Feeds:
Posts
Comments

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali, wal jubni wal haromi wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan rasa malas, rasa takut dan keburukan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706).

Hadist di atas mengajarkan bagaimana Rasulullah berdoa memohon kepada Allah swt, agar seorang Mukmin terhindar dari sifat lemah, malas, rasa takut dan keburukan di hari tua serta sifat kikir. Juga agar terhindar dari siksa kubur yang sangat mengerikan serta dari bencana kehidupan dan kematian.

Semua orang pasti akan mengalami ketuaan kecuali Allah swt berkehendak lain. Dan kita semua menyadari bahwa masa tua adalah masa dimana keadaan fisik dan kesehatan sudah banyak berkurang. Tulang sudah mulai  keropos hingga shalat tidak tahan berdiri lama, penglihatan mulai memudar hingga membaca huruf-huruf Al-Quran kurang jelas, daya ingat menurun hingga sulit menghafal ayat-ayat suci Al-Quran apalagi memahaminya, dll. Itu adalah kodrat,

“ … … kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, … … “.( Terjemah QS.Al-Hajj(22):5).

Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”. ( Terjemah QS.An-Nahl (16):70).

Ayat di atas menyatakan bahwa manusia diwafatkan ada yang dalam usia muda/dewasa namun ada juga yang diberi kesempatan hidup yang saking panjangnya hingga menjadi pikun. Tentu tak satupun orang mau dan ingin menjadi tua dalam keadaan pikun. Namun bila Sang Khalik berkehendak sudah pasti kita tidak akan mampu melawan kehendakNya.  

Lalu apa yang dapat kita lakukan agar ketika kita mengalami hal tersebut kita tetap dapat mendapatkan pahala yang di hari Hisab nanti akan menjadi pemberat timbangan kebajikan kita. Bukankah Allah adalah Zat yang Maha Adil, maka tidak mungkin Ia mendzalimi apalagi melanggar janji-Nya.  

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :[1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir).

Hadist di atas secara tegas menyatakan, “Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu”, bahkan di urutan pertama. Ini menunjukkan bahwa ketika tua kita tidak akan mampu beramal ibadah sebaik dan sekuat ketika kita masih muda. Itu sebabnya Allah swt memerintahkan kita untuk mengerjakan amal ibadah sejak muda, tidak menunggu dan menundanya hingga tua, lemah dan sakit-sakitan. Menunaikan ibadah hajinya, contohnya. Rukun Islam ke 5 ini benar-benar membutuhkan tenaga dan kesehatan yang prima. Begitu pula berpuasa.   

Namun karena kasih sayang dan adil-Nya, Allah swt akan tetap menghitung amal kebaikan mereka yang sudah tua dan tidak sanggup lagi mengerjakan amal ibadah, sesuai dengan apa yang biasa mereka kerjakan ketika muda. Tidak sanggup tentu tidak sama dengan malas. Masya Allah … Alangkah beruntungnya orang yang sejak muda senantiasa menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Namun demikian, ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu jangan pernah puas dengan amalan yang kita lakukan. Apalagi bermalas-malasan merasa cukup dengan ibadah wajib saja yang sebenarnya belum tentu ditrima Sang Khalik. Itu sebabnya Rasulullah mengajarkan kita untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah dengan tujuan dapat menambal kekurangan ibadah wajib kita.

Disamping itu, meski umat Islam dijamin masuk surga berkat syahadatnya, namun tetap harus melewati proses yang tidak sedikit. Diantaranya adalah melewati jembatan Shirothol Mustaqim. Jembatan yang membentang di atas neraka ini selain sangat tipis, juga tajam hingga sangat sulit untuk dilewati.

Orang Mukmin (berada) di atasnya (shirâth), ada yang secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda yang amat kencang berlari, dan ada yang secepat pengendara. Maka ada yang selamat setelah tertatih-tatih dan ada pula yang dilemparkan ke dalam neraka. Mereka yang paling terakhir merangkak secara pelan-pelan”. (Muttafaqun ‘alaih).

Itu sebabnya Allah Azza wa Jala memerintahkan umat Islam untuk membaca surat Al-Fatihah pada tiap rakaat shalat kita. Jumhur ulama menafsirkan bahwa ayat 6 dan 7 surat tersebut adalah permohonan agar kita dapat melewati jembatan Shirothol Mustaqim tanpa kesulitan. Shirothol Mustaqim ini bisa dilewati berdasarkan kwalitas amal perbuatan manusia. Ada yang secepat angin namun tidak sedikit yang harus berkali-kali jatuh bangun.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Mereka melewati shiroth sesuai dengan tingkat amalan mereka. Di antara mereka ada cahayanya seperti gunung, ada cahayanya yang seperti pohon, ada cahayanya setinggi orang berdiri, yang paling sedikit cahayanya sebatas menerangi ampu kakinya, sesekali nyala sesekali padam”. ( HR. Ibnu Abi Hâtim dan Ibnu Jarîr).

Hadist diatas menerangkan tentang cahaya yang dimiliki seorang beriman. Cahaya inilah yang akan menyelamatkan kita ketika menyebrangi Shirotol Mustaqin. Inilah salah satu hikmah Allah swt memerintahkan umat Islam untuk berwudhu.

Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah berseri-seri karena sisa air wudu, maka barangsiapa diantara kalian yang mampu memanjangkan cahaya wajahnya maka lakukanlah” (HR. Bukhari).  

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”. ( Terjemah QS.Al-An’am (6):122).

