Feeds:
Posts
Comments

Pribumi Oh Pribumi …

Selasa 17 Oktober 2017 Anies Bawesdan dan Sandiaga Uno resmi menjabat sebagai gubernur dan wagub DKI Jakarta. Ironisnya, hanya selang beberapa jam setelah pelantikan, sebuah ormas sayap PDIP berencana melaporkan Anies ke polisi. Hal ini disebabkan kata pribumi yang digunakan dalam pidato perdana sang gubernur. Alasannya kata yang dianggap berbau rasis ini telah dilarang penggunaannya dalam Inpres Nomor 26 tahun 1998.

Padahal bahkan Jokowi, Yusuf Kalla dan mentri Susipun pernah menggunakan kata tersebut. Tapi mereka tidak mempermasalahkannya. Lucunya lagi, setelah heboh pidato Anies, berita pernyataan Jokowipun segera di edit.

http://nusantarakini.com/2017/10/17/pengeditan-berita-tentang-jokowi-yang-juga-sebut-pribumi/

https://www.gemarakyat.id/ini-jejak-digital-megawati-dan-jokowi-juga-gunakan-istilah-pribumi/

https://www.kaskus.co.id/thread/59e573901854f702488b4567/menteri-susi-pemerintah-akan-bangun-konglomerasi-pribumi/

Lagi pula bila kita cermati, kata pribumi digunakan Anies untuk menunjuk pada situasi masa penjajahan kolonial, yaitu pertempuran merebut kemerdekaan antara bangsa Indonesia ( pribumi) melawan penjajah.  Perlu mendapat catatan, Anies yang berhasil memperkenalkan program “ Indonesia Mengajar” itu adalah wni keturunan Arab yang lahir dan dibesarkan di Indonesia. Kata pribumi yang digunakan Anies dalam pidatonya, sejatinya justru menjadi bukti bahwa sang gubernur baru ini tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah non pribumi. Maklum sang ayah yaitu Abdurrahman Bawesdan yang dilahirkan di Surabaya itu adalah seorang  nasionalis, jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, sekaligus sastrawan Indonesia.

Abdurrahman Baswedan bahkan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen, dan Anggota Dewan Konstituante. Ia adalah salah satu diplomat pertama Indonesia, dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia yaitu dari Mesir.

https://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrahman_Baswedan

Tapi ya begitulah, tampaknya tidak mudah meninggalkan jejak perseteruan pilkada DKI beberapa waktu lalu.  Kekalahan Ahok yang notabene wni keturunan Cina alias non pribumi tampak jelas masih mengganjal partai pendukung dan simpatisannya. Jadi apapun yang dilakukan dan dikatakan Anies maupun Sandi kelihatannya tidak akan mampu memuaskan mereka.

Padahal substansi dari pidato Anies pada pelantikan tersebut sangatlah dalam. Selain memperlihatkan ciri sebagai seorang Muslim bahwa jabatan adalah amanah, juga memperlihatkan kepedulian yang tinggi terhadap keadilan bagi seluruh warga. Tentu kita semua mahfum bahwa kekayaan dan keadilan saat ini sangat timpang. Hampir semua sektor penting dipegang dan dikendalikan segelintir orang/pihak, termasuk tanah, real estate, supermarket bahkan minimarket sekalipun. Inilah yang tidak diinginkan sang gubernur terjadi.

“ Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.  … … “. ( Terjemah QS. Al-Hasyr (59):7).

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160915175459-20-158611/komnas-ham-minta-negara-ambil-tanah-yang-dikuasai-konglomerat/

Saya jadi teringat pada ucapan seorang pensiunan jendral pada suatu pertemuan yang diselenggarakan beberapa waktu lalu. Waktu itu yang sedang dibahas adalah maraknya isu kembalinya PKI. Secara singkat ia menjabarkan bahwa Indonesia diincar pihak asing karena Indonesia selain negara yang kaya sumber alam juga terletak di posisi yang strategis, yaitu penghubung antara Asia dan Australia. Paling tidak ada 2 kekuatan yang memperebutkan Indonesia, yaitu Amerika Serikat dan Cina.

Salah satu bukti dominasi Amerika Serikat di Indonesia yang terbesar adalah keberadaan Freeport. Perusahaan tambang raksasa terbesar di dunia ini terletak di Mimika, bumi Papua. Amerika Serikat yang telah mengelola perusahaan tambang emas, perak dan tembaga sejak tahun 1967, dan telah menjadikannya sumber kekayaan mereka, sudah pasti tidak akan mau melepaskan cengkeramannya yang harusnya berakhir pada tahun 2021 mendatang. Banyak pihak berpendapat, penguasaan AS terhadap sumber alam tambang ini tidak jauh beda dengan VOC yang dimasa lalu menjajah negri kita tercinta melalui rempah-rempah.

https://www.kaskus.co.id/thread/50af524d20d719b14900006b/freeport-adalah-voc-masa-kini/

Lain halnya dengan Cina. Hubungan ekonomi dan politik dengan negara komunis yang belakangan mengklaim sebagai sosialis kapitalis ini baru resmi dilakukan di era pemerintahan Jokowi. Kerja sama ini dimulai dengan adanya kunjungan kenegaraan Jokowi ke Beijing pada awal tahun 2015 atas undangan Presiden Cina, Xi Jinping.

Dalam perjanjian tersebut, antara lain disebutkan bahwa kedua negara mendorong kerja sama antar BUMN dalam pembangunan infrastruktur. Pemerintah Indonesia memberikan kesempatan kepada Cina untuk menggarap proyek infrastruktur. Di antaranya: membangun 24 pelabuhan, 15 bandara, dan pembangkit listrik berkapasitas 35.000 Mega Watt. Ditambah lagi, pembangunan jalur kereta cepat Jakarta-Bandung yang hampir seluruh dananya dari Cina.

Model investasi yang ditawarkan oleh Cina menggunakan prinsip “Turnkey Project Management”. Model ini adalah sebuah bentuk investasi yang ditawarkan dan disyaratkan oleh Cina kepada negara peminta dengan “sistem satu paket,” artinya: mulai top management, pendanaan, materiil dan mesin, tenaga ahli, hingga metode dan tenaga (kuli) kasarnya di datangkan dari Cina.

Tak pelak, ekspansi Cina ke Indonesia baik dari sisi hutang, investasi, dan tenaga kerja dua tahun terakhir ini menjadi semakin masif. Peningkatan jumlah tenaga kerja Cina juga ditopang dari kebijakan pemerintah yang lebih terbuka terhadap pekerja asing. Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) Nomor 1 Tahun 2015 terhadap revisi Permenaker Nomor 12 Tahun 2013 tentang tata cara penggunaan tenaga kerja asing adalah contohnya. Aturan ini sempat menuai kontroversi karena ketentuan pekerja asing tidak wajib berbahasa Indonesia bila mencari nafkah di Indonesia.

https://nusantara.news/sejarah-dominasi-etnis-cina-di-indonesia/

Namun dominasi Cina di negri tercinta ini sebenarnya telah terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka, yaitu melalui etnis Cina yang telah beranak pinak sejak ratusan tahun lalu. Dominasi tersebut baik dalam politik ( meski bukan politik praktis) maupun ekonomi yang telah terjadi sejak zaman VOC.

Tingkat ekonomi etnis Cina sebelum kedatangan VOC tidak beda dengan tingkat ekonomi pribumi. Namun hal tersebut berubah sejak penjajah Belanda memperlakukan etnis Cina secara khusus. Selain secara ekonomi mereka juga diberi posisi dalam pemerintahan. Tak heran bila kemudian mereka lebih berpihak kepada penjajah dari pada memperjuangkan kemerdekaan.

