Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2013

Jakarta kembali dilanda banjir. Orang bilang banjir 5 tahunan. Sebuah sebutan yang sama sekali tidak saya sukai. Lha wong bencana koq dijadwal, seperti ujian sekolah saja. Pasalnya karena pada tahun 2002 dan 2007 lalu ibu kota republik ini juga kebanjiran. Bahkan bulannyapun sama, sekitar Januari – Februari. Karena bulan-bulan tersebut memang bulan dimana curah hujan sedang tinggi-tingginya. Sementara banjir kali ini terjadi pada tahun 2013. Jadi sebenarnya bukan 5 tahun tapi 6 tahun. Kesimpulannya, “ maksa.com”, kata anak gaul sekarang, alias memaksakan istilah.

Lebih ajaib lagi, kalau memang banjir bisa diprediksi mengapa tidak ada antisipasinya. Paling tidak begitulah kesannya. Dan yang lebih ajaib lagi, banjir tersebut makin tahun makin parah. Contohnya, di perumahan ibu mertua saya di Pejompongan. Kakak ipar saya menuturkan bahwa banjir pada tahun 2002 air masuk rumah ‘hanya ‘ sebatas semata kaki. Pada tahun 2007 naik hingga ke betis. Dan tahun 2013 ini hingga pangkal paha !

Pertanyaan besar, apa sebenarnya yang salah dengan ibu kota ini ? Bukankah hujan itu rahmat ? Bukankah Jakarta yang rata-rata temperaturnya 30 derajat, dibawah guyuran hujan terasa lumayan adem ? Bukankah Jakarta dengan jalanannya  yang selau berdebu terasa agak berkurang polusinya dengan adanya hujan ?

Secara umum setiap mahluk  hidup : manusia, tanaman dan hewan selalu  membutuhkan air. Bahkan sebagai kebutuhan utamanya. Tanpa air tanaman tidak akan tumbuh, tidak akan berbunga dan berbuah. Demikian pula hewan. Tanpa air, tidak mungkin ia berkembang biak dan menghasilkan susu dan daging yang baik untuk dikonsumsi. Lalu apa yang dapat kita makan bila tanaman dan hewan berhenti berproduksi? Cukupkah hanya dengan minum saja ? Padahal tanpa hujan, sungai akan kering. Demikian pula mata air pegunungan. Tanpa makan, apalagi minum mungkinkah manusia bisa bertahan hidup ?

Jadi kesimpulannya, benar,  hujan adalah rahmat. Namun mengapa hujan yang melanda Jakarta yang tercinta ini malah menjadi petaka?

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.(QS.Al-Baqarah(2):164).

Ayat di atas menunjukkan secara jelas bahwa Allah lah yang menurunkan hujan dari langit. Diturunkan-Nya air tersebut sesuka dan sekehendak-Nya, melalui putaran angin dan awan yang dikendalikan-Nya. Dia pulalah yang mengatur agar air mengalir ke tempat yang lebih rendah dan terserap oleh tanah. Itulah yang orang sering menyebutnya sebagai hukum alam, Sunattullah.

Lebih dasyat lagi, secara teoritis, berdasarkan tanda-tanda, gejala dan pengalaman, semua itu dapat dipelajari. Itulah fenomena alam, yang bisa terjadi hanya karena izin-Nya. Dibuka-Nya rahasia tersebut kepada orang-orang yang mau berpikir, yang mau menggunakan akal yang diberikan-Nya.

Artinya, bila ternyata hujan yang seharusnya adalah rahmat itu ternyata malah menjadi bencana, ini adalah kesalahan manusianya. Allah swt telah menciptakan bumi ini sebagai tempat tinggal kita yang amat dan nyaman. Berbagai fasilitas telah disediakan-Nya, tanpa dipungut bayaran alias gratis. Kita tinggal memanfaatkan dan memeliharanya.

Namun kenyataannya kerusakan telah terjadi dimana-mana. Pendangkalan sungai sebagai akibat berbagai ulah buruk manusia, membuang sampah ke dalam sungai, adalah contoh yang paling sederhana tetapi fatal dampaknya. Penggundulan hutan, pembangunan gedung yang tidak memperhatikan penyerapan air dll adalah contoh lainnya.