“Dan dibentangkanlah shirâth di atas permukaan neraka Jahannam. Maka aku dan umatku menjadi orang yang pertama kali melewatinya. Dan tiada yang berbicara pada saat itu kecuali para rasul. Dan doa para rasul pada saat itu: “Ya Allâh, selamatkanlah, selamatkanlah……di antara mereka ada yang tertinggal dengan sebab amalannya dan di antara mereka ada yang dibalasi sampai ia selamat”. [HR. Muslim].

Akhir kata semoga kita dapat mengamalkan doa Rasulullah saw diatas. Memanfaatkan waktu muda dan sehat kita dengan sebaik-baiknya, hingga ketika kita tua dan tidak lagi sanggup melakukannya, Allah swt akan tetap mencatatnya seperti ketika kita muda, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Juli 2024.

Vien AM.

Referensi:

https://almanhaj.or.id/10712-mengimani-shirath-jembatan-di-atas-neraka-2.html

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan, sesungguhnya, pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.  Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (Terjemah QS. Ali Imran(3):185).

Tidak sedikit ayat suci A-Quranul Karim yang menerangkan bahwa semua orang pasti akan mati. Hanya saja kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan meninggal. Keyakinan ini tidak saja dimiliki oleh orang beriman semata tapi juga orang kafir. Bahkan orang yang tidak percaya akan adanya Tuhanpun meyakini hal tersebut.

Namun bagi orang beriman kematian tidak dapat dianggap sepele. Karena kematian sejatinya adalah awal kehidupan yang sesungguhnya. Kematian adalah gerbang kehidupan akhirat yang jauh lebih kekal dibanding kehidupan dunia.

Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim no 2868).

Sayangnya, kehidupan akhirat hanya ada 1 pilihan, yaitu surga atau neraka. Padahal neraka adalah tempat kembali yang sangat mengerikan dan panas tak terhingga, Penghuni neraka akan disiksa dengan siksa sangat pedih. Bahkan penjaganyapun sangat menakutkan.

Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”. (Terjemah QS.Az-Zumar( 39):72).

Sedangkan surga adalah tempat kembali yang benar-benar indah dan menyenangkan sebagaimana hadist Qudsi, “Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu, yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas oleh hati manusia…”

“ … … Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya“.(Terjemah QS. AZ-Zumar (39:73).

Maka sebagai seorang yang beriman sudah sewajarnya masuk surga adalah cita-cita tertinggi dalam hidup. Meninggal dalam keadaan terbaiknya yaitu husnul khotimah. Untuk itu wajib kita mengetahui caranya, yaitu dengan mempelajari Al-Quranul Karim, As-Sunnah dan tentu saja mengamalnya.

Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda: “Setiap orang akan dibangkitkan sesuai kematiannya.” (HR. Muslim).

Para ulama sepakat yang dimaksud hadist diatas adalah wafat sesuai dengan kebiasaannya dan dibangkitkan sesuai kebiasaan tersebut. Artinya agar wafat dalam keadaan husnul khotimah wajib hukumnya agar kita membiasakan diri dengan hal-hal yang baik, baik sesuai pandangan Allah swt tentunya.

Kita semua juga tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Tidak peduli dengan kondisi apakah seorang hamba dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau sedang bermaksiat. Apakah dalam keadaan sakit atau sehat. Apakah masih muda atau sudah tua.

Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan“. (Terjemah QS.Al-Munafiqun(63):11).

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi dan kokoh“.(Terjemah QS.An-Nisa(4):78).

Kemungkinan orang meninggal sesuai kebiasaan atau hobbynya memang sangat tinggi. Betapa seringnya kita mendengar kabar seorang pawang singa atau ular wafat diterkam binatang piaraannya. Pembalap meninggal dalam kecelakaan balap mobil/motor. Artis, penyanyi, penari, pembawa acara meninggal ketika sedang melakukan profesi atau hobbynya tersebut.

Namun yang paling mengerikan adalah ketika seorang pezina dimatikan ketika dalam keadaan sedang berzina. Na’udzu billah min dzalik … Sebaliknya tidak sedikit orang yang terbiasa menjaga wudhu, shalat, sujud,  membaca Al-Quran Allah wafatkan dalam keadaan yang ia sukai itu. Masya Allah alangkah indahnya … 

Itu sebabnya kita harus pintar-pintar dalam memilih kebiasaan, hobby bahkan profesi/pekerjaan. Karena, kita akan dimatikan dalam kebiasaan tersebut. Orang yang terbiasa dalam ketaatan insya Allah akan diwafatkan dalam ketaatannya, husnul khotimah.

Untuk itulah pentingnya peran orang-tua. Perkenalkan anak pada kebiasaan dan  hobby yang baik sejak dini. Seperti membaca Al-Quran, lisan yang selalu berdzikir dll. Jangan sampai hobby menari, menyanyi, bermain piano, bermain bola dll membuat anak lupa dari mengingat kepada Sang Khalik. Apalagi setelah lebih besar nanti, anak akan lebih banyak lagi tantangan dalam hidupnya.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hal lain yang tak kalah pentingnya, adalah hadist berikut :

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Hadist di atas mengingatkan kita untuk senantiasa berhati-hati dalam bertindak dan selalu memohon kepada Allah swt agar istiqomah beramal ibadah hingga akhir hayat dan wafat dalam keadaan husnul khotimah. Karena tidak sedikit orang yang banyak beramal sholeh namun Allah matikan justru ketika sedang berbuat maksiat hingga ia mengalami kematian yang buruk (su’ul khotimah).

Sebaliknya ada juga ahli maksiat yang menjelang ajalnya bertobat dan segera beramal ibadah. Lalu Allah wafatkan ia dalam keadaan demikian hingga iapun mengalami husnul khotimah.  Orang seperti ini sangatlah beruntung karena sebenarnya ia tidak pernah tahu kapan ia akan dimatikan. Sungguh beruntung Allah swt memberinya kesempatan bertobat.  

Sebagai catatan, beramal ibadah maksudnya adalah bersyahadat, shalat, puasa dan amal kebaikan lain.  Sedang berbuat maksiat adalah murtad, kafir ataupun tidak menjaga pendengaran, lisan, pandangan, hati yang penuh dengan beragam penyakit hati, malas dan meninggalkan ibadah, lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allah.

Masuk surga atau neraka adalah hak prerogative Allah Azza wa Jala, bukan semata karena amal ibadah kita. Melainkan berkat rahmat-Nya. Karena seumur hidup beramal ibadahpun tidak akan mampu membalas segala kebaikan-Nya. Untuk itu doa sepanjang waktu sangat diperlukan.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. ( Terjemah QS. Ghofir(40):60).

Doa memohon kepada Allah swt agar kita istiqomah beramal ibadah hingga akhir hayat, dimatikan dalam keadaan terbaik kita, menutupnya dengan kalimat tauhid “Laa ilaha illa Allah”,  dan husnul khotimah. Jangan sampai kita lalai, lelah beramal ibadah lalu tiba-tiba Allah mencabut nyawa kita dalam keadaan maksiat. Na’udzubillah min dzalik …       

Dalam kitab Shahih Tirmidzi disebutkan dalam hadis Shahihnya, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi).

Diterangkan dalam Risalah Majmu’ Fatawa, Ibnu Utsaimin berkata bahwa hendaknya manusia banyak merenung karena sebenarnya setiap orang senantiasa dalam bahaya disebabkan kematian selalu mengintai dan tidak ada batas waktu yang diketahui.

Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan kesempatan umur sebaik-baiknya, yaitu dengan taubat kepada Allah Azza wa Jalla. Sudah seharusnya manusia selalu merasa dirinya banyak melakukan kesalahan hingga harus bertaubat dan memperbaiki kesalahan. Terus membiasakan diri dalam kebaikan hingga ajal tiba dalam sebaik-baik keadaan. Sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalani.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 22 Juni 2024.

Vien AM.

Hari Kiamat adalah rukun ke 5 dari Rukun Iman yang merupakan pilar tegaknya seorang beriman. Hari yang merupakan berakhirnya kehidupan seluruh manusia dan alam semesta ini wajib diyakini oleh umat Islam. Hari Kiamat didahului dengan datangnya tiupan sangkakala (terompet raksasa)  pertama. Maka hancurlah alam semesta. Kemudian ketika sangkakala kembali bertiup maka seluruh manusia yang pernah ada di bumi ini akan hidup kembali. Itulah hari Berbangkit.

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)“.( Terjemah QS. Az-Zumar(39):68).

Ia adalah sesuatu yang ghaib. Tidak ada yang mengetahui kapan akan terjadi kecuali Allah swt. Rasulullah saw bersabda jarak antara hari Kiamat dengan beliau seperti jarak antara jari telunjuk dan jari tengah. Menandakan bahwa hari tersebut tidaklah terlalu lama akan terjadi.      

Manusia bertanya kepadamu tentang hari Berbangkit. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu wahai (Muhammad), boleh jadi hari Berbangkit itu sudah dekat waktunya”. ( Terjemah QS. Al-Ahzaab(33): 63).

Rasulullah hidup pada abad 7. Sedangkan kini kita berada di abad 21. Dalam pandangan kita jarak 15 abad tentu sangat jauh. Tapi dibanding umur bumi dan alam semesta ini tidak ada artinya. Dan lagi sebenarnya tidak penting kita mempermasalahan kapan Kiamat akan terjadi karena kiamat kecil yaitu hari Allah swt memanggil kita jauh lebih dekat. Pengetahuan dan keyakinan datangnya hari Kiamat adalah bagian dari keimanan yang tidak penting untuk diperdebatkan.    

Namun demikian demi memenuhi sifat manusia yang selalu ingin tahu, Allah swt  memberikan tanda-tandanya. Yaitu melalui ayat suci Al-Quranul Karim dan hadist Rasulullah saw yang jumlahnya sangat banyak. Pada tulisan kali ini yang akan dibahas adalah 3 hal yaitu pemimpin yang bodoh, gempa dan kembali suburnya tanah Arab Saudi.

Mengenai pemimpin yang bodoh telah dibahas pada artikel sebelum ini. Hal tersebut sangat berkaitan dengan masalah Palestina yang makin hari makin tak terkendali. Yang secara tak langsung karena masalah kepemimpinan Islam yang tidak tangguh alias bodoh menurut syariat.

Palestina dan Fenomena Akhir Zaman (1) -Kepemimpinan Dalam Islam.

Selanjutnya adalah,

2. Gempa dengan korban yang sangat banyak.

Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda bahwa di antara tanda semakin dekatnya Hari Kiamat adalah banyaknya gempa bumi dan banyak orang meninggal dunia karena musibah tersebut. (HR. Bukhari no.XIII/81-82, Shahih; HR. Ahmad no.IV/104, Hasan/Shahih).

Dapat kita saksikan belakangan ini betapa seringnya gempa melanda bumi kita tercinta. Diantaranya yang terdasyat adalah gempa Aceh yang disusul gelombang tsunami di tahun 2004. Gempa berskala 9.3 SR yang menelan korban tewas sekitar 227.898 orang ini terasa hingga di  14 negara. Indonesia, Sri Lanka, India, Thailand, Somalia, dan Maladewa adalah negara yang paling parah terkena dampaknya.

Menyebabkannya tercatat sebagai gempa bumi terkuat di Asia, ketiga di dunia sejak tahun 1900 setelah gempa Valdivia 1960 dan gempa Alaska 1964. Wikipedia mencatat gempa Aceh merupakan patahan terpanjang ( 1.200 km hingga 1.300 km ) dengan durasi guncangan terlama ( setidaknya 10 menit). Gempa ini bahkan menyebabkan seluruh planet Bumi bergetar 1 sentimeter dan memicu aktivitas gempa di berbagai wilayah, termasuk Alaska. Total kerugian finansial akibat bencana ini mencapai USD$14 miliar atau sekitar Rp 51,4 triliun, sehingga membutuhkan waktu lebih dari 5 tahun untuk pemulihan seperti kondisi sebelum bencana.

https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_dan_tsunami_Samudra_Hindia_2004

Gempa yang menelan korban sangat banyak dapat dipastikan akibat disusulnya  tsunami. Dan ini terjadi pertama kali pada abad 15 yaitu tahun 1498 di Jepang. Gempa berkekuatan 8.3 SR ini menewaskan 31.000 jiwa.

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6771006/10-tsunami-terbesar-di-dunia-dengan-korban-terbanyak-2-terjadi-indonesia

Bumi yang kita tinggali ini memang sudah amat renta. Gunung yang merupakan pasak/paku bumi hingga tempat manusia tinggal selama ribuan tahun ini dapat berdiri tegak dan stabil itu, kini mulai goyah. Gesekan antar lempengan di dasar kerak bumi akhirnya tak dapat dihindarkan. Maka bumipun bergoncang.  Itulah gempa yang makin hari makin sering kita rasakan.

“Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu,…” (Terjemah QS.An-Nahl(16):15).

“Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar ia (tidak) guncang bersama mereka,…”. ( Terjemah QS.An-Anbiya(21):31).

Pada ayat 88 surat An-Naml dikatakan bahwa gunung-gunung itu sebenarnya tidak diam melainkan berjalan sebagaimana jalannya awan yang terbawa angin. Hal ini makin membuktikan betapa Allah swt sebagai Zat Pencipta mengetahui segala sesuatu yang kita sebagai mahluk ciptaan, sangkakan.    

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

3. Menghijaunya kembali tanah Arab.

Hari kiamat tidak berlaku sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai.” (HR Muslim).

Sejumlah ilmuwan yang dikutip dalam buku “Kiamat Sudah Dekat?” karya Dr. Muhammad al-‘Areifi, menunjukkan bukti bahwa perambatan sungai es sekarang bergerak ke arah Jazirah Arab dengan membawa salju turun dan hujan. Keduanya biasanya menjadi faktor tumbuhnya tanaman dan kemakmuran.

https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6512800/hadits-tanah-arab-kembali-hijau-jadi-tanda-kiamat-dulu-pernah-subur-makmur

Sejarah mencatat bahwa jazirah Arab dulunya adalah tanah yang subur, dengan padang rumput dan sungai-sungainya. Hal ini dikatakan seorang ahli geologi asal Institute of Geosciences Johannes Gutenberg-University Jerman, Alfred Kroner, sebagaimana termuat dalam buku Mausu’ah al-Ijaz al-Qur’ani karya Nadiah Tharayyarah.

Dalam perbincangannya dengan seorang dai muslim bernama Syekh Abdul Majid al-Zindani saat membahas tanah Arab yang gersang dulunya adalah padang rumput yang hijau, Alfred Kroner mengatakan bahwa para pakar geologi sudah mengetahui hal itu. Ia mengatakan, bila tanah di Jazirah Arab digali, akan ditemukan jejak-jejak yang membuktikan bahwa wilayah tersebut dulunya adalah tanah yang subur. Salah satunya pernah ditemukan kampung hijau bernama Al-Faw di bawah gurun pasir Rub’ al-Khali.

Kroner menjelaskan bukti ilmiah mengapa Jazirah Arab yang dulunya hijau bisa berubah menjadi gersang dan kemungkinan akan kembali menghijau. Berdasarkan penelitian sejarah bumi di masa lampau yang ia lakukan, hal ini terjadi lantaran Jazirah Arab pernah mengalami fase zaman es.

Lebih lanjut ia menjelaskan, fase zaman es ini terjadi ketika air laut dalam volume besar akan berubah menjadi es dan berkumpul di Kutub Utara yang beku, lalu bergerak perlahan menuju arah selatan. Pergerakan inilah yang akan memengaruhi keadaan tanah yang ada di sekitarnya.

Di antara daerah yang tanahnya mengalami perubahan kondisi adalah semenanjung Arab. Cuaca menjadi dingin. Tanah Arab akan menjadi negeri yang paling banyak curah hujannya dan aliran-aliran sungainya,” jelas Kroner seperti diterjemahkan oleh M. Zaenal Arifin dkk.

Selain Alfred Kroner, seorang pakar geologi asal Amerika juga memprediksi kembalinya danau-danau ke gurun pasir Jazirah Arab dan kembalinya air ke sungai-sungai yang kini terpendam di bawah gurun pasir. Dalam riset modern, bumi mengalami zaman es sekitar 100 ribu tahun yang lalu. Setelah itu, bumi berada pada periode interglasial (hangat) yang berlangsung 10 hingga 20 ribu tahun.

Dalam kenyataannya kita telah tahu bahwa beberapa tahun belakangan ini Mekah dan Madinah beberapa kali mengalami hujan lebat bahkan hujan es. Ini adalah peristiwa langka. Itu sebabnya ketika hujan  datang banjir hampir selalu terjadi. Arab Saudi dan juga negara2 Teluk lainnya sep Dubai, UEA (Uni Emirat Arab) dll, memang tidak mempunyai sistim drainase yang baik karena amat jarang sekali mengalami hujan.

Dengan makin canggihnya teknologi, demi mengatasi suhu panas extrim  yang merupakan suasana sehari-hari, beberapa waktu lalu sebuah perusahaan di UEA berusaha memindahkn gunung es/iceberg yang berada di laut Antartika. Yaitu dengan cara menyeret bongkahan es raksasa yang jaraknya ribuan km itu ke pantai UEA.

https://jagatbisnis.com/2023/06/06/arab-saudi-akan-memindahkan-gunung-es-antartika/

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 Juni 2024.

Vien AM.

Bagi umat Islam, hari Kiamat adalah keniscayaan, wajib diyakini karena merupakan salah satu dari Rukun Iman. Akan tetapi tak ada satu makhluk pun yang bisa mengetahui secara pasti kapan terjadinya hari tersebut.

Manusia bertanya kepadamu tentang hari Berbangkit. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu wahai (Muhammad), boleh jadi hari Berbangkit itu sudah dekat waktunya”. ( Terjemah QS.Al-Ahzaab(33): 63).

Namun demikian karena kasih sayang-Nya Allah swt  memberikan tanda-tandanya, yaitu melalui ayat suci Al-Quranul Karim dan hadist Rasulullah saw yang jumlahnya sangat banyak. Diantara sekian banyaknya hadist, hadist yang berkaitan antara hari Kiamat dan Palestina, hadist tentang kepemimpinan tampaknya menarik untuk kita perhatikan dan pelajari.

Kita tentu tahu apa yang terjadi di Palestina terutama 7 bulan terakhir dimana penjajah Israel terkutuk dengan amat sangat biadab melakukan pembantaian  terhadap rakyat Gaza. 85 % infrastruktur Gaza yang hanya seluas 45km2 luluh lantak, 35 ribu penduduk Gaza sebagian besar anak dan kaum perempuan meninggal. Dan kini tentara penjajah tersebut menyerbu Rafah, kota terakhir di ujung selatan Gaza dimana berkumpul 1.5 juta penduduk Gaza yang terpaksa meninggalkan rumah mereka di Gaza utara dan tengah yang hancur lebur di bombarbardir siang malam. Kota ini terletak di perbatasan Mesir, menjadi satu-satunya jalur keluar masuk Gaza melalui daratan. Dari kota inilah biasanya bantuan pangan dan obat-obatan datang.

Peristiwa kejam tersebut terjadi terang-terangan di hadapan dunia yang hanya bisa mengutuk tanpa bisa mencegahnya. Bahkan Amerika Serikat dan beberapa Negara Eropa tetap membela kebijakan Israel tersebut dengan dalih untuk membela diri paska serangan 7 Oktober yang dilakukan Hamas sebagai sayap revolusi Palestina. Mereka tidak mau melihat kenyataan yang telah dilakukan penjajah Israel selama 75 tahun yang hampir setiap hari menyiksa dan menangkapi rakyat Palestina serta merebut dan mengusir rakyat dari rumah dan tanah mereka sendiri. Kemerdekaan adalah hak semua bangsa serta HAM yang merupakan slogan PBB tampak nyata hanya sekedar slogan tanpa makna.         

Ironisnya Palestina yang mayoritas Muslim adalah negri yang terletak berdampingan dengan Negara-negara Muslim seperti Mesir, Yordania, Suriah, Iran, Irak dan Saudi Arabia. Tidakkah para tetangga ini dapat berbuat sesuatu untuk mencegah hal tersebut?? Bukankah umat Islam adalah umat terbaik karena dapat mengajak kepada kebaikan sekaligus mencegah kejahatan sebagaimana ayat 110 surat Ali Imran berikut, “Kalian ( umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.

Mengapa sebaliknya Mesir, Yordania dan Arab Saudi malah menangkal drone yang diluncurkan Iran dan Yaman menuju Israel apapun latar belakang kedua Negara tersebut menyerang Israel. Karena bagaimanapun kedua Negara tersebut dikenal sebagai pemeluk Syiah yang jauh dari ajaran Islam yang diajarkan Rasulullah saw. Namun setidaknya mereka berani secara nyata melawan kekejaman Zionis.

Harus diakui Barat sejak beberapa abad terakhir memang telah menguasai dunia baik secara ekonomi, teknologi maupun ideologi. Islam yang di masa lalu selama berabad-abad berada di puncak keemasan kini benar-benar terpuruk dan jauh tertinggal dalam segala hal. Ditambah lagi isu Islamophobia seperti Islam adalah teroris, Islam adalah agama yang tidak toleran dll.

Isu ini sengaja di sebarkan oleh mereka yang membenci Islam dan sayangnya tidak saja membuat orang non Muslim takut terhadap ajaran Islam namun juga berhasil membuat sebagian umat Islam yang keimanannya rapuh, mempercayainya. Sebaliknya prilaku Israel yang sudah amat sangat keterlaluan itu telah membuat banyak mahasiswa Barat marah. Mereka melakukan demo besar-besaran agar pembantaian segera dihentikan. Anehnya sekali lagi, Yordania dan Mesir menangkapi mahasiswanya yang melakukan hal yang sama … ??!!? Ada apakah gerangan?? Mengapa umat Islam tidak bisa bersatu seperti bersatunya Barat yang notabene kafir???

Tampaknya mereka telah melupakan hadist “ Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)”. (HR. Bukhari dan Muslim). 

Rasulullah saw bersabda bahwa diantara tanda-tanda Kiamat adalah diserahkannya tampuk kepemimpinan kepada orang-orang bodoh, yaitu orang yang tidak mau mengambil petunjuk dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta tidak mau menerima nasihat. Pembohong dianggap benar, orang jujur dianggap pendusta, pengkhianat dipercaya, orang yang bisa dipercaya malah dianggap pengkhianat, orang bodoh akan berbicara, dan orang pintar diam saja. Tak syak lagi mereka adalah orang-orang munafik.

Hadist yang meng-identifikasikan hal tersebut banyak, diantaranya adalah sebagai berikut :

“ Hari Kiamat belum akan terjadi sampai nanti kabilah-kabilah dikuasai oleh orang munafik dari kalangan mereka. “ (HR. Thabrani).

Jabir ibn Abdillah r.a.a meriwayatkan, bahwa Rasulullah s.a.w. berkata kepada Ka’ab ibn ‘Ajrah, “ Semoga Allah melindunginya dari kepemimpinan orang bodoh, wahai Ka’ab. ” Ka’ab lantas bertanya, “ Apakah yang dimaksud kepemimpinan orang-orang bodoh, wahai Rasulullah ? “

Nabi menjawab, “ Sepeninggalku nanti, akan muncul para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula mengambil sunnah-sunnahku”.

Pemimpin yang takwa pasti mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat di masa lalu,  tidak mungkin ia diam melihat saudara-saudarinya sesama Muslim didzalimi sedemikian parahnya. Anehnya lagi, bukan hanya diam tapi bahkan menjalin hubungan erat dengan musuh Allah tersebut … Na[udzubillah min dzalik …

Wahn yaitu cinta dunia dan takut mati seperti yang telah diperkirakan Rasulullah saw tampak sangat menguasai para pemimpin dunia Islam. Mereka menjadikan Barat yang notabene kafir sebagai kiblat, sebagai contoh dan panutan. Mereka berlomba mengejar kesuksesan dunia tanpa khawatir melanggar aturan-aturan Sang Pencipta maupun sunah-sunah Rasul. Diantaranya yaitu dengan berhutang bahkan dengan cara Barat yaitu riba yang diharamkan dalam Islam. Merekapun akhirnya terjebak dan tersandera hingga tidak mampu berdiri di atas kaki sendiri, pasrah, tunduk patuh terhadap si pemberi hutang.

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. … … Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):275).

Maka jadilah umat Islam yang seharusnya menjadi umat yang terbaik di muka bumi ini kehilangan segalanya hingga akhirnya tidak mampu bersuara apalagi membela saudara-saudarinya sesama Muslim yang terdzalimi di tanah Palestina. Padahal di tanah yang diberkahi Allah swt inilah berdiri masjid suci ke 3 umat Islam yang seharusnya wajib untuk dilindungi dan dipertahankan. Bukan hanya diam membisu menyaksikan masjid suci tersebut diduduki, direbut bahkan dijadikan rumah ibadah umat Yahudi yang sejak lama memimpikannya.   

Sebagai penutup, adalah tugas kita sebagai orang-tua untuk mendidik anak-anak kita betapa pentingnya memilih seorang pemimpin agar kita dapat menjalankan tanggung-jawab dan kewajiban sebagai Muslim dengan aman dimanapun berada.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim“. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5:51).

Maka Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin kembali akan terjadi seperti di masa Rasulullah dan tokoh-tokoh Muslim di masa lalu. Itulah zaman keemasan Islam yang selama berabad-abad pernah menyelimuti bumi Allah Azza wa Jala. Dan Rasulullah saw dalam suatu hadist yang panjang pernah menyampaikannya akan kembali terjadi beberapa waktu sebelum hari Akhir datang.  Dan semoga Allah swt segera meridhoi terbentuknya Palestina merdeka yang bebas dari kekejaman Zionis Israel Yahudi terlaknat, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.    

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 Mei 2024.

Vien AM.     

Manfaat Dzikir.

Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam (amalan sunnah) itu amat banyak yang mesti kami jalankan. Maka mana yang mesti kami pegang (setelah menunaikan yang wajib, pen.)?” Beliau menjawab, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah (maksudnya: terus meneruslah berdzikir kepada Allah, pen).” (HR. Ahmad dengan lafazh seperti ini) [HR. Ahmad, 4:188; Tirmidzi, no. 3375; Ibnu Majah, no. 3793; Ibnu Hibban, no. 2317; Al-Hakim, 1:495. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Lihat pula penjelasan hadits ini dalam Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh At-Tirmidzi, 9:305].

Faedah hadits

Pertama: Para sahabat begitu bersemangat dalam bertanya berkaitan dengan urusan agama mereka.

