencari keuntungan berdagang.

Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu`aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa”.(QS.Huud(11):94-95).

Selanjutnya kami menuju Gua Kahfi. Ada beberapa pendapat mengenai keberadaan gua yang kisahnya diabadikan di Al-Quran ini. Ada yang mengatakan gua tersebut berada di Suriah, ada pula yang mengatakan di Turki dan ada yang berpendapat di Yordania. Namun kebanyakan berpendapat bahwa gua yang di Yordania adalah yang paling benar. Wallahu’alam. Gua yang di Yordania inilah yang kami kunjungi.

pintu gua Alkahfi

pintu gua Alkahfi

Masjid Alkahfi

Masjid Alkahfi

Gua ini terletak di perkampungan Al-Rajib dan berjarak sekitar 1.5 km dari kota Abu A’landa dekat kota Amman. Di dekat gua tersebut sekarang telah berdiri sebuah masjid besar. Saat ini suasana di sekitar gua tidak mencerminkan bahwa dulunya gua ini jauh dari keramaian. Masjid kelihatan aktif digunakan dan guapun telah ditata apik. Bahkan didalam gua telah ditempatkan sebuah lemari kaca yang berisi peninggalan para penghuni gua. Tulang-belulang para penghuninyapun telah disimpan dengan baik di tempat aslinya yaitu di bawah tempat tidur batu mereka. Kemudian ditutup kaca serta diberi sedikit penerangan agar tulang tidak cepat rusak namun tetap bisa dilihat pengunjung.

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka” .(QS.Al-Kahfi(18):22).

Bergaya dengan jubah " Harry Potter" di depan gerbang gua Al-Kahfi

Bergaya dengan jubah " Harry Potter" di depan gerbang gua Al-Kahfi

Prasasti gua Kahfi

Yang unik. Sebelum masuk gua, para pengunjung perempuan diharuskan memakai jubah hitam panjang yang disediakan penjaga gua. Lucu juga, seperti tokoh-tokoh sihir Harry Potter : – ) Menjelang magrib kami memasuki kota Amman, makan di restoran Thailand yang terkenal enak di kota tersebut kemudian masuk hotel dan istirahat, bersyukur telah diberi kesempatan melihat situs peninggalan beberapa nabi dan kisah yang diceritakan Al-Quran. Sayang kami batal mengunjungi makam nabi Ibrahim karena makam ini terletak di kota Hebron, Tepi Barat yang dijaga ketat tentara Israel. Juga lokasi kaum nabi Luth yang diazab karena hubungan sesama jenis merajalela. Kota itu diberi nama kota Soddom yang terletak ditepi Laut Mati, sekitar 60 km dari pantai yang kami kunjungi sore tadi. Sayang sekali….

Jakarta, 12/2008.

Vien AM.

Read Full Post »

 Untuk menunaikan rukun Islam ke 5, meskipun suami bekerja di perusahaan minyak asing yang relative bergaji lumayan cukup besar, tidaklah terlalu mudah bila kita tidak memprioritaskan kebutuhan tersebut dengan terencana. Pada tahun 1998, dengan asumsi menyisihkan sebagian gaji secara disiplin, kami memperkirakan baru dapat melaksanakan kewajiban tersebut 5 tahun mendatang. Namun nyatanya baru 2 tahun berlalu, Subhanallah tabungan kami telah mencukupi bahkan untuk 3 orang. Akhirnya pada April 2000, dengan mengajak ibu mertua yang waktu itu berusia 70 tahun, kami berangkat ke tanah suci. Kira-kira 4 bulan sebelum keberangkatan saya memutuskan untuk berhijab. Saya ingin menghapuskan kesan seolah berhijab hanya diwajibkan bagi seseorang yang telah berhaji.

Selang beberapa minggu setelah kami kembali ke tanah air, kami menerima kabar bahwa suami mendapat tugas baru di Paris, Perancis. Kabar tersebut kami sambut dengan suka-cita.Entah doa apa yang kami panjatkan sehingga Allah SWT berkenan memberikan kesempatan yang amat berharga ini. Kami hanya dapat memohon semoga kami sekeluarga dapat melewati cobaan yang menggembirakan ini dengan baik. Maka pada Agustus 2000 resmilah kami menjadi penghuni sebuah apartemen di daerah bergengsi di pinggiran sebelah barat laut Paris, dimana sebagian besar diplomat bertempat tinggal, termasuk duta besar Indonesia untuk Perancis.

