Feeds:
Posts
Comments

Archive for June 30th, 2009

Dapat kita saksikan betapa dari hari kehari makin  banyak saja manusia di penjuru dunia ini yang menyadari kebenaran ajaran Islam hingga akhrinya mereka kemudian bersyahadat. Subhanallah.. Maha benar  segala firman Allah. Ironisnya sejalan dengan itu justru ada sejumlah umat Islam yang meragukan keorisinilan tidak saja sejumlah hadis namun bahkan seluruh hadis. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa jumlah hadis teramat sangat banyak. Hadis-hadis tersebut bermacam-macam tingkatannya, ada yang kuat, lemah bahkan palsu.

“… Allah berfirman: “… Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-’Araf (7): 156-157)..

Yang dimaksud nabi yang ummi yang tertulis di dalam Taurat dan Injil itu adalah nabi Muhammad saw, rasul yang membawa Al-Quranul Karim. Kitab ini mengajak manusia kepada kebaikan, menunjukkan jalan yang benar dalam rangka menuju Tuhan Yang Satu yang menciptakan alam semesta dan segala isinya.

Namun untuk memahami kitab ini tidaklah mudah. Itu sebabnya  Allah swt mengutus rasulullah saw agar menjelaskan dan  mencontohkannya. Dengan demikian sudah semestinya beliaulah yang paling tahu dan memahami apa yang dikehendaki-Nya. Jadi alangkah beruntungnya manusia yang tidak saja hanya mengimani namun juga mau mengikuti dan mencontoh rasulullah  dalam mentaati perintah dan larangan-Nya. Inilah yang lazim dinamakan hadis. Segala sesuatu baik  perbuatan, perkataan maupun sikap yang disandarkan atas rasulullah Muhammad saw.

Sebenarnya penolakan terhadap hadis bukan hal baru. Ini telah diketahui dan disadari oleh para ulama dan pemikir Islam sejak lama. Apalagi ketika diketahui bahwa telah terjadi fitnah berkenaan dengan hadis. Itu sebabnya para ulama sepakat untuk menciptakan ilmu  khusus tentang  hadits. Dengan dasar pertimbangan ayat 6 surat Hujurat yang mengisyaratkan agar kita memeriksa dengan teliti orang fasik yang membawa kabar maka keluarlah buku panduan pertama yang disusun oleh Qadli Abu Muhammad Hasan bin Abdurrahman bin Khalad ar-Ramahumurzi ( wafat 360H).

”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS.Al-Hujurat(49):6).

Ilmu ini mempunyai beberapa nama, antara lain Ilmu Mushthalah Hadits, Ilmu Dirayah Hadits, ’Ulum Al-Hadits atau juga Ushul Al-Hadits. Banyak yang dibahas dalam ilmu ini namun yang paling utama adalah mempelajari sejarah hidup atau riwayat perawi. Karena sebagaimana ayat diatas, sifat jujur perawi adalah hal utama yang wajib menjadi bahan pertimbangan sah tidaknya hadis, shoheh tidaknya hadis. Bila sang perawi dikenal suka berbohong oleh lingkungannya dengan sendirinya riwayat yang disampaikannyapun langsung dianggap lemah/mardhu’. Untuk itulah bepergian dari satu tempat ke tempat yang sering kali sangat jauh oleh seorang periwayat seperti yang dilakukan Bukhari, Muslim dll adalah bukan hal yang aneh.

Para periwayat ini pergi dari satu negri ke negri lain untuk mencari tahu berbagai hal mengenai keadaan seorang perawi ( orang yang mengatakan bahwa ia mendengar atau melihat apa yang dikatakan atau dikerjakan Rasulullah Muhammad saw), Diantaranya apakah ia dikenal jujur, tidak suka berbohong, tahun berapa ia lahir dan wafat, dimana ia hidup, kemana dan kepada siapa saja ia berguru, bagaimana hafalannya, apakah ia termasuk orang yang pelupa, bagaimana hubungannya dengan Rasulullah dan para sahabat dan lain sebagainya. Dari berbagai persyaratan inilah pada akhirnya seorang periwayat dapat memastikan kemungkinan shoheh tidak shohehnya suatu hadis.

Dengan kata lain, shoheh atau tidak shohehnya hadits itu bukan berdasarkan masuk atau tidak masuk akalnya berita  namun lebih disebabkan berdasarkan pertimbangan jujur atau tidaknya jujur seorang perawi. Karena pada intinya perawi hanyalah orang yang menyampaikan apa yang dikatakan atau dilihatnya atas apa yang dikatakan atau dikerjakan Rasulullah.

Setelah itu baru hadis dikelompokkan atas beberapa kategori.  Apakah hadis tersebut diceritakan lebih dari 10 perawi atau kurang ( hadis Mutawatir atau hadis Ahad), apakah si perawi atau seluruh perawinya yang ada di setiap tingkatannya adalah orang yang betul-betul jujur dan  tidak bermasalah, apakah si perawi orang yang jujur namun kurang bagus hafalannya dsb.

