Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Perjalanan’ Category

Banyak hal menarik terjadi pada hari-hari terakhir kami di Pau. Sebenarnya sudah sejak agak lama saya punya keluhan di punggung, di sekitar tulang belikat. Orang sering menyebutnya syaraf kejepit. Demikian pula yang dikatakan dokter Perancis beberapa tahun yang lalu. Sudah berulang kali saya menjalani beberapa terapi namun hingga kini keluhan tersebut tidak juga sembuh secara tuntas. Hingga suatu hari dokter yang menangani saya merujuk agar pergi menemui seorang Kinetherapi.

Kalau di tanah air, Kinetherapi kurang lebih adalah seorang ‘tukang urut’. Tapi jangan salah, bila tukang urut di negri kita biasanya turun temurun maka di Perancis ini mereka harus kuliah dulu selama 3 tahun ! Itu sebabnya seorang dokter bisa merujuk mereka sebagai partner kerja.   Hebat ya .. J ..

Tapi bukan ini lho yang ingin saya bahas dalam tulisan saya kali ini. Kinetherapeuse ( sebutan untuk ‘ tukang urut’ perempuan ) saya adalah seorang perempuan bule asli Perancis yang berusia sekitar 30 tahunan. Badannya tinggi besar dan penampilannyapun tomboy alias kelaki-lakian. Harus diakui ia menguasai ilmunya dengan baik. Ia memulai perawatan dengan mencatat keluhan saya. Setelah itu baru ia memulai pengobatan / mengurut.

Ketika ia mengurut itulah kemudian saya katakan bahwa saya sering duduk lama keasyikan di depan komputer. Ia menerangkan posisi duduk yang seperti itu kemungkinan besar bisa menjadi penyebab keluhan saya. Ia lalu menanyakan apa yang saya kerjakan. Setelah saya menerangkan bahwa saya mempunyai blog yang isinya tentang ajaran Islam akhirnya pembicaraanpun mengarah pada masalah keagamaan.

Ia bercerita bahwa dulu ia adalah seorang Kristen pratiquant. ( Pratiquant adalah sebutan bagi orang yang menjalankan ajaran agama, agama apapun ). Ayahnya adalah seorang pendeta Kristen. Setiap hari Minggu ia bersama teman-teman dan saudara-saudaranya selalu pergi ke gereja dan berdoa. Namun menginjak usia SMA ia mulai meragukan kebenaran ajarannya tersebut. Sejak itu ia jarang ke gereja. Bahkan kini ia tidak pernah pergi lagi ke tempat tersebut. Meski demikian ia berkata bahwa ia tetap yakin bahwa Tuhan itu ada. Tapi ya hanya sebatas itu saja. ( Harap dicatat, sebagian besar orang Perancis saat ini adalah Atheis alias tidak percaya akan adanya Tuhan alias kafir ).

Saya menjalani perawatan hingga 6 kali pertemuan. Dan hampir pada setiap pertemuan tersebut kami selalu membahas hal-hal yang berhubungan dengan Islam. Menurutnya sebagian orang Perancis sebenarnya tidak percaya bahwa Islam adalah agama yang menyebarkan kekerasan dan terorisme.  Ia bahkan ikut prihatin mengapa pemerintahnya harus seperti orang kebakaran jenggot dengan cara berpakaian Muslimah. “ Negri kami adalah negri demokrasi yang menjunjung tinggi nilai kebebasan. Saya tidak mengerti mengapa sekarang mereka sibuk memikirkan penampilan Muslim ”, begitu ujarnya setengah kecewa.

Pada pertemuan terakhir, setelah cukup lama bimbang, akhirnya saya menghadiahinya sebuah Al-Quran dengan terjemahan bahasa Perancis yang saya beli di sebuah toko buku di dekat rumah. ( Saya cukup surprised ternyata toko buku terbesar di Perancis tersebut menjual sejumlah buku tentang Islam,termasuk Al-Quran dan hadits. Hal yang tidak mungkin saya temui beberapa tahun yang lalu). Sungguh puas hati ini mengetahui bahwa ia benar-benar gembira menerima hadiah tersebut. “ Kalau anda ada waktu lowong dibaca ya”, demikian saya berpesan.

Namun ternyata itu bukan hari terakhir kami bertemu karena dokter merujuk agar saya meneruskan perawatan satu putaran lagi supaya keluhan saya tuntas. Tetapi berhubung sang kine sedang cuti jadi saya dirawat oleh koleganya. Padahal dalam hati saya ingin mendengar komentarnya … L

Pada pertemuan ke 5 sesi kedua akhirnya saya bertemu lagi dengannya. Namun demikian saya berusaha untuk bersabar dan menunggu ia yang memulai pembicaraan. Setelah menunggu beberapa waktu dengan hati berdebar, tiba-tiba ia menanyakan “ Ayat tentang hijab di Al-Quran ada di surat mana ya?”, tanyanya mengagetkan.

“ Mengapa anda  menanyakan hal tersebut, bukannya hal lain?”, tanya saya penasaran. “ Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja”, jawabnya tenang. Untung kebetulan saya hafal letak ayat tersebut, Alhamdulillah …

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.(QS.Al-Ahzab (33):59).

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya … … ”.(QS.An-Nuur(24):31).

Selanjutnya ia bercerita tentang temannya,seorang Muslimah keturunan Maroko yang baru saja menikah. “ Asyik juga menghadiri pernikahan dimana tamu laki-laki dan perempuan dipisahkan. Kita, tamu-tamu perempuan berpesta sambil menari-nari tanpa seorangpun lelaki di dalamnya ”, ceritanya seru. Saya hanya manggut-manggut karena memang tidak pernah menghadiri acara walimah yang sangat Islami itu.

Ia juga bercerita bahwa ketika ia liburan kemarin ia dan kakak lelakinya sempat berbincang lama dengan kenalan orang-tuanya, seorang Muslim Aljazair, tentang Al-Quran !  Dengan tersenyum ia mengatakan entah mengapa ia sekarang jadi suka berbicara mengenai Islam.

Di akhir pertemuan saya memberinya referensi tentang surat Maryam yang bercerita tentang ibunda nabi Isa as. Dengan semangat ia langsung mencatat di buku kecil miliknya. Saya sering mendengar bahwa surat ini sering menjadi penyebab kembalinya pemeluk Nasrani ke Islam. Allahuakbar ..

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Tiada anak manusia yang dilahirkan kecuali dengan kecenderungan alamiahnya (fitrah). Maka orang-tuanyalah yang membuat anak manusia itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Saya hanya berharap semoga Allah swt mencatat dakwah saya ini apapun hasilnya. Pesan saya padanya kali ini :”  Sempatkan untuk membacanya “, bukan “ Bacalah kalau ada waktu “.

( Click untukmendengarkan surat Maryam : http://www.youtube.com/watch?v=T5aIi3OqOJU )

Pengalaman mengesankan lain adalah ketika seorang teman menelpon dan sambil tersenyum menanyakan apakah saya ingin ikut terlibat dalam proyek akhirat dengannya. Tentu saja saya jawab cepat : “ Mau banget dong .. apa tuh Ndah ?“.

Teman saya itu kemudian mengatakan bahwa ada teman bulenya yang tiba-tiba menelpon dan minta diajari cara shalat. Subhanallah .. Sayapun segera mencari buku cara shalat dalam bahasa Perancis. Alhamdulillah tanpa kesulitan saya segera mendapatkannya, lagi-lagi di Fnac, toko buku terbesar di Perancis dimana sebelumnya saya membeli Al-Quran untuk sang Kine beberapa minggu yang lalu. Tapi di kota yang berbeda. Karena hari itu kebetulan kami memang sedang bepergian ke luar kota. Saya benar-benar puas karena buku panduan shalat tersebut bergambar dan berwarna pula. Lengkap dengan cara wudhu, bacaan doa dalam bahasa Arab dan cara bacanya plus artinya dalam bahasa Perancis.

