Feeds:
Posts
Comments

Tutuplah Aib Saudaramu

( Penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah )

Sakinah Mutiara Kata 04 – Juni – 2007 10:38:02

Saudariku muslimah
Bagi kebanyakan kaum wanita ibu-ibu ataupun remaja putri bergunjing membicarakan aib cacat atau cela yang ada pada orang lain bukanlah perkara yang besar. Bahkan di mata mereka terbilang remeh ringan dan begitu gampang meluncur dari lisan. Seolah-olah obrolan tak asyik bila tidak membicarakan kekurangan orang lain. “Si Fulanah begini dan begitu”. “Si ‘Alanah orang suka ini dan itu”.

Ketika asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan diri sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata pepatah “Kuman di seberang lautan tampak gajah di pelupuk mata tiada tampak.”

Perbuatan seperti ini selain tak pantas/tak baik menurut perasaan dan akal sehat kita ternyata syariat yang mulia pun mengharamkan bahkan menekankan untuk melakukan yang sebaliknya,  yaitu menutup dan merahasiakan aib orang lain.

Ketahuilah wahai saudariku siapa yang suka menceritakan kekurangan dan kesalahan orang lain maka diri pun tak aman untuk diceritakan oleh orang lain. Seorang ulama salaf berkata “Aku mendapati orang2 yang tak memiliki cacat/cela lalu mereka membicarakan aib manusia maka manusia pun menceritakan aib-aib mereka. Aku dapati pula orang2 yang memiliki aib namun mereka menahan diri dari membicarakan aib manusia yang lain maka manusia pun melupakan aib mereka.”1

Tahukah engkau bahwa manusia itu terbagi dua:
Pertama: Seseorang yang tertutup keadaan tak pernah sedikitpun diketahui berbuat maksiat. Bila orang seperti ini tergelincir dalam kesalahan maka tak boleh menyingkap dan menceritakan karena hal itu termasuk ghibah yang diharamkan. Perbuatan demikian juga berarti menyebarkan kejelekan di kalangan orang2 yg beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ أَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِيْنَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

“Sesungguh orang2 yang menyenangi tersebar perbuatan keji2 di kalangan orang2 beriman mereka memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”

Kedua: Seorang yang terkenal suka berbuat maksiat dengan terang-terangan tanpa malu-malu tak peduli pandangan dan ucapan orang lain. maka membicarakan orang seperti ini bukanlah ghibah. Bahkan harus diterangkan keadaan kepada manusia hingga mereka berhati-hati dari kejelekannya. Karena bila orang seperti ini ditutup-tutupi kejelekan dia akan semakin bernafsu untuk berbuat kerusakan melakukan keharaman dan membuat orang lain berani untuk mengikuti perbuatannya3.

Saudariku muslimah
Engkau mungkin pernah mendengar hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فيِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ ..

“Siapa yang melepaskan dari seorang mukmin satu kesusahan yang sangat dari kesusahan dunia niscaya Allah akan melepaskan dari satu kesusahan dari kesusahan di hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memudahkan di dunia dan nanti di akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aib di dunia dan kelak di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya.”

Bila demikian engkau telah tahu keutamaan orang yang suka menutup aib saudara sesama muslim yang memang menjaga kehormatan diri, tak dikenal suka berbuat maksiat namun sebalik di tengah manusia ia dikenal sebagai orang baik-baik dan terhormat. Siapa yg menutup aib seorang muslim yang demikian keadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup aib di dunia dan kelak di akhirat.

Namun bila di sana ada kemaslahatan atau kebaikan yang hendak dituju dan bila menutup akan menambah kejelekan maka tak apa-apa bahkan wajib menyampaikan perbuatan jelek/aib/cela yang dilakukan seseorang kepada orang lain yg bisa memberi hukuman. Jika ia seorang istri mk disampaikan kepada suaminya. Jika ia seorang anak maka disampaikan kepada ayahnya. Jika ia seorang guru di sebuah sekolah maka disampaikan kepada mudir- . Demikian seterusnya.

Yang perlu diingat wahai saudariku diri kita ini penuh dengan kekurangan aib cacat dan cela. maka sibukkan diri ini untnk memeriksa dan menghitung aib sendiri niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu aib orang lain. Lagi pula orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain untnk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalas dgn membongkar aib walaupun ia berada di dlm rumahnya.

Sebagaimana disebutkan dlm hadits Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisan dan iman itu belum masuk ke dlm hatinya5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat6 mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari aurat oleh Allah niscaya Allah akan membongkar di dlm rumah .”

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan hadits yang sama ia berkata “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar lalu menyeru dgn suara yang tinggi:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ اْلإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُو الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تُعَيِّرُوْهُمْ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisan dan iman itu belum sampai ke dlm hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin janganlah menjelekkan mereka jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesema muslim Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yg dicari-cari aurat oleh Allah niscaya Allah akan membongkar walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.”

Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besar kehormatan seorang muslim. Sampai-sampai ketika suatu hari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memandang ke Ka’bah ia berkata:

مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمَ حُرْمَةً عِنْدَ اللهِ مِنْكِ

“Alangkah agung engkau dan besar kehormatanmu. Namun seorang mukmin lbh besar lagi kehormatan di sisi Allah darimu.”7
Karena itu saudariku Tutuplah cela yang ada pada dirimu dengan menutup cela yang ada pada saudaramu yang memang pantas ditutup. Dengan engkau menutup cela saudaramu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup celamu di dunia dan kelak di akhirat. Siapa yg Allah Subhanahu wa Ta’ala tutup cela di dunia di hari akhir nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan menutup cela sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَسْتُرُ اللهُ عَلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya8.”

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Jami’ul Ulum Wal Hikam .
2 Baik seseorang yg disebarkan kejelekan itu benar-benar terjatuh dlm perbuatan tersebut ataupun sekedar tuduhan yg tdk benar.
3 Jami’ul Ulum Wal Hikam Syarhul Arba’in Ibnu Daqiqil Ied Qawa’id wa Fawa`id minal Arba’in An-Nawawiyyah .
4 Syarhul Arba’in An-Nawawiyyah Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin .
5 Yakni lisan menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap di dlm hatinya.
6 Yang dimaksud dgn aurat di sini adl aib/cacat atau cela dan kejelekan. Dilarang mencari-cari kejelekan seorang muslim utk kemudian diungkapkan kepada manusia.
7 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2032
8 Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Tentang ditutup aib si hamba di hari kiamat ada dua kemungkinan. Pertama: Allah akan menutup kemaksiatan dan aib dengan tidak mengumumkan kepada orang2 yang ada di mauqif . Kedua: Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menghisab aib dan tidak menyebut aib tersebut.” Namun kata Al-Qadhi sisi yang pertama lebih nampak karen ada hadits lain.”

Hadits yang dimaksud adl hadits dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُوْلُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُوْلُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوْبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. فَيُعْطِي كِتَابَ حَسَنَاتِهِ ..

“Sesungguh Allah mendekatkan seorang mukmin lalu Allah meletakkan tabir dan menutupi si mukmin . Allah berfirman ‘Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau lakukan? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulu di dunia engkau kerjakan?’ Si mukmin menjawab: ‘Iya hamba tahu wahai Rabbku .’ Hingga ketika si mukmin ini telah mengakui dosa-dosa dan ia memandang diri akan binasa karena dosa-dosa tersebut Allah memberi kabar gembira padanya: ‘Ketika di dunia Aku menutupi dosa-dosamu ini dan pada hari ini Aku ampuni dosa-dosamu itu.’ Lalu diberikanlah pada catatan kebaikan-kebaikannya”

Sumber: http://www.asysyariah.com

Paris, 14 Maret 2011.

Vien AM.

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. )”.(QS.Al-Fath(48):27).

Berdasarkan mimpi bahwa Rasulullah akan memasuki Masjidil Haram, maka pada suatu hari di bulan Dzulqa’idah tahun ke 6 H, Rasulullah mengumumkan keinginan beliau untuk  menunaikan ibadah umrah. Pengumuman ini langsung disambut antusias oleh sekitar 1400 sahabat Anshar dan Muhajirin.  Dengan mengenakan kain ihram serta membawa sejumlah binatang kurban ( al-hadyu) maka berangkatlah rombongan besar ini menuju Mekah yang ketika itu masih berada dibawah kekuasaan kaum Musryik Quraisy.

Setiba di Dzul Hulaifah, Rasulullah saw mengutus seseorang untuk mengintai keadaan kota Mekah. Rasulullah juga mengutus Ustman bin Affan ra pergi ke kota tersebut untuk mengabarkan kedatangan rombongan kepada kaum Muslimin yang ada di Mekah. Semula Rasulullah menginginkan  Umar bin Khattab ra yang melakukan tugas tersebut. Namun karena Umar mempunyai hubungan yang kurang baik dengan keluarga besarnya akhirnya Ustman yang diutus.