Milisi bersenjata “Pao An Tui” adalah contohnya. Mereka ini dilatih dan dipersenjatai oleh tentara Belanda (KNIL) sehingga pada masa perang kemerdekaan pasukan ini tidak berpihak kepada republik.

Hal tersebut terus berlanjut pada masa Orde Lama maupun Orde Baru, dengan bermunculannya para cukong yang notabene adalah orang-orang Cina konglomerat yang menguasai berbagai sektor perdagangan. Hal ini tentu saja mengakibatkan kesenjangan ekonomi dan kecemburuan sosial yang makin lama makin tajam. Parahnya lagi saking kuatnya pengaruh mereka, para taipan ini bahkan mampu mempengaruhi kebijaksanaan politik negri kita tercinta!

Di era pemerintahan Jokowi saat ini, dominasi etnis Cina dalam ekonomi nasional, utamanya dalam pembangunan megaproyek, semakin kuat. Salah satunya pembangunan reklamasi teluk Jakarta dan Meikarta. Kedua proyek raksasa ini disokong para taipan etnis Cina, diantaranya adalah James Riyadi, Jacob Soetoyo, Tahir, Anthony Salim dan Tommy Winata yang juga dikenal dengan sebutan 9 naga.

http://berita360.com/9-naga-taipan-paling-berpengaruh-di-indonesia/

 “Semoga saja tidak ada Sukanta Tanoto lain”, ujar sang pensiunan jendral sedikit geram.

Sukanta Tanoto adalah seorang konglomerat Cina yang pernah mengatakan bahwa Indonesia adalah bapak angkat sementara Cina adalah bapak kandungnya.

https://www.kaskus.co.id/thread/57c435bf98e31b72178b456a/soal-indonesia-bapak-angkat-dan-china-bapak-kandung-dpr-kecam-taipan-sukanto-tanoto/

Rezim Jokowi secara resmi juga telah meminta Jack Ma menjadi penasehat e-commerce Indonesia. Jack Ma, yang lagi-lagi adalah orang Cina, adalah milyarder pendiri Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Cina.

http://tekno.kompas.com/read/2017/08/23/09063567/jack-ma-resmi-jadi-penasihat-e-commerce-indonesia

Pak pensiunan jendral tersebut juga sempat mengingatkan betapa kuatnya pengaruh psikologis antar pimpinan suatu negara. Contohnya presiden Sukarno, yang pada tahun 1956 dulu tiba-tiba mencetuskan konsep politik Nasakom ( Nasionalis Agama Komunis). Kedekatan hubungan presiden pertama RI ini dengan para presiden ke 3 negara sosialis komunis Cina, Rusia dan Yugoslavia tidak dapat diabaikan begitu saja. Tragedi mengerikan G30S PKI adalah buahnya.

Begitu juga dengan fenomena hari ini, dimana para keluarga dan simpatisan PKI telah berani menampakkan jati diri mereka secara terbuka. Hal ini dimulai pada November 2015 melalui Dewan Tribunal Den Hag, Belanda. Mereka menuntut pemerintah agar mau meminta maaf dan merehabilitasi bahwa mereka tidak bersalah. Hal tersebut terus berlanjut dengan keberanian mereka membuat berbagai simposium dan menerbitkan buku, “ Aku Bangga Menjadi Anak PKI”, dll. Ada apa gerangan ??

Selain Amerika Serikat dan Cina, pak pensiunan jendral sebenarnya juga menyebut Arab sebagai salah satu pihak yang ingin menguasai Indonesia, yaitu dengan Khalifah Islamiyahnya. Namun begitu ia menyebut Habib Riziek sebagai dalangnya, saya langsung tidak mempercayai pernyataan tersebut. Mengapa??

Ayah dan ibu Habib Riziek adalah orang Betawi keturunan Hadramaut (Yaman).  Ibunya bahkan sepupu dari pendekar Betawi, Si Pitung. Pada tahun 1937, Habib Husein, ayah Habib bersama beberapa temannya mendirikan Gerakan Pandu Arab Indonesia dengan tujuan agar para pemuda keturunan Arab bersatu mengabdi pada bangsa melalui bidang kepanduan. Gerakan kepanduan ini merupakan cikal bakal Pandu Islam Indonesia (PII).

Habib Husein juga pernah ditahan tentara Belanda dan divonis hukuman mati. Itu terjadi karena ia sering kedapatan memberikan makanan dan pakaian kepada para pejuang yang bergerilya di sekitar Jakarta. Waktu ia bekerja di bagian logistik Rode Kruis (sekarang Palang Merah Indonesia). Beruntung ia berhasil kabur meski sempat tertembak di bagian belakang.

Sementara Habib Rizieq yang merupakan pimpinan tertinggi FPI kiprahnya sudah banyak diketahui umum. Meski tidak sedikit orang yang memusuhinya, namun keberpihakannya kepada rakyat kecil tidak dapat dipungkiri. Pilihannya untuk berjihad melawan kemungkaran yang makin hari makin memprihatinkan ibu kota, juga perlawanannya sengitnya terhadap komunisme, jelas tidak ada hubungannya dengan dominasi Arab ataupun Khalifah Islamiyah sebagaimana tudingan pak jendral. Tapi lebih karena memenuhi perintah Tuhannya.

“… dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. ( Terjemah QS. Lukman(31):17).

Disamping itu keterlibatannya pada tragedi Poso dan Ambon tahun 1999 yang sangat mengenaskan dan menyebabkan meninggalnya 2000 Muslim itu sudah cukup membuktikan betapa pedulinya Riziek pada nasib bangsa ini.

http://dewisaladin.blogspot.co.id/2011/09/tragedi-poso.html

Singkat kata, heboh pidato Anies Bawesdan beberapa waktu lalu hanyalah mengada-ada.  Rasa cinta dan rasa memiliki bangsa inilah yang membuat Anies menggunakan kata pribumi, untuk memancing dan menggugah rasa kebangsaan warganya agar bisa mandiri, tidak bergantung kepada pihak lain hingga bangsa ini benar-benar bisa merdeka lepas dari segala bentuk penjajahan.

Disamping Anies Bawesdan, Habib Riziek dan ayah mereka, masih banyak lagi tokoh-tokoh wni non pribumi seperti ekonom Kwiek Kian Gie, mantan menlu Ali Alatas,  mantan menkeu Mar’ie Muhammad,  aktivis Soe Hok Gie,  pengarang lagu Syukur sekaligus mantan dubes Vatikan H. Mutahar, dll yang tidak perlu lagi diragukan rasa kebangsaan mereka.

Semoga Allah swt menjauhkan kita dari segala prasangka buruk yang mengakibatkan bangsa ini tidak maju-maju.

Rasulullah Saw bersabda, “Jauhilah olehmu purbasangka, sesungguhnya purbasangka itu pendusta benar (sedusta-dusta pembicaraan). Dan janganlah kamu mendengar rahasia orang, jangan mengintip aib orang, jangan tambah menambahi harga untuk menipu, jangan saling mendengki, benci membenci dan jangan pula bermusuhan. Jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara”. (HR. Abu Daud dari Abdullah bin Maslamah).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Vien AM.

Jakarta, 23 Oktober 2017.

Continue Reading »

IMG_0418Mendekati waktu Zuhur kami segera menuju masjid. Sebuah plang tanda arah ke masjid terlihat di persimpangan pasar yang lumayan padat tersebut. Lulu mengingatkan untuk memperhatikan tanda tersebut agar ketika pulang menuju tempat rendez-vous nanti tidak tersasar. Ia mengantar kami hingga gerbang masjid. Terlihat beberapa lelaki berteriak-teriak di tempat tersebut. Tadinya kami tidak begitu paham apa yang mereka teriakkan dan inginkan. Setelah kami dengarkan baik-baik ternyata mereka meneriakkan “ fii sabilillah fii sabilillah”, alias sedang meminta infak/sodaqoh.