Namun demikian, pernahkah terbersit pertanyaan, mengapa bencana banjir tidak terjadi setiap kali hujan besar datang.  Secara teoritis, para ilmuwan pasti mempunyai jawaban yang beragam  tentang hal ini. Yang kemungkinan besar juga bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Tetapi. dapatkan mereka memastikan dimana, kapan dan bagaimana tepatnya bencana itu bakal terjadi?? Jawabannya pasti, “ Tidak dapat ! “, selalu ada kemungkinan lain yang diluar prediksi akal manusia.

Disinilah kekuasaan Allah swt sebagai Sang Pemilik berbicara. Tanpa izin-Nya tidak mungkin segala sesuatu  dapat terjadi. Manusia hanya bisa berusaha namun Dialah yang menentukan hasilnya. Untuk itulah ketakwaan dibutuhkan.

Jakarta tampaknya mempunyai kesulitan besar. Selain tidak bisa menjaga lingkungan, sebagian penduduk Jakarta juga telah berkhianat pada-Nya. Tengoklah bagaimana korupsi meraja-lela, perselingkuhan, homoseksual, perkosaan, bermabuk-mabukan dan lain sebagainya yang terus saja terjadi.

Kasus Hambalang, kasus yang saat ini  sedang hangat dibicarakan dan melibatkan orang-orang beken yang terpaksa di non aktifkan gara-gara kelakuan bobrok mereka seperti mentri OR, AM, anggota DPR yang pernah menyandang ratu kecantikan, AS, hanyalah contoh kecil.  Juga ‘lelucon’ yang sama sekali tidak lucu yang keluar dari mulut seorang calon hakim agung DS yang melecehkan korban perkosaan. Padahal kedudukan hakim agung semustinya  amatlah tinggi karena menjadi cerminan keadilan sebuah bangsa. Ironisnya lagi, ‘lelucon’ tersebut keluar di tengah ramainya skandal ayah yang memperkosa  putrinya sendiri yang baru berusia 11 tahun dalam keadaan istrinya sedang diopname di RS ! Na’udzubillah min dzalik …

Sungguh memalukan, bangsa Indonesia yang menurut laporan mayoritas Muaslim, lupakah mereka akan azab Tuhan yang ditimpakan bagi para pendosa ?? Tidakkah lagi mereka membaca ayat-ayat suci Al-Quran yang bisa membuat mereka sadar alangkah ngerinya siksa dan kemurkaan-Nya??

“ Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan”.(QS.Fushilat(41):16).

Banjir yang menimpa di Jakarta beberapa hari lalu kabarnya bukan karena intensitas curah hujan yang tinggi bukan juga karena kiriman dari bendungan Kapulampa di Bogor. Bendungan yang awalnya direncanakan akan dibuka karena telah mencapai ketinggian maximumnya hingga dikhawatirkan  jebol.

IMG-20130117-00039Di luar perkiraan, yang jebol justru tanggul Banjir Kanal Barat Latuharhari yang terletak di pusat kota. Tak ayal lagi, daerah-daerah elit di Jakarta pusatpun terendam banjir .  Jalan raya paling bergengsi di negri ini, yaitu jalan MH Thamrin dengan bunderan HI nya dimana hotel-hotel  mewah dan gedung pusat perkantoran serta bank-bank besar berjejer terendam air hingga menyerupai sungai. Bahkan Istana kepresidenan yang hari  itu sedang menanti tamu negarapun  tak luput dari banjir, meski hanya semata kaki.

Belum lagi nasib sebuah parkiran bawah tanah yang didera ‘tsunami’ dasyat sedalam 12 meter. Bencana  yang menyerang parkiran bawah tanah hingga minus 3 gedung mewah perkantoran ini akhirnya memakan korban 2 OB dan ratusan mobil yang sedang di parkir di dalam gedung tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Tidak sampai 30 jam setelah itu,  dua buah tanggul ikut jebol secara berturut-turut, satu di perumahan Bekasi satu lagi di Pluit.  Meski belakangan kabar jebolnya bendungan Pluit dibantah, bendungan tersebut ’hanya ‘ terendam banjir. Padahal bendungan terbesar di ibu kota ini amat diandalkan kemampuannya dalam mencegah banjir.  Ironisnya, areal yang awalnya mempunyai luas 80 hektar itu saat ini hanya tinggal 50 hektar saja.  Pemukiman liar bahkan mall yang dibangun dengan izin resmi Pemda DKI telah menggeroti areal vital tersebut.

