Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Perjalanan’ Category

P1020190Kremlin (benteng) Kazan terletak di atas bukit kecil. Dari kejauhan masjid Kul Syarif yang selama ini hanya kami lihat melalui internet memamerkan menaranya. Saking semangatnya saya langsung menarik suami untuk mendekatinya, tanpa mencari tahu dahulu dimana pintu masuknya. Dan memang kami kecele karena untuk memasuki masjid harus melalui satu-satunya pintu, yaitu pintu utama benteng. Bersama beberapa wisatawan yang juga kecele, kami terpaksa berputar.

Namun tidak rugi juga karena dari atas bukit di luar benteng ini pembangunan kota baru terlihat jelas. Kazan memang sedang merayakan 10 abad berdirinya kota. Pembangunan besar-besaran dan renovasi dipusatkan di Kremlin dan sekitarnya, yang dulunya adalah pusat kota. Pembangunan ini dimulai sejak tahun 2005, tepat pada perayaan 1000 tahun lahirnya kota, yaitu tahun 1005. Kazan rupanya juga dipersiapkan untuk menerima tamu manca negara dalam rangka Piala Dunia 2018. Stadion sepak bola berskala dunia dibangun persis menghadap masjid Kul Syarief.

P1020248P1020252P1020253Sesampai di depan pintu gerbang, sebuah monumen pembebasan dan beberapa lukisan batu para pahlawan Kazan telah menanti. Yang menarik disamping deretan lukisan tersebut terpampang tulisan dengan huruf hijaiyah. Apakah ini cuplikan ayat Al-Quran ? Tidak ada keterangan.

P1020209Di dalam Kremlin berdiri sejumlah bangunan, ada gedung pemerintahan, museum, gereja  dll.  Masjid Kul Syarif sendiri terletak di bagian agak belakang. Namun kemegahannya terasa mendominasi areal ini. Masjid yang kabarnya merupakan masjid terbesar di Eropa ini diresmikan pembukaannya pada tahun  2005, bertepatan pada hari jadi kota ini. Tercatat lebih dari lima ribu umat Muslim dari seluruh kawasan Rusia dan  lebih dari 40 perwakilan negara termasuk perwakilan PBB dan Dewan Eropa datang menghadiri acara akbar ini. Ini adalah sebuah acara yang sejak lama dinantikan penduduk kota yang lebih dari separuhnya Muslim ini, sebagian besar etnis Tatar.

P1020214Masjid ini didirikan di masa kerajaan Khanat Kazan. Tetapi seiring dengan kejatuhan kerajaan oleh serbuan pasukan Ivan the terrible dari Moskow, masjidpun ikut menjadi korban. Ia dihancurkan pada tahun 1552. Itu sebabnya masjid ini diberi nama Kul Syarif, sebagai penghormatan terhadap pemimpin kerajaan Kul Syarif, yang terbunuh ketika sedang mempertahankan kerajaan benteng tersebut. Pada peristiwa tersebut penduduk hanya diberi 3 pilihan, tetap hidup namun harus berpindah agama menjadi Kristen Orthodoks, mati atau meninggalkan kota. Tercatat jutaan penduduk memilih mati. Rumah ibadah milik bangsa Tatar ini baru direkonstruksi kembali pada tahun 1996.

OLYMPUS DIGITAL CAMERASayangnya, masjid berwarna biru megah nan rupawan ini ternyata TUTUP! Padahal kami sungguh berharap dapat melaksanakan shalat di dalam masjid yang bagian dalamnya tak kalah indahnya dengan bagian luarnya itu. Kami sungguh ingin melihat dan menjadi saksi kecantikan tidak hanya bagian luar masjid tapi juga bagian dalamnya. Kami berusaha mencari informasi mengapa masjid tutup, apakah ini hanya sementara atau jangan-jangan hanya berfungi sebagai museum alias pajangan belaka. Namun sampai kami meninggalkan lokasi kami tidak menemukan jawaban yang memuaskan.

P1020230Sebaliknya kami sempat menyaksikan sepasang pengantin sedang berpose tidak jauh dari tempat kami berdiri. Mereka menjadikan bekas masjid yang diperkirakan dapat menjadi bukti bahwa Kazan telah berdiri lebih dari 10 abad yang lalu, sebagai latar belakang pemotretan tersebut. Uniknya lagi, pasangan pengantin Muslim ini menggunakan kereta kuda sebagai kendaraan pengantin mereka, bukan limusin, sebagaimana pasangan-pasangan pengantin yang kami saksikan di Moskow beberapa hari yang lalu.

P1020228P1020244Selain itu kami juga melihat adanya prasasti mausoleum para khan. Disinilah dulu para khan dimakamkan. Juga sebuah prasasti berbahasa Arab yang sayangnya kami tidak tahu itu prasasti apa. Puas berkeliling di dalam kremlin kamipun meninggalkan areal dan menuju stasiun metro yang terletak di samping gerbang utama.

P1020256Pengadaan transportasi umum masal metro ini juga bagian dari perayaan 1000 tahun ulang tahun kota, dibuka pada tahun 2005. Yang unik, ke 7 stasiun yang dimiliki alat transportasi ini dibangun dengan nuansa Islami. Saya membayangkannya seperti suasana hidup di negri Aladdin.  🙂 …

Dengan bermodalkan peta ditangan, kami turun di salah satu stasiun yang kami perkirakan paling dekat dengan sebuah masjid yang ingin kami kunjungi. Namun pada kenyataannya kami tersasar. Sepasang anak muda yang kami jumpai di sekitar lokasi tidak memberikan jawaban yang memuaskan.

Setelah berjalan dan bertanya kesana kemari tanpa hasil, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sebentar dan makan siang di sebuah resto cepat saji yang ada di dekat kami. Ketika itulah tiba-tiba saya melihat sebuah menara menyembul di kejauhan.

“Yah, itu menara masjid bukan?”, teriak saya kegirangan kepada suami.

Secepatnya kami memesan makanan dan melahapnya dengan suka ria, membayangkan sebentar lagi kami bisa sampai tujuan. Meski ternyata untuk mencapai tempat tersebut dibutuhkan waktu yang tidak sedikit, dan tidak terlalu mudah pula.

P1020326P1020333Kami tiba di masjid bernama Zakabannaya atau The Anniversary Of Islam Mosque ini di detik2 terakhir waktu Asar, dengan nafas tersengal-sengal. Masjid yang dibangun pada tahun 1922 sebagai peringatan 1000 tahun Islamnya kerajaan Volga Bulgar ini, ketika kami masuk, dalam keadaan sepi.

Seorang penjaga yang sedang duduk di balik meja menyambut kedatangan kami dengan wajah sedikit terheran-heran. Kelihatannya masjid ini jarang didatangi tamu berwajah asing seperti kami. Saya segera dipersilahkan naik ke lantai atas begitu ia mengetahui kami hendak mengerjakan shalat. Meski ternyata lantai atas hanya terdiri atas ruang-ruang kelas. Tidak masalah, saya segera menggelar sajadah yang tergantung di salah satu kursi di dalam ruangan tersebut dan mendirikan shalat Zuhur dan Ashar yang digabung.

Dari Muadz bin Jabal bahwa Rasululloh SAW apabila beliau melakukan perjalanan sebelum matahari condong (masuk waktu sholat zuhur), maka beliau mengakhirkan sholat zuhur kemudian menjamaknya dengan sholat ashar pada waktu ashar, dan apabila beliau melakukan perjalanan sesudah matahari condong, beliau menjamak sholat zuhur dan ashar (pada waktu zuhur) baru kemudian beliau berangkat. Dan apabila beliau melakukan perjalanan sebelum magrib maka beliau mengakhirkan sholat magrib dan menjamaknya dengan sholat isya, dan jika beliau berangkat sesudah masuk waktu magrib,maka beliau menyegerakan sholat isya dan menjamaknya dengan sholat magrib. (Hadits Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).

Tak berapa lama setelah itu azan Magribpun terdengar. Saya meneruskan shalat sendiri, tetap di lantai atas. Setelah itu baru turun. Disitu, saya melihat suami sedang berbincang dengan beberapa jamaah. Syukurlah mereka bisa berbahasa Inggris, kata saya dalam hati. Suami saya memperkenalkan saya kepada mereka.

Tak dinyana, ternyata salah satu dari mereka itu adalah imam masjid sekaligus dosen  Universitas Islam Rusia (UIR). Universitas yang didirikan pada tahun 1998 ini memang terletak di Kazan. Suami saya juga sempat berbisik kepada saya bahwa salah satu anak muda yang ada di hadapan kami itu adalah yang tadi menjadi imam shalat “Bacaannya bagus banget”, bisiknya… Masya Allah  …

Yang lebih surprised lagi, begitu sang dosen tahu bahwa kami berdua ini jauh-jauh ke Kazan ingin melihat perkembangan Muslim di kotanya, ia langsung menawarkan kami untuk datang ke kampusnya, malam itu juga! Tanpa berpikir dua kali kamipun segera meng-iya-kan tawaran istimewa tersebut.

“Pulangnya gimana yah, diantar g yaa”, bisik saya sedikit khawatir, dalam perjalanan di atas mobil tuanya yang dipenuhi buku-buku itu. Bukan apa-apa, ini saya tanyakan karena ternyata universitas terletak agak jauh dari lokasi masjid, malam hari pula.

Tetapi kekhawatiran tersebut segera hilang tertutup kegembiraan yang meluap melihat kenyataan kami bisa masuk kampus tanpa kesulitan. Dosen ekonomi dan keuangan universitas ini mengajak kami berkeliling dan memasuki kelas-kelas yang menempati gedung berlantai 4 ini. Sambil berkeliling ia bercerita tentang Islam di negri ini.

