Feeds:
Posts
Comments

Habis Gelap Terbitlah Terang Armijn PaneSiapa yang tak kenal ibu Kartini, yang hari lahirnya pada 21 April selalu kita peringati. Namun demikian benarkah sudah kita mengenal dan menerima pesan-pesannya dengan baik? Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879, dan wafat di Rembang pada 1904 pada usia 25 tahun. Ia wafat hanya selang 4 hari setelah melahirkan seorang bayi laki-laki.  RA Kartini menikah pada usia 23 tahun dengan seorang bupati Rembang.

Kebanyakan orang mengenal Kartini sebatas tokoh emansipasi perempuan yang memperjuangkan pendidikan, hak dan kesetaraan kaum hawa. Karena memang itulah yang ditonjolkan dan dikehendaki Abendanon, menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan pemerintah Hindia Belanda pada saat hidup Kartini. Abendanon yang merupakan suami dari Rosa, salah satu sahabat koresponden Kartini di Belanda, adalah orang pertama  yang mengumpulkan surat-surat Kartini dan memberinya judul “Door Duisternis Tot Licht” yang berarti  “Dari Gelap Kepada Cahaya“. Buku kumpulan surat Kartini yang memuat 100 surat, 53 diantaranya ditujukan kepada keluarga Abendanon. diterbitkan pada 1911.

Surat-surat Kartini memang banyak sekali mengulang kalimat yang di kemudian hari dijadikan judul oleh Abandon tersebut. Abandon tentu saja tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut merupakan petikan ayat Al-Quran. Kemudian pada tahun 1922 buku tersebut untuk pertama kalinya diterbitkan dalam bahasa Melayu oleh Penerbit Empat Sekawan. Selanjutnya yaitu pada tahun 1951 Armijn Pane, seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru menerbitkan kumpulan surat Kartini dalam Bahasa Indonesia, dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

“Habis Gelap Terbitlah Terang” versi Armijn Pane ini tidaklah sama dengan buku terbitan sebelumnya. Selain ditambah dengan Kata Pembimbing yang memberikan arahan kepada pembaca tentang sosok Kartini dan latar belakang kehidupannya, buku itu adalah hasil terjemahan kembali dari bahasa Belanda yang berbeda sama sekali dengan terjemahan sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi.

Dengan cara itu Armijn berharap pemikiran dan cita-cita Kartini menjadi semakin dapat diakses oleh masyarakat luas. Pemikiran Kartini tentang peranan perempuan dalam keluarga dan masyarakat, kegelisahannya tentang agama, dan sikapnya yang emoh terhadap budaya feodal tergambar jelas pada setiap tulisan Kartini dalam surat-suratnya.

Sikap dan pemikiran Kartini yang jauh melampaui kaum perempuan pada zamannya, dituangkan melalui surat yang dikirimkan kepada teman-teman korespondensi bangsa asing, di luar negri, serta berbahasa asing pula, tentu merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Sebagai putri seorang bupati Jepara yang berpikiran terbuka, Kartini memang beruntung berkesempatan mengenyam pendidikan resmi meski hanya sampai usia 12 tahun.

Karena setelah itu seperti umumnya anak perempuan pada zamannya, Kartini harus dipingit. Di ELS (Europese Lagere School) inilah Kartini belajar bahasa Belanda yang sudah terbiasa ia dengar karena sang ayah fasih berbahasa tersebut.  Sementara salah satu kakak Kartini, adalah seorang jenius dalam bidang bahasa. Dalam waktu singkat pendidikannya di Belanda, kakaknya itu menguasai 26 bahasa.

Di tengah lingkungan seperti itulah Kartini tumbuh. Maka tak heran dengan modal kemampuan baca dan tulis dalam bahasa Belanda ( dan juga bahasa Inggris), Kartinipun menjalin hubungan dengan sejumlah teman pena di negri Belanda nun jauh disana. Stella diantaranya. Kartini banyak membaca buku, koran, dan majalah Eropa dari berbagai sumber. Kartini menyadari betapa berbedanya cara berpikir perempuan Jawa dengan perempuan kulit putih.

Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, agar setara dengan kaum lelaki.  Ia juga tidak menyukai adanya perbedaan derajat manusia, antara bangsawan dan rakyat biasa yang waktu itu telah menjadi budaya Jawa. Surat-surat Kartini memuat berbagai hal yang merisaukan hati dan pikirannya. Berikut beberapa surat Kartini yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia.

Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya… “.(Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).

Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” [ Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899].

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”. [ Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]

Kartini juga berani mengkritik  kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu. Dengan nota yang berjudul: “Berilah Pendidikan kepada bangsa Jawa”, Kartini mengajukan kritik dan saran kepada sejumlah Departemen Pemerintah Hindia Belanda. Kepada Departemen Kesehatan Kartini menulis :

Para dokter hendaklah juga diberi kesempatan untuk melengkapi pengetahuannya di Eropa. Keuntungannya sangat mencolok, terutama jika diperlukan penyelidikan yang menghendaki hubungan langsung dengan masyarakat. Mereka dapat menyelidiki secara mendalam khasiat obat-obatan pribumi yang sudah sering terbukti mujarab….”.

Melalui surat-suratnya diketahui Kartini sangat ingin melanjutkan sekolah di Belanda. Teman-teman korespondensinya mendukung cita-cita tinggi tersebut. Namun dengan berlalunya waktu, kegelisahan Kartinipun bertambah, yaitu tentang wawasan kebangsaan. Teman-temannya sempat kecewa mengetahui gadis tersebut tidak lagi banyak membicarakan keinginannya sekolah di luar negri. Kartini bahkan mulai mengkritisi keberadaan pemerintah kolonial Hindia Belanda di tanah leluhurnya.

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).

”Manusia itu berusaha, Allah-lah yang menentukan” (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900).

Kartini juga sempat menentang praktek kristenisasi di Hindia Belanda:

Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi? …. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” (Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903).

Teman-teman Kartini makin kecewa mengetahui Kartini mau dijodohkan orang-tuanya dengan seorang lelaki yang telah beristri. Hal yang selama ini sangat ditentang Kartini. Meski nyatanya suaminya itu sangat dapat memahami keinginan Kartini. Diberinya istrinya itu kebebasan dan iapun mendukung Kartini mendirikan sekolah perempuan pertama yang dibangun di samping kompleks kantornya, yaitu kabupaten Rembang.

Apa yang sebenarnya terjadi pada diri Kartini yang sejak kecil sudah kritis hingga sering dimarahi guru mengajinya hanya karena menanyakan makna dari kata-kata Al-Quran yang diajarkan kepadanya untuk dibacanya?

Suatu ketika Kartini menghadiri acara pengajian bulanan khusus anggota keluarga di rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Penceramahnya, Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang. Ketika itu Kyai mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah. Selesai acara pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya menemui sang Kyai. Berikut dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :

“Kyai, perkenankanlah aku menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?

Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” kata Kartini lagi.

Setelah pertemuan tersebut Kyai Sholeh tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Dan pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran) jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Terjemahan tersebut mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Maka sejak itulah Kartini mempelajari Islam lewat Al-Quran lengkap dengan artinya, secara sungguh-sungguh. Sayangnya, terjemahan Al-Quran karya Kyai Sholeh tidak pernah selesai karena tidak lama setelah itu Sang Khalik memanggilnya.