Singkat kata,pada hari yang telah ditentukan kami berduapun menuju ke rumah teman bule tersebut. Selidik punya selidik ternyata bule tersebut sudah memeluk Islam sejak 8 tahun yang lalu. Ironisnya, suaminya yang seorang Muslim asal Aljazair itu tidak pernah mengajarkannya cara shalat. Bahkan masih menurutnya, suaminya itu tidak pernah mengerjakan shalat ! Astaghfirullah .. Yang juga menyedihkan, di apartemen tempatnya tinggal itu sebenarnya ada sejumlah warga keturunan Maroko Muslim dan Muslimah namun ia tidak yakin apakah mereka menjalankan shalat atau tidak .. L

Tiba-tiba saya jadi teringat pengalaman beberapa minggu yang lalu. Ketika itu saya bersama suami, anak dan beberapa teman sedang bepergian ke suatu kota tidak jauh dari tempat tinggal kami. Salah satu dari mereka adalah keluarga Perancis, sahabat baik anak perempuan saya.

Ketika kami sedang berjalan sambil asyik bercengkerama, dua anak muda berwajah Arab menghampiri kami. Keduanya menyapa ramah dengan ucapan “ Assalamualykum”. Belum sempat kami menjawab tiba-tiba salah satu dari mereka berkata : ” Indonesia, Malaysia ? Selamat Pagi “.

Tentu saja kami terkejut dibuatnya. Ternyata mereka adalah warga Perancis keturunan Aljazair yang telah lama mukim di kota tersebut. Keduanya pernah tinggal dan bekerja di Indonesia dan Malaysia selama beberapa tahun. Akhirnya kamipun terlibat percakapan cukup hangat.

Namun sayang kelihatannya telah terjadi kesalah pahaman. Anak perempuan saya diam-diam mencolek saya hingga beberapa kali. Ia berbisik : “ Bu, jangan dilayani .. orang itu kurang ajar. Dia gangguin kita, cewek-cewek ..”. Haah .. tersentak saya dibuatnya.

Tiba-tiba saya tersadar akan maksud pertanyaan anak muda tersebut “ Kamu dah kahwin ?” .. “ Kamu ? .. Kamu ?” sambil bergantian menunjuk ke arah anak-anak perempuan kami. Ketika ia bertambah nekat hendak mencolek Emily, teman bule anak kami, suami saya langsung mendampratnya. “ Hei .. jaga sikap kamu sebagai Muslim .. Jangan bikin malu !! “.

Anak muda tersebut berusaha membela diri sambil terus memandang kurang ajar ke arah gadis yang mulai pucat ketakutan itu. Kami segera meninggalkan anak muda tersebut sementara suami saya terus berusaha menasehatinya. Beruntung temannya segera menyadari kelakuan buruk temannya itu dan mengajaknya pergi menjauh.

Selanjutnya orang tua Emily bercerita bahwa ini bukan kali pertama mereka diganggu oleh anak-anak muda berparas Arab seperti kedua orang tadi. Dengan penuh penyesalan mereka mengaku bahwa sebagian besar orang Perancis memang mengganggap orang Muslim ( dari wajah Arabnya) adalah orang yang mempunyai kebisaan buruk .. Astaghfirullah .. sedihnya hati ini. Menurut mereka kalau tadi itu yang menegur ayah Emily pasti bakal panjang urusannya .. L.

Sebenarnya kami telah berulang kali mengatakan kepada kenalan dan teman-teman non Muslim agar jangan menilai sebuah agama dari prilaku orang-orangnya. Islam memang lahir ditanah Arab bahkan Al-Quranpun  berbahasa Arab. Namun ini bukan jaminan bahwa orang Arab adalah orang yang alim dan patut dijadikan sebagai contoh keteladanan umat Islam.

Belum juga kami berhasil menghapus image buruk Islam .. eh, selang beberapa bulan kemudian terjadi hal yang lebih memalukan lagi. Kali ini kejadiannya di tanah air, negri kita, Indonesia tercinta.

Suatu hari di bulan Agustus, Emily beserta ayah, ibu dan adiknya berlibur ke Indonesia; Bali dan Sulawesi. Tentu saja kami senang dan dengan bangga memamerkan keindahan alam dan keramah-tamahan bangsa kita.

Namun apa lacur, baru beberapa hari berlalu, mereka telah menelpon kami dan dengan suara panik meminta tolong agar mencarikan penerbangan pulang ke Perancis secepat mungkin. Ya Allah , apa yang terjadi, pikir kami ikut prihatin.

Selidik punya selidik, akhirnya mereka mengaku bahwa mereka telah ‘dipalak’ dan ‘dikerjai’  penduduk setempat. Bahkan di Sulawesi tengah, selama perjalanan 8 jam (dari Luwuk ke Ampana; tujuan mereka adalah kepulauan Togian) mereka diteror dengan iring-iringan 3 kendaraan yang terus membuntuti taxi yang mereka sewa !

Yaah .. apa mau dikata .. mengapa umat Islam ini ( bagaimanapun saya merasa bahwa Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim ini mustinya bisa menjadi teladan Muslim ) tidak bisa menjaga prilaku Islami mereka.

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan”. (QS.Asy Syu’araa (28):183).

“Tetangga itu ada tiga macam; di antara mereka itu ada yang mempunyai tiga hak, di antaranya lagi ada yang mempunyai dua hak dan di antaranya lagi ada yang hanya mempunyai satu hak. Tetangga yang mempunyai tiga hak adalah tetanggamu yang masih kerabat dan muslim; tetangga yang mempu-nyai dua hak adalah tetanggamu yang muslim; dan tetanggamu yang hanya mempunyai satu hak adalah tetanggamu yang dzimmi (non-muslim)”. (Tanbihul Ghafilin)

“Tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman. Mereka bertanya: siapakah itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.” . (HR Bukhari).

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 12 Oktober 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Mengetahui kebesaran dan kejayaan Islam di masa lalu sungguh merupakan  kebahagiaan tersendiri. Ini bagaikan setitik embun di padang pasir nan gersang. Apalagi di saat ini dimana Islam memang sedang dalam keadaan terpuruk. Citra Islam yang berkembang atau sengaja dikembangkan di barat hanyalah citra buruknya saja.

Terorisme, kediktatoran, korupsi, kejahatan terhadap perempuan dan anak yang dilakukan sebagian orang atau negara-negara yang mengaku Muslim namun tidak bertanggung jawab terus dibesar-besarkan. Hal ini membuat kaum Muslim yang kurang teguh keimanannya makin tidak percaya diri.  Akibatnya dapat dibayangkan. Mereka ini akhirnya bukan saja enggan mentaati dan menjalankan hukum dan syariat ajarannya namun bahkan mengakui ke-Islamannyapun ragu …

Itu sebabnya saya sengaja menuliskan pengalaman saya dalam rangka mencari jejak peninggalan Islam di Eropa Barat ini. Menurut pendapat saya, tidak sepatutnya kita ‘minder’. Islam selama beberapa abad pernah berada di puncak kejayaannya. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang baru 2 abad ini saja menguasai percaturan dunia.

Barat belakangan ini bahkan terpaksa harus mengakui bahwa berkat kekuasaan Islam di Spanyollah mereka saat ini bisa keluar dari zaman kegelapannya di abad pertengahan. Di era globalisasi ini dimana informasi dapat dengan mudah diakses, tampaknya tak mungkin lagi mereka menutup-nutupi keberadaan para ilmuwan Muslim dan berbagai penemuannya yang menginsipirasi Barat menjadi maju seperti sekarang ini.

Ibnu Musa Al-Khawarizmi (770-840 M ), penemu Algoritma dan Aljabar,  Avveroes atau Ibnu Rushdi (1126-1198 M), hakim/kadhi sekaligus  fisikawan, Ibnu Sina( 980 -1037 M ),  filsuf sekaligus  dokter kenamaan dan  Ibnu Khaldun ( 1332-1406 M), bapak sosiologi dan ekonomi dunia hanyalah segelintir diantaranya. Mereka adalah para penemu yang banyak menelurkan karya–karya tulis penting.

Kalaupun mereka ini menggunakan dasar dan referensi dari ilmuwan terdahulu, seperti ilmuwan-ilmuwan terkenal Yunani seperti Socrates, (469-399 SM), Plato (428-348 SM) dan  Aristoteles (384-322 SM) selalu mencantumkan sumbernya dalam karya mereka. Ini kebalikan dari para ilmuwan barat yang sering secara sengaja membuang sumbernya bila itu berasal dari dunia Islam.

(Baca:http://www.scribd.com/doc/28593682/Makalah-Sejarah-Peradaban-Islam-Sumbangan-Islam-Terhadap-Sains-Dan-Peradaban-Dunia ).

