Feeds:
Posts
Comments

Sejarah mencatat bahwa selama berabad-abad Islam pernah mengalami masa kejayaan. Zaman keemasan tersebut terbagi dua periode  yaitu periode Klasik (650-1250M) dan periode Pertengahan (1250-1800M). Kejayaan ini dimulai dengan berdirinya negara Madinah dibawah langsung kepemimpinan Rasulullah Muhammad saw (622–632M) dan Kekhalifahan Khulafaur Rasyidin (632-661M) yang 4, yaitu Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra.

Pada masa inilah dasar-dasar ajaran Islam dengan pedoman Al-Quran dan As-Sunnah diterapkan secara sungguh-sungguh. Diantaranya dengan berdirinya Baitul Maal. Pada zaman Umar bin Khattab ra berkuasa tidak ada seorangpun rakyat kelaparan. Ini terjadi karena zakat dijalankan dengan sangat baik, tidak ada sistim riba di dalamnya.

Sedangkan periode Klasik adalah masa dimana berkuasa dinasti Umayyah yang beribu-kota di Damaskus (661-750M), kekhalifahan Cordoba yang berkuasa di Andalusia (755 -1031 M), dilanjutkan periode Taifa ( kerajaan-kerajaan kecil di Andalusia ) pada 1031-1492M, serta dinasti Abbasiyah yang berkuasa selama 505 tahun (750-1258 M). Pada masa tersebut, tepatnya pada abad sembilan sampai ketiga belas,  dunia Islam dipenuhi dengan era perkembangan ilmiah, religius, filsafat, dan kebudayaan dalam skala kedalaman yang tak tertandingi sejarah, baik sebelum maupun sesudah era tersebut.

Pada masa itulah bermunculan tokoh-tokoh Islam mumpuni yang hingga hari ini namanya masih terus dikenang karena jasanya yang begitu besar dalam dunia Sains. Diantaranya adalah Ibnu Sina/Avicena, Ibnu Rusyd/ Averroes, Abu Musa Jabir bin Hayyan/Geber, Ibnu Batuta dll.

Sementara periode Pertengahan adalah masa kerajaan Mughal di India, Afawiah di Persia dan yang terbesar adalah kekhalifahan Islam Turki Ottoman/Ustmaniyah (1300–1924 M). Pada masa ini kejayaan Islam secara bertahap terus menurun. Puncaknya adalah dengan jatuhnya kekhalifahan Ustmaniyah pada tahun 1924 akibat kalah perang dalam Perang Dunia I hingga tercerai berai menjadi 50 negara.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/03/03/om8ffh282-3-maret-1924-akhir-riwayat-kekhalifahan-islam-dunia

Expansion-Ottoman-EmpireKesultanan Turki Ottoman mencapai puncak kejayaan dibawah kepemimpinan Sulaiman I atau Sulaiman Agung (1520-1566M). Kekuasaan kesultanan ini membentang di sebagian benua Eropa, Asia, dan Afrika selama 623 tahun, dengan budaya, agama dan bahasa yang berbeda-beda.  Kejayaannya dapat disejajarkan dengan kekaisaran Romawi di masa lalu.

Kesultanan  ini runtuh secara bertahap karena banyak hal. Diantaranya adalah lemah dan tidak berwibawanya sejumlah sultan yang berkuasa di akhir abad 18. Penyebab lainnya adalah terlalu banyaknya campur tangan asing, kehidupan mewah dan berlebihan di kalangan pejabat hingga banyak terjadi penyimpangan dalam keuangan negara. Termasuk dana pertahanan militer yang terus digerogoti. Konspirasi Yahudi yang menginginkan tanah Palestina dengan jeli memanfaatkan celah tersebut. Bekerja sama dengan Barat, ia terus menekan para sultan dengan segala cara busuk.

“Selama aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.” Demikian jawaban surat Sultan Abdul Hamid II kepada perwakilan Zionis Yahudi yang berusaha menyogoknya.

Sultan Abdul HamidSultan Abdul Hamid II dikenal dekat dengan para ulama dan selalu menaati nasihat-nasihat mereka. Ia berusaha keras memperbaiki kesultanan yang diwarisinya dalam keadaan carut marut. Berbagai upaya ia lakukan termasuk menyatukan umat Islam yang terpuruk, dan membantu mereka agar dapat melawan para penjajah yang menjadi penguasa di negeri mereka sendiri.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/03/03/om8gc8282-konspirasi-yahudi-di-balik-tumbangnya-khalifah-utsmani

Dari sebuah hadist riwayat Ahmad, diberitakan tentang masalah kepemimpinan yang terbagi atas 5 bagian periode perjalanan sejarah umat manusia lebih khusus lagi umat Islam, yaitu:

  1. Manusia dipimpin oleh para nabi dan para rasul (masa kenabian).
  2. Manusia dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin (masa khilafah sesuai dengan pedoman Rasulullah SAW.
  3. Manusia dipimpin oleh raja-raja yang menggigit (masa malik ‘adhon).
  4. Manusia dipimpin oleh raja-raja ada penguasa yang diktator dan tidak berpedoman pada ajaran Islam.
  5. Manusia dipimpin kembali oleh sistem sesuai pedoman yang dibawa nabi Muhammad SAW.

https://www.dakwatuna.com/2011/12/01/16954/hadits-tentang-periodisasi-kekuasaan/#axzz6K7QBhp4H

Para ulama sepakat bahwa saat ini kita berada di akhir periode 4 menuju periode 5, periode dimana umat kembali menjalankan kehidupannya sesuai Al-Quran dan As-Sunnah. Tentu tidak semudah membalik tangan. Diperlukan usaha dan keseriusan kaum Muslimin untuk bersatu demi menegakkan Islam yang kaffah, Islam yang menjadi rahmat tidak saja bagi umat Islam tapi juga bagi seluruh isi alam semesta ini.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. ( Terjemah QS. Al-Anbiya(22):107).

Untuk itu para ulama menyusun 10 karakter yang harus dimiliki setiap Muslim sebagai berikut:

Kepribadian Muslim

  1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih).

