Feeds:
Posts
Comments

Mengetahui kebesaran dan kejayaan Islam di masa lalu sungguh merupakan  kebahagiaan tersendiri. Ini bagaikan setitik embun di padang pasir nan gersang. Apalagi di saat ini dimana Islam memang sedang dalam keadaan terpuruk. Citra Islam yang berkembang atau sengaja dikembangkan di barat hanyalah citra buruknya saja.

Terorisme, kediktatoran, korupsi, kejahatan terhadap perempuan dan anak yang dilakukan sebagian orang atau negara-negara yang mengaku Muslim namun tidak bertanggung jawab terus dibesar-besarkan. Hal ini membuat kaum Muslim yang kurang teguh keimanannya makin tidak percaya diri.  Akibatnya dapat dibayangkan. Mereka ini akhirnya bukan saja enggan mentaati dan menjalankan hukum dan syariat ajarannya namun bahkan mengakui ke-Islamannyapun ragu …

Itu sebabnya saya sengaja menuliskan pengalaman saya dalam rangka mencari jejak peninggalan Islam di Eropa Barat ini. Menurut pendapat saya, tidak sepatutnya kita ‘minder’. Islam selama beberapa abad pernah berada di puncak kejayaannya. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang baru 2 abad ini saja menguasai percaturan dunia.

Barat belakangan ini bahkan terpaksa harus mengakui bahwa berkat kekuasaan Islam di Spanyollah mereka saat ini bisa keluar dari zaman kegelapannya di abad pertengahan. Di era globalisasi ini dimana informasi dapat dengan mudah diakses, tampaknya tak mungkin lagi mereka menutup-nutupi keberadaan para ilmuwan Muslim dan berbagai penemuannya yang menginsipirasi Barat menjadi maju seperti sekarang ini.

Ibnu Musa Al-Khawarizmi (770-840 M ), penemu Algoritma dan Aljabar,  Avveroes atau Ibnu Rushdi (1126-1198 M), hakim/kadhi sekaligus  fisikawan, Ibnu Sina( 980 -1037 M ),  filsuf sekaligus  dokter kenamaan dan  Ibnu Khaldun ( 1332-1406 M), bapak sosiologi dan ekonomi dunia hanyalah segelintir diantaranya. Mereka adalah para penemu yang banyak menelurkan karya–karya tulis penting.

Kalaupun mereka ini menggunakan dasar dan referensi dari ilmuwan terdahulu, seperti ilmuwan-ilmuwan terkenal Yunani seperti Socrates, (469-399 SM), Plato (428-348 SM) dan  Aristoteles (384-322 SM) selalu mencantumkan sumbernya dalam karya mereka. Ini kebalikan dari para ilmuwan barat yang sering secara sengaja membuang sumbernya bila itu berasal dari dunia Islam.

(Baca:http://www.scribd.com/doc/28593682/Makalah-Sejarah-Peradaban-Islam-Sumbangan-Islam-Terhadap-Sains-Dan-Peradaban-Dunia ).

Hebatnya lagi, para ilmuwan Muslim tersebut tidak hanya lihai dalam ilmu duniawinya saja namun juga ilmu ukhrowinya. Mereka adalah ahli ibadah yang betul-betul menguasai ajaran Islam dengan baik. Tampaknya inilah yang menjadi rahasia kesuksesan dunia Islam di masa lalu.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan “.(QS.Al-Qashash (28):77).

Berikut pengakuan kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte ( 1769 – 1821) : “Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia…Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat…Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separoh bola bumi… Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”…..(hal 105 dari “Bonaparte et L’Islam” oleh Cherfils).

Sementara itu Goethe,filsuf Jerman (1794–1832M) berkomentar sebagai  berikut :

Muhammad membangunkan Persia yang sedang tidur, menginsyafkan Rumawi Timur (Byzantium) dan kaum Nasrani di negeri-negeri Timur, agar mereka tidak terus-menerus asyik berdebat dan berpecah-belah akibat filsafat shopites Yunani. Tidak dapat disangkal lagi bahwa para Nabi di dunia ini serupa dengan kekuatan-kekuatan raksasa yang terdapat di alam wujud, yaitu kekuatan-kekuatan yang senantiasa mendatangkan kebajikan bagi umat manusia seperti matahari, hujan dan angin yang menghidupkan tanah kemudian membuat tanah yang tandus dan gersang menjadi penuh dengan tanam-tanaman berwarna hijau. Manusia wajib mengakui kenabian mereka. Tanda-tanda yang membuktikan kebaikan mereka dapat kita lihat dari kenyataan bahwa mereka itu hidup dengan keyakinan, berjiwa tenang dan tentram, bersemangat dan bertekad kuat, tabah dan sabar menghadapi berbagai macam cobaan, tangguh menghadapi kebobrokan mental dan moral masyarakatnya yang pasti akan lenyap bila terus-menerus diberantas dan kehidupan mereka sehari-hari yang tidak putus beribadah dan berdoa…Jika semuanya itu yang diajarkan agama Islam kita semua adalah orang-orang Islam”. (hal 38 dari “Hadhritul ‘Alamil-Islamiy” jilid I oleh Amir Syakib Arslan, dikutip dari pembicaraan antara Goethe dan sang penulis).

Islam menyinari semenanjung Iberia ( Spanyol dan Portugis sekarang) tak sampai 100 tahun setelah wafatnya Rasulullah saw. Bahkan pada tahun 732 M cahaya  Islam nyaris menerangi jantung Eropa di Perancis tengah kalau saja pasukan pimpinan Musa bin Nushair ini tidak dikalahkan pasukan Perancis di Poitier.

Padahal ketika itu Islam telah berhasil menaklukkan salah satu kerajaan adikuasa masa itu yaitu, Persia. Ini terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Di masa-masa berikutnya melalui para pedagang Islam menyebar ke timur, yaitu India, Cina dan  Indonesia melalui Aceh yang mendapat julukan serambi Mekah. Dan juga ke barat, yaitu pesisir utara Afrika termasuk Mesir, Maroko,Tunisia dan Aljazair. Ketika itu di bawah dinasti Umayah, Damaskus menjadi ibu kota kekhalifahan.

Dari Maroko inilah pasukan Islam masuk ke benua Eropa. Di benua ini selain Spanyol dan Portugal, Islam juga menyiratkan sinarnya ke Perancis selatan dan Italia ( kepulauan Sisilia dan Sardinia). Pada masa kekuasaan Turki Ottoman yang berhasil menaklukkan Istanbul ( Konstantinopel ) yang ketika itu merupakan negara adikuasa ( Romawi timur), negara-negara eropa timur seperti Albania, sebagian Yugoslavia dan Bulgariapun masuk Islam.

Hebatnya lagi, toleransi benar-benar dijunjung tinggi. Tidak ada paksaan masuk Islam. Kaum Nasrani, Yahudi, orang-orang Armenia bahkan orang-orang Zoroasterpun bebas menjalankan ajaran agama mereka. Mereka hanya diwajibkan membayar jiziyah.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah(2):256).

Berikut pengakuan Voltaire (1694-1778), penulis legendaris Perancis berikut :

“ ... Saya telah mengunjungi London, Hamburg, Danzig, Venezia. Namun apa yang saya lihat lebih mendidik adalah apa yang terjadi di Konstantinopel. .. Lima puluh tahun yang lalu saya mendapat kehormatan untuk mengikuti  sebuah prosesi pelantikan patriak ( kepala gereja) Yunani oleh Sultan Ahmed III, semoga Tuhan memberkatinya. Sultan menyerahkan sendiri cincin dan tongkat kepada sang pendeta Kristen. … Sungguh menyenangkan saya dapat berkomunikasi secara terbuka di acara tersebut.

Namun sekembali saya ke Marseilles, saya sangat terkejut. Saya tidak menemukan satupun masjid. Saya ungkapkan keterkejutan saya itu kepada Uskup Marseilles. Bila orang-orang Turki saja mau menyediakan gereja bagi orang-orang Kristen mengapa kita tidak ”.

Saya juga beberapa kali menemukan pengakuan cendekiawan barat, diantaranya rektor universitas Madrid, Spanyol. Dengan nada getir ia mengatakan bahwa bila saja pada pertempuran Poitiers pasukan Islam memenangkan pertempuran, tentu masyarakat Eropa saat ini telah mengenal ajaran Islam secara baik.

Saya pikir, Voltaire juga pasti kecewa seandainya ia masih hidup. Betapa tidak, harapannya 2.5 abad lalu ternyata hingga kini tetap tidak terealisasi. Masjid di Perancis benar-benar langka. Bahkan Marseilles yang jumlah muslimnya relative lumayan banyak hingga detik ini umat Islam hanya bisa melaksanakan shalat Jumat di jalan-jalan yang sempit. Masjid besar yang katanya sudah disetujui pemerintah dan pada Idhul Adha bulan april yang baru saja lewat dikabarkan sudah bisa dipakai ternyata bahkan tanahnya saja belum dibebaskan!