Hebatnya lagi, para ilmuwan Muslim tersebut tidak hanya lihai dalam ilmu duniawinya saja namun juga ilmu ukhrowinya. Mereka adalah ahli ibadah yang betul-betul menguasai ajaran Islam dengan baik. Tampaknya inilah yang menjadi rahasia kesuksesan dunia Islam di masa lalu.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan “.(QS.Al-Qashash (28):77).

Berikut pengakuan kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte ( 1769 – 1821) : “Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia…Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat…Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separoh bola bumi… Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”…..(hal 105 dari “Bonaparte et L’Islam” oleh Cherfils).

Sementara itu Goethe,filsuf Jerman (1794–1832M) berkomentar sebagai  berikut :

Muhammad membangunkan Persia yang sedang tidur, menginsyafkan Rumawi Timur (Byzantium) dan kaum Nasrani di negeri-negeri Timur, agar mereka tidak terus-menerus asyik berdebat dan berpecah-belah akibat filsafat shopites Yunani. Tidak dapat disangkal lagi bahwa para Nabi di dunia ini serupa dengan kekuatan-kekuatan raksasa yang terdapat di alam wujud, yaitu kekuatan-kekuatan yang senantiasa mendatangkan kebajikan bagi umat manusia seperti matahari, hujan dan angin yang menghidupkan tanah kemudian membuat tanah yang tandus dan gersang menjadi penuh dengan tanam-tanaman berwarna hijau. Manusia wajib mengakui kenabian mereka. Tanda-tanda yang membuktikan kebaikan mereka dapat kita lihat dari kenyataan bahwa mereka itu hidup dengan keyakinan, berjiwa tenang dan tentram, bersemangat dan bertekad kuat, tabah dan sabar menghadapi berbagai macam cobaan, tangguh menghadapi kebobrokan mental dan moral masyarakatnya yang pasti akan lenyap bila terus-menerus diberantas dan kehidupan mereka sehari-hari yang tidak putus beribadah dan berdoa…Jika semuanya itu yang diajarkan agama Islam kita semua adalah orang-orang Islam”. (hal 38 dari “Hadhritul ‘Alamil-Islamiy” jilid I oleh Amir Syakib Arslan, dikutip dari pembicaraan antara Goethe dan sang penulis).

Islam menyinari semenanjung Iberia ( Spanyol dan Portugis sekarang) tak sampai 100 tahun setelah wafatnya Rasulullah saw. Bahkan pada tahun 732 M cahaya  Islam nyaris menerangi jantung Eropa di Perancis tengah kalau saja pasukan pimpinan Musa bin Nushair ini tidak dikalahkan pasukan Perancis di Poitier.

Padahal ketika itu Islam telah berhasil menaklukkan salah satu kerajaan adikuasa masa itu yaitu, Persia. Ini terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Di masa-masa berikutnya melalui para pedagang Islam menyebar ke timur, yaitu India, Cina dan  Indonesia melalui Aceh yang mendapat julukan serambi Mekah. Dan juga ke barat, yaitu pesisir utara Afrika termasuk Mesir, Maroko,Tunisia dan Aljazair. Ketika itu di bawah dinasti Umayah, Damaskus menjadi ibu kota kekhalifahan.

Dari Maroko inilah pasukan Islam masuk ke benua Eropa. Di benua ini selain Spanyol dan Portugal, Islam juga menyiratkan sinarnya ke Perancis selatan dan Italia ( kepulauan Sisilia dan Sardinia). Pada masa kekuasaan Turki Ottoman yang berhasil menaklukkan Istanbul ( Konstantinopel ) yang ketika itu merupakan negara adikuasa ( Romawi timur), negara-negara eropa timur seperti Albania, sebagian Yugoslavia dan Bulgariapun masuk Islam.

Hebatnya lagi, toleransi benar-benar dijunjung tinggi. Tidak ada paksaan masuk Islam. Kaum Nasrani, Yahudi, orang-orang Armenia bahkan orang-orang Zoroasterpun bebas menjalankan ajaran agama mereka. Mereka hanya diwajibkan membayar jiziyah.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah(2):256).

Berikut pengakuan Voltaire (1694-1778), penulis legendaris Perancis berikut :

“ ... Saya telah mengunjungi London, Hamburg, Danzig, Venezia. Namun apa yang saya lihat lebih mendidik adalah apa yang terjadi di Konstantinopel. .. Lima puluh tahun yang lalu saya mendapat kehormatan untuk mengikuti  sebuah prosesi pelantikan patriak ( kepala gereja) Yunani oleh Sultan Ahmed III, semoga Tuhan memberkatinya. Sultan menyerahkan sendiri cincin dan tongkat kepada sang pendeta Kristen. … Sungguh menyenangkan saya dapat berkomunikasi secara terbuka di acara tersebut.

Namun sekembali saya ke Marseilles, saya sangat terkejut. Saya tidak menemukan satupun masjid. Saya ungkapkan keterkejutan saya itu kepada Uskup Marseilles. Bila orang-orang Turki saja mau menyediakan gereja bagi orang-orang Kristen mengapa kita tidak ”.

Saya juga beberapa kali menemukan pengakuan cendekiawan barat, diantaranya rektor universitas Madrid, Spanyol. Dengan nada getir ia mengatakan bahwa bila saja pada pertempuran Poitiers pasukan Islam memenangkan pertempuran, tentu masyarakat Eropa saat ini telah mengenal ajaran Islam secara baik.

Saya pikir, Voltaire juga pasti kecewa seandainya ia masih hidup. Betapa tidak, harapannya 2.5 abad lalu ternyata hingga kini tetap tidak terealisasi. Masjid di Perancis benar-benar langka. Bahkan Marseilles yang jumlah muslimnya relative lumayan banyak hingga detik ini umat Islam hanya bisa melaksanakan shalat Jumat di jalan-jalan yang sempit. Masjid besar yang katanya sudah disetujui pemerintah dan pada Idhul Adha bulan april yang baru saja lewat dikabarkan sudah bisa dipakai ternyata bahkan tanahnya saja belum dibebaskan!

Masjid Toulouse

Masjid Toulouse 1

Masjid Toulouse

Masjid Toulouse 2

Demikian pula di Toulouse. Masjid besar yang tidak sengaja kami lewati beberapa bulan lalu, ternyata sudah 2 tahun terbengkalai. Padahal bila dilihat fisiknya tinggal tahap ‘finishing’ saja. Menurut informasi yang saya dapat, katanya masyarakat sekitar tidak mengizinkannya.

Grande Mosquee de Paris

Grande Mosquee de Paris

Grande Mosquee de Paris (2)

Grande Mosquee de Paris (2)

Saat ini di Perancis masjid yang cukup megah berdiri hanya ada di Paris saja. Beruntung masjid yang dibangun pada tahun 1920 dan diberi nama “ Grande Mosquee de Paris” ini memiliki menara cukup tinggi. Karena belakangan ini Perancis menetapkan peraturan bahwa masjid tidak boleh memiliki menara lebih dari 3 meter. Ini masih ditambah lagi bahwa suara azan tidak boleh terdengar hingga keluar area masjid !!

Belum lagi bila kita bicara soal jilbab dan nikab. Sejak tahun 2004 pemerintah melarang anak sekolah dan pegawai negri mengenakan jilbab di area sekolah dan kantor pemerintahan. Untuk sementara memang masih aman bila kita memakai di jalan umum.

Namun tidak demikian dengan nikab ( penutup muka kecuali mata). Ada peraturan baru bahwa mereka yang mengenakan nikab bakal dikenai sangsi hukum. Saat ini peraturan tersebut masih dalam tahap percobaan.

Sungguh aneh, bukan? Barat yang katanya menjunjung tinggi demokrasi, kebebasan dan toleransi hingga harus menyerang Afganistan dan  Irak karena dianggap tidak demokrasi, nyatanya seperti itu. Yang  katanya menjunjung tinggi keadilan dan HAM, namun ternyata hanya tinggal diam ketika rakyat Palestina diperlakukan semena-mena oleh pemerintah pendudukan Israel.

Hal lain yang cukup menarik adalah bahasa. Kita semua tentu setuju bahwa bahasa adalah hal terpenting dalam melakukan komunikasi. Bagaimana kita dapat berkomunikasi, berinteraksi, bertukar pendapat, menambah wawasan dan pengetahuan tanpa adanya bahasa pemersatu. Bahasa isyarat mungkin bisa tapi hanya dalam batas tertentu saja.

