Feeds:
Posts
Comments

Bos-Maspion-Herman-HalimMendapatkan ketenangan dan kebahagiaan setelah menjadi muslim. Inilah yang dirasakan Herman Halim, Direktur Utama Bank Maspion yang menyandang status mualaf sejak 2004 lalu. Banyak berkah yang didapat setelah hijrahnya dari keyakinan lama ke ajaran Islam.

Arek Suroboyo bernama asli Lim Xiao Ming kelahiran 1953 ini menyatakan, peralihannya menjadi seorang muslim, bukan tanpa sebab. Ada satu contoh yang sangat nyata yang terjadi di depan matanya, yaitu perubahan sikap total dari putra bungsunya, Andrew, yang sejak kecil hidup dan tinggal di Australia. “Kami berjauhan sejak lama. Dia di sana dengan kakak dan mamanya, sementara saya di sini.”

“Namun, saya berkomunikasi intens dengan dia meski kami hanya melakukannya dengan ngobrol di telepon atau ketemu dua-tiga kali setahun kalau saya ke Australia,” ujar bankir bersahaja.

Dia mengaku, meski berjauhan dan jarang bertemu, hubungannya dengan keduanya tidak ubahnya seperti teman main bola yang baru saja memenangkan pertandingan. Selalu seru dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Dari curhat-curhatan yang demikian hangat, sebagai seorang ayah, Herman Halim mengetahui benar kondisi anaknya yang tinggal di Negeri Kanguru itu tidak baik.

Andrew yang saat itu beranjak remaja mulai sering bercerita, dia sering melakukan hal yang buruk. Mulai dari tawuran sampai minum-minuman keras dilakoninya. “Saya sudah merasa khawatir juga dengan sikap anak saya yang masih berumur kurang dari 15 tahun, tapi sudah ‘super nakal’ seperti itu.

Namun, saya juga bingung karena tidak punya pegangan. Apalagi, anak saya ini bukan tipe orang yang dibilangi jangan A terus tidak melakukan A. Dia harus mendapat jawaban yang pasti dan argumentasi yang kuat untuk bisa diyakinkan,” ungkapnya.

Karena kesupernakalan ini pula Herman sempat pesimistis dengan masa depan sang anak. Dari beberapa kali percakapan lewat telepon, Andrew menyatakan sudah tidak berminat meneruskan pendidikannya. Andrew tidak ingin masuk ke sekolah setingkat SMA, apalagi kuliah. Tujuan hidupnya juga tidak jelas.

Beruntung, meski memiliki sikap keras, Andrew dan kakaknya adalah anak supel dan tidak mau hanya berkutat dengan teman-temannya sesama orang Indonesia di Australia. Karena mudah bergaul ini, Andrew mendapatkan banyak teman. Mulai dari anak-anak Australia tulen, sampai rekan-rekan perantau dari Singapura, HongKong, Malaysia, Eropa, bahkan dari negara-negara Timur Tengah seperti Iran, Irak, Lebanon, dan beberapa negara Islam lainnya.

Herman menuturkan, saat bergaul dengan banyak teman ini, Andrew sering diajak beribadah di beberapa agama secara bergantian oleh kawan-kawannya. Kadang ke Gereja, hari lain dia ke tempat pemujaan agama lain. Sampai suatu hari pada 2000, Andrew menelepon sang ayah dan menyatakan akan memeluk agama Islam.

“Saat itu saya terkejut juga waktu dia bilang, Pa, aku mau memeluk Islam’. Karena perangainya yang harus yakin benar untuk bisa berbuat sesuatu, saya tidak bertanya banyak soal niatnya itu. Saya hanya nanya apa you yakin mau jadi muslim? Dia jawab, yakin,” ujarnya.

Pertanyaan selanjutnya, tentu saja adalah alasan bungsu supernakalnya tersebut untuk memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW itu. Tak disangka, sang anak bisa memberikan jawaban yang rasional. “Dia bilang sudah baca kitab-kitab agama-agama lain. Menurut dia, semuanya bagus-bagus, tidak ada yang buruk. Namun, saat akan menyampaikan ke oranglain, dia bilang susah. Beda dengan ajaran Islam, kata dia, lebih mudah disampaikan,” ungkapnya.

Yang mengejutkan, setelah memeluk Islam, Andrew yang dulu begitu suka berkelahi dan membuat onar bisa berubah 180 derajat. Sikapnya sangat santun, lembut, dan alim. Takzim Andrew kepada ayahnya terasa kental setiap kali pertemuan atau saling sapa lewat telepon. Andrew bahkan mengungkapkan niatnya untuk terus sekolah hingga jenjang perguruan tinggi, yang saat ini sudah dibuktikan dengan kelulusannya sebagai sarjana Accounting dari University Murdoch Australia.

Perubahan sikap sang putra membuat Herman Halim penasaran dengan ajaran Islam. Lalu ia mulai mencari berbagai referensi dan berdiskusi dengan putranya soal Islam. “Tadinya, bertahun-tahun keyakinan saya tidak jelas. Kadang jadi seorang pemeluk Budha, kadang jadi Nasrani, kadang Hindu. Kemudian saya belajar soal Islam dan menemukan kesejukan di sana,” ujarnya.

Pada 2004, Halim resmi menjadi seorang muslim. Saat itu keluarga dan kerabatnya terkaget-kaget. Dalam ingatannya, pada tahun-tahun pertama menjadi mualaf, berkali-kali ia mendapat kecaman dan kritik dari kawan-kawannya yang nonmuslim. la juga berulang-ulang ditarik untuk kembali ke ajaran-ajaran yang sebelumnya ia peluk.

Apalagi, saat itu kondisi umat Islam menurutnya sedang berada di titik nadir, yaitu benar-benar terpojok oleh situasi keamanan global dari maraknya terorisme seperti pada peristiwa 11 September di NewYork dan rangkaian ledakan bom di Bali.

“Karena itu, banyak kerabat yang khawatir dengan keislaman saya. Ada yang khawatir saya dicekal kalau mau ke Amerika atau dari sini sudah tidak diberi paspor sehingga tidak bisa bepergian ke luar negeri, sementara pekerjaan saya membutuhkan itu,” ucapnya merunut cerita.