Lulu bersiap mengeluarkan dompet untuk membayar tanda masuk. Di depan masjid memang terpampang papan bertuliskan tarif masuk masjid.

Tidak perlu bayar Lulu. Kami kan mau shalat. Itu khusus untuk turis yang ingin melihat-lihat masjid”, jelas suami saya. Dan tanpa menunggu jawabannya kami segera memasuki lokasi. Lulu hanya bengong sebentar kemudian berbalik meninggalkan kami.

Tapi tak lama kemudian, dengan bahasa isyarat seorang lelaki mengatakan bahwa tempat akhwat/perempuan shalat bukan di situ. Kami segera keluar lagi dan  mengikutinya menuju tempat yang dimaksud, yang lumayan jauh dari lokasi  utama.

Tempat shalat bagian perempuan tersebut rupanya adalah sebuah apartemen tingkat 2 sederhana yang sudah di sulap menjadi musola. Tempat wudhu terletak di lantai dasar, sedangkan ruang shalat berada di lantai di atasnya. Terdengar suara dzikir dan shalawat  dari pengeras suara yang terpasang di ruangan berukuran sekitar 6×6 meter tersebut. Sebuah layar televise kecil terlihat di  dinding depannya. Rupanya layar tersebutlah yang menjadi penghubung dengan masjid.  Tak tampak gambar apapun di layar tersebut, mungkin karena waktu Zuhur belum tiba.

Saya melihat hanya ada sekitar 4 muslimah di dalamnya. Tapi setengah jam kemudian setelah saya selesai shalat Tahiyatul masjid, dzikir dan berdoa separuh ruangan telah terisi. Waktu terus berlalu, saya mulai gelisah karena tanda-tanda shalat Jumat belum juga terlihat. Akhirnya dengan alasan perempuan tidak wajib menunaikan shalat tersebut saya memutuskan untuk keluar ruangan.

20170428_13292520170428_133129Alhamdulillah sebelum keluar saya sempat membagikan dulu jilbab yang sengaja saya bawa dari tanah air kepada beberapa ibu yang ada di barisan belakang. Juga  mukena berbordir cantik dari Padang yang tadi saya kenakan. Dengan bahasa isyarat saya katakan bahwa saya dari Indonesia dan hadiah saya berikan sebagai tanda ukhuwah. Mereka tampak terkejut tapi dengan senang mereka menerimanya. Sungguh bahagia hati ini melihat ekspresi dan tanggapan mereka.

“Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al Bukhari).

Selanjutnya saya segera menuju masjid utama. Tampak orang berbondong-bondong memasukinya, termasuk juga beberapa orang perempuan. Sayapun nekad masuk bersama mereka.

20170428_13540620170428_13385020170428_13380820170428_134303Masya Allah, ternyata masjid Agung Xian ini menempati area yang cukup luas, menurut info yang saya dapat, sekitar 12.000 – 13.000 m2. Sementara luas masjid utama yang khusus digunakan untuk shalat sekitar 6.000 m2.  Bangunan mirip rumah ibadah Cina, klenteng, ini terletak di ujung lokasi. Komplek masjid ini mempunyai beberapa pendopo dan gapura ber-arsitektur khas Cina, dengan hiasan kaligrafi di sana-sini. Sangat menarik dan unik.

20170428_14070220170428_13474520170428_13551020170428_134140Masjid Agung Xi’an yang dibangun pada tahun 742 M pada masa kekuasaan dinasti Tang (618-907) ini meski sudah berusia sangat tua masih terlihat terawat dan masih berfungsi dengan baik. Pada tahun 1998 pemerintah bahkan menetapkan kompleks masjid Xian sebagai warisan Sejarah China.

20170428_13293920170428_13514320170428_134308Saya sempat ngobrol dengan ibu muda yang tadi juga berada di masjid bagian perempuan. Ia bersama putri kecilnya juga sedang menunggu suaminya shalat Jumat. Perempuan muda asli Cina ini rupanya seorang turis lokal. Masjid Agung Xi’an memang bukan hanya tujuan wisata luar negri, tapi juga dalam negri.

20170428_14100420170428_13442620170428_14020820170428_134020Menjelang waktu shalat tiba, makin banyak jamaah berbondong-bondong datang. Sungguh tak menyangka wajah-wajah bermata sipit tua maupun muda, dengan berbagai penampilan, mulai dari yang ber-jas rapi hingga yang hanya ber-kaos oblong plus tangan bertato, mereka adalah saudara seiman kita. Allahu Akbar …

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.( Terjemah QS. Al-Jumuah (62):9).

20170428_14195020170428_14330920170428_131954Tak urung merinding hati ini mendengar shalawat, dzikir dan adzan berkumandang dengan nada yang tidak biasa, terdengar di negri Tirai Bambu ini. Bahagia rasanya bisa menjadi salah satu saksi shalat Jumat dengan jamaah yang membludak hingga ke luar masjid, meski sayang tidak rapat shaftnya.

Usai shalat kami segera menuju tempat rendez-vous dengan Lulu. Kami melanjutkan kunjungan “wajib” ke Pagoda yang terdiri dari kuil dan patung Budha terbesar di Xian bahkan Cina. Diteruskan dengan makan malam meski sebenarnya masih sore, di sebuah restoran halal tidak jauh dari lokasi. Tampaknya Lulu ingin cepat menyelesaikan tugasnya dan cepat istirahat. Hmm apa boleh buat. Selanjutnya kami di antar pulang ke hotel untuk acara bebas. Kami hanya memanfaatkan waktu tersebut untuk berjalan-jalan di sekitar hotel.

Keesokan paginya kami mengunjungi Musium Terracota yang merupakan wisata utama kota ini. Adalah sejumlah petani yang ketika itu sedang menggali tanah dan secara tidak sengaja menemukan ribuan patung kuda dan prajurit terbuat dari tanah liat, dengan ukuran sebesar aslinya, dengan tinggi rata-rata 1,8 meter.

Peristiwa tersebut terjadi pada Maret 1974, sekitar 1,6 kilometer dari makam Kaisar Qin Shi Huang yang terletak di Gunung Li Shian, sebelah utara kota Xian. Maka sejak itu proses penggalianpun terus dilakukan hingga hari ini. Penggalian tersebut merupakan lokasi penggalian arkeologi terbesar di Cina.

Selanjutnya pemerintah membangun semacam hangar pesawat raksasa di lokasi temuan spektakuler tersebut, dan menjadikannya sebagai Musium dengan nama Terracota Warrior and Horses, yang dibuka secara resmi pada tahun 1979. Musium ini dibagi menjadi tiga seksi.

20170429_10174520170429_10171520170429_11030420170429_105800Seksi pertama merupakan yang paling besar. Ada sekitar 8.000 patung prajurit dan kuda Terracotta, namun hanya sekitar 2.000 patung yang dipamerkan. Hebatnya tiap patung tersebut mempunyai ekspresi wajah dan posisi kucir rambut yang berbeda-beda. Ada yang kucir kiri, ada yang kanan dan ada yang di tengah. Masing-masing memiliki arti dan maksud tersendiri.

Seksi dua dan seksi tiga hingga kini masih dalam tahap penggalian. Kabarnya penggalian yang sekarang ini dilakukan baru 1 % dari perkiraan seluruh galian. Selain patung prajurit dengan berbagai posisi, sebagian besar tidak ada bagian kepalanya, kuda dan kereta kuda juga ditemukan berbagai senjata perang.