Akibatnya, 3 perumahan elit di Pluit yang harganya milyaran per unit itu,  sejumlah kompleks perumahan, ratusan sekolah serta  puluhan wilayah Jakarta terendam banjir. Sebagian ada yang mencapai ketinggian 4 meter !

Tetapi  cobaan belum usai. Esoknya, Sabtu, 19 januari, tanggul sungai Citarum ikut jebol. Tanggul yang terletak di kabupaten Karawang  Jawa  Barat ini berhasil menewaskan 2 orang akibat terbawa arus air yang luar biasa deras. Disamping merendam  tak kurang dari 900 rumah warga, ratusan hektar sawah dan memutus jalan raya menuju beberapa kota sekitar tanggul.

Jebolnya sejumlah bendungan yang menyebabkan banjir dasyat Jakarta dan beberapa kota di Jawa Barat ini mau tidak mau mengingatkan kita pada tragedi  memilukan ribuan tahun lalu di ibu kota Yaman.  Yaman ketika itu berada di bawah kekuasaan kerajaan Saba’ dengan ratunya yang terkenal, yaitu ratu Bilqis atau Balqis. Negri ini makmur karena tanahnya yang subur berkat adanya bendungan Ma’rib. Bendungan ini terletak di kota Ma’rib, yang berlokasi sekitar 120 km di sebelah timur ibukota Yaman sekarang yaitu, Sana’.

Bendungan Ma’rib memiliki ketinggian 16 meter, lebar 60 meter dan panjang 620 meter. Kabarnya bendungan ini mampu mengairi areal seluas 9.600 hektar. Bendungan ini sempat mengalami beberapa kali perbaikan hingga akhirnya runtuh pada tahun 542 M. Jebolnya bendungan ini mengakibatkan “banjir besar Arim” yang dikisahkan dalam surat Saba’ ayat 15-17 sebagai berikut.

“ Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr”.

“ Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”.

Saat ini situs kota Ma’rib yang telah kandas tertelan banjir masih ada menjadi saksi bisu kebesaran Sang Khalik sekaligus tanda peringatan bagi kaum yang kafir. Juga peringatan bagi kita, penduduk Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia ini agar kita selalu takwa.

Banjir dan daerah yang terendam beberapa hari lalu, saat ini mungkin sudah surut.   Namun muncul masalah baru, berbagai keluhan dan penyakit mulai timbul.   Keluhan-keluhan yang datang dari para pengungsi yang jumlahnya mencapai puluhan ribu itu antara lain kutu air, batuk, panas, pusing, diare, masuk angin, dan pegal-pegal.  Sebagian mengeluhkan telapak kaki yang melepuh dan pecah-pecah serta  warna kulit yang menjadi pucat akibat lama terendam air  banjir.

BMKG ( Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) masih memprediksi cerah hujan yang tinggi hingga akhir bulan ini.  Ini pertanda bahwa bencana banjir masih mengancam. Sementara perbaikan bendungan dan tanggul yang rusak serta membersihkan lingkungan penyebab banjir dan kerusakan  pasti memerlukan waktu yang tidak sedikit. Kita benar-benar berkejaran dengan waktu.

Maka sembari memperbaiki lingkungan mari kita bertaubat. Jangan tunggu Allah Azza wa Jalla menjatuhkan kembali azab dan peringatan-Nya yang pedih. Mari kita bermohon pada-Nya agar Ia ridho menjauhkan kita dari segala kesusahan, musibah dan bencana. Bila kita mau menurut pada perintah-Nya, bertawakal hanya pada-Nya, menjadi manusia yang takwa,  pasti pertolongan akan datang. Sebagaimana yang pernah dilakukan-Nya atas kaum nabi Nuh as ribuan tahun silam.

“Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.”(QS.Huud(11):41).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 25 Januari 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

Sepuluh hari setelah pulang dari rantau, kami langsung berkesempatan menyaksikan perayaan malam tahun baru di ibu kota, Jakarta. Malam yang diberi nama Jakarta Night Festival ini adalah malam tahun baru pertama dimana jalan raya protokol ibu kota, MH Thamrin dan Sudirman ditutup untuk kendaraan umum. Ini adalah ide gubernur DKI Jokowi  dalam memihak rakyat kecil agar mereka bisa menikmati pesta tutup  tahun. Sebelumnya gubenur  Ali Sadikin, gubernur DKI tahun 1970 an pernah melakukan hal yang sama, namun bukan dalam rangka menyambut acara tahun baru, melainkan untuk acara HUT DKI.