Kendala yang langsung terasa begitu kami menetap di ibu kota Perancis ini adalah masalah ketiadaan PRT. Tetapi dengan adanya peralatan bantu elektronik seperti mesin pencuci piring dan microwave hal tersebut dapat segera diatasi. Kendala berikutnya adalah persoalan makan. Sangatlah sulit untuk mendapatkan restoran yang tidak memasak babi. Demikian pula halnya dengan makanan ringan seperti biskuit, jelli, es krim dll. Karena pada umumnya makanan2 tersebut menggunakan emulsifier dan lechytine yang berasal dari lemak babi. Bersyukur pada masa-masa awal, kami memiliki teman yang sangat peduli terhadap hal2 tersebut. Darinya kami memperoleh daftar kandungan makanan yang tidak halal yang dikeluarkan `Mosque de Paris`, mesjid besar yang bertanggung-jawab menangani hal2 yang berkaitan dengan kehidupan kaum muslim.

Maka sejak saat itu kami termasuk anak2 terbiasa memeriksa kandungan suatu makanan sebelum membelinya. Beberapa kali, karena keteledoran, kami terpaksa membuang makanan yang baru kami beli karena ternyata mengandung zat yang meragukan. Dan dari teman kami itu pula kami mengetahui adanya `Boucheri Musulmane`, penjual khusus daging halal yang cukup banyak tersebar diberbagai sudut kota, terutama di daerah pemukiman muslim. Malah pada tahun ke 2 kami di Paris, di suatu superstore ternama, tempat kami biasa berbelanja, menyediakan counter khusus daging halal ini.

Firman Allah: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syeitan; karena sesungguhnya syeitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.(QS Al Baqarah (2:168))

Satu hal yang juga mengesankan, bila sesama muslim berpapasan (teridentifikasi berkat jilbabnya) mereka saling mengucapkan salam dengan spontan. Rasa persaudaraan terasa begitu kental. Beberapa kali seseorang menyapa hanya untuk sekedar menerangkan bahwa iapun muslimah walaupun ia tidak berhijab. Biasanya kemudian ia menanyakan asal negara kami namun tidak jarang pula ia langsung menyangka bahwa kami berasal dari Malaysia. Pernah suatu hari ketika kami sedang menunggu panggilan dokter di ruang tunggu, kami mengobrol dengan seorang perempuan Iran. Ia mengaku beragama Islam. Ia menanyakan apakah saya berhijab karena pemerintah setempat (maksudnya Indonesia) mewajibkannya. Tentu saja saya katakan tidak.

Allah berfirman : “ Katakanlah kepada wanita yang beriman: “ Hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, ……”. (QS An Nuur (24:31)).

penulis ( paling kiri) berfoto bersama teman-teman di Hotel de Ville

penulis ( paling kiri) berfoto bersama teman-teman di Hotel de Ville

Selanjutnya ia menceritakan bahwa di negaranya, kaum perempuan diwajibkan berhijab. Dan masih menurutnya pula, itulah salah satu sebab mengapa ia dan banyak temannya satu negara memilih meninggalkan Iran dan pindah menjadi warga-negara Perancis. Saya menjadi teringat beberapa waktu yang lalu saya pernah melihat acara di TV lokal Perancis yang menyiarkan tayangan mengenai seorang perempuan Iran yang berbicara keras mengenai kebijaksanaan negaranya tersebut. Tentu saja hal ini kemudian menjadi berita hangat yang amat memojokkan kaum muslimin.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Al Baqarah ((2:256)).

Sejujurnya, ada satu hal lain yang sangat memalukan bagi kaum muslimin. Kejadiannya didalam sebuah supermarket ternama dan kami melihatnya dengan mata kepala sendiri.Yaitu adanya sekelompok anak muda berwajah Arab yang sering kami pergoki sedang membuka bungkusan makanan, memakannya kemudian dilanjutkan dengan mengambil botol minuman dan langsung meneguknya. Semua itu dilakukannya sambil berjalan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Tentu saja mereka tidak membayarnya! Astaghfirrullah… Perlakuan mereka ini bagaikan ‘racaille’ begitu orang Perancis menyebutnya atau kurang lebih ‘preman’ kita menamakannya. Memang harus dipisahkan secara jelas antara orang Arab dan Islam.

Yang juga mencengangkan, untuk memenuhi rasa keingin-tahuannya, orang Perancis kerap mengajukan pertanyaan kepada seseorang yang mengaku beragama, baik ia Muslim,Kristen ataupun Yahudi,`Etes-vous Pratiquant?` untuk mengetahui apakah orang tersebut menjalankan ajaran agamanya atau tidak. Saya pernah beberapa kali dimintai keterangan mengapa saya mengenakan jilbab sedang teman lain yang juga mengaku beragama Islam tidak mengenakannya, mengapa kaum muslim dilarang makan babi dan minum alkohol. Suatu ketika saya menjawab bahwa itu semua karena perintah Allah yang disampaikan melalui ayat2 dalam Al-Quran. Tetapi ternyata ia malah mempertanyakan keorisinilan Al-Quran sebagaimana ia meragukan keorisinilan Injil, padahal ia sendiri mengaku sebagai penganut agama Kristen!

Firman Allah : “Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin(Jibril) ke dalam hatimu(Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-Kitab orang yang dahulu”.(QS Asy Syu`araa` (26:192-196)).