Berfoto bersama dosen UIR

Berfoto bersama dosen UIR

Menurutnya hal terpenting yang harus dibangun umat Islam di negrinya adalah segera mengejar ketertinggalan mereka dalam sains dan ekonomi. Sementara tantangan terberat adalah isu terorisme. Darinya, kami mendapatkan jawaban pertanyaan tadi pagi yang belum terjawab, yaitu mengapa masjid Kul Syarief tutup …

Jawaban tersebut ternyata adalah adanya ancaman bom tepat di hari raya iedul adha beberapa hari yang lalu. Persis dengan masjid biru St Petersburg yang tutup dan puluhan polisi Moskow yang berjaga-jaga di sekitar masjid dan stasiun metro tepat ketika kami berdua sedang berada di 2 kota tersebut beberapa hari lalu. Ironisnya, penyebar ancaman tersebut dari kelompok Islam juga ! Apakah ini hanya provokasi pihak lain? Ntahlah. Yang pasti betapa sayangnya bila Islam harus ternodai perpecahan di dalam tubuh sendiri apalagi kalau bukan menyangkut hal yang pokok. Padahal Islam di Rusia saat ini sedang berada di atas angin.

Contohnya ya Universitas Islam Rusia ini. Kampus ini termasuk perguruan tinggi Islam terbesar di Rusia. Menurutnya saat ini kampus memiliki sekitar 800 mahasiswa, 400 diantaranya tinggal di asrama. Kampus  ini membuka program S1 dan S2 untuk beberapa bidang studi, termasuk program Tahfidz Al-qur’an yang menjadi program andalan universitas ini. Kampus juga memiliki masjid sendiri yang berdiri megah disamping kantin kampus.

Tak sampai 1 jam kami berada di dalam kampus dan berbincang, sebelum akhirnya pak dosen berpamitan. Oya, di depan gerbang kampus kami sempat berpapasan dengan beberapa anak muda yang memberi salam kepada beliau.

“Itu mahasiswa tahfiz”, terang beliau. Masya Allah …

Sekarang tiba giliran kami kebingungan mencari jalan pulang ke hotel. Hari telah larut malam. Kami segera berjalan menuju perempatan jalan raya dimana sejumlah bus tampak masih lalu lalang. Masalahnya bus yang mana yang melalui depan atau sekitar hotel …

Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada seorang gadis muda berjilbab sedang menyeberang jalan, kelihatannya ia baru turun dari bus. Saya langsung menghampirinya,

“Assalamualaykum”, tegur saya, sebuah teguran umum yang pasti menyentuh semua Muslim di belahan dunia manapun.

“Waalaykum salam”, jawabnya sambil tersenyum ramah.

“ Do you speak English ?”, tanya saya penuh harap.

“ No .. yes, but just a little”, jawab gadis bermata biru ini, ragu, namun tetap dengan nada ramah.

Saya segera menunjukkan peta yang saya punyai dan menyebut nama hotel yang kami tinggali. Dengan bahasa gado-gado, antara bahasa Inggris yang benar-benar pas-pasan dan bahasa isyarat, ia menerangkan no bus yang harus kami tumpangi.

Di sela-sela itu kami sempat menyaksikan beberapa gadis kecil berjilbab menghampiri dirinya, mengucap salam dan mencium tangannya. Ternyata gads muda tersebut mahasiswi S2 universitas yang baru saja kami kunjungi dan gadis-gadis kecil tersebut adalah yuniornya, Subhanallah …

Sementara itu, mengetahui bahwa kami terlihat agak bingung dan ragu akan keterangannya, gadis tersebut mengantar kami hingga ke halte bus. Tak tanggung-tanggung, ketika bus datang, iapun ikut naik bus, dan menerangkan kepada ‘kenek’ bus yang juga perempuan, kemana kami hendak pergi dan memintanya agar memberi tahu kami dimana kami harus turun. Hebatnya lagi, di stasiun berikutnya iapun turun! Allahuakbar  … rupanya ia naik bus dengan tujuan agar kami tidak tersesat …. Ya Allah balaslah kebaikan dan ketulusan muslimah Rusia tersebut dengan yang jauh lebih baik, aamiin …

Malam  itu kami menutup hari dengan makan malam di resto hotel dengan menu caviar, menu khas Rusia yang dikenal eksklusif itu, namun ternyata harganya masih bisa kami jangkau, dengan hati yang puas. Alhamdulillah …

“Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman(55):25).

( Bersambung).

Read Full Post »

Alhamdulillah, puji syukur kupersembahkan hanya pada-Mu ya Allah. Dengan izin-Mu tiba juga kami akhirnya di Kazan. Hari itu ialah Minggu 29 Oktober 2012. Kami melakukan penerbangan menuju Kazan dari St Petersburg setelah transit dulu di Moskow. Kazan adalah ibu kota Tatarstan, yang merupakan satu dari 83 negara bagian Rusia.

Kota ini terletak di sebelah timur Moskow dengan jarak 862 km, sementara jarak Moskow dan St Petersburg yang terletak di barat laut Moskow adalah 705 km. Sebuah jarak yang cukup jauh bila harus ditempuh melalui darat. Pesawat mengudara pada hari Minggu pukul 4.30 pagi. Sekitar 1 jam kemudan pesawat mendarat di bandara Moskow dengan selamat. Sayangnya para penumpang tidak dapat turun karena salju mulai turun padahal pesawat tidak dilengkapi belalai. Maklum penerbangan domestik. Ketar ketir juga hati ini, karena penerbangan kami berikutnya hanya tinggal 1 jam saja.

« Kalo lihat cuaca kayak gini, palingan penerbangan kita juga mundurlah. Tenang aja”, begitu perkiraan suami, berusaha menenangkan hati.

Untung tidak sampai 30 menit kemudian para penumpang diizinkan turun. Maka kamipun keluar dari pesawat dibawah curahan salju yang makin deras dan landasan yang licin karena mulai tertutup lapisan salju. Kami segera menuju ke terminal penerbangan selanjutnya. Ternyata dugaan suami benar, pesawat delay, tanpa pemberitahuan pasti untuk berapa lama.

Satu jam kami menunggu, hingga akhirnya ada pemberitahuan bahwa pesawat akan terbang dan para penumpang dipersilahkan menaiki pesawat. Dengan hati senang, lega bercampur was-was kamipun menaiki pesawat. Salju belum berhenti turun, landasanpun masih tertutup salju tebal, mungkinkah pesawat bisa terbang, begitu pertanyaan kami.

IMG_0909Benar saja, setelah semua penumpang telah siap di dalam pesawat, pesawat memang tidak bisa meninggalkan landasan. Selama 2 jam kami dalam keadaan demikian, menunggu di dalam pesawat, menyaksikan dari jendela pesawat salju yang turun makin lama makin tebal menutupi landasan. Dengan hati was-was kami hanya bisa berdoa, memohon agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Saat menjelang terbang kami juga sempat mendengar suara berisik di atap pesawat, ternyata suara tersebut adalah salju di atas tubuh pesawat yang sedang dikerok !

“Dia-lah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, … …”.(QS.Ar-Raad(13):12-13).

Maka ketika akhirnya pesawat terbang dan mendarat dengan selamat di bandara Kazan, alangkah senang dan leganya hati ini. Dari jendela kaca pesawat terlihat cuaca kota yang terbalik 180 derajat di banding di Moskow. Pilot mengumumkan bahwa temperatur di kota tersebut 28 derajat Celcius.

Sayangnya, kegembiraan kami sedikit ternodai dengan kenyataan bahwa bagasi kami tidak terangkut! Rupanya kondisi buruk di Moskow pagi tadi tidak memungkinkan petugas memindahkan bagasi kami ke pesawat yang kami tumpangi ini. Sebenarnya kami bisa memaklumi hal ini kalau saja petugas bandara dapat menerangkan keadaan tersebut dengan jelas.

Masalahnya tak satupun petugas bandara yang bisa berbahasa Inggris. Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya membuat laporan baggage claim dalam keadaan seperti ini. Ini masih ditambah lagi dengan form isiannya yang dalam huruf dan bahasa Rusia. Meski akhirnya dengan susah payah, kami dapat mengerti info yang diberikan, bahwa besok kami harus mengambil bagasi tersebut di bandara. Karena tidak ada jasa pelayanan pengiriman bagasi ke hotel, meski itu sebenarnya adalah tanggung jawab Aeroflot, satu-satunya maskapai penerbangan domestik yang dimiliki negri ini. Yaah, apa mau dikata, padahal waktu kami sangat singkat dan jarak bandara ke pusat kota tidak dekat  … 😦

Singkat kata, dengan mengendarai taxi, sampailah kami di hotel tanpa kesulitan berarti. Alhamdulillah recepsionis hotel bisa berbahasa Inggris. Setelah check in, kami segera keluar lagi, dan dengan berjalan kaki tibalah kami di Kremlin Kazan yang merupakan obyek utama  kota ini.

P1020190Tapi rupanya rute yang kami lalui ini sedang dalam tahap pembangunan, termasuk pedestriannya yang super lebar ini. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan ini sedang direnovasi dengan bangunan model klasik yang cantik, menampakkan nuansa Eropa yang kental. Pedestrian ini berujung di Kremlin yang terletak di atas bukit kecil. Seperti yang telah saya katakan di artikel sebelum ini, Kremlin sebenarnya adalah kata untuk menunjukkan kompleks gedung pemerintahan yang dipagari benteng. Demikianlah Kremlin Kazan ini.

Sejarah Kazan adalah sejarah yang panjang. Kota ini didirikan pada tahun 1005 di pertemuan sungai Volga dan Kazanka oleh bangsa Bulgaria Volga. Bangsa Bulgaria Volga sendiri adalah bangsa yang dipimpin oleh kerajaan dengan nama yang sama, yaitu Bulgaria Volga, yang berkuasa pada abad ke 7 hingga abad 13.

Pada tahun 922 raja kerajaan ini menjalin kerja sama dengan kerajaan Abbasiyah di Baghdad. Ia mengirimkan duta besarnya. Sebagai balasan, kalifah Baghdadpun mengirimkan duta besarnya. Dan dari duta besar inilah sang raja kemudian mengenal Islam dan akhirnya bersyahadat. Selanjutnya kerajaan pagan inipun menjadikan Islam sebagai agama resmi Negara. Vladimir I dari Kiev kabarnya pernah ditawari agar memeluk Islam, namun menolak dengan alasan wine, terlalu nikmat untuk ditinggalkan.