Masjid Toulouse

Masjid Toulouse 1

Masjid Toulouse

Masjid Toulouse 2

Demikian pula di Toulouse. Masjid besar yang tidak sengaja kami lewati beberapa bulan lalu, ternyata sudah 2 tahun terbengkalai. Padahal bila dilihat fisiknya tinggal tahap ‘finishing’ saja. Menurut informasi yang saya dapat, katanya masyarakat sekitar tidak mengizinkannya.

Grande Mosquee de Paris

Grande Mosquee de Paris

Grande Mosquee de Paris (2)

Grande Mosquee de Paris (2)

Saat ini di Perancis masjid yang cukup megah berdiri hanya ada di Paris saja. Beruntung masjid yang dibangun pada tahun 1920 dan diberi nama “ Grande Mosquee de Paris” ini memiliki menara cukup tinggi. Karena belakangan ini Perancis menetapkan peraturan bahwa masjid tidak boleh memiliki menara lebih dari 3 meter. Ini masih ditambah lagi bahwa suara azan tidak boleh terdengar hingga keluar area masjid !!

Belum lagi bila kita bicara soal jilbab dan nikab. Sejak tahun 2004 pemerintah melarang anak sekolah dan pegawai negri mengenakan jilbab di area sekolah dan kantor pemerintahan. Untuk sementara memang masih aman bila kita memakai di jalan umum.

Namun tidak demikian dengan nikab ( penutup muka kecuali mata). Ada peraturan baru bahwa mereka yang mengenakan nikab bakal dikenai sangsi hukum. Saat ini peraturan tersebut masih dalam tahap percobaan.

Sungguh aneh, bukan? Barat yang katanya menjunjung tinggi demokrasi, kebebasan dan toleransi hingga harus menyerang Afganistan dan  Irak karena dianggap tidak demokrasi, nyatanya seperti itu. Yang  katanya menjunjung tinggi keadilan dan HAM, namun ternyata hanya tinggal diam ketika rakyat Palestina diperlakukan semena-mena oleh pemerintah pendudukan Israel.

Hal lain yang cukup menarik adalah bahasa. Kita semua tentu setuju bahwa bahasa adalah hal terpenting dalam melakukan komunikasi. Bagaimana kita dapat berkomunikasi, berinteraksi, bertukar pendapat, menambah wawasan dan pengetahuan tanpa adanya bahasa pemersatu. Bahasa isyarat mungkin bisa tapi hanya dalam batas tertentu saja.

Perancis dan Spanyol adalah negara bertetangga. Namun terlihat jelas bahwa masing-masing ingin mempertahankan bahasanya sendiri-sendiri. Demikian pula  Italia, yang menjadi tetangga  keduanya. Juga Jerman dan Belanda yang merupakan tetangga Perancis. Bahasa Inggris yang selama ini sering di’klaim’ dan meng’klaim’ sebagai bahasa pemersatu, bahasa internasional dalam forum-forum resmi ternyata dalam kehidupan sehari-hari tidak berfungsi. Dapat dibayangkan bagaimana repot dan sulitnya bepergian ke suatu tempat dimana kita tidak dapat berkomunikasi secara baik dengan  penduduknya.

Berbeda dengan ketika Islam berada di puncak kejayaannya. Bahasa Arab menjadi bahasa pemersatu. Jadi bahasa ini tidak hanya digunakan ketika shalat dan membaca ayat-ayat Al-Quran saja namun menjadi bahasa sehari-hari seluruh kekhalifahan Islam yang amat luas itu. Bahasa ini bahkan juga digunakan secara internasional.

Kembali kepada kekalahan Islam di Poitiers pada tahun 732 M. Apa sebenarnya hikmah di balik kekalahan tersebut? Mengapa Allah swt tidak mengizinkan Islam berkembang di jantung Eropa? Mengapa kejayaan Islam di semenanjung Iberia hanya bertahan selama 8 abad saja? Sementara di Indonesia yang relative lebih jauh dari tanah kelahiran Islam bisa tetap bertahan hingga kini ?

Mungkinkah Allah sengaja berbuat demikian agar kita umat Islam Indonesia mendapat kesempatan untuk berdakwah dan memperkenalkan ajaran ini ke benua tersebut? Roma, pusat Kristen yang disebut Rasulullah bakal takluk ke pelukan Islam setelah Konstantinopel hingga saat ini belum juga terealisasi.

Siapkah kita menjalankan tugas mulia ini? Bagaimana caranya? Sulit dan mahalkah? Bukankah berkat izin-Nya tehnologi di dunia maya telah berkembang begitu maju? Mengapa kita tidak memaksimalkannya ?

Janji Allah pasti terjadi, dengan atau tanpa partisipasi kita. Di akhir zaman nanti Islam akan menyinari seluruh bumi Allah yang luas ini. Fenomena ini sebenarnya telah mulai terlihat. Ketakutan barat yang berlebihan bukannya tanpa penyebab. Di setiap kota Eropa yang kami kunjungi hampir selalu terlihat  adanya perempuan berjilbab. Anak-anak usia sekolah walaupun dilarang berjilbab namun begitu keluar sekolah tetap mengenakan jilbabnya. Masjid meskipun dilarang namun sejumlah musholla tetap saja bermuncullan. Bahkan orang yang bersyahadatpun makin hari makin banyak saja.

Akankah kita memanfaatkan kesempatan emas ini?

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 10 Juli 2010.

Vien AM.

Catatan statistik resmi Italia pada Januari 2005, menunjukkan bahwa jumlah Muslim adalah 1.4 % dari penduduk Italia. Jumlah yang sangat kecil ini memang merupakan persentasi terkecil dari Muslim di Eropa. Sementara itu  dari total 2.400.000 penduduk asing yang tinggal di Italia,  sekitar 820.000 atau 34 % diantaranya adalah Muslim. Mereka ini sebagian besar adalah para imigran dari Albania dan Maroko.

Sementara itu catatan pada tahun 2009 menunjukkan adanya sedikit peningkatan yaitu menjadi sekitar  1.6 % atau 1 juta jiwa.  Data diatas tampaknya dapat dijadikan kesimpulan bahwa Italia hingga saat ini nyaris belum tersentuh ajaran Islam.

Namun setahun kemudian walikota Milan mengumumkan bahwa jumlah warga Muslim di kotanya meningkat 20 kali lipat dibanding 13 tahun lalu. Mereka berasal dari berbagai negara diantaranya Iran, Mesir, Etiopia, Maroko dan Albania. Menurutnya jumlah Muslim saat ini mencapai 70.000 orang, 52.000 orang tercatat resmi sementara sisanya adalah imigran illegal alias tidak tercatat.

Kepolisian Italia juga melaporkan bahwa negaranya saat ini menjadi sasaran empuk  bagi Muslim dalam rangka menjejakkan kaki mencapai benua Eropa. Ini disebabkan panjangnya garis pantai yang dimiliki negara ini, yaitu 8000 km.  Menurut mereka sangat sulit mencegah masuknya imigran gelap. Para imigran ini biasanya hanya menjadikan Italia sebagai batu loncatan. Jerman, Perancis da : Inggris adalah tujuan utamanya.

Tiba-tiba saya teringat hadis berikut  :

Dari Abdullah bin Amr bin Al-”Ash berkata, “Saat kami sedang menulis di sekeliling Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya tentang kota manakah dari kedua kota yang akan dibebaskan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Maka Rasulullah saw menjawab, “Kota Heraclius akan dibebaskan terlebih dahulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel. (HR Ahmad)

Konstantinopel yang kini bernama Istanbul, ibu kota khilafah Islamiyah Turki Utsmani di masa lalu adalah pusat peradaban Barat (Romawi Timur) di bawah pimpinan Kaisar Heraklius. Penaklukkan negri ini baru terlaksana 7 abad setelah hadis di atas. Setelah beberapa kali gagal akhirnya pada tahun 1453 M dibawah pemerintahan Sultan Muhammad Al-Fatih (the Conqueror), khalifah Turki Utsmani ketika itu Konstantinopelpun jatuh ke tangan Islam.

Namun kota Roma, kota yang di sebut  Rasulullah bakal jatuh ke tangan Islam setelah Konstantinopel hingga detik ini tampaknya belum berhasil ditaklukkan Islam. Berdasarkan perkiraan Dr. Yusuf Al-Qaradawi, kota yang saat ini menjadi pusat agama Kristen (Roma/ Vatikan) akan takluk pada abad ini. Tapi bukan melalui perang fisik seperti pada masa lalu melainkan dengan pena, buku dan internet. Wallahu’alam ..