Dari sinilah baru diputuskan apakah hadis tersebut dapat diterima atau harus ditolak atau malah hadis palsu! Jadi hadis-hadis tersebut tidak dibuang begitu saja. Cara meriwayatkannya sajalah yang harus memenuhi beberapa persyaratan. Hadis dhoif, misalnya, tetap boleh disampaikan selama tidak menyangkut aqidah, keharaman & kehalalan sesuatu serta harus dijelaskan bahwa hadis tersebut dhoif.

Disamping itu untuk menerapkan suatu hadits kita  harus ekstra waspada dan hati-hati. Begitupun untuk memahaminya, bisa secara maknawi bisa pula secara bahasa. Oleh karenanya agar hadits tidak disalah artikan  diperlukan bantuan orang yang benar-benar memahami keadaan ketika Rasulullah mengatakan atau mengerjakan sesuatu tersebut.

Jadi dapat dibayangkan betapa tidak mudahnya menetapkan tingkatan dan jenis suatu hadis. Diperlukan penelitian dan waktu yang tidak sedikit. Hebatnya standar tertinggi yang digunakan adalah sifat amanah! Sesungguhnya ini pula yang menjadi alasan utama mengapa Al-Quran dapat diterma penduduk Mekkah pada awalnya datangnya Islam.

Sang pembawa berita yaitu Rasulullah Muhammad saw adalah warga Mekkah yang dikenal jujur. Itu sebabnya ketika Rasulullah diperintah agar menyampaikanrisalah secara terang-terang, kalimat pertama yan gdiucapkan Rasul adalah : ” Wahai penduduk Mekkah, apakah kalian percaya sekiranya aku katakan bahwa di sebalik bukit ini ada sekumpulan musuh yang akan menyerang kalian?”. Tanpa ragu sedkitpun mereka menjawab spontan :“Sudah pasti kami akan percaya kerana kami belum pernah mendengar kau berkata  dusta !” .

Namun demikian ternyata apa yang pernah dikatakan Rasulullah bahwa umat ini akan  terpecah menjadi sejumlah golongan tidak dapat dihindarkan. Fitnah tetap tumbuh subur hingga detik ini. Bila kita tilik sedikit ke belakang, sebenarnya bibit fitnah dan perpecahan telah mulai terlihat bahkan ketika Rasulullah masih hidup di sekitar para sahabat.

Suatu ketika Rasulullah sedang membagi-bagikan ghonimah ( pampasan perang ). Tiba-tiba seorang diantara yang menyaksikan tindakan Rasul berteriak : ”Hai Rasul, berbuat adillah!” Tentu saja Rasul terperanjat mendengar terikan lancang orang tersebut. Namun dengan menahan kesabaran Rasul segera menjawab: ” Wahai Fulan, celakalah engkau, akulah orang yang paling takut akan murka Allah”. Jawaban tersebut adalah merupakan sebuah isyarat bahwa Rasul tidak akan berani berbuat tidak adil karena hal yang demikian pasti akan memancing kemurkaan-Nya. Namun orang tadi tetap saja melontarkan perkataan yang sama hingga tiga kali. Hingga akhirnya dengan berang Umar Bin Khatab ra yang memang dikenal memiliki temperamen keras berucap  : ” Wahai Rasullullah, biarkan aku penggal  kepala orang ini!”. Namun Rasul segera menjawab bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan.  Rasul bahkan mengingatkan bahwa pada suatu masa nanti akan banyak orang-orang seperti itu, artinya orang yang meragukan tindakan Rasulullah.

Tidak lama setelah Rasulullah wafat, hal tersebut memang terbukti. Golongan Khawarij yang diduga merupakan cikal bakal golongan Muktazillah dan golongan Ingkar Sunah adalah salah satunya.  Golongan Muktazilah adalah golongan yang tidak mau menerima  hadis  selama menurut mereka isi hadis tidak sesuai dengan akal dan ilmu pengetahuan. Sementara golongan Ingkar Sunnah yang baru lahir beberapa ratus tahun belakangan ini malah lebih parah lagi. Mereka menolak mengakui tak satupun hadis! Disamping itu ada pula golongan yang mengklaim diri sebagai golongan pengikut nabi Ibrahim as dengan alasan semua agama ( samawi) pada dasarnya adalah sama, Tauhid, yaitu meng-esakan Tuhan. Golongan ini pada akhirnya tidak mensyariatkan pengikutnya untuk mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah saw. Padahal pada Haji Wada Rasulullah berpesan : ” Aku tinggalkan pada kalian 2 perkara yang dengan itu kalian tidak akan tersesat, yaitu Al-Quran dan sunnahku”.