Kerajaan Islam Bulgaria Volga ini jatuh pada tahun 1238 M oleh serangan bangsa Mongol yang dipimpin oleh Jochi Khan, yang kemudian mendirikan kekaisaran Kipchak Khanate atau Golden Horde dan menjadikannya bagian dari kekaisarannya. Ia merebut banyak sekali wilayah Eropa Timur dan Asia Tengah. Jochi adalah anak pertama Jengis Khan, sekaligus paman Hulagu Khan, cucu Jengis Khan yang terkenal sadis itu. Hulagu inilah yang bertanggung-jawab atas hancurnya kerajaan Islam terbesar Abbasiyah waktu itu. Ini terjadi hanya 20 tahun setelah jatuhnya Bulgaria Volga, yaitu pada tahun 1258M. Ini masa terpahit bagi sejarah Islam yang berhasil diporak-perandakan pasukan Mongol, secara kejam dan brutal pula.

P1020238Pada masa inilah Kazan yang berpusat di Kremlin didirikan. Menara Söyembikä yang saat ini masih berdiri tegak di dalam kawasan tersebut adalah buktinya. Sayang menara bergaya abad pertengahan yang dulunya bagian dari masjid itu kini hanya tinggal tugu kenangan belaka.

Sementara itu, Kipchak Khanat dibawah Berke Khan yang memimpin pada tahun 1257 M menjalin hubungan yang sangat erat dengan kerajaan Islam Mameluk di Mesir. Berke ( ada pendapat bahwa nama ini berasal dari kata Berkah dalam bahasa Arab) memang seorang pemeluk Islam. Ia adalah cucu Jochi dan sekaligus sepupu Hulagu.  Berkat jasa Berke inilah kerajaan-kerajaan Islam selain Abbasiyah luput dari ambisi jahat Hulagu untuk terus menaklukan dunia Islam. Berke berhasil membuat Hulagu dan pasukannya sibuk berperang dengannya hingga terpaksa mengubur dalam-dalam cita-cita kejamnya itu.

Kipchak Khanat mencapai puncak kejayaannya dibawah kekaisaran Oz Beg Khan yang memerintah dari tahun 1313 hingga 1341 M. Kekuasaannya meliputi sebagian wilayah Asia Tengah, sebagian besar wilayah Eropa Timur; dari pegunungan Ural, pesisir barat sungai Danube hingga jauh ke pedalaman Siberia, termasuk Moskow. Di sisi selatan kekuasaannya hingga ke tepi laut Hitam, pegunungan Kaukasus hingga perbatasan dinasti Mongol.

Seperti Berke, Oz Beg juga seorang Muslim, Ia mememeluk Islam ketika dalam pengasingan. Ia jatuh cinta kepada Islam berkat perkenalannya dengan seorang sufi kenamaan dari Bukhara. Ketika itu Oz Beg diasingkan oleh musuh politiknya yang membunuh ayah dan mengawini ibunya secara paksa. Setelah akhirnya ia berhasil menduduki lagi haknya sebagai khan, ia menjadikan kerajaannya sebagai kerajaan Islam dan menjadikannya kesultanan. Kesultanan ini mampu menyaingi kejayaan kesultanan-kesultanan lain yang ada di Timur Tengah yang saat itu juga sedang maju-majunya.

Oz Beg dikenal sangat toleran. Bahkan Paus John XXI pernah mengiriminya surat tanda terima-kasih atas sikap Oz Beg yang mengizinkan kaum Nasrani beribadah di gereja dan melindungi mereka. Kebijakan pemungutan jizyah terhadap kaum dzimmipun diberlakukan dengan baik. Kaum dzimmi adalah para ahli kitab yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tinggal di Negara Muslim.

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk “.(QS.At-Taubah(9):29).

“Siapa jua yang beragama Yahudi atau Nasara, dia tidak boleh dipaksa meninggalkan agamanya dan wajib ke atasnya jizyah” [HR Abu Ubaid].

Dinarasikan Ibnu Mas’ud RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menyakiti seorang kafir dzimmi, maka aku kelak yang akan menjadi musuhnya. Dan siapa yang menjadikanku sebagai musuhnya, maka aku akan menuntutnya pada hari kiamat.”

Sayangnya sejak tahun 1430 kesultanan ini mulai bercerai berai menjadi kerajaan kecil-kecil, Khanat Kazan yang berdiri pada tahun 1438 adalah salah satunya. Kerajaan ini menjadikan Kazan sebagai ibu kotanya. Sementara itu Moskow juga mulai memberontak dan menolak membayar jizyah. Akhirnya pada tahun 1552 M, dibawah Ivan the terrible, penguasa Moskow, Khanat Kazanpun jatuh. Kipchak Khanat sendiri ambruk nyaris secara keseluruhan pada tahun 1516 dan baru benar-benar hancur pada 1783. Selanjutnya kekaisaran Rusia dibawah para tsar menguasai wilayah yang luas ini.

IMG_3722Namun jatuhnya Khanat Kazan inilah tampaknya yang dianggap menjadi puncak titik kemenangam Rusia. Ini terbukti dengan didirikannya katedral St Basil, gereja cantik di dalam Kremlin Moskow yang merupakan ikon Rusia itu. Katedral ini dibangun pada tahun 1555- 1561 atas perintah emperor Ivan the terrible untuk memperingati jatuhnya Kazan. Dan, saat ini katedral tersebut menjadi simbol arsitektur tradisional Rusia !

P1020385Dalam hati saya berpikir, mungkin ini adalah jawaban pertanyaan saya mengapa gereja-gereja di Rusia, khususnya Moskow, sangat menyerupai bangunan masjid. Kalau memang benar, “Alangkah ironisnya … “…. 😦  …

( Bersambung).

Sumber :

http://www.hidayatullah.com/read/10675/09/02/2010/berke-khan-dan-golden-horde-.html

Read Full Post »

Masjid yang didominasi warna orange ini diberi nama Historical Mosque. Letaknya memang agak tersembunyi, yaitu di tengah-tengah kompleks gedung apartemen. Pantas kami tidak dapat menemukannya.

IMG_3674Masjid masih tampak ramai. Sisa-sisa perayaan hari raya Iedul Adha masih terlihat. Disana-sini orang bergerombol sambil ngobrol, bercanda dan makan minum. Kami berdua langsung menuju pintu masjid. Sayang saya tidak diperkenankan masuk karena masjid disesaki kaum lelaki yang tengah sibuk mempersiapkan shalat Jumat, meski waktu zuhur masih 2 jam lebih. Saya terpaksa harus puas menikmati masjid dari luar, sementara menanti suami yang masuk untuk tahiyatul masjid.

IMG_3662Historical Mosque dibangun pada tahun 1823. Tsar ( kaisar) Aleksandre I mengizinkan pembangunannya sebagai tanda penghargaan kepada pasukan berkuda Tatar dan Bashkir yang telah berhasil memasuki Paris dalam rangka mengejar Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis yang ketika itu menjadi musuh kekaisaran Rusia. Namun dengan berkuasanya Komunisme di negri ini, seperti juga rumah ibadah agama lain, pada tahun 1937 masjid ditutup secara paksa. Dan baru berfungsi lagi pada tahun 1993 menyusul kejatuhan Komunisme.

Menurut laporan, kaum Muslimin di negri ini meliputi 20% dari total 270 juta penduduk seluruh negara. Mereka ini terdiri lebih dari 35 suku yang memakai sekitar 100 bahasa yang berlainan. Laju pertumbuhan Islam merupakan yang tertinggi dibanding agama lain yang ada di negara ini.

Sayangnya pemerintah pusat menganggapnya sebagai ancaman. Rusia memang  pernah lama dikuasai bangsa Tartar yang Muslim. Dan tampaknya mereka tidak menginginkan hal ini terjadi kembali. Sebagai catatan, Islam mulai masuk ke Asia Tengah khususnya di Bukhara dan Samarkand pada awal abad 8.  Dari kota inilah kemudian Islam menyebar ke Siberia pada abad 15.

Pada abad 11 di masa kekuasaan Vladimir, Islam pernah ditolak karena alasan alkohol dan daging babi, yang sudah menjadi kebiasaan bangsa ini. Meski pada dasarnya mereka menyukai persamaan dan toleransi dalam Islam serta kemudahan dalam ibadahnya. Dan pada akhirnya sang kaisarpun memilih Kristen Ortodoks Yunani sebagai agama resmi Negara, bagi bangsanya yang sangat suka takhayul ini.

Selanjutnya ketika terjadi revolusi pada tahun 1917 semua agama dilarang. Semua rumah ibadah ditutup, kitab suci dibakar, termasuk masjid dan Al-Quranul Karim. Akibatnya masjid yang sebelumnya mencapai 10.000-an setelah itu hanya tinggal 100-an yang fungsi dan penggunaannyapun diatur undang-undang Negara.

Kini pasca jatuhnya komunisme di bekas Uni Sovyet ini tercatat ada lebih dari 7.000 masjid di seluruh Rusia dan tidak sedikit pula Muslim Rusia menjadi pejabat penting, seperti wali kota dan gubernur, disamping pengusaha-pengusaha yang cukup sukses dan kaya raya, ujar Aji Surya, diplomat Indonesia di Moskow dalam salah satu bukunya.

Sulit rasanya membayangkan betapa gembiranya kaum Muslimin yang sempat dikebiri selama puluhan tahun itu. Terutama generasi tuanya tentu saja, yang pasti mengalami masa suram tersebut. Terharu rasanya hati ini menyaksikan anak-anak muda bercampur dengan orang-tua mereka memadati halaman masjid yang asri ini.

Historical Mosque, masjid yang saat ini sedang kami kunjungi ini memang tidak begitu besar, namun terlihat terawatt. Tidak jauh dari sana  berdiri beberapa tenda yang menjual pernak pernik perlengkapan Musim. Ada peci khas Rusia, tasbeh, sajadah, buku-buku Islam termasuk Al-Quran dll. Beberapa anak muda dengan wajahnya yang khas tersenyum-senyum melihat saya mencoba peci Rusia dengan tulisan kaligrafi Allah diatasnya. Ingin rasanya membuka percakapan, demi mengorek keterangan tentang Islam di negri ini, namun pesimis mereka bisa berbahasa Inggris.