Yang menjadi pertanyaan apakah sejak dahulu negri asalnya Pizza, makanan kesukaan anak muda  ini benar-benar belum pernah mengenal Islam ?

Sungguh beruntung Allah swt telah memberi  kami kesempatan untuk mengunjungi beberapa kota besar Italia. Diantaranya adalah Roma, Milan, Venezia, Florence dan Pisa. Roma dan Venezia kami kunjungi 8 tahun lalu. Sayangnya waktu itu kesadaran saya dalam mencari jejak Islam masih kurang hingga saya kurang memperhatikan hal tersebut.

Tetapi dari hasil surfing internet, saya menemukan beberapa fakta menarik tentang pengaruh dan keberadaan Islam masa lalu di kedua kota besar Italia tersebut. Yang pertama tentang Venizia. Pada tahun 2005 sebuah museum di New York, Amerika Serikat pernah menggelar pameran berjudul “ Venice and the Islamic World, 828–1797“.  Pameran ini digelar berdasarkan buku dengan judul yang sama. Si penulis, Stefano Carboni, seorang pengamat dan pakar seni Islam dari Italia  dengan gamblang mempertanyakan dari mana sebenarnya datangnya seni dan tatanan kota Venezia. Menurutnya kota ini amat mirip dengan ciri khas kota-kota Islam.

Walaupun begitu ia menambahkan bisa jadi ini disebabkan adanya ikatan yang erat antara Venezia ( Republik Venezia ketika itu ) dengan negara-negara islam tetangganya seperti Mamluks di Mesir, Ottomans di Turki dan  Safavids di  Iran pada abad 8. Hubungan erat ini dalam berbagai bidang diantaranya ekonomi, perdagangan dan  budaya. Negara-negara Islam tersebut pada saat  itu memang  sedang berada di pucak kejayaannya.

 

st Paul Rome

st Paul Rome

 

Yang lebih mengejutkan lagi adalah temuan bahwa kota Roma pada tahun 846 M sebenarnya pernah dikepung oleh pasukan Islam. Bahkan gereja tua basilik St Paul yang pada abad 5 lebih besar dari basilik St Peter di Vatikan pun tak luput dari ancaman yang dilakukan oleh pasukan Islam yang berjuang dalam rangka menegakkan kebesaran Allah swt, satu-satunya Tuhan alam semesta yang patut disembah oleh semua mahluk di dunia ini. Sebuah buku berjudul “ The Legacy of Jihad” yang ditulis oleh seorang penulis Amerika mengatakan bahwa dokumen penting tentang peristiwa ini sebenarnya sudah lama di tutup rapat.

Bagi pihak barat ( Kristen/ Vatikan) yang menjadikan Roma dan Vatikan sebagai lambang kebesaran Kristen, peristiwa tersebut adalah aib besar.  Adalah tabu untuk membicarakannya. Masih menurut buku tersebut itu sebabnya Leon IV yang ketika itu baru saja diangkat menjadi paus memerintahkan dibangunnya tembok setinggi 12 m yang mengelilingi Vatikan saat ini. (baca :   http://en.wikipedia.org/wiki/Basilica_of_Saint_Paul_Outside_the_Walls )

Sementara itu Milan, Florence dan Pisa baru kami kunjungi beberapa bulan yang lalu. Kunjungan inilah yang kali ini ingin saya laporkan. Seperti umumnya turis yang mengunjungi kota Pisa, menara Pisa adalah tujuan  utama. Sebelum berangkat saya sengaja ‘surfing’ mencari alamat masjid.

Seperti biasa saya tidak pernah berharap muluk bakal menemukan masjid yang besar apalagi megah di daratan Eropa ini. Namun rupanya Allah berkehendak lain. Ia membimbing hamba-Nya yang hina ini ke suatu alamat blog yang menyatakan adanya masjid besar di Pisa. Beberapa kali saya buka tutup dan mengulangnya namun tetap saja data yang sama kembali muncul. Saya tidak percaya karena keterangan tersebut menunjukkan Kathedral di Pisa sebagai Masjid !!

Rasa penasaran saya makin meningkat. Saya mulai mencari-cari informasi tentang Kathedral tersebut. Akhirnya saya menemukan sebuah cuplikan tulisan yang mengulas adanya temuan inskripsi berbahasa Arab pada salah satu kubah kathedral tersebut.

 

Duomo de Pisa

Duomo de Pisa

 

Ini adalah dokumen yang tidak dipublikasikan secara umum. Pada tahun 1918 dilaporkan adanya pembangunan ulang kathedral Pisa. Ketika itulah ditemukan sebuah tulisan/ inskripsi berbahasa Arab di puncak kubahnya. Prof Carlo Nallino menerjemahkannya dengan  “ Al-Fath, si pematung – hamba-Nya”.  Berdasarkan intial inilah, Nallino, sang ilmuwan Italia yang memperdalam ilmu ke-Islam-an dan di belakang hari beralih memeluk Islam ini berani memastikan bahwa Al-Fath, adalah orang yang sama dengan Al-Fath sang arsitek yang membangun istana kenamaan Madina Al-Zahra di Andalusia pada zaman raja Abdur Rahman di tahun 954 M.

Ia memang tidak berani menyatakan bahwa gereja besar itu mungkin dulunya masjid. Ia hanya merasa heran mengapa ada tulisan Arab diatas bangunan yang merupakan  lambang kebesaran dan kebanggan Kristen. Bahkan berada di puncaknya pula !  Mengapa pula arsiteknya seorang arsitek kenamaan Muslim?

 

 

Duomo de Pisa dan Menara Pisa

Duomo de Pisa dan Menara Pisa

 

Ia hanya berani mengambil kesimpulan bahwa pada abad 10 pengaruh

Puncak Menara Pisa
Puncak Menara Pisa

Islam telah masuk ke negaranya, Italia. Tentu saja saya sangat meyakini hal ini  apalagi  setelah melihat sendiri bentuk dan model lantai teratas menara Pisa miring yang terkenal itu. Menara yang mulai dibangun pada tahun 1173 dan baru selesai 2 abad kemudian itu lantai atasnya benar-benar mirip masjid ! Lantai ini merupakan teras terbuka yang  dikelilingi tembok dan memiliki beberapa gapura dengan lonceng-lonceng di bawahnya.

Demikian pula dengan kota tua Florence. Bagi yang pernah mengunjungi ko ta-kota tua Islam seperti Marakech atau Damaskus, kota ini memiliki banyak sekali persamaan. Jalan-jalan sempit dengan tembok-temboknya yang tinggi, jembatan-jembatannya juga taman dengan pelataran dan air mancurnya mirip sekali dengan rumah-rumah tradisional di kota-kota timur tengah dan Afrika Utara.

 

Duomo de Florence

Duomo de Florence

 

Begitu pula Duomo de Florence. Gereja besar ini sangat mirip dengan Masjid As-Sakroh di Yerusalem, baik bentuk maupun motif marmernya. Menurut data yang saya temukan, adalah Brunelleschi, arsitek Italia yang membangun gereja yang menjadi lambang kebanggaan kota ini. Para peneliti mengemukakan bahwa blueprint atau cetak biru yang digunakannya ternyata meniru mausoleum ( makam) Oljeitu yang terdapat di Soltanyeh di Iran. Makam ini di bangun 150 tahun sebelum Duomo de Florence, yaitu antara tahun 1304 – 1313.

Disini kembali saya tidak sedang berusaha mengatakan bahwa kota turis di Tuscani ini pernah berada di bawah kekuasaan Islam. Saya hanya mengatakan bahwa pengaruh Islam pernah amat sangat terasa di kota-kota Italia. Itu saja ..

Namun demikian ada hal yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Yaitu bahwa Sisilia dan Sardinia, dua kepulauan di selatan Italia pernah lama berada di bawah kekuasaan Islam. Bangunan-bangunan tua bersejarah di kota –kota seperti Palermo dan Messina tidak berhasil menyembunyikan kenyataan ini.

Akan tetapi ternyata hal ini tidak berarti bahwa Italia bagian utara tidak pernah  mengenal Islam. Karena saya menemukan data bahwa pada abad 7 dan 8, sebagian Lombard,  keluarga bangsawan Italia yang memerintah Italia Utara dilaporkan berpindah memeluk Islam !   Mereka ini tadinya adalah para pemeluk Arianisme, cabang ajaran Kristen yang tidak sepaham dengan Katolik.  Para mualaf ini pada masa lalu dipanggil dengan nama Al-Ankubarti.

Jumlah Muslim di Italia Utara ketika itu memang tidak sebanyak  saudaranya di Italia Selatan. Sebaliknya dengan saat ini. Hampir 55% Muslim mendiami Italia Utara. Di selatan hanya sekitar 20 %. Sementara di bagian tengah termasuk Roma sekitar  25%.