Suatu hari ketika sedang mempelajari Al-Quran terjemahan karya sang Kyai, Kartini tertegun akan ayat 257 surat Al-Baqarah yang berbunyi “Allah-lah yang membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya” (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Kartini terkesan dengan kata-kata tersebut. Itu sebabnya surat-surat Kartini belakangan banyak menggunakan kata-kata “Dari gelap kepada cahaya” yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht”.

Prof. Haryati Soebadio, cucu tiri Kartini, Menteri Sosial pada Kabinet Pembangunan V, mengartikan kalimat “Door Duisternis Tot Licht” sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya” yang bahasa Arabnya adalah “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“. Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyah) ke tempat yang terang benderang (hidayah atau kebenaran Ilahi), sebagaimana firman-Nya:

Allah pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya” (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):257).

Dan sejak itu pula sikap Kartini terhadap Barat, Belanda sebagai penjajah khususnya, mulai berubah.

“Jalan kepada Allah dan jalan kepada padang kemerdekaan hanyalah satu. Siapa yang sesungguhnya jadi hamba Allah, sekali-kali tiada terikat kepada manusia, sebenar-benarnya merdekalah dia”.

Kartini bahkan bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah ayat 193, “ Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”. Ia berupaya untuk memperbaiki citra Islam yang selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan :

Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” [ Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902].

Tak heran bila di kemudian hari berkembang pendapat bahwa Kartini meninggal bukan karena sakit melainkan dibunuh. Ada dugaan Abendanon melakukan tebang pilih surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya.

Menurut almarhumah Sulastin Sutrisno jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda. Sulastin pada tahun 1972,  pernah mendapat tugas dosennya untuk menterjemahkan surat-surta Kartini yang disimpan pemerintah Belanda. Ketika itu ia sedang melanjutkan studynya di universitas Leiden Belanda, di bidang sastra. Pada tahun 1979 ia menerbitkan terjemahan surat-surat Kartini tersebut.

Kematian Kartini yang mendadak juga menimbulkan spekulasi negatif bagi sebagian kalangan. Efatino Febriana, dalam bukunya “Kartini Mati Dibunuh”, mencoba menggali fakta-fakta yang ada sekitar kematian Kartini. Bahkan, dalam akhir bukunya, Efatino berkesimpulan, kalau Kartini memang mati karena sudah direncanakan. Demikian pula Siti Soemandari dalam buku “Kartini, Sebuah Biografi“, menduga bahwa Kartini meninggal akibat permainan jahat dari Belanda.

Salah tujuan politik etis adalah persamaan dan derajat yang sama antara lelaki dan perempuan. Kartini tampaknya memang tokoh yang tepat untuk tujuan tersebut. Namun benarkah tuntutan Kartini persis seperti emansipasi yang terjadi di Barat, yang hingga hari ini menjadi tujuan banyak kaum perempuan bangsa ini? Dimana kaum perempuan berbondong-bondong keluar rumah untuk bekerja dan berkarier, bersaing dengan kaum lelaki, dengan meninggalkan anak-anak di belakang mereka, meninggalkan tugas dan kodrat mereka sebagai ibu, pendidik anak yang pertama.

Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Ironisnya lagi, pada suatu acara peragaan pakaian yang digelar sebagai rangkaian acara peringatan Kartini, Sukmawati Sukarnoputri membacakan puisi yang sama sekali tidak menggambarkan Kartini yang sebenarnya. Puisi tersebut sungguh mengecilkan kedudukan jilbab dan azan sebagai syariat Islam. Kartini mungkin belum sempat berhijab ketika dipanggil menjumpai Tuhannya. Tapi jika ketika belajar dan membaca terjemahan Al-Quran tidak sampai setengahnya, bahkan di surat Al-Fatihah yang merupakan pembukaan Al-Quran dan ayat 257 Al-Baqarah saja Kartini sudah demikian terkesima. Maka dapat dipastikan kalau saja Kartini sempat membaca terjemah ayat-ayat jilbab ia akan melaksanakannya, yaqqin …

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.(Terjemah QS.Al-Ahzab(33):59).

Dan lagi bila saja Kartini yang hobby membaca dan menulis itu, sempat membaca terjemahan surat Al-‘Alaq yang diawali perintah “Bacalah”, ditambah dengan mempelajari asbabunuzul ayat serta sirah Nabi, tak ayal lagi, pasti Kartini akan semaksimal mungkin menjalankan syariat Islam hingga menjadi seorang Muslimah yang takwa. Masya Allah …

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.(Terjemah QS. An-Nahl(16):97).

Sungguh Kartini pasti akan terkejut mendapati betapa banyaknya ayat-ayat Al-Quran yang menerangkan bahwa derajat laki-laki dan perempuan, sesuai kodrat dan tanggung-jawab masing-masing, adalah sama. Keimanan, amal perbuatan dan ahlaklah yang membedakan mereka, baik yang kaya maupun yang miskin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 7 Mei 2018.

Vien AM.

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini

https://erwinisasi.wordpress.com/2013/04/21/habis-gelap-terbitlah-terang-kartini/

https://blog.al-habib.info/id/2011/04/hari-kartini-antara-emansipasi-menjadi-muslim-sejati/

http://toko-bukubekas.blogspot.co.id/2013/09/jual-buku-habis-gelap-terbitlah-terang.html

 

Abdurrahman bin Auf dan Thalhah bin Ubaidillah adalah sahabat dari golongan Al-Sabiqun Al-Awwalun‎ (orang-orang terdahulu yang pertama kali memeluk Islam) dari kaum Muhajirin. Keduanya berasal dari keluarga terpandang Quraisy, yang sampai akhir hayatnya tetap dikenal sebagai orang kaya raya berkat bakat dagang yang dikaruniakan Allah swt. Mereka adalah Pebisnis sukses, kata orang zaman sekarang.

Abdurrahman dan Thalhah dilahirkan dan tumbuh di lingkungan kota Mekah pada masa kejahiliyahan meraja lela. Pada saat itu penyembahan berhala, kebiasaan minum khamar, perzinahan, para perempuan mengumbar aurat, anak perempuan dikubur hidup-hidup, mengundi nasib, sistim riba, balas dendam dll adalah sesuatu yang biasa.

Namun pada saat datangnya Islam, Allah swt memudahkan Abdurrahman dan saudara-saudaranya untuk bersegera menjadi pengikut setia Rasulullah saw. Usia Abdurrahman ketika itu 30 tahun. Itu semua berkat ajakan Abu Bakar Siddiq, sahabat nabi sejak kecil yang langsung beriman begitu nabi memberitahukan Kerasulannya. Abu Bakar ketika itu memang dikenal sebagai orang sukses, kaya raya, didengar dan dipercaya baik karena akhlak maupun kejujurannya dalam berdagang.

Demikian pula Thalhah yang ketika itu baru berusia 16 tahun. Ia memeluk Islam berkat Abu Bakar. Namun sebelumnya ia pernah mendengar berita tentang datangnya seorang nabi baru.  Ketika itu ia sedang di Syam mengikuti kafilah dagang. Tiba-tiba seorang rahib mendatangi kafilahnya dan menanyakan apakah mereka sudah mendengar berita kedatangan seorang nabi dari semenanjung Arabia. Nabi tersebut bernama Ahmad. Sang rahib menyarankan agar mereka segera mengikutinya. Itu sebabnya begitu Thalhah kembali ke negrinya ia langsung mendatangi Abu Bakar untuk menanyakan hal tersebut.