Sementara itu Rasulullah dan rombongan terus berjalan perlahan meneruskan perjalanan. Hingga di suatu tempat utusan pengintai tadi kembali dan melaporkan bahwa orang-orang Quraisy telah menyiapkan bala tentara untuk memerangi dan mencegah kaum Muslimin memasuki Mekah dan thawaf di Baitullah.

“ Bagaimana pendapat kalian”, tanya Rasulullah begitu menerima laporan tersebut.

“ Wahai Rasulullah, engkau keluar untuk maksud ziarah ke Baitullah bukan untuk membunuh atau memerangi seseorang. Berangkatlah terus ! Jika ada orang yang menghalangi, kita akan memeranginya”, jawab Abu Bakar ra.

Berangkatlah dengan nama Allah”, sambut Rasulullah.

Lalu Rasulullah dan rombonganpun melanjutkan perjalanan. Namun untuk menghalangi hal-hal yang tidak diinginkan Rasulullah menunjuk salah seorang sahabat yang menguasai jalan pintas yang tidak biasa digunakan umum agar memimpin didepan.

Maka jadilah rombongan ini menyusuri jalan terjal, naik-turun lereng-lereng berbatu tajam. Hingga di suatu tempat di sebuah jalan ke arah Hudaibiyah, unta Rasulullah tiba-tiba berhenti dan tidak mau berjalan. Para sahabat terperanjat. “ Si Qushwa mogok”, seru mereka.

Rasulullah saw menyahut, “ Ia tidak mogok. Ia tidak berwatak demikian. Ia dihentikan oleh Allah swt seperti dahulu Allah menghentikan pasukan gajah. Demi Allah jika mereka memintaku suatu langkah (persyaratan) yang akan menghormati Tanah Haram, pasti akan aku kabulkan”.

Selanjutnya Rasulullah mengarahkan untanya untuk mundur dan berhenti di ujung Hudaibiyah. Para sahabat kemudian turun dan minum serta berwudhu di sebuah parit yang tidak begitu banyak airnya hingga akhirnya kering sama sekali. Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa setelah mendengar pengaduan para sahabat bahwa mereka kehabisan air, Rasulullah kemudian menancapkan sebatang anak panah di parit tersebut. Maka tak lama kemudian paritpun terisi air kembali. Para sahabat lalu berebutan menggunakan sumber air tersebut untuk berbagai keperluan.

Dalam suasana demikian inilah tiba-tiba datang seorang utusan Quraisy. Ia menyatakan bahwa pasukan Quraisy sedang dalam perjalanan untuk mengusir Rasulullah dan rombongan. Dengan tenang Rasulullah menjawab, “ Kami datang hanya untuk melaksanakan umrah. Sekalipun orang-orang Quraisy telah memutuskan untuk berperang, tetapi jika mereka suka, aku minta untuk menangguhkannya. Jika mereka enggan, demi Allah, aku siap memerangi mereka sampai orang-orang yang ada di belakangku tinggal sendirian. Dan Allah pasti akan menyelesaikan urusan-Nya”.

Utusan tersebut kemudian kembali ke kaumnya dan melaporkan apa yang dikatakan Rasulullah. Sementara itu Ustman bin Affan yang sebelumnya diutus ke Mekah tidak juga kunjung kembali. Berita yang sampai ke telinga Rasulullah, Ustman telah dibunuh oleh Quraisy !.

Maka Rasulpun bersabda “ Kami tidak akan tinggal diam hingga kami berhasil menumpas kaum Quraisy”.

Kemudian Rasulullah segera mengumpulkan para sahabat dan mengajak mereka berbaiat. Berbait kepada Rasulullah untuk tidak lari meninggalkan medan perang. Baiat ini berlangsung di bawah sebuah pohon dan kemudian dikenal sebagai Baiat Ridwan. Dalam kesempatan itu, Rasulullah mengambil tangan para sahabat satu bersatu sambil berkata : «  Pembaitan ini untuk Ustman ».

Namun tak berapa lama kemudian ternyata Ustman kembali dalam keadaan aman. Rupanya beberapa orang Quraisy sempat menahannya beberapa hari tetapi kemudian melepaskannya kembali. Betapa leganya Rasulullah mengetahui hal tersebut.

Selanjutnya dengan utusan Quraisy yang melaporkan hasil pertemuannya dengan Rasulullah. Setelah berembug, mereka kembali mengutus seseorang untuk menemui Rasulullah. Di tempat ini, Urwah bin Mas’ud, utusan kedua Quraisy, mendapati betapa para sahabat menghormati sang pimpinan, Rasulullah Muhammad saw.

“ Wahai kaum. Demi Allah, aku pernah menjadi tamu para raja, kaisar, kisra dan najasi. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja yang diagungkan oleh pengikutnya sebagaimana penghormatan yang dilakukan oleh para pengikut Muhammad. Sesungguhnya, dia telah menawarkan suatu langkah yang baik buat kalian. Karena itu, terimalah!”, demikian ucap Urwah, melaporkan hasil pertemuannya dengan Rasulullah kepada para pembesar Quraisy.

Langkah selanjutnya, para pemuka Quraisy memutuskan mengutus Suhail bin Amr sebagai wakil mereka untuk membuat perjanjian dengan kaum Muslimin. Sementara Rasulullah menunjuk Ali bin Abu Thalib ra sebagai juri tulis perjanijian yang di kemudian hari dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah ini.

“ Silahkan”, kata Suhail, “ Tuliskan suatu perjanjian antara kami dan kalian”.

“ Tulislah Bismilahir rahmanir rahim”, sabda Rasulullah kepada Ali.

“ Demi Allah, kami tidak tahu apa itu ‘ar-Rahman’. Tulislah Bismikallahumma », tukas Suhail.

« Demi Allah, kami tidak mau menulis kecuali  Bismilahir rahmanir rahim”, kaum Muslimin berkata.

«Tulislah Bismikallahumma. Ini adalah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasul Allah », sabda Rasul lagi.

Mendengar ini Suhail sontak menolak, «  Demi Allah, seandainya kami mengakui bahwa engkau adalah Rasul Allah, niscaya kami tidak menahanmu untuk datang ke Baitullah dan memerangimu. Tulislah Muhammad bin Abdullah ».

Rasul kembali mengalah, «  Demi Allah, aku adalah Rasul Allah sekalipun kalian mendustakanku ! Tulislah Muhammad bin Abdullah ».

Di dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa nabi saw memerintahkan Ali agar menghapuskannya lalu Ali berkata, «  Demi Allah, aku tidak akan menghapusnya ». Rasulullah lalu bersabda, «  Tunjukkan kepadaku mana tempatnya ». Ali lalu menunjukkan dan Rasulullahpun menghapusnya sendiri.

Selanjutnya Rasulullah bersabda kepada Suhail, «  Kalian harus membiarkan kami melaksanakan thawaf di Baitullah ». Namun Suhail menjawab, « Demi  Allah supaya orang-orang tidak mengatakan bahwa kami mendapat tekanan dari kalian … engkau boleh thawaf tahun depan namun tidak boleh membawa senjata kecuali pedang dalam sarungnya ».

Selanjutnya utusan Quraisy tersebut juga mensyaratkan bahwa jika ada anggota keluarga Quraisy yang masuk Islam kemudian lari dan meminta perlindungan Madinah, mereka harus dikembalikan kepada kaumnya. Sebaliknya bila ada kaum Muslimin yang lari dari Madinah dan meminta perlindungan Makkah, mereka tidak harus dikembalikan.

«  Subhanallah, bagaimana mungkin seseorang yang telah beriman akan dikembalikan kepada kaum Musyrikin ? », protes para sahabat. «  Apakah kita akan menulis butir ini, wahai Rasulullah ? »

« Ya, sesungguhnya siapa saja diantara kita yang pergi kepada mereka maka semoga Allah menjauhkannya dan barangsiapa diantara mereka datang kepada kita maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya », jawab Rasulullah saw.

Itulah sebagian dari isi perjanjian perdamaian Hudaibiyah. Perjanjian ini berlaku untuk 10 tahun. Selama itu tidak boleh terjadi peperangan antara ke dua belah pihak. Masing-masing pihak boleh memilih dan mempunyai sekutu. Maka suku Khuza’ahpun mengumumkan persekutuannya dengan kaum Muslimin. Sedangkan bani Bakar memilih bersekutu dengan kaum Quraisy.