20170429_11241720170429_11244020170429_110134Menurut Lulu, aslinya kuda-kuda dan prajurit Terracotta tersebut tersusun pada posisi dan barisan tertentu di bawah atap sebuah bangunan. Semua dikubur menjadi satu. Namun ketika ditemukan hampir semua atapnya sudah rusak. Sementara dari sekian ribu patung yang ditemukan, hanya 1 patung prajurit yang masih utuh, bahkan warnanyapun masih relative jelas.

kaisar QinshihuangAkan halnya kaisar Qin Shi Huang, ia adalah kaisar pendiri dinasti Qin. Ia menjadi kaisar ketika usianya baru 13 tahun. Pada usia 38 tahun sang kaisar muda berhasil mempersatukan Cina, yaitu pada tahun 221 SM. Qin selain dikenal sangat berjasa dalam membangun peradaban Cina, juga dikenal sebagai seorang kaisar yang kejam.

Ia pernah mengubur hidup-hidup 460 sarjana hanya karena mereka menyimpan buku filsafat yang harusnya dibakar dan dilarang untuk dimiliki rakyat. Qin ini pulalah yang memerintahkan pembangunan tembok besar Cina sepanjang 3000 km yang banyak memakan korban.( Ada yang mengatakan hanya melanjutkan pembangunan). Kabarnya karena tidak sempat diurus dengan baik, para korban tersebut dijebloskan begitu saja ke dalam tembok yang sedang dibangun itu.

20170429_11273820170429_11382920170429_112822Qin wafat pada usia 50 tahun, setelah sebelumnya mempersiapkan kematiannya dengan cara memerintahkan pembuatan ribuan patung prajurit dan ksatria lengkap dengan kereta kuda dan senjatanya, demi menemani dan menjaganya di alam kubur. Serta sebagai persiapan untuk menyambut kehidupan baru setelah kematiannya. Selain juga sebagai tanda untuk menunjukkan kejayaan sekaligus penghormatan terhadap pasukannya yang telah berjasa membantunya dalam menyatukan Cina. Hebatnya lagi patung-patung tersebut diatur sedemikian rupa hingga menyerupai pasukan yang sedang menjaga istana kekaisaran.

( Bersambung).

20170427_16130520170427_160859Dengan menumpang subway dan berjalan kaki lumayan jauh akhirnya tiba juga kami di masjid Niujie. Rupanya nama masjid tertua di Beijing ini diambil berdasarkan nama jalan dimana ia berada yaitu Niu yang berarti sapi dan Jie ( jalan). Namun ada pula sumber yang mengatakan justru nama jalan tersebut yang mengikuti  lingkungannya yang Islami. Nama Niu diambil karena banyaknya restoran halal yang notabene adalah sapi, bukan babi, yang merupakan makanan umum masyarakat Cina.

Masjid Niujie yang mampu menampung 1000 jamaah ini dibangun pada tahun 996 M pada masa Dinasti Song, sempat dihancurkan oleh Bangsa Mongol namun kemudian dibangun kembali tahun 1443 M pada masa Dinasti Ming. Mayoritas Muslim di Beijing adalah suku Hui yang merupakan suku minoritas di kota tersebut.

20170427_16191120170427_16231320170427_162519Model bangunan masjid ini benar-benar unik tidak seperti lazimnya masjid yang biasa kita lihat. Kalau saja tidak pernah melihat fotonya mungkin kami tidak mengira bahwa area seluas 6000 m² tersebut adalah sebuah kompleks masjid. Arsitektur khas Cina berwarna merah terlihat kental mendominasi masjid tersebut.

20170427_16221720170427_161427Area masjid terlihat sepi ketika kami memasuki area sekitar pukul 3 sore. Seorang lelaki setengah baya, kelihatannya penjaga masjid, bergegas menghampiri kami. Dengan bahasa isyarat kami katakan bahwa kami hendak shalat. Segera ia mengantarkan kami ke masjid bagian perempuan. Rupanya bagian laki-laki dan perempuan terpisah lumayan jauh meski masih di area yang sama.

Setelah saya wudhu suami berkata “ Shalat di masjid utama aja yuuk, g rame ini”.

20170427_16373420170427_163659Alhasil kamipun shalat di ruang utama masjid yang memang terlihat senyap. Maklum memang bukan jam shalat. Terlihat hanya ada satu orang sedang shalat. Usai shalat saya melihat ada seorang perempuan setengah baya sedang melihat-lihat masjid. Sayapun menyapanya. Ternyata perempuan tersebut juga seorang turis. Ia datang dari London bersama suaminya. Kami sempat berbincang sebentar. Dilihat dari raut wajahnya kelihatannya ia seorang keturunan Pakistan. Tak lama iapun shalat.

20170427_16250620170427_162820Setelah puas mengelilingi masjid dimana 13.000 Muslim Beijing bertempat tinggal di sekitar area tersebut, kamipun bersiap meninggalkan lokasi. Ketika itu tiba-tba seorang pria keluar mengejar kami. Rupanya lelaki tersebut adalah suami ibu dari London tadi. Pria tersebut mengantarkan jam tangan suami saya yang kami kira hilang, dan ternyata ketinggalan di toilet. Kebetulan tadi saya sempat bercerita kepada sang ibu bahwa suami saya sedang mencari jam tangannya yang tercecer ketika wudhu. Alhamduillah …

Selanjutnya dengan bantuan beberapa orang yang ada di sekitar masjid kami berhasil menyingkat waktu, yaitu dengan bus menuju ke stasiun subway. Karena ternyata jalan yang kami tempuh ketika berangkat tadi bukan jalur yang tepat. Seharusnya kami naik dan turun di stasiun Caishikou yang berada di line 4.

Sesuai rencana kami langsung menuju terminal kereta Beijing Barat untuk menukar tiket kereta cepat ke Xian yang kami beli di tanah air secara on line. Setelah sempat panik karena kesulitan bahasa akhirnya beres juga urusan tersebut. Selanjutnya kami kembali ke hotel untuk mengambil koper dan kembali ke stasiun yang sama dengan perasaan lega. Maklum terminal kereta tersebut sangat luas dan ramai. Sesuai jadwal, malam itu kamipun berangkat menuju Xian.

20170427_195041Kereta api peluru super cepat ( bullet train) yang kami tumpangi tersebut menempuh jarak  1.216 kilometers dengan kecepatan rata-rata 310 km/jam dalam waktu 4.5 jam. Tak rugi rasanya mencicipi kereta kebanggaan negri tirai bambu tersebut meski harus merogoh kocek cukup dalam yaitu CNY 513.5 (sekitar IDR 1.168.212) untuk tiket klas 2. Tak jauh beda dengan harga tiket pesawat, yang hanya 2 jam namun kabarnya bila ditambah kemacetan bandara Beijing maupun Xian bisa lebih dari 4.5 jam. Disamping kabarnya lebih sering delay dari pada bullet train yang jadwalnya hampir selalu tepat.

20170427_232033Setiba di terminal kereta yang mirip bandara tersebut guide kami telah menanti. Kami langsung menuju hotel untuk istirahat. Esoknya jam 9 pagi setelah sarapan di hotel kami menuju tembok tua kota Xian.

IMG_036820170428_101150Tembok ini dulunya adalah tembok pertahanan kota alias benteng, yang melindungi kota dari serangan musuh. Tembok tersebut dibangun pertama kalinya oleh dinasti Sui (581-617 M). Kini tembok tua yang mempunyai 4 gerbang tersebut masih dipertahankan sebagai salah satu ikon kota. Dari sela-sela tembok yang dulu sengaja dibuat agar bisa mengintai dan menembak musuh itu, pemandangan kota dapat terlihat jelas.

20170428_10334720170428_105121IMG_0386Tembok dengan tinggi 12 meter diatas fondasi 18 meter dengan lebar 15 meter ini bisa dikelilingi dengan sepeda sewaan. Namun kami hanya menyusuri salah satu sisi tembok dengan berjalan santai. Setelah itu kami segera menuju masjid Xian, disamping untuk menziarahinya juga sekaligus untuk mendirikan shalat Jum’at.