Setelah puas mengamati masjid kamipun pergi meninggalkannya. Masih ada 2 masjid yang bisa disambangi di ibu kota ini. Sebetulnya 3, namun yang 1 tidak jelas alamatnya. Sementara yang 1 lagi sulit di akses. Padahal sebenarnya masjid ini unik. Ia didirikan di sebuah kompleks rumah ibadah, bercampur dengan rumah ibadah agama lain. Bahkan kabarnya di kompleks ini 2 bangunan masjid, satu masjid Syiah satu lagi milik Sunni.

Tinggal 1 yang kemungkinan besar bisa dikunjungi. Yaitu Moscow Katedral Mosque. Ini adalah masjid terbesar di Moscow. Mengapa dinamakan Katedral? Entahlah … Rencananya kami akan mengunjungi masjid ini sepulang dari St Petersburg dan Kazan. Hari ini kami akan menghabiskan waktu dengan melihat-lihat kota, terutama Kremlin, yang kemarin malam baru kami lihat dari kejauhan.

Kremlin sebenarnya adalah istilah Rusia untuk benteng dimana di dalamnya berdiri kompleks gedung pemerintahan. Kremlin tidak hanya ada di Moskow namun juga di kota-kota besar Rusia lain, Kazan contohnya. Namun orang terbiasa merujuk Kremlin sebagai pusat pemerintahan Rusia atau Uni Sovyet dimasa Komunisme. Biasanya ini menunjuk pada Kremlin yang ada di Moskow.

Kremlin sejak zaman para tsar hingga Uni Sovyet digunakan sebagai tempat tinggal resmi tsar dan orang no 1 negara. Kremlin ini berada di dalam pelataran dinamakan Red Square. Ia merupakan pusat pemerintahan sekaligus pusat spiritual Rusia. Di kompleks ini berdiri beberapa istana, gereja, museum dan sebuah mall raksasa yang cantik.

Namun kabarnya, presiden Rusia saat ini memilih menempati kantor yang berada di luar kompleks ini. Kelihatannya lokasi ini memang tidak cocok untuk dijadikan kediaman resmi presiden. Terlalu crowded

IMG_3714Beberapa kali kami melihat pasangan pengantin dengan Limosin mewahnya singgah dan berpose di tempat ini.  Turis yang berkunjung ke tempat ini tampaknya bukan hanya wisatawan lokal namun juga mancanegara. Apalagi siang ini udara begitu cerah, matahari bersinar terang meski temperature tidak lebih dari 3 derajat Celcius.

IMG_3739Namun ketika kami sedang asik berfoto ria tiba-tiba saja turun hujan, tidak tanggung-tanggung hujan es! Kami segera berlari mencari tempat berteduh. Kebetulan kami sedang begitu jauh dari mall. Jadi kesanalah kami berlindung.

Kami berada di mall tersebut hingga hujan selesai. Kami makan siang di foodcourt raksasa yang sangat padat pengunjung di lantai dasar mall. Setelah lelah berkeliling, berharap menemukan makanan halal, akhirnya kami terpaksa pasrah dan duduk di salah satu pojok untuk memesan mie sea food di sebuah stand makanan cina.

Setelah itu kami pergi meninggalkan mall dan berjalan menikmati bagian luar Red Square. Di pelataran ini terlihat berjejer kaki lima yang menjual berbagai souvenir Rusia. Setelah puas melihat-lihat dan membeli beberapa sebagai oleh-oleh dan kenang-kenangan, kamipun menuju taman yang ada di dekat situ. Hari telah beranjak sore. Kami belum shalat zuhur dan asar.

Shalat adalah kewajiban bagi seorang yang mengaku Muslim. Dalam keadaan sulit bagaimanapun shalat adalah keharusan. Bahkan ketika dalam keadaan perang sekalipun, meski caranya memang agak berbeda dengan shalat biasa.

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka`at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. … … ”.(QS.An-Nisa(4):102).

Begitupun ketika dalam perjalanan, Allah swt memberikan beberapa keringanan, diantaranya boleh dijamak-qashar (digabung dan diperpendek), dengan syarat-syarat tertentu.

Dari Abu Hurairah, bahwasanya ia pernah shalat bersama Rasulullah saw dua reka’at-dua reka’at dalam perjalanan ke Makkah, selama muqim di Makkah sampai pulang (ke Madinah). (HR. Abu Dawud Ath-Thayalisi).

IMG_3811Untuk itulah maka kamipun segera mencari tempat yang agak tersembunyi dan tidak begitu menarik perhatian. Namun tidaklah mudah. Untung sore itu tidak terlalu ramai. Maka di salah satu deretan kursi taman akhirnya kami shalat sambil duduk. Kami memilih untuk duduk agak berjauhan dan shalat masing-masing. Saya shalat lebih dulu baru suami menyusul tanpa menunggu saya selesai dulu, dengan tujuan untuk saling melindungi dari berbagai macam gangguan.

Ketika saya mengucap salam terakhir itulah saya baru menyadari bahwa ada 2 orang polisi sedang berjalan pelan mendekati suami saya yang masih shalat. Panik juga saya melihat hal tersebut. Tanpa dapat menduga apa yang akan mereka perbuat reflex saya segera berdiri dan mendekati suami saya sambil memandang keduanya. Tanpa terasa keringat dingin langsung keluar, padahal hari begitu dinginnya.

“ Is he alright?”, tanya salah satu diantara polisi tersebut begitu tiba berada dihadapan  kami.

“Yes, of course, he is alright. He is praying”, jawab saya segera.

Polisi tersebutpun lalu berlalu, terus menoleh ke arah kami dan tersenyum sambil mengangkat bahu.

Wuih leganya hati ini, Alhamdulillah, sambil mengingat wajah sipit yang merupakan ciri khas Muslim negri ini. Apakah ia juga seorang Muslim?, pikir saya, wallahu’alam …

 ( Bersambung).

Read Full Post »

Tanpa terasa 3.5 tahun telah berlalu. Dua bulan lagi selesai sudah tugas suami di Paris, Perancis.  Hidup di Eropa memang ada lebih kurangnya. Salah satu lebihnya, kita dapat bepergian dan mengunjungi negara tetangga dengan biaya relatif jauh lebih murah dibanding pergi dari tanah air.

Dan Rusia akhirnya menjadi salah satu tujuan akhir kami.  Ini dikarenakan kami baru mengetahui belakangan bahwa Islam dinegri ini sedang menggeliat dari tidur lelapnya. Video youtube tentang umat Islam yang shalat menyesaki jalanan seperti juga yang pernah terjadi di Perancis sebelum ada pelarangan, menyadarkan kami akan realitas tersebut. Video yang diberi judul “Russia’s serious problem” dan dikomentari dengan nada sinis serta sound track  thriller ini menjadi bukti nyata kebencian dan kejengkelan Barat terhadap Islam.

http://www.youtube.com/watch?v=VCOATypshlY

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar“.(QS. Al-Fath(48):29).

Ini masih ditambah dengan buku “Geliat Muslim Di Rusia” karya Aji Surya, seorang diplomat yang sedang bertugas di Moskow. Dengan begitu jelas ia memaparkan  betapa tingginya antusias masyarakat Muslim Rusia  untuk kembali menjalankan ajaran yang sempat dikebiri ex pemerintahan komunis yang pernah memiliki julukan negri Beruang Merah ini.

“Sesungguhnya antara seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling melengkapi (memperkokoh) satu sama lainnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka dengan bekal semangat persaudaraan sebagaimana dianjurkan Rasulullah saw pada hadist di atas berangkatlah kami menuju Moskow, Rusia. Berkunjung ke Moskow di bulan Oktober, akhir bulan pula, sebenarnya memang bukan pilihan yang tepat. Itu adalah musim dingin, temparatur maksimal hanya 4 derajat Celcius. Namun pilihan kami saat itu hanya ada 2, pergi atau tidak sama sekali. Dan kami memutuskan untuk memilih pilihan pertama, pergi !

Itineri kami adalah Moskow, St Petersburg, Kazan dan kembali lagi ke Moskow. Kami terbang pada hari Kamis, 25 Oktober 2012  dengan menumpang Lufthansa pukul 8.15 waktu Perancis  dengan transit di Franfurt selama kurang lebih 3 jam. Perjalanan Franfurt- Moskow sekitar 3 jam, sementara perbedaan waktu antara Paris dan Moskow 2 jam. Itu sebabnya pukul 16.50 kami baru mendarat di airport Moskow.

Begitu keluar dari airport kami langsung disambut kemacetan luar biasa, kalah mungkin Jakarta. Kendaraan berjalan tidak beraturan, saling salip dan ganti jalur begitu melihat kesempatan. Bahkan tidak jarang tiba-tiba berputar balik melawan arah dan berbelok masuk ke jalan alternative, benar-benar persis seperti di Jakarta ..:-(

Repotnya lagi sang sopir taxi yang kami tumpangi ini tidak bisa berbahasa Inggis. Akibatnya kami hanya bisa pasrah saja dibawa ngebut dan berputar-putar ke sana kemari. Kami hanya bisa berdoa semoga bisa cepat sampai hotel dalam keadaan selamat. Alhamdulillah doa kami di dengar-Nya. Kami tiba di hotel setelah matahari lama telah terbenam. Itupun setelah sang sopir beberapa kali berhenti dan bertanya kepada penduduk setempat.

Jujur kami tidak menyangka bahwa hotel terletak jauh dari pusat kota. Namun yang lebih menyedihkan lagi, ternyata recepsionis hotelpun tidak bisa dan tidak mengerti bahasa Inggris, olala … 😦 …  Dengan menggunakan bahasa tarzan alias bahasa tubuh kami akhirnya berhasil cek-in.

