Feeds:
Posts
Comments

Berdasarkan situs arkeologis Santorini, kehadiran manusia di pulau ini dimulai pada masa Neolitik, fase-fase akhir zaman batu menuju zaman perunggu. Di tahun 3600 SM peradaban penting di pulau ini telah lahir. Peradaban yang sama dengan peradaban yang ada di pulau Kreta, 110 km selatan pulau ini.

Peradaban tersebut adalah peradaban Minoa. Penemuan di sekitar kota Akrotiri dan pantai Merah di pulau Santorini adalah buktinya. Pada masa itu peradaban ini telah bersentuhan dengan kerajaan lama Mesir, Mesopotamia, Syria, Kanaan dan Siprus Peradaban ini baru ditemukan lagi pada awal abad 20-an oleh Sir Arthur Evans, seorang arkeolog Inggris. Ia menyimpulkan bahwa peradaban kuno yang telah lama hilang ini merupakan cikal bakal peradaban barat yang ada sekarang ini.

Masyarakat Minoa dilaporkan telah memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi di bidang kelautan. Mereka membangun koloni-koloni ke pulau-pulau lain dilautan Aegea bahkan hingga ke Yunani daratan. Dalam bidang arsitektur mereka juga sudah maju. Mereka telah berhasil membangun kota-kota beraspal batu dan memiliki selokan serta saluran air yang baik.

Mereka menghias dinding-dinding mereka dengan lukisan-lukisan. Tembikar adalah bentuk seni yang dominan pada bangsa Minoa. Istana-istananya yang indah menambah bukti bahwa Santorini pernah mengalami masa keemasan. Ini tampaknya yang menjadi alasan mengapa banyak sainstis beranggapan bahwa Santorini adalah kota Atlantis yang hilang itu.

Lomba Lompat Banteng

Lomba Lompat Banteng

Lomba lompat banteng yang dilakukan baik oleh kaum lelaki maupun perempuan dalam berbagai festival keagamaan yang diadakan menunjukkan bukti bahwa kedudukan lelaki dan perempuan kala itu adalah sama. Mungkin ini pula yang menjadi salah satu alasan mengapa Evans menganggap peradaban Minoa adalah awal mata rantai peradaban Barat sekarang ini. Disamping budaya Demokrasi yang tampaknya sudah ada pada masa itu.

“ Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.Al-Baqarah(2):228).

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.  … … “. (QS.An-Nisa(4):34).

Sementara Islam mengajarkan bahwa kedudukan lelaki dan perempuan tidak sama persis. Namun perbedaan satu tingkat tersebut tidak menjadikan arti bahwa perempuan adalah mahluk yang rendah apalagi hina. Perbedaan tersebut proposional karena adanya perbedaan fisik, fungsi dan tugas serta tanggung jawab masing-masing. Ada tali keterikatan, ketergantungan dan kebutuhan antara keduanya.

Image Dewi

Image Dewi

Bangsa Minoa menyimpan kelebihan hasil panen mereka di dalam istana-istananya. Istana-istana ini juga berfungsi sebagai altar para dewi. Ya, masyarakat Minoa memang menyembah dewi-dewi. Dewi Potnia adalah dewi tertinggi mereka. Para dewi dilambangkan dengan simbol ular, banteng, burung, kuncup bunga, dan bentuk-bentuk hewan aneh di atas kepala mereka.

Dan seperti juga peradaban-peradaban kuno lainnya, orang-orang Minoa juga mempunyai tradisi upacara kurban bagi sesembahan mereka. Ironisnya, kurban tersebut adalah manusia!

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do`a) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do`a mereka?”(QS.Al-Ahqaf(46):5).

Mungkin ini yang menjadi penyebab lenyapnya peradaban Minoa. Tentu kita tahu, berapa banyaknya ayat-ayat Al-Quran yang menceritakan agar suatu kaum tidak mengambil sesembahan lain selain Allah azza wa jalla. Untuk itu dikirim-Nya utusan-utusan untuk mengingatkan hal tersebut. Penyembahan dan pengagungan hanyalah milik-Nya semata. Dewa-dewi atau sesembahan apapun bentuknya tidak akan dapat memberikan manfaat apapun. Tidak pula mudarat.

Dan lagi mana mungkin Tuhan memerintahkan pengurbanan manusia. Perintah yang pernah diberikan Sang Khalik ribuan tahun lalu kepada nabi Ibrahim as agar menyembelih putra satu-satunya hanyalah ujian dan cobaan. Allah swt hanya ingin mengetahui dan menguji seberapa jauh ketakwaan nabi kesayangan-Nya itu. Ini terbukti dengan segera digantinya putra semata beliau dengan domba besar, begitu beliau mengayunkan pedangnya.

Kisah menarik tersebut diabadikan dalam surat As-Shafaat ayat 102 hingga  111 berikut :

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”

Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

Begitulah cara orang-orang beriman mensyukuri apa yang telah dikaruniakan Tuhannya. Tidak demikian dengan bangsa Minoa. Kemakmuran, kebesaran dan kejayaan yang dilimpahkan kepada mereka malah membuat mereka lalai. Hingga tibalah keputusan-Nya. Peradaban Minoa tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Ia harus mengalami nasib seperti peradaban kaum yang telah dimusnahkan-Nya, yaitu hilang lenyap tanpa bekas.

“ Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain. Tidak (dapat) sesuatu umatpun mendahului ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka terlambat (dari ajalnya itu). Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia), maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS.Al-Hajj(22);42-44).

Peradaban Minoa lenyap kemudian muncullah peradaban Mikenai. Perpindahan peradaban ini ditandai dengan lahirnya peralatan dari besi menggantikan peralatan dari perunggu yang biasa digunakan bangsa Minoa. Peradaban Mikenai inilah yang mencoba menceritakan kembali bahwa di dunia ini pernah ada peradaban yang dinamai peradaban Minoa. Namun hingga detik ini sistim penulisan bahasa bekas penduduk Santorini di masa lalu itu belum juga berhasil di temukan.

(Bersambung)

Siapa yang tak kenal Yunani, negri para dewa-dewi yang sering disebut sebagai tempat lahirnya peradaban dan budaya  barat. Peradaban ini masuk ke barat melalui peradaban Romawi yang menaklukannya ribuan tahun lalu. Di negri inilah olimpiade untuk pertama kalinya diselenggarakan. Kabarnya, olimpiade  kuno yang menjadi inspirasi olimpiade modern, diadakan untuk menghormati dewa tertinggi Yunani, yaitu dewa Zeus. Karena dewa ini bermukim di gunung bernama Olimpia maka pertandingan inipun dinamakan Olimpiade.

Sementara Athena, ibu kota Yunani, adalah nama dewi penolong yang tercatat dalam mitologi Yunani. Kuil Parthenon yang terletak di atas bukit kota Athena adalah kuil persembahan bagi dewi perawan ini. Kuil ini dibangun pada tahun 5 SM.

Kata Yunani sendiri, Greece dalam bahasa Inggrisnya, menurut kamus Indonesia berasal dari bahasa Arab, yang diambil dari nama Ionia. Ionia adalah pesisir barat negara yang sekarang disebut Turki. Mungkin disinilah letak ikatan antara Yunani dengan Islam, Turki Ottoman yang pernah menguasai negri ini selama hampir 400 tahun.

Sejujurnya, saya sebenarnya tidak begitu tertarik untuk mengunjungi negri ini bila saja tidak ada keterikatan dengan Islam. Apalagi mengetahui bahwa negri di ujung tenggara Eropa dan timur laut Tengah ini sejak akhir tahun 2000-an mengalami krisis ekonomi yang cukup parah. Ditambah lagi cerita beberapa teman yang mengatakan Athena hanya tinggal puing dan kenangan.

Beruntung ada Santorini. Jangan salah duga dulu. Santorini bukan nama seseorang. Ini adalah nama pulau yang diambil dari gereja yang ada di pulau tersebut, yaitu gereja Santa Irene. Al-Idris, ahli geografi Islam kenamaan yang memberi nama pulau tersebut menjadi Santorini.

Santorini adalah salah satu pulau milik Yunani yang terletak di kepulauan Cyclades di laut Tengah/Mediterania. Pulau yang terletak 200 km sebelah tenggara daratan Yunani ini merupakan pulau paling selatan Yunani sebelum pulau Kreta. Pulau ini terkenal karena keindahannya yang sungguh menakjubkan hingga menarik jutaan wisatawan dunia datang ke tempat ini.

Maka, di bulan Juni 2012  itu jadilah saya, suami dan putri kami terbang menuju Santorini dengan transit di Athena selama 4 jam. Padahal Paris – Athena sendiri hampir 4 jam dan Athena – Santorini hanya sekitar 45 menit. Karena pesawat take off pukul 10 malam dan tiba di bandara Athena  menjelang pukul 2 pagi maka kamipun memanfaatkan waktu 4 jam menunggu di bandara dengan berusaha tidur di bangku-bangku panjang yang banyak tersedia di tempat tersebut.

Setelah shalat subuh di bandara, pukul 6.20 kamipun terbang meninggalkan bandara Athena menuju Santorini. Dalam penerbangan pendek di atas laut Tengah, laut Aegea tepatnya, di sela kantuknya mata ini, saya sempat terhenyak melihat keindahan kontur pulau dari dalam pesawat yang melintas sangat dekat tepat di atasnya, Subhanallah …

Di tengah lautan biru nan luas tersebut muncul sebuah dataran tinggi dengan tebing-tebingnya yang terlihat sangat terjal. Yang saking terjalnya memberikan kesan bahwa dataran tersebut seperti tiba-tiba terpotong/terbelah, secara melingkar. Ribuan bangunan berwarna putih yang terlihat berhimpitan di pinggiran pulau tersebut membuat pulau ini makin tampak indah dan unik.

Dilihat dari bentuknya saja, pulau ini memang unik, mirip kuda laut dengan kakinya yang amat melengkung cenderung melingkar. Dan ternyata, pulau ini dulunya memang bernama Strongili, kata Yunani yang artinya bundar.

Namun pada tahun 1500 SM, terjadilah gempa bumi dasyat diikuti meletusnya gunung berapi Thera yang terletak di tengah pulau tersebut. Selanjutnya tsunami raksasa dengan gelombang setinggi 210 meterpun mengandaskan bagian tengah pulau tersebut. Hingga akhirnya bentuk Santorinipun terlihat seperti yang ada hari ini, Santorini yang terbagi menjadi 3 bagian. Bagian terbesar, Santorini itu sendiri atau  sering juga disebut Thira, Therasia dan Nea Kameni di bagian tengah. Letusan gunung tersebut digambarkan sebagai salah satu letusan gunung terbesar dalam sejarah peradaban manusia.