Maka sejak itu, baik Abdurrahman maupun Thalhah, bersama sahabat yang waktu itu baru berjumlah 40 orang selalu mengikuti majlis nabi, mulai dari Al-Arqam yang merupakan majlis pertama umat Islam, hingga wafatnya Rasulullah di Madinah. Keduanya juga tercatat tidak pernah ketinggalan dalam berbagai perang baik selama hidup Rasulullah maupun setelahnya.

Seperti juga rata-rata sahabat, Abdurrahman dan Thalhah dikenal sebagai orang yang tawadhu. Meski mereka kaya raya dan sibuk dengan perniagaan, rasa takut, harap dan cinta kepada Sang Khalik tetap tertanam kuat di dalam hati sanubari mereka. Mereka menginfakkan sebagian besar kekayaan mereka untuk membebaskan budak dan berbagai kebutuhan umat demi kemajuan Islam. Tak heran bila Rasulullah menyebut kedua sahabat tersebut sebagai 2 dari 10 sahabat nabi yang telah dijanjikan surga.

Paska wafatnya Rasulullah Abdurrahman bahkan pernah menduduki posisi tinggi sebagai calon khalifah menggantikan Umar bin Khattab yang terbunuh. Namun ia menarik diri demi memberi kesempatan Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib untuk bertarung. Sementara Thalhah yang mempunyai julukan Perisai Rasulullah berkat sepak terjangnya dalam melindungi Rasulullah dalam perang Uhud hingga harus menerima 70 tusukan tombak di lengannya, merupakan satu dari penasehat khalifah. Thalhah wafat sebagai mujahidin dalam perang Jamal yang sarat muatan politik.

Namun kisah menarik yang akan dipaparkan di bawah ini adalah kisah perselisihan antara keduanya yang sangat patut kita jadikan keteladanan. Alkisah Abdurrahman dan Thalhah mempunyai sebidang tanah yang letaknya bersebelahan. Suatu hari Abdurrahman bermaksud mengairi tanahnya lewat tanah Thalhah. Tapi oleh suatu sebab Thalhah tidak mengizinkannya. Abdurrahmanpun mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Namun apa jawaban Rasulullah ?

“Bersabarlah, Thalhah adalah seseorang yang telah wajib baginya surga”.  

Abdurahmanpun menahan diri. Ia lalu mendatangi Thalhah dan mengabarkan apa yang disampaikan Rasulullah.

“Wahai saudaraku, apakah harta ini sampai membuatmu mengadukannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?!?”, tanya Thalhah.

“Tadinya memang begitu”, jawab Abdurahman tersipu.

“Aku bersaksi kepada Allah, dan kepada Rasullulah  bahwa harta itu menjadi milikmu wahai saudaraku”, seru Thalhah kemudian.

Masya Allah …  Padahal Abdurrahman ketika itu sedang kesal. Tapi dengan besar hati ia tetap menyampaikan berita gembira bagi orang yang telah membuatnya kesal. Sementara Thalhah begitu menerima kabar gembira langsung menghadiahkan tanah yang sebelumnya untuk dilewati airnya saja tidak rela.  Begitulah sahabat mengakhiri perselisihan, alangkah indahnya …

Dari kisah diatas dapat disimpulkan :

  • Pengikut awal Rasulullah bukan melulu orang-orang lemah, miskin dan tertindas, seperti yang selama ini digembar-gemborkan.
  • Untuk menjadi ahli surga tidak cukup hanya sebagai ahli ibadah. Ke 10 sahabat yang dijanjikan surga dalam hadist, selain ahli ibadah mereka sangat peduli kepada nasib dan masa depan umat Islam. Termasuk dalam hal kepemimpinan, untuk memilih maupun dipilih. Dengan penuh ikhlas mereka mempertaruhkan jiwa dan harta mereka.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”.( Terjemah QS. At-Taubah (9):100).

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Abdurrahman bin Humaid dari ayahnya dari Abdurrahman bin ‘Auf dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubeir masuk surga, Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id masuk surga dan Abu Ubaidah bin Jarrah masuk surga.” [HR At Tirmidzi (3747), hadits shahih.]

Untuk diingat, Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali adalah khalifah terbaik sepanjang sejarah dunia.

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 15 April 2018.

Vien AM.

Husnul Khotimah

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”. (Terjemah QS. An-Anbiya (21):35).

Mati adalah suatu kepastian yang tidak mungkin dielakkan manusia, apapun suku, ras, bangsa, agama, laki-laki ataupun perempuan. Dan semua Muslim pasti ingin ketika meninggal nanti dalam keadaan husnul khotimah, yaitu dalam keadaan terbaiknya. Itulah jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah).

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Terjemah QS. Al-Fajr (89):27-30).

“ … Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan“. (QS. An-Nahl: 31-32).

Itu sebabnya ketika ada anggota keluarga, kawan atau kerabat yang “dipanggil menghadap” Sang Khalik, doa yang dipanjatkan sering kali adalah “semoga husnul khotimah”.

Lawan dari husnul khotimah adalah su’ul khotimah, yaitu dalam keadaan terburuknya. Itulah jiwa khomisa atau jiwa yang marah/gelisah. Su’ul khotimah akan dialami oleh orang yang rusak keyakinan batinnya, rusak amalannya, yang meninggalkan kewajiban bahkan berani melakukan dosa-dosa besar. Yang hingga ajal menjemput tidak sempat bertaubat.

“(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata);

“Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatanpun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”.

Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu”. (Terjemah QS.Ah-Nahl(16):28-29).

Masalahnya Sang Khalik me-wafatkan hamba-Nya tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, juga tanpa harus sakit atau menunggu tua. Betapa seringnya kita mendengar berita orang meninggal dalam usia muda, sehat pula. Jadi tidak ada jalan bagi kita selain harus selalu menyiapkan diri.

Dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ ia akan masuk surga.” (HR. Al-Hakim dan selainnya dengan sanad hasan).

Berkata Ibnul Qayyim: “Sering kali orang yang akan meninggal mengucapkan apa yang disukainya dan banyak ia sebut, dan bahkan mungkin rohnya keluar dalam keadaan ia mengucapkan kalimat tadi. Banyak orang yang hobinya main catur di saat sakaratul maut mereka mengatakan “Rajanya mati”, dan sebagian yang lain mendendangkan syair sampai  ia meninggal, karena dahulunya ia adalah penyanyi”.

Mujahid berkata, “Tidak ada seorangpun yang akan meninggal dunia, kecuali akan  diperlihatkan padanya teman-teman yang biasa duduk bersamanya, baik itu yang hobi bermain, maupun yang gemar dzikir”.

Artinya, orang yang suka dan terbiasa berbuat maksiat akan diwafatkan dalam keadaan yang disukainya itu, yaitu ketika bermaksiat. Sebaliknya, orang yang suka dan terbiasa beramal kebajikan akan diwafatkan dalam keadaan tersebut.