Perancis dan Spanyol adalah negara bertetangga. Namun terlihat jelas bahwa masing-masing ingin mempertahankan bahasanya sendiri-sendiri. Demikian pula  Italia, yang menjadi tetangga  keduanya. Juga Jerman dan Belanda yang merupakan tetangga Perancis. Bahasa Inggris yang selama ini sering di’klaim’ dan meng’klaim’ sebagai bahasa pemersatu, bahasa internasional dalam forum-forum resmi ternyata dalam kehidupan sehari-hari tidak berfungsi. Dapat dibayangkan bagaimana repot dan sulitnya bepergian ke suatu tempat dimana kita tidak dapat berkomunikasi secara baik dengan  penduduknya.

Berbeda dengan ketika Islam berada di puncak kejayaannya. Bahasa Arab menjadi bahasa pemersatu. Jadi bahasa ini tidak hanya digunakan ketika shalat dan membaca ayat-ayat Al-Quran saja namun menjadi bahasa sehari-hari seluruh kekhalifahan Islam yang amat luas itu. Bahasa ini bahkan juga digunakan secara internasional.

Kembali kepada kekalahan Islam di Poitiers pada tahun 732 M. Apa sebenarnya hikmah di balik kekalahan tersebut? Mengapa Allah swt tidak mengizinkan Islam berkembang di jantung Eropa? Mengapa kejayaan Islam di semenanjung Iberia hanya bertahan selama 8 abad saja? Sementara di Indonesia yang relative lebih jauh dari tanah kelahiran Islam bisa tetap bertahan hingga kini ?

Mungkinkah Allah sengaja berbuat demikian agar kita umat Islam Indonesia mendapat kesempatan untuk berdakwah dan memperkenalkan ajaran ini ke benua tersebut? Roma, pusat Kristen yang disebut Rasulullah bakal takluk ke pelukan Islam setelah Konstantinopel hingga saat ini belum juga terealisasi.

Siapkah kita menjalankan tugas mulia ini? Bagaimana caranya? Sulit dan mahalkah? Bukankah berkat izin-Nya tehnologi di dunia maya telah berkembang begitu maju? Mengapa kita tidak memaksimalkannya ?

Janji Allah pasti terjadi, dengan atau tanpa partisipasi kita. Di akhir zaman nanti Islam akan menyinari seluruh bumi Allah yang luas ini. Fenomena ini sebenarnya telah mulai terlihat. Ketakutan barat yang berlebihan bukannya tanpa penyebab. Di setiap kota Eropa yang kami kunjungi hampir selalu terlihat  adanya perempuan berjilbab. Anak-anak usia sekolah walaupun dilarang berjilbab namun begitu keluar sekolah tetap mengenakan jilbabnya. Masjid meskipun dilarang namun sejumlah musholla tetap saja bermuncullan. Bahkan orang yang bersyahadatpun makin hari makin banyak saja.

Akankah kita memanfaatkan kesempatan emas ini?

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 10 Juli 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Catatan statistik resmi Italia pada Januari 2005, menunjukkan bahwa jumlah Muslim adalah 1.4 % dari penduduk Italia. Jumlah yang sangat kecil ini memang merupakan persentasi terkecil dari Muslim di Eropa. Sementara itu  dari total 2.400.000 penduduk asing yang tinggal di Italia,  sekitar 820.000 atau 34 % diantaranya adalah Muslim. Mereka ini sebagian besar adalah para imigran dari Albania dan Maroko.

Sementara itu catatan pada tahun 2009 menunjukkan adanya sedikit peningkatan yaitu menjadi sekitar  1.6 % atau 1 juta jiwa.  Data diatas tampaknya dapat dijadikan kesimpulan bahwa Italia hingga saat ini nyaris belum tersentuh ajaran Islam.

Namun setahun kemudian walikota Milan mengumumkan bahwa jumlah warga Muslim di kotanya meningkat 20 kali lipat dibanding 13 tahun lalu. Mereka berasal dari berbagai negara diantaranya Iran, Mesir, Etiopia, Maroko dan Albania. Menurutnya jumlah Muslim saat ini mencapai 70.000 orang, 52.000 orang tercatat resmi sementara sisanya adalah imigran illegal alias tidak tercatat.

Kepolisian Italia juga melaporkan bahwa negaranya saat ini menjadi sasaran empuk  bagi Muslim dalam rangka menjejakkan kaki mencapai benua Eropa. Ini disebabkan panjangnya garis pantai yang dimiliki negara ini, yaitu 8000 km.  Menurut mereka sangat sulit mencegah masuknya imigran gelap. Para imigran ini biasanya hanya menjadikan Italia sebagai batu loncatan. Jerman, Perancis da : Inggris adalah tujuan utamanya.

Tiba-tiba saya teringat hadis berikut  :

Dari Abdullah bin Amr bin Al-”Ash berkata, “Saat kami sedang menulis di sekeliling Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya tentang kota manakah dari kedua kota yang akan dibebaskan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Maka Rasulullah saw menjawab, “Kota Heraclius akan dibebaskan terlebih dahulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel. (HR Ahmad)

Konstantinopel yang kini bernama Istanbul, ibu kota khilafah Islamiyah Turki Utsmani di masa lalu adalah pusat peradaban Barat (Romawi Timur) di bawah pimpinan Kaisar Heraklius. Penaklukkan negri ini baru terlaksana 7 abad setelah hadis di atas. Setelah beberapa kali gagal akhirnya pada tahun 1453 M dibawah pemerintahan Sultan Muhammad Al-Fatih (the Conqueror), khalifah Turki Utsmani ketika itu Konstantinopelpun jatuh ke tangan Islam.

Namun kota Roma, kota yang di sebut  Rasulullah bakal jatuh ke tangan Islam setelah Konstantinopel hingga detik ini tampaknya belum berhasil ditaklukkan Islam. Berdasarkan perkiraan Dr. Yusuf Al-Qaradawi, kota yang saat ini menjadi pusat agama Kristen (Roma/ Vatikan) akan takluk pada abad ini. Tapi bukan melalui perang fisik seperti pada masa lalu melainkan dengan pena, buku dan internet. Wallahu’alam ..

Yang menjadi pertanyaan apakah sejak dahulu negri asalnya Pizza, makanan kesukaan anak muda  ini benar-benar belum pernah mengenal Islam ?

Sungguh beruntung Allah swt telah memberi  kami kesempatan untuk mengunjungi beberapa kota besar Italia. Diantaranya adalah Roma, Milan, Venezia, Florence dan Pisa. Roma dan Venezia kami kunjungi 8 tahun lalu. Sayangnya waktu itu kesadaran saya dalam mencari jejak Islam masih kurang hingga saya kurang memperhatikan hal tersebut.

Tetapi dari hasil surfing internet, saya menemukan beberapa fakta menarik tentang pengaruh dan keberadaan Islam masa lalu di kedua kota besar Italia tersebut. Yang pertama tentang Venizia. Pada tahun 2005 sebuah museum di New York, Amerika Serikat pernah menggelar pameran berjudul “ Venice and the Islamic World, 828–1797“.  Pameran ini digelar berdasarkan buku dengan judul yang sama. Si penulis, Stefano Carboni, seorang pengamat dan pakar seni Islam dari Italia  dengan gamblang mempertanyakan dari mana sebenarnya datangnya seni dan tatanan kota Venezia. Menurutnya kota ini amat mirip dengan ciri khas kota-kota Islam.

Walaupun begitu ia menambahkan bisa jadi ini disebabkan adanya ikatan yang erat antara Venezia ( Republik Venezia ketika itu ) dengan negara-negara islam tetangganya seperti Mamluks di Mesir, Ottomans di Turki dan  Safavids di  Iran pada abad 8. Hubungan erat ini dalam berbagai bidang diantaranya ekonomi, perdagangan dan  budaya. Negara-negara Islam tersebut pada saat  itu memang  sedang berada di pucak kejayaannya.

 

st Paul Rome

st Paul Rome

 

Yang lebih mengejutkan lagi adalah temuan bahwa kota Roma pada tahun 846 M sebenarnya pernah dikepung oleh pasukan Islam. Bahkan gereja tua basilik St Paul yang pada abad 5 lebih besar dari basilik St Peter di Vatikan pun tak luput dari ancaman yang dilakukan oleh pasukan Islam yang berjuang dalam rangka menegakkan kebesaran Allah swt, satu-satunya Tuhan alam semesta yang patut disembah oleh semua mahluk di dunia ini. Sebuah buku berjudul “ The Legacy of Jihad” yang ditulis oleh seorang penulis Amerika mengatakan bahwa dokumen penting tentang peristiwa ini sebenarnya sudah lama di tutup rapat.