Yang lebih mengerikan lagi, paska letusan maha dasyat tersebut hingga detik ini tak ditemukan sedikitpun tanda-tanda kemana sebenarnya penghuni pulau ini lenyap. Yang jelas, tanah seluas 83 km2 di sekitar kawah amblas ke dalam kawah berkedalaman 800 m dan selanjutnya tertelan gelombang air laut yang mengelilinginya. Sementara luas pulau yang tersisa saat ini adalah 73 km2. Artinya letusan tersebut telah berhasil menguburkan lebih dari setengah pulau tersebut !

Sungguh mengerikan, tampaknya laut Aegea berwarna biru tua, nan cantik jelita dan terlihat begitu tenang dan jernih yang ada di depan mata kami ini, tampaknya adalah kuburan misterius itu. Bahkan F.Fouque, seorang geologis Perancis berani mengatakan bahwa Santorini adalah “Pompei dari laut Aegea”. Dari sini pula lahir pendapat bahwa Santorini adalah “The lost Atlantis” yang fenomenal itu.

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”.(QS. Al-Ankabut(29):40).

Betapa banyak Al-Quran mengisahkan negri-negri yang di azab karena berbuat kerusakan. Kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Fir’aun dan bala tentaranya, kaum nabi Nuh yang ditenggelamkan banjir raksasa adalah contohnya. Juga kaum nabi Luth, kaum yang pertama kali mempraktekkan homoseksual di dunia ini.

Namun kerusakan terbesar yang paling dimurkai-Nya adalah ketika penghuninya tidak mau menyembah Sang Pencipta, itulah Allah Azza wa Jalla, sebagai satu-satunya Pemilik Alam Semesta ini. Padahal betapa banyaknya Rasul-rasul telah diutus untuk mengingatkan hal ini namun penduduknya tetap berpaling.

“ Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?  Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”.(QS.As-Syu’ara(26:)106-110).

Itulah yang dikatakan semua nabi, mulai nabi Adam as hingga nabi penutup, Rasulullah Muhammad saw, yaitu agar bertakwa kepada Allah dan taat kepada mereka, para rasul sebagai utusan Sang Khalik, yang satu, Allah swt.

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Baqarah(2):163).

Menjadi pertanyaan besar, adakah mala petaka yang merenggut Santorini juga merupakan peringatan-Nya ? Wallahu’alam .. Mungkin patut juga menjadi pertanyaan, sudahkah Sang Khalik  mengirimkan utusan kepada penduduk Santorini guna memberi mereka peringatan ? Karena janji-Nya, tidak akan datang azab kepada suatu negri atau kaum, sebelum datang pemberi peringatan. Mungkinkah pemberi peringatan itu telah datang namun mereka mengabaikannya ?

( Bersambung).

Teror A La Barat (2).

In any war between the civilized man and the savage, support the civilized man. Support Israel defeat Jihad” .

Tak kurang dari 10, poster besar berisikan kata-kata di atas  tertempel di stasiun subway ( kereta bawah tanah) di New York. Tulisan ini jelas memihak Israel.  Dan siapapun pasti tahu, yang diserang siapa lagi kalau bukan Islam, dengan Jihadnya. Dan yang menyakitkan lagi, perseteruan tersebut di analogikan dengan Israel sebagai orang  beradab, sementara Islam adalah liar !

Lebih menyesakkan lagi, poster yang beresiko besar memancing emosi umat Islam ini terang-terangan didukung oleh pemerintah Amerika, yang katanya toleran terhadap semua agama, minimal wali kota New Yorknya. Buktinya, begitu melihat seseorang berusaha menghapus tulisan rasis tersebut, polisipun langsung menangkapnya. Alasannya klasik, kebebasan berekspresi.

Semakin  jelas terlihat bahwa Islamophobia alias takut terhadap Islam tetap masih menguasai Barat. Dan Israel kelihatannya yang paling diuntungkan. Barat mendudukannya sebagai civilzed people alias masyarakat beradab. Sementara Islam dengan Jihadnya semakin dipojokkan. Jihad yang awalnya merupakan perbuatan mulia didudukkan sebagai savage alias perbuatan liar.

Padahal rakyat Palestina dibawah pendudukan Israel jelas-jelas tertindas dan diperlakukan semena-mena. Bahkan air dan listrikpun amat dibatasi. Ketidak adilan dan keberpihakan terhadap ras Yahudi sangat kentara. Tetapi Barat seolah buta dan tidak mau peduli akan hal ini. Meski protes dan penolakan rasis diteriakkan.

Ironisnya, tidak sedikit kaum Muslimin yang termakan isu tersebut. Akibatnya mereka menjadi tidak PD alias Percaya Diri. Bagi mereka, kata Jihad menjadi momok yang sungguh memalukan dan menakutkan. Jihad yang di awal Islam terbagi atas jihad dalam arti perang fisik dan mental sekarang ini hanya dimaknai umat Islam lebih sebagai jihad mental. Jihad dalam arti perang secara fisik, diartikan sebagai perbuatan tak beradab dan melambangkan keterbelakangan. Persis seperti yang dicekokkan Barat.