Ia tetap yakin memeluk agama Islam. Sebab, dari beberapa pengalaman, ada keajaiban setelah ia menjadi muslim. Salah satunya saat grup usaha Maspion didera persoalan pada 2005. Bank Maspion yang sebenarnya tidak memiliki sangkut paut, mau tidak mau ikut merasakan kegelisahan. “Waktu itu dengan keyakinan kalau memang kami tidak bermasalah pasti akan datang pertolongan dari Allah dan kondisi akan kembali normal. Terbukti, bank terhindar dari masalah. Herannya, waktu itu saya bisa mendapat dukungan dari semua pihak dan saya kok ya bisa mempersatukan pandangan karyawan saya yang saat itu juga panik,” ungkapnya lagi.

Belum berhenti di sini. Setelah memeluk Islam, Herman juga menemukan berkah yang luar biasa. Ini dirasakannya dua tahun pasca memeluk Islam, yaitu bertemu dengan wanita cantik yang kemudian di persuntingnya pada 2006. “Karena sudah merasakan tidak enak jadi duda, saat bertemu wanita yang cocok, langsung saya pinang. Wanita ini 24 tahun lebih muda dari saya, tapi baik hati dan sangat sabar kepada saya. Dan yang membuat saya lebih percaya kebesaran Allah adalah kesediaan dia untuk beralih dari agamanya yang dulu dan menjadi seorang muslimah. Saya benar-benar mendapatkan kebahagiaan atas izin Allah,” ungkapWakil Ketua II Yayasan Masjid Cheng Hoo Surabaya ini.

Satu lagi yang membuat Herman Halim semakin mantap memeluk Islam, yaitu adanya kesetaraan dalam melihat derajat manusia. “Ini paling terasa kalau masuk masjid. Rasanya sejuk karena kita yang beda profesi, beda rezeki, bisa sejajar. Yang bos, tukang becak, bakul dawet, posisinya sama, terutama saat mengerjakan salat,” tuturnya. Karena itulah, pada Ramadan tahun keempatnya kali ini ia benar-benar berusaha berpuasa satu bulan penuh, mengulangi rekornya pada Ramadan tahun lalu. Ia mengaku, di tahun pertama dan keduanya menjadi mualaf, puasa adalah hal yang paling berat. “Jadi, waktu itu masih bolong-bolong, kalau sekarang insya Allah penuh,” ucapnya ungguh-sungguh.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 4 Juni 2017.

Vien AM.

Di copas dari : http://www.kompasiana.com/bara-biri-buru/anak-badungnya-memilih-islam-sang-ayah-mengikutinya-pula-herman-halim-direktur_552a2f87f17e619268d62415

Halusinasi dan Rukyah

1 Ramadhan 1438 H. Kami mengawalinya dengan takziyah ke rumah bude, sepupu ibu yang wafat, meski agak terlambat karena almarhumah telah dimakamkan sehari sebelumnya. Selama ini bude tinggal bersama putra sulung beliau yang mengalami kelumpuhan sejak 3 tahun yang lalu. Dengan penuh kasih sayang bude yang sudah sepuh itu merawat putranya yang juga sudah tidak muda itu, yaitu 48 tahun. Kebetulan putra beliau tersebut memang belum menikah.

Ketika kami tiba di rumah duka, Andi, katakanlah begitu nama sang putra sulung, sedang dimandikan perawatnya. Setelah menyampaikan duka cita dan berbincang seputar hari-hari akhir almarhumah dengan salah satu putra bude yang menemui kami, dan Andipun sudah selesai dirapikan perawat, kamipun menemuinya.

Tak disangka, ternyata Andi masih mengenali kami semua, ia bahkan ingat nama-nama kami, dan bisa berkomunikasi seadanya. Padahal bila dilihat keadaannya cukup mengenaskan, tulang kedua kaki dan kedua tangannya tampak bengkok. Dan tak jarang ia mengulang-ngulang perkataan dan apa yang diinginkannya sambil membentur-benturkan kepalanya ke bantal. Kadang-kadang ia juga menatap ke atas beberapa lama, tanpa berkedip, tanpa ekspresi.

Hingga saya terpancing bertanya : “Apa yang kamu lihat Andi?”. “ G ada”, jawabnya cepat.

“Kalau begitu apa yang kamu pikirkan?”, tanya saya lagi. “Allah”, jawabnya tegas.

Saya terkesiap, masya Allah. Memang sejak tadi ia terdengar bershalawat, kadang membaca Al-Fatihah atau ayat Qursi, di sela-sela permintaannya meminta air minum yang diucapkan looping alias tak henti-henti dan dengan nada yang datar.

Ketika saya menasehatinya agar berdoa, memohon kepala Allah agar diberi kesembuhan, sontak iapun berucap “ Ya Allah, aku mau sembuh” secara berulang-ulang meski dengan nada datar tanpa intonasi. Spontan sayapun berucap ” Sabar yaa … ini semua adalah cobaan dari Allah swt. Jangan pernah bosan berdoa. Insya Allah, nanti kalau Allah berkehendak memanggil kamu menyusul ibu dan bapak, Allah akan memasukkan kamu ke surga, dikasih istri yang cantik, sholehah”. “Aamiin”, jawabnya, sambil terus menatap saya, penuh harap.

Sama koq, orang yang diberi pasangan hidup, anak, sehat, rezeki berlimpah, semua itu cobaan”, lanjut saya lagi. Tapi “jleb”, saya terhenyak, tersentil oleh kata-kata saya sendiri. Astaghfirullah … Ya Allah, benar sekali, semua ini hanyalah cobaan, titipan-Mu yang pada saatnya nanti harus dikembalikan dan dipertanggung-jawabkan penggunaannya.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.( Terjemah QS. Al-Fajr(89(15-16).

