Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Perang dalam Islam’

Bunuh diri dalam Islam hukumnya jelas, dosa bahkan masuk dosa besar! Bunuh diri dengan alasan apapun tidak bisa dibenarkan. Allah melaknat perbuatan ini karena bunuh diri sama dengan tidak bersyukur , tidak menghargai pemberian nikmat hidup yang diberikan-Nya. Hidup adalah ujian, batu loncatan untuk menuju kehidupan yang lebih abadi yaitu kehidupan akhirat. Kehidupan didunia adalah tiket yang harus dipergunakan sebaik mungkin agar dinegri akhirat nanti  tidak terjebak ke dalam derita,  duka nestapa dan penyesalan yang tiada akhir di neraka. 

 Kesulitan  hidup di dunia baik itu kemiskinan, penyakit, kegagalan dalam membina keluarga, kegagalan dalam cinta, kegagalan dalam karier maupun kegagalan-kegagalan lain dalam hidup ini tidak ada artinya sama sekali dibanding siksa neraka. Ini adalah cobaan yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran. Dan balasan yang akan diterima seseorang itu tergantung dari tingkat cobaan serta kesabaran yang diperlihatkannya. Makin tinggi dan berat cobaan makin tinggi pula kesabaran yang dibutuhkan. Oleh karenanya ganjaran pahalanyapun  lebih banyak lagi. Disamping itu Allah juga berfirman bahwa Ia tidak akan memberi cobaan lebih dari kemampuan seseorang.

 Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya……”. (QS. Al-Baqarah (2): 286).

 Begitupun membunuh manusia lain. Betapapun miskinnya Allah melarang seseorang membunuh anak-anak mereka.

 “ Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”(QS.Al-Isra (17):31).

Namun tidak semua perbuatan membunuh itu dilarang. Dengan beberapa alasan Allah membolehkannya. Contohnya yaitu ketika dalam perang. Tetapi dengan catatan  tidak boleh dengan nafsu amarah. Perang dalam Islam yang diperbolehkan adalah dalam rangka menegakkan kebenaran, menegakkan keadilan,melawan kezaliman. Islam adalah agama yang cinta damai tetapi tetap tegas.

Berikut  pengalaman Ali bin Thalib yang amat patut untuk dicontoh.

Pada suatu pertempuran, Ali bin Abi Thalib menjatuhkan lawannya. Kemudian ia meletakkan kakinya di atas dada lawannya lalu menempelkan pedangnya ke leher lawan tersebut. Tetapi ia tidak segera membunuh orang itu.

Mengapa engkau tidak segera membunuhku?” Orang itu berteriak dengan marah.

Aku adalah musuhmu. Mengapa kamu hanya berdiri saja?

Lalu ia meludahi muka Ali. Mulanya Ali menjadi marah, tetapi kemudian dia mengangkat kakinya dari dada orang itu dan menarik kembali pedangnya.

Aku bukan musuhmu”. Ali menjawab. “Musuh yang sebenarnya adalah sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita. Engkau adalah saudaraku, tetapi engkau meludahi mukaku. Ketika engkau meludahi aku, aku menjadi marah dan keangkuhan datang kepadaku. Jika aku membunuhmu dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadi seorang yang berdosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang kulawan. Perbuatan buruk itu akan terekam atas namaku. Itulah sebabnya aku tidak membunuhmu”.

Sebaliknya Allah swt mengizinkan seseorang untuk menuntut balas atas kematian yang dilakukan seseorang secara sengaja dan zalim terhadap keluarganya. Tetapi dengan syarat tidak melampaui  batas. Apalagi bila si pembunuh telah mengakui kesalahan, meminta maaf serta membayar diat. Maka tidak ada lagi alasan bagi seorang ahli waris untuk membalas kematian tersebut.

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan”.(QS.Al-Isra (17):33).

Bagaimana dengan bom bunuh diri yang belakangan ini makin marak saja terjadi. Saya secara pribadi berpendapat bahwa bom bunuh diri termasuk kasus khusus. Bom bunuh diri yang dilakukan dengan niat mengakhiri berbagai masalah dan kegagalan dalam kehidupan sudah pasti dilarang, haram.hukumnya alias dosa. Namun bom diri yang dilakukan dalam rangka perang  sama hukumnya dengan yang berlaku dalam perang. Bom bunuh diri yang banyak terjadi di wilayah perang seperti di Palestina adalah contohnya.

Harus diakui, seluruh permukaan tanah Palestina adalah wilayah perang. Karena pemerintahan dan negara Israel yang berdiri diatas tanah Palestina dan diakui oleh PBB pada tahun 1948 tidaklah  berdiri atas kemauan dan kehendak rakyat yang mendiami wilayah tersebut.