Benarkah perkiraan  Dr. Yusuf Al-Qaradawi bahwa Roma bakal ditaklukan pada abad ini ? Bukan melalui perang fisik seperti pada masa lalu melainkan dengan pena, buku dan internet ? Wallahu’alam .. Tampaknya ini yang menjadi tugas generasi kita terutama anak-anak muda kita untuk segera memanfaatkan jaringan tehnologi dunia maya  yang makin lama makin canggih ini.

Jakarta, 3 Juli 2010.

Vien AM.

Tersebutlah kisah salah seorang sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, dia adalah Ulbah bin Zaid. Dia bukanlah termasuk sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam yang terkenal sebagaimana Abu Bakar dan Umar. Pada kisah hidupnya kita akan melihat potret kedermawanan si faqir. Bagaimana seorang faqir bisa disebut dermawan ? bukankah biasanya kata dermawan disematkan kepada orang yang cukup hartanya lalu dia bersedekah dan berinfaq dengan hartanya itu ? Simak kisah berikut ini…
Sekitar bulan Sya’ban di tahun 9 H, ketika itu musim paceklik sedang melanda kota Madinah dan sekitarnya, perekonomian kaum muslimin juga sedang sulit-sulitnya, musim panas sedang berada di puncaknya, angin di musim itu juga membawa hawa panas, debu-debu beterbangan mengotori atap-atap dan halaman rumah penduduk kota Madinah. Kulit serasa diiris, mata perih seperti perihnya luka yang diteteskan dengan air cuka. Di musim panas sepert itu biasanya penduduk kota Madinah lebih suka menetap di rumah, atau tinggal di kebun-kebun mereka sambil memetik kurma muda yang memang sedang ranum-ranumnya, karena pohon kurma berbuahnya justru pada musim panas.
Akan tetapi kondisi politik Islam pada saat itu keadaannya sangat luar biasa, sebagai dampak kemenangan demi kemenangan yang diraih oleh pasukan Islam terutama setelah Fathul Makkah dan perang Hunain. Disamping juga setelah itu Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mengirimkan surat kepada seluruh raja di dunia ini untuk masuk Islam atau harus membayar pajak, atau diperangi. Hal ini semakin menambah panas keadaan.
Karena pada saat itu tersebar berita bahwa bangsa Romawi yang merupakan bangsa dan kerajaan terkuat dan tebesar pada masa itu, sedang melakukan persiapan besar-besaran akibat ketidakpuasan mereka akan hasil Perang Mu’tah yang mana pasukan Islam yang jumlahnya hanya 3000 pasukan berhasil menahan gempuran 200.000 pasukan gabungan Romawi dan beberapa kabilah yang musyrik. Dimana Khalid bin Walid sebagai panglima perang kaum muslimin melakukan trik jitu, yaitu menukar pasukan yang di belakang menjadi di depan, yang kiri menjadi ke kanan dan sebaliknya sehingga pasukan Romawi menjadi gentar. Mereka mengira ada tambahan pasukan kaum muslimin. Dalam benak mereka, pasukan sejumlah 3000 orang tadi saja mampu menahan gempuran mereka, apalagi ditambah 2x lipatnya tentu Romawi akan kalah. Karena trik jitu ini pasukan muslimin bisa mundur secara perlahan tanpa dikejar oleh pasukan Romawi karena pasukan Romawi mengira ini adalah siasat untuk menjebak mereka. Akhirnya kaum muslimin kembali ke Madinah dengan selamat dan hanya jatuh korban sebanyak 12 orang.
Kasak-kusuk pun merebak di kalangan kaum muslimin akan adanya pembalasan pasukan Romawi yang akan menyerang daerah yang telah dikuasai kaum muslimin dan bahkan menuju kota Madinah. Disinilah letak kisah seorang sahabat Ulbah bin Zaid, dia diselipkan oleh catatan sejarah didalam peperangan Tabuk yang nantinya perang ini merupakan peperangan terbesar antara kaum muslimin dengan kaisar Romawi. Tidak biasanya Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mengumumkan secara langsung akan kemana tujuan peperangannya, biasanya kalau berperang ke arah timur maka Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bertanya kepada sahabatnya tentang arah barat dan seterusnya. Akan tetapi keberangkatan perang kali ini sangat jelas tujuannya yaitu Tabuk, suatu daerah yang nun sangat jauh bagi bangsa Arab untuk ditempuh ketika itu.
Coba lihat apa yang dilakukan oleh orang-orang munafiq pada saat itu, mereka merasa bimbang,  gelisah, dan gundah karena membayangkan perjalanan yang sangat jauh. Diantara mereka saling mengatakan seharusnya keberangkatan tidak pada musim panas ini, maka Alloh Ta’ala turunkan ayat yang berkaitan dengan mereka :

“…dan berkatalah orang-orang munafiq: ‘janganlah pergi berperang di musim panas ini’. Katakanlah (ya Muhammad) api neraka jahannam lebih panas, jika saja mereka mau mengerti ” (QS. At Taubah 81)

Suatu kali Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam ingin menguji salah seorang dari mereka yaitu Jaad bin Qois, beliau berkata “wahai Jaad, bagaimana menurutmu jika kita pergi berperang melawan Bani Ashfar (orang romawi)..?”
Dia pun menjawab,” izinkanlah aku untuk tidak berangkat perang dan jangan jatuhkan aku ke dalam fitnah (ujian). Demi Alloh ya Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, kaumku sangat tahu bahwa aku adalah orang yang paling mudah tergoda dengan wanita diantara mereka. Dan aku takut kalau nanti aku melihat wanita romawi aku tidak tahan.., aku tidak bisa menahan nafsuku..”
Beliau pun berpaling dan berkata, “engkau aku izinkan untuk tidak berperang wahai Jaad..”
Padahal Jaad bin Qois hanya beralasan agar dia tidak berangkat perang, lalu beralasan takut tergoda oleh wanita-wanita putih Romawi, padahal tujuan sebenarnya adalah supaya dirinya tidak berangkat perang pada musim panas tersebut. Maka Alloh Ta’ala turunkan ayat

” Diantara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir ”(QS. At Taubah : 49)

Berbeda keadaannya dengan kaum muslimin, begitu mendengar seruan jihad di jalan Alloh Ta’ala mereka berbondong-bondong memenuhi kota Madinah dari seluruh penjuru negeri. Bagaimana tidak mereka berbondong-bondong berjihad di jalan Alloh sedangkan gerbang surga yang luasnya seluas langit dan bumi akan dibukakan untuk mereka. Alloh berfirman :

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. ”(QS. Ali Imron : 133-134)

Bagaimana mereka tidak berhasrat untuk berangkat jihad, sementara mereka tahu bahwasanya jalan tercepat masuk surga adalah dengan jihad, lalu badan mereka tertusuk, tercabik, memuncratkan darah, lalu mereka gugur sebagai syahid, lantas para malaikat berebut menaikkan ruhnya ke langit..?!
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Nabi shallallohu ‘alaihi wasallamNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. ” (QS. Ash Shaaf : 10-11)
Terngiang-ngiang di telinga mereka ayat-ayat yang berhubungan dengan jihad, ayat-ayat jihad, bukan ayat-ayat cinta,

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh… ” (QS. At Taubah : 111)
Ayat-ayat ini benar-benar hadir di dalam hati mereka, kenapa hadir di hati mereka ? bukankah ayat yang sama juga kita dengar sebagaimana mereka mendengarnya dahulu, akan tetapi berbeda efeknya..? yang membedakan antara kita dan mereka adalah telah ada dan hadir kehidupan akhirat didalam kehidupan duniawi mereka, sedangkan kita…kabut tebal tentang terlalu cinta kepada dunia menyelemuti hati kita. Memang kaki mereka masih menyentuh tanah, badan mereka pun masih bersentuhan dengan alam nyata dunia, akan tetapi ruh mereka sudah bersiap-siap menjejaki surga, alam pikiran mereka telah terasa sujud di bawah ‘Arsy Alloh Ta’ala..Allohu Akbar..!!
Berbondong-bondong mereka ke kota Madinah, tahu mereka bahwa Nabi mereka meminta bantuan ummatnya. Maka beliau mengajak para dermawan untuk menginfakkan hartanya demi keberangkatan pasukan prihatin ini (Jaisyul Usroh). Kenapa disebut pasukan prihatin ? bagaimana tidak, keadaan mereka sangat miskin, di saat musim paceklik, satu onta harus bergantian untuk delapan belas orang pasukan perang, makanan mereka adalah dedaunan agar sekalian dapat airnya, bahkan terkadang harus memotong seekor unta agar dapat air dan makanan sekaligus.
Bahkan orang-orang yang tidak mampu, tidak memiliki apa-apa dan miskin juga datang kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, berharap dirinya diikutsertakan dalam peperangan Tabuk, meminta kepada beliau bekal peperangan agar dia bisa ikut perang, termasuk juga Ulbah. Alloh berfirman :

“dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan ” (QS. At Taubah : 92)
Coba lihat diri kita…hidup memiliki segalanya, hidup di rumah dengan AC atau kipas angin, punya kendaraan bagus, makanan tercukupi bahkan turah-turah, tidak ada yang dikeluhkan, ketenangan ada, tidak dalam keadaan perang berkecamuk seperti di Irak, tidak kepanasan sebagaimana panas yang dirasakan oleh orang-orang yang mengungsi di Palestina.., tetapi mengapa bersamaan dengan itu kenapa kita juga masih memilukan hidup.?
Maka pada saat itu tersebutlah Ulbah bin Zaid Al Haritsi, seorang yang sangat faqir, tidak memiliki apa-apa diatas dunia ini, seorang dari golongan Anshor dari kabilah Aus, tatkala dia menyaksikan kesibukan kaum muslimin dalam persiapan jihad ke Tabuk, melihat seluruh kaum muslimin dari berbagai pelosok negeri tinggal dan menetap di tanah kelahirannya Madinah, datang berbodong-bondong kemudian memancang kemah, sambil membawa apa yang mereka miliki dari senjata dan kendaraan, memancang kemahnya menunggu hari keberangkatan. Dia juga melihat transaksi di pasar-pasar Madinah banyak transaksi yang terjadi dialog berhubungan dengan persiapan perang, dari mulai kuda, unta, panah, pedang, tameng besi dsb. Dia menyaksikan itu semua dengan kesedihan yang sangat mendalam. Semua orang telah membeli perlengkapan perangnya, sedangkan dirinya… apa yang dia mau persiapkan..? kalau hendak membeli, mau beli pakai apa? Uang satu dirham pun ia tidak punya. Apalagi pagi itu dia mendengar Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mengatakan : man jahhaza jaisyul usroh falahul jannah

Maka semakin terbenamlah serasa dirinya ke dalam bumi, hancur luluh serasa hatinya, sedih hatinya, semua orang mendapatkan surga kecuali dirinya. Semakin panas dingin badannya mendengar sabda Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam demi melihat kefaqiran dirinya, ditambah lagi Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mensyaratkan siapa yang mau ikut berperang harus membawa alat dan kendaraan perang sendiri. Dilihat juga oleh Ulbah bin Zaid ketika dia duduk di masjid Nabawi, dia melihat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam dikelilingi para sahabat, tiba-tiba datang Abu Bakar sambil membawa semua harta yang dia punya sejumlah 4000 dirham.
Ketika ditanya oleh Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, “ Ya Abu Bakar, apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”
Abu Bakar menjawab, “aku tinggalkan untuk mereka Alloh dan Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam-Nya”.
Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam pun bersabda,” Tidak ada harta yang paling bermanfaat bagiku sebagaimana bermanfaatnya harta Abu Bakar”.
Umar pun datang dengan membawa setengah hartanya. Utsman bin Affan membawa seribu dinar dalam pakaiannya, bahkan kafilah dagangnya yang hendak berangkat ke Syam sejumlah dua ratus ekor unta lengkap dengan barang-barangnya dia keluarkan sedekahnya, ditambah lagi dengan seratus ekor unta, lalu ditambahnya lagi seribu dinar uang kontan. Maka Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam pun bersabda

“Ya Alloh, (aku mohon padaMu) ridhoilah Utsman, sesungguhnya aku telah ridho padanya ”

Tak lama setelah itu sampailah perniagaannya yang baru datang dari Syam sejumlah 1000 ekor unta beserta isinya. Tiba-tiba datanglah tengkulak-tengkulak hendak membeli perniagaan tersebut. Salah seorang dari mereka berkata:
“Ya Utsman,kami beli 2x lipat..!!”
“Tidak..tidak..!! karena ada yang berani membeli lebih tinggi dari penawaran kalian” jawab Utsman
“Kami beli 3x lipat dari harga yang kamu dapatkan” kata si tengkulak
“Tidak..belum cukup kalau cuma 3x lipat..!!” jawab Utsman
Akhirnya tawar menawar “kami beli 10x lipat Ya Utsman..!!”
Utsman pun berkata, “tuan-tuan sekalian, ada diantara tuan-tuan yang hendak membelinya 700x lipat..??!!”
Apa kata mereka,”gila engkau Utsman..!! siapa pula yang sampai menawar hingga 700x lipat ?!”
Utsman pun menjawab,”akan tetapi Alloh telah menawarnya lebih dari 700x lipat.!!”
Allohu Akbar saudaraku…Utsman pun membacakan ayat

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.” (QS. Al Baqoroh : 261)

“Saksikanlah wahai para tengkulak…semua barang perniagaan yang ada ini, seluruhnya aku infaqkan di jalan Alloh Ta’ala” seru Utsman.
Subhanalloh..Allohu Akbar..dari generasi mana mereka ini muncul, dari makhluk mana mereka ini saudaraku..dari planet mana mereka datang..?? apakah mereka diciptakan dari daging yang penuh dengan nafsu dunia dan ketamakan, yang penuh dengan kebakhilan dan ketakutan akan miskin karena berinfaq dan bersedekah..?! bukan saudaraku…tapi mereka adalah para sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam.
Tidak lama kemudian datang pula Abdurahman bin Auf sang dermawan, membawa 200 uqiyah perak, datang pula ‘Abbas bin Abdul Mutholib paman Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, Tholhah bin ‘Ubaidillah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah, yang mereka semua berinfaq di depan mata Ulbah bin Zaid. Dia juga melihat kedatangan orang-orang yang kurang berada membawa infaq semampunya, dimulai oleh ‘Ashim bin Adiy mebawa 70 wasaq kurma, ada yang membawa dua mud bahkan satu mud kurma, tidak satu pun kaum muslimin yang tidak memberi kecuali kaum munafiqin. Alloh pun menyindir mereka

(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih. ” (QS. At Taubah 79)
Apa yang dirasakan oleh Ulbah selain kesedihan yang sangat. Apa yang bisa diperbuat sementara ia tidak punya apa-apa, sementara orang berbondong berinfaq. Melihat hal itu pulanglah Ulbah membawa semua kesedihannya. Di zaman sekarang ribuan jutaan orang membawa kesedihan dunia, Ulbah pulang membawa kesedihan karena teringat akhirat. Adakah di zaman sekarang ini sosok seperti Ulbah..?? Memikirkan kemana nanti hendak dia di tempatkan di akhirat, apakah di surga ataukah neraka, kalau ternyata di surga di tempat yang mana, di tingkatan ke berapa dan bersama-sama siapa ??
Ketika senja telah beralu dan malam pun tiba, Ulbah berusaha memejamkan matanya, tapi bagaimana mau dipejamkan matanya sementara hati masih berdebar-debar, pikiran masih galau, apa yang bisa dilakukannya selain membolak-balikkan badannya di atas tikar yang lusuh hingga tengah malam. Akhirnya dia bangkit, timbul sebuah ide, sebuah pemikiran dalam dirinya, yang kiranya apabila dia melaksanakan idenya ini mudah-mudahan dapat mengurangi kegundahan hatinya. Lantas Ulbah berwudhu dan melaksanakan sholat malam, apalagi yang bisa dilakukan oleh orang yang sengsara dan bersedih hati selain bermunajat kepada Alloh Yang Maha Pemurah..?? bagi orang yang mendapatkan kesusahan kecuali dia mengadukan kepada Sang Khaliq…(do’a Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam Ya’qub, sebagaimana surat Yusuf : 86)

Di dalam sholatnya dia pun menangis, adakah anda pernah melihat seorang yang gundah mengadukan semua keluhan dan kegundahannya dengan menangis kepada Rabb Yang Memiliki isi langit dan bumi..? dia sebutkan kefaqirannya, dia sebutkan kelemahannya, dia sebutkan ketidakberdayaannya, dia minta kepada Alloh jangan sampai kefaqirannya dan ketidakmampuannya berinfaq pada persiapan perang Tabuk ini menggeser kedudukannya dibanding sahabat-sahabatnya kelak di surga, jikalau aku Engkau buat susah di dunia, janganlah pula Engkau jauhkan aku dari surgamu. Diantara doanya adalah:

“Ya Alloh, engkau perintahkan kami untuk berjihad, engkau perintahkan kami untuk berangkat ke Tabuk, sedangkan engkau tidak memberikan aku sesuatu apapun untuk bekal berangkat berperang bersama Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam-Mu, maka malam ini saksikanlah ya Alloh…sesungguhnya aku telah bersedekah kepada setiap muslim dari perlakuan zhalim mereka terhadap diriku, maka inilah kehormatanku aku infaqkan di jalan-Mu, jika ada seorang muslim menghinakan dan merendahkan diriku, maka aku infaqkan itu semua di jalanMu Ya Alloh..tidak ada yang dapat aku infaqkan sebagaimana orang lain telah berinfaq, kalau sekiranya aku punya sebagaimana mereka punya akan aku infaqkan untukMu, maka yang aku punya hanya kehormatan sebagai seorang muslim, kalau engkau bisa menerimanya, maka saksikanlah kehormatan ini aku sedekahkan untukMu malam ini…”
Alangkah jernihnya doa tersebut…keluar dari hati seseorang yang tidak punya apapun di dunia ini melainkan kehormatan, alangkah teduhnya ucapan di malam hari yang gelap, terangkat doanya ke langit ke tujuh, menggetarkan Arsy Alloh Ta’ala, semua sedekah tidak sehebat sedekahnya. Esok shubuh Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam memimpin sholat berjama’ah, hadir pula Ulbah bin Zaid. Telah ia lupakan air mata yang tumpah bercucuran di tikar lusuhnya tadi malam, ia lupakan karena telah dibasuh oleh air wudhu yang baru. Akan tetapi Aloh tidak pernah lupa, Alloh tidak pernah menyia-nyiakan doa hamba-Nya. Kejadian di tempat yang sepi tersebut dikabarkan oleh Alloh kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam melalui Malaikat Jibril. Selesai sholat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam pun berdiri kemudian Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bertanya.

Ternyata tidak ada yang berdiri, karena merasa tidak bersedekah tadi malam, atau merasa yakin betul sedekahnya diterima oleh Alloh Ta’ala. Ulbah bin Zaid pun tidak merasa bahwa dirinya telah bersedekah.

Akan tetapi Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mendekati Ulbah dan berkata, “sungguh ya Ulbah, sedekahmu malam tadi telah diterima oleh Allah Ta’ala sebagai sedekah yang maqbul..!!”
Bagaikan aliran listrik yang langsung mengalir ke jantung Ulbah bin Zaid, laksana halilintar dahsyat menghantam dirinya, karena dia sama sekali tidak mengira, cahaya kebahagiaan langsung memancar dari dirinya.
“Benarkah ya Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam..benarkah sedekahku yang tadi malam yang tidak ada apa-apanya itu diterima Alloh…??” tanyanya penasaran seolah-olah tidak percaya.
Maka Nabi pun menyerahkan 6 ekor unta kepada Ulbah bin Ziad dan tujuh orang temannya untuk berangkat ke medan jihad, peperangan Tabuk…peperangan yang atas izin Alloh dimenangkan oleh kaum muslimin, ditandai dengan menyerahnya negara-negara boneka Romawi, dan semakin berkurangnya daerah kekuasaan kerajaan Romawi.
Disadurkan dari kajian Ust. Armen rahimahulloh
“Kedermawanan si Faqir, ibroh dari sahabat Ulbah bin Zaid Al Haritsi”
Wallahu’alam bishawwab .
Jakarta, Juni 2010.
Vien AM.

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE–Tahun 2004 lalu, mungkin menjadi tahun yang paling berkesan bagi seorang Susan Carland. Betapa tidak, wanita kelahiran Melbourne, Australia, ini terpilih sebagai Tokoh Muslim Australia (Australian Muslim of the Year) 2004. Sejak saat itu, sosoknya dikenal luas di seluruh penjuru Negeri Kangguru, bahkan hingga ke negeri tetangga.

Susan Carland, Aktivis Gereja yang Menemukan Kelembutan Islam
Kendati pernah dinobatkan sebagai Tokoh Muslim Australia berpengaruh, sejatinya Susan bukan berasal dari keluarga Muslim. Kedua orang tuanya merupakan pemeluk Kristen yang taat. Ia sendiri baru mengenal Islam pada usia yang baru menginjak 19 tahun.

Orang tuanya bercerai ketika Susan berusia tujuh tahun. Ia kemudian memilih untuk tinggal bersama ibunya, yang dianggapnya sebagai sosok wanita yang gigih, penyayang, dan orang yang paling banyak memengaruhi perjalanan kehidupannya.

Sebagai pemeluk Kristen yang taat, sang ibu pun mengharuskan anak gadisnya itu untuk aktif dalam kegiatan gereja dan mengikuti sekolah Minggu. Namun, ketika menginjak usia 12 tahun, ia memutuskan tidak lagi menghadiri kegiatan gereja dan mengikuti sekolah Minggu. “Saat itu, saya beralasan bahwa saya tetap percaya kepada Tuhan meskipun tidak ke gereja.”

Namun, keinginan yang kuat untuk mengenal Tuhan lebih jauh pada akhirnya mendorong Susan untuk ikut aktif lagi di kegiatan gereja. Ia kemudian memutuskan bergabung dengan sebuah komunitas gereja yang menurutnya terbilang lebih toleran dibandingkan yang sebelumnya pernah ia masuki.

Walaupun aktif dalam kegiatan gereja, diakui Susan, dirinya tetap bisa melalui masa remajanya seperti kebanyakan gadis seusianya. Pada waktu senggang, ia mengikuti kelas balet dan kegiatan ekstrakulikuler lainnya yang diselenggarakan oleh sekolahnya.

Saat aktif di komunitas gereja baru ini, ia kerap mendengar pembicaraan orang-orang di sekitarnya yang mengaku berbicara dengan Tuhan dalam bahasa roh. Hal tersebut menimbulkan kebingungan dalam dirinya yang saat itu tengah mempelajari konsep mengenai ketuhanan.

Ketika merayakan ulang tahunnya yang ke-17, Susan membuat beberapa resolusi di tahun baru. Salah satu resolusinya adalah menyelidiki agama-agama lain. “Agama Islam saat itu tidak masuk dalam daftar teratas karena agama ini bagi saya terlihat asing dan penuh dengan kekerasan,” ungkapnya.

Pengetahuan tentang Islam yang dimiliki Susan kala itu hanya sebatas pada penjelasan-penjelasan yang ia baca di buku ensiklopedia anak-anak dan dalam film berjudul Not Without My Daughter. Di samping itu, ada juga pesan yang pernah disampaikan ibunya bahwa beliau tidak peduli jika dirinya menikah dengan seorang pengedar narkoba sekalipun, asalkan jangan dengan seorang Muslim.

Layar TV

Lalu, kenapa ia kemudian memilih Islam? Ada nilai lebih yang ia dapatkan dalam agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yakni kedamaian dan kelembutan. Kebalikan dari yang pernah ia dengar sebelumnya.

Saat disuruh menjelaskan bagaimana ia bisa memutuskan menjadi seorang Muslimah, ibu dua anak ini menuturkan kepada harian The Star bahwa ia tidak bisa mengingat secara pasti, apakah dia menemukan Islam atau Islam menemukannya. Yang pasti, semua peristiwa tersebut tidak pernah ia rancang sebelumnya. “Hari itu, saya menyetel televisi dan mendapati diri saya sedang asyik menyaksikan sebuah program mengenai Islam,” ujarnya.

Sejak saat itu, berbagai artikel mengenai Islam di koran dan majalah selalu menarik perhatian Susan. Tanpa disadarinya, ia mulai mempelajari agama Islam. Ketika dalam proses pembelajaran tersebut, Susan justru menemukan sebuah ‘kelembutan’ yang tidak pernah ia temukan. Lagi pula, ajaran Islam menarik baginya secara intelektual.

“Agama ini jauh berbeda dibandingkan agama-agama yang pernah saya pelajari dan selidiki. Dalam Islam, ternyata tidak mengenal yang namanya pemisahan antara pikiran, tubuh, dan jiwa seperti halnya yang pernah saya pelajari dalam agama Kristen,” papar dosen sosiologi Universitas Monash, Australia, ini.

Berawal dari situ, Susan bertekad bulat untuk memeluk Islam. Satu kebohongan besar yang terpaksa ia lakukan adalah merahasiakan perihal keislamannya dari keluarga dan teman-temannya, terutama sang ibu.

Namun, takdir berkata lain. Rahasia yang telah ditutupinya rapat-rapat terbongkar juga ketika ibunya mengadakan perjamuan makan malam dengan menu hidangan utama daging babi. “Saat itu, saya mengalami dilema, antara mesti mengumumkan soal keislaman saya atau memakan makanan haram itu,” ujarnya mengenang peristiwa itu.

Dalam kebimbangan tersebut, ia pun berterus terang. Namun, tanpa ia sangka, reaksi yang ditunjukkan oleh ibunya sungguh membuatnya terkejut. Bukan kemarahan dan cacian, melainkan tangisan dan pelukan erat dari sang ibunda yang diterimanya.