Susah maupun senang adalah ujian, bukan kemuliaan bukan juga kehinaan. Keduanya harus dipertanggung-jawabkan. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un … Ya Allah jangan lalaikan kami dari peringatan-Mu, aamiin …

Dari cerita adiknya, saya baru tahu, ternyata sepupu saya tersebut divonis dokter mengidap gangguan mental yang nama kerennya Skizofrenia. Sejujurnya saya tidak begitu mengenal penyakit tersebut. Dari hasil searching internet di dapat Skizofrenia berasal dari 2 kata bahasa Yunani, yaitu skizo yang artinya retak atau pecah, dan frenia yang artinya jiwa. Jadi Skizofrenia adalah gangguan mental atau keretakan jiwa/ kepribadian yang menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku.

Ranti, sang adik, bercerita bahwa hal itu terjadi sejak ayah mereka yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Andi, wafat. Rupanya ia tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Selama beberapa waktu ia selalu murung dan cenderung mengucilkan diri. Beberapa kali ia menceritakan didatangi almarhum ayah yang sangat dicintainya itu.

Saya tidak tahu bagaimana prosesnya, yang pasti, akhirnya Andi dibawa ibunya berobat ke seorang psikiater. Dan sejak itu, hingga hari ini, Andi harus selalu mengkonsumsi obat-obatan. Belakangan ia juga sempat terserang stroke hingga 2 kali.

Menurut informasi yang saya dapat, penderita Skizofrenia tidak dapat disembuhkan. Mereka tergantung obat seumur hidup karena bila tidak, bisa menyusahkan bahkan membahayakan orang lain. Saya jadi teringat kasus di Kalbar, dimana seorang polisi membunuh dan memutilasi 2 anaknya, tanpa rasa menyesal sedikitpun. Menurut istrinya, suaminya itu sering mendapat bisikan mahluk halus. Diduga polisi tersebut mengidap  Skizofrenia. Tentu saja hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja, perlu adanya pembuktian yang jelas.

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5: 32)

Ranti juga sempat bercerita, sehari setelah ibu mereka wafat, Ahmad, salah satu adik Andi, melihat “ayah dan ibu” mereka mengunjungi Andi, mereka berdiri di samping tempat tidur Andi. Ironisnya, ketika saya menanyakan hal tersebut kepada Ahmad, ia tertawa.

“Wah mb Ranti ya yang cerita. Nanti aku dikira mengidap Skizofrenia juga niih”, ucapnya dengan nada agak kecut. Menurut Ranti, adiknya itu sejak lama memang memiliki kemampuan melihat hal-hal seperti itu.

Saya segera melirik suami saya. Kebetulan suami saya juga sempat memiliki kemampuan melihat yang ghaib. Demikian pula bapak saya yang sudah 3 tahun lebih menderita kelumpuhan mirip Andi, tapi daya ingat dan komunikasi bapak masih sangat bagus.

Saya teringat, hari-hari pertama bapak mengalami kelumpuhan, beliau sering sekali berhalusinasi. Bapak sering sekali marah-marah dan menyuruh pergi “seseorang” yang dianggap suka mengganggunya. Akhirnya adik saya berinisiatif mendatangkan seorang ustad yang dikenal sering merukyah alias mengusir roh jahat yang datang mengganggu. Alhamdulillah bapak sekarang sudah terbebas dari gangguan tersebut.

Berikut  hadist menarik yang diceritakan oleh Aisyah R.ha dan Ibnu Mas’ud R.a :

Rasulullah saw bersabda, ” Setiap kamu ada Qarin dari bangsa jin, dan juga Qarin dari bangsa malaikat”. Mereka bertanya: “Engkau juga ya Rasulullah.”
Ya aku juga ada, tetapi Allah swt telah membantuku sehingga Qarin itu dapat aku islamkan dan hanya mengajakku dalam hal kebajikan saja.” (Riwayat Ahmad dan Muslim).

https://adamfirdauz.wordpress.com/2012/12/25/tentang-qorin-jin-pendamping-manusia/

Saya jadi berpikir betulkah vonis yang dijatuhkan dokter kepada Andi tempo hari ?? Bukanlah jin termasuk qarin kembaran kita, tidak mengenal mati kecuali pada hari Kiamat nanti, hingga dengan demikian kemungkinan qarin itulah yang menampakkan diri dan mengganggu manusia. Yang ilmu kedokteran kemudian menyebutnya halusinasi ???

Yang pasti ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil. Yang pertama, kita tidak boleh mencintai seseorang, baik itu suami/istri/anak/orang-tua, apalagi harta benda, secara berlebihan. Karena semua itu hanya titipan yang pada suatu hari kelak pasti diminta kembali oleh Sang Pemilik. Kecintaan tertinggi hanya untuk Allah swt.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Yang kedua, sebagai orang beriman, kita tentu yakin dengan adanya yang ghaib. Dan ada orang-orang tertentu yang diberi-Nya kemampuan melihat dan merasakan hal tersebut. Sebagai contoh yaitu para nabi. Demikian juga ayat-ayat suci Al-Quranul Karim yang turun kepada rasulullah Muhammad saw. Sebagian ayat turun dalam bentuk suara, tanpa terlihat siapa yang berbicara, disamping apa yang disampaikan oleh malaikat Jibril as yang datang dalam bentuk laki-laki biasa. Itu sebabnya nabi saw sering dituduh gila (majnun) oleh orang-orang Quraisy yang tidak meng-imani beliau. Na’udzubillah min dzalik …

“Berkat ni’mat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila”.( Terjemah QS. Al-Qalam (68):2-6).

Yang ketiga, rasulullah saw mengajarkan kita, kaum Muslimin, agar terbiasa merukyah diri kita sendiri. Diantaranya yaitu dengan membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas,  Al-Falaq, An-Naas, Al-Baqarah ayat 255 ( ayat Qursi) serta 3 ayat terakhir surat Al-Baqarah.

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Terjemah QS. Al-Isro (17): 82).