Setelah beristirahat sebentar kami berniat keluar lagi, minimal untuk memastikan posisi stasiun metro terdekat. Karena besok pagi, sebelum matahari terbit, kami harus sudah meninggalkan hotel. Besok adalah hari raya Iedul Adha, kami ingin menjalankan shalat Ied di masjid bersama Muslim Rusia. Ini adalah salah satu tujuan utama kami mengapa kami berada ribuan kilometer dari tempat kami tinggal.

Untuk itu kami sudah siap bakal sulit mendapatkan informasi, tapi harus dicoba daripada besok lebih repot. Benar dugaan kami, recepsionis tidak dapat menangkap pertanyaan kami. Ketika kami hampir putus asa itulah tiba-tiba muncul petugas kebersihan dari dalam. Tampaknya ia mengerti bahwa kami dalam kesulitan. Ia mengatakan sesuatu pada recepsionis. Sang recepsionis segera tersenyum simpul, membuat kami bertanya-tanya ada apakah gerangan.

Tak lama kemudian perempuan Rusia berbadan lumayan gemuk yang tampak hobby tersenyum itupun mengetikkan sesuatu di komputernya, lalu menghadapkannya kearah kami. Awalnya kami tidak mengerti apa yang diinginkannya. Namun setelah kami memperhatikan layar komputer secara seksama, GOOGLE TRANSLATE !  Waah, benar juga, mengapa tidak sejak tadi saja …. 🙂  … Benar-benar ide brilliant!

Singkat kata akhirnya kami tahu arah menuju stasiun metro, yang ternyata lumayan jauh, sekitar 20 menit berjalan kaki. Dan Alhamdulillah, sampai juga kami malam itu di Kremlin/Red Square  yang merupakan ikon negri Tirai Bambu ini. Itu semua berkat kebaikan hati penduduk setempat yang tanpa kami minta mau membantu kami cara membaca peta Metro yang agak sulit itu karena menggunakan huruf Sirilik. Tentu saja ini pasti atas izin-Nya.

Dan atas tuntunan-Nya pula kami bisa sampai di depan pintu sebuah resto halal. Pucuk dicinta ulam tiba, kami memang betul-betul lapar. Terima-kasih Ya Allah … Resto Turki bernama Zam Zam Coffe ini terletak di ujung Rue Tverskaïa tidak jauh dari stasiun metro tepat di seberang kompleks Kremlin dimana berdiri patung seorang marshal sedang duduk di atas kudanya.

IMG_3649IMG_3655Tanpa berpikir 2 kali kami langsung masuk dan memesan makanan. Restoran ini ditata dengan apik. Walaupun namanya Coffe ternyata resto ini menyediakan masakan yang cukup beragam, lumayan ‘berat’ dan lezat pula. Setelah kenyang dan puas menikmati hidangan yang kami pesan, kamipun keluar dan berpose sejenak di dekat resto dengan latar belakang Kremlin. Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Segera kami kembali ke hotel dan istirahat.

Esoknya pukul 7 pagi, masih subuh ketika itu, kami telah siap meninggalkan hotel menuju masjid yang kamipun belum tahu persis dimana lokasinya. Di bawah hujan rintik-rintik dan dinginnya udara pagi kami berjalan dengan penuh semangat dan percaya diri, kalau tidak mau dibilang sedikit nekat .. 🙂  …

Informasi yang kami dapat melalui search internet beberapa hari lalu terdapat 4 masjid di kota metropolitan ini. Namun kami masih ragu antara akan shalat di salah satu masjid tersebut atau di KBRI. Karena sebelum berangkat kemarin kami sempat mendapat informasi bahwa KBRI mengadakan shalat Ied. Berdasarkan peta yang kami miliki lokasi keduanya tidak begitu jauh. Stasiun metronyapun sama, yaitu Novokuznetskaya.

Namun ternyata tidak mudah menuju tempat ini. Kami kembali terbentur pada sulitnya mencocokkan nama antara yang dipeta yang berada di tangan kami ( huruf latin) dan yang berada di stasiun. Lagi-lagi huruf Sirilik yang menjadi hambatan. Meski sebenarnya dengan sedikit tambahan waktu bisa ditebak dengan tidak terlalu lama. Paling tidak ini bagi suami saya, tidak bagi saya .. 🙂 .. “ Asal tidak buru-buru lho”, tambah suami saya.

Akhirnya, Alhamdulillah, kali ini masih dengan bantuan penduduk setempat, sampai juga kami di stasiun yang dimaksud. ( Untuk selanjutnya kami membaca nama stasiun dan nama jalan dengan cara menebak-nebak, dan lumayan berhasil … :-)…  ).

Waduh sempet g ya kita shalat”, jam telah munjukkan pukul 8.50. Info dari KBRI yang kami terima shalat akan dimulai pada pukul 9.00. Tapi sayangnya stasiun metro dimana kami turun, ternyata amat padat. Polisi berjaga dimana-mana. Kami bahkan tidak bisa keluar, karena pintu keluar ditutup. Bersama ratusan penumpang lainnya kami terpaksa berhimpitan mencari jalan keluar, tanpa hasil. Terpaksa kami pasrah sembari berpikir ada apa gerangan ini.

Menit demi menit berlalu. Ketika pintu akhirnya dibuka kami melihat sekelompok orang bermata agak sipit tapi tidak mirip dengan sipitnya orang Cina, dengan peci khas Rusia berbondong-bondong menuruni tangga jalan memasuki stasiun. Belakangan kami baru tahu  bahwa itu adalah wajah khas mayoritas Muslim Rusia. Kebanyakan mereka berasal dari Kazastan, Dagestan dan Negara-negara bagian Rusia lainnya yang mempunyai nama akhiran “Tan”.

Subhanallah … rupanya stasiun tadi ditutup untuk mengurangi membludaknya kaum Muslimin yang ingin menjalankan shalat Ied ! Yah, apa mau dikata, berarti shalat sudah selesai.  Sayang sekali kami batal menjadi bagian dari mereka.

Kita coba aja ke KBRI yuuk, siapa tahu disana belum mulai”, hibur suami.

Kamipun segera keluar stasiun. Ternyata selama kami di dalam metro tadi turun hujan salju meski hanya tipis. Namun hal tersebut sudah cukup membuat jalanan licin. Genangan air dari salju yang meleleh terlihat di sana sini. Sekelompok pasukan polisi berkuda masih terlihat didepan stasiun. Tampaknya mereka tadi dikerahkan untuk mengamankan jalannya shalat Ied.

Kepada seorang polisi yang berjaga-jaga di sekitar stasiun, kami sempat  menanyakan posisi kami berada dan letak masjid terdekat. Tentu saja dengan menggunakan bahasa tubuh karena pak polisi Rusia tersebut tidak paham bahasa Inggris. Meski ternyata petunjuknya tersebut tidak benar. Mungkin ia tidak tahu apa yang kami tanyakan.

Sebenarnya kami sempat juga melihat beberapa anak muda dengan sajadah kecil di tangan mereka, namun ketika kami bertanya dimana letak masjid, mereka tidak memahami pertanyaan kami. Berkali-kali kami terpaksa bertanya kepada warga setempat. Dari pengalaman tersebut akhirnya kami menyimpulkan bahwa anak muda Cina adalah yang mereka dapat berbahasa Inggris. Kelihatannya mereka adalah mahasiswa. Kepada mereka inilah kami akhirnya sering bertanya.

Namun sayang, hingga lebih dari 1 jam kami berjalan kesana-kemari, kami tidak juga berhasil menemukan gedung kedutaan maupun masjid. Akhirnya kamipun pasrah dan berusaha menikmati kota. Hingga tiba-tiba tanpa sengaja kami melihat sekelompok anak muda dengan “wajah khas Muslim” sedang bercanda. Suami segera menghampiri mereka.

Alhamdulillah salah satu dari mereka mengerti maksud pertanyaan kami. Mereka langsung mengajak kami mengikuti mereka. Ternyata anak-anak muda ini memang sedang menuju masjid untuk Jumatan. Subhanallah, akhirnya ..

( Bersambung)

Read Full Post »

Namun yang lebih membanggakan lagi, masjid ini difungsikan kembali berkat protes presiden RI pertama Soekarno. Ketika itu tanpa sengaja Soekarno melihat masjid yang telah berubah fungsi tersebut. Sayang kabarnya, hingga akhir hayatnya sang presiden legendaris ini tidak pernah berhasil memasukinya. Dalam hal ini, ternyata kami berdua lebih beruntung dari beliau, Alhamdulillah ..

IMG_3870IMG_3871Puas rasanya bisa mengamati masjid ini dari jarak sedemikian dekatnya. Menikmati kaligrafi yang menghiasi gerbang utamanya yang berwarna biru seperti juga kubahnya. Puncak pintu gerbang ini disusun sedemikian rupa hingga menyerupai rumah lebah, dimana setiap lengkungnya diisi dengan gambar bunga-bunga yang juga berwarna biru.

Susunan sarang lebah yang rumit ini mengingatkan masjid-masjid cantik di Uzbekistan, Iran, Syria juga bagian dalam museum Topkapi dimana benda-benda berharga milik Rasulullah disimpan. Lebah adalah satu dari sedikit binatang yang diabadikan dalam Al-Quran. Serangga ini dikenal mempunyai manfaat yang amat banyak bagi manusia. Bahkan juga rumahnya, yang mengandung propolis. Penemuan terbaru menyebutkan bahwa propolis ini mampu menyembuhkan berbagai penyakit seperti kanker, TBC, diabetes, sinus, wasir, jantung dll.

« Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan ».(QS.An-Nahl(16) :68-69).

Sayang keindahan masjid ini harus dinodai dengan toilet perempuannya yang kotor dan terlihat tidak terawat. Demikian pula tempat wudhunya, hiks .. Usai wudhu, kami segera masuk ke dalam masjid. Masjid terlihat lengang. Kami langsung shalat tahiyatul masjid. Terharu hati ini di sebuah negara komunis bisa shalat di dalam bait-Nya. Setelah mengucap salam di akhir shalat, saya baru menyadari bahwa ternyata kami tidak sendiri. Seorang ibu muda yang datang bersama suami dan putranya yang masih balita, sedang shalat di belakang saya.