Dengan kata lain, kesiapan itu harus dimulai sedini mungkin. Sekalipun hanya kalimat ‘La ilaaha illallah’ yang kelihatannya sangat mudah. Karena kebiasaan itu tidak datang secara tiba-tiba melainkan harus dilatih, bukan sekedar ucapan di mulut tapi juga di hati, dibuktikan dengan amal perbuatan.

Dalam ayat 27 surat Al-Fajr diatas, disebutkan “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya”. Apa yang maksud di “ ridhoi-Nya”?

“Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Terjemah QS. An-Nisa (4):69).

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Terjemah QS. Ar-Rad(13):28).

Al-Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shahih mereka dari Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa suka bertemu dengan Allah, maka Allahpun suka bertemu dengannya, sebaliknya barangsiapa yang benci bertemu Allah, maka Allahpun benci bertemu dengannya”

Begitulah yang dimaksud di-ridho Allah swt. Lalu dipersilahkannnya orang-orang tersebut masuk ke surga-Nya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung akhirnya”. (Shahih, HR. ibnu Hibban)..

Hadist di atas menunjukkan bahwa kita harus senantiasa hati-hati, istiqomah dalam menjalani kebaikan, hingga ajal menjemput. Karena sebaik apapun amal ibadah kita, bila Allah swt membalikkan hati kita di akhir hayat nanti, sungguh celakalah kita.

doa jngn balikkan hatiYa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab:

Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dan sebagaimana tubuh yang harus dijaga kesehatannya, demikian pula hati kita. Yaitu dengan terus hadir di majlis ilmu, berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, senantiasa ber-dzikir dan bermunajat kepada Allah swt agar ridho diberikan akhir yang baik. Tidak sepatutnya urusan dunia mengalahkan urusan akhirat. Urusan dunia tidak akan ada habisnya bila kita terus mengikuti nafsu dan selalu memandang ke atas.

Tengoklah mereka yang hidup dalam kesulitan dan kesengsaraan hingga tidak mempunyai waktu untuk beribadah. Sebaliknya alangkah ruginya orang-orang sukses, kaya raya tapi tidak mau menyempatkan diri untuk kepentingan akhirat-Nya. Karena susah senang, sakit sehat, sukses atau tidak sukses, sejatinya hanyalah cobaan. Nikmat hidup tidak seharusnya hanya dihitung dari harta benda tapi keberkahan dan keridhoan dari Sang Khalik jauh lebih berharga.

Berikut karakter jiwa yang tenang menurut Ibnu Abbas :

  1. Yang senantiasa membenarkan ke-Esa-an Allah swt. ( QS.Al-Ikhlas(112):1)
  2. Yang penuh syukur, tidak serakah. ( QS. Ar-Rahman, QS. Lukman (31:12).
  3. Yang selalu sabar terhadap ujian Allah swt. (QS. Al-Baqarah(2):45,153), Ali Imran(3):186), Al-Ankabut (29):59) dll.
  4. Yang ridho atas takdir Allah swt. ( QS.Yasin (36):43).
  5. Yang merasa cukup/puas dengan pemberian Allah (qonaah).

”Ridholah dengan apa yang dibagikan Allah SWT untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.” (HR Turmudzi).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 April 2018.

Vien AM.

 

Bagai Buih Di Lautan.

Dalam hadis Sahih Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah meminta Hassan bin Tsabit untuk membuat syair membalas syair orang musyrik yang menyerang nabi, bahkan nabi mendoakan agar jibril membantu Hassan bin Tsabit, ‎Rasulullah berkata,

“Hai Hassan, balaslah sya’ir orang-orang kafir untuk membelaku! Ya Allah ya Tuhanku, dukunglah Hassan dengan Jibril!”.

Itulah yang terjadi hari ini. Umat Muslim berbondong-bondong membuat puisi umtuk membalas puisi yang dibuat Sukmawati, putri presiden RI pertama Soekarno, yang juga adik Megawati presiden ke 4 republik ini. Puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ itu dibuat dan dibacakan oleh Sukmawati dalam acara Indonesia Fashion Week 2018 di JCC Jakarta. Melalui puisinya ketua PNI Marhaenisme ini mengatakan bahwa ia tidak tahu apa itu syariat Islam, konde lebih indah dari cadar dan kidung lebih merdu dari pada azan.

Sudah barang tentu puisi provokatif tersebut memancing emosi sebagian besar umat Islam di bumi pertiwi ini. Tidak hanya mereka yang biasa menulis puisi yang membalas puisi tak etis tersebut tapi juga uztad Felix Siauw dan beberapa uztad lain.

http://www.riau24.com/berita/baca/87355-ini-balasan-puisi-ibu-indonesia-sukmawati-soekarno-putri-oleh-ustaz-felix-siauw/

Islam di negri tercinta, terutama sejak adanya kasus Ahok di Pulau Seribu tahun 2016 lalu, terus saja diobok-obok. Segala macam cara terus diupayakan untuk mengolok-olok dan memojokkan ajaran yang dibawa rasulullah Muhammad saw 14 abad silam tersebut. Ironisnya, perbuatan fitnah tersebut tidak hanya dilakukan oleh musuh-musuh Islam namun juga oleh mereka yang mengaku Muslim.

Islamophobia yang selama ini menyerang dunia Barat rupanya juga telah berhasil menyerang Muslim di negri kita tercinta Indonesia. Mereka yang kurang kuat aqidah tampaknya adalah korban yang paling rentan. Isu Arabisasi dengan mudah masuk ke kepala mereka. Segala yang dianggap kearab-arab-an mereka kecam dan hina.

Kata-kata Arab seperti “akhi”, “ukhti”, “ umi”, “abah”, “syukron, “jazakillah” dll bagi mereka tidak pantas di ucapkan di negri ini. Sementara “ dear”, “sis”, “bro”, “mama”, “papa”, “thank you” dll, adalah kata yang amat sangat pantas diucapkan. Demikian juga celana jins, rok dan baju mini yang mereka anggap lebih Indonesia dari pada gamis. Mereka bahkan tidak bisa membedakan mana ajaran Islam mana adat Arab. Termasuk dalam hal menutup aurat yang merupakan perintah Sang Khalik.

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.( Terjemah QS. Al-Ahzab (33):59).

Di UIN Yogyakarta, dengan alasan radikalisme, berwacana melarang cadar di lingkungan kampus. Padahal seperti apa yang dikatakan wakil ketua umum MUI Zainul Tauhid, radikalisme tidak bisa diukur hanya melalui simbol-simbol, seperti cadar, celana cingkrang (isybal), jenggot dll. Perbedaan pendapat dalam Islam adalah hal yang wajar, harus diterima bahkan disyukuri, selama masih dalam koridor aqidah yang lurus. Membesar-besarkan perbedaan yang tidak mendasar justru akan menimbulkan perpecahan yang pasti akan merugikan umat Islam sendiri.

https://www.liputan6.com/news/read/3356821/mui-minta-larangan-cadar-di-uin-yogya-tak-pecah-belah-umat-islam

Dari Ibnu Umar, beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda: “ Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

Lucunya lagi ketika beredar foto seorang Muslimah bercadar memeluk anjing, ntah siapa awalnya yang mengedarkan foto tersebut, pujianpun keluar berhamburan. Disiarkan, secara berulang-ulang, bahwa Muslimah tersebut berhati mulia karena mau menolong dan merawat anjing gelandangan, tak tanggung-tanggung, 11 ekor pula. Meski ternyata salah satu anjing tersebut adalah jenis Siberian Husky yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Tak salah bila kemudian banyak yang berpendapat bahwa hal itu adalah rekayasa untuk mendiskreditkan Islam.