Selang beberapa hari setelah insiden makan malam tersebut, istri dari Waleed Ali ini kemudian memutuskan mengenakan jilbab. Menurutnya, menutup kepala merupakan kewajiban bagi seorang Muslimah. Karena, hakikatnya, Islam mengatur segala aspek dalam kehidupan manusia. Bagi dia, banyak manfaat yang dirasakan dengan menutup aurat itu. “Selain sebagai sebuah peringatan agar kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya, juga menjadikan wanita Muslim sebagai duta Islam,” ujarnya.

Selepas memeluk Islam, perjalanan hidup yang dilalui Susan tidaklah semudah yang dialami segelintir mualaf yang bernasib baik. Susan sering berhadapan dengan kemarahan khalayak ramai dan dijauhi oleh teman-temannya. Bahkan, ia juga kerap mendapatkan penghinaan di depan umum terkait dengan jilbab yang menutupi kepala dan rambutnya.

Namun, kini semuanya berubah. Setelah lima tahun berislam, barulah Susan mempunyai teman-teman yang bukan saja berasal dari kalangan Muslim, tetapi juga dari non-Muslim. Dengan busana Muslim yang membalut tubuhnya, ia kini bebas mengajak anaknya untuk berjalan-jalan di taman kota ataupun bermain di dekat danau, di mana dulu semasa kecil ia sering diajak oleh ibunya untuk memberi makan bebek. Begitupun ketika ia pergi mengajar ke kampus dengan mengendarai VW Bettle warna merah muda yang biasa disapanya dengan panggilan ‘Gus’, tidak ada lagi tatapan sinis dari orang-orang di sekelilingnya.

Jakarta, Juni 2010.

Vien AM.

Dikutip dari:http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/06/17/120473-susan-carland-aktivis-gereja-yang-menemukan-kelembutan-islam

( Sambungan dari Menilik Jejak Islam di Eropa (8) )

Sejarah mencatat bahwa walaupun pada tahun 759 M secara umum Perancis berhasil memukul mundur pasukan Islam dari wilayah mereka namun nyatanya sisa-sisa kekuatan Islam masih ada hingga ratusan tahun kemudian. Ini terbukti dengan adanya sejumlah benteng peninggalan yang terdapat di pegunungan sepanjang perbatasan Perancis- Spanyol di selatan, maupun di perbatasan Perancis–Italia di tenggara.

Islam baru benar-benar lenyap dari bumi Perancis setelah pertempuran Tourtour ( Le Bataille de Tourtour ) pada tahun 973 M. Pada pertempuran yang menyakitkan ini kaum Muslimin yang masih hidup dipaksa memeluk Kristen atau dijadikan budak.

Adalah Ramatuelle. Kota turistik diatas bukit yang sekarang ini merupakan tempat tinggal idaman para seniman Perancis adalah satu diantara kota tua peninggalan Islam yang terletak di perbatasan Perancis–Italia. Kota ini tidak jauh letaknya dari St Tropez, kota pantai laut Mediterania kesayangan para selebritis. Nama asli kota yang memiliki jalan-jalan sempit menanjak ini adalah Rahmatullah, kata Arab yang berarti kasih sayang Allah.

Di dalam wilayah yang dinamakan Le Fraxinet (dalam bahasa Arab Jabal al-Qilâl ) ini pula berdiri sebuah kota benteng yang saat ini dinamakan La Garde Freinet. Disini dulu masyarakat Islam dan peradabannya bertahan. Dari wilayah inilah Islam terus menyebar ke Italia dan Swis. ( Beberapa sumber lain menyatakan bahwa Le Fraxinet di tahun 800-an memang daerah koloni kesultanan Andalusia).

Sementara di pegunungan di perbatasan Perancis dan Spanyol berdiri sebuah  kota benteng raksasa nan cantik sesuai dengan namanya yaitu Carcassonne. Kota ini terletak sekitar 80 km tenggara kota Toulouse. Ada sebuah legenda terkenal mengenai asal usul nama kota ini. Terus terang ini surprised buat saya. Kisah ini saya temukan dari buku panduan turis yang saya beli di kota tersebut.

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 725 M, pasukan Islam berhasil menguasai Carcassone. Pasukan dibawah komando panglima Musa bin Nushair ini terus merangsek ke jantung Perancis hingga akhirnya dikalahkan Charles Martel  di pertempuran Poitiers. Pasukan Islam dipaksa mundur meninggalkan daratan Perancis dan kembali ke Spanyol. Namun dalam keadaan terjepit tersebut, pasukan Musa ini sempat menduduki 2 kota penting Perancis, yaitu Avignon dan Arles, meski hanya 2 tahun.

( Saya baru saja membaca berita menarik dari sebuah blog pribadi yang ditulis oleh seorang Perancis tentang kunci kemenangan Charles Martel. Ternyata calon raja Perancis ini tidak mau mengambil resiko berat dalam menghadapi pasukan Islam yang dikenal tangguh ini. Untuk menghindari pertempuran frontal, ia mengerahkan orang-orangnya untuk melakukan penjarahan terhadap kota-kota milik  pasukan Islam ! Taktik ini sengaja digunakan untuk melemahkan pertahanan musuh .. dan berhasil. Dalam keadaan kacau inilah kemudian ia menyerang dan menjatuhkan pasukan Islam … 😦 … ).

Namun tidak demikian dengan Carcassone. Kota benteng ini berhasil dipertahankan selama 25 tahun lamanya. Kisah penyerahan kota ini diabadikan oleh para pemeluk Nasrani Perancis melalui kisah yang dipopulerkan dengan nama “ La lagende Dame De Carcas” atau legenda Putri Carcas.

Kisahnya adalah sebagai berikut :

Pada tahun 745 M pasukan gabungan Perancis dibawah Charles Martel, kakek Charlemagne kembali menyerang benteng Carcas. Terjadilah pertempuran sengit antara kedua pasukan tersebut. Dalam keadaan terjepit, sultan Carcas mengirim orang kepercayaannya untuk meminta bantuan saudaranya yang menjadi sultan Narbone, Namun pertolongan tersebut tak pernah kunjung tiba hingga sang sultanpun tewas di pertempuran.

Tinggallah permaisuri Carcas yang dengan gigih berusaha mempertahankan benteng. Seluruh warga dikerahkan, laki-laki, perempuan, tua muda. semua bersatu. Bahkan sang permaisuri sendiri terlihat  berlarian dari satu ke menara yang jumlahnya 29 itu ke menara yang lain. Dengan cerdiknya ia juga berusaha mengelabui lawan dengan membuat orang-orangan dari ijuk agar musuh mengira pasukannya masih banyak.

Namun demikian akhirnya pasukan Perancis berhasil mengepung benteng tersebut  dari luar. Walaupun pasukan ini tetap tidak berhasil mendobrak gerbang kota namun mereka berhasil membuat warga menderita kelaparan hebat.  Sementara itu pasukan Perancis hanya  duduk-duduk santai menanti benteng Carcas menyerah.

Hal ini terjadi hingga 5 tahun lamanya. Akibatnya sebagian besar wargapun akhirnya mati  kelaparan. Hingga suatu ketika permaisuri Carcas menemukan sebuah ide. Ia melemparkan seekor anak babi yang ditemukannya ke luar benteng. Ia berharap agar pasukan yang menanti diluar bagai serigala kelaparan itu mengira bahwa warganya tetap bisa bertahan karena masih memiliki persediaan makanan cukup banyak. Oleh karenanya mereka masih mampu membuang seekor babi seenaknya. Padahal umat Islam memang tidak makan daging babi. Dan sebenarnya  merekapun hanya tinggal memiliki sekarung kecil gandum !

Siasatnya berhasil. Charles Martel akhirnya memutuskan untuk pulang. “ Percuma kita menanti berlama-lama disini. Mereka masih mempunyai persediaan makanan cukup. Mari kita tinggalkan saja kota ini”, begitu perintahnya.

Namun pada saat mereka hendak bergerak mundur tiba-tiba seluruh lonceng yang berada di kota benteng tersebut berbunyi. Rupanya sang permaisuri menghendaki adanya negosiasi.

Carcas  .. sonne “, begitu teriak pasukan Perancis. Sonne artinya berbunyi. Maksudnya warga Carcas telah menyerah. Itu sebabnya kemudian kota tersebut dinamakan  Carcassonne …

Di akhir kisah tersebut diceritakan bahwa Charles Martel, calon raja Perancis itu akhirnya meng-‘hadiahkan’ kota yang dengan susah payah ingin direbut tersebut kepada Carcas sang permaisuri. Kemudian permaisuri tersebut menikah  dengan salah satu pengikut setia dan terbaik Charles Martel yang bernama Roger. Perkawinan  politik ini di kemudian hari menurunkan dinasti Trencavel yang terkenal itu. Sayang akhirnya kisah ditutup dengan di baptisnya Carcas sang permaisuri menjadi Nasrani. 😦

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran “. (QS.Al-Baqarah(2):221).