20170428_14432820170428_14435020170428_144505Masjid Agung Xian terletak di area Muslim dimana Muslim street berada. Begitu memasuki jalanan ini aroma Islami langsung terasa menyergap. Berbagai macam makanan terlihat menyesaki pedestrian lebar ini, dengan tulisan HALAL dalam huruf hijaiyah terpampang. Mulai aneka rempah-rempahan, bumbu masakan, aneka manisan hingga segala macam kue, sosis, sate dan lauk pauk ada di sini. Rasa senang, bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Sungguh tak menyangka di negri yang jauh dari tanah suci dimana Islam hanya minoritas bisa menyaksikan hal seperti ini.

Menurut guide kami, Lulu, hanya inilah satu-satunya Muslim street di  negaranya. Pusat jajan jalanan terbesar di Xian ini ternyata bukan hanya dimiliki kaum Muslimin tapi juga seluruh warga kota. Setiap hari area ini disesaki pengunjung yang ingin kuliner.

Karena waktu Zuhur masih agak lama Lulu menawarkan kami untuk makan siang dulu. Kamipun menyetujuinya. Tapi kami terpaksa harus menahan keinginan mencicipi jajanan yang ada di sepanjang jalan tersebut. Lulu tidak mau beresiko menanggung nanti kami sakit perut karena menurutnya kebersihannya kurang terjamin. Ia mengantar kami ke sebuah restoran besar yang tampaknya sudah menjadi langganan travel tempat ia bekerja.

20170428_11491620170428_114833IMG_0420the Drum BellLagi-lagi kami dibuat terpana. Restoran dengan tulisan HALAL besar 20170428_120048tersebut terlihat mewah dan bagus. Lokasinyapun sangat strategis yaitu di samping The Drum Bell yang merupakan salah satu ikon Xian. Dan yang tak kalah pentingnya adalah masakannya yang cukup lezat …. Masya Allah …

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu“.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):168).

20170428_14412220170428_144119Selesai menikmati makan siang kami langsung menuju masjid. Sekali lagi berhubung masih ada waktu, kami menyempatkan diri untuk melihat-lihat kios-kios yang ada di sepanjang jalan menuju masjid, mengingatkan suasana pasar Seng seberang Masjidil Haram yang sekarang sudah tidak ada lagi itu. Aneka kerudung, tasbih dll bercampur dengan aneka pernak-pernik pajangan khas Cina.

Tampak jelas bahwa Islam telah lama masuk ke kota ini. Tidak hanya Xian namun juga kota-kota besar Cina lainnya. Islam masuk ke negri tirai bambu ini melalui apa yang disebut jalur sutra yaitu jalur perdagangan yang membawa sutra, rempah-rempah dll dari Timur ke  Barat dan sebaliknya.

Islam pertama kali di perkenalkan di Cina pada tahun 651 M, tak sampai 20 tahun setelah wafatnya Rasulullah Muhammad saw.  Ketika itu khalifah ke 3, Ustman bin Affan ra mengirim seorang utusan. Utusan tersebut diterima secara terbuka oleh Kaisar Dinasti Tang (Li Zhi atau Yung Wei).

masjid Huangsieng GuangzouSang Kaisar ini bahkan memerintahkan pembangunan Masjid Huaisheng atau masjid Agung Kanton di Guangzhou, yang merupakan masjid pertama di daratan Cina. Hingga kini masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Guangzhou atau orang Arab menyebutnya Khanfu, merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di Cina. Dengan kata lain Islam masuk ke Cina selain melalui jalur perdagangan juga jalur diplomatik.

Namun demikian Sa’ad bin Abi Waqqas, seorang sahabat kenamaan, dan beberapa orang sahabat pada tahun 615 M, sudah pernah datang ke dataran Cina, meski tidak lama. Ketika itu Rasulullah masih ada. Sa’ad kabarnya bahkan datang lagi untuk berdakwah hingga wafatnya pada tahun 635 M, dan dimakamkan di negri tersebut. Makamnya dikenal di kemudian hari dengan nama Geys’ Mazars.

Menurut catatan sejarah awal Cina, masyarakat Cina sudah mengetahui adanya agama Islam di Timur Tengah. Mereka menyebut pemerintahan Rasulullah SAW sebagai Al-Madinah dan agama Islam dikenal dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti ‘agama yang murni’. Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran “Buddha Ma-hia-wu” (Nabi Muhammad SAW).

Orang Cina yang pertama kali memeluk Islam adalah suku Hui Chi. Saat ini Islam di Cina memang tidak begitu populer bahkan cenderung ditekan. Namun pada masa dinasti Song, disusul Dinasti Mongol Yuan (1274 M -1368 M), jumlah pemeluk Islam di China semakin besar. Dinasti Mongol menggunakan jasa orang Persia, Arab dan Uyghur untuk mengurus pajak dan keuangan. Pada waktu itu, banyak Muslim yang memimpin korporasi di awal periode Dinasti Yuan. Para sarjana Muslim mengkaji astronomi dan menyusun kalender. Selain itu, para arsitek Muslim juga membantu mendesain ibu kota Dinasti Yuan, Khanbaliq. (Sumber : Sejarah Islam di Negeri Tirai Bambu ).

Pada masa kekuasaan Dinasti Ming, Muslim masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang adalah jenderal Muslim terkemuka. Di masa Kaisar Yong Le (Zhu Di) muncul seorang pelaut Muslim yang handal, yaitu laksamana Cheng Ho.

( Lihat :https://kanzunqalam.com/2011/01/13/sejarah-awal-mula-umat-muslim-di-china/ ).

Islam mulai mengalami kemunduran ketika berkuasanya dinasti Manchu-Qing (1644 M-1911 M). Karena dianggap sebagai pembela utama dinasti Ming sebagai dinasti pendahulu, maka semua kegiatan agama, pembangunan masjid dan ibadah hajipun dilarang. Politik “devide et impera” digunakan untuk memecah belah umat Islam yang terdiri dari bangsa Han, Tibet dan Mongol. Akibatnya ketiga suku penganut Islam itu saling bermusuhan.

” Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara”. ( HR. Muslim).

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” begitu kata pepatah kita.

Selanjutnya selama revolusi kebudayaan China (1966 – 1976), dengan berkuasanya partai komunis, kaum Muslimin tidak diperbolehkan menunaikan ibadah haji secara resmi, kecuali secara diam-diam melalui Pakistan. Syukur Alhamdulillah pada tahun 1979 kebijaksaan tersebut berubah. Sedikit demi nafas Islam kembali berdegup. Pada tahun 2007 adalah puncaknya. Sebanyak 10.700 jamaah China pergi menunaikan ibadah haji.

Sebagian besar Muslim Cina yaitu suku Hui, yang merupakan mayoritas Muslim, kini menetap di Xinjiang ( Daerah Otonomi Uighur Xinjiang ) yang berbatasan dengan Mongolia di sebelah timur dan Rusia di utara, bergabung dengan kaum Muslimin Uighur yang sudah lebih lama menetap di wilayah tersebut. Dari total 25 juta Muslim di Cina , 8,5 juta di antaranya hidup di Xinjiang. Sementara, dari 300 ribu masjid di Cina, 23 ribu di antaranya ada di Xinjiang.

Sayangnya, pemberian status wilayah otonomi oleh pemerintah hanyalah akal-akalan belaka. Islam yang merupakan agama mayoritas masyarakat di tekan habis-habisan. Keberadaan sekolah Islam, masjid, dan imam dikontrol secara ketat. Pemerintah bahkan melarang kaum Muslimin shalat dan berpuasa pada bulan Ramadhan di kantor atau sekolah milik negara.