Dalam perjanjian Hudaibiyah tersebut juga dituliskan bahwa ketika kaum Muslimin berthawaf tahun depan nanti, kaum Musyrikin tidak diperbolehkan mengganggu. Mereka akan pergi ke lereng-lereng gunung,menyaksikan dari kejauhan.

Namun demikian, sebagian besar sahabat tetap merasa kecewa terhadap isi perjanjian yang dianggap merendahkan umat Islam yang dirasa mulai menguat itu. Umar bin Khattab ra adalah satu diantaranya.

“ Bukankah engkau Nabi Allah?” tanya Umar.

“ Ya, benar”, jawab Rasul.

“ Bukankah orang-orang kita yang terbunuh akan masuk surga dan orang-orang yang mereka bunuh akan masuk neraka?” tanya Umar lagi.

“ Ya, benar”, jawab Rasul tenang.

«  Lalu, mengapa kita menyetujui agama kita direndahkan ? », tanya Umar bertambah penasaran.

“Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah. Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia pasti akan membelaku”, jawab Rasul sabar.

«  Bukankah engkau telah menjanjikan bahwa kita akan datang ke Baitullah untuk melakukan thawaf ? », cecar Umar.

« Ya, benar. Tetapi apakah aku mengatakan bahwa engkau akan datang ke sana tahun ini ? Engkau pasti akan datang dan thawaf di Baitullah », tegas Rasul.

Umar tetap bimbang. Maka iapun mendatangi Abu Bakar ra. Namun Abu Bakar menjawab pertanyaan Umar persis seperti apa yang dikatakan Rasulullah.

Rasulullah tidak akan menyalahi perintah Rabbnya dan Allahpun tidak akan membiarkannya”, jawab Abu Bakar.

Tak lama kemudian Rasulullah memanggil Umar dan membacakan ayat yang baru saja diturunkan-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni`mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)”.(QS.Al-Fath(48):1-3).

Ya, perjanjian Hudaibiyah sebenarnya adalah sebuah kemenangan besar bagi umat Islam. Ini adalah pengakuan pertama Quraisy terhadap keberadaan kaum Muslimin. Allah, Yang Maha Cerdas dan Maha Teliti  yang menuntun Rasulullah agar bertindak demikian. Ini adalah cara Allah mempersiapkan pembukaan pintu Mekah agar Islam dapat masuk tanpa perang, secara damai dan merasuk ke dalam hati sanubari semua penduduk Mekah yang lama dalam keadaan kesyirikannya.

Di kemudian hari Umar berkata, “ Aku terus berpuasa, shalat, bersedekah dan membebaskan budak ( sebagai karafat) dari apa yang pernah aku lakukan karena takut akan ucapan yang pernah aku lontarkan pada hari itu”.

Namun demikian kekecewaan sebagian besar sahabat yang belum dapat menerima bahwa perjanjiian tersebut sebenarnya adalah kemenangan tetap masih terlihat. Karena ketika Rasulullah memerintahkan agar mereka bercukur dan menyembelih hewan kurban yang mereka bawa sebagai tanda selesainya umrah, tidak mereka indahkan.

Akhirnya Rasulullah, atas usul Ummu Salamah, umirul Mukminin yang ketika itu menyertai Rasulullah,  tanpa banyak kata, langsung bercukur dan menyembelih kurban yang dibawanya. Maka para sahabatpun, tanpa kecuali, langsung mengikuti apa yang diperbuat Rasulullah. ( Baca juga : https://vienmuhadi.com/2009/03/16/keteladanan-rasulullah-saw-dalam-memperlakukan-perempuan/ ).

Setahun kemudian yaitu pada bulan Dzulqai’dah tahun ke 7 H, Allah swt memenuhi janji-Nya. Rasulullah beserta 2000 umat Islam memasuki Mekah dan melaksanakan umrah.  Seluruh sahabat yang ikut dalam perjanjian Hudaibiyah tak satupun yang tertinggal kecuali yang wafat dalam perang Khaibar sekembali dari perjanjian tersebut.

” Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang hari ini menyaksikan kekuatan yang datang dari hadirat-Nya”, begitu bunyi doa Rasulullah ketika tawaf sambil mengangkat tangan kanannya.  Kemudian mencium hajar aswad lalu berjalan cepat sambil mengelilingi Ka’bah.

Sebelumnya Rasulullah dan para sahabat memang sempat khawatir bahwa kedatangan mereka kali inipun akan tetap dihalangi orang-orang Quraisy. Namun Allah swt segera menurunkan ayat-ayat yang isinya  mengizinkan Rasulullah memerangi orang-orang tersebut meski di tanah Mekah sekalipun. Karena menghalangi seseorang menjalankan ibadah sama dengan menyebar fitnah.

” Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.(QS.Al-Baqarah(2):191-192).

Dan atas tekad kuat kaum Muslimin, Allah swt memberikan ridho-Nya hingga Rasulullah dan para sahabat dapat menjalankan ibadah tersebut tanpa hambatan. Tampak bahwa Allah telah memasukkan rasa gentar dan takut kepada orang-orang Quraisy untuk mengganggu kedatangan kaum Muslimin.

(Bersambung)

Paris, 7 Maret 2011.

Vien AM.

Kubah, menara, mihrab dan mimbar adalah 4 hal yang umumnya menjadi tanda sebuah masjid. Meski sebenarnya bukan menjadi keharusan. Sebaliknya patung dan gambar mahluk hidup haram hukumnya. Itu sebabnya ketika Rasulullah memasuki Ka’bah setelah penaklukan Makkah ( Fathu’ Makkah) hal pertama yang dilakukan Rasulullah adalah menurunkan patung-patung dan menghapus gambar-gambar yang ada didalam bangunan kubus tersebut.

masjd Ali Pasha, Kairo

masjd Ali Pasha, Kairo

Pada masa kejayaan Islam, masjid tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Saking banyaknya masjid di kota Kairo yang ditaklukan pada tahun 640 M, kota ini memperoleh gelar negri 1000 menara. Begitu juga kota-kota di Andalusia Spanyol yang selama 7 abad memang pernah berada di bawah kekuasaan Islam. Masjid dan madrasah terlihat dimana-mana. Bahkan hingga kini bila kita berkendaraan di wilayah tersebut menara-menara tua bekas masjid masih terlihat dari kejauhan.

Katedral Jerez, Spanyol

Katedral Jerez, Spanyol

IMG_9466

Katedral Palermo, Sisilia

IMG_3808

Katedral Malaga – Spanyol

Peninggalan masjid dan madrasah di Spanyol hingga kini masih bisa disaksikan. Sejumlah katedral  seperti katedral di Sevilla, Cordoba, Granada, Toledo, Malaga dan  Saragosa adalah bekas masjid yang sudah direnovasi sedemikan rupa. Demikian pula katedral-katedral di Sisilia, Italia. Bahkan mihrabnyapun di sebagian kecil gereja-geraja tersebut masih ada yang dipertahankan.

( Baca https://vienmuhadi.com/2009/11/10/menilik-jejak-islam-di-eropa-2-andalusia/

marbella-mosque-king-abdul-aziz-21860387

Masjid Marbella – Spanyol

Sayang ketika berada Andalusia Spanyol, kami tidak sempat mengunjungi masjid cantik King Abdul Aziz, nama lain masjid Marbella, yang dibangun megah di perbukitan kota pantai  Marbella itu.

2009-11-Granada Alhambra_27

Mezquita Del Cristo De La Luz, Toledo, Spain

Mezquita Del Cristo De La Luz, Toledo, Spain

Alhambra5Selain ke 4 hal diatas, kaligrafi yang menjadi ciri khas masjid juga bisa dijadikan tanda bahwa sebuah bangunan tadinya adalah masjid. Pada masa itu masjid-masjid selain jamaahnya membludak juga indah. Masjid besar selain dilengkapi dengan madrasah lengkap plus perpustakaannya dan pasar yang tidak seberapa jauh, biasanya juga diperindah dengan taman dengan air mancur air mancurnya.

Sebaliknya ada hadist yang mengatakan bila masjid hanya diperindah dan orang berlomba membangun masjid namun tidak meramaikannya ( tidak menggunakannya untuk shalat dan kegiatan keagamaan lainnya) maka itu adalah salah satu tanda datangnya hari Kiamat.

HR.Khamsah, kecuali Imam Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari jalan Anas ra. dari Nabi saw. “Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum orang-orang saling berbangga diri dengan masjid-masjidnya”.

Di negri kita tercinta, Indonesia, tampaknya tanda-tanda tersebut mulai terlihat. Orang-orang kaya  berlomba membangun masjid yang bagus dan indah namun tidak banyak orang yang mengerjakan shalat di dalamnya.