Sekedar untuk diketahui, Palestina sebelum berdirinya Israel adalah negri yang diakui sebagai negri yang memliki toleransi amat tinggi. Mayoritas penduduknya yang etnis Arab Muslim mampu hidup berdampingan dengan Arab Nasrani, Armenia maupun Yahudi secara rukun dan damai. Berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan mandatari  Inggris yang menguasai Palestina sejak tahun 1917, pada tahun 1922 perbandingan jumlah penduduk antara Muslim, Yahudi dan Nasrani adalah 78 : 11 : 10. Pada tahun 1931 adalah 74 : 17 : 9 dan pada tahun 1945 adalah 60 : 31 : 8. Total penduduk ketika itu adalah 1.845.560 jiwa. Gaza, Hebron, Nablus dan Ramallah adalah 4 kota terbesar yang dikuasai Muslim yaitu antara 83 hingga 99 %. Sementara berdasarkan kepemilikan tanah pada tahun 1945 perbandingan Muslim dan Yahudi adalah adalah 84 : 2.

( click : Rahasia Israel Yang Tidak Dipublikasikan )

Namun sejak Israel bercokol ditanah tersebut, kerusuhan dan ketegangan terus saja terjadi setiap hari. Dengan berdatangannya orang-orang Yahudi dari seluruh pelosok dunia,     etnis Arab Muslim yang semula mayoritas makin lama makin terpinggirkan. Mereka terus ditekan, dikucilkan dan terusir. Saat ini mereka hanya menduduki  Gaza dan Tepi Barat yang tidak lebih dari 25 % dari seluruh Palestina sebelum 1948. Itupun letaknya terpisah ratusan km. Dan dengan dibangunnya tembok-tembok pembatas di dalam kota-kota Tepi Barat seperti yang terjadi di Yerusalem Timur, Bethlehem, Jericho dll  sejak tahun 2001 wilayah Palestinapun makin lama makin menyempit. Hingga akhirnya yang tersisa hanya tinggal 12 % saja. Disinilah mereka hidup berdesak-desakan.

Belum lagi dengan kwalitas hidup yang serba dalam kesulitan. Karena otoritas Israel hanya menyalurkan 15 % air bersih dan  listrik ke wilayah ini. Keadaan mereka benar-benar sangat memprihatinkan. Mereka tertindas di tanah air mereka sendiri dan ironisnya lagi seluruh dunia mengetahuinya! Dapatkah kita merasakan bagaimana tertekannya perasaan mereka?  Bagaimana dan dengan apa mereka harus melawan ? Bagaimana mereka dapat meng-agung-kan-Nya, mendirikan ibadah dengan tenang ? Siapa yang mau membela dan melindungi anak-anak mereka ??

Maka bom bunuh diripun akhirnya menjadi pilihan terakhir. Untuk menghindari agar korban sipil dapat ditekan tampaknya agak sulit. Mereka memang tinggal di wilayah yang padat penduduk dengan pos penjagaan tentara yang tersebar dimana-mana. Setiap waktu setiap saat selalu terjadi keributan. Untuk pergi mencari nafkah, ke sekolah, ke pasar  bahkan ke dokterpun mereka musti berkali-kali melalui pos penjagaan yang super ketat. Dibawah todongan senjata pula ! Maka jalan satu-satunya hanya meledakkan diri didepan pos-pos penjagaan tersebut.

Namun bila kemudian aksi bom bunuh diri ini divonis sebagai kejahatan perang, tentunya banyak pihak yang harus dilibatkan dan dipersalahkan. Begitu pula dengan timbulnya kesan kebencian yang begitu mendalam terhadap Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah negara adi daya yang menjadi sekongkol Israel. Tanpa dukungan dan perlindungan negri paman Sam ini mustahil Israel dengan Zionisnya mampu berbuat semena-mena terhadap rakyat Palestina. Sebenarnya bahkan umat Kristiani Palestinapun membenci kebijaksanaan Israel. Bagaimanapun mereka merasa bahwa dibawah bendera Palestina Muslim ( dulu) mereka aman. Toleransi diantara pemeluk Islam, Nasrani dan Yahudi sangat tinggi dijunjung.             

Saya sering mendengar dan membaca berita mengenai korban kejahatan perang melalui berbagai media, baik televisi, koran maupun internet. Namun baru kali ini saya mendengar sendiri dari mulut anak perempuan saya yang berumur 15 tahun. Ia murid sebuah SMA di Pau, kota kecil di Perancis Selatan. Di sekolah inilah ia berkenalan dengan seorang remaja Chechnya. Darinya ia mengetahui bahwa temannya tersebut adalah pengungsi korban perang Chechnya.