Resto Uighur Halal, Paris

Restoran Uighur di Paris

Keberadaan suku Uighur makin terdesak oleh suku Han yang bukan Muslim, yang tadinya hanya 6 % hingga kini menjadi lebih dari 40 % dan diperlakukan secara istimewa oleh pemerintah. Banyak orang-orang Uighur yang akhirnya memilih meninggalkan kota kelahiran mereka dan mencari suaka ke negara lain, Perancis contohnya. Beberapa tahun yang lalu saya pernah mampir dan mencicipi masakan orang Uighur yang pindah ke Paris dan membuka restoran di kota tersebut.

Sebagai info tambahan, Xinjiang adalah wilayah  yang kaya akan mineral dan minyak bumi. Cadangan gas alamnya bahkan merupakan yang terbesar di Cina. Daerah ini juga merupakan lokasi utama bagi Cina untuk melakukan uji coba nuklir.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/06/13/m5k6pb-muslim-xinjiang-bertahan-di-tengah-keterbatasan-1

https://international.sindonews.com/read/1114590/40/larang-muslim-xinjiang-puasa-ramadan-komitmen-china-diragukan-1465262380

( Bersambung).

Wisata ke Cina … hmmm … mungkin kurang popular, apalagi di tengah suasana paska pilkada DKI yang baru lalu, dimana semua isu yang berbau cina menjadi sangat sensitive. Tapi nyatanya keinginan menggebu yang telah lama terpendam untuk menengok saudara-saudari seiman di negri tirai bambu tersebut tidak dapat begitu saja dipadamkan. Bukankah rasulullah sendiri pernah menganjurkan agar kita mau mengunjungi Cina? Meski tidak sedikit ulama yang berpendapat bahwa hadist tersebut tingkatannya lemah. Wallahu’alam …

Dari Anas ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda : “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut.” (H.R. Ibnu Abdil Bar).

http://bersamadakwah.net/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-cina-bukanlah-hadits/   

Yang pasti Islam mengajarkan bahwa menuntut ilmu itu wajib, hingga sejauh apapun jarak yang harus ditempuh. Tapi mengapa harus Cina? Ya mungkin karena Cina jaraknya sangat jauh dari jazirah Arab disamping sejak dahulu Cina telah dikenal sebagai negara besar dengan peradaban tinggi. Disamping itu sejarah juga mencatat bahwa ajaran Islam telah diperkenalkan ke negri tersebut sejak awal lahirnya Islam, yaitu ketika di bawah khalifah Ustman bin Affan ra.

Dengan berbekal itulah pada hari Selasa 25 April 2017 lalu saya dan suami berangkat menuju dataran Cina. Tujuan kami adalah Beijing dengan Great Wall dan masjid Nuijie sebagai tujuan utama, Xian dengan Terracota dan masjid Great Mosque yang merupakan salah satu masjid terbesar dan tertua di Cina, serta Guilin yang terkenal karena keindahan alamnya sebagai tadabur alam sekaligus penutup perjalanan.

Kali ini kami memutuskan untuk menggunakan jasa travel biro yaitu China Muslim Private Travel Tour yang berkedudukan di Beijing. Keputusan ini kami ambil karena itinerary yang ditawarkan travel biro lokal tidak ada yang sesuai dengan keinginan kami. Tetapi khusus selama di Beijing, dengan pertimbangan Beijing adalah kota besar, namanya juga ibu kota, jalan sendiri naik turun subway/kereta bawah tanah tentu bukan masalah.

Karena dengan demikian kita bisa lebih melihat dan merasakan kehidupan mereka sehari-hari. Disamping juga tidak perlu menghabiskan waktu ke tempat/toko wajib kunjung travel biro. Jadi selama di Beijing kami putuskan jalan sendiri. Jasa guide dari travel biro baru akan kami gunakan di Xian dan Guilin. Untuk itu kami sudah menyiapkan peta subway Beijing yang di down load dari computer.

Singkat cerita kami berduapun tiba di bandara Beijing pukul 4.30 pagi waktu setempat. Segera setelah mengambil bagasi kami ke luar bandara untuk mencari taxi. Tapi belum sempat berpikir, tiba-tiba datang seorang pria menawarkan taxi dan langsung menggiring kami menuju parkiran, tanpa menghiraukan beberapa sopir taxi lain yang sudah menanti di depan pintu keluar bandara.

Anehnya, seolah terhipnotis kami mau saja mengikutinya. Tanpa banyak bicara, suami segera menyerahkan alamat hotel. Kami pikir toh tadi sudah sempat menanyakan kepada seorang penumpang asli Beijing yang kami temui di bandara berapa kira-kira ongkos taxi menuju ke hotel tersebut, yaitu sekitar 100 yuan. Belakangan kami baru sadar bahwa taxi tersebut tidak ada argonya atau mungkin juga tidak dihidupkan. Hati kami mulai was-was.

Dan benar saja, begitu kami sampai di hotel si sopir meminta ongkos 600 yuan ! Suami segera berdalih bahwa kami tidak cukup membawa uang cash jadi akan menukar uang dulu di hotel. Dengan kesal si sopir bertanya berapa cash yang tersedia, “ 160 “, jawab suami sambil menunjukkan dompetnya. Sambil mengomel tak jelas, diambilnya uang tersebut dan langsung tancap gas … olalaa .. hari pertama sudah hampir kena tipuu …

Beruntung kekecewaan di saat pertama itu bisa langsung tertutupi dengan keramahan penjaga hotel. Yang menarik meski mereka tidak bisa berbahasa Inggris tapi dengan bantuan aplikasi terjemah Bahasa yang di install di hp mereka, lengkap dengan suara, masalah komunikasi berhasil dihilangkan. Alhamdulillah …

Tak lama setelah menitipkan koper karena kamar baru siap jam 12 siang, kami ke luar lagi untuk mencari sarapan dan langsung ke stasiun subway yang letaknya tidak jauh dari hotel, dengan tujuan Great Wall. Untuk itu kami harus menuju stasiun Huoying yang terletak di persimpangan line 8 dan 13. Dari stasiun tersebut kami harus keluar stasiun dan pindah ke stasiun kereta api Huangtudian S2 yang katanya hanya berjarak 110 meter. Turun dari kereta api bus khusus arah Great Wall tersedia secara gratis. Demikian info yang kami peroleh melalui internet.

http://www.tour-beijing.com/blog/beijing-travel/how-to-visit-great-wall-by-train

Tapi ntah kenapa ketika kami keluar dari stasiun yang kami pikir adalah Huoying ternyata kami kesulitan menemukan stasiun kereta api menuju Great Wall. Terpaksa kami bertanya kepada orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut. Namun keterangan yang kami dapat simpang siur. Ada yang mengatakan harus naik metro lagi, ada yang mengatakan kereta api dan ada juga yang mengatakan naik bus lebih baik.

Namun yang sama sekali di luar dugaan kami, ternyata banyak warga Beijing yang kooperatif. Meski hampir semua yang kami mintai keterangan tidak bisa berbahasa Inggris, mereka berusaha keras untuk menolong kami. Meski mereka kelihatan terburu-buru berangkat ke kantor mereka mau dengan sabar tidak hanya sekedar memberi keterangan ( dengan bahasa isyarat) namun juga mengantar kami hingga ke halte, bahkan ada yang mengejar hingga ke atas bus karena ternyata ia salah memberi keterangan. Masya Allah …

20170426_12161420170426_121430IMG_0153Akhirnya setelah kami menunjukkan foto Great Wall barulah kami mendapat keterangan yang benar. Walaah rupanya mereka tidak paham apa yang sebenarnya kami tanyakan. Belakangan kami baru sadar kami tadi turun bukan di stasiun yang seharusnya. Syukur Alhamdulillah akhirnya sampai juga kami di pelataran luas pintu gerbang menuju Great Wall Badaling, bagian tembok Cina yang terdekat dengan Beijing. Dari sana untuk menghemat tenaga kami memilih naik dengan cable car, nanti pulangnya baru berjalan kaki.