Masjid Milan, Italia

Masjid Milan, Italia

Masjid di Moskow, Rusia

Masjid di Moskow, Rusia

Masjid Madrid, Spanyol

Masjid Madrid, Spanyol

masjid di London

masjid di London

Masjid Petersburg, Rusia

Masjid Petersburg, Rusia

Kazan Mosque, Rusia

Kazan Mosque, Rusia

Terbalik dengan apa yang terjadi di benua Eropa. Masjid di daratan Eropa yang lumayan indah bisa dihitung dengan jari. Tetapi ini harus kita syukuri. Karena sungguh tidak mudah membangun rumah ibadah bagi umat Islam di benua ini. Apalagi pasca tragedi September 2001. Sejak beberapa tahun lalu Swis, negara yang dikenal dengan sebutan Euro Islam ini, melarang pembangunan menara masjid. Hal ini kemudian menjalar ke negara-negara tetangga seperti Jerman, Belanda, Belgia dan Italia.

Masjid di Roterdam

Masjid di Roterdam

Kubah Masjid Biru Istanbul, Turki

Kubah Masjid Biru Istanbul, Turki

Masjid di Kehl, Jerman

Masjid di Kehl, Jerman

Masjid Roterdam

Masjid Roterdam

Kubah masjid Jenewa

Kubah masjid Jenewa

Namun demikian, di Roterdam Belanda pada tahun 2012 dan dua masjid besar yang ada di Jenewa dan Zurich, dua kota terbesar di Swis, memiliki menara yang lumayan tinggi. Bahkan kabarnya negara yang luasnya hanya 1\3 pulau Jawa ini memiliki ratusan masjid meski hanya majid-masjid kecil. ( atau mungkin hanya mushola ??).

Mosque de ParisSementara itu Muslim di Perancis pantas bersyukur karena di Paris berdiri dengan megahnya sebuah masjid, yaitu Grande Mosquee de Paris. Masjid dengan menara setinggi 33 meter ini berdiri setelah melewati perjuangan panjang seorang diplomat Maroko kelahiran Andalusia. Masjid yang terletak dipusat kota ini akhirnya dapat berdiri dengan tegak  pada tahun 1926 M, 20 tahun setelah peletakkan batu pertamanya.

Masjid ini didirikan sebagai tanda terima kasih atas pengorbanan 70.000 tentara Muslim ( sebagian besar keturunan Aljazair, Tunis dan Maroko di Afrika Utara) yang berperang untuk Perancis. Untuk diingat, Paris ketiga negara tersebut adalah Negara bekas jajahan Perancis. Sebagai catatan, pada PD II, masjid Agung Paris ini pernah digunakan sebagai tempat pengungsian rahasia dan perlindungan bagi warga Yahudi yang dikejar pasukan Jerman. Dari masjid ini pulalah dikeluarkan puluhan, bahkan ratusan surat tanda lahir muslim palsu untuk melindungi anak-anak Yahudi dari kematian akibat ditangkap Jerman untuk dibawa ke kamp konsentrasi.

IMG_4702

IMG_4694IMG_1153IMG_1155IMG_1154cropmosque de parisMasjid Agung Paris memiliki arsitektur gaya Maure-Hispano, gaya Muslim Spanyol. Masjid Karaiyun Fez di Maroko yang menjadi inspirasi masjid ini. Seperti juga masjid-masjid di Andalusia dan istana Alhambra di Granda, Spanyol, taman dengan sejumlah air mancurnya menghiasi masjid ini.

IMG_4695IMG_4704IMG_4694IMG_4690Saat ini meski masjid terlihat kurang terawat karena kekurangan dana ( itu sebabnya, belakangan ini masjid dibuka untuk turis. Dengan biaya 3 euro para turis bisa berkeliling melihat-lihat masjid) masjid masih digunakan secara aktif. Bahkan pada waktu shalat Jumat kaum Muslimin harus berdesak-desakan mencari tempat. Tidak saja jamaah lelakinya namun juga jamaah perempuannya. Masjid ini juga dilengkapi dengan madrasah, perpustakaan, hamam dan restoran.

IMG_4696IMG_4700Suatu ketika, ba’da shalat Jumat, seorang gadis ber-abaya hitam menghampiri saya. Rupanya ia penasaran dengan Al-Quran yang saya baca. Ia menanyakan mengapa Al-Quran saya banyak keterangan-keterangannya. Kebetulan saya hari itu memang membawa Al-Quran dimana tertulis Asbabun- nuzul ayat. Ia juga terheran-heran ketika saya terangkan bahwa kalimat yang ada di bawah setiap kata itu bukan cara membacanya namun artinya.

“ Jadi anda bisa membaca huruf-huruf Arab tersebut?”, tanyanya terheran-heran. Saya katakan bahwa rata-rata Muslim Indonesia bisa membaca Al-Quran walaupun tidak tahu artinya. Dalam hati, saya berkata, malu juga hati ini .. masak bertahun-tahun shalat minimal 5 kali sehari dan mengaji namun tidak juga faham artinya … 😦  ..

Namun lebih lucu lagi, gadis keturunan Tunisia kelahiran Paris itu berkata bahwa ia dan rata-rata teman Muslim Arabnya malah tidak bisa membaca huruf-huruf Al-Quran! Ia membaca Al-Quran berkat bantuan tulisan latin dibawahnya. Olala ..

Tetapi ia bersyukur, beberapa tahun belakangan ini Mosquee de Paris membuka kursus tajwid. Juga kursus agama dan bahasa Arab. Setiap Sabtu sekarang ia mengikuti berbagai ilmu agama di masjid tersebut. “ Gratis pula .. “, katanya senang. Ia menambahkan dari hari ke hari makin banyak saja orang Perancis yang tertarik dengan ajaran Islam. Allahuakbar ..

Berikut beberapa masjid lumayan besar kota-kota utama Perancis yang berhasil kami tandangi.

Mosque de Bordeaux

Mosque de Bordeaux

Mosque de Pau - France

Mosque de Pau – France

Masjid Genevilliers, Perancis

Masjid Genevilliers, Perancis

Masjid di Evry Courcouronnes Paris

Masjid di Evry Courcouronnes Paris

IMG_1992

Masjid Strassbourg (2012)

Masjid Strassbourg (2012)

Masjid Lille, Perancis

Masjid Lille, Perancis

Sebenarnya Grande Mosquee de Paris bukan satu-satunya masjid di Paris. Melalui http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_mosques_in_Europe saya menemukan bahwa masjid di Paris bahkan Perancis dan Eropa ini cukup banyak.  Namun ketika kami berjalan-jalan dan mencoba mencari lokasi masjid, dengan bantuan GPS, sesuai list tersebut, ternyata kami sulit menemukannya. Karena ternyata sebagian besar masjid itu hanya masjid kecil yang letaknya amat terpencil dan seringkali tidak terlihat dari luar. Bahkan tulisan dan tanda-tandanyapun tidak ada. Kita baru bisa menemukannya bila kebetulan berpapasan dengan Muslim lain,menanyakannya, dan sangat beruntung bila ia mengetahuinya !

Begitupun masjid dimana suami saya selalu melakukan shalat. Masjid ini adalah bangunan apartemen 3 lantai milik Mulim yang diwakafkan.  Karena tidak memadai akhirnya shalat Jumat terpaksa dilaksanakan dua kali. Bahkan dibeberapa tempat dan kota( seperti Marseilles dimana jumlah Muslim dikabarkan amat banyak)  sejumlah Muslim terpaksa melaksanakan shalat Jumat di jalan-jalan. Hal inilah yang hingga detik ini menjadi pemicu debat berkepanjangan di parlemen. Hampir setiap hari televisi menyiarkan berita dan debat mengenai Islam, mengenai penting tidaknya pemerintah mendirikan masjid dll.

Saya pikir, ‘ Inikah yang disebut tipu daya Allah? “. Tujuan mereka ingin menjelekkan dan menjauhkan masyarakat yang makin lama makin tertarik dengan ajaran Islam. Namun nyatanya dengan sering munculnya perdebatan mengenai Islam justru makin banyak lagi orang Perancis yang memeluk Islam! Tidak hanya di Perancis tetapi juga di Inggris, Belanda dan negara-negara Eropa lainnya.

« Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya ».(QS. Ali Imran (3) :54).

Majid Toulouse, Perancis

Majid Toulouse, Perancis

Masjid Lyon, Perancis

Masjid Lyon, Perancis

Lain lagi dengan masjid di Toulouse, Perancis Selatan. Masjid yang nyaris siap pakai tersebut di protes masyarakat sekitar. Padahal masjid tersebut sengaja di bangun di lokasi yang tidak jauh dari masjid lama yang kecil dan terpencil.