Tetapi pada umumnya, mereka lebih dapat menghargai kita, kaum muslimin, bila kita dapat menjawab pertanyaan mereka dan teguh dalam berpendirian dan berpendapat. Sebenarnya banyak diantara mereka yang mengenal Islam secara umum, seperti perintah shalat 5 waktu, berpuasa dan pergi haji. Mereka mengetahuinya dari tetangganya yang muslim atau saudaranya yang menikah dengan muslim, karena memang disana cukup banyak pendatang asal Maroko dan Aljazair yang telah puluhan tahun menjadi warga-negara Perancis. Suatu ketika saya dan beberapa teman muslim Indonesia menghadiri acara masak-memasak di rumah seorang Perancis. Ternyata mereka telah khusus mempersiapkan daging sapi sebagai ganti daging babi dan memasaknya tanpa tambahan alkohol dan dimasak secara terpisah pula.

Pengalaman lain yang juga cukup menarik adalah berinteraksi dengan kaum Yahudi. Di tanah-air, rasanya kaum Yahudi hanya dikenal melalui Al-Quran. Disana, anak perempuan bungsu kami yang berusia 8 tahun mempunyai sahabat Yahudi. Ibunya asli Perancis sedangkan ayahnya seorang Yahudi Rusia. Kami cukup akrab. Suatu kali ibunya bercerita bahwa ibu mertuanya, mengenakan penutup kepala sebagaimana perempuan muslim. Adik perempuannya menikah dengan seorang muslim Pakistan. Anak lelaki sulung kami yang berusia 16 tahun juga mempunya seorang teman Yahudi. Suatu kerika ia dan beberapa temannya makan siang di apartemen kami.Rupanya ia sangat tertarik dengan krupuk udang yang ada di atas meja. Ketika ia hendak mengambilnya, ia bertanya terbuat dari apakah itu. Namun ketika anak kami menerangkan bahwa itu berasal dari udang ia langsung mengurungkan niatnya.Ia mengatakan bahwa agamanya melarang memakan makanan yang berasal dari laut termasuk udang. Alangkah beruntungnya kita, kaum muslim hanya dilarang makan babi.

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” . (QS.Al-Baqarah(2): 173)

Pengalaman yang cukup berat adalah pada waktu bulan Ramadhan, terutama bagi anak2. Karena sebagian besar teman-temannya tentu saja tidak berpuasa. Bahkan pada hari Raya Idul-Fitripun sekolah tidak libur. Jadi pada hari itu kami hanya dapat memintakan izin kepada gurunya agar anak2 dapat datang ke sekolah agak siang agar pagi harinya dapat melaksanakan shalat Ied. Shalat tarawih diselenggarakan di aula kedutaan oleh pihak KBRI 2x seminggu yaitu Rabu dan Sabtu. Tetapi selain itu kami secara bergantian dengan teman2 Indonesia satu kantor, setiap hari Sabtu menyelenggarakan shalat tarawih dari rumah ke rumah. Biasanya selalu diikuti makan malam bersama dengan menu masakan khas Indonesia yang dimasak secara gotong-royong. Tentu saja `Mosque de Paris` setiap hari menyelenggarakan shalat tarawih dengan penceramah kadang berbahasa Perancis kadang berbahasa Arab. Di luar Ramadhan, bila ada uztad yang kebetulan berdakwah di Eropa Barat, kami akan berusaha `menculik` beliau agar sudi memberikan siraman rohani di apartemen kami atau apartemen teman2 lain.

Sedangkan untuk shalat Jumat, suami melaksanakannya di suatu apartemen milik orang Arab yang telah disulap menyerupai mesjid kecil, karena lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi kantor. Ia bercerita pada mulanya ia dan kawan2 selalu meng`amin`i setiap perkataan sang imam. Namun di belakang hari barulah mereka menyadari bahwa sang imam tidak sedang membacakan doa karena beliau memang memberikan ceramah dalam bahasa Arab! Akhirnya suami mengatakan bahwa hari Jumat sebelum shalat dimulai adalah `l`heure de prendre une petite sieste` alias `waktu untuk tidur siang sekejap` daripada salah `amin`.

Begitu banyak pelajaran dan pengalaman yang dapat kami petik selama kami di rantau. Maka untuk menyatakan rasa syukur kami, pada liburan musim panas 2002, tepat 2 tahun setelah kami di Paris, kami memutuskan untuk berumrah di tanah suci beserta ke 3 anak kami. Lebih kurang 1 tahun kemudian, kami kembali ke tanah air tercinta dengan membawa banyak kenangan yang tak terlupakan .

Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (QS Adh Dhuhaa (93:11)).

Alhamdullillah, Ya Allah , hanya untuk-Mu segala pujian.

Jakarta,21 Mei 2006.

Vien AM

Read Full Post »

« Newer Posts