Chechnya adalah salah satu negara bagian Rusia yang berjuang untuk melepaskan dan memerdekakan diri dari Rusia. Karena letaknya yang berdekatan dengan Turki Ustmaniyah sejak abad 15 mayoritas penduduknya adalah Muslim. Namun dibawah pemerintahan Rusia mereka sangat sulit menjalankan ajaran Islam. Walaupun pada tahun 1991 dengan bubarnya Republik Federasi Rusia, Chechnya berhasil memproklamirkan diri, perang sengit tetap saja terjadi. Rupanya Rusia tidak ingin kehilangan wilayah yang dikabarkan kaya akan minyak ini. Perang yang berlangsung sejak tahun 1994 dan menelan korban meninggal ratusan ribu jiwa, jutaan anak yatim piatu dan cacat serta menghancurkan sebagian besar infrakstuktur negri ini hingga kini sesekali masih saja berlangsung.    

Click : Distruction of Chechnya

Bella, demikian nama remaja tersebut, menceritakan bahwa ia masih dapat mengingat bagaimana kedua saudara lelakinya ditembak tentara Rusia di depan matanya hingga meninggal ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah. Menurut anak saya, temannya yang cantik dan santun itu kelihatan kurang percaya diri dan agak pendiam serta pemalu. Saya katakan itu adalah trauma akibat dari apa yang pernah terjadi terhadap dirinya. Ayah Bella hingga saat ini masih sering pulang ke negaranya untuk membantu perjuangan saudara dan teman-temannya. Sementara kakak lelakinya bekerja di salah satu kota di Perancis bagian utara. Dengan gaji yang pas-pasan ia harus menyantuni hidup Bella, adik dan kedua orang-tuanya yang hingga saat ini masih   mengontrak sebuah apartemen sempit di Pau. Bella sendiri bisa sekolah karena bea siswa Perancis.

Suatu hari anak saya juga bercerita bahwa Bella hanya hafal beberapa surat pendek saja dan tampaknya sering meng-qodho shalat Zuhur dan  Asar dengan Magrib! Hampir semua murid di Perancis memang sulit menjalankan shalat Zuhur pada waktunya. Karena selain sekolah tidak menyediakan tempat shalat suasananya juga  kurang mendukung. Biasanya mereka memang meng-qodhonya dengan Asar. Namun dengan Magrib??

Inilah salah satu dampak perang yang nyata terlihat. Anak-anak tidak saja hanya kehilangan orang-tua dan sanak keluarga namun juga bimbingan dan pegangan agama. Bella masih lumayan karena bagaimanapun ia masih menjalankan shalatnya. Namun bagaimana dengan yang lain.. Karena banyak korban perang yang kemudian diadopsi oleh penduduk setempat yang pada umumnya pemeluk Nasrani atau malah Atheis !

Belum lagi dengan nasib mereka yang terpaksa hidup mengemis, tinggal di tenda-tenda pengungsian yang kumuh. Mereka hidup hanya berdasarkan belas kasihan orang lain. Mereka adalah para korban perang yang datang dari berbagai negara seperti Irak, Palestina, Afganistan, Serbia dan Chechnya.

Ironisnya, bahkan sesungguhnya kitapun, rakyat Indonesia yang sebagian besar penduduknya memeluk Islam secara tidak langsung telah ikut andil dalam penghancuran tersebut. Sebab dengan berbelanja dan mengkonsumsi berbagai produk Zionis yang dibungkus label barat berarti kita telah memberikan keuntungan kepada Israel. Dan dengan kekayaan yang makin menggunung itulah  mereka menekan saudara-saudara kita dimanapun berada.

Sungguh mengherankan, di zaman modern ini dimana kata demokrasi, keadilan, persamaan hak dll begitu sering dikumandangkan namun nyatanya penindasan, monopoli, pemaksaaan pikiran bahkan perang masih saja terjadi di hadapan kita. Ironisnya, sebagian umat Muslim dengan begitu na’ifnya tetap saja merasa bahwa mereka sedang tidak ditekan. Padahal jelas apapun dalih dan alasannya yang selalu menjadi korban adalah negara-negara Islam yang mayoritas penduduknya tegar dalam menegakkan agamanya. Setelah Turki Otoman jatuh pada 1924, dunia Islam benar-benar terpuruk. Palestina, Irak, Afganistan, Serbia, Chechnya .. siapa berikutnya .. Iran? Indonesia?  

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS.Al-Baqarah(2):109)

Wallahu’alam bishawab.

Pau – France, 24 Oktober 2009.

Vien AM.

Read Full Post »