Bacakan ruqyah-ruqyah kalian kepadaku, tidak apa-apa dengan ruqyah yang tidak mengandung kesyirikan didalamnya.” (HR. Muslim).

http://ruqyahislam.blogspot.co.id/2013/12/ayat-dan-doa-dalam-meruqyah.html

Ke-empat, Islam menganjurkan kita, kaum Muslimin agar menjenguk orang yang sakit dan mengantar jenazah ke kubur. Tujuannya tak lain adalah agar kita banyak bersyukur dan senantiasa mengingat bahwa pada saatnya nanti kitapun akan mati.

Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya pada pagi hari kecuali ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari; dan jika ia menjenguknya pada sore hari maka ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan baginya kurma yang dipetik di taman surga.” (HR Tirmidzi).

Terakhir, yuuk kita biasakan membaca ta’awuuz, yaitu “A’uzubillahi minas Syaitonir Rajim” sebelum memulai segala aktifitas kita, terutama sebelum membaca Al-Quran, agar kita dijauhkan dari segala macam godaan syaitan terkutuk.

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Terjemah QS. Al-A’raaf(7): 200).

Syukur Alhamdulillah, Andi sekarang telah terbiasa merukyah dirinya sendiri. Beberapa kali ia memanggil-manggil kami, agar senantiasa mendoakannya “ Doain aku ya, baca Al-Fatihah 3x, Al-Ikhlas 3x,  Al-Falaq 3x, An-Naas 3x, ayat Qursi 3x”. Secara berulang-ulang ia mengatakan hal tersebut, meski dengan nada datar dan tanpa ekspresi. Kalau saja dari awal ia tahu, paling tidak ada yang mengingatkan hal tersebut, bisa jadi Andi tidak akan menjadi demikian, pikir saya sedih. Ya Allah, berilah sepupu kami tersebut kesabaran dalam menghadapi cobaan-Mu, berilah ia kesembuhan yang baik, bila Kau me-ridhonya, aamiin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 31 Mei 2017.

Vien AM.

Note:

Beberapa hari yang lalu (15/1/2021) Saya menonton “Beautiful Mind” film berdasarkan kisah John Forbes Nash, seorang ahli matematika Amerika yang divonis menderita Skizofrenia. Selama 9 tahun lebih ia menuruti petunjuk dokternya untuk minum obat secara teratur. Tapi kemudian karena suatu sebab ia memutuskan untuk menghentikannya, dan memulai pengobatan sendiri dengan cara belajar meyakinkan diri untuk dapat membedakan mana halusinasi mana tidak.

Dan berkat dukungan istrinya tercinta ia berhasil keluar dari “penyakit” tersebut. Sampai hari tuanya Nash memang tidak berhasil mengusir halusinasi tersebut, tapi ia sudah dapat membedakannya dari dunia nyata. Ia bisa mengabaikannya hingga akhirnya dapat mengajar kembali bahkan menerima nobel penghargaan.

Nash meninggal pada tahun 2015 di usia 86 tahun bersama sang istri tercinta dalam kecelakaan mobil yang dikendarainya. Ia memang bukan seorang Muslim. Wajar kalau tidak mengenal ruqiyah. Namun paling tidak ia berhasil keluar dari “penyakit” tersebut dan berhasil menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Pada tanggal 5 Mei 2017, untuk kesekian kalinya GNPF-MUI menggelar Aksi Bela Islam, kali ini dengan nama Aksi Simpatik 55. Aksi damai ini diselenggarakan setelah shalat Jum’at di masjid Istiqlal, dengan agenda khusus ber-munajat kepada Allah swt agar Sang Khalik sudi mengabulkan permintaan delegasi yang dikirim untuk menemui perwakilan Mahkamah Agung RI.

http://www.panjimas.com/news/2017/05/05/sebelum-aksi-simpatik-55-perhatikan-seruan-ustadz-bachtiar-nasir/

Permintaan tersebut adalah agar MA menjaga independensi dari pengaruh luar. Karena seperti yang kita ketahui bersama kecenderungan tersebut amatlah kentara, diantaranya dengan adanya tuntutan hukum yang sangat ringan. Yaitu 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun, yang berarti Ahok tidak akan masuk penjara kecuali dalam waktu 2 tahun membuat kesalahan yang sama. Bandingkan dengan hukuman yang dijatuhkan terhadap para terdakwa kasus penodaan agama seperti Arswendo (4 tahun), Lia Eden (2.5 tahun), Permadi (7 bulan) dan Rusgiani (14 bulan).

https://www.nahimunkar.com/penodaan-agama-ahok-sampai-arswendo/

Berikut adalah sebagian pengantar yang diucapkan Ustad Bachtiar Nasir (UBN) selaku ketua GNPF-MUI, sebelum acara digelar :

” Kepada hakim yang terhormat dan hakim yang mulia, kami tidak pada posisi untuk menekan sistem peradilan sedikit pun. Kami hanya bermunajat kepada Allah SWT di Masjid Istiqlal dan menyampaikan aspirasi kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia, dan setelah itu kami serahkan keputusan kepada yang Mulia Majelis Hakim, dan kami bertawakkal kepada Allah SWT Yang Maha Adil”.

Dengan demikian Aksi Simpatik 55 yang merupakan rangkaian ABI (Aksi Bela Islam) 411, 212 dan 112, adalah aksi terakhir yang diprakasai GNPF-MUI, apapun putusan hakim pada Selasa 9 Mei besok. Sebuah rangkaian aksi yang diikuti jutaan peserta yang disatukan oleh iman, dan dapat berjalan dengan tertib, santun, aman dan damai. Allahu Akbar …

Ya manusia memang hanya bisa berusaha, Allah lah penentu segalanya. Sebagian umat Islam telah melakukan usaha maksimal, yaitu melalui Aksi Bela Islam yang berkali-kali itu. Sebagai warga negara yang baik mereka berusaha untuk tidak main hakim sendiri, untuk mentaati hokum negara. Meski mereka bisa melihat kenyataan betapa hokum berjalan lamban, dan terkesan ogah-ogahan. Padahal mereka tahu bahwa menurut hukum Islam, orang yang mengolok-olok ayat-ayat-Nya bisa dijatuhi hukuman berat, yaitu hukuman mati.

https://plus.google.com/113691748411200475815/posts/fiEAFJiJi94

Pada saat yang sama, panitia  KPU DKI secara resmi menetapkan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih priode 2017-2022. Tak salah bila kemudian UBN menyebut bahwa tanggal 5 bulan 5 adalah hari yang istimewa, sesuai ayat 5 surat 5 yaitu Al-Maidah sebagai berikut :

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)”.