Aqidah adalah dasar utama seorang Muslim. Tanpa aqidah yang bersih tidak ada artinya seorang Muslim. Aqidah yang bersih, tidak bercampur sedikitpun dengan kesyirikan, akan melahirkan ketakwaan yang sebenarnya. Ia yakin setiap gerak-geriknya senantiasa diawasi Allah swt, dan segala sesuatu terjadi karena Allah swt.   Yang dengan demikian seseorang tidak akan takut kepada selain-Nya. Inilah yang menjadi kunci kemenangan perang Badar di awal periode Islam. Ketika itu jumlah kaum Muslimin hanya 313 orang, 1/3 jumlah musuh, tanpa peralatan perang memadai pula. Namun bisa menang karena modal keyakinan Allah swt senantiasa beserta mereka.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. ( Terjemah QS. Al-An’aam(6):62)

  1. Shahihul Ibadah (Ibadah yang benar).

Yaitu ibadah sesuai dengan apa yang dicontohkan rasulullah saw, tidak mengada-ada. Ini untuk menunjukkan ketaatan tidak hanya kepada Allah swt, tapi juga kepada Rasulullah saw.

…  Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):13).

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.”. (HR. Baihaqi).

  1. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh).

Yaitu dengan mencontoh akhlak rasulullah. Diantaranya yaitu jujur, amanah, sabar, tidak sombong, rendah hati dll.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):21).

  1. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani).

Kekuatan ini tidak hanya diperlukan untuk melakukan berbagai ibadah seperti shalat, puasa, haji dll. Namun juga ketika kita harus menghadapi musuh. Bahkan cara memakai kain ihram yang dibuka pada sisi kanan bahu (idtiba’), bukannya tanpa maksud. Ini untuk menunjukkan pada musuh-musuh Islam bahwa kaum Muslimin itu kuat, jangan coba-coba meremehkannya.

Muslim yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada Muslim yang lemah.” [HR. Muslim].

  1. Mutsaqqoful Fikri (Intelek dalam berpikir).

Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan kita untuk senantiasa berpikir. Alam semesta beserta segala isinya ini diciptakan penuh dengan perhitungan, tidak asal-asalan. Dan kita manusia diberi tugas sebagai khalifah agar dapat mengelola seluruh fasilitas tersebut dengan sebaik mungkin.

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Terjemah QS. Ali Imran(3):191).

  1. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu).

Seorang Muslim sejati harus selalu sadar bahwa musuh utama manusia adalah syaitan. Syaitan inilah yang pekerjaannya menghembus-hembuskan hawa nafsu agar tidak mentaati perintah Allah swt. Cinta yang berlebihan terhadap kenikmatan dunia adalah awal petaka yang dapat menjerumuskan manusia pada kehinaan. Inilah yang terjadi pada awal mundurnya kesultanan Ottoman.

Dan awal dari segala hawa nafsu yang harus diperangi adalah sifat sombong sebagaimana yang diabadikan ayat 13-18 surat Al-Baqarah berikut:

Allah berfirman:“Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan“.

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)”.

Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”.

  1. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu).

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. ( Terjemah QS. Al-Ashr(103):1-3)

Dari Ibnu Abbas ra: Rasulullah saw bersabda dan menasehati pada seseorang: “Gunakan yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa lapangmu sebelum masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum masa matimu,” (HR Al-Hakim).

Islam mengajarkan kaum Muslimin untuk menggunakan waktunya sebaik mungkin, diantaranya shalat yang mempunyai waktu-waktu tertentu bahkan gerakan yang sudah ditentukan dan mempunyai batas waktu. Dan yang utama adalah yang di awal waktu. Inilah awal dari kedisiplinan.

  1. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan).

Dengan kedisiplinan seorang Muslim akan lebih mudah menyelesaikan segala urusan secara tertata/tertib/teratur. Apapun yang dikerjakan, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah, profesionalisme selalu diperhatikan, dikerjakan secara sungguh-sungguh. Dalam ayat 282-283 surat Al-Baqarah Allah swt menerangkan secara terperinci bagaimana cara bermualamah dalam Islam.

Dengan berbekal ilmu seorang Muslim akan mampu menyelesaikan pekerjaannya secara professional, sesuai dengan kedudukan dan jabatan masing-masing. Apakah itu sebagai kepala keluarga, ketua RT/RW/Kelurahan hingga bos perusahaan bahkan mentri dan presiden.

Demikian pula ketika berperang sebagai ayat berikut :

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh”. (Terjemah QS. Ash-Shaff(61): 4).

“Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.” ( Ali bin Thalib ra).

  1. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/ mandiri).

Muslim sejati adalah yang tidak tergantung pada orang lain yang beresiko menjadikannya tergadai dan terhina. Apalagi bila ketergantungannya itu terhadap orang kafir. Karena yang demikian bisa menyebabkannya tidak saja harga diri yang tergadai tapi bahkan aqidah.

“Tangan yang diatas adalah yang memberi (mengeluarkan infaq) sedangkan tangan yang di bawah adalah yang meminta”.(HR. Bukhari).

  1. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain).

Inilah ciri Muslim sejati yang mewakili ajaran Islam Rahmatan Lil Aalamiin. Ia bagaikan pohon rindang yang bisa digunakan orang untuk berteduh, akarnya yang kuat mampu menyangga orang yang bersandar, buahnya lezat, dan bunganya indah dipandang mata.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. … “. ( Terjemah QS.Ibrahim (14):24-25).

Sayangnya saat ini kita saksikan kondisi umat Islam secara umum masih saja terpuruk dibawah pengaruh Barat yang sekuler bahkan kafir. Korupsi, khamr, perzinahan, prilaku menyimpang homoseksual  dll yang makin merajela. Belum lagi ikatan persatuan sesama Muslim yang sangat rentan hingga mudah di adu domba musuh-musuh Islam.

“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” Dan beliau merekatkan jari-jemarinya”. (HR. Bukhari).

Berikut yang dikatakan  Abdallah ibn Buluggin, seorang cendekiawan yang melihat langsung awal kejatuhan Kerajaan Cordoba pada tahun 1000-an M hingga tercerai-berai menjadi kerajaan-kerajaan kecil Islam yang saling bertikai.

“Ketika dinasti Amirid (al Mansur) berakhir dan rakyat ditinggal tanpa pemimpin, maka setiap komandan militer bangkit membangun kotanya dan melindungi diri mereka sendiri dengan benteng untuk memperkuat posisinya, membangun tentara dan memperkokoh sumber dayanya sendiri. Orang-orang ini saling bersaing dengan lainnya untuk merebut kekuasaan dan mengalahkan lawan-lawannya.”