Umat Islam apalagi bila ia telah berani bercadar, pasti tahu bahwa ludah anjing adalah najis yang memerlukan ritual khusus untuk menghilangkannya sebelum seseorang yang terkena mengerjakan shalat. Adalah tugas kaum Muslimin untuk mengingatkan saudarinya yang khilaf bukan malah menjerumuskannya dengan memuji-mujinya.

Dari Ibnu Umar: “Siapa yang memelihara anjing, kecuali untuk berburu dan bertani, akan dikurangi dari pahalanya tiap hari sebanyak dua qirath. (HR. Muslim).

Sementara ketika jamaah Kristiani bernyanyi bersama di gereja dengan jilbab panjang menutup hingga dada, tak ada satupun komentar muncul sebagai bagian dari Arabisasi. Jilbab, sejatinya memang bukan hanya ajaran Islam, tapi juga Kristen dan Yahudi. Namun selama ini yang taat memakainya hanya para biarawati. Ntah sejak kapan yang bukan biarawatipun kini mengenakannya.

Yang pasti penghinaan terhadap simbol-simbol Islam belakangan ini, tanpa mengindahkan nilai-nilai agama, moral dan tolerasi, atas dasar hak asasi seakan mendapat legitimasi dari penguasa. Laporan ke pihak kepolisian jika merugikan umat Islam tidak ditanggapi serius. Dengan dalih rasululah adalah seorang yang pemaaf, umat Islam dituntut untuk selalu memaafkan mereka yang telah seenaknya menghina dan mengolok-olok Islam dan syariatnya.

Padahal rasulullah amat sangat pemaaf ketika beliau pribadi yang diserang dan diolok-olok, tidak ketika ajaran Islam dipermainkan. Tentu kita tidak lupa bagaimana murkanya rasulullah ketika mendapat kabar bahwa surat yang dikirimkan beliau kepada raja Kisra dirobek-robek, hingga rasulullah berdoa dan memohon kepada Allah swt agar raja Persia tersebut dilaknat-Nya.

Juga ketika mengetahui seorang Muslimah dipermalukan oleh orang-orang Yahudi Qainuqa hingga mengakibatkan pertengkaran dan syahidnya seorang sahabat karena membela saudarinya. Maka sebagai kelanjutannya rasulullahpun memerintahkan bani Yahudi tersebut untuk hengkang dari kota Madinah, untuk selamanya.

Sukmawati memang akhirnya meminta maaf. Namun hukum harus tetap ditegakkan sebagai peringatan agar orang tidak seenaknya melecehkan ajaran agama. Permintaan maaf dan penyesalannya tentu dapat dijadikan peringan kesalahannya.

“Dan apabila kamu memanggil untuk shalat ( adzan), mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):58).

Apa yang terjadi hari ini sebenarnya buah dari tidak tegas dan tebang pilihnya pemberlakuan hukum. Tengok apa yang dilakukan Ade Armando, dedengkot JIL yang juga dosen UI, yang sudah sering dilaporkan atas tindakannya yang sering menyakitkan hati umat Islam. Merasa dirinya kebal hukum, dengan santainya ia mengomentari puisi kontroversial Sukmawati,

Azan tidak suci. Azan itu cuma panggilan untuk sholat. Sering tidak merdu. Jadi, biasa-biasa sajalah…“, cuitnya melalui Twitter.

http://yesmuslim.blogspot.co.id/2018/04/dosen-komunikasi-ui-ade-armando-azan.html

Simak pula penggalan puisi karya Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) yang dibacakan Gubernur Jawa Tengah dari partai PDIP Ganjar Pranowo pada sebuah acara sebagai berikut : Kau ini bagaimana. Kau bilang Tuhan sangat dekat. Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat.

https://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2018/04/07/puisi-ganjar-pranowo-singgung-azan-netizen-ramai-ramai-protes/

Bila hal seperti ini terus dibiarkan ntah apa yang akan terjadi terhadap nasib ke-Islam-an anak cucu kita di kemudian hari nanti. Prof Dr Yusril Mahendra dalam sebuah khutbahnya mengingatkan bahwa sejak berkuasanya rezim ini banyak ritual Islam yang telah dihilangan, diantaranya adalah peringatan Nuzulul Quran dan Isra Miraj. Padahal sejak pemerintahan Soekarno, Soeharto hingga SBY Nuzulul Quran selalu diperingati di Istana Negara, sedangkan Isra Miraj di Mesjid Istiqlal. Kedua acara tersebut dihadiri presiden dan sejumah duta- besar  negara sahabat.

Demikian juga dengan tradisi menabuh beduk di Monas pada malam Idul Fitri atau Idul Adha yang telah dihapuskan sejak Ahok menjabat sebagai gubernur DKI.

Dengan itu Yusril mengingatkan bahwa memang ada rencana secara sistimatis untuk melemahkan peran Islam dibumi Indonesia, setahap demi setahap, tanpa ada yang menyadari apalagi mempersoalkannya.

Ini masih ditambah dengan prilaku menyimpang homoseksual sebagian masyarakat yang katanya mayoritas Islam, yang makin merajalela.  UU warisan kolonial Belanda memang tidak mengatur hal tersebut secara tegas. Namun kini ketika ada wakil rakyat yang masih memiliki nurani bermaksud mengajukan ruu untuk menyikapi fenomena biadab tersebut, ternyata ada yang tidak suka. Na’udzubillah min dzalik.

Sungguh apa yang dikatakan rasulullah bahwa di akhir zaman nanti kaum Muslimin hanya seperti buih mulai memperlihatkan kebenarannya. Ini saatnya kita harus bangkit dan berjuang melawan kedzaliman. Jangan biarkan kita atau keluarga kita adalah buih tersebut. Buih yang bukan hanya tidak bermanfaat tapi bahkan merusak!

buih-di-lautanRasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 April 2018.

Vien AM.

 

Curahan Hati Imam Besar Untuk Para Pemimpin Ummat Ini

Di Tengah Gentingnya Negeri Ini

=============================

Oleh: Dr. Al-Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab, Lc.MA, DPMSS

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepada saudara-saudaraku hamba-hamba Allah yang saya muliakan…

Aku sungguh merasa sangat bahagia jika musuh-musuh Islam menghina dan menghujatku…

Aku juga sangat bangga jika musuh-musuh Islam menistaku, memenjarakanku bahkan membunuhku…

Tapi jujur aku sangat sedih melihat saudaraku seaqidah yang masih banyak membenciku hanya karena masalah perbedaan pandangan yang hanya bersifat FURUIYAH (hanya perbedaan masalah cabang dalam agama / bukan perbedaan hal pokok dalam agama)…

Sadarilah wahai para pemimpin ormas Islam…

Wahai para ulama HTI…

Wahai para ulama PERSIS…

Wahai para ulama SALAFI…

Wahai para ulama JAMAAH TABLIGH…

Yang semuanya dimuliakan Allah SWT…

Sadarilah …!!!