Bagi pihak barat ( Kristen/ Vatikan) yang menjadikan Roma dan Vatikan sebagai lambang kebesaran Kristen, peristiwa tersebut adalah aib besar.  Adalah tabu untuk membicarakannya. Masih menurut buku tersebut itu sebabnya Leon IV yang ketika itu baru saja diangkat menjadi paus memerintahkan dibangunnya tembok setinggi 12 m yang mengelilingi Vatikan saat ini. (baca :   http://en.wikipedia.org/wiki/Basilica_of_Saint_Paul_Outside_the_Walls )

Sementara itu Milan, Florence dan Pisa baru kami kunjungi beberapa bulan yang lalu. Kunjungan inilah yang kali ini ingin saya laporkan. Seperti umumnya turis yang mengunjungi kota Pisa, menara Pisa adalah tujuan  utama. Sebelum berangkat saya sengaja ‘surfing’ mencari alamat masjid.

Seperti biasa saya tidak pernah berharap muluk bakal menemukan masjid yang besar apalagi megah di daratan Eropa ini. Namun rupanya Allah berkehendak lain. Ia membimbing hamba-Nya yang hina ini ke suatu alamat blog yang menyatakan adanya masjid besar di Pisa. Beberapa kali saya buka tutup dan mengulangnya namun tetap saja data yang sama kembali muncul. Saya tidak percaya karena keterangan tersebut menunjukkan Kathedral di Pisa sebagai Masjid !!

Rasa penasaran saya makin meningkat. Saya mulai mencari-cari informasi tentang Kathedral tersebut. Akhirnya saya menemukan sebuah cuplikan tulisan yang mengulas adanya temuan inskripsi berbahasa Arab pada salah satu kubah kathedral tersebut.

 

Duomo de Pisa

Duomo de Pisa

 

Ini adalah dokumen yang tidak dipublikasikan secara umum. Pada tahun 1918 dilaporkan adanya pembangunan ulang kathedral Pisa. Ketika itulah ditemukan sebuah tulisan/ inskripsi berbahasa Arab di puncak kubahnya. Prof Carlo Nallino menerjemahkannya dengan  “ Al-Fath, si pematung – hamba-Nya”.  Berdasarkan intial inilah, Nallino, sang ilmuwan Italia yang memperdalam ilmu ke-Islam-an dan di belakang hari beralih memeluk Islam ini berani memastikan bahwa Al-Fath, adalah orang yang sama dengan Al-Fath sang arsitek yang membangun istana kenamaan Madina Al-Zahra di Andalusia pada zaman raja Abdur Rahman di tahun 954 M.

Ia memang tidak berani menyatakan bahwa gereja besar itu mungkin dulunya masjid. Ia hanya merasa heran mengapa ada tulisan Arab diatas bangunan yang merupakan  lambang kebesaran dan kebanggan Kristen. Bahkan berada di puncaknya pula !  Mengapa pula arsiteknya seorang arsitek kenamaan Muslim?

 

 

Duomo de Pisa dan Menara Pisa

Duomo de Pisa dan Menara Pisa

 

Ia hanya berani mengambil kesimpulan bahwa pada abad 10 pengaruh

Puncak Menara Pisa
Puncak Menara Pisa

Islam telah masuk ke negaranya, Italia. Tentu saja saya sangat meyakini hal ini  apalagi  setelah melihat sendiri bentuk dan model lantai teratas menara Pisa miring yang terkenal itu. Menara yang mulai dibangun pada tahun 1173 dan baru selesai 2 abad kemudian itu lantai atasnya benar-benar mirip masjid ! Lantai ini merupakan teras terbuka yang  dikelilingi tembok dan memiliki beberapa gapura dengan lonceng-lonceng di bawahnya.

Demikian pula dengan kota tua Florence. Bagi yang pernah mengunjungi ko ta-kota tua Islam seperti Marakech atau Damaskus, kota ini memiliki banyak sekali persamaan. Jalan-jalan sempit dengan tembok-temboknya yang tinggi, jembatan-jembatannya juga taman dengan pelataran dan air mancurnya mirip sekali dengan rumah-rumah tradisional di kota-kota timur tengah dan Afrika Utara.

 

Duomo de Florence

Duomo de Florence

 

Begitu pula Duomo de Florence. Gereja besar ini sangat mirip dengan Masjid As-Sakroh di Yerusalem, baik bentuk maupun motif marmernya. Menurut data yang saya temukan, adalah Brunelleschi, arsitek Italia yang membangun gereja yang menjadi lambang kebanggaan kota ini. Para peneliti mengemukakan bahwa blueprint atau cetak biru yang digunakannya ternyata meniru mausoleum ( makam) Oljeitu yang terdapat di Soltanyeh di Iran. Makam ini di bangun 150 tahun sebelum Duomo de Florence, yaitu antara tahun 1304 – 1313.

Disini kembali saya tidak sedang berusaha mengatakan bahwa kota turis di Tuscani ini pernah berada di bawah kekuasaan Islam. Saya hanya mengatakan bahwa pengaruh Islam pernah amat sangat terasa di kota-kota Italia. Itu saja ..

Namun demikian ada hal yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Yaitu bahwa Sisilia dan Sardinia, dua kepulauan di selatan Italia pernah lama berada di bawah kekuasaan Islam. Bangunan-bangunan tua bersejarah di kota –kota seperti Palermo dan Messina tidak berhasil menyembunyikan kenyataan ini.

Akan tetapi ternyata hal ini tidak berarti bahwa Italia bagian utara tidak pernah  mengenal Islam. Karena saya menemukan data bahwa pada abad 7 dan 8, sebagian Lombard,  keluarga bangsawan Italia yang memerintah Italia Utara dilaporkan berpindah memeluk Islam !   Mereka ini tadinya adalah para pemeluk Arianisme, cabang ajaran Kristen yang tidak sepaham dengan Katolik.  Para mualaf ini pada masa lalu dipanggil dengan nama Al-Ankubarti.

Jumlah Muslim di Italia Utara ketika itu memang tidak sebanyak  saudaranya di Italia Selatan. Sebaliknya dengan saat ini. Hampir 55% Muslim mendiami Italia Utara. Di selatan hanya sekitar 20 %. Sementara di bagian tengah termasuk Roma sekitar  25%.

Benarkah perkiraan  Dr. Yusuf Al-Qaradawi bahwa Roma bakal ditaklukan pada abad ini ? Bukan melalui perang fisik seperti pada masa lalu melainkan dengan pena, buku dan internet ? Wallahu’alam .. Tampaknya ini yang menjadi tugas generasi kita terutama anak-anak muda kita untuk segera memanfaatkan jaringan tehnologi dunia maya  yang makin lama makin canggih ini.

Jakarta, 3 Juli 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

( Sambungan dari Menilik Jejak Islam di Eropa (8) )

Sejarah mencatat bahwa walaupun pada tahun 759 M secara umum Perancis berhasil memukul mundur pasukan Islam dari wilayah mereka namun nyatanya sisa-sisa kekuatan Islam masih ada hingga ratusan tahun kemudian. Ini terbukti dengan adanya sejumlah benteng peninggalan yang terdapat di pegunungan sepanjang perbatasan Perancis- Spanyol di selatan, maupun di perbatasan Perancis–Italia di tenggara.

Islam baru benar-benar lenyap dari bumi Perancis setelah pertempuran Tourtour ( Le Bataille de Tourtour ) pada tahun 973 M. Pada pertempuran yang menyakitkan ini kaum Muslimin yang masih hidup dipaksa memeluk Kristen atau dijadikan budak.

Adalah Ramatuelle. Kota turistik diatas bukit yang sekarang ini merupakan tempat tinggal idaman para seniman Perancis adalah satu diantara kota tua peninggalan Islam yang terletak di perbatasan Perancis–Italia. Kota ini tidak jauh letaknya dari St Tropez, kota pantai laut Mediterania kesayangan para selebritis. Nama asli kota yang memiliki jalan-jalan sempit menanjak ini adalah Rahmatullah, kata Arab yang berarti kasih sayang Allah.