Tampaknya baru Turki dibawah Recep Tayyip Erdogan yang terlihat siap menghadapi kebangkitan Islam. Ia berhasil membawa kembali Kesultanan Turki Ustmaniyah yang ambruk nyaris 100 tahun silam ke masa kejayaannya. Hanya Erdogan satu-satunya kepala negara di dunia ini yang berani melawan kejahatan Zionis Israel terhadap Palestina secara terang-terangan. Kaum perempuan di era Erdogan juga berhasil mendapatkan kembali haknya menutup aurat dengan baik setelah puluhan tahun lamanya dilarang dibawah pemerintahan Turki yang sekuler. Demikian pula adzan yang kembali dikumandangkan di seantero negri.

Dilansir dari berbagai sumber, Turki baru dibawah Erdogan telah melakukan lompatan ekonomi yang besar, dari rangking 111 dunia ke peringkat 16, dengan rata-rata peningkatan 10 % pertahun, yang berarti masuknya Turki kedalam 20 negara besar terkuat (G-20) di dunia.

https://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2015/06/30/73321/bagaimana-erdogan-membangun-turki-dan-menumbangkan-sekulerisme-1.html

Bahkan selama pandemi Covid19 Turki memperlihatkan kedigjayaannya dengan mengirim bantuan medis ke Italia dan Spanyol sebagai bagian dari upaya memerangi pandemi virus tersebut. Italia dan Spanyol adalah dua negara yang terdampak virus Corona paling parah di dunia. Bantuan medis yang dikirim tersebut berupa masker, pakaian pelindung dan cairan antibakteri yang diproduksi oleh pabrik serta fasilitas jahit milik Kementerian Pertahanan Turki.

https://news.detik.com/internasional/d-4961337/pandemi-virus-corona-turki-kirim-bantuan-medis-ke-italia-dan-spanyol

Semoga dengan adanya pandemi Covid19 yang menyebabkan kita terpaksa mengurung di dalam rumah masing-masing mampu membuat kita untuk segera berbenah diri, bertobat memohon ampunan-Nya hingga Allah swt pun ridho memberi kita kemenangan dan kejayaan sebagaimana yang pernah dialami para sahabat dan pendahulu-pendahulu kita, bukan sekedar bebas dari virus menular ganas tersebut.

Semoga Allah swt masukkan kita ke dalam bulan Ramadhan yang tinggal menghitung hari tersebut dalam keadaan bukan hanya sehat wal afiat, tapi juga aqidah yang kokoh dan hati yang bersih bebas dari segala kotoran dan buruk sangka.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 April 2020.

Vien AM.

Mempersiapkan Kematian.

Tiga pekan sudah kebijakan Social/Physical Distancing ( Jaga Jarak) diterapkan di negri kita tecinta. Kebijakan ini demi menghambat lajunya penularan Covid-19 yang tampaknya makin sulit terbendung hingga menjadi momok mengerikan penduduk seluruh negara dunia.

Pada Sabtu (4/4/2020) pemerintah mengumumkan jumlah pasien yang positif terinfeksi virus ini telah  mencapai 2.092, 191 orang meninggal dunia, 150 orang dinyatakan sembuh. Jumlah ini masih terus meningkat dari hari ke hari. Itu sebabnya akhirnya pemerintah menetapkan status Kedaruratan Kesehatan.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200404143554-20-490309/update-corona-4-april-2092-kasus-191-meninggal-150-sembuh

Sementara Worldometers melansir data per Ahad (5/4/2020),  sebanyak 1.196.944 kasus infeksi virus Covid19 atau Corona di dunia. Dari jumlah tersebut, 246.110 orang dinyatakan sembuh, dan 64.580 orang meninggal dunia. Dengan urutan 10 negara jumlah kasus terbesar terpapar Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Jerman, Perancis, China, Iran, Inggris, Turki dan Swiss.

https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/05/071000365/update-virus-corona-di-dunia-5-april–1-19-juta-orang-terinfeksi-246.110

Namun demikian sebenarnya jumlah kematian akibat Covid-19 masih kalah jauh dibanding jumlah kematian akibat penyakit berbahaya lain seperti kanker, jantung atau hiv. Masalahnya penyakit yang menyerang pernafasan ini daya tularnya amat dasyat. Ini yang menyebabkan petugas medis kewalahan memberikan pelayanan. Tampaknya kebijakan Social/Physical Distancing tetap harus dijalankan secara lebih ketat. Apalagi jumlah tenaga medis di Indonesia yang wafat ketika sedang menjalankan tugas mulia tersebut kabarnya  terbesar di dunia.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un … Semoga Allah swt mencatat mereka sebagai syuhada, aamiin yaa robbal ‘aalamin …

Sebagai umat Islam kita harus meyakini bahwa kematian adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari. Kemanapun kita lari bersembunyi bila memang sudah waktunya ajal itu akan tiba, dengan cara apapun, tidak harus melalui sakit keras/berbahaya.

” … …  Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)”. ( Terjemah QS. Yunus(10):49).

Jadi jelas kematian bukan untuk ditakuti apalagi dihindari. Meski tidak boleh juga kita menantang kematian, misalnya dengan membiarkan diri kita tertular penyakit, apalagi sengaja menularkan penyakit kita kepada orang lain.

Masalahnya kematian bukan akhir segalanya. Kematian adalah proses perpindahan   dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Dan kehidupan akhirat hanya ada 2 pilihan, Surga yang penuh kenikmatan atau Neraka yang apinya menyala-nyala. Tentu tak seorangpun mau masuk Neraka. Itu sebabnya kematian harus dipersiapkan.

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu”.(Terjemah QS. Muhammad(47):36).

Pandemi Covid-19 yang sedang terjadi saat ini, bisa jadi adalah teguran Allah swt kepada kita semua yang cenderung lupa/lalai mempersiapkan kematian kita. Kehidupan dunia dengan segala iming-iming dan gemerlapnya telah membuat kita mencintainya secara berlebihan. Bahkan lupa kepada Sang Pencipta yang telah memberikan semua kenikmatan duniawi.

Sebuah video yang kini sedang viral memperlihatkan seorang kakek Italia usia 93 tahun menangis melihat tagihan ventilator yang disodorkan dokter kepadanya. Namun yang mengejutkan, teryata ia menangis bukan karena tak mampu membayarnya.

Selama 93 tahun saya hidup tidak pernah sesenpun saya membayar udara yang saya hirup. Dan saya tidak pernah mensyukurinya. Berapa besar hutang saya pada-Nya??”, keluhnya.

Pertanyaannya, haruskah kita menunggu dan menyadari kesalahan kita setelah kita sakit keras atau setelah usia kita mencapai uzur??