Sadarilah…!!!

Bahwa masalah furuiyah sampai kapanpun akan tetap berbeda dan tidak akan mungkin bisa sama…

Maka kita semua sebagai muslim yang bertaqwa harus bisa menerima bahwasanya perbedaan yang bersifat furuiyah adalah BAGIAN DARI ISLAM…

Dalam hal furuiyah satu organisasi Islam dengan organisasi Islam lainnya pasti akan selalu ada perbedaan…

Maka kita sebagai pemimpin-pemimpin umat harus bisa bijak menyikapi masalah perbedaan furuiyah ini…

Jika kita sebagai pemimpin-pemimpin umat kita tidak bijak dalam menyikapi perbedaan yang bersifat FURUIYAH maka tentu hal itu akan menjadi masalah besar karena akan jadi sumber utama pemecah belah persatuan umat, sehingga akhirnya akan menghancurkan hal-hal yang bersifat USHULIYAH (hal-hal pokok dalam agama)

Dan tentunya kita semua sepakat bahwasanya UKHUWAH ISLAMIYAH adalah masalah pokok dalam agama yang harus kita junjung tinggi dan kita jaga selama-lamanya…

Untuk itu kuingatkan kepada semua para pemimpin ormas islam…!!!

Musuh kita sangat banyak bukan hanya komunis saja tapi ada syiah, ahmadiyah, kristenisasi, aliran sesat & juga kaum Islam munafik (umat Islam yang berpihak kepada kaum kufar) mereka semua  bersatu ingin melenyapkan kita…

Sementara kita masih tidak mau bersatu hanya karena perbedaan yang bersifat FURUIYAH..

Sadarilah saudaraku…

Jika masalah perbedaan furuiyah masih kita tonjolkan, maka hal itu akan membuat musuh-musuh kita bergembira karena hal itu adalah senjata utama mereka untuk memecah belah dan mengadu domba UMAT ISLAM…

Maka jangan terlambat segera sadarilah saudara-saudaraku …!!!

Jangan tunggu ulama-ulama kita habis dibantai…

Jangan tunggu masjid kosong karena orang-orang khawatir datang ke masjid…

Jangan tunggu muadzin berhenti mengumandang adzan karena takut disiksa dan dianiaya…

Aku sungguh sangat ingin membela umat ini, tapi akupun manusia biasa yang pasti tidak akan berdaya tanpa dukungan dari semua umat islam…

Sekarang semuanya terserah pada kalian para pemimpin organisasi islam ….

Apakah kalian akan bersatu merapatkan barisan bersamaku untuk melawan ancaman musuh-musuh islam, komunis, syiah, kristenisasi, aliran sesat dll…?

Ataukah kalian malah tetap akan ikut memojokanku, menghujatku, menyalahkanku hanya karena adanya perbedaan pandangan dalam masalah yang hanya bersifat FURUIYAH ???

Jika syarat untuk kita bisa bersatu mengharuskan kita untuk bisa sama dalam masalah FURUIYAH !!!

Maka jangan pernah bermimpi untuk bisa bersatu melawan begitu banyaknya musuh-musuh islam yang sudah siap menghabisi umat islam…

BERMIMPILAH untuk perpecahan umat, bermimpilah untuk kehancuran umat dan siaplah menyongsong kebinasaan umat islam…

Pikirkanlah nasib aqidah generasi  penerus kita yaitu aqidah anak-anak kita dan cucu-cucu kita nanti…

Mari jadikan momentum penyerangan dan pembunuhan para ulama ini menjadi momentum untuk kita menerima perbedaan yang hanya bersifat furuiyah…

Mulailah tanamkan dalam diri anak cucu kita bahwasanya perbedaan pandangan yang bersifat furuiyah adalah bagian dari islam yang harus diterima dan HARAM HUKUMNYA jika sampai merusak hal yang bersifat USHULIYAH…

UKHUWAH ISLAMIYAH adalah masalah paling pokok dalam agama, karena itulah sebenarnya sejatinya yang dinamakan dengan :

 “PERSATUAN ISLAM”

Akhirul kalam, saya mohon maaf jika banyak kata yang terlontar yang sudah menyakiti saudara seislamku…

Mohon maafku terhadap :

Saudaraku JAMAAH TABLIGH…

Saudaraku SALAFI…

Saudaraku HTI…

Saudaraku PERSIS…

Saudaraku MUHAMMADIYAH…

Mari kita bersama selamatkan umat ini dari ancaman kaum kuffar…

Jika nanti kita dipenjara, dihina, difitnah, dicaci dimaki, disakiti bahkan dibunuh maka berbahagialah…

Karena itu bukti pengorbanan kita yang insyaa Allah akan menjadi syafaat bagi kita di hari akhirat nanti…

Sejarah mencatat hampir semua ulama yang menegakkan nahi munkar mereka semua merasakan dingin & laparnya hidup di dalam jeruji penjara…

Mohon sebarkan pesanku ini kepada semua umat islam, insyaa Allah antum akan mendapat keberkahan karena antum sudah ikut berupaya berjuang menyatukan umat dan ikut berupaya untuk membela melindungi para ulama…

SALAM SEMANGAT 212

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Catatan:

Dr. Al-Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab, Lc.MA. DPMSS atau yg lebih dikenal dengan  Habib Rizieq Syihab (HRS) adalah :

  • Pemimpin Tertinggi ormas Front Pembela Islam (FPI) dengan gelar Imam Besar FPI.
  • Belakangan sering di sebut dengan julukan : *Imam Besar Ummat Islam Indonesia*
  • Mufti Besar Kerajaan Sulu / The Grand Mufti of Sulu dengan gelar : Datuk Paduka Maulana Syar’i Sulu (DPMSS)

Zuhud

Zuhud secara bahasa adalah lawan dari kata gemar. Gemar merupakan suatu bentuk keinginan. Sedangkan zuhud adalah hilangnya keinginan terhadap sesuatu, baik disertai kebencian ataupun hanya sekedar hilang keinginan. Dengan kata lain zuhud adalah keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian, mengosongkan diri dari kesenangan dunia demi menjalankan ibadah.

Maka tak heran bila dalam keseharian kita mendengar adanya seorang sufi ( orang yang menjalani kehidupan zuhud) yang pergi berkelana meninggalkan keluarganya, pekerjaannya, tanpa berbekal apapun, demi mendekatkan diri kepada Tuhannya. Jadi zuhud adalah berupaya menjauhkan diri dari kelezatan dunia dan mengingkari kelezatan meskipun halal, dengan jalan berpuasa dalam segala hal, yang kadang pelaksanaannya melebihi apa yang ditentukan oleh agama.

Banyak pendapat mengatakan bahwa zuhud adalah pengaruh ajaran Budha dengan faham nirwananya bahwa untuk mencapainya orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Juga ajaran Hindu dan Kristen dengan rahib-rahibnya yang tidak boleh menikah.

Pertanyaannya benarkah Islam mengajarkan hal tersebut, dan mengadopsinya dari ajaran-ajaran lain?

Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah Al Hunaidi mengatakan, bahwa pengertian zuhud yang paling sempurna dan paling tepat adalah pengertian yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Menurut ulama kenamaan asal Turki tersebut, zuhud yang disyari’atkan ialah meninggalkan rasa gemar terhadap apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Yaitu terhadap perkara mubah yang berlebih dan tidak dapat digunakan untuk membantu berbuat ketaatan kepada Allah, disertai sikap percaya sepenuhnya terhadap apa yang ada di sisi Allah.

Mari kita mulai dari Imam al-Ghazali, satu-satunya ulama Ahlu Sunnah wal Jamaah, yang namanya tak asing dalam dunia filsafat dan tasawuf. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali lahir di kota Thusi, Khurasan, Persia (Iran) pada tahun 1058 M / 450 H. Ketika masih kecil, ayahnya yang bekerja sebagai pengrajin kain shuf ( kain dari kulit domba) telah mempercayakan pendidikan al-Ghazali dan adiknya kepada seorang ahli tasawuf yang dikaguminya. Ketika itu ilmu tasawuf memang sedang naik daun. Kondisi kerajaan yang amburadul dimana korupsi merajalela, ekonomi yang terpuruk serta moral masyarakat yang rendah, tampaknya adalah pemicunya.

Aliran-aliran zuhud yang muncul pada abad I dan II H sebagai reaksi terhadap hidup mewah khalifah dan keluarga serta pembesar-pembesar negara adalah akibat dari kekayaan yang diperoleh setelah Islam meluas ke Siria, Mesir, Mesopotamia dan Persia. Orang melihat perbedaan besar antara hidup sederhana dari Rasul serta para sahabat.

Berbekal akhlak mulia yang  ditanamkan kedua orang-tuanya, Ghazali dengan cepat menyerap ilmu yang diberikan gurunya. Sejak kecil Ghazali tidak hanya tidak suka tapi benci kepada segala sifat buruk seperti riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela lainnya. Ia sangat kuat beribadat, wara’ dan zuhud. Dan itu semua ia lakukan demi mendapat ridha Allah SWT.

Keingin-tahuan dan kecintaannya yang begitu tinggi terhadap ilmu pengetahuan membuat Ghazali tidak cukup puas dengan 1 guru. Ia terus mengembara ke berbagai kota dan negara untuk menimba ilmu. Pada usia tiga puluhan tahun Imam Ghazali mendapat tawaran mengajar di Madrasah An-Nidzamiyah, madrasah terkenal di Baghdad Irak, hingga mencapai kedudukan yang sangat tinggi. Melalui madrasah inilah nama Imam Ghazali melambung tinggi mengharum.

Sayang kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih dan ushul, terutama ilmu filsafat kurang dibarengi dengan pengetahuan tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah saw yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Namun Allah swt berkenan memberi hidayah dan petunjuk-Nya hingga diam-diam ia merasa kurang yakin dan puas terhadap ilmu yang dimilikinya. Al-Ghazali merasa ada sesuatu yang berlebihan dan sangat berpotensi merusak akidah. Kala itu memang banyak orang yang tenggelam dalam dunia kesufian dan meninggalkan syariat.

Akhirnya pada tahun 488 H Imam Ghazali memutuskan untuk meninggalkan jabatan tingginya selaku direktur sekolah-sekolah Nizamiyah seluruh Baghdad, demi menjalani hidup zuhud, membersihkan jiwa dari segala kekotoran dan nafsu dunawi yang membelenggu.

Pada tahun itu juga ia pergi menunaikan haji ke Mekah, ziarah ke Madinah lalu berkhalwat di Masjid Baitul Maqdis Yerusalem selama beberapa waktu. Setelah itu Imam Ghazali pergi ke Damaskus dan tinggal di kota tersebut. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di pojok masjid Jami’ Umawi yang sekarang dikenal dengan nama Al-Ghazaliyah. Disanalah ia menulis kitab Ihya Ulumuddin yang fenomenal dan menjadi rujukan banyak orang. Ia berhasil meletakkan kembali posisi tasawuf ke tempat yang benar menurut syari’at Islam, membersihkannya dari pengaruh faham-faham asing yang masuk mengotori kemurnian ajaran Islam. Untuk itulah tampaknya Imam Al-Ghazali mendapat gelar Hujjatul Islam.

Imam Adz Dzahabi berkata, “Pada akhir kehidupannya, Al-Ghazali tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”

Setelah mengarungi lautan hidup yang luas, menyelami ilmu yang sangat dalam sekaligus mengamalkannya, maka pada tahun 1111 M ( 505 H ), Imam Al-Ghazali berpulang ke rahmatullah di kampung kelahirannya, Thusi. Ia wafat dalam usia relatif muda, yaitu sekitar 52-53 tahun.

Imam Al-Ghazali benar, zuhud telah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah dan para sahabat sejak awal Islam. Namun bukan zuhud yang menjauhkan dari kehidupan dunia dan menafikannya. Karena dunia adalah ladang dimana kita bertanam yang hasilnya   akan kita petik tidak hanya di akhirat nanti saja, tapi juga di dunia ini.

“Bukanlah orang yang paling baik daripadamu itu yang meninggalkan dunianya karena akhiratnya, dan tidak pula yang meninggalkan akhiratnya karena dunianya, sebab dunia itu penyampaian kepada akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban atas manusia”.

Hadits yang memberitakan hal tersebut tidak terhitung banyaknya. “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.”, “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah”, “Memikul kayu lebih mulia dari pada mengemis”, “Mukmin yang kuat lebih baik dari pada muslim yang lemah”, “Allah swt menyukai mukmin yang kuat bekerja.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Terjemah QS. Al-Qashash (28:77).

Rasulullah memang pernah berkhalwat di gua Hira selama beberapa waktu. Hal tersebut beliau lakukan karena keprihatinan yang mendalam terhadap situasi penduduk Mekah yang senantiasa bergelimang dalam kejahilan. Tapi hal tersebut terjadi sebelum Islam datang. Sayangnya inilah yang sering dijadikan pegangan para penggemar sufisme.

Adalah Abdullah, seorang sahabat Nabi yang dikenal sangat saleh. Ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah. Dia biasa menghatamkan al-Quran setiap hari dan melewati hari-hari dengan berpuasa dan bangun untuk shalat malam. Ternyata Rasulullah menegur perbuatan yang tampaknya baik tersebut.

Jika kamu terus melakukan kebiasaan ini, tubuhmu akan semakin lemah dan pandangan mata-mu akan semakin pudar. Tubuh kita memiliki hak-hak yang harus kita penuhi.”

Juga kisah seorang istri sahabat yang mengadukan prilaku suaminya yang terus menerus beribadah siang dan malam. Namun ternyata Rasulullah melarangnya karena istri punya hak atas dirinya.

Sebaliknya Rasulullah tidak pernah mau menimbun uang dan harta di dalam rumah beliau saw. Suatu hari ketika Rasulullah sedang menjelang sakratul maut bertanya,

Wahai Aisyah, dimana uang yang pernah kutitipkan padamu?” Bagi-bagikan uang itu di jalan Allah. Karena Muhammad malu bertemu Allah Sang Kekasih, sedangkan dirumahnya masih ada timbunan uang”.