Padahal jihad dalam arti perang menurut kamus Islam bukanlah perang sembarang perang yang tanpa tujuan dan hanya berdasarkan nafsu  kebinatangan. Perang dalam Islam adalah demi menegakkan keadilan dan melawan kemungkaran.

“ Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. … “(QS.An-Nahl(16):90).

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu”.(QS.At-Taubah(9)’:112).

Islam mengajarkan umatnya untuk beramal ibadah. Mendirikan shalat dan  puasa adalah salah satu contoh ibadah yang dimaksudkan-Nya. Sementara berbuat baik seperti menghormati kedua orang–tua, menjaga silaturahim, berinfak, berbuat adil dan saling memaafkan adalah beberapa contoh amal kebaikan yang wajib dilakukan umat Islam. Itulah perbuatan ma’ruf. Sedangkan mengingatkan dan mencegah orang agar tidak berbuat jahat adalah bagian dari mencegah kemungkaran. Itulah ciri orang Mukmin.

“ Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.Al-Ashr(103):2-3).

Ayat diatas memberitahukan ciri orang yang merugi. Yaitu orang yang tidak beriman, tidak mengerjakan amal saleh dan tidak saling menasehati agar mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran. Artinya kebenaran harus ditegakkan dengan kesabaran yang benar.  Jadi kesabaran itu ada juga yang tidak benar.

Islam adalah agama yang sempurna. Ia memiliki hukum-hukum yang harus ditegakkan. Dan hanya dengan ditegakkan hukum inilah tujuan ber-Islam dapat dipenuhi. Yaitu rahmatan lil alamin atau keamanan dan ketenangan bagi alam semesta. Persis dengan negara yang menegakkan hukum dengan baik, bukan sekedar memiliki berbagai hukum dan perangkatnya, namun hukum tersebut tidak dijalankan secara baik dan sempurna.

Kedisiplinan, contohnya dalam berpuasa Ramadhan dan mendirikan shalat pada waktunya; kebersihan, contohnya dalam berwudhu; menutup aurat, yaitu jilbab bagi perempuan; adalah contoh kecilnya.

Kesabaran memang ciri khas Muslim. Orang-orang yang tidak menyukai dan membenci umat Islam sangat memahami hal ini. Itu sebabnya, musuh-musuh Islam sering berusaha memanfaatkan hal tersebut. Pelecehan dan penghinaan terhadap Rasulullah adalah buktinya.

“ Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (QS.Al-Araf(7):156).

“  (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung” . (QS.Al-Araf(7):157).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari”.(QS.Al-Hujurat(49):2).

Ayat-ayat diatas jelas menerangkan bagaimana harusnya kita, umat Islam bersikap terhadap Rasulullah saw. Bahkan meninggikan suarapun atau berbicara dengan nada marah, tidak diizinkan-Nya. Apalagi ketika beliau saw dilecehkan, ketika hukum dan ayat-ayat Al-Quran dipersulit pelaksanaannya. Menolong, membela dan membersihkan nama Rasulullah dari fitnah keji, wajib hukumnya !

Periode Mekah, ketika kedudukan Islam masih lemah, adalah contoh yang sangat tepat dalam menjaga kesabaran. Contoh kesabaran Rasulullah yang dianiaya Musrikin Quraisy bahkan dianggap gila ketika itu memang patut ditiru bila kita tidak memilki kuasa untuk melawan.

Namun pada periode Madinah, karena umat telah cukup kuat, maka hukum harus ditegakkan. Negosiasi dan metode pendekatan yang lunak adalah tahap awal. Pemboikotan situs-situs yang sering digunakan sebagai alat propaganda mereka adalah cara yang paling jitu. Tetapi jika tahapan jalan damai tidak berjalan mulus, perang adalah jalan terakhir yang harus diambil. Inilah jihad terberat dan terbesar umat. Karena taruhannya memang jiwa dan kemewahan hidup, yang menjadi tujuan utama rata-rata manusia.

Artinya, menjauhkan jihad dari kamus umat Islam memang senjata jitu musuh-musuh Islam yang sangat ampuh. Dengan santainya, mereka sekarang ini dapat bebas mengolok-olok Islam dan seluruh perangkatnya, tanpa khawatir dibalas. Demokrasi dan kebebasan berpendapat serta berekspresi adalah perantaranya. Perumpamaannya, seperti mengganggu macan yang terbelenggu, atau macan tidur, atau macan malas dan penakut, atau macan lumpuh. Sementara terorisme adalah alasan yang paling mudah dilemparkan musuh. Islam radikal, itulah julukan yang disematkan mereka yang berusaha melawan kejahatan terselubung musuh.

Saat ini, Perancis, negara sekuler yang  melarang azan berkumandang dan murid sekolah mengenakan jilbab, dihebohkan  oleh sekelompok orang yang membuat kerusakan di lingkungan Yahudi. Seperti biasa, pemerintah langsung menuduh perbuatan yang lazim disebut Antisemitism ini, sebagai perbuatan orang-orang Islam radikal. Segera diputuskan, semua rumah ibadah, sekolah dan pemukiman Yahudi harus dilindungi dan dijaga ketat.