Dari Abdullah Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum kamu kedatangan lima perkara (demi untuk meraih keselamatan dunia akhirat). Yakni Masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Sehatmu  sebelum datang sakitmu. Masa kayamu sebelum datang faqirmu. Waktu luangmu sebelum waktu sibukmu. Masa hidupmu sebelum datang kematianmu”.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr(59): 18).

Perumpamaan kehidupan di dunia adalah tempat kita bercocok-tanam yang akan kita petik hasilnya secara keseluruhan di akhirat nanti. Ayat 18 surat Al-Hasyr di atas secara jelas memerintahkan kita untuk berbekal, mempersiapkan hari esok kita di akhirat nanti.

Adalah kedua orang-tua yang harus bertanggung-jawab mempersiapkan hal tersebut, mendidik anak-anaknya sejak kecil, agar mengenal Tuhannya, memahami dengan jelas dan pasti apa tujuan hidup ini.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Baihaqi dan ath-Thabarani).

Bila kita renungkan sejenak saja, kebijakan WFH ( Work From Home) atau aktifitas dari rumah sebenarnya adalah waktu yang tepat untuk kita kembali memikirkan apa sebenarnya tugas utama kedua orang-tua dalam keluarga.

Jangan sampai kejadian langka ini terlewat begitu saja. Orang-tua tetap disibukkan dengan urusan pekerjaan kantor, urusan perut dan lain-lain yang sifatnya fisik/duniawi. Anak-anak sibuk dengan PR sekolah, ujian dan lain-lain tanpa ada tambahan pelajaran agama seperti hafalan Al-Quran dll.

Inilah saatnya kita bertobat, memohon ampunan Allah swt, segera membersihkan diri dari segala penyakit hati seperti iri, dengki, sombong dll. Ajari anak untuk berbagi kepada mereka yang kesusahan dan kesakitan, ajak anak shalat ber-jamaah, terangi rumah dengan ayat-ayat suci Al-Quran.

Semoga Alah swt ridho memasukkan kita ke dalam bulan Ramadhan yang sudah di depan mata ini dalam keadaan sehat walafiat, bebas dari segala penyakit, serta hati yang bersih dari segala penyakit hati, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 April 2020.

Vien AM.

Shofa dan Marwah adalah nama 2 buah bukit di dekat kota Makkah. Jarak antara keduanya sekitar 400 meter. Ke dua bukit tersebut merupakan bagian dari bukit Abi Qubaish. Di bukit inilah dulu jauh sebelum datangnya islam berdiri ratusan berhala yang disembah orang2 Quraisy jahiliyah sebagai bagian dari tradisi.

Sesungguhnya Shofa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa`i antara keduanya. … … “.(Terjemah QS. Al-Baqarah 158).

Ayat di atas adalah ayat yang berisi perintah Sai ( jalan dan lari-lari kecil) antara Shofa dan Marwah sebagai bagian dari ibadah haji dan umrah. Yang menarik kalimat yang digunakan ayat tersebut bukan kata perintah lazimnya sebuah perintah, melainkan “ tidak ada dosa”.

tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa`i antara keduanya”.

Apakah itu berarti bahwa Sai itu tidak wajib??

Terdapat perbedaan pendapat antar mahzab. Imam Syafii yang mahzabnya merupakan pegangan umat Islam di Indonesia, berpendapat Sai adalah rukun dan hukumnya fardhu, yaitu tidak sah bila tidak dilakukan. Sedangkan menurut Imam Malik wajib namun bila terpaksa bisa dibayar dengan dam/denda. Sementara Imam Hanafi berpendapat tidak wajib. Tapi diantara semua pendapat yang terkuat adalah rukun, berdasarkan beberapa pernyataan Rasulullah, diantaranya :

“Sesungguhnya Allah mewajibkan Sai atas kamu”. (HR. Baihaqi).

Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir diceritakan bahwa Sai telah dikerjakan orang-orang Qurasy jauh sebelum Islam datang. Mereka terbiasa Sai dari bukit Shofa dan bukit Marwah, dan setiap kali tiba di kedua bukit tersebut mengusap patung berhala yang terdapat di atasnya. Bukan hanya Sai bahkan Tawafpun telah mereka kerjakan sejak lama. Sai dan Tawaf yang merupakan bagian dari ibadah Haji memang sudah ada sejak dahulu kala, yaitu sejak zaman nabi Ibrahim as. Karena Haji memang adalah  syariah nabi Ibrahim as yang di kemudian hari makin lama makin diselewengkan hingga datangnya nabi Muhammad saw.

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. ( Terjemah QS. Ali Imran(3):97).

Itu sebabnya ketika turun ayat tentang Sai dalam ayat 158 surat Baqarah di atas para sahabat bertanya-tanya mengapa Allah swt memerintahkan melakukan sesuatu yang merupakan kebiasaan jahilyah Quraisy. Mereka ragu dan agak enggan melakukan perintah tersebut. Itu pula sebabnya di akhir ayat Allah berfirman,

“Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui”.

Maka para sahabatpun melakukan Sai dengan hati tenang, karena mereka menyadari yang mereka lakukan adalah dalam rangka ketaatan kepada perintah Tuhannya, bukan karena mengikuti tradisi nenek moyang.

Berikut beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari ayat di atas,

1. Sai yang merupakan bagian dari Haji dan Umrah adalah ritual yang umurnya sudah ribuan tahun. Ritual ini adalah syariat nabi Ibrahim as yang diluruskan kembali ke arah yang benar setelah sekian tahun lamanya bercampur dengan kesyirikan. Yaitu melalui Al-Quran yang dibawa rasulullah Muhammad saw.

2. Adat, tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat selama tidak bertentangan dengan syariat boleh tetap dijalankan. Sedangkan yang tidak sesuai syariat apalagi yang mengandung kesyirikan tidak boleh dilanjutkan, bahkan haram.

3.Ketika kita ragu terhadap sesuatu yang belum jelas hukumnya, sebaiknya berhenti dahulu, cari ilmunya hingga jelas haram/halalnya.

4.Seorang hamba tidak punya pilihan kecuali taat dan patuh kepada Allah swt, sami’na wa atho’na ( kami dengar dan kami taat). Nabi Ibrahim as dan istrinya Siti Hajar adalah contoh yang terbaik. Meski keduanya tidak mengetahui hikmah apa dibalik perintah Allah swt meninggalkan Siti Hajar dan Ismail as yang masih bayi di tanah gersang tak berpenghuni nun jauh di sana, mereka tetap patuh menjalankan perintah tersebut.