Kabar terakhir dari Marseilles. Yves Moraine, pemimpin partai berkuasa UMP seperti dikutip BBC belum lama ini menerangkan bahwa lebih baik memberi tempat berkumpul ( maksudnya masjid ) yang terbuka dan terlihat secara jelas kepada kaum Muslimin dari pada mereka harus diam-diam berkumpul dan membicarakan serta merencanakan sesuatu ( maksudnya terorisme) di gudang-gudang atau apartemen lusuh. Karena, masih menurutnya, pemerintah akan lebih mudah mengawasi gerak-gerik kaum Muslimin. ( Baca : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/07/13/124461-muslim-marseille-menyulap-katredal-menjadi-masjid ).

IMG_0420

Masjid di Dublin, Irlandia

Untuk itu, Notre Dame de la Garde, katedral yang berdiri di atas ketinggian Marseille, kabarmya akan dihibahkan untuk  umat Islam. Katedral yang memiliki corak bergaris hitam putih mirip masjid ini memang terlihat kurang terawat karena lama ditinggalkan umatnya. Sejarah mencatat, betapa banyaknya gereja tua di Eropa yang tak terawat akhirnya dibeli oleh kaum Muslimin kemudian dijadikan masjid. Masjid di Dublin Irlandia adalah salah satu contohnya. Subhanallah …

Bila hal ini benar-benar terlaksana masjid agung Marseille ini bakal mampu menampung 7000 jamaah. Dengan demikian masjid yang rencananya akan dilengkapi perpustakaan raksasa ini bakal menjadi masjid terbesar di seantero Perancis.

Namun banyak pihak yang menentang rencana ini. Politikus kawakan Marie Le Pen dan putrinya Marine Le Pen yang dikenal sangat anti Islam tentu saja yang paling merasa jengkel bagai kebakaran jenggot.

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci”.(QS.Ash-Shaf(61):8)

Tampaknya saudara-saudara Muslim kita di Perancis masih harus bersabar menanti Islam menjadi tuan rumah di negri Sarkozi ini. Agar pemerintah segera mengizinkan warga Muslimnya memiliki rumah sendiri, yaitu masjid. Bersabar agar dapat kembali ke habitat sebagaimana ikan bersabar menanti dimasukkan kembali ke lautan atau keburu menggelepar kehabisan oksigen ..  Apalagi, jajak pendapat terakhir mengatakan bahwa Marine Le Pen berhasil mengungguli sang presiden berkuasa !

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 2 Maret 2011.

Vien AM.

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat.  Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”.(QS. An-Nur(24):36-37).

Itulah masjid, tempat yang dimuliakan dimana didalamnya para hamba yang takwa menyebut-nyebut nama-Nya, meng-agung-kan-Nya.

Masjid bagi umat Islam bukanlah sekedar lambang atau tempat suci untuk mengerjakan shalat. Namun juga tempat untuk mengerjakan segala sesuatu yang sifatnya demi mengagungkan dan membesarkan Sang Khalik, Allah  azza wa jalla. Meski tanpa itu semuapun Allah swt tetap dalam ke-Agung-an dan ke-Besar-an-Nya.

Masjid adalah rumah yang paling mulia. Tempat ini merupakan tempat paling baik bagi umat Islam untuk berkumpul melaksanakan shalat, membaca ayat-ayat suci Al-Quran, memahami dan mengkajinya.  Dengan berkumpul di masjid minimal 5 kali sehari, tua muda, kaya miskin dan apapun kebangsaan serta warna kulitnya akan terbentuk ikatan persaudaraan yang kuat dengan landasan cinta dan patuh hanya kepada-Nya.

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat”.

Masjid adalah tempat terbaik untuk berdoa dan mendirikan shalat, baik shalat sendiri apalagi shalat jamaah. Di dalam masjid inilah diharapkan terbangun ukhuwah dan mahabbah antar sesama kaum Muslimin. Dan semua ini diikat karena ketaatan dan kecintaan kepada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla Yang Esa.

Maka adalah wajar bila umat Islam dimanapun berada, sampai kapanpun, akan selalu memerlukan keberadaan masjid. Perumpamaan kaum Muslimin dengan masjidnya adalah laksana ikan di dalam lautan. Ia akan mati bila harus dikeluarkan dari habitat aslinya.

Masjid-Quba

Masjid Quba

Itu sebabnya hal pertama yang dibangun begitu Rasulullah hijrah ke Madinah adalah membangun masjid. Masjid tersebut adalah masjid Quba yang terletak 5 km di sebelah tenggara Madinah. Masjid ini dibangun pada tahun 1 H atau tahun 622 M, hanya beberapa saat sebelum memasuki Madinah.

Rumah ibadah tersebut amat sangat sederhana. Bahkan pembangunannyapun hanya dalam hitungan hari. Karena bangunan masjid memang tidak rumit. Tidak perlu hiasan, lukisan dan sebagainya. Dari sini jelas terlihat betapa penting dan tingginya kedudukan masjid itu.

« … Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”.(QS.At-Taubah(9) :108).

Masjid Quba yang kita lihat saat ini telah berubah jauh dari awal pembangunannya. Masjid ini setiap hari selalu ramai dikunjungi jamaah yang melakukan ibadah haji maupun umrah. Meski demikian berdasarkan hadist dibawah ini, masjid Quba bukan termasuk ke dalam 3 masjid yang memiliki ke-utama-an  bagi umat Islam.

Dari Abu Ad-Darda’ ra, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat daripada sholat di masjid-masjid lainnya. Sholat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali lipat. Dan sholat di Masjidil Aqsa lebih utama lima ratus kali lipat.” (HR Ahmad).

1. Masjidil Haram.

Masjidil Haram.png_thumbMasjidil Haram di Mekah adalah rumah ibadah di dunia  yang pertama kali didirikan. Dasar Rumah ibadah ini sudah ada sejak zaman nabi Adam as. Nabi Ibrahim as dibantu putranya nabi Ismail as meneruskan pendiriannya beberapa ratus kemudian ( atau ribu tahun ?? ) karena adanya perintah dari Sang Pemilik, Allah swt.

“ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS.Al-Baqarah(2):127).

sai 2011

Sa’i

Masjidil Haram Desember 2015P1010016Keutamaan masjid ini adalah karena adanya Ka’bah di dalam masjid tersebut. Di masjid inilah setiap tahun pada bulan Zulhjjah umat Islam melaksanakan ibadah haji. Sementara setiap waktu umat Islam datang membanjiri bait Allah ini untuk melaksanakan ibadah umrah.

Masjid ini pertama kali diperluas pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, yaitu pada tahun 17 H atau 639 M. Saat ini Masjidil Haram yang mempunyai luas 328.000  meter persegi dapat menampung 730.000 jamaah dalam satu waktu sholat berjamaah. Pada musim haji pemerintah Arab Saudi mampu menerima lebih dari 1.5 juta tamu Allah belum termasuk jamaah tuan rumah. Indonesia sendiri tahun ini dikabarkan mendapat tambahan kuota haji sebesar 10 ribu hingga totalnya mencapai 211 ribu jamaah.

2. Masjid Nabawi.

masjid-nabawi

Masjid Nabawi didirikan begitu Rasulullah usai mendirikan masjid Quba dan shalat di dalam masjid tersebut. Dari Quba beliau saw segera meneruskan perjalanan. Di ambang pintu Madinah ( dulu Yatsrib), dimana penduduk kota mengelu-elukan kedatangan sang utusan, Rasulullah membiarkan untanya berjalan sendiri tanpa kendali hingga akhirnya berhenti di suatu tempat. Tempat itu adalah tanah milik dua anak yatim piatu. Ini adalah petunjuk dan kehendak Allah swt. Rasulullah kemudian membeli tanah tersebut dan menjadikannya masjid. Itulah masjid Nabawi atau masjid Nabi.

Nabawi1 (2)Di dalam masjid ini terdapat makam nabi yang dinamakan Raudhah yang artinya taman surga. Raudhah dapat dengan mudah dikenali dengan melihat kubah hijau yang terletak di bagian selatan masjid, disamping mimbar dimana imam biasa memimpin shalat.

Pada awal pendiriannya masjid ini hanya berukuran sekitar 50 m × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m. Dindingnya terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka. Rasulullah saw turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para sahabat dan kaum muslimin.

Rasulullah dan keluarga mendiami salah satu sisi masjid sederhana ini. Sementara sejumlah fakir miskin yang tidak memiliki rumah menempati salah satu bagian lain. Masjid juga merangkap madrasah yaitu tempat belajar. Didalam masjid inilah para sahabat selalu berkumpul. Dari kegiatan ibadah seperti shalat, mengkaji ayat-ayat, memotong kurban, membicarakan masalah keseharian penduduk hingga membahas strategi perang.