Selanjutnya, polisi menggeledah dan menyerbu sejumlah masjid dan pemukiman Muslim yang dicurigai sebagai sarang teroris.  Hasilnya, seorang meninggal dan 11 ditangkap. Ironisnya, di luar dugaan mereka, ke 12 orang tersebut ternyata Muslim warga negara Perancis asli,bukan orang-orang Arab sebagaimana yang diharapkan. Sungguh betapa kecewanya mereka.

Diluar betul tidaknya perbuatan mereka, menjadi bukti bahwa ajaran Islam ternyata lebih menarik dari pada ajaran Ateis yang saat ini menjadi primadona Barat. Barat dan Yahudinya yang mengaku negara beradab, padahal suka mengolok-olok dan menghina ajaran lain, yang bahkan berani menelanjangi Tuhan dan orang-orang suci mereka sendiri melalui lukisan-lukisan kebanggaan mereka yang dipajang di gereja-gereja dan gedung perkantoran, membuat anak-anak mereka berani melawan ibu-ibu mereka; tampaknya harus mengakui bahwa Islam adalah agama fitrah seluruh manusia, bukan cuma milik orang-orang ‘terbelakang’seperti orang-orang Timur apalagi khusus orang-orang Arab.

“ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS.Ar-Ruum(30):30).

“ Tiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, bapaknya lah yang menjadikan dia Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi”.  (HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 8 Oktober 2012.

Vien AM.

Teror ala Barat (1).

Sebuah film pelecehan terhadap Rasulullah kembali di ungguh Youtube dan membuat umat Islam seluruh dunia bagai kebakaran jenggot. Protes dan demo besar-besaranpun segera digelar.  Dapat dibayangkan betapa kecewa, gusar dan sakit hatinya umat Islam. Jangankan pelecehan apalagi fitnah, penggambaran wajah Rasulullah, meski tanpa niat jelekpun sebenarnya tidak dibenarkan dalam Islam.

Ini bukan kali pertama Barat dan musuh-musuh Islam mengeluarkan film dan gambar-gambar pelecehan yang amat menyakitkan hati umat. Berlindung dibalik kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat ( freedom of speech), Barat membiarkan anggota masyarakatnya menghina, memfitnah dan melecehkan junjungan umat Islam, Rasulullah Muhammad saw dan ajarannya.

Jyllands-Posten, surat kabar terbesar di Denmark adalah surat kabar pertama yang tercatat menerbitkan karikatur Rasulullah saw. Pada akhir September 2005, surat kabar ini menerbitkan 12 gambar hasil lomba karikatur Rasulullah. 3 bulan kemudian yaitu Desember 2005 OKI ( Organisasi Konferensi Islam) mulai menyatakan keberatannya. Sejak itulah kontroversi ini kemudian menghangat di seantero dunia.

Sejak semula, Islam telah melarang penggambaran benda hidup seperti manusia dan binatang. Ini diawali dengan pembersihan gambar dan patung-patung yang berada di dalam Ka’bah, segera begitu Rasulullah berhasil menaklukan kota Mekah dari dominasi kaum musrikin Quraisy. Meski dalam perjalannya, ntah bagaimana dan sejak kapan, pelarangan ini tidak lagi begitu diindahkan. Kecuali bangunan masjid.

Itu sebabnya dekorasi rumah ibadah umat Islam dimanapun, selain kaligrafi ayat-ayat suci hanya diisi oleh gambar dan bentuk bunga dan dedaunan. Penggambaran mahluk bernyawa apalagi sosok dan wajah Rasulullah sama sekali tidak dibenarkan bahkan dilarang.

Dari Ibnu, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Barangsiapa menggambar suatu gambar dari sesuatu yang bernyawa di dunia, maka dia akan diminta untuk meniupkan ruh kepada gambarnya itu kelak di hari akhir, sedangkan dia tidak kuasa untuk meniupkannya.’” [HR. Bukhari].

Rasulullah mewanti-wanti umatnya agar tidak mengkultuskan diri beliau seperti umat Nasrani mengkultuskan nabi mereka, nabi Isa as atau Yesus Kristus. Diantaranya yaitu dengan tidak menggambar wajah beliau.

Namun demi alasan demokrasi dan kebebasan berpendapat dan berekspresi, Barat yang merasa diri dan mengaku  berperadaban paling tinggi di dunia, tidak mau memahami hal ini. Pelecehan dan fitnah terhadap Rasulullah saw dan kitab suci umat Islam melalui karikatur, foto dan film  terus berlanjut hingga detik ini.

Protes umat Islam dari seluruh pelosok dunia, mulai dari yang kasar dan penuh kekerasan hingga jalur diplomatik yang santun, tak ada satupun yang digubris. Inilah demokrasi kebablasan, kalau kita, umat Islam, orang timur sebagai pihak yang terkalahkan alias pecundang boleh menyuarakan pendapat.

Karena nyatanya, Holocaust, peristiwa pembantaian Yahudi oleh Nazi Jerman puluhan tahun lalu, dilarang diprotes. Padahal beberapa sumber menyatakan bahwa peristiwa tersebut sengaja dibesar-besarkan agar dunia jatuh simpati kepada Yahudi. Yang dengan demikian mereka punya alasan untuk menyerang dan merebut tanah Palestina yang semua orang juga tahu betapa rasisnya prilaku mereka terhadap penduduk asli non Yahudi. Inilah konspirasi busuk Zionis dengan Amerika Serikat sebagai Negara pelindung mereka.