5.Pertolongan Allah pasti datang bila kita bersungguh-sungguh berusaha mencari jalan keluarnya. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Yaitu dengan keluarnya air zam-zam dari padang pasir  yang mustahil bisa terjadi bila dipikir secara logika. Ini terjadi setelah Siti Hajar berlari bolak-balik antara Shofa dan Marwa di tengah kesedihan dan keputus-asaan mencari air minum yang sangat dibutuhkan diri dan bayinya.

Namun hari ini kita melihat bagaimana pemerintah Arab Saudi mengeluarkan kebijakan menghentikan  kedatangan jamaah Umrah dari luar negrinya meski hanya untuk sementara. Yaitu selama merebaknya pandemi Corona/Covid-19 yang telah menelan puluhan ribu korban di seluruh penjuru dunia. 

Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Islam memang mengajarkan “lockdown” yaitu melarang orang keluar masuk suatu wilayah ketika sedang terjadi pandemi. Namun tetap saja pelarangan tersebut benar-benar sesuatu yang amat menyesakkan hati. Apalagi bila ibadah Haji yang tinggal beberapa bulan inipun sampai terpaksa dibatalkan. Na’udzubillah billah min dzalik …

Pertanyaan besar, mengapa Allah swt “terkesan ridho” virus ganas tersebut meluluh-lantakan syiar yang telah berumur ribuan tahun tersebut? Bukankah apapun yang terjadi di alam semesta ini semua atas izin-Nya?? Murkakah Allah terhadap penduduk bumi milik-Nya ini??

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. ( Terjemah QS. An-An’am(6):59).

Bila kita perhatikan sekali lagi ke lima hikmah ayat tentang Sai di atas, sudahkan umat mentaatinya??? Kesyirikan yang merupakan dosa terbesar yang harus kita hindari, masihkah ada terselip dalam ritual ibadah kita?? Bagaimana dengan berbagai upara adat sarat kesyirikan yang masih saja dilakukan umat Islam hingga detik ini, dengan berbagai alasannya??

Berapa banyaknya jamaah umrah dan haji yang pulang dari menjalankan rukun Islam ke 5 tersebut tapi masih juga santai melakukan berbagai kemaksiatan seperti korupsi, memamerkan aurat, mengkonsumsi alkohol, dll???  Bahkan prilaku homoseksual yang jelas-jelas diharamkan masih saja terjadi di negri yang katanya mayoritas Islam ini. Termasuk juga pelecehan terhadap ulama dan ajaran Islam yang makin menjadi-jadi. Menunjukkan ikatan persaudaraan yang makin lama makin rapuh.

Yaa Allah ampuni kami, maafkan kami, jangan Kau azab kami sebagaimana telah Kau azab kaum Aad, kaum Tsamud, Firaun dan pasukannya serta kaum-kaum lain yang membangkang dan mendurhakai-Mu.

Yaa Allah, semoga dengan ditutupnya rumah-rumahMu, dihentikannya kajian-kajian, kegiatan ngajar mengajar serta dibatasinya kegiatan perkantoran dan kegiatan sehari-hari lainnya, mampu membuat kami untuk segera introspeksi, memurnikan penyembahan, memperbaiki kesalahan, dan segera bertobat memohon ampunan-Mu.

Yaa Allah lindungi dan bebaskan kami dari ganasnya pandemi Corona serta penyakit-penyakit mematikan lainnya, dan berilah kami kesempatan untuk memasuki Ramadhan yang sudah di depan mata ini dengan hati yang bersih, bebas dari segala kesyirikan dan kemaksiatan.

Yaa Allah bukalah kembali pintu rumah-Mu di Masjidil Haram sehingga kami dapat kembali menjalankan ibadah umrah dan haji dalam keadaan sehat wal afiat dan hati yang tenang.

Yaa Allah Zat Yang Maha Mengabulkan Doa, kabulkankanlah doa dan permohonan kami sebagaimana Kau kabulkan doa nabi Yunus as yang selama beberapa waktu terkurung dalam kegelapan perut ikan, aamiin yaa robbal’aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 28 Maret 2020.

Vien AM.

Kata Pandemi berasal dari bahasa Yunani “Pan” yang artinya “Semua” dan “Demi” dari kata “Demos” yang artinya “Orang“. Singkat kata Pandemi adalah epidemi (wabah penyakit yang terjadi secara lebih cepat daripada yang diduga) yang menyebar di wilayah yang sangat luas, meliputi beberapa benua, atau bahkan ke seluruh dunia, menjangkiti semua orang,  karena penularan yang sangat cepat.

Sepanjang sejarah, sejumlah pandemi penyakit telah terjadi, seperti cacar (variola) dan tuberkulosis. Salah satu pandemi yang paling menghancurkan adalah Maut Hitam ( Black Death)  yang menewaskan sekitar 75–200 juta orang atau 1/3 hingga 2/3 penduduk dunia, sebagian besar penduduk Eropa. Pandemi ini terjadi antara tahun 1400-an hingga 1700-an. Pandemi lain yang tak kalah dasyatnya adalah Pandemi Influenza 1918 ( Spanish Flue) yang menelan korban antara 50 – 100 juta penduduk dunia.

Saat ini dunia kembali gempar karena adanya virus Corona  yang muncul pada Desember 2019.  Virus yang ditularkan dari kelelawar ini bermula dari kota Wuhan, sebuah wilayah China bagian tengah. Warga China, Wuhan khususnya memang dikenal sangat suka melahap daging kelelawar.

Ironisnya tragedy ini terjadi tak lama setelah presiden China Xi Jinping dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa tidak ada kekuatan yang bisa menggoyahkan China. Pernyataan tersebut dikeluarkan dalam perayaan 70 tahun kekuasaan Partai Komunis China pada 1/10/2019.

Tidak ada satu kekuatanpun yang bisa menggoyahkan landasan negara hebat ini,”.”Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan orang China dan negara China untuk melangkah maju”, serunya, sesumbar.

Maklum China adalah negara komunis yang menafi’kan keberadaan Tuhan. Tak heran bila kemudian Allah swt menjungkir-balikkan pernyataan pongah Jinping. Dari Wuhan virus terus menyebar tak terbendung ke berbagai penjuru kota China menyebabkan jatuhnya puluhan ribu korban. Pemerintah China segera mengeluarkan perintah untuk mengisolasi kota, penduduk dilarang keluar masuk kota yang terinfeksi.