Islam adalah pandangan hidup, way of life. Karenanya tidak ada pemisahan antara kehidupan spiritual dengan kehidupan sosial dan politik. Semua menjadi suatu kesatuan. Kehidupan dunia bagi umat Islam adalah karena-Nya dan untuk-Nya.

Selama beberapa waktu masjid Nabawi tetap dalam keadaan demikian hingga akhirnya direnovasi dan diperluas untuk pertama kalinya pada masa kekhalifahn Umar bin Khattab pada tahun 17 H. Saat ini masjid memiliki luas hampir 100.000 m², belum termasuk lantai atas yang mempunyai luas 67.000 m². Masjid Nabawi saat ini dapat menampung sekitar 535.000 jemaah setiap harinya.

Barangsiapa mendatangi masjidku ini dan ia tidak mendatanginya melainkan  untuk mempelajari suatu kebaikan dan mengajarkannya maka kedudukannya laksana pejuang fi sabilillah. Namun barangsiapa datang bukan dengan tujuan tersebut maka ia seperti orang yang melihat harta orang lain”. (HR Bukhari).

3. Masjidil Aqsho.

Selanjutnya adalah Masjidil Aqsho. Masjid ini adalah kiblat pertama umat Islam sebelum dipindahkan ke Makah.

“ … Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. … “(QS.Al-Baqarah(2):143).

Dari Al-Barra’ bin Azib ra, ia berkata, “Kami sholat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, kemudian beliau mengalihkan arah ke kiblat (di Mekkah).” (HR Bukhari dan Muslim).

Masjid As-Saqrah

Bagian dalam kubah As-Sakrah sedang di renovasi

Bagian dalam kubah As-Saqrah yg sedang di renovasi

kubah masjidil Aqsho

Masjidil Aqsho

 Masjid suci ke 3 setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ini terletak di Yerusalem Timur. Masjidil Aqsho terletak di dalam sebuah kawasan yang dinamakan Haram al Quds al Syarif. Di dalam  kawasan ini berdiri 2 masjid, yaitu Masjidil Aqsho yang berkubah abu-abu, dan Masjid As-Saqrah ( Masjid Kubah Batu/ Dome of the Rock) yang kubahnya ke-emas-an dimana di dalamnya terdapat “batu terbang”.

https://teguhimanprasetya.wordpress.com/2010/02/12/batu-terbang-masjid-al-aqsha-dan-kubah-emas/

Dari batu tersebut Rasulullah menuju singgasana-Nya dengan mengendarai buroq, sejenis kuda putih bersayap. Disanalah Rasulullah menerima perintah dari Tuhannya agar mendirikan shalat 5x dalam sehari.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. ( Terjemah QS. Al-Isra(17):1)

Dikisahkan dalam hadist Nabi Muhammad SAW yang artinya:

Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian aku turun menemui Musa ’alaihis salam. Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?” Aku menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya aku telah menguji dan mencoba Bani Israil”.

Beliau bersabda :“Maka akupun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian aku kembali kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”.

Maka terus menerus aku pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman: “Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis (baginya) satu kejelekan”. Kemudian aku turun sampai aku bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka akupun berkata: “Sungguh aku telah kembali kepada Tuhanku sampai akupun malu kepada-Nya”. (HR. Muslim)

Ironisnya, saat ini,  sangat sulit bagi umat Islam untuk menunaikan shalat didalam rumah suci ini. Pemerintah pendudukan Yahudi yang sejak puluhan tahun menguasai negri ini adalah penyebabnya. Itu sebabnya umat Islam begitu gigih berjuang agar Zionis Israel segera hengkang dari tanah yang mereka jajah dan duduki sejak tahun 1967 tersebut.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 1 Maret 2011.

Vien AM.

XX.Jihad Fi Sabilillah(3).

3. Perang Khandaq ( Ahzab) atau Perang Parit.

Perang yang terjadi pada tahun ke 5 H ini disebabkan oleh adanya hasutan beberapa pemimpin Yahudi bani Nadhir kepada Quraisy Mekah agar mereka bersama-sama menyerang Madinah dan menghancurkan Islam. Orang-orang Yahudi berhasil meyakinkan bahwa ajaran Quraisy lebih baik dari pada ajaran Islam.

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman”.(QS.An-Nisa(4):51).

Setelah itu mereka membujuk suku Gathafan, bani Fuzarah dan bani Murrah untuk bersengkokol memusuhi Islam. Maka berangkatlah sepuluh ribu pasukan Ahzab yang berarti pasukan gabungan tersebut menuju Madinah. Sementara itu mendengar kabar bahwa Madinah akan diserang, Rasulullah segera mengumpulkan para sahabat untuk membicarakan strategi apa yang akan digunakan menghadapi pasukan tersebut.

Salman Al-Farisi, sahabat kelahiran Persia, mengusulkan agar mereka menggali parit untuk melindungi Madinah dari serangan musuh. Strategi yang ketika itu belum dikenal masyarakat Arab ini tak urung membuat mereka terkagum-kagum. Rasulullahpun segera menerima usulan tersebut. Maka secara bergotong-royong paritpun digali.

Suatu ketika sejumlah sahabat melaporkan bahwa mereka menemui kesulitan. Sebongkah batu besar tidak berhasil mereka pecahkan. Segera Rasulullah turun tangan. Berkata nabi saw, “ Biarkan aku yang turun”. Dalam keadaan perut diganjal dengan batu, beliau segera bangkit. Karena tidak adanya sesuatu yang dapat dimakan selama tiga hari itu Rasulullah dan para sahabat memang terpaksa mengganjal perut mereka dengan batu. Rasulullah segera mengambil martil dan dipukulkannya ke atas batu. Maka seketika itu juga hancur luluhlah bongkahan batu tadi hingga menyerupai pasir.

Dalam sebuah riwayat diceritakan dengan mengucap takbir Rasulullah memecahkan batu besar tersebut dalam 3 kali pukulan hingga cahaya terang memenuhil angit. Pada pukulan pertama Jibril menerangkan bahwa kerajaan Persia akan ditaklukan umat Islam. Pukulan kedua, tanah Romawi dan pukulan terakhir Yaman yang akan jatuh. Di kemudian hari sejarah membuktikan Persia ( Irak, Iran dan sekitarnya), Romawi Timur ( Turki dan sekitarnya) serta Yaman adalah bagian dari Islam !

Sementara itu Jabir meminta izin pulang. Ia bermaksud menanyakan istrinya apakah mereka memiliki sesuatu untuk dimasak. Namun istrinya menerangkan bahwa mereka hanya memilki satu ekor anak kambing dan sedikit gandum. Segera Jabir menyembelih anak kambing tersebut dan menumbuk gandum yang ada. Kemudian memasaknya. Setelah itu ia segera kembali menemui Rasulullah dan mengajak beliau untuk makan di rumahnya.

“ Berapa banyakkah makanan itu”, tanya Rasulullah.

Setelah Jabir menyebutkan jumlah makanan itu beliau berkata, “ Itu cukup banyak dan baik. Katakan pada istrimu jangan diangkat dari atas tungku dan roti itu jangan pula sampai dikeluarkan dari tempat pembakarannya sebelum aku datang ke sana”.

Selanjutnya begitu Rasulullah tiba di rumah Jabir, beliau segera memotong-motong roti dan dicampurkannya pada daging serta kuah yang ada di periuk. Tak lama kemudian para sahabat yang jumlahnya tak hingga banyaknya itu makan dengan puas sampai kenyang.

“ Makanlah ini dan bagikanlah kepada orang banyak karena saat ini sedang musim paceklik”, sabda Rasulullah kepada Jabir dan istrinya, setelah semua usai makan.

Di dalam riwayat lain, Jabir menuturkan, “ Aku bersumpah dengan nama Allah. Mereka telah makan hingga mereka pergi dan meninggalkannya, sedangkan daging di dalam periuk kami masih tetap utuh, demikian pula roti kami”. ( HR Bukhari).

Dua kejadian diatas ( terpecahnya batu dan periuk yang tak habis-habis ) adalah bukan kejadian biasa. Ini adalah salah satu mukjizat Rasulullah dari Sang Khalik sebagaimana juga mukjizat yang diterima para nabi Allah. Seperti tongkat nabi Musa as, unta nabi Shalih as dll.

Di lain pihak, orang-orang Munafik yang ikut serta dalam penggalian tampak setengah hati mengerjakan tugas tersebut. Mereka berpura-pura lemas. Bahkan banyak yang tanpa meminta izin Rasulullah, diam-diam meninggalkan lokasi dan pulang ke Madinah. Itu sebabnya kemudian Allah swt menurunkan ayat berikut :

“Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mu’min ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.An-Nur(24):62).