Penetapan pemenang pilkada yang diselenggarakan di kantor KPU, juga cukup membuat merinding. Karena begitu Anies Bawesdan mengucap bahwa kemenangan tersebut tak lepas dari ridho Allah swt, adzan Asarpun berkumandang. Dan calon gubernur tersebutpun menghentikan sambutannya untuk mendengar azan hingga selesai dikumandangkan. Masya Allah …

Betul memang, kemenangan pasangan Anies dan Sandi tak lepas dari kuasa Sang Khalik. Di tengah suasana panas pilkada, terpanas dan terheboh dalam sejarah pilkada Indonesia, pasangan Muslim tersebut bisa meraih kemenangan. Padahal pihak pasangan Ahok, sang terdakwa, dan Jarot, yang didukung partai-partai besar, para cukong bahkan pemerintahan Jokowi, telah habis-habisan menguras tenaga dan dana demi kemenangan pasangan yang mereka dukung.

Bahkan Ahok, tampaknya tak menyadari, bahwa perbuatan buruknya membawa-bawa ayat 51 surat Al-Maidah, justru menjadi bumerang bagi dirinya. Sebagian umat Islam yang tadinya tidak tahu, atau kurang begitu peduli terhadap adanya larangan memilih pemimpin dari kalangan non Muslim, dengan perbuatan Ahok malah jadi tahu, dan tidak memilihnya. Meski bisa saja ada banyak faktor penyebab selain itu.

“ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. ( Terjemah QS. Ali Imran(3):54).

Yang juga harus disadari umat Islam, adalah adanya tuduhan bahwa tuntutan umat Islam terhadap Ahok adalah politisasi, agar Ahok tidak bisa dipilih menjadi gubernur. Agak aneh. Ayat larangan memilih pemimpin dari kalangan non Muslim/kafir, ada banyak, tidak hanya ayat 51 Al-Maidah. Jika itu yang dimaksud politisasi, Islam memang bukan agama yang hanya mengurusi persoalan akhirat, tapi juga semua segi kehidupan termasuk masalah sosial dan politik. Ayat-ayat tersebut sudah ada jauh sebelum negri ini diproklamirkan.

Justru Ahoklah yang tiba-tiba memunculkan dan membahas ayat tersebut, karena merasa kepentingan politiknya terhalangi ayat tersebut. Jadi jelas ialah yang mempolitisasi ayat Al-Quran, ironisnya lagi, ayat kitab suci yang tidak di-imani-nya, ayat suci umat lain, yang tidak sepantasnya ia utak-atik. Itu sebabnya meski Ahok telah kalah, umat Islam tetap menuntut agar Ahok tetap dipenjara mempertanggung-jawabkan prilakunya yang merusak persatuan NKRI dan ke-Bhineka-an yang selama ini terjaga dengan baik, agar tidak ada lagi orang yang berani mengolok-olok ajaran dan kitab suci agama umat lain.

Hal ini makin memperjelas betapa Maha Kuasanya Allah swt. Larangan tersebut sungguh tepat dan pada tempatnya. Bagaimana mungkin seseorang mempunyai pemimpin yang berbeda cara pandang dengan orang yang dipimpin?? Hal yang demikian pasti akan melahirkan banyak permasalahan.

Sungguh alangkah beruntungnya kita, Allah swt telah memberikan kemenangan bagi pasangan Anies-Sandi yang sama-sama Muslim.  Semoga keduanya dapat menjaga amanah dengan baik, mengembalikan persatuan antar sesama umat beragama, menjadikan ibu kota tercinta aman, tentram dan nyaman bagi seluruh warganya, baik rakyat kecil atau pejabat, miskin ataupun kaya, apapun agamanya, aamiin ya robbal ‘aalamiin …

Sementara Ahok, dipenjara ataupun tidak, semoga Allah swt memberinya hidayah, dan segera ber-taubat, aamiin … Mari kita memasuki bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari dengan hati yang bersih dan damai …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Mei 2017.

Vien AM.

Catatan:

Majelis hakim Pengadilan Jakarta Utara, Selasa 9 Mei 2017 memutuskan vonis 2 tahun penjara bagi Ahok … Allahu Akbar … Trima-kasih ya Allah yang telah mengabulkan doa dan harapan kaum Muslimin. Semoga hal ini dapat menambah rasa syukur kaum Muslimin betapa besarnya cinta-Nya kepada kita … Masya Allah …

http://spiritriau.com/view/Nasional/93375/Hakim-Vonis-Ahok-2-Tahun-Penjara.html#.WRKKDuWGOUk

Arisa mualaf JepangNamaku Arisa. Sejak awal aku ingin belajar bahasa asing yang tidak banyak dikenal oleh orang Jepang. Pada April 2011, aku pun memilih universitas terbaik di Jepang untuk belajar bahasa asing dan budayanya. Sayangnya, aku saat itu masih bingung bahasa dan budaya asing mana yang ingin kupelajari. Syukurlah, ibuku memberiku masukan untuk mempelajari bahasa Malaysia.

Awalnya, usul tersebut sangat mengejutkanku. Aku tidak menyangka ibuku memunyai ketertarikan terhadap bahasa Malaysia. Tak menunggu lama, aku langsung jatuh cinta terhadap bahasa Melayu yang satu ini. Karena belum bisa pergi ke luar negeri, kumaksimalkan saja belajarku di negeri sendiri agar menjadi yang nomor satu di studi bahasa Malaysia.

April 2012, tepat setahun setelah belajar bahasa Malaysia, aku masih saja menemukan kata-kata yang sulit kupahami di dalamnya. Sepertinya kata-kata itu ada hubungannya dengan Islam. Jadilah aku mengambil studi Islam untuk membuatku semakin paham bahasa Malaysia.