IMG_0884Tak lama setelah ia selesai shalat saya segera mendekati dan menyapanya, berharap bisa berkenalan dan sedikit mengorek kehidupan Muslim di negri ini. Tapi saya kecele. Ternyata ia juga turis. Ia datang dari Istanbul, Turki. Tapi tetap saja senang rasanya hati ini bertemu dengan saudara sesama Muslim di rantau. Apalagi mengetahui bahwa ia dan suaminya juga berencana mengunjungi Bali awal tahun depan. Sekedar untuk kenang-kenang sayapun menyempatkan diri berfoto berdua dengan ibu muda yang cantik tersebut. .. 🙂 …

IMG_0874IMG_0872Tak lama setelah itu kami berpisah, masing-masing memperhatikan detil masjid. Dinding masjid ini dihiasi keramik motif bunga yang sangat khas Rusia. Mimbarnya yang berwarna biru diapit oleh 2 buah papan kayu yang juga berwarna biru. Belakangan kami baru tahu ternyata papan berukuran sekitar satu kali dua meter itu adalah hadiah dari Presiden kita, Megawati Soekarnoputri. Sedang yang satu lagi dari  mantan wapres Jusuf Kalla. Kami bahkan tidak menyadari bahwa ukiran yang menghiasi papan tersebut adalah ukiran Bali ! Subhanallah .. Bangganya hati ini ..  Sebuah persaudaraan Muslim yang indah, bukan ?

Islam kembali berkembang dan umatnya dapat kembali melakukan aktivitas ibadah dan dakwah setelah runtuhnya rezim komunis Uni Soviet pada tahun 1991. Saat ini komunitas muslim Rusia sebagian besar berdiam di beberapa republik (negara bagian) di kawasan Volga-Ural dan Kaukasus Utara. Islam juga tumbuh dengan pesat di kota-kota besar seperti Moskow dan Saint Petersburg.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. (QS.Ali Imran(3):54).

Berdasarkan catatan resmi tahun 2011, Islam di Rusia adalah agama terbesar kedua setelah Kristen Ortodoks, yakni sekitar  28 juta penduduk atau 15 – 20 persen dari sekitar 142 juta penduduk. Kehidupan Muslim di Rusia saat ini juga makin membaik dibanding masa Komunis dulu. Bahkan untuk pertama kalinya dalam sejarah Rusia, pemimpin Rusia (Vladimir Putin) memasukkan menteri Muslim dalam kabinetnya dan mengakui eksistensi Muslim di negri tirai bambu ini.

Saat ini, menurut imam masjid St Peterburg, ada sekitar 700 ribu Muslim tinggal di kota ini. Artinya sekitar 7 persen dari penduduk St Petersburg yang jumlahnya sekitar 5 juta itu. Mereka terdiri dari 22 bangsa yang berbeda. Sebagian besar bangsa Tatars, Azeris, Kazakh, Uzbek, Kyrgyz, Tajiks dan Chechens yang notabene adalah bagian dari Republik Federasi Rusia. Ini berbeda dengan Negara-negara minoritas Muslim lain yang rata-rata Muslimnya adalah kaum pendatang. Dan dengan hanya satu2nya masjid yang ada di kota ini, jelas ia tidak sanggup menampung jamaah. Apalagi ketika Ramadhan tiba.

Ironisnya, tepat di hari Raya Iedul Adha yang kebetulan jatuh 1 hari sebelum kedatangan kami itu, terjadi insiden. Sebuah bom dikabarkan telah ditempatkan di salah satu sudut masjid ini. Dapat dibayangkan bagaimana hebohnya tidak saja jamaah yang sedang berkumpul untuk shalat namun juga masyarakat sekitar masjid ini.

Yang lebih menyedihkan lagi, ancaman bom tersebut tidak hanya terjadi di masjid St Petersburg, namun juga masjid-masjid lain yang ada di Moskow. Ntah siapa sebenarnya yang harus bertanggung-jawab terhadap peristiwa nahas ini. Rupanya inilah sebabnya mengapa pelataran depan masjid ditutup semacam bedeng setinggi 1.50 meter ketika kami datang berkunjung siang itu.

Masjid adalah rumah kaum Muslimin, tidak hanya sekedar tempat untuk shalat dan menemukan keteduhan di dalamnya. Masjid wajib dimiliki kaum Muslimin karena disinilah mereka bisa bertemu, bersilaturahmi serta  bertukar ilmu dan pengetahuan. Di masa Rasulullah saw dan generasi sahabat, ilmu dan pengetahuan bukan hanya sekedar mengkaji ilmu keagamaan namun juga ilmu duniawi. Karena dalam Islam sebenarnya tidak ada istilah pemisahan antara ilmu duniawi dan ilmu akhirat.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.(QS.Al-Qashas(28):77).

Setelah puas menikmat masjid kamipun keluar untuk terus berjalan melihat-lihat kota. Di depan pintu keluar kami berjumpa dengan seorang pemuda yang hendak memasuki masjid. Tanpa aba-aba, suamipun langsung menyalaminya dan sedikit berbincang. Beruntung ia bisa berbahasa Inggris. Ia orang Kazan. Kazan adalah ibu kota Tatarstan, propinsi Rusia yang mayoritas penduduknya Muslim.

Alangkah gembiranya pemuda tersebut ketika mengetahui bahwa kami besok akan mengunjungi kotanya.  Ia segera memeluk suami saya sekali lagi, “Welcome to Kazan, brother”, katanya hangat.

Kami meninggalkan satu-satunya rumah kaum Muslimin ini dengan hati puas dan bangga. Berkali-kali kami menengok ke belakang, memastikan bahwa kubah birunya yang menjulang tinggi itu cukup menarik perhatian banyak orang. Memastikan bahwa suara azannya bisa terdengar hingga kejauhan dan mampu menggugah tidur panjang kaum Muslimin yang lama tertekan dan tertindas itu.Syukur-syukur jika bisa menggelitik hati dan telinga orang-orang yang tertutup hatinya.

masjid sukarno - st petersburgIMG_3893

IMG_3901IMG_3900Dan hingga menyeberangi sungai Neva yang membelah pusat kota melalui jembatan gantung Triniti, kubah itu memang masih jelas terlihat. Kami terus berjalan melintasi Marsovo Pole, taman luas dimana patung Peter the Great, sang pendiri kota, berdiri tegak di atas kudanya. Dari sini hampir semua obyek turis St Petersburg dapat dicapai, hanya dengan berjalan kaki.

IMG_3943IMG_39122 istana cantik milik keluarga kerajaan yaitu Summer Palace dan Winter Palace serta Hermitage Museum yang merupakan salah satu museum terbesar dan tertua di dunia,  adalah contohnya. Obyek-obyek turisme ini terletak diantara kanal-kanal sungai yang menambah indahnya kota. Tak heran jika Soekarno sang mantan RI 1 yang awalnya hanya ingin berkeliling melihat keindahan kota tanpa sengaja ‘menemukan’ sebuah masjid, meski hanya masjid yang berubah fungsi.

Jadi teringat mal-mal di Jakarta yang menempatkan masjid/mushollanya di parkiran atau bagian-bagian lain yang tidak representative. Sungguh pantas ketika suatu hari terdengar komentar bule “Bagaimana orang dapat menghargai Tuhan anda bila rumah-Nya saja hanya anda tempatkan di parkiran ??” … 😦  ..

“Sesungguhnya Allah itu indah. Dia suka keindahan”.(Hadis riwayat Muslim )

Malam itu kami pulang ke hotel dengan hati senang dan puas, meski tubuh ini tak tertahankan  lelahnya. Ntah berapa puluh kilometer jalan telah kami susuri pagi hingga malam hari itu. Apalagi suhu hanya berkisar antara 1 dan 2 derajat saja, atau mungkin malah dibawah nol, membuat jari-jari kaki serasa  frost bite.

Dan ternyata kami benar-benar beruntung karena esok harinya salju turun seharian penuh. Bahkan pesawat yang harusnya membawa kami terbang menuju Kazan dan transit di Moskow pagi itu sempat tertunda beberapa kali karena landasan bandara tertutup salju tebal !

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 Mei 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

Sulit  rasanya membayangkan bagaimana perasaan Soekarno, presiden pertama RI, ketika suatu hari di tahun 1956 tanpa sengaja melihat sebuah masjid berdiri di suatu kota besar di negara komunis terbesar dunia, Rusia.

Namun pagi itu, Sabtu, 28 Oktober 2012, bayangan itu dapat terhapus. Bangga, kagum, senang sekaligus terharu bercampur menjadi satu, Subhanallah Allahuakbar wa Alhamdulillah …

Ya, di pagi hari yang cerah itu Allah swt telah memberi kami berdua kesempatan untuk melihat dari dekat masjid Biru yang terletak di St Petersburg, sekitar 900 km dari Moskwa ke arah barat laut, mendekati perbatasan Finlandia. Itulah Masjid Soekarno. Namun nama tersebut sebenarnya hanya sebutan yang diberikan masyarat Indonesia yang ada di kota tersebut. Karena nama aslinya adalah Central Mosque atau St Petersburg Mosque.  Orang juga sering menyebutnya Masjid Jamul Muslimin.

Perjalanan Moskwa-Petersburg berlangsung sekitar 1 jam, dengan pesawat terbang.  Kami mendarat di kota ini pada pukul 7.30 waktu setempat, dengan sambutan salju dimana-mana. Beruntung pesawat bisa mendarat dengan selamat, karena beberapa waktu sebelumnya badai salju menerpa kota di belahan bumi  utara ini.

Kami juga sangat beruntung karena sopir taxi yang memperkenalkan diri dengan nama Blood ini fasih berbasa Inggris. Hal yang sangat jarang ditemui. Dan makin beruntung lagi karena pak sopir bule berambut pirang, bukan merah darah sebagaimana namanya, .. 🙂  .. rupanya punya hobby bercerita.  Terlihat jelas betapa bangganya ia terhadap kota kelahirannya ini. Plus bangga dengan kefasihannya berbahasa Inggris, karena beberapa kali kami memujinya. Eits, berpahala lho membuat hati orang senang, dengan catatan tidak mengada-ada dan ikhlas.