Gerard Fredick Toben, pendiri universitas Adelaide, seorang Jerman kelahiran Australia adalah salah satu buktinya. Ia dijatuhi hukuman 7 bulan masuk penjara gara-gara berani mengemukakan pendapat bahwa Holocaust terlalu di besar-besarkan. Ia beragumentasi bahwa korban Holocaust bukan semuanya orang Yahudi.

Sementara Robert Forison, seorang ilmuwan Perancis staf pengajar di Lyon Universite, diberhentikan dari tempatnya mengajar.  Penyebabnya adalah karena ia mempertanyakan kebenaran Holocaust serta keberadaan ruang gas ( gaz chamber) lewat bukunya «  Ruangan gas : fiktif atau nyata ? ».  Ini terjadi pada tahun 1978.

Pertanyaannya, mengapa Barat bisa melarang seluruh dunia memprotes dan melindungi Holocaust hingga sedemikian rupa. Sementara protes dan permintaan umat Islam agar nabinya dilindungi diabaikan. Malah seenaknya saja dijadikan bahan olok-olok keji tanpa boleh sedikitpun memprotes !

Jelas, kebebasan berpendapat yang didengungkan Barat itu tidak berlaku umum. Ada standard ganda di sini. Karena itu tadi, tidak jelas batas-batasnya. Siapa yang berhak dilindungi siapa yang tidak.

Beberapa waktu lalu di Paris, Perancis, begitu sebuah surat kabar memuat gambar pelecehan Rasulullah, Mosque de Paris, masjid agung Paris, sebagai masjid terbesar, langsung dijaga ketat. Puluhan mobil polisi disiagakan demi mengantisipasi jamaah umat Islam berkumpul dan memprotes hal tersebut.

Artinya mereka sepenuhnya sadar bahwa pemuatan gambar seperti itu bakal memicu emosi umat Islam dan beresiko tinggi melahirkan amarah dan kerusuhan. Bahkan baru beberapa minggu yang lalu salah seorang duta besar mereka terpaksa menanggung kemarahan sebagian umat yang benar-benar tidak mampu menahan kekesalan dan kekecewaan. Ini hanya  gara-gara sebuah film keluaran Amerika yang berisi lagi-lagi, fitnah keji terhadap Rasulullah saw. Sesuatu yang tidak masuk akal.

«  Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ».(QS.Al-Ahzab(33) :21).

Beberapa hari lalu ada lagi berita menyesakkan.  Adalah Mona Eltahawy, seorang wartawati Amerika asal Mesir. Ia ditangkap polisi gara-gara kedapatan sedang menyemprotkan cat ke poster raksasa di sebuah stasiun subway di New York. Poster yang menurut kabar tersebar di 10 stasiun dan bertuliskan :   In any war between the civilized man and the savage, support the civilized man. Support Israel defeat Jihad” ini ingin ditutupnya dengan cat semprot agar tidak menimbulkan ketidak nyamanan, terutama bagi umat Islam, tentunya.

Poster yang dialamatkan ke arah umat Islam dengan ‘Jihad’nya ini jelas-jelas berisi hasutan dan sangat berbau rasisme. Tapi orang yang berusaha mencegahnya malah ditangkap polisi dan dipenjarakan. Sementara pembuat film sampah Amerika yang membuat jutaan umat Islam marah dan tersinggung dibiarkan melenggang dan dilindungi negara.

Tampak bahwa ini memang disengaja. Disengaja supaya terjadi keributan dan kerusuhan, supaya ada kesempatan memberi cap « teroris » bagi umat Islam. Agar orang Barat makin takut dan membenci Islam. Menjadi bukti nyata bahwa Islamophobia memang diciptakan secara sengaja. Apalagi melihat kenyataan bahwa Islam makin dilirik orang Barat yang berilmu, yang masih bersih hatinya alias tidak menyimpan dengki.

Mereka tampaknya lupa bahwa peristiwa 11 september 2002 lalu, yang sengaja diciptakan dengan tujuan sama itu, sebenarnya  telah gagal. Lupa akan adanya berbagai bukti bahwa peristiwa kejam tersebut adalah hasil konspirasi jahat tingkat tinggi mereka. Ironisnya,  kejadian memilukan tersebut justru membuat penasaran banyak orang untuk mengetahui dan mempelajari lebih dalam apa itu Islam. Alhasil, sebagianpun kembali ke fitrah ; bersyahadat dan memeluk Islam. Subhanallah ..

«  Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya ».(QS.Ali Imran(3) :54).

Semakin jelas, siapa sebenarnya yang teroris itu, siapakah penyebar aksi teror.  Jadi, masih patutkah kita menganggap dan menjadikan Barat kiblat dan panutan peradaban? Peradaban pemuja kebebasan mengkritik, menghasut, menghina dan memprovokasi kerusuhan dan kejahatan atas nama kebebasan berekspresi tanpa mengindahkan norma-norma. Sementara di hadapan kita jelas nabi yang mereka hina mengajarkan dan mencontohkan yang sebaliknya ??

Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: «Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara «  ( HR. Shahih Muslim).

Wallahu’alam  bish shawwab.

Paris, 28 September 2012.

Vien AM.

Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam. Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.

Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.

Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.

Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.

Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni. Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.

Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya. Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah (*)

Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?

Sejarahnya panjang,

Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.

Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.

Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).

Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi. Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.

Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.

Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.

Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).

Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.

Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.

Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama. Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.

Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab. Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.

Sequoyah, also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika. Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.

Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]

Dicopy dari :   http://cahyaimancahayakebenaranislam.wordpress.com/

Jakarta, 24 September 2012.

Vien AM.

Peran pemimpin dalam Islam

Pesawat Air Turkish yang kami tumpangi mengudara on schedule, tinggal landas dari bandara Charles de Gaule Paris menuju Istanbul, Turki. Tujuan akhir kami adalah Jakarta, untuk berkumpul dengan keluarga besar di hari Lebaran. Sengaja kami memilih penerbangan milik Turki dengan transit sekitar 20 jam agar dapat mengunjungi BlueMosque sekaligus merasakan buka puasa di bekas ibu kota kekhalifahan Ottoman itu. Ketika itu memang bulan Ramadhan.

Sebenarnya kami pernah mengunjungi Istanbul beberapa tahun lalu. Tapi kurang begitu puas karena kami datang pada waktu yang kurang tepat, yaitu bulan Desember. Baru ketika itu kami menyadari bahwa Istanbul ternyata sama dengan kota-kota Eropa lainnya, dingin plus salju turun di bulan tersebut, meski tidak terlalu tebal. Mungkin karena hujan hampir setiap hari turun. Namun tetap saja cukup mengganggu dan mengurangi keleluasaan kami menikmati keindahan kota legendaris tersebut. Itu sebabnya pada penerbangan mudik kali ini kami memilih Air Turkish dengan tujuan utama bisa memuaskan keinginan mengunjungi lagi masjid biru yang terkenal itu.

Singkat cerita, beberapa waktu setelah pesawat mengudara, kereta dorong berisi makananpun datang, menawarkan hidangan makan siang. Pria berusia 35 tahunan yang duduk di sisi jalan deretan kursi kami segera menentukan pilihan makanan yang ditawarkan pramugari berambut pirang dengan wajah khas Turkinya.

Sementara kami berdua dengan halus mengatakan bahwa kami tidak makan karena sedang berpuasa.  Mendengar itu, sontak pria berkulit hitam itupun segera menoleh dan menunjukkan rasa jengahnya.

“ Je suis Musulman. Je ne jeune pas car je dois prendre le vol jusqu’a … », ia menyebut nama sebuah  kota yang rasanya kami tidak pernah mendengarnya. Intinya, ia adalah seorang Muslim. Namun ia tidak berpuasa karena ia masih harus melakukan perjalanan panjang ke sebuah  kota.

Itulah awal percakapan dan perkenalan kami dengan seorang Muslim, imigran Perancis asal Pantai Gading. Pantai Gading atau Cote d’Yvoire adalah sebuah negara di pantai Barat benua Afrika,  bertetangga dengan Ghana di sisi utara dan barat, laut Guinea di sisi selatan. Negara bekas jajahan Perancis ini awalnya hanyalah sebuah perkampungan terisolasi yang dihuni sekitar 60 suku bangsa.

Portugis dan Perancis yang menemukannya pada  abad 15.  Ketika itu kedua bangsa besar ini sedang berseteru mencari gading dan budak untuk dibawa ke Negara mereka. Namun akhirnya Perancislah yang berhasil menaklukkan perkampungan tersebut dan memberinya nama  Cote d’Yvoire yang artinya pantai gading. Negara ini baru memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1960, atas pemberian Negara penjajahnya itu. Jadi tak aneh bila kemudian presiden yang diangkatpun adalah orang pilihan pemerintahan Perancis, seorang pemeluk Kristen. Ia berkuasa selama 30 tahun hingga tahun 1990.

Jujur, sebelum bertemu dengan pria tetangga di pesawat di bulan Ramadhan itu, saya tidak begitu mengenal sejarah Pantai Gading. Yang saya tahu hanya kerusuhan yang sering melanda negri tersebut. Saya baru tahu bahwa kerusuhan yang terjadi adalah kerusuhan antar umat agama dari pria tadi.

Ia menceritakan bahwa mayoritas penduduk negrinya adalah Muslim. Tapi tak pernah sekalipun seorang Muslim menduduki posisi tertinggi pemerintahan. Politik adalah tabu bagi Muslim Pantai Gading. Mereka lebih senang menjadi pedagang.

Namun ia sendiri adalah seorang mantan polisi. Kerusuhan yang terjadi antara tahun 1990 an hingga 2000 menyebabkan dirinya terpaksa meninggalkan tanah air yang dicintainya. Perancis sebagai Negara yang pernah berabad-abad menjajah negrinya merupakan pilihan sebagian besar rakyat yang mengungsi. Untuk diketahui, hingga kini pantai Gading masih menjadikan bahasa Perancis sebagai bahasa persatuan mereka.

Maka sejak itu pula pria yang belakangan menikah dengan perempuan sebangsanya itu berstatus sebagai imigran gelap. Ia tidak menceritakan mengapa harus gelap. Yang pasti, status inilah yang menyebabkan dirinya sulit untuk keluar masuk Perancis.