Februari 2014 adalah momen ketika aku pertama kali masuk masjid dan memakai hijab. Saat itu teman-teman dari Malaysia mengundangku untuk hadir di masjid Tokyo Camii. Dan itulah pertama kalinya aku menyaksikan teman-temanku melakukan gerakan yang bernama salat. Apa yang kulihat itu sempat membuatku shock. Meskipun aku belajar Islam selama 2 tahun, tapi ternyata aku merasa belum tahu apa-apa tentang Islam. Misalnya saja, keherananku tentang salat dan waktunya yang 5 kali sehari. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa mereka melakukannya.

…aku suka memakai pakaian yang seksi ketika bepergian. Tapi entah kenapa, tiba-tiba aku merasa ingin berpakaian lebih tertutup sejak saat itu. Ada keinginan supaya lebih dihormati dan dikenal aku apa adanya, bukan karena penampilan saja…

Baiklah, itu semua untuk Allah. Inilah jawaban yang sering aku terima. Tetapi tetap, mengapa mereka ingin melakukan itu semua?

Ini juga merupakan momen aku memakai hijab pertama kali. Mengapa? Karena teman-teman Malaysia memberiku hijab sehingga aku pun memakainya. Saat itu aku merasa bahagia dan lega. Memang sih, aku suka memakai pakaian yang seksi ketika bepergian. Tapi entah kenapa, tiba-tiba aku merasa ingin berpakaian lebih tertutup sejak saat itu. Ada keinginan supaya lebih dihormati dan dikenal aku apa adanya, bukan karena penampilan saja.

Agustus 2014 aku memutuskan untuk belajar Islam di Malaysia selama satu bulan. Aku pun menginap di rumah salah satu teman dari Malaysia. Banyak hal yang bisa kupelajari dari perjalananku kali ini. Aku pun mencoba ‘tantangan 1 bulan’ yaitu berhijab dan menutup auratku dengan sempurna setiap hari selama 1 bulan. Kadang aku merasa kegerahan dan merasa tak kuat dengan panasnya. Tapi anehnya, di dalam hatiku rasanya begitu bahagia yang membuncah.

Aku juga mulai salat setiap hari dan mencoba menghapal doa Iftitah, tahiyat awal dan akhir. Kalau untuk surat Al Fatihah aku sudah hapal karena sebelum datang ke Malaysia, aku sudah menghapalnya dibantu oleh Hpku setiap malam. Alhamdulillah banyak orang yang mendoakanku. Tapi saat itu aku belum siap untuk mengucapkan syahadat sebagai sayarat sahnya seseorang masuk Islam. Aku masih memunyai begitu banyak masalah: keluarga, teman, pacar, dan pekerjaan. Yang penting aku percaya pada Allah dan mengucap syahadat dalam hati saja. Aku juga berdoa agar semua masalahku dimudahkanNya.

Tepat tanggal 17 Januari 2015, aku pun bersyahadat. Alhamdulillah. Semua berawal dari setelah membaca Al Quran dalam terjemahan bahasa Jepang, aku tak bisa berhenti menangis. Saat itulah kurasa hidayah menyapaku. Aku belum tahu bagaimana cara mengucapkan syahadat secara resmi supaya aku benar-benar menjadi seorang muslim. Aku pun langsung berangkat ke masjid tanpa tahu apakah aku bisa bersyahadat hari itu atau tidak.

Semua orang di masjid menyambutku dengan suka cita. Ada lebih dari 10 muslimah yang hadir di masjid untuk menyaksikan keislamanku. Prof. Misbah ur-Rahman Yousfi yang menuntunku bersyahadat. Setelah bersyahadat, aku memilih Nur Arisa Maryam sebagai nama hijrahku. Airmata tak henti mengalir tanda bahagia. Dan di malam itu pula, aku bisa mendirikan salat Isya dengan kondisi diriku sudah muslim untuk pertama kalinya.

Bila ada orang bertanya tentang aku yang sekarang, ya…hidupku banyak perubahan sejak aku masuk Islam. Sebelumya aku mudah marah dan merasa tidak nyaman bila sendirian tanpa ada yang menemani. Tapi sejak menjadi muslimah, aku lebih tenang karena selalu ada Allah yang menemani. Aku memang masih jauh dari sempurna, karena itu aku masih terus belajar tentang Islam. Tapi hingga di titik ini, tak ada yang bisa kuucapkan selain Alhamdulillah dan Allahu Akbar. (riafariana/thenewmuslim/voa-islam.com)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Mei 2017.

Vien AM.

Dicopas dari :

http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2016/01/02/41453/kisah-mualaf-arisa-dari-jepang-berawal-shock-melihat-muslim-salat-5-waktu/#sthash.oaKnQaWX.dpbs

Umat Islam hari ini semakin berduka dengan  terpilihnya Donald Trump sebagai orang no 1 Amerika Serikat menggantikan Barack Obama yang telah menyelesaikan 2 periode kepresidenan. Pemilik Trump Tower darimana milyuner gaek ini menjalankan bisnis raksasanya, resmi menjadi presiden AS ke pada 8 November 2016. Keprihatinan tersebut bukannya tanpa alasan.

Saat kampanye ia melontarkan beragam pernyataan yang mengkhawatirkan umat muslim. Diantaranya adalah gagasan untuk memantau masjid-masjid di seantero AS dan agar umat Islam diawasi aparat sebagai langkah melawan terorisme.

Trump menampilkan sikap konfrontatif bukan hanya pada Islam dan kaum Muslim, tetapi juga pada China, Meksiko, dan juga banyak sekutu Eropa-nya. Sikap rasis itu tampaknya sudah menjadi karakternya, karena pada tahun 1971 ketika usianya masih 25 tahun, ia pernah di[panggil Departemen Kehakiman dengan tuduhan diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam yang ingin menyewa apartemen miliknya. Terpilihnya Trump yang beberapa kali dilaporkan melakukan pelecehan seksual ini, ternyata kurang disukai rakyatnya sendiri. “Penyuka” perempuan sekaligus pemilik organisasi miss universe penyelenggara miss universe dan miss US ini hanya menang tipis terhadap saingannya yang juga kebetulan mahluk hawa yaitu Hillary Clinton.