Darinya kami jadi tahu sekilas sejarah kota ini. St Petersburg adalah kota terbesar ke 2 di Rusia setelah Moskwa. Hampir 200 tahun lamanya kota ini pernah menjadi ibu kota Negara sebelum akhirnya dipindahkan ke Moskwa pada tahun 1918. Ia sempat beberapa kali berganti nama, yaitu Petrogad dan Leningrad.  Selama 67 tahun kota ini dikenal  dengan nama Leningrad.  Nama ini diambil dari Vladimir Lenin, bapak komunisme Rusia.  Leningrad kembali menjadi St Petersburg  setelah kejatuhan komunisme di tahun 1991.

P1020175P1020172IMG_3908IMG_3931St Petersburg dibangun pada tahun 1703 oleh tsar ( kaisar)  Rusia, Peter the Great. Kota ini dibangun di dalam benteng kuno Peter and Paul fortress yang terletak di sebuah pulau kecil atau tepatnya delta di sungai Neva. St Petersburg tercatat sebagai kota yang memiliki beberapa julukan karena kecantikannya, diantaranya yaitu Venice from the North. Ini disebabkan banyaknya kanal yang ada di kota ini.  Dalam membangun kota pelabuhan di tepi pantai Baltik ini, sang raja terinspirasi oleh kecantikan bangunan-bangunan di Eropa Barat yang sering dikunjunginya.

Taxi yang kami tumpangi pagi itu langsung meluncur menuju hotel yang terletak di St Petersburg selatan. Kami hanya satu hari satu malam di kota ini. Tujuan utama kami jelas, yaitu melihat masjid biru yang pernah dilihat presiden pertama  RI dulu.  Besok pagi kami sudah harus meninggalkan kota menuju Kazan, ibu kota Dagestan, salah satu Negara bagian Rusia.

Maka setelah cek-in hotel kami segera keluar lagi mencari stasiun metro, yang menurut peta kota tidak berapa jauh dari hotel. Sayangnya, meski udara cerah dan matahari bersinar terang namun udara terasa amat dingin, menggigit hingga ke tulang sumsum, brrr …  Ini masih ditambah dengan jalanan yang lumayan licin, karena  masih ada sisa-sisa salju yang turun subuh tadi.  Kami sempat beberapa kali terpeleset, hiks ..

Yang menarik, orang Rusia yang selama ini dikenal ‘dingin’ dan tidak bersahabat, mungkin karena kesan komunisnya yaa, ternyata tidaklah demikian. Beberapa kali tanpa ditanya mereka menawarkan bantuan melihat kami celingukan mencari arah dengan peta di tangan. Uniknya lagi, tanpa peduli bahwa percakapan kami tidak nyambung, karena mereka bertanya dalam bahasa mereka, Rusia, sementara kami tidak paham apa yang mereka katakan.

Berkat bantuan dua orang ibu setengah umur kami berdua akhirnya sampai di stasiun metro. Yang pertama adalah seorang ibu setengah umur. Ibu ini tidak cukup hanya menunjukkan arahnya saja namun mengajak kami berjalan mengikutinya karena kebetulan ia juga sedang menuju ke arah yang sama,  begitu kilahnya. Ibu ini hendak pergi ke sebuah bank. Kami berjalan berdampingan selama beberapa menit sambil mengobrol. Ia sempat bercerita bahwa ia pernah mengunjungi Malaysia. Kebetulan ibu yang satu ini bisa berbahasa Inggris. Kami berpisah di perempatan jalan setelah ia menunjukkan kemana kami harus menuju.

Selanjutnya kami berjalan mengikuti arahannya, dengan tetap memegang peta. Namun di tengah perjalanan seorang nenek menawarkan bantuannya. Bersamanya akhirnya kami tiba di depan pintu stasiun metro. Kali ini sang nenek hanya bisa berbahasa Rusia. Namun tampak jelas bahwa ia tidak ingin kami tersesat. Karena beberapa kali ia menunjuk ke arah pintu stasiun seolah kami tidak bisa membaca tulisan besar di atas pintu tersebut. Padahal memang tidak bisa, karena tulisannya dalam huruf akrilik .. 🙂

Sekitar 20 menit kami berada di dalam metro. Stasiun metro yang kami tuju adalah Gorkovskaya. Begitu keluar dari stasiun bawah tanah ini, angin sejuk langsung menerpa wajah kami. Segera saya menaikkan pull over tebal yang saya kenakan hingga leher dan menarik retsleting jaket dingin saya. Demikian pula suami saya. Selanjutnya kami segera mencari posisi dan mencocokannya dengan peta yang kami genggam erat sejak tadi.

Subhanallah .. Begitu kami mendongakkan kepala terlihat sebuah menara tinggi menatap kami. Tidak salah lagi, inilah menara masjid yang kami cari itu. Betapa senangnya hati ini melihat kenyataan bahwa bait Allah ini begitu mudah ditemukan.

IMG_3855Letak  masjid ini benar-benar strategis dan istimewa. Masjid terletak tidak jauh dari benteng Peters and Paul, yang merupakan pusat kota, selain sangat dekat dengan stasiun metro. Di dalam benteng inilah berdiri gereja dimana semua kaisar Rusia dimakamkan. Masjid terletak di pinggir jalan raya, di depan sebuah taman. Menaranya yang berjumlah 2 buah itu terlihat menyembul di antara ranting-ranting cantik pepohonan musim gugur yang sungguh mempesona. Sementara kubah birunya hampir tidak terlihat karena begitu menyerupai birunya langit yang pagi itu terlihar sangat cerah.

Kami terus berjalan mendekati masjid dengan hati berdebar senang. Namun rupanya untuk memasuki masjid, harus berputar, karena jalanan terlalu lebar untuk diseberangi. Kami berjalan hingga mencapai ujung jalan sebelum akhirnya menyebranginya.

IMG_3878IMG_3869Sayang ternyata masjid tidak seindah dari kejauhan. Tembok-temboknya sudah tua dan terlihat berlumut.  Meski tidak dapat dipungkiri detilnya tetap menawan. Masjid ini amat mirip dengan masjid-masjid di Bukhara, Uzbekistan, yang rata-rata berkubah biru itu.

Dan nyatanya, masjid yang dibangun pada tahun 1910 dan selesai pada tahun 1921 ini memang dibangun dalam  rangka peringatan 25 tahun berkuasanya Abdul Ahat Khan, penguasa kota Bukhara, Uzbekistan, saat itu. Pada waktu itu, umat Islam di St Petersburg diperkirakan berjumlah 8.000 jiwa, sebagian besar adalah para pekerja yang sedang membangun kapal di galangan Sungai Neva. Umumnya mereka datang dari Dagestan, Kazakhstan, Tajikistan, dan Turkmenistan. Ini terjadi di era Rusia dibawah tsar Nicholas II, yang mengizinkan berdirinya masjid. Ini merupakan masjid terbesar di Eropa kala itu.

Penting untuk diketahui, pada tahun 1868, Bukhara yang merupakan kerajaan Islam jatuh ke tangan Rusia dibawah para tsar.  Sejak itulah umat Islam berbondong-bondong datang ke kota ini. Jadi ikatan keduanya memang sudah terjalin baik. Meski ajaran Islam itu sendiri sebenarnya telah ada di Rusia sebelum abad 8, yaitu berkat orang-orang Tatar yang pernah lama menguasai negri ini.

Selanjutnya, ketika komunisme berhasil menjatuhkan kekaisaran Rusia pada tahun 1917, Bukharapun direbut dan kerajaan ini ambruk pada tahun 1920. Bukhara adalah kota kelahiran ahli hadist kenamaan Bukhari ( 810 M – 870 M).

Sejak berkuasanya komunisme di negri ini, pintu-pintu keagamaanpun ditutup rapat. Tidak ada tempat bagi pemeluk agama di negri ini. Mereka ditekan dan ditindas luar biasa kejam. Kitab-kitab suci dibakar. Seluruh rumah ibadah ditutup, termasuk masjid yang baru saja selesai dibangun ini. Bahkan pada tahun 1940, masjid beralih fungsi menjadi gudang medis tentara komunis.

( Bersambung)

Click : https://vienmuhadi.com/2013/05/20/st-petersburg-dan-masjid-soekarno-2-tamat/

Read Full Post »

grand archKeluar dari 4 temps, mall yang kabarnya terbesar di Eropa itu, Grand Arch, tugu raksasa setinggi  110 meter yang dibangun pada tahun 1985 langsung menyongsong. Tugu ini merupakan duplikat Arch de Triomphe, dalam versi modernnya, sesuai dengan lingkungan sekitarnya, yaitu La Defense.

La Defense adalah bagian Paris modern dimana gedung-gedung tinggi pencakar langit layaknya Manhattan di New York, kokoh berdiri menantang langit. Disinilah selama hampir 3 tahun suami tercinta pergi ‘ngantor’, dengan hanya berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit.  Hal yang mustahil terjadi di Jakarta, kantor barunya setelah pulang ke tanah air. Dari  stasiun metro La Defense, ujung metro line 1 ini pulalah kami pulang pergi melaksanakan berbagai kegiatan kami selama itu.

Grand Arch bersama dengan Arch de Triomphe dan Arch de Triomphe du Carousel yang ukurannya lebih kecil lagi dari Arch de Triomphe,  membentuk satu garis lurus yang dikenal dengan nama Axe Historique, garis lurus bersejarah. Bulevard terkenal Champs Elysees dan Place de la Concorde yang fenomenal itu terletak diantara Arch de Triomphe dan Arch de Triomphe du Carousel.  Arch de Triomphe du Carousel sendiri berada di ujung akhir Jardin de Tuleries, persis di depan Pyramida kaca raksasa yang merupakan pintu gerbang Musee du Louvre .