Itu sebabnya mengapa ia menumpang Air Turki dan transit di Istanbul. Dari kota ini baru ia meneruskan perjalanan ke tujuan yang  sebenarnya.  Sementara istrinya, meski sama-sama imigran tapi bukan imigran gelap, bersama anaknya bisa terbang langsung ke tujuan. Masalah keimanan anaknya yang masih kecil ini, juga menjadi topik pembicaraan kami.

“ Saya benar-benar pesimis dengan keimanan putra kami bila kami terpaksa benar-benar tidak bisa kembali ke tanah air”, keluhnya.

Saya jadi teringat jargon “ Islam Yes Partai Islam No” yang dipopulerkan almarhum Nurcholis Madjid  beberapa belas tahun lalu. Jargon ini benar-benar berhasil membuat kalangan muda Muslim ‘alergi’ dari partai berbau Islam.  Seolah-olah partai Islam itu ketinggalan zaman, tidak rasional bahkan kampungan ! Apakah pendiri lembaga Paramadina sekaligus bapak Pluralis dan Sekuleris yang memang sempat lama menetap di Amerika dan mengambil ilmu filsafat itu tidak menyadari dampak pemikirannya yang kontroversial itu?

Pantai Gading adalah hanya salah satu buktinya. Jutaan rakyat negri ini harus menderita akibat tak pernah sekalipun mempunyai pemimpin yang seiman. Tercatat selama 52 tahun negri ini memperoleh kemerdekaan hanya satu saja calon  dari kalangan Muslim yang maju dalam pemilihan. Itupun gagal pula. Dan kegagalan ini disebabkan ia Muslim !

Adalah Alassane Ouattara, seorang tokoh Muslim mantan perdana mentri Pantai Gading. Ia tertantang untuk mengikuti pemilihan presiden karena presiden yang menjabat waktu itu sectarian. Dengan sengaja pemilik kekuasaan tertinggi Negara ini memunculkan rasa kesukuan salah satu suku rakyatnya dan menciptakan opini bahwa suku lain, dalam hal ini suku-suku Pantai Gading sebelah utara yang mayoritas Muslim, adalah bukan bangsa Pantai Gading. Persis kasus etnis Rohingya di Myanmar yang tidak diakui keberadaannya oleh pemerintah pusat yang mayoritas beragama Hindu.

Akibatnya dapat diduga, pencalonan Ouatarra tersendat. Pemberontakanpun tak terhindarkan. Timbullah berbagai kerusuhan, menuntut keadilan. Sejarah mencatat bahwa Islam datang ke negri ini pada abad 13, dibawah kejayaan kerajaan Mali. Sementara Kristen masuk pada abad 17. Dengan kata lain,  sebenarnya ajaran Islam telah masuk ke negri ini, 4 abad lebih dulu dibanding ajaran Kristen.

Patut menjadi catatan, Islam  adalah ajaran yang sangat spesifik. Ia memiliki sejumlah aturan sendiri yang wajib dipatuhi pemeluknya. Itu sebabnya umat Islam memerlukan pemimpin yang benar-benar mengerti, memahami dan menguasai kebutuhan mereka. Dan tentu saja kalau bukan dari kalangan umat Islam sendiri siapa lagi yang lebih patut menjadi pemimpin tersebut. Apalagi Allah swt dengan tegas telah memerintahkan hal tersebut.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS.Al-Maidah(5):51).

Artinya, bila kita tetap nekad memilih pemimpin yang bukan dari kalangan kita sendiri ( baca Islam), Allah swt tidak lagi mau melindungi kita. Dan dampak perbuatan ini tidak saja ‘hanya’ kita terima di akhirat nanti, tapi juga di dunia ini. Seperti yang terjadi terhadap saudara-saudari kita di Pantai Gading diatas.

Karena, seperti yang telah disebutkan diatas, umat Islam itu membutuhkan komunitas, fasilitas  dan kebijaksanaan yang sangat khas. Misalnya, kebutuhan akan masjid, melaksanakan shalat pada jam kerja, shalat berjamaah di masjid pada hari Jum’at, menjalankan puasa pada bulan Ramadhan, penentuan hari raya iedul fitri dan iedul adha, mengenakan jilbab dalam kehidupan sehari-hari, pemotongan hewan halal, menjauhi riba, minuman keras, perjudian dan pelacuran, hukum waris, hukum perkawinan  dan masih banyak lagi.

Umat Islam semustinya harus tahu apa yang menjadi kebutuhan utamanya, mana yang  prioritas dan mana yang sekunder. Kebutuhan akhirat adalah yang paling utama. Meski untuk itu kemudahan duniawi berarti juga kebutuhan yang tidak boleh diabaikan. Karena dunia adalah tempat beramal demi bekal kehidupan akhirat kelak. Untuk itu, kemudahan hidup harus diusahakan.

Sebaliknya, seorang pemimpin harus sadar bahwa dirinya adalah pengemban terberat amanah rakyat. Amanah yang dititipkan umat agar ia mengurusi kebutuhan spiritual dan material rakyat yang dipimpinnya. Memberikan kemudahan agar umat dapat beribadah, memuji Tuhannya dengan sebaik mungkin.  Menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat yang dipimpinnya, apapun agama, suku dan rasnya. Dan semuanya ini dilakukannya demi mencari ridho Sang Khalik, Allah Azza wa Jallat, penciptanya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 September 2012.

Vien AM.