Yang pasti, terpilihnya Trump menjadi Presiden Amerika, menambah deretan panjang pemimpin dan pemuka negara pembenci Islam. Diantaranya yaitu pemimpin kelompok radikal bhiksu Myanmar, pemimpin politik sayap kanan Eropa Le Pen (Prancis) dan Wilder Geert (Belanda). Para pemimpin tersebut segera merapat dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memojokkan Islam.

Kekhawatiran umat Islam ternyata terbukti tak lama setelah Trump dilantik, yaitu dengan adanya  pelarangan masuk AS warga tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim, yaitu, Iran, Syria, Iraq, Libya, Somalia, Sudan dan Yaman. Alasannya, banyak warga keenam negara ini terlibat dalam radikalisme dan terorisme. Trump juga menghentikan penerimaan pengungsi Suriah. Meski demikian, dia mengecualikan pengungsi Suriah yang berasal dari komunitas minoritas, yaitu penganut Nasrani. Sekali lagi, Trump menunjukkan sikapnya yang menjadikan kaum Muslim sebagai target.

idlib1

idlib2

Idlib -Suriah

Namun serangan rudal Amerika Serikat ke beberapa target penting di Suriah beberapa hari lalu telah membuat kita terhenyak. Apa lagi bila benar alasannya adalah kemarahan gedung putih terhadap kebiadaban pemerintah Syiah pimpinan Basyar Assad yang menggunakan senjata kimia untuk menyerang sipil, rakyatnya sendiri. Menurut laporan serangan dengan senjata kimia tersebut telah menelan 87 warga, sebagian besar anak-anak dan perempuan.

Perang di Suriah yang berkecamuk sejak tahun 2011 memang menjadi semakin rumit. Protes damai yang dilakukan rakyat atas kebijakan Assad yang tidak pro rakyat malah ditanggapi dengan kekerasan. Hingga hari ini konflik telah menewaskan lebih dari 400 ribu warga dan menyebabkan separuh penduduk negri mengungsi mencari tempat yang lebih aman. Inilah salah satu penyebab Islamphobia akut negara-negara Eropa termasuk Trump yang melarang kedatangan pengungsi Suriah ke negaranya.

Ironisnya Rusia tanpa malu-malu malah ikut membantu dan mendukung pemerintahan Assad yang keji. Juga negara tetangga, Iran yang memang sama-sama Syiah. Rusia untuk ke 8 kalinya bahkan menjatuhkan veto untuk membela presiden Suriah tersebut. Veto terakhir untuk mementahkan rancangan resolusi mengecam serangan senjata kimia yang dilancarkan rezim Assad di Khan Syaykun, Idlib, Suriah yang merupakan basis penentang Assad.

Namun yang paling menyedihkan sekaligus memalukan adalah sikap Indonesia. Sebagai negara mayoritas berpenduduk Muslim, Sunni pula, harusnya kitalah yang berkewajiban membantu penderitaan saudara-saudari kita yang  terdzalimi di negaranya sendiri.

“Perumpamaan orang Islam yang saling mengasihi dan mencintai satu sama lain adalah ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dan tidak bisa tidur ”. ( HR. Bukhari).

Sungguh ironis, presiden kita Jokowi bahkan tanpa ragu menolak bergabung dengan koalisi 34 negara-negara Islam yang bertujuan membantu dan melindungi Islam dari kelompok yang meneror pihak yang tidak bersalah. Padahal Indonesia sudah berjanji akan memerangi terorisme termasuk ISIS, organisasi biadab yang mengaku Islam namun sama sekali tidak mencerminkan ke-Islaman-nya. Arab Saudi, Yordania, Mesir, Qatar, Uni Emirat Arab, Turki, Malaysia, Pakistan dan beberapa negara teluk serta negara Afrika termasuk dalam koalisi ini.

Indonesia, khususnya kaum Musliminnya, hari ini tampaknya memang sedang mengalami kemunduran dasyat. Berbagai penyakit kronis menghinggapi tidak saja rakyatnya yang miskin tapi terlebih lagi pemimpin dan pemuka-pemukanya.

Pantas bila DR Zakir Naik, cendekiawan Muslim asal India, yang beberapa hari lalu ber-safari dakwah di 6  kota besar di Indonesia,  merasa benar-benar prihatin. Betapa tidak, sejumlah anak muda datang pada acara beliau, berbicara di depan umum menggunakan mike, dan dengan bangga mengaku lahir dari keluarga Muslim namun kemudian murtad. Sementara tidak sedikit non Muslim yang justru bersyahadat di bawah tuntunan beliau.

Mana tanggung-jawab para orang-tua dan komunitas yang katanya mayoritas Muslim?”, tanya DR Zakir dengan nada prihatin.

Kami di India, adalah minoritas. Tapi kami sungguh malu bila ada yang murtad”, sambung beliau.

Ulama kenamaan yang datang seminggu menjelang pilkada ( pemilihan kepala daerah ) atas kehendak sendiri ini, sungguh  menjadi hiburan bagi bangsa yang sedang dirundung duka mendalam. Pasalnya, calon kuat  pemimpin yang banyak didukung anak muda itu adalah non Muslim yang berstatus tersangka akibat pelecehan ayat Al-Quran yaitu Al-Maidah ayat 51 tentang kepemimpinan. Bahkan dengan santainya masih berani berseloroh akan meluncurkan wifi bernama Almadah dengan password kafir. Kaum Muslimin amat berharap kedatangan beliau sanggup mengembalikan sebagian Muslim yang ngotot membela dan memilih paslon bermasalah  tersebut.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman“. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):57).

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam”, ( Terjemah QS. An-Nisa (4):140).