Di dalam wilayah yang dinamakan Le Fraxinet (dalam bahasa Arab Jabal al-Qilâl ) ini pula berdiri sebuah kota benteng yang saat ini dinamakan La Garde Freinet. Disini dulu masyarakat Islam dan peradabannya bertahan. Dari wilayah inilah Islam terus menyebar ke Italia dan Swis. ( Beberapa sumber lain menyatakan bahwa Le Fraxinet di tahun 800-an memang daerah koloni kesultanan Andalusia).

Sementara di pegunungan di perbatasan Perancis dan Spanyol berdiri sebuah  kota benteng raksasa nan cantik sesuai dengan namanya yaitu Carcassonne. Kota ini terletak sekitar 80 km tenggara kota Toulouse. Ada sebuah legenda terkenal mengenai asal usul nama kota ini. Terus terang ini surprised buat saya. Kisah ini saya temukan dari buku panduan turis yang saya beli di kota tersebut.

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 725 M, pasukan Islam berhasil menguasai Carcassone. Pasukan dibawah komando panglima Musa bin Nushair ini terus merangsek ke jantung Perancis hingga akhirnya dikalahkan Charles Martel  di pertempuran Poitiers. Pasukan Islam dipaksa mundur meninggalkan daratan Perancis dan kembali ke Spanyol. Namun dalam keadaan terjepit tersebut, pasukan Musa ini sempat menduduki 2 kota penting Perancis, yaitu Avignon dan Arles, meski hanya 2 tahun.

( Saya baru saja membaca berita menarik dari sebuah blog pribadi yang ditulis oleh seorang Perancis tentang kunci kemenangan Charles Martel. Ternyata calon raja Perancis ini tidak mau mengambil resiko berat dalam menghadapi pasukan Islam yang dikenal tangguh ini. Untuk menghindari pertempuran frontal, ia mengerahkan orang-orangnya untuk melakukan penjarahan terhadap kota-kota milik  pasukan Islam ! Taktik ini sengaja digunakan untuk melemahkan pertahanan musuh .. dan berhasil. Dalam keadaan kacau inilah kemudian ia menyerang dan menjatuhkan pasukan Islam … 😦 … ).

Namun tidak demikian dengan Carcassone. Kota benteng ini berhasil dipertahankan selama 25 tahun lamanya. Kisah penyerahan kota ini diabadikan oleh para pemeluk Nasrani Perancis melalui kisah yang dipopulerkan dengan nama “ La lagende Dame De Carcas” atau legenda Putri Carcas.

Kisahnya adalah sebagai berikut :

Pada tahun 745 M pasukan gabungan Perancis dibawah Charles Martel, kakek Charlemagne kembali menyerang benteng Carcas. Terjadilah pertempuran sengit antara kedua pasukan tersebut. Dalam keadaan terjepit, sultan Carcas mengirim orang kepercayaannya untuk meminta bantuan saudaranya yang menjadi sultan Narbone, Namun pertolongan tersebut tak pernah kunjung tiba hingga sang sultanpun tewas di pertempuran.

Tinggallah permaisuri Carcas yang dengan gigih berusaha mempertahankan benteng. Seluruh warga dikerahkan, laki-laki, perempuan, tua muda. semua bersatu. Bahkan sang permaisuri sendiri terlihat  berlarian dari satu ke menara yang jumlahnya 29 itu ke menara yang lain. Dengan cerdiknya ia juga berusaha mengelabui lawan dengan membuat orang-orangan dari ijuk agar musuh mengira pasukannya masih banyak.

Namun demikian akhirnya pasukan Perancis berhasil mengepung benteng tersebut  dari luar. Walaupun pasukan ini tetap tidak berhasil mendobrak gerbang kota namun mereka berhasil membuat warga menderita kelaparan hebat.  Sementara itu pasukan Perancis hanya  duduk-duduk santai menanti benteng Carcas menyerah.

Hal ini terjadi hingga 5 tahun lamanya. Akibatnya sebagian besar wargapun akhirnya mati  kelaparan. Hingga suatu ketika permaisuri Carcas menemukan sebuah ide. Ia melemparkan seekor anak babi yang ditemukannya ke luar benteng. Ia berharap agar pasukan yang menanti diluar bagai serigala kelaparan itu mengira bahwa warganya tetap bisa bertahan karena masih memiliki persediaan makanan cukup banyak. Oleh karenanya mereka masih mampu membuang seekor babi seenaknya. Padahal umat Islam memang tidak makan daging babi. Dan sebenarnya  merekapun hanya tinggal memiliki sekarung kecil gandum !

Siasatnya berhasil. Charles Martel akhirnya memutuskan untuk pulang. “ Percuma kita menanti berlama-lama disini. Mereka masih mempunyai persediaan makanan cukup. Mari kita tinggalkan saja kota ini”, begitu perintahnya.

Namun pada saat mereka hendak bergerak mundur tiba-tiba seluruh lonceng yang berada di kota benteng tersebut berbunyi. Rupanya sang permaisuri menghendaki adanya negosiasi.

Carcas  .. sonne “, begitu teriak pasukan Perancis. Sonne artinya berbunyi. Maksudnya warga Carcas telah menyerah. Itu sebabnya kemudian kota tersebut dinamakan  Carcassonne …

Di akhir kisah tersebut diceritakan bahwa Charles Martel, calon raja Perancis itu akhirnya meng-‘hadiahkan’ kota yang dengan susah payah ingin direbut tersebut kepada Carcas sang permaisuri. Kemudian permaisuri tersebut menikah  dengan salah satu pengikut setia dan terbaik Charles Martel yang bernama Roger. Perkawinan  politik ini di kemudian hari menurunkan dinasti Trencavel yang terkenal itu. Sayang akhirnya kisah ditutup dengan di baptisnya Carcas sang permaisuri menjadi Nasrani. 😦

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran “. (QS.Al-Baqarah(2):221).

Yang juga cukup menarik, dinasti Trencavel yang secara turun menurun kemudian menguasai Carcassonne dan sekitarnya dianggap pihak gereja terlalu toleran, terutama terhadap pemeluk Yahudi. Maka pada sekitar tahun 1200-an Carcassonne harus menerima akibat dengan diperanginya oleh gereja. Peristiwa ini dikenal dengan nama Perang Salib Cathar ( Cathar Crusade) yang berlangsung selama 20 tahun.

Carcassonne dikepung hingga akhirnya kalah karena kekurangan air. Penduduknya banyak yang meninggal, rajanya, Raymond Roger meninggal di kamarnya sendiri karena dehidrasi alias kekurangan air.  Sementara penduduknya yang masih hidup diusir dari kota dalam keadaan  terhina. Dengan hanya secarik kain penutup mereka harus meninggalkan kota.  Selang beberapa tahun kemudian berakhirlah dinasti Trencavel.

Wallahu’alam bish shawab.

Pau – France, 7 Juni 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Waktu berlalu terasa begitu cepat. Nyaris 1 tahun sudah kami tinggal di Pau, Perancis Selatan. Banyak hikmah yang kami dapati selama tinggal di kota yang tak begitu jauh dari perbatasan Spanyol tersebut, Alhamdulillah .. Terima-kasih banyak Ya Allah .. Semoga hamba-Mu yang hina ini tidak mengecewakan-Mu …

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (QS.Al-Mulk(67):15).

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (QS.Ali Imran(3):137).

Semenanjung Iberia ( Spanyol dan Portugal ) bagi sejarah perkembangan Islam di Eropa memiliki arti yang sangat besar. Ini adalah pintu gerbang bagi masuknya ajaran yang disampaikan melalui nabi terakhir, Muhammad saw pada tahun 600-an ini ke belahan bumi bagian barat.

Sejarah mencatat bahwa hanya berselang tak lebih dari 100 tahun sejak wafatnya Rasulullah saw, Islam telah masuk ke seluruh semenanjung Iberia.  ( Bandingkan dengan ajaran Nasrani yang dibawa Isa as. Ajaran ini baru diakui 300 tahun setelah wafatnya sang rasul. Itupun setelah banyak diselewengankan).