IMG_0204IMG_0191Dari atas cable car terlihat sebagian tembok besar tersebut tersembul meliuk di sepanjang pegunungan. Tembok sepanjang 8.851 km ini berfungsi sebagai tembok pertahanan, disamping juga sebagai jalur transportasi di atas temboknya. Sebuah karya besar yang patut diacungi jempol. Meski pada masa pembangunannya yang melalui kerja paksa itu menelan jutaan korban rakyat, dengan biaya yang tak terkira tingginya.

IMG_0273IMG_019620170426_154254Tembok spektakuler tersebut dibangun oleh beberapa dinasti, secara bertahap, selama ribuan tahun, sejak sebelum ratusan tahun sebelum Masehi. Namun yang saat ini mudah terlihat dan banyak dikunjungi wisatawan adalah yang direkonstruksi oleh dinasti Ming (1368-1644).

Setelah puas menikmati pemandangan dan sejuknya hawa pegunungan sambil berjalan menyusuri tembok raksasa yang naik turun, cukup membuat lelah kaki tersebut, kamipun beristirahat sebentar sambil menyantap makan siang sekedarnya di restoran yang ada di lokasi tersebut.

Tak terasa rupanya kami berada di sana hingga menjelang jam tutup yaitu sekitar pukul 4 sore. Berbondong-bondong bersama wisatawan lain kamipun ikut mengantri bus yang akan membawa kami pulang. Di tengah perjalanan, setelah di dalam bus, kami baru merasa kalau bus tersebut bukan bus yang tadi kami gunakan. Bus tersebut adalah bus umum yang tidak menuju ke stasiun kereta api seperti tadi ketika kami datang.

Celakanya lagi, semua penumpang termasuk keneknya tidak bisa berbahasa Inggris. Untung anak muda yang duduk di depan kami bisa berbahasa Inggris meski sedikit. Anak muda yang pergi bersama kekasih dan keluarganya tersebut meminta kami tenang, karena kebetulan mereka juga akan menuju ke stasiun metro yang sama dengan kami.  Leganya hati ini, trima-kasih ya Allah … Alhamdulillah …

IMG_0289Malamnya kami berjalan-jalan menuju Tiananmen, yaitu gerbang menuju Forbidden City, kota terlarang , yang merupakan kompleks bekas istana yang kini dijadikan museum. Cukup surprised, ternyata ikon yang terletak di jantung ibu kota tersebut pukul 10 sudah gelap dan sepi. Hanya terlihat segelintir turis di depan pintu gerbang berwarna merah khas lambang komunis dimana terpampang foto raksasa Mao Zedong, pendiri RRT.

IMG_0309IMG_033220170427_120333Ke-esokan paginya, dengan subway kami mengunjungi Summer Palace. Istana musim panas tempat keluarga kaisar berkumpul dan bersantai ini terletak kurang lebih 15 kilometer dari pusat kota Beijing. Kali ini tanpa kesulitan kami bisa mencapai tempat tersebut berkat foto yang kami tunjukkan kepada orang yang kami temui begitu kami keluar dari stasiun metro.

20170427_15432220170426_045649Harus diakui alat transportasi ibu kota Cina ini, terutama subwaynya, patut diacungi jempol. Disamping bersih, baik stasiun maupun metronya, mudah dicapai juga artistik. Yang juga di luar perkiraan kami, adalah adab mengantri para penumpang, baik ketika akan masuk subway maupun ketika akan membeli tiket. Padahal di jam sibuk masuk kantor.

Sayang untuk mendapatkan peta subway sangat sulit. Untung kami sudah mempersiapkannya dari rumah. ( Print internet). Tapi karena waktu kami tidak banyak, kami tidak terlalu menikmati istana yang saat ini telah dijadikan tempat wisata umum tersebut. Apalagi kami masih harus menukar tiket online bullet train menuju Xian yang kami beli di tanah air sebelum keberangkatan.

Maka tak lama setelah itu kamipun meninggalkan lokasi untuk menuju masjid Niujie yang memang menjadi tujuan utama kami di Beijing.

( Bersambung)

Umat Islam kembali harus mengelus dada. Pasalnya yaitu keinginan Jokowi untuk menggunakan dana haji milik umat Islam yang jumlahnya trilyunan itu, untuk mempercepat pembangunan.

“Ini sebuah potensi yang sangat besar. Kurang lebih ada Rp80 sampai Rp90 triliun. Jumlahnya triliun, bukan miliar, Rp 93 triliun yang ini kalau dimanfaatkan dengan baik, ditaruh di tempat-tempat yang memberikan keuntungan yang besar, juga akan mempercepat pembangunan negara kita,” kata Jokowi dalam sambutannya di peluncuran Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) dan peresmian pembukaan Silatnas Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (27/7/2017).

Di luar pro kontra, setuju tidak dan halal tidaknya dana haji dimanfaatkan untuk pembangunan negara, yang jelas umat Islam merasa sakit hati. Bagaimana mungkin dana yang dikumpulkan secara susah payah sedikit demi sedikit oleh sebagian umat yang bermimpi ingin menunaikan rukun Islam ke 5 itu bakal digunakan untuk sesuatu yang bukan tujuannya. Sementara pemerintah selama ini dirasa tidak adil memperlakukan umat Islam.

Kita bisa melihat sendiri bagaimana sikap dan prilaku pemerintah paska gagalnya Ahok dalam pilkada yang baru lalu. Kegagalan mantan gubernur DKI yang naik jabatan lantaran Jokowi terpilih menjadi RI1 itu sebenarnya banyak disebabkan lisannya sendiri yang mengutak-atik ayat suci Al-Quranul Karim. Ialah yang memprovokasi kemarahan umat Islam, bagaikan membangunkan singa tidur yang selama ini tidak begitu memperdulikan ayat-ayat kepemimpinan yang sudah ada sejak 15 abad silam.

Ironisnya, pemerintah malah menyalahkan para ulama, tokoh dan mereka yang ikut dalam demo ABI ( Aksi Bela Islam) meskipun demo tersebut terbukti berjalan rapi dan santun. Maka sejak itulah dimulai kriminalisasi para ulama dan tokoh ABI, pemblokiran situs-situs Islam dll. Mereka tak henti-hentinya difitnah dengan segala macam tudingan, seperti makar, anti Pancasila, anti NKRI, Islam radikal dll. Mereka ini juga  dibenturkan dengan umat agama lain, dituduh intoleran dll. Sesama umat Islam akhirnya saling menjelekkan dan saling tuduh. Inilah tehnik adu domba sesama Muslim yang benar-benar keji dan merusak persaudaraan Islam yang sejatinya merupakan kekuatan yang maha dasyat.

“Perumpamaan orang Islam yang saling mengasihi dan mencintai satu sama lain adalah ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dan tidak bisa tidur ”. (HR.Bukhori).

Terakhir adalah pembubaran HTI dengan alasan makar. FPI beserta 14 ormas lainnya adalah target selanjutnya. Sementara ormas yang jelas-jelas telah mengancam ulama bahkan ada ormas di Papua yang berani mengibarkan bendera Israel bebas dari ancaman pembubaran.