Hal ini masih ditambah lagi dengan adanya kaum Orientalis. Mereka ini sejak lama telah mempelajari Al-Quran dan hadis. Tujuan mereka satu, yaitu memecah belah umat Islam!. Mereka tahu betul bahwa telah terjadi perbedaan pendapat diantara umat. Mereka juga tahu bahwa hadis ada tingkatannya. Celah inilah yang mereka manfaatkan. Hadis lemah dan palsu yang menurut ilmu hadis harus dicantumkan bahwa ia hadis lemah mereka sebarkan tanpa keterangan apapun. Tidak cukup itu saja, bahkan hadis mutawatir dan hadis shohehpun mereka bahas isinya dan diadu dengan  akal dan pemikiran sains dan ilmu pengetahuan sehingga hadis terlihat tidak relevan dan tidak masuk akal. Maka jadilah orang yang cenderung selalu mengedepankan akal dan pikiran namun imannya kurang teguh lebih mempercayai pendapat dan pemikiran para Orientalis tersebut daripada pemikir-pemikir Muslim seperti Bukhari, Muslim dkk yang sejak lama telah diakui dan dijadikan standard pemikiran Islam di luar Al-Quran sejak ratusan tahun yang lalu. Ini yang disebut Perang Pemikiran atau Gazwl Fikri.

Sebagai contohnya adalah hadist mengenai kepergian dan perintah Rasulullah ke Sidratul Muntaha. Hadist ini adalah jelas hadist shoheh. Namun hingga kini ada sebagian umat yang meragukan keshohehan hadist tersebut karena dianggap tidak masuk akal. Sebagian  bersikukuh bahwa Allah swt sebagai Sang Pencipta mengapa harus mengadakan tawar menawar ketika memerintahkan shalat yang dalam hadist diceritakan bahwa awalnya adalah 50 kali sehari semalam. Mengapa tidak langsung 5 kali saja! Begitu pula dengan sejumlah hadits yang berkenaan dengan masalah keperempuanan. Isu yang amat rawan dan peka ini tidak luput dari sasaran empuk para orientalis dan sejumlah orang yang kurang teguh keimanannya.

Padahal bila kita berpikir lebih mendalam, justru hadis tersebut memberi hikmah bahwa Allah swt mengajarkan perlunya usaha manusia dalam mencari hidayah. Manusia diberi kesempatan dan keleluasaan untuk berpikir sebagaimana Allah melimpahkan ayat-ayat-Nya yang tersebar di muka bumi ini. Allah memberikan kunci dan tanda kekuasaan-Nya untuk dipelajari. Walaupun sesungguhnya Allah bisa berbuat sekehendak-Nya tanpa harus menggunakan aturan. Namun yang demikian tidak dilakukan-Nya. Allah berkehendak agar para hamba-Nya mau menggunakan pikirannya  sehingga manusia lebih dapat memahami ke-Cerdas-an-Nya lalu lebih banyak bersyukur. Disamping itu, Allah juga ingin memberitahukan bahwa karena kasih sayang-Nya jualah, shalat yang ’hanya’ 5 waktu itu setara dengan shalat 50 kali sehari yang dilakukan umat nabi Musa as.

Cara yang dipergunakan untuk memprovokasi agar umat mau mempertanyakan berbagai masalah baik Al-Quran dan hadits beragam. Dari yang halus, samar dan terselubung hingga yang vulgar, kasar dan terus terang. Buku-buku fiksi, tontonan seperti film dan video adalah contoh yang nyata ada di depan kita. Secara halus  dan tidak terasa pemikiran kita digiring dan diarahkan agar mau mempertanyakan kebenaran hadis sekalipun hadis tersebut shoheh bahkan juga ayat Al-Quranpun bisa dipertanyakan! Dengan cara mengaduk-ngaduk emosi kemanusiaan, keadilan dan atas nama hak azazi manusia tampaknya usaha ini berhasil dengan baik. Kita dibuat lupa dan terbuai tentang arti sebuah kebenaran sejati. Kita berhasil tertipu dan terpedaya akan standard yang dipergunakan. Bagi sebagian orang standard yang dilihat dari kacamata sesama manusia berhasil menyingkirkan standard kebenaran Sang Pencipta alam semesta. Sungguh ironis!

Itulah yang terjadi. Usaha menghilangkan syariat Muhammad saw sebagai pembawa risalah terakhir melalui kitab sucinya Al-Quranul Karim akan terus terjadi akibat ditolak sendiri oleh umatnya dengan berbagai alasan. Namun demikian kebesaran Allah dan kebenaran ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad saw serta kemuliaan Rasulnya tidak akan pernah berkurang sedikitpun walaupun seluruh manusia di muka bumi ini mengkhianatinya. Semoga kita bukan ternasuk orang yang dilaknati-Nya, amin.

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.(QS.Al-Hajj(22):67).

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, 28/6/2009.

Vien AM.

Sumber : Ilmu Hadits Praktis oleh DR. Mahmud Thahan.

Read Full Post »