Tidak hanya semenanjung Iberia, bahkan pasukan Islam dibawah pimpinan Musa bin Nushair dan Tariq bin Ziyad yang menaklukkan semenanjung tersebut pada tahun 711 M ini nyaris memasuki jantung Perancis pada tahun 732 M. Ini terjadi di masa pemerintahan Umar bin Abdul Azis. Ia memulai penyerangan dari pegunungan Pirenea yang menjadi batas antara Spanyol dan Perancis. Setelah Bordeaux ditaklukkan, Tours adalah kota sasaran berikutnya. Namun tampaknya Allah swt saat itu belum mengizinkan ajaran Islam masuk ke negri yang saat ini menjadi salah satu lambang pusat mode dunia ini. Pasukan Islam dikalahkan pasukan Perancis dibawah Charles Martel  di Poitiers.

Padahal sebelumnya pasukan ini terlihat tak dapat dibendung.  Septimania, yaitu 7 propinsi Gaul, diantaranya adalah propinsi Aquitaine, Roussillon dan  Narbonne yang terletak di sepanjang laut Mediterania serta propinsi Alpen Maritim di perbatasan Italia dengan Perancis tenggara, jatuh secara berturut-turut sejak tahun 714 M. Narbonne  pada tahun 719 M, Carcassone dan Nimes pada tahun 725 M. Toulouse yang sekarang menjadi satu dari lima kota terbesar Perancispun tak luput dari ancaman. Begitupun Arles dan Provence bahkan hingga Atun dekat kota Lyon, yang terletak jauh di jantung Perancis. Belum lagi sejumlah kepulauan di laut Tengah ( Mediterania ) seperti Sisilia dan Sardinia (Italia), Korsika ( Perancis) dan Majorika ( Spanyol) yang jatuh pada tahun 800-an.

Kekuasaan Islam di Perancis Selatan secara umum memang tak lebih dari 50 tahun. Yang terakhir adalah Narbonne yaitu pada tahun 759M. Kota ini bahkan selama 40 tahun sempat menjadi satu dari lima ibu kota kerajaan Kordoba, disamping Toledo, Zaragoza, Kordoba dan Merida. Tak urung peristiwa bersejarah ini ternyata terukir dalam di hati Napoleon Bonaparte ( 1769 – 1821), raja Italia sekaligus kaisar Perancis penakluk benua Eropa.

Berikut pengakuan Bonaparte mengenai Islam :

“Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia…Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat…Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separoh bola bumi… Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”…..

(hal 105 dari “Bonaparte et L’Islam” oleh Cherfils).

Sebagian sejarahwan bahkan berani menyatakan bahwa pada bulan Juli 1798 ketika Bonaparte berada di Kairo, ia menyatakan ke-Islam-annya di hadapan Sultan Kairo ketika itu… Wallahu’alam ..

Sejarah juga tidak lupa mencatat bahwa selama periode tersebut orang-orang Yahudi dan Kristen tidak pernah dipaksa meninggalkan agama mereka. Sebagai bentuk ketundukkan mereka terhadap pemerintahan Islam mereka hanya diwajibkan membayar jiziyah. Ini adalah semacam biaya perlindungan sebagai ganti zakat, infak dan sedekah yang dikeluarkan umat Islam. Dakwah yang sepertilah yang ternyata justru mampu menaklukkan hati mereka.

Tampaknya ini yang menjadi penyebab utama mengapa Narbone begitu sulit direbut kembali oleh Perancis. Diperlukan waktu 7 tahun lamanya agar kota ini kembali ke pangkuan. Karena justru rakyatlah yang membela pasukan Islam dan tidak menginginkan kembali masuk ke dalam wilayah pemerintahan Perancis. Padahal sebetulnya hanya sebagian kecil saja warga asli Narbone yang masuk Islam. Ini adalah bukti betapa adilnya hukum pemerintahan Islam terhadap warga walaupun berbeda agama.  Subhanallah ..

2009-12 Carcassonne-03Secara pribadi, sungguh merupakan kehormatan bagi kami berkesempatan melihat dan merasakan sendiri denyut kehidupan kota-kota di Perancis, khususnya di  bagian selatan.

 

Chateau de PauIMG_3808

Memang nyaris tak ada catatan resmi tertulis tentang peninggalan Islam di kota-kota tersebut. Namun demikian ada saja sejumlah bangunan di beberapa kota yang tampaknya tidak mampu di hapuskan begitu saja dari sejarah. Paling tidak pengaruh budaya Islam Andalusia yang ketika itu sedang berada dalam masa keemasannya masih terlihat.

Didasari rasa penasaran, setelah beberapa hari surving dan searching di dunia maya, saya menemukan sejumlah berita dan asal usul beberapa  kota di wilayah tersebut.

Di ujung selatan antara Perancis dan Spanyol sebelah timur laut terdapat sebuah wilayah bernama Catalan dalam bahasa Perancis  atau Llivia dalam bahasa Spanyol.  Ternyata kota ini dulunya pernah memiliki nama khas Arab yaitu  Medinet-el-bab yang artinya adalah kota gerbang.  Ketika itu kota ini memang berada di bawah kekuasaan Munuza Utaman Abu Nâsar, seorang panglima Umayah yang mendapat perintah menaklukan kepulauan Sardinia di Italia ditahun730 M.

Menurut kabar, panglima ini menikahi gadis cantik putri bangsawan Perancis Aquitaine yang bernama Lampegie. Sayang cintanya yang begitu besar membuat diri sang panglima menjadi buta dan lalai. Ia dilaporkan berkhianat terhadap tugas negara  hingga akhirnya harus dibunuh.

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (QS. Al-Baqarah(2):221).

RamatuelleBerikutnya adalah Ramatuelle. Ini adalah sebuah kota kecil yang terletak di Provence, Alpes Cote d’Azur, salah satu propinsi Perancis Tenggara. Kota yang terletak tidak jauh dari St Tropez, kota di pantai Mediterania yang menjadi tempat tujuan para selebritis ini ternyata menyimpan sebuah rahasia.

Kota ini terletak di pegunungan massif bernama Les Massif De Maures. Banyak sejarahwan mengatakan bahwa nama ‘Maures’ digunakan karena keberadaan orang Maures yang pada abad 8 hingga 9 banyak menempati daerah tersebut. Maures adalah orang-orang Arab Islam Spanyol yang dulu menempati Andalusia.  Sedangkan nama kota Ramatuelle aslinya dulu adalah Rahmatullah,  sebuah nama Arab yang berarti kasih sayang Allah!

( Bersambung )

Read Full Post »

( Sambungan dari  : “ Menilik Jejak Islam Di Eropa (6) “) .

Kita tinggalkan Toledo dengan sejumlah hikmahnya …

Tujuan kami berikutnya adalah Salamanca dan Burgos yang terletak di bagian barat laut dan utara Spanyol. Saya tidak yakin apakah masih ada jejak Islam yang tertinggal didua kota ini. Jujur saja sebenarnya dua kota ini kami jadikan tujuan karena jarak Toledo – Pau terlalu jauh bila harus ditempuh tanpa bermalam. Sebenarnya Burgos saja cukup. Namun berhubung beberapa teman mengatakan bahwa Salamanca adalah kota yang cukup cantik, maka kamipun memutuskan untuk singgah semalam disana.

Salamanca terletak sekitar 190 km barat laut Toledo. Kota ini hanya 80 km dari perbatasan Portugal. Sedangkan Burgos terletak sekitar 200 km sebelah utara Salamanca.

Seperti halnya kota-kota lain di Spanyol Salamanca selama beberapa ratus tahun berada di bawah kekuasaan Islam setelah sebelumnya dikuasai Romawi dan kemudian Wisigoth. Musa bin Nusair, gubernur propinsi bagian Afrika Utara inilah yang bersama Tarik bin Ziyad menaklukkan kota ini pada tahun 712 M. Musa sendiri dikabarkan bahwa ayahnya dulu adalah seorang pemeluk Yahudi mantan budak yang kemudian masuk Islam pada masa Muawiyah, gubernur pertama Syria, pendiri dinasti Umayah.

Selanjutnya Salamanca dan kota-kota yang ditaklukan Musa dan Tarik berada di bawah pemerintahan kekhalifahan Umayah yang berpusat di Damaskus. Ini terjadi pada masa khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Yang menjadi salah satu kunci mengapa semenanjung ini begitu mudah ditaklukkan pasukan Islam adalah karena pemerintahan Wisigoth ketika itu tidak berlaku adil terhadap rakyatnya terutama dalam hal toleransi beragama.