Kedua: Allah memerintahkan kita untuk banyak berdzikir. Allah juga memuji orang yang banyak berdzikir tersebut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا , وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)

وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) Allah pada setiap waktunya.” (HR. Bukhari, no. 19 dan Muslim, no. 737)

Yang dimaksud banyak berdzikir di sini adalah berdzikir ketika berdiri, berjalan, duduk, berbaring, termasuk pula dalam keadaan suci dan berhadats.

Ketiga: Para ulama menghitung dzikir dengan jarinya.

Khalid bin Ma’dan bertasbih setiap hari 40.000 kali. Ini selain Al-Qur’an yang beliau baca. Ketika ia meninggal dunia, ia diletakkan di atas ranjangnya untuk dimandikan, maka isyarat jari yang ia gunakan untuk menghitung dzikir masih terlihat.

Ada yang bertanya pada ‘Umair bin Hani, bahwa ia tak pernah kelihatan lelah untuk berdzikir. Ketika ditanya berapa jumlah bacaan tasbih beliau, ia jawab bahwa 100.000 kali tasbih dan itu dihitung dengan jari jemari.

Dari Yusairah seorang wanita Muhajirah, dia berkata:

قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kami, ‘Hendaknya kalian bertasbih (ucapkan subhanallah), bertahlil (ucapkan laa ilaha illallah), dan bertaqdis (mensucikan Allah), dan himpunkanlah (hitunglah) dengan ujung jari jemari kalian karena itu semua akan ditanya dan diajak bicara, janganlah kalian lalai yang membuat kalian lupa dengan rahmat Allah.’” (HR. Tirmidzi, no. 3583; Abu Daud, no. 1501 dari hadits Hani bin ‘Utsman dan disahihkan oleh Adz-Dzahabi. Sanad hadits ini dikatakan hasan oleh Al-Hafizh Abu Thahir).

Keempat: Jika seseorang telah benar-benar mengenal Allah, ia akan berdzikir tanpa ada beban sama sekali.

Kelima: Berdzikir adalah kelezatan bagi orang-orang benar-benar mengenal Allah. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du: 28)

Keenam: Ada keutamaan berdzikir saat orang-orang itu lalai.

Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika hati seseorang terus berdzikir pada Allah maka ia seperti berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 524). Di sini dinyatakan lebih baik karena orang yang berdzikir di pasar berarti berdzikir di kala orang-orang lalai. Para pedagang dan konsumen tentu lebih sibuk dengan tawar menawar mereka dan jarang yang ambil peduli untuk sedikit mengingat Allah barang sejenak.

Lihatlah contoh ulama salaf. Kata Ibnu Rajab Al-Hambali setelah membawahkan perkataan Abu ‘Ubaidah di atas, beliau mengatakan bahwa sebagian salaf ada yang bersengaja ke pasar hanya untuk berdzikir di sekitar orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Ibnu Rajab pun menceritakan bahwa ada dua orang yang sempat berjumpa di pasar. Lalu salah satu dari mereka berkata, “Mari sini, mari kita mengingat Allah di saat orang-orang pada lalai dari-Nya.” Mereka pun menepi dan menjauh dari keramaian, lantas mereka pun mengingat Allah. Lalu mereka berpisah dan salah satu dari mereka meninggal dunia. Dalam mimpi, salah satunya bertemu lagi temannya. Di mimpi tersebut, temannya berkata, “Aku merasakan bahwa Allah mengampuni dosa kita di sore itu dikarenakan kita berjumpa di pasar (dan lantas mengingat Allah).” Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:524.

Ketujuh: Allah telah mewajibkan pada kaum muslimin untuk berdzikir kepada Allah pada siang dan malam dengan mengerjakan shalat lima waktu pada waktunya. Dari shalat lima waktu itu ada shalat rawatib (qabliyah dan bakdiyah), di mana shalat rawatib itu berfungsi sebagai penutup kekurangan atau sebagai tambahan dari yang wajib.

Kedelapan: Antara shalat Isya dan shalat Shubuh ada shalat malam dan shalat witir. Antara shalat Shubuh dan shalat Zhuhur ada shalat Dhuha.

Kesembilan: Dzikir dengan lisan disunnahkan setiap waktu dan ada yang dianjurkan pada waktu tertentu seperti:

  • Dzikir bakda shalat wajib.
  • Dzikir pagi dan petang pada bakda shubuh dan bakda ashar (yang tidak ada shalat sunnah setelah dua shalat tersebut).
  • Dzikir sebelum tidur, dianjurkan berwudhu sebelumnya.
  • Dzikir setelah bangun tidur.
  • Beristighfar pada waktu sahur.
  • Dzikir ketika makan, minum, dan mengambil pakaian.
  • Dzikir ketika bersin.
  • Dzikir ketika melihat yang lain terkena musibah.
  • Dzikir ketika masuk pasar.
  • Dzikir ketika mendengar suara ayam berkokok pada malam hari.
  • Dzikir ketika mendengar petir.
  • Dzikir ketika turun hujan.
  • Dzikir ketika turun musibah.
  • Dzikir ketika safar.
  • Dzikir ketika meminta perlindungan saat marah.
  • Doa istikharah kepada Allah ketika memilih sesuatu yang belum nampak kebaikannya.
  • Taubat dan istighfar atas dosa kecil dan dosa besar.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Siapa yang menjaga dzikir pada waktu-waktu tadi, dialah yang disebut orang yang rajin berdzikir kepada Allah pada setiap waktunya.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:529)

Referensi:

  1. Fath Al-Qawi Al-Matin fii Syarh Al-Arba’in wa Tatimmah Al-Khamsiin li An-Nawawi wa Ibnu Rajab rahimahumallah. Cetakan kedua, Tahun 1436 H. Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-‘Abbad Al-Badr.
  2. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  3. Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh At-Tirmidzi. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Al-Imam Al-Hafizh Abul ‘Ula Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Fayhan & Darus Salam.