Padahal “kesalahan” calon tersebut bukan hanya karena non Muslim tapi juga lisannya yang telah berhasil membuat kaum Muslimin terpecah, terkotak-kotak bahkan saling serang untuk menjatuhkan. Ironisnya lagi, calon tersebut tidak sebersih yang digembar-gemborkan media main stream selama ini. Berbagai kasus sebenarnya telah menjeratnya, seperti kasus reklamasi yang jelas-jelas telah diputuskan bermasalah oleh pengadilan, kasus RS Sumber Waras, pengadaan bus Transjakarta dll. Tapi tak satupun kasus tersebut ditindak-lanjuti. Bahkan pemerintahpun tampak jelas ingin menutupi dan membelanya.

Pengadilan Ahok yang tak kunjung usai bahkan ditunda dengan alasan yang mengada-ada,  peresmian masjid raya Daan Mogot oleh Jokowi menjelang pilkada yang terkesan dipaksakan adalah salah satu contohnya.

Tidak berhenti disitu, fitnah dan kekerasan juga digunakan, ntah oleh siapa. Beberapa hari lalu penyidik KPK, Novel Bawesdan, disiram cairan kimia ( diduga air keras) oleh 2 orang tak dikenal, hingga menyebabkan mata kirinya nyaris buta. Peristiwa keji tersebut terjadi ketika Novel sedang pulang dari shalat Subuh berjamaah di masjid tak jauh dari rumahnya. Namun dengan santainya kapolda Metrojaya M.Iriawan berkomentar kejadian itu berhubungan dengan bisnis online jualan jilbab istri Novel !

Padahal ini adalah serangan ke enam selama Novel menjabat di KPK. Novel dikenal sebagai penyidik yang menangani berbagai kasus besar seperti e-KTP yang kabarnya melibatkan nama banyak pejabat, juga kasus lama RS Sumber Waras yang melibatkan gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama yang tak kunjung tuntas.

http://news.detik.com/berita/d-3359666/ketua-kpk-saya-dapat-info-baru-kasus-sumber-waras-bpk-ajak-ketemu

Belum lagi ulama-ulama kondang GNPF-MUI seperti Habib Riziek Syihab dan Bahtiar Nasir yang dikenal sebagai penggerak Aksi Bela Islam 411 dan 212, aksi super damai memprotes pernyataan Ahok yang melecehkan ayat suci umat Islam Oktober 2016.

Bukan hanya sekali dua kali Habib Riziek tertimpa fitnah kejam. Terakhir adalah Minggu malam 15 April lalu, sebuah mobil terbakar tidak jauh dari tempat berkumpulnya ribuan jamaah yang sedang mendengarkan ceramah Habib hingga menimbulkan kebakaran besar. Sementara dua mobil lain dengan beberapa jeriken berisi bensin di dalamnya, terlihat terparkir tidak jauh dari mobil Riziek diparkir. Anehnya lagi polisi yang dihubungi begitu kejadian baru datang 3 jam kemudian. Tapi dengan santainya kapolres Jaktim meminta untuk tidak membesar-besarkan kejadian tersebut.

https://news.detik.com/berita/d-3475790/fpi-jelaskan-kronologi-mobil-terbakar-di-cawang 

Lain lagi dengan ustad Bahtiar Nasir yang dituding sebagai penghubung ISIS hanya karena menerima titipan dana umat demi terselenggaranya ABI yang begitu besar. Dan ironisnya kapolri Tito Karnavian terpaksa membatalkan tuntutan ngawur tersebut setelah LSM di Turki yang biasa menyalurkan dana titipan Bahtiar, mengancam melaporkan Tito ke mahmakam internasional karena tuduhan palsu tersebut.

https://www.intelijen.co.id/ada-apa-dengan-kapolri-tito-karnavian/

Prilaku buruk Ahok juga mengajarkan keberanian seorang etnis Tionghoa melecehkan dan menghina orang lain. Pemuda tersebut dengan arogan memaki seorang “pribumi” dengan kata-kata “tiko” yang berarti tikus kotor bahkan bisa juga berarti anjing atau babi. Kejadian tersebut terjadi di bandara Singapura, dan ironisnya yang ia maki adalah Zainul Mujadi, gubernur NTB yang dikenal alim dan santun !

Terakhir, hari ini, 2 hari sebelum pilkada, panitia berseragam kotak-kotak merah khas terlihat membagikan amplop berisi uang dan sembako gratis menyerbu perkampungan-perkampungan DKI. Dengan uang rupanya mereka ingin membeli suara rakyat. Ironisnya kegiatan tersebut dilakukan secara terang-terang dan massif, yakin tindakan kotor mereka tidak akan dicegah pihak berwajib. ???

Apapun, itulah cerminan rakyat Indonesia, Muslim warga ibu kota Jakarta khususnya. Dengan modal keimanan yang hanya sebatas perut, maksimal akal yang merasa pintar, tidak sampai ke hati sanubari, bagaimana mungkin mampu memikirkan hal-hal besar seperti memikirkan apalagi membantu penderitaan saudara-saudarinya di Suriah, Palestina, Myanmar dll.  yang terdzalimi di negrinya sendiri??

Bahkan ketika dibohongi bahwa membawa ayat-ayat agama ke ranah politik bisa mengakibatkan krisis seperti di Suriahpun mudah saja percaya. Itulah fitnah yang dilemparkan seorang guru besar politik UI, Arbi Sanit. Islam adalah ajaran yang sempurna. Allah swt melalui Al-Quran dan nabi-Nya telah mengajarkan dan memberikan semua solusi permasalahan, baik masalah pribadi maupun sosial dan kenegaraan.

Maka ketika negara-negara besar di dunia telah menentukan sikap dan arah dengan jelas, dimanakah posisi kita?? Sebagai pelaku, saksi atau malah hanya korban??

“Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya”. “ Salah seorang sahabat berkata; “Apakah karena sedikitnya kami ketika itu?”. Nabi menjawab: “Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa’ (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Pasti Allah akan cabut rasa segan yang ada didalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn. “Kata para sahabat: “Wahai Rasulullah, apa Wahn itu?”.Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati. “. (HR Abu Daud ).

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 17 April 2017.

Vien AM.

AGAMA.