Sementara itu pasukan Musyrikin bergerak makin mendekati kota. Mereka dikejutkan akan keberadaan parit yang melindungi kota ini.” Sungguh, ini merupakan tipu daya yang tidak pernah dilakukan oleh bangsa Arab”. Mereka kemudian mengambil posisi dan berkemah di sekitar parit mengepung kaum Muslimin. Jumlah mereka ketika itu sekitar 10 ribu sedangkan kaum Muslimin 3 ribu orang.

Tidak terjadi pertempuran kecuali beberapa orang Musyrik yang berusaha menyeberangi parit di bagian-bagian yang sempit namun berhasil dicegat pasukan Muslimin. Sebulan lamanya Madinah dalam keadaan demikian. Selama itu pula Rasulullah tidak henti-hentinya ber-istighatsah, yaitu  merendahkan diri seraya berdoa memohon kepada Allah swt agar kaum Muslimin dimenangkan.

Hingga suatu hari tersiar berita bahwa Yahudi bani Quraidzah yang merupakan bagian dari penduduk Madinah telah membelot. Ia ikut bersengkokol dengan musuh untuk menjatuhkan kaum Muslimin. Sementara orang-orang Munafikpun gencar menyebarkan bisa racun berbahaya yang menimbulkan keraguan dan perpecahan diantara umat Muslim.

“ Dulu Muhammad menjanjikan bahwa kita akan memakan harta kekayaan Kisra dan Kaisar. Tetapi sekarang bahkan untuk pergi membuang hajatpun kita tidak aman”.

Akhirnya datanglah pertolongan Allah swt. Pertama dengan masuk Islamnya Nu’aim bin Mas’ud. Kedua dengan didatangkannya angin topan yang sangat kencang. Nu’aim yang disangka kaumnya masih Musrik, ditugaskan Rasulullah untuk mengadu domba musuh. Ini adalah sebuah taktik perang yang diperbolehkan. Dengan kelihaiannya ia berhasil meyakinkan orang-orang bani Quraidzah dan orang-orang Quraisy untuk tidak saling mempercayai dan saling curiga. Maka merekapun akhirnya saling ragu untuk memulai serangan.

Ditambah dengan angin topan yang bertiup kencang pada suatu malam yang teramat dingin maka bubarlah pasukan gabungan tersebut.

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan ni`mat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Ahzab(33):9).

Hudzaifah berkata : «  Peristiwa ini terjadi saat Perang Ahzab dan di malam gulita. Pasukan Abu Sufyan berada diatas bukit. Pasukan bani Quraidzah berada di bagian lembah. Kami khawatir atas keluarga kami. Angin terasa berembus lebih kencang sehingga kaum Munafikin minta izin pulang dengan alasan rumah mereka kosong. Mereka mendapat izin dan kemudian lari menyembunyikan diri. Rasul memeriksa pasukan lalu berkata kepadaku, “ Coba selidiki keadaan musuh”. Aku berangkat dan aku melihat perkemahan musuh beterbangan dihantam angin yang sangat kencang. Merekapun lari mundur. Aku kembali dan menghadap Rasul untuk menceritakan kejadian itu. Atas hal itu turunlah ayat ini” ( HR. Baihaqi).

“Wahai kaum Quraisy, demi Allah, kalian tidak mungkin lagi berada di tempat ini ! Banyak ternak kita yang telah mati ! Orang-orang bani Quraidzah telah mencederai janji dan kita mendengar berita yang tidak menyenangkan tentang sikap mereka ! Kalian tahu kita sekarang menghadapi angin topan yang hebat .. Karena itu, pulang sajalah kalian dan akupun akan berangkat pulang!”, begitu Abu Sufyan, pemimpin Quraisy berkata menyerah.

4. Perang bani Quraidzah.

Disebutkan dalam ash-Shahihain bahwa ketika nabi saw kembali dari Khandaq, tidak lama setelah meletakkan senjata dan mandi, Jibril as datang lalu berkata, “ Apakah kamu sudah meletakkan senjata ?”. “ Demi Allah, kami belum meletakkannya”. “ Berangkatlah kepada mereka !”. “ Kemana?”. JIbril menjawab :” Ke sana”, seraya menunjuk kearah perkampungan bani  Quraidzah. Nabi saw lalu berangkat mendatangi mereka.

Demikianlah para sahabat, tanpa mengenal lelah dan takut, segera melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Padahal baru saja mereka meninggalkan keluarga selama 1 bulan untuk berperang. Jihad, berperang di jalan Allah adalah bukti ketinggian cinta, iman dan kesetiaan mereka kepada Sang Khalik dan Rasul-Nya.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ”(.QS.At-Taubah(9):16).

Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. ”(.QS.At-Taubah(9):24).

Selama 25 malam, ada yang mengatakan 15 malam, Rasulullah mengepung perkampungan bani  Quraidzah hingga akhirnya mereka menyerah dan Allah swt melemparkan rasa takut ke dalam hati mereka. Ka’ab bin Asad, pemimpin mereka memberikan 3 pilihan.

“Kita mengikuti Muhammad dan membenarkannya. Demi Allah, tentu telah jelas bagi kalian bahwa dia adalah Rasul yang diutus dan kalianpun dapat menemukan dalam kitab suci kalian. Dengan demikian nyawa, hak, kaum wanita dan anak-anak kalian akan selamat”.

Mereka menjawab, “ Kami tidak akan melepas hukum-hukum Taurat”.

“ Kalau begitu, marilah kita habisi nyawa istri dan anak-anak kita lalu kita hadapi Muhammad dan para sahabatnya dengan pedang terhunus”.

Mereka menjawab, “ Apakah dosa mahluk-mahluk kesayangan ini ?”.

“ Baiklah, bila demikian. Malam ini adalah malam Sabtu ( Sabbath). Bisa jadi Muhammad dan sahabat-sahabatnya merasa aman dari gangguan kita. Karena itu mari kita turun dan menyergap mereka secara tiba-tiba », ajak Ka’ab lagi semangat.

«  Haruskah kita mengotori Sabbath dan melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita hingga kemudian dijadikan kera?? », jawab mereka ketus.

« Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”.(QS.Al-Baqarah(2) :65).

« Tak seorangpun diantara kalian, sejak hari lahir kalian, yang bisa melewati satu malam untuk memecahkan masalah yang seharusnya », sahut Ka’ab kesal campur putus asa.

Akhirnya merekapun menyerah. Dan karena Yahudi bani Quraidzah itu sekutu suku A’us maka Rasulullah menyerahkan ketetapan hukum mereka kepada Sa’ad bin Mu’adz, salah satu pemimpin A’us.

“ Orang-orang yang menerjunkan diri dalam perang harus dihukum bunuh dan keluarga mereka ditawan”, demikian keputusan Sa’ad yang langsung disambut baik Rasulullah.

Dalam perang ini ada beberapa kejadian penting yang patut dijadikan renungan. Salah satunya adalah perintah Rasulullah untuk tidak melaksanakan shalat ashar sebelum pasukan sampai di perkampungan yang dituju.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa di tengah perjalanan, tibalah waktu ashar. Maka sebagian berkata, “ Kami tidak akan shalat sehingga kami sampai sana”. Sedangkan sebagian lain mengatakan, “ Kami akan melakukan shalat karena bukan itu yang dimaksud Rasulullah”.

Sepulang dari perang kemudian para sahabat mengadukan hal tersebut. Namun ternyata Rasulullah tidak mengecam ataupun menegur satupun kelompok tersebut. Hal ini menandakan bahwa umat Islam itu diizinkan berijtihad. Perbedaan dalam penafsiran adalah tidak dilarang selama tidak keluar dari jalur.

5. Perang Bani Asad dan beberapa pelajaran bagi musuh Islam.

Sebenarnya tidak terjadi kontak senjata antara pasukan Muslim dengan bani Asad maupun orang-orang yang membenci Islam. Pada perang bani Asad, pemimpin bani ini yaitu Thulaihan bin Khuwailid bermaksud menyerang Madinah. Rasulullah segera mengirim pasukan untuk melawan mereka. Ternyata mereka malah melarikan diri sebelum perang terjadi. Bahkan mereka meninggalkan harta mereka begitu saja hingga kaum Musliminpun dengan leluasa dapat menguasainya.

Demikian pula orang-orang Hudzail yang datang dari sebuah tempat dekat Mekah. DIbawah pimpinan  Khalid al-Hudzali, mereka berusaha menyerang Madinah. Namun sebelum perang terbuka berlangsung ia telah terbunuh. Maka pasukannyapun bubar sebelum perang benar-benar terjadi.