Yang mengejutkan, adalah temuan bahwa Axe Historique ini ternyata menuju ke 1 titik, yaitu Ka’bah di Mekkah ! Paling tidak, itulah yang dikatakan Hanum putri Amien Rais dan suaminya , Rangga, dalam buku « 99 cahaya di Langit Eropa » karya pasangan muda tersebut. Ini berdasarkan keterangan seorang Muslimah, mualaf asli Perancis, peneliti yang bekerja di Institut du Monde Arab, Paris.

arch de triomp carouselEntahlah, apakah itu suatu kebetulan atau tidak. Yang pasti tugu kemenangan bernama Arch de Triomph du Carousel itu faktanya memang dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte yang juga dikenal sebagai Napoleon 1.  Sementara sejumlah sumber  menyatakan bahwa Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis yang terkenal itu, pernah menyatakan kekagumannya atas Islam.  Ini berawal pada tahun 1798, ketika ia berkunjung ke Mesir dan menaklukan negri 1000 menara ini. Waktu itu ia belum menjadi kaisar.

« Puis enfin, à un certain moment de l’histoire, apparut un homme appelé Mahomet. Et cet homme a dit la même chose que Moïse, Jésus, et tous les autres prophètes : il n’y a qu’Un Dieu. C’était le message de l’Islam. L’Islam est la vraie religion. Plus les gens liront et deviendront intelligents, plus ils se familiariseront avec la logique et le raisonnement. Ils abandonneront les idoles, ou les rituels qui supportent le polythéisme, et ils reconnaîtront qu’il n’y a qu’Un Dieu. Et par conséquent, j’espère que le moment ne tardera pas où l’Islam prédominera dans le monde. »

“Lalu akhirnya, pada beberapa titik dalam sejarah, muncul seorang pria bernama Muhammad. Dan orang ini mengatakan hal yang sama bahwa Musa, Yesus dan nabi-nabi lainnya: hanya ada satu Tuhan. Itu adalah pesan Islam. Islam adalah agama yang benar. Makin banyak orang membaca makin banyak orang menjadi lebih cerdas, mereka menjadi akrab dengan logika dan penalaran. Mereka meninggalkan berhala, atau ritual yang mendukung politeisme, dan mereka mengakui bahwa hanya ada satu Tuhan. Dan karena itu saya berharap bahwa suatu waktu nanti akan segera tiba waktunya Islam mendominasi dunia.

Tulisan di atas bukan satu-satunya bukti kekaguman Napoleon yang sangat hobby membaca ini, atas Islam. Ada sejumlah tulisan lain yang menerangkan kekaguman Napoleon pada Rasulullah Muhammad saw dan para sahabat. Diantaranya yaitu pernyataan kekagumannya tentang keberhasilan penyebaran Islam, yang dalam waktu kurang dari 100 tahun telah manpu ‘meng-Islam-kan’ hampir separuh dunia.  Bahkan ada pula catatan bahwa  ketika berada di Mesir, Napoleon pernah bersyahadat ! Meski sebagian berpendapat bahwa itu hanyalah bagian dari politik Napoleon. Wallahu’alam .. Napoleon memang dikenal sebagai tokoh besar yang kontroversial.

Tulisan diatas sendiri disadur dari Jurnal Sainte Helene, pada tahun 1815 – 1818. Sainte Helene atau Santa Helena adalah tempat Napoleon di asingkan pada tahun 1812, tak lama setelah kekalahannya. Pulau ini terletak di tengah lautan Atlantik sebelah selatan, 1900 kilo meter dari Afrika. Dibutuhkan 2.5 bulan untuk mencapai pulau ini, dengan menumpang kapal.

Sedangkan jurnal St Helene adalah catatan harian orang-orang yang menemani Napoleon selama di pengasingan. Sebagai informasi, selama di Santa Helena, Napoleon memang selalu mendiktekan biografi hidupnya kepada orang-orang dekat yang mendampinginya. Salah satunya adalah asisten pribadinya yang bernama Ali.

Di pulau terpencil nun jauh di ujung sana inilah Napoleon hidup selama 6 tahun hingga akhir hayatnya. Disinilah kabarnya ia menghabiskan waktunya untuk lebih mengenal Islam yang pernah dikaguminya, dan mungkin bersyahadat, secara serius …

german embassy 1Namun pagi ini saya mendapat surprised. Melalui Face Book, saya melihat sebuah foto hasil jepretan seorang teman di Paris. Foto tersebut adalah foto langit-langit sebuah ruangan dengan hiasan mirip kaligrafi. Tebakan saya kaligrafi tersebut berbunyi « La illaha illa Allah ».

Lalu apa surprisednya ? Bila tulisan tersebut berada di masjid atau tempat-tempat milik Muslim tentu hal biasa. Tapi bila tulisan tersebut berada di langit-langit salah satu ruangan di dalam rumah duta besar Jerman di Paris, tentu berbeda. Dan info yang saya dapat kemudian, ternyata bangunan tersebut awalnya adalah milik putri Napoleon 1 !  Subhanallah … Dapatkah ini dijadikan bukti bahwa Napoleon memang benar-benar telah bersyahadat jauh sebelum dipenjarakan di pengasingannya di Santa Helena? Wallahu’alam ..

Berikut video mengenai Napoleon dan Islam :

http://www.youtube.com/watch?v=bL6DTlAnwek

Adalah kenyataan, bahwa salah seorang jendral kepercayaan Napoleon yang ikut mendampingi Napoleon dalam ekspedisinya ke Mesir yaitu, jendral Francois Menou, telah bersyahadat. Jendral yang mempunyai julukan Baron de Boussay ini kemudian menikah dengan seorang Muslimah Mesir dan mengganti namanya menjadi Abdallah. Sebelum wafatnya pada tahun 1810, ia sempat menduduki jabatan gubernur jendral Tuscany dan Venezia.

Sementara orang terdekat Napoleon, Raza Roustam, yang senantiasa setia mendampingi Napoleon kemanapun sang kaisar pergi, adalah seorang Muslim sejati. Roustam yang ahli berkuda itu adalah seorang  Mesir kelahiran Georgia yang diberikan penguasa Mesir kepada Napoleon pada lawatannya ke Mesir. Dengan penuh rasa percaya diri, sang asisten pribadi istimewa ini selalu berpakaian ala Mameluk lengkap dengan sorbannya, hingga menarik perhatian siapapun yang melihatnya.

german embassy 2Dan sejumlah foto yang dipajang di salah satu ruangan rumah duta besar Jerman yang dilihat beberapa teman saya di Paris beberapa hari lalu itu, kabarnya memang foto para sahabat Muslim Napoleon dari Mesir. Orang-orang yang menginspirasi kebesaran dan kebenaran Islam.

Marion, demikian nama peneliti yang disebutkan Hanum dalam bukunya, juga berani berkata bahwa Napoleonic Code, hukum yang dibuat Napoleon sekembalinya dari Mesir itu, jika dicermati secara serius, sebenarnya senafas dengan syariah Islam.

Kini, melihat kenyataan bahwa Islam berkembang pesat di negri yang pernah dikuasainya, seperti yang pernah diimpikannya, bagaimana kira-kira perasaan Napoleon bila ia masih hidup, puaskah ia? Yang pasti, selang beberapa hari setelah kami meninggalkan Paris, pemerintahan Perancis dibawah kepresidenan Francois Holland telah mengirimkan tentaranya ke Mali, untuk menghancurkan pasukan Mujahidin Mali yang sedang berjuang untuk menerapkan hukum Islam di negaranya.

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”.(QS.Al-Jatsiyah(45):18).

Apakah aksi berlebihan pemerintah Perancis ini merupakan reaksi ketidak-senangan mereka terhadap perkembangan Islam di negaranya? Apakah berbagai larangan seperti pelarangan jilbab, pelarangan azan, pelarangan pembangunan masjid dll yang dilontarkan pemerintah terhadap umat Islam di negri itu berhasil menghentikan penyebaran agama yang diridhoi-Nya itu?

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”(QS.Ali Imran(3):54).

Entahlah. Yang jelas, kami berdua hanya dapat berharap dan berdoa semoga saudara-saudari kita di negri ini bisa tetap istiqomah menjalankan syariat agama ini meski hanya sebagai kaum minoritas.

Sebagai penutup, tulisan yang saya buat ini bukan dimaksudkan sebagai  ‘íming-iming’agar para pembaca berkunjung ke Paris. Justru sebaliknya, saya berharap agar tulisan ini dapat cukup mewakili keinginan tersebut. Kecuali bila pembaca telah menunaikan kewajiban haji bila memang mampu dan masih memiliki kelebihan harta setelah melaksanakan kewajiban-kewajiban lain sebagai Muslim. Atau bila itu adalah memang tugas perusahaan, tentu saja. Itupun masih ditambah dengan tujuan untuk kepentingan dakwah, insya Allah.

eifel totindoAkhir kata, saya ucapkan banyak terima-kasih kepada sahabat-sahabat dan teman-teman yang telah membuat kami betah tinggal di kota ini, dengan segala suka dukanya. Teman-teman Totindo dimana kami secara rutin berkumpul untuk mengkaji ayat-ayat suci Al-Quranul Karim, baik melalui pengajian biasa maupun pengajian via Skype. Ataupun sekedar kumpul-kumpul sambil mencicipi masakan Indonesia yang memang top. Ataupun juga sekedar berjalan-jalan menikmati keindahan kota sambil berfoto-ria. …  🙂  ..

Au revoir “, kata dalam bahasa Perancis yang pada umumnya diartikan sebagai sampai bertemu kembali ini tampaknya kurang cocok untuk dijadikan judul dalam artikel ini.  Mungkin ” Good Bye” atau “A Dieu”  dalam bahasa Perancisnya,  lebih tepat. Meski “Dieu” yang artinya Tuhan itu kedengaran sedikit lebay, karena rata-rata orang Perancis tidak percaya Tuhan.  Tetapi ternyata kata itu tetap saja exist … 🙂

Terima-kasih ya Allah, telah Kau beri kami kesempatan untuk menyaksikan berbagai kejadian dan peristiwa di belahan barat bumi-Mu ini. Semoga kami memiliki kemampuan untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari segala kejadian tersebut. Aamiin aamiin aamiin ya robbal álamin ..

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”.(QS.Al-Mulk(67):15).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 1 April 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »