Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Khawarij’

Dalam “Arriyadh Annadhirah Fi Manaqibil Asyarah“ tertulis, dari sahabat Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah masuk ke rumah Aisyah ra dan bersabda: “Wahai Aisyah, inginkah engkau mendengar kabar gembira?” Aisyah menjawab : “Tentu, ya Rasulullah.” Lalu Nabi saw bersabda, ”Ada sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga, yaitu : Ayahmu masuk surga dan kawannya adalah Ibrahim; Umar masuk surga dan kawannya Nuh; Utsman masuk surga dan kawannya adalah aku; Ali masuk surga dan kawannya adalah Yahya bin Zakariya; Thalhah masuk surga dan kawannya adalah Daud; Azzubair masuk surga dan kawannya adalah Ismail; Sa’ad masuk surga dan kawannya adalah Sulaiman; Said bin Zaid masuk surga dan kawannya adalah Musa bin Imran; Abdurrahman bin Auf masuk surga dan kawannya adalah Isa bin Maryam; Abu Ubaidah ibnul Jarrah masuk surga dan kawannya adalah Idris Alaihissalam.”

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS.At-Taubah(9):100).

Itulah janji Sang Khalik terhadap para sahabat yang selama hidup sejak mereka memeluk Islam hingga akhir hayat senantiasa membela Rasulullah dengan taruhan seluruh jiwa raga, mengorbankan harta dan rela berperang demi menegakkan ajaran Islam. Sebuah ganjaran yang amat pantas. Sebaliknya, sungguh tak pantas bila kemudian ada orang yang meragukan keimanan para sahabat tersebut.

Namun nyatanya itulah yang terjadi. Sejumlah sahabat dekat seperti Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra dan Ustman bin Affan ra difitnah telah murtad tak lama setelah Rasulullah wafat. Khalifah ke 3, Ustman bin Affan ra bahkan dianggap telah memanipulasi dan merekayasa isi ayat-ayat Al-Quran hingga sesuai dengan keinginan beliau dan kelompoknya, yaitu suku Quraisy. Sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal. Lupakah mereka bahwa justru orang-orang Quraisy, penentang terbesar Rasulullah pada masa awal keislaman, inilah penyebab hijrahnya kaum Muhajirin ? Dan bukankah Allah swt sendiri yang menjamin pemeliharaan kitab suci umat Islam ini?

“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.(QS. AL Hijr (15):9).

Ironisnya, penyebar fitnah tersebut adalah orang-orang yang mengaku Islam !

Adalah kaum Khawarij, mereka adalah kaum yang pertama kali tercatat sebagai penyebar fitnah dalam tubuh Islam. Mereka adalah kaum yang memberontak terhadap pemerintahan Ustman bin Affan ra hingga menyebabkan terbunuhnya sang khalifah. Kaum yang mulanya membela kubu Ali bin Thalib ra, pengganti khalifah terbunuh, akhirnyapun membelot.  Mereka mulai mengkafirkan Ali dan sahabat-sahabat lain.

Parahnya lagi, hingga detik ini, fitnah keji tersebut  dipercaya dan diterima oleh sejumlah kelompok yang juga mengaku Islam. Diantaranya yaitu cendekiawan Muslim yang belajar dan menimba ilmu keagamaan Islam di Barat. Barat yang notabene Kristen dan memandang Islam sebagai ancaman, melihat jelas perpecahan di dalam tubuh Islam ini. Alhasil, dengan cepat merekapun memanfaatkan kesempatan tersebut dengan terus mengipasi umat Islam.

Kata “kritis” adalah kunci dasar pemikiran Barat. Maka dengan penuh percaya diri, para “cendekiawan” yang menamakan kelompoknya sebagai kelompok pembaharu itu, mulai nekad meng-“kritis”-i ( baca meragukan) ayat-ayat suci Al-Quranul Karim. JIL ( Jaringan Islam Liberal) adalah hanya satu diantara beberapa kelompok yang memiliki paham sesat tersebut.

Sementara kelompok Syiah, aliran Islam tertua yang berkembang pesat di Iran dan memiliki banyak pengikut di negri para mullah ini, terang-terangan mengajarkan ritual untuk mengutuk dan menghujat para sahabat. Bahkan dua istri Rasulullah, ibu umat Islam, yaitu Aisyah ra, putri Abu Bakar ra dan Hafsah ra, putri Umar bin Khattab,  tak luput pula dari fitnah keji yang mereka lemparkan. Yaitu, selain sebagai pelacur, na’udzubillah min dzalik, juga dituduh sebagai penyebab wafatnya Rasulullah saw, yaitu dengan cara meracuni Rasulullah !

( Untuk catatan, Syiah masuk kedalam kelompok aliran sesat diantaranya karena memiliki beberapa kitab suci disamping Al-Quran, diantaranya yaitu mushab Fatimah. Kitab ini, menurut mereka, berisikan firman Allah swt yang khusus  diturunkan kepada Fatimah ra, putri Rasulullah dan ditulis oleh Ali bin Abu Thalib ra, menantu Rasulullah.)

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka…. “.(QS.Al-Ahzab(33):6).

« Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.(QS.Al-Ahzab(33) :57).

Bila Rasulullah saw masih ada, tak dapat dibayangkan betapa akan sakit hatinya beliau mendengar fitnah yang menimpa orang-orang yang beliau sayangi tersebut.

Adanya ritual keji ini diakui sendiri oleh pengikut Syiah yang tampaknya masih mempunyai hati nurani. Karena betapapun buruknya sebuah ajaran, mengutuk dan menghujat sesama manusia bukanlah hal yang terpuji. Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan hal seperti itu.

Penyebab awal kebencian Syiah, sejatinya adalah tentang hak kepemimpinan. Menurut kelompok ini hanya garis keturunan Husein bin Ali bin Thalib sebagai cucu Rasulullah saw, yang berhak meneruskan kepemimpinan pasca wafatnya Rasulullah. Itu sebabnya mereka tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab maupun Ustman bin Affan. Dengan teganya, Abu Lu’lua, yang membunuh Umar ketika khalifah ke dua ini sedang shalat Subuh, bahkan mereka elu-elukan sebagai pahlawan. Selanjutnya, hadits-hadits yang bukan berasal dari Ali bin Abu Thalib dan dianggap tidak memihak kepentingan mereka, tidak mereka jadikan pegangan.

Keyakinan tersebut berdasarkan keyakinan kepada apa yang dikatakan Rasulullah pada suatu hari yang kelak mereka namakan Idul Ghadir, yang mereka rayakan setiap tahun, tak terkecuali di Republik tercinta ini. Ketika itu mereka mendengar bahwa Rasulullah telah menunjuk Ali bin Abu Thalib sebagai pengganti Rasulullah bila wafat nanti. Peristiwa itu terjadi pada perjalanan pulang Rasulullah dari Haji Wa’da dimana berkumpul ratusan ribu kaum Muslimin dari segala penjuru.  Kalau memang Rasulullah menghendaki Ali sebagai pengganti beliau saw, tentu akan beliau ungkapkan pada Haji Wa’da bukan sepulangnya, ketika sebagian besar kaum Muslimin telah berpencar pulang ke rumah masing-masing.

Ucapan Rasulullah itu sejatinya ditujukan untuk pasukan Ali ra yang tidak mau menuruti perintah menantu Rasulullah tersebut. Ketika itu Ali mengadu kepada Rasulullah bahwa pasukannya itu tidak mau mentaati Ali yang saat itu sedang menjalankan amanat Rasulullah di negri Yaman.

https://www.youtube.com/watch?v=pghJsKrFeNc

Apapun pendapat kelompok-kelompok yang membenci para sahabat, yang notabene adalah orang-orang Muhajirin dan Anshar, Allah telah ridho terhadap mereka dan telah memaafkan segala kesalahan mereka, yang tentu saja sangat manusiawi.

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, “(QS.At-Taubah(9):117).

Menjadi catatan penting, menghujat apalagi meng-kafirkan para sahabat yang terbukti mendapat ampunan dan pujian dari Allah swt adalah bukan hal sepele. Ini adalah awal bencana. Karena para sahabat adalah saksi turunnya ayat-ayat suci Al-Quran kepada Rasulullah. Merekalah yang mengetahui kapan, bagaimana Rasulullah dan masyarakat menanggapi ayat-ayat tersebut.

Jangan lupa, ayat-ayat Al-Quran turun dalam bentuk lisan bukan tulisan seperti yang kita saksikan sekarang ini. Urutan turunnyapun tidak sama dengan apa yang kita baca hari ini. Para sahabatlah yang menuliskan ayat-ayat tersebut, dengan urutan sesuai petunjuk Rasulullah saw. Dengan kata lain, menghujat dan mengkafirkan para sahabat bisa beresiko pada hilangnya kepercayaan terhadap ayat-ayat  suci itu sendiri.

Sejarah mencatat, betapa tingginya keimanan para sahabat. Abu Bakar adalah seorang yang dikenal sangat jujur. Ia telah menjadi sahabat Rasulullah jauh sebelum kerasulan. Ia termasuk orang yang pertama memeluk Islam. Ia tidak pernah meragukan apapun yang dikatakan sahabatnya itu. Itu sebabnya ia mendapat julukan Ash-shiddiq. ( yang selalu membenarkan). Tak heran bila Rasulullah suatu ketika pernah mengatakan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling beliau cintai. Ini pula yang menjadi salah satu sebab mengapa Rasulullah menikahi putrinya, Aisyah ra. Allah swt mengabadikan ketinggian keimanan Abu Bakar ra yang pernah memerdekakan 7 budak agar mereka dapat mengenal Islam dengan ayat-ayat berikut:

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”. (QS.Al-Lail(92):17-21).

Sementara dengan Umar bin Khattab ra, sebelum memeluk Islam, Rasulullah pernah bersabda:

Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”.

Allah swt juga beberapa kali menurunkan ayat-ayat Al-Quran berkenaan dengan sikap Umar. . Diantaranya adalah ayat 67 surat Al-anfal. Ayat ini diturunkan ketika Rasulullah meminta pendapat para sahabat tentang apa yang harus diperbuat terhadap tawanan perang Badar. Abu Bakar berpendapat bahwa sebaiknya tawanan dibebaskan dengan tebusan. Sementara Umar berpendapat sebaiknya mereka dibunuh. Awalnya Rasulullah setuju dengan Abu Bakar. Namun ternyata kemudian turun ayat 67 diatas yang isinya sesuai dengan anjuran Umar.

Namun demikian ini bukan berarti bahwa Umar adalah seorang yang sadis. Suatu ketika pada masa Umar menjadi khalifah, beliau pernah berujar : “Janganlah kamu mengira sifat kerasku tetap bercokol. Sejak awal ketika aku bersama Rasulullah saw, aku selalu menjaga keamanan dan ketentraman negri ( mentri dalam negri). Di masa Abu Bakarpun tetap demikian. Tetapi kini setelah urusan diserahkan kepadaku, akulah orang yang paling lemah dihadapan yang haq”.

Ini dibuktikannya dengan berbagai tindakannya yang sangat berpihak kepada rakyat kecil. Diantaranya yaitu dengan menyamar sebagai orang biasa dan berkeliling melihat keadaan rakyatnya.

Abbas ra berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku memiliki dua penasehat dari ahli langit dan dua penasehat dari ahli bumi. Yang dari langit ialah malaikat Jibril dan Mikail sedangkan yang dari bumi adalah Abu Bakar dan Umar. Merekalah pendengaran dan penglihatanku”. (HR. Alhaakim, Ibnu Asaakir dan Abu Na’ím dalam Fadhailus Sohabah).

Selanjutnya adalah Ustman bin Affan ra, sahabat sekaligus menantu Rasulullah yang di kemudian hari menjadi khalfah ke 3 dan mendapat julukan  Dzunnur’ain (seorang. yang memiliki dua cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah.  Ustman menikahi Ruqayah, putri ke 2 Rasulullah sebelum datangnya Islam. Kemudian setelah istrinya tercinta ini wafat, Rasulullah menikahkan beliau dengan adik Ruqayah yaitu Ummu Kaltsum.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa ?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya ?”

Ustman adalah seorang kaya raya namun amat dermawan. Suatu ketika di Madinah, kaum Muslimin sedang menghadapi kesulitan air. Sebenarnya ada sebuah sumur yang diharapkan dapat memecahkan masalah tersebut. Namun  air sumur milik Yahudi tersebut diperjual belikan padahal kaum Muslimin tidak cukup memiliki uang. Maka datanglah Ustman membeli sumur tersebut dengan harga 20 ribu dirham, harga yang sangat tinggi. Hebatnya, sumur tersebut diberikan airnya kepada kaum Muslimin secara cuma-cuma.

Selain Ustman, sahabat kaya raya yang juga dikenal banyak menginfakkan hartanya untuk membantu saudara-saudaranya yang kesusahan adalah Abdul Rahman bin Auf. Juga Arqam bin Abi Arqam yang merelakan rumahnya dijadikan pusat dakwah Rasulullah. Rasulullah saw memuji Amr bin Ash dengan sabdanya: “Manusia sekedar masuk Islam, tapi Amr Bin Ash masuk Islam dengan iman”. (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan Tirmidzi).

Akan halnya Ali bin Abu Thalib, tak satupun orang meragukan ketakwaan menantu Rasulullah yang sejak kecil telah menjadi bagian dari keluarga Rasulullah saw ini. Ali ditunjuk Rasulullah untuk tidur di atas tempat tidur beliau ketika orang-orang Quraisy bersekongkol membunuh Rasulullah. Dan Ali rela melakukan tugas mulia tersebut.

Dalam perang Khandaq, dengan agak memaksa Ali memohon agar Rasulullah mengizinkan beliau melayani tantangan Amru bin Wudd, seorang pimpinan pasukan berkuda Quraisy yang dikenal sangat kuat dan gagah perkasa.

“”Aku mengajak kamu ke jalan Allah, ke jalan Rasulullah dan kepada Islam“, seru Ali .

“Aku tidak memerlukan itu semua“, jawab Amru congkak.

“Kalau begitu, aku mengajak kamu bertempur“, tanggap Ali lagi.

“Mengapa hai anak saudaraku, demi berhala Allata aku tidak ingin membunuhmu“, jawab Amru lagi.

“Tapi demi Allah, aku ingin membunuhmu“, tantang Ali lantang.

Akhirnya terjadilah pertempuran yang mengakibatkan jatuhnya Amru dan usailah perang dimana Madinah bertahan dengan sistim paritnya yang diprakasai Salman Alfaritsi itu.

Dari pihak Anshar juga tak kalah hebatnya. Ada seorang rabbi di Madinah  yang cerdik-pandai, yaitu Abdullah bin Sallam. Setelah berkonsultasi dengan Rasulullah  iapun lalu memeluk Islam dan mengajak pula keluarganya untuk mengikuti jejaknya. Lalu merekapun bersama-sama mengikuti cahaya Islam. Sementara pada suatu peristiwa penting, yang dikenal dengan nama Baitur Ridwan ( perjanjian di bawah pohon),  para sahabat Anshar membuktikan ketakwaan mereka .

( Tentang baitur Ridwan, click :

http://vienmuhadisbooks.com/2011/06/10/xxi-perdamaian-hudaibiyah-dan-baitur-ridwan/  )

“ Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”(QS.Al-Fath(48):18).

 “ Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS.An-Nisa (4): 69-70).

Menurut Masruq, kedua ayat ini diturunkan berkenaan dengan para sahabat yang suatu ketika berkata kepada Rasulullah, “ Wahai Rasulullah, kami tidak mau berpisah denganmu. Sesungguhnya jika engkau mendahului kami, engkau pasti akan mendapatkan tempat yang lebih tinggi bersama para nabi lain sehingga kami tidak akan dapat melihatmu”. (HR. Ibnu Abi Hatim).

Sungguh orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar adalah orang-orang yang dikasihi Allah swt dan patut menjadi panutan.

Wallahua’lam bish shawwab.

Paris, 8 Maret 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Dapat kita saksikan betapa dari hari kehari makin  banyak saja manusia di penjuru dunia ini yang menyadari kebenaran ajaran Islam hingga akhrinya mereka kemudian bersyahadat. Subhanallah.. Maha benar  segala firman Allah. Ironisnya sejalan dengan itu justru ada sejumlah umat Islam yang meragukan keorisinilan tidak saja sejumlah hadis namun bahkan seluruh hadis. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa jumlah hadis teramat sangat banyak. Hadis-hadis tersebut bermacam-macam tingkatannya, ada yang kuat, lemah bahkan palsu.

“… Allah berfirman: “… Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-’Araf (7): 156-157)..

Yang dimaksud nabi yang ummi yang tertulis di dalam Taurat dan Injil itu adalah nabi Muhammad saw, rasul yang membawa Al-Quranul Karim. Kitab ini mengajak manusia kepada kebaikan, menunjukkan jalan yang benar dalam rangka menuju Tuhan Yang Satu yang menciptakan alam semesta dan segala isinya.

Namun untuk memahami kitab ini tidaklah mudah. Itu sebabnya  Allah swt mengutus rasulullah saw agar menjelaskan dan  mencontohkannya. Dengan demikian sudah semestinya beliaulah yang paling tahu dan memahami apa yang dikehendaki-Nya. Jadi alangkah beruntungnya manusia yang tidak saja hanya mengimani namun juga mau mengikuti dan mencontoh rasulullah  dalam mentaati perintah dan larangan-Nya. Inilah yang lazim dinamakan hadis. Segala sesuatu baik  perbuatan, perkataan maupun sikap yang disandarkan atas rasulullah Muhammad saw.

Sebenarnya penolakan terhadap hadis bukan hal baru. Ini telah diketahui dan disadari oleh para ulama dan pemikir Islam sejak lama. Apalagi ketika diketahui bahwa telah terjadi fitnah berkenaan dengan hadis. Itu sebabnya para ulama sepakat untuk menciptakan ilmu  khusus tentang  hadits. Dengan dasar pertimbangan ayat 6 surat Hujurat yang mengisyaratkan agar kita memeriksa dengan teliti orang fasik yang membawa kabar maka keluarlah buku panduan pertama yang disusun oleh Qadli Abu Muhammad Hasan bin Abdurrahman bin Khalad ar-Ramahumurzi ( wafat 360H).

”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS.Al-Hujurat(49):6).

Ilmu ini mempunyai beberapa nama, antara lain Ilmu Mushthalah Hadits, Ilmu Dirayah Hadits, ’Ulum Al-Hadits atau juga Ushul Al-Hadits. Banyak yang dibahas dalam ilmu ini namun yang paling utama adalah mempelajari sejarah hidup atau riwayat perawi. Karena sebagaimana ayat diatas, sifat jujur perawi adalah hal utama yang wajib menjadi bahan pertimbangan sah tidaknya hadis, shoheh tidaknya hadis. Bila sang perawi dikenal suka berbohong oleh lingkungannya dengan sendirinya riwayat yang disampaikannyapun langsung dianggap lemah/mardhu’. Untuk itulah bepergian dari satu tempat ke tempat yang sering kali sangat jauh oleh seorang periwayat seperti yang dilakukan Bukhari, Muslim dll adalah bukan hal yang aneh.

Para periwayat ini pergi dari satu negri ke negri lain untuk mencari tahu berbagai hal mengenai keadaan seorang perawi ( orang yang mengatakan bahwa ia mendengar atau melihat apa yang dikatakan atau dikerjakan Rasulullah Muhammad saw), Diantaranya apakah ia dikenal jujur, tidak suka berbohong, tahun berapa ia lahir dan wafat, dimana ia hidup, kemana dan kepada siapa saja ia berguru, bagaimana hafalannya, apakah ia termasuk orang yang pelupa, bagaimana hubungannya dengan Rasulullah dan para sahabat dan lain sebagainya. Dari berbagai persyaratan inilah pada akhirnya seorang periwayat dapat memastikan kemungkinan shoheh tidak shohehnya suatu hadis.

Dengan kata lain, shoheh atau tidak shohehnya hadits itu bukan berdasarkan masuk atau tidak masuk akalnya berita  namun lebih disebabkan berdasarkan pertimbangan jujur atau tidaknya jujur seorang perawi. Karena pada intinya perawi hanyalah orang yang menyampaikan apa yang dikatakan atau dilihatnya atas apa yang dikatakan atau dikerjakan Rasulullah.

Setelah itu baru hadis dikelompokkan atas beberapa kategori.  Apakah hadis tersebut diceritakan lebih dari 10 perawi atau kurang ( hadis Mutawatir atau hadis Ahad), apakah si perawi atau seluruh perawinya yang ada di setiap tingkatannya adalah orang yang betul-betul jujur dan  tidak bermasalah, apakah si perawi orang yang jujur namun kurang bagus hafalannya dsb.

Dari sinilah baru diputuskan apakah hadis tersebut dapat diterima atau harus ditolak atau malah hadis palsu! Jadi hadis-hadis tersebut tidak dibuang begitu saja. Cara meriwayatkannya sajalah yang harus memenuhi beberapa persyaratan. Hadis dhoif, misalnya, tetap boleh disampaikan selama tidak menyangkut aqidah, keharaman & kehalalan sesuatu serta harus dijelaskan bahwa hadis tersebut dhoif.

Disamping itu untuk menerapkan suatu hadits kita  harus ekstra waspada dan hati-hati. Begitupun untuk memahaminya, bisa secara maknawi bisa pula secara bahasa. Oleh karenanya agar hadits tidak disalah artikan  diperlukan bantuan orang yang benar-benar memahami keadaan ketika Rasulullah mengatakan atau mengerjakan sesuatu tersebut.

Jadi dapat dibayangkan betapa tidak mudahnya menetapkan tingkatan dan jenis suatu hadis. Diperlukan penelitian dan waktu yang tidak sedikit. Hebatnya standar tertinggi yang digunakan adalah sifat amanah! Sesungguhnya ini pula yang menjadi alasan utama mengapa Al-Quran dapat diterma penduduk Mekkah pada awalnya datangnya Islam.

Sang pembawa berita yaitu Rasulullah Muhammad saw adalah warga Mekkah yang dikenal jujur. Itu sebabnya ketika Rasulullah diperintah agar menyampaikanrisalah secara terang-terang, kalimat pertama yan gdiucapkan Rasul adalah : ” Wahai penduduk Mekkah, apakah kalian percaya sekiranya aku katakan bahwa di sebalik bukit ini ada sekumpulan musuh yang akan menyerang kalian?”. Tanpa ragu sedkitpun mereka menjawab spontan :“Sudah pasti kami akan percaya kerana kami belum pernah mendengar kau berkata  dusta !” .

Namun demikian ternyata apa yang pernah dikatakan Rasulullah bahwa umat ini akan  terpecah menjadi sejumlah golongan tidak dapat dihindarkan. Fitnah tetap tumbuh subur hingga detik ini. Bila kita tilik sedikit ke belakang, sebenarnya bibit fitnah dan perpecahan telah mulai terlihat bahkan ketika Rasulullah masih hidup di sekitar para sahabat.

Suatu ketika Rasulullah sedang membagi-bagikan ghonimah ( pampasan perang ). Tiba-tiba seorang diantara yang menyaksikan tindakan Rasul berteriak : ”Hai Rasul, berbuat adillah!” Tentu saja Rasul terperanjat mendengar terikan lancang orang tersebut. Namun dengan menahan kesabaran Rasul segera menjawab: ” Wahai Fulan, celakalah engkau, akulah orang yang paling takut akan murka Allah”. Jawaban tersebut adalah merupakan sebuah isyarat bahwa Rasul tidak akan berani berbuat tidak adil karena hal yang demikian pasti akan memancing kemurkaan-Nya. Namun orang tadi tetap saja melontarkan perkataan yang sama hingga tiga kali. Hingga akhirnya dengan berang Umar Bin Khatab ra yang memang dikenal memiliki temperamen keras berucap  : ” Wahai Rasullullah, biarkan aku penggal  kepala orang ini!”. Namun Rasul segera menjawab bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan.  Rasul bahkan mengingatkan bahwa pada suatu masa nanti akan banyak orang-orang seperti itu, artinya orang yang meragukan tindakan Rasulullah.

Tidak lama setelah Rasulullah wafat, hal tersebut memang terbukti. Golongan Khawarij yang diduga merupakan cikal bakal golongan Muktazillah dan golongan Ingkar Sunah adalah salah satunya.  Golongan Muktazilah adalah golongan yang tidak mau menerima  hadis  selama menurut mereka isi hadis tidak sesuai dengan akal dan ilmu pengetahuan. Sementara golongan Ingkar Sunnah yang baru lahir beberapa ratus tahun belakangan ini malah lebih parah lagi. Mereka menolak mengakui tak satupun hadis! Disamping itu ada pula golongan yang mengklaim diri sebagai golongan pengikut nabi Ibrahim as dengan alasan semua agama ( samawi) pada dasarnya adalah sama, Tauhid, yaitu meng-esakan Tuhan. Golongan ini pada akhirnya tidak mensyariatkan pengikutnya untuk mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah saw. Padahal pada Haji Wada Rasulullah berpesan : ” Aku tinggalkan pada kalian 2 perkara yang dengan itu kalian tidak akan tersesat, yaitu Al-Quran dan sunnahku”.

Hal ini masih ditambah lagi dengan adanya kaum Orientalis. Mereka ini sejak lama telah mempelajari Al-Quran dan hadis. Tujuan mereka satu, yaitu memecah belah umat Islam!. Mereka tahu betul bahwa telah terjadi perbedaan pendapat diantara umat. Mereka juga tahu bahwa hadis ada tingkatannya. Celah inilah yang mereka manfaatkan. Hadis lemah dan palsu yang menurut ilmu hadis harus dicantumkan bahwa ia hadis lemah mereka sebarkan tanpa keterangan apapun. Tidak cukup itu saja, bahkan hadis mutawatir dan hadis shohehpun mereka bahas isinya dan diadu dengan  akal dan pemikiran sains dan ilmu pengetahuan sehingga hadis terlihat tidak relevan dan tidak masuk akal. Maka jadilah orang yang cenderung selalu mengedepankan akal dan pikiran namun imannya kurang teguh lebih mempercayai pendapat dan pemikiran para Orientalis tersebut daripada pemikir-pemikir Muslim seperti Bukhari, Muslim dkk yang sejak lama telah diakui dan dijadikan standard pemikiran Islam di luar Al-Quran sejak ratusan tahun yang lalu. Ini yang disebut Perang Pemikiran atau Gazwl Fikri.

Sebagai contohnya adalah hadist mengenai kepergian dan perintah Rasulullah ke Sidratul Muntaha. Hadist ini adalah jelas hadist shoheh. Namun hingga kini ada sebagian umat yang meragukan keshohehan hadist tersebut karena dianggap tidak masuk akal. Sebagian  bersikukuh bahwa Allah swt sebagai Sang Pencipta mengapa harus mengadakan tawar menawar ketika memerintahkan shalat yang dalam hadist diceritakan bahwa awalnya adalah 50 kali sehari semalam. Mengapa tidak langsung 5 kali saja! Begitu pula dengan sejumlah hadits yang berkenaan dengan masalah keperempuanan. Isu yang amat rawan dan peka ini tidak luput dari sasaran empuk para orientalis dan sejumlah orang yang kurang teguh keimanannya.

Padahal bila kita berpikir lebih mendalam, justru hadis tersebut memberi hikmah bahwa Allah swt mengajarkan perlunya usaha manusia dalam mencari hidayah. Manusia diberi kesempatan dan keleluasaan untuk berpikir sebagaimana Allah melimpahkan ayat-ayat-Nya yang tersebar di muka bumi ini. Allah memberikan kunci dan tanda kekuasaan-Nya untuk dipelajari. Walaupun sesungguhnya Allah bisa berbuat sekehendak-Nya tanpa harus menggunakan aturan. Namun yang demikian tidak dilakukan-Nya. Allah berkehendak agar para hamba-Nya mau menggunakan pikirannya  sehingga manusia lebih dapat memahami ke-Cerdas-an-Nya lalu lebih banyak bersyukur. Disamping itu, Allah juga ingin memberitahukan bahwa karena kasih sayang-Nya jualah, shalat yang ’hanya’ 5 waktu itu setara dengan shalat 50 kali sehari yang dilakukan umat nabi Musa as.

Cara yang dipergunakan untuk memprovokasi agar umat mau mempertanyakan berbagai masalah baik Al-Quran dan hadits beragam. Dari yang halus, samar dan terselubung hingga yang vulgar, kasar dan terus terang. Buku-buku fiksi, tontonan seperti film dan video adalah contoh yang nyata ada di depan kita. Secara halus  dan tidak terasa pemikiran kita digiring dan diarahkan agar mau mempertanyakan kebenaran hadis sekalipun hadis tersebut shoheh bahkan juga ayat Al-Quranpun bisa dipertanyakan! Dengan cara mengaduk-ngaduk emosi kemanusiaan, keadilan dan atas nama hak azazi manusia tampaknya usaha ini berhasil dengan baik. Kita dibuat lupa dan terbuai tentang arti sebuah kebenaran sejati. Kita berhasil tertipu dan terpedaya akan standard yang dipergunakan. Bagi sebagian orang standard yang dilihat dari kacamata sesama manusia berhasil menyingkirkan standard kebenaran Sang Pencipta alam semesta. Sungguh ironis!

Itulah yang terjadi. Usaha menghilangkan syariat Muhammad saw sebagai pembawa risalah terakhir melalui kitab sucinya Al-Quranul Karim akan terus terjadi akibat ditolak sendiri oleh umatnya dengan berbagai alasan. Namun demikian kebesaran Allah dan kebenaran ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad saw serta kemuliaan Rasulnya tidak akan pernah berkurang sedikitpun walaupun seluruh manusia di muka bumi ini mengkhianatinya. Semoga kita bukan ternasuk orang yang dilaknati-Nya, amin.

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.(QS.Al-Hajj(22):67).

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, 28/6/2009.

Vien AM.

Sumber : Ilmu Hadits Praktis oleh DR. Mahmud Thahan.

Read Full Post »

Urgensi mematuhi Hadis.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”.(QS.At-Taubah(9):71)

Bila isi Al-Qur’an kita perhatikan lebih seksama, akan kita dapati bahwa perintah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya tidak hanya sekali dua kali saja. Meskipun sesungguhnya untuk menta’ati panggilan dan perintah tidak harus menunggu hingga berkali-kali.

Sepintas perintah ini tidak terlihat istimewa. Paling tidak ketika perintah taat kepada Allah disandingkan dengan perintah ketaatan kepada Rasul. Namun dalam kenyataannya terbukti saat ini banyak umat Islam yang tidak menjalankan perintah tersebut. Dalam arti, mereka merasa yakin bahwa taat hanya kepada Allah tanpa perlu mentaati hadis sudahlah lebih dari cukup!

Bila kita tengok sejarah sedikit ke belakang, hal ini sebenarnya bukan fenomena baru. Adalah kaum Khawarij. Kaum ini resmi tercatat sebagai golongan yang pertama kali menafi’kan perintah Rasulullah secara terang-terangan.

Cikal bakal mereka telah terlihat sejak jaman Rasulullah masih hidup. Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri. Ia menceritakan, suatu saat ketika Rasulullah sedang membagi-bagikan harta rampasan perang datang Dzul Khuwaisirah, seorang dari Bani Tamim. Ia berkata memprotes : “Wahai Rasulullah, berbuat adillah!” Rasulullah bersabda: “Celakalah engkau! Siapa lagi yang berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Benar-benar merugi jika aku tidak berbuat adil.”

Maka tak lama kemudian turunlah ayat berikut :

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman“(QS.Al-Anfaal(8):1).

Sementara itu Umar bin Al-Khathab yang memang dikenal sebagai sosok yang keras dan temperamenpun segera bereaksi : “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya!” Namun dengan sabar Rasulullah menjawab: “Biarkanlah ia, sesungguhnya ia akan mempunyai pengikut yang salah seorang dari kalian merasa bahwa shalat dan puasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat dan puasa mereka, mereka selalu membaca Al Qur’an namun tidaklah melewati kerongkongan mereka, .… …”.

Hadis di atas secara tidak langsung menerangkan bahwa suatu ketika nanti orang yang memprotes kebijaksanaan Rasul tersebut akan memiliki pengikut dengan ciri-ciri rajin shalat, puasa dan bahkan membaca Al-Quranul Karim. Namun sayang mereka tidak mau mematuhi perintah dan hukum yang dikeluarkan Rasulullah kecuali bila sesuai dengan kehendak mereka.

” Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim”.( QS. An-Nuur(24):48-50).

Mereka ini bahkan juga dengan sangat mudahnya mengkafirkan orang yang pandangannya tidak sama dengan pandangan golongan mereka. Kelompok semacam ini di kemudian hari semakin banyak terpecah, diantaranya yaitu  kelompok Ingkar Sunnah ( kaum yang tidak mau berpegang pada hadis ). Padahal Rasulullah bersabda yang juga dikuatkan dengan firman Allah bahwa umat Islam harus bersatu, saling tolong menolong, saling menutupi kesalahan serta kekurangan tiap kelompok yang mentaati Allah dan Rasul-Nya.

Hadis memang banyak baik jumlah maupun ragamnya. Hadis dengan isi/matan yang mirip seringkali pula lebih dari satu. Ada yang shoheh, hasan dan dha’if. Sepintas kadang orang awam merasa terjadi perbedaan. Banyak penyebabnya. Diantaranya adalah perbedaan cara pandang, tingkat kemampuan menganalisa hadis dan juga situasi serta kondisi dimana hadis terjadi. Perbedaan inilah yang dimaksud Rasulullah tidak boleh menjadi penyebab keretakan umat. Mustinya setiap terjadi perbedaan pandangan dalam menganalisa hadis harus dikembalikan kepada Al-Quran.

Sebaliknya bagi orang yang merasa cukup mentaati ayat Al-Quran saja tanpa perlu mentaati Rasul dan hadisnya, ini akan memancing kemurkaan Allah swt.

” Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. (QS.An-Nisa’(4):80)

Para Rasul adalah manusia pilihan. Mereka maksum artinya bebas dari perbuatan dosa dan salah. Ini karena Allah swt memang senantiasa menjaga mereka dari bisikan dan gangguan syaitan. Bila suatu ketika mereka berbuat kesalahan Allah swt segera menegur mereka. Sebaliknya bila Allah swt tidak menegur apa yang diperbuat atau dikatakan para rasul berarti Allah ridho’. Berarti kita juga harus ridho’ dan mematuhi apa yang dicontohkan Rasul. Jadi jelas, ketaatan kita kepada Rasul adalah dalam rangka ketaatan kepada Sang Khalik. Bukan ketaatan yang membabi buta. Apalagi jika hingga mengkultuskan dan menjadikan Rasul seperti Tuhan sebagaimana ahli kitab menuhankan Isa as, tentu saja hal ini berdosa.

Berikut adalah ayat A-Quran yang berisi teguran kepada Rasulullah saw.

” Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi kecuali (dengan menyebut): “Insya-Allah“. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”.(QS.Al-Kahfi (18):23-24).

Ayat ini turun beberapa hari setelah Rasulullah bertemu dengan beberapa orang Yahudi yang datang kepada Rasul khusus untuk menanyakan persoalan seputar keberadaan para penghuni gua Al-Kahfi. Saat itu Rasul menjawab bahwa beliau akan menjawab pertanyaan mereka ” besok” tanpa mengatakan ” Insya Allah” dengan harapan dan keyakinan tentu Allah besok akan memberi jawaban. Walaupun ketika beliau mengatakan hal tersebut beliau tidak mempunyai maksud hendak mendahului kehendak-Nya.

Namun ternyata hingga beberapa hari kemudian Rasul tidak mendapat jawaban hingga orang-orang Yahudipun mulai mencemooh dan mentertawakan beliau. Dapat dibayangkan betapa risau dan sedihnya hati Rasulullah. Rasul segera bertobat dan memohon ampunan atas segala kesalahan dan khilaf. Maka turunlah ayat diatas.

Sebagai manusia biasa suatu ketika Rasul juga penah khilaf. Namun Allah segera menegur dengan turunnya ayat berikut :

” Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya ”.(QS. Abasa (80):1-2).

Ini terjadi ketika Rasul sedang menerangkan ajaran Islam yang diembannya kepada para pembesar Quraisy. Harapannya begitu besar agar para pembesar tersebut mau menerima dan memeluk Islam. Namun tiba-tiba datang seorang lelaki tuna netra menanyakan sesuatu tentang ajaran Islam kepada Rasul. Saat itulah Rasul merasa terganggu hingga tanpa terasa raut wajah beliau berubah menjadi masam. Maka Allahpun segera menegur melalui ayat diatas dan ayat-ayat yang mengikutinya sbb :

” Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran) sedang ia takut kepada (Allah) maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,”( QS.Abasa(80):3-11)

Sesungguhnya teguran yang diberikan Allah swt kepada Rasulullah Muhammad saw adalah merupakan bukti bahwa Allah tidak saja hanya mencintai Rasul namun juga kepada umat-Nya. Karena dengan adanya teguran tersebut maka Rasulpun menjadi maksum. Maka dengan demikian tidak ada alasan bagi umat untuk tidak mempercayai apalagi tidak mau mentaatinya.

Sebagai bukti kecintaan Allah yang begitu besar kepada sang kekasih malah bukan saja kita dilarang menyakiti hati beliau bahkan mengeraskan suara lebih dari suara beliaupun dilarang!

„ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari”.(QS.Al-Hujurat(49):1-2)

” Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mela`natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”. (QS.Al-Ahzab(33):57)

” Hai orang-orang yang beriman, ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya) dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata: “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.(QS.Al-Anfal(8):20-21)

Bagi orang yang mau berpikir, sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau mengimani hadis. Bukankah shalat baik gerakan, jumlah rakaat maupun jumlah shalat dalam seharipun hadislah yang menerangkannnya bukan ayat Al-Quran. Karena fungsi hadis memang melengkapi Al-Quran, menerangkan dan memerinci apa yang tidak diterangkan Al-Quran secara detil. Kita dilarang memilah dan memisahkan mana hadis yang kita sukai dan mana yang tidak kita sukai. Semua wajib diimani sepanjang para ulama salaf meyakininya sebagai hadis shahih ataupun hasan.  Dan yang lebih penting lagi, tentu saja selama isi hadits tidak bertentangan dengan ayat Al-Quran. Termasuk juga hadis yang menerangkan bahwa sebagian besar penghuni neraka kelak adalah perempuan karena mereka mengalami haid!

Mengapa demikian ?? Bukankah haid adalah fitrah perempuan ? Ya…namun ini tidak berarti bahwa ketika haid kaum perempuan dilarang berzikir mengingat kebesaran Allah, dilarang beramal ibadah dan mengerjakan berbagai amalan sosial lainnya yang dapat mendatangkan pahala dan meringankan dosa.. Haid bukanlah penghalang kaum hawa dari rahmat Allah. Ini adalah ujian dari-Nya disamping banyaknya hikmah yang ada didalamnya. Apalagi bila kaum hawa hanya sibuk menggunjing dan terus mempertanyakan keberadaan mereka sebagai perempuan yang merasa bahwa Sang Khalik tidak adil terhadap mereka. Mereka yang tidak kunjung puas terhadap berbagai ketentuan Allah seperti hak waris, ketaatan kepada suami, kebolehan suami berpoligami bila mampu, haid, melahirkan, menyusui, mendidik anak dsb. Inilah kesalahan kaum hawa terbesar yang harus segera diperbaiki bila tidak ingin menjadi penghuni neraka….

Na’udzu billah min dzalik.

Jakarta, April 2009.

Vien AM.

Read Full Post »