Juga Abu Sufyan, pemimpin Quraisy yang kalah pada perang Badar beberapa tahun sebelumnya. Dengan penuh semangat balas dendam ia membawa 3000 pasukannya untuk menggempur Madinah. Namun pasukan ini segera melarikan diri begitu melihat sambutan 1500 pasukan Muslim yang dikerahkan Rasulullah untuk menghadapi mereka.

Kemudian setelah berhasil melepaskan diri dari ancaman Yahudi, Quraisy dan orang-orang tersebut Rasulullahpun berinisiatif mengirimkan sejumlah ekspedisi kepada orang-orang Arab Badui. Misi ini berhasil karena setelah itu orang-orang Badui tersebut tidak lagi berani berbuat macam-macam. Maka sejak akhir tahun ke 5 H Madinah tidak pernah menerima serangan dan ancaman lagi. Kaum Muslimin kini telah menjadi kuat dan disegani musuh. Allahuakbar ..

“ Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. ”(.QS.At-Taubah(9):20).

( Bersambung)

Paris, 22 Februari 2011.

Vien AM.

XX.Jihad Fi Sabilillah (2).

Berikut peperangan yang terjadi antara tahun ke 4 H dan ke 6 H, yaitu  sebelum adanya Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah.

1. Perang Dzatur Riqa’

Perang ini terjadi sebagai akibat dibunuhnya 70 orang dai oleh kabilah Najd. Padahal para dai tersebut datang atas permintaan pimpinan kabilah mereka sendiri untuk mengajarkan Islam. Sebagai balasannya, dengan mengendarai unta secara bergantian, 1 unta untuk 6 orang, Rasulullah mendatangi perkampungan mereka.

Abi Musa al Asy’ari meriwayatkan bahwa dalam perjalanan mengarungi padang pasir nan panas membara itu banyak sahabat yang telapak kakinya pecah-pecah dan kukunya terlepas. Kemudian mereka membalutnya dengan sobekan kain atau  Dzatur Riqa’. Itu sebabnya kemudian perang ini dinamakan Perang  Dzatur Riqa’ walaupun sebenarnya pertempuran tidak pernah terjadi.

Ada beberapa peristiwa penting yang patut dicatat pada perang ini. Yang pertama, Allah swt telah memasukkan rasa takut kepada orang-orang yang telah berbuat zalim tersebut. Tanpa sebab yang pasti, mereka melarikan diri dari kawasan Gathafan, kawasan yang telah disetujui sebagai tempat pertempuran. Padahal jumlah mereka sebenarnya amat sangat banyak bila dibanding pasukan Muslim.

Di tempat inilah kemudian Rasulullah memimpin shalat khauf. Rasulullah mengimami satu kelompok sementara kelompok satu lagi berjaga-jaga menghadap arah lawan. Kemudian pada rakaat berikutnya Rasulullah tetap berdiri sambil menanti makmum menyelesaikan shalat. Selanjutnya Rasulullah menyempurnakan shalat bersama kelompok yang tadi berjaga-jaga. Sementara pasukan yang telah shalat ganti berjaga-jaga menghadap musuh.

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka`at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. …”.(QS.An-Nisa(4):102).

Di tempat ini pula kisah seorang Badui yang datang secara tiba-tiba dan langsung mengancam Rasulullah terjadi.  Ketika itu Rasulullah dan para sahabat karena lelah maka jatuh tertidur. Para sahabat terbangun karena panggilan Rasulullah. Mereka melihat ada seorang Arab gunung  yang tidak mereka kenal sedang duduk terpekur di samping Rasulullah. Rasulullah kemudian bercerita,

“ Orang ini telah menyambar pedangku  pada waktu aku tidur. Seraya menghunus pedang tersebut  ia mengancamku “ Siapa yang dapat menyelamatkanmu dari pedangku ini?”. Lalu aku jawab, “ Allah Subhanallahu wa Ta’ala”.

2. Perang Bani Musthaliq.

Perang ini terjadi pada tahun ke 5 H. Adalah Harits bin Dhirar, pemimpin bani Musthaliq. Ia merencanakan menyerang Madinah. Namun Rasulullah segera menyambutnya di suatu tempat diluar Madinah, yaitu di telaga Muraisi’. Maka terjadilah pertempuran sengit hingga Allah swt memenangkan pasukan Islam.

Tidak seperti biasanya, kali ini sejumlah besar kaum Munafik banyak yang ikut serta. Hal ini dikarenakan mereka menyaksikan sendiri betapa pasukan Muslim sering memenangkan pertempuran dan berhasil membawa rampasan perang ( ghanimah) yang melimpah. Termasuk kaum perempuan yang menjadi tawanan dan kemudian dibagi-bagikan.

Dalam perang ini, usai perang Rasulullah memberi pilihan kepada Juwairiyah binti al-Harits, untuk menerima lamaran beliau atau dibebaskan. Ternyata putri pimpinan musuh yang dikalahkan ini memilih menerima lamaran Rasulullah. Maka jadilah ia sebagai salah satu Umirul Mukminin. “ Mereka kini menjadi keluarga Rasulullah”, kemudian seluruh bani Musthaliqpun dibebaskan.

Sayangnya, sepulang pasukan yang disambut gembira oleh penduduk Madinah, terjadi peristiwa fitnah terhadap diri Aisyah ra. Beliau dituduh berbuat tidak senonoh gara-gara kembali ke Madinah terlambat dan tidak bersama rombongan. Melainkan berdua, bersama salah seorang pasukan yang sama-sama tertinggal rombongan.

Abdulllah bin Ubay, si tokoh Munafikun Madinah itulah yang pertama kali menghembus-hembuskan fitnah. Padahal sebelumnya, di sekitar telaga dimana kedua pasukan bertempur, ia juga telah melemparkan kata hasutan. Ketika itu ia geram melihat pertengkaran yang terjadi antara seorang Anshar dan seorang  Muhajirin.

“ Apakah mereka ( Muhajirin) telah melakukannya? Mereka telah menyaingi dan mengungguli jumlah kita di negri sendiri. Demi Allah, antara kita dan orang-orang Quraisy ini ( kaum Muslimin Quraisy) tak ubahnya seperti apa yang dikatakan orang. “ Gemukkan anjingmu agar menerkammu”. Demi Allah, jika kita telah sampai di Madinah, orang yang mulia pasti akan mengusir kaum yang hina( Muhajirin)”.

Zaid bin Arqam, salah satu orang yang mendengar ucapan tersebut kemudian melaporkan ucapan ini kepada Rasulullah. Namun Rasulullah tidak berkata apa-apa. Allah swt memang melarang menghakimi orang Munafik. Karena hanya Sang Khalik sajalah yang mengetahui isi hati manusia dan berhak menghakimi mereka. Hingga akhirnya turun ayat berikut :

“Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.”(QS.Al-Munafikun(63):8).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”.(QS.An-Nisa(4):145).

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda : “Tanda-tanda orang munafik itu tiga ; bila berkata ia bohong, bila berjanji ia mengingkari dan bila ia dipercaya ia mengkhianati”.

Sementara Aisyah sendiri terbebas dari fitnah melalui ayat yang diturunkan Allah azza wa jalla sebulan kemudian.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar … ( sampai dengan ayat 21)”. (QS.An-Nur(24):11-21).

Namun selama satu bulan itu fitnah benar-benar telah membuat gundah hati Rasulullah. Beliau tidak memiliki saksi seorangpun hingga hanya dapat membela sang istri tercinta dengan kata-kata yang diucapkan secara hati-hati :

“ Aku tidak mengetahui Aisyah kecuali sebagai orang baik-baik”.

Sebulan kemudian setelah berusaha mencari tahu dan meminta pendapat para sahabat, Rasulullah berujar :

«  Hai Aisyah, aku telah mendengar apa yang digunjingkan orang tentang dirimu. Jika engkau tidak bersalah Allah pasti akan membebaskan dirimu. Sebaliknya jika engkau telah melakukan dosa mintalah ampunan kepada Allah ».

Aisyah ra mengisahkan bahwa ucapan pertama yang dikeluarkan Rasulullah begitu ayat pembelaan tersebut turun adalah “ Bergembiralah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membebaskan kamu”. Ibukupun kemudian berkata kepadaku : “Berdirilah ( berterima-kasihlah) kepadanya ( Rasulullah saw)”. Aku jawab: “ Tidak! Demi Allah, aku tidak akan berdiri ( berterima-kasih) kepadanya ( Rasulullah ) dan aku tidak akan memuji kecuali Allah. Karena Dialah yang telah menurunkan pembebasanku”.

( Bersambung)

Paris, 21 Februari 2011.

Vien AM.