Sumber https://rumaysho.com/25391-inilah-manfaat-dzikir-yang-luar-biasa-hadits-jamiul-ulum-wal-hikam-50.html

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 31 Maret 2024.

Vien AM.

Ramadhan Karim.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”,  (Terjemah QS. Al-Baqarah (2):183).

Tak terasa bulan suci Ramadhan, bulan dimana Allah swt perintahkan umat Islam agar berpuasa, telah tiba. Berpuluh tahun sudah kita menjalani bulan suci tersebut. Pertanyaannya adakah puasa kita dari tahun ke tahun ada peningkatan kwalitas? Atau sama saja? Atau bahkan lebih buruk???

KH Musthofa Bisri (Gus Mus) dalam artikel berjudul “Keistimewaan Bulan Ramadhan” menyebut puasa berasal dari bahasa Sansekerta yakni upavasa. Upa berarti dekat dan vasa/wasa berarti yang maha agung. Jadi upavasa artinya mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung.

Hampir semua agama memang mempunyai perintah berpuasa. Tapi hanya Islam yang mewajibkan umatnya berpuasa selama 1 bulan penuh yaitu di bulan Ramadhan. Bulan di mana pertama kali diturunkan ayat suci Al-Quran. Itulah ayat 1 – 5 surat Al-‘Alaq. Ayat ini adalah ayat perintah agar membaca. Menandakan betapa pentingnya membaca. Kita semua pasti tahu membaca adalah bagian terpenting dalam menuntut ilmu agar orang menjadi pandai. Uniknya dalam Islam, pandai adalah minimal mengetahui bahwa yang menciptakan manusia adalah Allah subhanallahu wa Ta’ala.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Dalam bahasa Arab, puasa adalah shaum/shiyam (shaamu – yashuumu) yang berarti menahan. Meski demikian ada perbedaan mencolok antara shaum dan shiyam. Shaum adalah menahan bicara atau berpuasa dalam arti menahan makan dan minum sedangkan shiyam menahan makan, minum, syahwat dan hal-hal yang tidak disukai Allah swt dengan niat untuk mendekatkan diri pada Allah swt. Itu sebabnya perintah berpuasa dalam ayat 183 surat Al-Baqarah di atas menggunakan kata shiyam bukan shaum.  

Ibadah puasa mempunyai keistimewaan dibandingkan dengan ibadah lain seperti sedekah, haji dan lainnya, bahkan shalat. Ini berdasarkan hadist qudsi berikut:

Setiap amal perbuatan manusia demi dirinya sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.”

Dengan demikian sungguh tinggi nilai puasa di hadapan Allh swt. Apalagi puasa Ramadhan. Untuk itu sungguh rugi orang yang memasuki bulan Ramadhan berpuasa tapi tidak secara sungguh-sungguh. Berpuasa hanya sekedar menahan lapar, haus dan syahwat.

Ramadhan adalah bulan dimana semua amal ibadah dilipat gandakan pahalanya. Ibaratnya adalah seperti toko yang mengobral barang-barang bermutu alias SALE yang biasanya diburu terutama kaum perempuan.

Maka bila obral saja diburu tidakkah Ramadhan lebih lagi?? Mari di bulan suci ini kita berlomba dalam mengerjaan ibadah, tidak hanya puasanya tapi juga dalam tilawah (membaca Al-Quran), mengkhatamkan dan menghafalnya, shalat Tarawih dan Witir, sedekah/infak, sodaqoh, dll. Jangan lupa juga untuk terus mendoakan dan membantu saudara-saudari kita di Palestina terutama Gaza yang hingga detik ini masih dalam kesulitan memenangkan pertempuran melawan Zionis Israel terkutuk.  Mari kita memulainya dengan hati yang bersih, dengan saling memaafkan.

Mari kita dekatkan diri kepada Allah Azza wa Jala agar Ia mencintai kita hingga ridho memudahkan segala urusan kita dan kelak memasukkan kita kedalam syurga-Nya yang indah memukau, dalam keadaan mata yang terbuka lebar sebagaimana Allah telah memberi kita mata yang dapat melihat di dunia. Syurga yang Rasulullah gambarkan keindahannya tidak pernah ada di dunia ini bahkan terlintaspun tidak, sebagaimana hadist berikut:

“Allah SWT berfirman: Aku telah menyiapkan  untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas di benak manusia untuk hamba-hamba-Ku yang saleh.” (HR. Muslim)

Sedangkan buta yang dimaksud dalam ayat-ayat berikut bukan mata fisik yang buta melainkan hati yang buta. Mengapa demikian?? Karena matanya tidak digunakan untuk membaca ayat-ayat suci Al-Quran yang merupakan firman Allah sebagaimana perintah-Nya di awal turunnya Al-Quranul Karim di bulan Ramadhan. Nau’udzubillah min dzalik …

Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada”. (Terjemah QS Al-Hajj (22):46).

Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).”(Terjemah QS Al-Isra’ (17):72).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 10 Maret 2024/ 29 Sya’ban 1445 H.

Vien AM.