Akhirnya WHO pun menyatakan virus Corona atau Covid-19 sebagai pandemik menyusul ditemukannya ratusan ribu kasus Corona di berbagai negara dan berisiko semakin menyebar luas. Tujuannya agar seluruh negara di dunia siap menghadapi kemungkinan penularan secara lebih luas dengan melakukan berbagai upaya pencegahan dan lain sebagainya.  Tercatat, kasus terparah di luar China hingga pertengahan Maret adalah Korea Selatan, Italia dan Iran.

Tak ayal sejumlah negarapun menyatakan Lockdown, artinya negara menutup semua perbatasannya, dengan tujuan tidak ada satupun orang bisa keluar masuk kota/negara bersangkutan. Jakarta diikuti beberapa kota besar lainnya akhirnya mengikuti jejak tersebut, meski bukan Lockdown dalam arti sebagaimana yang dilakukan negara lain.

https://wow.tribunnews.com/2020/03/14/jakarta-siaga-corona-covid-19-anies-baswedan-liburkan-sekolah-anak-anak-adalah-penular?_ga=2.191341866.1028413833.1584329569-650280403.1553788439.

Anies Bawesdan selaku gubernur DKI pada Sabtu 14 Maret dengan tegas memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sebelumnya yaitu pada hari Jumat 13 Maret, Anies juga menghimbau agar umat Islam dalam melaksanakan shalat Jumat tetap waspada dalam menghadapi bahaya virus Corona, diantaranya yaitu dengan membawa alat shalat masing-masing, yang kurang sehat memakai masker, membersihkan tangan dengan sanitizer sebelum memasuki pintu utama masjid dll.

Menariknya, gubernur DKI tersebut tidak lupa mengutip hadist yang berkaitan dengan Lockdown sebagaimana berikut,

Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Dulu di zaman Rasululullah SAW, sebelum diketahui obatnya, memang pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

“Jangan kamu terus menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta.” (HR Bukhari).

Pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab ra sekitar tahun 18H (640 M) pernah pula terjadi wabah penyakit menular. Ketika itu Umar bin Khattab bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri Syam. Di perbatasan sebelum memasuki Syam mereka mendengar ada wabah Tha’un Amwas sedang melanda negeri tersebut. Tha’un Amwas adalah sebuah penyakit menular berupa benjolan diseluruh tubuh yang ketika pecah akan mengakibatkan pendarahan. Umar dan rombonganpun berhenti.

Abu Ubaidah bin Al Jarrah, seorang sahabat sekaligus gubernur Syam ketika itu segera datang menemui rombongan. Terjadilah percakapan hangat, membicarakan bagaimana sebaiknya rombongan bersikap, melanjutkan masuk Syam atau pulang kembali ke Madinah.

Umar yang bijaksana, seperti biasa meminta saran para sahabat. Mereka semua berbeda pendapat. Abu Ubaidah menginginkan rombongan tetap masuk, dan berkata :”Mengapa engkau harus lari dari takdir Allah SWT?”

Namun Umar ra menyanggahnya, dan bertanya, “Jika engkau mempunyai kambing dan ada 2 lahan, yang satu subur dan yang lain kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah”.

“Sesungguhnya dengan kami pulang, kami hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain”, lanjut Umar.

Beruntung tiba-tiba Abdurrahman bin Auf ra teringat ucapan Rasulullah SAW,

Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya”.

Akhirnya rombonganpun kembali ke Madinah. Namun demikian Umar tidak kuasa meninggalkan Abu Ubaidah, sahabat yang dikaguminya itu tetap tinggal di Syam. Umar lalu menulis surat untuk mengajaknya ke Madinah.

Tapi apa jawaban Abu Ubaidah?? Ternyata sahabat Rasul tersebut memilih hidup dan mati bersama rakyatnya. Umar ra pun menangis membaca surat balasan Abu Ubaidah. Tangisnya bahkan bertambah mendengar Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat mulia lainnya seperti Muadz bin Jabal dan Suhail bin Amr wafat akibat wabah Tha’un yang merenggut sekitar 20 ribu orang, hampir separuh penduduk Syam ketika itu.

Wabah baru berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Ia berkata:

Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung”.

Pendudukpun mematuhinya. Mereka berpencar dan menempati gunung2. Wabah berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan bakar.

Dari peristiwa di atas dapat disimpulkan keputusan Lockdown dan Social distancing (menjaga jarak, mengurangi perjumpaan/kontak fisik) adalah sesuai dengan ajaran Islam. Makin membuktikan Islam akan senantiasa sesuai untuk manusia hingga akhir zaman.

Sayang penduduk Jakarta yang mayoritas Muslim itu ternyata banyak yang kurang memahami ajaran agamanya sendiri. Terbukti satu hari setelah Anies me”liburkan“ sekolah, jalan menuju Puncak Bogor macet sepanjang 8 km. Alasannya karena tempat rekreasi di Jakarta ditutup ! Dan ini berlanjut hingga esok harinya, dimana antrian panjang orang yang hendak pergi bekerja mengular di jalur antrian stasiun MRT dan busway Transjakarta.  Padahal imbauan agar orang bekerja dari rumah ( Work From Home) kecuali darurat telah dikeluarkan.

https://www.liputan6.com/global/read/4204213/bedanya-lockdown-dan-social-distancing-yang-perlu-dipahami-untuk-cegah-virus-corona

Tidakkah mereka menyadari bahwa tindakan tersebut dapat membahayakan orang lain?? Jika yang berdesakan di stasiun MRT dan busway dengan alasan harus bekerja demi kemaslahatan seperti para dokter, petugas medis, petugas pemadam kebakaran atau para pejabat tinggi yang memang mempunyai tanggung-jawab besar terhadap masyarakat, tentu bisa dimaklumi. Bahkan bila niatnya demi mencari ridho Allah swt pahala besar sudah pasti akan mereka raih. Tapi mereka yang hanya sekedar berjalan-jalan rekreasi ???

Sejumlah hadist mengatakan penyakit bisa jadi rahmat bahkan syahid bagi kaum Mukmimin, tapi tentunya setelah ikhtiar maksimal. Dan bersabar adalah salah satu syaratnya.

“Tha’un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin”.

“Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid”. (HR. Bukhari dan Ahmad)

Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)”. (HR Bukhari).