Yang juga cukup menarik, dinasti Trencavel yang secara turun menurun kemudian menguasai Carcassonne dan sekitarnya dianggap pihak gereja terlalu toleran, terutama terhadap pemeluk Yahudi. Maka pada sekitar tahun 1200-an Carcassonne harus menerima akibat dengan diperanginya oleh gereja. Peristiwa ini dikenal dengan nama Perang Salib Cathar ( Cathar Crusade) yang berlangsung selama 20 tahun.

Carcassonne dikepung hingga akhirnya kalah karena kekurangan air. Penduduknya banyak yang meninggal, rajanya, Raymond Roger meninggal di kamarnya sendiri karena dehidrasi alias kekurangan air.  Sementara penduduknya yang masih hidup diusir dari kota dalam keadaan  terhina. Dengan hanya secarik kain penutup mereka harus meninggalkan kota.  Selang beberapa tahun kemudian berakhirlah dinasti Trencavel.

Wallahu’alam bish shawab.

Pau – France, 7 Juni 2010.

Vien AM.

Waktu berlalu terasa begitu cepat. Nyaris 1 tahun sudah kami tinggal di Pau, Perancis Selatan. Banyak hikmah yang kami dapati selama tinggal di kota yang tak begitu jauh dari perbatasan Spanyol tersebut, Alhamdulillah .. Terima-kasih banyak Ya Allah .. Semoga hamba-Mu yang hina ini tidak mengecewakan-Mu …

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (QS.Al-Mulk(67):15).

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (QS.Ali Imran(3):137).

Semenanjung Iberia ( Spanyol dan Portugal ) bagi sejarah perkembangan Islam di Eropa memiliki arti yang sangat besar. Ini adalah pintu gerbang bagi masuknya ajaran yang disampaikan melalui nabi terakhir, Muhammad saw pada tahun 600-an ini ke belahan bumi bagian barat.

Sejarah mencatat bahwa hanya berselang tak lebih dari 100 tahun sejak wafatnya Rasulullah saw, Islam telah masuk ke seluruh semenanjung Iberia.  ( Bandingkan dengan ajaran Nasrani yang dibawa Isa as. Ajaran ini baru diakui 300 tahun setelah wafatnya sang rasul. Itupun setelah banyak diselewengankan).

Tidak hanya semenanjung Iberia, bahkan pasukan Islam dibawah pimpinan Musa bin Nushair dan Tariq bin Ziyad yang menaklukkan semenanjung tersebut pada tahun 711 M ini nyaris memasuki jantung Perancis pada tahun 732 M. Ini terjadi di masa pemerintahan Umar bin Abdul Azis. Ia memulai penyerangan dari pegunungan Pirenea yang menjadi batas antara Spanyol dan Perancis. Setelah Bordeaux ditaklukkan, Tours adalah kota sasaran berikutnya. Namun tampaknya Allah swt saat itu belum mengizinkan ajaran Islam masuk ke negri yang saat ini menjadi salah satu lambang pusat mode dunia ini. Pasukan Islam dikalahkan pasukan Perancis dibawah Charles Martel  di Poitiers.

Padahal sebelumnya pasukan ini terlihat tak dapat dibendung.  Septimania, yaitu 7 propinsi Gaul, diantaranya adalah propinsi Aquitaine, Roussillon dan  Narbonne yang terletak di sepanjang laut Mediterania serta propinsi Alpen Maritim di perbatasan Italia dengan Perancis tenggara, jatuh secara berturut-turut sejak tahun 714 M. Narbonne  pada tahun 719 M, Carcassone dan Nimes pada tahun 725 M. Toulouse yang sekarang menjadi satu dari lima kota terbesar Perancispun tak luput dari ancaman. Begitupun Arles dan Provence bahkan hingga Atun dekat kota Lyon, yang terletak jauh di jantung Perancis. Belum lagi sejumlah kepulauan di laut Tengah ( Mediterania ) seperti Sisilia dan Sardinia (Italia), Korsika ( Perancis) dan Majorika ( Spanyol) yang jatuh pada tahun 800-an.

Kekuasaan Islam di Perancis Selatan secara umum memang tak lebih dari 50 tahun. Yang terakhir adalah Narbonne yaitu pada tahun 759M. Kota ini bahkan selama 40 tahun sempat menjadi satu dari lima ibu kota kerajaan Kordoba, disamping Toledo, Zaragoza, Kordoba dan Merida. Tak urung peristiwa bersejarah ini ternyata terukir dalam di hati Napoleon Bonaparte ( 1769 – 1821), raja Italia sekaligus kaisar Perancis penakluk benua Eropa.

Berikut pengakuan Bonaparte mengenai Islam :

“Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia…Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat…Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separoh bola bumi… Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”…..

(hal 105 dari “Bonaparte et L’Islam” oleh Cherfils).

Sebagian sejarahwan bahkan berani menyatakan bahwa pada bulan Juli 1798 ketika Bonaparte berada di Kairo, ia menyatakan ke-Islam-annya di hadapan Sultan Kairo ketika itu… Wallahu’alam ..

Sejarah juga tidak lupa mencatat bahwa selama periode tersebut orang-orang Yahudi dan Kristen tidak pernah dipaksa meninggalkan agama mereka. Sebagai bentuk ketundukkan mereka terhadap pemerintahan Islam mereka hanya diwajibkan membayar jiziyah. Ini adalah semacam biaya perlindungan sebagai ganti zakat, infak dan sedekah yang dikeluarkan umat Islam. Dakwah yang sepertilah yang ternyata justru mampu menaklukkan hati mereka.

Tampaknya ini yang menjadi penyebab utama mengapa Narbone begitu sulit direbut kembali oleh Perancis. Diperlukan waktu 7 tahun lamanya agar kota ini kembali ke pangkuan. Karena justru rakyatlah yang membela pasukan Islam dan tidak menginginkan kembali masuk ke dalam wilayah pemerintahan Perancis. Padahal sebetulnya hanya sebagian kecil saja warga asli Narbone yang masuk Islam. Ini adalah bukti betapa adilnya hukum pemerintahan Islam terhadap warga walaupun berbeda agama.  Subhanallah ..

2009-12 Carcassonne-03Secara pribadi, sungguh merupakan kehormatan bagi kami berkesempatan melihat dan merasakan sendiri denyut kehidupan kota-kota di Perancis, khususnya di  bagian selatan.

 

Chateau de PauIMG_3808

Memang nyaris tak ada catatan resmi tertulis tentang peninggalan Islam di kota-kota tersebut. Namun demikian ada saja sejumlah bangunan di beberapa kota yang tampaknya tidak mampu di hapuskan begitu saja dari sejarah. Paling tidak pengaruh budaya Islam Andalusia yang ketika itu sedang berada dalam masa keemasannya masih terlihat.

Didasari rasa penasaran, setelah beberapa hari surving dan searching di dunia maya, saya menemukan sejumlah berita dan asal usul beberapa  kota di wilayah tersebut.

Di ujung selatan antara Perancis dan Spanyol sebelah timur laut terdapat sebuah wilayah bernama Catalan dalam bahasa Perancis  atau Llivia dalam bahasa Spanyol.  Ternyata kota ini dulunya pernah memiliki nama khas Arab yaitu  Medinet-el-bab yang artinya adalah kota gerbang.  Ketika itu kota ini memang berada di bawah kekuasaan Munuza Utaman Abu Nâsar, seorang panglima Umayah yang mendapat perintah menaklukan kepulauan Sardinia di Italia ditahun730 M.

Menurut kabar, panglima ini menikahi gadis cantik putri bangsawan Perancis Aquitaine yang bernama Lampegie. Sayang cintanya yang begitu besar membuat diri sang panglima menjadi buta dan lalai. Ia dilaporkan berkhianat terhadap tugas negara  hingga akhirnya harus dibunuh.

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (QS. Al-Baqarah(2):221).

RamatuelleBerikutnya adalah Ramatuelle. Ini adalah sebuah kota kecil yang terletak di Provence, Alpes Cote d’Azur, salah satu propinsi Perancis Tenggara. Kota yang terletak tidak jauh dari St Tropez, kota di pantai Mediterania yang menjadi tempat tujuan para selebritis ini ternyata menyimpan sebuah rahasia.

Kota ini terletak di pegunungan massif bernama Les Massif De Maures. Banyak sejarahwan mengatakan bahwa nama ‘Maures’ digunakan karena keberadaan orang Maures yang pada abad 8 hingga 9 banyak menempati daerah tersebut. Maures adalah orang-orang Arab Islam Spanyol yang dulu menempati Andalusia.  Sedangkan nama kota Ramatuelle aslinya dulu adalah Rahmatullah,  sebuah nama Arab yang berarti kasih sayang Allah!

( Bersambung )