Mulanya ide penutupan ke 2 jalan utama paling bergengsi di depan bunderan air mancur HI tersebut  ditentang oleh pemilik sejumlah hotel berbintang yang berjejer di sepanjang jalan tersebut. Karena hal tersebut tentu akan membuat tamu-tamu hotel kesulitan. Namun akhirnya mereka  tidak dapat berbuat banyak ketika ide tersebut benar-benar terealisasi.

Malam itu, dimulai pada pukul  8 malam, penduduk Jakarta terlihat berbondong-bondong meninggalkan rumah dan menyesaki jalanan. Hujan yang turun lumayan lebat sejak pukul 7 dan mengguyur kawasan pusat kota tampaknya tidak menjadi halangan. Dengan payung di tangan, ratusan kaki bersepatu dan bersandal menapaki dan meloncati genangan air yang tampak disana-sini.

Wajah-wajah ceria tua muda besar kecil lelaki perempuan memenuhi jalanan. Gerobak dorong berbagai panganan tampak tak mau ketinggalan menikmati acara istimewa ini. Gerobak  sate, ketoprak,  gorengan pisang, tahu, tempe, ubi dan singkong, hingga gerobak penjaja minuman botolan, ramai diserbu pengunjung.

Pucaknya, sekitar  200 ribu orang terlihat tumplek di sepanjang jalan Sudirman, MH Thamrin hingga Monas. Pijaran kembang api raksasa dan sinar laser yang ditembakkan dari ujung jalan bundaran ber-air mancur tersebut membuat langit di atas  Jakarta terang benderang. Suara hiruk pikuk yang keluar dari 16 panggung musik yang didirikan di sepanjang jalan, turut membuat pesta rakyat tersebut makin hingar  bingar. Itu masih ditambah lagi dengan suara berisik tak henti-henti yang  keluar dari terompet yang banyak dijual di kawasan tersebut.

Sementara itu,  di sudut lain kota Jakarta, sejumlah masjid sibuk menyelenggarakan acara zikir akbar, dengan tujuan yang sama, menyambut datangnya  tahun baru. Meski sepintas, acara yang diisi oleh ulama-ulama dan uztadz-uztadz  kenamaan ini cukup berhasil menyedot pengunjung, tak urung suara-suara negative tetap bergema.  Apa pasal ??

Pasalnya ya tahun baru itu. Mayoritas ulama sependapat bahwa tahun baru Masehi bukanlah milik umat Islam, bukan juga budaya milik bangsa ini. Hari besar yang patut diperingati umat Islam hanya 2 yaitu Hari Raya Iedul Fitri dan Hari Raya Iedul Adha. Disamping beberapa hari lain yang biasa juga diperingati sebagian umat, diantaranya yaitu tahun baru Hijriyah.

Harus  diakui, saat ini sebagian besar negara-negara di dunia memang menggunakan kalender Masehi sebagai hitungan tahun resmi negara, termasuk Indonesia. Tapi jangan lupa, pada masa kejayaan Islam, sejak abad 7 hingga abad 20 lalu, kalender Hijriyah pernah digunakan lebih dari separoh dunia.  Kalender ini lenyap seiring dengan kejatuhan kekaisaran Turki Ottoman pada tahun 1924, paska PD I.

Indonesia sendiri  meski secara resmi menggunakan kalender Masehi, tetap mempertahankan kalender Hijriyah untuk kepentingan acara keagamaan penduduknya yang memang mayoritas Muslim. Tidak aneh, karena untuk menentukan dan memperingati hari-hari besar Islam seperti Hari Raya Iedul Fitri, Hari Raya Iedul Adha, hari-hari puasa Ramadhan,  kelahiran nabi dll mutlak diperlukan kalender yang menggunakan peredaran bulan ini sebagai acuannya. ( Kalender Masehi menggunakan peredaran matahari sebagai acuan).

Itu sebabnya, sebagian Negara berpenduduk mayoritas Islam, negara-negara Timur Tengah misalnya, hingga kini tetap menggunakan kalender Hijriyah sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Jadi sungguh tidak benar bila ada sebagian orang ‘nyleneh’ yang berkeras berpendapat bahwa kalender Hijriyah adalah kalender Arab bukan kalender Islam. Meski tahun kalender ini baru digunakan umat Islam 6 tahun setelah wafatnya Rasulullah saw, tepatnya pada tahun 638 M.

Khalifah Umar bin Khattab ra yang memutuskan bahwa tahun dimana Rasulullah hijrah ( pindah) dari Mekah ke Madinah adalah awal tahun kalender yang bakal menjadi kalender resmi pemerintahan Islam. Kalender itu selanjutnya diberi nama Hijriyah, sesuai dengan alasan dasar pengambilannya. Ini adalah atas usulan Ali bin Abu Thalib.

Ketika itu Umar meminta masukan beberapa sahabat alasan dan dasar apa yang paling tepat untuk menentukan kalender resmi kekhalifahan. Pemicunya, tanggapan beberapa Negara tetangga yang menyatakan bahwa surat resmi kekhalifah dianggap tidak ‘ representatif’ karena hanya mencantumkan nama bulan dan tahun, tanpa tanggal. Hal yang lazim digunakan masyarakat Arab ketika itu.

Tahun kelahiran, tahun wafat dan tahun hijrahnya Rasulullah ditambah tahun awal turunnya ayat Al-Quran adalah beberapa usulan para sahabat yang masuk, menjawab pertanyaan sang khalifah,  ketika itu. Namun akhirnya khalifah memilih tahun hijrahnya Rasulullah karena tahun tersebut dapat dianggap sebagai awal tahun kemenangan Islam.

Tahun dimana hukum Islam mulai dapat ditegakkan. Karena di Madinah inilah untuk pertama kalinya, Rasulullah mengeluarkan aturan kenegaraan, negara Islam Madinah, yang mampu mempersatukan suku Aus dan Khazraj, dua suku di Madinah yang sejak lama selalu bertikai. Juga orang-orang Yahudi yang sejak awal selalu memusuhi islam. Meski pada akhirnya  tetap mengkhianati perjanjian. Karena  mereka menerima Rasulullah dan perjanjian yang dibuat beliau dengan berat hati.

Kalender Hijriyah sendiri yang dibuat dengan acuan pergerakan bulan itu sudah dipergunakan masyarakat Arab jauh sebelum Islam datang. Namun  9 tahun setelah peristiwa hijrah telah di revisi karena turunnya ayat 36 dan 37 surat At-Taubah yang berisi  tentang bulan-bulan Haram dan keharaman mengundur-undurkan bulan yang biasa dilakukan masyarakat Arab ketika itu.

“  Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.  … … …“. ”  Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir “. (QS. At-Taubah (9): 36-37).

( Baca : http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Hijriyah#Penentuan_Tahun_1_Kalender_Islam)

Sedangkan sistim kalender Masehi sebenarnya telah digunakan ribuan tahun yang lalu, yaitu sejak abad 7 SM,  sebagai kalender tradisional bangsa Romawi. Namun perayaan malam tahun baru sendiri tercatat pertama kali dirayakan baru pada tahun 45 SM, ketika Julius Caesar menjadi kaisar Romawi.

Atas saran seorang ahli astronomi dari Aleksandria, Julius merevisi kalender tersebut dengan mengikuti revolusi matahari sebagaimana yang dilakukan bangsa Mesir. Dan sejak itu ia menjadikan kalender yang kemudian diberi nama kalender Julian tersebut sebagai kalender resmi kekaisaran.

Selanjutnya pada tahun 1582 umat Nasrani dibawah pimpinan Paus Gregorius XII menjadikan kalender Julian diatas sebagai kalender umat Kristiani. Namun mereka merevisinya dengan menjadikan tahun kelahiran Yesus atau nabi Isa as sebagai patokan awal tahunnya. Alhasil lahirlah istilah SM ( sebelum Masehi) atau AD ( Anno Domini) yang artinya Tuhan kita dan M ( Masehi) atau BC ( Before Common Era). Masehi berasal dari kata Messiah ( Yesus ). Tahun 0 adalah tahun kelahiran Yesus. Dan SM adalah tahun sebelum kelahiran Yesus.

Dari keterangan diatas, jelas sudah bahwa sebenarnya kalender Masehi adalah memang benar-benar kalender yang sangat kental nuansa kristennya. Meski saat ini jarang Negara yang mengakui fakta ini. Demi kemudahan komunikasi adalah alasan yang paling sering dikemukakan negara.

Saat ini kita telah berada di abad 15 Hijriyah ( tahun 1434H) abad yang di ‘ klaim’ umat Islam sebagai abad kebangkitan Islam. Pergantian abad ke 15 ini dimulai tepatnya pada bulan November 1980 M. Ketika itu berbagai Negara Islam menyambut pergantian tersebut dengan gegap gempita. Revolusi Iran yang mampu merobohkan kekuatan kerajaan yang sekuler menjadi republik Islam ditandai sebagai awal kebangkitan tersebut oleh sebagian orang.

( Baca : http://mekahmadinah.faa.im/kebangkitan-islam-bagaimana-dengan-dunia.xhtml )

Kini kita telah memasuki 2/3 akhir abad 15 yang menjanjikan tersebut. Masih ada waktu 66 tahun untuk membuktikan bahwa kebangkitan itu akan menjadi kenyataan. Namun kelihatannya sebagian rakyat Negara kita tercinta masih belum juga Percaya Diri. Buktinya yaitu tadi, masih saja merayakan datangnya tahun baru Masehi secara berlebihan. Mengapa kita harus latah, ikut-ikutan kebiasaan, budaya bangsa dan agama orang/bangsa lain yang tidak sesuai dengan kita ?

Padahal Perancis saja, Negara barat yang maju dan berwajah ‘kristen’ tidak merayakan tahun baru tersebut semeriah Negara kita. 3 tahun, sejak tahun 2000 hingga 2003, kami berada di sana, tak pernah sekalipun kami menyaksikan hal tersebut. Juga dari tahun 2009 hingga 2012 lalu. Tidak di sekitar Eiffel, menara kenamaan yang menjadi ikon kota Paris, tidak  juga di Champs Elysees, boulevard terkenal Paris yang belakangan ini dijadikan area mengemis oleh tidak saja Muslim imigran namun juga pemalas bule yang senang memanfaatkan anjingnya untuk memohon belas kasihan. Pemandangan yang sangat kontras dengan deretan gedung-gedung cantiknya yang dijadikan butik eksklusif oleh para desainer kenamaan dunia.

Tampaknya negri ini lebih memilih merayakan hari kemerdekaan Negaranya secara besar-besaran dari pada merayakan tahun baru. Pada hari itulah Paris gegap gempita bermandikan cahaya kembang api yang menerangi langit di atasnya. Mungkinkah ini cerminan bahwa rakyat Perancis tidak lagi agamis ? Karena nyatanya, sebagian besar dari mereka memang Atheis alias tidak percaya akan keberadaan Tuhan.

Apapun alasannya, rasanya sungguh tidak pantas bangsa kita yang masih miskin dan belum maju bahkan hutang negarapun masih bertumpuk merayakan tahun baru yang jelas-jelas bukan milik bangsa maupun agama kita secara berlebihan. Bila alasannya sekali-sekali ingin menyenangkan rakyat kecil, mungkin perayaan ulang tahun kota lebih bisa ditrima.

Masih banyak hal yang harus kita kejar bila kebangkitan Islam yang kita cita-citakan bersama itu ingin benar-benar terealisasi. Bila Barat yang pada zaman kegelapan dulu selama ratusan tahun pernah ketinggalan dari dunia Islam bisa mengejar ketertinggalannya maka mengapa kita yang ‘baru’ 90 tahunan tertinggal tidak mampu mengejar ketertinggalan kita ? Tidak ada salahnya kita belajar dan mengambil sesuatu yang baik dari Barat, selama hal tersebut tidak bertentangan dengan ajaran kita. Sains, kedisiplinan dan kebersihan adalah contohnya. Karena sekarang ini mereka memang jauh lebih unggul dari kita.

“ … Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.(Ar-Rad(13):11).

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”(HR. Ibnu Majah)

Sebalilnya jangan mengambil ilmu ekonomi dan sistim kapitalis mereka karena sebagian besar bertentangan dengan Islam. Tidak perlu kita ikut-ikutan menerapkan sistim bunga dalam dunia perbankan.Kita telah memiliki zakat, infak dan wakaf ; ajaran yang sangat menjanjikan bila dapat dikelola secara benar. Islam telah mengajarkan bagaimana sistim ekonomi yang sehat, yang tidak merugikan orang lain.

“ Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.(QS.Al-Baqarah(2):275).

Arab Spring, gelombang protes dan demonstrasi terhadap kebijakan sekuler Negara yang dilakukan masyarakat Negara-negara Arab sejak Desember 2010 terus berlanjut. Mesir yang berhasil menggolkan syariat Islam dibawah presidennya yang berasal dari Ikhwanul Muslimin meski belum didukung 100 % penduduknya, tampaknya bisa menjadi indikator bahwa kebangkitan Islam memang masih terus berproses meski agak lambat.

Indonesia sebagai Negara dengan penduduk mayoritas Muslim sudah seharusnya berpartisipasi dalam kebangkitan ini. Inilah saat yang tepat untuk bangun dari tidur panjangnya dan berhenti dari mimpi-mimpi indah. Mari kita berjuang bersama saudara-saudari kita sesama Muslim untuk mencapai kemenangan yang dijanjikan-Nya, yaitu rahmatan lil alamin.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat  bagi semesta alam”.(QS.Al-Anbiya(21):107).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Januari 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

Copas dari : http://duniabaca.com/sejarah-islam-awal-mula-islam-di-indonesia.html

 Mempelajari sejarah masuknya islam di indonesia mungkin sudah pernah Anda pelajari saat duduk di bangku sekolah. Dimana sejarah penyebaran islam di indonesia khususnya pulau jawa yaitu dilakukan oleh para wali songo.

Dalam catatan sejarah, islam sudah berada sejak tahun 622 ketika Allah menurunkan wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Namun di Indonesia islam dikenal pada abad pertama hijaiyah atau tujuh masehi. Pengenalan islam di Indonesia dimulai dari frekuensi yang tidak terlalu besar, hanya melalui perdagangan, dan seiring berjalannya waktu pengenalan islam di Indonesia lebih intensif, terutama di Semenangjung Melayu dan Nusantara. Beberapa bukti peninggalan islam di Asia Tenggara adalah dua makam muslim dari akhir abad ke 16.

Sejarah Islam

Risalah Islam dilanjutkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. di Jazirah Arab pada abad ke-7 masehi ketika Nabi Muhammad saw mendapat wahyu dari Allah swt. Setelah kematian Rasullullah s.a.w. kerajaan Islam berkembang hingga Samudra Atlantik dan Asia Tengah di Timur.

Namun, kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Umayyah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, dan Kekhalifahan Ottoman, Kemaharajaan Mughal, India,dan Kesultanan Melaka telah menjadi kerajaaan yang besar di dunia. Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli filsafat dan sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutama pada Zaman Emas Islam. Karena banyak kerajaan Islam yang menjadikan dirinya sekolah.

Di abad ke-18 dan 19 masehi, banyak daerah Islam jatuh ke tangan Eropa. Setelah Perang Dunia I, Kerajaan Ottoman, yaitu kekaisaran Islam terakhir tumbang.

Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang dilewati oleh jalur sutera. Kebanyakkan Bangsa Arab merupakan penyembah berhala dan sebagian merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi. Mekah adalah tempat suci bagi bangsa Arab ketika itu karana terdapat berhala-berhala mereka dan Telaga Zamzam dan yang paling penting sekali serta Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim beserta Ismail.

Nabi Muhammad saw. dilahirkan di Mekah pada Tahun Gajah yaitu 570 masehi. Ia merupakan seorang anak yatim sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia. Muhammad akhirnya dibesarkan oleh pamannya, Abu Thalib. Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dan menjalani kehidupan yang bahagia.

Namun, ketika Nabi Muhammad saw. berusia 40 tahun, beliau didatangi Malaikat Jibril Sesudah beberapa waktu Muhammad mengajar ajaran Islam secara tertutup kepada rekan-rekan terdekatnya, yang dikenal sebagai “as-Sabiqun al-Awwalun(Orang-orang pertama yang memeluk Islam)” dan seterusnya secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekah.

Pada tahun 622 masehi, Muhammad dan pengikutnya hijrah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah. Peristiwa lain yang terjadi setelah hijrah adalah pembuatan kalender Hijirah.

Penduduk Mekah dan Madinah ikut berperang bersama Nabi Muhammad saw. dengan hasil yang baik walaupun ada di antaranya kaum Islam yang tewas. Lama kelamaan para muslimin menjadi lebih kuat, dan berhasil menaklukkan Kota Mekah. Setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat, seluruh Jazirah Arab di bawah penguasaan Islam.

Sejarah Islam di Indonesia.

Agama islam pertama masuk ke Indonesia melalui proses perdagangan, pendidikan, dll. Tokoh penyebar islam adalah walisongo antara lain; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) (Sumber: wikipedia)

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i.

Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda.

Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut.

Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis.

Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa.

Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang.

Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar). (Sumber : ummah.com)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Januri 2013.

Vien AM.

Read Full Post »