Akhir kata semoga kita semua bisa lulus dari ujian berat ini, dan semoga Alah swt berkenan segera mengakhirinya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

“Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya”.(HR. Bukhari)

96ecc4d5-bd64-4256-9d33-38db0863e78eWallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 18 Maret 2020.

Vien AM.

Kaum Muslimin sebagai kaum minoritas kembali menjadi korban kekerasan dan kebiadaban. Kali ini terjadi di India yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu. Pemicunya adalah Citizenship Amendment Act (CAA) sebuah RUU yang memungkinkan pemerintah India memberikan kewarganegaraan pada warga ber-agama minoritas, kecuali Islam. Kecuali Islam???

Perdana Menteri Narendra Modi berdalih undang-undang baru itu diperlukan untuk membantu dan memberi perlindungan (amnesti) kaum minoritas yang melarikan diri ke India dari penganiayaan agama di negara mayoritas Muslim di Afghanistan, Bangladesh dan Pakistan yang merupakan tetangga terdekat India. Namun ia tidak menjelaskan penganiayaan yang dimaksudkannya tersebut.

Tidak semua rakyat India termasuk yang beragama Hindu menyetujui  undang-undang sepihak dan diskriminatif tersebut. Mereka berpendapat bahwa hukum tersebut sangat bertentangan dengan semangat konstitusi sekuler negara.

https://www.merdeka.com/dunia/deretan-aktor-bollywood-dukung-demo-penolakan-uu-kewarganegaraan-baru-india.html

Para kritikus bahkan meyakini bahwa RUU itu adalah bagian dari upaya partai BJP (Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata) yang merupakan pemegang kekuasaan, untuk meminggirkan Umat Islam. Ini demi mengejar agenda pro-Hindu sebagai yang dijanjikan ketika terpilih kembali sebagai PM tahun lalu. Namun demikian Modi menyangkal adanya bias terhadap populasi Muslim India yang jumlahnya lebih dari 180 juta orang itu.

Pimpinan lembaga Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet juga mengatakan undang-undang baru yang diadopsi Desember lalu itu memang “sangat memprihatinkan”. Namun, ia mengimbau agar semua pihak menghindari kekerasan.

Saya menghimbau semua pemimpin politik untuk mencegah kekerasan,” kata Bachelet dalam pidatonya di dewan HAM PBB di Jenewa, sebagaimana dilaporkan The Guardian.

Demo antara demonstran pendukung (Hindu) dan penolak CAA yang mayoritas beragama Islam pertama kali terjadi pada Minggu (23/02/2020). Kerusuhan demi kerusuhan terus terjadi selama kunjungan resmi pertama presiden AS Donald Trump ke India.

Dalam kerusuhan tersebut terjadi aksi pembakaran, penjarahan, penganiayaan, pelemparan batu dll. Korban terakhir tercatat 38 orang meninggal, lebih dari 150 orang mengalami luka serius, mayoritas Muslim. Dilaporkan banyak pula warga yang menderita luka tembak.

Yang juga menyedihkan adalah adanya perusakan masjid. Secara brutal mereka menaiki menara masjid dan mencabut simbol bulan sabit yang ada di atasnya lalu menggantinya dengan lambang Hanuman yang merupakan lambang sakral umat Hindu.

https://www.viva.co.id/berita/dunia/1202063-pecah-kerusuhan-bendera-hanoman-dikibarkan-di-menara-masjid?medium=terpopuler-widget

india riotriot india1Dengan beringas, ber-ramai-ramai mereka pukuli orang yang sedang menuju masjid, mereka masuki rumah-rumah kaum Muslimin  yang telah puluhan tahun ditinggali, memaksa meninggalkannya bahkan selanjutnya membakarnya. Belum lagi penyerbuan polisi ke Universitas Jamia Millia Islamia. … Astaghfirullahaladzim …

Menjadi pertanyaan besar mengapa umat Islam ketika posisinya minoritas sering kali di dzalimi??? Mengapa mereka yang tidak menyukai bahkan membenci Islam bisa dan berani berbuat semena-mena terhadap saudara-saudari kita ?? Sungguh menyedihkan … Belum juga usai penderitaan kaum Muslimin di Palestina, Suriah, Rohingnya, Uighur … kini India …

Dimana ikatan persaudaraan Islam yang harusnya mampu mencegah dan melindungi saudara-saudari kita yang terdzalimi di negri dimana mereka hanya minoritas???

Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim yang lainnya. Tidak boleh mendzaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang Muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Bukankah jumlah kaum Muslimin di dunia ini cukup banyak, bukan hanya sedikit hingga tidak mampu berbuat sesuatu. Sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah saw berabad-abad silam.

Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati”. [HR. Abu Daud dan Ahmad].

Tampaknya hanya Tayyip Erdogan, presiden Turki, satu-satunya kepala negara mayoritas Muslim yang secara lantang berani membela dan memprotes apa yang dialami kaum Muslimin. Jokowi presiden negara mayoritas Muslim terbesar tidak sedikitpun mengeluarkan pernyataan keprihatinan.

Aktivis pembela kemanusiaan, Natalius Pigai, mempertanyakan peran dari Jokowi, “Hari ini umat Islam di India dibantai, di mana Ir. Joko Widodo?” kata Pigai dalam siaran persnya kepada VIVAnews, Jumat, 28 Februari 2020.

Dalam kesempatan tersebut ia membandingkan dengan apa yang dilakukan Soekarno, presiden pertama Indonesia dalam menghadapi apa yang dilakukan India terhadap kaum Muslimin di Kashmir beberapa puluh tahun yang lalu.

“Saya bantu karena solidaritas bangsa Muslim”, begitu jawaban Soekarno terhadap pertanyaan Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India ketika itu) yang kaget dengan sikap Soekarno, sahabatnya,

https://www.vivanews.com/berita/nasional/38454-natalius-pigai-umat-islam-dibantai-di-india-di-mana-jokowi?medium=autonext

Bandingkan pula dengan pernyataan Modi di awal tulisan, yang berdalih CAA dibuat demi membantu kaumnya yang ia anggap tertindas meski anggapan tersebut tidak terbukti dan belum tentu benar. Karena Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dan pemaksaan apalagi dalam hal keimanan.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. … “.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):256).

Namun harus diakui tindakan partai Hindu yang mengusung Modi demi  memprioritaskan kaum Hindu yang merupakan mayoritas adalah tindakan yang patut dihargai. Caranya yang terlalu mencolok hingga menyakiti dan menimbulkan bentrokan berdarah antar kaum beragama tanpa usaha maksimal penguasa, yang harus kita cela.

Hal yang rasanya tidak mungkin terjadi di negri kita tercinta yang katanya mayoritas Islam ini. Yang mendengar kata “khilafah” saja sudah alergi. Maka tak heran ketika ormas seperti FPI, GNPF Ulama serta PA 212 melakukan demo besar-besaran di depan kedutaan India pada Jumat 6 Maret 2020 lalu tidak satupun media mainstream meliputnya. Yang ada malah sejumlah orang yang mengaku Muslim nyinyir menanggapinya … Na’udzubillah min dzalik …

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200306110017-20-481028/demo-kedubes-india-pa-212-tuntut-putus-hubungan-diplomatik

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawab.

Jakarta, 9 Maret 2020.

Vien AM.

Note:

Kabar terakhir, sebuah video menunjukkan hampir 3000 warga Hindu India berbondong-bondong memeluk Islam paska kerusuhan CAA. Allahu Akbar …

2104168manusia-pertama-bisa-terbang780x390Jauh sebelum Orville dan Wilbur Wright bersaudara berhasil menerbangkan pesawat pada tahun 1903, ilmuwan Muslim telah mengembangkan prinsip-prinsip penerbangan. Abbas Ibn Firnas, seorang matematikawan, astronom, fisikawan, dan ahli penerbangan Muslim dari abad ke-9, tercatat sebagai manusia pertama yang mengembangkan alat penerbangan dan sukses terbang.

Pengertian manusia pertama di sini berlaku umum, mencakup siapa pun yang berhasil terbang menggunakan alat apa pun, tidak harus berupa pesawat terbang seperti yang ada saat ini. Ibn Firnas berhasil terbang menggunakan glider, alat terbang sederhana yang dilengkapi sayap. Sementara itu, tak diragukan, Wright merupakan penemu dan penerbang pesawat terbang pertama.

Alat terbang Ibn Firnas memang masih sederhana. Namun, keberhasilan Ibn Firnas menguji dan menerbangkan alat buatannya pada tahun 852 memberi inspirasi kepada ilmuwan-ilmuwan Barat untuk mengembangkan pesawat. Ibn Firmas lahir di Izn-Rand Onda (sekarang Ronda, Spanyol) tahun 810 Masehi. Pria Maroko ini hidup pada masa pemerintahan Khalifah Umayyah di Andalusia (Spanyol). Semasa hidupnya, seorang genius yang hidup di Cordoba ini dikenal sebagai ilmuwan serba bisa dan menguasai beragam disiplin ilmu pengetahuan.

Menurut sejumlah sumber, ketertarikan Abbas pada aeronautika bermula saat ia menyaksikan atraksi pria pemberani bernama Armen Firman. Pria tersebut membuat alat dari sutra yang diperkuat dengan batang kayu. Ia lantas terjun dari ketinggian, tetapi ia tak berhasil. Untungnya, alat cukup menghambat gerak jatuh bebas Firman sehingga ia tak terluka. Ibn Firnas yang berada dalam kerumuman penonton terkesan dengan aksi Armen Firman. Pengalamannya ini yang menyeretnya mempelajari aeronautika lebih dalam.

Sumber lain menyebut, Armen Firman sejatinya merupakan nama Ibn Firnas yang “dilatinkan”. “Penerbangan” pada tahun 852 adalah percobaan pertamanya. Tahun 875, saat usianya menginjak 65 tahun, Ibn Firnas merancang dan membuat sebuah alat terbang yang mampu membawa penumpang. Ia lantas mengundang orang-orang Cordoba untuk turut menyaksikan penerbangan bersejarahnya di Jabal Al-‘Arus (Mount of the Bride) di kawasan Rusafa, dekat Cordoba.

Sebelum melakukan uji coba terbang, Ibn Firnas sempat mengucapkan salam perpisahan, mengantisipasi jika penerbangannya gagal.

Saat ini, saya akan mengucapkan selamat tinggal. Saya akan bergerak dengan mengepakkan sayap, yang seharusnya membuat saya terbang seperti burung. Jika semua berjalan dengan baik, saya bisa kembali dengan selamat,” katanya.

Penerbangan itu sukses. Ibn Firnas mampu terbang selama 10 menit. Sayang, cara meluncurnya tidak tepat sehingga melakukan pendaratan yang fatal. Ibn Firnas terempas ke tanah bersama “pesawatnya” dan mengalami patah tulang pada bagian punggung. Kecelakaan itu terjadi karena dia lupa untuk menambahkan ekor pada alat buatannya. Ibn Firnas tidak memperhitungkan pentingnya ekor sebagai bagian yang digunakan untuk memperlambat kecepatan saat melakukan pendaratan sebagaimana layaknya burung ketika menggunakan ekornya.

Abbas Ibn Firnas wafat pada tahun 888. Ia tidak bisa bertahan dari deraan sakit akibat cedera punggung yang diderita saat melakukan uji coba pesawat buatannya. Pengalaman terbang Ibn Firnas menjadi pelajaran bagi ilmuwan lain. Gagasannya terus dipelajari oleh ilmuwan-ilmuwan lain setelahnya. Abbas bukan hanya penemu pesawat terbang pertama.

Ia juga dikenal sebagai ilmuwan serba bisa yang menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Ia mempelajari halilintar dan kilat, membuat tabel astronomi, dan menciptakan gelas berwarna. Bahkan, Ibn Firnas menemukan jam air yang disebut Al-Maqata.

Di bidang astronomi, Ia juga mengembangkan peraga rantai cincin yang digunakan untuk menjelaskan pola pergerakan planet-planet dan bintang-bintang. Atas kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan, beberapa negara bahkan memberikan penghormatan khusus.

Pemerintah Libya mengeluarkan prangko bergambar Abbas Ibn Firnas untuk mengenangnya. Irak juga membangun patung sang penerbang pertama itu di sekitar lapangan terbang internasionalnya serta mengabadikan namanya sebagai nama bandara di utara Baghdad. Baru-baru ini namanya dipakai sebagai nama jembatan di kota asalnya, Cordoba. Nama Armen Firman sendiri menjadi nama salah satu kawah di bulan. A(Researcgate, Muslim Memo, Forgotten Islamic History)

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 6 Maret 2020.

Vien AM.

Diambil dari :

https://sains.kompas.com/read/2016/06/15/21063001/manusia.pertama.yang.berhasil.terbang.ternyata.seorang.muslim?page=all#page3