Pada kisah lain, suatu hari Umar bin Khattab mendapati Rasulullah terbangun dari tidurnya dengan guratan bekas tikar di pipinya. Umar menangis meihatnya dan berkata, “ Para raja dan kaisar hidup bergelimang harta dan kemewahan di istana yang megah. Tidakkah engkau sebagai manusia pilihan Allah dapat meminta kepada Allah agar bisa hidup berkecukupan?”.

Namun apa jawab Rasulullah, “Tidakkah engkau lebih senang wahai Umar, jika kita memperoleh kebahagiaan akhirat, sedangkan mereka (para raja dan kaisar) hanya memperoleh kenikmatan dunia?”

Tak heran bila para sahabatpun mencontoh sikap zuhud Rasulullah. Salah satunya yaitu ketika Umar bin Khattab datang memenuhi permintaan uskup Yerusalem untuk menerima kunci kota yang baru ditaklukan pasukan Muslim. Uskup dan rakyat kota tersebut terkejut mendapati Umar sebagai khalifah, sekaligus panglima tertinggi Islam datang sendirian dengan kudanya, tanpa pengawalan khusus, dan hanya dengan pakaian yang amat sangat sederhana.

Demikian pula Abu Bakar ash-Siddiq yang kaya raya tapi terkenal sangat dermawan. Dengan hartanya Abu Bakar membebaskan puluhan budak yang disiksa tuannya hanya karena memeluk Islam. Juga Abdurrahman ibn Auf, seorang sahabat yang dikenal amat lihai berbisnis, di tangannya batu menjadi emas. Ataupun Ustman bin Affan yang rela membeli sumber air dengan harga yang sangat tinggi demi kepentingan umat Islam.

Para sahabat sangat paham bahwa harta dan kekayaan hanyalah titipan, yang pada waktunya harus dipertanggung-jawabkan penggunaannya bahkan setiap sennya.Harta ibaratnya adalah beban berat bagi yang tidak sanggup menanggungnya.

Manusia adalah mahluk sosial yang harus saling menolong dan bermanfaat bagi orang lain. Untuk itu manusia harus berusaha dan bekerja. Harta dan kekayaan diperlukan, bukan untuk ditimbun atau digunakan oleh diri sendiri, keluarga atau kelompoknya. Harta dan kekayaan bukan untuk disombongkan dan di banggakan, seperti juga ketiadaan dan hilangnya kemewahan bukan hal yang patut disedihkan dan disesali secara berlebihan.

Jika diperhatikan khalwatnya Rasulullah dan cara hidup sufisme di masa hidup Imam Al-Ghazalil memiliki kesamaan, yaitu keprihatinan terhadap masyarakat yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan bergelimang maksiat. Persis seperti yang kita hadapi saat ini. Namun Rasulullah tidak mencontohkan hanya berkhalwat, sekedar mengasingkan diri serta membersihkan hati dari kotoran dan dosa.

Melalui Islam Rasulullah mengajarkan kita untuk berjuang melawan keadaan agar dapat keluar dari keterpurukan, agar tercapai masyarakat yang hidup teratur, aman, damai dan sejahtera, dibawah aturan Allah swt. Itu sebabnya secara tegas Islam mengajarkan bagaimana memilih pemimpin. Karena bagaimanapun pemimpin adalah kunci sukses sebuah negara. Jadi dengan dalih apapun, sungguh tidak benar seorang Muslim tidak peduli politik, atau apapun namanya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.( Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

Menjadi zuhud bukan berarti menjadi orang miskin yang hanya berdiam diri di masjid dan berzikir, meninggalkan keluarga, tanpa mempunyai pekerjaan dan hanya menggantungkan diri pada pemberian orang lain. Sufi yang baik adalah mereka yang tidak saja senantiasa berzikir siang maupun malam, pandai menjaga kesucian hatinya dari segala penyakit hati, serta banyak melakukan amal ibadah demi mencari ridho-Nya. Namun mereka juga berharta, dengan cara halal tentunya, hingga mampu menginfakkan hartanya di jalan Allah dan selalu siap membantu saudaranya yang kesulitan, syukur-syukur bisa membantu membangun ekonomi rakyat. Itulah sufi sejati.

Ada sebuah kisah menarik tentang seorang khadi Muslim kaya raya yang menaiki kudanya dengan dikawal rombongan pengawal. Di tengah jalan ia berpapasan dengan seorang Yahudi miskin. Si Yahudi menegurnya ”Sesungguhnya Nabi kalian telah bersabda, ‘Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir’. Engkau adalah hakim Agung Mesir. Engkau dengan rombongan pengawal seperti ini, penuh dengan kenikmatan, sementara aku di dalam penderitaan dan kesengsaraan.”

Sang khadi yang tak lain adalah Ibnu Hajr menjawab, “Aku dengan nikmat dan kemewahan yang aku rasakan ini dibandingkan dengan kenikmatan di surga adalah penjara. Adapun engkau dengan kesengsaraan yang engkau rasakan, dibandingkan dengan adzab yang akan engkau rasakan di neraka adalah surga.” … Masya Allah …

Tetapi yang lebih penting lagi, zuhud yang diajarkan Rasulullah tidak sampai hingga tingkatan Wihdatul Wujud seperti yang diajarkan Al Hallaj dan Ibn Arabi. Secara ringkas Wihdatul Wujud adalah bentuk penggambaran bahwa manusia dan Tuhan adalah bersatu, hingga pada tingkatan tertentu mencapai kesucian dan tidak perlu lagi melakukan shalat! Na’udzubillah min dzalik …

Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam karena jelas mengandung kesyirikan. Dan syirik merupakan dosa terbesar yang tidak dapat diampuni.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.( Terjemah QS. An-Nisa(4):48).

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia“.( Terjemah QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. “.( Terjemah QS. Al-Hijr(15):29).

Ayat 29 surat Al-Hijr sering dijadikan kaum sufi sebagai pembenaran Wihdatul Wujud. Namun Rasulullah saw sendiri tidak pernah mengatakan hal yang demikian. Oleh sebab itu biarlah hal tersebut menjadi rahasia-Nya.Tugas kita sebagai hamba hanyalah menyembah-Nya sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Bukankah Rasulullah yang sudah dijamin masuk surgapun selalu melakukan tidak saja shalat yang 5 waktu, namun juga shalat-shalat Sunnah lain seperti Tahajud hingga bengkak kaki beliau.

Jadi sungguh jasa Al-Ghazali dalam mengembalikan tasawuf pada jalan aslinya sangatlah besar. Ia telah berhasil membawa perubahan besar pada zamannya. Ia bersiteguh bahwa seorang yang ingin terjun dalam dunia kesufian harus terlebih dahulu menguasai ilmu syariat. Menurutnya tidak seharusnya antara syariat dan tasawuf terjadi pertentangan karena kedua ilmu ini saling melengkapi.

Masih menurutnya, ruh, hati atau jiwa bersifat Ilahiyah, sehingga cenderung pada kesucian, kebersihan, kebaikan atau kebenaran. Tetapi apabila ruh kalah dengan jasad maka yang terjadi adalah gangguan dalam kehidupan pribadinya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 Maret 2018.

Vien AM.

Sumber:

https://elmisbah.wordpress.com/tasawuf-imam-ghazali/

https://almanhaj.or.id/2781-zuhud-yang-banyak-disalah-pahami.html