Anehnya lagi, pegawai negri yang dicurigai pernah mendukung kegiatan HTI yang diperkirakan mempunyai anggota dan partisan puluhan ribu orang itu diancam untuk segera mengundurkan diri dari instansi dimana mereka bekerja. Padahal organisasi tersebut selama itu telah mengantongi izin resmi dari pemerintah, dan baru dibubarkan belum lama ini.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/07/25/otn2ab377-pns-disuruh-keluar-hti-ini-komentar-yusril

Dapat dibayangkan bagaimana kesal dan kecewanya umat Islam diperlakukan seperti itu. Belum lagi ancaman menkeu Sri Mulyani “ Pilih potong gaji pns atau hutang??”.

http://www.gemarakyat.id/menkeu-pilih-utang-atau-gaji-pns-dipotong/

Sebegitu mendesaknyakah keadaan keuangan repubik kita tercinta ini?? Bukankah tugas negara untuk mensejahterakan dan melindungi kepentingan rakyat? Mengapa harus dana haji milik rakyat atau gaji pegawai negri, bukannya gaji atau tunjangan istimewa para pejabat negara yang suka korupsi atau anggaran pejabat yang tidak/kurang penting, seperti pesawat kepresidenan yang super mewah itu misalnya??? Atau kejarlah para koruptor kelas kakap seperti mereka yang merampok dana  BLBI yang jumlahnya trilyunan itu.

Bagaimana pula dengan tax amnesty yang merupakan ide Sri Mulyani dan menurutnya bisa untuk menjerat dan mendapatkan dana segar para konglomerat yang diamankan di bank-bank internasonal. Khususnya konglomerat kelas wahid keturunan Cina yang tak dapat dipungkiri memang lihai dalam berbisnis.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa hampir semua bisnis dan ekonomi negri ini berada dalam cengkeraman 9 taipan tersebut. Hampir semua mega proyek mulai dari pembangunan perumahan, gedung perkantoran, mall hingga pembangunan jalan, jembatan dan proyek pembangkit listrik & energy, merekalah yang memegang kendali.

Tengoklah proyek raksasa pembangunan kota baru Meikarta di Bekasi yang di targetkan akan menjadi saingan Jakarta. Proyek Lippo grup milik James Riyadi bernilai ratusan trilyun ini berencana membangun ratusan pencakar langit yang dibangun sekaligus, meski sebenarnya belum mendapatkan izin resmi dari pemda. Tak dapat dibayangkan berapa besarnya asset dan kekayaan mereka.

http://katadata.co.id/berita/2017/08/02/deddy-mizwar-minta-lippo-hentikan-sementara-proyek-meikarta

http://stabilitas.co.id/home/detail/menguatnya-cengkeraman-sang-naga

http://ekonomi.kompas.com/read/2015/04/25/165045026/Tiongkok.Sapu.Bersih.Proyek.Infrastruktur.Indonesia

Juga bukan rahasia demi nafsu mengejar ketertinggalan kita dengan negara-negara lain maka pemerintahpun nekad berhutang. Ntah berapa besar tepatnya, kepada siapa saja, bagaimana dan kapan hutang tersebut bakal lunas. Apakah semua itu tidak diperhitungkan lebih dahulu?? Tidak adakah standard prioritas mana yang harus didahulukan, yang lebih pro rakyat kecil, selain untuk mengurangi resiko mangkraknya pembangunan?? Atau mungkinkah ada tekanan dari pihak lain hingga pemerintah tidak berani menolak si pemberi hutang??

Yang pasti dengan hutang yang demikian besarnya tak heran bila akhirnya sang pemberi hutangpun dengan mudah ikut masuk ke dalam percaturan politik dan ikut menentukan arah kepemimpinan negri kita tercinta Indonesia. Negri yang katanya menyimpan kekayaan besar yang terpendam ntah dimana.

Padahal Islam yang merupakan ajaran dan agama mayoritas penduduk Indonesia, sejak awal telah melarang kebiasaan buruk berhutang. Tangan di atas ( memberi) lebih baik dari tangan di bawah ( meminta/hutang).

“Berhati-hati kamu dalam berhutang, sesungguhnya hutang itu mendatangkan kerisauan di malam hari dan menyebabkn kehinaan di siang hari”.(HR Al-Baihaqi).

Kasus Srilanka di bawah amat sangat patut menjadi renungan kita. Relakah kita bila suatu hari nanti kita mengalami hal serupa???

http://www.beritaislam24h.info/2017/07/tak-bisa-bayar-utang-sri-lanka-lepas.html

Kembali kepada rencana pemerintah untuk memanfaatkan dana haji milik umat Islam yang jumlahnya trilyunan itu. Islam tidak pernah memisahkan masalah keagamaan dengan kenegaraan. Hal yang menjadi momok menakutkan rezim Jokowi, yang menginginkan agar agama tidak di campur-adukkan dengan politik. Rezim yang alergi terhadap bendera tauhid dan kata “ kekhalifahan” hingga harus mengeluarkan perppu pembubaran ormas seperti HTI itu ternyata kini menginginkan dana haji milik umat Islam. Alasannya  untuk biaya infrastruktur.

Bukankah Cina dan Arab Saudi baru saja menggelontorkan pinjaman trilyunan rupiah?? Tidak cukupkah semua itu?? Apa jangan-jangan sudah menguap ntah kemana seperti biasa ???

Dan lagi betulkah dana tersebut untuk biaya infrastruktur, infrastruktur apa, yang mana? Apakah ada kaitannya dengan tujuan utama tabungan haji, perbaikan fasilitas pondokan dan transport di Mekah dan Madinah, misalnya. Karena selama ini kedua fasilitas tersebut kalah jauh dengan apa yang didapat jamaah haji Malaysia.

Bila saja penduduk negri mayoritas Islam, dimana pejabat negara termasuk presiden disumpah dibawah kitab suci Al-Quran, mau sedikit saja memahami makna “ Masuklah kedalam Islam secara kaffah”, masalah hutang sebenarnya tidak  akan menjadi masalah besar.

Adalah Baitul maal yang berdiri pada zaman nabi dan juga para khalifah. Di dalam lembaga ini tersimpan semua dana rakyat termasuk harta pampasan perang, zakat, infak, sodaqoh, wakaf dan lain-lain. Dengan mengelola dana itulah para pemimpin ketika itu berhasil mensejahterakan rakyat tanpa adanya riba seperti bunga, bahkan tanpa harus berhutang kepada siapapun. Itulah zaman keemasan Islam yang tidak dapat dipungkiri sejarah. Mereka benar-benar berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus tergantung negara/pihak lain.

Selama 8 abad Islam dibawah para khalifah berhasil menguasai dunia dalam segala hal baik ekonomi, pembangunan, seni budaya dll. Termasuk kebebasan dalam beragama. Jadi sungguh tidak benar apa yang dikatakan politikus Partai Nasdem yang menuduh sistim khilafah akan memaksa semua orang shalat, berjilbab dll. Berikut pengakuan seorang pemuka Katolik tentang Aceh yang sejak beberapa tahun ini telah menegakkan syariat.

http://www.planetmuslim.id/2017/01/pemuka-agama-katolik-di-aceh-syariat.html?m=1

“Untukmu agamamu dan untukku agamaku”. (TerjemahQS.Al-Kafirun(109):6).

Para pemimpin terutama di zaman kekhalifahan yang 4, tidak hanya menunjukkan keberhasilan yang sifatnya duniawi seperti yang dicapai Barat saat ini. Tetapi juga keberhasilan ukhrowi. Ketakwaan mereka kepada Sang Khalik benar-benar patut diacungi jempol. Demikian pula rakyatnya. Karena pemimpin sejatinya adalah panutan yang harus ditiru.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.( Terjemah QS. At-Taubah (9);23).

Jadi tak perlu heran bila sekarang ini sebagian besar umat Islam keberatan dana haji yang mereka tabung selama bertahun-tahun dan dicicil sedikit demi sedikit itu akan digunakan pemerintah. Meski kabarnya MUI menyetujui rencana tersebut, tampaknya tidak akan mudah membujuk para pemilik dana haji agar ridho menyerahkan tabungan mereka. Apalagi untuk meyakinkan bahwa dana mereka akan aman, tidak dikorupsi serta dijamin tidak akan mengganggu jadwal keberangkatan mereka.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Agustus 2017.

Vien AM.