Contohnya adalah pemeluk Yahudi yang merupakan mayoritas penduduk negri tersebut. Mereka dipaksa berpindah ke agama Kristen, agama para penguasa. Mereka yang menolak dibunuh atau disiksa secara brutal. Itu sebabnya ketika pasukan Musa dan Tarik datang rakyat Spanyol menyambut mereka dengan senang hati. Apalagi ketika mengetahui bahwa   Islam tidak pernah memaksa warganya untuk berpindah agama. Bahkan orang-orang Yahudi yang tadinya hidup paling menderitapun diberi kebebasan, perlakuan dan kesempatan yang sama dengan warga lain.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.(QS. Al-Baqarah(2):256).

Pada tahun 750 M kekhalifahan Umayah yang berdiri pada tahun 661 M digulingkan oleh bani Abbasiyah. Salamancapun berpindah menjadi bagian dari kerajaan Kordoba yang didirikan pada tahun 756 M oleh Abdul Rahman I. ia adalah raja terakhir Umayah yang berhasil melarikan diri dari kejaran bani Abbasiyah.

Namun kekuasaan Islam di kota ini sedikit demi sedikit berkurang sejak tahun 939 M hingga akhirnya hilang sama sekali begitu raja Kristen Alphonso VI berhasil menaklukan Toledo pada tahun 1085 M.

University of Salamanca

University of Salamanca

Salamanca saat ini adalah kota pelajar. Di kota ini terdapat universitas tertua di Eropa, yaitu  Universitas of Salamanca yang berdiri pada tahun 1218 M. Universitas ini juga merupakan universitas ke 5 tertua di barat.  Namun dibanding dengan kota-kota Islam lainnya pendirian pusat ilmu ini tergolong ketinggalan jauh. Karena universitas di kota-kota Islam telah berkembang pesat sejak tahun 700-an.

Kami memasuki Salamanca pada hari Jum’at tengah malam. Dari kejauhan puncak menara katedral yang terletak di ketinggian dengan lampu-lampunya yang terang benderang terlihat mendominasi kota. Tujuan kami adalah hotel yang telah kami booking beberapa hari sebelumnya. GPS di mobil mengarahkan kami untuk mendekati lokasi tersebut. Kota terlihat sangat sepi. Tampaknya kota tua ini telah terlelap dalam tidurnya. “ Tentu saja sudah tengah malam”, pikir saya ketika itu.

Namun ternyata saya salah duga. Karena makin mendekati hotel yang tampaknya terletak di pusat kota kehidupan makin terlihat semarak. Sekumpulan pemuda pemudi terlihat lalu-lalang. Ada yang duduk-duduk bergerombol di jalanan. Ada yang berdua-duan duduk di restoran. Sebagian terlihat mabuk. Aneh juga. Ini kan tengah malam.

Ada pertandingan sepak bola kali ya.. ”, terka suami saya tak kalah heran.

Begitu sampai di hotel kami menanyakan hal tersebut kepada resepsionis. Ternyata itu hal biasa. Mereka adalah para pelajar dan mahasiswa yang merupakan mayoritas penduduk Salamanca. Itulah yang mereka lakukan setiap malam Sabtu. Kongkow-kongkow, makan, minum dan ngobrol di kafe yang banyak tersebar di kota ini. Dan tentu saja mabuk-mabukan .. Olala ..

Wah , serem juga ya kalau punya anak kuliah di kota ini “, begitu suami saya berkomentar. Tampak sekali kehidupan mereka begitu bebas. Ya .. memang mengerikan sekali ..

Esok paginya kami berjalan-jalan keliling kota. Sungguh aneh .. kali ini kota seperti kota mati !  “ Palingan masih pada tidur  .. kan kemarin pada begadang sampai pagi “, kali ini putri kami yang berkomentar.

Tetapi ketika kami mendekati lokasi sekitar katedral, keadaan sedikit lebih ramai. Sejumlah restoran terlihat mulai bersiap-siap menata kursi-kursi di jalanan. Para turis lokal bercampur dengan warga setempat berdatangan meramaikan suasana. Sementara di depan katedral  terlihat sebuah kereta mini turis. Kamipun memutuskan menggunakan kereta tersebut untuk berkeliling kota.

Plaza Mayor, tempat berkumpulnya warga

Plaza Mayor, tempat berkumpulnya warga

Namun karena kereta baru akan berangkat 2 jam lagi maka kami memanfaatkan waktu untuk melihat-lihat pemandangan sekitar katedral. Diantara sejumlah bangunan tua yang kami lihat seperti Old Katedral, New Katedral, gereja-gereja tua, universitas, plaza mayor dll tak sedikitpun tercatat adanya tanda-tanda peninggalan Islam di kota tua ini.

Mungkinkah selama 250 tahun lebih Islam tidak memberikan sumbangsihnya ke kota ini? Entahlah .. yang jelas kejadian tersebut memang telah berlalu hampir 1000 tahun yang lalu .. jadi kalaupun ada pasti pemerintahan baru telah merubah fungsinya … masuk akal..

Oya, ada sedikit kejutan. Ketika itu kami sedang berjalan-jalan melihat toko-toko suvenir  yang banyak berjejer di sepanjang jalan.  Tiba-tiba kami melihat sebuah toko yang memajang patung Garuda raksasa secara mencolok. Karena penasaran kamipun mendekatinya. Ternyata benar, patung tersebut berasal dari Indonesia. Lumayan .. ada sedikit rasa bangga nama negri kita ternyata cukup dikenal … 🙂

Singkat cerita, setelah makan siang dan berkeliling kota dengan kereta mini kamipun kembali meneruskan perjalanan, yaitu ke Burgos. Kami menginap di kota ini satu malam. Seperti biasa Katedral yang terletak di pusat keramaian kota menjadi pusat tempat berkumpulnya warga dan turis,baik turis lokal maupun turis asing.

Menurut saya Burgos lebih cantik dan lebih asri dari Salamanca. Apalagi dengan adanya Rio Arlanzon, sungai yang membelah kota. Rio dalam bahasa Spanyol artinya adalah sungai. Sejumlah jembatan tampak menghubungkan bagian kota lama dan bagian baru kota ini.

Menurut sejarah Burgos awalnya adalah kota militer yang didirikan pihak Kristen Spanyol dalam rangka mencegah perluasan kekuasaan Islam yang makin hari makin luas saja. Kota ini didirikan pada tahun 884 M. Bekas benteng tersebut masih dipertahankan dan menjadi salah satu obyek wisata. Benteng ini terletak strategis di atas bukit.

Saat ini Burgos menjadi kota tempat persinggahan para pezirah Kristen yang akan melaksanakan  ziarah ke Saint Jacques de Compostelle. Kota yang terletak di ujung barat Spanyol ini  dinobatkan sebagai satu dari tiga kota tersuci umat Kristen ( disamping Yerusalem dan Vatikan). Lucunya ketetapan ini baru dikeluarkan dewan gereja ribuan tahun setelah di-‘salib’nya Isa as yang mereka tuhankan, yaitu sejak kejatuhan Al-Andalusia secara keseluruhan ditahun 1492M.

Spanyol secara umum saat ini memang terlihat ‘paling Kristen’ dibanding kota-kota Eropa lainnya. Namun anehnya, beberapa hari yang lalu saya menerima kabar yang cukup mengejutkan.

Seorang perempuan Inggris berusia 28 tahun dengan suka rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk memodali program ‘Atheismesisasi’. Ia dikabarkan memesan slogan raksasa bertuliskan kurang lebih begini “ Tampaknya Tuhan itu tidak ada. Mari kita nikmati kehidupan duniawi dengan sebebas-bebasnya  !! “.

Slogan ini rencananya akan ditempelkan di sepuluh bus turis merah London yang terkenal itu. Namun ternyata rencana ini diprotes warga termasuk para pengemudi bus yang bersangkutan. Surutkah keinginan gadis yang meragukan keberadaan Tuhan ini?

Sama sekali tidak … Karena tak lama kemudian tersiar kabar bahwa sejumlah bus di Barcelona, Spanyol menempelkan slogan pesanan gadis tersebut .. Na’udzubillah min dzalik ..

Tampaknya Spanyol dengan gereja-gereja cantik nan megahnya bakal mengalami nasib sama dengan  gereja-gereja lain di seluruh penjuru Eropa, yaitu ditinggalkan umatnya dan hanya menjadi lambang kebanggaan kota …

Wallahu’alam bi shawab.

Pau – France, 31 Mei 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »